/  10
 
ENAM KALENG SCHWEPPES DAN CERITA-CERITA TENTANG PPutri Daskian
Hari pertama ia dikenalkan padaku adalah sebuah Sabtu sore, kurang lebihsebulan sebelum kematian O. “Sore,” kataku, cukup riang. Ia membalas dengansebuah kuapan panjang, tegukan pendek.Segerombolan Marlboro berkumpul diatas meja kayu. Ia menarik keluarseorang dari mereka.“Tapi harga jualnya jatuh jauh dari harga beli,” debatnya.“Bullshit. Buat apa kamu tahu harga jual kalau cuma ingin membeli sebuahmobil? Kita Cuma konsumen. Bukan dealer mobil bekas. Jangan urusi urusanmereka,” O berkata.“Ok. Tapi tetap saja mobil itu tidak enak dibawa kebut-kebutan,” ia tetapbersikeras.“Memang ia bukan Maserati empat pintu.”“O, aku tidak akan memperdebatkan ini denganmu kalau ia Maserati,” iamemutar bola matanya. “Oh, kalau aku sedang berniat membeli sebuah Maserati,aku rasa sekarang di garasiku sedang tercuci tiga trilyun rupiah.”“Aku kira kamu tidak suka mobil seperti itu.”“Oh, balaslah terus!”Mereka berhenti sejenak untuk mengambil beberapa tegukan dan hembusandi anak Marlboro menyebalkan tadi. Aku tidak suka gerombolan Marlboro. Merekaselalu sok, centil dengan kertas putih dan kepopulerannya. Ugh. Hembusan kentutmereka memenuhi sebagian kecil taman belakang rumah O. O masih tersenyum.Entah sadar atau tidak sambil ditatapi olehnya penuh dedikasi ataspengagumannya. O menatap balik tanpa arti penting, tapi dalam.Cukup lama.“Aku suka kamu pakai Fiat lama warna kuning, dengan kaca bening dankipas angin tempelan,” O memulai.“Aku suka kamu, hidup di depanku.Ia menghela nafas, mengibaskanrambutnya yang dicukur setengah dan disapu ke satu sisi. Suasana damaimemenuhi area kecil itu, disahuti alunan senyap-senyap Jane’s Addiction dari
 
belakang kursiku. Mereka bertukar filter. Aku terbatuk sedikit, membuat iatersedak.“Oh, maaf!” kataku.“Tidak, aku yang salah. Maafkan aku.” Ada sebuah senyum yang manis yangmengingatkanku akan plastik.“Bukan, bukan salahmu.”“Ya, aku tahu. Aku hanya berbasa-basi.”Secepat hembusan angin, asap itu pun lewat dan si anak berfiltermeninggalkan tepi mulutnya.Aku tahu dalam hatiku anak itu yang salah.Ia masih mengagumi O. Paras O yang tegap. Rambut kusut yang tergerai.Suara yang dalam. Kulit yang pucat. O adalah lelaki pucat pertama yang ia sukai,secara keseluruhan, sampai ke kelainan pigmen pada kulitnya yang membuatnyaterlihat semakin menghantui. Di taman belakang O. Dalam panggung indoorberdesakan manusia. Dalam mobil Toyota kapsul menggaung dari speaker. Didinding kamarnya, menempel pada permukaan yang telah sebagian mengelupas. Terdengar olehku paru-parunya melenguh, dan sesaat sebelum iamenghabisiku, ia menguap malas.“Aku suka hidup.”- - - - - - -Mungkin kau tidak pernah tahu, karena ia memang agak cepatmenghabisimu. Haus, sepertinya. Atau aku yang agak lamban dikonsumsi. Akutidak tahu.Anak-anak Capri lebih menyebalkan lagi, karena tubuh mereka tinggilangsing, harga mereka sedikit lebih mahal, dan filter mereka lebih tinggi, tapi tentusaja itu disebabkan karena kaki-kaki mereka yang setipis dua batang tusuk gigidiselotip.Aku tahu hal itu setelah dua jam pegangan tangan, habis setengah, selang-seling dengan Mild Seven dan nasi goreng. Jeny menelfonnya saat ia sedang diwarung makan dekat sekolah, sesaat setelah ambil rapot, duduk di sebelah temansekolahnya yang sedang mencumbui anak Capri.
 
“Uhh, mungkin kamu mau tahu berita ini. Cepatlah pulang. O… masuk rumahsakit.”“Iya?”“Ya begitulah.”“Kenapa?”“Biasa. Uang rokoknya bersisa, jadi jatah kokainnya lebih banyak daribiasanya.”“Oh. Moga-moga saja ia masih punya sisa uang untuk bayar detoksifikasi.”“Ya, semoga saja.”Hening sejenak.
Well
, ayo. Pulang.”“Oke, sekitar dua jam lagi, bagaimana?“Uh, terserah kamu, tapi baiknya kamu mulai jalan pulang sekarang saja. Osedang sekarat.”Ia diantar ke rumah dengan sebuah BMW tua warna hitam, dikendaraiseseorang berponi pendek warna merah muda. Aku masih sisa seperempat.Sesampainya disana ia mendorongku keluar sampai aku terjatuh berceceran, diataslantai dingin berlapis debu tipis. Dengan sisa nafasku aku menyaksikan ia pun ikut jatuh, tapi tidak untuk menolongku, melainkan jatuh duduk ke bawah, memelukmukanya.Lalu waktuku habis.- - - - - - -Sayang sekali. Kau bilang tadi kau masih sisa seperempat?Aku terteguk habis. Sampai aku sendiri sakit pantat. Meluncur kebawahkerongkongannya, cepat sekali.Itu adalah hari pemakaman O.Manda menelpon kira-kira jam dua belas siang.“Ayolah, temani aku. Please.”“Tidak ,terima kasih.”“Oh. Bukannya kamu sangat meng… meng-ini-kannya? Kamu tahulah… apabahasanya…”

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...