PEMBUATAN PETA INFORMASI

PENATAAN RUANG WILAYAH TIGA DIMENSI

LAPORAN PENDAHULUAN

Kegiatan Pembinaan Penataan Ruang Nasional Tahun Anggaran 2006

Juni 2006

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
DIREKTORAT JENDERAL PENATAAN RUANG
SATUAN KERJA PEMBINAAN PENATAAN RUANG NASIONAL

PEMBUATAN PETA INFORMASI
PENATAAN RUANG WILAYAH TIGA DIMENSI

LAPORAN PENDAHULUAN

Kegiatan Pembinaan Penataan Ruang Nasional Tahun Anggaran 2006

Juni 2006

Kerjasama Antara : SATUAN KERJA PEMBINAAN PENATAAN RUANG NASIONAL dengan
PT Waindo SpecTerra
Kompleks Perkantoran Pejaten Raya Gedung 7 – 8 Jln. Pejaten Raya. no.2 Pasar Minggu, Jakarta Selatan Telp. 021 – 708 53970, 798 6816, 798 6405 Email : dis001@cbn.net.id, Website : Waindo.co.id

Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena hanya dengan karunia-Nya lah laporan pendahuluan “Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi” ini dapat selesai dengan baik.

Perubahan pemanfaatan ruang yang cepat dewasa ini di daerah perkotaan ditambah dengan arus urbanisasi yang besar membuat penataan ruang menjadi sangat penting artinya karena terkait dengan pemenuhan akan kebutuhan lahan untuk berbagai keperluan.

Untuk menunjang hal tersebut, maka dilaksanakan pekerjaan “Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi” agar tersedia basis data serta peta-peta tematik tiga dimensi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan yang terkait dengan penataan ruang.

Kami ucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu persiapan laporan ini. Tanggapan dan saran yang berguna bagi pelaksanaan kegiatan ini dan sekaligus sebagai perbaikan sangat kami harapkan

Jakarta, Juni 2006 PT. Waindo SpecTerra

Agustina Nurul Team Leader

i
Laporan Pendahuluan

.1 2...... 30 ii Laporan Pendahuluan .... Sasaran …………………………………………………………... Maksud dan Tujuan …………………………………………….4 Pengumpulan Data………………………………………………. 12 Letak Geografis ………………………………………………… 12 Kondisi Topografi ……………………………………………….1 3............ 23 Pendekatan …………………………………………………… .4 1...6 Gambaran Umum Wilayah Kerja.5 1. Lingkup dan Lokasi Kegiatan ………………………………… Keluaran ………………………………………………………… 1 1 6 7 8 9 Sistematika Pembahasan …………………………………….. Latar Belakang …………………………………………………..1 Umum …………………………………………………………… 27 3..2... i ii BAB I 1.6 Pendahuluan …………………………………………………….. 10 BAB II 2.2..5 2.4 2. 27 3..2 1.2 Spesifikasi Teknis ……………………………………………… 28 3.... 13 Kondisi Klimatologis …………………………………………….2 Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan ……………………….1 1...2 2..3 Persiapan ………………………………………………………… 30 3.2.2.. 14 Kondisi Geologi ………………………………………………… 15 Penggunaan Lahan ……………………………………………. 23 Metodologi ………………………………………………………..... 17 Populasi dan Sosial Budaya …………………………………... 20 BAB III 3..Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi DAFTAR ISI KATA PENGANTAR…………………………………………………………… DAFTAR ISI ……………………………………………………………………..3 1..3 2.

67 Pelaporan ………………………………………………………… 67 5.1. 67 5. 67 BAB V 5. 65 Jadual Kegiatan ………………………………………………….1 Hasil Yang Diserahkan………………………………………….4 Laporan Akhir …………………………………………………… 68 5.4 Jadual Penugasan Personil …………………………………….2 Asisten Tenaga Ahli.1 Laporan Pendahuluan…………………………………………….1 4.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi BAB IV 4... 61 Rencana Kerja dan Tugas Tim………………………………….. 67 5.1. 69 5.2. Tenaga Pendukung.2.1.3 4.6 Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi……. dan Peralatan … 61 4.3 Konsep Laporan Akhir …………………………………………..1 Rincian Kerja Tenaga Ahli ……………………………………… 61 4.2 Laporan Antara ………………………………………………….1. 68 5..2 Tenaga Ahli dan Rencana Kerja………………………………… 60 Organisasi Pelaksanaan Proyek………………………………. 69 BAB VI Penutup …………………………………………………………. 61 4.1.5 Keluaran Yang Berupa Hasil Inovasi…………………………..1. 70 iii Laporan Pendahuluan .

10 Oktober. Laporan Pendahuluan 1 . Meningkatnya polusi udara terutama oleh kendaraan bermotor yang mencapai 70% dari total polusi udara di perkotaan (Kompas. Dinamika pemanfaatan ruang yang berlangsung sangat cepat membutuhkan sistem penataan ruang yang komprehensif. Dampak dari urbanisasi yang sangat tinggi dalam jangka pendek. 2002). 2001). Berdasarkan data Word Resources tahun 2000.76% lebih tinggi dari pertumbuhan penduduk nasional yang mencapai 1. sehingga berlangsung cepat. tercatat bahwa antara tahun 1990-1995.7%. karena berhubungan dengan berbagai macam kegiatan yang di lakukan oleh penduduk. laju pertumbuhan penduduk perkotaan mencapai 4. dan kemungkinan akan terus berlanjut terus adalah : Meningkatnya kebutuhan lahan untuk perkantoran maupun perumahan menyebabkan terjadinya konversi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian yang mencapai 30 hektar pertahun (Kompas.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi BAB I Pendahuluan 1. sekitar setengah dari penduduk Indonesia akan tinggal di perkotaan (52%). Hal tersebut sangat berhubungan dengan pemenuhan akan kebutuhan lahan dan infrastruktur akan menjadi sangat penting.1 Latar Belakang Pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi yang ada di Indonesia akan berpengaruh dalam dinamika pemanfaatan ruang. Dengan adanya pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi dan tingginya tingkat urbanisasi akan menimbulkan berbagai dampak yang tidak sederhana. 21 September. Diperkirakan pada akhir tahun 2018. dan up to date. Di perkotaan. akurat. dinamika pembangunan yang terjadi ditunjukkan dengan tingkat urbanisasi yang sangat tinggi.

sehingga di perlukan pengelolaan ruang yang komprehensif. pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang. RTRW Kabupaten dan Kota. Sementara penyusunan kebijakan dan strategi penataan ruang yang implementable memerlukan masukan data dan informasi peta yang akurat dan tepat waktu. Dalam setiap tahapan di perlukan data spasial dan non-spasial yang berasal dari multi institusi dan multi-level (Pusat . akurat dan up to date pada seluruh tingkatan hierarki penataan ruang mulai dari nasional. RTRW Provinsi.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Semakin berkurangnya perumahan maupun perkantoran yang menyediakan lahan untuk taman dan membiarkan lahannya dalam bentuk tanah tanpa ditutup oleh teras. Laporan Pendahuluan 2 . hal tersebut akan menyebabkan semakin berkurangnya daerah resapan air . Oleh karena itu di perlukan monitoring secara berkelanjutan melalui pemetaan wilayah oleh masing-masing sektor dengan menyiapkan informasi spasial (peta) tematik yang akan digunakan untuk penyusunan kebijakan rencana tata ruang berdasarkan tingkatan hierarki penataan ruang mulai dari tingkat RTRW Nasional.Daerah). sehingga berdampak pada penurunan kualitas daerah aliran sungai. yang seharusnya menjadi kawasan penyangga. provinsi. kurang tersedianya lahan pertanian yang akan mengakibatkan berkurangnya produksi beras. Oleh karena itu diperlukan penataan ruang untuk mencegah terjadinya berbagai macam hal yang mungkin terjadi. Dengan tingginya laju pembangunan di Negara Indonesia. Berbagai hal diatas merupakan contoh sebagian kecil yang menunjukkan kurangnya kepedulian dan pemahaman kita tentang arti penting fungsi ekologis dan daya dukung lingkungan dalam penataan ruang. seperti banjir. Semakin terjadi peningkatan penghunian di bantaran sungai. pulau. kabupaten dan kota. Proses penataan ruang memerlukan berbagai sumber data yang mencakup perencanaan. berkuranya ketersediaan air di karenakan kurangnya daerah resapan air dsb. sehingga sustainabilitas lahan tetap terus terjaga.

Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Dalam undang-undang nomor 24 tahun 1992. Kabupaten dan Kota yang ada di pulau Jawa dan Bali. Rencana tata ruang wilayah pulau Jawa dan Bali ini telah mendapatkan kesepakatan para Gubenur wilayah Provinsi yang terkait dalam pertemuan kerjasama yang telah di laksananakan di Denpasar Bali pada bulan Juni tahun 2004. pemanfaatan rencana tata ruang dan pengendalian rencana tata ruang dalam suatu wilayah. fungsi dan kewenangannya Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum telah menyusun pedoman rencana tata ruang wilayah Pulau Jawa dan Bali berdasarkan PP No. yang selama ini produk tata ruang di buat dalam bentuk peta dua dimensi. Saat ini rencana tata ruang tersebut sedang dalam proses RaPerPres untuk ditetapkan menjadi satu keputusan Presiden yang digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan penataan ruang wilayah dan arahan pembangunan wilayah serta sektoral untuk wilayah Provinsi. maka seluruh substansi yang terkandung di dalam rencana tata ruang wilayah Pulau Jawa dan Bali ini harus: 1.25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten dan Kota. Berkaitan dengan tujuan tersebut maka pemerintah melalui Ditjen Penataan Ruang Departemen PU berupaya untuk meningkatkan format peta dua dimensi menjadi bentuk tiga dimensi dan media e-governmentnya dengan beberapa pertimbangannya. Penyusunan peta informasi penataan ruang wilayah tiga dimensi dimaksudkan untuk membuat/menyusun format peta penataan ruang wilayah dalam bentuk matra tiga dimensi. yang dimaksudkan dengan penataan ruang adalah proses dalam penyusunan rencana tata ruang. sehingga setiap penyimpangan dan kesalahan sekecil apapun dapat di hindari Laporan Pendahuluan 3 . Sesuai dengan tugas pokok. Sebagai produk hukum berupa peraturan (PerPres) dalam ketetapan yang mengikat. Dengan perbedaan tampilan pada peta penataan ruang tersebut diharapkan dapat memperoleh beberapa peningkatan dalam proses penataan ruang tersebut. Memuat seluruh materi dan substansi yang jelas dan akurat.

transparan dan partisipatif. Produk tata ruang wilayah pulau Jawa dan Bali. yang berisi beberapa materi rencana tata ruang wilayah dalam bentuk narasi dan peta-peta arahan penataan ruang wilayah pulau Jawa dan Bali Pada implementasi rencana tata ruang Pulau Jawa dan Bali ada beberapa kendala pemahaman yang disebabkan oleh: 1. maka dibutuhkan media yang dapat dipergunakan dalam memberikan kemudahan memperoleh informasi dan juga memberikan kejelasan pada substansinya. 2. Memiliki sifat informatif sehingga seluruh masyarakat. berbentuk dokumendokumen standar. Dalam mendukung keberhasilan peraturan Presiden dalam bentuk produk hukum yang mengikat tersebut. 2. swasta) dapat memperoleh kejelasan tentang peraturan Presiden tentang rencana tata ruang wilayah Pulau Jawa dan Bali termasuk substansi dan materi yang terkandung di dalamnya. sehingga hanya instansi dan lembaga tertentu saja yang dapat mempergunakan.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi atau juga diberikan sanksi jika terjadi kesalahan sesuai dengan kekuatan hukum yang terkandung di dalam perturan tersebut. Dalam hal lain Penyelenggaraan Penataan Ruang diarahkan untuk : Meningkatkan penyelenggaraan kegiatan perencanaan tata ruang yang efektif. mengakibatkan kurang tertibnya penyelenggaraan rencana Laporan Pendahuluan 4 . Mengembangkan penyelenggaraan kegiatan pemanfaatan ruang yang tertib berdasarkan rencana tata ruang. Kurangnya pemahaman rencana tata ruang karena kendala tersebut. Kurangnya pemahaman pada substansi karena produk rencana tata ruang tersebut berbentuk dokumen buku dan peta diperlukan pemahaman dokumen tersebut yang mendalam dan keahlian khusus dalam memahami. dan Meningkatkan pengendalian pemanfaatan ruang untuk menjamin efektifitas dan efisiensi kegiatan pembangunan secara berkelanjutan. institusi dan lembaga (pemerintah.

5. 2. 3. Sehingga dalam membantu mengantisipasi kondisi tersebut diatas. lembaga dan masyarakat dapat dengan mudah memahami dan melaksanakan rencana tata ruang wilayah pulau Jawa dan Bali ini sebagai satu peraturan yang harus dipatuhi. yang selama ini belum tergali karena minimnya informasi yang di sediakan dalam peta maupun buku rencana tata ruang. pada tahun anggaran ini Ditjen Penataan Ruang melaksanakan kegiatan “Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi” tematiknya adalah sebagai berikut: 1. 3. Memahami dan menggali beberapa potensi yang terdapat dalam rencana tata ruang wilayah. 4. sehingga seluruh instansi. Untuk itu diperlukan media yang dapat membantu dalam mengatasi beberapa kondisi yang terjadi dalam rencana tata ruang wilayah pulau Jawa dan Bali. Mengantisipasi permasalahan yang dapat ditimbulkan sebagai akibat dari penyimpangan rencana tata ruang pulau yang telah ditetapkan dalam peraturan Presiden. Peta kontur/ketinggian Peta kemiringan lahan Peta kesesuaian lahan Peta kerapatan vegetasi Peta daerah terbangun 5 dengan kandungan Laporan Pendahuluan . media ini juga sebagai perangkat untuk: Mempermudah dalam memahami rencana tata ruang wilayah Pulau Jawa dan Bali sebagai produk hukum yang memuat aturan dan sanksi hukum yang melekat di dalamnya.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi tata ruang sebagaimana diamanatkan pada pokok tertib pemanfaatan ruang. Perangkat pengendalian ruang untuk efektifitas dan efisiensi pembangunan masih kurang terjadi karena kendala masih lemahnya pemahaman akan rencana tata ruang.

misalnya dari suatu slope dapat dilihat dengan jelas.2 Maksud danTujuan Pelaksanaan pekerjaan ini memiliki maksud dan tujuan sebagai berikut: 1. Keunggulan penggunaan data dalam bentuk tiga dimensi adalah data yang tidak terlihat jelas dalam bentuk dua dimensi dapat terlihat dengan jelas. karena garis-garis kontur dan bayangan akan sangat terlihat dengan jelas. untuk itu diperlukan penyusunan peta-peta informasi dalam bentuk tiga dimensi dalam rangka mendukung penyelenggaraan penataan ruang wilayah di Indonesia.2. sehingga data dan informasi spasial (peta) yang memperlihatkan dinamika pemanfaatan ruang untuk pengambilan kebijakan dalam penataan ruang dapat menjadi lebih efesien dan efektif. Hal tersebut akan menimbulkan persepsi yang ditampilkannya lebih jelas. Peta kepadatan penduduk. 1. Data dalam bentuk tiga dimensi merupakan data yang menampilkan informasi ketinggian. Sehingga secara langsung produk tersebut diharapkan memiliki sifat lebih informatif dibandingkan produk peta vektor yang ada. Dengan demikian diharapkan kebijakan-kebijakan penataan ruang yang di keluarkan dapat cepat merespon kebutuhan yang ada dan valid dalam memecahkan masalah tata ruang yang muncul.1 Maksud Maksud dari kegiatan adalah dalam rangka: Laporan Pendahuluan 6 . Keenam peta informasi penataan ruang tiga dimensi ini dibuat dalam skala 1:250. Penyusunan peta penyelenggaraan tata ruang dalam format tiga dimensi ini memiliki keunggulan teknis dibandingkan dengan produk yang telah disusun selama ini.000 untuk pulau Jawa dan Bali. Pembuatan peta informasi penataan ruang wilayah dalam bentuk tiga dimensi akan mempunyai keunggulan dibandingkan dengan penggunaan data yang lain.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi 6.

aplicable. b. c.3 Sasaran Sasaran yang hendak dicapai dalam pekerjaan ini adalah: a. c. dengan media teknologi informasi yang didukung oleh kesiapan data wilayah 6 tema peta.2.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi a. d. riil yang mendapat dukungan penuh dari peta informasi tiga dimensi dengan keenam tematik dalam petanya. Meminimalkan penyimpangan penyelenggaraan penataan ruang melalui peta tiga dimensi yang akan memberikan gambaran riil pada aspek spatialnya sehingga pelanggaran dalam bentuk penyimpangan rencana tata ruang yang telah menjadi Peraturan Hukum dapat dihindari seminimal mungkin. 1. Memanfaatkan teknologi informasi untuk mempermudah pemahaman materi rencana tata ruang wilayah pulau Jawa dan Bali yang selama ini menjadi kendala arus informasi. Tersusunnya Peta Informasi Rencana Tata Ruang Wilayah dalam format 3 dimensi dalam 6 peta tematik yang akan mendukung Laporan Pendahuluan 7 . Meningkatkan pemahaman dalam penyelenggaraan penataan ruang wilayah. dalam bentuk 3 dimensi. b. Menyiapkan data dan infomasi spatial yang diperlukan dalam penyelenggaraan penataan ruang dalam 6 peta tematik dalam bentuk peta 3 dimensi. serta optimalisasi penyelenggaraan penataan ruang dapat diwujudkan melalui peta tiga dimensi ini. Melalui peta tiga dimensi diharapkan pengguna memperoleh kejelasan data dan informasi secara cepat dan akurat. Memberi kemudahan dalam memperoleh informasi rencana tata ruang wilayah pulau. sebagai produk hukum yang perlu akurasi substansi dan informatif untuk dilaksanakan pada tahap implementasinya.2 Tujuan Tujuan dari kegiatan ni adalah: a. Mewujudkan rencana tata ruang yang implementatif. 1.

Dibuat juga dalam bentuk soft copy (CD) dengan format vektor (shp) lengkap dengan data base/atributnya. pemanfaatan dan pengendalian dalam rencana tata ruang sebagaimana ketentuan yang telah di tetapkan. 1. terlebih setelah menjadi produk hukum berupa peraturan Presiden b.4. Peningkatan kemudahan dalam mendapatkan informasi tata ruang wilayah untuk memacu peran aktif stakeholders dalam keterlibatannya pada penyelenggaraan penataan ruang serta kegiatan selanjutnya yang berupa penyusunan.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi penyelenggaraan penataan ruang wilayah pulau Jawa dan Bali.000. format siap saji (jpg) dan format interaktif.1 Lingkup Kegiatan Lingkup kegiatan ini meliputi: Laporan Pendahuluan 8 .000 yaitu: Peta kontur/ketinggian Peta kemiringan lahan Peta kesesuaian lahan Peta kerapatan vegetasi Peta daerah terbangun Peta kepadatan penduduk Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah tiga dimensi akan dicetak dalam format region wise (Pulau) dan format sheet wise (Bakosurtanal / untuk skala 1 : 250.4 Lingkup dan Lokasi Kegiatan Kegiatan pembuatan peta informasi penataan ruang wilayah tiga dimensi ini memiliki ruang lingkup sebagai berikut: 1. Dalam upaya mendukung sasaran tersebut maka produk fisik yang akan menjadi keluaran dalam pekerjaan ini adalah: Peta informasi penataan ruang wilayah tiga dimensi untuk Pulau Jawa dan Bali yang meliputi 6 peta tematik dalam skala 1:250.

Peta kontur/ketinggian Peta kemiringan tanah Peta kesesuaian lahan Peta kerapatan vegetasi Laporan Pendahuluan 9 . 1.000 untuk seluruh wilayah Pulau Jawa dan Bali.4. Menyiapkan dan mengumpulkan peta kesesuaian lahan skala 1:250. 3.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Mengumpulkan data kependudukan seluruh kota dan wilayah yang ada di dalam wilayah Pulau Jawa dan Bali. Mengemas peta tiga dimensi menjadi tampilan peta informasi penataan ruang tiga dimensi yang informatif dan menarik melalui penyajian animasi peta untuk kemudian dapat ditayangkan melalui portal penataan ruang. Menyiapkan dan mengumpulkan data ketinggian digital (Digital Elevation Model) yang selanjutnya diproses menjadi peta kontur. Memproses peta tiga dimensi dengan data dasar citra satelit untuk keenam tema. ketinggian dan peta kemiringan lahan. Peta informasi penataan ruang wilayah tiga dimensi untuk pulau Jawa dan Bali dalam skala 1:250. 2. Menyiapkan peta citra satelit untuk seluruh cakupan wilayah yang ada di pulau Jawa dan Bali yang dapat mendukung proses analisis kerapatan vegetasi dan daerah terbangun.000 dan format region wise (pulau).000 yang meliputi 6 tematik yaitu: 1. Melakukan pemrosesan dan menyajikan keenam informasi tiga dimensi dalam format skala 1:250.2 Lokasi Kegiatan Pelaksanaan kegiatan penyusunan peta informasi penataan ruang wilayah ini mencakup pulau Jawa dan Bali. 1.5 Keluaran Keluaran yang dihasilkan dari pelaksanaan pekerjaan ini adalah: a. 4.

format siap saji (JPG) dan media interaktif (avi). tujuan dan lokasi kegiatan serta keluaran pekerjaan yang diharapkan. kemiringan lahan. 1. rencana kerja dan jadual pelaksanaan pekerjaan jadual penugasan personil serta sistem pelaporan yang harus di serahkan. Laporan Pendahuluan 10 . tugas dan tanggung jawab personil.6 Sistematika Pembahasan Sistem pembahasan Laporan Pendahuluan Penyusunan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Pulau Jawa dan Bali ini disusun dalam 5 bab seperti diuraikan sebagai berikut ini: Bab I : Pendahuluan Menguraikan latar belakang. Bab II : Gambaran Umum Wilayah Kerja Membahas tentang penataan ruang wilayah pulau Jawa dan Bali yang berkaitan dengan 6 tema peta yakni: Kontur/ketinggian. Dibuat juga dalam bentuk soft copy (CD) berupa format vektor (shp) lengkap dengan data base/data atributnya. Peta daerah terbangun dan Peta kepadatan penduduk b. 6. sasaran. c. Bab IV : Tenaga Ahli dan Rencana Kerja Menjelaskan tentang struktur organisasi pelaksanaan pekerjaan. daerah terbangun dan kepadatan penduduk. Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah tiga dimensi tersebut di buat dalam format Pulau Jawa dan Bali ukuran A0 dan dicetak sejumlah 10 eksemplar dan format sheet wise skala 1 : 250. Bab III : Metode Pelaksanaan Pekerjaan Menguraikan pendekatan dan metodologi dalam penyusunan peta informasi penataan ruang wilayah Pulau Jawa dan Bali dalam 6 tematiknya. kerapatan vegetasi. maksud dan tujuan.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi 5.000 (Bakosurtanal) sejumlah 5 eksemplar.

Laporan Pendahuluan 11 .Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Bab V : Hasil Yang Diserahkan Bab ini menjelaskan hasil-hasil pekerjaan yang harus diserahkan kepada pengguna jasa baik yang bersifat data mentah maupun hasil analisis serta data analog maupun data digital.

dan dibagian timur terdapat Selat Bali yang memisahkan dari Pulau Bali. Provinsi Jawa Barat dengan daratan dan pulau-pulau kecil (48 Pulau di Samudera Indonesia. gugusan Pulau Madura. Sebelah barat pulau ini adalah Selat Sunda yang memisahkan dengan pulau Sumatera. Kepulauan Seribu merupakan gugusan pulau yang termasuk ke dalam provinsi DKI Jakarta.000 km2. Dari kelima gugus pulau terbesar yang ada di Indonesia. Di sekitar Pulau Jawa terdapat beberapa gugusan pulau-pulau kecil yang secara administratif masuk ke dalam salah satu provinsi di Pulau Jawa. pulau Jawa merupakan pulau terkecil namun mempunyai penghuni terbesar dari seluruh penduduk yang ada di Indonesia. Sedangkan dibagian selatan merupakan Samudera Hindia yang merupakan laut bebas yang memisahkan batas terluar Kepulauan Indonesia dengan negara Australia. Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta memiliki luas wilayah 650 Km2/ 65. Ketiga perairan tersebut merupakan laut teritori Kepulauan Indonesia.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH KERJA 2.160. sebelah utara merupakan Laut Jawa yang memisahkan dari Pulau Kalimantan. Provinsi Banten mempunyai luas wilayah 9. terletak paling selatan dari gugusan pulau-pulau terbesar dari Kepulauan Indonesia.1 Letak Geografis Pulau Jawa berukuran kira-kira 132.000 Ha. Gugusan Pulau Ujung Kulon termasuk dalam wilayah Provinsi Banten. Kepulauan Bawean dan Kepulauan Kangean termasuk dalam wilayah Provinsi Jawa Timur. Kepulauan Karimun Jawa termasuk dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah. Pulau Jawa membentang dari barat ke timur yang terbagi dalam enam provinsi.70 km2. 4 Pulau di Laporan Pendahuluan 12 .

Selain itu.461 Ha.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Laut Jawa. hal ini disebabkan karena di pulau ini terdapat gugusan gunung api baik yang sudah tidak aktif maupun yang masih aktif.435. Ke arah selatan topografi semakin terjal karena merupakan gugusan gunungapi. Bagian selatan Pulau Jawa sebagian besar merupakan perbukitan kapur dengan ketinggian antara 100 – 1500m dpl. Luas daratan Provinsi Jawa Timur adalah 47.8°50'48" Lintang Selatan dan 114°25'53" . 2. sehingga daerah tersebut banyak digunakan untuk pertanian.354. 14 Pulau di Teluk Banten dan 20 Pulau di Selat Sunda) mempunyai luas wilayah 44.922 km2 yang mencakup 36 % dari luas keseluruhan wilayah.000 km2 merupakan wilayah hutan. Gugusan gunungapi yang membentang dari barat ke timur ini mempunyai ketinggian hingga 2000m dpl. Kondisi topografi Pulau Jawa sangat bervariasi. Bagian utara pada umumnya merupakan dataran rendah landai yang membentang luas dan pada umumnya digunakan untuk kegiatan budidaya manusia.2 Kondisi Topografi Ciri utama daratan Pulau Jawa adalah merupakan bagian dari busur kepulauan gunung api (aktif dan tidak aktif) yang membentang dari ujung Pulau Sumatera hingga ujung Pulau Sulawesi. terdapat juga dataran tinggi dan pegunungan yang terbentuk dari batuan sedimen yang terbentuk pada zaman purba. dengan luas wilayah 563 286 ha. Perbukitan yang berbatasan dengan Samudera Hindia biasanya mempunyai lereng Laporan Pendahuluan 13 . Sebagai efek dari banyaknya gunung berapi tersebut di daerah sekitar gunungapi biasanya merupakan daerah yang subur. Pulau/Provinsi Bali terletak pada 8°03'40" . Hanya sebagian kecil saja di bagian utara Pulau Jawa yang bukan merupakan dataran seperti Rembang (bagian timur Jawa Tengah) sampai ke arah timur hingga Pulau Madura dan Kepulauan Kangean.61 Km2 atau 4.115°42'40" Bujur Timur. Daerah dataran ini pada umumnya mempunyai ketinggian 0 – 10m dpl. sisanya ± 200.

Agustus).000 mm/tahun.1. curah hujan paling besar sekitar bulan Januari dan paling kecil pada bulan September. Hanya sebagian kecil saja dari Pulau Jawa bagian selatan yang mempunyai lereng landai yaitu di bagian tengah. 2. Pulau Jawa beriklim tropis. Hanya sebagian kecil saja dibagian selatan yang merupakan perbukitan yang berbatasan dengan Samudera Hindia sehingga membentuk pantai yang curam. Sedangkan dibagian tengah merupakan gugusan gunungapi yang beberapa diantaranya masih aktif. Pada musim kemarau (Juni . dengan kelembaban 73 .3 Kondisi Klimatologis Pulau Jawa yang berada di sebelah selatan khatulistiwa secara langsung mempengaruhi perubahan iklimnya.29°C. Keberadaan iklim sangat dipengaruhi Angin Monson (Monson Trade) dan Gelombang La Nina atau El Nino. Saat musim penghujan (Nopember . sedangkan suhu pegunungan dengan ketinggian antara 400 .2°C. arah angin dipengaruhi oleh angin musim. cuaca didominasi oleh angin timur yang menyebabkan Pulau Jawa mengalami kekeringan yang keras terutama di wilayah bagian selatan.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi pantai yang terjal. Sedangkan kondisi topografi Pulau Bali pada umumnya merupakan dataran yang terdapat di bagian utara dan selatan pulau ini.2°C . terlebih lagi bila berlangsung El Nino.350 m dpl mencapai antara 15.Maret) cuaca didominasi oleh angin barat (dari Sumatera Hindia sebelah selatan India) yang bergabung dengan angin dari Asia yang melewati Laut Cina Selatan.94%. Curah hujan ratarata 2. Karena terletak di dekat garis khatulistiwa. namun di beberapa daerah pegunungan curah hujan rata- Laporan Pendahuluan 14 . perubahan iklim di Pulau Jawa seperti daerah lain di Indonesia mengikuti perubahan putaran dua iklim yaitu musim penghujan dan kemarau. Temperatur di daerah pantai dan perbukitan berkisar antara 22°C dan 34.

makin ke selatan permukaan keras semakin dangkal 8. Kondisi klimatologi Pulau Bali tidak berbeda jauh dengan Pulau Jawa. Tamblingan) dan 24 buah gunung di mana Gunung Agung merupakan gunung tertinggi di Bali dengan ketinggian 3. Di bawahnya terdapat lapisan endapan yang lebih tua yang tidak tampak pada permukaan tanah karena tertimbun seluruhnya oleh endapan alluvium. Bagian selatan terdiri atas lapisan alluvial. sedang dataran rendah pantai merentang ke bagian pedalaman sekitar 10 km. 2. Penyinaran matahari pada saat musim kemarau dimana matahari bergerak melalui daerah lintang utara. Di daerah yang dekat dengan pantai. Sebaliknya pada musim hujan.15 m. Kelompok pertama yaitu di bagian utara (memanjang dari bagian barat atau Mantingan sampai ke bagian timur atau Bondowoso).4 Kondisi Geologi Sebagian besar dataran yang terdapat di Pulau Jawa terdiri dari endapan Pleistocene terdapat ±50 m di bawah permukaan tanah. maka jam penyinaran matahari dapat mencapai lebih dari 12 jam. Pada bagian kota tertentu terdapat juga lapisan permukaan tanah yang keras dengan kedalaman 40 m. Di wilayah bagian utara baru terdapat pada kedalaman 10-25 m. berupa lempung keabuan. Kondisi geologi dari tanah di wilayah Jawa Timur dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi rata antara 3. suhu maksimum mencapai 25oC pada siang hari dan suhu minimum 19oC pada malam hari. Jumlah curah hujan yang terbanyak adalah pada bulan Januari. dimana matahari bergerak di daerah Lintang Selatan.00 m. Batur. Di Bali terdapat 4 buah danau (Beratan.000 mm per tahun. Suhu udara sangat bervariasi mengingat wilayah ini banyak terdapat pegunungan. suhu maksimum mencapai 33oC pada siang hari dan suhu minimum 22oC pada malam hari. Di daerah pegunungan. Buyan.000 sampai 5.142. sementara kecepatan angin bergerak antara 6 – 45 knot. maka lama penyinaran pada saat ini umumnya tidak lebih dari 12 jam. Kelompok kedua adalah di bagian selatan (memanjang dari Pacitan sampai Laporan Pendahuluan 15 .

25 m diatas permukaan laut. Pola aliran sungai sejajar dan membentuk lembah-lembah sungai yang cukup lebar. Batuan sedimen aluvium tersebar di sepanjang sungai Brantas dan Bengawan Solo yang merupakan daerah yang relatif subur. tufa dan aglomerat. Batuan penyusunnya terdiri dari batugamping terumbu. Batuan penyusunnya terdiri dari endapan lahar dari Formasi Kalibaru. Kemiringan lereng agak terjal (5 . kerikil. Satuan morfologi kaki gunungapi umumnya merupakan dataran yang bergelombang dengan kemiringan lereng 5 .Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi dengan Baluran). berupa tanah lempung dengan kandungan lumpur. Batuan penyusun berupa endapan aluvium rawa. pantai dan sungai.8 %) hingga hampir tegak (> 70 %) dan berada pada ketinggian 25 . batugamping tufaan.8 % hingga 15 . Pada beberapa tempat terdapat tanah mergel atau tanah lempung hitam. Satuan ini menempati di sepanjang pantai bagian timur daerah pemetaan mulai dari Banyuwangi hingga Muncar.78 % dari luas total wilayah daratan. Pola aliran sungai sejajar dengan lembah lebar dan dangkal. lanau dan lumpur. keduanya meliputi 44. Sebarannya Laporan Pendahuluan 16 . Satuan morfologi dataran aluvium merupakan dataran pantai dan dataran rawa dengan kemiringan lereng < 5 % dan berada pada ketinggian 0 . sekitar 12. Sebarannya terdapat di daerah Tanjung Sembulungan dan Watudodol.51% luas wilayah darat. Batuan miosen tersebar di sebelah selatan dan utara Jawa Timur.500 m di atas permukaan laut.30 % dan berada pada ketinggian 25 . membujur ke timur yang merupakan daerah kurang subur. Batuan ini juga mendominasi keadaan geologi di pulau Madura. agak dalam dan berbentuk “U”.440 m diatas permukaan laut. Tanah jenis ini indeks plastisitasnya sangat besar sehingga sifat kembang kerutnya juga besar dan kurang baik untuk fondasi bangunan apapun. pasir. Struktur geologi Jawa Timur didominasi oleh aluvium dan bentukan hasil gunung api kwarter muda.33% dan hasil gunung api kwarter tua sekitar 9. Batuan lain yang relatif luas penyebarannya adalah Milosen. Satuan morfologi perbukitan batugamping membentuk deretan perbukitan memanjang dari timur ke barat yang setempat dicirikan oleh bentuk topografi karst. terdiri dari kerakal.

26 persen). Persentase tersebut merupakan yang terbesar. Dengan teknik irigasi yang baik. Dua buah sungai besar adalah Kali Brantas sepanjang 317 km dan Bengawan Solo. Selat Madura maupun Samudera Indonesia. yaitu meliputi G. baik yang bermuara di Laut Jawa. Tapak. G. tadah hujan dan lain-lain. breksi dan tufa. Gempol dan G. luas lahan yang ada dapat dibagi menjadi . Merapi.36 persen dari total bukan lahan sawah. selainnya berpengairan setengah teknis. Pola aliran sungainya radial dengan lembah yang dalam dan sempit. dibandingkan presentase penggunaan bukan lahan sawah yang lain. Kondisi umum geohidrologi Provinsi Jawa Timur dicirikan dengan adanya sungai yang mengalir di wilayah tersebut.56 persen. Geohidrologi daerah ini diuraikan menggunakan parameter kondisi sungai. Ijen.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi menempati bagian tengah hingga selatan daerah pemetaan yaitu di sekitar daerah Cluring. sawah berpengairan teknis (38. 2.2806 m diatas permukaan laut. yaitu dalam bentuk peredaman terhadap besarnya puncak banjir. Kalipuro dan Songgon. Satuan morfologi kerucut gunungapi mempunyai bentuk bentang alam dengan kenampakan khas berupa kawah-kawah gunungapi dengan kemiringan lereng 15 30% hingga > 70 % dan berada pada ketinggian 500 . G. Glagah. Laporan Pendahuluan 17 . Bentuk akumulasi air permukaan dibedakan menjadi akumulasi alami dan akumulasi buatan. Sebarannya menempati di bagian utara daerah pemetaan. Raung. Suket. Batuan penyusunnya berupa batuan gunungapi muda yang merupakan hasil erupsi gunung api tersebut diatas yaitu lava. Singojuruh. Berikutnya lahan kering yang dipakai untuk tegalan/kebun/ladang/huma sebesar 34.5 Penggunaan Lahan Berdasarkan penggunaan lahan yang terdapat di Pulau Jawa. dan air tanah. G. Akumulasi air permukaan ini merupakan sumber air dan sekaligus sebagai pengaman terhadap bahaya banjir. Srono. danau. potensi lahan sawah yang dapat ditanami padi lebih dari dua kali sebesar 69. G.

968 364 189 368 31.445 3.01 persen.416.00 hektar atau 15. Penurunan ini disebabkan karena semakin menyempitnya sawah irigasi yang disebabkan karena adanya alih fungsi lahan menjadi lahan pemukiman.46 persen.28 persen dan yang paling kecil adalah luas lahan untuk hutan produksi tetap yang hanya mencapai 1 907.06 hektar atau 73.866 408 10.117 Ladang/ Pekarangan 1.450 Semak 8.184 Pemukiman 4.658 28. Namun pada tahun 2002.00 hektar.065 449 8.006 Lahan Pertanian 7.146 24. atau lahan industri atau lahan lainnya.109 455 3.231 31. Laporan Pendahuluan 18 . luas lahan persawahan mengalami penurunan menjadi 81.686.23 persen dari seluruh luas wilayah. Jika dilihat dari jenis pengairannya maka lahan sawah teririgasi merupakan lahan persawahan terbesar yang mencapai 98.958 9.01 hektar atau sebesar 23. Sedangkan jika dilihat dari fungsinya.977 2.409 12.466 22.523 Tanaman Keras & Perkebunan 7.777.693 Sawah 9.22 persen dan lahan sawah lainnya yang mencapai 0.10 hektar atau 1. maka luas lahan untuk hutan lindung merupakan kawasan terbesar yaitu mencapai 95.77 persen.331 6.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi No 1 2 3 4 Nama Daerah Jawa Barat Jawa Tengah Yogyakarta Jawa Timur TOTAL Hutan 4.713 6.766.788 5.24 persen.558 Sedangkan penggunaan lahan yang terdapat di pulau Bali secara umum dapat dibagi menjadi beberapa penggunaan sebagaimana berikut : Lahan Kehutanan Luas kawasan hutan di Bali mencapai 130.208 Air 780 432 5 967 2. Kemudian disusul lahan persawahan tadah hujan 1.513 17.031 13 5.497 837 11.166 548 6. Lahan Persawahan Luas lahan persawahan di Bali tahun 2000 mencapai 85.

594 hektar atau sebesar 0. Pada tahun 2000 luas lahan tambak ikan mencapai 670 hektar namun pada tahun 2002 luasnya tinggal 579 hektar atau mengalami penurunan. Keadaan ini terbukti dengan semakin meningkatnya luas lahan untuk usaha lain yang mencapai 8. yaitu sebesar 3. Selain untuk pemukiman ternyata pengalihan fungsi lahan juga menyebabkan perubahan pada luas lahan untuk usaha lain. Luas lahan kolam air tawar terus mengalami peningkatan dari 147 hektar tahun 2000 menjadi 283 hektar di tahun 2002 atau naik sebesar 92.550.671.43 persen di tahun 2001. yaitu sebesar minus 13. luas lahan untuk ladang kembali meningkat menjadi 128. Pada tahun 2000 luas lahan pemukiman mencapai 43.44 persen dari semula 489 hektar tahun 2000 menjadi 1.35 persen dan diikuti penurunan yang cukup tajam untuk tanah yang tidak diusahakan sebesar minus 65. Sedangkan untuk luas lahan untuk danau / waduk buatan selama tiga tahun terakhir tidak mengalami perubahan. luas lahan untuk tegalan/ladang dari tahun 2000 sampai tahun 2002 terus mengalami peningkatan.7 hektar.58 persen.428 hektar kemudian meningkat sebesar 0.00 hektar atau naik sebesar 2. Pada tahun 2000 luas lahan untuk usaha lain mencapai 43. Berdasarkan data yang ada. Penurunan luas lahan untuk usaha lainnya ternyata menjadi lahan tidak diusahakan.52 persen dan yang mengalami penurunan adalah luas lahan untuk tambak ikan.342 hektar di tahun 2001.68 persen. Hal ini berkaitan erat karena pada tahun yang sama lonjakan yang cukup signifikan terjadi pada lahan yang tidak diusahakan yang mencapai kenaikan sebesar 174.29 hektar dan kemudian turun sebesar 3.758. tanah yang semula tidak diusahakan kembali menurun. Laporan Pendahuluan 19 .Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Lahan Kering Alih fungsi lahan menjadi lahan pemukiman menjadi penyebab utama semakin menyepit lahan persawahan di Bali.588.23 persen (127.87 persen. Pada tahun 2002.77 persen. Hal ini terlihat dengan semakin luasnya lahan pemukiman dari tahun 2000 sampai tahun 2002.00 hektar sedangkan pada tahun 2002 bertambah menjadi 44. Namun pada tahun 2002. Pada tahun 2000 luas ladang mencapai 127.723 hektar) di tahun 2001.

meskipun mereka terbagi dalam dua kelompok: Islam ortodoks. Suku Jawa merupakan kelompok etnis tunggal.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi 2.000 di beberapa tempat. ritual. yang terdapat di ujung timur Pulau Jawa. Biasanya suku ini terbagi dalam tiga wilayah. dengan kisaran 40. Sebagian besar penduduk memeluk agama Islam. Laporan Pendahuluan 20 . dan Suku Badui. Pulau Jawa juga berpenghuni Suku Sunda. Wilayah ketiga adalah Blambangan. dan mistik Jawa. Hanya di antara kelompok kecil masyarakat di Tengger. dan mereka yang menggabungkan Islam dengan adat-istiadat. dengan kepadatan penduduk rata-rata 862 orang/km2. Kebanyakan dari mereka lebih bercirikan masyarakat perkotaan ketimbang masyarakat pedesaan. tradisitradisi kuno Blambangan masih terpelihara. Penduduk asli Blambangan yang telah memeluk agama Islam dikenal sebagai orang Osingan. Wilayah ini membentang meliputi dataran di bagian utara mulai dari Cirebon sampai Surabaya dan Pasuruan. Pulau Jawa berpenduduk hampir 114 juta jiwa. Kebanyakan penduduk yang mendiami wilayah ini bermata pencaharian sebagai petani (bercocok tanam). Suku Madura. dan tanahnya yang sangat subur sehingga memungkinkan pembuatan teras-teras sawah irigasi. Karakteristik penduduk yang mendiami wilayah ini adalah keras. Selain itu. Wilayah Kejawen membentang dari Banyumas sampai ke Blitar. Suku Jawa yang mendiami wilayah ini umumnya adalah pemeluk agama Islam ortodoks dan pedagang-pedagang kecil yang membawa serta kepercayaan mereka dalam perjalanan melintasi Jawa dan wilayah di sepanjang Nusantara lainnya. memiliki beberapa tradisi budaya yang unik. tetapi tradisi ini semakin luntur karena pengaruh imigran yang datang dari Madura (wilayah utara) dan dari Kejawen (wilayah selatan). Kepadatan penduduk Pulau Jawa yang sangat tinggi terutama disebabkan oleh pengaruh sejarah. Suku Tengger.6 Populasi dan Sosial Budaya Pada tahun 1995. Wilayah kedua dikenal sebagai wilayah pesisir.

