• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Assalamualaikum w.b.t..petikan dr ukhwah.comSemoga Artikel ini dapat memberikan kesedaran kepadakita.......InsyaALLAH!!Detik-detik Rasulullah SAW Menghadapi Sakaratul Maut.....Adasebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yangdicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupunlangit telah mulai menguning, burung-burung gurun engganmengepakkan sayap.Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan khutbah,"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cintakasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya.Kuwariskan duaperkara pada kalian, Al Qur'an dan sunnahku. Barang siapamencintaisunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yangmencintaiku,akan masuk syurga bersama-sama aku." Khutbah singkat itu diakhiridenganpandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatapsahabatnyasatu persatu.Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanyanaik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafaspanjang danAli menundukkan kepalanya dalam-dalam.Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba."Rasulullah akan meninggalkan kita semua,"keluh hati semuasahabat kala itu.Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia.Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergasmenangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketikaturun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yanghadir di sana pastiakan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pinturumahRasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedangterbaringlemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepahkurma yang menjadi alas tidurnya.Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berserumengucapkan salam."Bolehkah saya masuk?" tanyanya.
 
Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,"Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yangmembalikkan badan dan menutup pintu.Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudahmembuka mata dan bertanya pada Fatimah,"Siapakah itu wahai anakku?""Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini akumelihatnya," tutur Fatimah lembut.Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yangmenggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknyaitu hendak dikenang."Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara,dialah yang memisahkan pertemuan di dunia.Dialah malakul maut," kata Rasulullah,Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datangmenghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikutsama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnyasudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah danpenghulu dunia ini."Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" TanyaRasululllah dengan suara yang amat lemah."Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menantiruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kataJibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanyamasih penuh kecemasan."Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi."Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?""Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengarAllah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja,kecuali umatMuhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas.Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullahbersimbahpeluh, urat-urat lehernya menegang.Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullahmengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnyamenunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka."Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?"Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu."Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kataJibril.Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang
 
tidak tertahankan lagi."Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksamaut ini kepadaku, jangan pada umatku."Badan Rasulullah mulaidingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnyabergetar seakan hendakmembisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya."Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalahshalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintutangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembalimendekatkantelinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan."Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?Allahumma sholli 'alaMuhammad wa baarik wa salim 'alaihiBetapa cintanya Rasulullah kepada kita. Harapnya,moga timbulkesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah danRasulnya mencintai kita. Kerana sesungguhnya selain daripada ituhanyalah fana belaka.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...