/  18
 
Agar Dia Selalu Cinta
“Sayang, I love you!” Hari ini entah sudah untuk yang keberapa kalinya suamiku membisikan kata itudengan lembut tidak saja langsung bibirnya menempel di telingaku, tetapi juga melalui SMS ketika diasudah di kantor. Biasanya akupun langsung membalasnya, I love you too, mas. Terima kasih telah menjadisuamiku.”Aku menyadari, aku memiliki bebrapa kelebihan, tetapi sesungguhnya kekuranganku jauh melebihkelebihan yang aku punya. Aku bukan perempuan yang cantik jelita seperti ratu balqis, bukan pula wanitakaya raya seperti ummahatul mu’minin Khadijah. Walaupun tidak buta, tetapi pemahamanku terhadapIslampun masih perlu perbaikan.Tak banyak yang istimewa yang aku punya, makanya aku sangat bersyukursekali Allah menghadirkan seseorang yang Allah halalkan tidak saja hatinya tetapi juga fisiknya padaku.Walaupun aku hanyalah perempuan biasa, Allah memberiku seorang laki-laki yang sholeh, baik, rendahhati dan amat sangat sayang padaku.Ibuku pernah berpesan, ada empat perkara yang harus kita perhatikan agar tercipta syurga dunia dalamrumah tangga. Sebagai seorang istri kita memang dituntut untuk memaksimalkan kemamapuan agar indahdipandang mata, sejuk dilihat, tenang ditinggal, membangkitkan gairah, dan menumbuhkan ketaatan suamikepada Allah. Disamping menjadi ibu yang baik dalam mendidik anak-anak kita.Pertama, mampu memberikan kepuasan di tempat tidur. Tempat tidur adalah ruang yang paling privacyantara kita dan suami. Disanalah biasanya suami mengurai keletihan setelah bekerja seharian. Tempat tidur juga merupakan tempat dimana biasanya suami istri menunaikan hajat seksualnya. Untuk itu istri di tuntutuntuk menata tempat tidur dengan baik, bersih dan harum. Istri perlu memahami kebutuhan seksual suami,memenuhi ajakan bersetubuh dengan segera, memberikan kepuasan maksimal dalam bersetubuh, jika perlutidak ada salahnya istri menawarkan diri.Kedua, menciptakan keindahan di dalam rumah, menatanya dengan penuh artistik, serta menjaga hartayang ada di dalamnya. Rumah yang besar belum tentu menciptakan ketenangan dan kedamaian. Perabotanyang banyak lagi mahal tidak juga bisa membuktikan penghuninya adalah pasangan yang berbahagia.Keindahan di sini adalah keindahan yang terpancar dari tangan lembut dan keikhlasan penatanya, yaituistri yang sholehah, qonaah, tawadhu, dan rendah hati.Ketiga, mendidik dan menjaga anak-anak. Anak-anak adalah amanah, anak-anak adalah investasi, anak-anak merupakan hiburan bagi kita. Anak-anak yang bersih, sehat, cerdas adalah dambaan orang tuanya.Menjadikan anak-anak kita sholeh, cerdas, sehat dan bersih membuktikan keberhasilan kita mendidikmereka. Suami akan bekerja lebih giat untuk mencari nafkah jika melihat anak-anak dalam kondisi sepertiini.Keempat, saling memaafkan. Suami istri berasal dari dua keluarga yang berbeda, kebiasaan yang berbeda,adat-istiadat yang berbeda, sifat yang berbeda. Keduanya bukanlah makhluk yang sempurna yang takpernah salah. Keduanya sama-sama memiliki kekurangan. Meminta maaf terlebih dahulu jika memilikisalah dan segera memaafkan suami serta tidak mengungkit-ungkit lagi kesalahan yang pernah ada akanmenautkan lagi kemesraan kita berdua.Seorang suami tidak akan memikirkan perempuan lain jika istri mampu menampilkan semua inidihadapanya. Memberikan kebahagiaan lahir batin, menciptakan suasana segar, serta istri yangmenentramkan jiwa. Tak akan pula ada percekcokan, sakit hati atau penyesalan telah mengikat janji berduadihadapan Allah aza wajalla. Yang ada adalah ungapan sayang, kata-kata mesra, cinta yang selalu berbunga,mudah-mudahan berkah Allah selalu melingkupinya.
