Notulensi Press Conference “Ubah Arah Kebijakan Telematika dan Media di Indonesia” Rabu, 18 Juli 2012 Retro Cafe

Narasumber, Fajri/CIPG Sejak tahun 1998 atau setelah reformasi, terjadilah perubahan pada lansekap media industri yang cukup drastis di Indonesia. Hal itu ditandai dengan terjadinya liberalisasi industri media di Indonesia secara sistematis. Bahkan saat ini terlihat, perkembangan industri media + Internet (social media) yang cukup pesat.

Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa peran media yang cukup sentral dalam pembentukan masyarakat Indonesia. Terkait dengan itulah CIPG, HIVOS dan Ford Foundation melakukan penelitian terkait media di Indonesia.

Dan hasilnya adalah landscape struktur industri media di Indonesia dari masa ke massa saat ini. Terlihat 12 group besar menguasai hampir seluruh media massa yang ada di Indonesia.

Dan ini kelompok-kelompok media di Indonesia
No Groups Television Radio Print Media Online Media 1 MNC Group 20 22 7 1 Production House, Talent Agency, University 2 Jawa Pos Group 20 n/a 171 1 Paper Mills, Power Plant Other business Political Affiliation Nasional Demokrat

3

Kompas Gramedia

10

12

88

1

Property, Bookstore chain, University

4

Mahaka Media Group

2

19

5

n/a

Event

Organizer,

PR

Consultant 5 Elang Teknologi 6 CT Corp 2 n/a n/a 1 Mahkota 3 n/a n/a 1 Telecommunication, Solution Financial services, lifestyle, property, resources 7 Visi Media Asia 2 n/a n/a 1 Natural Property 8 Media Group 1 n/a 3 n/a Property Nasional Demokrat 9 MRA Media n/a 11 16 n/a Retail, property, food and beverages 10 Femina Group n/a 2 14 n/a Talent Agency resources, Golkar Natural IT

11

Tempo Inti Media

1

n/a

3

1

Documentary

12

Beritasatu Holding

Media

2

n/a

10

1

Property, health services, Internet Service Provider

Adapun point-point penting dalam penelitian itu adalah bahwa media telah menjadi sebuah komoditas. Konsentrasi industri media yang terjadi melalui merger dan akuisisi antar perusahaan media telah mengancam semangat ‘keragaman kepemilikan’ dan ‘keragaman

informasi’ di media. Sementara kebijakan yang mengatur media cenderung kontradiktif, kurang ‘bergigi’, dan lebih mengakomodasi kepentingan bisnis daripada kepentingan warga. (Contoh kasus: jual-beli frekuensi melalui kepemilikan saham)

Sementara agenda setting yang dipraktekkan di industri, membuat informasinya menjadi bias dan sarat kepentingan pemilik. Di sisi lain institusi penyiaran publik tidak berjalan dengan baik. Deri sini terlihat bahw perkembangan industri media tidak diiringi dengan perkembangan/peningkatan literasi media pada masyarakat. Terkait dengan telematika, kebijakan media akan selalu berada satu langkah di belakang perkembangan telematika. Ujian terdekat yang akan dihadapi adalah pengaturan konvergensi dan digitalisasi.

Narasumber 2, Lely/ MediaLink Pembicara sebelumnya, dari CIPG sudah menyebutkan peta konglomerasi media di Indonesia secara lebih gamblang. Saya disini akan berbicara mengenai konglomerasi media dibalik rencana digitalisasi televisi.

Seperti kita tahu, pemerintah bersikeras melakukan tender terkait digitalisasi televisi meskipun mendapat tantangan dari masyarakat dan parlemen. Kita sebagai masyarakat perlu mencermati, ada agenda apa sebenarnya di balik digitalisasi televisi ini?

Jika kita melihat aturan terkait tender televisi digital ini jelas terlihat bahwa digitalisasi televisi ini diarahkan untuk melanggengkan struktur konglomerasi media, terutama televisi. Dengan digitalisasi televisi ini perusahaan konglomerasi media akan mendapatkan keuntungan yang berlipat dibandingkan sebelum ada digitalisasi.

Narasumber ke-3, Firdaus Cahyadi/SatuDunia Mas Fajri tadi sudah menjelaskan dengan gamblang soal konglomerasi media di Indonesia. Memang begitulah adanya. Selain CIPG, Merlyna Lim, seorang professor di Arizona State University juga telah mengungkapkan hal yang kurang lebih sama seperti yang diungkapkan oleh mas Fajri tadi.

Konglomerasi media ini bukan hanya persoalan teknis ekonomi semata. Konglomerasi media juga berdampak secara sosial dan politik. Hal itu disebabkan konglomerasi media memunculkan dominasi wacana di masyarakat. Celakanya, para konglomerat media itu selain memiliki bisnis media juga memiliki bisnis di luar media, seperti tambang dan jalan tol. Sehingga bukan tidak mungkin bila ada persoalan terkait dengan bisnis di luar media, media miliknya akan bias dalam memberitakannya.

Namun, sebenarnya di era internet ini, publik berpotensi memberikan ‘perlawanan’ terhadap dominasi media konglomerasi itu. Di era internet ini, seseorang bisa menjadi konsumen sekaligus produsen berita.

Peluang itu semakin besar di Indonesia, karena jumlah pengguna internet di Indonesia juga meningkat dari tahun ke tahun.

Dan perlawanan publik dengan menggunakan internet itu mulai nampak dari gerakan koin untuk Prita, Cicak dan Buaya, serta dalam kasus Lapindo. Namun, sayang perlawanan itu masih terpusat di Jawa. Hal itu disebabkan oleh infrastruktur telematika yang juga berpusat di Jawa, khususnya lagi Jakarta.

Gambar tersebut SatuDunia dapatkan dari Mas Didin, ID Sirti, waktu diskusi yang diselenggarakan oleh SatuDunia. Dari gambar itu terlihat jelas kesenjangan infrastruktur telematika yang terjadi di Indonesia.

Kesejangan infrastruktur telematika itu juga berdampak pada produksi konten di internet. Produksi tweet yang terbesar, menurut penelitiannya SalingSilang, juga didominasi oleh Jakarta, begitu pula pengguna Facebook. Padahal dua media sosial itu seringkali menjadi basis gerakan sosial digital saat ini.