MODUL TMK “ Seorang executive muda dengan keluar darah dari hidung”

KELOMPOK 10 030.08.171 Nadia Alwainy 030.08.191 Phoespha MayangSarie 030.09.274 Yenni Susanti 030.08.207 Rifti 030.09.275 Yohanes Satrya Wibawa 030.08.225 Shella Pratiwi 030.09.27 6 Yolla Eva Meissa 030.08.245 Trinda Paramitha 030.08.271 Fairuz BT Mahamad Rodzi 030.09.270 Windi Ayu Safitri 030.09.284 Zaddam Wahid 030.09.277 Yuanita Lavinia 030.09.281 Yusrina Affiatika Untari 030.09.282 Yuti Purnamasari 030.09.272 Yani Nur Indrasari

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI 15 NOVEMBER 2011

kelainan darah. perdarahannya dapat berhenti spontan atau dihentikan dengan memberikan tekanan kuat dan kontinyu pada kedua sisi hidung tepat diatas kartilago ala nasi. Epistaksis berat merupakan masalah kedaruratan yang dapat mengancam keselamatan jiwa pasien yang mana bisa menimbulkan kematian jika tidak ditolong dengan cepat dan tepat. kelainan pembuluh darah. dengan pasien pada posisi duduk yang memudahkan pasien membatukkan darah di faring serta mengurangi tekanan vaskuler. dan pengaruh dari lingkungan. merupakan masalah kedaruratan yang dapat berakibat fatal bila tidak ditangani segera. kadang-kadang jelas disebabkan karena trauma. infeksi sistemik. perubahan tekanan atmosfir. kelainan anatomi. sehingga setiap dokter harus siap menangani kasus Epistaksis juga seringkali merupakan gejala atau manisfestasi penyakit lain. tumor.1 Prinsip penanganannya adalah ”tekanan pada pembuluh yang berdarah”. Epistaksis bukan merupakan suatu kelainan. Kebanyakan ringan dan sering dapat berhenti sendiri tanpa memerlukan bantuan medis. walaupun jarang. infeksi local. Epistaksis dapat juga disebabkan oleh kelainan local pada hidung atau kelainan sistemik.2 . melainkan sebagai dejala dari suatu kelainan dan hampir 90% dari kasus epistaksis anterior. benda asing. tetapi epistaksis yang berat. Epistaksis seringkali timbul spontan tanpa dapat diketahui penyebabnya. kelainan hormonal dan kelainan congenital.BAB I PENDAHULUAN Pendarahan hidung atau epistaksis merupakan masalah yang sangat lazim. Kelainan sistemik conhtohnya adalah penyakit kardiovaskular. Kelainan lokal contohnya adalah trauma.

Setelah mendapat kesan bahwa fungsi vital penderita masih baik. kira-kira ½ jam yang lalu. Perdarahan hidung dialami baru pertama kali. Keluar darah intermiten dan tidak berhenti dengan pencet hidung dan kompres es. Sebagai dokter yang belum begitu mengenal pasien tersebut. 45tahun executive suatu bank. jumlahnya ½ gelas minum. setelah melakukan olahraga senang. tidak pernah mengalami trauma kepala / trauma hidung / operasi hidung. apa saja tindakan dan rencana anda selanjutnya. Sebelumnya penderita sudah sering mengeluh pusing kepala. Tidak pernah sakit berat sampai dirawat. dengan handuk kecil menutupi hidungnya yang sudah penuh darah.masih bisa duduk dan berjalan sendiri : CM : 370 C : 80x/menit : 20x/menit : sonor. anda menghentikan perdarahannya dengan memasang tampon anterior kemudian melanjutkan dengan anamnesis.BAB II LAPORAN KASUS Bapak Napitupu. vesikuler Tekanan darah : 160/90 mmHg Bunyi jantung : murni Hepar & Lien : tidak teraba . Pada pemeriksaan fisik didapat : Status generalis : KU Kesadaran Suhu Nadi Pernafasan Paru-paru : lemah. dating ke tempat anda dengan keadaan yang cemas. masih dapat berjalan dan duduk sendiri.

