ENAM KALENG SCHWEPPES DAN CERITA-CERITA TENTANG PPutri Daskian
Hari pertama ia dikenalkan padaku adalah sebuah Sabtu sore, kurang lebihsebulan sebelum kematian O. “Sore,” kataku, cukup riang. Ia membalas dengansebuah kuapan panjang, tegukan pendek.Segerombolan Marlboro berkumpul diatas meja kayu. Ia menarik keluarseorang dari mereka.“Tapi harga jualnya jatuh jauh dari harga beli,” debatnya.“Bullshit. Buat apa kamu tahu harga jual kalau cuma ingin membeli sebuahmobil? Kita Cuma konsumen. Bukan dealer mobil bekas. Jangan urusi urusanmereka,” O berkata.“Ok. Tapi tetap saja mobil itu tidak enak dibawa kebut-kebutan,” ia tetapbersikeras.“Memang ia bukan Maserati empat pintu.”“O, aku tidak akan memperdebatkan ini denganmu kalau ia Maserati,” iamemutar bola matanya. “Oh, kalau aku sedang berniat membeli sebuah Maserati,aku rasa sekarang di garasiku sedang tercuci tiga trilyun rupiah.”“Aku kira kamu tidak suka mobil seperti itu.”“Oh, balaslah terus!”Mereka berhenti sejenak untuk mengambil beberapa tegukan dan hembusandi anak Marlboro menyebalkan tadi. Aku tidak suka gerombolan Marlboro. Merekaselalu sok, centil dengan kertas putih dan kepopulerannya. Ugh. Hembusan kentutmereka memenuhi sebagian kecil taman belakang rumah O. O masih tersenyum.Entah sadar atau tidak sambil ditatapi olehnya penuh dedikasi ataspengagumannya. O menatap balik tanpa arti penting, tapi dalam.Cukup lama.“Aku suka kamu pakai Fiat lama warna kuning, dengan kaca bening dankipas angin tempelan,” O memulai.“Aku suka kamu, hidup di depanku.” Ia menghela nafas, mengibaskanrambutnya yang dicukur setengah dan disapu ke satu sisi. Suasana damaimemenuhi area kecil itu, disahuti alunan senyap-senyap Jane’s Addiction dari
Add a Comment