justru engkau kutuk-kutuk. Belum lagi kalau engkau nanti menyadari bahwanegerimu ini bukan saja mampu dengan gampang membebaskan dirinya darikrisis dan hutang-hutang, namun bahkan bisa menjadi negeri adikuasa --seandainya SDM kita tidak berkarakter tikus-tikus...Abacadabra sungguh kita memang telah tak mensyukuri rahmat sepenggalsorga ini. Kita telah memboroskan anugerah Tuhan ini melalui cocok tanamketidak-adilan dan panen-panen kerakusan.
5
Cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi. Sunan Ampel tidak menuliskan:"Ulama, Ulama", "Pak Jendral, Pak Jendral", "Intelektual, Intelektual" atauapapun lainnya, melainkan "Bocah Angon, Bocah Angon..."Beliau juga tidak menuturkan : "Penekno sawo kuwi", atau "Penekno pelem kuwi"atau buah apapun lainnya, melainkan "Penekno blimbing kuwi"Blimbing itu bergigir lima. Terserah tafsirmu apa gerangan yang dimaksuddengan lima.Yang jelas harus ada yang memanjat "pohon licin reformasi" ini -- yang sungguh-sungguh licin, sehingga banyak tokoh-tokoh yang kita sangka sudah matang dandewasa ternyata begitu gampang terpeleset dan kini kebingungan bak layang-layang putus.....Kita harus panjat, selicin apapun, agar blimbing itu bisa kita capai bersama-sama.Dan yang memanjat harus "Cah Angon". Tentu saja ia boleh seorang doktor,boleh seorang seniman, boleh kiai, jendral, atau siapapun saja -- namundimilikinya daya angon.Kesanggupan untuk menggembalakan. Karakter untuk merangkul dan memesraisemua pihak. Determinasi yang menciptakan garis resultan kedamaian bersama.Pemancar kasih sayang yang dibutuhkan dan diterima oleh semua warna,semua golongan, semua kecenderungan.Bocah Angon adalah seorang pemimpin nasional, bukan tokoh golongan ataupemuka suatu gerombolan. Bocah Angon adalah waliyullah, negarawan sejati,'orang tua yang jembar', bukan Lowo Ijo yang gemagah, bukan Simorodra yangmengaum-aum seenak napsunya sendiri.
6
Lunyu-lunyu penekno. Kanggo mbasuh dodot iro. Sekali lagi, selicin apapun jalan reformasi ini, engkau harus jalani....
Leave a Comment