• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • 2
    CommentGo Back
Download
 
27
Mar
2008
Kategori: Aqidah
 
مسب لانحراميحرا
Penulis: Ummul HasanMuroja’ah: Ustadz Subhan Khadafi, Lc.
“Tidaklah seseorang diantara kalian dikatakan beriman, hingga dia mencintai sesuatu bagi saudaranyasebagaimana dia mencintai sesuatu bagi dirinya sendiri.”
Secara nalar pecinta dunia, bagaimana mungkin kita mengutamakan orang lain dibandingkan diri kita?Secara hawa nafsu manusia, bagaimana mungkin kita memberikan sesuatu yang kita cintai kepadasaudara kita?Pertanyaan tersebut dapat terjawab melalui penjelasan Ibnu Daqiiqil ‘Ied dalam syarah beliau terhadaphadits diatas (selengkapnya, lihat di
Syarah Hadits Arba’in An-Nawawiyah
).(
“Tidaklah seseorang beriman”
maksudnya adalah -pen). Para ulama berkata,
“yakni tidak berimandengan keimanan yang sempurna, sebab jika tidak, keimanan secara asal tidak didapatkan seseorangkecuali dengan sifat ini.”
Maksud dari kata
“sesuatu bagi saudaranya”
adalah berupa ketaatan, dan sesuatu yang halal. Hal inisebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i.
“…hingga dia mencintai bagi saudaranya berupa kebaikan sebagaimana dia mencintai jika hal ituterjadi bagi dirinya.”
Syaikh Abu Amru Ibnu Shalah berkata,
“Hal ini terkadang dianggap sebagai sesuatu yang sulit danmustahil, padahal tidaklah demikian, karena makna hadits ini adalah tidak sempurna iman seseorangdiantara kalian sehingga dia mencintai bagi keislaman saudaranya sebagaimana dia mencintai bagidirinya. Menegakkan urusan ini tidak dapat direalisasikan dengan cara menyukai jika saudaranyamendapatkan apa yang dia dapatkan, sehingga dia tidak turut berdesakan dengan saudaranya dalammerasakan nikmat tersebut dan tidak mengurangi kenikmatan yang diperolehnya. Itu mudah dan dekat
 
dengan hati yang selamat, sedangkan itu sulit terjadi pada hati yang rusak, semoga Allah Ta’alamemaafkan kita dan saudara-saudara kita seluruhnya.”
Abu Zinad berkata,
“Sekilas hadits ini menunjukkan tuntutan persamaan (dalam memperlakukandirinya dan saudaranya), namun pada hakekatnya ada tafdhil (kecenderungan untuk memperlakukanlebih), karena manusia ingin jika dia menjadi orang yang paling utama, maka jika dia menyukaisaudaranya seperti dirinya sebagai konsekuensinya adalah dia akan menjadi orang yang kalah dalamhal keutamaannya. Bukankah anda melihat bahwa manusia menyukai agar haknya terpenuhi dankezhaliman atas dirinya dibalas? Maka letak kesempurnaan imannya adalah ketika dia memilikitanggungan atau ada hak saudaranya atas dirinya maka dia bersegera untuk mengembalikannya secaraadil sekalipun dia merasa berat.”
Diantara ulama berkata tentang hadits ini, bahwa seorang mukmin satu dengan yang lain itu ibarat satujiwa, maka sudah sepantasnya dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana mencintai untuk dirinyakarena keduanya laksana satu jiwa sebagaimana disebutkan dalam hadits yang lain:
“Orang-orang mukmin itu ibarat satu jasad, apabila satu anggota badan sakit, maka seluruh jasad turut merasakan sakit dengan demam dan tidak dapat tidur.”
(HR. Muslim)
“Saudara”
yang dimaksud dalam hadits tersebut bukan hanya saudara kandung atau akibat adanyakesamaan nasab/ keturunan darah, tetapi
“saudara”
dalam artian yang lebih luas lagi. Dalam BahasaArab, saudara kandung disebut dengan Asy-Asyaqiiq (
ُقْيِّشا
). Sering kita jumpa seseorang menyebuttemannya yang juga beragama Islam sebagai
“Ukhti fillah”
(saudara wanita ku di jalan Allah). Berarti,kebaikan yang kita berikan tersebut berlaku bagi seluruh kaum muslimin, karena sesungguhnya kaummuslim itu bersaudara.Jika ada yang bertanya,
“Bagaimana mungkin kita menerapkan hal ini sekarang? Sekarang kan jamansusah. Mengurus diri sendiri saja sudah susah, bagaimana mungkin mau mengutamakan orang lain?”
Wahai saudariku -semoga Allah senantiasa menetapkan hati kita diatas keimanan-, jadilah seorangmukmin yang kuat! Sesungguhnya mukmin yang kuat lebih dicintai Allah. Seberat apapun kesulitan yangkita hadapi sekarang, ketahuilah bahwa kehidupan kaum muslimin saat awal dakwah Islam olehRasulullah jauh lebih sulit lagi. Namun kecintaan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya jauh melebihikesedihan mereka pada kesulitan hidup yang hanya sementara di dunia. Dengarkanlah pujian Allahterhadap mereka dalam Surat Al-Hasyr:
 
“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta bendamereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar(ash-shodiquun). Dan orang-orang yang telah menempatikota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor)‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruhkeinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). Danmereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalamkesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yangberuntung.”
(QS. Al-Hasyr: 8-9)Dalam ayat tersebut Allah memuji kaum Muhajirin yang berhijrah dari Makkah ke Madinah untukmemperoleh kebebasan dalam mewujudkan syahadat mereka
an laa ilaha illallah wa annamuhammadan rasulullah
. Mereka meninggalkan kampung halaman yang mereka cintai dan harta yangtelah mereka kumpulkan dengan jerih payah. Semua demi Allah! Maka, kaum muhajirin (orang yangberhijrah) itu pun mendapatkan pujian dari Allah Rabbul ‘alamin. Demikian pula kaum Anshar yangmemang merupakan penduduk Madinah. Saudariku
 fillah
, perhatikanlah dengan seksama bagaimanaAllah mengajarkan kepada kita keutamaan orang-orang yang mengutamakan saudara mereka. Betapamengagumkan sikap
itsar 
(mengutamakan orang lain) mereka. Dalam surat Al-Hasyr tersebur, Allahmemuji kaum Anshar sebagai
 Al-Muflihun
(orang-orang yang beruntung di dunia dan di akhirat) karenakecintaan kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin, dan mereka mengutamakan kaum Muhajirin atas dirimereka sendiri, sekalipun mereka (kaum Anshar) sebenarnya juga sedang berada dalam kesulitan. AllahTa’aala memuji orang-orang yang dipelihara Allah Ta’aala dari kekikiran dirinya sebagai orang-orangyang beruntung. Tidaklah yang demikian itu dilakukan oleh kaum Anshar melainkan karena keimananmereka yang benar-benar tulus, yaitu keimanan kepada Dzat yang telah menciptakan manusia daritanah liat kemudian menyempurnakan bentuk tubuhnya dan Dia lah Dzat yang memberikan rezekikepada siapapun yang dikehendaki oleh-Nya serta menghalangi rezeki kepada siapapun yang Diakehendaki.Tapi, ingatlah wahai saudariku
 fillah
, jangan sampai kita tergelincir oleh tipu daya syaithon ketikamereka membisikkan ke dada kita
“utamakanlah saudaramu dalam segala hal, bahkan bila agama muyang menjadi taruhannya.”
Saudariku
 fillah
, hendaklah seseorang berjuang untuk memberikan yangterbaik bagi agamanya. Misalkan seorang laki-laki datang untuk sholat ke masjid, dia pun langsungmengambil tempat di shaf paling belakang, sedangkan di shaf depan masih ada tempat kosong, lalu diaberdalih
“Aku memberikan tempat kosong itu bagi saudaraku yang lain. Cukuplah aku di shaf 
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...

Cintai Allah dengan mengingat Nya

Salam alaykum, saya izin unduh.

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...