Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
8Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
BAB II KUA Kerangka Ekonomi Makro Daerah

BAB II KUA Kerangka Ekonomi Makro Daerah

Ratings: (0)|Views: 1,103|Likes:
Published by ideajogja

More info:

Published by: ideajogja on Jul 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

08/02/2013

pdf

text

original

 
BAB IIKERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH2.1.Perkembangan Indikator Ekonomi Makro Daerah2.1.1 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Keberhasilan pembangunan ekonomi suatu daerah dapat dicerminkan daribeberapa indikator makro. Salah satu indikator makro yang sering digunakan untukmelihat keberhasilan pembangunan adalah Produk Domestik Regional Bruto(PDRB). Besarnya nilai PDRB yang berhasil dicapai dan berkembangannyamerupakan refleksi dari kemampuan daerah dalam mengelola sumber daya alamdan sumber daya manusia.Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Gunungkidul pada tahun2000–2007 menunjukkan rata-rata pertumbuhan adalah 4,1% pertahun. Angkapertumbuhan itu masih relatif lebih rendah jika dibanding Kabupaten/Kota lain diwilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Beberapa faktor yang menyebabkanrendahnya pertumbuhan ekonomi di Gunungkidul dibanding kabupaten lain di DIYantara lain; 1). struktur produksi pembentuk PDRB belum mempunyai keunggulankomparatif dan daya saing dibanding daerah lain di DIY, 2). struktur produksi masih
resourced-based economic 
, 3). Investasi masih didominasi oleh pemerintah melaluianggaran belanja pemerintah, 4). Struktur tenaga kerja yang masih dominan disektor primer dibanding sektor sekunder dan tersier, yang tidak diimbangi denganperkembangan daya serap tenaga kerja sektor ini. Meskipun demikian dari tahun2003 sampai dengan tahun 2007 menunjukkan peningkatan secara kontinyu. Padatahun 2008 laju pertumbuhan ekonomi daerah menunjukkan kenaikan yang cukupsignifikan, yaitu sebesar 4,34%. Angka pertumbuhan ini sudah mampu melampauitarget yang ditentukan sebesar 4 % pada akhir tahun 2010.Berlangsungnya pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Gunungkidul saat ini juga ditunjukkan oleh adanya perkembangan sektor jasa yang cenderung naik.Sifat sektor jasa adalah mudah tumbuh seiring banyaknya pelaksanaanpembangunan fisik, mudah dimasuki masyarakat tanpa memerlukan keterampilanyang rumit, dan dari segi ekonomi lebih menjanjikan. Di sisi lain, sektor pertanianmengalami kecenderungan sulit naik atau lebih cenderung ke arah stagnan, yangmenandakan adanya kejenuhan dalam perkembangannya. Kedua fenomena diatas menunjukkan adanya transformasi ekonomi dari sektor primer ke sektosekunder dan tersier.
6
 
Tabel II.1.PDRB Kabupaten Gunungkidul Tahun 2003-2007 (miliarrupiah)
LAPANGANUSAHA20032004200520062007Pertanian1.022.8781.026.0871.080.9751.136.4321.141.121Pertambangan danPenggalian58.05156.77355.80256.86055.808IndustriPengolahan299.096309.914319.590327.918332.600Listrik, Gas, dan Air Bersih10.64612.66713.42714.19314.922Bangunan180.703191.552199.900210.175235.067Perdag., Hotel, danRestoran352.235370.589384.520393.665429.268Pengangkutan danKomunikasi160.145174.444183.272191.580206.779Keu., Persewaan,dan Jasa Persh.103.506113.906119.825119.954131.857Jasa-jasa339.259357.305369.079379.805393.866Total2.526.519 2.613.2372.726.3902.830.5822.941.288
Sumber: BPS, Gunungkidul dalam Angka 2004-2008
Perkembangan sektor yang cenderung menurun dibandingkan tahun 2003 dialamioleh sektor pertambangan dan penggalian. Kontributor sektor terbesar dalampembentukan PDRB Kabupaten Gunungkidul selama tahun 2003-2007 berasal dariSektor Pertanian, yaitu 39,67 persen. Penyumbang terbesar kedua adalah Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran sebesar 14,15 persen. Sedangkan penyumbangterkecil adalah sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih hanya sebesar 0,48 persen saja.Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor pertanian saat ini masih menjadi andalansebagai sumber mata pencaharian masyarakat Kabupaten Gunungkidul. Akantetapi di masa mendatang aspek manajemen kelembagaan harus mendapatkanperhatian yang serius yaitu terobosan kebijaksanaan yang berarti agar dampaknyalangsung mengena pada laju perkembangan yang cenderung stagnan bahkanturun.Kontribusi sektor pertanian sebagai penyumbang PDRB terbesar merupakanrefleksi dari luasnya lahan yang ada dan mata pencaharian terbesar masyarakatKabupaten Gunungkidul adalah sebagai petani. Kecilnya peranan sektor pertambangan dalam memberikan kontribusi PDRB (hanya 2,08 persen),sementara secara nyata potensinya besar, menunjukkan sumber daya alampotensial Kabupaten Gunungkidul yang berupa bahan-bahan galian belumdimanfaatkan secara optimal.
7
 
2.1.2 InflasiInflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikanindeks pada kelompok-kelompok sebagai berikut : kelompok makanan jadi,minuman, rokok & tembakau 0,52 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gasdan bahan bakar 0,20 persen, kelompok sandang 1,02 persen, kelompokkesehatan 0,73 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,06 persendan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,25 persen. Sedangkankelompok yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok bahan makanan0,26 persen.Laju inflasi tahun kalender (Januari-Maret) 2009 sebesar 0,36 persen, sedangkanlaju inflasi year on year (Maret 2009 terhadap Maret 2008) sebesar 7,92 persen.Inflasi komponen inti pada bulan Maret 2009 sebesar 0,46 persen, laju inflasikomponen inti tahun kalender (Januari-Maret) 2009 sebesar 1,59 persen,sedangkan laju inflasi komponen inti year on year (Maret 2009 terhadap Maret2008) sebesar 7,15 persen. Sedangkan laju inflasi tahun 2010 diasumsikansebesar 5 persen.Pada bulan April 2009 terjadi deflasi sebesar 0,31 persen dengan indeks hargakonsumen (IHK) sebesar 113,92. Dari 66 kota, tercatat 50 kota mengalami deflasidan 16 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Manado 1,32 persendengan IHK 115,03 dan terendah terjadi di Surakarta 0,02 persen dengan IHK109,27. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Palopo 0,99 persen dengan IHK124,62 dan terendah terjadi di Palangkaraya 0,06 persen dengan IHK 115,50Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh penurunanindeks pada kelompok kelompok bahan makanan 1,33 persen dan kelompoksandang 1,70 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami kenaikan indeksadalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,40 persen;kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,12 persen; kelompokkesehatan 0,34 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,05 persendan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,07 persen.Laju inflasi tahun kalender (Januari-April) 2009 sebesar 0,05 persen, sedangkanlaju inflasi “
year on year 
” (April 2009 terhadap April 2008) sebesar 7,31 persen.Komponen inti pada bulan April 2009 mengalami deflasi sebesar 0,04 persen, lajuinflasi komponen inti tahun kalender (Januari-April) 2009 sebesar 1,55 persen,
8

Activity (8)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 thousand reads
1 hundred reads
Muhammad Sukri liked this
Niken Nindya liked this
taimurtasy liked this
muhammadalfan liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->