Kamis, 28 Mei 2009
REPUBLIKA
15
kabarkota
Yogyakarta I Semarang I Solo I Purwokerto I Magelang I Pekalongan
T
elevisi masih menempati peringkat uta-ma sebagai sarana hiburan di Indonesia,karena aksesnya yang mudah dan murahsehingga semua golongan bisa menikmatinya.Sebagai produk budaya dan peradaban manu-sia, daya penetrasi televisi jauh lebih besardaripada media informasi lainnya.Seseorang bisa mendapatkan hiburan de-ngan tinggal menekan tombol
on
dan angka-angka pada
remote control
untuk memilihprogram sesuai selera. Tidak mengherankan jika kemudian dalam berbagai sumber ba-nyak julukan terlontar untuk televisi yakni
idi - ot box, stupid box, window of the world, the second God, evil demon of image, electronic altar
, dan
miracle box
. Ini membuktikan beta-pa televisi dalam waktu bersamaan bisa dica-ci tetapi sekaligus juga dicintai.Kehadiran televisi tidak dapat dipisahkandari fungsi yang diembannya. Menurut RSPutra dkk dalam bukunya Wacana Genderdan Layar Televisi, salah satu fungsi televisisebagai sumber dominan yang menyuguhkannilai-nilai dan penilaian normatif yang dibau-rkan dalam berita dan hiburan.Ada banyak dampak negatif televisi yangdapat mengancam tatanan nilai-nilai sosialdalam masyarakat, seperti munculnya buda-ya meniru, pengikisan moral, dan merosotnyanilai kemanusiaan akibat merebaknya nilai-ni-lai sosial budaya baru dalam perilaku masya-rakat sehari-hari. Hal ini terjadi karena pro-ses penyampaian nilai-nilai tersebut terjadiberulang-ulang.Salah satu serial hiburan yang banyak di-tonton sekarang adalah
situational comedy
(Sitkom) Suami-suami Takut Istri (SSTI) yangtayang Senin-Jumat pada prime time (18.00 -19.00). Tayangan ini mengandung banyak pe-san yang bias gender. Dilihat dari judul, SSTImenekankan pada kata îtakutî yang tidak ha-nya terjadi pada suami terhadap istri akantetapi juga sebaliknya.Di tengah gencarnya penayangan sinetronremaja dan
reality show
di layar kaca, SSTI ru -panya mendapat tempat khusus di hati pemirsakarena kemasan cerita yang ditawarkan berbe-da. Terbukti tontonan ini sudah menghasilkanlebih dari 300 episode yang pada setiap episo-denya topik SSTI selalu berbeda, namun kema-sannya tetap bergaya komedi.Menurut Hadiansyah Lubis (
Head Marke - ting of Public Relations of Trans
TV), penge-masan dengan gaya komedi yang segar danbermutu inilah yang menjadi daya pikat daritontonan ini. Akan tetapi jika dikaji lebih lan- jut terdengarnya suara tertawa yang serem-pak pada setiap akhir adegan menunjukkanbahwa pemutarbalikkan citra dominan darilaki-laki men jadi perempuan sebenarnyahanya menjadi bahan olok-olok.Menurut Hadiansyah, SSTI ingin memperli-hatkan betapa sesungguhnya di balik penampi-lan para istri yang lemah, mereka memiliki
‘kuasa’ terhadap para suami. Dari beberapakomentar tentang SSTI di beberapa
blog
mengatakan bahwa sitkom ini telah men-gangkat derajat perempuan karena mampumenggusur dominasi para laki-laki.
