/  4
 
1
 ANTARA TUNTUTAN PROFESIONALITAS GURU/ TENAGA PENDIDIK DAN PERWUJUDAN KESEJAHTERAAN
Oleh : Agus Sumarsono
Tulisan ini merupakan pemikiran sederhana tentang (Guru Bukan HanyaPAHLAWAN TANPA TANDA JASA Namun “PAHLAWAN PENCERDASAN KEHIDUPANBANGSA), kita pahami bahwa kondisi yang dihadapi oleh para guru/ tenaga pendidik masihsangat memprihatinkan. Penggambaran kondisi tersebut kita juga teringat bagaimana Iwan Falsmengilustrasikannya dalam sebuah kisah seorang guru yang bernama Oemar Bakri dengansegala keterbatasannya masih tetap mampu bekerja keras dengan ketekunannya mengabdikandiri pada generasi bangsa yang membutuhkan ilmu pengetahuan. Biarpun pun toh generasi (baca;anak didik) yang mendapatkan pendidikan yang dilakukannya, tidak seluruhnya membalasdengan perlakuan baik, sebab adakalanya ia mendapatkan cacian, bahkan mungkin jugaperlakuan kasar yang dilakukan oleh anak didiknya. Namun begitu ia masih tetap tegar dan tabahpenuh kesabaran sebagai seorang yang mempunyai tugas berat mengemban amanatmencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana telah diamatkan dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Hal ini berarti membuktikan dalam diri seorang Oemar Bakri sebagaipersonifikasi seorang guru masih tertanam semangat perjuangan mengisi kemerdekaan setelahsekian lama dibelenggu penjajah. Tugas yang harus diemban oleh seluruh warga bangsa yaitupendidikan agar tidak terperosok dalam keterpurukan dan diremehkan oleh bangsa-bangsa lain.Kondisi tersebut memang membuat guru/ tenaga pendidik mau tidak mau memikultuntutan untuk bekerja keras dalam upaya menciptakan generasi penerus bangsa agar lebih baik.Sungguh menjadi sesuatu yang sulit manakala di satu sisi guru dihadapkan pada pewujudanidealitas pendidikan yang lebih bermutu dalam arti menghasilkan out put pendidikan yang lebihbaik dari waktu ke waktu, dan di sisi yang lain dihadapkan pada problem kebutuhan hidupsehari-hari. Kita, bangsa Indonesia masih menghadapi problem yang tidak sederhana dalamdunia pendidikan kita.
Tuntutan Guru Dalam Dunia Pendidikan
Meningkatkan mutu pendidikan adalah sebuah keharusan, biarpun membutuhkanadanya upaya perbaikan di semua sektor yang mendukung dunia pendidikan itu sendiri.Prasyaratnya adalah adanya sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, di antaranyagedung sekolah yang representatif, fasilitas perpustakaan, sistem pendidikan, anggaran yangcukup, dan guru sebagai tenaga pendidik.Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan memang guru/ tenaga pendidik mendapatkan sorotan yang cukup tajam, sebab dengan segenap fasilitas pendidikan yangseadanya, dituntut untuk dapat melaksanakan kegiatan belajar mengejar, biarpun harus di tempatyang terpelosok sekalipun. Banyak pakar pendidikan yang memberikan pemikirannya di seputarguru/ tenaga pendidik untuk menjalankan tugasnya secara profesional. Beberapa saran dantuntutan profesionalitas guru/ tenaga pendidik di antaranya adalah sebagai berikut ;
1.
 
Kualifikasi akademis.
Guru/ tenaga pendidik harus memenuhi kualifikasi berupa ijazah S-1 atau D-4 yangditerapkan secara pukul rata termasuk guru senior yang sudah mempunyai pengalaman
 
2bertahun-tahun tentu akan menjadi beban tersendiri. Dalam hal ini pada prakteknyakemudian dipaksakan hanya sekedar mencari formalisasi ijazah agar memenuhi prasyaratmenjadi guru/ tenaga pendidik dengan tanpa memperhitungkan ilmu pengetahuan yang harusdipertanggungjawabkan dalam dunia keilmuan.Tentunya harus menjadi renungan bersama bagi kita, bahwa kenapa kita masih saja terjebak pada persoalan-persoalan formalis yang justru membelenggu kita ? mestinya juga harusdipertimbangkan kapasitas keilmuan yang dimilikinya.
2.
 
