/  62
 
Jihad Kontra Terorisme
30/11/2005 11:30 WIB
Kata jihad menjadi wacana hangat belakangan ini, menyusul adanya pengakuan pelaku pengeboman Bali II bahwa yang mereka lakukan adalah jihad. Dalam rekaman VCD, para pelaku menyatakan alasan mengapa mereka melakukan bom bunuh diri, bahwamereka akan masuk syurga dengan melakukan aksi yang mereka sebut sebagai jihad.Tidak pelak, sejumlah ulama menolak pernyataan sesat dan menyesatkan itu. Terorisme bukanlah jihad atau jihad bukanlah terorisme, dan Islam menentang terorisme. KetuaKomisi Fatwa MUI KH Ma'aruf Amin menegaskan, terorisme dan bunuh diri merupakantindakan yang diharamkan oleh Islam dan tindakan serangan dengan cara bunuh diri yangdilakukan di Indonesia tidak dapat digolongkan sebagai jihad. "Apa yang dilakukan diIndonesia adalah terorisme dan bunuh diri... bunuh diri itu haram," katanya (MediaIndonesia Online, 18/11).Ma'aruf mengungkapkan, MUI sebelumnya telah mengeluarkan fatwa yangmengharamkan perbuatan terorisme, yaitu pada akhir tahun 2003. Ia menekankan,Indonesia bukanlah wilayah perang, melainkan daerah aman, damai dan wilayah dakwah.Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mendapat serangan bom bunuh diri. "Sasaran pemboman bunuh diri juga tidak jelas,karena korbannya bukan pihak-pihak yangdianggap musuh, melainkan orang-orang yang tidak berdosa." ujarnya,Perancuan makna jihad adalah salah satu dampak aksi-aksi terorisme yang marak  belakangan ini. Kaum kuffar dan munafiqin lantas menimpakan kesalahan pada Islamyang mengandung ajaran jihad hanya kerana para pelaku teror menyatakan apa yangmereka lakukan adalah jihad.Pertanyaanya sekarang, benarkah para teroris itumelaksanakan konsep jihad dalam Islam? Benarkah yang mereka lakukan adalah jihad?Tampaknya, mayoritas umat Islam termasuk para ulama sepakat, pengeboman Bali dankasus bom-bom lain di tanah air bukanlah jihad, melainkan terorisme murni. Para pelakuteror itu pun menjadi musuh umat Islam, karena yang mereka lakukan justru merusak citra Islam, mengaburkan konsep jihad, bahkan mendorong kaum kuffar dan munafiqinmengobok-obok kalangan pesantren hanya karena para pelaku pernah singgah di pesantren.Ditambah lagi dengan isu akan adanya pelarangan buku-buku Islam, terutama buku-bukukarya para ulama pendiri dan aktivis gerakan Islam seperti Hassan Al-Banna. Di sejumlahnegara Arab, kekuatan asing itu bahkan menekan para ulama dan pendidik untuk mengubah (baca: mensekulerkan) kurikulum pendidikan. Simak saja ungkapan anggotaMujamma' al-Buhuts al-Islamiyyah (Lembaga Penelitian Islam), Dr. Mushtafa Syak'ah, bahwa propaganda Amerika Serikat (AS) untuk men-sekuler-kan perguruan Al-Azhar Mesir sekarang telah sampai pada puncaknya, setelah adanya tuntutan Duta Besar Amerika yang baru, Richard Rodney, agar mensosialisasikan pelajaran ilmu perbandingan agama untuk seluruh ma'had di bawah Al-Azhar di ketiga tingkatannya,
 
dan memasukkan beberapa perubahan mendasar atas kurikulum-kurikulumnya. “Sebagaiimbalannya, bila memenuhi tuntutan tersebut, al-Azhar akan mendapatan bonus sebesar 150 juta dolar,” katanya. (Alsofwah, 14 Nopember 2005).Kian jelas, ulah para teroris itu berdampak pada munculnya aksi-aksi penekanan terhadapaktivitas syiar dakwah Islamiyah. Wajar jika berkembang analisis yang sangat kuatdalihnya, bahwa para teroris itu hanyalah pion-pion kaum kuffar dan munafiqin untuk merusak citra Islam dari dalam, menjadi “tim pembuka pintu” bagi masuknya gerakan peredaman syi'ar Islam dan membungkam kekuatan Islam. Dalam istilah mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Nasional (BAKIN) yang juga pakar intelijen, Dr. ACManullang, di belakang isu dan aksi-aksi terorisme yang mengatasnamakan Islam ituadalah neokolonialisme dan neokapitalisme yang notabene dimotori oleh Amerika Serikat(AS) dan sekutunya. Mereka sukses membentuk opini masyarakat dunia tentangradikalisme Islam. "Neokolonialis dan neokapitalisme itu terlalu sukses membentuk opinimasyarakat dunia bahwa isu Islam dan radikalisme identik dengan Islam," katanya.Manullang sendiri cenderung melihat terorisme yang terjadi pada abad ini sebagai bagiandari perang intelijen yang tidak lain hanya bertujuan untuk menguatkan akar-akar neokolonialisme dan neokapitalisme Barat di seluruh dunia. "Dan terorisme dalam perangintelijen ini memerlukan kader muda yang revolusioner karena itu pembentukan kader merupakan membentuk kader yang paling ampuh," ujarnya.Dia mengatakan, banyak anak muda Muslim telah dimanfaatkan oleh arsitek strategiglobal yang ingin mengeruk keuntungan besar dari negara-negara di Asia denganmenggunakan isu radikalisme Islam. "Orang-orang itu sudah dilihat oleh agen intelijenmereka untuk kemudian direkrut sebagai agen pelaksana," katanya seraya menjelaskan bahwa untuk itu para pelaku terorisme itu juga dibiayai untuk belajar ke luar negeri gunamendukung keberhasilan program mereka. "Mereka memang dicetak untuk membentuk  jaringan, mengatur dan memperkuat jaringan itu," jelasnya (Republika Online (20/11).Tentu, umat Islam tidak boleh tinggal diam. Kita sepakat dengan seruan ulama SampangMadura belum lama ini, agar umat Islam berjihad melawan terorisme. Kewaspadaansenantiasa harus dilakukan agar para “penyusup” itu tidak lagi leluasa masuk ke tubuhumat Islam, lembaga-lembaga dakwah, dan ormas-ormas Islam. Yang jelas, jangansampai tekanan isu terorisme membuat umat Islam kehilangan keberanian (asy-syaja'ah)untuk terus melaksanakan dakwah dan jihad demi menegakkan sy'ar Islam yang rahmatanlil 'alamin.Wallahu a'lam bish-showab. *
ASM Romli
 
Ulama Tunisia Kecam Menteri Agamayang Sebut Jilbab sebagai Produk Budaya Asing
5 Jan 2006 11:01 WIB
Para ulama di Tunisia melontarkan reaksi keras atas pernyataan menteri agama negara itu tentang jilbab.Menteri Agama Tunisia, Abubakar Akhzuri pekan lalumengatakan bahwa jilbab tidak sesuai dengan budayaTunisia, negara yang terletak di Afrika Utara itu.Mantan Mufti Tunisia, Syaikh Muhammad Mukhtar Al-Salami menilai pernyataan menteri agama itu bermotif  politis dan tidak ada kaitannya dengan ajaran Islam."Akhzur adalah seorang politikus, seperti layaknya politikus di mana saja, ia membuat pernyataan dengan latar belakang agenda politiknya,"ujar Syaikh Muhammad Mukhtar.Kritikan keras atas pernyataan menteri agama itu juga dilontarkan Imam Syaikh AbdulRahman Khalif. "Pernyataan menteri agama yang mengkritik jilbab adalah pemikiranyang sesat," tegasnya seraya menghimbau warga Muslim di seluruh dunia untuk tetapteguh pada ajaran Islam.Dalam wawancara dengan harian Assabah, Akhzuri mengatakan bahwa jilbab adalah'fenomena orang asing' di tengah masyarakat Tunisia. "Sangat disesalkan bahwa kitatidak menghormati identitas budaya kita sendiri," kata Akhzuri.Ia selanjutnya mengatakan bahwa pemerintah Tunisia sudah melarang warga Muslimmengenakan jubah seperti yang dikenakan di negara-negara Teluk serta melarang kaumlelakinya memanjangkan jenggotnya.Saat situs Islamonline meminta penjelasan atas pernyataannya itu, menteri agamaTunusia menolak memberikan komentar. Padahal, Dewan Tertinggi Islam yangmerupakan lembaga resmi di Tunisia melalui ketuanya Jalal Al-Gerebi juga melontarkan pernyataan atas pernyataan menteri agama yang mengundang kontroversi itu.Selain mengecam mengecam penyataan menteri agama, Syaikh Muhammad Mukhtar dandan Syaikh Abdul Rahman Khalif mengkritik pernyataan Munjiah Al-Sawahi, seorang profesor di sebuah universitas.Sama halnya dengan menteri agama, Al-Sawahi mengatakan bahwa jilbab adalah'peninggalan budaya Yunani dan Roma' dan tidak ada kaitannya dengan ajaran Islam. Ia

Share & Embed

More from this user

Recent Readcasters

Add a Comment

Characters: ...