BAB I 1.

1 Latar Belakang

Kelainan pada alat kelamin pria (penis/phallus) merupakan salah satu masalah yang memerlukan perhatian khusus. Secara fisiologis organ tersebut (penis/phallus) memiliki beberapa fungsi, antara lain: sebagai saluran pembuangan urin, phallus juga berfungsi sebagai organ seksual. Salah satu kelainan yang akan dibahas adalah hypospadia. Berdasarkan hasil survei, diketahui bahwa Hypospadia hanya terjadi pada laki-laki yang dibawa sejak lahir. Insidensinya 3:1000 atau 3 dari 1000 kelahiran (Sadler, 2006; Sjamsuhidajat, 2006; Djakovic, et all., 2008). Berdasarkan data yang dicatat oleh Metropolitan Atlanta Congenital Defects Program (MACDP) dan Birth Defects Monitoring Program (BDMP) insidensi hypospadia mengalami dua kali lipat peningkatan antara 1970 - 1990. Prevalensi yang dilaporkan antara 0,3% menjadi 0,8% sejak tahun 1970-an, beberapa laporan dari Amerika Serikat, Inggris, Hungaria telah menunjukkan peningkatan. Tahun 1993 BDMP melakukan survei mengenai insidensi hypospadia, dari hasil survei tersebut diketahui bahwa kasus hypospadia mengalami pemeningkatan menjadi 20,2 per 10.000 kelahiran hidup pada

1.970-39,7 per 10.000 kelahiran hidup (Pendersen, et all., 2006; Djakovic, et all., 2008; Atshusi, et all., 2006; Alexander, 2007). Kompetensi seorang dokter dalam dunia medis sangat dibutuhkan. Tuntutan kompetensi tersebut bertujuan untuk meningkatkan Kualitas dan mutu pelayanan kesehatan yang merupakan faktor penentu keberhasilan profesi seorang dokter. Penilaian mutu dan kualitas pelayanan secara umum dilakukan oleh masyarakat. Dengan adanya peningkatan kompetensi medis, maka secara tidak langsung masyarakat akan memberikan penilaian terhadap mutu dan kualitas pelayanan (Depkes RI, 2009). Sehingga seorang dokter dituntut memiliki kompetensi dalam melakukan pemeriksaan fisik untuk Penugasan Blok Uropoetika (hypospadia), Syaiful RF. FK UII 2010 1

mendiagnosis adanya kelainan tersebut (hypospadia). Hal ini bertujuan untuk mempercepat tindakan penatalaksanaan rekonstruksi alat kelamin oleh dokter spesialis (dokter ahli). BAB II

1.1 ISI
A. Defenisi

Hypospadia berasal dari bahasa Yunani, secara terminologi memiliki dua arti kata yaitu “hypo” yang berarti “di bawah” dan “spadon“ yang berarti “lubang”. Secara anatomi hypospadia adalah salah satu kelainan kelamin akibat penyatuan lipat uretra yang tidak sempurna dengan gambaran letak Ostium Urethra Externa di sepangjang permukaan anterior phallus (penis) dari sejak lahir (congenital). Kelainan ini dapat ditemukan ketika pemeriksaan waktu lahir (Djakovic, et all., 2008; Alexander, 2007; Pedersen, et all., 2006; Tom, 2002; Gerard, 2006). B. Epidemiologi Insidensi kasus hypospadia terbanyak adalah Eropa dilaporkan dari Amerika Serikat, Inggris, Hungaria telah menunjukkan peningkatan. BDMP menyatakan bahwa insdensi

hypospadia meningkat menjadi 20,2 per 10 000 kelahiran hidup pada 1.970-39,7 per 10 000 kelahiran hidup pada tahun 1993 (Pendersen, et all., 2006; Djakovic, et all., 2008; Atshusi, et all., 2006; Alexander, 2007). Kajian populasi yang dilakukan di empat kota Denmark tahun 1989-2003 (North Jutland, Aarhus, Viborg dan Ringkoebing) tercatat 65.383 angka kelahiran bayi laki-laki dengan jumlah kelainan alat kelamin (hypospadia) sebanyak 319 bayi (pedersen, et all., 2006).

Penugasan Blok Uropoetika (hypospadia), Syaiful RF. FK UII 2010

2

C. Etiopatogenesis

Hipospadia terjadi karena gangguan perkembangan urethra anterior yang tidak sempurna yaitu sepanjang batang penis sampai perineum. Semakin ke arah proksimal muara meatus uretra maka semakin besar kemungkinan ventral penis memendek dan melengkung dengan adanya chordae (Mohamed, 2006; Tom, 2002). Patofisiologi hypospadia masih belum diketahui dengan pasti, akan tetapi beberapa teori yang menyatakan tentang penyebab hipospadia antara lain :

Faktor genetik. Berdasarkan penelitian oleh Alexander 2007, pada keluarga yang memiliki kelainan kelamin

(hypospadia), maka resiko yang akan terulang pada saudara laki-laki kurang lebih 7% - 9% resiko hypospadia. Jika orang tua kandung laki-laki memiliki kelainan kelamin (hypospadia) maka resiko yang akan diturunkan kepada anak kandung laki-laki kurang lebih 12% - 14 %.

Faktor etnik dan geografis.

Di Amerika Serikat angka kejadian hypospadia pada kaukasoid lebih tinggi dari pada orang Afrika, Amerika. Namun hubungan/korelasi antara faktor etnik dan geografis dengan kenaikan insidensi hypospadia belum dapat diketahui secara pasti (Djakovic, et all., 2008).

Faktor hormonal

Faktor hormon androgen/estrogen sangat berpengaruh terhadap kejadian hipospadia karena berpengaruh terhadap proses maskulinisasi masa embrional. Terdapat hipotesis tentang pengaruh estrogen terhadap kejadian hipospadia bahwa estrogen sangat berperan dalam pembentukan genital eksterna laki-laki saat embrional. Perubahan kadar estrogen dapat berasal dari (Djakovic, et all., 2008)

Penugasan Blok Uropoetika (hypospadia), Syaiful RF. FK UII 2010

3

• •

Androgen yaitu perubahan pola makanan yang meningkatkan lemah tubuh. Sintetis seperti oral kontrasepsi Adanya penurunan hormon androgen yang dihasilkan oleh testis dan placenta. karena penurunan

hormon

androgen maka akan menyebabkan penurunan produksi dehidrotestosterone (DHT) yang

dipengaruhi oleh 5 α reduktase, hormon ini berperan dalam pembentukan phallus (penis) sehingga, jika terjadi defisiensi androgen akan menyebabkan kegagalan perkembangan dan pembentukan urethra (hypospadia) (Djakovic, et all., 2008; Hanh, et all., 2006). Secara umum diketahui bahwa genital eksterna laki-laki dipengaruhi oleh estrogen yang dihasilkan testis primitif. Suatu hipotesis mengemukakan bahwa kekurangan estrogen atau terdapatnya antiandrogen akan mempengaruhi pembentukan genitalia ekterna laki-laki (Sadler, 2006; Djakovic, et all., 2008).

Faktor pencemaran limbah industri

Limbah industri berperan sebagai “Endocrin discrupting chemicals” dengan sifat anti-androgenik seperti polychlorobiphenyls, dioxin, furan, peptisida organochlorin, alkilphenol polyethoxsylates dan phtalites (Djakovic, et all., 2008). D. Klasifikasi Klasifikasi hipospadia yang sering digunakan yaitu berdasarkan lokasi meatus yaitu :

Penugasan Blok Uropoetika (hypospadia), Syaiful RF. FK UII 2010

4

Gambar diakses dari www.medicastore.com Browne 1936 membagi hypospadia tiga bagian yang memiliki makna secara klinis untuk mengetahui panjang uretra dan untuk mengetahui seberapa besar tingkat kesulitan dalam penatalaksanaan rekonstruksi bedah (Basuki, 2007) :

Derajad I : OUE (Ostium/Orifisum Uretra Externa) letak pada permukaan ventral glans penis & korona glandis.

Derajat II : OUE (Ostium/Orifisum Uretra Externa) terletak pada permukaan ventral korpus penis.

Derajat III: OUE (Ostium/Orifisum Uretra Externa) terletak pada permukaan ventral skrotum atau perineum.

Gambar diakses dari http://www.ucdmc.ucdavis.edu/urology/downloads/kurzrock_handoutsPDF/Hypospadias_Handout.pdf Secara teori derajat II dan derajat III yang biasanya pada bagian anterior phallus (penis) disertai dengan adanya chordee (pita jaringan fibrosa) yang menyebabkan kurvatura (melengkung) pada saat ereksi. Hypospadia derajat ini akan mengganggu aliran normal urin dan fungsi reproduksi, oleh karena itu perlu dilakukan terapi dengan tindakan operasi bedah (Sylvia, 2005).

Penugasan Blok Uropoetika (hypospadia), Syaiful RF. FK UII 2010

5

E. Manimfestasi Klinis Gejala yang timbul pada kebenyakan penderita hypospadia biasanya datang dengan keluhan kesulitan dalam mengatur aliran air kencing (ketika berkemih). Hypospadia tipe perineal dan penoscrotal menyebabkan penderita harus miksi dalam posisi duduk dan pada orang dewasa akan mengalami gangguan hubungan seksual (Sylvia, 2005). Tanda-tanda klinis hypospadia (Sylvia, 2005; Basuki 2007):
2. Lubang Osteum/orifisium Uretra Externa (OUE) tidak berada di ujung glands penis.

3. Preputium tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung penis.
4. Biasanya jika penis mengalami kurvatura (melengkung) ketika ereksi, maka dapat disimpulkan

adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang membentang hingga ke glans penis.
5. Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glands penis.

Selain terdapat tanda dan gejala klinis diatas dalam beberapa penelitian juga membuktikan bahwa sebagian besar hypospadia mengalami sedikit gangguan psikologis. Roger dan Michel (2005) mengungkapkan bahwa pederita hypospadia memiliki pola pergaulan yang cenderung menutup diri. Faktor psikososial 43% terjadi pada penderita hypospadia. Beberapa sumber menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi psikososial hypospadia pada orang dewasa adalah hubungan antara hypospadia fungsi seksual 10%, namun belum dilakukan survei tentang korelasi antara hypospadia dengan fungsi reproduksi untuk memdapatkan keturunan (Chandra, et all., 2008; Roger, 2005).

Penugasan Blok Uropoetika (hypospadia), Syaiful RF. FK UII 2010

6

F. Diagnosis a. Pemeriksaan Fisik Kelainan hipospadia dapat diketahui segera setelah kelahiran dengan pemeriksaan inspeksi genital pada bayi baru lahir. Selain pada bayi baru lahir diagnosis hypospadia sering dijumpai pada usia anak yang akan disirkumsisi (7-9 tahun). Jika pasien diketahui memiliki kelainan kelamin (hypospadia) maka tindakan sirkumsisi tersebut tidak boleh dilakukan karena hal tersebut merupakan kontra-indikasi tindakan sirkumsisi (Djakovic, et all., 2008; Basuki, 2007; Sylvia, 2005).
b. Pemeriksaan Penunjang

Untuk mengetahui hypospadia

pada masa kehamilan sangat sulit. Berbagai sumber

menyatakan bahwa hypospadia dapat diketahui segera setelah kelahiran dengan inspeksi genital pada bayi baru lahir (Djakovic, et all., 2008; Basuki, 2007; Sylvia, 2005).
G. Penatalaksanaan

Rekonstruksi phallus (penis) pada hypospadia dapat dilakukan sebelum usia belajar (±1,5 bulan - 2 tahun). Terdapat beberapa cara penatalaksanan penbedahan untuk merekonstruksi phallus pada hypospadia (Haxhirexha, at all., 2008; Mohammed, 2006; Djakovic, et all., 2008). Tujuan penatalaksanaan hypospadia yaitu untuk memperbaiki kelainan anatomi phallus, dengan keadaan bentuk phallus yang melengkung (kurvatura) karena pengaruh adanya chordee. Tindakan rekonstruksi hypospadia:
-

Chordectomi : melepas chordae untuk memperbaiki fungsi dan memperbaiki penampilan phallus (penis).

-

Urethroplasty : membuat Osteum Urethra Externa diujung gland penis sehingga pancaran urin dan semen bisa lurus ke depan.

chordectomi dan urethroplasty dilakukan dalam satu waktu operasi yang sama disebut satu tahap, bila dilakukan dalam waktu berbeda disebut dua tahap. Hal yang perlu dipertimbangkan dalam mencapai keberhasilan tindakan oprasi bedah hypospadia (Haxhirexha, et all., 2008; Mohammed, 2006):

Penugasan Blok Uropoetika (hypospadia), Syaiful RF. FK UII 2010

7

1. Usia ideal untuk repair hypospadia yaitu usia 1,5 bulan – 2 tahun (sampai usia belum

sekolah) karena mempertimbangkan faktor psikologis anak terhadap tindakan operasi dan kelainannya itu sendiri, sehingga tahapan repair hypospadia sudah tercapai sebelum anak sekolah.
2. Tipe hypospadia dan besarnya penis dan ada tidaknya chorde. 3. Tiga tipe hypospadia dan besar phallus sangat berpengaruh terhadap-tahapan dan

tehknik operasi. Hal ini akan berpengaruh terhadap keberhasilan operasi, Semakin kecil phallus dan semakin ke proksimal tipe hipospadia semakin sukar tehnik operasinya. Beberapa metode yang telah ditemukan (Mohammed, 2006; Gerard, 2006):
-

Methode Duplay: Untuk merekonstruksi Hypospadia tipe middle. Methode Ombredane: Untuk merekonstruksi Hypospadia tipe Coronal dan tipe distal.

-

Nove-josserand: Untuk

merekonstruksi

Hypospadia

berbagai

tipe

tapi

urethroplasti-nya menggunakan skin graft. Namun karena metode ini memiliki banyak komplikasi seperti stenosis, maka pada saat ini tidak dipergunakan lagi. Pada semua tindakan operasi bedah hypospadia dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
1. Eksisi chordee. Tekhnik untuk tindakan penutupan luka dilakukan dengan menggunakan

preputium yang diambil dari bagian dorsal kulit penis. Tahap pertama ini dilakukan pada usia 1,5 – 2 tahun. eksisi chordee bertujuan untuk meluruskan phallus (penis), akan tetapi meatus masih pada tempatnya yang abnormal (Haxhirexha, et all., 2008; Mohammed, 2006).
2. Uretroplasty yang dikerjakan 6 bulan setelah tahap pertama. Tekhnik reparasi ini dilakukan

oleh dokter bedah plastik adalah tekhnik modifikasi uretra. Kelebihan jaringan preputium ditransfer dari dorsum penis ke permukaan ventral yang berfungsi menutupi uretra baru (Haxhirexha, et all., 2008; Mohammed, 2006).
H. Komplikasi setelah Rekonstruksi OUE (Orifisium Uretrha Externa)

Penugasan Blok Uropoetika (hypospadia), Syaiful RF. FK UII 2010

8

Seiring perkembangan ilmu dan tekhnologi dalam kesehatan. Amilal (2008) melakukan penelitan tentang komplikasi akut pasca opersai hypospadia dengan judul “acute postoperative complications of hypospadias repair”. Dengan metode meta-analisis, disimpulkan bahwa rata-tara 5% komplikasi terjadi tipe distal hypospadia, dan rata-rata 10% komplikasi terjadi pada proksimal hypospadia. Komplikasi yang terjadi setelah rekonstruksi phallus dipengaruhi oleh beberapa Faktor antara lain (Yacobda, et all., 2009): 2. Usia pasien 3. Tipe hipospadia 4. Tahapan operasi yang meliputi ketelitian teknik operasi Komplikasi tersebut meliputi (Haxhirexha, et all., 2008; Mohammed, 2006; Gerard, 2006; Amilal, et all., 2008; Yacobda, et all., 2009):
• • • • •

Perdarahan Infeksi Fistel urethrokutan Striktur urethra, stenosis urethra Divertikel urethra

I. Prognosis

Berdasarkan sumber hypospadia tidak diperoleh informasi tentang prognosis hypospadia.

BAB III

1.1 Lampiran

Penugasan Blok Uropoetika (hypospadia), Syaiful RF. FK UII 2010

9

Gambar diunduh dari www.medicastore.com

Penugasan Blok Uropoetika (hypospadia), Syaiful RF. FK UII 2010

10

Gambar diunduh dari http://www.ucdmc.ucdavis.edu/urology/downloads/kurzrock_handoutsPDF/Hypospadias_Handout.pdf

Gambar diperoleh dari www.Ilmubedahugm.com A : Penis yang Normal B : Hipospadias dengan chorda

BAB IV

1.1 KESIMPULAN

Hypospadia adalah suatu kelainan kelamin akibat penyatuan lipat uretra tidak sempurna dan terdapat mulut uretra yang abnormal di sepangjang permukaan anterior phallus (penis). Hypospadia adalah suatu kelainan congenital yang disebabkan beberapa faktor antara lain: Penugasan Blok Uropoetika (hypospadia), Syaiful RF. FK UII 2010 11

1. Genetik 2. Hormonal 3. Lingkungan dan Etnik 4. Zat kimia dari hasil pencemaran industry Secara morfologi hypospadia dibagi menjadi 5 bagian antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. Glandular hypospadia Subcoronal hypospadia Mediopeneal hypospadia Pene-scrotal hypospadia Perienal hypospadia

Secara klinis hypospadia dibagi menjadi 3 bagian antara lain: 1. 2. 3. Anterior hypospadia Middle hypospadia Posterior hypospadia

Penatalaksanaan hypospadia dilakukan 2 tahap :
-

Chordectomi : melepas chordae untuk memperbaiki fungsi dan memperbaiki penampilan phallus (penis).

-

Urethroplasty : membuat Osteum Urethra Externa diujung gland penis sehingga pancaran urin dan semen bisa lurus ke depan.

Penugasan Blok Uropoetika (hypospadia), Syaiful RF. FK UII 2010

12

Daftar Putaka

Anonim A. 2009. Ilmu Bedah, diakses dari www.ilmubedahugm.com, pada tanggal 28 february 2010 Anonim B. 2007. Mengnal Hipospadia diakes dari www.Medicastore.com, padatanggal 28 February 2010 Penugasan Blok Uropoetika (hypospadia), Syaiful RF. FK UII 2010 13

Awad, Mohamed, M, S. 2006. Urethra Advancement Technique for Repair of Distal Penile Hypospadias : A Revisit, Jurnal diakses dari : www.ijps.org pada tanggal 23 February 2010. Bhat, Amilal, et all. 2008. Acute Postoperative Complication of Hypospadias Repair, Jurnal diakses dari : www.indianjurol.com pada tanggal 23 February 2010. Clayden, graham, lissauer, tom.2002. Illustrated Text Book of Paediatrics.Ed.2. Mosby: London. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2009. Rencana pembangunan jangka panjang bidang kesehatan 2005-2025, Artikel diakses dari http://www.depkes.go.id/ downloads/

newdownloads/rancanganRPJPK_2005-2025.pdf pada tanggal 28 february 2010 Djakovic, et all. 2008. Review Article Hypospadias, Jurnal diakses dari :

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2577154/ pada tanggal 26 February 2010. Dohety, Gerard, M. 2006. Current Surgical Diagnosis & treatment. Mc Graw Hill: United States of Amerika. Haxhirexha, et all. 2008. Stage Repair in Hypospadias, Jurnal diakses dari : www.indianjurol.com pada tanggal 23 February 2010. Lars, Persenden, et all. 2006. Maternal Use of Loratadine During Pregnancy and Risk of Hypospadia in Offspring, Jurnal diakses dari : www.indianjurol.com pada tanggal 26 February 2010. Leung Alexander K,C & Robson William L, M. 2007. Review Hypospadia an Up-date, http://www.nature.com/aja/journal/v9/n1/pdf/aja20073a.pdf pada tanggal 26 february 2010 Nagai Atshusi, et all. 2005. Clinical Result of One-Stage Urethroplasty with Parameatal Foreskin Flap for hypospadia, Jurnal diakses dari : www.libokayama-u.ac.jp/www/actal/ pada tanggal 27 February 2010. Price, Sylvia A & Wilson, Lorraine M. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Ed.6. EGC: Jakarta. Penugasan Blok Uropoetika (hypospadia), Syaiful RF. FK UII 2010 14

Purnomu, Basuki B. 2007. Dasar-dasar Urologi. FK Brawijaya: Malang. Sadler, T, W. 2002. Embriologi Kedokteran Langman. Ed.7. EGC: Jakarta. Sigh, Chandra, et all. 2008. Effect of Hypospadias on Sexual Fungtion an Reproduction, Jurnal diakses dari : www.indianjurol.com pada tanggal 23 February 2010. Sjamsuhidajat, R & Jong Wim De. Buku-Ajar Ilmu Bedah. Ed.2. EGC: Jakarta. Swartz, Mark, H. 2002. Buku Ajar Diagnostik Fisik. EGC: Jakarta. T,T, Hanh, et all. 2005. The Valine Allele of The V89L Polymorplism In The 5α Reductase Gen Confers a Reduce Risk for Hypospadias, Jurnal diakses dari : www.Jcem.endojurnals.org pada tanggal 27 February 2010. Yacobda, et all. 2009. Perbedaan Angka Kejadian fitel Uretrokutan pada Penggunaan Kateter Supra Uretrha dan Supra Pubik dengan Stent setelah Operasi Hypospadia, Jurnal diakses dari : http://www.urologi.or.id/pdf/yacobda0709.pdf pada tanggal 28 February 2010.

Penugasan Blok Uropoetika (hypospadia), Syaiful RF. FK UII 2010

15

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful