1.

EM-4 Pertanian
Produk EM-4 Pertanian merupakan Bakteri fermentasi bahan organik tanah menyuburkan tanaman dan menyehatkan tanah. Terbuat dari hasil seleksi alami mikroorganisme fermentasi dan sintetik di dalam tanah yang dikemas dalam medium cair. EM-4 pertanian dalam kemasan berada dalam kondisi istirahat (dorman). Sewaktu diinokulasikan dengan cara menyemprotkannya ke dalam bahan organic dan tanah atau pada batang tanaman, EM-4 pertanian akan aktif dan memfermentasi bahan organic (sisa-sisa tanaman, pupuk hijau, pupuk kandang, dll) yang terdapat dalam tanah. Hasil fermentasi bahan organic tersebut adalah berupa senyawa organic yang mudah diserap langsung oleh perakaran tanaman misalnya gula, alcohol, asam amino, protein, karbohidrat, vitamin dan senyawa organic lainnya. Pemberian bahan organic ke dalam tanah tanpa inokulasi EM-4 Pertanian akan menyebabkan pembusukan bahan organic yang terkadang akan menghasilkan unsur anorganic sehingga akan menghasilkan panas dan gas beracun yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Selain mendekomposisi bahan organic di dalam tanah, EM-4 Pertanian juga merangsang perkembangan mikroorganisme lainnya yang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman, misalnya bakteri pengikat nitrogen, bakteri pelarut fosfat dan mikoriza. Mikoriza membantu tumbuhan menyerap fosfat di sekilingnya. Ion fosfat dalam tanah yang sulit bergerak menyebabkan tanah kekurangan fosfat. Dengan EM-4 Pertanian hife mikoriza dapat meluas dari misellium dan memindahkan fosfat secara langsung kepada inang dan mikroorganisme yang bersifat antagonis terhadap tanaman. EM-4 Pertanian juga melindungi tanaman dari serangan penyakit karena sifat antagonisnya terhadap pathogen yang dapat menekan jumlah pathogen di dalam tanah atau pada tubuh tanaman.

Manfaat EM-4 Pertanian
    

Memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Meningkatkan produksi tanaman dan menjaga kestabilan produksi. Memfermentasi dan mendekomposisi bahan organik tanah dengan cepat (Bokashi). Menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Meningkatkan keragaman mikroba yang menguntungkan di dalam tanah.

Aplikasi EM Pada Pertanian
Aplikasi teknologi EM bidang pertanian dapat dilakukan dalam bentuk : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Bokashi Padat Bokashi Cair EM Aktif Fermentasi Ektrak Tanaman Fermentasi Sari Buah Fermentasi Kaldu Ikan EM-5

1.BokashiPadat Merupakan pupuk organic yang dibuat dari kotoran hewan, sampah, organic, jerami, sekam, serbuk kayu, serasah dan lain – lain, dicampur ( dedak, disiram, dengan EM dan Molase, selanjutnya difermentasi. Setelah difermentasi 1-2 minggu campuran bahan organic telah menjadi pupuk siap pakai, ditandai dengan adanya bau tape serta miselium putih dari cendawan mukor. Penggunaannya dibenamkan kedalam tanah disekitar daerah perakaran tanaman. Pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman akan lebih baik lagi bila disertai siraman EM-aktif setiap 1 – 2 minggu sekali. 2.BokashiCair Dibuat dari kencing hewan ( sapi, babi, kelinci ) diberi/dicampu dengan EM dan molase difermentasi selama kurang lebih seminggu. Cara penggunaanya dicampur dengan air disiramkan ke tanah disekitar daerah perakaran. Sangat baik disiramkan diatas taburan bokashi. Enggunaan secara rutin selain memperbaiki fisik dan kimia tanah, dapat menekan berbagai pathogen secara efektif. 3.FermentasiEktrakTanaman Formula ini lebih dikenal dengan nama fermented plant ekstrak (FPE) FPE dapat dibuat dari campuran berbagai tanaman rempah dan obat, tanaman yang berbau khas diambil daunnya saja, batang, kulit akar maupun buah. Bagian-bagian tanaman ini diektrak dan difermentasi dengan EM dan molase selama seminggu. 4.EMAktif Dibuat dari EM asli dan molase yang dicampur dengan air sampai mencapai 20 kali kemudian difermentasi selama seminggu. Dalam pemanfaatannya diencerkan lagi dengan air sampai mencapai konsentrasi 1-2 permil disemprotkan pada daun tanaman atau disiramkan kedalam tanah. FPE dapat dipergunakan sebagai pengganti pestisida maupun fungisida, disemprotkan pada daun diatas tanah. Setiap hama biasanya peka terhadap ramuan tertentu. Meramu FPE merupakana seni tersendiri.. Banyak petani membuat ramuan sendiri untuk memberantas hamanya, tetapi Pak Oles telah membuat ramuan siap pakai yang diberi nama SAFERTO-5 ( Sari Fermentasi Tanaman Obat ) FPE disemprotkan pada tanaman secara berkesinambungan

setiap 2 minggu. Karena pengaruh antioksidan dan bau yang khas, hama tidak kerasan dan pergi meninggalkan tanaman dengan tidak akan ada eksplosi dari hama. 5.Fermentasi Sari buah Pada musim buah-buahan yang terbuang Buah-buah yang telah masak ini banyak mengandung nutrisi. Buah ini dapat diolah menjadi pupuk cair disemprotkan pada daun setelah buah-buahan diekstrak dan difermentasi dengan EM dan Molase. Produksi yang serupa namun bahannya dari rumput laut, telah dibuat oleh pak Oles dengan merek dagang SARULA-3. Penyemprotan tanaman secara rutin dengan formula ini dapat memacu pertumbuhan tanaman, merangsang pembentukan bunga dan buah. 6.Fermentasi Kaldu Ikan Seperti halnya sari buah, kaldu ikan juga kaya akan nutrisi, kaldu ikan dapat dibuat menjadi pupuk cair disiramkan kedalam tanah untuk memperbaiki fisik, kimia, dan biologi tanah. Dalam pembuatannya ikan dipotong kecil-kecil direbus dan setelah kaldunya dingin difermentasi dengan air dan molase. Fermentasinya lebih lama sekitar 1 bulan. Fermented Fish Emulsion ini siap pakai bila telah tercium bau alcohol. Bila busuk berarti pembuatannya gagal karena terkontaminasi pathogen. 7.EM-5 EM-5 adalah campuran dari arak, cuka EM-4 molase dan air. Cara pembuatan dan pengemasannya dengan FPE. EM-5 ini adalah pestisidaorganik dengan teknologi EM untuk memberantas hama khusus untuk EM-5 dapat disimpan sampai 3 bulan asalkan tidak terkontaminasi pathogen. Berdasarkan jenis tanaman yang diusahakan serta type tanah, aplikasikan teknologi EM dibidang pertanian dibedakan dalam 3 cara : 1. Aplikasi EM dilahan basah untuk tanaman padi sawah 2. Aplikasi EM dilahan kering untuk tanaman palawija, sayuran dan tanaman semusim 3. Aplikasi EM dilahan kering untuk tanaman tahunan seperti buah-buahan, cengkeh, kopi, kakau dan lain-lain. Aplikasi Teknologi EM untuk Tanaman Padi Sawah
Masalah yang sering dialami oleh para petani padi sawah saat ini antara lain :     Sering terjadi kelangkaan pupuk, dilain pihak pihak jadwal waktu pemupukan harus tepat. Biaya produksi selalu mengalami peningkatan disebabkan karena jumlah dan jenis sarana produksi yang dipergunakan terus meningkat. Meskipun penggunaan sarana produksi meningkat tidak diikuti oleh peningkatan produktifitas; produktivitas lahan sawah cenderung mengalami penurunan Air irigasi semakin terbatas dimusim kemarau dan kebanjiran dimusim hujan, resiko kegagalan panen oleh iklim dan hama semakin besar.

Secara bertahap namun pasti teknologi EM mampu menjawab masalah dan tantangan tersebut diatas. Teknologi EM adalah teknologi biaya rendah karena menggunakan limbah daur ulang dari sisa-sisa pertanian itu sendiri. Teknologi EM mudah dilaksanakan, mudah diajarkan kepada para petani, tidak

membahayakan bagi petani maupun konsumen. Produktivitasnya berkelanjutan (tidak mengalami penurunan) dan akrab lingkungan. Berkualitas tinggi tidak tercemar kimia dan memerlukan air irigasi relative lebih sedikit dibanding dengan teknologi konvensional. Semakin lama sumberdaya alam terutama tanah, air dan udara semakin kecil mengakibatkan derajat kesehatan umat manusia akan semakin membaik. Langkah-langkah penerapan teknologi EM untuk padi sawah adalah sebagai berikut : 1.PersiapanLahan Sehabis panen, jerami jangan dibakar tapi dibabat rata diatas tanah, hamparkan dipermukaan tanah, serasah, rerumputan dan kotoran hewan juga disebar secara merata, taburkan juga bokashi 2 ton per hektar, genangi dengan air yang diberi EM aktif sekurang-kurangnya 100 liter em aktif per hektar. Genangan ini dibiarkan sekitar 3-4 minggu. 2.Pengairan Setiap 2 minggu tanaman perlu disemprot dengan em aktif atau FPE dengan konsentrasi 1 (satu) permil, sampai tanaman padi dipanen. Pada saat awal masih diperlukan pupuk urea dengan dosis 50% dari dosis anjuran mengingat lahan sawah sekarang sudah sangat miskin dengan unsur “N”. Apabila dicermati akan ditemukan hal-hal sebagai berikut :       Umur padi lebih panjang dari sebelumnya. Pada saat panen daun bendera sebagian masih hijau. Tanaman lebih tinggi dan jumlah anakan lebih banyak. Prosentasi biji hampa menurun, berat gabah seragam dan lebih berat dari sebelumnya. Semakin lama solum tanah semakin dalam, biota tanah seperti cacing, belut dan larva capung nampak lebih menonjol. Produktivitas meningkat. Petani lebih bergairah.

Aplikasi EM di Lahan Kering Tanaman Semusim Tanaman semusim dalam uraian ini meliputi tanaman palawija seperti jagung, kacang tanah, kedelai tanaman sayur-sayuran, cabai tomat. Teknologi EM terhadap tanaman ini dapat dilaksanakan dalam minimum tillage malah tanpa pengolahan tnah sama sekali ( zero tillage). Yang lebih menarik lagi ialah bahwa dengan teknologi EM dapat dilaksanakan cara bercocok tanam yang disebut continuous cropping yaitu cara bercocok tanam tanpa pergiliran tanaman tanpa ke khawatiran adanya serangan hama dan penyakit tanaman. Tentu hal tersebut baru akan berhasil baik setelah beberapa generasi. Teknologi EM yang memanfaatkan tenaga alam (power nature) melalui proses fermentasi bahan organic oleh mikroorganisme yang berguna akan dapat merubah kondisi biologis tanah dari tanah yang berpenyakit ( soil borne disease) menjadi tanah yang menekan penyakit ( disease suppreasive soil ). Tanah zymogenic dan tanah sintetik itu tanaman akan dapat berporoduksi secara normal sebab bahan organic dalam tanah akan difermentasi bukan diurai dan menghasilkan alcohol, gula, asam amino dan asam organic lainnya, senyawa ini berbeda dengan teori lama yang mengatakan bahwa akar tanaman hanya menyerap unsure anorganik dari penguraian bahan organic. Oleh sebab itu bercocok tanam dengan teknologi EM dapat diselenggarakan dengan mudah, murah, ramah lingkungan serta hanya dengan waktu 1 – 2 minggu dapat dihasilkan bokashi siap pakai. Untuk maksud tersebut langkah yang diperlukan adalah : Penyiapan lahan :  Untuk pertama kali tanah perlu dicangkul atau dibajak dan dilanjutkan dengan membuat bedengan dengan ukuran yang sesuai dengan jenis tanaman yang akan ditanam. Siapkan bokashi kurang lebih 2 ton dan kompos 20 ton / ha.

  

Taburkan kompos dan bokashi diats bedengan, campurkan tanah dengan kompos dan bokashi. Tutup bedebfab dengan mulsa tebal minimal 5 cm Siram dengan EM aktif dengan konsentrasi 1 / mil sekurang-kurangnya 1 liter perm m2

Persiapan bibit :          Tanah untuk persemaian dicampur dengan bokashi arang sekam diolah sebagai mana mestinya, disiram dengan larutan EM aktif dengan kosentrasi 1 %. Biji sebelum disebar direndam dengan larutan EM aktif dengan konsentrasi satu per seribu (1%) biji kecil seperti wortel dan selama 20 – 30 menit, biji mentimun 30 – 60 menit dan biji besar ( jagung kacang tanah dll ) selama 2-3 jam. Selama dipembibitan ( persemaian ) bibit disemprot dengan EM aktif atau FPE setiap minggu. Menjelang ditanam bibit dicelupkan kedalam larutan EM aktif dengan konsentrasi 1%. Penanaman dan pemeliharaan Taburkan bokashi 100 gram per m2 dilanjutkan dengan penanaman bibit. Siram dengan EM aktif 1-2 permil sebanyak 1 liter/m2 Semprot dengan FPE 1 – 2 per mil setiap 1- 2 minggu, siram dengan EM aktif setiap 1 – 2 minggu sekali. Tanaman mati dan tanaman tua dicabut diganti atau disulam dengan bibit besar, gulma dicabut langsung dipakai mulsa pertahankan kelembababan dengan cara mulsa setiap 3-4 bulan dengan cara ini tidak diperlukan pengolahan tanah dan dapat dilaksanakan pola pertanaman berkelanjutan baik dengan pola tanaman khusus maupun tanaman campuran.

Aplikasi Untuk Tanaman Keras Tanaman keras yang dimaksud adalah tanaman tahunan meliputi kopi, cengkeh, kakau, kelapa, tanaman buah-buahan, tanaman kayu seperti jati, sengon, gaharu, cendana dan lain-lain. Aplikasi EM pada budidaya tanaman tersebut dapat dilakukan dengan mudah oleh petani tanpa merubah kebiasaan dari petani yang bersangkutan. Aktivitas yang dilakukan antara lain : 1. Pemupukan        Pupuk dapat diberikan dalam bentuk bokashi yang telah jadi maupun dalam bentuk kompos. Pemberian pupuk dalam bentuk Bokashi dapat dibenamkan dalam lubang – lubang disekitar daerah perakaran atau dibenmkan dalam lubang melingkar sejauh tajuk atau daun. Pada lahan miring untuk tanaman kopi cengkeh dan lain – lain, biasanya petani membuat rorakrorak untuk mengurangi run off pada rorak ini dimasukan sampah serasah dedaunan bahkan pupuk kandang. Pada cara yang kedua, petani tinggal menyuiramkan EM aktif dengan konsentrasi 2/mil setiap minggu. Bila petani sempat menyiapkan bokashi lakukanlah seperti cara pertama, lakukan pemupukan 2 kali dalam setahun dosis sekurang-kurangnya 2 ton per hektar setiap kalinya. Baik cara pertama maupun cara yang kedua perlu diimbangi penyiraman dengan EM aktif atau penyiraman dengan fermentasi kaldu ikan setiap dua minggu sekali. Hal ini diperlukan agar keragaman microorganisme dalam tanah dapat terjaga demikian pula kelembabanya sehingga mikroorganimse yang berguna dapat berbiak secara optimal. Menjaga agar tanah selalu lembab adalah salah satu kunci keberhasilan dalam teknologi EM, Hal ini dapat dicapai dengan cara memberikan mulsa dengan ketebalan 30 cm.

2. Penyemprotan tanaman dengan EM aktif, FPE atau fermentasi sari buah Penyemprotan tanaman dengan ketiga jenis formula tersebut dapat dilakukan secara bergiliran. Hal ini dimaksudkan untuk menekan pertumbuhan pathogen serta memaksimalkan pertumbuhan daun, kuncup,

bunga karena formula-formula tersebut dapat menampung pertumbuhan tanaman, mempercepat masaknya buah, mengurangi buah busuk, meningkatkan aktivitas asimilasi dan lain – lain. 3. Penanggulangan Penyakit Pada Batang Banyak penyakit yang menyerang batang apabila dibiarkan dapat berakibat fatal. Untuk mengatasinya, celupkan kain roll kedalam EM aktif atau FPE atau EM-5 dengan kosentrasi 2 % balutkan pada batang, bila telah kering ulangi dengan prosedur yang sama.

2. EM-4 Peternakan
Produk EM-4 Peternakan merupakan kultur EM dalam medium cair berwarna coklat kekuningkuningan yang menguntungkan untuk pertumbuhan dan produksi ternak dengan cirri-ciri berbau asam manis. EM-4 Peternakan mampu memperbaiki jasad renik didalam saluran pencernaan ternak sehingga kesehatan ternak akan meningkat, tidak mudah stress dan bau kotoran akan berkurang. Pemberian EM-4 Peternakan pada pakan dan minum ternak akan meningkatkan nafsu makan karena aroma asam manis yang ditimbulkan. EM-4 peternakan tidak mengandung bahan kimia sehingga aman bagi ternak.

Manfaat EM-4 Peternakan
       

Menyeimbangkan mikroorganisme yang menguntungkan dalam perut ternak. Memperbaiki dan Meningkatkan kesehatan ternak. Meningkatkan mutu daging ternak. Mengurangi tingkat kematian bibit ternak. Memperbaiki kesuburan ternak. Mencegah bau tidak sedap pada kandang ternak Mengurangi stress pada ternak Mencegah bau tidak sedap pada kandang ternak an kotoran ternak.

Aplikasi EM Pada Peternakan

Beberapa Cara Aplikasi EM-4 Peternakan antara lain : 1.Air Minum Campuran EM dengan konsentrasi ½ - 1% dalam air minum ternak, diberikan setiap hari. Hindari penggunaan antibiotika melalui minum agar EM tidak mati. Bersihkan bak air minum dan tempat minum ternak setiap hari. Pathogen dalam saluran pencernaan dan ada pada tempat minum akan tertekan, ternak menjadi lebih sehat. 2.Pakan Semprotkan EM pada pakan yang segera akan diberikan, EM akan meresap dalam pakan dan masuk kesaluran pencernaan makanan bersama makanan. 3.Sanitasi Kandang Semprot kandang, kotoran termasuk hewan ternak piaraan. Untuk menanggulangi bau busuk, menekan berbagai pathogen yang ada pada bulu dan kulit ternak, bulu atau kulit ternak akan lebih cerah dan bersih 4.Jamu Ternak EM dapat dipergunakan untuk membuat jamu ternak. Pada ternak ayam dan bebek jamu dapat diberikan setiap hari dengan konsesntrasi 1 %, bila telah menggunakan jamu ternak pemberian EM pada air minum tidak diperlukan lagi, peternak ayam dan bebek membuat jamu sendiri dengan ramuan tradisional yang terdiri dari jahe, kencur, kunir, laos, bawang putih dan daun sirih. Bahan-bahan ini dirajang halus direndam/fermentasi dengan EM dan molase. Setelah seminggu jamu sudah siap dipakai. Bila diperhatikan dengan jamu ternak dari EM, kuning telur lebih tebal, bau amis berkurang sehingga sangat baik digunakan untuk telur asin. Orang - orang yang biasanya alergi telur, dengan telur EM tidak alergi lagi. 5.Silase Sapi, kerbau kambing telah biasa diberikan silase larutan pada musim kemarau saat rumput juga sulit didapat. Em dapat digunakan sebagai probiotik pembuatan silase, rumput kering, jerami, pohon jagung kering dan lain-lain dapat diolah menjadi pakan ternak dengan dipotong kecil-kecil terlebih dahulu, potongan rumput kering ini ditaruh dalam bak drum atau tempat lain, ditaburi dedak halus dan disiram dengan EM sampai lembab dan dipadatkan. Pembuatan silase dilakukan secara berlapis lapis, dengan cara seperti diatas. Adonan ini kemudian ditutup rapat agar suasananya anaerob, setelah 5 hari adonan sudah berbau tape dan siap diberikan pada ternak. Karena proses fermentasi, kandungan gizi silase lebih tinggi dari asalnya dan dapat disimpan lebih lama untuk memenuhi kebutuhan pakan pada saat musim kemarau. 6.Pakan daur ulang Pakan daur ulang dapat dilakukan pada peternakan ayam petelur, cara ini sangat membantu peternak pada saat harga telur menurun dan harga pakan naik. Pembuatanya cukup sederhana. Kotoran ayam dijemur kering, digiling dan dicampur dengan dedak, disiram dengan EM dan molase lalu difermentasikan dalam keadaan anaerob. Fermentasi hanya diperlukan 24 jam dan

pakan daur ulang ini dicampur dengan konsentrat lagi pada saat pemberian. Biaya dapat ditekan sampai dengan 28 % dengan kesehatan dan produktifitas seperti semula.

3. EM-4 Perikanan dan Tambak
Produk EM-4 Perikanan dan Tambak merupakan kultur EM dalam medium cair berwarna coklat kekuning-kuningan yang menguntungkan, berberguna untuk meningkatkan bakteri pengurai bahan organic, menekan pertumbuhan bakteri pathogen, menstimulasi enzim pencernaan dan meningkatkan kualitas air pada tambak. Manfaat EM-4 Perikanan dan Tambak
         

Meningkatkan pertahanan tubuh ikan/udang SR Meningkatkan pertumbuhan dan size ikan/udang GR Meningkatkan imunostimulan / daya tahan ikan/udang Meningkatkan daya tahan tubuh ikan/udang sehingga mengurangi pengunaan Antibiotik. Efisiensi energi dan pengelolaan kualitas air Memfermentasi sisa pakan, kotoran, cangkang udang di dasar tambak Meningkatkan oksigen terlarut (DO) dan air menjadi bersih sehingga tidak diperlukan penggantian air berulang-ulang. Menguraikan gas-gas amoniak, metan dan hydrogen sulfide. Mempertahankan kualitas linkungan Aman dan Ramah lingkungan.

Aplikasi EM Pada Perikanan
1. EM Aktif Dibuat dari EM-4 Perikanan dan molase yang dicampur dengan air sampai mencapai 20 kali kemudian difermentasi selama seminggu. Dalam pemanfaatannya dituangkan langsung ke tambak dengan dosis 1.500 liter / Ha. Dengan frekuensi pemberian 3 – 7 hari sekali sampai panen. 2.EM-5. EM-5 adalah campuran dari arak, cuka EM-4 molase dan air. Cara pembuatan dan pengemasannya dengan FPE. EM-5 ini adalah pestisidaorganik dengan teknologi EM untuk memberantas hama khusus untuk EM-5 dapat disimpan sampai 3 bulan asalkan tidak terkontaminasi pathogen

3. Ekstrak bawang putih dengan EM-5 Campurkan 1 Kg. bawang putih yang telah diblender dengan 1 liter EM-5 dan tambahkan 8 liter air kemudian aduk secara merata dan gunakan setelah disimpan selama 24 jam. Gunakan pada pemberian pakan pertama dengan dosis 1 L/ 10 Kg. 4. Ekstrak pisang dengan EM-Aktif Campurkan 10 Kg. pisang yang telah diblender dengan 20 liter EM-Aktif dan aduk secara merata dan simpanlah selama 24 jam sebelum digunakan. Gunakan pada pemberian pakan kedua, ketiga dan seterusnya. Dengan dosis 1 liter / 10 Kg. pakan. Aplikasi Untuk Pengolahan Tanah Dasar Tambak

  

Setelah tanah dikeringkan dan dicangkul atau dibajak, rendam dengan air sedalam 20 cm kemudian disiram dengan EM4 sebanyak 6 liter / ha. Biarkan selama 4 – 7 hari dan keringkan kembali selama 4 hari. Tanah dikapur sebanyak 300 Kg / ha dan pupuk dengan EM-Bokashi 1-5 ton/ha Diisi air dengan ketinggian 20 cm lalu siram dengan EM4 sebanyak 6 leter / ha, biarkan selama 1 minggu. Tambahkan air hingga mencapai ketinggian 60-80 cm, lalu siramkan EM4 6- 8 liter/ha. Biarkan selama 1 minggu hingga menjelang benur ditebar.

Pada Masa Pemeliharaan Setelah benur berumur 1 bulan, siramkan EM4 sebanyak 1-3 ppm/minggu/ha atau pada saat penggantian air sesuai dengan kondisi air. NB. 1 ppm = 1 : 1.000.000 ( bila ketinggian air 60 cm, maka diperlukan EM4 sebanyak 6 liter/ha)

4. EM-4 Pengolahan Limbah
Produk EM-4 Pengolahan limbah merupakan kultur EM dalam medium cair berwarna coklat kekuning-kuningan dengan konsep mutakhir dalam bidang mikrobiologi daur ulang limbah untuk memfermentasi limbah organic cair dan padat secara efektif.