Eritrosit 5. LDL : 220 mg / dl : 33 mg / dl : 145 mg / dl . SGOT 10. Anda memutuskan untuk mencabut kembali tampon anterior dang mengeksplorasi lebih lanjut kavum nasinya. LT laapang.4-7) Normal (Laki-laki : 13-17g%) (5000-10000/ml) Normal (150000-400000/ml) (1-3’) (10-15’) 4. Creatinin 12. berdenyut. Gula darah waktu : 135 mg % 14.0 mg / dl : 5 mg / dl (<200) (<200) (>55) (<150) (5-40) (5-41) (15-40) (0. HDL 17. Leukosit 3.5 juta / ml : 2’ (Duke) : 6’ (Lee&White) : 13’’ : 28 μ/ L : 31 μ/L : 24 mg / dl : 1. Triglyceride 16.Extremitas Status lokalis : Telinga Hidung : hangat : ADS. Tampak asal perdarahan dari bagian belakang hidung dibawah konka media.000 / ml 13. Ureum 11.Clotting Time 7. Cholesterol: 260 mg / dl 15. Hb 2. Pada waktu darah di hidung dibersihkan dengan suction terlihat vestibulum dan septum licin. Jumlah Trombosit : 260. MT intak mengkilat : Masih terlihat darah merembes dari tampon anterior. Bleeding Time 6.5) (3. SGPT 9. Tenggorok : tonsil T1/T1 tenang Faring tenang Adanya darah yang mengalir di dinding faring belakang Pemeriksaan lab : 1. Asam Urat : 12 g % : 7000 / ml : 4. PPT 8.5-1. tenang.

jumlahnya ½ gelas minum. Napitupulu : 45 tahun : Laki-laki : Executive bank :- Anamnesis : Perdarahan hidung baru pertama kali dialami oleh pasien Terjadi perdarahan setelah melakukan olahraga senam.BAB III PEMBAHASAN Analisa kasus Identitas : Nama Usia Jenis Kelamin Pekerjaan Alamat : Bpk. dan arteri yang melewati konka media adalah A. tidak pernah mengalami trauma kepala / trauma hidung / operasi hidung  kemungkinan terjadinya perdarahan karena trauma dapat disingkirkan.sfenopalatina1 mengeluh pusing sebelumnya  kemungkinan adanya penyakit yang . Pasien sering mendasari Tidak pernah sakit berat sampai dirawat. Pemeriksaan Fisik : Keadaan umum didapatkan masih baik Terdapat tekanan darah yang cukup tinggi  klasifikasikan sebagai hipertensi stage 1 menurut JNC VII Pada status lokalis pada Hidung ditemukan perdarahan dari bagian belakang hidung dibawah konka media dan berdenyut  berdenyut menandakan perdarahan berasal dari arteri.

Keadaan umum : Periksa tanda vital  pernafaan.pemeriksaan fisik. Posisi duduk tegak dengan kepala agak sedikit menunduk. Trigliserid. tidak berhenti dengan memberi tekanan pangkal hidung serta masi adanya rembesan darah setelah dipasang tampon anterior.spenopalatina. pemeriksaan laboratorium yang telah dilakukan pasien ini mengalami epistaksis posterior dimana perdarahan banyak. nadi . dan rendahnya HDL yang memungkinkan terjadinya plak-plak arterosklerosis Diagnosis Epistaksis posterior et causa hipertensi * Dari hasil anamnesis. Menghentikan pendarahan 2. Didapatkan Hb yang sedikit turun  kemungkinan besar disebabkan karena terjadinya perdarahan yang masif dan intermitten Adanya juga peninggian dari Kolesterol total. Mencegah komplikasi 3. Mencegah perdarahan berulang1 PenangananUmum 1. Dimana Arteri ini dapat pecah pada orang dengan hipertensi seperti pada pasien ini dimana dipicu dengan aktivitas yang dilakukan sebelumnya. dan suhu ( hal ini dilakukan untuk memastikan tidak adanya syok pada pasien dan pada pasien ini tanda vital baik kecuali ditemukan adanya tekanan darah yang meningkat) 2. denyut jantung. . Penanganan Tiga prinsip utama penanganan Epistaksis: 1. Menghentikan perdarahan : • Pasien diposisikan duduk yang tepat. Sangat tidak disarankan untuk mengangkat kepala karena dikhawatirkan darah akan masuk ke saluran pernafasan.tekanan darah.Pemeriksaan lab  dilakukan untuk memastikan keadaan umum dan mencari penyebab. Hal ini didukung dengan pemeriksaan lokalis dimana terdapat asal perdarahan berdenyut dari belakang hidung bawah konka yang merupakan aliran pada A.

Penanganan Dilakukan pemasangan tampon posterior (tampon Bellocq)  yaitu tampon yang mempunyai tiga utas benang.3 • • Biarkan darah mengalir keluar agar dapat dimonitor Pasang tampon sementara  kapas yang telah dibasahi adrenalin 1/5000-1/10000 atau lidokain 2% untuk meghentikan perdarahan dan mengurangi rasa nyeri biarkan selama 10-15 menit. Tampon harus dapat menutup koana (nares posterior). 1 utas di tiap ujung dan 1 utas di tengah. . Tampon dibuat dari kasa padat berbentuk bulat atau kubus dengan diameter kurang lebih 3 cm. Maka hidung dibersihkan dengan alat suction dan sidapatkan sumber perdarahannya  perdarahan posterior. • Setelah terjadi vasokonstriksi cari sumber perdarahan Pada pasien ini telah dilakukan prosedur seperti di atas tetapi masi ada rembesan darah dari tampon.

kedua benang yang keluar dari nares anterior kemudian diikat pada sebuah gulungan kasa di depan lubang hidung. Jika dianggap perlu. . Agar tidak bergerak. tidak bersin atau membuang nafas terlalu keras ntuk menghindari perdarahan kembali Pasien dengan tampon posterior harus dirawat dan tampon dikeluarkan dalam waktu 2-3 hari setelah pemasangan. dan dengan bantuan jari telunjuk tampon tersebut didorong ke arah nasofaring. 2. 4. dilekatkan pada pipi. 6. • • Pada mepasangan tampon edukasikan pasien untuk bernafas melalui mulut. 5. Dengan cara yang sama benang yang lain dikeluarkan melalui lubang hidung sebelahnya. kemudian kateter ditarik melalui hidung sampai benang keluar dari nares anterior 3. Ujung kateter diikat pada salah satu benang yang ada pada salah satu ujung tampon.Pemasangan tampon Bellocq: 1. Benang yang keluar kemudian ditarik. dapat pula dipasang tampon anterior. Ujung benang yang keluar dari mulut. kateter karet dimasukkan melalui salah satu nares anterior sampai tampak di orofaring dan ditarik keluar melalui mulut. Benang tersebut berguna bila hendak mengeluarkan tampon. Dapat diberikan analgesik atau sedatif yang tidak menyebabkan depresi pernapasan.

dapat pula dipakai kateter Foley dengan balon. Penanganan Non-Medikamentosa : Edukasi pada pasien untuk mengontrol Hipertensinya Mengonsumsi makanan yang sehat dan tidak banyak mengandung lemak  menurunkan kolesterol . Kateter dimasukkan ke rongga hidung sampe posterior kemudaian dikembungkan Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi akibat dari epistaksis ataupun penanganan epistaksis adalah : • • Terjadinya perubahan hemodinamik Aspirasi darah yang masuk ke saluran pernafasan Perdarahan yang hebat dapat menyebabkan shock Terjadinya infeksi Komplikasi dari pemasangan tampon Bellocq Laserasi Palatum  ikatan yang terlalu keras Rhinosinusitis. septikemia  Oleh karena itu pada setiap pemasangan tampon harus selalu diberikan antibiotik dan setelah 2-3 hari harus dicabut meski akan dipasang tampon baru bila masih berdarah. maka sebagian besar epistaksis dapat ditanggulangi.• Bila cara di atas dilakukan dengan baik. otitis media . Sebagai pengganti tampon posterior.

hindari aktivitas yang terlalu berat untuk perdarahan berulang Olahraga yang teratur Mengganti dan mengaga kebersihan tampon yang dipakai. Keadaan umum pasien masih baik sehingga ad vitam bonam.- Menjaga aktivitas sehari-hari. Fungsi hindung dapat kembali dengan baik Sedangkan dalam kekambuhan . Mengganti tampon 2-3 hari sekali Prognosis Ad Vitam Ad Fungsionam Ad Sanasionam : Bonam : Bonam : Dubia ad Bonam Dengan penanganan yang benar epistaksis posterior ini dapat ditanggulangi. gaya hidup dan aktivitas . pada pasien ini mungkin saja terjadi epistaksis berulang bila tidak mengontrol hipertensinya.

labialis superior dan A.palatina mayor dan A.etmoid anterior.palatina major. Bagian atas rongga hidung  A.spenopalatina yang berjalan bersama n.facialis • Pada bagian depan septum terdapat plexus kiesselbach yang merupakan anastomosis dari A. 2. Bagian bawah rogga hidung  Cabang A.oftalmika dari A.BAB IV TINJAUAN PUSTAKA • • Anatomi Hidung Vaskularisasi hidung Hidung diperdarahi oleh : 1.4 .sfenopalatina.maksilaris interna diantaranya ujung A.etmoid anterior dan A. A.carotis interna.etmoid posterior yang merupakan cabang dari A. Bagian depan hidung  dari cabang-cabang A.sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung posterior konka media 3. A.

Kelainan pembuluh darah lokal 3.sinusitis ) 4. sinus atau nasofaring. Infeksi sistemik  Demam berdarah. Etiologi 1. benda asing tajam maupun trauma pembedahan 2. trombositopenia. Tumor pada hidung. Tekanan darah tinggi 5.bersin terlalu keras . Penyakit kardiovaskuler  Penyempitan arteri (arteriosklerosis).EPISTAKSIS Definisi Epistaksis adalah perdarahan dari hidung yang dapat terjadi akibat sebab lokal atau sebab umum (kelainan sistemik). baik jinak maupun ganas 8. Kelainan darah Anemia aplastik. misalnya perubahan tekanan atmosfir mendadak (seperti pada penerbang dan penyelam/penyakit Caisson) atau lingkungan yang udaranya sangat dingin Sumber perdarahan 1. benturan ringan. telangiektasi hemoragik herediter 7.kecelakaan. morbili. demam tifoid 6. hemophilia. Gangguan hormonal seperti pada kehamilan. Infeksi lokal  pada infeksi hidung dan sinus ( rhinitis. Epistaksis bukan suatu penyakit. Perdaraha pada septum anterior biasanya ringan karena mukosa yang hiperemis atau kebiasan mengorek hidung dan kebanyakan terjadi pada anak-anak dan seringkali berulang dan juga dapat berhenti sendiri . influenza. menars dan menopause 9. Epistaksis Anterior yang kebanyakan berasal dari Pleksus Kiesselbach di septum bagian anterior atau Arteri Ethmoidalis Anterior. pukulan. leukemia. Trauma  baik trauma ringan maupun trauma berat misalnya mengorek hidung. melainkan gejala suatu kelainan. Pengaruh lingkungan.

2. tampon posterior (tampon Bellocq). spekulum hidung. Menghentikan perdarahan 2. kapas. larutan adrenalin 1/10. kateter karet. Epistaksisi posterior juga sering ditemukan pada pasien yang menderita penyakit sistemik seperti hipertensi. lampu spiritus. salep antibiotik. alat hisap. Mencegah berulangnya epistaksis Alat-alat yang digunakan: lampu kepala. forsep bayonet. larutan nitras argenti 20-30%. spatel lidah. vaselin. Penatalaksanaan Tiga prinsip utama penanggulangan epistaksis: 1. atau elektrokauter. .000. arterosklerosis atau pada penderita penyakit kardiovaskuler lainnya yang menyebabkan pecahnya Arteri Spenopalatina. larutan pantokain 2% atau semprotan silokain urttuk anestasi lokal. pelilit kapas (cotton applicator). Epistaksis Posterior dapat berasal dari Arteri Ethmoidali Posterior atau juga Arteri Spenopalatina. larutan triklorasetat 10%. Mencegah komplikasi 3. Perdarahan biasanya lebih hebat dan jarang dapat berhenti sendiri.

Sesudahnya area tersebut diberikan krim antibiotik. Tampon dipertahankan selama 2 X 24 jam. Tampon dimasukan sebanyak 2-4 buah dan disusun dengan teratur dan harus mendekati daerah perdarahan.1 Epistaksis posterior Tatalaksana pasa kasus sudah dijelaskan pada pembahasan. maka perlu dilakukan ligasi arteri spesifik. Bila sumber perdarahan dapat terlihat. Sangat tidak disarankan untuk mengangkat kepala karena dikhawatirkan darah akan masuk ke saluran pernafasan. dan harus dikeluarkan untuk mencegah infeksi hidung. Menekan pada kedua sisi hidung tepat diatas kartilago ala nasi dari luar selama kuang lebih 10-15 menit.Epistaksis anterior Pasien diposisikan duduk yang tepat. dilakukan pemasangan tampon anterior yang terbuat dari kapas atau kasa yang diberi vaselin atau salep antibiotik. Jika cara sebelumnya tidak dapat menghentikan perdarahan. Jika perdarahan sudah berhenti. arteri maxilaris interna. temap asal perdarahan dikaustik dengan larutan Nitras Argenti ( AgNO3 ) 25-30%. Arteri tersebut antara lain arteri karotis externa. Bila tampon aterior dan posterior gagal mengendalikan epistaksis. arteri sfenopalatina dan arteri ethmoidalis anterior dan posterior . Posisi duduk tegak dengan kepala agak sedikit menunduk. sedotlah sebua bekuan dan debris dari hidung. Pemakaina vaselin atau salep antibiotik ini dimaksudkan agar tampon mudah masuk dan tidak menimbulkan trauma atau luka baru saat dimasukkan atau juga dicabut.

Diagnosis ini diambil berdasarkan perdarahan yang terjadi yaitu perdarahan banyak dan telah dilakukan penanganan umum tetapi darah tidak berhenti. Penyebab perdarahan juga perlu dibari untuk mencegah perdarahan berulang. Bila perdarahan ini dapat dilakukan dengan baik maka perdarahan dapat ditanggulangi. . maka dilakukan pemeriksaan penunjang laboratorium dimana didapatkan peningkatan nilai kolesterol serta pada pemeriksaan fisik adanya peningkatan tekanan darah yang diduga menjadi penyebab pecahnya arteri spenoalatina sehingga menimbulkan perdarahan. Selain itu pada pemeriksaan lokalis ditemukan sumber perdaharan di bagian posterior dimakan kemungkinan berasal dari arteri spenopalatina. Perlu diingat pada kasus hipertensi ringan sampai sedang perdarahan berulang sangat mungkin terjadi. mencegah kompklikasi dan mencegah perdarahan berulang. Prinsip penatalaksaan epistaksis ada 3 yaitu menghentikan perdarahan ( untuk epistaksis posterior dapat menggunakan tampon bellock atau kateter foley). pemeriksaan fisik dapat disimpulkan pasien ini mengalami epistaksis posterior.BAB V KESIMPULAN Dari hasil anamnesis .

2. Perdarahan hidung (epistaksis. In: Soepardi EA.DAFTAR PUSTAKA 1.2011.Mangunkusumo E. In: Soepardi EA. 6th ed. Buku ajar ilmu kesehatan : telinga hidung tenggorok kepala leher. Hidung. Iskandar N. p. Buku ajar ilmu kesehatan : telinga hidung tenggorok kepala leher. Jakarta: FKUI. Epistaksis posterior Available at :http://emedicine. Goralnick E. 155-159. Epistaksis. Available at http://medicastore. . 4.mimisan). 118-122.com/penyakit/838/Perdarahan_Hidung_Epistaksis_Mimisan. Wardani RS. Mangunkusumo E. 3. p. Soetjipto D.editors.2007. Wardani RS. 6th ed. Jakarta: FKUI. Restuti RD.medscape. Accessed on November 8th .Bashiruddin J.com/article/80545-overview. Accessed on November 8th.Bashiruddin J.2007. Iskandar N. Restuti RD.html . 2011.editors.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful