Hubungan Higiene dan Sanitasi dengan Total Mikroba pada Jamu Gendong Beras Kencur di RW 006 Ciracas-Jakarta

Timur Tahun 2012

KARYA TULIS ILMIAH “Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Ahli Madya Kesehatan bidang Farmasi”

Disusun Oleh : Tira Setiawati P2.31.39.0.09.056

Jurusan Farmasi POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

i

Pengesahan Karya Tulis Ilmiah
Berjudul Hubungan Higiene dan Sanitasi dengan Total Mikroba pada Jamu Gendong Beras Kencur di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur Tahun 2012

Oleh: Tira Setiawati P2.31.39.0.09.056

Diujikan di hadapan Panitia Penguji KTI Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Jakarta II Pada tanggal: 12 Juli 2012

Jakarta, 12 Juli 2012 Mengetahui: Pembimbing I Ketua Jurusan Farmasi

Khairun Nida, S.Si., M.Biomed., Apt.

Dra. Yusmaniar, M. Biomed., Apt. NIP. 19661203.199303.2.002

Pembimbing II

Adin Hakim Kurniawan, S.Si.,Apt.

Penguji: Dra. Yusmaniar, M. Biomed., Apt. Adin Hakim Kurniawan, S.Si.,Apt. Dra. Tati Suprapti, Apt. : ......................................................... : ......................................................... : .........................................................

ii

Abstrak

Poltekkes Kemenkes Jakarta II Jurusan Farmasi Karya Tulis Ilmiah 2012

Tira Setiawati (NIM : P2.31.39.0.09.056) Hubungan Higiene dan Sanitasi dengan Total Mikroba pada Jamu Gendong Beras Kencur di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur Tahun 2012

x, V Bab, 37 halaman, 2012, 12 tabel, 10 lampiran.

Jamu gendong merupakan salah satu obat tradisional tidak wajib daftar sehingga pembuatannya tidak dikontrol oleh dinas kesehatan setempat oleh karena itu kualitas dan higiene jamu gendong masih sering diragukan. Kualitas jamu gendong tergantung pada higiene dan sanitasi penjual jamu gendong. Higiene dan sanitasi merupakan tingkat kebersihan individu atau pribadi dan lingkungan penjual jamu gendong selama proses pembuatan. Higiene dan sanitasi serta kelayakan suatu produk untuk dikonsumsi dapat dilihat dari nilai Angka Lempeng Total (ALT) produk tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui higiene dan sanitasi penjual jamu gendong, nilai ALT jamu gendong di RW 006 CiracasJakarta Timur dan mengetahui hubungan higiene dan sanitasi dengan nilai ALT yang diperoleh. Jenis penelitian ini adalah eksplanatory research dengan metode survei dan pemeriksaan ALT. Sampel penelitian adalah total populasi sebanyak 11 penjual dan subyek penelitian adalah jamu gendong jenis beras kencur dari masing-masing penjual jamu gendong. Penelitian dilakukan di lingkungan RW 006 Ciracas-Jakarta Timur dan Laboratorium Mikrobiologi Poltekkes Kemenkes Jakarta II. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah higiene dan sanitasi penjual jamu gendong, sedangkan variabel terikat nilai ALT. Higiene dan sanitasi seluruh penjual jamu gendong di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur 54.55% berkatagori cukup dan 45.45% berkatagori kurang. Nilai ALT berkisar antara 6.4 x 104-1.5 x 107. Berdasarkan hasil uji statistik korelasi Spearman rank didapat nilai p sebesar 0,017 < 0,05. Disimpulkan bahwa ada hubungan (korelasi) yang signifikan antara higiene dan sanitasi dengan nilai ALT. Kata Kunci : higiene dan sanitasi, jamu gendong, Angka Lempeng Total (ALT)

Daftar acuan : 18 (1991-2010)

iii

Kata Pengantar

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat, karunia dan hidayahNya penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah berjudul “Hubungan Higiene dan Sanitasi dengan Total Mikroba pada Jamu Gendong Beras Kencur di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur Tahun 2012”. Terselesaikannya penulisan Karya Tulis Ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini izinkan penulis untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Ibu Dra. Yusmaniar, M.Biomed, Apt selaku Ketua Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Jakarta II dan Kepala Laboratorium Mikrobiologi. 2. Bapak Adin Hakim Kurniawan, S.Si., Apt., selaku pembimbing I yang sudah membimbing dan membantu penulis dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini. 3. Ibu Khairun Nida, S.Si, M.Biomed, Apt., selaku pembimbing II yang selalu membimbing dan meluangkan waktunya untuk penulis. 4. Bapak Benbasyar Eliyanoor, S. Farm, Apt., selaku evaluator yang selalu meluangkan waktunya untuk membimbing penulis, memberi masukkan dan mendengarkan keluh kesah penulis hingga Karya Tulis Ilmiah ini selesai. 5. Bapak Surahman, S. Pd, M. Kes., yang telah membantu penulis dalam menggunakan program SPSS dan mengolah data.

iv

6. Kedua orang tuaku tercinta atas dukungan waktu, tenaga, biaya dan segalanya yang telah diberikan sehingga penulis mampu menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini. 7. Adik-adikku tersayang, Femianita Sardi dan Erlitta Trinika Sardi yang telah memberi dukungan, bantuan dan semangat yang luar biasa. 8. Sahabat terbaik yang selalu menemani dan mengisi hari-hari di Politeknik Kesehatan Jakarta II, Yusuf Satrio Nugroho. 9. Teman seperjuangan di Laboratorium Mikrobiologi Septi Aisah yang selalu bersama dari awal hingga akhir penelitian. 10. Teman-teman satu angkatan yang selalu bersemangat untuk lulus bersama. 11. Seluruh dosen di Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta II Jurusan Farmasi atas segala ilmu yang telah diberikan dengan tulus selama ini. 12. Seluruh staf dan karyawan di Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta II Jurusan Farmasi. 13. Berbagai pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Karya Tulis Ilmiah ini tidaklah sempurna, namun penulis berharap agar Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Jakarta, Juli 2012

Penulis

v

Daftar Isi

Halaman Judul..................................................................................................... i Lembar Pengesahan ............................................................................................ ii Kata Pengantar .................................................................................................... iii Abstrak ................................................................................................................ v Daftar Isi.............................................................................................................. vi Daftar Tabel ........................................................................................................ ix Daftar Lampiran .................................................................................................. x Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 3 1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................................... 3 1.3.1 Tujuan umum .................................................................................... 3 1.3.2 Tujuan khusus ................................................................................... 3 1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................... 3 1.4.1 Untuk penulis .................................................................................... 3 1.4.2 Untuk akademik ................................................................................ 3 1.4.3 Untuk masyarakat ............................................................................. 4 Bab II Tinjauan Pustaka 2.1 Jamu.......................................................................................................... 5 2.2 Jamu Gendong .......................................................................................... 5 2.3 Kualitas Jamu Gendong............................................................................ 6 2.4 Jamu Beras Kencur ................................................................................... 9

vi

2.5 Mikroba Pada Jamu Gendong .................................................................. 10 2.6 Angka Lempeng Total (ALT) .................................................................. 11 2.7 Kerangka Konsep ..................................................................................... 15 2.8 Definisi Operasional ................................................................................. 15 2.9 Hipotesis Penelitian .................................................................................. 16 Bab III Metodologi Penelitian 3.1 Desain Penelitian ...................................................................................... 17 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian .................................................................. 17 3.3 Populasi dan Sampel ................................................................................ 17 3.4 Teknik Pengambilan Data ........................................................................ 18 3.5 Teknik Pengambilan Sampel .................................................................... 18 3.6 Instrumen Penelitian ................................................................................. 18 3.7 Prosedur Kerja Penelitian ......................................................................... 19 3.7.1 Persiapan alat dan bahan ................................................................... 19 3.7.2 Pengujian Angka Lempeng Total (ALT).......................................... 20 3.8 Pengolahan dan Analisis Data .................................................................. 21 Bab IV Hasil dan Pembahasan 4.1 Hasil.......................................................................................................... 22 4.1.1 Higiene dan sanitasi penjual jamu gendong di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur ................................................................................................ 22 4.1.2 Nilai Angka Lempeng Total (ALT) jamu gendong yang beredar di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur................................................................ 26 4.1.3 Hubungan antara higiene dan sanitasi dengan nilai Angka Lempeng Total (ALT) ...................................................................................... 27

vii

4.2 Pembahasan .............................................................................................. 28 4.2.1 Higiene dan sanitasi penjual jamu gendong di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur ................................................................................................ 28 4.2.2 Nilai Angka Lempeng Total (ALT) jamu gendong yang beredar di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur................................................................ 31 4.2.3 Hubungan antara higiene dan sanitasi dengan nilai Angka Lempeng Total (ALT) ...................................................................................... 33 Bab V Kesimpulan dan Saran 5.1 Kesimpulan ............................................................................................... 35 5.2 Saran ......................................................................................................... 35 Daftar Pustaka ................................................................................................... 36

viii

Daftar Tabel

Tabel 4.1 Hasil penilaian higiene dan sanitasi ................................................. 22 Tabel 4.2 Higiene mencuci tangan dengan sabun ............................................ 23 Tabel 4.3 Higiene mencuci bahan baku jamu dan mengikat rambut ............... 23 Tabel 4.4 Higiene menggunakan sarung tangan, celemek dan masker ............ 24 Tabel 4.5 Higiene kondisi kesehatan saat mengolah jamu ............................... 24 Tabel 4.6 Higiene dalam hal mengerjakan kegiatan lain saat membuat jamu . 25 Tabel 4.7 Higiene dalam hal langsung mencuci peralatan yang digunakan setelah membuat jamu ...................................................................... 25 Tabel 4.8 Higiene mencuci dan menyeterilkan botol ....................................... 25 Tabel 4.9 Sanitasi menggunakan air mengalir untuk membuat jamu dan mencuci peralatan ........................................................................................... 26 Tabel 4.10 Sanitasi menyediakan tempat sampah di tempat pengolahan jamu . 26 Tabel 4.11 Hasil uji Angka Lempeng Total (ALT)............................................ 27 Tabel 4.12 Hubungan antara higiene dan sanitasi dengan nilai ALT ................ 28

ix

Daftar Lampiran

Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3

Persentase jamu yang palng banyak disukai ............................. 38 Skema prosedur kerja pemeriksaan ALT .................................. 39 Lembar kuisioner higiene dan sanitasi pada penjual jamu gendong di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur tahun 2012 .......................... 40

Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Lampiran 10

Hasil uji ALT dengan pengulangan tiga kali ............................ 43 Sampel jamu gendong dalam botol coklat ................................ 44 Kontrol penelitian...................................................................... 44 Hasil pengamatan Angka Lempeng Total (ALT) ..................... 44 Hasil uji statistik Spearman rank .............................................. 62 Hasil kuisioner masing-masing responden................................ 63 Perhitungan pemakaian bahan...................................................64

x

Bab I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Jamu sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu. Ramuan bahan alam ini merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia yang sudah mempunyai pengetahuan bagaimana memanfaatkan bahan alam untuk

memelihara kesehatan dan kebugaran. Penggunaan bahan alam dilakukan dengan mencoba tumbuhan yang ada di sekitar kemudian dikembangkan dengan mencampur berbagai jenis tumbuhan untuk memberi khasiat yang lebih baik. Pengetahuan tentang ramuan tersebut pada awalnya dirahasiakan, digunakan oleh keluarga dan diwariskan hanya pada keturunan (1). Seiring berjalannya waktu, kebiasaan minum jamu kemudian berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari–hari seperti yang dapat dilihat hingga saat ini yaitu adanya jamu gendong. Jamu gendong dikenal tidak hanya oleh masyarakat dari suku Jawa tetapi juga hampir seluruh masyarakat Indonesia. Jamu gendong dimanfaatkan untuk menjaga dan mengatasi masalah kesehatan secara mandiri. Masyarakat masih menyukai jamu gendong di era modern ini karena khasiat yang dirasakan dan mudah didapat. Cara pembuatan yang mudah dengan bahan yang tersedia di pasar tradisional atau pun dari kebun sendiri membuat jamu gendong menjadi jamu yang bisa dibuat oleh siapa saja (2). Bahan jamu gendong berasal dari tanaman berkhasiat yang hidup di tanah. Tanah banyak mengandung bakteri enterik yang umumnya mengandung toksin dan bila dikonsumsi dapat menyebabkan penyakit sehingga dalam proses

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

1

pengolahannya harus benar-benar memperhatikan kebersihan. Pembuatan jamu gendong dilakukan secara tradisional. Bagian tanaman yang digunakan direndam dengan air, ditumbuk, ditambah air secukupnya dan disaring lalu dimasukkan ke dalam botol. Dalam setiap tahapan proses tersebut tidak menutup kemungkinan apabila jamu gendong tercemar oleh mikroorganisme (3). Perilaku penjual jamu gendong dalam mengolah jamu gendong masih kurang memperhatikan faktor higiene, sebagai indikatornya adalah adanya cemaran mikroba pada jamu gendong berdasarkan temuan Karinda D.H (2004) tentang “Deteksi Eschericihia coli Dalam Jamu Gendong di 10 Pasar Kota Semarang” dinyatakan bahwa dari 40 sampel jamu gendong yang diperiksa 22 sampel terkontaminasi bakteri Eschericihia coli, 4 sampel tidak terkontaminasi dan 14 sampel terkontaminasi bakteri lain. Dari 14 sampel tersebut 12 sampel diketahui terkontaminasi Salmonella dan 2 sampel terkontaminasi Pseudomonas aeroginosa
(4)

. Jamu gendong merupakan produk obat tradisional yang tidak wajib daftar

sehingga pembuatannya tidak dikontrol oleh dinas kesehatan setempat oleh karena itu kualitas dan higiene jamu gendong masih sering diragukan (3). RW 006 Ciracas-Jakarta Timur merupakan wilayah yang cukup luas terdiri dari 19 RT. Wilayah tersebut memiliki jumlah penjual jamu gendong yang cukup banyak yaitu 11 orang. Jumlah penjual jamu yang ada dapat menggambarkan bahwa warga RW 006 masih mempercayai jamu gendong sebagai minuman sehat yang baik untuk dikonsumsi sehari-hari. Penelitian mengenai jamu gendong khususnya di wilayah RW 006 Ciracas-Jakarta Timur belum pernah dilakukan sehingga dirasa perlu dilakukan penelitian untuk melihat bagaimana higiene dan sanitasi penjual jamu gendong di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur.

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

2

1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana higiene dan sanitasi penjual jamu gendong di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur?

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan umum Mengetahui gambaran higiene dan sanitasi penjual jamu gendong di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur. 1.3.2 Tujuan khusus 1. Mengetahui higiene dan sanitasi penjual jamu gendong di RW 006 CiracasJakarta Timur. 2. Mengetahui nilai Angka Lempeng Total (ALT) jamu gendong yang beredar di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur. 3. Mengetahui hubungan antara higiene dan sanitasi dengan nilai ALT yang diperoleh.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Untuk penulis 1. Mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh selama masa perkuliahan. 2. Menambah pengetahuan penulis dalam hal higiene dan sanitasi penjual jamu gendong. 1.4.2 Untuk akademik 1. Sebagai bahan tambahan kepustakaan, khususnya dalam bidang survei penelitian.

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

3

2. Sebagai referensi untuk melakukan penelitian lebih lanjut. 1.4.3 Untuk masyarakat Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengolah dan mengkonsumsi jamu yang sehat, bersih dan aman.

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

4

Bab II Tinjauan Pustaka

2.1 Jamu Berdasarkan pasal 1 Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia nomor HK.00.05.41.1384 Tahun 2005 tentang Kriteria dan Tata Laksana Pendaftaran Obat Tradisional, Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka bahwa yang dimaksud dengan jamu adalah obat tradisional Indonesia. Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman (5).

2.2 Jamu Gendong Menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor

246/Menkes/Per/V/1990 tentang izin usaha industri obat tradisional yang dimaksud dengan jamu gendong adalah usaha peracikan, pencampuran, pengolahan dan pengedaran obat tradisional dalam bentuk cairan, pilis, tapel, atau parem, tanpa penandaan dan atau merek dagang serta dijajakan untuk langsung digunakan (6). Dalam buku berjudul “Menguak Tabir dan Potensi Jamu Gendong” yang ditulis oleh Suharmiati (2003), dinyatakan bahwa pada dasarnya jamu gendong adalah obat tradisional yang didasarkan pada pengalaman secara turun temurun, baik secara lisan maupun tertulis. Resep yang digunakan tidak secara khusus

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

5

dipelajari tetapi hanya berdasarkan pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan nenek moyang. Sebagian masyarakat menganggap jamu gendong sebagai jamu sehat, sehingga pemanfaatannya tidak terbatas dalam arti tidak mengenal usia, jenis kelamin dan kondisi kesehatan. Berdasarkan kenyataan tersebut, sampai saat ini jamu gendong oleh masyarakat digunakan untuk menjaga kesehatan, penyegar badan dan perawatan tubuh (7). Jamu gendong tidak memerlukan izin produksi namun tetap harus memenuhi standar yang dibutuhkan yaitu jenis tanaman, kebersihan bahan baku, peralatan yang digunakan, pengemas dan personalia yang terlibat dalam pembuatan obat tradisional (8).

2.3 Kualitas Jamu Gendong Banyak hal yang perlu diperhatikan dalam mengolah jamu gendong mulai dari memilih bahan baku, membersihkan, menakar, melumatkan, menyaring dan memasukkan ke wadah setelah jamu gendong siap. Setiap tahapan proses tersebut berisiko terhadap terjadinya pencemaran mikrobiologi. Dalam buku Suharmiati (2003) hal-hal yang perlu diperhatikan dalam persiapan, pengolahan dan penggunaan yaitu (7): 1. Bahan baku Bahan baku yang digunakan adalah bahan yang masih segar (tidak rusak, tidak busuk atau tidak berjamur) dan dicuci sebelum digunakan. Dapat pula menggunakan bahan yang sudah dikeringkan dengan memilih bahan yang tidak berjamur, tidak dimakan serangga dan sebelum digunakan dicuci dahulu. Pembuat jamu gendong harus dapat mengidentifikasi bahan baku agar

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

6

tidak tertukar dengan bahan yang mirip atau tercampur dengan bahan lain. Penanganan bahan baku meliputi pemilihan bahan baku (sortasi), pencucian dan penyimpanan jika diperlukan. Sortasi dilakukan untuk membuang bahan lain yang tidak berguna seperti rumput, kotoran binatang dan bahan-bahan yang telah membusuk yang dapat mempengaruhi mutu jamu gendong. Bahan baku sebelum digunakan harus dicuci dengan air dari sumber yang bersih agar terbebas dari tanah dan kotoran. 2. Air Kualitas air yang digunakan untuk mencuci dan membuat jamu gendong harus diperhatikan karena air merupakan bahan baku utama selain tanaman berkhasiat. Air yang digunakan untuk membuat ramuan adalah air bersih, matang dan masak. Sesuai dengan ketentuan badan dunia (WHO) maupun badan setempat (Departemen Kesehatan) serta ketentuan/ peraturan laun yang berlaku seperti APHA (American Public Health Association atau Asosiassi Kesehatan Masyarakat AS), layak tidaknya air untuk kehidupan manusia ditentukan berdasarkan persyaratan kualitas secara fisik, secara kimia dan secara biologis. Parameter fisik yang harus dipenuhi pada air minum yaitu harus jernih, tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna. Suhunya sebaiknya sejuk dan tidak panas. Dari aspek kimiawi, bahan air minum tidak boleh mengandung partikel terlarut dalam jumlah tinggi serta logam berat (Hg, Ni, Pb, Zn dan Ag) atau zat beracun seperti senyawa hidrokarbon dan detergen. Dari parameter mikrobiologi tidak boleh ditemui adanya bakteri patogen (Escherichia colli, Clostridium perfringens dan Salmonella). Kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) air minum golongan B

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

7

maksimum adalah 12 mg/l. COD adalah suatu uji yang menentukan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bahan oksidan untuk mengoksidasi bahanbahan organik yang terdapat dalam air. Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) dalam air bersih maksimum adalah 6 mg/l. BOD adalah jumlah zat terlarut yang dibutuhkan oleh organisme hidup untuk memecah bahan-bahan buangan di dalam air (9). 3. Peralatan Alat yang digunakan untuk merebus obat tradisional sebaiknya panci yang dilapisi email atau periuk (kuali) dari tanah liat. Hal yang perlu diperhatikan mengenai wadah dan peralatan untuk pembuatan jamu gendong adalah peralatan harus dibersihkan dahulu sebelum digunakan, peralatan yang terbuat dari kayu (misalnya telenan, sendok/pengaduk dan lain-lain) atau yang terbuat dari tanah liat atau batu (misalnya ulek-ulek dan lumpang) harus dicuci dengan sabun. Botol yang digunakan untuk tempat jamu yang siap dipasarkan, sebelum diisi dengan jamu harus disterilkan terlebih dahulu dengan direndam dan dicuci menggunakan sabun baik bagian dalam maupun luarnya. Setelah dibilas sampai bersih dan tidak berbau, botol ditiriskan sampai kering, selanjutnya botol direbus dengan air mendidih selama kurang lebih 20 menit. 4. Pengolahan Sebelum mengolah jamu harus mencuci tangan terlebih dahulu, menyiapkan bahan baku yang telah dipilih dan meletakkan ramuan di tempat yang bersih. Cara pembuatan ramuan tradisional dapat digunakan dengan beberapa cara yaitu bahan direbus dengan air, bahan ditumbuk dalam bentuk segar dan

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

8

diperas airnya, bahan ditumbuk dalam bentuk kering, bahan diparut kemudian diperas dan bahan diekstrak dibuat serbuk kemudian diseduh dengan air. Untuk daya tahan ramuan yang dibuat dengan cara direbus harus segera digunakan. Ramuan tersebut dapat disimpan selama 24 jam dan setelah melewati waktu tersebut sebaiknya dibuang karena dapat tercampur kuman atau kotoran dari udara atau lingkungan sekitar. Ramuan yang dibuat dengan perasan tanpa direbus hanya dapat disimpan selama 12 jam. 5. Higiene perorangan Pengetahuan higiene perorangan penjual jamu gendong terkait dengan perilaku pengolahan jamu gendong yang terdiri dari beberapa aspek antara lain pemeliharaan rambut, pemeliharaan kulit, pemeliharaan tangan (kebiasaan mencuci tangan dan pemeliharaan kuku) dan pemeliharaan kulit muka.

2.4 Jamu Beras Kencur Jamu beras kencur mempunyai khasiat menghilangkan pegal-pegal pada tubuh dan meningkatkan nafsu makan. Bahan pokok yang digunakan adalah beras dan kencur. Untuk rasa dan aroma yang berbeda dapat ditambahkan bahan lain seperti biji kedawung, rimpang jahe, biji kapulaga, buah asam, kunci, kayu manis, kunir, jeruk nipis, kayu keningar dan buah pala. Untuk pemanis dapat digunakan gula merah dicampur gula putih atau gula batu. Cara pengolahannya yaitu mula-mula beras disangrai kemudian ditumbuk sampai halus. Kencur dan bahan lain yang ingin ditambahkan diparut atau diblender. Sementara itu asam jawa dan gula merah direbus sampai mendidih kemudian disaring dan dinginkan. Beras dan

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

9

kencur yang sudah halus lalu dicampur, diperas, disaring dan ditambahkan air matang sedikit demi sedikit. Terakhir ditambahkan air asam jawa dan gula sambil diaduk-aduk (10).

2.5 Mikroba Pada Jamu Gendong Cemaran mikroba pada jamu dapat berupa bakteri dan jamur. Pencemaran tersebut dapat berasal dari bahan baku yang digunakan, proses pembuatan dan cara penyajian. Mikroba pada obat tradisional (jamu) meliputi mikroorganisme indikator (ketinggian Angka Lempeng Total bakteri aerob mesofilik), bakteri golongan Coliform dan Escherichia coli, bakteri patogen (Salmonella, Staphylococcus aureus dan Clostridium) dan golongan jamur penghasil toksin seperti Aspergillus flavus (8). Jumlah bakteri aerob mesofil dapat menjadi indikator bagi mutu mikrobiologi makanan. Jumlah yang tinggi dari bakteri tersebut seringkali sebagai petunjuk bahan baku yang tercemar, sanitasi yang tidak memadai, kondisi (waktu dan atau suhu) yang tidak terkontrol selama proses produksi atau selama penyimpanan ataupun kombinasi dari berbagai kondisi tersebut (11). Keberadaan mikroorganisme yang pada umumnya mikroorganisme pencemar dapat menimbulkan kerugian. Kelompok mikroba seperti bakteri, jamur dan ragi (yang masih termasuk jamur) merupakan penyebab kerugian pada bahan makanan atau minuman oleh karena itu diusahakan tidak dikenai atau ditumbuhi mikroba tersebut mulai dari bahan baku, selama proses, pengolahan dan penyimpanan (8).

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

10

2.6 Angka Lempeng Total (ALT) Uji Angka Lempeng Total (ALT) merupakan metode kuantitatif yang digunakan untuk mengetahui jumlah mikroba pada suatu sampel. ALT aerob mesofil atau anaerob mesofil menggunakan media padat dengan hasil akhir berupa koloni yang dapat diamati secara visual dan dihitung, intepretasi hasil berupa angka dalam koloni (cfu) per ml/g. Cara yang digunakan antara lain dengan cara tuang, cara tetes dan cara sebar (11). Prinsip metode ini adalah jika sel mikroba yang masih hidup ditumbuhkan pada medium agar, maka sel mikroba tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop (8). Sampel dari bahan atau produk yang sudah dihomogenisasikan diinokulasi ke dalam atau permukaan media agar. Setelah diinkubasi, koloni mikroba yang tumbuh dihitung sebagai jumlah mikoba. Proses inokulasi sampel ke media agar dapat dilakukan dengan cara penuangan, penyebaran dan penetesan. Cara yang digunakan dalam penelitian ini adalah cara penuangan, 1 ml sampel dipindahkan ke dasar cawan petri dan 15-20 ml media agar cair dituangkan di atasnya. Untuk mencegah kematian mikroba sampel, suhu media agar cair yang dituangkan berkisar 45-50oC. Bila suhunya terlalu rendah akan menyulitkan karena sudah mulai mengental. Selanjutnya cawan digeserkan di permukaan meja dengan membentuk pola angka delapan agar sampel tersebar merata di seluruh media agar. Inkubasikan cawan di dalam inkubator. Metode ini paling peka karena mampu menghitung mikroba sampai kepadatan 20 sel/ml namun metode ini kurang praktis digunakan di lapangan karena membutuhkan peralatan untuk mencairkan media agar (12).

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

11

Metode ini merupakan cara yang paling sensitif untuk menghitung jumlah kuman dengan alasan sebagai berikut (12): 1. 2. 3. Hanya sel yang masih hidup yang dapat dihitung. Beberapa jenis mikroba dapat dihitung sekaligus. Dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi mikroba karena koloni yang terbentuk mungkin berasal dari satu sel dengan penampakan pertumbuhan yang spesifik. Selain keuntungan tersebut metode ini juga mempunyai kelemahan antara lain
(12)

: Hasil hitungan tidak menunjukkan jumlah sel yang sebenarnya karena beberapa sel yang berdekatan mungkin membentuk satu koloni.

1.

2.

Medium dan kondisi yang berbeda mungkin menghasilkan nilai yang berbeda.

3.

Mikroba yang ditumbuhkan harus dapat tumbuh pada medium padat dan membentuk koloni kompak dan jelas, tidak menyebar.

4.

Memerlukan persiapan dan waktu inkubasi beberapa hari sehingga pertumbuhan koloni dapat dihitung. Untuk melaporkan hasil, digunakan standar yang disebut “Standart Plate

Count” yang menjelaskan mengenai cara menghitung koloni. Cara menghitung koloni pada tiap-tiap cawan petri sebagai berikut (13): 1. Cawan yang dipilih dan dihitung adalah cawan yang mengandung jumlah koloni antara 30-300.

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

12

2.

Beberapa koloni yang bergabung menjadi satu merupakan suatu kumpulan koloni yang besar dimana jumlah koloni diragukan, dapat dihitung sebagai satu koloni.

3.

Suatu deretan (rantai) koloni yang terlihat sebagai suatu garis tebal dihitung sebagai satu koloni. Hasil pengamatan dan perhitungan yang diperoleh dinyatakan sesuai

persyaratan berikut (14): 1. Dipilih cawan petri dari satu pengenceran yang menunjukkan jumlah koloni antara 30-300. Jumlah koloni rata-rata dari kedua cawan dihitung lalu dikalikan dengan faktor pengencerannya. Hasil dinyatakan sebagai Angka Lempeng Total (ALT) dari tiap gram atau tiap ml sampel. 2. Bila salah satu dari cawan petri yang menunjukkan jumlah koloni kurang dari 30 atau lebih dari 300, dihitung jumlah rata-rata koloni, kemudian dikalikan faktor pengencerannya. Hasil dinyatakan sebagai Angka Lempeng Total (ALT) dari tiap gram atau tiap ml sampel. 3. Jika terdapat cawan-cawan dari dua tingkat pengenceran yang berurutan menunjukkan jumlah koloni antara 30-300, maka dihitung jumlah koloni dari masing-masing tingkat pengenceran, kemudian dikalikan dengan faktor pengencerannya. Apabila hasil perhitungan pada tingkat yang lebih tinggi diperoleh jumlah koloni rata-rata lebih besar dari dua kali jumlah koloni ratarata pengenceran dibawahnya, maka ALT dipilih dari tingkat pengenceran yang lebih rendah. Bila hasil perhitungan pada tingkat pengenceran lebih tinggi diperoleh jumlah koloni rata-rata kurang dari dua kali jumlah rata-rata

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

13

pada penenceran dibawahnya maka ALT dihitung dari rata-rata jumlah koloni kedua tingkat pengenceran tersebut. 4. Bila tidak ada satupun koloni dari cawan maka ALT dinyatakan sebagai < 1 dikalikan faktor pengenceran terendah. 5. Jika seluruh cawan menunjukkan jumlah koloni lebih dari 300, dipilih cawan dari tingkat pengenceran tertinggi kemudian dibagi menjadi beberapa sektor (2, 4 dan 8) dan dihitung jumlah koloni dari satu sektor. ALT adalah jumlah koloni dikalikan dengan jumlah sektor, kemudian dihitung rata-rata dari kedua cawan dan dikalikan dengan faktor pengencerannya. 6. Jumlah koloni rata-rata dari 1/8 bagian cawan lebih dari 200, maka ALT dinyatakan lebih besar dari 200 x 8 dikalikan faktor pengenceran. 7. Perhitungan dan pencatatan hasil ALT hanya ditulis dalam dua angka. Angka berikutnya dibulatkan ke bawah bila kurang dari 5 dan dibulatkan ke atas apabila lebih dari 5. 8. Jika dijumpai koloni spreader meliputi seperempat sampai setengah bagian cawan , maka dihitung koloni yang tumbuh di luar daerah spreader. Jika 75 % dari seluruh cawan mempunyai koloni spreader seperti diatas, maka dicatat sebagai “spr”. Untuk keadaan ini harus dicari penyebabnya dan diperbaiki cara kerjanya (pengujian diulang). Jika dijumpai koloni spreader tipe rantai maka tiap 1 deret koloni yang terpisah dihitung sebagai 1 koloni dan bila dalam kelompok spreader terdiri dari beberapa rantai, maka tiap rantai dihitung sebagai 1 koloni.

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

14

2.7 Kerangka Konsep Higiene dan sanitasi penjual jamu gendong: 1. Baik 2. Cukup 3. Kurang Jamu beras kencur Nilai ALT

Variabel Dependen Variabel Independen

1. Survei (kuisioner) 2. Pengujian mikroba (ALT)

2.8 Definisi Operasional Definisi Operasional Skala ukur

No Variabel Variabel Independen

Cara ukur

Hasil ukur

1.

Higiene dan sanitasi penjual jamu gendong

Tingkat kebersihan individu/pribadi dan lingkungan penjual jamu gendong selama proses pembuatan

Kuisioner

1. Baik bila nilai kuisioner 36-32 2. Cukup bila nilai Ordinal kuisioner 31-25 3. Kurang bila nilai kuisioner 24-18

Variabel Dependen Angka yang menunjukkan banyaknya total bakteri yang terdapat pada sampel jamu gendong

2.

Nilai ALT

Uji ALT

koloni (cfu)/ml

Ratio

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

15

2.9 Hipotesis Penelitian Ada hubungan (korelasi) antara higiene dan sanitasi dengan nilai Angka Lempeng Total (ALT).

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

16

Bab III Metodologi Penelitian

3.1 Desain Penelitian Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian bersifat eksplanatory research yaitu menjelaskan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat melalui pengujian hipotesis. Metode yang digunakan adalah survei dan pemeriksaan laboratorium Angka Lempeng Total (ALT).

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian survei dilakukan di wilayah RW 006 Ciracas-Jakarta Timur dan penelitian Angka Lempeng Total (ALT) dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Politeknik Kesehatan Jakarta II Jurusan Farmasi tanggal 7 sampai 16 Mei 2012.

3.3 Populasi dan Sampel Jumlah keseluruhan penjual jamu gendong di RW 006 sebanyak 11 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah total populasi (total sampling) penjual jamu gendong di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur. Diambil sebanyak 1 sampel jamu dari masing-masing penjual, dipilih jamu yang paling banyak disukai berdasarkan survei yaitu jenis beras kencur. Sampel diambil pada pagi hari pukul 05.00 W.I.B saat jamu sudah dibawa berkeliling. Kriteria sampel adalah jamu gendong jenis beras kencur cair, tanpa nomor registrasi, racikan sendiri, menggunakan kemasan botol plastik atau kaca dan dibawa berkeliling dengan digendong, menggunakan

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

17

sepeda, sepeda motor atau gerobak dorong. Wilayah tempat pengambilan sampel yaitu wilayah RW 006 Ciracas-Jakarta Timur.

3.4 Teknik Pengambilan Data Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data primer. Data ini didapat dari hasil survei dan pemeriksaan laboratorium berupa total mikroba dari masingmasing sampel. Adapun penelitian ini dilakukan sebanyak triplo. Untuk data survei diperoleh dari hasil kuisioner.

3.5 Teknik Pengambilan Sampel 1. Menyiapkan wadah/tempat botol kaca coklat yang sudah disterilisasi untuk membawa sampel. 2. Sampel diambil secukupnya (± 50 ml) dan dimasukkan ke dalam botol kaca steril berwarna cokelat. Pada hari pertama diambil sebanyak 6 sampel dari 6 penjual jamu gendong dan pada hari kedua 5 sampel dari 5 penjual jamu gendong. Hal yang sama juga dilakukan pada saat pengulangan.

3.6 Instrumen Penelitian Dalam pengumpulan data maka instrumen yang dipakai yaitu: 1. Kuisioner dengan format check list. 2. Peralatan untuk pengambilan sampel terdiri dari botol kaca steril berwarna coklat yang masih disumbat kapas (sudah disterilisasi) dan tutup botol yang sudah disterilisasi.

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

18

3. Peralatan, bahan dan media untuk pemeriksaan di Laboratorium Mikrobiologi yaitu: 1. Alat Tabung reaksi, rak tabung reaksi, petri dish, inkubator, oven (Memmert), autoklaf (Tomy), pipet, pinset, batang pengaduk, timbangan digital

(Sartorius), gelas ukur, beaker glass, erlenmeyer, lampu spirtus, kompor listrik, botol kaca coklat kedap cahaya ukuran 100 ml dan wadah plastik. 2. Bahan dan media Pepton Dilution Fluid (PDF) Merck, Plate Count Agar (PCA) Merck, sampel jamu beras kencur, aqua destillata, alkohol 70 %, kapas steril, spirtus bakar, korek api dan tissue.

3.7 Prosedur Kerja Penelitian 3.7.1 Persiapan alat dan bahan Tempat kerja dan alat–alat yang digunakan didesinfeksi sesuai prosedur masing-masing, kemudian wadah tempat sampel (alat-alat gelas) disterilisasi dalam oven pada suhu 150o-170oC selama 1 jam. Sampel yang diambil diletakkan pada wadah steril dan tertutup rapat, diusahakan kontaminasi seminimal mungkin. Persiapkan media yang akan digunakan dengan cara ditimbang seksama media PDF dan PCA sesuai dengan perhitungan yang telah direncanakan kemudian dilarutkan dengan aquadest dan disterilisasi menggunakan autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit.

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

19

3.7.2

Pengujian Angka Lempeng Total (ALT)

Sampel cair dikocok terlebih dahulu kemudian sebanyak 10 ml dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer steril. Dituangkan 90 ml PDF yang sudah disterilisasi ke dalam wadah lalu dikocok sebanyak kurang lebih 25 kali hingga homogen. Sampel dengan pengenceran 10-1 siap untuk digunakan. Disiapkan 5 tabung reaksi steril untuk pengenceran sampel dan 1 tabung reaksi untuk kontrol, diberi tanda lalu disusun pada rak tabung kemudian masingmasing tabung diisi dengan 9 ml PDF steril. Sampel dengan pengenceran 10-1 dikocok kembali hingga homogen. Dipindahkan 1 ml sampel dari pengenceran 10-1 ke dalam tabung pertama, dikocok hingga homogen sehingga didapat sampel dengan pengenceran 10-2. Dari pengenceran 10-2 diambil 1 ml dan dimasukkan ke dalam tabung ke dua, dikocok hingga homogen sehingga didapat pengenceran 10-3. Demikian seterusnya hingga pengenceran 10-6. Untuk blanko tidak diberi perlakuan apa-apa. Tabung reaksi hanya berisi 9 ml PDF steril. Disiapkan 12 petri dish untuk pengujian dan 1 petri dish untuk kontrol kemudian tiap petri dish diberi tanda. Diambil 1 ml sampel dimulai dari tabung reaksi dengan pengenceran 10-6 kemudian dimasukkan ke dalam petri dish yang sesuai dengan kode pengencerannya dan dibuat duplo. Masing-masing petri dish dituang PCA cair (suhu ± 45oC) sebanyak 15-20 ml, digoyang-goyangkan perlahan hingga tercampur merata, dibiarkan hingga dingin dan membeku. Dilakukan hal yang sama hingga pengenceran 10-1. Untuk kontrol dipipet 1 ml PDF dari tabung reaksi kontrol dan dimasukkan ke dalam petri dish untuk kontrol kemudian dituang PCA cair (suhu ± 45oC) sebanyak 15-20 ml, digoyang-

goyangkan perlahan hingga tercampur merata, dibiarkan hingga dingin dan

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

20

membeku. Setelah itu semua petri dish diinkubasi pada suhu 35-37oC selama 2448 jam. Pembacaan dilakukan setelah 24-48 jam dengan cara menghitung jumlah koloni yang tumbuh pada tiap petri dish. Perhitungan dilakukan dengan cara dipilih petri dish dari satu pengenceran yang menunjukkan jumlah koloni 30-300. Jumlah koloni rata-rata dari kedua petri dish dihitung lalu dikalikan dengan faktor pengenceran. Hasil dinyatakan sebagai Angka Lempeng Total (ALT) dalam tiap 1 ml sampel (15).

3.8 Pengolahan dan Analisis Data Data yang telah terkumpul diolah dan dianalisis dengan menggunakan program komputer (SPSS software for windows version 17.0 ). 1. Analisis univariat: memberikan gambaran atau deskripsi terhadap higiene dan sanitasi pada jamu gendong di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur. Analisis bivariat: melihat ada tidaknya hubungan antara variabel bebas (higiene dan sanitasi) dengan variabel terikat (hasil ALT). Analisis bivariat menggunakan uji Spearman rank dengan α=0.05.

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

21

Bab IV Hasil dan Pembahasan

4.1 Hasil Penelitian telah dilakukan di lapangan yaitu lingkungan RW 006 CiracasJakarta Timur dengan menggunakan metode survei dan di Laboratorium Mikrobiologi Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta II dengan metode Angka Lempeng Total (ALT) terhadap jamu gendong jenis beras kencur. Hasil dari penelitian yang dilakukan sebagai berikut. 4.1.1 Higiene dan sanitasi penjual jamu gendong di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur Penilaian higiene dan sanitasi dalam penelitian ini dilakukan menggunakan kuisioner berisi 12 pertanyaan dengan format check list yang terdiri atas 10 pertanyaan mengenai higiene dan 2 pertanyaan mengenai sanitasi. Selain itu disiapkan pula 12 pertanyaan terbuka dan 6 hal yang diobservasi sebagai data pendukung dari 12 pertanyaan check list. Adapun gambaran higiene dan sanitasi penjual jamu gendong di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur dapat dilihat pada tabel 4.1. Tabel 4.1 Hasil penilaian higiene dan sanitasi

Katagori Baik Cukup Kurang Total

Jumlah responden 0 6 5 11

%tase 0% 54,55% 45,45% 100%

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

22

Higiene dan sanitasi dinilai berdasarkan pengkatagorian dengan skor 36-32 katagori baik, skor 31-25 katagori cukup dan skor 24-18 katagori kurang. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa 54.55% (6 responden) menunjukkan higiene dan sanitasi berkatagori cukup dalam pembuatan jamu gendong sedangkan 45.45% (5 responden) menunjukkan higiene dan sanitasi berkatagori kurang. Hasil persentase dari masing-masing pertanyaan yang diajukan pada lembar check list sebagai berikut: 1. Higiene dalam hal mencuci tangan menggunakan sabun diperoleh gambaran bahwa responden sebanyak 1 orang yaitu 9,09% menjawab selalu, 6 orang 54,54% menjawab kadang-kadang dan sebanyak 4 orang yaitu 36,36% menjawab tidak pernah mencuci tangan dengan sabun. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.2. Tabel 4.2 Higiene mencuci tangan dengan sabun Jenis jawaban Responden yang menjawab Persentase Selalu 1 9,09% Kadangkadang 6 54,54% Tidak pernah 4 36,36% Total 11 100%

2.

Higiene dalam hal mencuci bahan baku jamu dan mengikat rambut pada saat mengolah jamu 100% responden menjawab selalu melakukan hal tersebut, seperti yang ditampilkan pada tabel 4.3. Tabel 4.3 Higiene mencuci bahan baku jamu dan mengikat rambut saat mengolah jamu Jenis jawaban Responden yang menjawab Persentase Selalu 11 100% Kadangkadang 0 0% Tidak pernah 0 0% Total 11 100%

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

23

3.

Higiene dalam hal menggunakan sarung tangan, celemek dan masker pada saat mengolah jamu 100% responden menjawab tidak pernah menggunakan perlengkapan tersebut. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.4 di bawah ini. Tabel 4.4 Higiene menggunakan sarung tangan, celemek dan masker Jenis jawaban Responden yang menjawab Persentase Selalu 0 0% Kadangkadang 0 0% Tidak pernah 11 100% Total 11 100%

4.

Higiene dalam hal kondisi kesehatan saat mengolah jamu seperti batuk, pilek dan diare 3 responden 27,27% menjawab selalu yang berarti responden tetep mengolah jamu saat menderita penyakit tersebut, 7 responden 63,63% menjawab kadang-kadang dan 1 responden 9,09% menjawab tidak pernah mengolah jamu saat menderita penyakit tersebut, seperti yang tersaji pada tabel 4.5. Tabel 4.5 Higiene kondisi kesehatan saat mengolah jamu Jenis jawaban Responden yang menjawab Persentase Selalu 3 27,27% Kadangkadang 7 63,63% Tidak pernah 1 9,09% Total 11 100%

5.

Higiene dalam hal mengerjakan kegiatan lain saat membuat jamu seluruh responden 100% menjawab kadang-kadang, terdapat pada tabel 4.6.

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

24

Tabel 4.6 Higiene dalam hal mengerjakan kegiatan lain saat membuat jamu Jenis jawaban Responden yang menjawab Persentase Selalu 0 0% Kadangkadang 11 100% Tidak pernah Total 0 0% 11 100%

6.

Higiene dalam hal langsung mencuci peralatan yang digunakan setelah membuat jamu 2 responden yaitu 18,18% menjawab selalu, 6 responden 54,54% menjawab kadang-kadang dan 3 responden 27,27% menjawab tidak pernah langsung mencuci peralatan setelah membuat jamu, dapat dilihat di tabel 4.7. Tabel 4.7 Higiene dalam hal langsung mencuci peralatan yang digunakan setelah membuat jamu Jenis jawaban Responden yang menjawab Persentase Selalu 2 18,18% Kadangkadang 6 54,54% Tidak pernah Total 3 27,27% 11 100%

7.

Higiene dalam hal mencuci dan menyeterilkan botol untuk menyimpan jamu 7 responden 63,63% menjawab selalu dan 4 responden 36,36% menjawab kadang-kadang, seperti yang tersaji dalam tabel 4.8. Tabel 4.8 Higiene mencuci dan menyeterilkan botol Jenis jawaban Responden yang menjawab Persentase Selalu 7 63,63% Kadangkadang 4 36,36% Tidak pernah 0 0% Total 11 100%

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

25

8.

Sanitasi dalam hal menggunakan air mengalir untuk membuat jamu dan mencuci peralatan 9 responden 81,81% menjawab selalu dan 2 responden 18,18% menjawab kadang-kadang, selanjutnya dapat dilihat di tabel 4.9. Tabel 4.9 Sanitasi menggunakan air mengalir untuk membuat jamu dan mencuci peralatan Jenis jawaban Responden yang menjawab Persentase Selalu 9 Kadangkadang 2 Tidak pernah 0 0% Total 11 100%

81,81% 18,18%

9.

Sanitasi dalam hal menyediakan tempat sampah di tempat pengolahan jamu sebanyak 10 responden 90,90% menjawab selalu dan 1 responden 9,09% menjawab kadang-kadang, seperti yang tersaji pada tabel 4.10. Tabel 4.10 Sanitasi menyediakan tempat sampah di tempat pengolahan jamu Jenis jawaban Responden yang menjawab Persentase Selalu 10 90,90% Kadangkadang 1 9,09% Tidak pernah 0 0% Total 11 100%

4.1.2 Nilai Angka Lempeng Total (ALT) jamu gendong yang beredar di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur Penelitian terhadap Angka Lempeng Total (ALT) pada jamu gendong jenis beras kencur dilakukan sebanyak tiga kali. Hasil pengamatan terhadap Angka Lempeng Total (ALT) jamu gendong jenis beras kencur di RW 006 CiracasJakarta Timur disajikan pada tabel 4.11 di bawah ini.

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

26

Tabel 4.11 Hasil uji Angka Lempeng Total (ALT) Sampel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Nilai ALT rata-rata 1.8 x 105 7.5 x 105 1.5 x 107 8.4 x 106 6.3 x 106 6.2 x 104 1.3 x 105 1.3 x 105 7.7 x 105 1.1 x 107 9.8 x 105 Katagori tidak memenuhi tidak memenuhi tidak memenuhi tidak memenuhi tidak memenuhi tidak memenuhi tidak memenuhi tidak memenuhi tidak memenuhi tidak memenuhi tidak memenuhi

Berdasarkan data yang tersaji dalam tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata Angka Lempeng Total (ALT) pada jamu gendong jenis beras kencur yang beredar di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur berkisar antara 6.2 x 104 sampai 1.5 x 107 koloni/ ml. Dalam hal ini memang tidak ada standar khusus mengenai jumlah maksimal bakteri yang terdapat dalam minuman jamu gendong, akan tetapi hasil Angka Lempeng Total (ALT) yang diperoleh dapat dihubungkan dengan standar MA PPOM 13/MIK/00 tentang ALT jamu cairan yaitu 104
(14)

. Hal tersebut

dilakukan dengan tujuan untuk melihat bagaimana kualitas minuman yang dikonsumsi. Tabel 4.11 menunjukkan bahwa nilai Angka Lempeng Total (ALT) jamu gendong di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur ternyata tidak ada yang memenuhi standar MA PPOM.

4.1.3 Hubungan antara higiene dan sanitasi dengan nilai Angka Lempeng Total (ALT) Hubungan antara higiene dan sanitasi dengan nilai Angka Lempeng Total (ALT) tersaji dalam tabel di bawah ini:

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

27

Tabel 4.12 Hubungan antara higiene dan sanitasi dengan nilai ALT Nilai ALT Higiene dan sanitasi Correlation coefficient Sig. (2-tailed) N -.700 .017 11

Hasil uji statistik menunjukkan besaran korelasi -0.700, artinya semakin tinggi higiene dan sanitasi maka nilai ALT semakin rendah. Selain itu, higiene dan sanitasi berkorelasi kuat dengan nilai ALT. Signifikansi hasil korelasi menunjukkan angka probabilitas (0.017) yang < 0.05. Dengan demikian Ho ditolak dan ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan (korelasi) yang signifikan antara higiene dan sanitasi dengan nilai Angka Lempeng Total (ALT).

4.2 Pembahasan 4.2.1 Higiene dan sanitasi penjual jamu gendong di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur Higiene dan sanitasi merupakan kebersihan individu atau pribadi dan lingkungan penjual jamu gendong. Hal tersebut perlu diperhatikan mengingat jamu gendong merupakan obat tradisional yang tidak wajib daftar sehingga kebersihannya tidak dipantau oleh dinas kesehatan setempat. Pembuat jamu gendong yang bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kebersihan jamu mereka. Hasil kuisioner menunjukkan beberapa hal yaitu: 1. Dalam hal mencuci tangan menggunakan sabun dapat dilihat bahwa hanya 1 responden yang menjawab selalu sementara responden lain menjawab kadang-kadang. Hal tersebut menunjukkan minimnya pengetahuan pembuat

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

28

jamu gendong akan kebersihan tangan yang akan digunakan untuk mengolah jamu. Dalam buku “Pedoman Perilaku Hygienis” disebutkan bahwa salah satu hal yang harus dilakukan sebelum memasak adalah mencuci tangan dengan sabun dan air bersih (16). 2. Higiene dalam hal mencuci bahan baku dan mengikat rambut seluruh responden menjawab selalu. Hal tersebut sudah baik mengingat bahan baku dan rambut juga merupakan sumber kontaminan. Bakteri banyak terdapat di tanah. Mereka dapat diterbangkan angin, dibawa oleh burung atau binatang lain atau terambil oleh tanaman dalam pertumbuhan mereka sehingga apapun yang dipanen atau diambil dari tanah harus dicuci dengan baik sebelum dibawa ke tempat pengolahan . Rambut dapat menjadi sumber kontaminan karena fungsinya sebagai pelindung kepala dari sengatan matahari dan debu sehingga debu akan mengendap di permukaan rambut dan akan membentuk kotoran rambut (ketombe) (17). 3. Higiene dalam hal penggunaan sarung tangan, celemek dan masker tidak satu responden pun yang menggunakannya. Setelah ditanyakan alasannya kebanyakan responden menjawab bahwa penggunaan alat tersebut tidak perlu karena hanya akan memperlambat kerja mereka. Alasan lain yaitu mereka tidak mempunyai perlengkapan terebut dan tidak biasa memakai

perlengkapan tersebut. Padahal sumber cemaran berasal dari hidung, mulut, kulit serta pakaian yang digunakan 4.
(17)

.

Higiene dalam hal kondisi kesehatan saat mengolah jamu sebagian besar responen (7 orang) menjawab kadang-kadang masih melakukan pengolahan jamu ketika menderita penyakit batuk, pilek dan diare. Alasan mereka adalah

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

29

masalah ekonomi yaitu jika mereka tidak mengolah jamu dan berjualan maka mereka tidak akan mendapatkan uang. Orang yang menderita sakit atau carrier dari berbagai penyakit merupakan sumber kuman patogen yang dapat pindah ke makanan atau minuman jika mereka mengolah makanan atau menjamah makanan (17). 5. Higiene dalam hal mengerjakan kegiatan lain saat mengolah jamu seluruh responden menjawab kadang-kadang melakukan hal tersebut. Adanya selingan kegiatan lain saat mengolah makanan atau minuman akan lebih menambah kontaminasi pada produk tersebut. 6. Higiene dalam hal langsung mencuci peralatan setelah mengolah jamu sebagian besar responden (6 orang) menjawab kadang-kadang. Alasan mereka karena jamu yang dibuat harus segera dipasarkan sehingga kegiatan pencucian dilakukan setelah pulang berjualan. 7. Higiene dalam hal mencuci dan menyeterilkan botol sebagian besar

responden (7 orang) menjawab selalu. Alasan mereka agar botol yang akan digunakan bersih kembali dan bebas kuman. 8. Sanitasi dalam hal mengunakan air mengalir untuk membuat jamu dan mencuci peralatan hampir seluruh responden (9 orang) menjawab selalu. Jumlah tersebut menunjukkan responden sudah cukup memahami mengenai pentingnya penggunaan air mengalir. Bahan yang akan diolah harus dicuci dengan bersih pada air bersih yang mengalir (17). Air yang sudah ditampung apalagi dalam keadaan terbuka akan cenderung mengandung lebih banyak bakteri yang berasal dari udara atau lingkungan dibandingkan dengan air yang mengalir.

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

30

9.

Sanitasi dalam hal menyedikan tempat sampah di tempat pengolahan hampir seluruh responden (10 orang) menjawab selalu. Hal tersebut berarti responden sudah memahami mengenai kebersihan di tempat pengolahan mereka. Dari hasil penilaian kuisioner tidak ada satu responden pun yang memiliki

tingkat higiene dan sanitasi baik. Berdasarkan analisis dari pertanyaan yang ada, hal tersebut dapat disebabkan oleh: 1. Masih minimnya kesadaran responden untuk mencuci tangan dengan sabun sebelum memulai proses pengolahan jamu. 2. Kurangnya perhatian responden terhadap perlengkapan yang dikenakan ketika mengolah jamu. Dalam hal pakaian, responden menggunakan pakaian seadanya tanpa memperhatikan kebersihannya padahal pakaian yang tidak bersih dapat menjadi sumber kontaminan. 3. Kurangnya ketertiban dalam mengolah jamu. Kegiatan selingan yang dilakukan dapat menambah kontaminan karena terjadinya pertukaran udara. 4. Kurangnya kesadaran mengenai penyakit bawaan makanan karena sebagian besar penjual jamu masih tetap mengolah jamu saat sedang sakit. Jamu yang dibuat tentunya akan terkontaminasi oleh bakteri dari penjual jamu yang sakit.

4.2.2 Nilai Angka Lempeng Total (ALT) jamu gendong yang beredar di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur Dilihat dari hasil penelitian Angka Lempeng Total (ALT) yang telah dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi sebanyak tiga kali pengulangan diperoleh hasil rata-rata yang berkisar antara 6.2 x 104 sampai 1.5 x 107 koloni/ml.

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

31

Apabila dilihat dari rata-rata jumlah total bakteri pada jamu yang diuji cenderung menunjukkan jumlah yang cukup tinggi dan tidak memenuhi MA PPOM. Berdasarkan pengamatan penulis hal tersebut dapat berasal dari tangan pembuat jamu karena sebagian besar responden dalam hal mencuci tangan dengan sabun hanya kadang-kadang. Dalam penelitian Zulaikhah, S.T disebutkan bahwa bakteri yang terdapat dalam makanan atau minuman dapat berasal dari (8): 1. Bahan awal yang ditanam pada tanah yang terkontaminasi. 2. Bahan awal dicuci dengan air yang kotor. 3. 4. Dapur dan alat masak kotor. Menggunakan lap kotor untuk membersihkan alat yang digunakan untuk memasak bahan. 5. Mengolah makanan dengan tangan kotor. 6. Pengolah makanan yang sakit atau carrier penyakit. 7. Produk terkontaminasi oleh kotoran hewan seperti lalat, tikus dan sebagainya. Nilai ALT mencerminkan higiene dan sanitasi suatu produk serta kelayakan suatu produk untuk dikonsumsi. Nilai ALT yang tinggi menunjukkan banyaknya bakteri yang terkandung dalam suatu sampel makanan atau minuman. Nilai Angka Lempeng Total (ALT) yang diperoleh menunjukan nilai yang lebih besar dari standar MA PPOM yaitu 104. Jika konsumen terus mengonsumsi jamu yang mengandung bakteri > 104 setiap harinya dikhawatirkan bagi yang daya tahan tubuhnya tidak baik maka akan dengan mudah terserang penyakit.

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

32

4.2.3 Hubungan antara higiene dan sanitasi dengan nilai Angka Lempeng Total (ALT) Data diperoleh dari hasil survei menggunakan kuisioner dan penelitian Angka Lempeng Total (ALT) di Laboratorium Mikrobiologi. Data yang terkumpul kemudian diolah dengan menggunakan program komputer yaitu SPSS 17.0 dan dianalisis menggunakan pengujian statistik korelasi bivariat Spearman rank. Hasil uji statistik Spearman rank menunjukkan hubungan (korelasi) yang kuat (-0.700) > 0.5 dengan arah korelasi negatif artinya semakin tinggi higiene dan sanitasi penjual jamu gendong maka nilai ALT pada jamu gendong semakin rendah. Nilai p (0.017) < nilai α (0.05) artinya ada hubungan (korelasi) yang signifikan antara higiene dan sanitasi dengan nilai Angka Lempeng Total (ALT). Secara umum adanya mikroba dalam produk pangan tidak selalu merugikan atau membahayakan. Produk pangan seperti jamu gendong yang selalu dibuka dan ditutup botolnya tentu saja mengandung mikroba yang berasal dari udara
(17)

.

Mikroba dalam produk jamu gendong secara alamiah memang ada. Proses produksi jamu gendong dilakukan melalui serangkaian kegiatan yang dimulai dari memilih bahan baku, membersihkan, menakar, melumatkan, menyaring dan memasukkan ke wadah setelah jamu gendong siap. Setiap tahapan proses tersebut berisiko terhadap terjadinya pencemaran mikrobiologi
(7)

. Mikroba tersebut dapat

berasal dari sumber kontaminasi antara lain tanaman, hewan, tanah, air, udara di sekitar, pekerja yang melaksanakan pengolahan, peralatan dan sarana fisik lainnya yang digunakan untuk mengolah bahan
(18)

. Adanya mikroba dalam produk

pangan dapat berpotensi menjadikan produk tersebut rusak atau turun mutunya

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

33

namun jika mikroba tersebut patogen maka berpotensi membahayakan kesehatan konsumennya. Dari hasil penelitian ini dapat dilihat bahwa ada hubungan antara higiene dan sanitasi dengan nilai Angka Lempeng Total (ALT), hal tersebut menunjukkan higiene dan sanitasi dalam proses pengolahan jamu adalah penentu baik buruknya mutu jamu gendong. Hingga saat ini memang masih belum ada laporan mengenai kasus diare atau keracunan di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur namun sebaiknya mutu jamu gendong juga tetap harus diperhatikan untuk mencegah terjadinya kasus tersebut.

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

34

Bab V Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan 1. Higiene dan sanitasi dari seluruh penjual jamu gendong di RW 006 CiracasJakarta Timur 54.55% berkatagori cukup dan 45.45% berkatagori kurang. 2. Nilai rata-rata Angka Lempeng Total (ALT) sampel jamu gendong di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur berkisar antara 6.4 x 104 sampai 1.5 x 107 koloni/ml dan seluruhnya tidak memenuhi standar MA PPOM 13/MIK/00 tentang ALT jamu cairan. 3. Ada hubungan (korelasi) yang signifikan (p = 0.017) antara higiene dan sanitasi dengan nilai ALT pada jamu gendong.

5.2 Saran 1. Untuk penelitian selanjutnya diusahakan pengambilan kuisioner dilakukan pada saat proses pengolahan jamu sehingga dapat melihat secara langsung kegiatan pengolahan jamu di lapangan. 2. Dapat dilakukan penelitian untuk menganalisis faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi higiene dan sanitasi penjual jamu gendong. 3. Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya pengambilan sampel jamu gendong dilakukan pada saat jamu baru masak dan sebelum dijual keliling agar data yang diperoleh lebih akurat dan tidak bias.

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

35

Daftar Pustaka

1. Bermawi, N., Pribadi, E.R., Wahyuno, D., Rahardjo, M., 2008, Jamu, Brand Indonesia, Depkes, Jakarta. 2. Suharmiati dan Lestari, H., 2007, Hidup sehat dengan ramuan tradisonal jamu gendong, Puslitbang SKK Balitbangkes, Surabaya. 3. Sayuti,W., Wulandari, S., dan Fatimah, S., 2005, Bakteri Enterik Dalam Minuman Jamu Gendong di Kota Pekanbaru, Jurnal Biogenesis Vol.2 Universitas Riau, Pekanbaru. 4. Karinda, D.H., 2004, Deteksi Bakteri Escherichia coli dalam Jamu Gendong pada 10 Pasar di Kota Semarang, Skripsi: Universitas Diponegoro, Semarang. 5. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2005, Peraturan Perundang-undangan Dibidang Obat Tradisional, Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, Jakarta. 6. Departemen Kesehatan, 1991, Undang-Undang Kesehatan Republik Indonesia, Departemen Kesehatan, Jakarta. 7. Suharmiati, 2003, Menguak Tabir dan Potensi Jamu Gendong, cet.1, Agromedia Pustaka, Jakarta. 8. Zulaikhah, S.T., 2005, Analisis Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pencemaran Mikroba Pada Jamu Gendong di Kota Semarang, Skripsi: Universitas Diponegoro, Semarang. 9. Suriawiria, U., 1996, Air Dalam Kehidupan dan Lingkungan yang Sehat, Alumni, Jakarta. 10. Epochtimes, 2010, Khasiat Kencur, http://erabaru.net/kesehatan/34kesehatan/11592-khasiat-kencur, Diakses 15 Juli 2012. 11. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2008, Info POM: Pengujian Mikrobiologi Pangan, Badan POM RI, Jakarta. 12. Afrianto, Eddy, 2008, Pengawasan Mutu Bahan/Produk Pangan Jilid 2 Untuk SMK, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Jakarta. 13. Fardiaz, S., 1993, Analisis Mikrobiologi Pangan, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

36

14. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2001, Metode Analisis PPOM 2000 Mikrobiologi, PPOM, Jakarta. 15. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2001, Metode Analisis Mikrobiologi, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, Jakarta. 16. Depkes RI, 1998, Pedoman Perilaku Hygienis, Depkes RI, Jakarta. 17. Depkes RI, 2004, Kumpulan Modul Kursus Hygiene Sanitasi Makanan dan Minuman, Depkes RI, Jakarta. 18. Nurrahman, Mifhakhuddin, dan Purnamasari, D., 2010, Hubungan Sanitasi Dengan Total Mikroba dan Total Koliform Pada Jamu Gendong di RT 1 RW 2 Kelurahan Kedung Mundu Kecamatan Tembalang Kota Semarang, Jurnal Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Semarang, Semarang.

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

37

Lampiran 1 Persentase jamu yang paling banyak disukai

Persentase jamu yang paling banyak disukai

45.45% 54.55%

Beras kencur Kunyit asam

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

38

Lampiran 2 Skema prosedur kerja pemeriksaan ALT 10 ml sampel
1 ml

90 ml PDF, kocok 10-1
1 ml 1 ml 1 ml

9 ml PDF, kocok 10-2 10-3
1 ml 1 ml 1 ml 1 ml 1 ml 1 ml

10-4

10-5

10-6

Duplo

10-1

10-2

10-3

10-4

10-5

10-6

PCA 15-20 ml Inkubasi 24-48 jam

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

39

Lampiran 3 Lembar kuisioner higiene sanitasi pada penjual jamu gendong di RW 006 Ciracas-Jakarta Timur Tahun 2012

Nama : Lokasi : Umur : Lama berjualan:

No sampel:

No Higiene 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Pertanyaan

Katagori S K TP (3) (2) (1)

Ket

Apakah Anda mencuci tangan dengan sabun sebelum membuat jamu? Apakah Anda mencuci bahan jamu yang akan digunakan? Apakah pada saat membuat jamu Anda menggunakan alat bantu (sarung tangan)? Apakah saat membuat jamu Anda memakai celemek? Apakah Anda menggunakan tutup kepala/mengikat rambut pada saat membuat jamu? Apakah Anda menggunakan masker saat membuat jamu? Apakah saat menderita batuk, pilek dan diare Anda membuat jamu? Apakah ketika Anda membuat jamu diselingi kegiatan lain seperti makan? Apakah peralatan yang digunakan untuk membuat jamu langsung dicuci setelah digunakan?

10. Apakah botol tempat menyimpan jamu dicuci dan disterilkan setiap akan dipakai? Sanitasi Apakah Anda menggunakan air mengalir sebagai 11. sumber air bersih untuk membuat jamu/mencuci peralatan? 12. Apakah Anda menyediakan tempat sampah di tempat pengolahan jamu? Jumlah Ket: S: selalu K: kadang-kadang • TP: tidak pernah

Pertanyaan nomor 7 dan 8 poinnya S (1), K (2), TP (3)

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

40

Lembar pertanyaan terbuka 1. Apakah Anda pernah mengikuti pelatihan atau penyuluhan mengenai pembuatan jamu gendong? Darimana Anda memperoleh keahlian dalam membuat jamu? 2. 3. 4. Jamu apa yang paling banyak disukai (paling cepat habis)? Di wilayah mana saja Anda berjualan jamu? Apakah jamu yang Anda jual pasti habis? Jika tidak, apa yang Anda lakukan terhadap jamu tersebut? 5. 6. 7. Bagaimana cara Anda mencuci tangan? Bagaimana cara Anda mencuci bahan baku jamu? Bagaimana proses pembuatan jamu dari awal hingga akan dimasukkan ke dalam botol? 8. Bagaimana cara Anda membersihkan botol jamu yang telah selesai digunakan? 9. Apakah sumber air yang Anda gunakan?

10. Apa sarana yang digunakan untuk menampung sampah pada saat proses pembuatan? 11. Apakah sampah-sampah tersebut langsung dibuang? Kemanakah sampah tersebut dibuang? 12. Apakah bahan baku jamu yang digunakan distok atau digunakan habis untuk 1 kali pembuatan?

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

41

Lembar observasi 1. Jelaskan keadaan fisik bangunan (jumlah ruangan, jumlah penghuni, keadaan lantai, keadaan dinding rumah, keadaan atap rumah)! 2. 3. 4. 5. 6. Apakah tempat produksi dan tempat istirahat berada dalam 1 ruangan? Bagaimana kebersihan kuku dan kulit penjual jamu? Jelaskan keadaan pada saat pembuatan jamu! Bagaimana tempat penyimpanan bahan baku jamu? Bagaimana keadaan lingkungan rumah penjual jamu gendong

(kebersihannya, keadaan selokan, ada tidaknya lalat/serangga lain maupun tikus)?

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

42

Lampiran 4 Hasil uji ALT dengan pengulangan tiga kali

Sampel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Hasil Penelitian (koloni/ml) 1 2 3 5 5 2.4 x 10 2.7 x 10 2.6 x 104 2.5 x 104 2.8 x 104 2.2 x 106 2.1 x 107 1.1 x 107 1.4 x 107 2.3 x 107 2.0 x 106 1.6 x 105 2.9 x 106 1.6 x 107 2.0 x 104 1.1 x 103 2.6 x 104 1.6 x 105 8.8 x 104 3.6 x 102 3.0 x 105 1.1 x 105 2.2 x 105 5.0 x 104 2.3 x 106 1.2 x 104 3.8 x 103 3.0 x 105 3.0 x 107 3.0 x 106 2.9 x 106 2.4 x 104 2.7 x 103

Rata-rata 1.8 x 105 7.5 x 105 1.5 x 107 8.4 x 106 6.3 x 106 6.2 x 104 1.3 x 105 1.3 x 105 7.7 x 105 1.1 x 107 9.8 x 105

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

43

Lampiran 5 Sampel jamu gendong dalam botol coklat

Lampiran 6 Kontrol penelitian

Kontrol penelitian 1

2

3

Lampiran7 Hasil pengamatan Angka Lempeng Total (ALT) Sampel 1 Pengenceran 10-1

Penelitian 1

2

3

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

44

Pengenceran 10-2

Penelitian 1 Pengenceran 10-3

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-4

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-5

2

3

Penelitian 1

2

3

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

45

Pengenceran 10-6

Penelitian 1 Sampel 2 Pengenceran 10-1

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-2

2

3

Penelitian 1

2

3

Pengenceran 10-3

Penelitian 1

2

3

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

46

Pengenceran 10-4

Penelitian 1 Pengenceran 10-5

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-6

2

3

Penelitian 1 Sampel 3 Pengenceran 10-1

2

3

Penelitian 1

2

3

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

47

Pengenceran 10-2

Penelitian 1 Pengenceran 10-3

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-4

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-5

2

3

Penelitian 1

2

3

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

48

Pengenceran 10-6

Penelitian 1 Sampel 4 Pengenceran 10-1

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-2

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-3

2

3

Penelitian 1

2

3

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

49

Pengenceran 10-4

Penelitian 1 Pengenceran 10-5

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-6

2

3

Penelitian 1 Sampel 5 Pengenceran 10-1

2

3

Penelitian 1

2

3

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

50

Pengenceran 10-2

Penelitian 1 Pengenceran 10-3

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-4

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-5

2

3

Penelitian 1

2

3

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

51

Pengenceran 10-6

Penelitian 1 Sampel 6 Pengenceran 10-1

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-2

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-3

2

3

Penelitian 1

2

3

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

52

Pengenceran 10-4

Penelitian 1 Pengenceran 10-5

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-6

2

3

Penelitian 1 Sampel 7 Pengenceran 10-1

2

3

Penelitian 1

2

3

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

53

Pengenceran 10-2

Penelitian 1 Pengenceran 10-3

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-4

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-5

2

3

Penelitian 1

2

3

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

54

Pengenceran 10-6

Penelitian 1 Sampel 8 Pengenceran 10-1

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-2

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-3

2

3

Penelitian 1

2

3

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

55

Pengenceran 10-4

Penelitian 1 Pengenceran 10-5

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-6

2

3

Penelitian 1 Sampel 9 Pengenceran 10-1

2

3

Penelitian 1

2

3

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

56

Pengenceran 10-2

Penelitian 1 Pengenceran 10-3

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-4

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-5

2

3

Penelitian 1

2

3

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

57

Pengenceran 10-6

Penelitian 1 Sampel 10 Pengenceran 10-1

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-2

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-3

2

3

Penelitian 1

2

3

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

58

Pengenceran 10-4

Penelitian 1 Pengenceran 10-5

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-6

2

3

Penelitian 1 Sampel 11 Pengenceran 10-1

2

3

Penelitian 1

2

3

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

59

Pengenceran 10-2

Penelitian 1 Pengenceran 10-3

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-4

2

3

Penelitian 1 Pengenceran 10-5

2

3

Penelitian 1

2

3

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

60

Pengenceran 10-6

Penelitian 1

2

3

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

61

Lampiran 8 Hasil uji statistik Spearman rank Correlations Higiene dan Angka sanitasi lempeng total Spearman's rho Higiene dan sanitasi Correlation Coefficient Sig. (2-tailed) N Angka lempeng total Correlation Coefficient Sig. (2-tailed) N *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). 1.000 . 11 -.700* .017 11 -.700* .017 11 1.000 . 11

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

62

Lampiran 9 Hasil kuisioner masing-masing responden Sampel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Nilai kuisioner 26 25 23 23 23 25 27 28 27 24 22 Katagori penilaian Cukup Cukup Kurang Kurang Kurang Cukup Cukup Cukup Cukup Kurang Kurang

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

63

Lampiran10 Perhitungan pemakaian bahan 1. PDF Untuk 1 kali penelitian: 1. Pengenceran 10-1 = 90 ml x 11 sampel = 990 ml

2. Pengenceran 10-2 – 10-6 = 9 ml x 5 tabung x 11 sampel = 495 ml 3. Kontrol = 9 ml Total PDF yang dibutuhkan = 990 ml + 495 ml + 9 ml Sediaan PDF 25.5 g/l, maka Untuk 3 kali penelitian = 38.097 g x 3 = 114.291 g 2. PCA Untuk 1 kali penelitian: 1. Penenceran 10-1 – 10-6 = 15 ml x 12 petri x 11 sampel = 1.980 ml 2. Kontrol = 15 ml Total PCA yang dibutuhkan = 1.980 ml + 15 ml = 1.995 ml Sediaan PCA 22.5 g/l, maka Untuk 3 kali penelitian = 44.89 g x 3 = 134.67 g = 1.494 ml

JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II 2012

64

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful