Konsep manajemen barat memandang birokrasi manajemen dari aspek vertikal dan horizontal.

Jadi selalu berbicara atasan dan bawahan (vertikal) serta posisi dalam level sama, kesamping kiri dan kanan (horizontal). Kearifan kepemimpinanpun sejalan dengan konsep tersebut, yaitu diseputar bagaimana seseorang memberikan pengaruh kepada orang lain dalam kerangka birokrasi atasan bawahan serta samping kiri dan kanan tersebut (Hendrawan, 2008). Di Timur, khususnya di Indonesia, terdapat suatu konsep kepemimpinan yang berbeda dimensi, bukan atas bawah, tetapi depan belakang. Sebuah konsep kepemimpinan yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara adalah tokoh dan pelopor pendidikan di Indonesia, yang mendirikan Perguruan Taman Siswa di tahun 1922. Di dalam mengelola perguruan tersebut, Ki Hajar memiliki moto dalam bahasa jawa yang berbunyi: Ing ngarso sung tulodho, ing madaya mangun karsa, tut wuri handayani. Moto tersebut terjemahan langsungnya adalah “di depan memberikan teladan, di tengah menggerakkan, di belakang memberikan dorongan”. Moto tersebut pada mulanya ditujukan untuk menjadi pedoman untuk membangun kultur positif antara guru dan murid, namun dalam perkembangannya konsep tersebut digunakan menjadi konsep kepemimpinan, yang khas dan asli Indonesia.

Mencari pemimpin ideal mungkin hanya utopis. Ideal dalam konteks pemimpin yang mengerti persoalan rakyat dan ideal dalam format tingkah laku (behavior) yang difigurkan rakyat. Pemimpin ideal mungkin hanyalah pemimpin imajiner yang kita temui pada berlembar-lembar komik dan buku-buku biografi atau sejarah. Kepemimpinan ideal didasari atas etic dan moral, keselarasan retorika dan tingkah laku. Menurut Sara Boatman,”etika”adalah sistem nilai pribadi yang digunakan memutuskan apa yang benar, atau apa yang paling tepat, dalam suatu situasi tertentu; memutuskan apa yang konsisten dengan sistem nilai yang ada dalam organisasi dan diri pribadi. Sedangkan, kepemimpinan yang etik menggabungkan antara pengambilan keputusan etik dan perilaku etik; dan ini tampak dalam konteks individu dan organisasi. Tanggung jawab utama dari seorang pemimpin adalah membuat keputusan etik dan berperilaku secara etik pula, serta mengupayakan agar organisasi memahami dan menerapkannya dalam kodekode etik (Boatman dalam lintaucommunity.blogspot.com, diakses 10 Agustus 2010). Hal yang tidak terlelu berbeda dengan manajemen suatu negara. Bahwa seorang pemimpin adalah manajer sebuah pemerintahan atau negara yang tak luput dari konsep etika kepemimpinan organisasional. Budaya Timur mengajarkan etika dan moralitas pemimpin sebagai landasan yang kokoh bagi proses berjalannya suatu organisasi. Hal ini terindikasi dari tingkah laku (behavior), keputusan strategis (strategic decision) yang menentukan solusi tepat, dan intuisi yang mampu memprediksi masalah (predictive intuition). Keselarasan retorik harus berbanding lurus dengan etika dan tingkah laku (behavior) pemimpin yang teruji oleh waktu dan masalah. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memberikan legitimasi dari amanat rakyat dengan indikasi tegaknya keadilan dan kebenaran, menuju kesejahteraan dan kebermartabatan. Dengan kata lain, menurut Robby I. Chandra, pemimpin yang baik adalah seorang pemimpin yang merumuskan visi bersama dan menggerakkan orang bersamanya untuk menghasilkan transformasi ( Landasan Pacu Kepemimpinan, Robby I. Chandra, diunduh dari lead.sabda.org/_pdf/landasan_pacu_kepemimpinan.pdf).Kepemimpinan budaya Timur di dalam budaya Jawa, misalnya sebagai landasan pengambilan keputusan dikenal dengan Hasta Brata yang disimbolisasikan melalui media benda atau kondisi alam (bataviase.co.id/node/222664). Maka tidak heran, aneka simbolisasi tersebut menjadi rule of act di dalam etika kepemimpinan Jawa.

maknanya: ‘mengatasi masalah berdasarkan jenis dan tempatnya’.Kepemimpinan dan Pepatah Dayak Ngaju Di dalam budaya Dayak. maksudnya gagah perkasa dalam sikap dan perbuatan. kemanapun pergi. maupun relasi vertikal—dengan Sang Pencipta. maknanya: ‘banyak pengalaman karena lama hidup dan bergaul di luar komunitasnya’. pemimpin diharapkan dapat mendeteksi sumber masalah dan tahu bagai mana mengatasi masalah dapat dilihat pada perumpamaan ini. Kepemimpinan di dalam budaya Timur harus mengedepankan etika “to serve” atau melayani. namun dari apa yang telah ia lakukan. Jadi. Untuk itu. dari masyarakat. Dengan demikian. Dalam sikap dan perbuatan selalu adil. ‘jauh berjalan banyak penglihatan. namun justru sebaliknya. seorang pemimpin harus benar-benar mampu mengayomi dan mengenal masyarakatnya dengan baik. di manapun berada. yakni ela mambadi binjai inumbal intu lunuk. Landasan kepemimpinan yang etis di dalam masyarakat Dayak dapat dilihat dari perspektif mereka dalam memperlakukan alam dan isinya. bukan seorang yang hanya memberi perintah atau menerima pelayanan lebih. untuk mendapatkan pengakuan dari penduduk. baik relasi horisontal—sesama manusia. seorang pemimpin juga harus memperhitungkan risiko baik atau buruk. Apa yang diucapkan benar dan berguna. terperosok bicara tidak dapat ditarik’. berani bertanggung jawab. tambuhus pai tau injawut. Di lain pihak. Pemimpin suku Dayak. alam. Indikator pemimpin yang baik salah satunya adalah pemimpin yang antisipatif. bukan “served” atau dilayani. Berani berbuat. namun teraktualisasi melalui konteks keseharian. Nila Riwut berpendapat bahwa Suku Dayak amat taat dan setia kepada pemimpin yang telah mereka akui sendiri. Sikap mamut menteng yang dilengkapi dengan tekad isen mulang atau pantang menyerah telah mendarah daging dalam kehidupan orang Dayak. Tidak dapat dipungkiri kenyataan itu sebagai akibat kedekatan manusia Dayak dengan alam. perlu adanya keseimbangan dalam segala hal. Bahwa manusia merupakan mahluk tertinggi yang diberikan keistimewaan untuk mendiami petak sintel habalambang Tambun (bumi subur yang merupakan simbolisasi punggung naga). kepemimpinan tidak secara serta merta dilihat dalam tataran teoretis. langit adalah ayah dan angin adalah nafas kehidupan. Misalnya. .com. Ia disegani bukan dari apa yang ia katakan. tambuhus pander dia tau inangkaluli. misalnya pepatah kejau halisang are tampayah. Nama baik bahkan jiwa raga dipertaruhkan demi keberpihakannya kepada warganya. diakses 10 Agustus 2010). Pemimpin yang disegani ialah pemimpin yang mampu dekat dan memahami masyarakatnya antara lain : bersikap mamut menteng. bila kaki telah berpijak dibumi takut dan gentar tak akan pernah mereka miliki (nilariwut. Hal ini tersirat dalam filosofi bahwa manusia hidup dan berdiri di atas punggung Jatha/Bungai/naga (Penguasa Alam Bawah/underworld) dan menjunjung tinggi Hatalla/Tambun/enggang (Penguasa Alam Atas/upperworld). dan lingkungan--. Personifikasi natural di dalam keseharian budaya Dayak mengindikasikan bahwa adanya keseimbangan ekologis atau eco-librium (ecology equilibrium) di dalam laboratorium kehidupan. Pemimpin yang sarat pengalaman dan teruji dapat menjadi inspirasi untuk menemukan solusi dari berbagai persoalan dapat dilihat pada. Kemudian. serta mampu mengelola risiko menjadi potensi massif. Berbagai kearifan lokal sebagai landasan menuju pemimpin yang berlegitimasi (legitimate) dan memahami aspirasi rakyat dapat pula dilihat dalam aneka pepatah-petitih di dalam bahasa Dayak Ngaju. Manusia dititipkan alam beserta isinya untuk diperlakukan berdasarkan atas hubungan yang saling menguntungkan (mutual relationship).‘Terperosok kaki dapat dicabut. Bagi mereka tanah adalah ibu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful