Keadaan Pasar Indonesia (HPU)

KEADAAN PASAR INDONESIA PASCA MUNCULNYA UU NO 5 TAHUN 1999

Disusun oleh : Tarita Kooswanto E0009326

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012

1. perjanjian tertutup dan perjanjian dengan pihak luar negeri yang menimbulkan monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Hukum Antitrust atau Undang-Undang Antitrust( Antitrust Law) . Akhirya dengan persetujuan dari Presiden. monopsoni. pembagian wilayah.BAB I PENDAHULUAN 1. terutama di Indonesia membuat ketentuan Pasal 1365 KUHPerdata & 362bis KUHP tidak mampu dalam mengcover perkembangan praktek persaingan & anti monopoli.1 Latar Belakang Perkembangan bisnis yang melaju cepat di dunia. pemboikotan. 2000:111) DPR akhirnya memiliki inisiatif untuk membuat suatu undang-undang yang dapat mencegah monopoli itu terjadi. Substansi Undang-Undang ini cukup memadai dan mencangkup pengaturan tentang larangan membuat perjanjian oligopoli. penguasaan pasar dan persekongkolan. Bentuk pelanggaran yang tidak diperbolehkan adalah monopoli. penetapan harga. .” (Salim E. Dan utnuk mengawasi pelaksaan UU ini dibentuk Komisi Pengawas Persaingan Usaha sebagai “lembaga independen yang terlepas dari pengaruh dan kekuasaan pemerintah serta pihak lain dan bertanggung jawabkepada Presiden. oligopsoni. dikhawatirkan akan muncul monopoli-monopoli pasar yang nantinya justru akan merugikan masyarakat sebagai konsumen itu sendiri. trust. dari istilah ini bias dikemukakan bahwa ‘undang-undang antimonopoli’ berisi ketentuan-ketentuan untuk menentang atau meniadakan monopoli. perlu dibentuk UU Antimonopoli.yang mulai efektif berlaku sejak 5 Maret 2000 Menurut Siswanto (2002: 24-25) ada beberapa istilah dalam menunjuk instrumen hukum yang mengatur persaingan dan monopoli. Tanpa dibuatnya undang-undang baru yang dapat menjadi payung untuk menjamin persaingan usaha yang sehat. lahirnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha tidak Sehat. Akhirnya untuk menyehatkan iklim persaingan dunia usaha ini. 2. kartel. Hukum antimonopoly atau Undang-undang Antimonopoli (Antimonopoli Law). integrasi vertikal.

Apakah tujuan diadakannya UU No 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha tidak Sehat ? 3. Bagaimana kondisi pasar di Indonesia sebelum adanya UU No 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha tidak Sehat ? 2. Hukum Praktek-Praktek Perdagangan Curang (Unfair Trade Practices Law).3. Setelah berlakunya UU No 5 Tahun 1999 tentang :Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha tidak Sehat bagaimana kondisi pasar di Indonesia ? . menegaskan bahwa yang ingin dijamin adalah terciptanyapersaingan yang sehat. Bagaimana peranan Prinsip Good Corporate Governance oleh pelaku usaha dalam menciptakan persaingan usaha yang sehat? 5.Namun Hukum Persaingan juga berkaitan dengan pemberantasan monopoli. sama dengan ‘hukum persaingan’’. Hukum Persaingan ‘Sehat’ (Fair Competition Law). karena yang juga menjadi perhatian dari hukum persaingan adalah mengatur persaingan sedemikian rupa sehingga isa tidak menjadi sarana untuk mendapatkan monopoli.Hukum Persaingan merupakan instrumen hukum yang menentukan tentang bagaimana persaingan itu harus dilakukan. Hukum Persaingan (Competition Law).2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana dampak munculnya UU No 5 Tahun 1999 bagi Pelaku Usaha? 4. hukum persaingan adalah hukum yang menekankan pada aspek persaingan. 4. istilah inisecara khusus memberi penekanan pada persaingan di bidang perdagangan 5. 1. sesuai dengan namanya. Bagaimanakah peran KPPU agar pelaku usaha bersaing secara sehat? 6.

Pemusatan kekuatan ekonomi pada kelompok tertentu ini disebabkan karena kelompok pengusaha tertentu ini dekat dengan penguasa yakni pemerintah. Sehingga tercipta kesempatan yang sama bagi setiap warga negara untuk berpartisipasi di dalam proses produksi. tetapi yang terjadi sebaliknya. tidak efesien dan tidak kompetitif. Kedudukan monopoli yang ada lahir karena adanya fasilitas yang diberikan oleh pemerintah serta ditempuh melalui praktek bisnis yang tidak sehat (unfair business practices) seperti persekongkolan untuk menetapkan harga (price fixing) melalui kartel. pemasaran barang dan jasa. Adanya pemusatan kekuatan ekonomi pada perorangan atau kelompok tertentu. menciptakan barrier to entry.1 Kondisi Pasar di Indonesia Sebelum adanya UU No 5 Tahun 1999 Sebelum adanya UU No 5 Tahun 1999. pemerintah mendorong iklim usaha yang sehat. . baik berbentuk monopoli maupun bentuk-bentuk praktek persaingan tidak sehat lainnya. dan terbentuknya integrasi baik horisontal dan vertikal. dan para pengusaha menjadi tidak mampu berkompetisi dan tidak memiliki jiwa wirausaha untuk membantu mengangkat perekonomian Indonesia Menurut Yani Dan Wijaya (1999: 7). menetapkan mekanisme yang yang menghalangi terbentuknya kompetisi. Hal ini menyebabkan ketahanan ekonomi Indonesia menjadi rapuh.BAB II ISI 2. Seharusnya dalam pembuatan kebijakan. Pemerintah malah mendorong terjadinya iklim usaha yang tidak sehat. Melalui pembuatan kebijakan yang hanya menguntungkan orang dan kelompok tertentu saja. yang mengakibatkan timbulnya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. dan kompetitif. terjadi persaingan usaha yang tidak sehat di Indonesia. Perusahaan-perusahaan swasta yang dekat dengan pemerintah mendapatkan kemudahan dengan alasan melindungi stabilititas harga.efesien.

Pertama.Perusahaan-perusahaan besar itu sendiri hanya mungkin menjadi besar apabila perusahaan itu mendapat perlakuan khusus dari pemerintah. perkembangan usaha swasta dalam kenyataanna sebagian besar merupakan perwujudan dari kondisi persaingan usaha yang tidak sehat atau unfair competition. ( Hermansyah. Dr.Pemerintah justru cenderung anti persaingan karena hanya menguntungkan beberapa atau sekelompok pelaku usaha tertentu saja. Ketiga. Antara lain karena. Sutan Remy Sjahdeini. antara lain belum adanya political will dan perhatian yang memadai dari pemerintah mengenai persaingan usaha. 2008: 52) Perhatian yang belum memadai yang didukung oleh belum adanya political will dari pemerintah terhadap penciptaan iklim persaingan usaha yang sehat itu tentu memiliki alasan. 2008: 53) . S. pemberian fasilitas monopoli perlu ditempuh karena perusahaan itu telah bersedia menjadi pioneer di sektor yang bersangkutan. 2008: 52) Keadaan ini belum membuat seluruh masyarakat mampu dan dapat berpartisipasi dalam pembangunan di berbagai sektor ekonomi. Kedua. sulit bagi pemerintah untukdapat memperoleh kesediaan investor menanamkan modalnya di sektor tersebut. kolusi. Sedangkan perkembangan usaha swasta diwarnai oleh kebijakan pemerintah yang kurang tepat sehingga pasar menjadi distori.H ada beberapa alasan mengapa undang-undang anti monopoli sulit disetujui oleh pemerintah orde baru.Tanpa fasilitas monopolidan proteksi. ( Hermansyah. untuk menajaga berlangsungnya praktik korupsi. karena hanya kelompok pelaku usaha yang dekat dengan pemerintahlah yang dapat menjalankan kegiatan usahanya.Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. selain alasan utama yakni belum ada undang-undang khusus yang mengatur persaingan usaha tersebut. pemerintah menganut konsep bahwa perusahaan-perusahaan besar perlu ditumbuhkan untuk menjadi lokomotif pembangunan. Di sisi lain. dan nepotisme demi kepentingan penguasa dan pelaku usaha yang dekat dengan pemerintah.Pada masa Orde baru saat itu belum tercipta iklim persaingan usaha di Indonesia. yang dengan kata lain pemerintah memberikan posisi monopoli. ( Hermansyah. Menurut Prof.

