2
Jong Indonesia
- No. 2 - Februari 2009 - Tahun I
J
ONG Indonesia edisikedua ini patut diberi jempol: like this! Kenapa?Berdasarkan pengalaman, lebihsulit mempertahankan ataumenghidupkan sebuah penerbitanmahasiswa, dibandingkan ketikamelahirkannya! Bikinnya gampang,tapi melanjutkannya yang susah!Sudah menjadi rahasia umum, rata-rata penerbitan mahasiswa punyamotto: “Sekali berarti, sesudahitu mati!” Sekali terbit, setelah itulenyap.JONG Indonesia terbit di tengahsegala kesibukan kuliah danaktivitas, tapi juga pragmatisme,dan keengganan mahasiswauntuk terlibat dalam kerja-kerjaintelektual, JONG Indonesiaberhasil menerbitkan edisi ini.Sekali lagi, jempol untuk teman-teman redaksi.Sebagai seorang yangmembidani kelahiran JONGIndonesia, saya bangga bahwa api-semangat JONG Indonesia tetapmenyala dan terjaga. Meski saatini saya ‘melarikan diri’ ke Jogja– karena status saya yang bukanpelajar lagi – namun, teman-temanredaksi mampu melanjutkannya,bahkan dengan kualitas yang lebihbaik.Lebih dari itu, kita harus banggakarena di negeri Belanda inilah,beberapa tokoh the oundingathers republik dimotori olehHatta dan Syahrir dalam usiayang lebih muda dari kebanyakankita, pernah hidup, belajar, danmelakukan apa yang sekarangkita lakukan. Selain berjuanglewat pergerakan organisasiPerhimpoenan Indonesia (PI),mereka mengobarkan apisemangat lewat media.Sejarah mencatat bahwaPerhimpoenan Indonesiabukan sekedar ‘perkumpulanpelajar Indonesia di luar negeri’.Perhimpoenan Indonesiaadalah wadah bagi gagasan danperjuangan untuk gagasan ke-Indonesian yang progresi. Dalamdapur Perhimpoenan Indonesiauntuk pertama kalinya namaIndonesia (yang sebelumnya hanyabermakna geogras) diperkenalkansebagai sebuah gagasan progresi yang mesti diperjuangkan secarapolitik.Kita tidak boleh lupa, bahwaIndonesia sesungguhnya sebuahgagasan “anak muda”. Belajardari peristiwa Sumpah Pemuda28 Oktober 1928, waktu itu,dengan segala keterbatasannyabaik dari persoalan transportasidan komunikasi, para pemudamampu menemukan titik-titik simpul persaudaraan Indonesia .Mengapa kini sebaliknya, denganterbukanya akses, perkembanganalat transportasi dan komunikasi,mengapa malah sebaliknya cita-cita Indonesia kurang dipupuk kembali?Pemuda Pelajar Indoneisaharus menjadi yang terdepandalam menjaga agar ia tetapdalam denisi progresi anak-anak muda dan memastikanbahwa Indonesia sebagai gagasansenantiasa berjalan dalam koridorprogresivitas sebagaimana iadicitakan.Mungkin saya terlalu romantik dan menyamakan dua kondisiyang berbeda antara dahulu dankini; tetapi riil bahwa ketika kitamenggunakan nama PerhimpunanPelajar Indonesia , disitu kitaberbicara tentang aktualitas dankesamaan konteks kesejarahanyang khas: PerhimpoenanIndonesia dan PerhimpunanPelajar Indonesia .Pada periode Hatta, anekapersoalan yang membelit negeriini sudah sampai pada titik di manakaum muda dituntut hadir dalamgagasan-gagasan yang progresi.Bagaimana dengan periode kita? Tahun 1998 kita punya reormasi,tapi di hadapan aneka korupsi,kemiskinan dan salah urus dankejumudan Indonesia , reormasiseperti kehilangan taji. Pada saatyang sama, semakin banyak elemenkini mengalami moderasi ide-ideprogresi reormasi. Pembicaranmengenai reormasi mengalamilesu darah!Kita menyadari bahwakebobrokan keindonesiaanmenjadi sebuah beban yang terasadalam keseharian kita. Karenaitu kita perlu membangkitkanperhatian, tekad dan semangatuntuk mengawali sebuah gerakankesadaran yang progresi.Kita adalah orang-orang mudayang terdidik dan memiliki kapasitasintelektual, yang diberi kesempatanuntuk belajar dan berkembang,harus menjadi lokomoti bagikembalinya perjuangan gagasan-gagasan progresi keIndonesiaan.
Kobarkan Api Semangat
JONGIndonesia
Salam
Add a Comment
This document has made it onto the Rising list!