mencukupi hidup kami nanti. Maklumlah, baru lulus kuliah. Tapi suamiku percaya, insya Allah,Allah akan memudahkannya.Sempat kututup telingaku saat suara ayahku mendominasi percakapan hari itu. Akuhampir saja menangis. Aku tak mau ta’arufku sia-sia. Dan untuk tidak menjadi isteri seorangyang shalih seperti dia adalah suatu kerugian bagiku. Namun tak lama ibuku datang ke kamarkudengan terseyum dan menanyakan jawabanku. Rupanya aku menutup telingaku terlalu lamahingga aku tak menyadari bahwa saat itu suamiku tengah memberi pengertian pada ayahku danakhirnya meyakinkan beliau.Seminggu pertama aku dan suamiku tinggal di rumah orang tuaku. Karena rumah yangdikontrak suamiku baru bisa dipergunakan setelah seminggu itu, ya rumah ini. Selama semingguitu dia sibuk sekali. Entah apa saja yang dikerjakannya. Dan setelah minggu itu berlalu, ada rasakhawatir di wajahnya saat ia mengatakan padaku, ”Dek, di rumah itu... nggak ada apa-apanya.”Iamenatapku sendu.Sebenarnya aku dan suamiku berasal dari keluarga yang cukup berada. Hanya sajamungkin itu masalah harga diri bagi kaum lelaki, aku juga tidak begitu mengerti.Di tengah kekhawatirannya itu ku katakan padanya, ”Abang... asalkan ada ember biaradek bisa nyuciin baju abang, asal ada paku dan tali biar adek bisa ngejemur, asal ada api biaradek bisa masak buat abang, asal ada alas buat kita tidur, asal ada kain buat nutup jendela, asalada sapu biar rumah kita tetap bersih, asal cukup air, asal bisa beli bayam dan tempe, dan selangsehari kita shaum... insya Allah, itu bukan masalah bagi adek.”Ia tersenyum, masih dengan tatapan yang sendu itu. Hhh... aku jadi sedih. Sejak ta’aruf dulu, dia telah mengatakan segala kemungkinan hidup kita nanti. Dan aku telah menyatakankesiapanku... insya Allah, aku sanggup menghadapi apapun... bersamanya...Esok harinya kamipun pindah. Selama seminggu itu aku memang tak diizinkannya untuk melihat kontrakan itu. Dan saat aku sampai di sana... Subhanallah, ruang tamu mungil denganperabotan terbuat dari rotan yang cukup untuk diduduki empat orang saja. Rak buku yang biasakulihat di rumahku menjadi penghalang ruang tamu dengan ruang makan. Rak buku itu memangdibuatkan khusus oleh ayahku untukku. Beliau tahu hobiku membaca buku. Wah, pantas saja akutak melihat rak itu di rumah akhir-akhir ini.Aku melihat-lihat seluruh rumah itu. Ruang makan yang sederhana hanya tersedia duabangku di situ dengan meja kecil yang cukup untuk makan kita berdua saja. Di kamar tidurternyata telah ada sebuah tempat tidur, lemari baju dan meja hias. Di sebelah kamar itu ada ruangkosong, untuk kamar anak-anak kelak. Di dapur telah ada peralatan masak hadiah dari ibuku dan
Leave a Comment