Jihad Kontra Terorisme
30/11/2005 11:30 WIB
Kata jihad menjadi wacana hangat belakangan ini, menyusul adanya pengakuan pelaku pengeboman Bali II bahwa yang mereka lakukan adalah jihad. Dalam rekaman VCD, para pelaku menyatakan alasan mengapa mereka melakukan bom bunuh diri, bahwamereka akan masuk syurga dengan melakukan aksi yang mereka sebut sebagai jihad.Tidak pelak, sejumlah ulama menolak pernyataan sesat dan menyesatkan itu. Terorisme bukanlah jihad atau jihad bukanlah terorisme, dan Islam menentang terorisme. KetuaKomisi Fatwa MUI KH Ma'aruf Amin menegaskan, terorisme dan bunuh diri merupakantindakan yang diharamkan oleh Islam dan tindakan serangan dengan cara bunuh diri yangdilakukan di Indonesia tidak dapat digolongkan sebagai jihad. "Apa yang dilakukan diIndonesia adalah terorisme dan bunuh diri... bunuh diri itu haram," katanya (MediaIndonesia Online, 18/11).Ma'aruf mengungkapkan, MUI sebelumnya telah mengeluarkan fatwa yangmengharamkan perbuatan terorisme, yaitu pada akhir tahun 2003. Ia menekankan,Indonesia bukanlah wilayah perang, melainkan daerah aman, damai dan wilayah dakwah.Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mendapat serangan bom bunuh diri. "Sasaran pemboman bunuh diri juga tidak jelas,karena korbannya bukan pihak-pihak yangdianggap musuh, melainkan orang-orang yang tidak berdosa." ujarnya,Perancuan makna jihad adalah salah satu dampak aksi-aksi terorisme yang marak belakangan ini. Kaum kuffar dan munafiqin lantas menimpakan kesalahan pada Islamyang mengandung ajaran jihad hanya kerana para pelaku teror menyatakan apa yangmereka lakukan adalah jihad.Pertanyaanya sekarang, benarkah para teroris itumelaksanakan konsep jihad dalam Islam? Benarkah yang mereka lakukan adalah jihad?Tampaknya, mayoritas umat Islam termasuk para ulama sepakat, pengeboman Bali dankasus bom-bom lain di tanah air bukanlah jihad, melainkan terorisme murni. Para pelakuteror itu pun menjadi musuh umat Islam, karena yang mereka lakukan justru merusak citra Islam, mengaburkan konsep jihad, bahkan mendorong kaum kuffar dan munafiqinmengobok-obok kalangan pesantren hanya karena para pelaku pernah singgah di pesantren.Ditambah lagi dengan isu akan adanya pelarangan buku-buku Islam, terutama buku-bukukarya para ulama pendiri dan aktivis gerakan Islam seperti Hassan Al-Banna. Di sejumlahnegara Arab, kekuatan asing itu bahkan menekan para ulama dan pendidik untuk mengubah (baca: mensekulerkan) kurikulum pendidikan. Simak saja ungkapan anggotaMujamma' al-Buhuts al-Islamiyyah (Lembaga Penelitian Islam), Dr. Mushtafa Syak'ah, bahwa propaganda Amerika Serikat (AS) untuk men-sekuler-kan perguruan Al-Azhar Mesir sekarang telah sampai pada puncaknya, setelah adanya tuntutan Duta Besar Amerika yang baru, Richard Rodney, agar mensosialisasikan pelajaran ilmu perbandingan agama untuk seluruh ma'had di bawah Al-Azhar di ketiga tingkatannya,
Add a Comment