adalah Koperasi kredit yang melayani pedagang kecil dan pengusaha kecil guna memenuhi kebutuhanmodal. Bung Hatta juga menganjurkan pengorganisasian industri kecil dan Koperasi produksi, gunamemenuhi kebutuhan bahan baku dan pemasaran hasil.Menurut Bung Hatta, tujuan Koperasi bukanlah mencari laba yang sebesar-besarnya, melainkanmelayani kebutuhan bersama dan wadah partisipasi pelaku ekonomi skala kecil. Tapi, ini tidak berarti, bahwa Koperasi itu identik dengan usaha skala kecil. Koperasi bisa pula membangun usaha skala besar berdasarkan modal yang bisa dikumpulkan dari anggotanya, baik anggota Koperasi primer maupunanggota Koperasi sekunder. Contohnya adalah industri tekstil yang dibangun oleh GKBI (GabunganKoperasi Batik Indonesia) dan berbagai Koperasi batik primer.Karena kedudukannya yang cukup kuatdalam konstitusi, maka tidak sebuah pemerintahpun berani meninggalkan kebijakan dan program pembinaan Koperasi.Semua partai politik, dari dulu hingga kini, dari Masyumi hingga PKI, mencantumkan Koperasisebagai program utama. Hanya saja kantor menteri negara dan departemen Koperasi baru lahir di masaOrde Baru pada akhir dasarwarsa 1970-an. Karena itu, gagasan sekarang untuk menghapuskandepartemen Koperasi dan pembinaan usaha kecil dan menengah, bukan hal yang mengejutkan, karenasebelum Orde Baru tidak dikenal kantor menteri negara atau departemen Koperasi. Bahkan, kabinet-kabinet yang dipimpin oleh Bung Hatta sendiri pun tidak ada departemen atau menteri negara yangkhusus membina Koperasi.Pasang-surut Koperasi di IndonesiaKoperasi di Indonesia dalam perkembangannya mengalami pasang dan surut. Sebuah pertanyaansederhana namun membutuhkan jawaban njelimet, terlontar dari seorang peserta. ?Mengapa jarangdijumpai ada Koperasi yang bertumbuh menjadi usaha besar yang menggurita, layaknya pelakuekonomi lain, yakni swasta (konglomerat) dan BUMN? Mengapa gerakan ini hanya berkutat dari persoalan yang satu ke persoalan lain, dan cenderung stagnan alias berjalan di tempat? MengapaKoperasi sulit berkembang di tengah ?habitat? alamnya di Indonesia?? Inilah sederet pertanyaan yang perlu dijadikan bahan perenungan.Padahal, upaya pemerintah untuk ?memberdayakan? Koperasiseolah tidak pernah habis. Bahkan, bila dinilai, mungkin amat memanjakan.Berbagai paket program bantuan dari pemerintah seperti kredit program: KKop, Kredit Usaha Tani(KUT), pengalihan saham (satu persen) dari perusahaan besar ke Koperasi, skim program KUK dari bank dan Kredit Ketahanan Pangan (KKP) yang merupakan kredit komersial dari perbankan, juga ? paket program? dari Permodalan Nasional Madani (PNM), terus mengalir untuk memberdayakangerakan ekonomi kerakyatan ini. Tak hanya bantuan program, ada institusi khusus yang menangani diluar Dekopin, yaitu Menteri Negara Urusan Koperasi dan PKM (Pengusaha Kecil Menengah), yangseharusnya memacu gerakan ini untuk terus maju. Namun, kenyataannya, Koperasi masih saja melekat dengan stigma ekonomi marjinal, pelaku bisnisyang perlu dikasihani, pelaku bisnis ?pupuk bawang?, pelaku bisnis tak profesional.Masalah tersebuttidak bisa dilepaskan dari substansi Koperasi yang berhubungan dengan semangat. Dalam konteks iniadalah semangat kekeluargaan dan kegotongroyongan. Jadi, bila Koperasi dianggap kecil, tidak berperan, dan merupakan kumpulan serba lemah, itu terjadi karena adanya pola pikir yang menciptakandemikian.Singkatnya, Koperasi adalah untuk yang kecil-kecil, sementara yang menengah bahkan besar,untuk kalangan swasta dan BUMN.Di sinilah terjadinya penciptaan paradigma yang salah. Hal ini mungkin terjadi akibat gerakan Koperasiterlalu sarat berbagai embel-embel, sehingga ia seperti orang kerdil yang menggendong sekarung berasdi pundaknya. Koperasi adalah ?badan usaha?, juga ?perkumpulan orang? termasuk yang ?berwatak sosial?. Definisi yang melekat jadi memberatkan, yakni ?organisasi sosial yang berbisnis? atau ?lembaga ekonomi yang mengemban fungsi sosial.?Berbagai istilah apa pun yang melekat, sama saja,semua memberatkan gerakan Koperasi dalam menjalankan visi dan misi bisnisnya. Mengapa tidak disebut badan usaha misalnya, sama dengan pelaku ekonomi-bisnis lainnya, yakni kalangan swasta danBUMN, sehingga ketiganya memiliki kedudukan dan potensi sejajar.Padahal, persaingan yang terjadi di lapangan demikian ketat, tak hanya sekadar pembelian embel-embel. Hanya kompetisi ketat semacam itulah yang membuat mereka bisa menjadi pengusaha besar yang tangguh dan profesional. Para pemain ini akan disaring secara alami, mana yang efisien dalammenjalankan bisnis dan mereka yang akan tetap eksis.Koperasi yang selama ini diidentikkan denganhal-hal yang kecil, pinggiran dan akhirnya menyebabkan fungsinya tidak berjalan optimal.Memang pertumbuhan Koperasi cukup fantastis, di mana di akhir tahun 1999 hanya berjumlah 52.000-an, maka di akhir tahun 2000 sudah mencapai hampir 90.000-an dan di tahun 2007 ini terdapat ——– Koperasi di Indonesia. Namun, dari jumlah yang demikian besar itu, kontribusinya bagi pertumbuhanmesin ekonomi belum terlalu signifikan. Koperasi masih cenderung menempati ekonomi pinggiran
Leave a Comment