Obyek olok-olok
Pada sinetron, karakter pemeran utamadigambarkan sebagaimana konstruksi perem-puan di masyarakat, yakni tidak mandiri, le-mah, dan lebih emosional walaupun judulnyamengusung nama perempuan seperti Melatiuntuk Marvel, Cinta Fitri, dll. Citra lama pe-rempuan ini didekonstruksi oleh SSTI menja-di tokoh perempuan yang sangat berkuasaterhadap tokoh laki-laki.Tetapi penggambaran perempuan yang‘kuat’ dan laki-laki yang lemah, kebanyakan justru menempatkan mereka sebagai objekolok-olok. Kekuatan yang diperlihatkan justruhal-hal tidak berbobot seperti ambisius, sukamenang sendiri, sok-pintar, dan cenderung ti-dak menghormati institusi keluarga.Sementara, tokoh laki-laki sangat takutpada istrinya walaupun tidak jarang merekaberada dalam posisi yang benar pada dasar-nya, ceritanya masih melestarikan status
quo
dengan konstruksi perempuan yang stereo-type.Perbedaannya terletak pada penggamba-ran”kekuatan” peran perempuan yang berle-bihan terhadap laki-laki yang justru membuatposisinya semakin tidak terhormat karenadalam masyarakat patriarki hal itu dianggaptidak wa jar. Pencitraan laki-laki dalam SSTIyang melawan arus juga menjadi bahan ter-tawaan karena dianggap sebagai laki-lakiyang tidak normal.Padahal semangat perempuan untuk da-pat ke ruang publik adalah menjadikan duniaini lebih feminin. Tetapi, yang tergambar da-lam SSTI, perempuan berubah atau terjebakmenjadi sosok maskulin (
male clon
) yangmelakukan penindasan terhadap laki-laki.Budi Wahyuni, seorang pegiat kesetaraangender, mengatakan yang dimaksud emansipasiadalah proses menuju pembebasan dari keter-tindasan secara fisik, psikis, seksual, ekonomi,ideologi, dan sosial yang jangan sampai prosesini menciptakan bebas yang kebablasan.Kesetaraan gender yang diharapkan adalahpada kemurnian kebebasan tanda yang tidakmengenal perbedaan gender dengan menghi-langkan hegemoni gender dan bukan memba-likkan keadaan dengan membentuk hegemonibaru feminitas. Hegemoni ini bisa dilihat dalamtayangan SSTI sebab pencitraan dominasiperempuan cenderung kebablasan.Maka perjuangan bebas dari perbedaanyang dikonstruksi masyarakat justru melesta-rikan perbedaan itu sendiri walaupun posisisubyek dan obyeknya dibalik. Hal ini akanberimplikasi kurang baik jika pemirsa meneri-manya sebagai yang sesuatu wajar.
Ida Puspita
Dosen Sastra InggrisUniversitas Ahmad Dahlan
Sinetron dan Hegemoni Gender
Forum akademia
DOKUMEN
●
Ida Puspita
YOGYAKARTA — Setelah tigatahun musibah gempa bumi berla-lu, ternyata masih terdapat 1.297pasien yang memerlukan rehabili-tasi medik. Jumlah pasien sebanyakitu tersebar di empat daerah yakniKabupaten Bantul sebanyak 1.271pasien, selanjutnya 13 pasien dariKota Yogyakarta, 11 pasien dariKabupaten Sleman dan 1 pasiendari Gunungkidul.Sedangkan untuk pasien cideratulang belakang menurut catatansebanyak 470 orang dan dari jumlahitu 443 orang diantaranya wargaBantul. Masih adanya ribuan korbangempa yang butuh penanganan me-
dis itu dikemukakan Gubernur DIYSri Sultan Hamengku Buwono Xdalam sambutan tertulis yang diba-cakan Wakil Gubernur DIY PakuAlam IX saat meresmikan GedungPusat Rehabilitasi Terpadu Penyan-dang Cacat Pasca Gempa Bumi(PCPGB), sekaligus doa mengenang3 Tahun gempa bumi yang dipusat-kan di Desa Sri Hardono, Pundong,Bantul, Rabu (27/5).Oleh karena kerusakan terparahadalah wilayah Bantul dan korbanterbanyak juga masyarakat Bantul,maka
tetenger
berupa Gedung Pu-sat Rehabilitasi Terpadu Penyan -dang Cacat Pasca Gempa Bumi di-bangun di Desa Srihardono, Pun -dong, Bantu. Desa tersebut jugamerupakan pusat gempa.Selain sebagai tetenger, kata Gu-bernur, hal ini juga sebagai salahsatu upaya untuk terus mendorongdan menyemangati masyarakatkorban gempa yang ada di wilayahBantul. ‘’Intinya adalah agar mere-ka terus bersemangat menyambuthari esok yang penuh harapan,’‘kata Gubernur.Ia berharap Gedung Pusat Reha -bilitasi Terpadu ini dapat menja-lankan fungsinya sebagai rumahrehabilitasi dan rumah transisi.Selain itu juga bisa menjadi tempatuntuk pelayanan medis, fisioterapi,pendampingan psikologis dan spi-ritual maupun berbagai latihan ke -trampilan dan fasilitasi usaha bagimasyarakat yang membutuhkan.Memang memori perlu tetap di -bangun, namun bukan untuk terusmeratapi terjadinya musibah.‘’Akan tetapi yang jauh lebih pen -ting adalah untuk keperluan seja-rah hidup, bahwa di wilayah inipernah terjadi musibah besar yangmeluluhlantakkan sendi-sendi ke -hidupan serta perekonomian ma-syarakat Bantul dan sekitarnya,’‘tegas Gubernur lagi.