ada 2 tujuan pokok yakni tujuan ekonomi dan tujuan sosial. dan pelayanan yang baik terhadap produk yang dihasilkannya.Mencegah praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan oleh pelaku usaha. dan d.3 Dampak Munculnya UU No 5 Tahun 1999 bagi Pelaku Usaha Dengan adannya UU No 5 Tahun 1999. b. baik dari segi kualitas. 2.2. Sedangkan tujuan sosialnya adalah melalui persaingan usaha yang sehat itu terciptalah kesejahteraan masyarakat. harga. sebagai suatu bentuk inovasi.Tujuan ekonominya adalah terselenggaranya persaingan usaha yang sehat.2 untuk : Tujuan Diadakannya UU No 5 Tahun 1999 Tujuan UU No 5 Tahun 1999 yang ditetapkan dalam Pasal 3 antara lain a. Karena masing-masing pelaku usaha tidak tahu apa yang dilakukan pesaingnya gar tetap bertahan dalam pasar perdagangan. c. Kedua pelaku usaha harus sungguh-sungguh bersaing dengan saingannya supaya dapat tetap bertahan di pasar perdagangan. yakni masyarakat akan memiliki pilihan dalam memilih barang dan atau jasa yang akan dikonsumsinya dengan harga yang sesuai dengan kemampuannya. kondusif dan efektif.Mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan usaha yang sehat sehingga menjamin adanya kepastian kesempatan berusaha yang sama bagi pelaku usaha besar. pelaku usaha menengah.Terciptanya efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha Dari 4 tujuan diatas. yang bertujuan untuk efisiensi ekonomi. dan pelaku usaha kecil. Pertama pelaku usaha tidak diperbolehkan menjalankan usaha dengan cara tidak fair atau menjalankan usaha yang merugikan pesaingnya baik secara langsung maupun tidak langsung.Menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi ekonomi nasional sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. maka ia harus melakukan peningkatan mutu yang lebih baik. maupun pelayanannya. harga yang lebih murah. .

(Salim E. Dari adanya UU No 5 Tahun 1999. pelaku usaha yang tidak memiliki potensi dalam berusaha pun akan dapat dilihat. produsen mana yang benar-benar memiliki kemampuan yang baik dalam menciptakan produk-produk yang pastinya memiliki kwalitas yang baik dan dapat memberikan pelayanan yang baik pula. maka komitmen dari para pelaku usaha juga memegang peranan . Dan bagi pelaku usaha yang hanya mengandalkan kedekatannya dengan pemerintah tentu cepat atau lambat mereka akan tersingkir dari kompetisi dalam pasar. Namun UU No 5 Tahun 1999 ini tidak berlaku bagi “pelaku usaha kecil dan kegiatan usaha koperasi yang secara khusus bertujuan melayani anggotanya”. “monopoli dan atau pemusatan kegiatan yang berkaitan dengan produksi atau pemasaran barang dan atau jasa yang menguasai hajat hidup orang banyak. asal berjuang dengan kemampuannya sendiri dan tidak melakukan praktik persaingan usaha yang tidak sehat. Jadi UU No 5 Tahun 1999 ini bukan untuk mematikan perusahaan-perusahaan besar. Apakah ia benar-benar memiliki kemampuan dalam menciptakan produk bagi konsumen ataukah hanya mengandalkan kedekatannya dengan pemerintah. pelaku usaha tetap dapat menjalankan usahanya walaupun tidak diperbolehkan melanggar undangundang tersebut. .Selain komitmen dan tekad KPPU.4 Peranan Prinsip Good Corporate Governance oleh Pelaku Usaha dalam Menciptakan Persaingan Usaha yang Sehat Untuk menciptakan iklim usaha yang sehat. penegak hukum.kondusif.Dengan adanya UU No 5 Tahun 1999. Yang diuntungkan dari kondisi ini adalah masyarakat selaku konsumen yang akan lebih mudah memilih. diatur dengan UU dan diselenggarakan oleh BUMN ataybadan yang dibentuk atau ditunjuk Pemerintah”. dan masyarakat. tapi justru mendorong perusahaa besar.Sedangkan. pemerintah sebagai regulator / pengawas. 2000: 111-112) 2. dan kompetitif sangat bergantung pada komitmen berbagai pihak.

