3
rendahnya motivasi guru/ tenaga pendidik untuk melaksanakan tugas belajar mengajardengan berbagai disiplin ilmu yang dimilikinya
.Masalah mempengaruhi proses pembelajarandi kelas sehingga cenderung berlangsung tidak efektif dan efisien. Tidak mengherankan sehinggaakhirnya pencapaian belajar siswa termasuk dalam Ujian Nasional menjadi di bawah target yangditetapkan, yang berdampak kepada menurunnya mutu pendidikan kita.Gambaran di atas menunjukkan betapa tingginya tuntutan profesionalismeguru/ tenaga pendidik. Bisa dipastikan dengan masih rendahnya tingkat kesejahteraan akan menjadisangat sulit untuk mengikuti tuntutan-tuntutan tersebut. Sebab kebutuhan utama manusia adalah
survival biologis
, maka seorang guru/ tenaga pendidik akan lebih mementingkan kelangsunganhidupnya dari pada memikirkan profesionalismenya. Tentu hal ini menjadi
kontradiksi antaraidealitas peningkatan mutu pendidikan yang dicita-citakan dengan realitas yang dihadapioleh para guru/ tenaga pendidik
. Bagaimana mungkin kita kemudian mengatakan bahwa guru/ tenaga pendidik bisa profesional kalau kondisinya masih cukup memprihatinkan seperti ini.Sungguh sangat ironis kalau kita terlanjur mengatakan bahwa seorang guru/ tenaga pendidik adalah
jabatan profesional, akan tetapi perlakuan yang didapatnya jauh dari itu
. Tentukalau guru/ tenaga pendidik adalah jabatan profesional harus mendapatkan perlakuan yangprofesional pula.Menurut P. Ruspendi (seorang guru di SMA Pasundan Majalaya) terdapat beberapafaktor yang mempengaruhi guru/ tenaga pendidik kurang profesional dalam menjalankan tugas,di antaranya adalah ;1.
Internal biologis
. Hal ini menyangkut masalah kebutuhan fisik guru untuk tetap sehatdengan pola konsumsi yang sehat sesuai dengan anjuran para ahli gizi. Bagaimana seorangguru/ tenaga pendidik akan mempunyai fisik yang sehat manakala hanya sesekali makantelur atau lauk ?2.
Internal psikologis
. Adalah menyangkut masalah tanggung jawab terhadap anak didik dilembaga pendidikan, juga mempunyai tanggung jawab terhadap keluarga (anak, suami/ istri).Tentunya dengan penghasilan yang minim akan mengalami ketidakpastian kesejahteraanhidup diri dan keluarganya, sehingga menyebabkan dorongan-dorongan lain di luarprofesinya sebagai seorang guru/ tenaga pendidik, semisal harus mencari “obyekan” lainseperti; ngojek, buka warungan, menjadi tukang jahit, bengkel, les privat dan lainsebagainya. Semua itu dilakukan untuk menambah pendapatan dalam rangka memenuhikebutuhan sehari-hari keluarga. Inilah nasib guru/ tenaga pendidik persis seperti lagunyaIwan Fals “Oemar Bakri”.
Keseimbangan Antara Tuntutan dan Penghargaan
Solusinya adalah adanya keseimbangan antara tuntutan yang dibebankan pada guru/ tenaga pendidik dengan penghargaan yang harus juga diterima guna menunjang kesejahteraan.Hal ini memang tidak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin untuk direalisasikan manakalapara pengambil kebijakan (dalam hal ini pemerintah/ eksekutif dan legislatif) terusmengupayakan secara serius. Sebab profesionalitas guru/ tenaga pendidik tidak saja dilihat darikemampuannya dalam mengembangkan dan memberikan pembelajaran yang baik kepadapeserta didik. Profesionalitas guru/ tenaga pendidik juga harus dilihat oleh pemerintah dengancara memberikan gaji yang pantas serta layak. Bila kebutuhan dan kesejahteraan telah diberikanoleh pemerintah, maka kemungkinan besar (bukan berarti jaminan 100%) tidak akan ada lagiguru/ tenaga pendidik yang membolos karena harus banting tulang nyari “obyekan” lain demimenambah penghasilan.
Add a Comment
ukht_marutuleft a comment
shafwan_pakyaleft a comment