juta rumah tangga (RT) atau 56,2 persen dari rumah tangga pertanian pengguna lahanpada tahun 2003. Mereka umumnya hanya bekerja sebagai buruh, baik itu kaum petanimaupun nelayan. Aset perdesaan hanya dimiliki oleh segelintir orang dengan akumulasicapital yang besar dan tidak seimbang. Petani maupun nelayan tidak mempunyaikesempatan untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Modal yang mereka miliki hanyalahtenaga, sehingga dengan mudah mereka dapat dimanipulasi oleh para tengkulak. Merekabagaikan sapi perah yang hasil kerja kerasnya tidak membuat mereka keluar darikemiskinan
Rendahnya pelayanan sarana dan prasarana perdesaan.
Hal Ini tercermin dari dataBappenas bahwa total area kerusakan jaringan irigasi yang mencapai sekitar 30 persen,rasio elektrifikasi kawasan perdesaan yang baru mencapai 78 persen (tahun 2003), jumlah desa yang tersambung prasarana telematika baru mencapai 36 persen (tahun2003), persentase rumah tangga perdesaan yang memiliki akses terhadap pelayanan airminum perpipaan baru mencapai 6,2 persen (tahun 2002), persentase rumah tanggaperdesaan yang memiliki akses ke prasarana air limbah baru 52,2 persen (tahun 2002).Rendahnya tingkat pelayanan ini semakin menambah buruk kualitas hidup masyarakatperdesaan
Penurunan/Terbatasnya kesempatan untuk melakukan usaha di perdesaan.
Kurangnya pemanfaatan teknologi, informasi, kerjasama distribusi serta permodalanmembuat masyarakat perdesaan tidak bisa meningkatkan penghasilan mereka yangmengandalkan hasil alam. Adanya konversi lahan yang semakin tinggi dari lahanpertanian subur menjadi lahan non pertanian, tentunya memperburuk kondisi ini Hal inisecara simultan menyebabkan semakin sempitnya kesempatan untuk meningkatkantaraf hidup, terutama bagi mereka yang tidak memiliki lahan. Hal ini menjadi penyebabterjadinya urbanisasi, karena mereka tidak punya kegiatan yang dapat dilakukandidesanya. Permasalahan ini menjadi suatu lingkaran yang menjadi penyebab untuk satusama lain yang berujung pada kemiskinan seakan tak ada habisnya
Lemahnya pembangunan berbasis masyarakat dan lemahnya koordinasididalam pembangunan perdesaan.
Konsep pembangunan dalam rangka pengentasanmasalah kemiskinan di perdesaan selama ini hanya mengandalkan perencanaan dari atas(
top-down).
Keterpaduan koordinasi antara pemerintah pusat, pemrintah daerah, swasta,dan masyarakat kurang ditekanankan. Hal ini menyebabkan tingkat ketergantunganperdesaan menjadi tinggi. Hal ini secara tidak langsung akan mematikan potensi dankreativitas dari perdesaan itu sendiri. Seharusnya perdesaan didorong untukmengembangkan potensinya agar dapat memajukan wilayahnya secara mandiri. Sudahsaatnya, masyarakat perdesaan pun ikut berpartisipasi di dalam pembangunanperdesaan. Masayarat lokal meruapakan pihak yang yang paling mengerti mengenaipersoalan yang mereka alami sehari-hari sehingga dapat memberikan masukan bagisolusi pengentasan kemiskinan yang efektif dan tepat guna.
Akar Persoalan
Pengidentifikasian akar persoalan perdesaan merupakan langkah awal yang sangatpenting. Identifikasi mengenai penyebab atau simpul-simpul terjadinya persoalanakanmenjadi landasan yang akan membantu perumusan solusi penanganan yang tepatsasaran. Akar persoalan dari komunikasi perdesaan khususnya di Indonesia adalahbagaimana menerobos lingkaran hambatannya. Mengecilnya minat generasi mudaterhadap studi pertanian dan tak tertahannya laju arus urbanisasi merupakanpermasalahan yang dihadapi perdesaan. Prof Sediono MP Tjondronegoro, pakar agrariadan sosiologi perdesaan menyimpulkan bahwa Indonesia adalah negara agraris yang
Leave a Comment
terima kasih kawan