/  11
 
Atho’ bin Abi Rabah
Pada sepuluh hari terakhir daribulan dzulhijjah, tahun 97hijriyah. Ka’bah telah dipenuhioleh tamu-tamu Allah yangdatang dari segala penjuru;Pejalan kaki maupunpenunggang kuda; Orang tua,muda, laki-laki, ataupun wanita;Berkulit putih atau hitam; Orangarab ataupun non arab; majikan ataupun hamba sahaya; Mereka semuadatang kepada raja seluruh manusia dengan khusyubertalbiyahmengharapkan pahala.Adalah Sulaiman bin Abdil malik pemimpin kaum muslimin dan raja yangagung sedang melakukan thawaf di ka’bah tanpa penutup kepala, dantanpa alas kaki, beliau hanya mengenakan izar dan rida’. Keadaan beliausaat itu sama dengan rakyatnya dari saudara seimannya. Dibelakangbeliau terdapat kedua anaknya. Mereka berdua adalah dua pemuda yangseperti rembulan keelokannya, seperti mawar merekah yang segar danharum. ketika telah selesai dari thawafnya, beliau menengok kepadapengawal dan berkata :
“ Dimana mufti kalian ? “
Maka pengawalnya berkata :
“Dia disana sedang sholat …. “
Ia menunjuk ke arah barat masjidil haram. Kholifah pun berjalan menujukepadanya, dan dibelakangnya kedua anaknya mengikutinya.Pengawalnya berniat untuk mengikuti kholifah agar ia bisa melapangkan jalan untuknya dan menjaganya dari gangguan keramaian, maka kholifahmenolaknya dan berkata :
1
 
“Ini adalah tempat dimana tidak ada perbedaan antara raja dan rakyat,Dan tidak ada seorang pun yang lebih mulia kecuali denganketaqwaannya. Mungkin orang yang datang dengan rambut penuh debu Allah akan menerimanya, tidak seperti menerima seorang raja.” 
Kemudian kholifah berjalan mendekati lelaki tersebut, ia mendapati lelakiitu masih dalam sholatnya, tenggelam dalam ruku’ dan sujudnya. Paramanusia pun duduk dibelakangnya, disisi kanan dan kiri. Maka duduklahkholifah sampai selesai majlis itu dan kedua anaknya pun ikut dudukbersamanya. Kedua pemuda quraisy tersebut mulai memperhatikan lelakiyang dimaksud oleh kholifah, dan beliau duduk bersama manusiamenunggu lelaki itu selesai dari sholatnya. Dia adalah seorang syaikh darihabasyah, mukanya hitam, rambutnya keriting, hidungnya tidakmancung, jika ia duduk bagaikan seekor burung gagak yang hitam.***Ketika lelaki tersebut selesai dari sholatnya, beliau miring kesampingyang khalifah duduk disebelah tersebut, maka beliau mengucapkan salamkepada khalifah Sulaiman bin Abdil malik, khalifah pun membalasnya.Lelaki itu menghadap khalifah dan beliau mulai ditanya tentang tata carahaji, ia pun menjawab semua pertanyaan, Merincikan semuaperkataannya, serta menyandarkan semua perkataannya terhadapRasulullah. Ketika khalifah telah selesai bertanya ia mengucapakan rasasyukurnya kepada lelaki tersebut. Kemudian khalifah mengajak keduaanaknya menuju tempat sa’i. Dan ditengah perjalanan sa’i merekaantara shafa dan marwa, kedua pemuda tersebut mendengar orang-orang berseru :
2
 
“Wahai kaum muslimin… Janganlah kalian meminta fatwa di tempat inikecuali kepada Atho’ bin Abi Rabah… Jika ia tidak ada maka mintalahkepada Abdullah bin Abi najih.” 
Salah seorang anaknya menoleh kepada ayahnya, dan berkata :
“Bagaimana pengawal menyuruh amirul mukminin untuk tidak memintafatwa kecuali pada Atho’ bin Abi Rabah dan Abdullah bin Abi najih.Sedangkan kita barusan telah datang meminta fatwa dari seseorang yang tidak mementingkan khalifah dan tidak menunaikan haknya dengan pengagungan !” 
Berkatalah Sulaiman kepada anaknya :
“Dia adalah orang yang kita lihat tadi - wahai anakku- dan kau lihat ketundukan kita dihadapannya, itulah Atho’ bin Abi Rabah orang yangberhak untuk berfatwa di masjidil haram ini. Dialah pewaris Abdullah bin Abbas pada kedudukan yang agung ini…. “
Kemudian beliau meneruskan ucapannya :
“Wahai anak-anakku. Pelajarilah ilmu… Maka dengan itulah seseorangmemiliki kedudukan yang mulia. Menjadikan seseorang yang tidak dikenal menjadi terkenal…Dan meninggikan derajat para budak daripada para raja…” 
***Atho’ bin Abi Rabah pada masa kecilnya adalah seorang budak milikseorang wanita penduduk Makkah. Allah memuliakan pemuda habasyahini dengan menuntunnya dari kecil di atas jalan ilmu. Beliau membagiwaktunya menjadi tiga bagian :Bagian pertama dia peruntukkan pada majikannya, melayaninya dengansebaik-baik pelayanan, dan menunaikan hak-haknya sesempurnamungkin.
3

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...