Manfaat EM-4 Pengolahan Limbah
    

Mempercepat proses penguraian limbah organic cair maupun padat. Menekan bau yang tidak sedap ( H2S dan NH3 ) Menurunkan kadar BOD dan COD Menekan perkembangan mikroorganisme pathogen. Dapat digunakan untuk mendaur ulang limbah organic menjadi pupuk / kompos

Produk EM-4 Toilet merupakan kultur EM dalam medium cair berwarna coklat kekuningkuningan dengan konsep bioremediasi bahan organic dengan memanfaatkan kerja dari berbagai mikroorganisme alami secara fermentasi sehingga potensi pencemaran dapat ditekan. EM-4 Toilet mengandung berbagai mikroorganisme yang effectif yang masing-masing mikroorganisme ini mempunyai kerja yang sangat spesifik dan bekerjasama secara sinergis dalam menguraikan limbahorganik serta menagkap gas yang menyebabkan bau (H2S, NH3 dll) sebagai sumber energi untuk melakukan aktivitasnya sehingga sangat tepat untuk digunakan pada WC/Septik Tank menghilangkan bau kurang sedap ataupun menekan baketri pathogen (E.Colli,) yang terdapat dalam air tanah akibat resapan septic tank yang ummnya dijumpai di kota-kota yang padat penduduknya. Manfaat EM-4 Toilet
   

Menghilangkan bau tidak sedap pada kamar mandi dan WC. Mengatasi saluran got/WC yang tersumbat. Menghemat biaya pengurasan septic tank. Dapat digunakan untuk membuat kompos.

Hemat dan ramah lingkungan

Aplikasi EM Pada Lingkungan
Pengolahan Limbah Organik Cair Pengolahan limbah dengan teknologi EM merupakan cara pengolahan limbah secara biologis, yaitu melalui proses fermentasi. Fermentasi tersebut dimaksudkan untuk memberikan kesempatan mikroorganisme efektif untuk aktif dan berkembangbiak lebih banyak sehingga dapat bekerja dengan efisien dan optimal sebelum dituangkan ke IPAL. Campurkan EM-4 + Molase + air bersih (1 : 1 : 18) secara merata kemudian fermentasi selama 5-7 hari, lalu tuangkan pada limbah secara kontinyu sesuai dengan debit air limbah masuk (inlet), kemudian diberikan perlakuan mekanis dengan aerator/blower sederhana. Untuk memperoleh hasil yang bagus, penambahan larutan EM-4 dapat dilakukan setiap hari.

Pengolahan Limbah (Sampah) Organik Padat EM Bokashi Padat Cara Pembuatan Bokashi Padat Sampah : Campurkan sampah organik dan bahan organik lainnya secara merata, kemudian tuang larutan EM-4 berangsur dan merata. Kandungan air semestinya berkisar antara 30–40 % dan suhu dipertahankan  50C. Selanjutnya fermentasi sekitar 5–7 hari dalam keadaan tertutup. Lakukan pengadukan/pembalikan apabila suhu > 50C. Pupuk sudah matang dan siap digunakan bila memberikan bau khas yang sedap dan ditumbuhi jamur putih. Bila berbau busuk, maka pembuatan bokashi tidak berhasil atau gagal. EMBokashiCair Cara Pembuatan Bokashi Cair : Campurkan 1 liter EM4 + 1 liter Molase + 100 liter air + bahan organik lainnya secara merata kemudian fermentasi selama 5-7 hari. Lakukan pengadukan setiap hari sampai kandungan gasnya habis. Selanjutnya campurkan 1 liter EM bokashi cair dengan 10 liter air dan disiramkan pada tanaman, tanah atau bahan organik. Lakukan secara teratur 1–2 minggu sekali. Dari kemampuan yang dimiliki oleh EM maka teknologi EM dapat diterapkan dalam berbagai kegiatan dibidang lingkungan seperti : 1. Pengolahan Limbah Rumah Tangga

Siramkan larutan EM Aktif dengan konsentrasi 1-10 cc per liter pada got, closet, tempat cuci piring, dll. Untuk mengurangi bau yang kurang sedap, lakukan setiap saat (sekurangkurangnya sekali dalam seminggu). Kumpulkan limbah dapur dalam ember yang berisi saringan dibawahnya, taburi dengan bokashi setiap hari sampai ember tersebut penuh. Limbah padat setelah seminggu akan menjadi bokashi siap pakai dan air leached diencerkan lagi untuk menyiram tanaman di pekarangan.

2. Pengolahan Limbah Padat Pada ternak

Kumpulkan limbah ternak (kotoran dan sisa pakan ternak), siramkan larutan EM Aktif dengan konsentrasi 1-10% sebanyak 1 liter per m3. Bau busuk limbah akan tertekan dan setelah satu minggu limbah tersebut dapat dipergunakan untuk memupuk tanaman.

3. Pengolahan Limbah Cair.

Limbah cair dari kencing ternak ditampung, dicampur dengan EM dan molase diencerkan dengan air 20 kali difermentasi selama seminggu. Limbah cair ini akan menjadi bokashi cair, untuk menyiram tanaman setelah diencerkan 500-1000 kali dari volume semula.

4. Penyiraman di TPA

Siramkan EM Aktif dengan konsentrasi 1-2 per seribu (1-2 liter per m3 air) pagi dan sore hari. Bau busuk berangsur-angsur berkurang, populasi lalat, kecoa dan serangga lainnya juga akan menurun.

5. Memperbaiki Kualitas Air Sungai, Danau, Pantai, dll.
 

Siramkan EM Aktif secara berkesinambungan Lemparkan Bokashi Dango (Bokashi tanah liat) kedalam sungai, danau, pantai.

Manfaatnya :

Air sungai menjadi jernih, Lumpur tergerus dan bau busuk berkurang.

Air laut jernih, biota laut (Phyto dan Zoo Plangton tambah baik, kerang-kerangan, ikan berkembang dengan baik.

F.A.Q
1. Apakah yang dimaksud dengan Effective Microorganisms (EM)? EM merupakan kultur campuran dari microorganisms yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. EM diaplikasikan sebagai inokulan untuk meningkatkan kergaman dan populasi mikroorganisme di dalam tanah dan tanaman, yang selanjutnya dapat meningkatkan kesehatan, pertumbuhan, kuantitas dan kualitas produksi tanaman. 2. Dari manakah konsep dan teknologi EM berasal? Teknologi, konsep penerapan EM dalam bidang pertanian telah dilakukan secara mendalam oleh Prof. Dr. Teruo Higa di Universitas Ryukyus, Okinawa, Jepang. Dalam skala luas, EM telah diterapkan oleh petani organic di Jepang, Thailand, Brazil, Amerika Serikat, Indonesia, Philiphina, Srilangka, Cina, Korea Selatan, Taiwan, India, Perancis, Malaysia, New Zealand, Laos, Myanmar,, dll. Dari tahun 1989 sampai saat ini, pengembangan teknolgi EM masih terus dilakukan. 3. Apakah EM hanya diterapkan pada tanah dan tanaman saja? Disamping diterapkan pada tanah dan tanaman, EM juga dapat diterapkan dalam pengolahan limbah untuk mempercepat penguraian air limbah, memperbaiki tanah dasar tambak untuk mempercepat pertumbuhan ikan dan udang, disemprotkan pada kandang ternak untuk menghilangkan polusi bau pada limbah ternak, dicampurkan pada air minum dan makanan ternak untuk memperbaiki mikroorganisme yang ada dalam perut ternak sehingga pertumbuhan dan produksi ternak menjadi meningkat.

4. Apakah mikroorganisme yang terkandung di dalam formula EM merupakan mokroorganisme asing? Tidak. Kultur EM tidak mengandung suatu mikroorganisme asing. EM terbuat dari kultur campuran spesies mikroorganisme alami yang terdapat dalam lingkungan alam dimanapun. Mikroorganisme EM bukan hasil rekayasa genetik. Mikroorganisme yang terdapat di EM yang dipasarkan di Indonesia, adalah jenis mikroorganisme alami yang ada/hidup di Indonesia. 5. Jika kultur EM mengandung mikrrorganisme yang terdapat di alam, apakah keuntungan menggunakan EM? Prof. Dr. Teruo Higa telah menekuni penelitiannya untuk mengisolasi dan menyeleksi berbagai mikroorganisme yang mempunyai pengaruh menguntungkan bagi tanah dan tanaman. Beliau telah menemukan mikroorganisme yang dapat hidup bersama dalam kultur campuran dan secara fisiologis mempunyai kecocokan di antara mikroorganisme tersebut. Sewaktu kultur campuran tersebut diperkenalkan pada setiap individu, mikroorganisme secara cepat bertambah dalam aksi sinergistik (saling menunjang). 6. Jenis mikroorganisme apakah yang terkandung di dalam EM dan bagaimana fungsinya? Mikroorganisme yang terdapat di dalam EM terdiri dari: Lactobacillus (bakteri asam laktat), bakteri fotosintetik, Actinomycetes, Strepmyces sp, dan ragi. EM meningkatkan fermentasi limbah dan sampah organik, meningkatkan ketersediaan nutrisi terhadap tanaman serta menekan aktivitas serangga hama dan mikroorganisme patogen. 7. Bagaimana cara kerja EM? Cara kerja EM telah dipublikasikan secara ilmiah yang menunjukan bahwa EM dapat (a) (b) (c) (d) Menekan pertumbuhan patogen tanah, Mempercepat fermentasi limbah dan sampah organik, Meningkatkan ketersediaan nutrisi dan senyawa organik pada tanaman, Meningkatkan aktivitas mikroorganisme indogenus yang menguntungkan, seperti; Mycorhiza, Rhizobium, bakteri pelarut, fosfat, dll. (e) Memfiksasi nitrogen, (f) Mengurangi kebutuhan pupuk dan pestisida kimia. Dengan cara tersebut EM dapat menekan pertumbuhan mikroorganisme pathogen yang selalu merupakan masalah pada budidaya monokultur dan budidaya tanaman sejenissecara terus menerus (continuous cropping). EM memfermentasikan sisa-sisa pakan dan kulit udang/ikan pada tanah dasar tambak, sehingga gas beracun (metan, dan H2S, Mercaptan, dll) dan panas pada tanah dasar tambak menjadi hilang, untuk selanjutnya udang/ikan dapat hidup dengan baik. Dengan cara yang sama EM juga memfermentasikan limbah dan kotoran ternak, hingga lingkungan kandang menjadi tidak bau, ternak tidak mengalami stress sehingga nafsu makannya meningkat. EM yang diminumkan dengan dosis 1 : 1000 pada minuman ternak, hidup dalam usus ternak, berfungsi untuk menekan populasi mikroorganisme pathogen di dalam usus sehingga ternak menjadi sehat.

8. Sewaktu bahan organik dimasukkan ke dalam tanah, apakah mikroorganisme yang terkandung di dalam EM secara alami juga terdapat/hidup di dalam tanah? Ya. Umumnya limbah organik, termasuk kotoran hewan, pupuk hijau dan kompos, mempunyai populasi mikroorganisme aslinya. Beberapa diantaranya menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman, dan ada juga yang merugikan. Akan tetapi sewaktu limbah organik dimasukkan ke dalam tanah, mikroorganisme yang merugikan secara cepat menyebar dan menjadi dominan di dalam tanah. Oleh karena itu, mikroorganisme yang menguntungkan yang terdapat di dalam bahan organik biasanya hidup dalam jangka waktu yang pendek. 9. Apakah EM juga mengalami hidup dalam jangka waktu yang pendek/stress/mati setelah diaplikasikan pada lingkungan tanah? Ya, pada beberapa taraf tertentu. Akan tetapi keuntungan menggunakan EM adalah populasi mikroorganisme yang menguntungkan di dalam tanah lebih besar daripada populasi mikroorganisme yang merugikan. Jika limbah organik tersedia, EM menjadi dominan di dalam tanah dalam jangka waktu yang lebih lama. 10. Bagaimanakah cara memperpanjang efektivitas EM di dalam tanah? Hasil penelitian telah membuktikan bahwa pemberian EM sebanyak 4 kali pada tanaman setahun, contohnya padi, sayur, palawija, dll. Dari minggu pertama sampai menggu keenam, dalam interval waktu 7-10 hari, dapat memperpanjang efektivitas EM. Pada tanaman tahunan, seperti karet, kopi, panili, anggur, dll, EM diaplikasikan secara kontinyu dalam interval waktu 3-4 minggu. Hal tersebut dapat menjamin populasi EM yang tinggi di dalam tanah sampai tanaman melewati periode kritis akibat stres lingkungan (kekeringan, kepanasan, gulma, patogen). Dalam periode kritis tersebut, tanaman paling banyak kehilangan kemampuan produksinya. Akan tetapi, dengan perlakuan EM, tanaman akan melewati periode kritis dengan baik, penampakan tanaman menjadi tegar, sehat dan tahan terhadap stres lingkungan. Kombinasi perlakuan EM dan pupuk organic (pupuk kandang, pupuk hijau, kompos, dll) akan mempercepat perkembangan populasi EM di dalam tanah, sehingga efektivitasnyapun meningkat. 11. Apakah penambahan bahan organik ke dalam tanah merupakan suatu hal yang mutlak? Ya. Penambahan bahan organik (pupuk kandang, pupuk hijau, kompos atau sisa-sisa tanaman) ke dalam tanah sangatlah diperlukan untuk kehidupan mikroorganisme di dalam tanah. Bahan organik di dalam tanah difermentasi oleh EM, hasil fermentasi tersebut berupa gula alkohol, asam laktat, asam amino, dan senyawa organik lainnya, yang dapat diserap langsung oleh perakaran tanaman melalui proses osmose.

