/  3
 
1
ﻢﻴﺣﺮﻟﺍ ﻦﲪﺮﻟﺍ ﷲﺍ ﻢﺴﺑ 
Dzikr Setelah Shalat 
ﺪﻌﺑ ﺎﻣﺍ ﻩﺪﻌﺑ ﱯﻧﻻ ﻦﻣ ﻰﻠﻋ ﻡﻼﺴﻟﺍﻭ ﺓﻼﺼﻟﺍﻭ ﷲ ﺪﻤﳊﺍ:
 
Setelah shalat kita dianjurkan berdzikr.Demikianlah yang dilakukan Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam. Namun sangat disayangkan,masih ada saudara kita kaum muslimin dalam halini yang meremehkannya atau melampaui batas.Meremehkan di sini adalah dengan biasameninggalkannya atau meninggalkannya secarakeseluruhan (tanpa membacanya) meskipunsedikit. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
»ﺎﹰﺌﻴﺷ ِﻑﻭﺮﻌﻤﹾﻟﺍ ﻦِﻣ ﱠﻥﺮِﻘﺤﺗ ﹶﻻ«.
“Janganlah sekali-kali kamu meremehkan perkarayang ma’ruf.” (HR. Ahmad, Muslim dan Tirmidzi)Sedangkan melampaui batas, maksudnya adalahmembaca dzikr setelah shalat namun tidak sesuaiyang dibaca atau diajarkan Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam. Sehingga mereka terjatuh kedalam bid’ah (sesuatu yang diada-adakan),padahal syarat diterimanya ibadah adalah harussesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam di samping niat yang ikhlas.Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ﺩﺭ ﻮﻬﹶﻓ ﺎﻧﺮﻣﹶﺍ ِﻪﻴﹶﻠﻋ ﺲﻴﹶﻟ ﺎﹰﻠﻤﻋ ﹶﻞِﻤﻋ ﻦﻣ
 
“Barang
 
siapa yang mengerjakan amalan (ibadah)yang tidak kami perintahkan, maka amalan itutertolak.” [HR. Muslim]Kita dapat menyaksikan dzikr yang bermacam-macam yang dilakukan kaum muslimin. Jika kitamendatangi satu daerah, kita temukan dzikr mereka seperti ini, kemudian kita datangi daerahyang lain, dzikr mereka seperti itu, padahal Nabiumat ini hanya satu, tetapi anehnya bacaannyabisa beraneka macam dalam jumlah yang banyak.Seharusnya, karena Nabinya hanya satu, yaituNabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam;rasul terakhir, maka perbedaannya tidak begitubanyak; tidak seperti yang kita lihat. Inimenunjukkan bahwa bid’ah dapat memecah belahkaum muslimin.Dalam risalah ini, insya Allah, kami sebutkan dzikr yang sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam meskipun masih ada lagi dzikr yang datang dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallamselain yang disebutkan di bawah ini. SyaikhMasyhur bin Hasan berkata,
“Walhasil, sebagiandzikr yang datang (dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam) setelah shalat ada bermacam-macam,maka yang mana saja dia pakai, ia telah berbuat baik, namun yang lebih utama adalah membacasesekali yang ini dan sesekali yang itu.” 
Semogarisalah ini bermanfaat.
 Allahumma Aamin.
 
Dzikr Setelah Shalat
١-ﻪﱠﻠﻟﺍ ﺮِﻔﻐﺘﺳﹶﺃ٣
x
ﻡﺎﹶﻠﺴﻟﺍ ﻚﻨِﻣﻭ ﻡﺎﹶﻠﺴﻟﺍ ﺖﻧﹶﺃ ﻢﻬﱠﻠﻟﺍ ﻡﺍﺮﹾﻛِﺈﹾﻟﺍﻭ ِﻝﺎﹶﻠﺠﹾﻟﺍ ﺍﹶﺫ ﺎﻳ ﺖﹾﻛﺭﺎﺒﺗ 
ِ
 Artinya: “Aku meminta ampun kepada Allah.” 3X.”Ya Allah, Engkau Maha Penyelamat, dari-Mulahkeselamatan, Maha banyak kebaikannya Engkau,wahai Tuhan Yang Memiliki keagungan dankemuliaan.”[HR. Muslim] 
 
Jika sebagai imam, maka setelah membaca dzikr di atas, hendaknya ia berbalik menghadap ke arahmakmum
1
.
 