yesi elsandra
(For my husband, I will always love you) 
 
Harry Potter dan Muhammad Al Fatih
Antrian panjang muda-mudi pada loket-loket penjualan tiket hari pertama pemutaran film ”The Lord of the Rings”atau pada peluncuran buku ”Harry Potter” adalah pemandangan keseharian di negeri-negeri Barat. Fenomena yangsama terjadi juga di negeri kita, seperti yang baru-baru ini dimuat di berita photo detik.com. Mereka yang sebagianbesar adalah muda-mudi, termasuk yang ”berjilbab”, ada dalam antrian panjang untuk membeli buku Harry PotterJilid V yang harganya Rp. 140.000. Uang sejumlah itu bukanlah sedikit untuk masyarakat kita umumnya. Masihingatkah kita kisah seorang anak SD yang mencoba mengakhiri hidupnya gara-gara malu karena tidak bisa membayaruang untuk kegiatan sekolah yang besarnya hanya Rp. 2500.Harry Potter ... hampir semua remaja, bahkan dewasa, begitu mengenalnya. Bukunya laris manis bak kacang goreng.Film-film-nya sangat ditunggu-tunggu. Asesorisnya menjadi bahan koleksi para penggemarnya. Mereka hafal secaradetil petualangan tokoh yang bernama Harry Potter ini. Bahkan pernah dilaporkan di majalah Time, kacamata modelHarry Poter, sangat digandrungi oleh anak-anak dan remaja di Inggris, dan saya yakin juga di negara-negara lain,termasuk negara kita. Believe it or not, bahkan ada sebuah keluarga yang memberi nama anaknya yang baru lahirHarry Potter .... karena begitu kagumnya terhadap tohoh yang satu ini. Sedikit, bahkan bisa dikatakan hampir tidakada, remaja kita yang tidak kenal dengan nama Harry Potter. Dan yang sedikit ini umumnya dikategorikan sebagaikuno, tidak gaul, dan ketinggalan zaman.”...saya berkewajiban menemani dia membeli buku”,ujar seorang Profesor yang juga ketua salah satu komisi di DPR.Meski hanya fiksi, penulis buku Harry Potter sering menyisipkan falsafah hidup yang dapat membuat anak-anak lebihbijak, demikian alasan sang Profesor seperti yang ditulis di detikhot.com.Kalau alasannya untuk mencari falsafah hidup, tidak cukupkah Islam sebagai minhaaj al-hayaah (pedoman hidup)memberikan itu semua? Bila kemudian alasannya agar bisa menjadi manusia yang lebih bijak dan berakhlak, lantas apaarti hadist Rasulullah SAW ”Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyem-purnakan akhlak yang manusia”.Tidak cukupkah itu semua, sehingga kita mesti mengambilnya dari sumber-sumber lain, yang belum tentu sejalandengan tuntunan Islam.Muhammad Al-Fatih .... siapakah dia? Jika pertanyaan ini diajukan ke 1000 remaja muslim, mungkin hanya 1diantaranya yang tahu jawabannya. Dialah pemuda muslim yang dalam usia 23 tahun berhasil memimpin penaklukankonstantinopel (sekarang bernama Istambul), yang merupakan pusat peradaban barat di abad pertengahan [1]. Sangpemuda ini berhasil mengambil alih konstantinopel dari tangan kerajaan Bizantium yang merupakan kelanjutan dariRoman Empire dan telah menguasai Konstantinopel lebih dari 10 abad [2].Remaja Muslim sekarang lebih kenal dengan tokoh Harry Potter, ketimbang tokoh Muhammad Al-Fatih. Mahasiswa-mahasiswa muslim di negeri ini lebih mengenal dan mengagumi sosok Einstein, Louis Pasteur dan Aristotelesketimbang sosok Khwarizmi si-penemu sistem aljabar dalam dunia matematika [2,3], Ibn Sina (Avicenna) yang telahmenulis buku ”The Canon” yang telah menjadi buku rujukan utama di dunia kedokteran Eropa selama lebih dari 5abad dan Ibu Rushd (Averroes) yang fikiran-fikirannya telah mempengaruhi filsuf-filsuf terkenal Eropa seperti RogerBacon [2], padahal ilmuawan-ilmuawan muslim ini sangat dikenal di dunia barat.Begitulah nasib muslim di negeri ini yang terkadang lebih ’kebarat-baratan’ daripada orang-orang barat sendiri.Lihatlah buku-buku yang terpajang di rak dinding ruang tamu kita, berapa banyak dari buku-buku tersebut yangmerupakan kitab tafsir, fiqh sunah dan buku-buku kisah para sahabat, lalu bandingkan dengan koleksi buku-bukusemacam Harry Potter ... Bila tangan kita dengan mudahnya meraih lembaran-lembaran 50 atau 100 ribuan di dompetuntuk membeli buku semacam Harry Potter, buku-buku komputer terbaru, buku-buku manajemen dan psikologimodern, sementara hanya lembaran uang ribuan atau bahkan koin recehan yang keluar dari saku kita guna membelibuku-buku Islam, menyumbang kegiatan keislaman, dan mengisi kotak amal di masjid-masjid. Waktu yang kitagunakan untuk kegiatan-kegiatan keislaman pun biasanya waktu-waktu sisa, saat kita sudah letih dan tak mampu lagiberfikir jernih. Terlalu naif rasanya bila kemudian kita masih bertanya mengapa umat (Islam) ini menjadi umat yangterbelakang, umat sisa, umat yang menjadi bulan-bulanan umat-umat yang lain. 
Negeri batu cadas, Swedia, 11 Desember 2003
[1] As-Sunnah sebagai Sumber Iptek dan Peradaban, Dr. YusufAl-Qardhawy.
 
[2] Almanac of World History, published by National Geographic.[3] Time Magazine, 24 Desember 2001.
 
Ketukan Pintu Kematian
Semua karyawan di kantor kami tahu siapa itu Kamda. Lajang berperawakan gempal, tinggi besar itu sejak bekerja diperusahaan kami hanya dalam beberapa bulan saja sudah mulai menunjukkan perangai aslinya. “Mentang-mentangbos kita adalah pamannya, dia seenaknya saja berbuat sama kita!” Begitu sengit Wahid, salah satu mekanik di bengkelperusahaan kami. Kamda, begitu dia biasa kami panggil, memang masih belia, belum punya pengalaman kerja, dansebagian besar karyawan menganggapnya masih terlalu muda untuk mengatur banyak urusan kerja di bengkel yanghuni oleh lebih dari 400 karyawan. Namun itulah! Orang terkadang tidak melihat siapa dirinya. Merasa secara politikberada diatas angin, segala sesuatu yang dilakukan seolah dianggap benar, dan jadi keputusan perusahaan. Tidak adaseorangpun yang berani mempertanyakan ‘kebijakan’ nya, kecuali hanya ‘ngrasani’ saja!Usia Kamda tidak lebih dari 21 tahun waktu itu. Rata-rata karyawan perusahaan kami tidak pernah menyangka,karena penampilan fisiknya dia kelihatan jauh lebih tua dari pada umur yang sebenarnya. Sekali dia bicara, karenaalasan security, tidak ada yang berani menentangnya. Dalam kondisi amat yunior, Kamda menduduki posisi penting diperusahaan, sebagai Technical Adviser. Padahal dia tidak memiliki pengalaman kerja sama sekali, kecuali baru sajalulus sekolah, setingkat program diploma teknik automobile.Apapun yang dilakukan Kamda memang tidak berpengaruh pada saya karena saya bukan dibawah departemennya.Kami berbeda unit kerja. Terkadang Kamda mengunjungi departemen kami, sekedar memberi salam. Tidak lebih dariitu. Bagi saya, sikapnya biasa-biasa saja sebagaimana karyawan lainnya yang memiliki posisi manajer semacam dia.Sungguh saya tidak mengerti kenapa banyak orang-orang yang bekerja dibawah supervisinya sering mengeluh, tidakterkecuali Wahid diatas.Tiap Rabu para semua karyawan unit teknik berbaris, berkumpul layaknya apel pasukan kepolisian. Itu rutin merekalaksanakan. Sebagaimana biasa Kamda yang melakukan inspeksi. Kerapian rambut, jenggot, kebersihan baju, kilatnyasepatu, dan kelengkapan peralatan bengkel yang menjadi tanggungjawab setiap mekanik, menjadi sorotan Kamda. Satusaja mekanik yang diketahui tidak menyemir sepatunya, atau rambutnya kelihatan kurang rapi, tidak tanggung-tanggung, “Pulang!!!!”Begitu hardik nya, memerintahkan sang karyawan untuk pulang. No excuse! Setiap hari Rabu,selalu ada saja karyawan yang dipulangkan karena berbagai alasan, hasil dari inspeksi Kamda.