You are on page 1of 12

Anselmus Dari Cantrbury

Credo ut intellegam et Intellego ut credam Anselmus dilahirkan di Aosta daerah Piedmont tahun 1033. Setelah studi-studi pendahuluan di Burgundy, Avranches dan kemudian di Bec, Anselmus masuk Ordo Benediktin dan kemudian menjadi Prior di Bec tahun 1063, selanjutnya Kepala Biara tahun 1078. Tahun 1093, ia menjabat uskup Canterbury yang menggantikan guru, teman, sahabatnya superior Lanfranc, dan ia meninggal pada tahun 1109. Pada umumnya pemikiran Anselmus dapat dikatakan termasuk dalam tradisi Agustinian. Seperti Agustinus, ia mencurahkan kemampuannya ini untuk memahami ajaran iman Kristiani dan pernyataan sikapnya yang termuat di dalam Proslogium, yang mengandung meterai yang benar dari semangat Agustinus. Saya tidak mencoba, ya Tuhan untuk memasuki kedalamanMu, karena saya menganggap pikira saya ini tidak cukup, tapi saya ingin memahami kebenaranMu yang saya yakini dan cintai. Karena saya berusaha untuk tidak memahami agar saya percaya, tapi saya percaya bahwa saya bisa memahamiMu. Karena saya meyakini ini juga, bahwa kecuali kalau saya percaya, seharusnya saya tidak paham. Sikap Credo ut Intellegam ini adalah umum bagi Agustinus dan Anselmus, dan Anselmus setuju pada Agustinus ketika ia berkata dalam Cur Deus Homo bahwa adalah suatu kelalaian jika kita tidak berusaha untuk memahami apa yang kita yakini. Praktisnya, tentu saja, bagi Anselmus ini berarti suatu aplikasi dialektis atau alasan bagi ajaran-ajaran iman, bukan untuk mengupas misteri iman ini tapi untuk masuk ke dalamnya, mengembangkan dan melihat implikasiimplikasinya, sehingga mungkin bagi pikiran manusia dan hasil-hasil dari proses ini seperti tampak dari bukunya tentang Inkarnasi dan Redemtoris (Cur Deus Homo), menjadikan Anselmus begitu penting dalam sejarah perkembangan teologis dan spekulasi.

Anselmus, seperti juga Agustinus tidak begitu membuat batasan yang jelas antara wilayah teologi dan filsafat, sikapnya ini dapat digambarkan sebagai berikut. Setiap orang Kristen seharusnya mencoba untuk memahami dan mengerti secara rasional semua yang ia yakini, sejauh ini mungkin bagi pikiran manusia. Kita yakin akan adanya Allah dan akan ajaran Trinitas. Oleh karena itu kita seharusnya memakai pengertian kita ini untuk memahami kedua ajaran itu. Namun dari pendapat ini, orang yang, seperti Tomas, membuat perbedaan yang jelas antara filsafat dan teologi untuk penggunaan akal budi bagi kebenaran pertama tersebut, eksistensi Allah, akan jatuh ke dalam wilayah filsafat, sementara penggunaan akal budi untuk kebenaran kedua, tentang Trinitas, akan jatuh ke dalam wilayah teologi, dan para pengikut Tomas akan beranggapan bahwa kebenaran pertama itu dapat ditunjukkan oleh akal budi manusia, sementara kebenaran kedua itu tidak dapat ditunjukkan oleh akal budi sekalipun pikiran manusia mampu untuk membuktikan benar pernyataan-pernyataan tentang misteri ini, yang pernah diungkapkan, dan menolak keberatan-keberatan yang terhadapnya memunculkan hasrat dari akal budi manusia untuk membuktikan kebenaran itu. Tapi, jika seseorang berada pada posisi Anselmus, yaitu dalam suatu keadaan pikiran yang sudah jelas perbedaan antara filsafat dan teologi, mudah untuk melihat bagaimana kenyataan bahwa kebenaran yang pertama dapat ditunjukkan, bersamaan dengan keinginan untuk memahami semua yang kita yakini, usaha untuk memuaskan keinginan ini dianggap sebagai kewajiban, yang pada dasarnya menuju pada usaha untuk menunjukkan kebenaran kedua juga. Dan nyatanya, Anselmus menunjukkan Trinitas ini dengan alasan-alasan yang perlu dan menunjukkan dengan cara yang sama bahwa tidak mungkin bagi manusia itu selamat tanpa Kristus. Jika seseorang ingin menyebut ini rasionalisme, seperti yang telah dilakukan, orang itu pertama-tama harusnya sudah mengerti apa yang dimaksudkan dengan rasionalisme. Jika dengan rasionalisme, orang memaksudkannya suatu sikap pikiran yang menyangkal

wahyu dan iman, Anselmus tentu saja bukanlah seorang rasionalis, karena ia menerima keunggulan iman dan fakta otoritas serta hanya akan terus mencoba untuk memahami apa yang diberikan oleh fakta-fakta iman. Akan tetapi, jika seseorang meluaskan terminologi rasionalisme untuk menutupi sikap pikiran yang menuntun pada usaha pembuktian misteri-misteri itu, bukan karena misteri-misteri itu tidak diterima oleh iman atau akan ditolak jika orang tidak dapat membuktikannya, tapi karena seseorang ingin memahami semua yang ia yakini, tanpa pertama-tama merumuskan cara-cara yang didalamnya kebenaran-kebenaran yang berbeda dapat diterima oleh kita, lalu barangkali, tentu saja, orang meminta pemikiran rasionalisme Anselmus ini atau suatu perkiraan terhadap rasionalisme. Tapi, ini malahan yang menunjukkan menyeluruh kesalahpahaman

terhadap sikap Anselmus, andaikata orang mengira bahwa ia siap untuk menolak ajaran Trinitas, misalnya, jika ia tidak mampu menemukan rationes necessariae untuk itu: pertama-tama ia yakin akan ajaran tersebut, hanya saat ia berusaha untuk antara yang memahaminya. rasionalisme non-rasional Pertentangan Anselmus dan

sungguh-sungguh diluar poin tersebut, kecuali orang sungguh-sungguh memahami keyataan bahwa ia tidak mempunyai maksud untuk merusak atau mengacaukan integritas iman Kristiani: jika kita memberi tekanan untuk menafsirkan Anselmus seolah-olah ia hidup setelah Thomas Aquinas dan dengan jelas membedakan wilayah teologi dan filsafat, kita akan merasa bersalah karena berbuat anakronisme dan salah menafsirkan. Dalam Monologium, Anselmus mengembangkan bukti-bukti akan adanya Allah dari tingkatan-tingkatan kesempurnaan yang ditemukan dalam alam ciptaan. Dalam bab pertama, Anselmus menggunakan kebaikan dan bab kedua ia menggunakan keagungan

atau kebesaran, yang berarti bukan kebesaran kuantitatif, tapi kualitas seperti kebijaksaan, semakin seseorang memilikinya semakin baiklah ia, karena ukuran kuantitatif yang lebih besar tidak membuktikan atau menunjukkan superioritas kualitatif. Kualitas-kualitas demikian ditemukan dalam tingkatan-tingkatan yang berbeda dalam objek-objek pengalaman, sehingga argemen tersebut berasal dari pengamatan empiris dari tingkatan-tingkatan, misalnya, kebaikan dan oleh karena itu ini adalah argumen aposteriori. Tapi penilaian tentang tingkatan-tingkatan kesempurnaan yang berbeda-beda ini (Anselmus mengira bahwa penilaian ini secara objektif mendasar) menyatakan secara tidak langsung suatu rujukan pada standar kesempurnaan, sementara itu fakta bahwa segala sesuatu berpartisipasi secara objektif di dalam kebaikan menurut tingkatan yang berbeda menunjukkan bahwa standar itu sendiri adalah objektif, bahwa ada, misalnya, suatu kebaikan absolut yang di dalamnya semua hal-hal yang baik berpartisipasi, yang padanya menyatakan kurang atau lebih dekatnya mereka. Jenis argumen ini bersifat Platonis (walaupun Aristoteles juaga berpendapat, dalam tahap Platonis, bahwa dimana ada sesuatu yang lebih baik, pastilah ada yang paling baik) dan ini muncul kembali dalam Via Quarta Thomas Aquinas. Ini merupakan sebuah argumen aposteriori: ia tidak berasal dari ide akan kebaikan absolut kepada adanya kebaikan absolut tapi dari tingkatan-tingkatan yang dapat diamati kepada adanya kebaikan absolut dan dari kebijaksanaan kepada adanya kebijaksanaan absolut, kebaikan absolut dan adanya kebijaksanaan dikenali sebagai Allah. Bentuk argumen yang dikembangkan ini akan meniscayakan pertunjukkan (penampilannya) secara objektif argumen-argumen berkenaan dengan tingkatan-tingkatan kebaikan yang berbeda dan juga prinsip-prinsip yang atasnya Anselmus meletakkan argumen tersebut, prinsip tersebut, yaitu jika objek-objek tersebut memiliki kebaikan dalam tingkatannya yang terbatas, kebaikan mereka itu tentunya kebaikan absout itu sendiri, yang adalah baik per se dan bukan per aliud. Perlu juga diperhatikan bahwa argumen tersebut hanya dapat diterapkan pada kesempurnaan-kesempurnaan tersebut yang tidak dari dirinya sendiri mancakup keterbatasan: yakni tidak dapat diterapka pada ukuran kuantitatif, misalnya. (apakah argumen itu sah dan demonstratif atau tidak, hampir tidak menjadi wilayah para sejarawan dalam memutuskannya).

Dalam bab ketiga dari Monologium, Anselmus menerapkan jenis argumen yang sama pada ada. Apakah ada, adanya ini lewat sesuatu atau tidak melalui sesuatu. Pengandaian yang terakhir ini adalah absurd, apa pun yang ada, pastilah ada malalui sesuatu. Ini berarti bahwa semua hal yang ada melalui sesuatu yang lain atau melalui diri mereka sendiri atau melalui satu sebab pengada. Tapi bahwa X harusnya ada melalui Y, dan Y melalui X tidak dapat dipikirkan. Pilihannya terletak antara suatu pluralitas sebab yang tida disebabkan atau satu sebab yang demikian. Sejauh ini memang argumen tersebut adalah suatu argumen sederhana dari kausalitas, tapi Anselmus tetap terus memperkenalkan suatu elemen Platonis ketika ia berpendapat bahwa jika ada suatu kejamakan dari hal-hal yang ada yang ada dari diri mereka sendiri, yaitu ketergantungandiri dan tidak disebabkan, ada suatu bentuk ada-dari-dirinya yang didalamnya semua berpartisipasi, dan pada poin ini argumen tersebut menjadi serupa dengan argumen yang telah diuraikan, implikasi ada bahwa, ketika beberapa ada memiliki bentuk yang sama, harus ada suatu ada yang tunggal, unitaris yang berada di luar mereka yang adalah bentuk itu. Oleh karena hanya dapat suatu ada-sendiri atau Ada terakhir, dan pastilah ini yang terbaik, tertinggi, terbesar dari semua yang ada. Dalam bab tujuh dan delapan, Anselmus melihat dan memikirkan hubungan antara ada yang disebabkan dan Penyebab. Ia berpendapat bahwa semua objek-objek yang terbatas diciptakan dari ketiadaan, ex nihilo, bukan dari suatu materi yang telah ada, yang mendahului pun juga Sebab sebagai materi. Secara teliti Anselmus menjelaskan bahwa untuk mengatakan bahwa suatu hal itu diciptakan dari ketiadaan bukanlah mengatakan bahwa ia diciptakan dari ketiadaan sebagai materinya: artinya sesuatu itu diciptakan non ex aliquo, bahwa, mengingat sebelumnya ia tidak mempunyai eksistensi di luar pikiran ilahi, sekarang ia mempunyai eksistensi. Tampaknya hal ini cukup jelas, tapi katdangkadang ditegaskan bahwa untuk mengatakan bahwa suatu ciptaan diciptakan dari ketiadaan, ex nihilo, tidaklah menjadikan sesuatu itu ada atau menempatkan dirinya terbuka pada observasi atau pengamatan bahwa ex nihilo nihil fit, mengingat Anselmus menjelaskan bahwa ex nihilo tidak berarti ex nihilo tamquam materia tapi sungguhsungguh NON EX ALIQUO. Sebagaimana sifat-sifat Ens a Se, kita hanya dapat mempredikasikannya kualitaskualitas tersebut, agar mempunyai secara absolut lebih baik daripada tidak

mempunyainya. Misalnya, menjadi emas itu lebih baik bagi emas daripada menjadi timah, tapi emas itu tidak akan menjadi lebih baik bagi manusia untuk diciptakan dari emas. Bersifat jasmani itu lebih baik daripada tidak sama sekali, tapi tidak akan lebih baik bagi roh untuk bersifat jasmani daripada tidak bersifat jasmani. Menjadi emas itu lebih baik daripada tidak menjadi emas hanya secara relatif, dan berwujud jasmani lebih baik secara relatif dari pada tidak berwujud. Tapi, secara absolut lebih baiklah untuk jadi bijak daripada tidak bijak, hidup daripada tidak hidup, benar daripada tidak benar. Lantas kita mesti mempresikasikan kebijaksanaan, kehidupan, kebenaran dari Ada tertinggi, tapi kita tak dapat mempredikasikan korporitas atau emas dari Ada tertinggi. Lagipula, karena Ada tertinggi itu tidak memiliki sifat-sifatNya melalui partisipasi, tapi melalui esensiNya sendiri, Ia adalah Kebijaksanaan, Kebenaran, Kehidupan, dan lain-lain, karena Ada tertinggi tidak dapat disusun dari elemen-elemen (yang secara logika berada lebih dulu, sehingga Ia tidak akan menjadi Ada tertinggi), sifat-sifat ini identik dengan esensi ilahi, yang adalah satu SIMPLA. Allah secara niscaya melampaui ruang, berdasarkan ketunggalanNya dan kerohanianNya, dan waktu, berdasarkan keabadianNya. Ia sepenuhnya ada dala segala sesuatu tapi tidak secara lokal atau determinate, dan segala sesuatu ada atau hadir dalam keabadianNya, yang tidak dipahami sebagai yang tanpa akhir tapi sebagai interminabilis vita simul perfecte tota existens. Kita bisa menyebutNya substansi, jika merujuk pada esensi ilahi, tapi tidak jika kita merujuk pada kategori substansi, karena Ia tidak dapat berubah atau tidak dapat memdapatkan aksidens. Tepatnya, jika kita menerapkan padaNya segala nama yang kita huja terapkan pada ciptaan lainnya, valde procul dubio intelligenda est diversa significatio. Dalam Monologium, Anselmus terus memberikan alasan-alasan bagi Tiga Pribadi dalam Satu Kodrat, tanpa memberikan indikasi yang jelas bahwa Anselmus dengan sadar meninggalkan wilayah salah satu pengetahuan untuk masuk ke yang lainnya, dan ke dalam pembahasan ini, yang menarik mungkin bagi pada teolog, kita tak dapat mengikutinya. Akan tetapi, cukuplah dikatakan untuk menunjukkan bahwa Anselmus memberikan sumbangan nyata bagi teologi natural. Unsur Platonis cukup menonjol, dan terlepas dari apa yang dikatakan sana sini, tidak ada penjelasan analogi yang dipertimbangkan. Tapi, Anselmus memberikan argumen aposteriori bagi adanya Allah, yang berkarakater lebih sistematis daripada Agustinus dan Anselmus juga

menghubungkannya secara hati-hati pada sifat-sifat ilahi, keabadian, kekekalan Allah, dan lain-lain. Jelaslah betapa kelirunya menghubungkan namanya dengan Argumen Ontologis sedemikian rupa sehingga menyatakan bahwa satu-satunya sumbangan Anselmus bagi perkembangan filsafat merupakan argumen validitas yang paling tidak dapat dipertanyakan. Karyanya tidak menyolok dan berpengaruh secara amat mendalam terhadap para pemikir dewasa ini dan mereka yang mengikuti Anselmus di kemudian hari, karena ketertarikan mereka pada persoalan-persoalan lainnya (masalah dialektis, yang memperdamaikan pendapat para Bapa Gereja, dan lain-lain) kecuali dilihat dalam terang perkembangan filsafat secara umum di masa Mediovale dimana Anselmus mesti dinyatakan sebagai salah seorang yang memberi sumbangan pada filsafat dan teologi Skolastik, karena teologi naturalnya dan karena aplikasi dialektisnya pada dogma. Dalam Proslogium, argumen sebagai Anselmus ontologis Yang-Ada.

mengembangkan sebagai realitas,

yang berasal dari ide Allah pada Allah Anselmus berkata bahwa permintaanpermintaan saudaranya dan pertimbangan terhadap argumen yang kompleks dan beragam ini dari buku Monologium menuntunnya unutk menyelidiki apakah ia tidak dapat menemukan suatu argumen yang mencukupi, oleh dirinya sendiri, untuk membuktikan bahwa kita meyakini akan Substansi Ilahi, sehingga satu argumen ini akan memenuhi fungsi dari banyak argumen pelengkap lainnya dari buku sehelumnya Opusculum. Dengan panjang lebar Anselmus memikirkan bahwa ia telah menemukan argumen demikian, yang untuk sementaranya diletakkan pada bentuk silogisme, walaupun Anselmus sendiri mengembangkannya di bawah bentuk suatu maksud bagi Allah.

Allah itu yang dariNya tidak ada yang lebih besar lagi yang dapat dipikirkan: Tapi bahwa yang dariNya tidak ada yang lebih besar lagi dapat dipikirkan harus ada, bukan hanya secara mental, suatu ide, tapi juga secara ekstra mentali: Oleh karena itu Allah ada, bukan hanya suatu ide, secara mental, tapi juga secara ekstera mental. Premis mayor memberikan gagasan tentang Allah, suatu ide yang seorang manusia miliki dari Allah, sekalipun ia menyangkal eksistensi Allah. Premis Minor cukup jelas, karena jika yang dariNya tidak ada yang lebih besar lagi dapat dipikirkan berada hanya dalam pikiran, ia bukanlah yang darinya tidak ada yang lebih besar lagi dapat dipikirkan. Suatu yang lebih besar dapat dipikirkan, yaitu suatu ada yang berada di dalam realitas ekstramental juga dalam ide. Bukti ini mulai dari ide Allah sebagai yang dariNya tidak ada yang lebih besar lagi dapat dipahami, yaitu karena secara absolut sempurna, yaitu apa yang kita sebut dengan Allah. Sekarang, jika ada demikian hanya memiliki realitas ideal, hanya berada dalam ide subjektifitas manusia, kita tetap masih dapat memahami suatu ada yang lebih besar lagi, yaitu ada yang tidak berada sungguh-sungguh dalam ide manusia tapi dalam realitas objektif. Akibatnya, ide Allah sebagai kesempurnaan absolut secara perlu merupakan ide Ada eksisten, dan Anselmus berpendapat bahwa dalam kasus ini tidak seorang pun pada saat yang bersamaan dapat memiliki ide Allah tapi menyangkal eksistensiNya. Jika seseorang memikirkan Allah, misalnya sebagai superman, ia jelas benar mampu untuk menyangkal adanya Allah dalam arti itu, tapi ia tidak bisa menyangkal objektifitas dari ide Allah. Akan tetapi jika seseorang memiliki ide yang benar tentang Allah, dengan telah memahami terminologi Allah, ia sunguh dapat menyangkal eksistensi Allah dengan bibirnya tapi jika ia menyadari panyangkalan itu termasuk dalam hal apa (yaitu dengan mengatakan bahwa Ada yang harus ada dari esensinya, Ada niscaya ini, tidak ada) dan namun menegaskan penyangkalan itu, ia keliru, berada dalam kontradiksi: hanya orang bodoh, insipiens, yang mengatakan dalam hatinya,Tidak ada Allah. Ada yang secara absolut sempurna ini merupakan Ada yang esensinya berada atau yang secara niscaya

mencakup eksistensi, karena sebaliknya suatu ada yang lebih sempurna dapat dipahami, itu adalah Ada yang niscaya (perlu), dan suatu ada perlu yang tidak ada akan menjadi sebuah Contradictio in terminis. Anselmus menginginkan argumennya menjadi petunjuk semua yang kita yakini tentang Kodrat ilahi, dan karena argumen ini berkenaan dengan Ada yang secara absolut sempurna, sifatsifat Allah terkandung secara implisit di dalam kesimpulan argumen tersebut. Kita harus bertanya pada diri kita sendiri apakah yang dinyatakan oleh ide Ada ini yang dariNya tidak ada yang lebih besar lagi dapat dipikirkan, agar dipahamai Allah haruslah kekal, abadi, sungguh-sungguh seterusnya. benar, Lagipula dan ketika

menyimpulkan sifat-sifat ini dalam Proslogium, Anselmus memberikan beberapa tekanan pada penjelasan-penjelasan ide-ide ini dalam pertanyaan. Misalnya, Allah tidak dapat berbohong: apakah ini suatu tanda kurangnya kemahakuasaanNya? Tidak. Anselmus menjawab bahwa kemampuan untuk menipu seharusnya adalah kelemahan (ketidakmampuan) daripada kekuatan, ketidaksempurnaan daripada kesempurnaan. Jika Allah dapat bertindak dalam suatu cara yang inkonsisten dengan esensiNya, akan menjadi kurangnya kekuatan dari diriNya. Tentu saja, dapat diajukan keberatan bahwa ini mengandaikan kita telah mengetahui esensi Allah itu atau mencakup, mengingat esensi Allah yang demikian itu, tepatnya merupakan poin yang mesti ditunjukkan; tapi Anselmus agaknya akan menjawab bahwa ia telah menetapkan bahwa Allah adalah Semua-yang-sempurna sehingga Ia itu mahakuasa dan benar: ini adalah suatu persoalan yang menunjukkan apa artinya mahakuasa kesempurnaan dan menyingkapkan ide yang keliru tentang kemahakuasaan.

Argumen yang diberikan oleh Anselmus dalam Proslogium diserang oleh biarawan Gaunilo dalam Liber pro Insipiente adversus Anselmi in Proslogio ratiocinationem, yang didalamnya ia mengamati bahwa ide yang kita miliki tentang suatu hal bukanlah jaminan akan adanya eksistensi ekstramentalnya dan bahwa Anselmus keliri tentang suatu transisi gelap dari logika kepada tatanan nyata. Barangkali kita juga mengatakan bahwa pulau-pulau yang paling indah yang mungkin harus ada di suatu tempat, karena kita dapat memahami mereka. Gaunilo, dalam Liber pro Insipiente adversus Anselmi in Proslogio ratiocinationem, menyangkal kesamaan atau keseimbangan dan menyangkalnya dengan keadilan, karena jika ide Allah adalah suatu ide akan Ada yang mahasempurna dan jika kesempurnaan absolut ini mencakup eksistensi, ide ini merupakan suatu ide akan suatu ada (eksisten), dan secara perlu Ada yang ada, mengingat ide bahkan ide pulau yang paling indahpun bukanlah ide tentang sesuatu yang harus ada, bahkan dalam tatanan logis secara murni dua ide tersebut tidaklah berada pada tingkat yang sama. Jika Allah itu mungkin, yaitu jika ide kamahasempurnaan ini dan Ada yang perlu ini tidak mengandung kontradiksi, Allah haruslah ada, karena mustahil berbicara tentang suatu Ada yang semata mungkin perlu (ini adalah Contradictio in interminis), mengingat tidak ada kontradiksi saat berbicara tentang pulau-pulau yang semata mungkin indah. Keberatan utama terhadap bukti Anselmus ini, yang dikemukakan oleh Descartes dan oleh Leibniz dicoba untuk dijawab, adalah kita tidak tahu secara apriori bahwa ide Allah, ide akan Kesemprnaan yang tak terbatas dan absolut, adalah ide akan suatu Ada yang mungkin. Kita tak dapat melihat suatu kontradiksi dalam ide tersebut, tapi kata mereka yang keberatan, kemungkinan negatif ini bukanlah hal yang sama seperti kemungkinan positif ; ini tidak menunjukkan bahwa sungguh-sungguh tidak ada kontradiksi dalam ide tersebut. Bahwa tidak ada kontradiksi dalam ide tersebut hanya jelas ketika kita telah menunjukkan secara aposteriori bahwa Allah ada. Argumen dari Proslogium ini membangkitkan minat; tapi di abad ketigabelas, argumen ini dikerjakan oleh Bonaventura dengan tekanan yang sedikit logis dan lebih psikologis, sementara argumen ini ditolak oleh Thomas Aquinas. Duns Scotus mengunakannya sebagai bantuan insidental. Di era modern, argumen ini telah memiliki suatu perbedaan. Descartes mengambil dan menyesuaikannya, Leibniz

10

mempertahankannya dengan cara yang terang dan waspada, Kant menyerangnya. Di sekolah-sekolah, pada umumnya argumen ini ditolak, walaupun beberapa pemikir menegaskan keabsahannya (validitasnya). Diantara karakter-karakter filsafat Anselmus yang agustinian ini, orang dapat menyebut teorinya mengenai kebenaran. Ketika Anselmus menjelaskan tentang kebenaran dalam suatu keputusan, ia mengikuti pandangan aristoteles untuk membuatnya ada dalam argumen ini, bahwa keputusan atau proposisi menyatakan apa yang sebenarnya ada atau menyangkal apa yang tidak ada, sesuatu hal yang ditandakan berada sebagai sebab kebenaran, kebenaran itu sendiri berada dalam keputusan itu (teori korespondensi), tapi ketika, setelah menjelaskan tentang kebenaran itu dalam kehendak, ia lalu menyatakan kebenaran akan ada atau esensi. Dan membuat kebenaran dari setiap hal untuk berada dalam ada apa yang seharusnya ada, yakni, dalam perwujudan mereka atau korespondensinya terhadap ide mereka dalam Allah, Kebenaran Tertinggi dan standar kebenaran. Dan ketika ia menyimpulkan dari kebenaran abadi keputusan terhadap kekekalan sebab kebenaran ini, Allah, ia menguraikannya dalam langkah-langkah agustinian. Oleh sebab itu, Allah itu abadi dan merupakan Kebenaran yang terus ada, yang merupakan sebab dari kebenaran ontologis dari semua ciptaan. Kebenaran Abadi ini hanya sebab dan kebenaran keputusan hanya akibat, sementara kebenaran setiap hal yang bersifat ontologis juga sekaligus adalah akibat (dari Kebenaran Abadi) dan sebab (dari kebenaran dalam keputusan). Konsep kebenaran ontologis agustinian ini, dengan eksemplaris yang diandaikan, digunakan oleh Thomas Aquinas, walaupun ia lebih menekankan pada kebenaran keputusan. Dengan demikian, mengingat karakter rumusan kebenaran menurut Thomas ini memadai (adaequatio rei et intellectus), sementara Anselmus adalah rectitudo sola mente perceptibilis. Dalam pembahasannya mengenai jiwa dan tubuh dan dalam ketiadaan suatu teori mengenai keteraturan hilomorphisme dari kedua hal itu, Anselmus mengikuti tradisi Platonis-Agustinian, walaupun seperti Agustinus sendiri, ia sangat sadar bahwa jiwa dan tubuh membentuk seorang manusia, dan ia menegaskan fakta ini. Lagian, kata-katanya dalam Proslogium mengenai terang ilahi menuntut teori iluminasi-nya Agustinus: Quamta namque est lux illa, de qua micat omne verum, quod rationali menti lucet.

11

Pada umumnya barangkali orang mungkin mengatakan bahwa walaupun filsafat Anselmus tetap berhubungan dengan tradisi Agustinian, filsafat ini secara lebih sistematis dielaborasikan daripada unsur-unsur yang menghubungkan pemikiran Agustinus, teologi naturalnya, yakni, dan bahwa aplikasi dialektis metodis ini, filsafat ini menunjukkan tanda dari suatu zaman kemudian.

12