shell and tube heat exchanger calculation

1 book hand-picked by Amelia Veronica

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN PERUSAHAAN i
LEMBAR PERSETUJUAN JURUSAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv
DAFTAR TABEL v
DAFTAR GAMBAR vi
DAFTAR LAMPIRAN vii
BAB I. PENDAHULUAN 1
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 4
BAB III. TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN 20
BAB IV. SKEMA PERHITUNGAN PERANCANGAN
SHELL AND TUBE 23

BAB V. PENUTUP 41

DAFTAR PUSTAKA 42
LAMPIRAN 43





DAFTAR TABEL

1. Tabel properti material 44
2. Koefisien perpindahan panas global (U) pada Shell and Tube 44
3. Tabel properti oli 45
4. Tabel properti air 46
5. Tabel TEMA (Fouling Resistance) 48















DAFTAR GAMBAR

1. Chiller 4
2. Kondensor 5
3. Cooler 5
4. Evaporator 6
5. Reboiler 7
6. Shell and Tube Heat Exchanger counter flow 7
7. Shell and Tube 9
8. Counter flow shell and tube 9
9. Parallel flow shell and tube 10
10. Crossflow shell and tube 10
11. 1-2 Shell and Tube 11
12. Double pipe Heat exchanger 11
13. Coil pipe Heat Exchanger 12
14. Komponen-komponen shell and tube heat exchanger. 13
15. Bentuk-bentuk shell pada alat penukar kalor jenis shell and tube. 14
16. Macam-macam tipe susunan tube pada APK shell and tube 15
17. Bentuk-bentuk buffle dari jenis plat. 16
18. Bentuk buffle dari jenis rod. 17
19. Hubungan efektivitas dengan NTU 35
20. Grafik faktor koreksi pada shell and tube. 47
DAFTAR LAMPIRAN

1. Tabel properti material dan Tabel koefisien perpindahan
panas global (U) 44
2. Tabel properti oli 45
3. Tabel properti air 46
4. Grafik faktor koreksi pada shell and tube 47
5. Tabel TEMA (Fouling Resistance) 48





















BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Alat penukar kalor adalah suatu alat yang dapat menghasilkan perpindahan kalor dari suatu fluida ke fluida lain. Proses perpindahan kalor itu terjadi antara dua fluida yang dipisahkan oleh suatu batas dan mempunyai temperatur yang berbeda. Alat penukar kalor yang baik harus dapat beroperasi maksimal dengan menghasilkan laju perpindahan kalor yang tinggi.
Dalam proses kerjanya heat exchanger dibagi menjadi dua yakni alat penukar kalor (heat exchanger) secara langsung dan tidak langsung. Pada alat penukar kalor secara langsung, fluida yang panas akan bercampur secara langsung dengan fluida dingin dalam suatu bejana atau ruangan tertentu tanpa adanya sekat atau pemisah. Sedangkan pada alat penukar kalor (heat exchanger) secara tidak langsung, fluida panas tidak berhubungan secara langsung (indirect contact) dengan fluida dingin tetapi melalui media perantara.
Salah satu konstruksi alat penukar kalor yang banyak digunakan adalah jenis shell and tube. Alat ini terdiri dari sebuah shell silindris di bagian luar dan sejumlah tube (tube bundle) di bagian dalam, dimana temperatur fluida di dalam tube bundle berbeda dengan di luar tube (di dalam shell) sehingga terjadi perpindahan panas antara aliran fluida di dalam tube dan di luar tube. Tipe aliran fluida pada shell and tube itu sendiri dibagi menjadi dua yaitu counter flow dan paralel flow.
Pada saat ini banyak dibutuhkan alat penukar kalor yang efficient di dunia industri, apabila hal tersebut dapat terpenuhi dan bekerja dengan baik maka dapat dipastikan akan memberikan dampak yang positif terhadap dunia industri tersebut. Didasarkan pada pemikiran tersebut maka dilakukanlah skema perhitungan terhadap rancang bangun alat penukar kalor shell and tube dengan aliran counter flow dan paralel flow dalam pengembangan performa karakteristiknya, sehingga diharapkan mampu untuk menghasilkan kinerja yang optimal sesuai dengan yang dibutuhkan pada masa sekarang serta dapat lebih menunjang dalam kemajuan di dunia industri.

1.2 Maksud dan Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan laporan ini diantaranya adalah untuk mengetahui skema perhitungan perancangan shell and tube dengan aliran counter flow dan paralel flow dalam pengembangan performa karakteristiknya.

1.3 Batasan Masalah
Dalam laporan ini dibahas mengenai skema perhitungan perancangan shell and tube dengan aliran counter flow dan paralel flow dalam pengembangan performa karakteristiknya. Adapun permasalahan yang dihadapi adalah sebagai berikut:

a. Apa yang membedakan antara shell and tube counter flow dengan paralel flow?
b. Bagaimana cara mendisain alat penukar kalor shell and tube yang efisien?

1.4 Metode Pembahasan
Metode yang digunakan sebagai dasar dari laporan ini ialah berdasarkan pada pengalaman di lapangan, wawancara, dan dilengkapi dengan metode literature, yaitu Pengumpulan data dengan referensi buku-buku pendukung teknik mesin serta referensi lainnya yang berkaitan dengan alat yang terkait.

1.5 Sistematika Pembahasan
Adapun sistematika pembahasan dalam penulisan laporan ini adalah dimulai dari bab 1 sampai dengan bab 5, yaitu

BAB I PENDAHULUAN
Pada bab pendahuluan ini penulis menjelaskan tentang latar belakang alat penukar kalor dengan shell and tube sebagai salah satu alat penukar kalor yang sering digunakan. Adapun bab ini meliputi : latar belakang, tujuan perencanaan, batasan masalah, metode pembahasan, dan sistematika pembahasan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Pada tinjauan pustaka ini penulis menjelaskan lebih terperinci tentang alat penukar kalor dan heat exchanger jenis shell and tube sehingga lebih mudah dalam memahaminya. Serta dibahas pula mengenai macam-macam alat penukar kalor, jenis-jenis heat exchanger, komponen-komponen dari alat penukar kalor jenis shell and tube, serta beberapa perbedaan antara shell and tube aliran counter flow dan parallel flow.

BAB III TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN
Pada bab ini akan dibahas mengenai sejarah umum berdirinya perusahaan, dalam hal ini ialah PT Intan Prima Kalorindo.

BAB IV SKEMA PERHITUNGAN PERANCANGAN SHELL AND TUBE.
Pada bab ini akan dibahas menengenai skema langkah-langkah perhitungan yang harus dilakukan dalam perencanaan perancangan alat penukar kalor jenis shell and tube.

BAB V PENUTUP
Dalam bab ini akan mencakup inti-inti daripada bab-bab sebelumnya yang meliputi hasil pembahasan.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Alat Penukar Kalor
Seperti yang telah dikemukakan dalam pendahuluan maka dapat diketahui bahwa terdapat beberapa jenis alat penukar kalor. Dalam hal ini alat penukar kalor dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok berdasarkan fungsinya, yakni :

2.1.1 Chiller

Gambar 2.1 Chiller

Alat penukar kalor ini digunakan untuk mendinginkan fluida sampai pada temperatur yang rendah. Fluida hasil pendinginan didalam chiller akan memiliki temperatur yang lebih rendah bila dibandingkan dengan fluida yang didinginkan dengan pendingin air. Media pendingin yang biasa digunakan pada chiller ialah amoniak atau Freon.





2.1.2 Kondensor

Gambar 2.2 Kondensor

Alat penukar kalor ini digunakan untuk mendinginkan uap atau campuran uap, sehingga berubah fasa menjadi cairan. Media pendingin yang dipakai biasanya air atau udara. Uap atau campuran uap akan melepaskan panas latent kepada pendingin, misalnya pada pembangkit listrik tenaga uap yang mempergunakan condensing turbine, maka uap bekas dari turbin akan dimasukkan ke dalam kondensor, lalu diembunkan menjadi kondensat.


2.1.3 Cooler

Gambar 2.3 Cooler

Alat penukar kalor ini digunakan untuk mendinginkan cairan atau gas dengan mempergunakan udara sebagai media pendingin. Disini tidak terjadi perubahan fasa, dengan perkembangan teknologi dewasa ini maka pendingin cooler mempergunakan media pendingin berupa udara dengan bantuan fan (kipas).

2.1.4 Evaporator

Gambar 2.4 Evaporator

Alat penukar kalor ini digunakan untuk penguapan cairan menjadi uap. Dimana pada alat ini terjadi proses evaporasi (penguapan) , yakni suatu zat dari fasa cair menjadi uap. Alat ini memanfaatkan panas latent dan zat yang berupa air atau refrigerant cair dalam proses kerjanya.









2.1.5 Reboiler


Gambar 2.5 Reboiler

alat penukar kalor ini berfungsi mendidihkan kembali (reboil) serta menguapkan sebagian cairan yang diproses. Adapun media pemanas yang sering digunakan ialah uap atau zat panas yang terdapat pada proses itu sendiri.

2.1.6 Heat Exchanger


Gambar 2.6 Shell and Tube Heat Exchanger counter flow

alat penukar kalor ini bertujuan untuk memanfaatkan panas suatu aliran fluida yang lain. Maka akan terjadi dua fungsi sekaligus, yaitu :

• Memanaskan fluida
• Mendinginkan fluida yang panas

Temperatur yang masuk dan keluar kedua jenis fluida diatur sesuai dengan kebutuhannya. Pada gambar 2.6 diperlihatkan sebuah heat exchanger, dimana fluida yang berada didalam tube adalah fluida pendingin, sedangkan disebelah luar dari tube ialah fluida yang didinginkan atau fluida panas.

2.2 Jenis-jenis Heat Exchanger
Perlu diketahui bahwa untuk alat-alat ini terdapat suatu terminology yang telah distandarkan untuk penamaan alat dan bagian-bagian alat tersebut yang dikeluarkan oleh Asosiasi pembuat Heat Exchanger yang dikenal dengan Turbular Exchanger Manufactures Association (TEMA). Standarisasi tersebut bertujuan untuk melindungi para pemakai dari bahaya kerusakan atau kegagalan alat, karena alat ini beroperasi pada temperatur dan tekanan yang tinggi.
Didalam standar mekanik TEMA, terdapat dua macam kelas heat Exchanger, yaitu :
1. Kelas R, yaitu untuk peralatan yang bekerja dengan kondisi berat, misalnya untuk industri minyak dan kimia berat.
2. Kelas C, yaitu yang dibuat untuk kepentingan umum, dengan didasarkan pada segi ekonomis dan ukuran kecil, digunakan untuk proses-proses umum industri.







Heat exchanger terdiri dari beberapa jenis, yakni :
2.2.1 Jenis shell and tube

Gambar 2.7 Shell and Tube

Jenis ini merupakan jenis yang paling banyak digunakan dalam industri perminyakan. Alat ini terdiri dari sebuah shell (tabung atau silinder besar) dimana didalamnya terdapat suatu bandle (berkas) pipa dengan diameter yang relative kecil. Satu jenis fluida mengalir didalam pipa-pipa sedangkan fluida lainnya mengalir dibagian luar pipa tetapi masih didalam shell.

Shell and Tube Heat Exchanger terbagi atas beberapa tipe, yakni :
a. Counter flow

Gambar 2.8 Counter flow Shell and Tube.
Pada jenis ini aliran fluida pendingin berlawanan arah dengan aliran fluida panas.


b. Parallel flow

Gambar 2.9 Parallel flow Shell and Tube.
Pada jenis ini aliran fluida pendingin searah dengan aliran fluida panas.

c. Cross flow

Gambar 2.10 Crossflow Shell and Tube

Pada jenis ini aliran fluida pendingin Tegak lurus dengan aliran fluida panas.


d. One pass Shell and two passed Tube Heat Exchanger

Gambar 2.11 one pass Shell and 2- passed Tube
Pada jenis ini aliran fluida pendingin bergerak secara bolak-balik.

2.2.2 Jenis double pipe

Gambar 2.12 Double pipe

Pada jenis ini, tiap pipa atau beberapa pipa mempunyai shell sendiri-sendiri. Untuk menghindari tempat yang terlalu panjang, heat exchanger ini dibentuk menjadi U (lihat gambar 2.12). pada keperluan khusus, untuk meningkatkan kemampuan memindahkan panas, bagian diluar pipa diberi sirip. Bentuk siripnya ada yang memanjang, melingkar dan sebagainya.
Keistimewaan jenis ini adalah mampu beroperasi pada tekanan yang tinggi, dan karena tidak ada sambungan, kemungkinan tercampurnya kedua fluida sangat kecil. Namun kelemahannya terletak pada kapasitas perpindahan panasnya sangat kecil.

2.2.3 Jenis koil pipa


Gambar 2.13 Koil pipa

Heat Exchanger ini mempunyai pipa berbentuk koil yang dibenamkan didalam sebuah box berisi air dingin yang mengalir atau yang disemprotkan untuk mendinginkan fluida panas yang mengalir didalam pipa. Jenis ini disebut juga sebagai box cooler (gambar 2.13) jenis ini biasanya digunakan untuk memindahkan kalor yang relative kecil dan fluida yang didalam shell yang akan diproses lanjut.

Selain dari jenis-jenis diatas masih banyak terdapat beberapa jenis lainnya yang dapat dijumpai di Industri.





2.3 Komponen-komponen Heat Exchanger.


Gambar 2.14 Komponen-komponen Shell and tube

Dalam penguraian komponen-komponen heat exchanger jenis shell and tube akan dibahas beberapa komponen yang sangat berpengaruh pada konstruksi heat exchanger. Untuk lebih jelasnya disini akan dibahas beberapa komponen dari heat exchanger jenis shell and tube.

2.3.1 Shell
Kontruksi shell sangat ditentukan oleh keadaan tube yang akan ditempatkan didalamnya. Shell ini dapat dibuat dari pipa yang berukuran besar atau pelat logam yang dirol. Shell merupakan badan dari heat exchanger, dimana didapat tube bundle. Untuk temperatur yang sangat tinggi kadang-kadang shell dibagi dua disambungkan dengan sambungan ekspansi. Bentuk-bentuk shell dari alat penukar kalor shell and tube ialah sebagai berikut :


Gambar 2.15 Bentuk-bentuk shell pada Alat penukar
kalor jenis shell and tube.
2.3.2 Tube (pipa)
Tube atau pipa merupakan bidang pemisah antara kedua jenis fluida yang mengalir didalamnya dan sekaligus sebagai bidang perpindahan panas. Ketebalan dan bahan pipa harus dipilih pada tekanan operasi fluida kerjanya. Selain itu bahan pipa tidak mudah ter-korosi oleh fluida kerja. Adapun beberapa tipe susunan tube dapat dilihat dibawah ini :


Gambar 2.16 Macam-macam tipe susunan tube pada
shell and tube heat exchanger.

2.3.3 Baffle
Baffle berfungsi untuk mengubah dan mengatur aliran dalam shell and tube sekaligus dapat berfungsi sebagai penyangga berkas pipa dan mengatur spacing antara pipa. Baffle ini berupa piringan yang dilubangi untuk penempatan pipa dan berbentuk sedemikian rupa agar aliran fluida di luar pipa dapat menyentuh permukaan luar pipa secara effective untuk perpindahan panas. Terdapat dua jenis baffle, yakni :



a. Jenis plat.

Gambar 2.17 Bentuk-bentuk baffle dari jenis plat.
Baffle jenis plat ini terbagi menjadi 3, yakni :
• Single segment
• Double segment
• Triple segment










b. Jenis rod (grid).

Gambar 2.18 Bentuk buffle dari jenis rod.


2.4 Shell and Tube Heat Exchanger dengan aliran Parallel dan counter flow.
Dalam hal ini kami akan membahas mengenai skema perhitungan perancangan shell and tube dengan aliran Parallel dan counter flow. Dalam hal ini ada beberapa persamaan yang membeda dalam perhitungan perancangannya, yakni sebagai berikut :
2.4.1 Beda temperatur rata-rata logaritmik, (∆TLMTD)
• Paralel flow.

[K] . . . [2.1]


• Counter flow.

[K] . . . [2.2]

Dimana,
Tho = Temperatur keluar fluida panas pada shell.
Thi = Temperatur masuk fluida panas pada shell.
Tco = Temperatur keluar fluida pendingin pada tube.
Tci = Temperatur masuk fluida pendingin pada tube.

2.4.2 NTU
• Counter flow

(untuk C
(untuk C=1) . . . [2.4]


• Parallel flow

. . . [2.5]

Dimana,
NTU = bilangan NTU
C = Ratio kapasitas kalor.
U = koefisien slobal perpindahan panas, (W/m2.K)
ε = effectiveness




2.4.3 Effectiveness, (ε)
• Counter flow

. . . [2.6]


• Parallel flow

. . . [2.7]



















BAB III
TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

PT Intan Prima Kalorindo bergerak dalam perancangan, pabrikasi, pengujian pemasangan dan pemesanan Heat Exchanger serta membantu dalam proses impor (importir auxiliary). Komponen mesin pembangkit.
PT Intan Prima Kalorindo didirikan pada tanggal 21 September 2002 dan mengembangkan kerja sama dengan PT PLN (Persero) Jasa dan Produksi Unit Produksi Jakarta Klender mulai tanggal 3 Desember 2002 dibawah MOU No. 174.1.pj/061/J&P/2002 dan No. 015/SP/IPK/2002 tanggal 3 Desember 2002, didirikan dan dikelola oleh tenaga profesional yang berpengalaman, berpendidikan dalam dan luar negeri. Proses desain dan manufaktur di laksanakan di Jl. Swadaya PLN, Klender, Jakarta Timur.
Eksistensi perusahaan dalam bidang desain dan pabrikasi (Heat Exchanger, Air Cooled, Gas Cooler and Oil Cooler) ini telah mendapat sertifikat (No. 170745) ISO-9001 : 2000/SNI9 19-9001 : 2001, sebagai Pengakuan Implementasi dan Pemeliharaan Sistem Manajemen Mutu dengan ruang lingkup kegiatan Desain dan Manufaktur Heat Exchanger.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi DKI Jakarta telah menetapkan Angka Pengenal Importir – Umum (API-U) Nomor 090410178 kepada PT Intan Prima Kalorindo sebagai importir Auxiliary Part mesin-mesin pembangkit.
Selain itu, memiliki kelengkapan administrasi SIUP/TDUP 04863/1.824.51; TDP 09.04.1.51.23441; NPWP 02.1.0.745.0-004.000; dan Nomor Surat Domisili 337/1.824/XII/2005. Tergabung dalam asosiasi ARDIN No. Anggota : 02229/BPD ARDIN/BKI-04-V2006 dan GAPENSI Nomor : 09.72.20.1393.07.13827 dengan Grade (Golongan) S/M (Grade Lima/Menengah) dan memiliki SIUJK No. 2.867644.09.3172.2.00933 yang diterbitkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Berdasarkan hal ini menunjukkan PT Intan Prima Kalorindo konsisiten melakukan kegiatan usaha jasa pelaksana konstruksi (kontraktor) di seluruh wilayah Republik Indonesia.
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Direktorat Jendral Minyak dan Gas Bumi berdasarkan SKT No. 322/SKU/DU.1/DMT/2007 telah menetapkan PT Intan Prima kalorindo sebagai perusahaan jasa penunjang pada kegiatan usaha minyak dan gas bumi dengan bidang usaha Desain dan Pabrikasi (Heat Exchanger, Air Cooled, Gas Cooler and Oil Cooler). Salah satu BUMN terbesar di Indonesia, yaitu PT Pertamina (Persero) telah mengeluarkan SKT No. SKT-233/11140/2007-SO dan menetapkan PT Intan Prima Kalorindo sebagai pemasok pengadaan barang/jasa di perusahaan tersebut.
Heat Exchanger merupakan peralatan yang digunakan semua sektor industri pembangkit tenaga, meliputi ; Mesin Pembangkit Tenaga Listrik (PLTA, PLTGU, PLTU, PLPT, PLTD), industri pertambangan, sektor transportasi dan industri lainnya. Aplikasinya hampir pada setiap mesin yang mengkonversikan energi thermal menjadi energi mekanik (listrik).
Produksi PT Intan Prima Kalorindo meliputi ; Heavy Duty Radioator, Water Jacket, Inter Cooler, Oil Cooler, Condensor, Cooling Tower, Water Treatment, serta produk lain yang berkaitan dengan cooling system, sedangkan Auxiliary Part yang diimport menjadi motor, fan, blade, jacket, dan oil pump, dan sebagainya.
Paduan antara harga yang kompetitif dengan kualitas yang prima merupakan ciri khas Heat Exchanger buatan PT Intan Prima Kalorindo. Efektifitas pendinginan yang optimal dan umur yang maksimal, kami kembangkan desain dengan tube oval seamless dan bulat, sehingga diperoleh efektivitas pendinginan dan koefisien perpindahan panas menyeluruh yang optimal.
1. Kapasaitas Pendinginan
Kapasitas Pendinginan per unit (heat injection) berkisar antara 25.000 – 2.000.000 kcal/jam dengan suhu kerja antara 15-200oC dan tekanan antara 2-212 Bar. Untuk pendinginan mesin pembangkit tenaga denga kapasitas daya keluaran antara 100-120.000 kW.
2. Material dan Umur Ekonomis
Produksi PT Intan Prima Kalorindo menggunakan material utama copper untuk setiap sirip JIS H3100C1100, Alluminium Exposi Alloys 8011, brass tube ASTM B111 C443300, seamless carbon steel tube JIS A179, copper nickel ASTM B111C70600, brass plate ASTM B26 C26000 yang memiliki konduktivitas termal dan umur ekonomis maksimal, dan daya tahan terhadap korosi karena pengarus lingkungan air laut. Umur ekonomis berkisar antara 5-10 tahun

Dalam kinerja PT Intan Prima Kalorindo sampai dengan akhir Juli telah memproduksi 908 unit exchanger untuk memenuhi pesanan sebagai perusahaan antara lain PLN, Pertamina, PERUM JASA TIRTA II, OIL COMPANY, dan perusahaan swasta lainnya yang bergerak di sektor industri pembangkit tenaga, meliputi pembangkigt tenaga listrik (PLTG, PLTD, dan PLTA); industri pertambangan; transportasi; dan industri lainnya diberbagai wilayah Indonesia.


STRUKTUR ORGANISASI
PT INTAN PRIMA KALORINDO



















BAB IV
SKEMA PERHITUNGAN PERANCANGAN SHELL AND TUBE

4.1 Flow chart Shell and Tube Heat Exchanger













No

Yes







4.2 Perincian Perhitungan Perancangan
Data awal yang diberikan untuk perancangan shell and tube heat exchanger ini yaitu:
1. Temperatur fluida panas masuk dan keluar (Th), [°C]
2. Laju aliran massa (mg), [kg/h]
3. Temperatur keluaran air (Tw,o)
4. Temperatur fluida dingin keluar dan masuk (Tc), [°C]

Dengan data awal tersebut maka dapat dilakukan perhitungan perancangan shell and tube heat exchanger dengan langkah-langkah sebagai berikut :

4.2.1 Perhitungan laju perpindahan panas yang diterima oleh aliran fluida
Laju perpindahan energi panas yang diterima oleh aliran fluida dingin dapat ditentukan melalui persamaan berikut :
[J/s atau W] . . . [4.1]
Dengan :
Laju aliran massa air, mc [kg/s]
Temperatur aliran air masuk, Tci [⁰C atau K]
Temperatur aliran air keluar, Tco [⁰C atau K]

Data sifat- sifat air yang dievaluasi pada temperatur rata-rata air, dapat diperoleh beberapa besaran yang berpengaruh yakni :
Volume spesifik air [m3/kg]
Konstanta panas air pada tekanan konstan, cp [J/kg.K]
Viskositas dinamik air [N.s/m2]
Konduktivitas termal air [W/m.K]
Bilangan Prandtl, Pr
Dengan diketahui hal diatas maka dapat dilakukan suatu perhitungan untuk mencari nilai laju perpindahan panas yang diterima (Qc) dengan menggunakan persamaan [4.1].
4.2.2 Perhitungan temperatur aliran oli keluar Alat penukar kalor, (Tho)
Temperatur aliran oli keluar dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :
¬¬¬
[J/s atau W] . . . [4.2]

dimana :
Laju perpindahan panas, Q [Watt]
Laju aliran massa oli, mh [kg/s]
Temperatur aliran oli masuk, Thi [⁰C atau K]
Temperatur aliran oli keluar, Tho [⁰C atau K]

Dengan menganggap sistem bekerja secara adiabatik, maka dapat diketahui bahwa :

[ J/s atau W] . . . [4.3]

Sementara itu, dengan mengasumsikan selisih temperatur oli keluar dan masuk (∆Th), maka dapat diperoleh harga Cph [J/kg.K]. Nilai Tho dapat diperoleh seiring dengan diketahui nilai Cph, yakni dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :
[K] . . . [4.4]
4.2.3 Perhitungan beda temperatur rata-rata logaritmik bagi konfigurasi aliran parallel dan counter flow
Bagi konfigurasi aliran berlawanan (counter flow) dan paralel akan berbeda, beda temperatur rata-rata logaritmik (∆Tm) dapat diperoleh dengan persamaan [2.1] untuk aliran counter flow dan persamaan [2.2] untuk aliran paralel.

4.2.4 Faktor koreksi untuk konfigurasi shell and tube parralel flow dan counter flow.
Faktor koreksinya dapat ditentukan dengan menggunakan data yang sesuai dengan harga-harga parameter P dan R. dengan ini maka dapat diperoleh pula nilai Fc (Faktor koreksi) dari suatu grafik faktor koreksi dengan parameter P dan R tersebut.
Nilai P dan R dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan berikut :
. . . [4.5]

. . . [4.6]

Sehingga, dapat dihitung beda temperatur rata-rata logaritmik sebenarnya dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :
[K] . . . [4.7]




4.2.5 Pemilihan harga koefisien global perpindahan panas, U (untuk awal perhitungan).
Bagi keperluan perhitungan perancangan, harga koefisien global perpindahan panas,U, mula-mula dipilih sesuai dengan yang disarankan. Berdasarkan tabel koefisien perpindahan panas U untuk beragam konfigurasi aliran fluida, dapat diketahui bahwa harga U konfigurasi aliran air pendingin dengan aliran fluida panas oli di dalam sebuah alat penukar kalor shell and tube dapat dipilih diantara harga 60 – 300 W/m2.K .

4.2.6 Jumlah tubes yang diperlukan
Jumlah tubes (N) yang diperlukan bagi spesifikasi desain tersebut di atas dapat diperoleh dari persamaan [4.8] tentang luas permukaan perpindahan panas total, Atotal

[m2] . . . [4.8]


Sementara itu, luas permukaan perpindahan panas dapat diperoleh dari persamaan [4.9] tentang laju pertukaran energi panas di dalam alat penukar kalor dengan beracuan pada persamaan [4.3]

[m2] . . . [4.9]

Kemudian,
Dengan do (m), dan L (m) maka dapat diperoleh jumlah tubes yang diperlukan dengan menggunakan persamaan [4.8]





Evaluasi harga koefisien global perpindahan panas, U (W/m2.K).

4.2.7 Perhitungan koefisien perpindahan panas konveksi aliran air di dalam pipa, hi
Dalam perhitungan perancangan besarnya koefisien tersebut biasanya diperoleh melalui persamaan-persamaan empirik yang berbentuk bilangan Nusselt, Nu. Prandtl (Pr) dan Reynolds (Re).
Kemudian dengan diketahui diameter dalam dari pipa (di), maka dapat diperoleh luasnya (Ai). Dan dengan diketahuinya besar laju aliran massa air (mair), serta massa jenis air (ρ) maka dapat dilakukan perhitungan dengan menggunakan persamaan [4.10], sehingga dapat diperoleh besarnya kecepatan rata-rata aliran fluida di dalam pipa (V).

[m/s] . . . [4.10]

. . . [4.11]


Selanjutnya, bilangan Reynolds dapat dihitung dengan menggunakan persamaan [4.11] dan perolehan dari tabel properti air dan perhitungan sebelumnya sebagai berikut :

ρ = 1/volume spesifik air [m3/kg]
Kecepatan rata-rata aliran di dalam pipa, V [m/s]
Diameter dalam pipa, di [m]
Viskositas dinamik air, µ [N.s/m2]

Untuk bilangan prandtl (Pr), dapat diperoleh dari tabel properti air.

Dengan bilangan Reynolds (Re) dan Prandtl (Pr) yang telah diketahui maka dapat diperoleh besarnya bilangan Nusselt (Nu). Bilangan Nusselt dapat dihitung dengan menggunakan persamaan [4.13].

. . . [4.12]

. . . [4.13]

Dengan:
Konduktivitas termal air, kf [W/m.K]
Diameter dalam pipa, di [m]
Bilangan Nusselt, Nu

Akhirnya, koefisien perpindahan panas konveksi aliran di dalam pipa, hi dapat dihitung menggunakan persamaan [4.12].

Dengan:
Konduktivitas termal air, kf [W/m.K]
Diameter dalam pipa, di [m]
Bilangan Nusselt, Nu
koefisien perpindahan panas konveksi aliran dalam pipa, hi ,(W/m2.K)


4.2.8 Perhitungan koefisien perpindahan panas konveksi aliran oli di luar pipa, ho
Koefisien perpindahan panas fluida yang mengalir di bagian shell atau di permukaan luar pipa, ho dapat ditentukan besarnya melalui persamaan laju perpindahan panas konveksi antara aliran fluida panas oli dengan permukaan luar pipa:

[W] . . . [4.14]
Dimana,
ho = koefisien perpindahan panas konveksi aliran fluida di luar pipa (W/m2.K)
Ao = luas total permukaan perpindahan panas di luar pipa (m2)
Th = temperatur rata-rata aliran fluida di luar pipa (K)
TW,O = temperatur rata-rata permukaan luar pipa (K)

Dalam hal ini, besarnya Qo dapat dianggap sama dengan Q = Qh = Qc dalam satuan J/s atau W.

Luas total permukaan seluruh pipa, Ao

[m2] . . . [4.15]

Temperatur rata-rata aliran fluida dalam pipa, Th

[K] . . . [4.16]

Sementara itu, temperatur rata-rata permukaan dalam pipa (Twi) diperoleh dari persamaan laju perpindahan panas konveksi antara permukaan dalam pipa dengan aliran dalam fluida di dalam pipa:

[W] . . . [4.17]
Dimana,
hi = koefisien perpindahan dalam konveksi aliran di dalam pipa (W/m2K)
Ai = luas total permukaan perpindahan panas di dalam pipa (m2)
Tc = temperature rata rata aliran fluida di dalam pipa (K)


Untuk memperoleh harga koefisien perpindahan panas konveksi aliran di luar pipa (ho), maka harus diperoleh harga temperatur rata-rata permukaan dalam pipa (Twi) terlebih dahulu, yakni dengan langkah-langkah sebagai berikut :

• Memperoleh nilai luas total permukaan perpindahan panas di dalam pipa (Ai) dengan menggunakan persamaan [4.15]

• Temperature rata rata aliran fluida di luar pipa (Tc), dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan [4.19]

[K] . . . [4.19]

• koefisien perpindahan dalam konveksi aliran di dalam pipa (hi).

Selanjutnya harga Twi dapat diperoleh dengan mengunakan persamaan [4.17]

Dan kemudian dengan menggunakan parameter-parameter sebagai berikut :

k = koduktifitas termal bahan pipa, W/m.K
L = panjang pipa, m
N = jumlah tube
do = diameter permukaan luar pipa, m
di = diameter permukaan dalam pipa, m

Temperatur rata-rata permukaan luar pipa (Two) dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan [4.20]

[W] . . . [4.20]


Selanjutnya,
Untuk memperoleh harga koefisien perpindahan panas konveksi aliran di luar pipa (ho), maka harus dilakukan langkah-langkah berikut :

• Memperoleh nilai luas total permukaan perpindahan panas di luar pipa (Ao) dengan menggunakan persamaan [4.15]
• temperature rata-rata aliran fluida di luar pipa (Th), dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan [4.16]
• temperatur rata-rata permukaan luar pipa, Two

maka dapat diperoleh harga koefisien perpindahan konveksi aliran di luar pipa, ho, (W/m2K) dengan menggunakan persamaan [4.14].


4.2.9 Perhitungan koefisien global perpindahan panas di dalam alat penukar kalor, U

Koefisien global perpindahan panas bagi kedua aliran fluida di dalam alat penukar kalor, U dapat ditentukan menggunakan persamaan:


[m2.K/W] . . . [4.21]

Maka dapat diperoleh harga koefisien global, U, (W/m2K). Sedangkan di awal perhitungan, sewaktu akan menghitung luas permukaan perpindahan panas (dimensi alat), telah dipilih harga awal koefisien global perpindahan panas diantara 60-300 W/m2 .K berdasarkan table TEMA.




Perbedaan di antara kedua harga tersebut adalah:

. . . [4.22]

Jadi pemilihan harga koefisien global, U, pada awal perhitungan antara 60-300 W/m2.K dapat dikatakan masih dalam batas-batas yang wajar, apabila masih berada pada nilai dibawah 100 %.
Sehingga dapat diketahui bahwa dimensi alat hasil perhitungan desain tersebut dengan jumlah tube (N) sudah cukup baik.


4.2.10 Metode efektiveness perpindahan panas, ε dan NTU ( Number of Transfer Unit)
Effectiveness perpindahan energi panas, ε di dalam sebuah alat penukar kalor adalah perbandingan antara laju pertukaran energi panas yang sebenarnya terjadi, Qactual terhadap laju pertukaran energi panas maximum, Qmax yang dapat terjadi pada alat tersebut:
. . . [4.23]

laju pertukaran panas maksimal yang mungkin terjadi, secara prinsip dapat dicapai pada sebuah alat penukar kalor jenis aliran paralel dan counter flow dan besarnya dapat ditentukan dengan menggunaan persamaan berikut:

. . . [4.24]

Dalam persamaan tersebut Cmin adalah laju kapasitas panas yang minimum di antara Cc dan Ch , dimana:



• Laju kapasitas panas aliran fluida pendingin, Cc

. . . [4.25]

• laju kapasitas panas aliran fluida panas, Ch

. . . [4.26]

Kemudian, harga effectiveness, ε bagi berbagai alat penukar kalor merupakan fungsi dari bilangan NTU, Cmax dan Cmin. NTU adalah sebuah parameter yang diberikan oleh persamaan :

. . . [4.27]

Dimana,
NTU = bilangan NTU
Cmin = Kapasitas kalor minimum
U = koefisien slobal perpindahan panas, [W/m2.K]
ε = effectiveness


Besarnya nilai effectiveness (ε) dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan [2.6] untuk airan counter flow dan persamaan [2.7] untuk aliran paralel.

Hubungan antara effectiveness ε dan NTU untuk berbagai jenis alat penukar kalor telah tersedia di dalam literatur, biasanya berupa grafik atau tabel persamaan empirik.


Gambar 4.1 Hubungan antara effectiveness dengan NTU.


4.2.11 Prediksi performance APK saat mulai di operasikan menggunakan Metode Efektiveness perpindahan panas, ε dan NTU

Apabila sebuah alat penukar kalor yang telah dirancang, kemudian dipasang pada suatu instalasi proses industri dan dioperasikan pada kondisi di mana temperatur dan laju aliran fluida panasnya ditetapkan sama dengan harga temperatur dan aliran fluida panas yang ada pada perancangannya, selain itu juga temperatur dan laju aliran fluida pendinginnya ditetapkan sama dengan harga temperatur dan laju aliran fluida pendingin yang ada pada perancangannya, maka fokus perhatian prediksi performance alat penukar kalor adalah pada temperatur aliran fluida panas dan temperatur aliran fluida pendingin saat keluar alat penukar kalor dan fungsi dari waktu pengoperasiannya.

Kedua harga parameter tersebut dapat dievaluasi dari harga laju pertukaran energi panas yang sebenarnya terjadi, Qactual pada kondisi awal pengoperasian dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan [4.23]. Yang dimana sebelumnya harus diperoleh terlebih dahulu harga dari Laju perpindahan kalor maksimum (Qmax). Harga Qmax dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan [4.24]

Kemudian, apabila harga efektifitas perpindahan panas, ε pada awal pengoperasiannya sudah diketahui maka harga Qact dapat ditentukan.
Setelah itu, harga temperatur aliran fluida panas keluar, (Tho) dapat ditentukan melalui persamaan [4.4].
sedangkan temperatur aliran fluida pendingin keluar, (Tco) saat awal pengoperasiannya dapat ditentukan melalui persamaan berikut :

[K] . . . [4.28]


Dimana,
Tco = Temperatur fluida pendingin keluar, (K)
Tci = Temperatur fluida pendingin masuk, (K)
Qactual = Laju perpindahan kalor sebenarnya (riil), (W)
Cc = Kapasitas kalor pendingin


Harga efektiveness perpindahan panas, ε shell and tube aliran paralel dapat dievaluasi dengan menggunakan persamaan [2.6] untuk counter flow atau persamaan [2.7] untuk parallel flow.

Dimana,

. . . [4.29]

Harga NTU di atas dievaluasi berdasarkan harga koefisien U yang berubah dengan waktu pengoperasiannya. Selama pengoperasian sebuah alat penukar kalor, harga koefisien global perpindahan panasnya dapat dievaluasi dengan menggunakan persamaan :
[m2.K/W] . . . [4.30]
Dimana,
U = koefisien perpindahan panas global, [W/m2.K]

Dengan :
[m2.K/W] . . . [4.31]

Pada awal pengoperasian, kondisi permukaan perpindahan panas di dalam alat penukar kalor masih dalam keadaan bersih sehingga :


Kemudian, dengan berjalannya waktu pengoperasian pengotoran permukaan akan terjadi dan tebal lapisan fouling akan bertambah secara bertahap.

Pressure Drop (∆P)
Perhitungan pressure drop sangat penting dalam perancangan shell and tube heat exchanger. Yang dimana apabila nilai pressure drop terlalu besar maka dapat dikatakan bahwa performance dari heat exchanger pun akan buruk karena adanya kebocoran pada sistem. Pada umumnya untuk shell and tube heat exchanger nilai dari pressure drop tidak boleh melebihi 1,5 bar.


Nilai dari Pressure drop dapat diperoleh dengan persamaan berikut :

[Pa] . . . [4.32]

Dimana,
ρ = massa jenis fluida (kg/m3)
f = faktor gesekan
L = Panjang pipa, (m)
D = Diameter Pipa, (m)
V = keceparan aliran fluida, (m/s)

4.2.13 Perhitungan prediksi performance alat penukar kalor saat mulai dioperasikan
Alat penukar kalor yang menjadi objek studi, prediksi performanya akan dioperasikan pada kondisi dimana temperatur dan laju aliran fluida panasnya ditetapkan sama dengan harga temperatur dan laju aliran fluida panas yang ada pada perancangannya, yaitu :
Thi = Temperatur rata-rata aliran fluida panas, (⁰C atau K)
mh¬ = Laju aliran massa fluida panas, (kg/s)
Temperatur dan laju aliran fluida pendinginnya juga akan dioperasikan sebesar harga temperatur dan laju aliran fluida pendingin yang ada pada perancangannya, yaitu :
Tcl = Temperatur rata-rata aliran fluida pendingin, (⁰C atau K)
mc = Laju aliran massa fluida pendingin, (kg/s)
Fokus perhitungan prediksi performance APK adalah pada harga temperatur aliran fluida panas dan temperatur aliran fluida pendingin saat keluar APK fungsi dari waktu pengoperasiaanya, yang berarti fungsi dari kenaikan harga tahanan thermal fouling.
Harga tahan thermal fouling total bagi kedua fluida kerja dapat diperoleh dengan penjumlahan dari Rfi dan Rfo. Yang dimana nilai-nilai tersebut dapat diperoleh dari tabel TEMA.
Pada saat mulai dioperasikan :
a. Dimensi utama alat penukar kalor adalah equivalent dengan luas permukaan, A (m2).
b. Kondisi permukaan perpindahan panasnya dalam keadaan bersih, sehingga U = Uclean dengan satuan W/m2.K


Pada saat start : t=0, ΣRf = 0. ( parallel flow dan counter flow)

1. Koefisien perpindahan panas global pada saat start t=0, ΣRf = 0, dapat dihitung dengan menggunakan persamaan [4.30]

2. Perhitungan kapasitas panas kedua aliran fluida
Untuk Harga Cc dapat dihitung dengan persamaan [4.25] dan untuk harga Ch dapat dihitung dengan menggunakan persamaan [4.26]
Untuk nilai rasio kapasitas kalor dapat dihitung dengan menggunakan persamaan [4.29] dengan nilai Cmin adalah Nilai kapasitas panas yang terkecil antara Ch dan Cc
3. Perhitungan laju perpindahan panas maksimum dapat diperoleh harganya dengan menggunakan persamaan [4.24]

4. Perhitungan NTU pada shell and tube aliran paralel dengan persamaan [2.5] dan counter flow dengan persamaan [2.3] dan [2.4].

5. Perhitungan effectiveness perpindahan panas pada shell and tube aliran paralel dengan persamaan [2.7] dan counter flow dengan persamaan [2.6].

6. Perhitungan laju perpindahan panas actual dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan [4.23]

7. Perhitungan temperatur keluar alat penukar kalor kedua aliran fluida dapat diperoleh dengan persamaan [4.28] untuk temperatur fluida pendingin keluar, sedangkan untuk temperatur fluida panas keluar dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan [4.4]




BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam perancangan shell and tube heat exchanger ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Data awal perancangan yang diperlukan adalah:
a. Temperature hot fluid inlet & outlet (Th).
b. Mass flow capacity (mg).
c. Water temperature outlet (Tw,o).
d. Temperature cool fluid inlet & outlet (Tc).
2. Dengan data awal maka hasil perhitungan perancangan yang didapat adalah:
a. Laju perpindahan panas (Q).
b. Beda temperatur rata-rata logaritmik (∆TLMTD).
c. NTU.
d. Overall heat transfer coefficient (U).
e. Pressure Drop (∆P).
f. Effectiveness (ε).
3. Pada perancangan shell and tube heat exchanger yang membedakan antara counter flow dengan paralel flow yaitu terdapat pada rumus perhitungan sebagai berikut:
a. NTU.
b. Effectiveness (ε).
c. Beda temperatur rata-rata logaritmik (∆TLMTD).

DAFTAR PUSTAKA

1. Shah. K. Ramesh, 2003, “Fundamental of Heat Exchanger Design”, New york : John Wiley & Sons, Inc.
2. Edward. E. John, 2008, “Design and Rating Shell and Tube Heat Exchanger”, UK : Tesside.
3. Team dosen, 2011, “Modul Teknik Pendingin Shell and Tube Heat Exchanger”, Jakarta : Universitas Pancasila
4. http://yefrichan.wordpress.com/2010/10/29/heat-exchanger-tipe-shell-and-tube/, 25 Januari 2011, 15:35.
5. www.engineeringtoolbox.com, 25 Januari 2011, 15:41.
6. Pdf File, “Heat exchanger”, Medan: Universitas sumatra utara.




















LAMPIRAN










Lampiran 1.
Tabel 1. Properti material


Tabel 2. Koefisien perpindahan panas global (U) pada Shell and Tube

Lampiran 2.
Tabel 3. Properti oli
Temp Density Specific Thermal Thermal Dynamic Kinematic Prandtl Volume
Heat Conductivity Diffusity Viscosity Viscosity Number Expand Coef
T [ºC] Ρ [kg/m³] Cp [J/kg ºC] k [W/mºC] α [m²/s] μ [kg/ms] v [m²/s] Pr ß [1/K]

0 899.0 1797 0.1469 9.10E-08 3.81400 4.242E-03 46636.00 0.0007
15.98 890.3 1864 0.1454 8.76382E-08 1.43570 0.001606019 18053.37 0.0007
20 888.1 1881 0.1450 8.68E-08 0.83740 9.429E-04 10863.00 0.0007
30 882.1 1923 0.1447 8.5355E-08 0.52755 0.0005957 6912.50 0.0007
40 876.0 1964 0.1444 8.39E-08 0.21770 2.485E-04 2962.00 0.0007
47.5 871.5 1996 0.1429 8.21963E-08 0.16381 0.000187431 2256.25 0.0007
56.25 867.5 2023 0.1417 8.08111E-08 0.12622 0.00014479 1760.72 0.0007
60 863.9 2048 0.1404 7.93E-08 0.07399 8.565E-05 1080.00 0.0007
65 860.9 2069 0.1398 7.85025E-08 0.06357 7.37225E-05 934.83 0.0007
80 852.0 2132 0.1380 7.60E-08 0.03232 3.794E-05 499.30 0.0007
82 850.8 2141 0.1379 7.5721E-08 0.03081 0.000036192 477.28 0.0007
100 840.0 2220 0.1367 7.33E-08 0.01718 2.046E-05 279.10 0.0007
110 834.5 2264 0.1357 7.186E-08 0.01374 0.000016435 227.70 0.0007
120 828.9 2308 0.1347 7.04E-08 0.01029 1.241E-05 176.30 0.0007
140 819.2 2378 0.1333 6.8468E-08 0.00730 8.9052E-06 129.74 0.0007
145 816.8 2395 0.1330 6.80E-08 0.00656 8.029E-06 118.10 0.0007
150 810.3 2441 0.1327 6.708E-08 0.00534 0.000006595 98.31 0.0007
150 810.3 2441 0.1327 6.71E-08 0.00534 6.595E-06 98.31 0.0007

Lampiran 3.
Tabel 4. Properti air


Lampiran 4.


Gambar 20. Grafik Faktor koreksi pada Shell and Tube.






Lampiran 5.

Tabel 5. Tabel TEMA (Fouling Resistance)

Drag and drop to rearrange the books in this collection

scribd