Kata Pengantar
Perjalanan advokasi anggaran di Indonesia berawal dari maraknyagerakan anti korupsi, tepatnya sejak dimulainya era otonomi daerahpada tahun 2000. Korupsi yang awalnya sentralistik pun ikut bergeserke provinsi dan kabupaten/kota. Lembaga eksekutif dan parlemendaerah menjadi sarang korupsi. Perlawanan terhadap korupsi inilahyang menjadi agenda awal para pegiat advokasi anggaran, seiring dengan
pemberlakuan desentralisasi iskal. Selanjutnya advokasi anggaran
bergeser untuk menakar alokasi anggaran dalam pemenuhan hak dasarsekaligus mendorong proses penganggaran yang partisipatif, transparan,dan akuntabel.Buku yang sedang Anda baca ini berusaha mendokumentasikanpengalaman para pegiat advokasi anggaran ketika berurusan denganberbagai kasus korupsi dan pengelolaan anggaran daerah yang buruk.Cakupan pengalaman yang direkam dalam naskah ini cukup luas. LaporanSeknas Fitra,
Tiada Kata Cukup?
misalnya, menunjukkan advokasianggaran tidak lepas dari aspek peraturan dan perundang-undangan.Pada bagian yang lain, PATTIRO Malang membagi pengalaman merekamendorong pembentukan dan implementasi anggaran daerah yangberorientasi pemenuhan hak dasar warga negara, khususnya pendidikan.Pengalaman advokasi mereka dapat disimak pada artikel
Meraih Hak atas Pendidikan Melalui BOSDA
.
Add a Comment