pedoman menghadapi pelanggan. yang selalu dijadikan sebagai pedoman ataupun acuan bagi para pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan usahanya. Adanya peraturan yang bersifat internal mengenai persaingan usaha yang sehat itu menjadi benteng awal yang dapat menghindari sebuah perusahaan dari . (Hermansyah. Oleh karena itu. keterbukaan akuntabilitas (accountability) dan responsibilitas (transparency). Perusahaan yang menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance dengan baik dan konsisten akan mampu memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi terhadap semua kegiata usaha yang dijalankannya dalam menghadapi persaingan usaha. distributor.Salah satu bentuk praktik usaha anti persaingan itu adalah praktik persekongkolan untuk menentukan pemenang dalam sebuah tender. bahwa suatu keadaan dimana para pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan usaha selalu berupaya menjunjung tinggi dan mengutamakan prinsip saling menguntungkan. ( Hermansyah. dan pihak-pihak lainnya yang mempunyai hubungan dengan perusahaan. (responsibility) di dalam perusahaan. Maksudnya. Lebih dari itu. maka pelaku usaha akan memposisikan para pesaingnya sebagai mitra usaha yang setara.yang sangat penting. bukan prinsip win and lose. panduan nilai-nilai yang mengatur cara mengelola perusahaan dalam mencapai tujuan bisnis. 2008: 60-61) Penerapan prinsip Good Corporate Governance pada umumnya diterjemahkan dalam bentuk pengaturan internal (self regulation) yang memuat filsafat bisnis perusahaan. dapat dikatakan bahwa dengan menerapkan prinsip Good Corporate Governance. pejabat pemerintah. karena merekalah yang menjalankan kegiatan usaha tersebut. termasuk di dalamnya aturan yang mengatur perilaku persaingan sehat dengan pelaku usaha pesaingnya. sehingga dapat tercaailah win-win solution. 2008: 60) Praktik-praktik usaha persaingan cenderung bertolak belakang dengan prinsip Good Corporate Governance masih marak dan berkembang di Indonesia. yaitu salah satu perusahaan diuntungkan dan yang lain dirugikan. komitmen dan tekad pelaku usaha dalam upaya menciptakan iklim persaingan usaha yang sehat itu dapat diwujudkan melalui penerapan prinsip Good Corporate Governance atau prinsip pengelolaan perusahaan yang baik dengan menerapkan prinsip kewajaran (fairness).

Walaupun UU No 5 Tahun 1999 telah ada. KPPU dalam menjalankan pemeriksaan pendahuluan dan lanjutan menerapkan sistem one way traffic.perilaku-perilaku anti persaingan yang tidak sejalan dengan semangat Good Corporate Governance. KPPU mengajukan pertanyaan yang akan dijawab oleh pelaku usaha. Secara eksternal. 2008: 61) Menurut M Doddy Kusadrianto dalam tulisannya yang berjudul “Menciptakan Persaingan Usaha yang Sehat Melalui Penerapan Prinsip Good Corporate Governance” yang dimaksud dengan pesoman internal merupaka media penyampaian kepada seluruh karyawan mengenai konsep tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance ) yang dimiliki oleh sebuah perusahaan dalam mencapai tujuan bisnisnya. maupun keputusan-keputusan perusahaan yang harus mengikuti ketentuan-ketentuan sebagaimana tercantum dalam code of conduct. Oleh karena. Persaingan usaha yang sehat adalah faktor penting dalam menunjang pelaksanaan pembangunan ekonomi nasional.5 Peran KPPU Agar Pelaku Usaha Bersaing Secara Sehat Menurut Silalahi (2007: 263-264). pada . pedoman internal tersebut dapat berdampak positif kepada tindakan. tetapi pencantuman aturan internal perusahaan mengenai persaingan usaha yang sehat dalam code of conduct akan dapat menjadi alasan yang kuat bagi perilaku usaha yang dilakukan oleh pelaku usaha dalam rangka turut menciptakan iklim persaingan usaha yang sehat dan kondusif. Artinya. Namun kebijakan persaingan usaha juga harus didukung oleh political will pemerintah. tetapi merupakan tugas dan tanggung jawab dari semua pihak. Lebih dari itu. komitmen dan konsistensi dalam menciptakan persaingan usaha yang sehat bukan semata-mata tugas dan tanggung jawab KPPU. (Hermansyah. penegak hukum dan itikad baik baik dari para pelaku usaha. 2008: 61-62) 2. kebijakan. serta dukungan masyarakat. (Hermansyah. Pelaku usaha memberikan informasi dan dokumen yang diminta KPPU. terciptanya persaingan usaha yang sehat di Indonesia kan membangun dan mendorong kemampuan bersaing pelakupelaku usaha dalam negeri denganpelaku-pelaku usaha asing dalam kerangka perdagangan bebas.

tetapi sejauh mana penasihat hukum dapat membela kliennya pada saat pemeriksaan dilakukan. Ini adalah sistem demokrasi yang ditetapkan oleh Undang-Undang Antimonopoli. Dalam proses ini tidak memberikan kesempatan bagi pelaku usaha dan pihak terkait untuk dapat membela dirinya. KPPU menganalisis informasi dan dokumen serta bukti-bukti yang diperoleh. yaitu apakah menguatkan keputusan Pengadilan Negeri tersebut atau membatalkannya. Pada proses pemeriksaa seperti diatas. KPPU harus menetapkan suatu keputusan.pada pemeriksaan pendahuluan dan lanjutan. KPPU mengumumkan hasil keputusannya secara terbuka supaya para pihak yang terkait dan masyarakat mengetahui hasil keputusannya kepada pelaku usaha dan pihak terkait yang terkait dengan kasus yang dibuatnya. Mahkamah Agung akan melakukan uji materiil dari hasil keputusan Pengadilan Negeri. KPPU berwenang besar dan luas – keputusan.setelah mendapatkan cukup informasi dan dokumen serta bukti-bukti yang diperlukan.Sesuai undang-undang. Pada tingkat kasasi. Dalam Pasal 20 SK KPPU No. kalau tidak. 2007: 264) . (Silalahi. KPPU dapat menyerahkan penyidikannya kepada penyidik untuk melakukannya sesuai dengan sebagai ketentuan penyidik yang dan berlaku.tahap ini diharapkan pelaku usaha kooperatif dengan KPPU. sebagai Ketentuan pengambil itu diatur dalam UU Antimonopoli. tidak diatur secara jelas. yaitu menetapkan apakah suatu pelaku usaha tertentu terbukti melakukan pelanggaran terhadap ketentuan Undang-Undang Antimonopoli atau tidak melakukan pelanggaran.Dalam praktik implementasinya semestinya pelaku usaha harus diberi hak untuk membela diri karena yang sudah berjalan selama ini. pelaku usaha dan pihak-pihak terkait. yaitupada saat mengajukan keberatan terhadap apa yang dituduhkan oleh KPPU. mempunyai kesempatan untuk membela diri di Pengadilan Negeri. 05/ KPPU/ Kep/ IX/ 2000 ditetapkan bahwa para pihak dan atau pihak lain yang diperiksa dan atau diminta keterangannya berhak untuk didampingi oleh penasihat hukum. Di dunia ini tidak ada satu negara pun yang mempunyai Undang-Undang Antimonopoli yang melakukan pemeriksaan awal sampai pada tahap pengambilan keputusan tanpa memberikan kesempatan kepada pihak yang diduga melakukan praktik monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat untuk membela dirinya.

Praktek Monopoli dalam kegiatan bisnis dilarang.2. Implikasi pemberlakuan Undang-undang ini adalah dalam rangka mengantisipasi pasar bebas pada era globalisasi ekonomi guna mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat sebagaimana diamanatkan UUD 1945. beberapa diantaranya lanjuti.6 Kondisi Pasar di Indonesia pasca adanya UU No 5 Tahun 1999 Sesudah adanya Undang-undang No.Dan setelah diklarifikasi.Dari situ dapat disimpulkan bahwa tergolong aktif dalam melaksanakan tugas dan KPPU wewenangnya. Undang-undang No. 5 Tahun 1999 telah memenuhi prinsip Undang-undang Anti Monopoli dalam mengatur Struktur Pasar dan perilaku bisnis. Ketentuan Undang-udang No. Dan jika terbukti merugikan pelaku usaha lain. masyarakat maupun negara. KPPU telah menerima banyak laporan pelanggaran tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usahatidak sehat. dan diputuskan. 5 Tahun 1999. 5 Tahun 1999 menegaskan para pelaku usaha dapat diancam dengan sanksi administratif dan sanksi pidana. telah dapat ditindak dikatakan BAB III . konsumen. karena memuat gabungan dua pengaturan yang di masukkan dalam satu kitab per undang-undangan baik itu mengenai Undang-undang Anti Monopoli maupun peraturan perundangan yang menyangkut persaingan usaha atau Competition Act. Sehingga monopoli maupun persaingan usaha dapat berjalan seiring dalam percaturan bisnis di Indonesia Setelah diterapkannya UU Antimonopoli.

Kebijakan. Oleh karena itu.1 Kesimpulan Persaingan usaha merupakan cara untuk mencapai alokasi sumber daya dengan tepat. hakim dan pengacara. 3.kebijakan yang mungkin mendistorsi pasar adalah kebijakan hambatan perdagangan. kepolisian.2 Saran Kedepannya pemerintah harus mendorong agar mekanisme pasar bisa berjalan dengan menghilangkan intervensi yang mendistorsi pasar. Penegakan Undang-undang No 5 Tahun 1999 tidak hanya menjadi tugas KPPU tapi juga menjadi tugas aparat penegak hukum yang lain yaitu kejaksaan.PENUTUP 3. atau membuka seluas-luasnya kepada pelaku usaha dalam memasuki pasar. kebijakan investasi yang membatasi penanaman modal.kebijakan lain yang bersifat diskriminatif. menjamin konsumen agar mendapatkan barang dan/atau jasa dengan harga dan kualitas yang baik serta merangsang peningkatan efisiensi perusahaan. Daftar Pustaka . Kesiapan dari aparat penegak hukum ini sangat penting untuk menjamin penegakan hukum persaingan usaha ini. deregulasi dan liberalisasi ekonomi perlu secepatnya dilakukan yang tidak hanya melingkupi deregulasi dan liberalisasi dengan perekonomian luar negeri tapi juga deregulasi dan liberalisasi perdagangan di dan antar daerah karena secara langsung berkaitan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat daerah. dan kebijakan. tata niaga perdagangan.

Jakarta: PT Elex Media Komputindo. R.. Jakarta: Kencana Premada Media Group. G. . (1999). Jakarta: Jurnal Hukum Bisnis. Sjahdeni. Hermansyah. M. A. (2000). Siswanto. Perusahaan Saling Mematikan dan Bersekongkol. Pokok Pokok Hukum Persaingan Usaha. Silalahi. (2002). & Wijaya. (2007). Anti Monopoli. (2008). S. A. Hukum Persaingan Usaha. j. E. Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.Bahan kuliah Hukum Persaingan Usaha. Jakarta: AlvaBet. Jakarta: Raja Grafindo. (2005). Jakarta. (2002). Yani. untuk Mahasiswa Strata 1 Ilmu Hukum Universitas Indonesia. Kembali ke Jalan Lurus: esai-esai 1966-99. Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia. Salim.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful