“Wahai kaum muslimin… Janganlah kalian meminta fatwa di tempat inikecuali kepada Atho’ bin Abi Rabah… Jika ia tidak ada maka mintalahkepada Abdullah bin Abi najih.”
Salah seorang anaknya menoleh kepada ayahnya, dan berkata :
“Bagaimana pengawal menyuruh amirul mukminin untuk tidak memintafatwa kecuali pada Atho’ bin Abi Rabah dan Abdullah bin Abi najih.Sedangkan kita barusan telah datang meminta fatwa dari seseorang yang tidak mementingkan khalifah dan tidak menunaikan haknya dengan pengagungan !”
Berkatalah Sulaiman kepada anaknya :
“Dia adalah orang yang kita lihat tadi - wahai anakku- dan kau lihat ketundukan kita dihadapannya, itulah Atho’ bin Abi Rabah orang yangberhak untuk berfatwa di masjidil haram ini. Dialah pewaris Abdullah bin Abbas pada kedudukan yang agung ini…. “
Kemudian beliau meneruskan ucapannya :
“Wahai anak-anakku. Pelajarilah ilmu… Maka dengan itulah seseorangmemiliki kedudukan yang mulia. Menjadikan seseorang yang tidak dikenal menjadi terkenal…Dan meninggikan derajat para budak daripada para raja…”
***Atho’ bin Abi Rabah pada masa kecilnya adalah seorang budak milikseorang wanita penduduk Makkah. Allah memuliakan pemuda habasyahini dengan menuntunnya dari kecil di atas jalan ilmu. Beliau membagiwaktunya menjadi tiga bagian :Bagian pertama dia peruntukkan pada majikannya, melayaninya dengansebaik-baik pelayanan, dan menunaikan hak-haknya sesempurnamungkin.
3
Add a Comment