12. Berapa jumlah bahan organik yang harus dimasukkan ke dalam tanah dan kapan saat pemberiannya yang tepat? Bahan organik dicampur ke dalam tanah sebanyak 1-10 ton per hektar. Pada tanaman setahun, bahan organik di campurkan pada saat 1 minggu sebelum tanam, sedangkan pada tanaman tahunan, bahan organik diberikan setiap 3 bulan sekali. 13. Bagaimana cara mengumpulkan bahan organik sejumlah tersebut? Umumnya petani tidak memperhatikan pentingnya bahan organic dalam meningkatkan kesuburan tanah. Bahan organik dalam pertanian di Negara berkembang sangatlah berlimpah dan mudah didapat, misalny jerami, sekam, sampah pasar, sisa-sisa tanaman, serasah, kotoran hewan, dll. Akan tetapi mudah didapat merupakan bahan organik yang paling baik digunakan untuk meningkatkan kesuburan tanah karena biayanya murah. 14. Apakah EM hanya diaplikasikan pada tanah saja? Tidak. Disamping pada tanah, EM juga dapat diaplikasikan pada seluruh permukaan tubuh tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyemprotan EM pada permukaan daun dapat meningkatkan aktivitas fotosintesa tanaman dan menekan pertumbuhan patogen yang terdapat pada permukaan tanaman. 15. Berapa konsentrasi dan dosis EM yang tepat sewaktu diaplikasikan pada tanah atau permukaan tanaman? EM dicampurkan dalam air pada konsentrasi 3-10:1000, dengan dosis 8-10 liter per ha per musim tanam. Diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada permukaan tanaman atau disiramkan pada permukaan tanah, atau bersama-sama dialirkan dalam pengairan. 16. Tidakkah EM merusak lingkungan jika diaplikasikan dalam dosis yang tinggi secara kontinyu? Tidak. EM tidak merusak lingkungan walaupun diaplikasikan dalam dosis yang tinggi secara kontinyu, karena EM bukan merupakan mikroorganisme asing dan secara alami sudah terdapat di dalam tanah. Populasi EM di alam akan diseimbangkan sesuai dengan lingkungan (bahan organik, air, suhu, O2, dll) yang tersedia di dalam tanah. 17. Dapatkah EM meningkatkan kualitas limbah organik, sampah, atau limbah organik pada industri? Ya. EM telah digunakan secara efektif untuk menanggulangi masalh bau limbah pertanian, sampah kota, hotel, restoran dan rumah tangga, serta limbah organik industri, untuk menghilangkan bau busuk yang ditimbulkan dengan mempercepat proses penguraian limbah organik tersebut. EM juga digunakan untuk mempercepat proses pengomposan (Bokashi).

18. Apakah EM efektif diaplikasikan terhadap seluruh tanaman dan tanah? Ya. Penelitian tentang EM telah dilakukan pada beberapa jenis tanaman dan tanah dalam kondisi agroekologi yang berbeda-beda. Hasilnya menunjukkan bahwa EM memberikan respon yang positif terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman serta dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologis tanah. 19. Dapatkah teknologi EM dipertimbangkan sebagai pengganti praktek manajemen pertanian lainnya? Tidak. EM bukan merupakan pengganti praktek manajemen pertanian lainnya. Teknologi EM merupakan dimensi tambahan untuk mengoptimumkan praktek manajemen tanah dan tanaman, seperti pada rotasi tanaman, penambahan bahan organic, konservasi pengolahan tanah, daur ulang limbahpertanian dan pengendalian biologi. Jika digunakan dengan tepat, EM secara nyata dapat meningkatkan hasil pertanian yang telah diterapkan. EM dapat meningkatkan pertumbuhan, kualitas dan kuantitas produksi tanaman, memperbaiki sifat fisik, kimia, biologi tanah, kesuburan dan produktivitas tanah, serta mengurangi kebutuhan pupuk dan pestisida kimia. 20. Bagaimana EM dapat menekan pertumbuhan serangga hama? Hasil penelitian menunjukkan bahwa EM dapat memfermentasikan bahan organic yang terdapat di dalam tanah dengan melepaskan hasil fermentasi berupa gula, alkohol, vitamin, asam laktat, asam amino, dan senyawa organik lainnya. Fermentasi bahan organik tidak melepaskan panas dan gas yang barbau busuk. Serangga hama tidak tertarik untuk bertelur atau mentaskan telurnya di dalam kondisi tanah tersebut. Akhirnya siklus hidup serangga di dalam tanah dan tanaman menjadi terputus dan tingkat serangan hama menjadi menurun. 21. Apakah EM juga dapat menekan pertumbuhan nematode parasit tanaman? Ya. Hasil fermentasi bahan organik tanah menciptakan kondisi yang baik bagi pertumbuhan jamur pemangsa nematode (nematode trapping fungi), yang dapat menurunkan populasi nematode parasit tanaman di dalam tanah. 22. Jika EM dapat mengendalikan serangga hama, nematode dan penyakit tanaman, apakah EM merupakan pestisida? Tidak. EM bukan merupakan pestisida dan tidak mengandung bahan kimia. EM merupakan mikroorganisme inokulan yang diperkenalkan pada tanah dan tanaman yang berfungsi sebagai pengendali biologis dalam menekan/mengendalikan hama atau penyakit tanaman.

23. Apakah EM telah diterapkan di pertanian Indonesia? Teknologi EM telah dikenalkan di Indonesia sejak tahun 1990. Pengenalan Teknologi EM dilakukan bekerja sama dengan pusat-pusat pelatihan pertanian swadaya, kontak tani dan kelompok-kelompok tani. Penerapannya dilakukan oleh petani, peternak (ayam, babi, sapi) dan nelayan (udang dan ikan). Dari hasil pengamatan di lapangan, serta hasil percobaan yang telah dilakukan di Indonesia sejak tahun 1990, membuktikan bahwa EM mampu beradaptasi dan memberikan respon yang positif terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman, ternak, udang dan ikan. 24. Apa fungsi dari asam laktat, asam butirat, etil alkohol, karbohidrat dan etanol? Merupakan senyawa organik yang dapat melarutkan ion-ion (unsur hara) di dalam tanah. Terlarutnya ion-ion tersebut menjadikannya mudah terserap oleh tanaman. Lain halnya dengan proses pembusukan bahan organik, ion-ion yang dilepaskan dari proses pembusukan tidakdalam bentuk terlarut akan tetapi masih terikat denga molekul-molekul /ion-ion lainnya, teritama golongan logam berat. Disini jelaslah perbedaan hasil dari proses pembusukan dengan fermentasi. 25. Bagaimanakah reaksi-reaksi dari asam laktat, asam butirat, etil alkohol, karbohidrat dan alkohol, sehingga dapat diserap oleh tanaman dan berpengaruh pada tanah? Senyawa organik yang dilepaskan dari hasil fermentasi bersifat stabil, tidak mudah menjadi reaksi oksidasi maupun reduksi, yang terkenal dengan istilah kondisi antioksidasi (antioxidative condition) dan senyawa anti oksidasi tersebut dikenal dengan istilah antiosidan. Sebaliknya, ion-ion yang dihasilkan dari proses pembusukan berada dalam kondisi oksidasi atau reduksi, yang dikenal dengan istilah kondisi oksidasi (Oxidative condition). Ion oksidasi tersebut sangat labil dan sukar tersedia bagi tanaman. Senyawa antioksidan mengandung ion yang stabil, tidak mudah bereaksi, sehingga mudah diserap oleh perakaran tanaman yang menyebabkan tanaman menjadi subur. 26. Mengapa di dalam tanah yang terfermentasi oleh EM, Hama tidak tertarik untuk bertelur? Karena di dalam tanah yang terfermentasi tidak melepaskan panas dan bau busuk. Secara naluriah, serangga tidak mau bertelur di dalam tanah tersebut, karena siklus hidup serangga (telur, larva, serangga) menjadi terputus. Ledakan hama selalu terjadi pada tanah yang mengalami proses pembusukan (putrefactive soil), bukan dalam tanah yang terfermentasi (fermentative soil). Pada tanah yang sering diberi perlakuan pupuk kimia dan pestisida, cenderung menjadi tanah pembusuk. Sebaliknya tanah yang sering diberi bahan organik pupuk kandang/kompos, cenderung menjadi tanah fermentatif. Inokulasi EM menunjang kondisi tanah menjadi tanah zymogenic (fermentative).

27. Mengapa penyemprotan EM dapat meningkatkan aktivitas fotosintesa tanaman? Karena EM menekan pertumbuhan patogen yang hidup pada permukaan daun, sehingga jumlah klorofil daun menjadi meningkat. Disamping itu, melalui proses reaksi biokimia, EM melepaskan enzim-enzim yang mendukung berlangsungnya foto sintesa di daun. 28. Fungsi dari masing-masing organisme tersebut baik pada tanaman maupun pada tanah? EM terdiri dari 5 (lima) jenis mikroorganisme utama, yaitu bakteri fotosintetik, ragi, Lactobacillus, Actinomycetes dan Streptomyces, yang bekerja secara sinergis (saling menunjang) untuk menyuburkan tanah dan meningkatkan pertumbuhan tanaman. a. Bakteri fotosintetik berfungsi untuk mengikat nitrogendari udara bebas,memakan gasgas beracun dan panas dari hasil proses pembusukan, sehingga polusi di dalam tanah menjadi berkurang. b. Ragi berfungsi untuk memfermentasi bahan organik tanah menjadi senyawa-senyawa organic (dalam bentuk alkohol, gula, dan asam amino) yang siap diserap oleh perakaran tanaman. c. Lactobacillus berfungsi untuk memfermentasi bahan organik menjadi senyawasenyawa asam laktat yang dapat diserap oleh tanaman. d. Actinomycetes dan Streptomyces berfungsi untuk menghasilkan senyawa-senyawa antibiotik yang bersifat toksik terhadap patogen/penyakit, serta dapat melanjutkan ionion fosfat dan ion-ion mikro lainnya. 29. Apakah yang menjadi indikasi bahwa sampah organik yang telah yang telah diberi EM sudah terfermentasi? Bahan organic yang telah terfermentasi menimbulkan aroma asam dan manis seperti bau tape dan tidak panas. 30. Apakah tanah zymogenic itu? Tanah zymogenic adalh tanah yang banyak mengandung mikroorganisme fermentasi, seperti ragi, Lactobacillus, bakteri fotosintetik,, dll, yang dalam aktivitasnya memfermentasi bahan organic tanah. 31. Apakah dengan menggunakan EM masih perlu menggunakan pupuk kandang dan pupuk kimia? Penggunaan pupuk kandang, kompos, dll, mutlak diperlukan, yang berguna sebagai sumber energi bagi mikroorganisme yang terdapat di dalam EM, sedangkan untuk pupuk kimia, tetap digunakan namun dosisnya dikurangi sampai dengan setengahnya untuk menekan biaya produksi.

32. Kondisi lingkungan yang bagaimanakah yang cocok untuk pengaplikasian EM? Kondisi apapun cocok untuk aplikasi EM, asalkan terdapat bahan organik untuk media hidup dan sebagai sumber hidupnya. 33. Apakah dengan menggunakan Em masih perlu menggunakan pestisida? Sebaiknya pestisida diterapkan dalam keadaan yang sangat mendesak, pada saat terjadi ledakan hama yang tidak dapat ditanggulangi lagi dengan cara lain, karena penerapan pestisida secar kontinu dengan dosis tinggi akan menurunkan populasi EM di dalam tanah. 34. Apakah EM dapat dicampurkan dengan pestisida (insektisida, fungisida, dan bakterisida)? Tidak. Karean EM adalh mahluk hidup, yang bila dicampur dengan pestisida akan mati. Penerapan EM pada daun batang tanaman 1 (satu) mingu setelah penerapan pestisida masih dapat ditolerir. Pemberian bahan organik dan EM ke dalam tanah dapat menetralkan residu di dalam tanah. 35. Bagaimana cara membuat kompos dengan Teknolgi EM? Kompos yang dibuat dengan teknologi disebut Bokashi. Bahan bakunya dapat terdiri baerbagi bahan organic, seperti misalnya jerami padi, pupuk kandang, dedak (padi), sekam, gula pasir, dll.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful