MODUL

KE – NW – AN

Oleh

Drs. H. JASMAN UMAR, M.Pd.I SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) HAMZANWADI SELONG 2011

i

KATA PENGANTAR
Kelestarian serta kesinambungan kehidupan suatu organisasi sangat ditentukan oleh berapa banyak kader-kader penurus organisasi tersebut yang memahami dan menghayati dengan sungguh-sungguh hittah perjuangan organisasinya serta menghayati makna dan hakikat perjuangan yang diemban oleh organisasi tersebut. Loyalitas, aktivitas, serta kualitas pengabdian yang diberikan dan ditunjukkan para kader, akan memberikan dampak pada keutuhan existensi organisasi tersebut ditengah-tengah masyarakat. Berangkat dari hal tersebut, maka dalam upaya mewujudkan kader-kader penurus perjuangan Nahdlatul Wathan yang memiliki dedikasi dan militansi tinggi serta wawasan dan pemahaman utuh tentang Nahdlatul Wathan mutlak perlu ditanamkan jiwa dan semangat Nahdlatul Wathan kepada segenap mahasiswa dan seluruh generasi penerus. Jadi jelaslah bahwa dalam upaya peletakkan dasar-dasar keyakinan akan kebenaran perjuangan nahdlatul Wathan dikalangan mahasiswa dan warga Nahdlatul Wathan dipandang perlu untuk lebih dini membentengi mereka dari berbagai macam faham dan pendapat serta idiologi luar yang akhir-akhir ini makin deras mengalir sejalan dengan arus globalisasi, informasi dan komunkasi. Sebagai langkah awal dan merupakan salah satu upaya yang hharus ditempuh dan dilakukan adalah memberikan mata kuliah Ke-NW-an dengan maksud agar setiap mahsiswa Nahdlatul Wathan tumbuh dan berkembang dengan identitas, keyakinan, dan kepribadian Nahdlatul Wathan dimanapun ia berada. Sebab dalam kepribadiannya yang terbentuk sejak awal itu terkandung dan tercermin ajaran-ajaran dan nilai-nilai Islam Ahlussunnah Waljamaah Ala Mazhabil Imamisy Syafi‘i r.a Sesuai dengan cita-cita pendiri Nahdltul Wathan setiap warga NW dituntut untuk menghayati dan mengamalkan ajaran Islam Ahlussunnah Waljamaah Ala Mazhabil Imamisy Syafi‘i r.a, maka kepribadian warga NW hendaklah berisi keyakinan akan kebenaran perjuangan NW yaitu bermuara pada Iman dan Taqwa. Adapun tujuan diberikan mata kuliah Ke-NW-an adalah sebagai berikut: a. Untuk dapat dijadikan sebagai modal dasar bagi mahasiswa NW dalam upaya memahmi secara utuh tentang hittah perjuanangan NW sebagai organisasi Islam Ahlussunnah Waljamaah Ala Mazhabil Imamisy Syafi‘I r.a yang memusatkan kegiatannya dalm bidang pendidikan sosial dan dakwah Islamiah sehingga diharapkan dapat menimbulkan kecintaan dan kesetian terhadap organisasi Nahdlatul Wathan. b. Agar seluruh mahasiswa Nahdlatul Wathan dapat menghayati dan mengamalkan semua ajaran yang dianut Nahdlatul Wathan secara murni dan utuh dengan disertai rasa penuh tanggung jawab, yaitu doktris Islam Ahlussunnah Waljamaah dalam aqidah dam Mazhab Syafi‘i dalam bidang fiqih. c. Untuk dapat diijadikan sebagai media dalam upaya membina kader-kader penerus dimasa datang yang memiliki dedikasi dan loyalitas tinggi dengan dilandasi jiwa ikhlas dan istiqomah dalam pengabdian untuk meneruskan perjuang Nahdlatul Wathan.. d. Untuk dapat dijadikan sebagai media dakwah dalam upaya menyebar luaskan ajaran Islam Ahlussunnah Waljamaah Ala Mazhabil Imamisy Syafi‘i r.a dikalangan masyarakat Islam pada umumnya dan dikalangan warga Nahdlatul Wathan pada khususnya. Pancor, 27 September 2011 Penyusun Drs. H. Jasman Umar, M.Pd.I

i

DAFTAR ISI
PERTEMUAN I & II SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA………………..

PERTEMUAN III & IV SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ISLAM DI PULAU LOMBOK …………….

PERTEMUAN V & VI BEOGRAFI TUAN GURU KYAI HAJI MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MADJID……………………………………………………………………..

PERTEMUAN VII & VIII PONDOK PESANTREN NAHDLATUL WATHAN ………………………………

PERTEMUAN IX & X ORGANISASI NAHDLATUL WATHAN ……………………………………………..

PERTEMUAN XI & XII AHLUSSUNNAH WALJAMAAH ……………………………………………………..

PERTEMUAN XIII DESKRIPSI KARYA TULIS TUAN GURU KYAI HAJI MUHAMMAD ABDUL MAJID……………..

PERTEMUAN XIV & XV NAHDLATUL WATHAN DALAM BERBAGAI PERSEPEKTIF……………………

ii

STANDAR KOMPETENSI MATA KULIAH KE NW-AN 1. Kemampuan mengenal dan memahami sejarah dan perkembangan Islam di Indonesia 2. Kemampuan mengenal dan memahami sejarah dan perkembangan Islam di Pulau Lombok 3. Kemampuan mengenal dan memehami kedudukan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan dalam lingkaran sejarah Pondok Peantren Nusantara. 4. Kemampuan mengenal dan meneladani biografi Tuan Guru Kyai haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid 5. Kemampauan mengenal dan memahami organisasi Nahdlatul Wathan 6. Kemampuan mengenal dan memahami ke-Aswaja-an Nahdlatul Wathan 7. Kemampuan mengenal dan menggali nilai-nilai perjuangan dan cirri khas Nahdlatul Wathan 8. Kemampuan mengenal dan menganalisis Nahdlatul Wathan dalam berbagai persepektif.

iii

PERTEMUAN I & II Setelah Mempelajari modul ini anda diharapkan mampu: 1. Menjelaskan sejarah masuknya Islam di Indonesia 2. Menjelaskan perkembangan Islam di Indonesia 3. Menyebutkan Aspek- Aspek Kebudayaan Lokal yang dimanfaatkan dalam pengeberan Islam di Indonesia 4. Menyebutkan Faktor-Faktor Pendukung Perkembanagan Islam di Indonesia SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA Sejak zaman prasejarah, penduduk kepulauan Indonesia dikenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan Iepas. Sejak awal abad Masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di daratan Asia Tenggara. Wilayah barat Nusantara dan sekitar Malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang dijual di sana menarik bagi para pedagang, dan menjadi daerah Jintasan penting antara Cina dan India. Sementara itu, pala dan cengkeh yang berasal dari Maluku, dipasarkan di Jawa dan Sumatera, untuk kemudian dijual pada pedagang asing. Pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatera dan Jawa antara abad ke-1 dan ke-7 M sering disinggahi pedagang asing, seperti Lamuri f Aceh), Barus dan Palembang di Sumatera; Sunda Kelapa dan Gresik di Jawa. Pedagang-pedagang muslim asal Arab, Persia dan India juga ada yang sampai ke kepulauan Indonesia untuk berdagang sejak abad ke-7 M (abd I H), ketika Islam pertama kali berkembang di Timur Tengah. Malaka Jauh sebelum ditaklukkan Portugis (1511), merupakan pusat utama lalu lintas perdagangan dan pelayaran. Melalui Malaka, hasil hutan dan rempah-rempah dari seluruh pelosok Nusantara dibawa ke Cina dan India, terutama Gujarat, yang melakukan hubungan dagang langsung dengan Malaka pada waktu itu. Dengan demikian, Malaka menjadi mata rantai pelayaran yang penting. Lebih ke barat lagi dari Gujarat, perjalanan laut melintasi Laut Arab. Dari sana perjalanan bercabang dua. Jalan pertama di sebelah utara menuju Teluk Oman, melalui Selat Ormuz, ke Teluk Persia. Jalan kedua melalui Teluk Aden dan Laut Merah, dan dari kota Suez jalan perdagangan harus melalui daratan ke Kairo dan Iskandariah. Melalui jalan pelayaran tersebut kapal-kapal Arab, Persia, dan India mondar-mandir dari barat ke timur dan terus ke negeri Cina dengan menggunakan angin musim untuk pelayaran pulang perginya. Ada indikasi bahwa kapal-kapal Cina pun mengikuti jalan tersebut sesudah abad ke-9 M, tetapi tidak lama kemudian kapal-kapal tersebut hanya sampai di pantai barat India, karena barang-barang yang diperlukan sudah dapat dibeli di sini. Kapal-kapal Indonesia juga mengambil bagian dalam perjalanan niaga tersebut. Pada zaman Sriwijaya pedagang-pedagang Nusantara mengunjungi pelabuhan-pelabuhan Cina dan pantai timur Afrika.

1

Menurut J, C. van Leur, berdasarkan berbagai cerita perjalanan dapat diperkirakan bahwa sejak 674 M ada koloni-koloni Arab di barat barat laut Sumatera, yaitu di Barus, daerah penghasil kapur barus terkenal. Dari berita Cina bisa diketahui bahwa di masa dinasti Tang (abad ke 9-10) orang-orang Ta-Shih sudah ada di Kanton (Kan-fu) dan Sumatera. Ta-Shih adalah sebutan unluk orung-orang Arab dan Persia, yang ketika itu jelas sudah menjadi muslim. Perkembangan pelayaran dan perdagangan yang bersifat internasional antara negeri-negeri di Asia bagian barat dan timur mungkin disebabkanoleh kegiatan kerajaan Islam di bawah Bani Umayyah bagian barat dan kerajaan Cina zaman dinasti Tang di Asia baian timur sertai kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara. Akan tetapi, menurut Taufik Abdullah, belum ada bukti bahwa pribumi Indonesia di tempat-tempat yang disinggahi oleh para pedagang muslim itu yang beragama Islam. Adanya koloni itu, diduga sejauh yang paling bisa dipertanggungjawabkan,ialah para pedagang Arab tersebut hanya berdiam untuk menunggu musim yang baik bagi pelayaran. Baru pada zaman-zaman berikutnya penduduk kepulauan ini masuk Islam, tentu bermula dari penduduk pribumi di koloni-koloni pedagang muslim itu. Menjeang abad ke-13 M, masyarakat muslim sudah ada di Sarrmdera Pasai, Perlak dan Palembang di Sumatera. Di Jawa makan Fatimah binti Maimun di Leran (Gersik) yang berangka tahun 475 H (1082 M) dan makam-makam Islam di Tralaya yang berasal dari abad ke-13 M merupakan bukti berkembangnya komunitas Islam, termasuk di pusat kekuasaan Hindu-Jawa ketika itu, Majapahit. Namun, sumber sejarah yang sahih yang memberikan kesaksian sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan tentang berkembangnya masyarakat Islam di Indonesia, baik berupa prasasti dan historiografi tradisional maupun berita asing, baru terdapat ketika "komunitas Islam" berubah menjadi pusat kekuasaan. Sampai berdirinya kerajaan-kerajaan Islam itu, perkembang-an agama Islam di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga fase. (1) Singgahnya pedagang-pedagang Islam di pelabuhan-pelabuhan Nusantara. Sumbernya adalah berita luar negeri, terutama Cina, (2) Adanya komunitas-komunitas Islam di beberapa daerah kepulauan Indonesia. Sumbernya, di samping berita-berita asing,juga makam-makan Islam, dan (3) Berdirinya kerajaan-kerajaan Islam. A. KONDISI DAN SITUASI POLITIK KERAJAAN-KERAJAAN DI INDONESIA Cikal bakal kekuasaan Islam telah dirintis pada periode abad 1 -5 H/7-8 M, tetapi semuanya tenggelam dalam hegemoni maritim Sriwijaya yang berpusat di Palembang dan kerajaan HinduJawa seperti Singasari dan Majapahit di Jawa Timur: Pada periode ini para pedagang dan muballig muslim membentuk komunitas-komunitas Islam. Mereka memperkenalkan Islam yang mengajar-kan toleransi dan persamaan derajat di antara sesama, sementara ajaran Hindu-Jawa menekankan perbedaan derajat manusia. Ajaran Islam ini sangat menarik perhatian penduduk setempat. Karena itu, Islam tersebar di kepulauan Indonesia terhitung cepat, meski dengan damai. Masuknya Islam ke daerah-daerah di Indonesia tidak dalam waktu yang bersamaan. Di samping itu, keadaan politik dan sosial budaya daerah-daerah ketika didatangi Islam juga

2

berlainan. Pada abad ke-7 sampai ke-10 M, kerajaan Sriwijaya meluaskan kekua-saannya ke daerah Semenanjung Malaka sampai Kedah. Hal itu erat hubungannya dengan usaha penguasaan Selat Malaka yang merupakan kunci bagi pelayaran dan perdagangan internasional. Datangnya orang-orang muslim ke daerah itu sama sekali belum memperlihatkan dampakdampak politik, karena mereka datang memang hanya untuk usaha pelayaran dan perdagangan. Keterli-batan orang-orang Islam dalam bidang politik baru terlihat pada abad ke-9 M, ketika mereka terlibat dalam pemberontakan petani-petani Cinateerhadap kekuasaan Tang pada masa pemerintahan Kaisar Hi-Tsung (878-889 M). Akibat pemberontakan itu, kaum muslimin banyak yang dibunuh. Sebagian lainnya lari ke Kedah, wilayah yang masuk kekuasaan Sriwijaya, bahkan ada yang ke Palembang dan membuat perkampungan muslim di sini. Kerajaan Sriwijaya pada waktu itu memang melindungi orang-orang muslim di wilayah kekuasaannya. Kemajuan politik dan ekonomi Sriwijaya berlangsung sampai abad ke 12 M, Pada akhir abad ke-12 M, kerajaan ini mulai memasuki masa kemundurannya. Untuk mempertahankan posisi ekonominya, kerajaan Sriwijaya membuat peraturan cukai yang . lebih berat bagi kapal-kapal dagang yang singgah ke pelabuhan-pelabuhannya. Akan tetapi, usaha itu tidak mendatangkan keun-tungan bagi kerajaan, bahkan justru sebaliknyakarenakapal-kapal dagang asing seringkali menyingkir. Kemunduran ekonomi ini membawa dampak terhadap perkembangan politik. Kemunduran politik dan ekonomi Sriwijaya dipercepat oleh usaha-usaha kerajaan Singasari yang sedang bangkit di Jawa. Kerajaan Jawa ini melakukan ekspedisi Pamalayu 1275 M dan berhasil mengalahkan kerajaan Melayu di Sumatera. Keadaan itu mendorong daerah-daerah di Selat Malaka yang dikuasai kerajaan Sriwijaya untuk melepaskan diri dari kekuasaan kerajaan tersebut. Kelemahan Sriwijaya dimanfaatkan pula oleh pedagang-pedagang muslim untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan politik dan perdagangan. Mereka mendukung daerahdaerah yang muncul, dan daerah yang menyatakan diri sebagai kerajaan berco-rak Islam, yaitu kerajaan Samudera Pasai di pesisir timur Iaut Aceh. Daerah ini sudah disinggahi pedagangpedagang muslim sejak abad ke-7 dan ke-8 M. Proses islamisasi tentu berjalan di sana sejak abad tersebut. Kerajaan Samudera Pasai dengan segera berkembang baik dalam bidang politik maupun perdagangan. Karena kekacauan-kekacauan dalam negeri sendiri akibat perebutan kekuasaan di istana, Kerajaan Singasari, juga pelanjut-nya, Majapahit, tidak mampu mengontrol daerah Melayu dan Selat Malaka dengan baik, sehingga kerajaan Samudera Pasai dan Malaka dapat berkembang dan mencapai puncak kekuasaannya hingga abad ke-16 M. Di Kerajaan Majapahit, ketika Hayam Wuruk dengan Patih Gajah Mada masih berkuasa, situasi politik pusat kerajaan memang, tenang, sehingga banyak daerah di kepulauan Nusantara mengakui berada di bawah perlindungannya. Tetapi sejak Gajah Madameninggal dunia (1364 M) dan disusul Hayam Wuruk (1389 M), situasi Majapahitkembali mengalami kegoncangan.

3

Perebutan kekuasaan antara Wikramawhardana dan Bhre Wirabumi berlangsung lebih dari sepuluh tahun. Setelah Bhre Wirabumi meninggal, perebutan kekuasaan di kaiangan istana kembali muncul dan berlarut-larut. Pada tahun 1468 M Majapahit diserang Girindrawardhana dari Kediri. Sejak itu, kebesaran Majapahit dapat dikatakan sudah habis. Tome Pires (1512-1515 M), dalam tulisannya Suma Oriental, tidak lagi menyebut-nyebut nama Majapahit. Kelemahankelemahan yang semakin lama semakin memuncak akhirnya menyebabkan keruntuhannya. B. MUNCULNYA PEMUKIMAN-PEMUKIMAN MUSLIM DI KOTA-KOTA PESISIR Seperti disebutkan di atas, menjelang abad ke-13 M, di pesisir Aceh sudah ada pemukiman muslim. Persentuhan antara pendu-duk pribumi dengan pedagang muslim dari Arab, Persia, dan India memang pertama kali terjadi di daerah ini. Karena itu, diperkira-kan, proses islamisasi sudah berlangsung sejak persentuhan itu terjadi. Dengan demikian, dapat dipahami mengapa kerajaan Islam pertama di kepulauan Nusantara ini berdiri di Aceh, yaitu kerajaaa Samudera Pasai yang didirikan pada pertengahan abad ke-13 M. Setelah kerajaan Islam berdiri, perkembangan masyarakat muslim di Malaka makin lama makin meluas dan pada awal abad ke-15 M, di daerah ini lahir kerajaan Islam, yang merupakan kerajaan Islam kedua di Asia Tenggara. Kerajaan ini cepat berkembang, bahkan dapat mengambil alih dominasi pelayaran dan perdagangan dari kerajaan Samudera Pasai yang kalah bersaing. Lajunya perkembangan masyarakat muslim ini berkaitan erat dengan keruntuhan Sriwijaya. Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis (1511 M), mata rantai penting pelayaran beralih ke Aceh, kerajaan Islam yang melanjutkan kejayaan SamuderaPasai. Dari sini, proses Islami-sasi di kepulauan Nusantara berlangsung lebih cepat dari sebelum-nya. Untuk menghindari gangguan Portugis yang menguasai Malaka, untuk sementara kapal-kapal memilih berlayar menelu-suri pantai barat Sumatera. Aceh kemudian berusaha melebarkan kekuasaannya ke Selatan sampai ke Pariaman dan Tiku. Dari pantai Sumatera kapal-kapal memasuki Selat Sunda menuju pelabuhan-pelabuhan di pantai utara Jawa. rantai penting pelayaran beralih ke Aceh, kerajaan Islam yang melanjutkan kejayaan SamuderaPasai.13 Dari sini, proses Islami-sasi di kepulauan Nusantara berlangsung lebih cepat dari sebelum-nya. Untuk menghindari gangguan Portugis yang menguasai Malaka, untuk sementara kapal-kapal memilih berlayar menelu-suri pantai barat Sumatera. Aceh kemudian berusaha melebarkan kekuasaannya ke Selatan sampai ke Pariaman dan Tiku. Dari pantai Sumatera kapal-kapal memasuki Selat Sunda menuju pela-buhan-pelabuhan di pantai utara Jawa. Berdasarkan berita Tome Pires (1512-1515), dalam Suma Oriental-nya dapat diketahui bahwa daerah-daerahdi bagian pesisir Sumatera Utara dan timur Selat Malaka, yaitu dari Aceh sampai Palembang sudah banyak terdapat mesyarakat dan kerajaan-kerajaan Islam. Akan tetapi, menurut berita itu, daerah-daerah yang belum Islam juga masih banyak, yaitu Palembang dan

4

daerah-daerah pedalaman.'4 Proses Islamisasi ke daerah-daerah pedalaman Aceh, Sumatera Barat, terutama terjadi sejak Aceh melakukan ekspansi politiknya pada abad ke-16 dan 17_M. Sementara itu, di Jawa, proses islamisasi sudah berlangsung, sejak abad ke-11 M,meskipun belum meluas; terbukti dengan di-temukannya makam Fatimaf binti Maimun di LeranGresik yang berangka tahun 475H(1082 M). Berita tentang Islam di Jawa pada abad ke-11 dan 12 M memang masih sangat langka. Akan tetapi, sejak akhir abad ke-13 Mdan abad-abad berikutnya, terutama ketika Majapahit mencapai puncak kebesarannya, bukti-bukti adanya proses islamisasi sudah banyak, dengan ditemukannya beberapa puluh nisan kubur di Troloyo, Trowulan dan Gresik. Bahkan, menurut berita Ma-huan tahun 1416 M, di pusat Majapahit maupun di pesisir, terutama di kota-kota pelabuhan, telah terjadi proses islamisasi dan sudah pula terbentuk masyarakat muslim. Pertumbuhan masyarakat Islam di sekitar Majapahit dan terutama di beberapa kota pelabuhan di Jawa erat hubungannya dengan perkembangan pelayaran dan perdagangan yang dilaku-kan orang-orang Islam yang telah mempunyai kekuasaan ekonomi dan politik di samudera Pasai, Malaka dan Aceh. Tome Pires juga menyebutkan bahwa di Jawa sudah ada kerajaan yang bercorak Islam, yaitu Demak, dan kerajaan-kerajaan di daerah pesisir utara JawaTimur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, di samping masih ada kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu. Melihat makam-makam muslim yang terdapat di situs-situs Majapahit, diketahui bahwa Islam sudah hadir di ibu kota Majapahit sejak kerajaan itu mencapai puncaknya. Meskipun demikian lazim dianggap bahwa Islam di Jawa pada mulanya menyebar selama periode merosotnya kerajaan Hindu-Budhis. Islam menyebar ke pesisir pulau Jawa melalui hubungan perdagangan, kemudian dari pesisir ini, agak belakangan, menyebar ke pedalam-an pulau itu. Tome Pires memberi gambaran tentang bagaimana wilayah-wilayah pesisir Jawa berada di bawah pengaruh muslim: Pada waktu terdapat banyak orang kafir di sepanjang pesisir Jawa, banyak pedagang yang biasa datang: orang Persia, Arab, Gujarat, Bengali, Melayu, dan bangsa-bangsa lain. Mereka mulai berdagang di negeri itu dan berkembang menjadi kaya. Mereka berhasil mendirikan mesjid-mesjid, dan mullah-mullah datang dari luar. Oleh karena itu, mereka datang dalam jumlah yang terus meningkat. Anak-anak orang kaya muslim sudah menjadi orang Jawa dan kaya, karena mereka telah menetap di daerah ini sekitar 70 tahun. Di beberapa tempat, raja-raja Jawa yang kafir menjadi muslim, sementara para mullah dan para pedagang muslim mendapat posisi di sana. Yang lain mengambil jalan membangun benteng di sekitar tempat-tempat mereka tinggal dan mengambil masya-rakatpribuminya, yangberlayardi kapal-kapal mereka. Mereka membunuhraja-rajaJawasertamenjadikandiri

5

mereka sebagai raja. Dengan cara ini, mereka menjadikan diri mereka sebagai tuan-tuan di pesisir itu serta mengambil alih perdagangan dan kekuasaan di Jawa. Perkembangan Islam di pulau Jawa bersamaan waktunya dengan melemahnya posisi raja Majapahi. hal itu memberi peluang kepada raja-raja Islam pesisir untuk pembangun pusat-pusat kekuasaan yang independen. Di bawah bimbingan spiritual Sunan Kudus, meskipun bukan yang tertua dari Wali Songo7~Deinak akhirnya berhasil menggantikan Majapahit sebagai kraton pusat. Pengaruh Islam masuk ke Indonesia bagian timur, khususnya daerah Maluku, tidak dapat dipisahkan dari jalur perdagangan yang terbentang pada pusat lalu lintas pelayaran internasional di Malaka, Jawa, dan Maluku. Menurut tradisi setempat, sejak abad ke-14 M, Islam datang ke daerah Maluku, Raja Ternate yang kedua belas, Molomatea (1350-1357 M) bersahabat karib dengan orang Arab yang memberinya petunjuk dalam pembuatan kapal-kapal, tetapi agaknya bukan dalam kepercayaan. Hal ini menunjukkan bahwa di Ternate sudah ada masyarakat Islam sebelum rajanya masuk Islam. Demikian juga di Banda, Hitu, Makyan, dan Bacan. Menurut Tome Pires, orang masuk Islam di Maluku kira-kira tahun 1460-1465M. Halitusejalan dengan berita Antonio Galvao. Orang-orang Islam datang ke Maluku tidak menghadapi kerajaan-kerajaan yang sedang mengalami perpecahan sebagaimana halnya di Jawa. Mereka datang dan menyebarkan agama Islam melalui perdagangan, dakwah, dan perkawinan. Kalimantan Timur pertamakali diislamkan oleh Datuk Ri Bandang danTunggang Parangan. Kedua muballig itu datang ke Kutai setelah orang-orang Makassar masuk Islam. Proses Islamisasi di Kutai dan daerah sekitarnya diperkirakan terjadi sekitar tahun 1575. Sulawesi, terutama bagian selatan, sejak abad ke-15 M sudah didatangi oleh pedagangpedagang muslim, mungkin dari Malaka, Jawa dan Sumatera. Pada awal abad ke-16 M di Sulawesi banyak sekali kerajaan yang masih beragama berhala. Akan tetapi, pada abad ke-16 itu di daerah Gowa, sebuah kerajaan terkenal di daerah itu, telah terdapat masyarakat muslim. Di Gowa dan Tallo raja-rajanya masuk Islam secara resmi pada tanggal 22 September 1605 M. Proses islamisasi pada taraf pertama dikerajaan Gowa dilakukan dengan cara damai, oleh Dato' Ri Bandang dan Dato' Sulaeman keduanya memberikan ajaran-ajaran Islam kepada masyarakat dan raja. Setelah secara resmi memeluk agama Islam, Gowa melancarkan perang terhadap Soppeng, Wajo dan terakhir Bone. Kerajaan-kerajaan tersebut pun masuk Islam, Wajo, lOMei 1610 M, dan Bone, 23 November 1611 M. Proses islamisasi memang tidak berhenti sampai berdirinya kerajaan-kerajaan Islam, tetapi terus berlangsung intensif dengan berbagai caradan saluran. C. SALURAN DAN CARA-CARA ISLAMISASI DI INDONESIA Kedatangan Islam dan penyebarannya kepada golongan bangsawan dan rakyat umumnya, dilakukan secara damai. Apabi-la situasi politik suatu kerajaan mengalami kekacauan dan kele-

6

mahan disebabkan perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana, maka Islam dijadikan alat politik bagi golongan bangsawan atau pihak-pihak yang menghendaki kekuasaan itu. Mereka berhubungan dengan pedagang-pedagang muslim yang posisi ekonominya kuat karena menguasai pelayaran dan perdagangan. Apabila kerajaan Islam sudah berdiri, penguasanya melancarkan perang terhadap kerajaan non Islam. Hal itu bukanlah karena persoalan agama tetapi karena dorongan politis untuk menguasai kerajaan-kerajaan di sekitarnya, Menurut Uka Tjandrasasrnita,saluran-saluran islamisasi yang berkembang ada enam, yaitu: 1. Saluran Perdagangan Pada taraf permulaan, saluran islamisasi adalah perdagangan. Kesibukan lalu lintas perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 M. Membuat pedagang-pedagang muslim (Arab, Persia dan India) turut ambil bagian dalam perdagangan dari negeri-negeri bagian barat, tenggara dan timur benua Asia. Saluran islamisasi melalui perdagangan ini sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan saham. Mengutip pendapat Tome Pires berkenaan dengan saluran islamisasi melalui perdagangan ini di pesisirPulau Jawa, Uka Tjandrasasmita menyebutkan bahwa para pedagang muslim banyak yang bermukim di pesisir Pulau Jawa yang penduduknya ketika itu masih kafir. Mereka berhasil mendirikan mesjid-mesjid dan mendatangkan mullah-mullah dari luar sehingga jumlah mereka menjadi banyak, dan karenanya anak-anak muslim itu menjadi orang Jawa dan kaya-kaya. Di beberapa tempat,penguasa-penguasaJawa,yangmenjabatsebagai bupati-bupati

Majapahit yang ditempatkan di pesisir utara Jawa banyak yang masuk Islam, bukan hanya karena faktor politik dalum negeri yang sedang goyah, tetapi terutama karena faktor hubungan ekonomi dengan pedagang-pedagang muslim. Dalam perkembangan selanjutnya, mereka kemudian mengambil alih perdagangan dan kekuasaan di tempat-tempat tinggalnya. 2. Saluran Perkawinan Dari sudut ekonomi, para pedagang muslim memiliki status sosial yang lebih baik daripada kebanyakan pribumi, sehingga penduduk pribumi, terutama puteri-puteri bangsawan, tertarik untuk menjadi istri saudagar-saudagar itu. Sebelum kawin, mereka diislamkan lebih dahulu. Setelah mereka mempunyai keturunan, lingkungan mereka makin luas. Akhirnya timbul kampung-kampung, daerah-daerah dan kerajaan-kerajaan muslim. Dalam perkembangan berikutnya, ada pula wanita muslim yang dikawini oleh keturunan bangsawan; tentu saja setelah yang terakhir ini masuk Islam terlebih dahulu. Jalur perkawinan ini lebih menguntungkan apabila terjadi antara saudagar muslim dengan anak bangsawan atau anak raja dan anak adipati, karena raja, adipati atau bangsawan itu kemudian turut mempercepat proses islamisa-si. Demikianlah yang terjadi antara Raden Rahmat atau Sunan Ngampel

7

dengan Nyai Manila, SunanGunung Jati dengan puteri Kawunganten, Brawijaya dengan puteri Campa yang menurunkan Raden Patah (raja pertama Demak) dan lain-lain. 3. Saluran Tasawuf Pengajar-pengajar tasawuf, atau para sufi, mengajarkan teo-sofi yang bercampur dengan ajaran yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Mereka mahir dalam soalsoal magis dan mempunyai kekuatan-kekuatan menyembuhkan. Di antara mereka ada juga yang mengawini puteri-puteri bangsawan setempat. Dengan tasawuf, "bentuk" Islam yang diajarkan kepada penduduk pribumi mempunyai persamaan dengan alam pikiran mereka yang sebelumnya menganut agama Hindu, sehingga agama baru itu mudah dimengerti dan diterima. Di antara ahli-ahli tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung persamaan dengan alam pikiran Indonesia pra-Islam itu adalah Hamzah Fansuri di Aceh, Syekh Lemah Abang, dan Sunan Panggung di Jawa. Ajaran mistik seperti ini mudah berkembang di abad ke-19 M bahkan di abad 20M ini. 4. Saluran Pendidikan Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kyai-kyai dan ulama-ulama. Di pesantren atau pondok itu calon ulama, guru agama dan kyai mendapat pendidikan agama. Setelah keluar dari pesantren, mereka pulang kekampung masing-masing atau berdakwah ketempat tertentu mengajarkan Islam. Misalnya, pesantren yang didirikan oleh Raden Rahmat di Ampel Denta Surabaya, dan Sunan Giri di Giri. Keluarga pesantren giri ini banyak yang diundang ke Maluku untuk mengajarkan Islam. 5. Saluran Kesenian Saluran Islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah petunjuk wayang. Dikatakan, Sunan Kaljaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang, dia tidak pernah meminta upah pertujukan. Tetapi ia meminta penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang yang dipetik dari cerita Mahabartha dan Ramayana, tetapi di dalam cerita ini disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan Islam. Kesenian-kesenian lain juga di jadikan alat Islamisasi, seperti sastra (Hikayat, Babad, dan sebagainya) seni bangunan dan seni ukir. 6. Saluran Politik Di Maluku dan Sulawesi Selatan, kebudayaan rakyat masuk Islam setelah rajanya memeluk agama Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam didaerah ini. Di samping itu baik di Sumatera dan Jawa maupun Di Indoonesia bagian Timur, demi kepentingan politik, kerajaan-kerajaan Islam memerangi kerajaan-kerajaan non Islam. Kemenangan kerajaan Islam secara politis banyak menarik penduduk kerajaan bukan Islam itu masuk Islam.

8

PERTEMUAN III & IV Setelah Mempelajari Modul Ini Anada diharapakn mampu: 1. 2. 3. 4. 5. Menjelaskan sejarah masuknya Islam di Pulau Lombok Mejelaskan Perkembangan Islam di Pulau Lombok Menjelaskan Kerajaan – Kerajaan Islam di Pulau Lombok Menjelaskan Perbedaan dan Persamaan Antara Waktu Lima dan Wetu Telu Mejelaskan Langkah-Langkah Dakwah Beberapa Tuan Guru Kepada Penganut Wetu Telu SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ISLAM DI PULAU LOMBOK Sangat sedikit diketahui tentang sejarah awal Pulau Lombok. Mereka yang selama ini bergelut dalam studi maupun sebagai pemerhati sejarah Lombok merasakan adanya kesulitankesulitan ketika berusaha merekonstruksi proses perjalanan pulau ini dengan apik. Hal yang sama dirasakan oleh mereka yang mencoba menelusuri tapak-tapak sejarah masuknya Islam ke wilayah ini, Paling tidak, secara ilmiah, mereka kesulitan mcnemukan data-data primer yang valid dan reliable, sehingga dapat diverifikasi oleh semua pihak. Satu-satunya sumber yang selama ini secara khusus menguraikan perjalanan pulau ini adalah babad, seperti Babad Lombok, Babad Selaparang, dan lain-lain. Keraguan segera muncul, ketika di dalam babad-babad tersebut termuat cerita-cerita legenda dan mistis lainnya, yang sedikit banyak mempersulit pemilahan antara fakta dan mitos di dalamnya. Khusus mengenai sejarah Pulau Lombok, baru menjelang abad ke-14 terdapat bukti yang menunjukkan adanya hubungan dengan Pulau Jawa. Dalam buku Negarakertagama [1365], karangan Mpu Prapanca, istilah Lombok [Lombok Mirah] dan Sasak [Sasak Adi], yang merepresentasikan Pulau Lombok dengan masyarakatnya, disebutkan sebagai bagian wilayah Majapahit. Dalam pupuh ke-14 tertulis : "Muwah tang I Gurunsanusa ri Lombok Mirah lawantikang sasakadi nikalun kehayian kabeh Muwah tanah I Bantayan Pramuka Bantayan len Luwuk teken

Udamakatrayadhi nikayang sanusa pupul." Terdapat bukti-bukti yang kuat mengenai hubungan Gumi Selaparang [sebutan untuk Pulau Lombok yang berarti bumi Selaparang] dengan Kerajaan Majapahit di Jawa. Dr. R. Gorris, dalam studinya Aantekeningen over Oost Lombok, yang pada pokoknya membicarakan tentang penduduk yang mendiami lembah Sembalun, menunjukkan bahwa pennduduk lembah ini meyakini diri mereka sebagai keturunan Hindu-Jawa dan juga meyakini bahwa keluarga Raja Majapahit dimakamkan di dekat desa Sembalun. Di samping itu, studi Dr. R. Gorris menunjukkan adanya pengaruh Hindu-Jawa pada masyarakat desa Sembalun dalam bentuk-bentuk kesenian, seperti musik dan tarian, bahasa, dan khususnya nama-nama tokoh mitos dan tempat-tempat suci.

9

Akan halnya sejarah tentang masuknya Islam di Pulau Lombok. Penuturan-penuturan yang ada sementara ini sangat beragama dan agak sulit dikompromikan satu sama lain menjadi sebuah rangkaian proses yang berkesinambungan. Diduga keragaman ini mencerminkan keragaman asal usul Islam di pulau ini. Sebagian menyebutkan berasal dari Jawa, tetapi dengan perbedaan waktu dan tempat, dari Melayu, Bugis dan Sumbawa. Bahkan sebagian menyebutkan dibawa oleh para pedagang dan pemimpin agama dari Arab. Salah satu sumber yang menyebutkan masuknya Islam ke pulau ini dari Jawa adalah Babad Lombok. Di dalamnya antara lain disebutkan upaya dari Raden Paku atau Sunan Ratu Giri dari Gersik, Surabaya yang memerintahkan raja-raja jawa Timur dan Palembang untuk menyebarkan Islam ke berbagai wilayah di Nusantara. "Susuhan Katu Giri memerintahkan keyakinaa baru itu disebarkan ke seluruh pelosok. Dilembu Manku Rat dikirim bersama bala tentara ke Banjarmasin, Datu Randan dikirim ke Makassar, Tidore, Seram dan Galeier, dan putra Susuhunan, Pangeran Prapen ke Bali, Lombok, dan Sumbawa. Prapen pertama kali belayar ke Lombok, dimana dengan kekuatan senjata ia memaksa orang untuk memeluk agama Islam. Setelah menyelesaikan tugasnya, Prapen berlayarke Sumbawa dan Bima. Namun selama ketiadaannya, karena kaum perempuan tetap menganut kejakinan Pagan, masyarakat Lombok kembali kepada fabam pagan. Seielah kemenangannya di

Sumbawa dan Bima, Prapen kembali, dan dengan dibantu oleh Raden Sumuliya dan Raden Salut, ia mengatur gerakan dakwah baru yang kali ini mencapai kesuksesan. Sebagian masyarakat berlari ke gunung-gunung, sebagian lainnya ditaklukkan lalu masuk Islam dan sebagan lainnya hanya ditaklukkan. Prapen meninggalkan Kaden Sumuliya dan Raden Salut untuk memelihara agama Islam, dan ia sendiri bergerak ke Bali, dimana ia memulai negosiasi [tanpa hasil] dengan DewaAgung Klungkung. Menurut Geoffrey E. Marrison, pandangan mengenai peng-Islam-an yang dilakukan oleh orang-orang dari Jawa cukup otentik, mengingat dalam penelitian H.J. de Graaf [1941], proses ini dikaitkan dengan ekspedisi militer Sultan Trenggana dari Demak, yang memerintah dari tahun 1521 sampai tahun 1550. Menurut Tawalinuddin Haris, penelitian De Graaf tersebut sedikit banyak dapat dibenarkan dengan bukti-bukti arkeologis yang terdapat dalam situs makam Selaparang Pada makam tersebut terdapat sejumlah batu nisan yang secara tipologis diperkirakan berasal antara tahun 1600 sampai 1800. Asumsi ini didasarkan atas keberadaan batunisan berkepala kerbau bersayap dan tipe silendrik. Selain itu, dari segi bentuk dan motif hiasannya, batu nisan di makam Selaparang memiliki kesamaan dengan beberapa nisan yang terdapat di Aceh, Banten, dan Madura, yang diperkirakan berasal dari kurun waktu yang sama atau bersamaan.

10

Terdapat versi lain yang menyebutkan bahwa agama Islam berasal dari Jawa dengan orang yang berbeda, misalnya oleh Pangeran Sangupati dan Wali Nyatok, walaupun yang disebut terakhir lebih terkenal sebagai Penyebar Islam di wilayah Lombok Selatan. Menurut Geoffrey E. Marrison, Pangeran Sangupati, membawa bentuk mistik Islam dari Jawa. Di Jawa, beliau bernama Aji Duta Semu, di Bali ia terkenal dengan nama Pedanda Wau Rauh, dan di Sumbawa terkenal dengan nama Tuan Semeru. Bentuk mistik Islam yang dibawanya merupakan kombinasi dari Hindu [Adwatta] dengan Islam [sufisme], dengan ajaran pantheisme. Mistik Islam ini diterima oleh masyarakat Lombok yang masih animis, yang belakangan disebut sebagai penganut Waktu Telu [Wetu Telu]. Itulah sebabnya ia ini dikenal sebagai pembawa ajaran Waktu Telu. Versi lain menyebutkan, bahwa ia adalah putera Selaparang yang dipandang sebagai waliullah. Buah karangannya antara lain Jati Swara, Prembonan, Fikih, dan Iain-lain. Ia dianggap mengadakan pagelaran wayang yang pertama kali di Lombok sebagai media dakwah. Sedangkan mengenai Wali Nyatok, disebutkan ia bernama asli Sayyid Ali atau Sayyid Abdurrahman. Makamnya terletak di desa Rambitan, Lombok Tengah, di atas sebuah bukit dengan ketinggian sekitar 200 meter di atas permukaan laut. Di antara peninggalan sejarah yang dapat diketemukan dari makamnya adalah batu nisan yang tipologinya agak rua dan mesjid kuno yang merupakan prototipe mesjid-mesjid kuno di Lombok disamping masjid Pujut dan masjid Bayan. Dari silsilah yang dikemukakan oleh Ir. H. Lalu Djelenga, Wali Nyatok ini bernama Deneq Mas Putra Pengendeng Segara Katon Rembitan. Disebutkan, ia adalah keturunan dari Batara Mas Tunggul Nala yang menjadi cikal bakal raja-raja Lombok. Ia disebut sebagai pendiri Kerajaan Kayangan yang merupakan cikal bakal kerajaan Selaparang, setelah dipindah ke wilayah yang agak tengah di daerah Pringgabaya sekarang. Ketinggian ilmu tarekatnya telah mendorongnya untuk mengundurkan diri dari panggung kerajaan Kayangan dan menetap di Rambitan sebagai penyebar agama di wilayah ini. Adapun versi yang menyebutkan Agama Islam dibawa oleh pemimpin agama dad Arab antara lain dengan ditemukannya sebuah tangkepan [babad yang tercatat di daun lontar] yang menyebutkan Islam dibawa oleh Ghaos Abdul Rozak, yang kini makamnya terdapat di Bayan Ia masuk ke Lombok sekitar tahun 977 H atau bertepatan dengan tahun 1557 M. Nama aslinya adalah Syaikh Nurrasyid Ibn Hajar al-Haitami. Seperti halnya Batara Mas Tunggul Nala, ia juga disebut-sebut sebagai cikal bakal raja-raja Lombok. Menurut tangkepan tersebut, Ghaos Abdul Rozak berputra dua orang yaitu putri Rabi'ah dan Zulkurnain alias Ghaos Abdurrahman. Ghaos Abdurrahman inilah yang kemudian bergelar Sultan Rinjani, Datu Selaparang serta Raden Mas Panji Mulia. Disebutkan ia yang mendirikan Kerajaan Selaparang. Ia mempunyai 3 orang anak,yakni 1] Sayyid Umar yang kemudian menjadi Datu

11

Gunung Pujut; 2] Sayyid Amir, yang kemudian menjadi Datu Pejanggik; dan 3] Syarifah Qamariah alias Dewi Anjani. Dari kedua versi yang disebut terakhir, yakni antara Wali Nyatok dan Ghaos Abdul Razak, terdapat seolah-olah dua keturunan yang mengklaim sebagai sama-sama menyebarkan Islam, menjadi cikal bakal raja-raja Lombok dan pendiri Kerajaan Selaparang [Kerajaan Kayangan]. Pertanyaan yang agak menggelitik kemudian, tidakkah kcduanya memang orang yang sama? Tidakkah yang dimaksud sebagai Betara Mas Tunggul Nala itu sebagai Ghaos Abdul Razak? Tidakkah yang dimaksud sebagai Wall Nyatok itu Ghaos Abdurrahman, yang kebetulan nama aslinya sama? Lalu dari mana asal tnuasal Islam di pulau Lombok yang sebenarnya? Dari Jawa atau dari Arab? Satu hal yang agak pasti setelah proses Islamisasi ini adalah berdirinya Kerajaan Selaparang Islam dan Kerajaan Pejanggik Islam. Keduanya merupakan kerajaan serumpun dari garis keturunan yang sama. Kerajaan Selaparang berpusat di bagian timur dengan menguasai hampir 2/3 daerah pulau Lombok, yang meliputi Lombok Timur, Lombok Utara, hingga scbagian Lombok Barat Bahkan Sumbawa juga pernah dikuasai oleh kerajaan ini, hingga akhirnya direbut oleh Belanda yang menandai dimulainya kolonialisasi di pulau Sumbawa. Sedangkan Kerajaan Pejanggik berpusat di basis tengah dengan menguasai hampir seluruh Lombok Tengah. Kerajaan Selaparang tergolong kerajaan yang tangguh, baik di darat maupun di laut. Pasukan lautnya telah berhasil mengusir Belanda yang hendak memasuki wilayah tersebut pada tahun 1667-1668. Namun demikian, Kerajaan Selaparang harus merelakan salah satu wilayahnya, Pulau Sumbawa dikuasai Belanda, karena lebih dahulu direbut sebelum terjadinya peperangan laut. Di samping itu, pasukan lautnya juga pernah mematahkan serangan yang dilancarkan oleh Kerajaan Gelgel [Bali] dari barat. Selaparang pernah dua kali, pada tahun 1616 dan 1624, terlibat dalam peperangan melawan Kerajaan Gelgel, tetapi kedua-duanya dapat dipatahkan. Dalam jumlah yang besar prajurit Gelgel dapat ditawan. Setelah peperangan tersebut, Selaparang mulai menerapkan kebijaksanaan baru untuk membangun kerajaannya dengan memperkuat sektor agraris. Maka ibukota kerajaan dipindahkan agak ke pedalaman, yaitu di desa Selaparang sekarang, di sebuah dataran perbukitan. Dari wilayah kota yang baru ini, panorama Selat Alas yang indah membiru dapat dinikmati dengan latar belakang daratan Pulau Sumbawa dari ujung utara ke selatan dengan sekali sapuan pandangan. Dengan demikian semua gerakan yang mencurigakan di tengah lautan akan segera dapat diketahui. Wilayah ibukota ini pun memiliki daerah belakang berupa bukti-bukit persawahan yang dibangun dan ditata rapi bertingkat-tingkat sampai ke hutan Lemor yang memiliki sumber mata air yang melimpah.

12

Berbagai sumber menyebutkan, bahwa setelah ibukota dipindahkan, Selaparang mengalami kemajuan pesat. Sebuah sumber mengungkapkan, Selaparang dapat mengembangkan kekuasaannya sampai di Sumbawa Barat. Disebutkan bahwa seorang raja muda, Sri Dadelanatha,dilantik dengan gelar Dewa Meraja di Sumbawa Barat karena saat itu [1630] daerah ini merupakan bagian kerajaan Selaparang. Kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya, yaitu pada 30 November 1648 Putera Mahkota Selaparang bernama Mas Pemayaman dengan gelar Pemban Mas Aji Komala, dilantik di Sumbawa menjadi Raja Selaparang yang memerintah Lombok dan Sumbawa. Sekalipun Selaparang unggul melawan kekuatan tetangganya yaitu Kerajaan Gelgel, namun pada saat yang bersamaan, suatu kekuatan baru dari arah barat telah muncul pula. Embrio kekuatan ini telah ada sejak permulaan abad ke-15 dengan datangnya para imigran petani liar dari Karang Asem [Bali] secara bergelombang, dan mendirikan koloni di kawasan Kotamadya Mataram sekarang ini. Kekuatan itu telah menjelma sebagai kerajaan kecil, yaitu Kerajaan Pagutan dan Pegesangan, yang berdiri pada tahun 1622. Kerajaan ini berdiri lima tahun setelah serangan laut pertama Kerajaan Gelgel dari Bali Utara atau dua tahun sebelum serangan ke dua yang dapat dipatahkan oleh Selaparang. Namun bahaya yang dinilai menjadi ancaman utama dan akan tetap muncul secara tiba-tiba, yaitu kekuatan asing, Belanda, yang sewaktu-waktu akan melakukan ekspansi. Kekuatan dari tetangga dekat diabaikan, karena Gelgel yang demikian kuat mampu dipatahkan. Sebab itu sebelum kerajaan yang berdiri diwilayahkekuasaannya di bagian barat ini berdiri, hanya diantisipasi dengan menempatkan pasukan kecil di bawah pimpinan Patinglaga Deneq Wirabangsa. Di balik itu, memang ada faktor-faktor lain terutama masalah perbatasan antara Selaparang dan Pejanggik yang tidak kunjung selesai. Hal ini menyebabkan adanya saling mengharapkan peran yang lebih diantara kedua kerajaan serumpun ini. Atau saling lempar tanggung jawab. Dalam kecamuk peperangan dan upaya menghadapi masalah kekuatan yang baru tumbuh dari arah barat itu, maka secara tiba-tiba saja, tokoh penting di lingkungan pusat kerajaan, yaitu patih kerajaan sendiri yang bernama, Raden Arya Banjar Getas, ditengarai berselisih pendapat dengan rajanya. Raden Arya Banjar Getas akhirnya meninggalkan Selaparang dan hijrah mengabdikan diri di Kerajaan Pejanggik. Atas prakarsanya sendiri, Raden Arya Banjar Getas dapat menyeret Pejanggik bergabung dengan sebuah ekspedisi tentara Kerajaan Karang Asem yang sudah mendarat menyusul di Lombok Barat. Semula, informasi awal yang diperoleh, maksud kedatangan ekspedisi ini akan menyerang Kerajaan Pejanggik. Namun dalam kenyataan sejarah, ekspedisi itu telah menghancurkan Kerajaan

Selaparang. Dan Kerajaan Selaparang dapat itakluukkan hampir tanpa perlawanan, karena sudah

13

dalam keadaan sangat lelah. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1672. Pusat kerajaan hancur; rata dengan tanah, dan raja beserta seluruh keluarganya mati terbunuh. Selaparang jatuh hanya tiga tahun setelah menghadapi Belanda. rapat balas tahun kemudian, pada tahun 1686 Kerajaan Pejanggik di bumi hanguskan oleh Kerajaan Mataram Karang Asem. Akibat kekalahan Pejanggik, maka Kerajaan Mataram mulai berdaulat menjadi penguasa tunggal di Pulau Lombok setelah sebelumnya juga meluluh lantakkan kerajaan-kerajaan kecil lainnya.

A. PASCA KERAJAAN SELAPARANG - PEJANGGIK
Dengan runtuhnya Kerajaan Islam Sekparang dan Pejanggik, maka runtuh pula kekuatan Islam secara struktural. Karena Kerajaan Mataram merupakan kerajaan Hindu, maka praktis perkembangan Islam tidak lagi mendapat dukungan struktural, bahkan cenderung mengalami penindasan yang kemudian hampir mematikan potensi agama Islam di Pulau Lombok. Agama Islam hanya menjadi agama rakyat yang dianut oleh rakyat kebanyakan dalam suasana ketakutan dan ketertindasan. Dan sejak berkuasanya Kerajaan Mataram Karang Asem, berita-berita tentang Ulam nyaris hilang dari sejarah Pulau Lombok. Berita tentang Islam dalam lingkaran Kerajaan Mataram baru terdengar sctelah pecahnya Perang Sakra I dan II pada tahun 1841 dan 1855. Pembcrontakan ini dimotori oleh kaum aristokrat yang merasa diperlakukan tidak adil dan menganggap bahwa Kerajaan Mataram telah menzalimi rakyatnya. Walau akhirnya perlawanan kaum aristokrat Sasak dapat ditumpas, gaung perlawanan ini telah sampai ke Batavia yang kemudian dijadikan benchmarking [titik tolak] baru bagi Belanda untuk memasuki Pulau Lombok setelah dua ratus tahun lalu dipukul mundur oleh Kutajaan Selaparang. Konon, Raja Mataram dalam samadinya mendapatkan wangsit untuk mengawini seorang puteri bangsawan Kalijaga Lombok Timur yang kemudian dikenal dengan nama Denda Nawangsasih. Perkawinan ini menyebabkan terjadinya krisis kepercayaan dan kecemburuan di kalangan dalam istana. Denda Nawangsasih direbut melalui perang melawan bangsawan Kalijaga, Raden Meraja, salahsatupedaleman Selaparang yang terdekat. babad Lombok II menceritakan akhirnya Raden Meraja melarikan diri ke Bima. Denda Nawangsasih tidaklah terlalu cantik tetapi sangai berpengaruh terhadap raja. Karena Nawangsasih-lah, maka di satu pihak raja dapat membangun kcmbali hubungannya dengan beberapa pedalaman dan rakyatnya, tetapi di pihak lain raja dinilai telah melakukan introversi, yaitu kecendrungan bersikap dan bertindak menurut pikiran sendiri tanpa menghiraukan orang lain, bahkan tanpa memperhatikan lagi budaya dan filsafat Hindu-Budha. Raja telah membiarkan Denda Nawangsasih memeluk agamanya sendiri, agama Islam. Dia menuntut dibangunkan masjid untuk dirinya sendiri di kompleks Taman Mayura dan untuk umum di kompleks Pura Miru yang semuanya dipenuhi oleh raja. Raja juga dipaksa secara halus membagi-bagikan tanah wakaf

14

kepada masjid-masjid tertentu dan menurut Martin van Bruinessen [1994], pada masa itulah orang Sasak dilonggarkan untuk pergi menunaikan ibadah haji ke Mekkah yang sebelumnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Dan menurut orang-orang Arab di Ampenan kepada van Rijckevorsel, raja menyediakan dana untuk membeli sebuah rumah di Makkah yang menjadi asrama para hujaj dari Lombok.

B. PENEGASAN IDENTITAS KEISLAMAN
Kesempatan menunaikan ibadah haji ini telah dimanfaatkan oleh masyarakat Lombok untuk membangun kembali militansi keberagamaannya sekaligus mempertegas identitas keIslamannya sekembalinya ke kampung halaman. Di samping berhaji, mereka berguru kepada pemimpin-pemimpin agama di Makkah serta berkomunikasi dengan masyarakat Islam dari berbagai belahan dunia, termasuk dari Indonesia [kepulauan Nusantara]. Di Lombok sendiri pada tahun 1891 kembali pecah peperangan yang menentang kekuasaan Kerajaan Mataram. Kali ini dipelopori kalangan masyarakat biasa, namun mempunyai posisi sosial yang signifikan karena pemahaman agamanya. la adalah Tuan Guru Haji Ali Batu. la dikenal sebagai tokoh tarekat yang menyebarkan ajaran tarekat Naqsyabandiyah kepada masyarakat Islam di Pulau Lombok. Yang menarik, para aristokrat Sasak yang sering tidak bisa bersatu di antara sesama mereka ikut menjadi murid-muridnya dan bersama-sama mengangkat senjata dibawah pitnpinan syaikh tarekat tersebut, seperti Raden Sribanom, Raden Mustiaji, Raden Melaya, Jero Ginawang, para aristokrat pringgabaya, Kopang, dan Batu Kliang. Tuan Guru Haji Ali Batu memimpin pemberotakan inisampai 1892. Pertempuranpertempuran yang dipimpinnya berlangsung di Kopang, Mantang dan sekitarnya, karena raja yang berkuasa saat itu, Anak Agung Ngurah Ketut Karang Asem, mengerahkan pasukannya kcluar jauh dari Cakranegara. Kendati pada akhirnya Tuan Guru Haji Ali Batu tewas didalam pettempuran tersebut, tidak urung peperangan ini telah mengobarkan scmangat jihad yang lebih besar lagi untuk menentang kekuasaan yang dianggap lalim. Tentang Pemberontakan ini, menurut van der Kraan [1980] yang mengutip pokok-pokok pembahasan Neeb dan Asheck Bruusse pada tahun 1897, menulis bahwa : Pada tahun 1891 orang Muslim dari suku Sasak di Lombok memberontak terhadap pemerintahan rajaBalidipulau mereka [Anak Agung Ngurah Ketut Karang Asem]. Ini bukanlah pemberontakan yang pertama, tetapi memang Jiang paling dahsyat. Berbeda denganyang sebelumnya, pemberontakan kali ini tidak dapat dipadamkan. Pemberontakan ini telah menyebabkan berakhirnya satu setengah abad kekuasaaan Bali dipulau Lombok dan mengundang campurtangan Belanda.

15

Sepeninggal Tuan Guru Haji Ali Batu, kepemimpinan dipegang oleh murid-muridnya, seperti Haji Abdurrahman [Kopang] dan Haji Huscn [Sumbek], tetapi mereka rupanya kurang mcmiliki kharisma Bebagaimana gurunya. Martin van Bruinessen tnenguraikan lebih lanjut bahwa, tidak seorang pun dari mereka ini mempu mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh wafatnya Haji Muhammad Ali. Namun, ada seorang guru lain yang memang berhasil mengambil alih kedudukannya yaitu Guru Bangkol. Tampuk pimpinan kemudian diambil alih oleh Guru Bangkol Praya, sebab itulah lanjutan pemberotakan itu disebut Congah Praya. Martin van Bruinessen menulis bahwa : Guru Bangkol, cukup berwibawa,, karena sikapnya yang tidak kenal kompromi dalampemberontakan danjuga karena hidupnya yang saleh sepenuhnya dibaktikan untuk amalan-amalan kesufian. Dialah yang menjadi pemimpin utama orang Sasak setelah wafatnya Haji Ali....... Peranan tarekat dalampemberontakan Sasak ini sangat menonjol. Kepatuhan kepada seorang syaikh tarekat menyebabkan para bangsawan dapat mengatasipersaingan yang biasa terjadi di antara mereka; tarekat menyediakanjaringan organisasi yang memungkinkan adanya koordinasi dalam pemberontakan....Julukannya sebagai Guru Bangkol menunjukkan bahwa ia memang bangkol [mandul\, tidak mempunyai anak, sesuatu keadaan yang menyakitkan dan memalukan bagj. seorang Sasak. Namun ia disapa akrab dengan nama Mamiq Isma'il, karena beliau mempunyat seorang anak angkat yang bernama Ismail. Rangkaian pemberontakan yang dknotori oleh kaum tarekat ini telah mendorong Belanda masuk melakukan intervensi dan akhirnya menaklukkan Kerajaan Mataram Karang Asem pada tahun 1895. Satu hal yang agak jelas dari perkembangan Islam di wilayah ini adalah bahwa Islam telah lahir sebagai kekuatan baru yang cukup diperhitungkan, bahkan oleh Belanda sekalipun. Dan corak Islam pada periode ini sangat didominasi oleh tarekat [sufisme]. Perlawanan dimotori oleh penganut tarekat Naqsyabandiyah menyadarkan Belanda sebagai penguasa baru di Pulau Lombok bahwa terdapat kekuatan pribumi yang setiap saat akan melakukan pembrontakan terhadap kekuasaan baru ini. Kesadaran ini menyebabkan Belanda melakukan gerakan perburuan terhadap tokoh-tokoh tarekat. Kebijakan refresifyang diterapkan Belanda ini menyebabkan tokoh-tokoh tarekat turun ke jalan melakukan pemberontakan, dipimpin oleh Raden Wirasasih dan Mamiq Mustiadji. Pemberontakan ini berawal dari desa Gandor, Labuhan Haji pada tahun 1897, sehingga terkenal dengan sebutan Pemberontakan Gandor. Pemberontakan ini oleh orang Belanda disebut sebagai sebuah perlawanan yang dilakukan oleh

16

orang Lombok yang merupakan refleksi dari suatu "seruan untuk melakukan perang suci dengan tema-tema keagamaan untuk melawan orang orang kafir dan syetan. Betapapun pada akhitnya pemberontakan ini dapat dipadamkan Belanda, namungerakan tarekat justeruberkembangpesat dengan adanya halaqah-halaqah pengajian di beberapa tempat, seperti halaqah majelis Zikir Tuan Guru Haji Muhammad Amin di Pejeruk, Tuan Guru Haji Muhammad Sidik di Karang Kelok, Tuan Guru Haji Muhammad Arsyad di Gatap, Tuan Guru Haji Munawar di Gebang, Tuan Guru Muhammad Munir di Karang Bedil, dan sebagainya. Perkembangan tarekat yang begitu pesat di Pulau Lombok menunjukkan bahwa fenomena ini sebagai bentuk prlawanan kultural masyarakat terhadap penjajah Belanda yang notabene adalah non-Muslim dan sebagai penjajah yang mengeskploitasi sumber-sumber kekayaan alam Pulau Lombok. Di samping fenomena tarekat, tingkat keberagaman masyarakat juga cukup tinggi. Ini bisa dilihat dari jumlah anggota masyarakat yang menunaikan ibadah haji dan belajar ke tanah suci Makksth. Pada tahun 1905-1914 tercatat jumlah jamaah haji Indonesia sebanyak 15.390 orang jamaah yang berasal dari Sunda Kecil [Baca: Nusa Tenggara: Pulau Lombok) tercatat sebanyak 438 orang [23°/o]. Selanjutnya, gelombang kepulangan para jamaah haji dan para pelajar yang menuntut ilmu di Makkah membawa dampak yang cukup signifikan bagi transformasi dakwah Islamiyah di Pulau Lombok. Pada titik ini, terjadi perubahan orientasi dan corak keberagaman di Pulau Lombok, yakni dari corak sufisme an sich menjadi corak Islam yang berwajah Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah. Tokoh-tokoh ulama yang beraliran sunni,antaralain: Tuan Guru HajiMustafa Sekarbela dan Tuan Guru Haji Abdul Hamid Pagutan di Lombok Barat, serta Tuan Guru Haji Umar Kelayu di Lombok Timur. Pada generasi berikutnya, muncul nama-nama seperti: Tuan Guru HajiBadaml Islam Pancot, Tuan Guru Lopan, Tuan Guru Haji Saleh Hambali Bengkel, dan Tuan Guru Haji Abdul Karim Kediri. Penyebaran dakwah para tuan guru ini dilakukan dengan mendirikan pondok-pondok

pesantren dan pengajian-pengajian di masjid, suara dan langgar. Tercatat pada tahun 1872, Tuan Guru Haji Abdul Hamid dimendirikan Pondok Pesantren Nurul Qur'an di Pagutan. pondok ini diklaim sebagai pondok pesantren tertua di Pulau Lombok. selanjutnya pada tahun 1924, Tuan Guru Haji Abdul Karim mendirikan pondok prsantren di Kediri, Lombok Barat. Di samping dua pondok pesantren tersebut, terdapat juga pondok pesantren yang didirikan oleh Tuan Guru Haji Umar di Kelayu, Lombok Timur. Corak pondok pesantren ini masih sangat tradisional. Para santri mengaji secara kolektif di depan gurunya secara sorogan, dan nyaris tanpa program pengajaran yang teratur dan terencana. Mata pelajaran yang diajarkan pun beragam, mulai dari akidah, ficjh, dan akhlaq. Sebagian

menggunakan kitab-kitab berbahasa Arab, dan sebagian lagi menggunakan kitab-kitab Melayu,

17

yang bertuliskan huruf Arab namun dibaca menurut bahasa Melayu. Yang disebut terakhir ini justeru masih populer dikalangan masyarakat biasa yang tidak tergolong pemimpin agama. Kitabkitab seperti Masai/, Perukunan, Bidayah, hingga Sabilal Muhtadin cukup akrab bagi mereka. Pada generasi berikutnya, lahirnya seorang pemuda yang kelak menjadi tokoh ulama kharismatik di Pulau Lombok. la adalah Muhammad Sagaf yang kemudian lebih dikenal sebagai Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. la pernah belajar dan nyantri dipondok pesantren Tuan Guru Haji Umar Kelayu dan tuan guru-tuan guru lainnya di Pulau Lombok, sebelum melanjutkan studinya ke madrasah Al-Shaulatiyah di Makkah. Akhirnya, setelah menyelesaikan studinya di Makkah, TuanGuru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid kembali ke pulau Lombok untuk mengembangkan dakwah Islamiyah dan membentuk sistem pendidikan baru. Pada tahun 1934, ia mendirikan Pondok pesantren AlMujahidin. Pondok pesantren ini sebagai cikal bakal berdirinya Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah [NWDI] yang merupakan pelopor pondok pesantren modern dengan sistem klasik materi yang lebih sistematis dan terukur, hingga pondok pesantren sistem dapat diklaim sebagai pembawa semangat pencerahan dalam sistem pendidikan Islam di Pulau Lombok.

C. WETU TELU : SUATU BENTUK KEBERAGAMAAN MASYARAKAT LOMBOK
Penelitian sosiologis ilmuwan Barat abad ke-20, seperti Van Eerde dan Professor Bousquet, menunjukkan bahwa di kalangan masyarakat Sasak terdapat tiga kelompok keagamaan; Sasak Boda, Waktu Lima dan Wetu Telu. Sasak Boda disebut-sebut sebagai agama asli masyarakat Lombok. Kendati dari penyebutannya mirip dengan kata Budha, mereka, bukanlah penganut Budhisme, karena mereka tidak mengakuiSidharta Gautma sebagai figur utatna pemujaannya maupun terhadap ajaran pencerahannya. Menurut Erni Budiwanti, agama Boda ditandai oleh animisme dan panteisme. Pemujaan dan penyembahan roh-roh leluhur dari berbagai dewa lokal lainnya merupakan fokus utama dari praktek keagamaan Sasak Boda. Penganut Boda merupakan komunitas kecil dan masih ditemukan pada awal abad ke-20, tinggal di bagian utara Gunung Rinj ani [Kecamatan Bayan dan Tanjung] dan di beberapa desa di sebelah selatan Gunung Rinjani. Diduga, dulunya mereka berasal dari bagian tengah Pulau Lombok dan mengungsi ke wilayah pegunungan untuk menghindari proses islamisasi. Adapun mereka yang mengalami proses Islamisasi dengan sempurna digolongkan

sebagai penganut Islam Waktu Lma, sebagaimana Islam yang umumnya dikenal luas. Mereka diidentikkan dengan orang-Orang Islam yang secara taat dan sempurna melaksanakan ajaran agamanya, seperti shalat, zakat, puasa, haji dan sebagainya.Jumlahnya merupakan mayoritas umat beragama dan tersebar hampir di seluruh bagian Pulau Lombok. Berbeda dengan Waktu Lima, penganut Wetu Telu diidentikkan dengan mereka yang dalam praktek kehidupan sehari-hari sangat kuat berpegang kepada adat-istiadat nenek moyang mereka. Dalam ajaran Wetu Telu, terdapat banyak nuania Islam di dalamnya. Namun demikian,

18

artikulasi lebih dimaknakan dalam idiom adat. Di sini warna agama tercampur dengan adat, padahal adat senditi tidak selalu sejalan dengan agama. Pencampuran praktek-praktek agama ke dalam adat ini menyebabkan watak Wetu Telu menjadi sangat sinkretik. Beberapa kalangan melihat fenomena Wetu Telu dalam makna yang sama degan penganut Islam Abangan di kalangan masyarakat Jawa. Akan tetapi,dilihat dari konsepsi serta cara pandang masing-masing, adalah tepat untuk mempersamakan antata keduanya. Menurut Zhamaksyari Dhofier, Islam Abangan hanya merupakan sebutan bagi orang Islam yang tidak taat melaksanakan ajaran Islam. Dan secara lebih rinci Abdul Jabbar Adlan—sebagaimana dikutip Syamsuddin mcngidentifikasi Islam Abangan sebagai kelompok yang : 1. Tidak melakukan atau jarang melakukan syariat Islam dengan alasan belum sempat, meskipun mereka mengakui itu semuaadalah kewajiban agama. 2. Masih melakukan yang dilarang agama walaupun mereka mengakui bahwa hal-hal tersebut dilarang agama. 3. Mempunyai keinginan melaksanakan syariat dan meninggalkan larangan syara' bila sudah tua. Berbeda dengan Wetu Telu, bagi mereka Wetu Telu adalah bentuk akhir dari keberagamaan, yang tidak akan beranjak menuju Waktu Lima Apabila ada di antara penganut Wetu Telu yang akhirnya memutuskan untuk menganut Waktu Lima, perubahan keyakinan ini merupakan konversi [perpindahan] agama, bukan sebuah pencapaian menuju derajat

keberagamaan yang lebih tinggi. Dengan berpegang pada alasan ini, jelas tcrdapat perbedaan yang signifikan di antara keduanya. Bagi orang luar [outsiders], khususnya kalangan penganut Waktu Lima, bcrpandangan bahwa istilah Wetu Telu merupakan pencerminan dari praktek-praktek keagamaan mereka selama ini. Secara harfiah penganut Waktu Lima mengartikan Wetu Telu dengan waktu tiga, dengan asumsi Wetu berarti waktu dan Telu berarti tiga. Mereka menafsirkan sebutan itu karena penganut Wetu Telu mengurangi dan meringkas hampir semua peribadatan Islam menjadi hanya tiga kali saja. Orang Waktu Lima menganggap bahwa penganut Wetu Telu hanya melaksanakan tiga rukun Islam saja, yaitu mengucapkan syahadat, mcnjalankan shalat harian, dan berpuasa. Mereka meninggalkan rukun keempat dan kelima, membayar zakat dan pergi haji. Lebih jauh dalam pandangan Waktu Lima, penganut Waktu Telu cuma melaksanakan shalat tiga kali dnlam sehari,yaitu subuh, maghrib dan Isya. Shalat dzuhur dan ashar tidak mereka lakukan. Waktu Lima mengatakan Wetu Telu tidak menjalankan puasa sebulan penuh melainkan tiga kali saja; pada permulaan, pertengahan dan penghujung bulan Ramadlan. Berdasarkan penafskan-penafsiran ini, penganut Waktu Lima kemudian beranggapan bahwa keberagamaan [baca: Keislaman] penganut Wetu Telu berjumlah sempurna sesuai dengan tuntutan Islam yang universal Di samping itu, ketidaksempumaan ini juga terlihat dan pencampuran tradisi keberagatnaan dengan tradisi adat yang masih melakukan pemujaan terhadap leluhur yang

19

sarat dengan animisme dan antropomorfisme. Hal ini antara lain dapat dilihat pada cata penganut Wetu Telu memperlakukan makam keramat leluhur yang dibangun di sekeliling masjid kuno Wetu Telu. Di situ orang-orang Waktu Lima melihat tata cara beribadah yang menyerupai peribadatan orang Hindu Bali. Mereka menunjukkan atribut kultural lain yang memperkuat persamaan penganut Wetu Telu dengan orang Hindu Bali yakni cara berpakaian dalam menjalankan ritual,

penyembelihan binatang, acara makan bersama sajian ritual, dan perkawinan dengan cara kawin lari. Sven Cederroth menggambarkan pjrosesi upacara Maulid yang diselenggarakan didesa Suren, sebuah desa tradisional di Lombok Utara yang menganut Wetu Telu, sebagai berikut: sebuah kerumunan orang berkumpul, menunggu apa yang akan terjadi. Orangorang berpakaian yang berbeda [dengan pakaian orang-orang di Karang Tubuhpen], mengenakan pakaian kasar berwarna merah tua, sarung tenun, pundak terbuka tetapi disekitar dadanya diikatkan kain berwarna coklat keabu-abuan, mereka mengenakan kain batik kecil yang dilipat seperti pita di sekitar kepalanya. Tiba-tiba sebuah prosesi muncul menuju aajalanan. Dengan dilindungi sebuah payung, dua pasangan yangberpakaian dengan warna cerah dan dihiasi sedemikian rupa berjalan menuju pusat prosesi diikuti oleh sejumlah pria yang membawa porsi-porsi makanan pada wadah dari anyaman bambu yang ditutupi daun-daun pisang. Segera sesudah prosesi berlalu, semua penonton berhamburan berusaha untuk merebut pasir yang dilewati oleh kaki para peserta prosesi. Setelah melalui perjalanan yang singkat, prosesi itu sampai pada masjid tua, tempat para pemuka agama menunggu. Mereka berpakaian putih, tetapi juga mengenakan pita putih khas di sekitar kepalanya. Masjid itu sendiri dihiasi dengan sejumlah kain, bendera-bendera beraneka warna pada tiang panjang yang berada di tiap-tiap pojok luar, dan dengan kain putih yang mcmbentuk genteng rendah di bagian dalam masjid. Makanan dihidangkan kepada para pemuka agama, mereka makan dengan lahap, akan tetapi karena piring-piringnya diisi kembali terus-menerus, sisanya hampir sama banyaknya ketika mereka selesai dengan ketika mereka mulai. Sisa tersebut dicampurkan dengan air suci yang ditempatkan pada sebuah kendi tanah berukuran besar, dan sebagian kecil dari campuran ini kemudian dibagikan kepada semua peserta. Berbeda dengan persepsi kalangan penganut Waktu Lima di atas penganut Wetu Telu sendiri mempunyai persepsi yang sangat berbeda bahkan menunjukkan sesuatu yang sama sekali berbeda dengan persepsi kalangan penganut Waktu Lima. Penelitian Erni Budiwanti terhadap Wetu Telu di Bayan, salah satu daerah konsentrasi penganut Wetu Telu, mencatat setidak-tidaknya empat konsepsi mengenai Wetu Telu. Walau berbeda beda, keempatnya

20

merupakan satu kesatuan pengertian, karena masing masing tokoh yang diwawancarai mengakui konsepsi yang dikemukakan oleh tokoh Wetu Telu lainnya. Pertama, pandangan yang menyatakan bahwa . Wetu Telu berarti tiga sistem reproduksi, dengan asumsi kata Wetu

berasal dari kata Metu, yang berarti muncul atau datang dari, sedangkan Telu berarti tiga. Secara simbolis hal ini mengungkapkan bahwa semua makhluk hidup muncul [metu] melalui tiga macam sistem rcprodukai : 1] melahirkan [menganak], seperti manusia__dan mamalia; 2] bertelur

[menteluk], seperti burung; dan 3] berkembang biak dari benih atau buah [mentiuk], seperti bijibijian, sayuran, buah-buahan, pepohonan dan tetumbuhan lainnya. Tetapi fokus kepercayaan Wetu Teh tidak terbatas hanya pada sistem reproduksi, melainkan juga menunjuk pada Kemahakuasaan Tuhan yang memungkinkan makhluk untuk hidup dan mengembangbiakkan diri melalui mekanisme reproduksi tersebut. Kedua, persepsi yang mengatakan bahwa Wetu Teh melambangkan ketergantungan makhluk hidup satu sama lain. Menurut konsepsi ini, wilayah kosmologis itu terbagi menjadi jagad kecil dan jagad besat. Jagad besar disebut alam raya atau mayapada yang terdiri atas dunia, matahari, bulan, bintang dan planet lain, sedangkan manusia dan makhluk lainnya merupakan jagad kecil yang selaku makhluk sepenuhnya tergantung pada alam semesta. Ketergantungan jagad kecil kepada jagad besar tercermin dalam kebutuhan mutlak jagad kecil akan sumber daya penting, seperti; tanah, udara, air dan api. Pada saat yang sama jagad besar juga tergantung kepada jagad kecil dalam hal pemeliharaan dan pelestarian. Di luar itu, Kemahakuasaan Tuhan berperan penting dalam menggerakkan ketergantungan antar makhluk. Ketergantungan inilah yang kemudian menyatukan dua dunia tersebut dalam suatu

keseimbangan. ketidakseimbangan dapat terjadi apabila manusia sebagai bagian dari jagad kecil terlalu tamak [melak] dalam mengeksploitasi jagad besar. Ketiga, konsepsi yang menyatakan bahwa Wetu Teh sebagai sebuah sitsem agama termanifestasi dalam kepercayaan bahwa semua makhluk melewati tiga tahap rangkaian siklus; dilahirkan [menganak] hidup [urip] dan mati [mate]. Kegiatan ritual sangat terfokus pada rangkaian siklus ini. Setiap tahap, yang selalu diiringi upacara, merepresentasikan transisi dan transformasi status seseorang menuju status selanjutnya; juga, mencerminkan kewajiban seseorang terhadap dunia roh. Keempat, konsepsi yang menyatakan bahwa pusat kepercaaan Wctu Telu adalah iman kepada Allah, Adam dan Hawa. Konsep inilaln dari suatu pandangan bahwa unsur-unsur penting yang tertanam dalam ajaran Wetu Telu adalah : 1. Rahasia atau Asma yang mewujud dalam panca indera tubuh manusia. 2. Simpanan Ujud Allah yang termanifestasikan dalam Adam dan Hawa Secara simbolis Adam merepresentasikan garis ayah atau laki-laki sementara Hawa merepresentasikan garis ibu atau perempuan Masing-masing menyebarkan empat organ pada tubuh manusia,

21

3. Kodrat Allah adalah kombinasi 5 indera [berasal dari Allah] dan8 organ yang diwarisi dari Adam [garis laki-laki] dan Hawa [garis perempuan]. Masing-masing kodrat Allah bisa ditemukan dalam setiap lubang yang ada di tubuh manusia -dari mata hingga anus. Keberadaan Wetu Telu sebagai vanan Islam di Lombok sudah ada sejak lama. Hanya saja, hampir tidak ada suatu keterangan pasti yang menunjukkan asal-usul varian tersebut. Meskipun terdapat beberapa versi, namun masih sulit untuk menguji keabsahan masing-masing versi tersebut. Setidak-tidaknya terdapat empat versi yang menyatakan tentang asal-usul Wetu Telu. Pertama, versi yang menyatakan bahwa watak Islam yang dibawa oleh penyebar agama dari Jawa memang sudah mengantlung unsur mistik dan sinkretik. Sehingga mereka yang terislamisasi melalui penyebar agama dari Jawa memiliki pola keberagamaan yang sinkretik Kondisi ini bcrlangsung secara turun temurun dan mengkristal menjadi adat istiadat yang mapan. Kristalisasi dan idiomisasi adat selanjutnya menyebabkan para penganut Wetu Telu tidak berkeinginan untuk merubahnya, sekalipun alasan untuk mempertahankannya juga sulit mereka temukan secarara rasional. Kedua, versi yang menyatakan bahwa timbulnya Wetu Telu yang brwatak sinkretik disebabkan oleh pendeknya waktu para penyebar agama dari Jawa melaksanakan dakwah dan tingginya tingkat toleransi mereka terhadap faham animisme dan antropomorfisme masyarakat Sasak. Menurut Goris, sebagaimana dikutip Erni Budiwanti dan Alfons van der Kraan, Pangeran Prapen, seorang tokoh utama dalam penyebaran Islam di Pulau Lombok hanya menetap dalam waktu yang tidak terlalu lama. Setelah meng-Islam-kan masyarakat Sasak, ia bertolak ke Sumbawa dan Bima untuk menyebarkan missi Islam di sana. Sepeninggalnya kemudian masyarakat Sasak kembah menganut paganisme. Dari Bitna ia memang kembali ke Lombok, tetapi juga tidak berlangsung lama dan mempercayakan peningkatan kualitas keberagamaan kepada dua pembantunya, yakni Raden Sumulia dan Raden Salut. Pangeran Prapen kemmbali meninggalkan Lombok menuju Bali. Karena missinya di Bali menemui kegagalan akibat kerasnya penolakan, ia kemudian kembali ke Jawa dan tidak lagi ke Lombok. Ketiga, versi yang menyatakan bahwa Wetu Telu lahir sebagai konsekuensi dari strategi dakwah yang diterapkan oleh para penyebat agama Islam, setelah melihat sulitnya medan dakwah Islamiyah dengan adanya penolakan-penolakan dari dan tingginya fanatisme masyarakat Sasak yang masih menganut Hinduisme dan Budhisme. Penyebar-penyebar agama Islam ini bertindak hati-hati dan lemah lembut. Tiap-tiap sesuatu tidak diadakan secara revolusioner, tetapi secara teratur dan perlahanlahan, sedikit demi sedikit. Agar syareat agama Islam cepat berkembang maka dijalankan sistem berantai tiga. Kyai dari Jawa mendidik tiga orang kiai dan bila

22

sudah pandai kyai ini diharuskan pula mempunyai tiga orang santri [murid]. Bila santri itu cakap maka dilantiklah menjadi kyai. Hal ini mengakibatkan bahwa yang menjalankan ibadah sholat dan puasa hanya kyai penghulu saja. Sehingga di masyarakat timbul dua buah gambaran yakni: gambaran kyai dan gambaran pengikut yang masih awam. Golongan awam ini seolah-olah hanya melaksanakan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan oleh kyai dan rajanya saja. Mereka sama sekali tidak tahu apa latar belakang atau dasarnya mengerjakan perintah seperti merayakan hari-hari tertentu dan kewajiban membaca syahadat ketika dinikahkan, Karena hal ini berjalan dari tahun ke tahun sampai beberapa generasi, timbullah anggapan pada tiap-tiap pihak bahwa keadaan yang demikian itu memang sebenarnya dikehendaki agama, Anggapan ini menyebabkan yang menjalankan ibadah hanya kyai/ penghulu saja sedangkan rakyat memikulkan kewajibannya kepada kyai/penghulu mereka saja. Kyai/penghulu merekalah yang menanggung segala dosa mereka. Dan sebagai imbangannya, rakyat wajib berfitrah dan bersedekah pada hari-hari tertentu pada kyai/penghulunya. Keempat, versi yang menyatakan bahwa asal usul Wetu Telu adalah dua putra Pangeran Sangupati, salah seorang penyebar agama Islam di Lombok Dalam sebuah babad yang tertulis di atas daun lontar disebutkan bahwa tokoh ini mempunyai dua orang putra, Nurcahya dan Nursada. Nurcahya digambarkan sebagai pendiri Waktu Lima dan Nursada sebagai pendiri Wetu Telu. Yang pertatna digambarkan sebagai Muslim yang ortodox dan puritan, sementara yang terakhir sebagai Muslim yang tradisional dan sinkretik. Dalam babad tersebut, antara lain disebutkan bahwa pengikat pengikut Waktu Lima diserang oleh berbagai jenis penyakit dan ditimpa kecelakaan, sementara penganut Wetu Telu hidup makmur dan memiliki panen yang berlimpah. Dalam keadaan sedemikian tertekan, sang kakak datang kepada sang adik untuk meminta pertolongan. Akhirnya mereka berdua sampai kepada kesimpulan Waktu Lima tidak cocok bagi orang Sasak dan merupakan penyebab kesialan. Mereka kemudian memutuskan untuk merantai Waktu Lima dalam kurungan besi dan membuang ke laut. Setelah hal ini dilakukan, keberuntungan berubah dan keseluruhan tanah Selaparang diberkahi kekayaan oleh Allah. Masyarakat berbahagia dan babad itu diakhiri dengan sebuah peringatan : Masyarakat Sasak harus selaiu mengihgat bahwa Wetu Telu, bukan Waktu Lima, adalah pilihan yang tepat di Lombok, Sepanjang masyarakat Sasak memegangnya, mereka akanmendapat kemakmuran, akan tetapi apabila mereka mengingkarinya, sesuatu yang paling mengerikan mungkin akan terjadi. Dengan semakin berkembangnya Islam di Pulau Lombok, yang antara lain ditandai dengan berdirinya pondok-pondok pesantren, gerakan dakwah terhadap Wetu Telu oleh tokoh-tokoh pesantren atau yang lazim dikenal dalam tradisi Islam Lombok sebagai Tuan Guru semakin

23

gencar dilakukan. Para tuan guru menempuh berbagai cara untuk melakukan kegiatan dakwah. Beberapa tuan guru yang dapat disebut secara aktif melakukan dakwah kepada penganut Wetu Telu, antara lain: 1. Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, pendiri organisasi NahdlatulWathan, yang berpusat diPancor, Lombok Timur. 2. Tuan Guru Haji Mutawalli pendiri Pondok Pesantren Darul Yatama wal Masakin, yang

berpusat di Jerowaru, Lombok Timur. 3. Tuan Guru Haji Shafwan Hakim, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hakim, yang berpusat di Kediri, Lombok Barat. 4. Tuan Guru Haji Hazmi Hazmar, pengasuh Pondok Pesantren Marakit Taklimat, yang berpusat di Mamben, Lombok Timur Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainudin Abdul Madjid melaksanakan dakwah kepada penganut Wetu Telu, dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Mengirim murid-muridnya untuk melakukan dakwah. 2. Menarik perhatian orang-orang Wetu Telu agar bersedia menyekolahkan putra-putrinya di pondok pesantrennya. 3. Berusaha membangun madrasah, setelah dinilai memiliki cukup kader, dan 4. Secara langsung turun untuk memberikan pengajian-pengajian umum kepada masyarakat. Pola kegiatan yang sama ditempuh oleh Tuan Guru Haji Hazmi Hazmar. Sedangkan Tuan Guru Haji Mutawalli, dalam melakukan dakwahnya kepada penganut Wetu Telu menempuh langkah-langkah, sebagai berikut : 1. Menampakkan kekuatan-kekuatan magis yang dimiliki untuk menarik perhatian penganut Wetu Telu untuk menerima ajakan dakwahnya 2. Mendidik para kyai dan penghulu Wetu Telu dengan ajaran-ajaran Islam yang sempurna, karena dinilai merekalah yang berpengaruh di kalangan penganut Wetu Telu. 3. Melakukan pembauran dengan kalangan Wetu Telu, dengan cara menggagas transmigrasi lokal para penganut Islam Waktu Lima ke basis-basis daerah Wetu Telu. Berbeda dengan kedua tuan guru di atas, Tuan Guru Haji Safwan Hakim justeru melakukan dakwahnya dengan mengirim santri-santri pondok pesantrennya ke wilayah-wilayah basis Wetu Telu untuk berdakwah dengan sekaligus melakukan peningkatan kualitas ekonomi penganut Wetu Telu. Para murid [santri-santri] yang dikirim sebelum dibekali dengan ilmu-ilmu pertanian agar mereka dapat membaur dengan penganut Wetu Telu. Selanjutnya secara perlahan membuat embrio bagi lahirnya pusat-pusat dakwah, seperti masjid dan sekolah. Demikianlah Wetu Telu akhirnya semakin menunjukkan posisi yang kurang berimbang. Walaupun bukan merupakan bentuk dakwah kepada Wetu Telu, proses desakralisasi yang dilakukan oleh pemerintah daerah terhadap tradisi WetuTelu, seperti menggalakkan pariwisata

24

dan menjadikan tradisi Wetu Telu sebagai ajang wisata memiliki arti yang signifikan. Lebaran topat misalnya, kendati memiliki nama yang sama, namun karena muatannya berbeda, tidak urung berakibat pada desakralisasi tradisi. Dewasa ini, penganut Wetu Telu sudah sangat berkurang. Hanya wilayah-wilayah tertentu dengan jumlah yang tidak terlalu signifikan yang masih menganut Wetu Telu.

25

PERTEMUAN V & VI Setelah Mempelajari Modul Ini Anda di Harapkan Mampu: 1. Menjelaskan Kondisi Sosial Kemasyarakatan Sebelum Hingga Menjelang Kelahiran Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid. 2. Menjelaskan Biografi Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid. 3. Menjelaskan Perjuangan dan Pengabdian Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid. 4. Menjelaskan Pengaruh Perjuangan dan Pemikiran Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid Terhadap Perkembangan Islam di Pulau Lombok dan Nusantara. BEOGRAFI TUAN GURU KYAI HAJI MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MADJID 1. Tempat Kelahiran Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang nama kecilnya Muhammad Saggaf dilahirkan pada hari Rabu, 17 Rabi'ul Awal 1316 [1904] di Kampung Bermi, Desa Pancor, Kecamatan Rarang Timur [sekarang Kecamatan Selong] LombokTimur Nusa Tenggara Barat. Kecamatan Selong terletak di bagian Timur Kabupaten Lombok Timur. Daerah ini memiliki ketinggian yang beragam antara 0-150 meter di atas permukaan laut. Kondisi Lombok Timur, sebelum perang Asia Timur Raya, benar-benar berada dalam kondisi keterbelakangan dalam segala aspek kehidupan. Kondisi ini diperparah dengan penerapan politik yang dikenal dengan politik Devide at impera oleh Belanda. Pemerintah Belanda menempatkan seorang Controleur, seorang Adspirant Controleur, seorang komisaris, seorang Klerk dan beberapa juru tulis untuk mengatur pemerintahan di Lombok Timur. Di bidang keamanan ditempatkan seorang Horf Agent Van Polisi yang dibanru oleh beberapa orang agen polisi. Secara administratif, saat ini Lombok Timur disebut Onder Afdeeling Van Dost Lombok dengan kedudukan Controleur di Selong Di bawah Controleur terdapat lima distrik yang dipimpin oleh seorang Kepala Distrik. Kelima distrik tersebut terdiri dari: 1] Distrik Rarang Timur di Selong dijabat oleh Lalu Mesir; 2] Distrik Masbagik dijabat oleh Haji Moestofa; 3] Distrik Sakra dijabat oleh Mamiq Mustiarep; 4] Distrik Rarang Barat dijabat oleh Haji Kamaloedin; dan 5] Distrik Pringgabaya dijabat oleh Lalu Noersaid. Pada wilayah Distrik yang agak luas seperti Distrik Masbagik dan Distrik Pringgabaya, diangkat seorang Assisten Distrik, yaitu Mamiq Rifa'ah sebagai Asisten Distrik untuk Masbagik Timur dan Mamiq Muhammad untuk Pringgabaya. Di bawah wilayah distrik terdapat pemerintahan Desa yang dipimpin oleh seorang Kepala Desa. Selanjutnya setiap Kepala Desa dibantu oleh beberapa orang keliang, juru arah, penghulu desa, dan beberapa orang pekasih [petugas irigasi].

26

Dalam menetapkan Kepala Distrik dan Kepala Desa,, Belanda menerapkan sistem pemerintahan feodal, yang mengutamakan figur orang-orang terkemuka dari golongan bangsawan [ningratj. Kebijakan ini diterapkan untuk menjamin kepatuhan terhadap kebijaksanaan Controleur. Pendidikan bagi rakyat di Lombok Timur pada saat itu hanya terdapat dua jenis sekolah yang sangat terbatas. Di tingkat desa terdapat sekolah desa [Volkschool] sampai kelas III, sementara di tingkat kedistrikan terdapat Vervolkschool yang merupakan lanjutan sekolah desa sampai kelas V. Vervolkschoal ini hanya terdapat di Selong, Masbagik, Sakra dan Pringgabaya. Disamping dua bentuk sekolah diatas, terdapat juga sekolah dasar berbahasa Belanda yang dikelola oleh swasta, yakni oleh yayasan "Anjah Sasak" di bawah asuhan Dokter Soejono. Namun sekolah ini hanya diperuntukkan bagi golongan yang mampu. 2. Muhammad Saggaf Alias Muhammad Zainuddin Adalah Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, yang namanya disingkat HAMZANWADI [Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah], yang akrab dipanggil Maulana al-Syaikh atau juga akrab dengan panggilan "Tuan Guru Pancor", oleh para murid dan jamaahnya secara umum, semasa kecilnya diberi nama Muhammad Saggaf oleh ayahnya sendiri, yaitu Tuan Guru Haji Abdul Madjid. Penamaan Muhammad Saggaf memiliki cerita yang cukup unik. Tiga hari menjelang kelahirannya, ayahnya didatangi oleh dua orang wali yang berasal dari Hadkamaut dan Maghrabi. Kedua wali tersebut secara kebetulan mempunyai nama yang sama, yakni Saqqaf. Keduanya berpesan kepada Tuan Guru Haji Abdul Madjid, jika mempunyai anak, agar diberi nama Saqqaf, seperti nama mereka berdua. Kata Saqqaf [ ] diambil dari akar kata [ ], yang berarti membuat atap atau

mengatapi. Sedangkan kata saqqf [

] sendiri berarti tukang memperbaiki atap. Kata ini

kemudian diindonesiakan menjadi Saggaf dan. untuk dialek bahasa sasak [bahasa Lombok] menjadi Segep dan pada masa kecilnya ia sering dipanggil dengan Gep. Disamping itu, terdapat keunikan lain seputar kelahirannya, yaitu adanya cerita gembira yang di bawa oleh seorang wali, bernama Syaikh Ahmad Rifa'i yang juga berasal dari Maghrabi. Ia menemui Tuan Guru Haji Abdul Madjid menjelang kelahiran putranya. Syaikh Ahmad Rifa'i berkata kepada Tuan Guru Haji Abdul Madjid "Akan segera lahir dari istrimu seorang anak laki-laki yang akan menjadi ulama besar". Selanjutnya dengan kelahiran Muhammad Saggaf, paling tidak, membuat kedua orang tuanya diliputi suasana bahagia, karena harapan tentang kebesaran puteranya ini telah mendapatkan isyarat-isyarat dan prediksi dari para wali.

27

Muhammad Saggaf adalah anak bungsu dari enam bersaudara, yaitu; Siti Sarbini, Siti Cilah, Hajah Saudah, Haji Muhammad Shabur dan Hajah Masyithah. Keenam putera-puterinya ini merupakan hasil perkawinan Tuan Guru Haji Abdul Madjid dengan seorang perempuan yang shalihah, berasal dari desa Kelayu Lombok Timur, bernama Inaq Syam dan lebih dikenal dengan Hajah Halimatussa'diyah. Nama Muhammad Saggaf masih disandangnya sampai ia berangkat ke Tanah Suci Makkah untuk melaksanakan ibadah haji bersama ayahnya. Setelah menunaikan ibadah haji, nama Muhammad Saggaf diganti menjadi Haji Muhammad Zainuddin oleh ayahnya sendiri. Ikhwal penggantian nama ini, dilatarbelakangi oleh ketertarikan ayahnya kepada nama seorang ulama yang memiliki kepribadian dan akhlak mulia, yaitu Syaikh Muhammad Zainuddin Serawak, seorang ulama di Masjid al-Haram. Sejak saat itu namanya kemudian berubah menjadi Haji Muhammad Zainuddin, 3. Silsilah Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Silsilah Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tidak bisa diungkapkan secara jelas dan runtut, terutama silsilahnya ke atas, karena catatan dan dokumen silsilahnya ikut terbakar ketika rumahnya mengalami musibah kebakaran. Namun menurut sejumlah kalangan bahwa asal usulnya dari keturunan orang-orang yang terpandang, yakni dari keturunan raja-raja Selaparang, sebuah kerajaan Islam yang pernah berkuasa di pulau Lombok. Disebutkan ia adalah keturunan Kerajaan Selaparang yang ke-17. Pendapat ini agaknya paralel dengan analisa yang diajukan Sven Cederroth, seorang antropolog dari Swedia, yang merujuk pada kegiatan ziarah yang dilakukan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid ke makam Selaparang pada tahun 1971, sebelum berlangsungnya kegiatan pemilihan umum [Pemilu]. Praktek ziarah ini memang biasa dilakukan oleh komunitas masyarakat Sasak, baik Waktu Telu, maupun Waktu Lima, untuk mengidentifikasi diri dengaa leluhurnya. Disamping itu, Tuan Gutu Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid secara terbuka tidak pernah menyatakan penolakan terhadap anggapan dan pernyataan-pemyataan yang selama ini beredai tentang silsilah ketumnannya [yakni, kaitan genetiknya dengan raja-raja Kerajaan Selaparang]. A. SKETSA KELUARGA TUAN GURU KYAI HAJI MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MADJID 1. Pernikahan dan Keluarga Besarya Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid selama hayatnya telah menikah sebanyak tujuh kali. Dari ketujuh perempuan yang pernah dinikahinya itu, ada yang mendampinginya sampai wafat, ada yang wafat terlebih dahulu semasih ia hidup dan ada juga yang diceraikannya setelah beberapa bulan menikah. Di samping itu, ketujuh perempuan yang telah dinikahinya itu, berasal dari berbagai pelosok daerah di Lombok, dan dari berbagai latar

28

belakang. Ada yang berasal dari keluarga biasa dan ada pula yang berlatar belakang bangsawan, seperti istrinya yang bernama Hajah Baiq Siti Zuhriyah Mukhtar, berasal dari Desa Tanjung, Kecamatan Selong. Adapun nama-nama perempuan yang pernah dinikahi oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, adalah: 1] Chasanah; 2] Hajah Siti Fatmah; 3] Hajah Raihan; 4]Hajah Sitijauhariyah; 5] Hajah Siti RahmatuHah; 6] Hajah Baiq Siti Zuhriyah Mukhtar; dan, 7] Hajah Adniyah. Selanjutnya dari ketujuh orang perempuan yang dinikahinya, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, hanya mendapatkan dua orang puteri, yakni Siti Rauhun dari perkawinannya dengan Hajah Siti Jauhariyah dan Siti Raihanun dari perkawinannya dengan Hajah Siti Rahmatullah. Hajah Siti Jauhariyah adalah seorang perempuan yang terkenal cantik, hingga pada masa gadisnya, orang sering menyebutnya sebagai "Kembang dari Kampung Jawa". Disebut demikian karena ia adalah puteri dari perkawinan antara seorang wanita Selong yang bernama Masnah dan pria berasal dari Jawa yang bernama Abdurrahim. Abdurrahim adalah seorang muballigh yang mengembangkan ajaran Islam di Kampung Jawa. Tugas sehari-harinya adalah sebagai seorang pejabat pemerintah pada waktu itu. Hajah Siti Jauhariyah dipersunting oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pada usia yang sangat muda, yaitu ketika berusia 12 tahun. Setelah menikah pasangan ini tidak langsung tinggal serumah. Mereka baru tinggal serumah setelah Hajah Siti Jauhariyah berusia 19 tahun. Pada tahun 1947, ketika Siti Jauhariyah telah berusia sekitar 20 tahun, ia dinyatakan positif hamil. Kehamilan ini disambut dengan senang dan gembira, karena setelah lama menikah Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin belum juga diberikan ketuxunan oleh Allah SWT. Ia bahknn pernah dikatakan mandul dan tidak akan mendapatkan keturunan. Mendengar informasi kehamilan Siti Jauhariyah, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin segera datang ke rumahnya untuk menantikan saat-saat kelahiran anak pertamanya. Pucuk dicinta ulam tiba. Jabang bayii yang ditunggu-tunggu lahir dengan selamat dan berjenis kelamin perempuan. Ia kemudian diberi nama Siti Rauhun. Nama tersebut diambil dari bahasa Arab yang artinya "kegembiraan/ kenikmatan". Sedangkan puteri keduanya diberi nama Siti Raihanun, yang akrab dipanggil Ummi Raihanun. Sebagaimana disebutkan di atas, puteri kedua ini adalah buah dari perkawinannya dengan Hajah Siti Rahmatullah. Siti Rahmatullah adalah putri dari Guru Hasan, seorang imam dan khatib di Masjid distrik Rarang. Perkenalan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin dengan Siti Rahmatullah terjadi ketika pada suatu hari ayahnya datang bersilaturrahmi ke rumah Guru

29

Hasan di Rarang. Saat itulah ia mengutarakan keinginannya untuk menikahkan puteranya dengan puteri Guru Hasan. Karena waktu itu Siti Rahmatullah masih sangat kecil dan belum. mempunyai keinginan sama sekali untuk menikah, Tuan Guru Haji Abdul Madjid hanya berjanji akan menikahkan puteranya dengan Siti Rahmatullah. Semenjak itu hubungan di antara kedua keluarga ini terbangun dengan sangat erat. Setiap tahun Tuan Guru Haji Abdul Madjid bersilaturrahmi ke Rarang, demikian pula sebaliknya. Setelah mencapai usia yang cukup, barulah keduanya dinikahkan. Dan dari pernikahan ini kemudian lahir seorang puteri yang diberi nama Siti. Raihanun. Adapun dari istrinya yang lain, ia tidak mendapatkan keturunan, baik putra ataupun putri. Dan karena hanya mempunyai dua orang puteri yang bernama Siti Rauhun dan Raihanun, ia juga populer dengan sebutan "Abu Rauhun wa Raihanun". Belakangan, ia mengakui bahwa nama kedua puterinya diambil dari al-Qur'an Surat alWaqi'ah ayat 89 yang berbuyi
il

Fa rauhun wa raihanun wajannatu na'im", [maka dia

memperoleh ketenteraman dan rezeki serta sorga kenikmatan]. Dari kedua orang putrinya, ia mendapatkan banyak cucu dan keturunan. Dari Siti Rahun ia memperoleh enam orang cucu, yaitu : 1] Siti Rahmi Jalilah;2] Syamsul Lufti; 3] M. ZainulMajdi;4] Jamaluddin; 5| Siti Suraya; dan, 6] Siti Hidayati.Sedangkan cucunya yang lahir dari Siti Raihanun, sebanyak tujuh orang putra dan putri, yaitu : 1] Lalu Gede Wiresakti Amir Marni; 2] Lale Laksemining Puji Jagat 3] Lalu Gede Syamsul Mujahidin; 4] Lale al Yaqutunnafis 5] Lale Syifa'un Nufus; 6] Lalu Gede Zainuddin al-Tsani; dan, 7] Lalu Gede Muhammad Fatihin. Bagan 3 : Keluarga Besar Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid

2. Pola Mendidik Putrinya Sebagai seorang ayah, Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin berusaha mendidik puteri-puteri dengan penuh kasih sayang dan perasaan lemah lembut. Pola ini agak betbeda

30

dengan pola yang diterapkan oleh Tuan Guru Haji Abdul Madjid kepadanya, yang cenderung keras dan tegas. Sekalipun puteri-puterinya dianggap melakukan kesalahan, ia berusaha untuk menegurnya juga dengan lemah lembut. Sebagai ilustrasi, ketika Siti Rauhun sekolah di Muallimat Tsanawiyah Nahdlatul Banat, ia pernah pergi bersama teman-temannya ke Labuhan Haji Lombok Timur. Jarak antara Labuhan Haji dengan Selong sekitar 5-7 kilometer. Karena jaraknya yang cukup jauh, maka ia dan teman-temannya menggunakan dokar. Mereka pergi ke Labuhan Haji hanya untuk melihat pohon "Ndes". Buah ini jarang ditemui di Pancor, sehingga mereka pun ingin melihat buah ini di daerah Labuhan Haji. Saat Siti Rauhun menaiki dokar bersama-sama teman-temannya menuju Labuan Haji, ditengah perjalanan ada orang yang mengenalinya. Kemudian orang itu melaporkan kejadian tersebut kepada ayahnya. Keesokan harinya ia dipanggil ayahnya dan disuruh menghadap ke Pancor. Mendapat pesan itu, ia tidak mempunyai firasat apa-apa. Apalagi dengan firasat akan dimarahi oleh ayahnya. Selanjutnya ia segera memenuhi panggilan ayahnya, ia diterima oleh ayahnya dengan baik. Dan oleh ayahnya, ia langsung diminta untuk mengurut kaki ayahnya. Saat ia sedang mengurut kaki ayahnya, tiba-tiba ayahnya bertanya dengan nada menyindir; "Rauhun, enak naik dokar, ya?" Mendengar sindiran tersebut, telinga Siti Rauhun seperti terasa disambar petir. Karena ia merasa bahwa ayahnya mengetahui kepergiannya ke Labuhan Haji. Belum sempat ia menjawab sindiran tersebut, ayahnya langsung melanjutkan ucapannya, "Saya khawatir, kalau terjadi sesuatu pada diri kamu di tengah jalan. Kalau-kalau kamu diculik orang, atau terjadi hal-hal lain yang tidak diinginkan". Seluruh ucapan ayahnya itu, tidak satupun yang dijawabnya. la hanya terdiam sambil menundukkan kepala. Baginya, sebagai seorang anak yang patuh dan pemalu, petistiwa itu sangat terkesan di dalam hidupnya. Sindiran ayahnya itu bagaikan sebuah kemarahan, yang tidak boleh terulang lagi dalam perjalanan hidupnya. Dan memang sekali itulah ia merasa dimajrahi oleh ayahnya, karena berbuat sesuatu yang tidak pantas menurut pandangan ayahnya. Selain itu, untuk melatih kedua putrinya, menjadi seorang anak yang berjiwa pemberani dan percaya diri, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin sering menampilkan kedua putrinya dihadapan orang banyak untuk latihan berpidato. Keduanya disuruh berdiri di atas meja atau di atas tumpukan pasir. Kemudian disuruhnya berbicara di hadapn tukang dan para pekerja atau jamaah yang bergotong royong mengangkul batu atau pasir untuk pembangunan madrasah yang didirikannya. Pola didikan seperti itu, sangat dirasakan nilai positifnya oleh kedua putrinya, hingga sejakkecil sudah terbiasa berhadapan dan berbicara di muka umum. Dan hingga saat ini kedua

31

putrinya merupakan pelanjut setia estafet perjuangan dan da'wah ayahnya, melalui organisasi Nahdlatul Wathan [NW] yang didirikan pada tahun 1943. Keduanya memang telah diwasiatkan untuk selalu selangkah dan seayun dan bersatu padu dalam melanjutkan perjuangan Nahdlatul Wathan yang telah tersebar dari berbagai penjuru nusantara ini. Gambaran tentang harapan Tuan Guru kepada puterinya ini, dilukiskan dalam bait-bait syair yang khusus ditujukan untuk keduanya sebagai berikut: Wahai Anakku Rauhun Raihanun Tetapkan dirimu selangkah seayun Membela NW turun temurun "PERTANGGA NAIKBERJENJANG TURUN" 3. Kehidupan Ekonomi Keluarga Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Pada uraian tentang kehidupan ekonomi Tuan Guru Haji Abdul Madjid dijelaskan bahwa ia termasuk salah seorang yang kaya di desanya. Kondisi ini menyebabkan status sosial dan ekonomi Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tidak jauh berbeda dengan ayahnya. Setidaknya, ia mewarisi sebagian dari kekayaan yang ditinggalkan ayahnya. Kondisi ekonomi Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sejak awal menjadi rahasia umum, ia termasuk otang kaya di Pancor. Indikator kekayaannya dapat dilihat dad kepemilikan sawah ladang yang luas, kebun dan tanah pekarangan lainnya, serta sejumlah hewan ternak, disamping barang-barang perhiasan lainnya, seperti emas dan perak. Betapapun ia termasuk golongan orang yang kaya, namun dalam kehidupan sehariharinya bersama keluarga dijalani dengan pola kehidupan sederhana, tidak sombong, apalagi berpoya-poya, untuk tidak mengatakan memprihatinkan, terutama pada tahun-tahun yang sulit, yakni pada tahun 1940-an sampai dengan akhir tahun 1950-an. Haji Husni Hamid, salah seorang anak angkatnya, menuturkan kondisi ini, ketika Hajah Fatmah [salah seotang istri Tuan guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid] yang biasa dipanggilnya mamik bini, sering menyuruhnya meminta uang kepada Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, yang biasa dipanggilnya mamik laki, untuk keperluan sehati-hari, seperti membeli beras, lauk pauk, dan sebagainya. Namun demikian, seringkali permintaanya tidak terpenuhi, karena Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tidak mempunyai uang. Karena tidak memiliki uang, ia suruh kcsawah untuk memertik sayur mayur. Pola hidup sederhana yang dijalani oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid bersama keluarganya ini disebabkan karena sebagian besar harta kekayaannya dialokasikan untuk kepentingan pembangunan gedung madrasah, pengadaan sarana-pra sarana madrasah, dan untuk pembiayaan operasional madrasah dalam bentuk syahriyyah [gaji] guru-guru setiap bulannya.

32

Singkatnya, sebagian besar kekayaan yang dimiliki sampai akhir hayatnya dialokasikan untuk pengembangan perjuangan Nadlatul Wathan, baik untuk pengembangan Sumber Daya Manusia [SDM], seperti pemberian beasiswa bagi kader-kader Nadlatul Wathan serta memberikan bantuan dan fasilitas untuk pembukaan cabang-cabang Nadhatul Wathan di berbagai daerah di Indonesia. B. PENDIDIKAN FORMAL DI LOMBOK DAN BERGURU PADA KYAI LOKAL Pengembaraan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menuntut ilmu pengetahuan berawal dari pendidikan di dalam keluarga, yakni dengan belajar mengaji [membaca Al Qur'an] dan berbagai ilmu agama lainnya, yang diajarkan langsung oleh ayahnya, Tuan Guru Haji Abdul Madjid. Pendidikan yang didapatkan dari ayahnya ini, drmulai sejak berusia 5 tahun. Batu setelah berusia 9 tahun, ia memasuki pendidikan formal pada sebuah sekolah umum yang disebut Sekolah Rakyat Negara [Sekolah Gubernemen] di Selong Lombok Timur, yang waktu itu dipimpin oleh Moeljadi, asal Jawa. Di sekolah tersebut ia belajar selama empat tahun, hingga tahun 1919 M. Setelah menamatkan pendidikan formalnya pada Sekolah Rakyat Negara pada tahun 1919 M, ia kemudian diserahkan oleh ayahnya untuk belajar ilmu pengetahuan agama yang lebih luas lagi pada beberapa kyai lokal saat itu, antara lain Tuan Guru Haji Syarafuddin dan Tuan Guru Haji Muhammad Sa'id dari Pancor serta Tuan Guru Abdullah bin Amaq Dulaji dari Kelayu Lombok Timur.3y Dari beberapa kyai lokal ini, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin selain mempelajari ilmu-ilmu agama dengan menggunakan kitab-kitab Arab Melayu, juga secara khusus mempelajari ilmu-ilmu gramatika bahasa Arab, seperti ilmu Nahwu dan Sharf. Pola belajar pada kyai-kyai lokal ini masih sangat tradisional, yang dikenal dengan pola belajar halaqah, yaitu murid-murid duduk bersila di atas tikar dan mendengarkan gurunya membaca kitab yang sedang dipelajari. Kemudian masing-masing murid secara berganti-ganti membaca. Bagi Tuan Guru Haji Syarafuddin, Muhammad Saggaf merupakan murid yang istimewa. Keistimewaan tetsebut mendorong gurunya untuk membebaskannya dari membantu gurunya bekerja di sawah. Pada saat itu murid-murid yang mengaji di rumah seorang tuan guru tidak dipungut bayaran. Sebagai gantinya, mereka diharuskan bekerja di sawah tuan guru tersebut Berbeda dengan Muhammad Saggaf, karena keinginan kuat ayahnya agar ia menjadi menjadi murid yang pandai, ayahnya sanggup membayar dengan 200 ikat padi setahun [sekitar 2 ton padi/gabah], sebagai ganti kewajiban bekerja di sawah. Maksud ayahnya dengan kesediaan ini adalah agar anaknya tidak terganggu aktivitas belajarnya, sehingga bisa berkonsentrasi pada pelajarannya. Menjelang musim haji tahun 1341 [1923 M], Muhammad Saggaf yang saat itu telah mencapai usia 15 tahun, berangkat ke Tanah Suci Makkah dengan diantar langsung oleh ayah dan

33

ibunya bersama tiga orang adiknya, yaitu: H. Muhammad Faishal, H. Ahmad Rifa'i dan seorang kemenakannya. Bahkan ikut serta dalam rombongan ini, salah seorang gurunya, yaitu Tuan Guru Haji Syarafuddin dan beberapa anggota keluarga dekat lainnya. a. BELAJAR DI TANAH SUCI MAKKAH 1. Belajar di Masjid al-Haram Muhammad Saggaf berangkat ke Tanah Suci menggunakan kapal laut. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia naik kapal laut dan meninggalkan kampung halamannya. Laut begitu luas seolah tanpa batas. Berganti-ganti matahari muncul di kaki langit sebelah Timur dan menghilang di ufuk Barat. Watna merah di saat matahari muncul dan tenggelam menimpa ombak dan riak di lautan yang maha luas ibarat lukisan yang begitu indah. Maha Besar Allah dengan ciptaan-ciptaan-Nya. Sesampai di Tanah Suci, Tuan Guru Haji Abdul Madjid langsung mencari rumah kontrakan di Makkah. Mula-mula di kampung Suqulllail. Namun menjelang pulang ke Pancor 2 tahun kemudian, untuk tempat tinggal Zainuddin dan ibunya, Tuan Guru Haji Abdul Madjid mengontrak rumah di Syari' Abunnajar. Beberapa hari setelah musim haji usai, Tuan Guru Haji Abdul Madjid mulai sibuk mencarikan guru buat anaknya. Berhari-hari, bahkan berbulan-bulan beliau berkeliling di Masjidil Haram dan melihat-lihat beberapa ulama/syaikh sedang menghadapi murid-muridnya. Mereka bersila dalam sebuah lingkaran kecil dan syaikh yang mengajar mengaji itu duduk di ujung di atas kasur tipis. Sistem yang dipakai adalah halaqah, yakni semuanya duduk bersila dan syaikh membaca kitab yang sedang dipelajari. Sampailah perjalanan Tuan Guru Haji Abdul Madjid pada sebuah balaqah. Syaikh yang mengajar di lingkaran itu bertubuh sedang dan berumur 50 tahun. Ada beberapa orang mengelilingi guru itu. Dari caranya mengajar, Tuan Guru Haji Abdul Madjid merasa cocok jika syaikh itu menjadi guru anaknya. Belakangan diketahui, syeikh itu bernama Syeikh Marzuki. Syaikh Marzuki adalah seorang keturunan Arab kelahiran Palembang. la sudah lama tinggal di Makkah dan mengajar mengaji di Masjidil Haram. la fasih berbahasa Indonesia dan Arab. Kebanyakan muridnya berasal dari Indonesia. Ada yang dari Palembang, Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur maupun Lombok. Salah seorang murid Syaikh Marzuki yang berasal dari Lombok bernama H. Abdul Kadir dari desa Mamben, Lombok Timur. H. Abdul Kadir sudah setahun lebih belajar di Makkah pada waktu itu. Prosesi penyerahan Muhammad Saggaf [yang saat ini telah berganti nama menjadi Muhammad Zainuddin] kepada Syeikh Marzuki diillustrasikan oleh Ibrahim Husni, sebagai berikut: "Assalamu'alaikum" seru Tuan Guru Haji Abdul Madjid. "Wa'alaikumussalam" jawab Syaikh Marzuki bersama murid-muridnya.

34

"Ya Maulana Syaikh. Adapun saya menghadap tuan ini, hendak mengantar anak saya belajar kepada Tuan, kata Tuan Guru Haji. Abdul Madjid dengan takzimnya. Muhammad Zainuddin duduk di belakang ayahnya sambil menunduk diam. "Mana anak Tuan?, tanya Syaikh Marzuki. Tuan Guru Haji Abdul Madjid menyuruh anaknya tampil ke depan. Muhammad Zainuddin agak gemetar menuruti perintah ayahnya. Baiklah, anak Tuan boleh belajar bersama mereka, kata Syaikh Marzuki. Tuan Guru Haji Abdul Madjid minta agar anaknya Muhammad Zainuddin langsung ikut mcngaji bersama Syaikh Marzuki. Meski begitu, ayahnya tak langsung pulang, tapi menuggu dari jauh. Muhammad Zainuddin gemetar begitu rnenerima sebuah kitab tebal dan bertuliskan Arab tanpa harakat [kitab gundul]. Selama di Lombok ia belum pernah memegang kitab besar seperti itu. Ia juga baru mulai mengenal ilmu nahwu-sharaf sedikit saja dari Tuan Guru Haji Syaratuddin, namun ia tidak berani membantah perintah ayahnya. Untung saja Syaikh Marzuki juga tidak banyak bertanya. Sebab, Syaikh Marzuki terus saja membacakan kitab itu, lalu beberapa murid bergantian membacanya. Sampai beberapa hari tidak ada kejadian apa-apa. Muhammad Zainuddin yang menjadi murid termuda dan terkecil dalam jamaah pengajian itu hanya bisa terdiam. Sebab ia juga tidak tahu apa yang dibacanya. Beberapa hari kemudian, seorang murid Syaikh Marzuki terlambat hadir, kemudian duduk di dekat Muhammad Zainuddin. "Sampai di mana Maulana Syaikh membacanya? tanya orang itu, sambil menepuk pahanya. Hoeh? Tanya Muhammad Zainuddin pura-pura tak mengerti. "Sampai di mana Maulana Syaikh membacanya? tanya orang itu agak keras. Beberapa teman di sekelilingnya menengok. "Ooooh... sampai di sini, ujar Muhammad Zainuddin sambil meraba salah satu halaman yang sedang dibaca gurunya. Tapi ia tidak tahu persis, karena ia tak bisa membacanya. Orang itu mendesak terus, namun ia tetap hanya menunjuk halamannya saja. Akhirnya orang itu menger ti bahwa ia memang tidak bisa membaca. Peristiwa itu didengar oleh teman-temannya. Beberapa orang temannya mentertawakan kejadian itu. "Goblok, Bagaimana bisa pandai kalau cara belajarnya saja salah. Ibarat orang belajar memanjat di mulai dari atas. Mana tahu caranya turun, "ujar beberapa orang temannya sambii tertawa. Zainuddin terdiam saja. Besoknya ia masih terus mengaji. Sesekali mereka masih terus mengejek, namun ia tidak pernah menanggapinya. Dalam hati ia merasa caranya mengaji memang salah. Ia ingin dari awal, tapi tidak pernah berani menyampaikan keinginan itu

35

kepada ayahnya. Dan ia terus masuk tiap hari tanpa mengetahui apa yang diperoleh dari kehadirannya mengaji di Syaikh Marzuki. Setelah ayahnya pulang ke Lombok, ia langsung berhenti belajar mengaji pada Syaikh Marzuki, karena ia merasa tidak banyak mengalami perkembangan yang berarti dalam menuntut ilmu selama ini. Namun, ia belum sempat memperoleh guru baru, terjadi perang saudara di Saudi Arabia antara faksi Wahabi yang sudah menyebar ke seluruh Saudi melawan kekuasaan Syarif Hussein. Faksi Wahabi ingin memberantan praktek-praktek ziarah kubur dengan menghancurkan makam para sahahat termasuk juga akan menghancurkan makam Rasulullah di Madinah. Selama pertempuran berlangsung, situasi Masjid al- Haram dalam keadaan sepi tanpa ada aktivitas pengajian, sehingga tak seorang ulama pun memberikan bimbingannya. Melihat kondisi ini, ia merasa kebingungan, sampai ada seorang teman yang mengajaknya untuk belajar ilmu-ilmu mujarabat atau perdukunan kepada "guru-guru gelap", dengan kitab Mujarabat al- Dzairobi sebagai kitab pegangannya. Disamping itu, ia juga mempelajari ilmuilmu mandal [melihat seseorang yang dicari memakai kuku yang dihitamkan], huruf al-istintoq [meramal memakai huruf] dan sebagainya. Pada saat itu, ia juga mempelajari ilmu sastra dengan spesifikasi syair-syair Arab kepada ahli syair terkenal di Makkah, yakni Syaikh Muhammad Amin al-Kutbi. Pada saat itulah ia berkenalan dengan Sayyid Muhsin al-Palembani, seorang keturunan Arab kelahiran Palembang. Ternyata ia kemudian menjadi gurunya di Madrasah al-Shaulatiyah. Sayyid Muhsin juga pendiri Madrasah Darul Ulum yang saat itu amat terkenal di Makkah dan sebagian besar muridnya ber'asal dari Indonesia. Dari Lombok, salah seorang murid madarash itu adalah Tuan Guru Haji Zainal Abidin dari Sakra, termasuk mantan anggota Dewan Musytasyar Nahdlatul Wathan. 2. Belajar di Madrasah al-Shaulatiyah Dua tahun setelah terjadinya hum hara di Tanah Suci Makkah, stabilitas keamanan relatif terkendali. Pada saat itu Muhammad Zainuddin berkenalan dengan seseorang yang bernama Haji Mawardi dari Jakarta^ Dari perkenalan itu, Zainuddin diajak untuk masuk belajar di sebuah madrasah legendaris di Tanah Suci, yakni Madrasah al-Shaulatiyah. Madrasah ini didirikan pada tahun 1219 H, oleh seorang ulama besar imigran India, yaitu Syaikh Rahmatullah Ibnu Khalil al Hindi al-Dahlawi. Madrasah ini adalah madrasah pertama sebagai permulaan sejarah baru dalam dunia pendidikan di Saudi Arabia. (Gaungnya telah menggema ke seluruh dunia dan telah menghasilkan banyak ulama-ulama besar dunia. Madrasah al-Shaulatiyah berkembang pesat dan maju. Ketika Muhammad Zainuddin masuk di madrasah ini, pada tahun 1345 H [1927 M], Madrasah al-Shaulatiyah di bawah pimpinan cucu dari pendirinya yaitu Syaikh Salim Rahmatullah. Petama kali masuk, ia diantar

36

oleh Haji Mawardi dan langsung menghadap kepada Syaikh Salim Rahmatullah selaku pimpinan [Mudir/Direktur]. Pada hari pertama masuknya ia bertemu dengan Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath yang nantinya akan menjadi gurunya yang hubungannya paling dekat. Di sana juga ia bertemu Syaikh Sayyid Muhsin al-Musawa, diantara temannya sewaktu belajar syair pada Syaikh Sayyid Amin al-Kutbi, yang temyata juga sebagai salah seorang guru di madrasah ini. Sudah menjadi tradisi di Madrasah al-Shaulatiyah bahwa setiap thullab baru yang masuk, harus mengikuti tes masuk untuk menentukan kelas yang tepat dan cocok bagi thullab baru tersebut. Demikian juga dengan Muhammad Zainuddin, ia diuji juga terlebih dahulu. Dan secara kebetulan ia langsung diuji oleh mudir al-Shaulatiyah sendiri, yaitu Syaikh Salim Rahmatullah dan Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath. Akhirnya, Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath menentu kannya masuk di kelas III. Padahal llmu nahwu-sharaf yang belum dikuasai diajarkan di kelas II. Mendengar keputusan tersebut, ia meminta agar diperkenankan masuk kelas II, dengan alasan ingin mendalami mata pelajaran Nahwu-Sharaf. Walau pada awalnya Syeikh Hasan bersikeras dengan keputusannya, namun argumentasi Muhammad Zainuddin membuatnya berfikir kembali. Kemudian ia mengabulkan permohonan sang murid. Maka resmilah ia diterkna di kelas II. Di Madrasah al-Shaulatiyah Zainuddin mulai tekun belajar. la ingin membuktikan kemampuannya menguasai ilmu dengan baik. Di malam dan sore hari, ia belajar kepada bcberapa guru yang lain. Di rumah, ia menghabiskan waktunya untuk belajar, karena ia terus teringat ejekan teman-temannya ketika masih belajar di Syaikh Marzuki. Salah satu bentuk ketekunannya dalam belajar adalah besarnya porsi waktu yang disediakan untuk membaca kitab-kitab mulai dari setelah shalat-tahajjud sampai waktu shalat shubuh tiba. Tidak heran jika suatu ketika, ia tertidur sewaktu membaca kitab. Padahal tidak jauh dari tempatnya membaca, terdapat sebuah lampu minyak. Tanpa disadari, ujung surbannya menyentuh api lampu dan terbakar. Mencium bau benda terbakar ibunya terbangun. Sementara ia masih tetap tertidur. Ibunya bertcriak membangunkannya. Ia terkejut dan langsung terbangun. Kebiasaan membaca dan belajar dalam waktu yang cukup lama menyebabkan matanya mengalami gangguan. Meski demikian, ia masih tetap mampu mempertahankan kebiasaan tersebut sampai waktu yang cukup lama. Ketekunannya dalam belajar membuahkan hasil. Beberapa orang gurunya mengakui ia tergolong murid yang cerdas. Syaikh Salim Rahmatullah selalu mempercayakan kepadanya untuk menghadapi Penilik Madrasah pemerintah Saudi yang seringkali datang ke madrasah itu. Penilik madrasah itu menganut faham Wahabi. Dan ia satu-satunya murid Madrasah alShaulatiyah yang dianggap menguasai faham Wahabi. Pertanyaan penilik itu biasanya

37

menyangkut soal-soal hukum ziarah kubur, tawassul kepada anbiya' dan auliya', bernazar menyembelih kambing berbulu hitam atau putih dan sebagainya. Dan ia selalu berhasil menjawab pertanyaan penilik itu dengan memuaskan. Ketekunannya dalam belajar dan berdiskusi juga diakui oleh salah seorang teman sekelasnya di Madrasah al-Shaulatiyah tersebut, yaitu Syaikh Zakaria Abdullah Bila, seorang ulama besar di Tanah Suci Makkah. la mengatakan: "saya teman seangkatan Syaikh Zainuddin, saya telah bergaul dekat dengannya beberapa tahun. Saya sangat kagum padanya. Dia sangat cerdas, akhlaknya mulia. Dia sangat tekun belajar, sampai-sampai jam keluar mainpun diisinya menekuni kitab pelajaran dan berdiskusi dengan kawan-kawannya." Prestasi akademiknya sangat membanggakan. Ia berhasil meraih peringkat pertama dan juara umum. Di samping itu, dengan kecerdasn yang luar biasa, ia berhasil menyelesaikan studinya dalam kurun waktu 6 tahun. Padahal lama belajar normal adalah selama 9 tahun, yaitu mulai dari kelas I sampai dengan kelas IX. Dari kelas II, ia langsung ke kelas IV. Tahun berikutnya ke kelas VI, dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya secara berturut-turut naik ke kelas VII, VIII dan IX. Dengan tingkat kecerdasan [IQ] yang sangat tinggi ini, Syaikh Zakaria Abdullah Bik mengatakan, "Syeikh Zainuddin itu adalah manusia ajaib di kelasku, karena kegeniusannya yang sangat tinggi dan luar biasa, saya .sungguh menyadari hal ini. Syaikh Zainuddin adalah saudaraku, karibku, dan kawan sekelasku. Saya belum pernah mampu mengunggulinya

dan saya tidak pernah menang dalam berprestasi di kala saya dan dia bersama-sama dalam satu kelas di Madrasah AS Saulatiyah Makkah." Lebih jauh Syaikh Zakaria menceritakan: "Pernah sehari sebelum ujian, saya mengambil sebuah kitab di perpustakaan secara diam-diam dan membawanya pulang. Kitab itu hanya satu di perpustakaan, yang berisi mata pelajaran yang akan diujikan esok harinya. Hal ini saya lakukan dengan sengaja agar Syaikh Zainuddin tidak bisa tnenelaahnya, sehingga dalam ujian nanti dapat mengalahkannya. Ternyata keesokan harinya dalam ujian, dia berhasil menjawab semua pertanyaan dengan sangat baik dalam bentuk syair [puisi] dalam bahasa Arab." Namun demikian, suatu prestasi tidak akan pernah diraih tanpa adanya pengorbanan. Kesuksesan studinya di Madrasah al-Shaulatiyah hams dibayar mahal, dengan meninggalnya ibunya ketika ia masih scdan^, belajar di madrasah tersebut. Ibrahim Husni merekam saat-saat dramatis kepergian ibunya, sebagai berikut: Karena dorongan tekad dan semangat yang kuat dalam menuntut ilmu, suatu hari pada tahun keempat tinggal di Makkah, ia tetap masuk sekolah, meskipun ibunya sakit keras. Semula ibunya memintanya tinggal di rumah. Namun ia bersikeras untuk masuk sekolah lantaran hari itu ada pelajaran nahwu sharaf, yang kemampuannya pada pelajaran tersebut

38

dirasakan masih kurang. Melihat tekad anaknya Hajah Halimah al-Sya'diyah tidak tega menahan kepergiannya. Padahal ia merasa, keadaannya sudah sangat kritis. "Nanti jam 12.00 saya pulang bu, "ujar Zainuddin. Ibunya mengangguk lemah. Menjelang jam 12.00 ia meminta izin pulang karena kondisiibunya sedang kritis. Gurunya di madrasah memberi izin untuk pulang. Ia segera berlari meninggalkan ruang kelas. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti. Hatinya diliputi suasana dilematis, antara keinginan menemani ibunya dan beratnya meninggalkan pelajaran sharaf pada 2 jam terakhir. Hampir 10 menit ia berdiri termangu. Begitu sadar ia kembali ke madrasah dan meneruskan pelajarannya. "Mengapa kembali? Katanya ibumu sakit ?, tanya seorang gurunya. "Ya betul Maulana Syaikh. Namun saya ingin sekali mengikuti pelajaran sharaf. Kemampuannya saya dalam mata pelajaran itu amat lemah, "jawabnya. Gurunya diam dan meneruskan pelajaran. Begitu pelajaran selesai, Zainuddin segera berlari pulang. Di tempat ia berdiri termangu tadi, seseorang telah menjemput dan segera mengajaknya pulang. Di rumah tempat tinggalnya, sudah ramai para tetangga mengurus jenazah. Ternyata ibunya Hajah Halimatussa'diyah telah meninggal dunia. Satu-satunya keluarga, ibu kandung, yang setia menunggunya belajar di Tanah Suci Makkah telah tiada; Zainuddin terus menunduk dan terisak-isak. Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un. Ibunya meninggal di rantau Tanah Suci Makkah tanpa ditunggui. Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid berhasil menyelesaikan studinya di Madrasah al-Shaulatiyah Makkah pada tahun 1351 H [1933 M] dengan predikat istimewa [mumtaz]. Predikat istimewa tetsebut disertai pula dengan perlakuan yang istimewa dari Madrasah al-Shaulatiyah. Ijazahnya ditulis tangan langsung oleh seorang ahli khat terkenal di Makkah saat itu, yaitu al-Khathath al-Syaikh Dawud al-Rumani atas usul dari Direktur Madrasah al-Shaulatiyah. Kemudian ijazah tersebut ditanda tangani oleh beberapa orang gurunya. Ijazah tersebut diserah terimakan kepadanya pada tanggal 22 Dzulhijjah 1353 H. Setelah tamat di Madrasah al-Shaulatiyah, k tidak langsung pulung ke Indonesia. Tetapi bermukim lagi di Makkah selama 2 tahun sambil menunggu adiknya yang masih belajar yaitu Haji Muhammad Faishal, Dua tahun ini dimanfaatkannya untuk belajar, antara lain belajar ilmu fiqh kepada Syaikh Abdul Hamid Abdullah al-Yamani. Dengan demikian, waktu belajar yang ditempuh di Tanah Suci Makkah adalah selama 13 kali musim haji atau kurang lebih 12 tahun Berarti sampai pulang ke ke kampung halamannya, ia sampai mengerjakan ibadah haji sebanyak 13 kali.

39

PERTEMUAN VII & VIII Setelah Mempelajari Modul Ini Anda Diharapkan Mampu: 1. Menjelaskan Latar Belakang Lahirnya Pondok Pesantren Al-Mujahidin 2. Menjelaskan Latar Belakang Lahirnya Madrasah NWDI dan NBDI 3. Menjelaskan Perkembangan Madrasah NWDI dan NBDI PONDOK PESANTREN NAHDLATUL WATHAN A. MEMBUKA PESANTREN AL-MUJAHIDIN DAN PENGAJIAN UMUM Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid setelah selama 12 tahun menuntut ilmu di Tanah Suci Makkah al-Mukarramah, dipei'intah gurunya, Syaikh Hasan Muhammad al- Masysyath kembali ke kampung halamannya di Indonesia untuk menyebarkan ilmu pengetahuan dan mendorong terbentuknya tatanan moralitas dan akhlaq yang mulia di kalangan saudara seiman dan masyaiakat pada umumnya. Perintah gurunya ini, sempat ditolaknya dengan mengemukakan argumentasi, bahwa ia masih ingin tetap belajar, bahkan ia ingin tetap tinggal dan mengabdi di Tanah Suci saja. Namun gurunya tetap menolak argumentasinya itu, karena peranannya di Indonesia akan lebih bermanfaat bagi pengem-bangan keilmuan dan pemberdayaan terhadap masyarakat, dibandingkan jika ia tetap berada di Makkah. Setelah sampai di tanah kelahirannya, masyarakat langsung mempercayainya sebagai imam dan khatib. Jabatan sebagai imam dan khatib pada saat itu merupakan posisi yang penting dalam masyarakat, setidaknya, karena posisi tersebut umumnya diisi oleh seseorang yang memiliki kapabilitas keilmuan yang tinggi, atau biasa disebut "Tuan Guru" dalam kultuf masyarakat Lombok. Disamping menjadi imam dan khatib, ia juga banyak melakukan safari dakwah ke berbagai tempat di pulau lombok, sehingga ia mulai dikenal secara luas oleh masyarakat. Masyarakat menyebutnya sebagai seorang anak muda 'alim yang memiliki integritas keilmuan, sehingga ia disebut dengan "Tuan Guru Bajang". Sebutan Tuan Guru Bajang diperoleh setelah melalui serangkaian proses uji di tengahtengah masyarakat. Sekedar contoh, Tuan Guru Haji Mukhtar dari Mamben tidak dengan serta merta mengamini sebutan tersebut. Ia melakukan verifikasi terlebih dahulu dengan sejumlah pertanyaan sebagai test case terhadap kapabilitas keilmuannya. Setelah memperoleh jawabanjawaban yang memuaskan, maka Tuan Guru Haji Mukhtar mengakui kemampuannya, bahkan bertekad untuk mengirim anggota keluarganya untuk menimba ilmu padanya. Setelah mempunyai reputasi di masyarakat, ia kemudian mendirikan pesantten alMujahidin pada tahun 1934 M., sebagai tempat pembelajaran agama secara langsung bagi kaum muda. Pendirian ini dilatar belakangi oleh keingjnan untuk memberikan pelajaran agama yang lebih bermutu kepada masyarakat, karena pada saat itu umumnya para tuan guru dalam

40

mengajarkan

agama

lebih

banyak

menggunakan

kitab-kitab

Arab

Mekyu/5

seperti

Bidayah,Perukunan, dan Sabil al-Muhtadin. Di sampingitu, kualitas keberagamaan masyarakat secara umum berada dalam kondisi yang terpuruk, sebagai akibat langsung dari kolonialisme Belanda dan invasi [pendudukan] kerajaan Hindu yang cukup lama. Animo masyarakat sangat antusias terhadap keberadaan pesantren ini, sehingga ia berinisiatif untuk mengem-bangkannya lebih lanjut dalam bentuk pembelajaran yang lebih masif di ruang-ruang kelas. Pada awalnya Pesantren al-Mujahidin menerapkan sistem pembelajaran dengan metode halaqah. Namun kemudian sistem ini dipandang kurang efektif. karena pertama, sulitnya mengukur tingkal keberhasilan prestasi santri, dan kedua, tidak dapat mengawasi secara maksimal proses pembelajaran yang efektif. Akan tetapi, untuk menggantinya dengan sistem klasikal murni, masih menghadapi kendala, terutama pada persoalan kategori usia santri. Untuk itulah maka ia memperkenalkan sistem semi klasikal, dengan gambaran ada beberapa perangkat kelas, seperti papan tulis, sementara para santri tetap duduk di lantai dengan bersila. Di samping itu, masih belum ada pembatasan usia. Sistem semi klasikal ini, temyata menarik perhatian masyarakat setempat dan juga sangat di senangi oleh para santri. Hingga dalam waktu yang singkat telah terdaftar + 200 orang santri. Para santri tidak saja berasat dari desa Pancor, tetapi juga dari luar. Melihat fenomena itu, ayahnya langsung membuat lokal-lokal kelas darurat di serambi dan di belakang rumahnya. Prosesi belajar mengajar di pesantren ini, berlangsung dari pukul 05.00-06.00 WIT, yang dikhususkan untuk masyarakat dari kalangan orang-orang tua. Mereka juga disediakan waktu pada malam hari. Adapun untuk anak-anak muda pelajaran dimulai dari jam 14.00-17.00 WIT. Reputasinya semakin menjulang di kalangan masyarakat, sehingga ia diminta untuk memberikan pengajian tetap di Masjid Jami' Pancor, LombokTimur. Pengajian tersebut dimulai dari jam 09.00-12.00 WIT [sampai tiba waktu dzuhur]. Pengajian tersebut dihadiri oleh masyarakat luas, dari kalangan tua, muda dan bahkan para tuan guru, seperti Tuan Guru Haji Abu Bakar Sakra, Abu Atikah, Tuan Guru Haji Azhar Rumbuk, Raden Tuan Guru H. Ibrahim Sakra, dan Iainkin. Bahkan juga hadir gurunya yang bernama Tuan Guru Haji Syarafaddin dari Pancor. Turut juga dalam pengajian tersebut Haji Ahmad Jemberana datiBali. Kitab-kitab yang dikaji dalam pengajian tersebut adalah kitab Minhaj al-Thalibin, Jam' al alJawami; Qatr al-nada; Tafsir al-]alalain dan lain-lainnya dari kitab-kitab fiqih dan tafsir. Dari pengajian umum yang diadakan di Masjid Jami' Pancor, berkembang secara signifikan dengan banyaknya permohonan untuk mengadakan pengajian-pengajian umum di berbagai pelosok daerah Lombok. dalam catatan Haji Muhammad Yusi Muhsin, terdapat 14 masjid sebagai tempat pengajian umum, antara lain, Masjid Jami' Pancor, Masbagik, Sikur, Terara, Aikmel, Kalijaga, Wanasaba, Tanjung Teros, Sakra, Grumus, Peringga Jurang, Kopang, Mantang dan Praya. Namun ada beberapa tempat yang tidak dapat diisi, karena keterbatasan waktu.

41

B. MENDIRIKAN MADRASAH NAHDLATUL WATHAN DINIYAHISLAMIYAH [NWDI] Kondisi ini selanjutnya mendorong semangat Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid untuk membangun madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam di pulau Lombok. Rencana ini ternyata tidak berjalan sesuai harapan, sebab ada sebagian masyarakat yang kontra dan tidak setuju dengan rencana tersebut. Mereka yang kontra berasumsi, bahwa madrasah merupakan kepanjangan tangan dari sistem pembelajaran ala Barat dan akan menyebarkan ajaran wahabi dan mu'tazilah. Di samping itu, ada reaksi dan isu-isu negatif yang disebarkan oleh orang-orang yang hasad, mereka yang merasa kehilangan pengaruh dan wibawanya di masyarakat, sehingga mereka menyebarkan berbagai macam fitnah untuk menjatuhkan reputasinya. Salah satu bentuk provokasi dan fitnah yang dilakukan adalah mencoba menghasut pata pemilik tanah wakaf dan para wali santri yang telah menitipkan anaknya di Pesantren Mujahidin. Tetnyata provokasi ini berhasil, tanah-tanah wakaf tersebut ditarik dan para santri hanya tersisa hanya 50 orang saja. Itupun berasal dari luar desa Pancor, separti Sakra, Kelayu, dan Praya. Di samping itu tantangan juga datang dari para Pamong Praja Desa bersama tokoh-tokoh desa lainnya dengan membelikan sebuah pilihan dilematik kepadanya, yakni apakah akan tetap mendirikan madrasah atau akan tetap sebagai imam dan khatib di Masjid Pancor. Ilustrasi ini tergambar dalam dialog berikut ini: "Kami persilahkan kepada Tuan untuk memilih. Apakah tetap Tuan Guru ingin mendirikan madrasah atau apakah tetap menjadi imam dan khatib di Masjid Jami' Pancor. Jika Tuan Guru bersikeras ingin mendirikan madrasah, maka Tuan Guru dilaratig menjadi imam dan khatib di masjid, "ujar utusan Kerama desa itu". Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin diam sambil memandang utusan itu dengan tersenyum. Dalam hati panasnya ia mengatakan: Aku dihadapkan dengan dua pilihan yang amat lucu dan menggelikan. Kemudian ia berkata; "Saudara, saya tetap memilih untuk mendirikan madrasah. Sebab tugas itu adalah fardhu £ain. Karena setiap orang yang berilmu, merupakan kewajibannya untuk mengajarkan ilmu yang dimilikinya, Sedangkan menjadi imam dan khatib di masjid itu adalah fardhu kifayah, artinya siapapun bisa untuk menjadi imam dan khatib. Nah, sudah jelas sekali hal ini. Dan saya akan memilih yang fardhu 'ain, "Jawabnya tegas. Utusan Kerama desa itu pulang dengan perasaan kesal, karena merasa tidak berhasil seperti apa yang diinginkan. Melihat upaya Kerama desa gagal, masyarakat desa Pancor yang and madrasah semakin marah. Beberapa di antara mereka berusaha untuk mencelakakannya dengan cara mengirim sihir [ilmu hitam]. Pada malam hari, burung-burung hantu terbang menyala berkeliling di atas rumahnya. Pernah juga, ketika ia sedang duduk dengan beberapa orang tamu

42

dan keluafga di serambi rumahnya, tiba-tiba jatuh di depannya suatu benda yang berbungkus dengan kertas merah. Bungkusan itu berisikan ketan [reket rasul-bahasa Sasak] yang masih hangat, padahal waktu itu hujan sedang tutun dengan derasnya. Pada lain waktu, berkali-kali siput laut [kaliomang-bahasa Sasak] berjalan di halaman dan menuju serambi rumahnya. Dan masih banyak lagi hal-hal yang lain. Ketika berbagai cobaan, tantangan, dan berbagai reaksi minor dari masyarakat belum reda, maka ada sebuah harapan datang, ketika seorang familinya, Haji Syazali menawarkan tanahnya menjadi tempat pendirian madrasah. Tawaran tersebut diterima dengan senang hati. Untuk merespon tawaran tersebut, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, kalangan keluarganya dan tokoh-tokoh masyarakat bermusyawarah untuk merealisasikan cita-cita mendirikan madrasah. Musyarawah tersebut menghasilkan susunan panitia

pembangunan madrasah yang berjumlah 15 orang, yang terdiri dari: a. Penasehat dan Penanggungjawab : 1. Tuan Guru Haji Abdul Madjid 2. Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid 3. Tuan Guru Haji Ahmad Rifa'i Abdul Madjid 4. Tuan Guru Haji Muhammad Faishal Abdul Madjid b. Panitia Pelaksana

1. Haji Harun dari Bagek Longgek; 2. Haji
Syahabuddin dari Bagek Longgek;

8. Amaq Nurak dari Pancor; 9. Amaq Hafsah dari Pancor; dan 10. Amaq Said dari Pancor. 11. Haji Ahmad dari Pancor; 12. Haji Asy'ari dad Selong; 13. Haji Umar dari Pancor; 14. Haji Sirojuddin dari Pancor; 15. Haji Abdul Syukur dari Pancor;

3. Haji Abdul Rahim dari Kelayu; 4. Haji Abdul Muhid dari Tanjung; 5. Haji Abdul Muthalib dari Pancor; 6. Papuq Nurak dari Pancor; 7. Haji Syadzali daii Pancor;

Fisik bangunan madrasah pada awalnya terdiri 10 [sepuluh] lokal kelas yang terdiri dari: 2 [dua] lokal untuk Bostana al-Athfal [tujuh] lokal untuk ruang belajar; dan 1 [satu] lokal untuk ruang guru/kanlor. Bangunannya sangat sederhana, berdinding pagar, dengan tiang bambu dan beratap genteng. Setelah pembangunan fisik madrasah dianggap selesai dan telah dirumuskan berbagai persiapan untuk aktifitas belajat-mengajar, maka Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid mengajukan sebuah permohonan penditian madrasah kepada pemerintah Hitulm Belanda Kontrolier Oost Lombok di Selong Lombok Timur. Kemudian pemerintah Belanda memberikan surat izin akte pendirin madrasah tersebut pada tanggal 17 Agustus 1936 M.

43

Selanjutnya selang satu tahun berikunya, yakni pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 H, yang bertepatan dengan tanggal 22 Agustus 1937 madrasah Nahdlattul Wathan Diniyah Islamiyah [NWDI] diresmikan. Bagi Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, tanggal 17 Agustus 1936 di atas memiliki makna signifikan dan monumental, karena 9 [sembilan] tahun kemudian, yakni tanggal 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Kondisi ini merupakan hikmah tersendiri dalam perjalanan sejarah Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyyah Islamiyyah. Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah sebagai nama madrasah, adalah nama yang berasal dari bahasa Arab. Secara etimologis, Nahdlah, berarti perjuangan, kebangkitan, dan pergerakan. Wathan, berarti tanah air, bangsa atau negara. Sedangkan Diniyah Islamiyah, berarti agama Islam. Nama tersebut merefleksikan suasana psikologis dan kondisi sosial pada saat itu, terutama yang berkaitan dengan jargon-jargon jihad [perjuangan] untuk menggelorakan semangat patriotisme dalam melakukan perlawanan terhadap penetrasi kolonialisme Belanda dan Jepang, serta upaya memberdayakan pendidikan untuk rnencerdaskan masyarakat yang sedang terpuruk dan terbelakang. Dalam operasionalisasinya, Madrasah NWDI pada mulanya diklasifrkasikan menjadi tiga tingkatan, yaitu: tingkat Ilzamiyah, Tahdhiriyah dan Ihtidaiyah. Tingkat Ilzhamiyah adalah tahap persiapan dengan lama belajar satu tahun. Murid-murid pada tingkatan ini terdiri dari anak-anak yang belum mengenal huruf Arab dan huruf latin. Tingkat Tahdhiriyah adalah kelanjutan dari tingkat llzhamiyah dengan lama belajar tiga tahun. Murid-muridnya selain berasal dari lulusan tingkat Ilzamiyah, juga diterima lulusan dari sekolah dasar [volgschool]. Materi pelajaran yang diberikan adalah tauhid,,fiqh, dan pengetahuan dasar qawa'id al-lughah al-Arabiyyah. Sedangkan tingkat Ibtidaiyah adalah tingkatan terakhir setelah tahdhiriyah_ dengan lama belajar empat tahun. Tingkatan ini selain menerima murid dari lulusan tahdhiriyah, juga menerima dari lulusan sekolah dasar [volgschool\. Materi pelajaran pada tingkatan ini difokuskan pada materi Kitab Kuning, seperti Nahwu, Sharf, balaghah, ma'am, badi; bayan, manthiq. ushul al-fiqh. tashawwuf, dan lainlain. Khusus pada kelas terakhir [rabi' ibtidaiy], semua pelajaran agama mengacu kepada kurikulum madrasah al-Shaulatiyyah, Aktivitas belajar mengajar pada semua tingkatan dimulai dari pukul 07.30-13.00 WITA. Adapun tenaga guru yang mengajar di Madrasah ini, selain Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, adalah Tuan Guru Haji Muhammad Faishal, Tuan Guru Haji Ahmad Rifa'i, Tuan Guru Haji Muhibuddin, Tuan Guru Haji Abdurrahim, Tuan Guru I Haji Sahabuddin dan Amaq Said.

44

Pada tahun pelajaran 1940/1941, Madrasah NWDI menamatkan santri-santri untuk pertama kalinya, sebanyak lima orang, yakni Ustaz Mas'ud dari Kelayu, Ustaz Abdul Manaf alias Haji Abdul Manan dari Pancor, Hasan dari Rumbuk, Ustaz Abu Syahuri alias Haji Muhammad Najamuddin dari Pancor dan Ustaz Abdul Hamid alias Abu Basri dari Pancor. Secara kuantitas jumlah ini tergolong kecil, akan tetapi secara kualitas memiliki kualitlkasi keilmuan dan militansi pergerakan yang tinggi seagai kader perjuangan pengembangan Madrasah NWDI. Sebagai contoh Ustaz Mas'ud dari kelayu. Penguasaan keilmuannya mencapai kualifikasi tahqiq [mendalam], tadqiq [teliti], dan tanmiq [kreatif]. Sewaktu mengikuti ujian akhir ia diuji langsung oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dengan nilai akhir yang paling istimewa. Karena prestasinya yang demikian istimewa, oleh sang guru ia dipredikati sebagai murid terpandai. Di sisi lain, ia berhasil mendirikan Madrasah al-Sa 'adah Diniyyah Islamiyyah Nahdlatul Wathan di Kelayu, Lombok Timur. Sementara pada tahun 1942 Madrasah NWDI meluluskan santri lebih banyak lagi, yaitu sebanyak 55 orang. Di antara mereka, antara lain Haji Muhammad Yusi Muhsin Aminullah dari Kelayu, Tuan Guru Haji Lalu Muhammad Faishal dari Praya, Tuan Guru Haji Lalu Surbakti dari Praya, dan lain-lain. Seperti halnya alumni angkatan pertama, alumni-alumni angkatan kedua dan selanjutnya senantiasa memiliki dua elan vital, yakni perpaduan yang sinergis antara intelektualisme di satu sisi dan aktivisme di sisi yang lain. Mereka berusaha untuk mengembangkan cabang-cabang Madrasah NWDI di berbagai tempat di pulau Lombok. Hingga tahun 1945 tercatat sebanyak 9 [sembilan] buah cabang Madrasah NWDI, yakni: 1. Madrasah al-Sa'adah di Kelayu, tahun 1942; 2. Madrasah Nurul Yaqin di Praya, tahun 1942; 3. Madrasah Nurul Iman di Mamben, tahun 1943; 4. Madrasah Shirat al-Mustaqim di Rempung, tahun 1943; 5. Madrasah Hidayah al-Isam di Masbagek, tahun 1943; 6. Madrasah Nurul Iman di Sakra, tahun 1944; 7. Madrasah Nurul Wathan di Mbung Papak, tahun 1944; 8. Madrasah Tarbiyah al-lslam di Wanasaba, tahun 1944; 9. Madrasah Far'iyyab di Pringgasela, tahun 1945. Madrasah ini selanjutnya terus mengalami kemajuan dan perkembangan, sehingga oleh pendirinya hari peresmian pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 H bertepatan dengan tanggal 22 Agustus 1937 M, dipandang sebagai momentum kemenangan moral perjuangan menegakkan syiar Islam. Sehingga sejak saat itu dan setiap tahunnya diperingati sebagai hari ulang tahun berdirinya Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah yang kemudian populer disebut dengan HULTAH NWDI.

45

Berdirinya madrasah NWDI di Pancor, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pada tahun 1937, mencatat sejarah baru dalam perkembangan pendidikan Islam di Nusa Tenggara Barat. Paling tidak dengan penerapan sistem klasikal dan klasifikasi siswa berdasarkan tingkatan, maka orang mulai mengenal pendidikan Islam dengan sistem klasikal dan berjenjang, sebagaimana pendidikan umum, seperti Sekolah Rakyat, atau sekolah-sekolah yang didirikan pada masa kolonial. Atas dasar inilah, madrasah ini dipandang sebagai pelopor pendidikan Islam modern di NTB. C. MENDIRIKAN MADRASAH NAHDLATUL BANAT DINIYAH ISLAMIYAH [NBDI] Berangkat dari kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh Madrasah NWDI, kemudian melahirkan gagasan untuk mendirikan lembaga pendidikan agama yang dikhususkan untuk kaum perempuan. Karena, pada masa Pesantren Al-Mujahidin, mereka juga mendapat kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki. Gagasan mendirikan madrasah dimaksud dilatar belakangi oleh kondisi sosial perempuan pada saat itu yang tersubordinasi oleh hegemoni kaum laki-laki. Padahal keberadaannya memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Bentuk peranan aktual perempuan dalam konteks kehidupan bermasyarakat dimulai dan peranannya sebagai ibu rumah tangga dalam lingkup keluarga. Peranan ini memiliki signifikansi dalam pembentukan karakter keluarga, seperti pendidikan anak, yang akhirnya menentukan karakter masyarakat dalam lingkup yang lebih luas. Di sisi lain, gagasan pendirian madrasah khusus untuk kaum perempuan ini, merupakan pengejawantahan dari hadits Rasulullah SAW mengenai kewajiban menuntut ilmu bagi kaun perempuan sama dengan kewajiban bagi kaum laki-laki.

Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim; baik ia sebagai laki-laki maupun perempuan [Dikeluarkan oleh imam ibn Majah dalam Muqaddimahnya]. Sebagai realisasi dari pemikiran-pemikiran tersebut, maka pada tanggal 15 Rabi' al-akhir 1362 H bertepatan dengan tanggal 21 April 1943, resmilah berdiri sebuah madrasah khusus kaum perempuan yang diberi nama dengan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyyah Islamiyyah [NBDI]. Seperti halnya Madrasah NWDI, Madrasah NBDI juga memiliki makna khusus bagi pendirinya. Setidaknya karena tanggal dan bulan berdirinya dikemudian hari dikenal sebagai hari Kartini sebagai tonggak bagi kebangkitan peran aktualisasi perempuan di Indonesia. Dalam operasionalisasinya, Madrasah NBDI dipimpin langsung oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, dan dibantu oleh Ustaz Lalu Faishal, Ustaz Lalu Wildan, Ustaz Dahmuruddin Mursyid, dan Iain-lain.

46

Pada awalnya, Madrasah NBDI dipusatkan di lokasi pesantren al-Mujahidin pada sebuah bangunan yang terdiri dari tiga buah lokal, dengan waktu belajar dari pukul 13.30-17.00 WITA. Sementara materi pelajarannya mengacu kepada kurikulum Madrasah NWDI. Alumni pertama madrasah NBDI diantaranya adalah, Abidah dari Selong; Fauziah A. Aziz dari Kelayu; Rahmah dari Pancor; Hajah Zahrani; Zakiyah dari Pancor, dan Iain-lain. Menyusul pada tahun berikutnya sejumlah nama antara lain, Hajah Siti Rahmatullah; Hajah Baiq Zuhriyah Mukhtar; Baiq Fahriah; Siti Hudusiah; dan Iain-lain. Seperti halnya Madrasah NWDI, Madrasah NBDI juga mampu menghasilkan alumnialumni yang mampu mendorong berdirinya cabang-cabang Madarasah NBDI di tempat lain, yakni: 1. Madrasah Sullam al Banat di Sakra; 2. Madrasah al-Banat di Wanasaba; 3. Madrasah Is'af al-Banat di Perian; 4. Madrasah Sa 'adah al-Banat di Praya; 5. Madrasah Tanbih al-Muslimat di Praya, dan Iain-lain. D. DINAMIKA PERJALANAN MADRASAH NWDI DAN NBDI Setelah posisi kedua madrasah induk itu semakin mantap, ditambah berkembangnya cabang-cabang di berbagai daerah, maka Madrasah NWDI dan NBDI melakukan upaya-upaya pengembangan konstruktif dalam bidang kurikulum, jenjang, dan jenis madrasah sesuai dengan perkembangan zaman. Pada mulanya, semua kurikulum dan jenjang madrasah disesuaikan dengan sistem yang berlaku di Madrasah al-Shaulatiyah Makkah. Namun pada tahun 1951, tingkat Tahdbiriyah ala Makkah itu direformulasi menjadi Ibtidaiyah ala Indonesia, yaitu Madrasah Ibtidaiyah 6 tahun, dengan kompisisi 60% pengetahuan agama dan selebihnya, yaitu 40 % diberikan pengetahuan umum. Dan sebagai kelanjutannya, pada tanggal 2 November 1952 dibuka Sekolah Menengah Islam [SMI] dengan lama belajar tiga tahun. Pada tahun yang sama, dibuka pula Madrasah Mu'allimin 4 tahun, Madrasah Mu'allimat 4 tahun, dan Pendidikan Guru Agama Pertama [PGAP]. Seperti halnya tujuan pendirian SMI, madarasah dan sekolah ini juga bertujuan menampung lulusan Madasarah Ibtida'iyah 6 tahun. Selanjutnya pada tahun 1955/1956 dibuka Madrasah Muballighin dan Muballighat. Pada tahun 1957 dibuka Madrasah Mu'allimin 6 tahun dan Madrasah Mu'aliimat 6 tahun. Keduanya merupakan perubahan dari Madrasah NWDI dan NBDI. Dua tahun kemudian, pada tahun 1959, diresmikan berdirinya Madrasah Menengah Atas jMMA], Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, dan Pendidikan Guru Agama Lengkap [PGAL]. Perkembangan selanjutnya ditandai dengan dibukanya lembaga pendidikan tinggi. Dimulai pada tahun 1964, dengan didirikannya Akademi Paedagogik Nahdlatul Wathan. Selanjutnya pada tahun 1965 dibuka Ma'had Darul Qur'an Wai Hadits Al-Mahjidiyah Asy-Syafi'iyyah Nahdlatul

47

Wathan, yang mahasiswanya khusus pria dan Ma'had HI Banat yang dibuka pada tahun 1974, dengan mahasiswa khusus perempuan. Pada tahun 1977 didirikan Universitas HAMZANWADI. Universitas yang disebut terakhir di atas, pada mulanya membuka dua fakultas, yakni Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Ilmu Pendidikan. Dalam perkembangan selanjutnya, Fakultas Ilmu Pendidikan ini berubah menjadi Sekolah Tinggi llmu keguruan dan Ilmu Pendidikan [STKIP] HAMZANWADI dan Fakultas Tarbiyah dirubah menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah [STIT|. Kemudian pada tahua 1981 dibuka Sekolah Tinggi Ilmu Syari'aii [STIS], dan pada tahun 1987 dibuka Sekolah Tinggi Ilmu Hukum [STTH]. Pada tahun akademik 1987/1988 diresmikan berdirinya Universitas Nahdlatul Wathan yang berkedudukan di Mataram, Ibukota Propinsi Nusa Tenggara Barat Untuk tahap pertama dibuka 4 [empat fakultas], yaitu Fakultas Teknologi Pertanian, Fakultas Perkebunan, Fakultas

Ketatanegaraan dan Ketataniagaan [FKK], dan Fakultas Sastra [Indonesia, Arab, dan Inggris]. Disamping pendidikan tinggi, pada tahun 1974 mulai dibuka pendidikan umum, seperti Sekolah Menengah Pertama [SMP], Sekolah Menengah Atas [SMA], sekolah kejuruan, yakni Sekokh Pendidikan Guru [SPG]. Di luar madrasah, sekolah, maupun perguruan tinggi, para santri Madrasah NWDI dan NBDI melakukan kegiatan pendidikan kemasyarakatan yang diberi nama Pembeirantasan Buta Agama [PBA]. Pendidikan ini dikhususkan bagi anggota masyarakat yang tidak mampu secara ekonomi mengikuti pendidikan formal kemadrasahan. Perkembangan dibidang kurikulum, semenjak perubahan kurikulum tingkat tahdliriyyah NWDI terus berlangsung, sehingga terbentuk komposisi, sebagai berikut: 1. Madrasah dan PGA mengikuti kurikulum dari Departemen Agama. 2. Sekolah umum mengikuti kurikulum yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan [Sekarang Departemen Pendidikan Nasional] 3. Madrasah Mu'allimin dan Mu'allimat menggunakan kurikulum agama 55 % dan umum 45 %. 4. Perguruan proyek khusus Nahdlatul Wathan memakai kurikulum agama 90 % dan umum 10 %. 5. Perguruan tinggi mengacu kepada kurikulum yang ditetapkan oleh Direktoral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan kurikulum yang ditetapkan oleh Direktorat Kelembagaan Agama Islam [Bagais] Departemen Agama. Satu ciri khas pendidikan di lingkungan Nahdlatul Warhan, disamping menggunakan kurikulum agama, sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah, juga diberi pengetahuan agama, yang bersumber dari kitab-kitab karangan Imam Syafi'i. Hal ini sesuai dengan Anggaran Dasar bahwa Nahdlatul Wathan menganut mazhab Syafi'i, maka pengetahuan agama dari kitab-kitab Syafi'i adalah untuk diamalkan di kalangan warga Nahdlatul Wathan. Di samping itu juga diberikan materi pelajaran Ke-Nahdlatul Wathan-an [Ke-NW~an] sebagai suatu materi pelajaran tersendiri di lingkungan perguruan Nahdlatul Wathan pada umumnya.

48

Pesatnya perkembangan madrasah di lingkungan Nahdlatul Wathan, memberikan citra tersendiri bagi pendirinya. Sehingga ia mendapat julukan sebagai abu al-madaris wa al masajid [Bapak Madrasah dan Mesjid] oleh komunitas masyarakat Praya, Lombok Tengah. Namun demikian, perkembangan positif madrasah NWDI dan NBDI ternyata dibarengi juga dengan berbagai cobaan, tantangan, dan hambatan. Sekalipun telah mendapat izin resmi Kolonial Belanda, gelombang reaksi negatif dari orang-orang yang tidak menerima kebcradaan madrasah, tidak pernah surut. Mereka selalu mengawasi dan mencurigai perkembangan kedua madrasah tersebut. Bangunan Madrasah NWDI yang masih darurat pernah dirobohkan, tetapi dengan sabar kemudian dibangun kembali. Pondok-pondok para santri juga pernah dibakar, saat mereka sedang belajar atau istirahat. Walau berkali kali berusaha untuk membakar Madrasah NWDI, upaya mereka hanya berakhir sia-sia. Hanya sekali saja niat jahat untuk membakar itu terlaksana, itu pun hanya terbakar ditempat yang disirami dengan minyak tanah. Selain reaksi keras dari masyarakat yang anti kepada madrasah dan dari mereka yang merasa kehilangan pengaruh di tengah-tengah masyarakat, sebagai akibat dan keberadaan madrasah tersebut, kolonial Belanda dan Jepang juga turut menghambat laju perkembangannya. Ketika penjajah Jepang pertama kali masuk ke Lombok Timur, mereka berusaha melakukan pendekatan untuk memperoleh dukungan politis dari Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin. Mereka mengirim utusan untuk menemuinya. Kendati menerima baik kedatangan utusan tersebut, namun ia secara diplomatis menyatakan secara ekspHsit bahwa: "Jika Pemerintah Jepang bertindak adil, jujur, dan menghadapi rakyat dengan bijaksana tentu saja akan mendapatkan dukungan polilis dari rakyat". Namun demikian, karena memangwatak kolonialis Jepang yang arogan dan hegemonik, maka sasaran ketidakpuasan mereka dialamatkan kepada Madrasah NWDI dan NBDI, dengan menerapkan kebijakan-kebijakan yang diskriminatif. Kedua madrasah tersebut hampir saja ditutup, hanya karena penentangan terhadap praktek Saikere [menunduk seperti rukuk menghadap ke Dai Nippon sebagai bentuk penghormatan] kepada Tenno Haiko. Di sisi lain pengajian-pengajian yang dipimpin oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Masjid juga dibatasi ruang geraknya dan bahkan dilarang. Pernah suatu ketika ia didatangi oleh seorang utusan dari pemerintah Jepang yang berkedudukan di Selong Lombok Timur. Kedatangannya bertujuan untuk menanyakan maksud pendirian Madrasah NWDI dan NBDI, serta materi pelajaran diberikan pada kedua madrasah tersebut. "Setelah tamat di sekolah ini, murid-muridnya akan menjadi apa saja? Apakah akan menjabat di kantor distrik atau pejabat lainnya? Tanya utusan jepang ini kepada Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin. "Ooo, mereka ini akan menjadi imam masjid dan penghulu,"Jawabnya berdiplomasi.

49

Dengan jawaban itu, utusan Jepang ini merasa cukup puas. Kemudian la kembali untuk memberi laporan lagi kepada atasannya. Namun beberapa hari kemudian utusan itu datang lagi. Ternyata ada beberapa pertanyaan yang belum dikemukakan. la melihat-lihat perpustakaan lalu mengambil sebuah kitab yang berbahasa Arab. "Apa saja yang diajarkan di sekolah ini?, 'tanya utusan Jepang itu. Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin kemudian menyebutkan beberapa mata pelajaran dan kitab yang biasa diajarkan. Utusan Jepang itu terbengong-bengong tidak mengerti. "Coba buka buku ini!, "perintah utusan itu. la kemudian membaca buku yang disodorkan Jepang itu. Cepat sekali. Namun belum lagi habis setengah halaman, utusan itu menyuruhnya berhenti. "Ar tikan!, "sergah utusan itu. la mengartikan bagian yang dibaca itu seenaknya saja, sekedar membuatnya senang. Mendengar ungkapan tersebut utusan itu tampaknya puas, lalu pulang ke markas. Namun tak berselang lama, datang lagi utusan lainnya. Utusan kali ini mengulang pertanyaan yang pernah diajukan oleh utusan sebelumnya. "Bahasa apa yang tuan baca tadi?, "tanyanya setengah membentak. "Bahasa Arab, "jawab Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin dengan singkat. "Mengapa yang diajarkan bahasa Arab?, "kejarnya. "Karena memang bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur'an,"jawabnya. Utusan itu nampak bingung dan sepertinya kehabisan pertanyaan. "Pokoknya madrasah harus ditutup, sampai ada ketegasan dari penguasa jepang di Bali, "ujarnya. Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin mentaati perintah jepang itu. Namun, beberapa hari kemudian datang surat kawat [telegram] dari penguasa Jepang di Bali yang membolehkan Madrasah NWDI dan NBDI terus beroperasi, dengan persyaratan diganti namanya menjadi Sekolah Imam dan Penghulu. Sebetulnya kecurigaan pemerintah Jepang kepada Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin cukup beralasan. Sebab, diam-diam ia menyusun gerakan bawah tanah dengan simpul gerakan bernama Gerakan Mujahidin. Gerakan ini dipimpin oleh Tuan Guru Haji Muhammad Faishal dan Tuan Guru Haji Ahmad Rifa'i. Puncak dari kegiatan gerakan ini terjadi ketika melakukan perlawanan terhadap tertara NICA [Netherland Indies Civil Administration] di Selong. Perlawanan dipimpin langsung oleh Tuan Guru Haji Muhammad Faishal dengan mengerahkan milisi yang berkekuatan 500 orang untuk menyerbu markas NICA. Dengan senjata bambu runcing dan pedang, para milisi melakukan penyerangan secara terbuka. Akibatnya, Tuan Guru Haji Muhammad Faishal [adik kandung Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin] gugur dalam pertempuran tersebut bersama dua orang muridnya, yakni Sayyid Muhammad Sholeh dari Pringgasela dan Abdullah dari Rempung. Sedangkan Tuan Guru Haji Ahmad Rifa'i dan Haji Muhammad Yusi Muhsin [salah seorang ustadz di Madrasah NWDI dan NBDI] tertangkap dan ditahan di Bali. Haji Ahmad Rifa'i bahkan pernah dibuang ke Ambon.

50

Dengan kondisi dan situasi seperti ini, apalagi sikap kolonial Jepang pada saat itu, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin berusaha untuk bersabar dan bertawakkal sembari mengajak santri dan jatna'ahnya untuk berdo'a dan mengamalkan Hizib Nahdlatul Wathan dan Hizib Nahdlatul Banat [Tentang Hizb Nahdlat al~Wathan, lihat bagian buku ini]. Berkat hizib yang selalu dipanjatkan dan didengungkan oleh santri dan jama'ah tersebut, pertolongan Allah pun datang. Penentang dan musuh Madrasah NWDI dan NBDI semakin berkurang dan kolonial Jepang yang dulunya bersikeras menutup dan membubarkan madrasah tersebut, membolehkan Madrasah NWDI dan NBDI tetap beroperasi . seperti biasa. Padahal sekolah-sekolah agama atau madrasah di seluruh wilayah Indonesia waktu itu ± 60% ditutup dan dibubarkan oleh Jepang. Namun demikian, rangkaian cobaan, tantangan, dan hambatan yang dihadapi dalam pengembangan Madrasah NWDI dan NBDI, sempat membuat kemapanan psikologis Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sedikit goyah. Betapa tidak, orang tuanya telah meninggal dunia. Demikian juga saudaranya, Tuan Guru Haji Muhammad Faishal. Sementara saudaranya yang lain, Tuan Guru Haji Ahmad Rifai'i berada di tempat pengasingan. Paling tidak mereka inilah dari kalangan keluarga yang senantiasa menjadi tulang punggung perjuangannya. Oleh sebab itu, pada kesempatan ia percayai menjadi Amir al Haj dari Negara Indonesia Timur [NIT] pada tahun 1947, terbersit dalam pikirannya untuk meninggalkan perjuangan mengembangkan madrasah dan memilih untuk menetap di Makkah. Keinginan ini diutarakan kepada gurunya, Syeikh Hasan Muhammad al-Masysyath ketika berada di Makkah. Namun, niatan tersebut ditolak, dengan alasan keberadaannya masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat di Pulau Lombok. Penolakan gurunya inilah yang dijadikan pemicu semangat baru untuk melanjutkan aktivitasnya di bidang dakwah dan pendidikan. Pasang surut dinamika ini bermuara pada keberhasilannya menjadikan Madrasah NWDI dan NBDI sebagai basis perjuangannya untuk mengembangankan pendidikan dan dakwah Islamiyah di Pulau Lombok. Dan kedua madrasah itu digambarkan sebagai Dwi Tunggal Pantang Tanggal.

51

PERTEMUAN IX & X Setelah Mempelajari Modul Ini Anda Diharapkan Mampu: 1. Menjelaskan Latar Belakang Berdirinya Organisasi Nahdlatul Wathan 2. Menjalaskan Makna Filosopis Nahdlatul Wathan 3. Menjelaskan Aqidah, Azas, dan Tujuan Organisasi Nahdlatul Wathan 4. Menjelaskan Perkembangan Organisasi Nahdlatul Wathan 5. Menjelaskan Keorganisasian Nahdlatul Wathan 6. Menjelaskan Pasang Surut Perkembangan Nahdlatul Wathan ORGANISASI NAHDLATUL WATHAN Organisasi secara leksikal diartikan sebagai kesatuan (susunan dan sebagainya) yang terdiri atas bagian-bagian (orang dan sebagainya). Di dalam perkumpulan dan sebagainya untuk tujuan tertentu; kelompok kerjasama antara orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama. Sedangkan secara terminologis menurut The Liang Gie, dapat dikatagorikan kedalam tiga mainstream yaitu system kerja sama; sekelompok orang bekerjasama; dan proses pembagian kerja. Sebagai reftrensi dari masing-masing kelompok pengertian diatas dapat dikemukakan beberapa pengertian yang dikemukan oleh para ahli, antara lain: 1. Lois Allen dalam managemen and Organization mengartikannya sebagai ― A System of will defined jobs, each bearing a definite measture of authority, responsibility, and accountability the whole consciously designed to enable the people of the interprise to whork more effectively together in accomplishing their objectives” ( suatu system mengenai pekerjaan yang dirumuskan dengan baik, masing-masing pekerjaan itu mengandung sejumlah wewenang, tugas dan tanggung jawab tertentu, keseluruhannya disusun secara sadar untuk

memungkinkan orang-orang dari organisasi tersebut bekerjasama secara lebih efektif untuk mencapa tujuan mereka. 2. Daniel Griffith dalam the Administrative Theory, mengartiaknnya sebagai ― An Essambel of Individuals who program distinct but interrelatilated and coordinated function in order that one or more tasks can be completed” (kumpulan individu – individu yang melaksanakan fungsifungsi yang berbeda, tapi saling berhubungan dengan dikoordinasikan agar sebuah tugas atau lebih dapat diselesaikan) 3. Dexter Kimbal dan Dexter Kimbal Jr, dalam Priciples of Industrial Organizatin Menyatakan: Organization is subsidiary to management. It embraces the duties of designating the department of personal that are to carry on the work, defining their fuction Organisasi nahdlatul wathan, yang selanjutnya disingkat NW, adalah sebuah

organisasi sosial kemasyarakatan yang bergerak dalam bidang pendidikan,social,dan dakwah

52

Islamiyah.Organisasi ini didirikan oleh Tuan Guru

Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul

Madjid pada hari ahad tanggal, 15 Jumadil Akhir 1372H bertetapan dengan tanggal 1 Maret 1953 M di Pancor Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Adapun yang melatarbelakangi berdirinya organisasi ini adalah karena melihat pertumbuhan dan perkembangan cabang-cabang Madrasah NWDI dan NBDI begitu pesat, disamping perkembangan aktivitas social lainnya, seperti majlis dakwah dan majlis ta‘lim dan lainnya. Untuk itu diperlukan suatu wadah atau organisasi yang mewadahi dan mengorganisir segala macam bentuk kebutuhan dan keperluan pengelolaan lembaga-lembaga tersebut secara professional. Untuk mempersiapkan perangkat-perangkat organisasi dimaksud, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid memeritahkan beberapa orang muridnya, seperti Haji Abdul Kadir Ma‘arif, Haji Abdurrahim,SH., H.Muhammad Sam‘an Hafs untuk menyusun Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga [AD/ART] dan membuat lambang organisasi Nahdlatul Wathan. Setelah nama, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, dan lambang organisi dirampungkan, maka pada hari Ahad, 15 Jumadil Akhir 1372H bertepatan dengan 1 Maret 1953M. organisasi Nahdlatul Wathan [NW] secara resmi dideklarasikan oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid di Pancor Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat [NTB], yang dihadiri oleh pejabat pemerintahan daerah Lombok, Pemimpin Masyumi daerah Lombok, pengurus cabang-cabang Madrasah NWDI dan NBDI se pulau Lombok, para Alumni dan murid-murid dari NWDI dan NBDI. Satu tahun lebih setelah pendeklarasian organisasi, pada tanggal 22-24 Agustus 1945 di Pancor Lombok Timur diadakan Muktamar I organisasi Nahdlatul Wathan, yang dihadiri oleh seluruh pengurus cabang Madrasah NWDI dan NBDI serta para santri madrasah. Muktamar I Organisasi Nahdlatul Wathan ini, berhasil mengambil keputusan-keputusan, sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. Susunan Pengurus Besar Nahdlatul Wathan [PBNW] Biro-Biro dalam Kepengurusan PBNW Pengesahan Lambang Organisasi yang terpisah dari lambang Madrasah NWDI Penetapan kedudukan PBNW di Pancor, Lombok Timur Penetapan program kerja masa bakti 1953-1958 Adapun Susunan Pengurus Besar Nahdlatul Wathan masa bakti tahun 1953-1958 adalah sebagai berikut : Ketua umum Wakil Ketua Sekjen : TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid : H. M. Yusi Muhsin Aminullah : H. Abdul Qadir Ma‘arif

53

Wakil Sekjen Bendahara Wakil Bendahara Kemudian

: H. Moh. Bushairi : Tuan Guru H.M. Saleh Yahya : Tuan Guru H. Alimuddin dalam rangka konsolidasi organisasi ,Nahdlatul Wathan telah

melaksanakan rapat anggota untuk tingkat ranting, konfrensi untuk tingkat Anak Cabang, Cabang, Daerah, Wilayah dan Perwakilan. Sedangkan untuk tingkat Pengurus Besar diselenggarakan muktamar. 2. Legalitas Organisasi Sebagai sebuah organisasi formal, eksistensi Nahdlatul Wathan mendapatkan legalitas yuridis formal berdasarkan akte Nomor 48 tahun 1957 yang dibuatbdan disahkan oleh notaries Pembantu Hendrix Alexsander Malada di Mataram. Akte ini bersifat sementara, karena wilayah yuridiksinya hanya di pulau Lombok, sehingga ttidak memungkinkan untuk mengembangkan organisasi ke luar wilayah yuridiksi tersebut. Untuk itu, dibuat akte nomor 50, tanhhal 25 Juli 1960, di hadapan Notaris Sie Ik Tiong di Jakarta. Kemudian pengakuan dan penetapan juga diberikan oleh Mentri Kehakiman Republik Indonesia No. J.A.5/ 105/5 tanggal 17 Oktober 1960, dan dibuat dalam Berita Negara republic Indonesia nomorr 90, tanggal 8 November 1960. Dengan legalitas aktee kedua ini, maka organisasi Nahdlatul Wathan mempunyai kekuatan hokum tetap untuk mengembangkan organisasinya keseluruh wilayah Republik Indonesia dari sabang sampai Maroke, sehingga setelah tahun 1960, maka terbentuklah pengurus Nahdlatul Wathan di Bali, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, daerah Istimewa Yogyakarta, Jakarta, Kalimatan, Sulawesi dan lain-lainnya, bahkan sampai ke dawrah Riau dengan status perwakilan. Dengan adanya Undang- Undang Nomor 8 tahu n 1985 tentang keormasan yantg antara lain berisi tentgang penerapas Asas Tunggal bagi semua organisasi kemasyarakatan, maka Nahdlatul Wathan dalam Muktamar ke -8 di Pncor, Lombok Timur pada tanggal 15-16 Jumadil Akhir 1406 H atau tanggal 24-25 Februarai 1986 mengadakan peninjauan dan penyempurnaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi. Perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ini kemudian dilakukan dengan akte Nomor 31 tanggal 15 Februari 1987 dan Akte Nomor 32, juga tanggal 15 februari 1986, yang dibuat dan disahkan oleh Wakil Notaris sementara Abdurrahim, SH. Di Mataram. Dengan demikian, maka jelaslah eksistensi dan legalitas formal organisasi Nahdlatul Wathan sebagai sebuah organisasi social kemasyarakatan. 3. Aqidah, Asas, Tujuan dan Ruang lingkup Organisasi Organisasi Nahdlatul Wathan menganut faham aqidah Islam Ahl al- Sunnah wa al-Jamaah „ala madzhib al-mam al-syafi‟i dan berasaskan Pancsila sesuai dengan Undang- Undang Nomor 8 tahun 1985. Sejak awal berdirinya, Muktamar ke-3, dan kemudian diganti dengan Ahl al- Sunnah wa al-

54

Jamaah „ala madzhib al-mam al-syafi‟i. perubahan ini terjadi mengingat khittah perjuangan kedua madrasah induk, NWDI dan NBDI. Adapun sebagai landasan argumentasi NW menganut akidah ahlussunnah wlajama‘ah dan bermadzhab imam safi‘I ra adalah sebaagai berikut:

1. Sabda Nabi Muhammad SAW zyang dirawatkan oleh Iman Tirmidzi dan Imam Al bUkhari
dalam Tarikh al kabir, albaihaqi dalam syuah al Imam, Abu dawud, Ibnu HUzaimah, Ibnu Hibban dan lain-lain yang artinya “hendaklah kamu bersama golongan terbesar dan pertolongan Allah SWT selalu bersama golongan mayoritas, maka barang siapa yang memisahkan diri (dari komunitas jamaah) maka mereka termasuk kedalam golongan orang ahli-ahli neraka”

2. Fakta sejarah menunjukan bahwa mayoritas ummat islam sedunia dari abad kea bad
adalah Ahl al-sunnah wa al-jama‘ah dan bermadzhab dengan salah satu madzhab yang empat sejak lahir madzhab itu

3. Umat Islam Indonesia sejak awal telah menganut aqidah Ahl al-sunnah wa al-jama‘ah dan
menganutt madzhab Syafi‘I sejak madzhab masuk ke Indonesia.

4. Imam-imam Hufadz al hadist yang telah hafal berates-ratus hadist yang diakui oleh kawan
atau lawan akan keimanan, ketaqwaan dan keahlian mereka serta keterangan mereka telah menjadi pokok da dasar pegangan umat Islam Indonesia sedunia sesudah Al-Qur‘an Al karim seperyi Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Turmudzi, Imam Baihaqi, Imam Nasa‘I, Imam Ibnu Majah, Imam Hakim dan lainnya dari ratusan Imam ahl alhadist. Semuanya menganut Ahl al-sunnah wa al-jama‘ah dan bermadzhab Syafi‘I atau yang lainnya dari madzhab yang empat. Demikian juga dari Imam-Imam dan ulama fiqh ushul, tasawwuf merekapun menganut aqidah Ahl al-sunnah wa al-jama‘ah dan juga beermadzhab.

5. Jumhur Ulama ushul menandaskan bahawa orang yang belum sampai tingkatan ilmunya
pada tingkatan mujtahid muthlaq maka wajib bertaqlid kepada salah satu madzhab empat dalam msalah furu‘ syari‘ah.

6. Fuqaha Ahl al-sunnah wa al-jama‘ahmengatakan bahwa bermadzhab bukan berarti
membuang atau membelakangi Al-Qur‘an dan Hadist seperti tuduhan sementara orang. Namun sebaliknya bermadzhab adalah benar-benar mengikuti Al-Qur‘an an hadist karena kitab kitab itu adalah syarah dari Al Qur‘an dan hadist.

7. Imam Sayuti yang hidup pada awal abad 10H yang terkaenal sangat ahli dalam berbagai
disiplin ilmu pengetahuan Islam. Karangan karangan beliau kurang lebih 600 buah kitab yang sangat penting dan bernilai tinggi dikalangan Islam. Beliau memperoleh gelar‖ Amir alMukminin Fi alhadist (Raja Ummat Islam dalam Ilmu hadist) karena beliau telah menghafal ratusan ribu hadist. Pernah beliau suatu ketika menyatakan dirinya mencapai tingkat

55

mujtahid dan terlepas dari bmadzhab yang diantaranya, yaitu madzhab Syafi‘I. maka segeralah beliau diserang oleh para imam ulam fiqh , mufassir, muhaddist, dan ahli ushul dengan alas an dan dalil yang jitu dan tepat, akhirnya beliau dengan jujur dan penuh kesadaran mencabut pernyataannya kembali bertaqlid serta bermadzhab “Sesungguhnya Ibnu Idris (Imam Syafi‟i) sangat tepat dan meyakinkan Ilmunya bersih tidak diragukan Dia keturunan bangsawan Quraiisy Tuan rumah lebih mengetahui (isi rumahnya) menyanjung

Imam Syafi,I dengan untaian syairnya yang terkenal dikalangan ulama sebagai berikut:

8. Madzhab Syafi‘I dilihat dari segi sumber dan dasarnya, lebih unggul dibandingkan dengan
madzhab-madzhab yang lain. Sedangkan tujuan organisasi ini adalah li I‟lai Kalimatillah wa Izzal Islam wa al- muslimin dalam rangka mencapai keselamatan serta kebahagian hidup didunia dan diakhiratsesuai dengan ajaran Islam Ahl al-sunnah wa al-jama‘ah ‗ala Madzhabil al-Imam Syafi‘I r.a.

Tujuan ini merupakan penggabungan dari tujuan organisasi sebelum undang-undang nomor 8 tahun 1985 diberlakukan. Peserta Muktamar ke-8 menghendaki agar asas organisasi terdahulu tidak dihilangkan dengan adanya ketentuan Asas Tunggal. Kompromi yang dapat dilakukan adalah memindahkan pernyataan tentang asas Islam tersebut kedalam tujuan organisasi, sehingga makna esensial asas tersebut tidak hilang.

Dalam upaya mencapai tujuan organisasi diatas ditetapkan ruang lingkup usaha Organisasi Nahdlatul Wathan sepaerti yang termuat dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, yang berbuyi sebagai berikut: a) Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran melalui Pondok Pesanteren, Diniyah,

Madrasah/Sekolah ditingkat Taman Kanak-Kanak sampai dengan Perguruan Tinggi,kursus-kursus, serta meningkatkan dan menyempurnakan pendidikan, pengajaran dan kebudayaan. b) Menyelengarakan kegiatan social seperti menyelenggarakan Pantai Asuhan, Asuhan Keluarga, Rubhat/ Pondok/Asrama Pelajar/Mahasiswa, Pos Kesehatan Pondok Pesantren (POSKESTREN), Balai Pengobatan, Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA), Klinik Keluarga Sejahtera Dan Rumah Sakit. c) Menyelenggarakan Dakwah Islamiyah melalui pemgajian (majelis dakwah/ majelis ta‘lim) tabligh, Penerbitan, mengembangkan Pusat Informasi Pondok Pesanteren dan media lainnya. d) Menyelenggarkan usaha-usaha lain yang tidak bertentanga dengan ajaran Islam dan tidak merugikan Nahdlatul Wathan dengan mengindahkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di dalam Negara Republik Indonesia

56

Dari usaha-usaha yang dilakukan oleh organisasi Nahdlatul Wathan diatas, terlihat bahwa organisasi bergerak di bidang pendidikan, social dan dakwah. 4. Lambang Organisasi Lambang organisasi Nahdlatul Wathan adalah ―Bulan Bintang Bersinar Lima‖ dengan warna gambar putih dan warna dasar hijau. Lambang ini memiliki makna sebagai beirkut : a) Bulan melambangkan Islam b) Bintang melambangkan iman dan takwa c) Sinar lima melambangkan rukun islam d) Warna gambar putih melambangkan ikhlas dan istiqomah e) Warna dasar hijau melambangkan selamat dunia dan akhirat 5. Hubungan Kerjasama Organisasi Nahdlatul Wathan sebagai organisasi social dan kemasyarakatan yang bergerak dalam bidang pendidikan, social dan dakwah islamiyah, berusaha mengadakan hubungan kerjasama yang baik dan saling menguntungkan dengan semua pihak, baik dengan lembaga pemerintah, swasta, lembaga social kemasyarakatan lainnya, baik nasional dan internasional. Hubungan kerjasama ini dilakukan tidak merugikan organisasi Nahdlatul Wathan dan dilakukan dalam rangka meningkatkan dan memeliharakan ukhuwah islamyah maupun ukhuwah basyariyah serta perdamaian dunia. Disamping itu kerjasama ini dilakukan dalam rangka menghidupkan semangat gotong royong atau tolong menolong beramal saleh ditenah-tengah masyarakat untuk mencapai persatuan dan persatuan bangsa dan mewujudkan cita-cita pembangunan nasional. Namun, organisiasi ini tidak berafiliasi dan tidak merupakan representasi dari partai politik dan organisasi social manapun. 6. Badan-Badan Otonom Oganisasi Organisasi Nahdlatul Wathan merupakan organisasi kader, yang memiliki badan-badan otonom sebagai wahana pengkaderan bagi kader-kader organisasi di masa depan. Badan-badan organisasi tersebut terdiri dari : 1. Muslimat Nahdlatul Wathan (Muslimat NW) 2. Pemuda Nahdlatul Wathan (Pemuda NW) 3. Ikatan Pelajar Nahdlatul Wathan (IPNW) 4. Himpunan Mahasiswa Nahdlatul Wathan (HIMMAH NW) 5. Persatuan Guru Nahdlatul Wathan (PGNW) 6. Jam‘iyautul Qura‘al Huffazh Nahdlatul Wathan 7. Ikatan Sarjana Nahdlatul Wathan (ISNW) 8. Ikatan Putri Nahdlatul Wathan (Nahdliyat NW) 9. Badan Pengajian, Penerangan dan Pengembangan Masyarakat Nahdlatul Wathan (PB3M)

57

Badan-badan otonom ini masing-masing mempunyai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang ridak boleh bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Organisasi Nahdlatul Wathan. Badan-badan otonom ini bila mana hendak mengadakan hubungan atau tindakan keluar harus terlebih dahulu mendapa persetujuan Pengurus Besar dan restu Dewan Mustasyar Pengurus Besar. 7. Jargon Organisasi Organisasi Nahdlatul Wathan memiliki jargon yang pundamental upaya membangkitkan semangan perjuangan islam dan kebangsaan. Jargon ini sebagai refleksi dari esensi perjuangan kedua madrasah induk yakni madrasah NWDI dan NBDI, dan Pesantren Al-Mujahidin. Jargon ini tersimpul dalam kalimat “Pokoknya NW dan Pokoknya NW Iman dan Taqwa”. Secara historis munculnya jargon ini merupakan perpaduan gagasan antara Drs. H. L. G. Wiresentane (Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan Periode 1986 – 1991) yang menghendaki agar warga Nahdlatul Wathan tetap mempertahankan Nahdlatul Wathan dan gagasan Tuan Guru Kiayi Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid yang menegaskan bahwa pokok perjuangan Nahdlatul Wathan adalah memperjuangan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan. Dari penggagas pertama lahirlah pernyataan ―Pokoknya NW‖ dan dari yang kedua melahirkan pernyataan ―Pokok NW, Iman dan Taqwa‖. Lahirnya gagasan bersambut ini berawal ketika sejumlah calon mahasiswa Universitas Hamzanwadi Pancor mendatangi Drs. H. L. G. Wirasentane untuk meminta tanda tangan dalam rangka kegiatan BISMA (Bimbingan Studi Mahasiswa) Tahun Akademik 1981-1982. Dalam kesempatan itu ia menjelaskan tentang garis-garis perjuangan Nahdlatul Wathan yang perlu dipegang teguh sebagai pegangan dalam berorganisasi. Atas dasar ia sampai pada penyebutan ―Pokoknya NW‖. Mendengar pernyataan ini, Tuan Guru Kiayi Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid yang ketika itu berada diruang istirahat menimpali dengan pernyataan ―Pokoknya NW, Iman dan Taqwa‖. Kedua rangkaian pernyataan ini kemudian menjadi jargon organisasi Nahdlatul Wathan. Pokoknya NW berarti modal perjuangan warga Nahdlatul Wathan adalah Nahdlatul Wathan. Sedangkan pokoknya NW, Iman dan Taqwa berarti dalam aktualisasi perjuangan warga Nahdlatul Wathan tidak boleh lepas dari frame Iman dan Taqwa. Iman dan Taqwa adalah basis sekaligus tujuan perjuangan Nahdlatul Wathan. 8. Kiprah Organisasi a. Bidang Pendidikan Titik tekan [stressing] perjuangan organisasi Nahdlatul Wathan adalah pada kerja-kerja cultural, yakni dalam bidang pendidikan, social, dan dakwah. Hal ini sesuai dengan perumusan hasil muktamar Nahdlatul Wathan ke-4 pada tanggal 12 Agustus 1963 dan tertuang dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga pada Bab I ayat 3.

58

Bidang pendidikan merupakan basis pertama dari pergerakan Nahdlatul Wathan. Hal ini dapat dilihat dari upaya Tuan Guru Kiayi Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid dalam membentuk kader-kader Nahdlatul Wathan yang mempunyai basis keilmuan yang seimbang antara ilmu agama dan pengetahuan umum. Sebagai basis argumentasi dari tesis ini adalah klasifikasi ilmu pengetahuan yang diaujukan oleh Tuan Guru Kiayi Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid menurutnya, ilmu-ilmu ini secara keseluruhan terbagi menjadi dua, yakni ilmu syari‘ah dan ilmu syara‘. Perbedaan diantara keduanya terletak pada peletak dasarnya. Yang pertama peletak dasarnya adalah syari [yakni Allah SWT] dan khusus menyangkut kisaran syari‘ah, sedankan yang terakhir bisa saja peletak dasarnya adalah Allah SWT atau bukan, akan tetapi menuntut dan mendalaminya diperbolehkan oleh syari‘ah. Ilmu-ilmu syari‘ah dititik beratkan pada nilai-nilai keimanan dan moralitas

keberagamaan, sehingga akan tercipta sebuah internalisasi keberagamaan dalam kehidupan. Sedangkan ilmu-ilmu syara‘ dititik beratkan pada konsep-konsep kognitif yang dapat memajukan peradaban secara lahiriyah. Kedua harus berinteraksi pada setiap individu. Berititk tolak dari asumsi-asumsi ini, maka hakika pendidikan adalah

mengaktualisasikan secara optimal peran-peran kekhalifahan manusia di muka bumi. Khalifah, sebagai manifestasi dari penciptaan manusia mempunyai fungsi untuk memelihara tata nilai [agama] dan mengatur tata kehidupan [siyasab]. Untuk merealisasikan pokok-pokok pemikiran mengenai pendidikan diatas, maka Nahdlatul Wathan berusaha untuk membangun isntitusi-institusi pendidikan yang variatif, yakni dengan mendirikan sekolah-sekolah agama dan sekolah-sekolah umum, seperti Madrasah Ibtidaiyah disatu sisi dan Sekolah Dasar disisi yang lain, Madrasah Tsanawiyah dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Madrasah Aliyah dan Sekolah Menengah Umum, Perguruan Tinggi Agama Islam dan Perguruan Tinggi Umum serta kursus-kursus keterampilan seperti kursus menjahit, petukangan, elektronik, montir, dan lain-lain. Adapun sebagai sarana penunjang untuk merealisakan sisi pendidikan ini, maka Tuan Guru Kiayi Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid semenjak awal telah melakukan upaya untuk mengirim kader-kader Nahdlatul Wathan yang potensial untuk mengambil spesialisasi ilmu-ilmu umum ke berbagai Universitas di Pulau Jawa. Disamping itu, Nahdlatul Wathan juga berusaha melakukan kerjasama dengan berbagai institusi pendidikan dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan misalnya dengan mendatangkan tenaga pengajar dari institusi pendidikan lain didalam dan diluar daerah. Hal ini antara lain dapat dilihat dari kerjasama STKIP Hamzanwadi Nahdlatul Wathan dengan Universitas Mataram, Universitas Udayana Bali dan Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Disamping upaya pengadaan sarana penunjang dibidang Sumber Daya Manusia [SDM], Nahdlatul Wathan juga berupaya untuk mengadakan sarana penunjang kegiatan belajar

59

mengajar, seperti pengadaan laboraturium fisika, biologi, bahasa, perpustakaan, dan areal untuk pengembangan teknologi pertanian, peternakan dan perikanan. Berkaitan dengan pendidikan agama di sekolah, penting untuk dijadikan sebagai sebuah catatan sejarah, bahwa Madrasah NWDI sebagai cikal bakal Nahdlatul Wathan semenjak awal telah menetapkan pendidikan agama islam sebagai bagian dari mata pelajaran yang harus diajarkan di sekolah. Sementara politik pendidikan pada zaman colonial Belanda tidak mengakui eksistensi pendidikan agama di sekolah. Dalam artian, bahwa pihak pemerintah bersifat netral agama, tidak mau mencampuri masalah pendidikan agama menurut mereka, pendidikan agama merupakan tanggung jawab keluarga, sehingga aspirasi rakyat dalam Volkstraad untuk memasukkan pelajaran agama di sekolah selalu mendapat perlawanan dari kolonial. Secara kuantitatif, lembaga-lembaga pendidikan di Nahdlatul Wathan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan secara segnifikan. Dipusat Nahdlatul Wathan sendiri sebagai tempat lahirnya oganisasi tersebut telah berdiri sejumlah bangunan sekolah atau madrasah diatas tanah seluas 17 hektar. Bangunan tersebut semuanya permanen, diantaranya gedung Madrasah NWDI, Madrasah NBDI, Taman Kanak-Kanak, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah Muallimin, Madrasah Tsawaniyah Muallimat, Madrasah Aliyah Muallimin, Madrasah Aliyah Muallimat, Madrasah Aliyah Keagamaan Putra, Madrasah Aliyah Keagamaan Putri, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, SMP, SMA, Institut Agama Islam Hamzanwadi, Perpustakaan Birul Walidain, Ma‘had Darul Qur‘an wa al-Hadits, Asrama Pelajar, Asrama Panti Asuhan Darul Aitam, MushallaMushalla dan beberapa buah gedung perkantoran. Untuk mengelola lembaga-lembaga, khususnya lembaga pendidikan yang berada pusat organisasi Nahdlatul Wathan, telah dibentuk sebuah Yayasan yang diberi nama Yayasan Pendidikan Hamzanwadi. Nama ini dianbil dari akronim nama pendiri Nahdlatul Wathan. Penamaan ini erat kaitannya dengan proses pendirian yang dilakukan sendiri olehnya. Sebelum adanya Yayasan Pendidikan Hamzanwadi, pada awalnya di dirikan Yayasan Waqaf Al-Majidiyah dengan akte nomor 1 tanggal 3 Januari 1965 dan Yayasan Birul Walidain. Yayasan ini di dirikan sebagai wadah permbiaan kesejahteraan, pemeliharaan dan pengembangan Pondok Pesantren Darunnahdlatain sebagai pusat pendidikan Nahdlatul Wathan. Dalam pengembangan selanjutnya Yayasan Waqaf Al-Majidiyah dan Yayasan Birul Walidain digabung menjadi satu, sehingga terbentuklah Yayasan Pendidikan Hamzanwadi. Yayasan ini dibentuk dan formalisasikan dengan akte nomor : 224 tanggal 27 September 1982, oleh wakil notaris sementara Abdurrahim, SH dan diresmikan pada tanggal 27 Desember 1982 bertepatan dengan 11 Rabiaul Awal 1403 Masehi, oleh Tuan Guru KIayi Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid

60

b. Bidang Sosial dibidang social Nahdlatul Wathan berupaya untuk mensejahterakan kehidupan social masyarakat dengan kerja-kerja social. Kerja-kerja tersebut merupakan respon terhadap problemproblem social yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Pendekatan yang digunakan adalah dengan mengimplementasikan konsep aktivitas social yang berbasis community development (pengembangan masyarakat). Secara konsepsional community development berusaha untuk membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap masalah-masalah yang dihadapi, dengan menumbuh – kembangkan partisipasi aktif masyarakat dalam mencari solusi terhadap persoalan yang dihadapi secara mandiri. Pada tahap berikutnya berusaha memfasilitasi solusi kreatif masyarakat tersebut, baik secara mandiri maupun secara bekerja sama dengan pihak-pihak atau instansi-instansi terkait. Pada akhirnya sebuah kesejahteraan merupakan hasil dari kemandiriaan masyarakat untuk mengatasi masalah-masalahnya sendiri. Menurut Abdullah Syarwani, sekurang-kurangnya, ada empat peran utama dari agen pembangunan dalam melakukan pengembangan masyarakat yaitu: 1 sebagai katalisator,

menggerakkan masyarakat agar mau melakukan perubahan, 2 sebagai pemberi pemecahan persoalan; 3 Sebagai pembantu proses perubahan, membantu dalam proses pemecahan masalah dan penyebaran informasi, serta member petunjuk bagaimana: a mengenali dan merumuskan kebuttuhan, b mendiagnosa permasalahan dan menuntukan tujuan, c mendapatkan sumber-sumber yang relevan, dmemilih atau menciptakan pemecahan masalah, dan 4 Sebagai penghubung dengan sumber-sumber yang diperlukan untuk pemecahan masalah yang dihadapi. Nahdltul Wathan dalam upaya merealisir program sosialnya mengajukan beberapa agenda kerja antara lain mendirikan panti asuhan dan asuhan keluarga diberbagai tempat kedudukan organisasi. Disamping itu mengalokasikan dana bi‟sah untuk program beasiswa bagi kader-kader yang potensial. Selain itu kerja-kerja social yang dilakukan oleh Nahdlatul Wathan adalah mendirikan klnikklinik keluarga sejahtera untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat sekaligus sebagai mitra pemerintah dalam mensukseskan program kependudukan dan lingkungan hidup. Sehingga sejak tahun 1975, Nahdlatul Wathan telah mengadakan kerjasama dengan Badana Koordinasi Keluarga Berencana Provinsi Nusa Tenggarra Barat, dari Ttahun 1979 sampai tahun 1983, Nahdlatul Wathan telah mengadakan kerjasama dengan Pathfinder Fund, Boston USA. Bentuk kerjasama ini antara lain bbantuan alat-alat kontrasepsi, penerangan dan motivasi, latihan tenaga home visitor dan supervisor. Kemudian pada kerja sama tahap kedua tahun 1984-1985 dalam bentuk penataran bagi Pimpinan Muslimat Nahdlatul Wathan mengenai pengaruh perkawinan dan kehamilan pada usia muda. Dan pada tahap selanjutnya bekerjasama dalam bidang Kependudukan dan Keluarga Berencanaini ditangani oleh badan pengkajian, Penerangan dan Pengemabangan Masyarakat Nahdlatul Wathan (BP3M NW).

61

Erat kaitanya dengan Program Kependudukan dan Keluarga Berencana (KB) ini, Nahdlatiil Watahan melalui badan pengkajian Penerangan dan Pengembangan Masyarakat Nahdlatul Wathan (BP3M NW) telah ditunjuk ooleh pemerintah Cq. Departemen Agama untuk melaksanakan salah satu program pemerintah dalam bidang kesehata, yaitu program kelangsungan hidup anak yang merupakan kerja sama antara pemerintah Indonesia dan UNICEF yaitu badan kesehatan dunia untuk masalah anak-anak. Program ini merupakan hasil rekomendasi dari penelitian 3 doktor dari Universitas Diponogoro yang ditunjuk sebagai konsultan UNICEF untuk meneliti masalah kesehatan Ibu hamil dan balita di Nusa Tenggara Barat. Hasil penelitian tersebut menunjukka bahwa Nusa Tenggara Barat mengalami krisis kematian ibu hamil dan balita yang cukup tinggi jauh diatas rata-rata nasional. Bahkan Nusa Tenggara Barat termasuk wilayah yang paling kritis di seluruh Indonesia dengan menempati peringkat ke 27 Sebagai bentuk operasioanal dari program kelangsungan hidup anak, maka pemerintah mengajak para tokoh agama di Nusa Tenggara Barat untuk bekerja sama dalam menanggulangi persoalan tersebut. Sehingga lahirlah gagasan untuk mendirikan pos pelayanan terpadu (Posyandu) yang dimotori oleh para tokoh agama. Posyandu ini kemudian diberi nama Posyandu ASTA ( Pos Pelayanan Terpadu Asuhan Tokoh Agama). Didalamnya terdapat beberapa tokoh Nahdlatul Wathan yang membidani kelahiran Posyandu ini. Upaya lain yang dilakukan oleh NNahdlatul Watahan adalah dengan mendirikan Pos Kesehatan Pondok Pesantren (Poskestren), yang didirikan pada tahun 1988. Pada awalnya jumlah Poskestren yang berada di bawah naungan Nahdlatul Wathan berjumlah 3 buah yakni dipancor, Wanasaba dan kalijaga,. Pada tahap selanjutnya, Nahdlatul Wathan mendirikan sebuah badan lain yang berbasis di pani asuhan. Badan ini du beri nama Puskespan (Pusat Kesehatan Panti Asuhan). Dengan adanya instiusi institusi kesehatan ini, maka pemerintah kemudian meresponpositif dengan menderikan suatu lembaga koordinasi dengan mendirikan Usaha Kesehatan Jami‘ul Ummah (UKJU) badan ini mengkoordinir program-program kesehatan yang dilakukan oleh Poskestren, Posyandu ASTA, dan Puskespan Kegiatan bidang kesehatan Ibuu dan balita ini semakin meningkat setelah adanya kerjasam dengan plan internasional. Kerjasama ini menambah dua poskesten baru dilungkungan Nahdlatul Wathan yaitu Poskestren NW Sakra dan Poskestren NW Lepak. Bentuk program lain dari program kelangsungan hidup anak iniadalah dengan menggalakan kegiatan imunisasi, menghimbau para dai untuk mendorong kesadaran masyarakat akan kesehatan Ibu dan Balita serta koordinasi insentif dengan UBICEF. Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid dalam pengkajiannya seringkali mengikut serkan program imusisasi Masal. Dia sering terlibat langsung dalam kegiatan tersebut dengan member peragaan Imunisasi.

62

Upaya –upaya tersebut mendapat momentum dengan berhasilan Propinsi Nusa Te nggara Barat dalam menurunkan atau menekan tingkat kematian Ibu dan Balita. Secara nasional peringkan Nusa Tenggara Barat naik keperingkat 25. Dalam membantu masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan, maka Nahdlatul Wathan mendirikan sejumlah Panti Asuhan dan Asuhan Keluarga. Panti Asuhan merupakn tempat penampungan dan pemberdayaan anak-anak yatim, fakir miskin dan anak-anak terlantar. Dalam membina panti asuhan dan asuhan keluarga, selain membantu secara fisik maupun moril, NW berupaya memfasilitasi program ini dengan memberikan bantuan akses kepada sumbersumber donasi seperti Yayasan Dharmasis dan Instansi-instansi Pembina lainnya, seperti departemen social, departemen tenaga kerja, dan lain-lainnya. Hasilnya sejumlah panti asuhan kini telah menerima bantuan dana maupun pelatihan bagi anak-anak asuhannya. Disamping itu, Nahdltul Wathan juga berusaha untuk membantu dalam meningkatkan pendapatan masyarakat melaui pembinaan koperasi sehingga dibentuk koperasi pondok pesantren (KOPPONTREEN) dan pembunaan usah kecil Menengah (UKM) melalui pelatihan –pelatihan usaha kecil, seperti kerajinan mebel, menjahit dan lain-lainnya. Dalam kegiatan ini juga diadakan penyulihan pertanian, peternakan dan perikanan melalui balai-balai latihan kerja di bawah Koordinasi Tenaga Kerja dan Departemen Sosial. Diluar kerja-kerja social tersebut diatas, Nahdltul Wtahn juga mendorong masyarakat untuk senatiasa melakukan sillaturrahmi dalam upaya untuk menjaga ikatan ukhuwah islamiyah dan mendorong untuk saling membantu, beramal jariyah, bergotong royong dan saling mendoakan sesame muslim.

c. Bidang Dakwah dibidang dakwah islamiyah NW memiliki komitmen yang kuat uuntuk mengajak masyarakat melakukan amar ma‟ruf dan nahi Mungkar. Program dakwah ini dimplementasikan dengan adanya majelis dakwah yang langsung dipiimpin oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid dan Majelis Ta‘lim yang dipimpin oleh oara tuan guru, ustad ustadzah NW. majelis-majelis dakwah yang dipimpin langsung oleh pendiri NW itu terdapat di berbagai tempat di pulau Lombok. Masing-masing tempat didatangi langsung secara bergantian. Pola jemput bola ini merupakan pergeseran dari pola-pola konvensional para tuan guru yang cenderung untuk didatangi oleh para jamaahnya. Pola ini jelas lebih efektif dan produktif, karena sasaran dakwah akan meluangkan waktu lebih singkat dari pada apabila mereka mendatangi tuan gurunya. Diluar aspek-aspek dakwah, pola jemput bola ini memiliki dampak positif dari aspek pengembangan kewilayahan. Paling tidak, terdapat sejumlah jalan raya yang dibuka dan dilebarkan. Ini untuk mengantisipasi kedatangannya para jamaah dari berbagai tempat yang jelas membutuhkan

63

sarana jalan yang memadai. Berangkat dari upaya gotong royong warga, dan bermuara pada ppembentukan jalan-jalan baru. Kelompok masyarakat yang menjadi ojek dakwah NW secara umum terbagi menjadi 3 kelompok; pertama, masyarakat yang telah mengenal agama namun masih membutuhkan penjelasanpenjelasan lebih lanjut dan mendalam terhadap persoalan persoalan agama, kedua mayarakat yang dalam pemahaman agamanya masih tergolong awam dan ketiga, kalangan penganut islam Wetu Telu yang menurut penganut inslam waktu lima belum sesuia dengan ajaran islam yang dikehendaki oleh Al-Qur‘an dan Sunnah, karena masih adanya pencampur adukan dengan tata nilai adat. Pada masyrakat kelompok pertama, bentuk dakwah yang diberikan,umumnya berbentuk ceramah yang bersifat dialogis dan mempergunakan kitab-kitab rujukan berbahasa Arab. Sedangkan pada masyarakat kelompok kedua, dakwah lebih ditekankan pada penjelasan-penjelasan praktis terhadap praktek-praktek ubudiyyah (fiqh sentris). Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah dengan mengirim sejumlah santri untuk menetap dan secara aktif melakukan dakwah. Misalnya, Tuan Guru Haji Juwaini Mukhtar yang dikirim ke wilayah Narmada, Ustaz Haji Sirojuddin Akbar dan kawankawan yang dikirim ke wilayah Bage‘ Polak. Adapun terhadap masyrakat kelompok ketiga, dakwah lebih ditekankan pada upaya meluruskan pemahama aqidah dan syariat islam. Upaya tersebut dilakukan dengan bergagai

pendekatan, pada awalnya, dengan membina hubungan baik yang saling memahami posisi keyakinan masing-masing. Ini merupakan langkah awal yang cukup simpatik da mendapat respon baik dari tokoh-tokoh masyarakat. Sehingga ketika Nahdlatul Wathan melakukan dakwah pada komunitas tersebut, maka mereka tidkak memberikan penolakan yang reaktif. Selanjutnya diupayakan agar anakanak mereka diseklahkan di madrasah Nahdlatul Wathan. Mereka inilah yang kemudian menjadi cikal bakal bagi peyebaran ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat. Pendekatan-pendekatan ini cendrung merefleksikan peran serta aktif masyarakat setempat untuk membangun kesadaran keberagamaannya secara mandiri. Hasilnya, di sejumlah tempat yang dulunya merupakan wilayah konsentrasi penganut Watu Telu, kini ttelah berdiri madrasah-madrasah Nahdlatul Wathan. Sekedar contoh dapat dikemukakan beberapa daerah, antara lain Desa Sukarara, Kecamatan Sakra di Lombok Timur, Desa Beleka, Kecamatan Mujur di Lombok Tengah, Desa Lembuak, Kecamatan Narmada di Lombok barat dan di Bayan yang hingga kini masih dipaandang sebagai representasi penganut Islam Wetu Telu. Di Desa Sukarara, sebelum adanya dakwah Nahdlatul Wathan di Wilayah tersebut, jumlah penganut Islam Wetu Telu mencapai 60% dari

keseluruhanpenduduknya. Masuknya dakwah Nahdlatul Wathan telah menarik simpati beberapawarga yang kemudian bersedia menyekolahkan putra-putanya di Pancor, pusat organisasi Nahdlatul Wathan. Sekembali mereka dari belajar, mereka aktif melakukan kegiatan dakwah, sehingga komposisi

64

penduduk mulai bergeser dari minoritas islam Waktu Lima menjadi mayoritas, hingga mencapai 60% dari total penduduk. Keadaan serupa juga terjadi di Desa Lembuak. Sementara di Desa Beleka, keberhasilan dakwah terhadap penganut islam Wetu Telu ditandai dengan keberhasilan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Wathan pada tahun1965. Potret keberhasilan dakwah yang serupa juga dapat ditemukan di Bayan. Paing tidak, di wilayah tersebut kini telah berdiri beberapa buah Madrasah Nahdlatul Wathan. Melihat fenonema dakwah Nahdlatul Wathan ke basis konsenterasi Wetu Telu, Nampak jelas bahwa kegiatan dakwah memiliki keterkaitan erat dengan pendidikan. Keberhasilan dakwah bil lisani yang diintensifikan dengan pengiriman sumber daya manusia untuk meningkatkan pemahaman keberagamaan menjadi kunci pokok keberhasilan pendirian madrasah-madrasah. Sementara keberadaan madrasah sendiri merupakan salah satu dari implementasi dakwah yang cukup efektif. Selain itu, terdapat fenonema yang menarik dari pengembangan dakwah Nahdlatul Wathan ke berbagai daerah di luar pulau Lombok. Kendati tidak dapat suatu upaya yang bersifat instruksional dan struktual organisatoris, namun dakwah-dakwh Nahdlatul Wathan berkembang secara mandiri. Pola ini umumnya dilakukan oleh para kader-kader Nahdlatul Wathan yang memiliki komitmen untuk mengembangkan sayap-sayap organisasi di tempatnya masing-masing. Beberapa contoh dapat di kemukakan; berdirinya perwakilan-perwakilan Nahdlatul Wathan, seperti, malang Jawa Timur, Yogyakarta, Jakarta, Batam, Sulawesi, Kalimantan, dan lain-lain, merupakan inisiatif mandiri dari kader-kadernya. Selain itu, kegiatan dakwah Nahdlatul Wathan dilakukan dalam bentuk peringatan hari-hari besar nasional, hari-hari besar islam (Muharram, mauled Nabi Muhammad SAW, Isra‘dan Mi‘raj, Nuzul al-Qur‘an dan lain-lainnya), kegiatan-kegiatan rutin jama‘ah Nahdlatul Wathan, seperti:lailah al-ijtima‟, hiziban, wiridan, pembacaan al-barzanji,khatam al-Qur‘an, syafa‟ah(mengadakan tahlil,tzakir, yang ditutup dengan do‘a) serta melalui kesenian-kesenian yang bernafaskan Islam, penerbitan dan lainlainnya. Momentum dakwah NW terjadi pada perayaan HULTAH NWDI & NBDI yang dihadiri oleh jamaah NW dalam jumlah yang massif, baik dari pulau Lombok maupun dari Perwakilan- Perwakilan Nahdlatul Wathan berada. Kegiatan ini diisi oeh pengajian umum tahunan oleh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang dirangkaikan dengan pengijazahan do‘a-do‘a dan wirid-wirid lainnya. Selain di pusat organisasi, kegiatan HULTAH NWDI &NBDI juga dilaksanakan diberbagai wilyah dan cabang Nahdlatul Wathan. Kegiatan ini dinamakan dengan Anak Hultah untuk mengakomodir aspirasi jamaah yang tidak dapat menghadiri HULTAH di pusat organisasi. Untuk memperluas jaringan-jaringan dakwah, maka Nahdlatul Wathan juga melakukan kerjasama dengan pihak swasta ataupun pemerintah, seperti dengan Derpatemen Trasmigrasi dalam rangka penempatan para da‘i di pemukiman- pemukiman trasmigrasi Selain itu diadakan kerjasamadengan media massa, untuk penyebaran dakwah secara lebih efektif.

65

9. Perkembangan Organisasi Secara garis besar, perkembangan organisasi Nahdlatul Wathan dapat dipetakan menjadi tiga periode utama, pertama, dari tahun 1954 – 1976; kedua, dari tahun 1977 – 1985, ketiga, dari tahun 1986 – 1997. Periode pertama merupakan periode penguatan basis organisasi, yang menitik beratkan pada penataan aspek- aspek organisasi. Sehingga pada periode ini organisasi mengalami perkembangan signifikan. Ini dapat terlihat dari hal-hal sebagai berikut: a. b. Adanya upaya – upaya untuk memperluas jarngan organisasi. Adanya upaya untuk meningkatkan perhatian terhadap khittab organisasi sebagai organisasi yang bergerak di bidang pendidikan, social dan dakwah. Upaya ini membuahkan hasil dengan semakin berkembangnya organisasi di daerah Nusa Tenggara Barat dengan terbentuknya pengurus – pengurus daerah Nahdlatul Wathan di masing – masing kabupaten, dan terbentuk pengurus wilayah Nahdlatul Wathan Jawa Tengah di Yogyakarta, pengurus daerah Nahdlatul Wathan Nusa Tenggara Timur di Waingapu, Pengurus Wilayah Propinsi Bali di Singaraja. Sementara pengurus perwakilan juga berdiri antgara di Jawa Timur, Jakarta dan perwakilan khusus di Makkah. Periode kedua, dari tahun 1977 – 1985, organsasi Nahdlatul Wathan mengalami masa- masa sulit dan keritis sampai pada titik yang sangat nadir. Hil ini disebabkan oleh kepentingan –kepentigan politik yang ingain membawa organisasi ke dalam domain politik praktis. Sehingga terjadi perpecahan internal organisasi yang pada gilirannya Nahdlatul Wathan mengalami kevakuman. Sebagai upaya untuk menyelamatkan organisasi dari krisis berkepanjangan, maka pada tanggal 28 -30 januari 1977 bertepatan dengan 8-10 Safar 1397H diselenggaraka Muktamar Kilat Istimewa yang kemudian menghasilkan keputusan pengalihan kepemimpinan organisasi ke tangan pendirirnya yang pada saat itu menjabat sebagai Ketua Dewan Musytayar Pengurus Besar Nahdlatul Wathan. Sebagai akibat krisis tersebut, maka seperti dalam bidang pendidikan, Nahdlatul Wathan mengalami kemunduran – kemunduran. Berkurangnya jumlah madrasah/sekolah dan siswa/ mahasiswa Nahdlatul Wathandisebabkan oleh banyaknya madrasah/ sekolah yang berubah status menjadi milik perorangan atau badan hokum lain di luar Nahdlatul Wathan, sebagaimana di syairkan oleh TGKH. Muhammad Jainuddin Abdul Madjid dalam laporan pertanggung jawaban yang di sampaikan pada Muktamar Nahdlatul Wathan ke8, tanggal 24 Februari 1986. Nahdlatul Wathan tidak akan menutup kelemahannya terutama dalam hal administrasi dan registasi, karena Nahdlatul Wathan selalu husn al-dhan (berbaik sangka). Apalagi (terhadap- pen) keluarga Nahdlatul Wathan yang sudah di anggap mengerti, bahkan kepada orang luar pun Nahdlatul Wathan selalu berbaik sangka sehingga kurang korektif. Akibatnya, banyak madrasah/ sekolah Nahdlatul Wathanyang hilang dan dikaburkan stastusnya, padahal itu waqaf. Mereka sejak awal

66

nawaitu pertama, waqaf atau amal untuk Nahdlatul Wathan, perletakan batu pertamanya untuk Nahdlatul Wathan, pengumpulan dan dan tenaganya atas nama Nahdlatul Wathan, tasyakurannya atas nama Nahdlatul Wathan, laporan ke kantor/ instansi (pemerintahan – pen) atas nama Nahdlatul Wathan. Begitu jelas dan gamblangnya, namun inna lilahi wainna ilahi raji‟un mereka rampas di siang bolong, mereka kaburkann stsusnya dengan tidak ambil pusing. Hadis innama al-a‟mal bi al-niyat, riwayat bukhari Muslim diinjak-injak dengan seribu sati dalil. Firman Tuhan fa man baddala-huba‟da masami‟a hu fa innama itsmuhu‟ ala allazina yubaddiluna-hu. Artinya, siapa-siapa penggantinya setelah dia dengar jelas, maka dosanya semata-mata pada orang yang menggatinya/ yang menyelewengkannya. Na‟udzubillah. periode ketiga, dari tahun 1986 – 1997, Nahdlatul Wathan mengalami revitalisasi organisasi dengan ke khittah organisasi, yakni penguatan pada kerja dan gerakan- gerakan cultural, seperti dalam bidang pendidikan, social, dan dakwah. Upaya merevalitalisasi organisasi dimulai dari penataan kembali perangkat–perangkat organisasi dari tingkat ranting sampai ke tingkat wilayah. Selian itu, tim Pengurus Besar Nahdlatul Wathan melakukan penyempurnaan Anggaran dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta program kerja. Untuk mengembangkan organisasi Pengurus Besar Nahdlatul Wathan juga mendirikan perwakilan-perwakilan organisasi diberbagai tempat, seperti di DKI Jakarta, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku dan Bali. Di samping itu, badan –badan otonomi organisasi yang selama ini vakum mulai diaktifksan kembali, seperti Ikatan Sarjana Nahdlatul Wathan(ISNW), pemuda Nahdlatul Wathan (Pemuda NW) dan Persatuan Guru Nahdlatul Wathan (PGNW). Bahkan dibangun sebuah badan otonomi baru, yakni Badan Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan Masyarakat Nahdlatul Wathan (BP3M NW), yang dibentuk berdasarkan SK PBNW Nomor 01/1986, tanggal 7 April 1986. Perkembangan kerja-kerja cultural di bidang pendidikan, social, dan dakwah dapat dilihat pada keberhasilan organisasi Nahdlatul Wathan dalam mengadakan kerjasama- kerjasama dengan berbagai instansi terkait dalam pemberdayaan masyarakat. Di samping di bangun fasilitas perpustakaan Birrul Walidain, dan pengembangan medi cetak, dengan menerbitkan Koran Gema Nahdlatul Wathan. Persoalan politik praktis yang sempat memicu terjadinya krisis pada periode kedua, pada periode ini direposisi menjadi persoalan individual. Artinya, Nahdlatul Wathan secara organisatoris tidak berfilasi langsung kepada partai – partai politik tertentu. Hal ini sebagaimana ditegaska oleh Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Wathan Periode 1991 – 1996, Drs. H. Muhammad Syubli ―kita bukan underbom. Yang berpolitik perorangan. Saya Wanhat (Dewan Penasehat- pen) Golkar, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (Drs. H.L.G. Wiresentene- pen) Wantim (Dewan Pertimbangan)Golkar, juga Ketua Satkar Ulama. Itu perorangan, tetapi lembaga tidak‖. G. MEMASUK RANAH POLITIK

67

Tujuan Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid adaalah tipikal ulama sekaligus sekaligus politikus yang berusaha mengaktulisasikanperan-peran politiknya melalui pendekatan siyasah al syar‘iyah. Ini berangkat dari paradigm bahwa islam bukan hanya sebagai sebuah system tata nilai dan kecepatan an sich, melainkan juga sebagai sebuah formulasi bagi

pembentuk tata kehidupan bermasyarakat dan berpolitik dalam arti yang lebih luas. Dalam aras yang sama, ia menggambarkan paradigma ini dalam syairnya: Agama bukan sekedar ibadah Puasa, sembahyang diatas sajadah Tapi agama mencakup aqidah Mencakup syariah mencakup hukuman Berkaitan dengan tema ini, penulis akan memulainya dengan pembahasan mengenai wawasan konseptual politik, wacana politik islam, dan aktualisasi peran politik Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid. 1. Pengertian Dan makna Politik Politik berdasarkan dari kata pilittic (inggris) yang menunjukan sifat pribadi atau perbuatan. Secara leeksikal politic berarti acting or judging wisely, well judgment prudent ( bertindak dengan bijaksana, tindakan yang hati-hati) kata ini diamabil dari bahasa latin ppoliticis atau bahasa yunani (Greek) politicos yang bermakana relating of a citizen (hubungan antar Negara). Kata ini juga berasal dari kata polis yang searti dengan city (kota). Politik selanjutnya diserap kedalam bahasa Indonesia dengan 3 makna, yakni (1) segala urusan dan tindakan (kebijakkan, sisasat dan sebagainya), mengenai pemerintahan suatu Negara atau terhadap Negara lain. (2) tipu muslihat ataju kelicikan ; dan dipergunakan sebagai nama bagisebuah disiplin ilmu pengetahuan yaitu ilmu politik. Secara terminology, kata ini pertama kalinya dikenal dari buku plato yang judulnnya Politeia, yang dikenal juga dengan republic. Belakanagan kemudian itu dipandang sebagai pangkal pemikiran politik yang berkembang kemudian. Sedangkan secara konseptual Deliar Noer Merumuskan politik sebagai segala aktivitas atau sikap yang berhubungan dengan kekuasaan dan bermaksud untuk mempengaruhi dengan jalan mengubah atau mempertahankan suatu macam bentuk susunan masyarakat. Berbeda dengan Delian, Miriam Bidirdjo menyetakan bahwa‖ pada umumnya dikatakan politik (politics) adalah bermacam-macam kegaiatan dalam suatu system politik (atau Negara) yang (3) juga

menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari system itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu. Sementara dalam islam, politik disebut al-siyasah, yakni cara dan upaya menangani masalah-masalah rakyat dengan seprangkat undang-undang untuk mewujudkan kemaslahatan dan mencegah hal-hal yang merugikan kepentinagan manusia. Kendati terkesan memiliki

68

kemiripan dengan kedua konsepsi diatas, namun framework (kerangka kerja) politik islam selalu mengacu kepada tata nilai yang elaborasi dari Al-Qur‘an dan Al- Sunnah. Atas dasar ini, politik iskam diartikan sebagai segala aktivitas atau sikap yang berhubungan denga n kekuasaan dalam bingkai system politik yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dan melaksanakan tujuan-tujuan system politik berdasarkan syariat (Al – qur‘an dan Al-Sunnah). Dengan demikian politik, politik dipahami ini sebagai sesuatu yang berdimensi normative dan bukan destriktif. Politik hendaknya dimaknai sebagai upaya manusia untuk meraih kesempurnaanya/perjalanan menuju kemaslahatannya. Atau dalam bahasa Aristoteles, politik mengajarkan bagaimana bertindak tetap dan hidup bahagia. Dengan pemahaman ini , politik memiliki nilai-nilai luhur, sacral dan dapat dikatan tidak bertentangan dengan agama. Menurut Abu Jahrah, setiap manusia yang beragama meti berpolitik. Oleh karena itu berpolitik itu merupakan sesuatu yang intern dengan kemanusian. Dalamik tidak d aras yang berbeda menurut Delian Noer, politik tidak dapat dihindarkan selama manusia masih hidup bersama dan memerlukan hidup bersama, apalagidalam

kehidupan modern seperti kehidupan kini. Yang menjadi soal ialah isinya, cara bermain didalam dan tujuan dikerjakan dalam berpolitik itu. Oleh sebab itu lanjutanya, menakut-nakuti masyarakat dalam soal berpolik tidaklah pada tempatnya. Dalam sejarah pergerakan pada masa jajahan belanda, tokoh-tokoh pergerakan berusaha benar-benar agar rakyat terbuka matanya tentang persoalan-persoalan politik. Bahkan upaya ini dipertegas lagi, supaya rakyat turut aktif berpolitik. Sebaliknya colonial belanda berusaha agar rakyat itu memahami politik, sampai-sampai diusahakan agara rakyat takut berpolitik. Dengan demikian, asppek politik dalam wacana islam adalah sangat penting untuk membangun tatanan masyarakat yang berkeadaban dengan muatan nilai-nilai normative ajaran-ajaran agama. Pengertian ini adalah inti dari nilai kekuasaan yang dalam pengertian politik bersifat netral, yakni hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan. 2. Pemikirin Politik Islam Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid Konseptalisasi pemikiran politik Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid adalah menjadikan Al-Qur‘an, Al-Sunnah dan pengalaman para sahabat dan Tabiin sebagi refrensi utama yang menjadi groun norm (Norma Dasar) dalam menyikapi realitas politik yang ada. Menurutnya, Al-Qur‘an mengandung tuntunan dalam berpolitik dan membangun peradaban masyarakat. Oleh karena itu, dalam melihat fenomena penjajahan di Indonesia, ia merujuk kepada Surat Al Naml ayat 34 yang artinya:

69

“Dia Berkata” sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu Negara, niscaya mereka membinasakannya , dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina dan demikianlah yang akan mereka lakukan” Ayat ini menjelaskan tentang kondisi Negara Saba‘ yang dipimpin leh rau Bilqis yang khawatir terhadap penetrasi terhadap Negara ini. Kekhawatiran ini muncul ketika Nabi Sulaiman member ancaman kepada Ratu Bilqis supaya tuduk dan berserah diri kepada Allah SWT Ayat ini dianalogikan oleh Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid kepada setting social bangsa Indonesia ketika dimasuki oleh colonialism asing. Kolonilalisme memasuki wilayah Indonesia bertujuan untuk menjajah manusia pribumi sebagai masyarakat kelas dua yang hina dan harus tunduk kepada kaum penjajah. Sehingga model pemaknaan ayat diatas, olehnya menjadi Sesungguhnya Raja-raja itu (penjajah atau colonial) jika mereka dapat memasuki (menguasai) suatu wilayah / daerah pasti akan bertindak menghancurkan metntal penduduk daerah / wilayah itu, dan orang-orang yang dioandang kuat (pemuka-pemuka masyarakat) ditunjukkan , bahkan bahkan dipojokkan kedudukanya sehingga mereka berada dalam kondisi hina dihina dan terpojok. Memang demkianlah taktik politik para penjajahan. Sedangkan berkaitan dengan otoritas [kekuasaan]politik yang dimiliki oleh para pemimpin yang memegang kekuasaan , Tuan Guru Kiyai Haji Mu hammad Majid merujuk pada Surat Huud ayat 88 yang artinya: Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) berkesanggupan (QS Hud 11:88) Ayat ini menjelaskan tentang posisi Nabi Syuaib sebagai pemimpin masyarakat Madian yang ingin melakukan reformasi terhadap kondisi social pada saat itu ketimpangan social dan ekonomi dan degradasi moral masyarakat. Oleh Tuan uru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid ayat ini dianalogikan sebagai peranan pemimpin politik terhadap masyarakat, yakni mewujudkan kemaslahatan dan tatanan kehidupan yang baik. Pemahaman ini memiliki relevansi mankna dengan kaidah-kaidah ushuliyah sebagai berikut ―Tindakan seorang pemimpin terhadap rakyat yang dipimpinya senantiasa harus terkait dengan upaya mewujudkan kemaslahatan‖ Masih terkait dengan fungsi kepemimpinan diatas ia sering menyebutkan hadist perbaikan selama aku masih Zainuddin Abdul

tentang strategi dalam memberantas kemungkaran yang artinya: “ barang siapa yang melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia merubah nya dengan tangannya. Apabila ia tidak sanggup hendaklah dengan lidahnya. Dan apabila ia (masih juga)

70

tidak mampu, hendaklah ia merubahnya dengan hatinya. Dan inilah kondisi keimanan yang paling lemah (HR. Bukhori Muslim, Tirmdzi, Nasa‟i)” Kata bi yadih-i, sebagai strategi pertama dalam hadist diatas, berarti sebuah keputusan politik yang dimiliki oleh pemegang otoritas. Bentuknya adalah dengan membuat dan meneggakkan produk-produk hokum bagi kemaslahatan rakyat. Upaya menciptakan tatanan hokum dan politik yang berorientasi pada kemaslahatan, meniscayakan adanya sumber daya manusia yang kapabel, sehingga mampu untuk melaksanakan fungsinya sebagai pemegang otoritas. Oleh karena itu, rekrutmen politik sebagai iupaya untuk menjaring calon-calon pemimpin hendaknya dilakukan dengan fit and proper test dengan mekanisme yang baik dan fair atau jujur, sehingga dapat menghasilkan pemimpin-peminpin yang berkualitas. Kesalahan dalam proses rekrutmen politik dapat mengakibatkan lahirnya pemimpin-pemimpin lemah, yang tidak teruji. Akibatnya, aktualisasi fungsi kepemimpinanna tidak dapat dipertanggung jawabkan, dan dapat dipastikan akan menghancurkan tatanan social politik. Selain pemimpin yang kapabel, diperlukan juga sarana dan prasarana (infrastruktur maupun suprastruktur) tatanan kehidupan yang berkeadilan dan maslahat, terutama untuk membendung dan memberntas praktik-praktik kemungkaran. Untuk ini, Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid mengutip surat Al-Anfaal ayat 60 sebagai rujukan yang artinya: “dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Alloh SWT, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuina; sedangkan Alloh mengetahuinya…. Demikianlah diantara ayat-ayat maupun hadiist yang sering dikemukakan oleh Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid dalam mengkonseptualisasi dan merespon realitas politik yang ada. Selain menggunakan Al-Qur‘an, Al-Sunnah, Ijma‘ sahabt dan tabi‘in, ia juga selalu merujuk kepada nilai-nilai kemanusian universitas, seprto semangat egalitarianisme, musyawarah, keadailan, dan amanah. Nilai nilai ini merupakan konsep generik dari Al Qur‘an sebagai acuan dan dipraktikkan secara baik dan konsisten oleh Nabi Muhammad SAW. Berdasarkan kerangka dasar inilah, Nabi Muhammad SAW mengembangkan kepemimpinan moral yang mewarnai seluruh leadership behavior tampaknya merupakan respon yang tepat dalam menghadapi struktur masyarakat pra Islam yang Peodalistik dan Represif. Karena yang ditekankan adalah aspek moralitas (Al Akhlak Al Karimah), maka politik Islam pada zaman Nabi berfungsi sebagai sarana moral yang cukup efektif.

71

Konsep kedailan dan amanah merupakan dua prinsip dasar politik islam sebagai titik pijak dalam membangun sebuah tatanan kehidupan bermasyarakat yang diwarnai oleh nilainilai normative. Sehingga dengan dua konsep ini pada gilirnnya akan menghasilkan sebuah pemerintahan yang adil dan amanah. Berkaitan dengan ini, Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid menghimbau para pemegang otoritas kekuasaan, baik yang berada dalam lingkup local dan Nasional untuk senantiasa menebarkan rasa keadilan dan melaksanakan amanah dalam menjalankan proses pemerintahan. Karena keadilan dan amanah merupakan kata kunci bagi kemakmuran dan kesejahteraan di bumi nusantara ini. Repleksi pemikiranya tertuang dalam sair dibawah ini: NTB mengharapkan pemerataan Keadilan sejati dan kebenaran Agar meratalah kemakmuran Ditanah air ciptaan Tuhan Berkaitan dengan nilai-nilai kemanusian yang bersifat normative dan universal, Tuan Guru Kiyai haji Muhammad zainuddin Abdul Majid selalu mengaitkannya dengan system pengaturan hidup bermasyarakat dan bernegara. Disamping itu bagi orang politikus harus diwarnai dengan akhlakul karimah, dalam tinadakan politiknya. Karena kalau tidak

mengedepankan moral etik maka yang menonjol dalam tindakan politiknya adalah sikap pragramatisme dan oppotunitas politik. Apalagi jika hanya mengejar tujuan kedudukan, harta dan jabatan politik , tanpa memperhatkan mekanisme hokum dan moral etik, yang berlaku dalam masyarakat. Konsep politik yang tidak diwarnai oleh moral politik menurut Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid digambarkan sebgai ―politik asal politik yang lama kelamaan menjadi licik‖ dan politikus seperti ini dikatakan sebagai ―orang yang berjiwa basi‖ . dalam bukunya Wasiat Renungan masa pengalaman baru disebutkan: Kalau orang berjiwa basi Hanya mengejar bayangan kursi Tidak peduli tuntunan NAbi Selalu menendang ayat Al Kursi Dari uraian dan komentar-komentar diatas dapat dikatakan bahwa Islam sebagai sebuah ajaran universal memuat konsep-konsep politik yang djiwai prinsip-prinsip moral etik bagi pembentukan masyarakat madani. Jadi dalam merespoon realitas politik Tuan Guru Kiyai haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid dalam pemikiran politiknya selalu merujuk kepada kepada Al-Qur‘an, Al- Sunnah dan Ijma‘ dalam istilah politik al-syar‟iiyah, bukan politik dunyawiyyah.

72

3. Aktivitas Politik Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid Karir politik Tuan Guru Kiyai haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid dimulai sejak ia diangkat sebagai Konsulat NU sunda kecil pada Tahun 1950. Selanjutnya ketika NU bersama ormas-ormas islam lainnya bergabung dengan partai Majelis Syura Muslim Indonesia ( Masyumi) di Nusa Tenggara Barat, maka diangkat sebagai Ketua Badan Penasehat Partai Masyumi untuk daerah Lombok pada tahun 1952 Dari 1953-1955 Tuan Guru Kihyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid menetapkan bahwa NW menganut kebijakan ―politik bebas‖ artinya organisasi ini tidak berafilasi dengan kekuatan partai politik manapun, sehaingga ia merestuji terbentuknya partai NU, Partai Persatuan Tarbiayah Indonesia(Perti) dan PSII dimlombkok pada tahun 1953 dan 1954. Namun pada tahun 1955 ia dan organisasi Nahdlatul memilih berafiliasi dengan partai Masyumi

sehingga dia diangkat sebagai anggota Konstituante periode 1955-1959 hasil dari Pemilu Pertama pada tahun 1955. Perkembangan selanjutnya setelah partai masyumi dikucilkan dari DPRGR pada bulan april 1960 dan diperintahkan intuk membubarkan diri empat bulan kemudian, maka konstelisasi perpolitikan nasional mengalami goncangan. Polarisasi kekuatan politik menjadi tinggal tiga kekuatan besar yaitu Partai NU, PKI, dan PNI. Akhirnya lahairnya gagasan NASAKOM ( Basional, Agama, dan Komunis). Nasionalis di wakili PNI, Agama diwakili NU dan Komunis di wakili PKI. Setelah partai Masyumi dibubarkan di kalangan politisi Muslim Indonesia Berkembang gagasan untuk membentuk suatu wadah partai politik sebagai pengganti Masyumi. Maka pada tahun 1968 lajhirlah partai Muslim Indonesia (Parmusi). Partai ini didukung oleh Sembilan Organisasi Islam yakni (1) Muhammadiyah, (2) Al-Jamiatul Wasihliyah, (3) Gasbiindo, (4) Pesatuan Islam, (5) Nahdlatul Wathan, (6) Mathla,ul Anwar, (7) Syarekat Nelayan Islam

Indonesia, (8) Perstuan buruh Islam Indonesia, (9) Persatuan Umat Islam. Khusus dipulau Lombok Nahdlatul Wathan merupakan Ormas islam yang pertama kali dengan tegas mendukung terbentuknya Parmusi. Asumsinya Parmusi merupakan duplikasi dari partai Masyumi. Namun dalam perkembangan selanjutnya NW tidak dapat berperan aktif dalam partai tersebut. Ini disebankan oleh karena tidak terakomodirnya aspirasi NW sebabagai or,as Islam yang memiliki basis konsitituen terbesar di pulau Lombok. Selanjutnya setelah tidak aktifnya di Parmusi Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid dan NW merubah Haluan politiknya dan berafiliasi kepada secretariat bersama Golongan Karya (Sekber Golkar), suatu organisasi politik yang dibentuk atas gagasan Jendral A. H. Nasutiaon. Dukungan yang diberikan oleh Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad

73

Zainuddin Abdul Majid adalah didasari oleh beberapa perkembangan paratai politik. Pertama, Golkar adalah parati orde Baru yang dinalai berhasil menumpas gerakan 30 S/PKI. Keberhasilan ini paling tidak adaah sebuah kemaslahatan bagi kaum muslimin, Kedua dalam organisasi politik ini aspirasi NW lebih terakomodir dari pada partai politik lainya. Bentuk akomodasi politik yang dilakukan oleh Sekber Golkar terhadap NW adalah menunjuk H. Zainuddin Mansur, sebagai anggota fraksi alim ulama di DPRGR dan beberapa kader NW lainnya di daerah. Selanjutnya pada tanggal 27 rajab 1930 hijriyah atau 28 September 1970 NW secara Resmi menetapkan afiliasi politiknya kepada Golongan Karya. Alas an afiliasi kepada Golkar adalah karena ORDE Baru telah berbuat sesuatu yang sangat berharga bagi kemaslahatan ummat islam dengan menumpas komunisme sehingga Golkar dengan partai Orde Baru patut didukung. Disamping itu terdapat alas an politis lainnya bahwa Golkar sebagai aparat pemerintahan Orde Baru telah melakukan represi politik terhadap ormas-ormas Islam untuk memilih Golkar.. Dalam pemilihan umu tahun 1971 dan 1979 Tuan Guru Kiyai haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid terpilih menjadi anggota MPR RI dari Partai Golkar. Kemudian terpilih menjadi anggota MPR RI Fraksi Utusan Daerah tahun 1982. Pilihan politik NW kepada Golkar Merupakan embrio bagi konflik internal organisasi tersebut. Ini sebabkan karena sebagian kader-kader NW memilih garis politiknya dengan berafliasi dengan PPP yang notabene merupakan partai Islam. Konflik internal ini berlangsung sampai pemilihan umum tahun 1977. Dan membawa implikasi dengan mundurnya sejumlah pengurus NW di berbagai tingkatan. Kondis ini melatar belakangi Muktamar Kilat Organisasi NW pada tanggal 31 Januari 1977. Hasil Muktamar kilat ini merekomendasikan bahwa pimpinan dewan musytasyar dan pengurus besar dijabat oleh Tuang Guru Kiyai Haji Muhammad Za inuddi Abdul Majid. Dan pengurus yang tidak sejalan dengan organisasi NW disingkirkan dari kepengurusan. Betapapun demikian konflik ini tetap berlangsung sampai tahun 1982 terutama menjelang Pemilu. Dalam menghadapi ini ia bersikaf dingin ― mendiamkan diri‖ atau dengan istilah Gerakan Tutup Mulut (GTM). Sikaf mendiamkan diri ini dalam arti tidak terlibat langsung sebagai pendukung partai politik tertentu. Sikap ini kemudian melahirkan gagasan untuk kembali ke hittah NW, yakni bekonsentrasi pada kerja-kerja cultural eperti, pendidikan, social dan dakwah. Gagasan untuk kembalike khittah ini mennndapatkan momentum dalam HULTAH NWDI ke 47 tahun 1983.

PERTEMUAN XI & XII

74

Setelah Mempelajari Modul Ini Anda Diharapkan Mampu: 1. Menjelaskan Pengertian Ahlussunnah Waljamaah 2. Menjelaskan Argumentasi Organisasi NW Menganut Faham Ahlussunnah Waljamaah 3. Menjelaskan Perkembangan Ahlussunnah Waljamaah 4. Menyebutkan Pokok-Pokok I’tikad Ahlussunnah Waljamaah AHLUSSUNNAH WALJAMAAH 1. Pengertian Ahussunnah Waljamaah  Pengertian As-Sunnah Secara Bahasa (Etimologi) As-sunnah secara bahasa berasal dari kata ―sanna yasinnu‖ dan ―yasunnu sannan‖ dan ―masnuun‖ yaitu yang disunnahkan. Sedanngkan ―sanna‖ artinya menerangkan (menjelaskan) perkara. As-Sunnah juga mempunyai arti ― At-Thariqah‖ (jalan/metode/pandangan hidup) dan ―as-Sirah‖ (perilaku) yang terpuji dan tercela.  Pengertian As-Sunnah Secara Istilah ( Terminologi) Yaitu petunjuk yang telah ditempuh oleh Rasuluullah SAW dan para sahabatnya baik berkenaan dengan ilmu ―aqidah‖ perkataan, perbuatan, maupun ketetapan. As-Sunnah juga digunakan untuk menyebut sunnah-sunnah (yang berhubungan dengan) Ibadah dan Aqidah. Lawan kata Sunnah adalah ―Bid‘ah‖  Pengertian Jamaah Secara Bahasa (Etimologi) Jama‘ah diambil dari kata Jama‘a arinya mengumpulkan sesuatu, dengan mendekatkan bagian dengan bagian lain. Seperti kalimat ― Jama‘tuhu‖ (saya telah mengumpulkannya) ―Fajtama‘a‖ (maka berkumpul). Dan kata tersebut berasal dari kata ―Ijtima‖ (perkumpulan) ia lawan dari kata ―tafarruq‖ (perceraian) dan juga lawan dari kata ―furqah‖ (perpecahan). Jamaah adlah sekelompokorang banyak ; dikatakan juga sekkelompok manusia yang berkumpuul berdasarkan satu tujuan; dan jamaah juga berarti kaum yang bersepakat dalam suatu masalah,  Pengertian Jamaah Secara Istilah (Terminologi) Yaitu kelompok kaum muslimin ini dan mereka adalah pendahulu ummat ini dari kalangan para sahabat, tabi‘in dan orang-orang yang megikuti jejak kebaikan mereka sampai hari kiamat; dimana mereka berkumpul berdasarkan Al-Qur‘an dan As-sunnah dan mereka berjalan sesuai dengan yang telah ditempuh oleh Rasullullah SAW baik secara lahir maupun bathin. Jadi Ahlussunnah Waljamaah adalah mereka yang berpegang teguh kepada sunnnah Nabi Muhammad SAW, para sahabatnya dan orang orang yang mengikuti jejak dan jalan mereka baik dalam hal aqidah, perkataan maupun perbuatan juga mereka yang istiqamah (konsisten) dal ber-ittiba‘(mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW) dan menjauhi perbuatan

75

Bid‘ah. Mereka itulah golongan yang tetatp menang dan senantiasa ditolomg oleh Allah SWT sampai hari kiamat. Oleh karena itu mengikuti mereka (Salfush Shalih) berarti mendapatkan petunjuk, sedang berselisih terhadapnya berarti kesesatan. 2. Dasar-Dasar Pemahaman Ahlussunnah Waljamaah. Pokok-pokok keyakinan yang berkaitan dengan tauhid dan lain-lain menurut Ahlussunah Waljamaah harus dilandasi oleh dalil dan Argumentasi yang defenitif (Qath‘i) dari Al-Qur‘an, Hadist, Ijma‘ ulama dan Argumentasi akal yang sehat (Qiyas). Kaitannya dengan pengalaman tiga sendi utama ajaran Islamdalam kehidupan sehari hari. Golongan Ahlussunnah Walajamaah mengikuti Rumusan yang telah di gariskan oleh ulama salaf yakni a. Aqidah Dalam bidang aqidah golongan Ahlussunnah Waljamah menganut ajaran Iman Abu Hasan Al-Asy‘ari dan Abu Mansur al Maturidi. Kedua tokoh ini sekaligus sebagai pencetus golongan Ahlussunnah Waljamaah. Mereka menggunakan metode yang bersifat moderat, berpegang teguh kepada Nash dan menempatkan akal, ilmu dabn filsasfat serta logika sebagai sarana pembantu untuk memahami nash. b. Fiqih Ahlusunnah Waljamaah di bidang fiqih / syariah selalu berpegang teguh kepada AlQur‘an dan hadist tetapi tidak memaksakan setiap orang secara langsung dan sendiri sendiri memahami kedua dasar hokum tersebut karena menggali hukum dari Al-Qur‘an dan al hadist bukan hal yang mudah. Dalam bidang Fiqih golongan Ahlussunnah Waljamaah menganut ajaran salah satu dari 4 Madzhab, yaitu: i. Imam Hanafi ii. Imam Maliki iii. Imam Safi‘i iv. Imam Hambali c. Tasawuf/ Akhlaq Di bidang akhlak prinsip at-Tawasuth menjadi pedoman utama dalam menentukan nilai suatu sikaf atau perbuatan. Akhlaq yang luhur selalu berada di ujung positif dan ujung negative. Ahlussunnah waljmaah menolak sikaf atthawur (semberono) dan aljubn (penakut) : Nama Aslinya Abu Hanifah An Nu‘man (80 H- 150H) : Nama Aslinya Adlah Malik Bin Anas (93H – 179H) : Nama Aslinya adalah Muhammad bin Idris ( 150 H- 204H) : Nama Aslinya adalah Ahmad Bin Hambal (104H – 241 H)

attakabur(sombong) dan attadzallul (merasa hina) albukhl (kikir) dan al-israf (pemboros). Tasawuf adalah ruhul ibadah. Memperkokoh mental keagamaan dengan wirid dan dzikir riyadlah dan mujahadah harus menurut kaifiyah yang tidak bertentangan dengan perinsip ajaran agama Islam.

76

Dalam bidang Tasawuf/Akhlak golongan Ahlisunnah Waljamaah menganut ajaran Abul Qosim junaid al –Bagdaddi dan Iman Al Ghazali. Tersebut dalam kitab Bugyatul Mustarryidin, karangan Mufti SyaihSayid Abdurrahman Bin Muhammad Bin Husain Bin Umar yang dimasyhurkan dengan gelar Ba‘alawi bahwa 72 Firqah yang sesat itu berpokok pada 7 Firqah yaitu: i. Kaum Syiah Adalah kaum yang berlebih-lebihan memuja Saidina Ali Karamallahu Wajhahu. Mereka tidak mengakui khalifah-khalifah Abu Bakar, Umar Usman Ra, kaum syiah kemudian pecah menjadi 22 bagian. ii. Kaum Khawarij Yaitu kaum yang berlebih-lebihan membenci saidina Ali Karamallahu Wajhahu bahkan ada diantaranya mengkafirkan Saidina Ali Kw. Firqah ini berfatwa bahwa orang yang berbuat dosa besar menjadi kafir. Kaum khawarij kemudian pecah menjadi 20 aliran. iii. Kaum Mu‘tazillah Adalah kaum dalah kaum yang berfaham bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat, bahwa manusia membuat pekerjaannya sendiri, bahwa Tuhan tidak bias dilihat dengan mata di surga, bahwa orang yang mengerjakan dosa besar diletakkan diantara dua tempat dan Mi‘raj Nabi Muhammad SAW hanya dengan ruh saja, dan lain-lain. Kaum Mu‘tazilah berpecah menjadi 20 aliran iv. Kaum Murjiah Adalah kaum yang menfatwakan bahwa membuar maksiat tidak member mudharat kalau sudah beriman sebagai keadaanya membuat kebajikan tidak member manfaat kalau kafir. Kaum ini kemudian pecah menjadi 5 aliran. v. Kaum Najariyah vi. Adalah kaum yang menfatwakan bahwa perbuatan manusia adalah makhluk, yakni dijadikan Tuhan tetapi mereka berpendapat bahwa sifat Tuhan tidak ada. Kaum najariyah pecah menjadi 3 aliran. vii. Kaum Jabariyah Adalah kaum yang menfatwakan bahwa manusia ―Majbur‖ tidak berdaya apa-apa. Kasab atau usaha tidak ada sama sekali kaum ini hanya 1 aliran viii. Kaum Musyabihah Adalah kaum yang menfatwakan ada keserupaan Tuhan dengan manusia umpamanya bertangan, berkaki duduk dikursi, naik tangga, dan lai-lainnya. Kaum ini hanya 1 aliran saja Jadi jumlahnya adalah: i. Kaum Syiah ii. Kaum Khawarij ; 22 aliran : 20 aliran

77

iii. Kaum Mu‘tazillah : 20 aliran iv. Kaum Murjiah v. Kaum Najariyah vi. Kaum Jabariyah vii. Kaum Musyabihah Jumlah : 5 aliran : 3 aliran : 1 aliran : 1 aliran : 72 aliran

Kalau ditambah 1 lagi dengan faham lkaum Ahlussunnah Waljamaah maka jumlahnya 73 firqah sebagaimana yang terangkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam tirmidzi. Adapun kaum Qadariyah termasuk golongan Mu‘tazillah, Kaum Bahaiyahdan Ahmadiyah masuk golongan syiah, kaum Ibnu Taimiyah masuk golongan kaum Musyabbihah dan kaum wahabi termasuk kaum pelaksana dari faham Ibnu Taimiyah. 3. Sejarah Ahlussunnah Walajama’ah Istilah Ahlussunnah Waljama‘ah tidak dikenal dizaman Nabi Muhammad SAW maupun dimasa pemerintahan al-Khulafa‘ al-rasyidinbahkan tidak dikenal dikenal pada zaman pemerintaha Bani Umayah (41-133H/611-750M). Istilah ini untuk pertam kalinya dipakai pada masa pemerintahan khalifah Abu Ja‘far al Mansshur (137-159H/754-775M) dan khalifah Harun Al-Rasyid (170-194H/785-809M) Ma‘mun (198-218H/813-833M) Pada zamanya, al-Ma‘mun menjadikan Muktazillah (aliran yang mendasarkan ajaran Islam pada Al-Qur‘an dan akal) sebagai Madzhab resmi Negara, dan ia memaksa para pejabat dan tokoh-tokoh agama agar mengikuti faham ini, terutama yang berkaitan dengan kemkhlukan Al-Qur‘an. Untuk itu ia melakukan Mihnah (inquisition), yaitu ujian aqidah terhadap para pejabat dan ulama. Materi pokok yang diujikan adalah masalah Al-Qur‘an. Bagi Muktazillah Al-Qur‘an adalah Makhluk (diciptakan oleh Allah SWT) tidak qadim (ada sejak awal dari segala permulaan) , sebab tidak ada yang qadim selain Allah SWT. Orang yang berpendapat bahwa Al-Qur‘an itu Qadim berarti syirik dan syrik merupakan dosa besar yang tak terampuni. Untuk membebaskan manusia dari syirik al-ma‘mun melakikan mihnah. Ada beberapa ulama yang terkena mihnah dari al-ma‘mun diantaranya adalah Iman Ahmad Bin Hambal (164-241H) Penggunaan istiah ahlussunnah Waljamah semakin popular setelah munculnya Abu Hasan Al-Asy‘ari (260-324H/873-935M) dan Abu Mansur Al- Maturidi (944 M) yang melahirkan aliran ―Al-Asyaryah dan Al-Maturidyah dibidang teologi. Sebagai perlawanan terhadap aliran muktazillah yang menjadi aliran resmi pemerintah waktu itu. Teori Asy‘aryah lebih mendahulukan Naql (Teks Al-Qur‘an Hadist) dari pada Aql ( Penalaran rasional). Dengan keduanya dari dinasti abbasiyah (750-1258). Istilah

ahlussunnah waljamaah semakin tampak ke permukaan pada zaman pemerintahan khalifah al-

78

demikian bila dikatan ahlussunnah waljamaah pada waktu itu maka yang dimaksudkan adalah penganut paham asy‘ariyah atau al-Maturidyah dibidang teologi. Dalam hubunngan ini ahlussunnah waljamaah dibedakan dari muktazilah, Qadariyah, syiah, khawarij dan aliran-aliran lain. Dari aliran ahlussunnah waljamaah atau disebut aliran sunni dibidang teologi kemudian juga berkembang dalam bidang lain yang menjadi cirri khas aliran ini, baik di bidang fiqih dan tasawuf. Sehingga menjadi istilah jika disebut akidah sunni (ahlussunnah waljamaah) yang disebut adalah pengikut Asy‘ariyah dan Maturidyah. Atau fiqih sunni yaitu pengikut madzhab yang empat. Yang menggunakan rujukan Al-Qur‘an, Al-Hadist, Ijma‘ dan Qiyas atau juga tasawuf sunni yang dimaksud aadalah pengikut metode tasawuf Abu QashimAbdul Karim Al-Qusyairi, Imam Al Hawi, Imam Al Gazhalif dan Imam Junaid Al Baghdadi. Yang memadukan antara syariat, hakikat dan makrifat. Ada beberapa riwayat hadist tentang firqah dan millah (golongan atau aliran) yang kemudian dijadikan landasan bagi firqah ahlussunnah waljamaah. Sedikitnya ada 6 riwayat hadist tentang firqah / millah yang semua sanadnya dapat dijadikan hujjah karena tidak ada yang dloif tetapi hadist shahhih dan hasan. Dari hadist yang kesimpulannya yang menjelaskan bahwa ummat Rasullullah SAW akan menjadi 73 Firqah semua dineraka kecuali satu yang disurga itulah yang disebut firqah yang selamat,. Dari beberapa riwayat itu ada yang secara tegas menyebutkan ahlussunnah waljamaah atau aljamaah. Dalam sebuah hadist yang artinya: ―kaum yahudi terpecah menjadi 71 firqah, kaum nasrani menjadi 72 firqah, sedangkan ummatku akan terpecah menjadi 73 firqah yang selamat diantara mereka satu, sedangkan sisanya binasa. Sahabt bertanya: Siapakah yang selamat itu ? Rasul Menjawab: Ahlussunnah waljamaah. Sahabat lagi bertanya: Apakah ahlussunnah waljamaah itu? Nabi menjawab apa yang aku perbuat hari ini dan para sahabatku” (HR. Tabrani). Dari pengertian hadis diatas dapat dipahamidan disimpulkan sebagai berikut: Penganut suatu agama sejak sebelum Nabi Muhammad SAW sudah banyak yang menyimpang dari ajaran aslinya, sehingga menjadi banyak interpretasi yangkemudian terakumulasimenjadi firqah-firqah. Umat Nabi Muhammad SAW juga menjadi 73 Firqah apakah sebagai angka pasti atau menunjukan banyak sebagaimana kebudayaan bangsa arab pada waktu itu. Bermacam-macam firqah itu masih diakui oleh Nabi Muhammad SAW sebagi ummatnya, berrati apapun nama firqah mereka dan apapun produk pemikiran danpenapat mereka asal masih mengakui Allah SWT sebagai Tuhan Muhammad sebagai Nabi dan Ka‘bah sebagai kiblatnya tretap diakui muslim. Tidak boleh dicap sebagai kafir Pengertian semua dineraka kecuali satu yaitu mereka yang tidak persis sesuai dengan sunnah Nabi dan para sahabatnya akan masuk neraka dahulu tetapi tidak kekal didalmnya

79

yang nantinya akan diangkat kesurga kalau masih ada secuil iman dalam hatinya. Sedangkan yang satu akan langsung kesurga tanpa mampir keneraka dulu. Kelompok yang selamat adalah mereka yang mengikuti sesuai dengan apa yang di contohkan nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang mungkin berada diberbagai tempat masa dan jamaah. Tidak harus satu Organisasi, satu Negara, satau masa atau satu partai dan golongan. 4. Karakteristik dan Keistimewaan Ahlussunnah Waljama’ah Adapun Karakteristik dan Faham Ahlussunnah Waljama‘ah antara lain: 1. At-Tawassuth dan I‘tidal Yaitu bersikaf moderat, tidak ekstrim kanan ataupun ekstrim kir. Suatu sikap yang berintikan kepada prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adildan lurus ditengah kehidupan bersama. 2. At-Tawazun Yaitu sikap seimbang dalam berkhidmah, menyerasikan kepada Allah SWT, khidmah kepada sesame manusia serta khidmah kepada lingkungan hidupnya. 3. Tasamuh Sikap toleran terhadap perbedaan, baik dalam masalah keagamaan terutama hal-hal yang bersifat furu atau menjadi masalah khilafiyah serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan. 4. Amar Ma‘ruf Nahi Mungkar Yakni selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan baik, berguna dan bermanfaat bagi kehidupan bersama, serta menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan. Dalam tataran praktis prinsip-prinsip ini terwujudkan dalam beberapa hal sebagai berikut: 1. Aqidah a. Keseimbangan dalam penggunaan dalil Naqli dan Aqli b. Tidak gampang menilai salah satu menjatuhkan vonis syirik, bid‘ah apalagi kafir tanpa adanya dasar yang dapat membenarkan dan dipertanggung jawabkan c. Adanya teori kasb (perbuatan manusia diciptakan oleh Allah SWT namun manusia memiliki peranan dalam perbuatannya) 2. Syariah a. Berpegang teguh kepada Al-Qur‘an dan Hadist dengan menggunakan metode yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. b. Akal baru dapat digunakan pada masalah yang tidak ada nash yang jelas (qath‘i) c. Dapat menerima perbedaan pendapat dalam menilai masalah yang memiliki dalil yang multi-interpretatif (zhanni)

80

3. Tasshawwuf/Akhlak a. Tidak mencegah bahkan menganjurkan usaha memperdalam penghayatan ajaran agama islam, selama menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan prinsipprinsip hukum Islam. b. Mencegah sikaf yang berlebihan dalam menilai sesuatu c. Berpedoman pada Akhlak yang luhur. Misalnya sikap Syaja‘ah (antara penakut dan ngawur atau semberono), sikap tawadlu‘(antara sombong dan rendah diri)dan sikap darmawan (antara kikir dan boros). 4. Kebudayaan a. Kebudayaan Harus ditempattkan pada kedudukan yang waja. Dinilai dan diukur dari norma agama. b. Kebudayaan yang baik dan tidak bertentangan dengan agamadapat diterima dari manapun datangnya. Sedangkan yang tidak baik harus ditinggalkan. c. Dapat menerima budaya baru yang baik dan melestarikan budaya lama yang masih relevan (al-muhafadhah ‗alaal-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah). Adapun keistemewaan yang dimiliki oleh ahlussunnah waljama‘ah antara lain: 1. Mereka mempunyai sikaf wasathiyah (pertengahan) diantara ifrath (melampau batas) dan tafriith (menyia-nyiakan); dan diantara berlebihan dan sewenangwenang baik masalah aqidah hukum atu akhlak. Maka mereka berada di pertengahan antara golongan golongan lain sebagaimana juga ummat ini berada di pertengahan antara agama-agama yang ada. 2. Sumber pengambilan pedoman bagi mereka hanyalah Al-Qur‘an dan AsSunnah, merekapun memperhatikan keduanya bersikaf taslim (menyerah) terhadap nash-nashnya dan memahaminya sesuai dengan manhaj salaf. 3. Mereka tidak mempunyai iman yang diagunkan, yang semua perkataannya dapat diambil dari meninggalkan apa yang bertentangan dengan kecuali perkataan Rasullullah SAW. Dan ahli sunnah itulah yang paling mengerti dengan keadaan Rasullullah SAW perkataan dan perbuatannya. Oleh karena itu merekalah yang paling mencintai sunnah, yang paling peduli untuk mengikuti dan paling loyal terhadap pengikutnya. 4. Mereka meninggalkan persengketaan dan pertengkaran agama sekaligus menjauhi orang-orang yang terlibat didalamnya. Meninggalkan perdebatan dan pertengkaran dalam permasalahan tentang halal dan haram. Mereka masuk kedalam dien (Islam) secara total.

81

5. Mereka mengagungkan para salfush shalih dan berkeyakinan bahwa metode salaf itulah yang lebih selamat paling dalam pengetahuannya dan sangat bijaksana. 6. Mereka menolak ta‘wil (penyelewengan suatu nash dari makna yang sebenarnya) dan menyerahkan diri kepada syari‘at dengan mendahulukan nash yang sahih dari pada akal (logika) belaka dan menundukkan akal di bawah nash. 7. Mereka memaduan antara nash-nash dalam suatu permasalahan dan mengembalikan (ayat-ayat) yang mutasyabihat (ayat-ayat yang mengaandung beberapa pengertian/tidak jelas) kepada yang muhkam ( ayat ayat yang jelas dan tegas maksudnya) 8. Mereka merupakan figure teladan orang-orang ang shalih, memberikan petunjuk kearah jalan yang benar dan lurus, denagn kegigihan mereka diatas kebenaran tidak membolak-balikan urusan aqidah kemudina bersepakat atas

penyimpangan. Mereka memadukan antara ilmu dan ibadah antara tawakkal kepada Allah SWT dan Ikhtiar (berusaha), antara berlebih-lebihan dan wara‘ dalam urusan dunia, antara cemas dan harap, cinta dan benci, antara kasih sayang dan lemah lembut kepada kaum mukminin dengan sikaf keras dan kasar kepada orang kafir. Serta tidak ada perselisihan diantara mereka walaupun ditempat dan zaman yang berbeda. 9. Mereka tidak menggunakan sebutan selain Islam, Sunnah dan Jamaah. 10. Mereka peduli untuk menyebarkan aqidah yang benar, agama yang lurus, mengejarkannya kepada manusia ,memberikan bimbingan dan nasehat kepadanya serta memperhatikan urusan mereka. 11. Mereka adalah orang-orang yang paling sabar atas perkataan, aqidah dan dakwahnnya 12. Mereka peduli terhadap persatuan dan jamaah, menyeru dan menghimbau manusia kepadnya serta menjauhkan perselisihan, perpecahan dan

memberikan peringatan kepada manusia dari hal-hal tersebut. 13. Allah SWT menjaga mereka dari sikaf saling mengkafirkan sesame mereka, kemudian mereka menghukumi orang lain selain mereka berdasarkan ilmu dan keadilan. 14. Mereka saling mencintai dan mengasihi sesama mereka, saling tolong menolong diantara mereka, saling menutupi kekurangan sebagian lainnya. Mereka tidak loyal dan memusuhi kecuali atas dasar agama.

82

DAFTAR RINGKAS I’ITIQAD KAUM AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH 1. Imam ialah me-ikrarkan dengan lisan dan membenarkan dengan hati . Imam yang sempurna ialah me-ikrarkan dengan lisan, membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota. 2. Tuhan itu ada, namanya Allah. Dan ada 99 nama Allah. 3. Tuhan mempunyai sifat banyak sekali, yang boleh disimpulkan dengan Jamal (keindahan) dan Kamal (kesempurnaan). 4. Sifat yang wajib diketahui oleh sekalian mukmin yang baliq berakal adalah 20 sifat; 20 sifat yang wajib ada bagi NYA dan yang mustahil (tidak mungkin) ada bagi NYA. Dan satu lagi sifat yang harus ada bagi NYA; yaitu: a. Wujid, artinya ada, mustahil Ia tidak ada. b. Qadim, artinya tidak berpemulaan ada-Nya, mustahil ada-Nya ber-pemulaan. c. Baqa, artinya tidak ber-kesudahan ada-Nya, mustahil ada-Nya ber-kesudahan. d. Mukhalafatuhu ta‘ala lilhawaditsi, artinya Ia berlainan dengan sekalian makhluk, mustahil Ia serupa dengan makhluk- Nya. e. Qiyamuhu binafsihi, artinya Ia berdiri sendiri, bukan berdiri di atas zat lain, mustahil Ia berdiri di atas zat lain. f. Wahdanyiat, artinya Ia Esa, mustahil Ia banyak. g. Qudrat, artinya Ia kuasa, mustahil Ia tidak Kuasa. h. Iradat,artinya menentukan diri sendiri dengan kehendak-Nya, mustahil Ia dipaksa-paksa. i. Ilmu, artinya Ia tahu, mustahi Ia tidak tahu. j. Hayat, artinya hidup, mustahil Ia mati. k. Sama‘, artinya mendengar, mustahil Ia tidak mendengar. l. Bashar, artinya melihat, mustahil Ia buta. m. Kalam, artinya berkata, mustahil Ia bisu. n. Kaunuhu Qadiran, artinya Ia lam keadaan tidak dalam keadaan berkuasa, mustahil Ia dalam tidak berkuasa. o. Kaunuhu Muridan, artinya Ia dalam keadaan mempunya Iradat, mustahil Ia dalam keadaan tidak mempunyai Iradat. p. Kaunuhu Alamin , artinya Ia dalam keadaan Yang tahu, mustahil Ia dalam keadaan tidak tahu. q. Kaunuhu Hayyan, artinya Ia dalam keadaan Yang hidup, mustahil Ia dalam keadaan yang mati. r. Kaunuhu Sami‘an, artinya Ia dalam keadaan Yang mendengar, mustahil Ia dalam keadaan yang tidak mendengar. s. Kaunuhu Bashiran, artinya Ia dalam keadaan Yang melihat, mustahil Ia dalamkeadaan yangtidak melihat.

83

t. Kaunuhu Mutakalliman, artinya Ia dalam keadaan Yang berkata, mustahil Ia dalam keadaan yang tidak berkata. Demikian 20 sifat yang wajib (mesti ada) bagi Allah dan 20 sifat yang mustahil (tidak mungkin ada) bagi Allah. 5. Sifat yang harus bagi Allah hanyalah satu, yaitu: Ia boleh mem-perbuat dan boleh pula tidak memperbuat. 6. Wajib dipercayai bahwa malaikat ada. Mereka banyak. Tetapi yang wajib diketahui secara terperinci hanyalah 10 orang sebagai yang telah disebutkan nama-namanya dan pekerjaannya masingmasing dalam bagia 2 Bab II tentang malaikat. 7. Wajib di percayai kitab-kitab suci yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada Kaum-Nya. Kitab-kitab Suci ini banyak, tetapi yang wajib diketahui secara terperinci adalah 4, yaitu: a. Kitab Taurat Yang diturunkan kepada Nabi Musa As b. Kitab Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud As c. Kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa As d. Kitab Qur‘an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. 8. Kaum Ahlussunal wal jama‘ah mempunyai sekalian Rasul-Rasul yang diutus Allah kepada

manusia. Mereka banyak, ada yang diterangkan oleh Allah kepada kita dan ada pula yang tidak diterangkan. Tetapi yang wajib diketahui secara terperinci adalah 25 Rasul yang dinyatakan dalam al qur‘an. Baik juga dijelaskan secara pendek perbedaan antara Nabi dan Rasul. Nabi ialah orang yang diturunkan wahyu oleh Tuhan, tetapi tidak disuruh untuk menyampaikan kepada manusia, sedang Rasul ialah Nabi yang dituruni wahyu oleh Tuhan dan Ia diperintahkan untuk menyampaikan wahyuitu kepada manusia. Jadi, seorang Nabi belum tentu menjadi Rasul, tetapi seorang Rasul mesti menjadi Nabi lebih dahulu. Yang 25 orang ini adalah Nabi dan juga Rasul, menurut faham kaum Aflussunah wal jama‘ah. 9. Setiap orang Islam wajib mempercayai hari akhirat. Permulaan hari akhirat itu bagi setiap manusia adalah sesudah mati, yaitu, begini: a. Setiap orang akan mati apabila jangka usianya sudah habis. b. Setiap mati lalu dikubur. Dalam kubur ditanyai : siapa Tuhan, siapa Nabi, siapa Imam dan lainlain pertanyaan oleh Malaikat Munkar dan Nakir. c. Orang yang jahat akan disiksa dikubur d. Kemudian pada suatu waktu akan terjadi kiamat besar, dunia hancur lebur dan semua makhluk yang ada di dunia akan mati.

84

e. Kemudian pada suatu waktu akan dibunyikan terompet sehingga seluruh orang yang mati bangun kembali, berkumpul di Padang Mahsyar. f. Akan diadakan Hisab, ya‘ni perhitungan dosa dan pahala. g. Di Padang Mahsyar itu akan ada syafa‘at(bantuan) dari Nabi Muhammad Saw. Dengan se-izin Tuhan. h. Akan ada timbangan untuk menimbang dosa dan pahala. i. Akan ada titian Shirathulmustaqim, yang dibentangkan di atasneraka yang akan dilalui oleh sekalian manusia. j. Akan ada telaga Kautsar, kepunyaan Nabi Muhammad Saw., didalam Surga, dimana orangorang beriman akan dapat minum. k. Yang lulus ujian terus langsung selamat meniti dan masuk surga Jannatun Na‘im, tetapi yang kafir akan jatuh di neraka. l. Orang yang baik akan masuk surga dan kekal selama-lamanya. m. Orang kafir akan masuk neraka dan kekal selama-lamanya. n. Orang mu‘min yang berdosa dan mati sebelum taubat, akan masuk ke dalam neraka buat sementara dan sehabis hukuman akan dikeluarkan dan dimasukkan kedalam surge buat selama-lamanya. o. Orang mu‘min yang baik-baik akan diberi ni‘mat apa saja yangia sukai dan akan diberilagi ni‘mat tambahan yang paling besar dan paling lezat yaitu meliah Allah SWT. Demikian secara ringkas tenteng hari akhirat. 10. Kaum Ahlussunnah mempunyaiQadha dan Qadar, yaitu Takdir Ilahi, yaitu sebagai berikut: a. Sekalian yang terjadi di dunia ini sudah ada Qadha Tuhan, yakni hukum Tuhan dalam azal, bahwa itu akan tgerjadi. b. Sekalian yang terjadi di dunia ini – buruk dan baiknya semuanya itu dijadikan Tuhan. Pendekmya baik dan nasib buruk semuanya dari Tuhan dan kita ummat manusia hanya menjalani takdir saja. c. Yang ada bagi manusia hanya kasab, ikhtiar dan usaha. Kita wajib berusaha dan berikhtiar d. Pahala yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah karena karunia-Nya dan hukuman yang diberikan manusia adalah karena keadilannya. Demikian kepercayaan orang mukmin, kaum Ahlussunnah Wal Jama‘ah setengah yang bertalian dengan rukun iman yang enam, yakni percaya kepada Allah, Malaikat-Malaikatnya, Raasulnya, Hari Akhirat dan Qadha – Qadar-Nya. Selain dari itu kaum Ahlussunnah mempunyai pula bermacam-macam kepercayaan yang terbit dari rukun iman yang enam tadi yaitu sebagai tersebut dibawah ini :

85

11. Tuhan bersama nama-Nya dan sifat-Nya, semua qadim, karena nama dan sifat itu berdiri diatas zat yang qadim. Maka karena itu sekalian sifat Tuhan adalah qadim, tidak berpemulaan adanya. 12. Qur‘an Al Karim adalah kalam Allah yang qadim. Adapun yang tertulis dalam Mas-haf, yang pakai huruf dan suara dalah gambaran dari Qur‘an yang qadim itu. Karena itu Qur‘an Al Karim dikatakan qadim tidak boleh dikatakan hadits atau ―makhluq‖ 13. Rizki sekalian manusia sudah ditakdirkan dalam azal, tidak bertambah dan tidak berkurang, tetapi manusia disuruh mencari rizki, disuruh berusaha tidak boleh menunggu saja. 14. Azal setiap manusia sudah ada jangkanya oleh tuhan, tidak terkemudian dan tidak terdahulu walaupun sedetik kelaipun. Tetapi manusia diperintyah oleh Tuhan supaya berobat kalau sakit dan tidak boleh menunggu azal saja. 15. Anak-anak orang kafir, kalau mati kecil masuk surga. 16. Do‘a orang mukmin memberi manfaat baginya dan bagi yang di do‘akan. 17. Pahala sedekah, wakaf dan pahala bacaan (tahlil, selawat bacaan Qur‘an) boleh dihadiahkan kepada orang yang telah mati dan sampai kepada mereka kalau dimintakan kepada Allah untuk menyampaikannya. 18. Ziarah kubur, khususnya kubur ibu bapak, ulama-ulama, wali-wali dan orang-orang mati sahid, apalagi kubur Nabi Muhammad SAW. Dan sahabat-sahabat beliau adalah sunat hukumnya, diberikan pahala kalau dikerjakan. 19. Berjalan pergi ziarah kubur termasuk mengerjakan ibadat. 20. Mendo‘a kepada Tuhan secara langsung, atau mendo‘a kepada Tuhan secara wasilah (bertawasul) adalah sunnah hukumnya diberi pahala kalau dikerjakan. 21. Masjid di seluruh dunia sama derajatnya, kecuali 3 buah masjid, lebih tinggi derajatnya dari yang lain, yakni masjid-masjid Mekah, Madinah dan Baital Muqaddas. Berjalan untuk sembahyang ke masjid yang 3 itu adalah ibadat, diberi pahala kalau dikerjakan. 22. Seluruh manusia adalah anak cucu Nabi Adam. Adam berasal dari tanah. Iblis dan jin dijadikan tuhan dari api, tetapi malaikat-malaikat dijadikan tuhan dari cahaya. 23. Bumi dan langit ada. Siapa yang mengatakan langit tidak ada ia keluar dari lingkungan Ahlussunnah Wal Jama‘ah. 24. Nama Tuhan tidak boleh dibuat-buat oleh manusia, tetapi harus sebagai yang telah ditetapkan Tuhan dalam Qur‘an dan hadits-hadits Nabi yang shahih. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dan Imam Bukhari, nama Tuhan itu 99 banyaknya. Siapa yang menghafalkannya diluar kepala akan dimasukkan kedalam surga. (lihat sahih Bukhari juz IV pagina 195 dan sahih Tirmidzi juz XIII, hal. 37 – 42). Kita umat Islam boleh mendo‘a

86

(menyeru) pada salah satu dari nama-nama yang 99 ini, umpamanya Ya Lathif, Ya Lathif atau Ya Rahim, Ya Rahman, Ya Wadud dan lain-lain sebagainya. 25. Kalau terdapat ayat-ayat Qur‘an suci yang seolah-olah menyatakan Tuhan itu bertubuh serupa manusia, atau bertangan seruapa manusia, atau bermuka serupa manusia, atau duduk serupa manusia, atau turun serupa manusia maka ulama-ulama Ahlussunnah Wal Jama‘ah menta‘wailan atau menafsirkan ayat ini secara majaji, yakni bukan menurut asal arti dari perkataan itu sesudah itu dioserahkanlah kepada Tuhan apakah yang sebenarnya yang dimaksudkannya dari ayat-ayat itu. Misalnya ayat yang mengatakan Tuhan bermuka maka maksudnya adalah zat yang qadim yang tidak serupa dengan makhluk-Nya. Kalau terdapat ―Tuhan bertangan‖ maka maksudnya ―Tuhan berkuasa‖, karena tangan itu biasanya alat kekuasaan. Kalau berjumpa ayat yang mengatakan ―Tuhan duduk diatas ‗Arasy‖ maka maksudnya ialah ―Tuhan menguasai ‗Arasy‖, kalau berjumpa ayat atau hadits yang mengatakan ―Tuhan Turun‖, maka yang turun adalah rahmat-Nya, bukan batang tubuh-Nya. Kalau berjumpa ayat yang mengatakan tuhan itu cahaya, maka maksudnya ialah ―Tuhan itu memberi cahaya‖, begitulah seterusnya. Hal ini sangat dianggap perlu, agar kita jangan termasuk golongan kaum musabbihah atau mujassimah yang menetapkan ada keserupaan Tuhan dengan makhluk. Dalam surat as Syura‘ ayat 11q dinyatakan senyata-nyatanya, bahwa tiada suatupun yang menyerupai Tuhan dan Tuhan tidak serupa dengan makhluk-Nya. Tetapi dalam mengartikan atau menta‘wilkan ayat ini janganlah memakai sembarang ta‘wil, hendaknya diperhatikan kitab-kitab tafsir ahlussunah yang dipercayai, umpamanya kitab tafsir At Thabari, tafsir Qurthubi, tafsir Jalalaein, tafsir Khazen dan lain-lain sebagainya. Barang siapa yang hendak mendalami persoalan ini baca buku ―40 masalah agama‖ jilid IV, karangan kami juga pada bab ―masalah Salaf persoalan ini. 26. Bangkit sesudah mati hanya satu kali. Manusia mulanya tidak ada, kemudian lahir ke dunia, sesudah itu mati, sesudah bangkit (hidup) kembali berkumpul di Padang Mahsyar, sesuai dengan ayat Qur‘an pada surat Al Baqarah ayat ke 28. Pendeknya kalau manusia sudah mati, ya sudah, tidak hidup lagi walaupun menyerupai binatang atau apa saja. Hidup nanti pada hari kiamat apabila dibunyikan nafir oleh Malaikat Israfil. Hal ini bertentangan dengan kepercayaan sebagian orang-orang Syi‘ah yang berkenyakinan bahwa Saidina Ali akan hidup kembali pada akhir zaman dan sesudah itu mati lagi dan sesudah itu hidup lagi di Padang Mahsyar. 27. Upah (Pahala) yang diberikan Tuhan kepada orang saleh bukanlah karena Tuhan terpaksa untuk memberikannya dan bukan pula kewajiban untuk membalas jasanya orang itu. Begitu juga dan Khalaf‖. Disitu diuraikan panjang lebar

87

hukuman bagi orang durhaka tidaklah Tuhan terpaksa menghukumnya atau kewajiban Tuhan untuk menghukumnya, tidak. Tuhan memberikan pahala kepada manusia dengan Kurnia-Nya dan menghukum dengan KeadilanNya. 28. Tuhan Allah dapat dilihat oleh penduduk surga dengan mata kepala, bukan dengan mata hati saja. Tetapi ingatlah jangan ada kenyakinan bahwa Tuhan itu ada didalam surga. Hanya kita yang melihat, yang bertempat dalam surga. 29. Pada waktu di dunia tidak ada manusia yang dapat melihat Tuhan kecuali Nabi Muhammad SAW. Pada malam mi‘raj. Barang siapa yang hendak mendalami persoalan ini dipersilakan dengan membaca buku ―40 masalah agama‖ jilid IV, karangan kami juga tentang ―Masalah Melihat Tuhan ‗Azza wa Jalla‖. 30. Mengutus Rasul-Rasul adalah suatu karunia Tuhan kepada hamba-Nya, untuk menunjuki jalan yang lurus, bukanlah kewajiban Tuhan untuk mengutus Rasul-Rasul itu. 31. Wajib diketahui dan diyakini oleh seluruh ummat Islam bahwa Nabi Muhammad SAW lahir di Mekkah. Setelah berusia 40 tahun beliau diangkat menjadi Rasul, lalu diturunkan kepada beliau ayat-ayat Qur‘an berturut-turut selama 23 tahun. Sesudah 13 tahun menjadi Rasul beliau pindah ke Madinah, menatap di situ dan wafat di situ. Beliau wafat sesudah melakukan tugas selama selama 23 tahun dalam usia 63 tahun. Makam pekuburan Nabi Muhammad SAW di Madinah, dalam lingkungan masjid Madinah sekarang. Setiap orang Islam wajib menziarahi. 32. Nabi Muhammad SAW adalah manusia serupa kita, bukan Malaikat. Beliau makan, minum, tidur, kawin mempunyai keluarga serupa manusia biasa. Akan tetapi kemanusiaan beliau adalah luar biasa, rohaniyah dan jasmaniyah beliau luar biasa kuatnya, karena kepada beliau diturunkan wahyu Ilahi, yang kalau diturunkan kepada bukit niscaya bukit itu akan hancur lebur. Kaqlau diumpamakan kepada batu boleh dikatakan Nabi Muhammad SAW itu batu Akik (batu permata akik), dan manusia yang lain serupa batu krikil, sama-sama batu, tetapi yang satu lebih tinggi derajatnya, lebih kuat dan lebih mahal harganya. Kaum Ahlussunnah wal Jama‘ah menggap bahwa Nabi Muhammad SAW walaupun manusia serupa kita, tetapi beliau adalah ―Saidul Khalaik‖ makhluk Tuhan yang termulai dibanding yang lain-lain. 33. Silsilah nenek-nenek Nabi adalah : Muhammad bin Abdullah, bin Abdulmuthalib, bin Hasyim, bin Abdu Manaf, bin Qushai, bin Kilab, bin Marrah, bin Ka‘ab, bin Luai, bin Galib, bin Fihir, bin Malik, bin Nadhar, bin Kinanah, bin Khuzaimah, bin Mudrikah, bin Ilyas, bin Mudhar, bin Ma‘ad bin Adnan. Dari pihak ibu adalah : Muhammad bin Aminah, bin Wahab, bin Abdu Manaf, bin Zahrah, bin Kilab (nenek Nabi yang ke-enam dari pihak bapak).

88

34. Istri-istri Nabi dari mulai kawin sampai wafat adalah : Ummul Mu‘minin Khadijah binti Khawalid, ‗Aisyah binti Abu Bakar, Hafazah binti Umar, Ummu Salamah binti Abi Umaiyah, Ummu Habibah binti Abu Sofyan, Saudah binti Zam‘ah, Zainab binti Jahasy, Zainab binti Khuzaimah, Maimunah binti Harits, Juwairiyah binti Harts, dan Safiyah binti Hay, Radiyallahu an-hunna. 35. Anak-anak Nabi Muhammad SAW adalah : Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, Sitti Fatimah, Qasim, Abdullah dan Ibrahim, Radiyallahu anhum. 36. Nabi Muhammad SAW diutus oleh Tuhan kepada seluruh manusia, tidak pandang suku, tidak pandang negeri dan tidak pendang agama. 37. Nabi Muhammad SAW mi‘raj ke langit melalui Baitul Muqaddasn ―Palestina‖ tanggal 27 Rajab dan kembali malam itu juga ke dunia membawa perintah sembahyang 5 kali sehari-semalam. Beliau mi‘raj dengan tubuh dan rohnya. Barang siapa yang hendak memperdalam persoalan ini dipersilakan membaca buku ―40 Masalah Agama‖ Juz I tentang Masalah Isra‘ dan Mi‘raj‖. 38. Nabi Muhammad SAW terdahulu diangkat jadi Nabi dibandingkan dengan Nabi-Nabi yang lain yaitu pada masa Nabi Adam masih terbaring dalam surga sebelum diberi jiwa. Karena itu beliau adalah Nabi yang paling dahulu diangkat dan yang paling akhir lahir ke dunia. 39. Nabi Muhammad SAW memberi safa‘at (bantuan) nanti di akhirat kepada seluruh manusia. Safa‘at (bantuan) itu bermacam-macam, diantaranya menyegerakan berhisab di Padang Mahsyar. 40. Sesudah Nabi Muhammad SAW meninggal dunia maka pengganti beliau yang syah adalah Saidina Bu Bakar RA. Sebagai khalifah yang pertama, Saidina Umar bin Khatab sebagai khalifah yang kedua, Saidina Utsman bin Affan sebagai khalifah ketiga dan Saidina Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah yang keempat RA. Beliau-beliau yang berempat ini dinamai Khulafaur Rasyidin. 41. Wajib diyakini bahwa yang paling mulia diantara makhluk Tuhan ialah Nabi Muhammad SAW , sesudah itu Rasul-Rasul lain, sesudah itu Nabi-Nabi, sesudah itu malaikat-malaikat, dan sesudah itu manusia yang lain. 42. Wajib diyakini bahwa sahabat Nabi yang paling mulai Saidana Abu Bakar, sesudah itu Saidina Umar bin Khatab, sesudah itu Saidina Umar bin Affan, sesudah itu Saidina Ali bin Abi Thalib, sesudah itu sahabat-sahabat yang 10 yang telah dikabarkan oleh Nabi akan masuk surga, yaitu empat orang khalifah ditambah dengan Thal‘ah bin ‗Ubaidillah, Zuber bin ‗Awam, Abdurrahman bin Auf, Sa‘ad bin Abi Waqash, Sa‘id bin Zaid, Abu Ubaidah, Amir bin Jarrah, sesudah itu sahabatsahabat yang ikut perang badar, sesdudah itu sahabat-sahabat yang perang uhud, sesudah itu sahabat-sahabat yang ikut Bai‘atur Ridhwan, sesudah itu sekalian sahabat Nabi RA. 43. Dalam saoal pertikaian dan peperangan yang terjadi antara para sahabat Nabi, seumpama ―peperangan jamal‖ antara Siti ‗Aisyah dan Saidina ‗Ali, ―peperangan siffin‖ antara Saidina Ali dan Muamiyah, kaum Ahlussunnah wal Jama‘ah menanggapi secara positif tidak banyak dibicarakan

89

tetapi dianggap bahwa mereka berperang menurut ijtihad mereka masing-masing. Kalau ijtihad itu benar pada sisi Allah mereka dapat pahala dua, akan tetapi kalau ijtihad mereka salah pada sisi Allah maka mereka pahala satu, yaitu atas ijtihadnya itu. 44. Kaum Ahlussnunnah wal Jama‘ah yakni, bahwa sekalian famili Nabi Muhammad SAW khususnya Siti ‗Aisyah Ummul Mu‘minin yang tertuduh membuat kesalahan, adalah bersih dari noda. Fitnah yang dilancarkan kepada famili Nabi adalah fitnah yang dibuat-buat (lihat Qur‘an surat Nur ayat 11). 45. KeRasulan seorang Rasul adalah kurnia dari Tuhan. Pangkat itu tidak didapat dengan diusahakan, umpamanya dengan masuk sekolah, bertapa dan lain-lain. 46. Rasul-Rasul Allah bertali dengan dengan mu‘jizat, yaitu perbuatan yang ganjil yang diluar kemampuan manusia biasa, umpamanya Nabi Ibrahim tidak terbakar oleh api, Nabi Isa pandai menghidupkan orang yang sudah mati, Nabi Musa pandai menjadikan tongkatnya menjadi ular, Nabi Muhammad SAW dengan kitab sucinya Al-Qur‘an yang tidak dapat ditiru oleh orang pandaipandai, air keluar dari anak jari beliau, bulan belah dua, matahari terhenti berjalan dan lain sebagainya. 47. Kaum Ahlussunnah wal Jama‘ah menyakini adanya keramat. Keramat artinya pekerjaan yang ganjil-ganjil diluar kebiasaan, yang dikerjakan oleh wali-wali Allah, ulama-ulama orang-orang saleh, seumpamanya makanan datang sendiri kepada Siti Maryam, ahli gua tidur selama 309 tahun tanpa rusak dagingnya. 48. Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang penghabisan, tidak ada lagi Nabi sesudah beliau. Begitu juga pangkat keNabian dan keRasulan, begitu Nabi-Nabi pembantu tidak ada lagi sesudah Nabi Muhammad SAW. Siapa-siapa yang menda‘wakan dirinya Nabi atau Rasul, baik Nabi yang berkendiri atau Nabi untuk menjalankan syariat Nabi Muhammad SAW maka orang itu pembohong yang wajib dilawan. 49. Wajib dipercayai adanya Arasy, yaitu suatu benda makhluk Tuhan yang dijadikan dari nur, terletak ditempat yang tinggi dan mulai, yang tidak diketahui hakikat dan kebesarannya hanyalah Allah SWT yang mengetahui. 50. Wajib diyakini adanya ―kursi Tuhan‖ yaitu suatu benda makhluk Tuhan yang berdekatan dan bertalian dengan Arasy. Hakikat keadaannya diserahkan kepada Tuhan. Yang wajib bagi kita ialah mempercayai adanya. 51. Wajib dipercayai adanya kalam, yaitu suatu benda yang dijadikan Tuhan untuk menuliskan sesuatu yang akan terjadi di Luh Mahfuzh. Sekalian yang terjadi didunia ini sudah dituliskan dengan kalam di Luh Mahfuzh terlebih dahulu. 52. Surga dan neraka bersama penduduknya akan kekal selama-lamanya, tidak akan habis. Keduanya dikekalkan Tuhan agar yang berbuat baik merasai selama-lamanya nikmat pekerjaannya dan berbuat dosa merasai selama-lamanya siksa atas perbuatannya.

90

53. Dosa itu – menurut faham Ahlussunnah wal Jama‘ah – terbagi dua, ada dosa besar dan ada pula dosa kecil. Dosa besar itu adalah : syirik (mempersekutukan Tuhan, ini paling besar), membunuh manusia dengan tidak hak, makan riba rente uang, lari dari medan pertempuran perang sabil, menjadi tukang sihir, mendurhakai ibi bapak, berbuat zina, berbuat liwath, berdusta terhadap Nabi dan lain-lain tidak berapa lagi. Kalau dosa besar tidak dikerjakan maka dosa-dosa keciul akan diampuni saja oleh Tuhan. Dosa besar hanya dapat diampuni kalau si pembuatnya taubat kepada Tuhan. 54. Orang mu‘min bisa menjadi kafir kembali (riddat) dengan melakukan hal-hal dibawah ini: Dalam I’itiqad a. Syak (ragu) atas adanya Tuhan. b. Syak (ragu) keRasulan Nabi Muhammad SAW. c. Syak (ragu) bahwa Qur‘an itu wahyu Tuhan. d. Syak (ragu) bahwa akan ada hari kiamat, hari akhirat, surga, neraka dan lain-lain sebagainya. e. Syak (ragu) bahwasanya Nabi Muhammad SAW isra‘ dari masjid Mekkah ke masjid Baital Mukaddas denganroh dan tubuh. f. Me-i‘itiqadkan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat, seperti ilmu hayat, qidam, baqa‘ dan lainlain sebagainya. g. Me-i‘itiqadkan bahwa Tuhan bertubuh serupa manusia. h. Mengahalalkan pekerjaan yang telah sepakat ulama Islam mengharamkannya, umpamanya menyakini bahwa zina boleh baginya, berhenti puasa boleh baginya, membunuh orang boleh baginya dan lain-lain sebagainya. i. Mengharamkan pekerjaan yang telah sepakat ulama Islam memperbolehkannya, umpamanya kawin haram baginya, jual beli haram baginya, makan minum haram baginya dan lain-lain sebagainya. j. Meniadakan suatu amalan ibadat yang telah sepakat ulama Islam mewajibkannya, seumpamanya sembahyang, puasa, zakat dan lain-lain sebagainya. k. Mengingkari kesahabatan sahabat-sahabat Nabi yang utama, seperti Saidina Abu Bakar, Saidina Umar dan lain-lain sebagainya. l. Mengingkari sepotong atau seluruhnya ayat Qur‘an atau menambah sepotong atau seleuruhnya ayat Qur‘an, dengan tujuan menjadikan ia menjadi Qur‘an. m. Mengingkari salah seorang dari Rasul yang telah sepakat ulama-ulama Islam mengatakannya Rasul. n. Mendustakan Rasul-Rasul Tuhan. o. Me-i‘itiqadkan ada Nabi sesudah Nabi Muhammad SAW. p. Menda‘wakan jadi Nabi atau jadi Rasul sesudah Nabi Muhammad SAW.

91

Dalam Alaman a. Sujud kepada berhala, pada matahari, pada bulan dan lain-lain. b. Sujud kepada manusia dengan sukarela. c. Menghina Nabi-Nabi atau Rasul-Rasul dengan lisan atau perbuatan. d. Menghina kitab-kitab suci dengan lisan atau perbuatan. e. Mengejek-ejek aganma atau Tuhan dengan lisan dan tulisan. f. Dan lain-lain Dalam Perkataan a. Mengucapkan ―hai kafir‖ kepada orang Islam. b. Mengejek-ejek atau menghina-hina nama Tuhan. c. Mengejek-ejek hari akhirat, surga dan neraka. d. Mengejek-ejek salah satu syariat, umpamanya sembahnyang, puasa, zakat, naik haji, tawaf keliling Ka‘bah, wuquf di Arafah dan lain-lain sebagainya e. Mengejek-ejek malaikat-malaikat. f. Mengejek-ejek Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul.

g. Mengejek-ejek keluarga Nabi h. Mengejek-ejek Nabi Muhammad SAW i. Dan lain-lain Demikianlah secara ringkas kami tuliskan daftar i‘itiqad kaum Ahliussunah wal jama‘ah. Daftar ini belum lengkap. Banyak lagi yang tidak dituliskan. Nanti apabila kita telah sampai membicarakan firqah yang lain, umpama firqah syi‘ah, Mu‘tazilah dan lain-lain akan dibentangkan lagi secara terperinci i‘itiqad-i‘itiqad kaum Ahlussunnah wal jama‘ah. Bacalah terus fasal-fasal berikutnya.

92

PERTEMUAN XIII Setelah Mempelajari Modul Ini Diharapkan Anda Mampu: 1. Menjelaskan Pengertian Hizb Nahdlatul Wathan dan Nahdlatul Banat 2. Menjelaskan Sejarah Hizb Nahdlatul Wathan dan Nahdlatul Banat 3. Menjelaskan Proses Pengamalann Hizb Nahdlatul Wathan dan Nahdlatul Banat 4. Menjelaskan Pengertian Tarekat dan Tujuan Pengamalannya. 5. Menjelaskan Sejarah Lahirnya Tarekat Hizb Nahdlatul Wathan 6. Menjelaskan Prosesi Pengamalan Hizb Nahdlatul Wathan DESKRIPSI KARYA TULIS TUAN GURU KYAI HAJI MUHAMMAD ABDUL MAJID A. JUDUL JUDUL KARYA TULIS Disela-sela kesibukan Tuan Guru kyai Haji Muhammad Zaenuddin Abdul Madjid dalam melakukan aktivitas di bidang pendidikan, social, dan dakwah, ia juga lupa menulis beberapa kitab sebagai rujukan bagi para santri di madrasah NWDI dan NBDI. Karya- karya memang tidak berbentuk kitab-kitab yqang besar, yang berisi kajian-kajian yang panjang lebar pembahasannya ( muthawwalat), tetapi karyanya lebih merupakan kajian-kajian dasar dan biasanya dalam bentuk syair dan nadzhamnadzham berbahasa Arab. Di samping itu juga, terdapat kitab yang berisi nadzham dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Arab dan Melayu.karyanya juga dalam bentuk syarah atau penjelasan lebih lanjut terhadap suatu kitab dan dalam bentuk saudara dari kitab-kitab lain. Di atara judul-judul karya tulis yang telah dihasil-kannya adalah sebagai berikut: 1. Dalam Bahasa Arab 1. Rasallah al Tauhid dalam bentuk soal jawab. 2. Sullam Al hija Syarh Safinah al-Naja (Ilmu Fiqih) 3. Nahdlah al – Zainiyah dalam bentuk nadzham (ilmu Faraidh) 4. Al-Tuhfahl al-Anfananiyah Syarh Nahdlah a—Zainiyah (Ilomu Faraidh) 5. Al-Fawakih Al-Nahdliyah dalam bentuk soal jawab (Ilmu Faraidh) 6. Mi‘raj al-Shibyan ila sama‘I ilm al-Bayan ( Iolmu Balagh) 7. Al-Nafahat ‗ala al-Taqrirah al saniyah (Ilmu Mushthalah al-Hadist) 8. Nail al-Anfal (Ilmu Tajwid) 9. Hizib Nahdlah al-wathan )(doa dan wirid) 10. Hizib Nahdlah al-Banat (Doa dan wirid kaum wanita) 11. Shalat al-Nahdlatain 12. Thariqah hizib Nahdlatul wathan (Doa dan Wirid) 13. Ikhtisar hizib Nahdlatul Wathan (wirid Harian)

93

14. Shalat Nahdlah Al-Wathan 15. Shalatmiftah bab Rahmah Allah (wirid dan Do‘a) 16. Shalat al-Mabuts rahmah li al-‗Alamin (wirid dan Do‘a) 2. Dalam bahasa Indonesia dan sasak 1. Batu ngompal (ilmu tajwid) 2. Anak Nunggal Taqrirat Batu Ngompal (Ilmu Tajwid) 3. Wasiat Renungan Masa I dan II (Nasihat dan petunjuk perjuangan untuk warga Nahdlatul wathan) 3. Nasyid/ Lagu Perjuangan dan Dakwah dalam Bahasa Arab, Indonesia Dan Sasak 1. Ta‘sis NWDI ( Anti ya Pamcor Biladi) 2. Imamua al-syafi‘i 3. Ya Fata Sasak 4. Ahlan bi wafd al zairin 5. Tanawwar 6. Mars Nahdlatul wathan 7. Bersatulah Haluan 8. Nahdlatain 9. Pacu Gama‘ B. DESKRIPSI BEBERAPA KARYA TULIS ZAINUDDIN ABDUL MAJID 1. Hizib Nahdlatul Wathan dan Hizib Nahdlatul Banat a. Pengertian Hizb Secara etimologis Hizb berarti doa, wirid senjata, bagian, kelompok, partai, dan golongan. Sedangkan secara teretimologis Hizbberarti kumpulan do‘a – do‘a atau wirid yang system matika bacaannya teratur dan terpilih dari ayat-ayat al-qur‘an dan hadis Nabi Muhammad SAW serta amalan – amalan rutin para ulama dan aulia Allah yang diamalkan dengan tujuan tertentu dan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan kata lain, bahwa hizib adalah kumpulan do‘a –do‘a yang tertentu dan terpilih dengan sarana yang terarah. Dalam tradisi tasawwuf Nahdlatul Wathan dikenal tiga macam hizib, yakni hizib Nahdlah alWathan, Hizib Nahdlah al – Banat, dan Thariqah Hizib Nahdlah al- wathan. Ketiga jenis amaliah tasawwuf ini merupakan karya – karyanya yang disadur dari kumpulan dari sekitar 70 (tujuh puluh) macam hizib para wali Allah. TUAN GURU KIYAI HAJI MUHAMMAD

b. Sejarah hizib Nahdalah al –Wathan dan Nahdlah al- Banat

94

hizib Nahdlah al- Wathan dan Nahdlah al- Banat lahir sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT untuk mempertahankan keturunan madrasah NWDI/NBDI dari para penetang system maddrasah pada saat itu, orang –orang yang hasad, dan bahkan dari penjajah Jepang yang ingin menutup madrasah tersebut. Berkat pertolongan Allah melalui pengalaman hizib Nahdlah al – Wathan, maka kedua madrasah tersebut tidak dibubarkan oleh Jepang. Sementara di pihak lain, sekitar 60 % madrasah dan sekolah agama di Indonesia telah dibubarkan atau membubarkan diri. Proses tersusunnya hizib Nahdlah al –Wathan dan Nahdlah al – Banat pada awalnya berbentuk lembaran –lembaran do‘a yang dibagikan kepada para santri sebagai amalan yang harus dibaca ketika banyak para penentang dan orang – orang hasad yang memusuhi perjuangan Nahdlatul Wathan. Lembaran – lembaran do‘a ini oleh para santri minta diijazahkan dan dibukukan secara sistematis. Akhhirnya pada tahun 1360H / 1940 M hizib Nahdlah al –Wathan dibukukan. Sementara hizib Nahdlah al- Banat dibukukan pada tahun 1363H/ 1943 M. Pada awal tersusunnya hizib ini bentuknya cukup panjang sehingga para santri banyak yang merasa tidak kuat dan konsisten mengamalkannya. Kemudian atas kebijakan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zaenuddin Abdul Madjid. Hizib Nahdlatu al Wathan disempurnakan

susunannya dengan maksud agar para santri dan jamaah Nahdlatul Wathan dapat mengamalkannya secara kontinyu dan konsisten. Proses penyederhanaan Hizib Nahdlatu alWathan dilakukan olehnya pada tahun 1363 H / 1943 M. berkaitan dengan ini ia menyatakan bahwa: Sesungguhnya setelah tiga tahun situasi menuntut untuk dilakukan penyederhanaan hizib dan menjadikannya sebagai salah satu kebijakan madrasah untuk dihafal oleh seluruh santri, baik senior maupun yunior. Tujuannya dalah sebagai dorongan yang kuat dalan memperolehmanfaat yang diharapkan serta sebagai rasa cinta dan komitmen yang kuat kepada agama yang lurus di masa kini,yang penuh dengan kerusakan, penyimpangan dan kekafiran, serta banyak dilandai oleh praktik – praktek bid‟ah yang penuh dengan kesesatan. Sementara Hizib Nahdlatu al- Banat sejak awal memang disusun dalam bentuknya yang ringkas dan tidak pernah dilakukan penyederhanaan seperti Hizib Nahdlatu al- Wathan . c. Sistematika Hizib Nahdlatul WAthan dan Hizib Nahdlatul Banat Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa hizib merupakan lembaran – lembaran do‘a yang disusun dan dikumpulkaan oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zaenuddin Abdul Madjid, kemudian diamalkan secara kontiyu dan konsisten oleh para santri dan jamaah Nahdlatul Wathan. Amalan inilah yang selanjutnya dinamakan sebagai Hizib Nahdlatu al - Wathan . Hizib Nahdlatu al- Wathan dan Hizib Nahdlatu al – Banat, selain berisi bacaan hizib itu sendiri, juga dilengkapi dengan bacaan – bacaan lain, seperti shalawat – shalawat Nabi, bacaan talqin mayyit, khutbah nikah dan dilengkapi dengan beberapa surat al – Qur‘an dan lain – lain. Sistematika seperti ini dilakukan untuk melengkapi kitab hizib ini, sehingga dicetak dalm bentuk

95

buku saku untuk mengantisipasi beberapa kebutuhan masyarakat, seperti adanya khutbah nikah untuk digunakan ketika terjadi pernikahan, bacaan talqin mayyit, apabila ada yang meninggal dunia. Bahkan pada cetakan terakhir, hizib ini juga berisi wasiat dan sya‘ir – sya‘ir dari gurunya, Syaikh Sayyid Muhammad Amin Kutbi. Adapun sistematika penulisan Hizib Nahdlatul Wathan dan Hizib Nahdlatul Banat adalah sebagai berikut: 1. Shalawat Nahdlatul Wathan 2. Surat Al- Yasin 3. Surat al – Waqi‘ah 4. Surat al –Mulk 5. 6. 7. 8. 9. Kata pengantar dengan bahasa Indonesia, tulisan Arab Melayu Pengantar cetakan yang ke depan Mukaddimah Hizib Nahdlatul Wathan dan Hizib Nahdlatul Banat Pembukaan (miftabh) Hizib Nahdlatul Wathan dan Hizib Nahdlatul Banat Pembacaan shalawat enam (shalawat al – sith) a. Shalawat Nahdlatain b. Shalawat al –fatih c. Shalawat al – Nariyah d. Shalawat al – Thibb e. Shalawat al Ali al – Qadri f. Shalawat Miftahi bab Rahmatillah 10. Hizib Nahdlatul Wathan 11. Kata –kata penutup(khatimah) 12. Ikhtisar Hizib Nahdlatul Wathan 13. Hizib Nahdlatul Banat 14. Al – Qashidah al –Mnfarijah, oleh Imam al – Arifu Billahi Abu Fadhil Yusup Ibn Muhammad 15. Qashidah, oleh Imam Abu al – Qasim al – Sahil 16. Qashidah, oleh Imam al – Muhaddits Habibullah al – Syanqiti 17. Qashidah, oleh sebagaian Auliya Rahimatullah, kecuali bait terakhir oleh pengarang hizib ini 18. Qashidah, oleh para Masyaikh (pengarang hizib ini) 19. Qashidah, oleh sebagian ulama al – jilla, r.a. kecuali bait kalimat Rabbana ya dzal jalali wal minan- wal‘asyya wal bukar. Oleh pengarang hizib ini 20. Qashidah, oleh Imam al – Arib Ibu Maeardi,r.a. 21. Do‘a al- Fajar, oleh Sayyidah Aisyah Ummu al – Mukminin, r.a. 22. Qashidah, oleh Sayyid al – Auliya al- Syaikh Abdul Qadir al- Jailani,

96

23. Qashidah, oleh Maulana al- Syaikh Hasan Muhammad Al- Masysyath al- Makki, yang diawali dengan komentar pengarang hizib ini tentang kelebihan Qashidah tersebut, 24. Ayat al – Hifdzi 25. Penjelasan tentang gambaran umum terhadap isi dan kandungan hizib, adab berhizib dann kaifat pengamalan, oleh Maulana al – Syaikh TGKH. Muhammad Zaenuddin Abdul Madjid ( pengarabg hizib ini) 26. Tambahan penting pada cetakan kedua, yaitu Qashidah Imam al-Busyairi dan shalawat penutup, 27. Asma‟ al- Husna dengan huruf nida beserta do‘anya, 28. Shalawat Ismu al –A‘dzham, oleh Syaikh Muhammad Taqiyuddin al- Dimasqi, kecuali kalimat tambahan pada akhir shalawat tersebut oleh pengarang hizib ini 29. Shalawat al – Masyhudah 30. Salawat Bardan wa Salaman, oleh Abu Rauhun wa Raihanun yakni pengarang hizib ini 31. Shalawat sepuluh 32. Qashidah al- Muhammadiyah, oleh Imam al- Busyairi,r.a 33. Ayat al –Shalihat 34. Shalawat Rahmatan li al-Alamin, oleh Maulana al Syaikh Zainuddin (pengarang hizib ini,) 35. Shalawat Mukhlisin al- Maqbulin, oleh Maulana al–Syaikh Zainuddin, 36. Shalawat al- Aliyu al-Qadri, yang disambungkan dengan do‘a terhadap Nahdlatul Wathan. 37. Shalawat al-Taisir, oleh Abu Rauhub wa Raihanun (Maulana al-Syaikh pengarang hizib ini) 38. Mulahadxah, kandungannya member arahan kepada kita tentang beberapa kitab yang bmesti dimiliki, 39. Talqin mayit 40. Khutbah nikah 41. Tarshi, (bait-bait syair Syaikh al-Sayyid Muhammad Amin Al- Kutbi), yang pernah ditulis pada kitab Mi‘rajush Shibyan, karangan dari pengarang hizib ini, 42. Wasiat dalam bahasa Arab, oleh Maulana Al-Syaikh Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, berikut terjemahannya ke dalam bahasa Arab-Indonesia, 43. Photo diri asli dari pengarang atau penyusun hizib Nahdlatul Wathan – hizib nahdlatul Banat, Al-Allamah Abu al- Madaris al- Masajid Maulana Al- Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid al Ampenani al –Indonesia; d. Tata Cara Pengamalan Hizib Nahdlatul Wqathan dan Hizib Nahdlatul Banat Pengamalan hizib Nahdlatul al- Wathan, ketika masih berbentuk lembaran –lembaran, maka pengamalanya harus mendapat ijazah resmi dari Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Karena penerimaan ijazah (serah terima) hizib sebelum diamalkan, adalah sebagai oersyaratan mutlaq bagi pengamalanya. Tradisi pengijazahan ini terus

97

berlanjut,sampai HIzib Nahdlatul Wathan dan Hizib Nahdlatul Banat ditulis dan dicetak menjadi sebuah buku. Setelah Hizib ditulis dan dicetak secara dan teratur menjadi sebuah buku, maka tradisi pengijazahan secara resmi tidak lagi menjadi persyaratan mutlaq bagi pengamalnya. Bahkan saat ini siapapun boleh mengamalkannya secara masaif dengan niat khlas dan istiqomah. Tata- cara pembacaan HIzib Nahdlah al-Wathan dan Hizib Nahdlah al-Banat dapat dilakukan secara sendiri-sendiri maupun secara kolektif(berjamaah). Prosesi awal dimulai dengan bacaan surat al-Fatihah sebanyak tiga kali dengan niat ditunjukan kepada: a. Nabi Muhammad Saw, seluruh para nabi dan rasul, keluarga dan sahabatnya b. Penyusun hizib Nadhlatul Wathan dan hizib Nadhlatul Banat, yaitu Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, keluarganya dan pendukungannya. c. Para ulama dan auliya Allah, kedua orang tua, para guru, dan semua warga Nahdlatul Wathan serta semua kaum muslimin dan muslimat yang hidup atau telah meninggal dunia. Apabila dilskuksn secara sendiri [individual], maka setelah selesai surat Al-Fatihah sebanyak tiga kali seperti di atas, kemudian di lanjutkan dengan membaca enam shalawat, yakni shalawat Nabdlatain, salawat Al-Fatib, shalawat al-Nariyab [al-taziah], Shalawat al-Tibb, shalawat al-Aly, Al-kali. Selanjutnya, dimulai pembacaan Hizb Nahdlatul wathan atau ikhtisarnyaatau juga hizib Nahdlatul Banat. Prosesi ini kemudian diakhiri dengan pembacaan do‘a penutup yang diawali dengan pembacaan asma al-husna. sedangkan apabila dilakukan secara berjama‘ah, maka setelah pembacaan hizib, maka dilanjutkan dengan pembacaan qashidah al-munfarijab, [Istaddi Azmatu Tanfarizi…ila akhir], qasidah Imam Abu alQashim al suhail, [Ya man Yara Ma fi al-Dhomiri…ila akhir], qashidah al-Syaikh Habibullah alSyanqithi. (Ya Rabbana Nasaluka al sa‟adah…. Ila akhir). Lalu dilanjutkan oleh do‘a sebagaian ulama(Rabbana anfa‟na Bima‟allamtana….. ila akhir ), kemudian pembaca do‘a oleh al- Imam al-Adib al-Arif ibn al-Wardi (Amaratu kaaffan Sabbahat….ila akhir), kemudian do‘a alFaraj ) oleh Siti‘Aisyah r.a. (Yasabigan Ni‟am…ila akhir), kemudian dua bait do‘a oleh SultanalAuliya al-Syaikh Abd al-Qadir al-Jailani (Ayudrikuni Dhoimun…ila akhir),kemudian do‘a oleh alAllamah al- Arif biillh al-Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath al-Makki (Ya Jamila alsun‟i…ala akhir), kemudian dilanjutkan dengan pembacaan qashidah al-Muhammadiyah oleh Imam al-Bushairy (Muhammadun Asrafu al-A‟rabi wa al-Ajami….ila akhir),selanjutnya pembacaan tiga bait do‘a oleh Imam al-Bushairy (Maula Ya Shalli wa Sallim Daiman…ial akhir), kemudian prosesi ini ditutup dengan pembacaan al-asma al-Husna dan do‘a penutup. Pembacaan Hizib secara berjamaah mempunyai nilai lebih utama dibandingkan dengan pembacaan secara individu. Pembacaan secara jamaah ini sama dengan berjamaah zikir, shalat, dan lain-lain. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang keutamaan berdo‘a dan berzikir secara berjamaah.

98

Tidaklah suatu kaum duduk. Berzikir (berdo‟a) kepada Allah SWT, kecuali malaikat akan menaunggi mereka, rahmat Allah SWT meratai mereka, dan ketenangan akan turun kepada mereka yang berada disisi-Nya.(HR,Muslim) Tradisi pembacaan hizib merupakan salah satu cirri khas dari komunitas jamaah NW dimana saja mereka berada. Hal ini sesuai dengan wasiat TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dalam wasiat renungan masa pengalaman baru. Siarkan HIzib samp[ai merata Agar banyalah pendo‟a kita Mendo‟akan Negara, nusa dan bangsa Mendoakan Islam se-Nusantara Selain itu, ia juga mengajurkan kepada para santri dan jamaahnya untuk sementara mengamalkan Hizib Nahdlah al-Wathan berada dan menjadikannya sebagai wirid di mana saja dan kapan saja secara konsisten, baik dalam kondisi damai bahkan dalam kondisi genting , seperti dalam kondisidikecam rasa ketakutan, ditimpa musibah, dan ketika terjadi marabahaya yang mengancam keselamatan jiwa. 2. Thariqah Hizib Nahdlatul Wathan a. Art Thariqah Dan Tujuan Pengamalannya Selain etimologi Thariqah berartijalan menuju hakekat. Dengan kata lain pengamalan syari‘at. Sehingga secara terminolog, Muhammad Amin al-Kurdi mengajukan tiga definisi, yakni (1) mengamalkan syari‘at, melaksanakan seluruh ibadah dengan tekun dan menjauhkan diri dari sikap mempermuadah (menggampakan) ibadah yang sebenarnya tidak dipermudah; (2) menjauhi larangan dan melaksanakan perintah Allah sesuai dengan kesanggupannya, baik perintah atau larangan tersebut bersifat jelas maupun tidak (batin); (3) meninggalkan segala yang haram dan makruh, memperhatikan hal-hal yang mubah (yang mengandung fadilah), menunaikan segala yang diwajibkan dan disunnatkan sesuai dengan kesanggupan dibawah bimbingan seorang mursyid dari sufi yang mencita-citakan suatu tujuan. Thariqat sebagaimana yang beerkembangdikalangan ulama ahli tasawuf ialah jalan atau petunjuk dalam melakukan sesuatu ibadah sesuai dengan ajaran yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, dan dikerjakan oleh sahabat-sahabatnya, tabi‘in-tabi‘in turuntumurun sampai kepada guru-guru atau ulama-ulama yang sambung menyambung dan rantai-berantai sampai pada masa kita ini. Sementara menurut L. Massignon, seorang Islamisis yang pernah mengadakan penelitian terhadap ajaran tasawuf dibeberapa negara Islam, sebagaimana dikutip oleh Mahjuddin, memberikan 2 macam pengertian tarekah. Pertama, tarikah diartikan sebagai pendidikan yang kerohanian yang sering dilakukan oleh orang-orang yang menempuh

99

kehidupan tasawuf, untuk mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut al-mawamat dan al-ahwal. Pengetisn seperti ini menonjol pada paruh abad IX dan X Masehi. Kedua, tarekah diartikan sebagai sebuah perkumpulan yang didirikan menurut aturan-aturan yang ditetapkan oleh syah yang menganut suatu aliran tarekah tertentu. Dalam perkumpulan tersebut, seorang syeh mengajarkan ilmu tasawuf menurut aliran tarekah yang dianutnya, kemudian diamalkan secara bersama-sama dengan murid-muridnya. Pengerttian seperti ini menonjol setelah abad IX Masehi. Adpun tujuan pengamalan tarekah antara lain : 1. Untuk mengadakan latihan jiwa (riyadah) dan berjuang melawan hawa nafsu (mujahadab), membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji melalui perbaikan budi pekerti. 2. Untuk menumbuhkan rasa dekat kepada Allah SWT melalui wirid dan zikir yang dibarengi dengan tafakkur. 3. Menumbuhkan perasaan takut kepada Allah sehingga timbul dalam diri seseorang untuk berusaha menghindari diri dari segala macam pengaruh duniawi yang dapat menyebabkan lalai kepada-Nya. 4. Untuk mencari ridho Allah semata, sehingga ia mencapai suatu tingkatan (maqam) ma‘rifat, yang dapat mengetahui segala rahasia Allah dan Rasulnya secara jelas. b. Sejarah Lahirnya Thareqat Hizib Nahdlatul Wathan Al-Ghazali dan Ibn Al-Arabi membagi empat tahap yang harus dilalui oleh seseorang yang menjalani ajaran tasawuf untuk mencapai tujuan yang dikenal sebagai al-sahadah (kebahagiaan) atau al-insan al-kamil (manusia paripurna). Keempat tahapan itu, terdiri dari syari‘at, thariqat, haqiqat dan ma‘rifat. Berkaitan dengan ini Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zaenuddin Abdul Majid mengatak bahwa syari‘at itu merupakan uraian, thariqat merupakan pelaksanaan, haqiqat merupakan keadaan dan ma‘rifat merupakan tujuan pokok, yakni pengenalan Tuhan yang sebanar-benarnya. Ia juga menganalogikan syari‘at itu sebagai sebuah sampan, thariqat itu adalah lautan, haqiqat itu adalah mutiara. Orang tidak akan mendapatkan mutiara kecuali melewati lautan dengan menggunakan sampan. Lebih lanjut dalam ajaran tasawufnya ia tidak memisahkan secara diametral antara fiqih dan atasawuf. Dalam konteks ini ia sering mengungkapkan argumentasi dengan menguctip pandangan Anas Ibn Malik yang menyatakan : “Barang siapa melaksanakan fiqih saja tanpa dibarengi dengan pelaksanaan tasawuf, maka ia termasuk golongan orang-orang fasik, dan barang siapa yang melaksanakan tasawuf saja, tanpa melaksanakan fiqih, maka ia termasuk golongan orang-orang zindik, sementara barang siapa yang mengerjakan keduanya secara sinergis, maka ia termasuk orang-orang yang telah mencapai derajat haqiqat”.

10 0

Berkaitan dengan ajaran untuk mensinergikan antara syari‘at dan haqiqat diatas, ia menulis dalam bait-bait syairnya sebagai berikut : Wahai anakku jama‟ah thariqat Janganlah lupa pada syari‟at Ingatlah selalu kandungan baiat Mudahan selamat dunia akhirat Banyak sekali membisikkan haqiqat Padahal mereka buta syari‟at Sehingga awam banyak terpikat Menjadi zindiq menjadi sesat Selanjutnya berangkat dari pemikiran ini, ia ingin membentuk sebuah thariqat Nahdlatul Wathan sebagai media untuk mensinergikan aspek syari‘at dan thariqat serta sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Proses kelahiran thariqat Nahdlatul Wathan adalah ketika Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid menunaikan ibadah haji, saat ia tengah beribadah di Masjid Nabawi di Madinah, ia didatangi seseorang yang kemudian diyakini sebagai Nabi Khidir AS dan ia menyampaikan salam dari Nabi Ibrahim yang menyatakan ―bahwa Nahdlatul Wathan akan menjadi organisasi yang lengkap dan sempurna apabila sudah memiliki thariqat‖. Berdasarkan pengalaman spritual haqiqat (khariq al-adab) ini, maka Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid mendirikan thareqat yang kemudian dinamakan dengan thariqat Hizb Nahdlatul Wathan pada tahun 1964. Penamaan thariq ini dilatar belakangi oleh keinginannya untuk melengkapi Hizb Nahdlatul Wathan, sehingga thariqat ini menjadi intisari dari Hizb Nahdlatul Wathan. Disamping karena pemngalaman spritual diatas, kelahiran thariqat ini juga diilhami oleh maraknya aliran-aliran thariqat yang dianggap sesat, karena meninggalkan ajaran-ajaran syari‘at, seperti shalat, puasa, zakat dan ibadah lainnya. Thariqat sesat ini olehnya disebut sebagai ―thariqat syetan‖, sebagaimana dikemukakan dalam syairnya : Thariqat Hizb harus berjalan Bersama thariqat yang murni baluan Membentang syari‟at membentang iman Menendang ajaran thariqat syetan Selanjutnya, keberadaan thariqat Hizb Nahdlatul Wathan ini juga sebagai respon terhadap praktek pengamalan thariqat-thariqat selama ini, seperti thariqat qadariyah dan naqsyabandiyah di Lombok yang terkesan terlalu berat dan memiliki persyaratan yang

10 1

cukup ketat. Apalagi jika ditambahkan dengan kewajiban ―udzlah‖ (mengasingkan diri) dari hiruk pikuk kehidupan dunia pada waktu tertentu. Sekalipun udzlah ini juga tidak dilarang dalam thariqat Hizb Nahdlatul Wathan ini, sehingga pada umumnya masyarakat merasa enggan untuk mengikutinya. Berdasarkan kondisi ini maka Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid menyusun thariqat Hizb Nahdlatul Wathan ini secara ringkas dan praktis, tanpa mengesampingkan makna esoteriknya (batinnya). Thariqat ini dapat diamalkan oleh setiap orang dalam kondisi apapun, baik pada waktu khsusu, maupun pada waktu melaksanakan berbagai macam aktivitas keseharian. Bacaan yang diamalkan dalam thariqat Hizb Nahdlatul Wathan terdiri dari ayat-ayat alQur‘an, shalawat, do‘a-do‘a mu‘tabar dari Rasulullah SAW, para ulama dan auliya. Prosesi ini tidak membutuhkan waktu yang panjang dibandingkan bacaan thariqat-thariqat yang lainnya. Disamping bacaannya yang simpel, thariqat ini juga memiliki syarat dan ketentuan yang ringan dan fleksibel bagi seseorang yang ingin mengamalkannya, sehingga thariqat ini dimungkinkan untuk diamalkan dan diadaptasi dalam konteks modern yang biasanya ditandai dengan sifat fleksibel, simpel dan efisien. Oleh karena thariqat ini dapat merespon tuntunan masyarakat modern, maka thariqat ini juga dinamakan sebagai thariqat akhir zaman. Berkaitan dengan ini, ia mengisyaratkan dalam bait syairnya : Thariqat Hizib thariqat terakhir Dengan bisyarah “al-basirunnadzir” Kepada Bermi “al-faqir al-haqir” Dan ditauhidkan oleh al-khidir Disisi lain terdapat sisi-sisi kesamaan antara thariqat Hizib Nahdlatul Wathan dengan konsepsi tasawuf modern yang dipelopori oleh Ibn Taimiyah. Menurut Nurcholis Majid, ―tasawuf modern, adalah sebuah penghayatan keagamaan batin yang menghendaki hidup aktif dan terlibat dalam masalah-masalah kemasyarakatan. Sesekali menyingkirkan diri (udzlah) mungkin ada baiknya jika hal itu dilakukan untuk menyegerakan kembali wawasan dan meneruskan pandangan, yang kemudian dijadikan titik tolak dalam pelibatan diri dalam aktivitas yang lebih segar. Kelonggaran-kelonggaran dalam pengamalan thariqat Hizib Nahdlatul Wathan dimaksudkan agar orang dapat senantiasa melibatkan diri dalam berbagai tugas kemasyarakatan. Sedangkan tidak adanya ber‘udzlah dalam thariqat Hizin Nahldatul Wathan menandakan kebolehan untuk dilakukan dengan sewaktu-waktu bila dianggap perlu. Dan ini berarti thariqat Hizib Nahdlatul Wathan, walau perlu ditelusuri lebih jauh lagi, tapi dipandang sebagai thariqat modern. Praktisnya cara mengamalkan thariqat Hizib Nahdlatul Wathan, bisa dijadikan alternatif berthariqat dalam kehidupan modern dewasa ini. Dengan thariqat Hizib Nahdlatul Wathan,

10 2

sekarang dapat melaksanakan tugas-tugas kesehariannya tanpa ketinggalan akan kepuasan kerohaniahnya. Dan sebaliknya, seseorang dapat hidup damai secara batiniyah dalam suasana kedekatan kepada Allah SWT tanpa kehilangan atau terasing dari kehidupan dunia. Kenyataan tersebut ternyata lebih menarik minat berbagai kalangan untuk menerima ijazah thariqat Hizib Nahdlatul Wathan mulai dari petani, nelayan, pedagang, hingga kalangan profesional yang telah bersentuhan dengan teknologi midern. Ini adalah kesimpulan Abdul Aziz, seorang peneliti Litbang Depag RI yang mengatakan, bahwa thariqat Hizib Nahdlatul Wathan mampu menghilangkan perbedaan antara orang tradisional dan orang modern dalam Islam. Adapun syarat keanggotaan thariqat ini adalah sebagai berikut : 1. Ketaatan pada pimpinan (mursyid) thariaqat yaitu Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid atau yang ditunjuknya. 2. Mengamalkan thariqat Hizib Nahdlatul Wathan setiap selesai shalat lima waktu. 3. Bersedia membatu perjuangan Nahdlatul Wathan. 4. Membayar uang salawat Sementara ketentuan ijazah dan baiat dalam penerimaan thariqat ini adalah merupakan ―aqad‖ sebagai syarat sah mengamalkannya. Ijazah dan baiat diberikan oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid sendiri, atau oleh wakilnya yang ditunjuk secara resmi, yaitu salah seorang muridnya yang bernama Haji Muksin Makbul. Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan juga tidak mengenal hirarki kepemimpinan yang ketat. Namun demikian, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid memberi izin kepada seorang muridnya yang paling dipercaya untuk mengijazahkan dan membaiatkan calon anggota thariqat yaitu Haji Muksin makbul. Selanjutnay dalam perkembangannya dewasa ini, thariqat Hizib Nahdlatul Wathan yang berada dibawah pimpinan Haji Muksin Makbul ini terus mengalami perkembangan diberbagai pelosok tanah air dan beberapa tempat diluar negeri seiring dengan perkembangan Organiasai Nahdlatul Wathan, seperti di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Bali, Sulawesi, Kalimantan, DKI Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bogor, Riau, Batam, Malaysia.

c. Prosesi Pengamalan Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan Dalam prosesi pengamalan thariqat Hizib Nahdlatul Wathan ini dibagi menjadi empat macam pengamalan. Prosesi ini diawali dengan pembacaan surat Al-Fatihah tiga kali sebagaimana dalam pengamalan Hizib Nahdlatul Wathan, yaitu surat Al-Fatihah pertama

10 3

kepada Nabi Muhammad SAW, sahabat dan para Nabi dan Rasul, kedua kepada Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majib, keluarga dan para pendukungnya. Dan ketiga, kepada seluruh kaum muslimin muslimat. Adapun empat macam pengamalan thariqat Hizib Nahdlatul Wathan yang dimaksud adalah sebagai berikut : 1. Wadzifah al-Rawatib, dibaca setiap selesai shalat lima waktu 2. Wirdu al-Rabithah, dibaca ketika menjelang waktu magrib 3. Wadzifah al-Yaumiyah, dibaca satu kali setiap hari 4. Wadzifah al-Usbu‘iyah, dibaca sekali dalam seminggu

10 4

PERTEMUAN XIV & XV Setelah Mempelajari Modul ini Anda Diharapkan Mampu 1. Menjelaskan Terminologi Nahdlatul Wathan Dalam Persepektif Historis 2. Menjelaskan Norma Dasar Perjuangan Nahdlatul Wathan 3. Menjelaskan Landasan Operasional Perjuangan Nahdlatul Wathan NAHDLATUL WATHAN DALAM BERBAGAI PERSEPEKTIF A. Terminologi Nahdlatul Wathan Dalam Persepektif Historis Istilah Nahdlatul Wathan telah menjadi Trade Mark perjuangan Tuan Guru Kyai haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid, selanjutnya secara Generik dijadikan sebagai elemen dasar nama Madrasah yang didirikannya pada tahun 1937 (Madrasah Nahdlatul Watahn Diniyah Islamiyah) dn sekaligus menjadi nama Organisasi yang didirikan pada Tahun 1953 (Nahdlatul Wathan). Bagi beberapa kalangan terminolgi Nahdlatul Wathan mengingatkan mereka pada satu nama institusi pendidikan yang didirikan pada tahun 1916 di Surabaya oleh K.H. Wahab Hasbullah dan Kyai haji Mas Mansur. Seperti juga pendidikan nahdlatul Wathan yang didirikan oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul majid, Lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan di Surabaya juga menggunakan pola Madrasi dalam pengelolaan pendidikannnya, seperti menggunakan bangku, papan tulis dan memiliki kurikulum yang tersistemisasi bagi penjenjangan tingkat balajar. Atas dasar kemiripa kemiripan ini persepsi yang muncul kemudian dari sejumlah kalangan aalah bahwa Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid mengambil nama pendidikan dan organisasinya dari nam yang telah diberikan oleh K.H. Wahab Hasbullah dan K.H. Mas Mansur untuk lembaga pendidikan mereka. Demikan pula dengan pola pengajrannya, relative hanya meniru jejak keduanya. Sulit untuk menjustifikasi kbenaran suatu persepsi tanpa adanya dukungan data atau

setidak-tidaknya reasoning (alasan) yang cukup mendukung. Paling tidak menurut hemat penulis dibutuhkan suatu telaah historis mengenai keduanya untuk memastikan ada atau tidaknya duplikasi atau keterkaitan antara keduanya. Atas dasar ini penuliis mencoba untuk menelusurinya denagn pendekatan hermeneutika. Sebelum membahas lebih jauh tentang hermeneutika Nahdlatul Watahan terlebih dahulu akan dijelaskan secara ringkas mengenai pengertian dan konsepsi hermeneutika sebagaimana didefinisikan oleh beberapa ahli hermeneutika. Kata ini berasal dari kata kerja dalam bahasa Yunani hermeneuin, yang berarti menjelaskan , menterjemahkan dan mengekspresikan. Sumber lain menyebutkan bahwa kata hermeneutic merujuk kepada Hermes nama utusan Tuhan dalam

10 5

mitologi Yunani. Dikatakan bahwa tugas Hermes adalah untuuk menjelaskan kepada manusia perintah-perintah Tuhan mereka. Yang dengan kata lain ia bertugas menjemabtani antar dunia langit (divine) dengan dunia manusia. Berangkat dari mitologi ini para ahli menelaskan bahwa problem hermeneutika pada dasarnya adalah bagimana menjelaskan dan menterjemahkan peristiwa atu teks yang telah lalu kedalam ekstensi manusia saat ini. Sehingga dapat dikatakan bahwa hermeneutika itu merupakan teori penapsiran. Pemaknaan hermeneutika sebagai teori penafsiran merupakan pokok pemikiran yang berkembang dimasa awal munculnya hermeneutika. Tetapi belakangan penggunaan

hermeneutika sebagai teori penafsiran semakin meluas dan berkembang baik dalam cara analisinya maupun obyek kajiannya, Hal ini diakui oleh Sonja K. Foss, Kreen Foss dan Robert Trap: ―Kemudian hermeneutika telah meluan keluar (tanah) analisis teks tertulis; saat ini hermeneutika dianggap dapat ditarapkan pada semua peristiwa yang dapat menjadi sasaran penafsiran. Semua jenis fenomena adalah “Teks” yang memberikan petunjuk bagaimana manusia memberikan arti terhadap dunia mereka” Semakin meluasnya penggunaan hermeneutika dalam studi yang melibatkan interpretasi, Palmer mencoba mengklasifikasikan cabang-cabang studi hermeneutika. Pertama, Interpretasi terhadap teks Kitab Suci, disebut exegesis. Kedua Interpretasi terhadapa sebagai teks kesusasteraan lama disebut philology. Ketiga Interpretasi terhadap penggunaan dan

pengembangan aturan-aturan bahasa disebut technical hermeneutics. Keempat studi tentang proses pemahamannya itu sendiri, disebut Philosophical hermeneutics. Kelima pemahamanan di balik makna-makna dari setiap simbo, disebut dream analysis. Keenam Interpretasi terhadap pribadi manusia beserta tindakan-tindakan sosialnya, yang kemudian disebut social hermeneutics. Walaupun tidak ada perbedaan secara etimilogis antara hermeneutika dengan penafsiran, tetapi dalam perjalanan sejarah keduanya dibedakan dalam tataran teologis. Penafsiran biasanya disejajarkan dengan praktek penafsiran sedangkan hermeneutika menunjukan pada tujuan, prinsip dan criteria dalam praktek tersebut. Dalam melakukan interpretasi atau pemahaman terhadap suatu teks atau karya seni, para ahli hermeneutika setuju bahwa pelaku interpretasi tidak berada dalam keadaan kosong dia akan membaw aserangkaian pra anggapan keadalam teks tersebut. Fenomena ini biasa disebut hermeneutika sebagai salah satu dimensi dari ― lingkungan hermeneutika” dimensi alaina dalah suatu konsep yang menyatakan bahwa untuk memahami keseluruhan harus dipahami pula partikularnya, bagian-bagianya demikian pula sebaiknya. Menurut Ricoeur, proses interpretasi diawali dengan proses distanciation (pengambilan jarak) dan berakhir dengan persolazitaion. Proses tersebut berawal dari analisis Ricoeur tentang wacana. Menurut sebuah wacana yang dimantapkan dalam bentuk tulisan mempunyai otonomi semantis rangkap tiga: otonomi

10 6

semantic terhadap maksud pengarang, otonomi terhadap lingkungan kebudayaan asli dimana karya asli itu ditulis, dan otonomi terhadap pendengaran atau piblik yang asli. Karya wacana itu sendiri ditandai dengan tiga unsure formal yang membentuknya yaitu komposisi, yaitu genre literal dan gaya bahasa. Ketiga unsure inilah yang kemudian memberikan peluang untuk

mendialektikal beberapa teks atau karya wacana tidak tertutup, melainkan ada kaitannya dengankarya lain. Proses penciptaan dan pemahaman sebuah karya wacana selalu bersifat intertekstual. Otonomi semantic mempunyai konsekuensi penting bagi penafsiran sebuah teks. Menurut Ricoeur yang menjadi tujuan penafsiran bukanlah maksud pengarang diluar atau dibalik teks, melainkan arti yang terberi di dalam atau melalui teks itu, juga bukan saja kebudayaan asli atau public tertentu saja. Bahkan secara radikal dapat dikatakan bahwa ketika seseorang menafsirkan sesuatu, dapat dikatakan sebetulnya menafsirkan dirinya sendiri, zamannya sekarang dan

sekarang mempublikasikan diri dalam terang sebuah teks. sebuah konsekuensi dari otonomi semantis bagi penafsiran teks ialah bahwa interpretasi teks tidak bersifat reproduktif [kembali ke maksud asli pengarang dalam konteks social budaya asli], melainkan bersifat produktif melalui pembauran cakrawala [fusion of borizons] ketika pembaca atau pendengar memahami dan meresapkan arti substantif sebuah teks. Teks dapat juga digunakan sebagai paradigma untuk memahami dan menjelaskan tindakan serta pengalaman hidup manusia. Dengan menggunakan teks sebagai paradigma , ini berarti bahwa tujuan terjauh dari penafsiran bukanlah sekedar memahami teks melainkan memahami eksistensi manusia dan dunianya. Oleh karenanya, tindakan manusia juga merupakan sebuah dialektika antara peristiwa dan makna, sehingga tidakan itu dapat mengalami fiksasi yang mempunyai otonomi semantis yang pada gilirannya dapat pula ditafsir seperti teks. Dalam karya besarnya Time and Narrative, Ricoeur berhasil membuktikan bahwa tindakan [dan seluruh pengalaman hidup manusia] menjadi bermakna karena dikisahkan, dan kisah mendapat isinya dari tindakan dan pengalaman hidup manusia. Uraian akhirnya mengarah kepada kesimpulan bahwa identitas manusia pada hakikatnya adalah sebuah identitas naratif, yang hanya bisa di rumuskan dalam sebuah kisah yang ditandai komposisi, genre dan gaya hidup seperti halnya teks. Pada titik ini, terjadi keberalihan dari hermeneutika teks kepada hermeneutika hidup manusia atau lebih dikenal hermeneutika sosial. Bertolak dari asumsi yang menjadi gaya gugah hermeneutika sosial tersebut, interpretasi seseorang sedikit banyak akan ditentukan dan dipengaruhi oleh berbagai variabel yang sifatnya tidak tunggal. Interpretasi seseorang terhadap teks atau kenyataan sosial ditentukan oleh berbagai variabel yang bersintensis secara variatif. Pertama, terpaan informasi atau pembacaan seseorang terhadap corak literatur akan menentukan interpretasi seseorang terhadap teks dan kenyataan sosial [konteks]. Kedua,setting sosial atau latar belakang dan peranan sosial juga akan menentukan interpretasi seseorang,

10 7

terutama dalam menentukan fosus dan agenda masalah. Ketiga, latar belakang pendidikan atau disiplin ilmu yang di kuasai seseorang dalam menentukan cara dan analisis mereka. Keempat, pengalaman dan karakteristik personal. Kelima, perubahan kondisi sosial politik-ekonomi dan sosio-kultural. Berdasarkan landasan teoritis di atas, penelusuran konteks historis terminology Nahdlatul Wathan yang didirikan oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid beserta analisis kemungkinan persamaan atau perbedaan serta aspek-aspek indigenous lainnya, dapat dipahami dari sejarah hidup pendiri atau pencetusnya. Dengan demikian konteks hermeneutika yang dikembangkan adalah hermeneutika social yang diterjemahkan sebagai interpretation of human personal and social action (Interpretasi terhadap pribadi manusia dan tindakan sosialnya). Nahdlatul Wathan dalam konteks ini dipahami sebagai bagian yang integrated dengan tindakan sosial pendirinya. Menurut Greg Fealy, Nuansa sosial yang melatar belakangi lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan di Surabaya adalah rangkaian panjang pergumulan intelekttual kalangan tradisional yang dipresentasikan oleh Nahdlatul Ulama (NU) dengan kalangan modernis sebagai pengaruh dari gerakan modernisasi yang dilakukan oleh pemikir-pemikir muslim di Timur Tengahmereka ini antara lain Jamaluddin al Afghani (1838-1879), Muhammad Abduh (1849-1905) dan Rasyid Ridha (1865-1935). Inti pemikiran modernisasi adalah keyakinan bahwa peradaban Islam sedang mengalami kemeresotan yang serius. Banyyak dunia Islam saat ini dalam keadaan terjajah oleh bangsa Eropa Kristen. Kejayaaan Intlektual dan Ilmiah yang dialami Islam bebarapa anad sebelumnya telah punah dan sebagaian besar masyarakat Islam s edang mengalami kemunduran ekonomi. Bagi Muslim dimanapun kemerosotan itu dirasa tidak selaras dengan keyakinan mereka bahwa Islam adalah kepercayaan yang benar, yang didasarkan oleh firman Allah SWT yang paling lengkap dan Final. Menurut para modernis kemunduran Islam disebabkan oleh sikaf taklid kepada pemikiran mazhab abad pertengahan serta akibat tercemarnya praktik Islam oleh amalan dan kepercayaan yang tidak bersumber dari Al-Qur‘an dan Sunnah. Menurut kaum modernis, Islam hanya dapat diperkukuh kembali dengan membebaskan diri dari cengkraman tradisi dan mengikis penyimpangan, serta kontaminasi nilai-nilai non Islam. Prinsip gerakan ini adalah kembali pada AlQur‘an dan sunnah Nabi. Tafsir-tafsir Al-Qur‘an dan Hadist dari abad pertengahan tidak lagi dipatuhi tanpa pertanyaan. Sedangkam kaum tradisional yang umumnya menyebut diri mereka sebagai penganut kaum sunni ortodoks, meskipun banyak unsure-unsur dalam praktek keagamaan yang berasal dari sumber-sumber non Islam. Ortodoksi diartikan patuh tidak hanya tradisi yang ditentukan dalam Al-Qur‘an dan Sunnah nabi tetapi juga pada prinsip dan rumusan yang disusun oleh para ulama besar zaman klasik, dalam hal teologi dogmatis mereka mengikuti Al-Asy‘ari (873-935) dan

10 8

pada urutan berikutnya , al Maturidi yang jajarannya menjadi sendi utama teologi sunni standar. Dalam hal fikih mereka mengacu pada Madzhab Syafi‘i salah satu dari empat madzhab Sunni. Yang terakhir dibidang sufisme mereka merujuk pada pandangan junaid al – Bagdhdadi dan terutama al-Ghazali. Peyerapan nilai-nilai local non- Islan oleh kalangan tradisional tumbuh dari kepercayaan bahwa suatu amalan dapat secara sah diambil dan diterapkan sejauh tidak bertentangan dengan syariat. Kenyakinan tersebut menjadi dasar dilakukannya penyerapan berbagai ritual local non- Islam ke dalam amalan Musli. Sebagai contoh adalah slametan, ziarah serta berbagai ritual magis dan mistir yang berasal dari tradisi setempat dan dari agama Hindu. Tidak semua ulama menyetujui dan menjalankan hal ini, tetapi mereka yang menyetujuinya menganggapnya sebagai bentuk pengakayaan keimanam dan sebagai cara memudahkan penyebaran Islam. Di bidang Pendidikan, kalangan tradisionalis melaksanakannya dalam suatu institusi yang disebut pesantren.‘Bandogan‘ (halaqah) adalah metode pengajaran yang paling banyak diterapkan. Caranya adalah sekelompok santri duduk di lantai mengeliligi sang guru yang membaca, dan menjelaskan naskah- naskah berbahasa Arab. Kitab standar di pesanteren adalah kitab kuning yang berisi petikan dan komentar tentang al- Qur‘an dan Hdist, serta ketetapan – ketetapan hokum dan etika yang dianggap penting. Santri pemula belajar membaca al-Qur‘an dan dasar-dasar hokum Islam dari santri senior. Kelas-kelas yang lebih tinggi akan diajar langsung oleh sang kyai dengan mata pelajaran yang lebih sulit, seperti tata bahasa Arab, sintaksis, fikih, tauhid, kajian hadist dan tasawuf. Tidak ada ujian tertulis ataupun kurikulum yang terinci. Jika murid dianggap telah menguasai kitab yang ditentukan, mereka diizinkan mengikuti kelas yang lebih tinggi. Mata pelajaran umum sama sekali tidak diberikan. Dari gambaran sederhana ini, setidaknya dapat dipahami bahwa konteks social(social context) berdirinya Nahdlatul Wathhan di Surabaya adalah adanya kegiatan dari kalangan tradisional muda untuk mengapresiasi pemikiran-pemikiran kalangan moderins di bidang pendidikan dan organisasi dan berusaha mengintegrasikannya dengan tradisi yang selama ini dijalankan bersama dengan sesame kaum tradisionalisnya. Terdapat pernyataan lain yang mendeskripsikan bahwa pendirian institusi Nahdlatul Wathan di Surabaya ini juga terkait dengan kondisi social politik kebangsaan yang tengah berada dalam intimidasi colonial yang menyulitkan masyarakat untuk memberdayakab dirinya. Menurutt Muhammad Fajru Falakh, pemilihan nam organisasi itu sendiri merupakan cermin dari suasana social-psikologis yang melingkupi diri para pendirinya. Sebuah aksi sosio-kultural untuk masyarakat, yang dilakukan bersama para aktivis kebangsaan, merupakan fenonema umum di kalangan para pemimpin Indonesia waktu itu. Kesan ini terlihat dari kolaborasi para pendiri Nahdlatu Wathan dengan pemimpin sarekat Islam. HOS Tjokroaminoto dalam proses legalisasi pendirinya.

10 9

Ini berarti para pendiri Nahdlatul Wathan di9 Surabaya memiliki kersadaran kebangsaan yang kemudian terakumulasi menjadi nama wadah perjuangan mereka. Secara historis memang Nahdlatul Wathan di9 surabaya berusaha untuk membentuk berbagai elemen pengkaderan (seperti Syubbanul Wathan) yangn kemudian diajukan untuk dilegalisasi berada dalam wadah Nahdlatul Ulama. Namun demikian, aspirasimn itu tidak mendapatkan ‗restu‘ sehingga gagal menjadi undrbow Nahdlatul Ulama. Konsekwensinya jelas, perkembangan elemen-elemen pengkaderan itu menjadi berjalan tanpa dukungan yang memadai. Adapun Nahdlatul Wathan yang didirikan oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, semenjak awal memang diformat dalam satu konteks perlawanan melawan hegemoni colonial di Pulau Lombok. Secara pribadi, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sering kali berefleksi pada kermenangan-kemenangan yang diperoleh oleh para pendahulunya, seperti Tuan Guru Haji Ali Batu dan Tuan Guru Bangkol, dalam berbagai perlawanan mereka terhadap kekuatan yang berwatak hegemonic. Pada titik ini penamaan Nahdlatul Wathan dalam konteks perlawanan terhadap penjajah tidak lain didorong oleh suatu kesadaran historis akan masyarakatnya di masa lampau. Menurutnya, etnis Sasak dikenal dalam sejarah telah mampu mengalalkan sejumlah kekuatan besar, baik di darat maupun di laut, yang bermaksud untuk menginvasi (menduduki) wilayah pulau Lombok. Bahkan, sebgaimana disebutkan dalam bagian pertama buku ini, pendudukan kerajaan Karang Asem atau wilayah ini tidak bias dilepaskan ds\ari ―kontribusi‖ masyrakat Lombok yang saat ini tidak bersatu. Begitu pula dengan berakhirnya sejarah kerajaan Karang Asem di Lombok, t\idak terlepas dari upaya perlawanan masyrakat Lombok terhadap dominasi kerajaan asing di wailayahnya. Atas dasar ini, menurut Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zaenudi Abdul Madjid, masyrakat Lombok harus dapat mengaca pada sejarah masa lalunya. Dan Nahdlatul Wathan sebagai sebuah symbol perlawanan dimaksudkan untuk mempertahankan citra historis tersebut. Di samping itu, ketika ia belajar di Makkah, salah seorang gurunya, Syaikh Salim Rahmatullah menjadi inspirator yang mengilhami gagasannya untuk menciptakan wadah perlawanan. Syaikh Salim pada masa itu menyadari benar kondisi bangsa Indonesia yang tengah terjajah oleh kekuatan asing. Sehingga ia sering memotivasi murd-muridnya untuk bergerak melakukan perlawanan. Di samping itu, ia juga mencela sikap para ualama Indonesia cendrung diam, tanpa suatu pengerakab yang berati untuk mengorganisasir gerakan perlawanan. Penilaian negative ini selanjutnya terdampak pada kerenggangan hubungan antara Syaikh Salim dengan Syaikh Muhsin al-Musawi yang notebenenya berasal dari Indonesia. Dalam hal ini kesadaran historis Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zaehnuddin Abdul Madjid menemukan kekuatan baru untuk beraktualisasi lebih jauh menjadi sebuah panggilan sejarah. Artinya perlawanan terhadap kekuatan colonial yang repr5esif adalah keniscahyaan, baik untuk kepentingan romantisme historis maupun untuk kebaikan bangsa ke depan. Danbenarsaja, Madrasah Nahdlatul

11 0

Wathan Diniyah Islamiyah telah membuktikan dirinya sebagai sebuah wadah perlawanan, baik fisik maupun non fisik melawan kekuatan penjajah di pulau Lombok. Namun demikian, proses pemaknaan terhadap perlawanan yang dilakukan tidak semata-mata dilakukan untuk membebaskan masyrakat dari penjajahan, akan tetapi agar kehidupan beragama yang bebas yang dapat berlangsung tanpa tekanan dan intimidasi penjajah. Oleh karena itu, agama menjadi suatu benchmark(titik tolak) lain dari perlawanan tersebut. Asumsinya. Kemenangan terhadap penjajahan akan membuka babak baru bagi kebebasan menjalankan kehidupan beragama. Dalam konteks ini, menurut Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid, adanya penyimpangan-penyimpangan dalam keberagamaan masyarakat, merupakan implikasi dari upayaupaya intimidasi yang dilakukan oleh kekuatan kolonial untuk membungkam perkembangan keberagamaan masyarakat. Bahkan, kolonial berusaha untuk melakukan rekayasa-rekayasa untuk mengaburkan makna keberagamaan yang sebenarnya, seperti melanggengkan kekuatan wetu telu yang notabene kurang sesuai dengan makna keberagamaan yang sebanarnya. Berdasarkan elaborasi sederhana ini, dapat dikatakan bahwa secara historis terminologi Nahdlatul Wathan di Lombok menemukan elan vital-nya pada kondisi-kondisi sosiologis lokal pada saat itu, dan secara diformulasi untuk membangun dua kekuatan perlawanan untuk membangun kehidupan keberagamaan yang lebih bebas di sisi lain. Dengan demikian, secara terminologis Nahdlatul Wathan di Surabaya dan Nahdlatul Wathan di Lombok pada batas-batas tertentu terdapat benang merah yang bisa dilihat dari background pembentukannya dan spirit perjuangan yang diembannya, yakni sebuah perjuangan terhadap kondisi sosio-historis sebagai bangsa terjajah dan keinginan untuk mengembangkan gearakan kultural dalam pendidikan dan cara keberagamaan yang lebih inklusif ddengan mengakomodasi muatan-muatan lokal. Selanjutnya, tedapat kesulitan untuk menentukan sejarah spesifik apakah memang ada hubungan organisatoris antara kedua institusi Nahdlatul Wathan tersebut. Secara faktual, hubungan personal Tuan Guru Kyai Haji Muhammada Zainuddin Abdul Majid dengan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama pernah terjadia dan berlangsung sekitar tahun 1950-an, bahkan ia pernah diangkat sebagai konsulat ulama Nahdlatul Ulama untuk wilayah Lombok. Dari fakta sejarah ini, terlihat rentang waktu yang cukup jauh antara pendirian Madrasah Nahdlatul Wathan di Lombok (22 Agustus 1937). Dengan pengangkatannya sebagai konsulat NU pada tahun 1950. Berdasarkan fakts sejarah ini, maka dapat diseimpulkan bahwa betapapun terdapat kesamaan nama antara Nahdlatul Wathan yang merupakan underbow Nahdlatul Ulama di Surabaya dengan Nahdlatul Wathan di Lombok, namun secara organisatoris tidak da hubungannya. Bahkan, tidak dapat dikatakan bahwa nama Nahdlatul Wathan di Lombok merupakan duplikasi Nahdlatul Wathan di Surabaya berdasarkan analisis historis di atas. Asal-usul Nahdlatul Wathan dapat dilacak dari catatan sejarah pendirinya. Nama ini pertama muncul sebagai proses bargaining [tawar-menawar] antara Nahdlat al-Din al-Islam atau Nahdlat al-

11 1

Islam li al-Wathan dengan Nahdlatul Wathan. Dua nama yang tersebut pertama diusulkan oleh gurunya, Syah Hasan Muhamaad al-Masysyath. Sementara nama Nahdlatul Wathan merupakan hasil ijtihadnya sendiri berdasarkan background sosio historis masyarakat Pulau Lombok pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pemilihan nama ini betapapun terapat kesan ―sekular‖ yang muncul di dalamnya, namun ia tetap memakai nama Nahdlatul Wathan ini, akhirnya gurunya menyetujui nama tersebut dengan catatan bahwa betapapun nama itu tidak spesifik menyebut Islam sebagai label utama, tetapi dalam visi dan misi perjuangan organisasi tersebut harus menjadikan agama (Islam) sebagai basis perjuangan yang utama. B. MAKNA FILOSOFIS NAHDLATUL WATHAN Catatan Syaikh Muhammad al-Masysyath sebagai mana disebut diatas, dapat dijadikan pijakan bahwa relasi antara agama dengan negara dalam konteks ini bersifat integral dan simbiosis mutualisme. Artinya, sengara sebagai sebuah institusi memerlukan agama sebagai basis moral untuk menegakkan berdirinya suatu institusi di negara. Sementara agama tidak akan berfungsi maksimal tanpa adanya dukungan dari negara. Jadi agama mengisi prefrensi nilai-nilai normatif dari sebuah negara. Peranan agama dalam anegara ini memiliki aras yang sama dengan perkataan seorang ulama : “sesungguhnya umat (bangsa) itu akan jaya selama mempertahankan nilai moralitas. Dan apabila nilai tersebut ditinggalkan, maka hancurlah bangsa itu”. Organisasi Nahdlatul Wathan yang secara embrional berasal dari Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah dan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah didirikan dalam suasana dan kondisi sosio historis yang heroik, baik dalam konteks penegakan agama Islam maupun kebangsaan. Kelahiran organisasi tersebut sekaligus memberi respon terhadap konteks sosio-historis masyarakat pada saat itu. Heroisme dalam aspek penegakan agama Islam tercermin dalam upaya yang secara simultan diikuti dengan kenyakinan dan keikhlasan untuk memperbaiki pemahaman dan cara keberagamaan masyarakat. Tujuannya jelas, yakni agar nilai-nilai, praktek, dan budaya Islam dapat dihayati dan diamalkan dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat. Sedangkan heroisme dalam aspek kebangsaan terefleksikan dari upaya pembebasan masyarakat dari kebodohan dan ketertindasan melalui pendidikan sebagai bekal untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Atas dasar inilah, maka orientasi Nahdlatul Wathan bertumpu pada upaya-upaya untuk memadukan dan mensinergikan antara agama dengan negara. Menurut Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid, penyebutan istilah Nahdlatul Wathan mengandung dua makna filosofis sekaligus, yakni membangun agama dan negara. Artinya bahwa agama dan negara diposisikan sama dalam satu tarikan napas, yakni membangun agama berarti juga membangun negara, begitu juga sebaliknya. Namun, untuk dapat mencapai makna filosofis ini, paling tidak terdapat lima kesadaran yang harus direfleksikan dari kata Nahdlatul Wathan yaitu : 1). Wa‟y-u al-din, yakni kesadaran beragama; 2).

11 2

Wa‟y-u al-Ilm, yakni kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan; 3). Wa‟y-u al-nidham, yakni kesadaran berorganisasi; 4). Wa‟y-u al-Ijtima‟, yakni kesadaran bermasyarakat; dan 5). Wa‟y-u alWathan, yakni kesadaran berbangsa dan bernegara. Selanjutnya, untuk dapat membangun hubungan yang sinergis antara kehidupan beragama dan bernegara sekaligus atau dengan kata lain untuk menjadi seorang muslim sekaligus menjadi warga bangsa yang baik, maka terlebih dahulu mendefinisikan arti beragama. Gordon W. Allport mengklasifikasi dua cara beragama, yaitu ekstrinsik dan instrinsik. Cara beragama ekstrinsik adalah memandang agama sebagai suatu yang dimanfaatkan, dan bukan untuk kehidupan (something to use, but not to live) artinya seorang yang berpaling kepada Tuhan, tetapi tidak berpaling pada dirinya sendiri. Agama digunakan untuk menunjang motif-motif lain, seperti kebutuhan akan status, rasa aman, atau harga diri. Seseorang yang beragama dengan cara ini, melaksanakan bentuk-bentuk luar dari agama, seperti ia melakukan shalat, puasa, pergi haji dan sebagainya tetapi tidak didalamnya. Kata Allport, cara beragama seperti ini memang erat kaitannya dengan penyakit mental, sehingga cara beragama seperti ini tidak akan melahirkan masyarakat yang penuh kasih sayang. Sebaliknya, kebencian, iri hati dan fitnah akan terus berlangsung. Sementara cara beragama yang instrinsik dapat menunjang kesehatan jiwa dan kedamaian masyarakat. Agama dipandang sebagai comprehensive commitment dan driving integrating motive, yang mengatur seluruh hidup seseorang. Agama diterima sebagai faktor, pemandu (unifying factor). Jadi, cara beragama seperti ini, terhujam kedalam diri penganutnya. Hanya dengan cara itu kita mampu menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang dan damai. Pola keberagamaan seperti ini, dapat melahirkan seseorang menjadi muslim yang baik dan menjadi warga bangsa yang baik sekaligus. Demikianlah dengan menggunakan pendekapan pola keberagamaan yang bersifat instrinsik, maka telah terjadi sebuah proses internaslisasi nilai-nilai keberagamaan dalam diri seseorang. Artinya, betatapun agama merupakan ranah atau domain privat dan bersifat transenden antara seorang hamba dengan tuhannya, tetapi dengan pendekatan cara keberagamaan seperti ini akan mewarnai pola keberagamaannya yang ebrsifat publik dansosial. Hal ini terjadi karena refleksi dan internalisao dari nilai-nilai keberagamaan, sehingga kesalehan pribadi dapat ditransfortasikan menjadi kesalehan soaial sekaligus. Sementara itu kesadaran akan ilmu pengetahuan menjadi elmen dasar dari organisasi Nahdlatul Wathan. Kelahiran Nahdlatul Wathan sebagai sebuah institusi pada awalnya merupakan refleksi dari kesadaran kultural, yakni kesadaran untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Pendiri madrasah NWDI yang berasal dari pengajian al- Mujahidin menjelaskan tesis ini. Begitu pula dengan khittahperjuangan organisasi Nahdlatul Wathan, yakni sebagai sebuah organisasi yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan dakwah. Jadi kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan

mempunyai relevansi yang kuat untuk untuk menumbuhkan kesadaran lainnya.

11 3

Selamjutnya, dua kesadaran awal (kesadaran beragama dan kesadarn akan pentingnya ilmu pengetahuan) yang menjadi refleksi Nahdlatul Wathan merupakan pilar-pilar bagi lahirnya kesadaran berorganisasi, bermasyrakat, dan berbangsa. Disamping itu, kesadaran beragama dan kesadaran akan ilmu pengetahuan dapat memberikan arahan bagi suatu organisai, masyarakat, bahkan bangsa dalam menjamin keberlangsungannya. Kesadaran beragama dan berilmu pengetahuan ini relevan dengan pernyataan al- Qura‘an bahwa orang yang beriman (baca: beragama) dan berilmu pengetahuan akan mendapat derajat yang mulia di sisi Allah. Ini sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Mujadalah (58 : 11) ― Allah akan meniggikan orang –orang yang beriman di antaramu dan orang – orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Q.S.Al- Mujadalah).” KARATERISTIK KEBANGSAAN RELIGIUS A. IMAN DAN TAQWA SEBAGAI NORM DASAR ً َ ُْ Kata Iman (bahasa Arab) adalah masdar dari kata kerja (fi‟i‟). ‫ أمَنَ – يؤمِنُ - إ ْيمانا‬dalam bahasa Indonesia kata iman biasanya diartikan dengan kepercayaan atau keyakinan. Menurut Siti Gazalba, kata iman lebih tepat diartikan ke dalam bahasa Indonesia dengan keyakinan. Abul al-‗Ala Maududi dalam Towards Understanding Islam mengatakan : The Arabic word Iman, which we have rendered in English as faith, literally means “to know”, and “to be conceived beyond the least shadow of doubt” (Kata bahasa Arab iman yang kita terjemaahkan ke dalam bahsa Inggris dengan keyakinan, menurut segi bahasanya berarti tahun, percaya dan yakin tanpa keraguan sedikitpun). Di dalam al- Qur‘an, menurut inventarisasi fazlur Rahman, arti dari akar- kata bahasa Arab am-n )‫ (أمن‬adalah ― merasa aman dalam diri seseorang ―atau‖ merasa tidak ada gagguan di dalam diri seseorang‖; dalam pengertian ini iman sama dengan istilah Mutama‟in, yaitu seseorang yang merasa lega dan puas di dalam dirinya‖. Dalam surah al –Baqarah, ayat 283. Iman digunakan dalam pengertian ―menyimpan sesuatu pada orang lain untuk diamankan‖(amanah berarti suatu ―simpanan yang aman‖ dalam surat al-Nisa, ayat 58, serta lainnya atau berarti suatu kepercayaan sebagaimana dalam surat al-Ahzab ayat 72). Dalam surat al-Nisa, ayat 83, al-Baqarah, ayat 125, serta diberbagai tempat lainnya, iman berarti ―aman dari bahaya (yang datang dari luar)‖. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ―kedamaian‖ dan ―keamanan‖ merupakan arti dasar dari iman. Kemudian dalam bentuk a-m-n )‫ (أمن‬yang biasa diikuti oleh kata depan li (kepada, untuk) dalam dua tempat (QS. 10:83;24:26), dimana ia tampaknya berarti ―mengikuti seseorang‖ atau ―menyerahkan diri kepada orang lain‖. Tetapi penggunaannya di dalam al-Qur‘an bahkan dalam bahasa Arab pada umumnya adalah dengan kata depan bi (kepada). Dalam penggunaan ini kata tersebut berarti ―telah beriman atau percaya kepada‖; objek utama keimanan atau kepercayaan ini adalah Allah (amana bi-allah, ―percaya kepada Allah‖).

11 4

Bertitik tolak dari premis-premis diatas, Asmaran As menyimpulkan bahwa di dalam al-Qur‘an kata iman paling tidak mempunyai dua arti : a. Aman, mengamankan atau memberikan keamanan. Dalam surah al-Quraisy, ayat 4 Allah SWT berfirman : “.....yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan”. (QS. Al-Quraisy, 106:4) b. Yakin, percaya atau beriman. Dalam surah al-Baqarah ayat 285 Allah SWT berfirman : “Rasul telah beriman kepada al-Qur‟an yang diturunkan kepadanya demikian pula kepada orangorang yang beriman; semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan Rasul-Rasul-Nya”. (QS. Al-Baqarah, 2:285).

Sedangkan menurut istilah, ada beberapa definisi yang dapat dikemukakan : a. Imam Abu Hanifah mengartikan Iman sebagai pengikraran (dengan lidah) dan pembenaran (dengan hati) ُ‫اَإلِ ْيمَانُ هُواإلِقراروالتصد ْيق‬ ِ ْ َّ َ ُ َ ْ ْ َ b. Syaikh Muhammad Amin al_Kurdy mengartikan iman sebagai pembenaran dengan hati ِ َْ ْ ِ ْ َّ َ ُ َ ‫اَإلِ ْيمَانُ فهوالتصد ْيقُ بِالقلب‬ c. Syaikh Muhammad Abduh mengartikan Iman dengan keyakinan dalam kepercayaan kepada Allah, kepada Rasulnya dan kepada hari yang akhir tanpa terikat oleh sesuatu apapun, kecuali harus menghormati apa-apa yang telah disampaikan dengan perantara Rasul Tuhan. Dengan melihat beberapa definisi diatas, dapat dikatakan bahwa Iman itu paling tidak mengharuskan adanya pembenaran dan keyakinan akan adanya Tuhan dengan segala keesaan-Nya dan segala sifat kesempurnaan-Nya serta pembenaran dan keyakinan terhadap Muhammad Rasulullah dan risalah kerasulan yang dibawanya. Persoalan Iman, apabila ditinjau dari sudut komparte-mentalisasi ajaran Islam (meminjam istilah Nurcholis Majid) merupakan sesuatu yang berada dalam ranah aqidah. Istilah yang disebut terakhir ini biasanya dibedakan dengan istilah fiqih dan akhlak. Aqidah menduduki posisi pokok atau dasar, sedangkan fiqih dan akhlak menduduki posisi cabang. Dapat digambarkan, kalau Islam itu ibarat bangunan, maka aqidah adalah sebagai pondasinya yang tertanam didalam tanah, sedangkan fiqih dan akhlak adalah gedung-gedung atau benda-benda yang beridiri diatasnya. Sudah barang tentu karena aqidah itu pondasi agama, ia harus ada lebih dahulu sebeleum adanya yang lain. Iman harus dipunyai lebih dahulu sebelum orang melaksanakan ajaran agama. Oleh karena itu, Nabi Muhamma SAW didalam melakukan dakwah, dibidang inilah yang disampaikan terlebih dahulu. Bidang keimanan yang berpokok pangkal pada seruan ―tauhid (kesesaan Tuhan)‖ menjadi tema utama dari seruan dakwah yang dilakukannya dalam periode dakwah Islam yang pertama, yaitu periode Mekkah. Karena itu pula wahyu yang turun selama periode ini (yaitu ayat-ayat Makkiyah)

11 5

berkisar pada soal-soal keimanan. Ajaran fiqih (syari‘ah) baru disampaikan Nabi dalam periode dakwah Nabi yang terakhir, yaitu periode Madinah. Syaikh Mahmud Syaltut ketika menjelaskan kedudukan aqidah dan syari‘ah menulis : Aqidah itu didalam posisinya menurut Islam adalah pokok yang kemudian diatasnya dibangun syari‟ah. Sedangkan syari‟ah tiu sendiri adalah hasil yang dilahirkan oleh aqidah tersebut. Dengan demikian tidak akan terdapaty syari‟ah didalam Islam, melainkan karena adanya aqidah; sebagaimana syari‟at tidak akan berkembang, melainkan dibawah naungan aqidah. Jelaslah bahwa syari‟ah tanpa aqidah laksana gedung tanpa pondasi. Berdasarkan uraian tersebut, dapat lah disimpulkan bahwa Iman itu merupakan sesuatu yang fundamental dalam Islam dan dengan sendirinya dalam kehidupan. Iman itu laksana mesin bagi sebuah mobil yang menggerakkan segala kekuatannya untuk berjalan. Tanpa mesin, maka mobil itu tidak ubahnya seperti benda-benda mati yang lain, yang tidak bisa bergerak dan berjalan. Iman adalah landasan berpijak bagi setiap orang Islam. Manusia hidup di dunia ini, seperti dilukiskan Imam Al-Ghazali, tidak ubahnya seperti kapal yang mengarungi lautan. Diwaktu badai mengamuk, dia menghadapi gelombang yang bergulung-gulung, kadang-kadang sebesar gunung yang menyebabkan penumpangnya terhempas kian kemari. Jantungnya berdebar-debar, diliputi oleh kecemasan, takut kalau-kalau tenggelam dan akhirnya terkubur didasar laut. Segala ikhtiar dan usaha dijalankan untuk menyelamatkan diri. Apabila badai telah surut, maka ia dapat berlayar seperti orang yang berjalan santai atau sambil bersiul-siul. Pasang naik dan pasang surut dalam kehidupan adalah sunnatullah yang harus ditemui dan tak dapat dielakkan. Demikian juga dengan manusia dalam kehidupan tidak lepas dari berbagai macam masalah. Jalan yang ditempuh kadang-kadang datar, kadang-kadang menurun, manusia akan bertemu dengan nikma dan bencana, bahagia dan sengsara dan lain sebagainya. Dalam mengalami gelombang hidup yang demikian manusia harus mempunyai landasan tempat berpijak, mempunyai tali untuk berpegang. Landasan tempat berpijak itu ialah iman, yaitu keyakinan yang bulat dan utuh bahwa manusia itu hanyalah merencanakan, kewajibannya adalah berusaha, berjuang sesuai dengan martabat dan kedudukannya. Kemantapan inam dapat diperoleh dengan menanamkan kalimat tauhid La Ilaaha Illa Allah (tiada tuhan selain Allha). Tiada yang dapat menolong, memberi nikmat kecuali allah. Dan tiada yang mendatangkan bencana dan mausibah kecuali Allah. Singkatnya, kebagahian dan kesengsaraan hanyalah dari Allah. Al—Maududin mengemukakan beberapa pengaruh kalimat tauhiod ini dalam kehidupan manusia. 1. Manusia yang percaya demngan kalimat ini tidak mungkin dengan orang yang berpanvdangan sempit dan berakal pendek. Ia percaya kepada Allah SWT sebagai penguasa dan pemelihara alam semesta. Ia tidak pernah merasa asing dengan apaun yang ada di dunia. Pandanganya menjadi luas, wawasan intelektualnya menjadi lebih terbuka, pendirianya bebas seperti layaknya kekuasaan Allah SWT.

11 6

2. Keimanan ini mengangkatb manusia ke derajat yang paling tinggi dalam harkat sebagai manusia. Keyakinan ini membuatnya berbeda dengan manusia lain. Ia tidak pernah menunduk atau menyembah kepada siapapun . ia tidak terpesona dengan kebebasan orang lain. 3. Bersamaan dengan rasa harga diri tyang tinggi, keimanan juga mengalirkan ke dalam diri manusia rasa kesederhanaan dan kesahajaan. Ia menjadi orang yang tidak menyukai sifat pamer dan kepura-puraan. Orang yang beriman tidak pernah angkuh, kelebihan harta atau kekuasaan tidak membuatnya sombong, karena ia tahu semua itu berasal dari Allah. Setiap saat Allah dapat mengambil apa yang pernah diberikan-Nya kepada manusia. 4. Keimanan menbuat manusia menjadi suci dan benar. Ia yakin tidak ada jalan untuk mencapai kesuksesan dan keselamatan kecuali dengan kesucian jiwa dan tingkah laku ayang baik. Ia yakin bahwa Tuhan adil di atas segalanya, tidak mempunyai hubungan khusus dengan siapapun dan tidak seorang pun yang dapat campur tangan atau mempengaruhi kekuasaan-Nya. Keyakinan ini membuatnya sadar, jika ia tidak bersikap benar danadil, ia tidak akan mencapai kesuksesan. 5. Orang yang beriman tidak bakal purtus asa atau patah hati pada keadaan bagaimanapun. Ia mempunyai keyakinan kuat, Allah SWT adalah penguasa seluruh kekayaan yang ada di bumi dan di langit.seluruh kekayan ini milik Allah, Yang Maha Pemurah dan Penyayang. Keyakinan ini membuat hati orang – orang yang berinman menjadi tenang dan megisi hati mereka dengan kepuasan dan oftimois untuk menghadapi masa depan. Mungkin hidupnya di dunua selalu mengalami kegagalan, tetapi karena kepercayaannya kepada AllahSWT tidak pernah luntur, maka dengan keyakinan itu terus ia berjuang. Inilah suatu keyakinan terhadap diri sendiri yang tidak pernah dapat dihasilkan oleh kepercayaan dan keyakinan lain. 6. Orang yang beriman mempunyai kemauan keras, kesabaran yang tinggi dan kepercayaan yang teguh kepada AllahSWT. Ketia ia memutuskan untuk menjalankan printah-printah-Nya untuk mendapatkan nikmat-Nya, yakinlah ia akan mendapat dukungan dan pertolongan.Allah, Penguasa Alam Semesta. Keyakinan ini membuatnya menjadi kukuh dan kuat seperti gunung, tidak ada kesukaran, kesakitan dan tantangan yang dapat membuatnya mundur dan melepaskan usahanya. 7. Keimanan membuat keberanian dalam diri manusia. Dalam hubungan in ada dua hal yang membuat manusia menjadi pengecut : a). takut mati; dan b). pemikiran yang menyatakan bahwa ada orang lain selain Allah yang dapa mencabut nyawanya. Keimanan kepada kalimat La ilaha Illa Allah menghapuskan kedua pemikiran diatas. Pemikiran pertama terhapus dari alam pemikirannya karena ia mengetahui semua milik dan hidupnya berasal dari Allah SWT dan oleh karena itu ia selalu siap untuk berkorban dalam menjalankan kehendak-Nya. Pemikiran kedua tidak dapat masuk kedalam dirinya karena ia mengetahui tidak ada senjata atau alat manusia yang mempunyai kekuataan unutk mencabut nyawanya. Hanya Allah SWT yang dapat melakukan itu. 8. Keimanan terhadap kalimat La Ilaha Illa Allah dapat mengembangkan sikap cinta damai dan keadilan mengahau rasa cemburu, iri hati dan dengki. Orang-orang yang beriman selalu

11 7

menghindari cara-cara rendah dalam mencapai tujuannya. Mereka percaya bahwa kesejahteraan manusia berada di tangan Allah SWT dan dia memberikannya kepada manusia dengan kehendakNya. Tugas manusia hanya berusaha keras untuk mendapatkannya dengan cara yang benar. Mereka mengetahui tercapai tidaknya tujuan manusia dalam hidup ini tergantung kepada kehendak Allah SWT semata. Jika Dia hendak memberikan rahmat-Nya, tidak ada satupun kekuatan yang dapat menghalangi; dan jika Dia ingin memberikan/menimpakan bencana tidak ada satu kekuatan pun yang dapat menghalanginya. 9. Pengaruh terpenting dalam kalimat La Illaha Illa Allah adalah membuat manusia menjadi taat dan patuh kepada hukum-hukum Allah. Seseorang yang beriman, yakin kepada Allah mengetahui segalanya baik yang nyata maupun yang tersembunyi dari pandangan manusia. Menusia dapat menyembunyikan sesuatu kepada orang lain, tetapi tidak dapat menyembunyikannyan dihadapan Allah SWT. Semakin kukuh keyakinan seseorang, semakin patuh ia mengerjakan perintah-perintah Allah. Ia akan menghindari perbuatan-perbuatan ayng dilarang Allah dan mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya walaupun dalam kegelapan dan seorang diri. Demikian beberapa dampak keimanan terhadap kalimat tauhid La Illaha Illa Allah dalam kehidupan manusia sehari-hari. Karena alasan-alasan inilah, keimanan menjadi aspek yang pertama dan terpenting untuk menjadi seorang muslim sejati. Muslim berarti orang yang patuh dan taat kepada Allah SWT. Kepatuhan kepada Allah SWT tidak mungkin tumbuh dalam diri seseorang jika ia tidak mempunyai keyakinan dan keimanan terhadap kalimat tauhid tersebut. Atau dengan kata lain, tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada umatnya bahwa iman terhadap keesaan Allah SWT adalah ajaran yang paling penting dan aspek yang fundamental. Keimanan ini merupakan penggerak dari kekuatan agama Islam. Perintah-perintah atau hukum-hukum Islam beridiri kokoh diatas pondasi ini. Semua pendapat kekuatan dari sumber ini. Oleh karena itu, jika keimanan ditinggalkan maka keseluruh ajaran Islam yang lain menjadi tidak ada artinya. Disamping keimanan seperti dikemukakan diatas memberikan dampak positif terhadap kehidupan seorang muslim itu sendiri, ia juga dapay memberikan kenikmatan bagi orang lain dan lingkungannya. Dalam sebuah perumpamaan Allah SWT menggambarkan seperti firman-Nya dalam surah Ibrahim ayat 24 – 25 sebagai berikut : “tidaklah kami perhatikan bagaiman Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) kelangit, pohon itu memberikan buahnya pada musim dengan seizing Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusi supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi tidak dapat (tegak) sedikitpun. Allah

meneguhkan Iman orang- orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu didalam kehidupan dunia dan akhirat dan Allah menyesatkan apa yang Dia Kehendaki ( QS. Ibrahim, 14:24-27)

11 8

Pada ayat ini secara metaphor Allah mengumpamakan kalimat thahiyyat (ucapan yang baik) itu lakasana pohon kayu yang besar dan kuat. Pohon yang kuat akan berdiri teguh. Akarya tertancap jauh kedalam tanah, buahnya member hasil dan dapat dinikmati oleh manusia. Dahannnya yang bercabang-cabang menjulang ke angkasa dapat dipakai untuk berteduh di waktu panas terik matahari. Itulah perumpamaan atau gambaran orang beriman. Jadi kondisi dan fungsi orang yang beriman menurut ayat tersebut adalah laksana pohon yang besar yang mempunyai tiga cirri khas. 1. Dia berdiri teguh dan kuat dalam kehidupan. Mempunyai pendirian, tidak mudah digoyah dan di goncang, tidak gampang diombang-ambingkan, tidak mudah dipengaruhi. Walaupun angin badai bertiup, namun pohon besar itu berdiri teguh tidak condong apalagi tumbang. 2. Dia mempersembahkan buahnya kepada manusia untuk dinikmati dan dimakan. Malah dapat pula diamabil manfaatnya oleh orang lain bisa dijual dan hasilnya dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan yang lain. 3. Dia menjadikan dirinya tempat bernaung, member perlindungan kepada sesame manusia, menlong orang yang lemah, membela orang yang teraniaya dan lain sebagainya. Orang mukmin sejati adalah orang mempunyai harga diri, tidak mau melakukan perbuatan yang tidak pantas, perbuatan ini disembunyikan tidak dipertontonkan kepada orang banyak. Demikianlah iman yang terhunjam dalam dalam jiwa, mengendalikan perbuatan seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Btapa eranya hubungan antara Iman dan amal atau sikaf dan tingkah laku seseorang terhadap Tuhan sesama dan alama sekitarnya. Hammudah Abdallati daam bukuya Islam in focus menjelaskan : ―orang boleh mengira bahwa seseorang telah menjadi Muslim apabila ia telah meyakini keEsaan Tuhan dan Muhammad Rasull-Nya yang terakhir, tetapi hal ini sebenarnya masih jauh dari arti iman yang sempurna. Baimanapun juga arti iman yang sempurna dalam Islam tidaklah hanya nama atau formaliitas saja. Iman dalam Islam adalah suatu keadaan yang diperoleh melalui kebaikan dan perbuatan yang positif dan pemikiran yang konstruktif serta tindakantindakan yang dinamis dan efektif” Dengan demikian Iman memiliki dimensi yang sangat mendalam. Kedalaman mana tercermin pada suatu pandangan bahwa iman bukanlah semata-mata kepercayaan, melainkan juga meniscayakan suatu perbuatan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Basis asumsi dari pandangan diatas, setidaknya dapat dikemukakan beberapa hadist Nabi SAW. Pertama hadist Nabi yang menyebutkan bahwa Iman itu mempunyai lebih dari tujuh[uluh tingkat. Tingkat tertinggi adalah ucapan ― tiada Tuhan Selain Allah‖ dan tinkat yang paling rendah adalah menyingkirkan bahaya dari jalan.

11 9

“iman itu memppunyai lebih dri 70 tingkat. Tingkat tertinggi adalah ucapan. Tiada Tuhan selain Allah” dan tingkatan yang paling rendah adalah menyingkirkan halangan ji jalan raya” (HR Tirmidzi dan Ahmad) Kedua, hadist Nabi SAW tentang ancaman terhadap orang yang tidak mempedulikan

tetangganya, belau mengklaim mereka sebagai orang yang tidak beriman. “Demi Allah, tidaklah beriman! Demi Allah, tidaklah beriman! Orang bertanya “ siapalkah yang tidak beriman itu wahai Rasullullah? Orang yang tetangganya tidak nyaman dengan kelakuan buruknya, orang bertanya lagi, apakah kelakuan buruknya? Beliau berkata, “ Kejahatan dan sikapnya yang menyakitkan (HR. Bukhari Muslim, Tirmidzi, Ahmad). Ketiga, hadist nabi SAW yang menyebarluaskan salam perdamaian diantara kaum

muslimin. Beliau mengecam mereka dengan tidak melakukannya sebagai bentuk saling mencintai dengan memberikannya predikat tidak beriman. ―Demi dia yang ada di Tanga Nya kamu tidak akan masuk surga sebelum kamu beriman, dan kamu tidak beriman sebelum kamu tidak saling beriman. Belumkah aku beri petunjuk kepadamu tentang sesuatu yang jika kamu kerjakan kamu saling mencintai? Sebarkanlah salam (perkawinan) diantara sesame muslim (HR. Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majjah). Berdasarkan iitu, maka sesunggguhnya makna iman sejajar dengan kebaikan atau perbuatan baik, ini dikuatkan oleh adanya riwayat tentang orang yang bertanya kepa Nabi tentang iman, namun turunnya wahyu jawaban tentang kebajikan (al-birr) yaitu : “Bukanllah kebajikan itu bahwa kamu menghadapkan wajahmu kearah timur ataupun barat, tetapi kebajikan adalah jika oorang beriman kepada Allah hari kemudian, para malaikat, kitab suci, dan para Nabi. Dan jika orangg mendermakan hartanya, betatapapuncintanya pada harta itu untuk akum kerabat, anak-anak yatim, orang miskin, orang terlantar diperjalanan, dan untuk orang yang terbelenggu perbudaakan. Kemudian jika orang itu meneggakna shalat dan mengeluarkan zakat. Juga mereka yang menepati janji, jika membuat perjanjian, serta tabah dalam kesusahan, penderiataan dan masa-masa sulit. Mereka itulah orang-orang yang tulus, dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. (Qs. Al-Baqarah, 2:177)” Oleh karena itu perkataan iman dan kitab suci dan sunnah Nabi sering memiliki makna yang sama dengan perkataan kebajikan (al-birr) taqwa, dan kepatuhan (al-din) kepada Tuhan. Yang menarik, kata Iman dalam Al-Qur‘an selalu dirangkaikan dengan kata amal. Yang menunnjukan bahwa iman yang bersikaf personal dan mempunyai relasi transendental dengan Tuhan yang harus juga dimanisfestasikan secara parallel, atau berbanding lurus dengan peruatan yang bersifat sosial yang mempunyai relasi horoxontal dengan kominitas masyarakat dan alam semesta. Adapun kata Taqwa sebaagai elemen kedua dari norma dasar ini secara morfologis berartii pembatas antara dua hal. Apabila disebutkan Ittiqa bi tursihi, berarti membuat jarak antara dirinya dengan apa yang dimaksud sehinggaapabila Taqwa diartikan sebagai ( melaksankan segala perintah-

12 0

perintah Allah dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya) maka yang dimaksud adalah meenjadikan printah dan larangan tersebut sebagai pembatasan antara seseorang yang bertaqwa dengan siksa Tuhan. Pengertian diatas mengandaikan Taqwa ke-taqwaan harus dimaknai sebagai kondisi atau keadaan takut kepada Allah SWT. Menurut Fazlur Rahman, walaupun pemaknaan ini tidak salah ppada saat ini kaum Muslimiin lebih suka menghindari Istilah ―Takut kepada Allah‖ tersebut. Mereka berpendapat bahwa istilah tersebut dapat memberikan kesan yang salah – seperti kesan kebanyakan orang-orang barat sehingga saat-saat terakhir bahkan hingga saat ini Bahwa tuhan menurut ajaran Islam adalah Tuhan yang dictator dan kejam karena rasa takut kepada Allah SWT itu tidak dapat mereka bedakan dari rasa takut kepada serigala. Kata Taqwa dalam analisi Fazlur Rahma, berasal dari akar kata, w – q – y, yang berarti berjaga-jaga atau melindungi diri dari sesuatu. Perkataan Taqwa dengan pengerian ini dipergunakan di dalam Al-Qur‘an surat Ath-Thur ayat 27, Al-Mukmin ayat 45 dan Al-Insan ayat 11: “Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab” (ta-Thur) “Maka Allah memiliharnya dari kejahatan tipu daya mereka dan Fir‟aun beserta kaumnnya dikepung oleh adzab yang sangat buruk (QS. Al-Mukmin, 40:45) “Maka tuhan memelihra dari kesusahan hari itu dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) kegembiraan hati” (Qs. Al Insan, 76:11) Berdasarkan elaborasi dri ayat-ayat diatas, maka taqwa berarrti melindingi diri dari akibat-akibat perbuatan sendiri yang buruk dan jahat. Dengan demikian istilah ―takut kepada Allah‖ dengan pengertian takut kepada akibat-akibat perbuatan sendiri – baik akibat-akibat di dunia maupun diakhirat nanti – adalah tepat sekali. Dengan perkataan lain, inilah rasa takut yang timbul karena kita menyadari bahwa kita memiliki tanggung jawab dunia akhirat. Rasa takut ini tidak sama dengan rasa takut kepada serigala atau kepada seorang raja yang zalim dan semena-mena, karena Tuhan menurut al-Qur‘an adalah TuhanYang Maha Pengasih – walaupun dia juga menjatuhkan hukuman-Nya di dunia dan akhirat nanti. Selanjutnya untuk menemukan makna dinamis dan generik dari taqwa, yakni ‫( إمتثال ُ اآلَوامرواجتناب النواهِى‬melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangannya), َ َّ ُ َ َ ْ َ َ ْ َ Fazlur Rahman mengajukan analisis : Mungkin sekali cara terbaik untuk mendefinisikan taqwa adalah dengan mengaitkan bahwa jika perbuatan adalah aksi manusia, maka penilaian yang ril serta efektif dan kriteria terhadap perbuatan tersebut berada diluar dirinya. Demikian pula sehubungan dengan perbuatan yang dilakukan secara kolektif oleh suatu masyarakat, maka penilaian dan kriteria penilaian terhadap perbuatan teresbut berada diluar masyarakat tersebut. Jika seseorang atau suatu masyarakat benar-benar menyadari hal ini di dalam hidupnya, maka manusia tersebut atau masyarakat tersebut benar-benar memiliki taqwa. .... jadi didalam konteks argementasi kita ini taqwa berarti

12 1

kekokohan di dalam tensi-tensi moral atau di dalam “batas-batas yang telah ditetapkan Allah”, dan tidak mengoyahkan keseimbangan diantara tensi-tensi tersebut atau “melanggar” batas-batas tersebut. Dengan demikian amal perbuatan manusia memiliki kualitas yang menyebabkan ia harus beribadah kepada Allah”. Berbeda dengan Fazlur Rahman, Nurcholis Majid mengartikan taqwa sebagai Godconsciiousness, atau ―kesadaran ketuhanan‖. Menurut Cak Nur, makna ini relevan dengan tujuan diutusnya para Nabi dan Rasul, yaitu untuk mencapai kesadaran ketuhanan yang Maha Hadir – yang sering disebutnya dengan kesadaran yang omnipresent – dengan sekaligus kesediaan menyesuaikan diri dengan dibawah cahaya kesadaran ketuhanan tersebut. Kesediaan ini secara teologis dan spiritual akan memberi efek hidup dalam standar akhlak yang tinggi dalam tindakan-tindakan bermoral. Berdasarkan elaborasi dari makna iman dan taqwa diatas, tampak jelas keterkaitan diantara keduanya. Iman sebagai pondasi membentuk kualitas internal manusia secara pribadi dan sosial, dan bentuk ideal dari kualitas tersebut adalah profil seorang yang bertaqwa. Dengan demikian taqwa merupakan puncak dari kualitas-kualitas keimanan seseorang. Menurut Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid, iman memiliki posisi strategis dalam pembentukan kualitas individu. Kualitas mana selanjutnya akan sangat berpengaruh dalam posisinya ditengah-tengah masyarakat, baik dalam konteks bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara. Bahkan, pemimpin agama dan negara harus menjadikan iman sebagai norma dasar di dalam kepemimpinannya. Ini relevan dengan syairnya dibawah ini : Ya Subhanallah ajib bin heran Seakan mereka terputus iman Karena lupanya kepada Tuhan Yang telah menjamin di dalam Qur‟an Kalau diserahkan kepada mereka Memimpin agama atau negara Maka kiamatlah agama kita Sebelum kiamat nusa dan bangsa. Syair di atas mejelaskan bahwa iman sebagai norma dasar bagi sebuah kepemimpinan agama maupun Negara. Bagimanapun fungsi kepemimpinan sangat erat kaitannya dengan pilihan pilihan keputusan. Suatu keputusan yang berlandaskan pada nilai-nilai keimanan diyakini akan memberikan kemaslahatan bagi diri seorang pemimpin maupun masyarakat yang dipimpinnya. Demikian pula sebaliknya, menafikkan nilai-nilai keimanan dan berdampak negatif pada sendi-sendi keberagaman dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Lebih jauh ia juga mengajak untuk menumbuhkan semangat keimanan dan ketaqwaan

sebagai penunjang dalam bentuk semangat keberagamaan dan kebangsaan. Seseorang yang beriman dan bertaqwa secara benar dan konsisten akan berdampak positif dan berbanding lurus

12 2

antara aktivitas keberagamaan dan aktivitas kebangsaan. Singkatnya seseorang bisa menjadi Muslim yang taat di satu sisi dan pada saat yang bersamaan ia juga dapat menjadi seseorang yang patuh dan berbakti kepada bangsanya. Asumsi ini terefleksikan dari syairnya dibawah ini: Hidupkan Iman hidupkan taqwa Agar hiduplah semua jiwa Cinta teguh pada agama Cinta kokoh pada Negara Sangat durhaka seorang hamba Menjual iman melelang taqwa Membuang diri dan Ibu Bapa Mengejar bayangan kursi dunia Berikan andilmu kepada Islam Di Abad bangkitnya seluruh Umam Iman Taqwa Jadikan Iman Menghadap Ka‟bah Masjidil Haram Akhirnya menyadari pentingnya Iman dan Taqwq di dalam setiap lini kehidupan, ia menempatkan sebagai bekal utama di dalam mengarungi kehidupan. Dalam hal ini ai menyebutkan: Auliyaullah berkata selalu Zaman sekarang maupun dulu “Iman dan Taqwa hidupkan olehmu Kemudian baru mencari sangu.. Karena Innsan dijadikan Tuhan Mengabdikan diri sepanjang Zaman Bukan pokoknya makan dan makan Tapi pokoknya bersihkan Iman B. YAKIN, IKHLAS DAN ISTIQAMAH SEBAGAI PEDOMAN OPERASIONAL Posisi strategis iman dan Taqwa dalam pembentukan kualittas kepribadian seseorang menjadi pribadi yang berkualitas ditengah-tengah masyrakat mengandaikan adanya tindak lanjut (follow up) dalam penerpannya. Baik dalam konteks pribadi maupun sosial. Salah satu diantara formulasi yang ditawarkan oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid adalah trilogy, Yakin, Ikhlas, Istiqomah. Apabila iman dan taqwa merupakan pilar-pilar strategis agar visi yang sangat pundamental tersebut dapat terpelihara hingga pada suatu batas visi itu telah terwujud. Dengan demikian Trilogi yakkin, Ikhlas dan Istiqomah merupakan komitmen pribadi dan

12 3

masyarakat didalam mewujudkan, membina, mempertahankan dan melestarikan visi Iman dan Taqwa. Secara terminology menurut ahmad Mustafa al_maraghi adalah: (suatu pembenaran yang bersifat pasti tanpa ada keraguan didalamnya ) Sedangkan Muhammmad Hhasan al –himsh mrndefinisikan dengan kebenaran yang tetap yang sesuai dengan kenyataan) Dalam Al-Qur‘an disebutkan enam kali masing-masing kepada: 1. Surat al-Hijr 15:99 yang artinya: Dan sembahlah Tuhanmu sampai dating kepadamu yang diyakini (ajal) 2. Surat al-waqi‘ah, 56 : 95 yang artinya: Sesungguhnya ( yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan. 3. Surat al-Haqqah 69:51 yang artinya: Dan sesungguhnya Al-Qur‟an benar-benar kebenaran yang diyakini 4. Surat al-Muddatstsir 74: 47 yang artinya: Hingga dating kepada kami kematian 5. Surat al- Takaatsur, 102:5 yang artinya: Janganlah begitu jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin 6. Surat at-Takaatsur, 102: 7 yang artinya Dan sessungguhnya kamu benar-benar kamu akan melihatnya dengan ainul yakin Dari rangkain surat diatas, terlihat bahwa makna keyakinan terbagi menjadi 3 bagian : (1). Kematian, (2) al-Qur‘an, (3) surge dan neraka. Selanjutnya kata yakin ini mengalami penamabahan redaksional dengan kata haqq al yaqin, ilm al yaqin, dann „ain al yakin. Kata haqq al yakin adalah sebuah keyakinan yang berkaitan dengan aspek-aspek eskatologis (sesuatu

(sesuatu yang bersikaf gaib). Sementara ilm al-yaqin adalah sebuah keyakinan yang bertumpu pada aspek aspek nalar yang bersifat rasional dan logis. Sedangkan ‗ain yaqin adalah sebuah keyakinan yang dapat diakses oleh panca indra secara kasat mata. Menurut Junaid al-Baghdadi yang dimaksud dengan yaqin adalah ilmu yang stabil dan tidak bolak-balik, tidak berpindah-pindah dan tidak berubah-ubah dalam hati. Sementara menurut sebagian para ulama yang lain adalah mukasyfah (terbukanya tabir surya). Mukasyfah terbagi menjadi tiga tingkatan yaitu pertama mukasyfah dengan hal-hal yang baik, kedua mukasyafah dengan menampakkan kemampuan dan ketiga mukasyafah dengan esensi keimanan Dengan demikian, keyakinan terkait dengan sikap mental seseorang yang memegang teguh visi keimanan dan ketaqwaannya sebagai norma dasar dalam menjalankan segala aktivitas kehidupannya. Dengan adanya keyakinan yang kuat seseorang tidak akan terombang

12 4

–ambing dalam sikaf dan perbuatannya sekaligus memilih arah yang jelas dalam menetukan prefensi sikap dan perbuatan Menurut Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid, lemahnya keyakinan seseorang terhadap visi Iman dan Taqwa sebagai norma dasar telah menyebabkannya mengalami erosi mental spiritual dan terjerembab menjadi tawanan syetan dan hawa nafsu serta terjebak dalam pilihan-pilihan hedonis dan kesenangan dunia semata dalam hal ini menyatakan Terkadang menjual jiwa dan raganya Menjual taqwa menjual imannya Itu terjadi karena gilanya Ditawan syetan dan hawa nafsunya Terkadang ada juga berkata Kami berbuat sebab terpaksa Ekonomi kami sepuitak ada Keroncongan perut pikiran buta Terkadang ada juga yang mengaku Bahwa mereka digadai di situ Itulah sebabnya mereka itu Menjadi budak menjadi penyapu Saying sekali hidupnya semua Jar-majrurnya duynia belaka Mereka lupa ayat “RIZQUHA” Dan lupa ayat “MAKHRAJA” Adapul pilar setrategis kedua untuk mempertahnkan visi keimanan dan ketaqwaan adalah ikhlas. Kata ini menurut bahasa berarti suci murni, tidak bercampur dengan sesuatu ayng lain, kejujuran dan kelurusan hati. ‖sedangkan menurut istilah ikhlas berarti seluruh ketaatan yang sematamata ditunjukan kepada Allah, yakni ketaatan seorang mukmin yang dinamakn taqarrub itu tertuju kepada Allah, bukan dibuat –buat untuk manusia, untuk mendapatkan pujian manusia atau untuk disayang manusia atau maksud apa saja selain taqarrub kepada Allah. Bias juga diartikan bahwa ihklas merupakan penjernihan perbuatan dari campuran semua mkhluk atau pemelihara sikap dari pengaruh-pengaruh pribadi. Menurut Sayyid Sabiq- sebagaimanadikutip Maftuh Ahnan- iklas adalah: ―Manusia secara sadar mempunyai maksud pada perkatan, perbuatan, dan jihadnya diorientasikan semata-mata kepada Allah, dan mengharap keridhan-Nya, tanpa mengharapkan harta, pujian, gelar,

12 5

kemasyhuran, dan kemajuan. Amalannya terangkat dari kekurangan-kekurangan dan dari akhlaq yang tercela. Dan dengan iklas, ia dapat berhubungan langsung kepada Allah.” Dalam al-Qura‘an banyak dijumpai ayat-ayat yang menyatakan tentang iklas, seperti ayat-ayat di bawah ini: “Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.(QS.al-Bayyinah, 98:5)‖ ―ingilah, bagi Allah agama yang murni (QS. Al-Zumar,39:3)‖. Di samping itu ada hadist Nabi saw, yang menerangkan sifat ikhlas dalam beramal. ―Allah ttidak akan menerima amalan (seorang hamba), melainkan amalan yyang ikhlas dan yang karena untuk mencari keridhaan Allah”. (H.R.Ibn Majah) Menurut zunnun al-Misr terdapat tiga tanda yang menunjukkan keikhlasan seseorang, yaitu: 1) ketiadaan antara pujian dan celaan; 2)lupa memandang amal perbuatannya dalam amal perbuatanya sendiri; dan3) lipa menurut pahala atas perbuatanya di akhirat. Berdasarkan elaborasi di atas, dapat dipahami bahwa keikhlasan merupakan komitmen seseorang untuk senatiasa mendefinisikan sikap dan perbuatannya dalam konteks norma dasar iman dan taqwa dengan sifat iklas, tanpa dipengaruhi oleh situasi eksternal yang melingkupi dirinya. Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zaenudin Abdul Madjid memberikan contoh sosok pribadi yang ikhlas sebagai gambaran dari bentuk keikhlasan seseorang. Sosok pribadi dimaksud adalah sahabat Nabi, Khalid Ibn Walid yang pernah diberhentikan oleh Umar Ibn Khattab sebagai panglima perang. Meskipun demikian, Khalid tetap tegar dan konsisten berjuang dengan iklas. Ilustrasi sosok pribadi ikhlas terdapat dalam syair di bawah ini. Manusi ikhlas ada tandanya Tetap berjuang dengan setia Dimana saja mereka berada Tidak tergantung menjadi pemuka Contohnya Khalid dipecat Umar Di perang Yarmuk sedang berkobar Jiwa beliau bertambah besar Bertambah ikhlas berjuang sabar Bertitik tolak dari gambaran tentang pribadi Khalid ibn Walid tersebut, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zaenudin Abdul Madjid memberikan taushiyah agar dalam menjalankan aktivitas keagamaan maupun kebangsaan menghindari sikap hidup yang hanya berorienttasi kepada hal-hal yang bersifat hedonistik untuk kepentingan duniawidan pribadi semata, yang diistilahkannya dengan

12 6

ungkapan tiga si,

yaitu mengejar nasi basi, sambal terasi, dan satu kursi. Sebaliknya, aktivitas

keagamaan maupun kebangsaan hendaknya dilandasi oleh semangat keikhlasan sejati untuk tujuan kemaslahan bersama. Hal ini sebagaimana digambarkan dalam syairnya: Hidupka jiwa ikhlas sejati Tetap memohon taufik ilahi Siang dan malam meyerah diri Kehadirat Allah Rabbi IZZATI Sedangkan pilar strategis ketiga untuk mempertahankan visi keimanan dan ketaqwaan adalah istiqomah. Kata ini berasal dari kata dasar berdiri), yang ditambahkan dengan tiga huruf tambahan (zaidah), yaitu alif, sin, dan ta‟. Secara leksikal kata ini berarti kelurusan dan ketegakan. Sedangkan secara terminologis, menurut Ahmad al-Basyuni, mengikuti dan menetapi suatu jalan yang lurus dan tidak meyimpang ke kanan dan ke kiri, mengikuti dan menetapi suatu jalan pertengahan, baik dalam aspek akidah, akhlak, maupun dalam beribadah. Kata istiqamah dentgan berbagai derivasinya dalam al-Qur‘andisebut sebanyak sepuluh kali. Derivasi dari kata tersebut dikemukakan dalam dua bentuk redaksional yang berbeda, yakni 1] bentuk fi‟il amr dalam QS, 9 : 7, 41 : 30, 46 : 31, 72 : 16, 42 : 15, 11 : 112, 10 : 89, dan 41 : 6 ; dan 2] Menelusuri konteks pengungkapan al- Qur‘an terhadapkata istiqomah, terdapat empat lapangan istiqomah, yakni: 1. Istiqamah dalam akidah, sebagaimana tergambar pada QS. Fushsilat 41: 30 “ sesungguhnya orang- orang yang mengatakan:”Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka [dengan mengatakan]: “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih;danbergembifralah kamu dengan [memperoleh] surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. [QS. Fushshilat, 41 : 30 ] 2. Istiqamah dal perjanjian, sebagaiman dikemukakkan dalam QS. Al-Taubah, 9 : 7 Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin, kecuali orang-orang yang telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidil Haram? Maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus pula terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa. (QS. AlTaubah, 9 : 7). 3. Istiqomah dalam sikap, sebagaimana direfleksikan dalam QS. Yunus, 10 : 89 Allah berfirman : “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus, dan janganlah kamu sekali-kali kamu mengikuti jalan orangorang yang tidak mengetahui”. (QS. Yunus, 10 : 89) 4. Istiqomah dalam beragama, sebagaimana dikemukakan dalam QS. Al-Jin 72 : 16 bentuk fi‟il mudhari‟ dalam QS, 81 : 28. setidak-tidaknya,

12 7

Dan bahwasanya : jikalau mereka tetap berjalan lurus diatas jalan itu (gama Islam), benar-benar kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang banyak). (QS. Al-Jin, 72 : 16) Secara lebih sederhana, Ahmad Al-Basyuni mengklasifikasi lapangan istiqomah tersebut kedalam tiga bidang, yakni : 1). Istiqomah dalam aqidah; 2). Istiqomah dalam akhlak; dan 3). Istiqomah dalam beramal. Makna istiqomah dalam aqidah adalah tidak mengikuti hal-hal yang batil (salah), mengikuti tahayyul atau yang hanya didasarkan pada prasangka dan angan-angan yang tidak dikuatkan oleh ilmu. Sementara makna istiqomah dalam akhlak adalah bertahan dalam prilaku terpuji dan konsisten pada sikap keseimbangan (pertengahan) antara sikap berani dan penakut, sedangkan makna istiqomah dalam beramal adalah bersikap sederhana, tidak terlalu banyak dengan memaksakan diri atau terlalu sedikit karena malas. Dari uraian diatas, dapat dipahami bahwa istiqomah merupakan penegasan hati untuk selalu berpegang teguh kepada norma dasar iman dan taqwa. Penegasan ini merupakan rangkaian proses setelah sesuatu dibangun kemudian menjadi, dan mempertahankan keberadaannya. Apabila pembentukan itu berupa keimanan dan ketaqwaan, maka prosesnya dimulai dari penanaman semangat dan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan, tumbuhnya semangat dan nilai dan artikulasi keistiqomahannya adalah upaya untuk mempertahankan keimanan dan ketaqwaan tersebut. Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid menganalogikan pandangannya tentang istiqomah dengan menggunakan analogi gunung Rinjani, gunung tertinggi di Nusa Tenggara Barat. Gunung adalah fenomena kesemestaan yang berdiri kokoh dan simbolik mempertahankan bentuknya dalam kurun waktu yang cukup lama. Seorang muslim, menurutnya hendaklah berusaha untuk mempertahankan norma dasar iman dan taqwanya serta tidak mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang secara substantif dalam mengurangi dan menghilangkan norma dasarnya. Anjuran moral untuk menegakkan sikap istiqomah ini, antara lain tercermin dalam syairnya. Kalau anakda berjiwa Rinjani Pastilah tegak sepanjang hari Tidak berubah tidak ampibi Walaupun dijanji ranjang dan kursi Di Selaparang syukurlah ada Orang yang tegak tampakkan dada Membela agama membela negara Tidak tertawan rayuan harta

12 8

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful