FIGUR

Anne Nurfarina

Ibaratnya kalau orang normal itu ada beberapa pintu, sementara pada anak autisme hanya memiliki satu pintu. Makanya kita harus masuk ke satu pintu itu. Kelebihan mereka itu fokus pada satu titik dan mengabaikan lingkungan yang ada di sekitarnya.
- MINGGU 4 MARET 2012

>5

INILAH GRUP: INILAH KORAN PORTAL NEWS : WWW. INILAH.COM, WWW. INILAHJABAR.COM, WWW.YANGMUDA.COM, WWW. JAKARTAPRESS.COM

Peduli Autisme
S
RASA pedulinya akan pertumbuhan anak penyandang autisme, pertama kali Anne Nurfarina rasakan saat memiliki adik yang mengidap autis. Sejak saat itu, dia semakin mendalami dan memelajari mengenai autisme.
ekitar tahun 1970-an, masyarakat belum mengenal autisme. Semua penyakit ataupun kelainan yang tidak ada obarnya seringkali dikaitkan dengan hal yang mistis, termasuk gejala yang diidap adiknya. Apalagi saat itu tidak ada kasus sama seperti yang dialamai sang adik. ”Dulu kan yang dikenal itu idiot, bukan autis, walaupun sebenarnya berbeda. Kalau anak autis itu kan lebih ke psikologis, masalah aspek ketidakmampuan membangun sosial. Sedangkan idiot, itu keterbelakangan mental karena ada kekurangan di otak,” tutur Anne ketika berbincang dengan INILAH beberapa waktu lalu. Sebagai seorang kakak, saat itu Anne merasa sedih tatkala sang adik ditolak masuk ke sekolah luar biasa (SLB). Dari sanalah akhirnya muncul rasa sayang dan empati sehingga memperlakukan adiknya seperti bayi, dan akhirnya sampai sekarang memang seperti bayi. Meskipun memiliki adik autis, Anne yang berasal dari keluarga seniman terus setia menemani sang adik. Hingga akhirnya suatu waktu, Anne melihat kalau adiknya sangat sensitif terhadap audio visual. Awalnya dia merasa aneh karena adiknya dapat mengenali iklan, bahkan dapat membenakan suara piano dan gitar. Anne semakin takjub ketika sang adik bisa mengetahui jika memainkan gitar dengan cara dipetik dan piano ditekan. ”Waktu dulu kan di TVRI ada acara satu jam pasti iklan semuanya. Pas ada jingle waktu iklan, adik saya langsung menghampiri dan terus menontonnya sampai selesai. Dari sana yakin kalau anak autis itu punya keinginan dan ketertarikan,” ujarnya. Keyakinan istri Indra Surya ini semakin bertambah saat dia kuliah di Jurusan Seni Rupa ITB. Saat itu dia mempelajari mengenai ilmu kreatif, yang menyatakan bahwa kreativitas ada di semua orang. Hanya saja levelnya berbeda, termasuk pada orang-orang yang memiliki keterbelakangan mental. Anne mengaku mulai mencurahkan seluruh perhatiannya kepada anak-anak autis setelah lulus dari ITB pada 2006 silam. Saat itu dia mulai bergabung dengan beberapa komunitas pendidikan seperti komunitas Seni Talar. Dari sanalah pengetahuan mengenai autisme semakin banyak dia peroleh. Termasuk mengenai ketertarikan pengidap autisme terhadap audio visual. Anne pun semakin menyadari, bahwa tak hanya anak yang otak kanannya dominan saja yang tertarik pada hal berbau audio visual. ”Kebetulan saat itu ada anak autis, tapi belum bisa diterima karena memang tidak sembarangan menerima. Sampai kemudian menemukan gejala yang sama, yakni ketertarikannya kepada hal-hal yang sifatnya audio visual, bahkan untuk anak yang otak kirinya lebih dominan,” beber Anne yang sudah dikarunia tiga orang anak ini. Anne lalu mengambil kesimpulan bahwa anak autis yang tertarik pada audio visual tak hanya mereka yang bekerja otak kanannya saja, tapi yang otak kirinya bekerja pun memiliki minat dan ketertarikan yang sama. ”Saya pernah gabung dengan sekolah inklusi Temara Ilmu, dan memang benar mereka tertarik pada tiga hal audio visual. Ada yang tertarik pada iklan, game, dan bahkan mereka sangat melek pada gadget,” tandasnya. Ketertarikannya pada komunikasi autisme membuat Anne mulai memikirkan sebuah alat yang dapat membantu mereka dalam berkomunikasi. Dia memiliki keyakinan bahwa anak autisme sebenarnya dapat melakukan komunikasi layaknya orang-orang normal pada umumnya. Apalagi dari hasil penelitian, beberapa anak autisme pun memiliki IQ di atas rata-rata. Maka tak mengherankan jika kemampuan orang autisme terkadang melebihi orang normal. Anne menjelaskan, alat komunikasi itu dapat mengembangakan bakat dan kemampuan anak-anak autisme dalam berkomunikasi dengan orang lain. Alat yang tengah dipersiapkannya ini, yakni berupa handset mobile. Anne optimistis alat tersebut bisa menjadi media komunikasi bagi anak-anak autisme. Disinggung bagaimana mengetahui ketertarikan seorang anak autisme, Anne mengaku terlebih dulu harus mengetahui kemauan si anak. Menurut dia, sebenarnya berkomunikasi dengan anak autisme itu mudah, asalkan tahu dari mana harus memulainya. ”Ibaratnya kalau orang normal itu ada beberapa pintu, sementara pada anak autisme hanya memiliki satu pintu. Makanya kita harus masuk ke satu pintu itu. Kelebihan mereka itu fokus pada satu titik dan mengabaikan lingkungan yang ada di sekitarnya,” ujarnya. Metode yang dia paparkan sudah teruji. Buktinya, hingga kini Anne telah sukses membuat beberapa anak autis dapat berkomunikasi dengan orang lain. “Misalnya yang tadinya tidak banyak bicara, kini lebih banyak bicara. Bahkan ada yang asalanya memiliki IQ rendah, setelah beberapa kali belajar nilainya meningkat,” tandasnya. (ahmad sayuti ak/hus)

Biodata
Anne Nurfarina, S.Sn., M.Sn Tempat, Tanggal Lahir: Bandung, 16 Juni 1968 Alamat: Kompleks Lembah Permai Hanjuang Blok Z No 20 Cimahi Suami : Indra Surya Anak : Sarah Larasati (17) Denissa AP (15) Orryza Sativa Devi (14) Pendidikan : S1 FSRD ITB lulus tahun 1994 S2 FSRD ITB lulus tahun 2003 Program S3 FSRD ITB (sedang menyelesaikan Disertasi) Pekerjaan: Ketua Prodi DKV STISI Telkom

Ciptakan Alat Komunikasi Khusus Autisme
KEPEDULIAN Anne Nurfarina terhadap anak-anak penyandang autisme patut mendapatkan acungan jempol. Jabatannya sebagai Ketua Prodi DKV STISI Telkom dan ibu rumah tangga, tak menyurutkan niatnya untuk tetap eksis memberikan pendidikan kepada anak-anak autisme. Anne mengatakan, autisme harus menjadi perhatian serius. Menurut mahasiswa doktoral ITB itu, dengan perbandingan pengidap autisme di Indonesia yang mencapai 1000:8, Indonesia bisa-bisa kehilangan satu generasi jika ini tidak segera ditanggulangi. Salah satu bentuk perhatian Anne terhadap masalah autisme adalah dengan merancang metode komunikasi efektif dengan para penyandang autisme. Dia mengatakan, alat komunikasi tersebut akan segera diperkenalkan ke publik pada April mendatang. Saat ini, alat tersebut masih dalam tahap diujicoba. “Satu alat ini bisa dipakai oleh beberapa orang. Walaupun minat dan ketertarikan setiap anak itu berbeda, tapi dalam alat ini semuanya ada, yakni audio-visual,” paparnya. Meski anak autisme cenderung tertarik pada gadget seperti ponsel, Anne mengaku alat ciptaannya tidak otomatis mudah dipakai oleh mereka. Karena itu, langkah awal yang harus dilakukan adalah membujuk dan meyakinkan penyandang autisme untuk mau memegang alat yang bentuknya mirip ponsel itu. Selain masalah komunikasi, dia mengatakan, metode pendidikan pun harus diperhatikan, terutama oleh orang tuanya. Sayangnya, dia melihat salah satu kendala dalam mendidik anak autisme justru dari mindset orang tuanya. Menurut dia, masih banyak orang tua yang memaksakan anaknya untuk menjadi sesuatu, bukan mengikuti keinginan atau bakat yang dimiliki anaknya. ”Tidak salah memang ada orang tua yang seperti itu, ingin anaknya menjadi dokter atau insinyur. Apalagi untuk beberapa kasus, yang taraf keautisannya rendah, bahkan di Jepang ada anak autis yang melek gadget dan dia sekarang bekerja di Nokia,” kata Anne. Karena itu Anne berharap orang tua yang memiliki anak autisme jangan memaksakan kehendak sendiri. Menurut dia, justru orang tua harus memperhatikan dengan saksama apa talenta yang dimiliki sang anak. Jika sudah ketahuan, orang tua diharapkan memberi dukungan penuh, apalagi tipikal anak autisme adalah fokus pada satu bidang. (ahmad sayuti ak/hus)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful