• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Asalkan Ada Abang...
eramuslim
- Hmmm… kupandangi Al Quran bersampul kuning keemasan itu. Warnanya tak pudar walaupun telah sepuluh tahun ia tinggal di rak buku ruang tamuku. Lembarannya tak cacatsedikitpun walau sering kubaca. Dan satu kali dalam satu tahun aku memandangi takjub maharkuitu seperti ini...Suamiku baru saja pulang kerja. Dia tampak lelah. Kusiapkan air hangat untuknya soreini. Makanan dan minuman kesukaannya telah kuhidangkan di meja makan lebih awal. Spreitempat tidur telah kuganti. Kordin telah kucuci dan kupasang lagi. Seluruh bagian rumah telahkubersihkan.”Kok senyum aja sih dari tadi?” suamiku menegurku. Aku hanya bisa tertawa kecil. ”Nggak papa. Pingin sedekah aja. He he...” Suamiku membalas seyumanku dan pergi mandi.Saat ditutup, kuamati pintu kamar mandi itu... dan sekeliling rumah ini. Rumah kontrakanpenuh kenangan. Sebentar lagi rumah ini akan menjadi milik kami karena pemilik sebenarnyaakan pindah ke luar kota dan menjualnya pada kami. Suamiku pun bekerja lembur akhir-akhir iniuntuk melunasinya.Malam ini aku dan suamiku menikmati makan malam sebelum isya. Kebetulan anak-anak sedang liburan di rumah neneknya. Rumah jadi terasa sepi. Terdengar suara motor berderumelewati rumah kami sekali waktu. Terdengar pula suara televisi tetangga sebelah rumah dansesekali tawa mereka.Dari seberang meja makan kupandangi suamiku itu. Baju koko telah dipakainya. Diatelah siap untuk berangkat ke masjid. Wajahnya tak berubah, masih seperti itu... kalem. Hanya jenggotnya saja yang kian lebat. Hmmm... dia masih dengan pendiriannya. Subhanallah...Pulangsuamiku dari masjid, aku baru saja selesai mencuci piring.”Abang baru inget. Sepuluh tahun lalu abang nikahin kamu ya, dek? Pantes dari tadiseyum aja.Ngerayain yang kayak gitu2 nggak level kan, dek?! Nah, mendingan pijetin abang nih,abang capek banget hari ini.”Ha ha ha... masih. Dari dulu emang manja bapak ini.Tapi tidak saat dia datang ke rumahku sepuluh tahun lalu. Aku hanya bisa mendengarpercakapan hangat itu dari balik pintu kamarku. Ayahku meragukannya. Yaaah, aku rasa adalahhal yang wajar bila setiap orang tua ingin anaknya hidup berkecukupan. Dan yaaah, memanguntuk hidup di jaman sekarang, pekerjaan suamiku yang tidak tetap mungkin tidak bisa
 
mencukupi hidup kami nanti. Maklumlah, baru lulus kuliah. Tapi suamiku percaya, insya Allah,Allah akan memudahkannya.Sempat kututup telingaku saat suara ayahku mendominasi percakapan hari itu. Akuhampir saja menangis. Aku tak mau ta’arufku sia-sia. Dan untuk tidak menjadi isteri seorangyang shalih seperti dia adalah suatu kerugian bagiku. Namun tak lama ibuku datang ke kamarkudengan terseyum dan menanyakan jawabanku. Rupanya aku menutup telingaku terlalu lamahingga aku tak menyadari bahwa saat itu suamiku tengah memberi pengertian pada ayahku danakhirnya meyakinkan beliau.Seminggu pertama aku dan suamiku tinggal di rumah orang tuaku. Karena rumah yangdikontrak suamiku baru bisa dipergunakan setelah seminggu itu, ya rumah ini. Selama semingguitu dia sibuk sekali. Entah apa saja yang dikerjakannya. Dan setelah minggu itu berlalu, ada rasakhawatir di wajahnya saat ia mengatakan padaku, ”Dek, di rumah itu... nggak ada apa-apanya.”Iamenatapku sendu.Sebenarnya aku dan suamiku berasal dari keluarga yang cukup berada. Hanya sajamungkin itu masalah harga diri bagi kaum lelaki, aku juga tidak begitu mengerti.Di tengah kekhawatirannya itu ku katakan padanya, ”Abang... asalkan ada ember biaradek bisa nyuciin baju abang, asal ada paku dan tali biar adek bisa ngejemur, asal ada api biaradek bisa masak buat abang, asal ada alas buat kita tidur, asal ada kain buat nutup jendela, asalada sapu biar rumah kita tetap bersih, asal cukup air, asal bisa beli bayam dan tempe, dan selangsehari kita shaum... insya Allah, itu bukan masalah bagi adek.”Ia tersenyum, masih dengan tatapan yang sendu itu. Hhh... aku jadi sedih. Sejak ta’aruf dulu, dia telah mengatakan segala kemungkinan hidup kita nanti. Dan aku telah menyatakankesiapanku... insya Allah, aku sanggup menghadapi apapun... bersamanya...Esok harinya kamipun pindah. Selama seminggu itu aku memang tak diizinkannya untuk melihat kontrakan itu. Dan saat aku sampai di sana... Subhanallah, ruang tamu mungil denganperabotan terbuat dari rotan yang cukup untuk diduduki empat orang saja. Rak buku yang biasakulihat di rumahku menjadi penghalang ruang tamu dengan ruang makan. Rak buku itu memangdibuatkan khusus oleh ayahku untukku. Beliau tahu hobiku membaca buku. Wah, pantas saja akutak melihat rak itu di rumah akhir-akhir ini.Aku melihat-lihat seluruh rumah itu. Ruang makan yang sederhana hanya tersedia duabangku di situ dengan meja kecil yang cukup untuk makan kita berdua saja. Di kamar tidurternyata telah ada sebuah tempat tidur, lemari baju dan meja hias. Di sebelah kamar itu ada ruangkosong, untuk kamar anak-anak kelak. Di dapur telah ada peralatan masak hadiah dari ibuku dan
 
ibu mertuaku. Di bagian belakang rumah itu ada kamar mandi. Di luarnya telah ada sapu ijuk dansapu lidi plus tempat sampah. Di tempat mencuci telah ada ember dan gayung.Semua jendela telah berkordin.Belum sempat aku mengomentari rumah itu, suamiku berkata, ”Dek, abang lupa beli talisama paku buat jemuran.”Hi hi hi. Aku tertawa cekikikan. ”Adek kira rumahnya bener-benerkosong nggak ada apa-apanya.””Yaaah... maksud abang gak ada apa-apanya dibandingin rumahadek.”Hi hi hi... abang.Dulu yang kupinta pada Allah adalah hanya seorang suami seperti abang, yang sholih,yang mau usaha, yang optimis, tawakal. Jadi di manapun kita tinggal, seperti apapun keadaanya,sekurang apapun fasilitasnya, asalkanada abang... hidupku udah lengkap.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...