Tidak diakui keluarga
Bupati Bantul HM Idham Sa-mawi dalam kesempatan ini men-gatakan gempa bumi yang ber-kekuatan 5,9 skala richter telahmenelan korban sebanyak 4.697meninggal, 10.775 luka berat, dan8.062 orang luka ringan. Sedangkanrumah rusak berat sebanyak 176.191 buah, rusak sedang 85.326 bu-ah, dan 168.827 buah rusak ringan.Bahkan sekarang, kata dia, ma-sih menyisakan masalah serius danmemprihatinkan bagi 301 orangyang menderita cacat akibat gempa.Pasalnya dari jumlah tersebut adasebagian anggota keluarga yangtidak mengakui sebagai anggotakeluarganya bahkan membuangmereka.‘’Mereka ini dianggap tidak adagunanya. Namun demikian setelahdibangunnya Gedung RehabibilatsiTerpadu ini, masalah serius yangdihadapi para penyandang cacatpermanen terpecahkan, karenapemerintah mau turun tangan,’‘ungkap dia.Sementara Kepala Dinas Peker-jaan Umum, Perumahan dan EnergiSumber Daya Mineral Provinsi DIY,Rani Sjamsinarsi mengemukakandana untuk pembangunan GedungPusat Rehabilitasi Terpadu PCPGBmenggunakan dana sisa rehabilitasidan rekonstruksi non perumahan se-besar Rp 4,8 miliar. Bangunan terse-but berdiri di atas tanah seluas 3,5hektar, dengan luas bangunan 15ribu meter persegi .
■
nri
Ribuan Korban GempaButuh Penanganan Medis
Maklumat Muhammadiyah:
Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin didampingi Ketua PP Muhammadiyah HaedarNashir memberikan keterangan pers pada wartawan usai rapat pimpinan menyikapi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009.Muhammadiyah menganjurkan pada warganya dan warga bangsa pada umumnya untuk memilih calon presiden (Capres)dan calon wakil presiden (Cawapres) dengan sembilan syarat/kriteria yang salah satunya bisa mengakomodir aspirasiumat Islam.
YULIANINGSIH/REPUBLIKA
SLEMAN — PengadilanNegeri Sleman telah mene-tapkan lima orang hakim un-tuk mengadili terdakwa Bu-pati Ibnu Subiyanto, dalamkasus dugaan korupsi bukuajar tahun 2004 yang didugamerugikan negara Rp 12 mil-iar. Sidang kasus ini akan di-mulai tanggal 4 Juni nanti.Menurut Humas PN Sle-man Muslim, majelis hakimpersidangan Bupati Ibnuakan dipimpin langsung olehSri Andini, yang juga ketuaPN Sleman. ‘’Kami telah me-ngirimkan surat pemberita-huan sidang ini kepada Ke-jaksaan Negeri Sleman,’‘kata Muslim kepada warta-wan, Rabu (27/5).Ia mengatakan mengingatjumlah saksi yang akan di-hadirkan sampai 64 orang,bisa saja nantinya persida-ngan akan digelarsecara maraton. SedangYoni P, kasie Pidsus KejariSleman, mengatakan begitukantornya mendapatkan su-rat pemberitahuan sidang,pihaknya akan mengeluar-kan surat panggilan untukterdakwa Ibnu Subiyantoagar menghadiri persidang-an tersebut.‘’Secepatnya dalam waktutiga hari ini, kami akan me-ngeluarkan surat panggilankepada Bupati Ibnu,’‘ kataYoni, yang mengkoordinirtim jaksa yang akan mena-ngani kasus ini.Tanggal 26 Mei lalu, Ke-jari Sleman telah melimpah-kan berkas perkara Ibnu inike PN Sleman (Republika27/5). Dalam berkas perkaraitu, Ibnu diajukan sebagaiterdakwa dalam kasus duga-an korupsi pengadaan bukuajar di Sleman Tahun 2004,yang diduga merugikan ne-gara sampai Rp 12 miliar.Ibnu diduga telah melang-gar pasal 2 dan 3 UU TindakPidana Korupsi. Kasus Ibnuini sudah teregister di PNSleman dengan perkana No271/Pid-B/2009/PN Sleman.Terkait rencana persidan-gan, Wakil Ketua DPRD Sle-man, Rohman Agus Sukam-ta, mengatakan DPRD tidakpunya wewenang me-nonaktifkan Ibnu. ‘’Tidakada ruang (perundangan-undangan) yang mengaturdewan untuk menonaktifkanseorang bupati yang sedangberperkara di persidangan,’‘kata Rohman kemarin.
■
yoe
Bupati Sleman DisidangTanggal 4 Juni
YOGYAKARTA — Keru-kunan di antar warga ma-syarakat merupakan modalsosial untuk menyelamatkanjiwa warga dari korban ben-cana. Sebab adanya keruku-nan membuat warga salingmenjaga dan memberikaninformasi tentang bakal ada-nya bencana.Demikian diungkapkanKepala Badan Nasional Pe-nanggulangan Bencana (BNPB) Dr Syamsul Maarif keti-ka menjadi
keynote of speech
pada ‘Seminar InternasionalRefleksi Tiga Tahun GempaBumi Yogyakarta dan Antisi-pasi Gempa Bumi di MasaDepan’ di UII Yogyakarta,Rabu (27/5). Seminar meng-hadirkan pembicara Dr Tet-suro Goto (Jepang), Prof Sar-widi dan Prof Pawirodi-kromo Widodo (UII).Dijelaskan Syamsul Ma-arif, rumus bencana ada em-pat yaitu bahaya, kerenta-nan, pemicu, dan bencana.Agar terhindar dari bahaya,masyarakat harus diingat-kan tentang bahaya yangmengancam keselamatanmereka. Kemudian disosial-isasikan tentang kerawananyang dihadapi masyarakat.Faktor pemicu terjadinyabencana ada bermacam-ma-cam yang membuat lupaakan bahaya. Akhirnya ter-jadi bencana.Yogyakarta, kata Syamsul,dinilainya sebagai contoh ter-baik tentang penanggulanan-gan pascabencana. Hal inidisebabkan Yogyakarta mem-punyai modal sosial sehinggahubungan diantara warga sa-
ngat erat dan mereka salingpeduli. ‘’Adanya kearifan lo-
kal ini membuat warga Yog-yakarta dan sekitarnya cepatdalam penanggulangan ben-cana,’‘ kata Syamsul.Selama itu bencana telahbanyak merenggut banyaknyawa. Pada Desember 2004,Tsunami di Aceh-Nias telahmerenggut 165.708 jiwa den-gan kerugian Rp 48 Triliun.Bulan Mei 2006, gempa bumidi Yogyakarta dan Jatengmerenggut 5.716 nyawa,306.234 rumah hancur den-gan kerugian Rp 29,1 Triliun.Kemudian Juli 2006, Tsu-nami Pangandaran, Jawa Ba-rat merenggut 645 jiwa dan1.908 rumah rusak dengankerugian Rp 1,3 Triliun. Ban-jir Jakarta, Februari 2007,merusak 145.742 rumah te-
rendam banjir dengan keru-gian Rp 5,2 Triliun.Sementara Prof Sarwidimengemukakan agar kesa-daran masyarakat mengha-dapi resiko gempa bumi ha-rus tetap dijaga dan tidakboleh terlena. Hal ini dimak-sudkan agar masyarakat siapmenghadapi bahaya gempasewaktu-waktu untuk memi-nimalkan korban jiwa.
■
hep
Modal Sosial SelamatkanWarga dari Bencana
kilas
Din :
Face Book
Banyak Manfaatnya
YOGYAKARTA — Tidak semua ulamaatau pemimpin organisasi keagamaan meli-hat
face book
(FC) itu merugikan. KetuaPimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah DinSyamsuddin bahkan menilai bahwa FCbanyak memberikan manfaat dalam berko-munikasi.‘’FC itu hanya sebuah alat tehnologi untukberkomunikasi sama dengan telepon,
hand phone
ada positif dan negatifnya. Saya peng-guna FC dan saya rasakan banyak manfaat-nya untuk berkomunikasi,’‘ papar Din kepadawartawan di kantor PP MuhammadiyahYogyakarta, Rabu (27/5).Menurutnya, tidak semua hal bisa ditarikdalam hukum/fikih dengan hanya melihat halpositif atau negatif saja tanpa melihat dariaspek yang cukup luas. ‘’Oleh karena itumenurut saya untuk melihat halal dan haramtidak perlu ulama masuk kesitu,’‘ tegas Din.Diakui Din, banyak warga Muhammadiyahyang menggunakan fasilitas FC untuk berko-munikasi. Bahkan warga Muhammadiyah inimenamakan dirinya jamaah
facebookiah
.
■
yli
18 Rumah RusakDihantam Angin Ribut
SLEMAN — Sekurangnya 18 rumah rusak,dan dua diantaranya roboh akibat angin pu-ting beliung yang menerjang Desa Pondokrejodi Kecamatan Tempel, Sleman, Selasa sorelalu. Tak ada korban jiwa atau luka pada peri-stiwa ini, namun kerugian yang diderita wargaditaksir sampai puluhan juta rupiah.‘’Angin kencang hanya berlangsung duamenit sekitar pukul 04.00 tapi cukup untukmerobohkan sejumlah pohon dan merusakatap-atap rumah disini,’‘ kata Kasimen, ke-pala Dusun Jlepo di Desa Pondokrejo.Kemarin warga di desa itu bergotong ro-yong untuk menyingkirkan pohon-pohonyang runtuh serta memperbaiki atap-ataprumah yang hancur. Mereka dibantu aparatTNI dan kepolisian.
■
yoe
Panwaslu SosialisasiPengawasan Pilpres
YOGYAKARTA — Paniti Pengawas Pemili-
han Umum (Panwaslu) Provinsi DIY menye-lenggarakan Sosialisasi Pengawasan Pemi-lu Presiden 2009 dihadapan pimpinan me-dia massa di Yogyakarta, Rabu (27/5) diHotel Inna Garuda. Sosialisasi menghadir-kan tiga narasumber yakni Ketua PanwasluDIY, Agus Truyatno, anggota Panwaslu HeriJoko Setyo dan anggota Panwaslu BantulHerlina.Agus mengungkapkan, banyak hal yangmesti ditelaah terkait dengan penambahan jumlah pemilih pada pemilihan presiden (Pil-pres) bulan Juli mendatang. Ia mencontohkandi Kota Yogyakarta belakangan ada penam-bahan jumlah pemilih sampai 13 ribu orang.‘’Bagi kita angka penambahan ini cukup be-sar dan patut kita lakukan pengawasan.’‘Senada dengan Agus, Heri juga menyam-paikan berbagai kendala yang dihadapi Pan-waslu kabupaten dan kecamatan terkait de-ngan pemutakhiran data DPS Pilpres. Pasal-nya tidak mudah bagi Panwaslu mendapat-kan data dari KPU.Ia mengatakan jumlah tenaga pengawasdi DIY sebanyak 690 orang. Mereka ini me-ngawasi 8.155 TPS. Ini berarti 1 pengawasmengawasi 100 TPS bahkan ada yang lebihdari 110 TPS.
■
wab
Leave a Comment