Entrepreneur Muda NU(Ikhtiyar Mengatasi Problematika Kemiskinan Bangsa)
Saya masih ingat betul tanggal 10 Muharram 1429 H ketika ada sebuah pengajian, sang kyai meminta para pengunjung untuk melakukan istighosah karena terjadi pemurtadan di salah satu kota di Jawa Barat. Pemurtadanitu terjadi karena kondisi masyarakat miskin, masyarakat tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya, merekakesulitan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.Naudzubillah min dzalik
Ilustrasi diatas menggambarkan potret kondisi dan dampak kemiskinan di Indonesia.Fenomena kemiskinan tersebut diperkuat data BPS yang melaporkan angkakemiskinan di Indonesia mencapai 37,17 juta (belum termasuk dampak krisis global).Dalam sebuah negara masalah kemiskinan adalah problem bangsa yang harus segeradi pecahkan. Kemiskinan disebabkan a). ketidakmampuan memenuhi kebutuahankonsumsi dasar, seperti pangan, sandang dan papan b) tidak adanya akses terhadapkebutuhan hidup dasar lain seperti kesehatan, pendidikan, sanitasi, air bersih dantransportasi c) rendahnya kualitas sumber daya alam dan keterbatasan sumber dayaalam d) tidak adanya akses terhadap lapangan kerja dan mata pencaharian yangberkesinambungan e) ketidakmampuan dan ketidakberuntungan, seperti adanya anak-anak yang terlantar. Faktor tersebut dalam teori Ragnar Nurkse menyebabkan apayang dinamakan
vicious circle of poverty
(Lingkaran kemiskinan yang tidak berujungpangkal). Dimana peran NU mengatasi bangsa ini?Perjalanan panjang bangsa Indonesia tidak terlepas dari peran NU, dimulai perjuanganmelawan penjajah, merumuskan pondasi konstitusi bangsa, dan mengawal pembangunan sampai sekarang ini.Begitu juga fenomena kemiskinan di Indonesia, NU sebagai ormas terbesar bertanggung jawab untukmemberantasnya. Dalam mengatasi kemiskinan perlu adanya pendekatan yang tepat dengan melalui programterencana dan terukur. Dalam hal pemberantasan kemiskinan ini, NU telah berupaya keras memberantasnyatermasuk mendirikan lembaga-lembaga seperti LPNU (Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama) ataupun LP2NU(Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama), tetapi sayangnya lembaga-lembaga ini belum mampuuntuk menjawab permasalahan itu
.
Lantas dimana kita sebagai generasi muda NU harus berperan?Generasi muda NU adalah generasi yang diharapkan dapat meneruskan perjuangan pendahulunya,mempertahankan apa yang menjadi prestasi, memberikan koreksi atas kesalahan masa lalu. Dalam kontekspengentasan kemiskinan ini saya kira NU belum sepenuhnya berhasil untuk mengatasinya, untuk itu kita sebagaigenerasi muda NU juga bertanggung jawab untuk memberikan sumbangsih pemikiran kita untuk memberantaskemiskinan. Menurut saya upaya pengentasan kemiskinan dapat dilakukan dengan menciptakan lapanganpekerjaan baru, Pekerjaan akan menciptakan pendapatan, dan pendapatan dapat digunakan untuk mencukupikebutuhan. Lapangan pekerjaan dapat di ciptakan oleh pemerintah dan entrepreneur (pengusaha). Realitamenunjukkan pemerintah belum mampu menciptakan lapangan kerja yang dapat menyerap seluruh tenaga kerjayang ada. Keberadaan entrepreneur ini menjadi solusi atas ketidakmampuan pemerintah dalam penyerapan tenagakerja melalui sektor formal.Sebuah Negara idealnya harus memiliki 2% entrepreneur dari jumlah penduduk jika tidak ingin Negara itu miskin,Indonesia sekarang ini memiliki 0,05% entrepreneur dari jumlah penduduk, angka tersebut menunjukkan jumlahentrepreneur di Indonesia ini masih jauh dari kondisi ideal. Hal ini menyebabkan angka kemiskinan kita besar.Melihat fakta tersebut sudah saatnya generasi muda NU melirik ke wilayah ini dalam rangka berkontribusi untukmemutus lingkaran kemiskinan yang tidak berujung pangkal. Secara konsep teoritis banyak entrepreneur yangbermunculan semakin banyak tenaga kerja yang terserap, semakin banyak tenaga kerja yang terserap semakinberkurang pengangguran dan semakin berkurangnya pengangguran semakin berkurang pula kemiskinan.IPNU-IPPNU sebagai wadah generasi intelektual muda NU mempunyai peran yang sangat strategis untukmewujudkannya, hal terpenting dan mendasar yang dapat dilakukan dalam upaya menciptakan entrepreneur baruadalah membangun mindset entrepreneurship, yaitu mental untuk menciptakan pekerjaan (
Job Creater)
bukanmencari pekerjaan (
Job Seeker).
Saya yakin munculnya entrepreneur muda NU akan mampu menjawabpermasalahan bangsa tersebut yaitu permasalahan memutus lingkaran kemiskinan yang tak berujung pangkal(
vicious circle of poverty
).Saifudin Zuhri, S.EKetua Umum Koperasi Mahasiswa Unnes periode 2007 &2008Fungsionaris IPNU Komsat Unnes periode 2006/2007
WACANA
Edisi ke-VII/III/09
Leave a Comment