Kreatif innovatif.
Sebagai seorang guru/ tenaga pendidik dituntut untuk mempunyai daya kreatifitas yangmemadai. Kreatifitas ini menjadi tuntutan untuk menunjang keberlangsungan proses belajarmengajar agar dapat berjalan dengan baik di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan yangoleh pemerintah belum sepenuhnya mampu untuk memenuhinya.Penting bagi seorang guru/ tenaga pendidik untuk menciptakan sebuah innovasi agar anak didik dapat menyerap proses pendidikan secara baik sehingga nantinya dapat dihasilkanlulusan-lulusan yang berkualitas.
3.
 
Pengabdian yang tulus.
Bagi seorang guru/ tenaga pendidik mempunyai kewajiban untuk mendarmabaktikan seluruhhidupnya untuk kepentingan dunia pendidikan dengan tanpa pamrih. Jargon pahlawan tanpatanda jasa merupakan paling ampuh yang sampai sekarang diterapkan kepada para guru/ tenaga pendidik. Sehingga muncul sebuah semangat membara dalam diri guru/ tenagapendidik untuk selalu bekerja keras walaupun berada di sebuah kawasan yang terpelosok sekalipun. Tidak boleh mengeluh dengan kondisi yang ditemukan di lapangan yangmenghambat jalannya proses belajar mengajar.Selama ini para guru/ tenaga pendidik menjalankan tugas lebih didasarkan pada panggilanhati nurani. Penghormatan dan penghargaan disematkan sebagai "pahlawan tanpa tanda jasa"menjadi apresiasi yang kerap merugikan. Dalam artian, keberhasilan memajukan kualitaspendidikan merupakan suatu tugas mulia dan pahlawan tidak perlu diberikan kapabilitasberkat jasa-jasanya. Tugas sebagai profesi guru/ tenaga pendidik kerap dimarginalisasikan.Padahal, peran yang dijalankannya adalah membangun peradaban manusia agar lebihmanusiawi, dengan aspek kognitif, keterampilan, sikap, dan perilaku.Mungkin masih banyak tuntutan-tuntutan yang lain yang tidak disebutkan dalamtulisan ini, pada intinya adalah bagaimana seorang guru/ tenaga pendidik mampu menjalankantugasnya penuh dengan tanggung jawab apapun yang terjadi. Sebab di samping tuntutan di atasdalam "Journal Education Leadership" (Maret 1994), ada lima ukuran seorang guru/ tenagapendidik dinyatakan profesional:
Pertama
, memiliki komitmen pada siswa dan prosesbelajarnya.
Kedua
, secara mendalam menguasai bahan ajar dan cara mengajarkan.
Ketiga
,bertanggung jawab memantau kemampuan belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi.
Keempat 
, mampu berpikir sistematis dalam melakukan tugas, dan
kelima;
seyogyanya menjadibagian dari masyarakat belajar di lingkungan profesinya.
Realitas Problem
Menjadi sangat berat tugas yang diberikan kepada guru/ tenaga pendidik dengansegala tuntutan seperti di atas. Sementara para guru/ tenaga pendidik masih juga dihadapkanpada masalah rendahnya kesejahteraan yang seringkali dijadikan sebagai
faktor penyebab
 
3
rendahnya motivasi guru/ tenaga pendidik untuk melaksanakan tugas belajar mengajardengan berbagai disiplin ilmu yang dimilikinya
.Masalah mempengaruhi proses pembelajarandi kelas sehingga cenderung berlangsung tidak efektif dan efisien. Tidak mengherankan sehinggaakhirnya pencapaian belajar siswa termasuk dalam Ujian Nasional menjadi di bawah target yangditetapkan, yang berdampak kepada menurunnya mutu pendidikan kita.Gambaran di atas menunjukkan betapa tingginya tuntutan profesionalismeguru/ tenaga pendidik. Bisa dipastikan dengan masih rendahnya tingkat kesejahteraan akan menjadisangat sulit untuk mengikuti tuntutan-tuntutan tersebut. Sebab kebutuhan utama manusia adalah
survival biologis
, maka seorang guru/ tenaga pendidik akan lebih mementingkan kelangsunganhidupnya dari pada memikirkan profesionalismenya. Tentu hal ini menjadi
kontradiksi antaraidealitas peningkatan mutu pendidikan yang dicita-citakan dengan realitas yang dihadapioleh para guru/ tenaga pendidik
. Bagaimana mungkin kita kemudian mengatakan bahwa guru/ tenaga pendidik bisa profesional kalau kondisinya masih cukup memprihatinkan seperti ini.Sungguh sangat ironis kalau kita terlanjur mengatakan bahwa seorang guru/ tenaga pendidik adalah
 jabatan profesional, akan tetapi perlakuan yang didapatnya jauh dari itu
. Tentukalau guru/ tenaga pendidik adalah jabatan profesional harus mendapatkan perlakuan yangprofesional pula.Menurut P. Ruspendi (seorang guru di SMA Pasundan Majalaya) terdapat beberapafaktor yang mempengaruhi guru/ tenaga pendidik kurang profesional dalam menjalankan tugas,di antaranya adalah ;1.
 
Internal biologis
. Hal ini menyangkut masalah kebutuhan fisik guru untuk tetap sehatdengan pola konsumsi yang sehat sesuai dengan anjuran para ahli gizi. Bagaimana seorangguru/ tenaga pendidik akan mempunyai fisik yang sehat manakala hanya sesekali makantelur atau lauk ?2.
 
Internal psikologis
. Adalah menyangkut masalah tanggung jawab terhadap anak didik dilembaga pendidikan, juga mempunyai tanggung jawab terhadap keluarga (anak, suami/ istri).Tentunya dengan penghasilan yang minim akan mengalami ketidakpastian kesejahteraanhidup diri dan keluarganya, sehingga menyebabkan dorongan-dorongan lain di luarprofesinya sebagai seorang guru/ tenaga pendidik, semisal harus mencari “obyekan” lainseperti; ngojek, buka warungan, menjadi tukang jahit, bengkel, les privat dan lainsebagainya. Semua itu dilakukan untuk menambah pendapatan dalam rangka memenuhikebutuhan sehari-hari keluarga. Inilah nasib guru/ tenaga pendidik persis seperti lagunyaIwan Fals “Oemar Bakri”.
Keseimbangan Antara Tuntutan dan Penghargaan
Solusinya adalah adanya keseimbangan antara tuntutan yang dibebankan pada guru/ tenaga pendidik dengan penghargaan yang harus juga diterima guna menunjang kesejahteraan.Hal ini memang tidak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin untuk direalisasikan manakalapara pengambil kebijakan (dalam hal ini pemerintah/ eksekutif dan legislatif) terusmengupayakan secara serius. Sebab profesionalitas guru/ tenaga pendidik tidak saja dilihat darikemampuannya dalam mengembangkan dan memberikan pembelajaran yang baik kepadapeserta didik. Profesionalitas guru/ tenaga pendidik juga harus dilihat oleh pemerintah dengancara memberikan gaji yang pantas serta layak. Bila kebutuhan dan kesejahteraan telah diberikanoleh pemerintah, maka kemungkinan besar (bukan berarti jaminan 100%) tidak akan ada lagiguru/ tenaga pendidik yang membolos karena harus banting tulang nyari “obyekan” lain demimenambah penghasilan.

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...

ukht_marutuleft a comment

hehe,....... yang punya dokumen ini kale:)

shafwan_pakyaleft a comment

salam...boleh tahu siapakah Agus Sumarsono?Penulis ini