٢-ﻩﺪﺣﻭ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﺎﱠﻟِﺇ ﻪﹶﻟِﺇ ﺎﹶﻟﻪﹶﻟﻭ ﻚﹾﻠﻤﹾﻟﺍ ﻪﹶﻟ ﻪﹶﻟ ﻚﻳِﺮﺷ ﺎﹶﻟ ﺎﻤِﻟ ﻊِﻧﺎﻣ ﺎﹶﻟ ﻢﻬﱠﻠﻟﺍ ﺮﻳِﺪﹶﻗ ٍﺀﻲﺷ ﻞﹸﻛ ﻰﹶﻠﻋ ﻮﻫﻭ ﺪﻤﺤﹾﻟﺍ ﻚﻨِﻣ ﺪﺠﹾﻟﺍ ﺍﹶﺫ ﻊﹶﻔﻨﻳ ﺎﹶﻟﻭ ﺖﻌﻨﻣ ﺎﻤِﻟ ﻲِﻄﻌﻣ ﺎﹶﻟﻭ ﺖﻴﹶﻄﻋﹶﺃ ﺪﺠﹾﻟﺍ
 Artinya: “Tidak ada Tuhan yang berhak disembahkecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya,milik-Nya kerajaan dan milik-Nya segala pujian.Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi yang
2
Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberikan jika Engkau menghalangi sertatidaklah bermanfaat bagi seseorang kekayaannya(yang bermanfaat adalah iman dan amal saleh).”[HR. Bukhari dan Muslim] 
 
٣-ﻪﹶﻟﻭ ﻚﹾﻠﻤﹾﻟﺍ ﻪﹶﻟ ﻪﹶﻟ ﻚﻳِﺮﺷ ﺎﹶﻟ ﻩﺪﺣﻭ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﺎﱠﻟِﺇ ﻪﹶﻟِﺇ ﺎﹶﻟ ﺎﱠﻟِﺇ ﹶﺓﻮﹸﻗ ﺎﹶﻟﻭ ﹶﻝﻮﺣ ﺎﹶﻟ ﺮﻳِﺪﹶﻗ ٍﺀﻲﺷ ﱢﻞﹸﻛ ﻰﹶﻠﻋ ﻮﻫﻭ ﺪﻤﺤﹾﻟﺍ ﻪﹶﻟﻭ ﹸﺔﻤﻌﻨﻟﺍ ﻪﹶﻟ ﻩﺎﻳِﺇ ﺎﱠﻟِﺇ ﺪﺒﻌﻧ ﺎﹶﻟﻭ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﺎﱠﻟِﺇ ﻪﹶﻟِﺇ ﺎﹶﻟ ِﻪﱠﻠﻟﺎِﺑ ﻪﹶﻟﻭ ﹸﻞﻀﹶﻔﹾﻟﺍﻪﹶﻟ ﲔِﺼِﻠﺨﻣ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﺎﱠﻟِﺇ ﻪﹶﻟِﺇ ﺎﹶﻟ ﻦﺴﺤﹾﻟﺍ ُﺀﺎﻨﱠﺜﻟﺍ ﹶﻥﻭﺮِﻓﺎﹶﻜﹾﻟﺍ ﻩِﺮﹶﻛ ﻮﹶﻟﻭ ﻦﻳﺪﻟﺍ
 Artinya: “Tidak ada Tuhan yang berhak disembahkecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya,milik-Nya kerajaan dan milik-Nya pujian. Dan DiaMahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada dayadan upaya melainkan dengan pertolongan Allah,Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya. Milik-Nya kenikmatan, karunia dan pujianyang baik. Tidak ada Tuhan yang berhakdisembah kecuali Allah dengan hanya beribadahkepada-Nya meskipun orang-orang kafir tidakmenyukainya.”[HR. Muslim]
 
٤-ﺳﺒ ﺤ ﹶﻥﺎ ِﷲﺍ
 
٣٣ ﹶﺍﹾﻟﺤ ﻤـ ﺪ ِِ ٣٣ ﹶﺍُﹶﺃﹾﻛ َـ ﱪ 
 
٣٣
 Artinya: “Mahasuci Allah” 33X 
 
“Segala Puji bagi Allah.” 33X “Allah Mahabesar.” 33X 
 dihitung dengan jari tangan kanan
3
.
 
ﻪﹶﻟ ﻪﹶﻟ ﻚﻳِﺮﺷ ﺎﹶﻟ ﻩﺪﺣﻭ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﺎﱠﻟِﺇ ﻪﹶﻟِﺇ ﺎﹶﻟﺪﻤﺤﹾﻟﺍ ﻪﹶﻟﻭ ﻚﹾﻠﻤﹾﻟﺍ ﺮﻳِﺪﹶﻗ ٍﺀﻲﺷ ﱢﻞﹸﻛ ﻰﹶﻠﻋ ﻮﻫﻭ
 Artinya: “Tidak ada Tuhan yang berhak disembahkecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan milik-Nya pujian. Dan DiaMahakuasa atas segala sesuatu 
4
.”[HR. Muslim] 
 
6.
Membaca Ayat Kursiy 
5
(Al Baqarah: 255)
.7.
Membaca surat mu’awwidzaat (surah Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas)
. [HR. Abu Dawud danNasa’i, Tirmidzi, lihat Shahih At Tirmidzi 2/8]8. Membaca setelah shalat Subuh:
ﻢﻬﱠﻠﻟﺍﻲﻧِﺇﻚﹸﻟﹶﺄﺳﹶﺃﺎﻤﹾﻠِﻋﺎﻌِﻓﺎﻧﻭﺎﹰﻗﺯِﺭﺎﺒﻴﹶﻃﺎﹰﻠﻤﻋﻭﺎﹰﻠﺒﹶﻘﺘﻣ
 
 Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memintakepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yangbaik dan amal yang diterima.”
7
 
Faedah/Catatan:
-
 
Imam Syafi’i berkata dalam Al Umm:
ﻧﻻﺍ ﺪﻌﺑ ﷲﺍ ﺮﻛﺬﻳ ﻥﺃ ﻡﻮﻣﺄﳌﺍﻭ ﻡﺎﻣﻼﻟ ﺭﺎﺘﺧﺃﻭﻦﻣ ﻑﺍﺮﺼ ﻢﻠﻌﺘﻳ ﻥﺃ ﺐﳚ ﺎﻣﺎﻣﺇ ﻥﻮﻜﻳ ﻥﺃ ﻻﺇ ﺮﻛﺬﻟﺍ ﻥﺎﻴﻔﳜﻭ ﺓﻼﺼﻟﺍﷲﺍ ﻥﺈﻓ ﺮﺴﻳ ﰒ ﻪﻨﻣ ﻢﻠﻌﺗ ﺪﻗ ﻪﻧﺃ ﻯﺮﻳ ﱴﺣ ﺮﻬﺠﻴﻓ ﻪﻨﻣﲎﻌﻳ ﺎ ﺖﻓﺎﲣ ﻻﻭ ﻚﺗﻼﺼﺑ ﺮﻬﲡ ﻻﻭ ﻝﻮﻘﻳ ﻞﺟﻭ ﻭﺰﻋﱴﺣ ﺖﻓﺎﲣ ﻻﻭ ﻊﻓﺮﺗ ﺮﻬﲡ ﻻﻭ ﺀﺎﻋﺪﻟﺍ ﻢﻠﻋﺃ ﱃﺎﻌﺗ ﷲﺍﻭﻞﻴﻠ ﻦﻣ ﲑﺑﺰﻟﺍ ﻦﺑﺍ ﻯﻭﺭ ﺎﻣ ﺐﺴﺣﺃﻭ ﻚﺴﻔﻧ ﻊﻤﺴﺗ ﻻﻝﺎﻗ ﻩﺎﻨﻳﻭﺭ ﺎﻤﻛ ﻩﲑﺒﻜﺗ ﻦﻣ ﺱﺎﺒﻋ ﻦﺑﺍ ﻯﻭﺭ ﺎﻣﻭ ﱯﻨﻟﺍﻪﻨﻣ ﺱﺎﻨﻟﺍ ﻢﻠﻌﺘﻴﻟ ﻼﻴﻠﻗ ﺮﻬﺟ ﺎﳕﺇ ﻪﺒﺴﺣﺃﻭ ﻲﻌﻓﺎﺸﻟﺍ
“Saya memilih bagi imam dan makmum untukmelakukan dzikr (mengingat) Allah setelahselesai shalat, dan hendaknya mereka (imamdan makmum) mensir(pelan)kan dzikrnya,kecuali jika sebagai imam yang perlu diambil(bacaan dzikrnya), maka ia keraskan sampai iamelihat bahwa makmumnya telah belajar darinya (sudah bisa), maka selanjutnya iamensirkan dzikrnya, karena Allah ‘Azza waJalla berfirman,
“Dan janganlah kamu keraskansuaramu dalam shalatmu dan jangan pulamerendahkannya.” 
(Al Israa’: 110) maksudnya, Allah Ta’ala lebih mengetahui terhadap doa.Jangan keraskan, yakni jangan kamu tinggikan(suara), dan jangan kamu rendahkan sampaiengkau tidak memperdengarkan kepada
 