458 jiwa.886 jiwa (49.386 orang atau turun sebesar 1.36 persen.40 persen di banding tahun 2001 dan penduduk di atas 65 tahun sebesar 194. Sedangkan jumlah penduduk warga negara Indonesia keturunan berjumlah 2.632.392 jiwa.64 tahun mencapai 2. Sementara itu. Jumlah penduduk tahun 2002 ini naik 1.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Jumlah penduduk Bali tahun 1997 berjumlah 2.267 orang di tahun 2002 atau turun sebesar 0.582 jiwa terdiri dari 1. maka kepadatan penduduk di Bali telah mencapai 571 jiwa/km2. Jumlah transmigran yang dari Bali tahun 1997 total berjumlah 5.906.228 orang atau naik sebesar 3.760 jiwa perempuan.76%) penduduk laki-laki dan 1.156. Dengan luas wilayah 5.92 persen dari tahun sebelumnya sebanyak 3.96 persen dibanding tahun 2001.632.86 km2. jumlah penduduk usia 0 -14 tahun mencapai 830.446.91 persen dibandingkan penduduk usia yang sama di tahun 2001. Laporan Pendahuluan 21 .459. Berdasarkan data statistik tahun 2002 tercatat jumlah penduduk di Bali sebanyak 3 216 881 jiwa yang terdiri dari 1.582.822 jiwa laki-laki dan 1.583. Tahun 2001 angka ketergantungan mencapai 49 orang per 100 orang usia kerja sedangkan tahun 2002 mencapai 47 orang per 100 usia kerja atau turun sebesar 4. Dengan meningkatnya penduduk usia kerja maka secara langsung akan mempengaruhi angka ketergantungan.906.995 jiwa (50.24%) penduduk perempuan. Penduduk usia 15 .192.

2.1 Pendekatan 1. Proses perencanaan tata ruang wilayah. pemanfaatan ruang. dan pengendalian ruang”. 23 Laporan Pendahuluan . 327/KPTS/M/2002 tentang Penetapan Pedoman bidang Penataan Ruang tanggal 12 Agustus 2002 adalah “Proses perencanaan tata ruang. kebijakan. Pengendalian yang mengarahkan pemanfaatan ruang sebagaimana telah ditetapkan dalam rencana tata ruang tersebut. Berkaitan dengan pengertian tersebut maka Penataan Ruang Wilayah Jawa dan Bali akan memiliki 3 makna pokok yaitu: 1. yang dibangun dari beberapa informasi data.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi BAB III Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan Pembuatan peta informasi penataan ruang wilayah tiga dimensi ini dilaksanaan melalui pendekatan dan metodologi 3. Penyelenggaraan penataan ruang akan bertumpu pada 3 fungsi dan substansi tersebut diatas pada wilayah pulau Jawa dan Bali. Pemanfaatan ruang akan bertumpu pada rencana tata ruang yang telah ditetapkan sebagai acuan dalam pengaturan ruang wilayah Pulau Jawa dan Bali sebagaimana telah melalui beberapa proses dan pada akhirnya ditetapkan sebagai Peraturan Presiden dan 3. aturan yang ada terkait dengan wilayah pulau Jawa dan Bali. Umum Pengertian dari Penataan Ruang dalam UU Nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang dan SK Meteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah (kini PU) No.

9. 5. Substansial Pada tahap proses penyusunan rencana tata ruang wilayah Pulau Jawa dan Bali yang kemudian menjadi pedoman pemanfaatan dan pengendalian tata ruang. informasi dan beberapa kebijakan dalam pembangunan untuk selanjutnya melalui teknik analisa dan penyusunan rencana data dan informasi tersebut di perlukan sebagai masukan utama yang memungkinkan terbentuknya rencana tata ruang. Data-data tersebut berdasarkan kebutuhannya dapat di bagi dalam: 1. Penggunaan lahan. 6. 3. Sistem permukiman. Dari kesembilan jenis data di atas maka data dalam bentuk peta dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan penyusunan peta informasi penataan ruang dikelompokkan dalam: 1. Kemiringan lahan. 4.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Oleh karena itu “ pekerjaan Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi” juga merupakan kegiatan dalam upaya menjalankan penataan ruang wilayah sebagaimana ketiga fungsi tersebut diatas. Sumberdaya buatan. 7. Sumber daya tanah Ketersediaan lahan. 2. Sumber daya alam yang termasuk di dalamnya adalah data fisik dasar terdiri dari peta-peta antara lain: A. Sumberdaya manusia. Analisis regional. Kelembagaan. 8. 2. Ekonomi dan sektor unggulan. Sumberdaya alam. Kebijaksanaan pembangunan. Laporan Pendahuluan 24 . diperlukan beberapa data.

Pertumbuhan penduduk. Sumber daya hutan. Laporan Pendahuluan 25 . peta kesesuaian lahan. 1. Densitas dan produksi hasil hutan. Peta Kontur dan ketinggian dalam morfologi B. Sebaran dan luas hutan lindung. Kesesuaian lahan atau ketersediaan lahan yang merupakan hasil dari analisa terhadap data fisik dasar lahan dalam beberapa parameter yang ditetapkan seperti kemiringan lahan yang dapat di gunakan untuk konstruksi atau untuk konservasi dll. Sebaran dan luas hutan produksi tetap. Penduduk menurut struktur agama. Geologi tata lingkungan. yang berkaitan dengan pelaksanaan penyusunan peta informasi penataan ruang wilayah Pulau Jawa dan Bali adalah: a. Kepadatan penduduk. Peta kemiringan lahan c. Berkaitan dengan tematik yang akan dikerjakan adalah peta Densitas pohon dalam lahan. Sumber daya manusia Data yang dibutuhkan adalah: Jumlah penduduk. peta kemiringan lahan. Sebaran dan luas hutan yang dapat dikonversi. Penduduk menurut tingkat pendidikan. b.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Jenis tanah. Penduduk menurut struktur usia. Morfologi/kontur dan ketinggian lahan Iklim. Peta-peta tematik yakni peta kontur dan ketinggian. Sebaran dan luas hutan produksi terbatas. Penduduk menurut mata pencaharian.

Penggunaan Lahan Dalam peta tematik tiga dimensi untuk daerah terbangun. kota yang karena skalanya terlihat dalam luasan yang terbatas). maka dapat dideskripsikan melalui peta penggunaan lahan dimana daerah terbangun merupakan gabungan penggunaan lahan yang terdiri dari sebaran pemukiman (desa. Peta Kesesuaian Lahan 4. Peta tematik sebagai informasi penyelenggaraan tata ruang wilayah pulau Jawa dan Bali yang akan disusun terdiri dari: 1. sehingga dapat di simpulkan bahwa pendekatan yang dilakukan dalam menyusun parameter dan variabel dalam peta tiga dimensi menggunakan pendekatan yang selama ini di manfaatkan dalam penyusunan rencana tata ruang wilayah.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Penduduk menurut jenis kelamin. jaringan prasarana dan sarana yang ada dsb. Angka kelahiran dan angka kematian. Tingkat harapan hidup. Peta Kepadatan Penduduk. Ke enam tematik tersebut juga termasuk dalam peta yang digunakan dalam melakukan proses penataan ruang. Laporan Pendahuluan 26 . Peta Kerapatan Vegetasi 6. 3. Peta Kontur/Ketinggian 2. Tingkat buta huruf. Jumlah kepala keluarga. Tingkat mobilitas penduduk. Penduduk menurut struktur pendapatan. Data yang dibutuhkan dalam peta tematik hanya pada item 2 yaitu kepadatan penduduk. Peta Kemiringan lahan 3. Peta Daerah Terbangun 5.

sehingga akan didapatkan tipologi lahan dengan jenis kemiringan dengan input teknologi yang dipakai. Pendekatan pengolahan data spasial yang digunakan adalah menggunakan metode Sistem Informasi Geografi (SIG).2. Data penginderaan jauh yang digunakan berupa citra satelit Landsat 7 ETM+ dan data DEM-SRTM.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Pendekatan yang dilakukan dalam pekerjaan ini adalah pendekatan yang menggunakan teknologi penginderaan jauh untuk ekstraksi data spasial. 3. kerapatan vegetasi. elevasi dll.1 Umum Dalam penyusunan rencana tata ruang dibutuhkan berbagai data dan informasi yang berkaitan dengan aspek yang di analisa di dalamnya. Dalam 6 komponen tematik tersebut masing-masing memiliki spesifikasi teknis dalam penerapannya sesuai dengan keluaran yang diperlukan pada rencana tata ruang wilayah. 2.2 Metodologi Pembuatan peta informasi penataan ruang wilayah tiga dimensi dengan 6 tematik yang dikerjakan menggunakan metodologi sesuai dalam pedoman penyusunan rencana tata ruang yang telah dibakukan. Ketinggian lahan akan dimanfaatkan berapa analisa yang berkaitan dengan V(O)max. seperti lahan terbangun. yang selama ini dipakai dalam mengukur jenis hutan. Analisa menggunakan konsep yang berkaitan dengan tematik yang diberikan seperti 1. Metode ini memiliki kemampuan yang sangat andal dalam pengolahan dan penyusunan basis data spasial dalam jumlah besar. kerapatan vegetasi dilakukan dengan konsep perhitungan indeks vegetasi. 3. Untuk lereng lahan dipergunakan standar kemiringan lahan yang telah baku di pakai dalam melakukan analisa kelayakan konstruksi. 3. Laporan Pendahuluan 27 . Kelayakan Konstruksi atau tipe vegetasi yang sesuai dengan ketinggian tempat. lereng. yang masingmasing akan diuraikan berikut ini.

Peta Ketinggian Lahan Peta ketinggian lahan merupakan informasi yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kesesuaian tumbuh vegetasi dan berkembang di dalam interval ketinggiannya.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi 4. Sehingga di hasilkan kota kecil. 5.2. 2. Peta Kemiringan Lahan Atribut kemiringan lahan umumnya bernotasi huruf dari A sampai F dengan sesuai dengan interval lerengnya. sehingga vegetasi yang ada juga akan mempunyai sifat-sifat yang khas. evaluasi dan pedoman dalam rencana tata ruang yang telah di jadikan pedoman melalui keputusan Presiden. Hal tersebut secara tidak langsung memberikan kenampakan yang spesifik dari lahan dengan elevasi tertentu. Jumlah penduduk dipakai untuk menetapkan tipologi wilayah pemukiman/ kota. Dengan demikian peta informasi penataan ruang wilayah tiga dimensi pulau Jawa dan Bali dapat di manfaatkan sebagai media monitoring. Kesesuaian lahan. Dari berbagai tingkat ketinggian/elevasi dapat dizonasi daerah-daerah yang mendukung untuk penggunaan lahan yang berupa pertanian maupun hortikultura. masing-masing atribut ini memiliki karakteristik Laporan Pendahuluan 28 . 3. Peta daerah terbangun hanya memperlihatkan aktifitas penduduk dalam kawasan yang akan dimanfaatkan dalam proses pemanfaatan dan pengendalian ruang berdasarkan beberapa masukan di atas. dengan sebarannya berdasarkan rank yang disusun pada proyek NUDS. Berkaitan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Pulau Jawa dan Bali maka kesesuaian yang diberikan dalam bentuk arahan Budidaya dan Non Budidaya. 6. sedang dan kota besar.2 Spesifikasi Teknis Ke enam peta tematik tersebut memiliki spesifikasi teknis sesuai dengan atribut yang di perlukan yaitu: 1. merupakan gabungan dari beberapa data dasar seperti tersebut diatas sehingga menghasilkan arahan-arahan bagi penggunaan lahan dalam rencana tata ruang wilayah.

Peta Kesesuaian Lahan Peta kesesuaian lahan ini merupakan hasil dari analisa beberapa sumber data dasar. 3. ketinggian dll. Melalui penilaian kerapatan bangunan per ha maka dapat diklasifikasikan daerah terbangun pedesaan. dengan perhitungan indeks vegetasinya. Peta Kepadatan Penduduk Penyebaran penduduk dihitung dari jumlah penduduk persatuan luas (ha). Berdasarkan ketentuan tersebut dan arahan pemanfaatan ruang dalam peta rencana tata ruang wilayah Pulau Jawa dan Bali yang memanfaatkan ruang berdasarkan dua klasifikasinya dengan beberapa macam turunannya maka analisa dalam penyusunan peta informasi tata ruang tiga dimensi ini menggunakan output yang sama. 5. Kepadatan penduduk yang semakin tinggi mengindikasikan pertumbuhan Laporan Pendahuluan 29 . Kelas lereng dengan nilai yang kecil menunjukkan kecenderungan drainase untuk penggenangan dan sebaliknya lereng dengan nilai yang tinggi akan menunjukkan aliran permukaan yang besar sehingga tingkat penggenangan akan semakin kecil. batuan geologi. 4. Peta Kerapatan Vegetasi Kerapatan vegetasi diartikan dalam jumlah tegakan pohon persatuan luas. Pengaruh penggenangan terhadap konstruksi (penggunaan lahan non pertanian) dan pertanian adalah bahaya banjir. tanah. seperti kemiringan lahan. Peta Daerah Terbangun Daerah terbangun di artikan sebagai wilayah dengan telah mendapatkan input konstruksi. terutama di pakai pada wilayah yang memiliki jenis tumbuhan tahunan. sehingga untuk wilayah yang terbuka tetapi belum mendapatkan input konstruksi belum dapat dikategorikan sebagai daerah terbangun. semi perkotaan dan perkotaan.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi tersendiri dalam daya dukung konstruksi. 6. sesuai dengan hasil yang diharapkan. terutama pada daerah yang merupakan cekungan. Kemiringan lahan ini berpengaruh terhadap kondisi drainase daerah tersebut.

sedangkan kepadatan penduduk yang kecil cenderung pertumbuhan pembangunan ke arah horizontal. a. Persiapan Administratif Persiapan administratif yang dimaksudkan adalah perihal surat menyurat maupun syarat-syarat administratif yang harus dipenuhi untuk mendapatkan data yang dimaksud. Administratif ini biasanya kalau kita berhubungan dengan instansi tertentu untuk mendapatkan data. 3.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi bangunan yang lebih mengarah ke vertikal. Laporan Pendahuluan 30 .2.3. baik dari instansi pemerintah maupun dari sumber-sumber yang lain.4 Pengumpulan Data Setelah semua data yang diperlukan untuk dapat melalukan pekerjaan ini diinventaris maka data tersebut dikumpulkan. b. studi pustaka. dan persiapan administratif. dan lain-lain. Inventarisasi Data yang Dibutuhkan dan Keberadaan Data Pada tahap ini dilakukan inventarisasi data baik data primer maupun data sekunder serta keberadaan data. Proses ini akan sangat membantu dalam proses untuk memperoleh data yang diperlukan karena data yang dibutuhkan jelas dan dimana lokasi mendapatkannya juga jelas keberadaannya. a. peta infrastruktur. Data sekunder ini dapat berupa peta-peta tematik maupun data statistik kependudukan. Data Sekunder Data Sekunder pada pekerjaan ini meliputi data-data pendukung yang diperlukan untuk dapat menyelesaikan pekerjaan. 3. peta administrasi. Persiapan Tahap persiapan merupakan tahap paling awal dari pekerjaan ini yang digunakan untuk inventarisasi data. Data pada pekerjaan ini meliputi data primer dan data sekunder. Data sekunder yang berupa peta tematik antara lain adalah : peta kesesuaian lahan.2.

Data Primer Data primer pada pekerjan ini meliputi : citra satelit landsat 7ETM+ tahun perekaman 2001 – 2006.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi b.000 yang dikeluarkan oleh Bakosurtanal.000 yang digunakan adalah : Lembar Lembar Lembar Lembar Lembar Lembar Lembar Lembar Lembar Lembar Lembar : 1108 : 1109 : 1110 : 1208 : 1209 : 1210 : 1308 : 1309 : 1407 : 1408 : 1409 Lembar Lembar Lembar Lembar Lembar Lembar Lembar Lembar Lembar Lembar : 1507 : 1508 : 1509 : 1607 : 1608 : 1609 : 1707 : 1708 : 1709 : 1807 Laporan Pendahuluan 31 . dan Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) skala 1:250. Gambar 3.1. data DEM SRTM yang dikeluarkan oleh NASA tahun 2002. Cakupan Citra Landsat Indonesia Citra landsat 7ETM+ yang digunakan pada pekerjaan ini adalah : Path/Row Path/Row Path/Row Path/Row Path/Row Path/Row Path/Row : 123/64 : 123/65 : 122/64 : 122/65 : 121/64 : 121/65 : 120/64 Path/Row Path/Row Path/Row Path/Row Path/Row Path/Row Path/Row : 119/65 : 119/66 : 118/65 : 118/66 : 117/65 : 117/66 : 116/66 Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) skala 1:250.

hgt S08E107. S06E105.hgt S06E113. Peta yang discan adalah peta RBI Laporan Pendahuluan 32 .hgt S09E110.hgt S08E108.hgt S08E112.hgt S07E114. .hgt S06E111.hgt S07E116.hgt S05E111. Untuk mendapatkan peta digital ini ada berbagai tahapan yang harus dilalui.hgt S06E114.hgt S08E110.hgt S05E109.hgt Pengolahan Data Pengolahan data pada pekerjaan kali ini dilakukan untuk memroses semua data yang ada baik yang berupa data spasial maupun data non spasial. pemutakhiran lahan terbangun dan obyek planimetris.hgt S09E109.Scanning Scanning merupakan proses untuk mengubah format data dari data hardcopy ke dalam format digital dengan bantuan alat scanner.hgt S08E105.hgt S06E108.hgt S08E115. Peta-peta cetak.hgt S06E112.hgt S09E111.hgt S07E105.hgt S06E116.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Data DEM SRTM yang digunakan pada pekerjaan ini adalah : S05E105.hgt S07E115.hgt S06E107.hgt S08E113. baik itu peta RBI maupun peta-peta pendukung yang lain discan agar dapat diproses secara digital.hgt S07E110.hgt S05E115.hgt S08E111.hgt S05E107.hgt S06E115.hgt S07E109.hgt S05E114.Transformasi Koordinat Transformasi koordinat dilakukan untuk memberikan sistem koordinat tertentu dan juga untuk membetulkan geometri dari peta hasil scnning agar sesuai dengan keadaan sesungguhnya dilapangan.hgt S09E113.hgt S09E105.hgt S08E116.hgt S08E109.hgt S07E113.hgt S05E108. pemetaan elevasi dan kemiringan lereng. yaitu : .hgt S05E113.hgt S09E108.hgt S06E106. pemetaan kesesuaian lahan 1.hgt S08E114. pemetaan tingkat kerapatan vegetasi.hgt S05E110.hgt S07E107.hgt S05E106.hgt S09E116.hgt c. Peta Digital Peta digital merupakan peta yang dihasilkan dari proses digital dengan menggunakan hardware komputer dan software yang dapat untuk melakukan proses pemetaan.hgt S08E106.hgt S09E112.hgt S06E109.hgt S06E110.hgt S07E106.hgt S07E112. Proses pengolahan data meliputi pengolahan peta digital.hgt S09E115.hgt S07E108.hgt S05E116.hgt S09E107.hgt S09E114.hgt S07E111.hgt S05E112. pengolahan citra satelit.hgt S09E106.

format digital. Enhanced Thematic Mapper Plus (ETM+) merupakan sensor multispektral radiometer yang di bawa oleh satelit Landsat 7. Editing dilakukan untuk menghilangkan error yang terjadi saat digitasi. Peta RBI memuat semua informasi unsur alami yang ada dipermukaan bumi. 2. Oyek yang biasanya terdapat gap dan overlap adalah obyek yang berupa area (polygon).Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi dan juga peta-peta tematik pendukung. Sensor ini telah menyediakan liputan simultan sejak Juli 1999. Berdasarkan hal tersebut maka digitasi hanya dilakukan pada obyek lahan terbangun dan obyek planimetris. Gap merupakan data yang kosong dari data spasial dan overlap adalah adanya data yang tumpang tindih antara obyek yang satu dengan obyek yang lain. yang mencakup seluruh daerah pada pekerjaan kali ini. Kesalahan yang terjadi biasanya berupa overshoot dan undershoot Obyek dikatakan overshoot jika obyek tersebut seharusnya berhimpit dengan obyek lain tetapi ternyata obyek tersebut melebihi daerah perpotongan. Kesalahan yang terjadi pada topologi adalah adanya gap dan overlap. Proses transformasi koordinat ini mutlak dilakukan agar didapatkan peta digital dengan akurasi yang tinggi dan agar tidak terjadi pergeseran antara peta yang satu dengan peta yang lain pada waktu proses overlay.Digitasi Lahan Terbangun dan Obyek Planimetris Tahap selanjutnya adalah memilih informasi yang diperlukan dari peta RBI hasil scan dan melakukan digitasi terhadap obyek tersebut . full band. misalkan : data spasial lahan terbangun. Obyek yang biasanya mengalami overshoot dan undershoot adalah obyek jalan dan obyek sungai. dengan putaran 16 hari. liputan awan < 20 %. perekaman 2001/2006. Laporan Pendahuluan 33 . Pengolahan Citra Satelit Landsat 7 ETM+.Editing dan Topologi Kualitas dari data spasial sangat ditentukan oleh ada tidaknya error dan topologi yang bagus. Obyek dikatan undershoot jika obyek tersebut kurang dari daerah perpotongan. Tidak semua informasi yang terdapat pada peta RBI kita perlukan dalam pekerjaan ini tetapi pada pekerjaan kali ini yang diperkukan hanya informasi mengenai lahan terbangun dan obyek planimetris seperti : jalan dan sungai. . .

69 0.78-0. Citra landsat ini terdiri dari 8 band (saluran).4.1.1.75 10.2. Tabel 6. merah inframerah dekat Aplikasi Pemetaan pesisir.09-2. band 6 mempunyai resolusi spasial 60 meter.12.53-0.90 1.Resolusi spektral dan aplikasi yang bisa digunakan dari masing-masing band Band Resolusi spektral (Microns) 0.63-0.3.90 30 30 30 30 30 60 30 15 Resolusi (meter) Tabel 6. band 3 menggunakan spektrum biru.52-.35 0.40. 7 menggunakan spektrum inframerah dekat dan inframerah jauh.35 .69 0.45 . studi perubahan perkotaan 1 2 3 4 5 6 7 8 tampak. Citra landsat 7 ETM+ mempunyai berbagai macam resolusi spasial : band 1. band 4 menggunakan spektrum hijau.52 0.08 .45-0.55-1.0.0. Luas cakupan tiap scene dari citra satelit landsat adalah 170 x 183 kilometer (106 x 115 mil).52 .5. diskriminasi vegetasi dan tanah Menduga vigositas vegetasi Penyerapan klorofil untuk diskriminasi tumbuhan Survey biomasa dan deliniasi badan air Pengukuran kelembaban vegetasi dan tanah.63 .0. band 5.40-12.90 1.52 .52 0.76 .75 10.60 0. band 6 menggunakan spektrum thermal.50 2.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Pada pekerjaan kali ini akan digunakan citra satelit landsat 7 ETM+. dan band 8 mempunyai resolusi spasial 15 meter. dan band 8 menggunakan spectrum visible.0.2. Panjang Gelombang dan Resolusi dari Citra Landsat Panjang Landsat 7 gelombang (micrometer) Band 1 Band 2 Enhanced Thematic Mapper Plus (ETM+) Band 3 Band 4 Band 5 Band 6 Band 7 Band 8 0. Laporan Pendahuluan 34 .90 (panchromati c) EM Region Biru tampak Hijau tampak Merah tampak Inframerah dekat Inframerah tengah Inframerah thermal Middle Infrared Hijau. band 5 menggunakan spektrum merah.50 2. diskriminasi salju dan awan Pemetaan termal. studi kelembaban tanah dan pengukuran stress tanaman Pemetaan hidrotermal Pemetaan area luas.0.7 mempunyai resolusi spasial 30 meter. Band 1 menggunakan spektrum ultra violet.55 .2.61 0.

Koreksi Radiometri Koreksi radiometri digunakan untuk mengkoreksi nilai spectral yang terdapat pada citra satelit. Tenaga pantulan dari obyek dipermukaan bumi yang sampai ke sensor satelit banyak mengalami hambatan atmosfer yang menyebabkan adanya bias. . Koreksi geometri dilakukan dengan menggunakan Laporan Pendahuluan 35 . Gambar 3. Bias ini akan menyebabkan tidak samanya tenaga yang dipantulkan oleh obyek dengan tenaga yang diterima oleh sensor. .Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi a. Koreksi Citra Citra satelit sebelum digunakan harus dikoreksi.2. Koreksi radiometri Untuk berbagai kepentingan bias ini harus dikoreksi sehingga tenaga yang diterima sensor akan sama atau mendekati dengan tenaga matahari yang dipantulkan oleh obyek ke sensor. Koreksi yang dilakukan meliputi koreksi radiometri dan koreksi geometri.Koreksi Geometri Koreksi geometri pada awal proses penggunaan citra satelit landsat digunakan untuk membetulkan geometri citra satelit agar sesuai dengan keadaan sesungguhnya di lapangan.

Titik control merupakan titik ikat dimana yang digunakan sebagai pengikat adalah obyek yang sama antara obyek didalam citra dengan obyek dilapangan. Titik control dapat diperoleh dari survey GPS maupun dari peta-peta yang sudah ada (misal : peta RBI). Disamping warna yang dihasilkan hanya satu warna (misal : grey scale) sehingga akan menghambat dalam proses pengenalan obyek. Koreksi geometri dengan menggunakan titik control (GCP) b.3. Kalau menggunakan single band proses pengenalan obyek pada citra akan sangat terbatas karena interpretasi kita hanya dibantu oleh satu band tanpa memperhitungkan band yang lain. Komposit dilakukan dengan menggabungkan 3 band dari citra satelit untuk Laporan Pendahuluan 36 . Penyusunan Citra Komposit Warna Citra satelit landsat dapat digunakan dan ditampilkan dalam bentuk band tunggal (single band) maupun dengan menggunakan komposit. Berbagai kelemahan diatas dapat diatasi dengan membuat komposit citra.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi system koordinat tertentu dengan bantuan titik control dilapangan (ground control point). Gambar 3.

Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi

menghasilkan citra baru. Citra baru ini akan mempunyai warna yang lebih bagus sehingga akan sangat membantu dalam proses pengenalan obyek. Disamping itu kita juga dapat mengkombinsikan berbagai macam band sesuai dengan tujuan interpretasi yang dilakukan. Hal tersebut karena masing-masing band akan mempunyai interaksi yang berbeda dengan obyek sehingga dengan

mengkombinasikan band tertentu diharapkan akan dapat memperjelas obyek yang akan diinterpretasi.

Gambar 3.4. Citra satelit single band dengan rona (warna) keabuan

Gambar 3.5.Citra satelit dengan komposit warna (komposit 547)

Laporan Pendahuluan

37

Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi

c.

Fusi Citra Fusi atau penggabungan citra dilakukan untuk menggabungkan antara 2

citra yang mempunyai resolusi spasial yang berbeda. Fusi dilakukan untuk mendapatkan citra baru dengan resolusi spasial yang lebih bagus. Dengan resolusi spasial yang bagus maka akan semakin detil obyek yang dapat ditangkap oleh sensor. Citra satelit landsat 7ETM+ band 8 (pankromatik) mempunyai resolusi spasial 15 meter. Resolusi ini lebih baik bila dibandingkan dengan band yang lain dari citra satelit landsat. Dengan menggabungkan band 8 ini dengan band yang lain akan dihasilkan citra baru dengan resolusi 15 meter. Proses mosaiking citra dilakukan dengan software ER Mapper 6.4 dengan

menggabungkan citra yang yang terpotong menjadi tiap scene. Pada satu wilayah antar scene saling bertampalan, sehingga jika digabungkan atau dioverlay akan menjadi satu bagian wilayah.

(a)

(b)

Gambar 3.6. Fusi citra, (a) citra asli sebelum proses fusi (resolusi spasial 30meter), (b) band 8 (resolusi spasial 15meter), (c) citra setelah proses fusi (resolusi spasial 15meter dengan warna RGB).
Laporan Pendahuluan

38

Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi

d.

Filter Processing Filter merupakan formula matematis yang diterapkan pada citra untuk

menonjolkan aspek-aspek tertentu sesuai dengan keperluan pekerjaan. Ada banyak filter dalam image processing tetapi untuk pekerjaan ini hanya menggunakan filter sharpen. Filter ini akan memberikan efek penajaman pada citra satelit landsat.

3

Pemutakhiran Lahan Terbangun dan Obyek Planimetris Pemutakhiran merupakan proses untuk melakukan updating data. Pada

proses sebelumnya telah dilakukan pembuatan peta digital dari peta RBI dan peta pendukung yang lain. Peta-peta tersebut kemudian didigitasi untuk mengambil informasi yang diperlukan dimana yang didigitasi adalah lahan terbangun dan obyek planimetris (jalan dan sungai).

Gambar 3.7. Proses updating data lahan terbangun dan obyek planimetris dengan menggunakan citra landsat.

