Find your next favorite book

Become a member today and read free for 30 daysStart your free 30 days

Book Information

Lorong Tanpa Cahaya

Lorong Tanpa Cahaya

Book Actions

Start Reading
Ratings:
Rating: 4 out of 5 stars4/5 (53 ratings)
Length: 211 pages3 hours

Description

Novel berkisah tentang seorang anak, Wibi, yang lahir dan tumbuh di kampung pelacuran. Ia masih terlalu muda untuk menjadi saksi sekaligus korban kebiadaban: bayi Karti digaruk petugas ketertiban kota, persis di depan matanya saat si orok lelap di dalam gerobak. Setiap hari ia dipertontonkan kemesuman, diejek teman-teman sekolah: “Rumahmu di Sarkem, tempatnya pelacur, ibumu juga lonte ....” Dan, suatu ketika, ia memergoki ibunya sedang berzina.
Konflik batin kian parah, juga dendam atas kesewenang-wenangan, ia pun minggat. Setelah dewasa ia kembali ke kampung pelacuran yang padat dan kumuh itu. Lalu pemuda itu jatuh cinta pada Karti. "Salahkah jika aku mencintai perempuan yang lebih tua dariku, yang punya ikatan kenangan di masa lalu, yang akhirnya jadi pelacur itu," bisiknya.

Karena cinta itukah Wibi menolong Karti untuk keluar dari dunia kepelacuran? Segalanya berakhir pada sebuah pertarungan demi pertarungan. Bertarung dengan kelelakiannya, bertarung dengan tindak kesewenang-wenangan, dan ia bertarung dengan buto ireng, raksasa yang hidup di lorong tanpa cahaya.
Lalu, bagaimana dengan cintanya pada Karti? Haruskah ia merelakannya, seperti ia terpaksa merelakan kampung yang cabul itu akhirnya digusur? "Selamat tinggal Sosrowijayan, jangan sampai anak-anakku kelak lahir di tempat mesum seperti itu... “

Read More
Lorong Tanpa Cahaya

Book Actions

Start Reading

Book Information

Lorong Tanpa Cahaya

Ratings:
Rating: 4 out of 5 stars4/5 (53 ratings)
Length: 211 pages3 hours

Description

Novel berkisah tentang seorang anak, Wibi, yang lahir dan tumbuh di kampung pelacuran. Ia masih terlalu muda untuk menjadi saksi sekaligus korban kebiadaban: bayi Karti digaruk petugas ketertiban kota, persis di depan matanya saat si orok lelap di dalam gerobak. Setiap hari ia dipertontonkan kemesuman, diejek teman-teman sekolah: “Rumahmu di Sarkem, tempatnya pelacur, ibumu juga lonte ....” Dan, suatu ketika, ia memergoki ibunya sedang berzina.
Konflik batin kian parah, juga dendam atas kesewenang-wenangan, ia pun minggat. Setelah dewasa ia kembali ke kampung pelacuran yang padat dan kumuh itu. Lalu pemuda itu jatuh cinta pada Karti. "Salahkah jika aku mencintai perempuan yang lebih tua dariku, yang punya ikatan kenangan di masa lalu, yang akhirnya jadi pelacur itu," bisiknya.

Karena cinta itukah Wibi menolong Karti untuk keluar dari dunia kepelacuran? Segalanya berakhir pada sebuah pertarungan demi pertarungan. Bertarung dengan kelelakiannya, bertarung dengan tindak kesewenang-wenangan, dan ia bertarung dengan buto ireng, raksasa yang hidup di lorong tanpa cahaya.
Lalu, bagaimana dengan cintanya pada Karti? Haruskah ia merelakannya, seperti ia terpaksa merelakan kampung yang cabul itu akhirnya digusur? "Selamat tinggal Sosrowijayan, jangan sampai anak-anakku kelak lahir di tempat mesum seperti itu... “

Read More