3
dirimu. Menurutku, apa yang diriwayatkan olehIbnuz Zubair tentang tahlil (ucapanLaailaahaillallah) Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbastentang takbirnya sebagaimana yang telahkami riwayatkan (yang di sana Nabi shallallahu'alaihi wa sallam mengeraskan suaranya),Syafi’i berkata, “Menurut saya, Beliaumengeraskan hanya sebentar agar orang-orang dapat mengambil ilmu (bacaan dzikr)dari Beliau.”-
 
Sebagian ulama berpendapat, bahwa doayang disebutkan dalam hadits yang dibaca diakhir shalat, maka maksudnya dibaca sebelumsalam di akhir shalat. Adapun dzikr yangdisebutkan dalam hadits yang dibaca di akhir shalat, maka maksudnya dibaca setelahsalam, karena kata “dubura kulli shalaat” (diakhir setiap shalat) bisa maksudnya sebelumdan setelah shalat.
Jika berupa doa, makasebelum salam, dan jika berupa dzikr, makasetelah salam.
-
 
Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz berkata, “Tidak sahdari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwaBeliau mengangkat kedua tangannya setelahshalat fardhu, dan hal itu juga tidak sahih daripara sahabat Beliau radhiyallahu 'anhummenurut yang kami ketahui. Oleh karena itu,apa yang dilakukan sebagian orang berupamengangkat tangan setelah shalat fardhuadalah bid’ah yang tidak ada asalnya.”-
 
Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz juga berkata,“Mengangkat kedua tangan dalam berdoatermasuk sebab dikabulkannya doa, dandianjurkan dilakukan kecuali pada tempat-tempat yang terdapat sebab untuk mengangkattangan namun ternyata Nabi shallallahu 'alaihiwa sallam tidak mengangkatnya (maka tidakdiangkat), namun pada tempat-tempat yangBeliau mengangkat(tangan)nya, maka kitamengangkatnya, seperti doa istisqa’ (memintaditurunkan hujan), ketika seorang tiba-tibabutuh lalu ia angkat kedua tangannya sepertipada istikharah dan lainnya. Adapun tempatyang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidakmengangkatnya seperti antara dua sujud,maka kita tidak mengangkatnya, demikian pulapada akhir shalat sebelum salam serta setelahshalat fardhu, Beliau shallallahu 'alaihi wasallam tidak mengangkatnya, sehingga kitatidak mengangkatnya. Dan hukum asalnyadalam berdoa adalah mengangkat keduatangan kecuali pada tempat yang Nabishallallahu 'alaihi wa sallam tidakmengangkatnya sedangkan sebab-sebabmengangkatnya ada. Adapun mengusap mukadengan kedua telapak tangan tidak mengapakarena Al Hafizh menghasankannya, dan dialebih mengetahui daripada selainnya
8
.” (Darikitab Shalaatul Istisqaa’ karya Dr. Sa’id bin Al Al Qahthani).
Hal yang perlu diperhatikan:
Dalam berdzikr banyak orang yang menyelipkantambahan-tambahan yang sebenarnya bukan dariRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,diantaranya adalah: (1) Membaca surat Al Fatihah,(2) Membaca
Laailaahaillallah
100 kali, (3)Membaca dzikrnya secara jama’i (karena yangsesuai contoh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah membacanya masing-masing dantidak dipimpin), (4) Melakukan sujud setelahsalam, (5) Membaca dzikrnya sambil mengoyang-goyang kepala (6) Setelah berdzikr berdiribersama-sama membuat lingkaran sambilbersalam-salaman, (7) Dan lain-lain. Ini semuatidak kami temukan keterangannya dari Al Qur’anmaupun As Sunnah. Oleh karena itu, hendaknyaseseorang membatasi dzikirnya dengan dzikr yangdiajarkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam saja,karena sebagaimana dikatakan ulama,
ِﺔﻋﺪِﺒﻟﹾﺍ ﻰِﻓ ِﺩﺎﻬِﺘﺟﺈِﻟﹾﺍ ﻦِﻣ ﺮﻴﺧ ِﺔﻨﺴﻟﺍ ﰱِﺩﺎﺼِﺘﹾﻗِﺈﹾﻟﹶﺍ
“Sedikit namun di atas Sunnah/contoh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik daripadabanyak namun diada-adakan.”
 
Marwan bin Musa
4
Maraji’:
Al Maktabatusy Syaamilah, Buluughul Maram (AlHafizh Ibnu Hajar Al ’Asqalani), Hishnul Muslim (Dr. Sa’id AlQahthani), Al Adzkaar (Imam Nawawi), Al Qaulul Mubiin(Syaikh Masyhur Hasan Salman), Shahiul Jaami’ (Syaikh Al Albani), Fiqhus Sunnah (Syaikh As Sayyid Saabiq), Al Umm(Imam Syafi’i) dll.
 1
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Sepatutnyabagi makmum tidak bangkit sampai imam berpaling,yakni berpindah dari arah kiblat (menghadap makmum),dan tidak patut bagi imam duduk setelah salam terus-menerus menghadap kiblat kecuali seukuran istighfar tiga kali dan mengucapkan, “
 Allahumma antas salaamwa minkas salam, tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikraam.” 
 Dalil perkataan Syaikhul Islam adalah sabda Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam berikut:
 
»ﻨﻟﺍ ﺎﻬ ﻳﹶﺃﹶﻻﻭ ِﻉﻮﹸﻛﺮﻟﺎِﺑ ﻰِﻧﻮﹸﻘِﺒﺴﺗ ﹶﻼﹶﻓ ﻢﹸﻜﻣﺎﻣِﺇ ﻰﻧِﺇ ﺱﺎ  ِﻑﺍﺮِﺼﻧِﻻﺎِﺑ ﹶﻻﻭ ِﻡﺎﻴِﻘﹾﻟﺎِﺑ ﹶﻻﻭ ِﺩﻮﺠﺴﻟﺎِﺑ
Wahai manusia! Sesungguhnya aku imam kamu, maka janganlah mendahuluiku dalam ruku’, sujud, bangun danberpaling (berpindah)…” 
(HR. Muslim)Dari Samurah bin Jundab ia berkata, “Nabi shallallahu'alaihi wa sallam apabila telah selesai shalat, makaBeliau menghadap kami dengan wajahnya.” (HR.Bukhari)Dari Barra’ bin ‘Aazib ia berkata, “Apabila kami shalat dibelakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, makakami suka berada di sebelah kanan Beliau, maka Beliaumenghadap kepada kami dengan wajahnya.” (HR.Muslim dan Abu Dawud).
 
2
 
Cara membacanya bisa juga sebagaimana yangditerangkan oleh Abu Shalih salah seorang rawi yangmeriwayatkan dari Abu Hurairah, saat ia ditanya tentangcara membaca dzikrnya, ia menjawab, “
Yaitu Allahu akbar wa subhaanallah wal hamdulillah, dibacasemuanya sebanyak 33 kali.” 
(HR. Muslim)
 
3
Abdullah bin ‘Amr berkata, “Aku melihat Nabishallallahu 'alaihi wa sallam menghitung tasbih dengantangan kanannya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi,Shahihul Jaami’ no. 4865)Syaikh Masyhur berkata, “Bertasbih dengan tangankanan lebih utama daripada bertasbih dengan tangankiri, bahkan lebih utama daripada bertasbih dengankedua tangan bersamaan. Demikian pula lebih utamadaripada bertasbih dengan biji-biji tasbih, bahkanbertasbih dengan biji-biji menyalahi perintah Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam ketika bersabda kepadasebagian wanita, “
Hendaknya kalian bertasbih, bertahlil dan bertaqdis (bertasbih), dan jangan lalai, sehinggakalian akan melupakan tauhid –dalam sebuah riwayat:melupakan rahmat-. Hitunglah dengan jari-jari, karena iaakan ditanya dan diminta bicara.
Syaikh bin Baz berkata, “Meninggalkannya (bertasbihdengan biji-biji) lebih utama, bahkan sebagian ahli ilmumemakruhkannya. Yang lebih utama adalah dengantangan kanan sebagaimana yang dilakukan Nabishallallahu 'alaihi wa sallam.”
 
4
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,“Barang siapa bertasbih (mensucikan) Allah di akhir setiap shalat 33 kali, bertahmid (memuji) Allah 33 kali,dan bertakbir (membesarkan) Allah 33 kali, lalumengucapkan hingga sempurna jumlahnya 100 kali,“Laailaahaillallah wahdahuu laa syariikalah…dst.” Makaakan diampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buihdi laut.” (HR. Muslim)
Bisa juga membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dantakbir 34 kali 
, sehingga jumlahnya menjadi 100 kali.Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,“Mu’aqqibaat (kalimat yang beriringan) yang tidak akankecewa orang yang mengucapkannya ataumelakukannya setelah shalat, yaitu 33 kali tasbih, 33 kalitahmid, dan 34 kali takbir.” (HR. Muslim)
Demikian juga bisa membaca tasbihnya 10 kali,tahmidnya 10 kali dan takbirnya 10 kali 
, sebagaimanadalam hadits berikut, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihiwa sallam bersabda, “Maukah kamu aku beritahukansesuatu yang dengannya kamu dapat menyusul orangyang sebelum kamu dan mendahului orang yang datangsetelah kamu, dan tidak ada orang yang datangmembawa seperti yang kamu bawa kecuali orang yangdatang membawa seperti itu? Yaitu kamu bertasbih diakhir setiap shalat 10 kali, bertahmid 10 kali danbertakbir 10 kali. (HR. Bukhari)Dari Abdullah bin ‘Amr dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam Beliau bersabda, “Ada dua perkara atau dua halyang jika dijaga oleh seorang muslim, maka dia akanmasuk surga. Keduanya ringan, namun sedikit yangmengamalkannya, yaitu: bertasbih di akhir setiap shalat10 kali, bertahmid 10 kali, dan bertakbir 10 kali. Ituadalah 150 di lisan dan 1.500 di timbangan. Demikianpula ia bertakbir 34 kali ketika hendak tidur, bertahmid33 kali dan bertasbih 33 kali, hal itu adalah 100 di lisandan 1.000 di timbangan.” Sungguh, aku melihatRasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghitungnyadengan tangannya.” Para sahabat bertanya, “WahaiRasulullah, bagaimana (bisa) keduanya ringan, namun

Share & Embed

More from this user

Recent Readcasters

Add a Comment

Characters: ...