“Kenapa kamu Khalid? Tidak ada kerjaan ya?” Teriaknya suatu ketika lewat corong speaker yang gaungnya bisadidengar di seluruh gedung bengkel yang luasnya tidak kurang dari 5000 meter persegi. Besar kan? Orang pun takut.Bukan segan kepadanya. Nyaris tidak ada hari-hari tanpa kedengaran bentakan Kamda terhadap bawahannya. Sayamenduga-duga, bahwa orang-orang kecil dibawahnya pasti sudah macam-macam doa nya untuk atasan yang satu ini.Alasannya sudah jelas: Kamda terlalu ceroboh memperlakukan bawahannya, seolah buta sama sekali akanpengetahuan manajemen perusahaan. Human Resource Management ataupun Organizational Behavior, dua hal yangwajib dipelajari sebagai bekal oleh mereka yang duduk di kursi manajer, sepertinya tidak pernah disentuh oleh Kamda.Pada akhirnya, karena begitu banyak karyawan yang menggunjingkan soal sikap kepemimpinannya yang kurang baik,saya jadi berkesimpulan bahwa Kamda sudah seharusnya ‘sekolah’ lagi, mengkaji ilmu untuk kepentingan profesinya juga kelangsungan kerja perusahaan.“Aku akan ke Amerika Serikat, untuk melanjutkan studi!” katanya suatu hari kepada saya dengan wajah yang cerah.Alhamdulillah! Ya! Kamda mengikuti tugas belajar atas beaya negara ke Los Angeles-AS. “Good!” jawabku, ikut senangmendengar berita baik ini. Dalam hati saya turut berharap semoga dia akan banyak belajar tentang hal-hal baru yangtidak diperoleh selama di perusahaan kami, terutama tentang manajemen. Hubungan kami memang baik, jadi sudahsepantasnya saya turut mendoakan demi kebaikannya. Apa yang saya rasakan terhadap penampilan Kamda,berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh sebagian besar orang-orang teknik. Apakah Kamda hanyamelakukan kerjanya? Wallahu’alam!Dua tahun berlalu begitu cepat. Ceritera tentang Kamda tidak lagi terdengar di perusahaan. Sepertinya semua orangsudah melupakan keberadaannya. Padahal, belum juga aku lupa tentang bagaimana kesan para karyawan terhadapnya,tiba-tiba dia muncul di depan pintu kantor kami “Assalamu ‘alaikum...!” Sapanya hangat. Kamipun berdiskusi tentanghal-hal yang dialaminya selama tinggal di Los Angeles. Pergaulan bebas, beaya hidup mahal, kesediaan fasilitas hidup,fleksibilitas studi, dan lain-lain objek pembicaraan kami. Kamda ternyata datang lagi di perusahaan kami!Kali ini penampilannya amat beda dengan dua tahun lalu. Kamda sepertinya sudah banyak belajar tentang kehidupan,dan yang lebih penting, kepemimpinan. Sikap uring-uringannya terhadap bawahan yang hanya karena masalah sepele,tidak lagi ada. Karyawan mulai simpati. Mereka yang dua tahun lalu sering menggunjingkan keangkuhan dan kekeras-kepalaannya hampir tidak lagi terdengar. “Kamda berubah!!!” kata-kata itu sering masuk begitu saja ke telinga saya.Kamda jadi sering mengutamakan kepentingan anak buahnya. Mereka yang mengeluh sakit sedikit saja, acapkalidisuruh istirahat di rumah, padahal tadinya sikap Kamda jauh dari yang namanya ‘belas kasih’ ini. Dalam apel setiapRabu, Kamda lebih banyak senyum ketimbang mengamati siapa yang ‘salah’ atau kurang beres dalam berpakaian.

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...