Laporan Pendahuluan

39

Untuk pekerjaan kali ini yang berkaitan dengan pemetaan kerapatan vegetasi maka digunakan transformasi index vegetasi (NDVI). Penggunaan band ini karena band ini peka terhadap vegetasi disamping itu nilai spectral obyek vegetasi perbedaannya cukup signifikan bila dibandingkan dengan obyek yang lain. Semakin besar nilainya (mendekati 1) maka vegetasinya semakin rapat dan pada visualisasi di computer akan kelihatan dengan warna yang lebih pekat. 4. Peta yang didigitasi dari peta RBI maupun peta yang lain dalam hal ini telah out of date atau kadaluarsa. Pemetaan Tingkat Kerapatan Vegetasi Penggunaan citra satelit untuk pemetaan kerapatan vegetasi sangat membantu dibandingkan dengan pemetaan kerapatan vegetasi secara terestrial terutama dalam hal biaya dan waktu pelaksanaan.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Peta RBI dan peta-peta penunjang lainnya dibuat pada tahun yang lebih tua daripada tahun perekaman citra satelit landsat 7ETM+. a. Transformasi ini melibatkan band 3 (spectrum merah) dan band 4 (spectrum inframerah dekat) dari citra satelit landat. Formula dari NDVI pada citra landsat adalah sebagai berikut : NDVI = Band 4 – Band 3 Band 4 + band 3 Citra hasil proses transformasi akan mempunyai nilai baru. Pemetaan kerapatan vegetasi dilakukan secara digital dengan bantuan komputer. Laporan Pendahuluan 40 . bukan dari 0 hingga 255 melainkan -1 hingga 1. Lahan terbangun dan obyek planimetris diupdate menggunakan citra landsat. Untuk mengatasi hal ini maka dilakukan proses updating data dengan menggunakan citra satelit Landsat. Transformasi Indek Vegetasi Transformasi merupakan formula yang digunakan untuk menonjolkan aspek tertentu dari citra satelit landsat. Banyak transformasi yang dikenal dalam pemrosesan citra penginderaan jauh.

biru tua=jarang Laporan Pendahuluan 41 . sedang.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi (a) (b) Gambar 3. untuk mengetahui tingkat kerapatannya maka citra ini harus dikelaskan sesuai dengan klasifikasi kerapatan yang digunakan.8. kuning=rapat.Klasifikasi digital tingkat kerapatan vegetasi.9. Gambar 3. semakin cerah berarti tutupan vegetasi semakin rapat b. (b) Citra setelah proses transformasi index vegetasi. jarang. rapat. Klasifikasi Digital Tingkat Kerapatan Vegetasi Tingkat kerapatan vegetasi hasil proses transformasi mempunyai nilai dari - 1 hingga 1. misalkan : sangat jarang. Merah=sangat rapat. biru muda=sedang. (a) Citra Landsat asli sebelum proses transformasi. dan sangat rapat.

Deliniasi Tingkat Kerapatan Vegetasi Proses selanjutnya untuk memetakan tingkat kerapatan vegetasi adalah melakukan deliniasi pada citra hasil proses klasifikasi. DEM dapat diperoleh dari garis interpolasi garis-garis kontur ataupun dari data DEM-SRTM. Gambar 3. Dengan dilakukannya proses deliniasi ini berarti terjadi perubahan format data dari data raster ke dalam format vektor.10. Data Digital Elevation Model yang berasal dari data SRTM lembar S01E100 dengan mode colour shadding Laporan Pendahuluan 42 . DEM SRTM ini mempunyai resolusi spasial 92 meter. Deliniasi tingkat kerapatan vegetasi. 5.11. Gambar 3. Pemetaan Elevasi dan Kemiringan Lahan Data Digital Elevation Model merupakan data raster dimana tiap pixelnya menunjukkan nilai rata-rata ketinggian. Deliniasi didasarkan atas perbedaan warna yang ada pada citra.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi c. Data DEM kali ini diperoleh dari data DEM-SRTM yang dikeluarkan oleh NASA.

Data diatas diambil dari beberapa lokasi di Wilayah Sungai Indragiri. Nama file DEM SRTM sesuai dengan posisinya dalam system koordinat latitude/longitude (geodetic).Sumatera Data DEM SRTM terbagi dalam banyak potongan citra dimana tiap-tiap potongan citra mempunyai nama file yang spesifik dengan extension *.hgt. Laporan Pendahuluan 43 . Berarti DEM SRTM tersebut terletak pada latitude 97 dan longitude 0 disebelah utara garis katulistiwa.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Gambar 3.12. misalkan : N00E097. a. Fill sink Sebelum data DEM SRTM digunakan terlebih dahulu dilakukan preprocessing terhadap data yang diperoleh. Hal tersebut untuk melakukan koreksi terhadap error yang terjadi seperti kekosongan nilai pixel pada areal tertentu.hgt. Koreksi tersebut dinamakan SRTM-fill yaitu mengisi nilai pixel sehingga mempunyai nilai ketinggian. Digital Elevation Model ditampilkan dalam bentuk 3 dimensi.

13 : (kiri) DEM SRTM sebelum dilakukan fill sink (kanan) DEM SRTM setelah dilakukan fill sink. Daerah kerja yang cukup luas ini terliput oleh banyak DEM SRTM. Untuk mendapatkan satu kesatuan DEM dari daerah kerja maka masing-masing DEM SRTM tersebut harus dimosaik. b. Digital Mosaik Pada pekerjaan kali ini daerah kerjanya meliputi Pulau Jawa dan Pulau Bali. (a) DEM SRTM pada cakupan S07E10 (b) DEM SRTM pada cakupan S07E107 (c) citra DEM hasil proses mosaik Laporan Pendahuluan 44 . yaitu sistem koordinat latitude/longitude (geodetik) sehingga mosaik dapat dilakukan secara otomatis. a b c Gambar 3.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Gambar 3. Data DEM SRTM sudah mempunyai referensi sistem koordinat.14 : Mosaik DEM SRTM.

Transformasi koordinat dilakukan dengan menggunakan titik ikat (ground control point) yang diperoleh dari GPS survey atau menggunakan data lain yang telah terkoreksi. Bali (a) DEM dalam pandangan 2 dimensi.15 : Mosaik DEM Indonesia dalam pandangan 2 dimensi. Laporan Pendahuluan 45 . (b) DEM dalam pandangan 3 dimensi Gambar 3. Transformasi koordinat mutlak dilakukan agar koordinat DEM SRTM sama dengan sumber data spasial yang lain (misalkan : Landsat) sehingga pada waktu dioverlay tidak terjadi pergeseran dengan sumber data yang lain.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi a b Gambar 3. Jawa dan P.15 : mosaik DEM P. Transformasi Sistem Koordinat Transformasi system koordinat dilakukan untuk membetulkan geometri dari citra mosaic DEM SRTM agar sesuai dengan keadaan sesungguhnya dilapangan. c.

Nilai ini mencerminkan ketinggian dari permukaan bumi. Pembagian kelas ketinggian desesuaikan dengan klasifikasi yang digunakan dan kondisi dari medan yang akan dipetakan.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi d. Gambar 3. Pemetaan Elevasi Pada pekerjaan kali ini akan dilakukan pemetaan elevasi dari permukaan bumi. Pemetaan ketinggian didasarkan atas pengelompokan nilai ketinggian sehingga akan didapatkan kelas-kelas ketinggian.16 : Pemetaan elevasi di daerah Jabodetabek Laporan Pendahuluan 46 . Penggunaan DEM untuk pemetaan elevasi akan sangat membantu dalam hal waktu dan biaya bila dibandingkan dengan pemetaan elevasi secara terestrial. Disamping itu data yang diperoleh akan mempunyai akurasi yang lebih tinggi karena tidak adanya faktor human error. Pemetaan elevasi akan dilakukan secara digital dengan menggunakan data DEM SRTM. DEM terdiri dari piksel-piksel dimana setiap piksel mempunyai nilai tertentu.

baik dalam satuan derajat maupun persen.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi e. Gambar 3. Pemetaan dilakukan dengan menggunakan filter DEM.25-40%. Kelas kemiringan lereng : 0-8%. Pemetaan Kemiringan Lahan Pada pekerjaan kali ini juga akan dilakukan pemetaan kemiringan lereng.15-25%. d. dimana filter ini akan memroses data ketinggian menjadi kemiringan lereng.8-15%.17 : Pemetaan kemiringan lahan di daerah Jabodetabek. Pembuatan dilakukan secara otomatis dengan bantuan komputer sehingga menggurangi adanya human error di dalam pembuatan garis kontur. Pemetaan juga dilakukan secara digital dengan menggunakan data DEM. Pembuatan Garis Kontur Garis kontur juga dibuat secara digital dengan menggunakan data DEM. Laporan Pendahuluan 47 . >40%.

Masing-masing peta tematik diberi skor sesuai dengan tingkat kepentingannya dalam kesesuaian lahan. (b) Pembuatan garis kontur dari DEM SRTM 6. Untuk menangani data spasial dan data non spasial yang cukup kompleks tersebut perlu dibuat suatu basis data. Peta-peta tematik yang digunakan sebagai dasar penentuan kesesuaian lahan adalah : peta ketinggian. Peta tematik 1 Peta tematik 2 Peta tematik 3 Peta tematik 4 Skor Skor Overlay + Bobot Skor Skor Gambar 3. peta kerapatan vegetasi.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi (a) (b) Gambar 3. peta kemiringan lahan. baik peta dasar maupun peta tematik yang lain. agar data yang diperoleh lebih terstruktur sehingga akan mudah didalam penggunaannya. Pemetaan Kesesuaian Lahan Kesesuaian lahan dipetakan dengan cara scoring dan pembobotan. Pada pekerjaan ini juga dikumpulkan data demografi dan kependudukan yang cukup banyak.18 : (a) DEM SRTM. Laporan Pendahuluan 48 . Penyusunan Basis Data Spasial Pada pekerjaan ini akan dihasilkan berbagai macam data spasial.19: Skema pembuatan peta kesesuaian lahan Peta Kesesuaian Lahan 7.

Pembuatan herarki folder yang jelas juga akan memudahkan orang dalam menggunakan data. Batas Administrasi Batas administrasi merupakan data yang cukup penting karena menyangkut kepemilikan daerah administratif. peta kerapatan vegetasi. Manajemen data spasial juga diwujudkan dalam penamaan file. Gambar 3. peta daerah terbangun. peta kesesuaian lahan. Untuk manajemen data spasial dapat dilakukan dengan pembuatan herarki folder yang jelas sehingga perbedaan antara data spasial yang satu dengan yang lain dapat dilihat dengan jelas.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi a. Data spasial mempunyai banyak informasi yang menyertainya (attribute data). Peta tematik tersebut meliputi : peta kontur/ketinggian. Penamaan file dibuat baku sehingga tidak membingungkan di dalam penggunaannya. Data atribut yang tidak dimanajemen dengan baik akan menyebabkan sulitnya orang lain dalam menggunakan data. Manajemen data atribut ini akan dilakukan dengan membuat penamaan field yang mudah dimengerti sehingga orang yayang menggunakan akan langsung mengetahui maksud dari field yang digunakan. Data ini diperoleh dari instansi yang 49 Laporan Pendahuluan .20 : Contoh hirarki folder dan penamaan file yang digunakan dalam manajemen data spasial b. dan peta kepadatan penduduk. peta kemiringan lahan. Tematik Spasial Data tematik spasial yang dimaksudkan adalah peta-peta tematik yang mendukung dalam pelaksanaan pekerjaan.

Data Demografi dan Kependudukan Data demografi dan kependudukan merupakan data nonspasial. Pembuatan Sotware Aplikasi Sistem Informasi Penataan Ruang Wilayah Pembuatan software aplikasi ditujukan untuk dapat memberikan informasi mengenai penataan ruang wilayah. Untuk menjadikan sebagai data atribut maka informasi ini harus dikaitkan dengan obyek spasial. fase instalasi dan uji coba.masing fase dijabarkan sebagai berikut. Data atribut ini berisi kode dan nama dari wilayah administratif. yaitu batas administrasi. dll). Software juga didesain untuk dapat melakukan query sehingga pengguna dapat memilik kriteria tertentu yang ada dalam peta untuk dapat ditampilkan dilayar. fase penggunaan. maupun peta-peta tematik yang lain (misalnya : peta kontur. peta kemiringan lereng. fase implementasi. baik citra landsat 7ETM+. Software ini juga didesain untuk bisa membuat peta menjadi transparan sehingga peta dapat dioverlay dengan citra landsat maupun dengan DEM SRTM ataupun dengan peta tematik yang lain. Fase-fase yang harus dilakukan dalam pembangunan suatu sistem informasi penataan ruang adalah fase perencanaan. c. citra DEM SRTM. Manajemen data ini diwujudkan dengan penamaan file yang standar dan dengan pembuatan herarki folder yang jelas. 8. Data demografi dan kependudukan ini juga berfungsi sebagai data atribut dari data spasialnya. Batas administrasi juga mempunyai data atribut yang menyertainya. Masing .Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi terkait dengan pemetaan batas administrasi yaitu BPN. video animasi 3D. Data ini cukup banyak dan cukup kompleks sehingga diperlukan manajemen data yang cukup bagus agar memudahkan di dalam penggunaannya. fase analisis. Pengkodean wilayah administratif akan disesuaikan dengan kode baku nasional sehingga orang akan mudah menggunakannya dan kode ini akan seragam antar daerah. Software ini akan didesain agar dapat menampilkan data citra. fase desain. Laporan Pendahuluan 50 . fase evaluasi. peta kepadatan penduduk. Dengan pemasukan informasi demografi dan kependudukan maka informasi yang dikandung oleh batas administrasi akan menjadi semakin kaya (kompleks).

Dari ketiga aktivitas tersebut. Menentukan mekanisme kontrol Fase Analisis Setelah fase perencanaan selesai dilakukan serta mekanisme kontrol diterapkan maka langkah selanjutnya adalah melakukan analisa terhadap sistem yang sudah ada. Dalam mempelajari kebutuhan informasi pengguna. Pertanyaan interview yang umumnya dilakukan mencakup mengevaluasi keputusan apa saja yang biasanya dibuat dan mengevaluasi informasi apa saja yang dibutuhkan untuk membuat keputusan tersebut. Selain itu pertanyaan lain yang dapat diajukan adalah informasi apa saja yang ingin diperoleh. Analisis kebutuhan dan analisis sistem berkaitan langsung dengan siapa yang berhak mengakses sistem dan bentuk sistem yang akan dihasilkan Analisis Kebutuhan Laporan Pendahuluan 51 . Hal ini dilakukan sebagai dasar untuk mendesain sistem yang baru atau pengembangan sistem. Mengidentifikasi kendala sistem d. Mendefinisikan permasalahan b. Menentukan tujuan sistem c. analis ikut serta dalam berbagai aktivitas pengumpulan informasi. Melakukan studi kelayakan e.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Fase Perencanaan Fase perencanaan merupakan fase dimana analis menjelaskan cakupan proyek mengumpulkan berbagai informasi yang diperlukan. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan diantaranya adalah interview perorangan dan pengumpulan data-data pemetaan dan data tabular. a. Fase ini sangat penting dilakukan agar dapat mengidentifikasikan kebutuhan informasi para pengguna serta menentukan level pelaksanaan sistem yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. interview perorangan merupakan aktivitas yang lebih dominan dilakukan karena cara ini lebih mudah dan lebih efektif. Perencanaan yang dibuat akan menunjukkan hal-hal yang salah yang mungkin dapat dicegah sekaligus juga menata urutan kerja dan menyediakan kontrol dasar.

o Melakukan analisis pada peta terhadap persebaran wilayah yang memiliki nilai keteresediaan beras rendah.Login pengguna software aplikasi Sistem akan melibatkan 2 pihak sebagai pengguna dan administrator. Laporan Pendahuluan 52 . pengguna yang dapat melakukan perubahan terhadap data sehingga untuk masuk kedalam sistem harus memasukkan password terlebih dahulu. Beberapa document tools dapat digunakan untuk menggambarkan desain sistem pada fase ini diantaranya dengan menggunakan data flow diagram (DFD). Fase Desain Pelaksanaan mulai dari fase perencanaan sampai dengan fase analisis dipergunakan untuk membangun suatu sistem. Tetapi pengguna hanya bisa melihat dan mendapatkan informasi dan tidak berhak dalam melakukan perubahan terhadap data. Pada fase ini pengembangan sistem dipengaruhi oleh tipe dan jenis output yang diinginkan serta tipe dan jenis input yang tersedia. o Pengguna. guna menjaga keamanan terhadap data. Data Sosial Ekonomi dan peta geografi yang disesuaikan dengan kebutuhan sistem o Melakukan analisis terhadap ketersediaan beras pada level wilayah tertentu dan menampilkan data hasil analisis dalam bentuk tabular dan grafik.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Gambar 321 . o Administrator. Data Demografi. data administrasi. selain itu juga sistem flow chart. pengguna yang dapat mengakses data dengan mudah dan tanpa harus memasukkan password untuk melihat data. Desain sistem dalam hal ini adalah penentuan proses dan data yang diperlukan oleh sebuah sistem. o Analisis Sistem Mengintegrasikan antara aplikasi pengelola data atribut atau data statistika tabular dan data spasial o Menampilkan peta-peta lokasi depot logistik.

Data-data tabular yang berkaitan dengan data sosial kependudukan (berdasarkan data BPS). dihubungkan langsung dengan tampilan peta.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Tipe dan jenis output yang diinginkan menjadi dasar dalam perancangan desain input. Menentukan desain output Dalam tahap ini dilakukan evaluasi data output apa saja yang dihasilkan sesuai dengan permintaan. pada tiap wilayah kabupaten. sungai. Data-data input peta berupa data peta administrasi. Gambar contoh tampilan software aplikasi. Input data dalam GISKBN meliputi data dasar dan data yang berhubungan dengan kebutuhan informasi ketersediaan beras berupa data konsumsi beras. Tampilan peta lokasi infrastruktur. Laporan Pendahuluan 53 . Adapun Output yang akan dihasilkan oleh sistem adalah berupa: 1. lahan terbangun. 2. data produksi beras sebagainya yang mencakup seluruh wilayah Indonesia. IKONOS dan DEM). jika diperlukan. 3. Fase ini dilakukan melalui beberapa tahap penting yaitu: Menentukan desain input Dalam tahap ini dilakukan evaluasi sumber data yang diperoleh sebagai data input sistem. citra satelit landsat 7ETM+. Tampilan peta berbagai skala dengan layer-layer sebagai variabel pendukung seperti peta citra (Landsat.22 . Gambar 3. citra DEM SRTM. jalan.

c. Laporan Pendahuluan 54 . Tampilan Grafik (chart) hasil analisa. Desain model konsepsual mempelajari elemen-elemen data yang terdapat pada berbagai format pelaporan dan kebutuhan informasi.24. Desain model logik mempertimbangkan kemudahan dalam pengoperasiannya. desain model logik dan desain model fisik. Gambar 3.23 . Contoh Data Kodifikasi Wilayah BPS.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Gambar 3. Menentukan desain basis data Dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu tahapan desain model konsepsual.

Fase Instalasi dan Uji Coba Pembuatan GISKBN ini dilakukan dengan merancang program menu tersendiri yang memudahkan user dalam mengoperasikan sistem nantinya. Pada fase ini juga dilakukan audit sistem yaitu studi formal untuk memastikan apakah sistem baru memenuhi kriteria pelaksanaan yang telah ditetapkan atau tidak. sehingga pengguna harus mengetahui perangkat keras dan perangkat lunak yang akan mendukung software aplikasi penataan ruang . Fase Implementasi Fase ini merupakan gabungan dan integrasi dari sumberdaya konsepsi yang menghasilkan sistem yang baik. Perolehan sumberdaya perangkat keras 2. Fase ini terdiri dari beberapa tahapan diantaranya : 1. Penyiapan basis data 4.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Desain model fisik mengimplementasikan desain model logik ke dalam bentuk tabel-tabel. Hal ini diwujudkan dengan membuat context diagram dan data flow diagram (DFD). Pada desain proses akan digambarkan keseluruhan sistem dari tahap awal hingga selesainya sistem. Penyiapan fasilitas fisik 5. Merupakan tahapan dimana sistem mulai diimplementasikan. Proses sistem akan digambarkan pada diagram alir. d. Menentukan desain proses Merepresentasikan aliran data dan informasi. Penjelasan manual pengoperasian sistem kepada pengguna Fase Penggunaan dan Pemeliharaan Sistem Pada fase ini user diharapkan menggunakan sistem secara maksimal untuk mencapai tujuan seperti yang telah ditetapkan pada fase perencanaan. Laporan Pendahuluan 55 . Perolehan sumberdaya perangkat lunak 3. Dengan kata lain desain model fisik merupakan penjabaran dari desain model logik ke dalam struktur data dari database.

Desain simbol. Proses kartografi juga mencakup tata letak dari untuk-unsur penyusun peta. Proses kartografi dibuat sebagus mungkin dengan memperhatikan aspek-aspek atau kaidah-kaidah kartografi. Penempatan informasi tersebut dibuat sebaik mungkin sehingga tidak saling menutupi dan segi estetisnya juga dapat tercapai. graticule. Gambar 3. tidak rumit. Kartografi dikerjakan secara digital dengan bantuan computer.3. Hal tersebut agar peta yang dihasilkan mudah dimengerti oleh pengguna peta. mudah dan aplicable.25. grid. dan tekstur dibuat informatif sehingga peta mudah dimengerti oleh pengguna. sistem harus di lihat dulu apakah telah berfungsi sebagai mana mestinya dan telah memenuhi keinginan pengguna dalam memperoleh informasi. Digital Kartografi dan Produksi Peta Kartografi adalah proses untuk membuat peta menjadi siap cetak.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Berdasarkan hal ini maka sistem yang dibangun bisa memenuhi kriteria sistem yang praktis. warna. sumber. Fase Evaluasi Tahap ini merupakan tahap dimana sebelum di jalankan. Contoh software aplikasi untuk sistem informasi 3. dll.2. misalkan : judul. keterangan/legenda. Laporan Pendahuluan 56 .

Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Gambar 3. Laporan Pendahuluan 57 . Contoh peta hasil proses kartografi dan siap untuk dicetak Produksi peta merupakan tahapan setelah proses kartografi.26. Peta-peta yang sudah siap cetak akan dicetak (produksi) dengan menggunakan printer dan plotter. Printer digunakan untuk mencetak peta dengan ukuran maksimal A3 dan plotter digunakan untuk mencetak peta dengan ukuran cetak maksimal A0.

dari yang dataran rendah sampai dataran tinggi. Untuk dapat mengamati daerah secara menyeluruh tentunya akan sangat memakan waktu.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Pencetakan peta dilakukan dengan menggunakan resolusi 300dpi sehingga peta hasil cetakan mempunyai kualitas yang bagus (detil obyek kelihatan/tidak kabur). Proses pencetakan peta ukuran A0 dengan meggunakan plotter 9.27. Gambar 3. Pembuatan Tampilan Peta dan Video Animasi 3D Daerah selatan sepanjang Pulau Jawa dan Pulau Bali mempunyai topografi yang cukup bervariasi. Video animasi 3D juga memungkinkan pengamatan dari berbagai macam sudut pandang (view angle). dan dapat juga menggunakan tampilan peta-peta tematik. Tampilan animasi 3D bisa menggunakan DEM SRTM. citra landsat 7ETM+ yang ditempatkan di atas DEM (drape) sehingga seolah-olah pengamat benarbenar terbang di atas permukaan bumi. Video animasi 3D akan membuat pengamat seperti terbang di atas daerah penelitian dengan ketinggian terbang dapat diatur sesuai dengan kebutuhan dan kedetilan obyek yang ingin diamati. Pembuatan video animasi akan sangat membantu dalam mengamati kondisi daerah yang cukup luas secara menyeluruh. di samping itu dengan pembuatan video animasi 3D tampilan akan menjadi lebih interaktif. Laporan Pendahuluan 58 .

Gambar 3. Pengembangan Sumberdaya Manusia Pengembangan sumberdaya manusia diwujudkan dengan melakukan training. lokasi dan fasilitas disediakan oleh pihak pemberi pekerjan.28. maksimum peserta 5 orang.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi 10. Training dilakukan selama 3 hari. Materi training mengenai pekerjaan pembuatan peta informasi penataan ruang dan bagaimana menggunakan software aplikasi yang dihasilkan dari pekerjaan ini. Training ditujukan untuk pemberi pekerjaan. Training sebagai sarana transfer teknologi yang menjadi tambahan dalam pekerjaan ini Laporan Pendahuluan 59 .

Para tenaga ahli membuat persipan teknis. Tim Konsultan akan melakukan kerjasama dengan Tim Teknis/ Tim Pengarah. metodologi. melakukan review dan analisa. merumuskan konsep dan strategi. membuat penyusunan laporan dan ekspose/pembahasan termasuk mengikuti diskusi/dialog dan konsultasi. dan diskusi untuk semua bagian dari penugasan ini. Konsultan akan membentuk suatu struktur tim pelaksanaan pekerjaan berdasarkan penugasan personil di atas. konsultasi. persiapan survei. pengumpulan data dan informasi. Organisasi proyek secara keseluruhan terbagi menjadi tiga tingkatan. Tenaga ahli 2. yakni: 1. Tenaga Pendukung Seluruh tenaga personil tersebut di bawah koordinasi team leader. Asisten Tenaga Ahli 3. Laporan Pendahuluan 60 . baik secara administrasi proyek maupun substansi/bahan yang berhubungan dengan proyek.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi BAB IV Tenaga Ahli dan Rencana Kerja 4.1 Organisasi Pelaksanaan Proyek Dalam pelaksanaan pekerjaan Penyusunan Peta Informasi Penataan Ruang Tiga Dimensi Pulau Jawa dan Bali. yang dibentuk atau ditunjuk oleh Dirjen Penataan Ruang Departemen PU dengan mengadakan koordinasi. Adapun dengan Pemimpin Kegiatan. secara tim diwakili oleh ketua tim yang akan memtanggungjawabkan hal-hal yang tercakup dalam dokumen kontrak.

team leader dibantu oleh sejumlah staf pendukung.1. Rincian Kerja Tenaga Ahli Komposisi tenaga ahli yang diusulkan merupakan gabungan dari beberapa keahlian.1: Organisasi Pelaksanaan Kerja 4.2. Diagram 4. yaitu tenaga ahli yang berhubungan dengan kegiatan penyusunan peta informasi tiga dimensi pulau Jawa dan Bali. Dengan komposisi tersebut diharapkan tim akan berjalan baik dan kompak. Tugas dan tanggungjawab tenaga ahli yang terlibat diuraikan sebagai berikut: Laporan Pendahuluan 61 . Secara keseluruhan struktur organisasi pelaksanaan pekerjaan Penyusunan Peta Inforamsi Penataan Ruang Tiga Dimensi Pulau Jawa dan Bali dapat dilihat dalam Gambar 4. sehingga akan tercapai tujuan dan sasaran seperti yang diharapkan dalam Kerangka Acuan Kerja.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Kesemuanya dilaporkan ke tim leader yang bertanggungjawab atas kualitas substansi secara menyeluruh.2 Rencana Kerja dan Tugas Tim 4.1. Untuk menunjang kelancaran tugasnya.

Menentukan data-data yang sesuai untuk kebutuhan penyusunan kebijakan dan strategi penataan ruang 10. 4. mosaiking citra dan color balancing Melakukan analisis kerapatan vegetasi menggunakan data citra satelit Melakukan analisis daerah terbangun menggunakan data citra satelit III. kemiringan lahan. Ahli Pengembangan GIS Menyiapkan informasi spasial peta tematik untuk melakukan pemetaan wilayah Laporan Pendahuluan 62 . Bertanggung jawab atas pelaksanaan pekerjaan secara keseluruhan dan segi teknis 2. Mengkoordinasikan dan mengarahkan kegiatan tenaga ahli Menyiapkan program dan kerangka pelaksanaan pekerjaan Merumuskan batasan dan potensi pengembangan Meninjau aspek legal dan administratif dalam pelaksanaan pekenjaan Menentukan sistem klasifikasi untuk tema kontur dan ketinggian. Ahli Remote Sensing 1. kerapatan vegetasi. Melakukan penajaman citra. kesesuaian lahan. Melakukan analisa terhadap kontur dan ketinggian. Menentukan data-data yang akan digunakan untuk penyusunan peta 3 dimensi penataan ruang wilayah 9. daerah terbangun dan kepadatan penduduk 8. 5. 5. 2. kerapatan vegetasi. 7.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi I. Ketua Tim (Ahli Perencana Kota/Wilayah) 1. kemiringan lahan. 4. Menyiapkan citra satelit untuk seluruh Pulau Jawa dan Bali Melakukan pra pemrosesan citra satelit yang meliputi koreksi radiometrik dan koreksi geometrik 3. kesesuaian lahan. daerah terbangun dan kepadatan penduduk kaitannya terhadap penataan ruang wilayah II. 6. 1. Memberikan informasi yang kontinyu pada pemberi tugas mengenai perkembangan dari pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan sistematika pelaporan atau pun laporan yang sifatnya insidentil 3.

kerapatan vegetasi. kerapatan vegetasi.000 dan format region wise (pulau) IV. Menyiapkan dan mengumpulkan peta kesesuaian lahan skala 1: 250. Melakukan input data spasial. Mengumpulkan data spasial kependudukan seluruh kota dan kabupaten diseluruh Pulau Jawa dan Bali 3. kerapatan vegetasi. kesesuaian lahan. daerah terbangun. 1. Ahli Manajemen Database Bertanggungjawab terhadap team leader terhadap pelaksanaan pekerjaan pembangunan basis data 2.000 untuk seluruh Pulau Jawa dan Bali 3. kemiringan lereng. daerah terbangun. daerah terbangun. kerapatan vegetasi. Mendisain sistem database untuk data tematik kontur. kesesuaian lahan. data raster dan data atribut ke dalam sistem database Laporan Pendahuluan 63 . ketinggian. kemiringan lahan dari data DEM Memproses peta 3 dimensi dengan dasar citra satelit untuk kontur.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi 2. kepadatan penduduk 5. kemiringan lereng. kemiringan lereng. daerah terbangun. Membuat peta kontur dan ketinggian. kepadatan penduduk 5. 4. kesesuaian lahan. Menyusun kamus data untuk penyeragaman nama coverage dan data atribut database untuk data tematik kontur. kemiringan lereng. Melakukan koneksi data spasial dengan data atribut untuk data tematik kontur. Mengkoordinir operator basis data pada saat editing dan entry data atribut 7. Bertanggungjawab pada pekerjaan building topologi agar dihasilkan data yang sesuai dengan spesifikasi dan syarat-syarat pekerjaan 6. kesesuaian lahan. ketinggian. ketinggian. ketinggian. kepadatan penduduk 4. kepadatan penduduk 6. Melakukan pemrosesan dan menyajikan keenam informasi tematik menjadi peta informasi tiga dimensi dalam format skala 1:250.

Asisten Tenaga Ahli. 1. 2. B. kepadatan penduduk kaitannya dengan penataan ruang wilayah VI. Tenaga Pendukung dan Peralatan A. 3. tetapi hanya beberaoa asisten diantaranya: 1. ketinggian. Ahli Desain Grafis Mengemas peta 3 dimensi menjadi tampilan peta informasi penataan ruang 3 dimensi yang informatif dan menarik 2. 3. tenaga ahli dibantu dengan asisten agar pekerjaan dapat ditangani dengan sempurna. 1. Namun demikian tidak semua tenaga ahli mempunyai asisten.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi V. Melakukan analisis secara komprehensif terhadap faktor kontur. Melakukan analisis data spasial untuk memperoleh peta kesesuaian lahan 4. Ahli Pengelolaan Sumberdaya Alam Menentukan faktor-faktor fisik lahan yang akan digunakan untuk penyusunan peta kesesuaian lahan 2. Tenaga Pendukung Laporan Pendahuluan 64 . 4. Asisten Tenaga Ahli GIS. kesesuaian lahan. kerapatan vegetasi. Asisten Tenaga Ahli Pengembangan Sumber Daya Alam. Asisten Tenaga Ahli Remote Sensing. Asisten Tenaga Ahli Dalam melaksanakan pekerjaannya. kemiringan lereng. Asisten Tenaga Ahli Data Base. daerah terbangun.2.2. Membuat penyajian animasi peta Mendisain tampilan peta untuk portal penataan ruang wilayah Mendesain tampilan peta 3 dimensi interaktif 4. 4. Melakukan pemetaan parameter-parameter fisik lahan yang akan digunakan untuk penyusunan peta kesesuaian lahan 3.

Tenaga pendukung yang diperlukan antara lain: 1. keadaan.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Dalam sub bab ini akan diuraikan keperluan tenaga pendukung yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan Penyusunan Peta Informasi Penataan Ruang Tiga Dimensi Pulau Jawa dan Bali. Sekretaris/administrasi 2. kepemilikan dan besaran biaya yang diperlukan. jenis. kondisi. lokasi. Untuk kelengkapannya akan diuraikan lebih jauh dalam proposal biaya yang menjabarkan tentang jumlah. Peralatan Dalam rangka pelaksanaan pekerjaan.3 Jadual Penugasan Personil Sesuai dengan tugas dan tanggungjawab masing-masing tenaga ahli. asisten tenaga ahli. 4. konsultan akan segera menyiapkan peralatan kantor maupun peralatan untuk kegiatan survei di lapangan. Peralatan kantor maupun peralatan survei yang disediakan akan delengkapi dengan daftar peralatan untuk mendukung kegiatan teknis. maka akan disediakan peralatan yang akan menunjang pelaksanaan pekerjaan. asisten tenaga ahli dan tenaga pendukung akan diberikan jadual penugasan dalam melaksanakan pekerjaan ini sesuai dengan porsi pekerjaannya. kapasitas. Operator Komputer C. Sejak ada pengumuman pemenang.1. dan tenaga pendukung. Laporan Pendahuluan 65 . Jadual penugasan personil selengkapnya disajikan pada Tabel 4. maka setiap tenaga ahli.

M. Achmad Maududie.Md Nugroho Widi Jatmiko.Sc Ir. MT Diah Saraswati. M.1 : JADWAL PENUGASAN PERSONIL (TENAGA AHLI DAN PENDUKUNG) PEMBUATAN PETA INFORMASI PENATAAN RUANG WILAYAH TIGA DIMENSI BULAN NO POSISI NAMA PT 1 1 2 3 4 5 6 7 Ketua Tim Ahli Remote Sensing Ahli Pengembangan GIS Ahli Manajemen Database Ahli Pengelolaan Sumberdaya Alam Ahli Desain Grafis 2 Asisten Ahli Remote Sensing Asisten Ahli Pengembangan GIS Asisten Ahli Manajemen Database Asisten Ahli Pengelolaan SDA Sekretaris Operator Komputer Ir. ST Dedi Sudarmaji.Kom Rivan Juniawan. S.Si Muhammad Agung Nugroho. Pradono Joanes De Deo. Eddi Irianto Mulyono Hadi Zulkarnain Jusuf.Si Ir.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Tabel 4. A. S.Si Susilawati.Si Ir. Agustina Nurul Hidayati. S. ST. MTP Muhammad Helmi.Hut Erna Dwi Kistanti. S. ST WS WS WS WS WS WS WS WS WS WS WS WS WS Ket 7 2 3 4 5 6 7 MM KET 7 7 7 6 6 6 5 4 4 4 4 7 7 - 8 9 10 11 12 WS : PT Waindo SpecTerra Laporan Pendahuluan 67 . S.

Quality Control II 9. maka konsultan pelaksana PT Waindo SpecTerra berusaha menyusun jadual pelaksanaan pekerjaan (lampiran 6c) dalam bentuk MS Project. Penyusunan Peta Tiga Dimensi 12. Kartografi. Pada lampiran 6 c dibawah ini dapat dilihat pekerjaan dimulai dari 10 Mei sampai 10 Desember 2006. Pemrosesan Data Satelit 3.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi 4. Persiapan 2. Updating Peta RBI 6. Digitasi Peta 4. Pelaporan Laporan Pendahuluan 67 . Pembuatan Peta Tematik 10. Agar tahap demi tahap pekerjaan awal sampai final dapat selesai sesuai jadwal dan dengan hasil maksimal. Secara garis besar pelaksanaan pekerjaan meliputi : 1. Lay Out dan Pencetakan Peta-Peta 13. Survey Lapangan 7.4 Jadual Kegiatan Jangka waktu pekerjaan Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Tiga Dimensi direncanakan selama 7 (tujuh) bulan kalender. Quality Control I 5. Quality Control III 11. Pengumpulan Data Sekunder 8.

Indonesia Database .Ketinggian/elevasi .III Sumber Data Proses Peta Tematik Klasifikasi Peta Rupabumi Bakosurtanal Digitasi Peta Daerah Terbangun Kriteria Tata Ruang Puslittanak Editing Peta Kesesuaian Kriteria Tata Ruang Baplan Kehutanan Editing Peta Kerapatan Vegetasi Kriteria Tata Ruang .Data BPS Digitasi Join Data Peta Kepadatan Penduduk Kriteria Tata Ruang DEM SRTM Contouring Kontur Lahan : .Kelerengan lahan Kriteria Tata Ruang Colour drapping Peta 3 Dimensi Laporan Pendahuluan 68 .Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Diagram Rencana Kerja Pembuatan peta informasi penataan ruang wilayah tiga dimensi Rencana kegiatan bulan I .

Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Rencana kegiatan bulan III .4 Bulan ke 5 Bulan ke 6 Bulan ke 7 Laporan Pendahuluan 69 .VII Peta 3 Dimensi Konsep Informasi Penataan Ruang Skenario Animasi Animasi Informasi Penataan Ruang 3 Dimensi Transfer Teknologi Pelaporan Akhir Software Aplikasi Bulan ke 3 .

70 Laporan Pendahuluan .1. Pendiskripsian data citra satelit untuk seluruh pulau Jawa-Bali. dan uraian/penjabaran tugas masingmasing. 2. Rencana kerja secara menyeluruh. 3. Pelaporan Jenis laporan yang harus diserahkan kepada pengguna jasa adalah: 5. 5.1. berisi: 1.1 Laporan Pendahuluan. berisi: 1. Hasil proses analisis kerapatan vegetasi dan daerah terbangun. Desain kebutuhan data dan informasi untuk menyusun peta tiga dimensi. Jadual kegiatan beserta target pencapaian hasil/keluaran. Muatan laporan ini terlebih dahulu harus dikonsultasikan kepada Tim Supervisi yang telah ditunjuk oleh pengguna jasa. 2. Pendiskripsian data ketinggian digital (misalnya: digital elevation model/DEM) 5. dan peta kemiringan lahan. Mobilisasi tenaga ahli dan tenaga pendukung beserta pembagian dan pendistribusian tugas.2 Laporan Antara. Hasil proses pembuatan peta kontur/ketinggian.1. Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak SPMK diterbitkan sebanyak 15 (limabelas) buku laporan. 4. Penjelasan data dan informasi sosial kependudukan seluruh kota maupun ibukota kabupaten di seluruh Pulau Jawa-Bali. 4. 3.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi BAB V Hasil Yang Diserahkan 5.

71 Laporan Pendahuluan . berisi: 1. Penyempurnaan muatan laporan berdasarkan masukan dalam pembahasan Laporan Antara. 5.1.000. daerah terbangun.4 Laporan Akhir. Hasil pengemasan peta tiga dimensi menjadi tampilan peta informasi penataan ruang tiga dimensi yang informatif dan menarik (diantaranya melalui penyajian animasi peta) untuk kemudian dapat ditayangkan melalui portal penataan ruang. kerapatan vegetasi. Hasil pemrosesan peta tiga dimensi dengan data dasar citra satelit untuk keenam tema (kontur & ketinggian. dan disajikan dalam peta kesesuaian lahan skala 1:250. Muatan laporan ini terlebih dahulu harus dikonsultasikan kepada Tim Supervisi yang telah ditunjuk oleh pengguna jasa.3 Konsep Laporan Akhir.000 dan format region wise (pulau).1. Hasil pemrosesan dan penyajian keenam informasi tematik menjadi peta informasi tiga dimensi dalam format skala 1:250. 3. 2. berisi: 1. Muatan laporan ini terlebih dahulu harus dikonsultasikan kepada Tim Supervisi yang telah ditunjuk oleh pengguna jasa. Hasil sementara pelaksanaan pekerjaan yang dituangkan dalam laporan antara ini harus dilaporkan selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sejak SPMK diterbitkan sebanyak 20 (dua puluh) buku laporan. dan kepadatan penduduk). Hasil sementara pelaksanaan pekerjaan yang dituangkan dalam konsep laporan akhir ini harus dilaporkan selambat-lambatnya 5 (lima) bulan sejak SPMK diterbitkan sebanyak 20 (dua puluh) buku laporan. Pendiskripsian data kesesuaian lahan untuk seluruh Pulau Jawa dan Bali. kesesuaian lahan. Penyempurnaan muatan laporan secara keseluruhan berdasarkan masukan dalam pembahasan Konsep Laporan Akhir. 5. dan 2. kemiringan lahan.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi 6.

Sofware aplikasi sistem informasi peta tiga dimensi untuk menampilkan dan melancarkan pemrosesan peta – peta yang di hasilkan. dan format interaktif (. Muatan laporan ini terlebih dahulu harus dikonsultasikan kepada Tim Supervisi yang telah ditunjuk oleh pengguna jasa. berwarna. Biaya untuk produk pekerjaan ini telah dicover didalam anggaran biaya yang ada Produk inovasi yang dapat di serahkan berupa : Basis data spasial tematik peta tiga dimensi dan peta lain yang di hasilkan.5 Keluaran Yang Berupa Hasil Inovasi Inovasi yang berupa produk – produk tambahan yang di hasilkan dari pekerjaan ini tidak menimbulkan harga biaya tambahan (additional cost).jpg). Disamping itu.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya 7 (tujuh) bulan sejak SPMK diterbitkan sebanyak 30 (tiga puluh) buku laporan. serta disampaikan bersamaan dengan laporan akhir. Album Peta Cetak Tiga Dimensi untuk 6 (enam) tema dengan format skala 1 : 250. dan ringkasan laporan (Summarry Report) sebanyak 30 (tiga puluh) buah. namun tidak tercantum dalam dokumen laporan. 5. format siap saji (. kertas glossy.000 masing-masing sebanyak 5 (lima) eksemplar dan Peta Cetak Tiga Dimensi untuk 6 (enam) tema format region wise (pulau) ukuran kertas lebar A0 (dan panjang menyesuaikan) sebanyak 10 (sepuluh) eksemplar. seluruh hasil pekerjaan ini harus dituangkan/disajikan dalam bentuk leaflet yang dibuat sebanyak 250 lembar.avi). Waindo Specterra untuk keperluan untuk pengembangan SDM terkait dengan pekerjaan ini. Peta digital Tiga Dimensi untuk 6 (enam) tema dalam format vektor (shp) yang telah dilengkapi dengan database / data atributnya. Pelatihan selama tiga hari di PT. dan minimal berukuran kertas A4.1. Disamping itu. 72 Laporan Pendahuluan . dan (2) seluruh hasil kerja penyedia jasa sebagaimana telah ditentukan dalam KAK disertai copy file dalam format “PDF”. rekaman seluruh hasil kegiatan dalam bentuk CD sebanyak 15 (limabelas) copy CD yang berisi: (1) data-data yang digunakan.

Departemen Pekerjaan Umum. 73 Laporan Pendahuluan . Satuan Kerja Pembinaan Penataan Ruang Nasional. di Direktorat Jenderal Penataan Ruang.Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi BAB VI Penutup Demikian laporan pendahuluan ini kami sampaikan. semoga bermanfaat dan dapat melancarkan kegiatan Pembuatan Peta Informasi Penataan Ruang Wilayah Tiga Dimensi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful