M E N I N G K AT K A N KINERJA PNS MELALUI PERBAIKAN PENGHASILAN
Analisa TKD di Pemerintah Provinsi Gorontalo dan TPPK di Pemerintah Kota Pekanbaru

Komisi Pemberantasan Korupsi Direktorat Penelitian Pengembangan 2007

Komisi Pemberantasan Korupsi Deputi Pencegahan Direktorat Penelitian dan Pengembangan

Meningkatkan Kinerja PNS Melalui Perbaikan Penghasilan

Analisa TKD di Pemerintah Provinsi Gorontalo dan TPPK di Pemerintah Kota Pekanbaru

Tim Penyusun:

Mochammad Jasin Aida Ratna Zulaiha Niken Ariati

Diterbitkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Oktober 2007

www.kpk.go.id

Jl. H.R. Rasuna Said Kav. C-1 Jakarta Selatan-Indonesia Telp. (021) 255 783 00 Fax. (021) 528 924 48

ii

meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan

Kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan maupun kontribusi data dalam penyusunan hasil studi ini serta rasa terima kasih juga kami sampaikan kepada Kepala Daerah serta para pejabat dan pegawai di lingkungan Provinsi Gorontalo dan Pemerintah Kota Pekanbaru. sebelum pemerintah dapat melaksanakan reformasi tentang sistem penggajian PNS secara nasional.Komisi Pemberantasan Korupsi Moch. Substansi informasi yang ingin didapatkan dari responden melalui penyebaran kuesioner adalah persepsi pegawai terhadap pemberian penghasilan tambahan bagi PNS tentang ada atau tidaknya peningkatan terhadap disiplin dan kinerja pegawai. Analisa TKD di Pemerintah Provinsi Gorontalo dan TPPK di Pemerintah Kota Pekanbaru” telah berhasil diselesaikan dengan baik oleh para Peneliti pada Direktorat Penelitian dan Pengembangan. dan diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi untuk memperbaiki kebijakan tambahan penghasilan bagi PNS daerah yang lebih layak dan obyektif. Data primer diperoleh dari wawancara mendalam terhadap responden yang mengetahui dengan baik proses terlaksananya pemberian tambahan penghasilan bagi PNS di daerahnya. Studi dilakukan dengan pendekatan deskriptif bersumber dari informasi yang dihimpun dan diolah berdasar data primer dan sekunder. kami menyadari bahwa penulisan hasil ini masih jauh dari apa yang diharapkan. Selain itu juga dilakukan penyebaran kuesioner terhadap pegawai yang menerima tambahan penghasilan. Oleh karenanya. atas bantuan dan kerjasamanya selama pelaksanaan studi. Studi ini dilakukan berdasarkan observasi lapang pada Pemerintah Kota Pekanbaru dan Pemerintah Provinsi Gorontalo. Deputi Bidang Pencegahan. Oktober 2007 Direktur Penelitian dan Pengembangan . Jasin meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan iii . guna perbaikan penulisan studi dimasa mendatang. Jakarta. saran dan kritik sangat diharapkan. serta apakah dengan kebijakan tersebut dapat menghilangkan rasa iri hati diantara mereka. Disamping itu informasi lain yang dihimpun adalah apakah pegawai merasa penghasilannya meningkat dan kebutuhannya terpenuhi. Komisi Pemberantasan Korupsi. Informasi ini akan diolah.KATA PENGANTAR Puji syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa buku “Meningkatkan Kinerja PNS Melalui Perbaikan Penghasilan. Karena keterbatasan waktu.

Dengan sistem penggajian sekarang ini. Bentuk korupsi tersebut adalah dengan melakukan penyalahgunaan wewenang dengan memanfaatkan aturan hukum yang lemah untuk tujuan memenuhi kebutuhan hidup. termasuk PNS. Demikian pula. Sistem penggajian ini diyakini merupakan salah satu penyebab timbulnya korupsi (corruption by need). seiring berkembangnya pola hidup masyarakat yang semakin konsumtif. Sistem penggajian Pegawai Negerj Sipil (PNS) yang diberlakukan di Indonesia mengacu kepada sistem pemberian gaji dasar yang sangat rendah. Cara yang diterapkan hampir sama yaitu dengan memberikan iv meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan . pada unit kerja teknis tertentu justru menimbukan ketimpangan dan berpotensi menyulut kecemburuan antar PNS. Kebijakan pemberian honorarium kepada PNS yang selama ini dilakukan hanya terbatas kepada PNS yang terlibat pada kegiatan proyek.PENGANTAR KEBIJAKAN TAMBAHAN PENGHASILAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH TERHADAP KINERJA DAN KEDISIPLINAN PEGAWAI Perhatian KPK terhadap kebijakan pemberian Tambahan Penghasilan Pegawai Negeri Sipil di daerah. Kondisi tersebut berdampak terhadap semakin lemahnya daya beli masyarakat. Kenyataan bahwa gaji PNS tidak memadai menumbuhkan sikap permisif masyarakat terhadap perilaku korupstif PNS. serta tidak secara langsung menyesuaikan dinamika perubahan inflasi dan biaya hidup dari tahun ke tahun. mata uang rupiah terus mengalami depresiasi terhadap mata uang jangkar (US $). Usaha telah dilakukan oleh beberapa pemerintah daerah misalnya Kabupaten Solok (pada tahun 2003). walaupun dalam kategori hidup sederhana. Dengan tingkat inflasi Indonesia yang relatif tinggi. Kondisi tersebut mengakibatkan demotivasi kerja bagi sebagian besar PNS. Pemerintah Provinsi Gorontalo (pada tahun 2004) dan Pemerintah Kota Pekanbaru (pada tahun 2006) dalam mencari solusi untuk mengatasi rendahnya pendapatan PNS. Kondisi tersebut menjadikan Indonesia merupakan salah satu Negara yang terkorup di dunia sehingga harus segera dicarikan solusinya. sikap toleransi PNS terhadap lingkungan kerja yang korup menjadi semakin meluas di seluruh Indonesia. mayoritas PNS di Indonesia akan merasa sulit untuk mendukung pemenuhan kebutuhan primer sehari-hari setiap bulannya.

maka kebijakan meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan v . Apabila beberapa indikator tersebut ditemukan positif dalam studi ini. Harapan kebijakan Tambahan Penghasilan bagi PNS Daerah Dengan diberlakukannya kebijakan tambahan penghasilan bagi PNS daerah diharapkan berdampak kepada peningkatan kesejahteraan pegawai. Apakah pegawai merasa penghasilannya meningkat dan kebutuhannya terpenuhi. Terjadinya peningkatan kualitas layanan salah satunya ditandai dengan berkurangnya atau tidak adanya pungutan tambahan di luar biaya resmi. Pemerintah di daerah dapat memberlakukan sanksi yang tegas bagi pegawai yang menerima suap dalam memberikan layanan masyarakat. Studi ini diharapkan dapat memperoleh gambaran tentang persepsi pegawai setelah diberlakukannya pemberian tambahan penghasilan. Pemberian tambahan penghasilan tersebut bersifat rutin diterima pegawai per-bulan sehingga menumbuhkan keyakinan pegawai dalam menetapkan perencanaan kebutuhan hidupnya. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam hal ini memandang bahwa pendekatan diatas merupakan terobosan untuk mengatasi rendahnya pendapatan PNS. Disisi lain pemberian tambahan penghasilan diarahkan agar seluruh PNS termasuk pegawai pada garis depan pelayanan agar dapat meningkatkan disiplin dan kinerjanya dan dapat memberikan kualitas layanan sesuai standar prosedur baku (SOP) yang ditetapkan. Apakah pegawai merasa senang (sejahtera) dengan adanya kebijakan tersebut serta apakah telah terjadi peningkatan integritas pegawai dengan ditunjukkan adanya peningkatan kualitas layanan. sebelum pemerintah mampu melakukan reformasi sistem penggajian PNS secara nasional. Pendekatan untuk memberikan tambahan penghasilan terhadap PNS diatas sebagai salah satu solusi yang obyektif dalam mengatasi rendahnya pendapatan PNS karena salah satu kriteria pemberiannya didasarkan atas prestasi kerja. namun yang berbeda adalah syarat pemberian tambahan pendapatan tersebut. Berdasarkan peraturan baru yaitu Permendagri No.tambahan pendapatan secara merata kepada seluruh pegawai. Dengan ketentuan tersebut maka memungkinkan bagi pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota untuk memberikan tunjangan berupa tambahan penghasilan bagi PNS daerah asalkan berdasarkan kepada beban kerja atau tempat bertugas atau kondisi kerja atau kelangkaan profesi atau prestasi kerja. pasal 39 ayat (2) berbunyi: “Tambahan penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam rangka peningkatan kesejahteraan pegawai berdasarkan beban kerja atau tempat bertugas atau kondisi kerja atau kelangkaan profesi atau prestasi kerja”. 13 tahun 2006. serta apakah dengan kebijakan tersebut dapat menghilangkan rasa iri hati diantara mereka. Pemberian tambahan pendapatan tersebut dimaksud supaya tidak menimbulkan kecemburuan diantara PNS.

tambahan penghasilan ini dapat digunakan sebagai salah satu acuan untuk melakukan motivasi terhadap pegawai serta segera ditularkan ke daerah lain agar terjadi peningkatan prestasi dan produktifitas pegawai secara nasional. 5) Mendesain sistem pengawasan untuk memonitor pelaksanaan kebijakan tambahan penghasilan tersebut. 3) Mengidentifikasi seluruh jumlah pegawai baik struktural maupun fungsional. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penerapan tambahan penghasilan bagi PNS daerah Agar pemberlakuan kebijakan pemberian tambahan penghasilan bagi PNS daerah tidak menimbulkan kritikan dari masyarakat. 2) Mengidentifikasi sumberdana dan jumlah dana. 4) Menyusun dasain sistem untuk menetapkan syaratsyarat pemberian tambahan penghasilan yang jelas dan mengarah kepada kinerja. 13 tahun 2006. serta tidak menciptakan anggaran baru (sub-mak baru) dari APBD yang mengarah kepada pemborosan keuangan. diharapkan dapat memberikan kepastian hukum untuk diberlakukannya kebijakan tersebut. serta Permendagri tahun No. khususnya identifikasi honor-honor yang diberikan kepada pegawai sebelumnya. vi meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan . tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. maka harus didasarkan pada aspekaspek yang secara riil dapat mendukung terhadap terwujudnya kedisiplinan dan prestasi kerja pegawai. 58 tahun 2005. Hal pokok lain yang perlu dipersiapkan dalam memulai untuk melaksanakan kebijakan tambahan penghasilan bagi PNS antara lain: 1) Dasar Hukum untuk dapat diterapkannya kebijakan Tambahan Penghasilan bagi PNS daerah. 6) Menetapkan besaran tambahan penghasilan bagi masingmasing pegawai dengan mengacu kepada azas kepatutan sehingga tidak menimbulkan kesenjangan. kemudian untuk disatukan. Dengan dasar hukum berupa Keputusan Gubernur/Bupati/Walikota yang mengacu kepada ketentuan yang terdapat pada Peraturan Pemerintah No. 7) Menghapuskan pemberian honor yang lain: 8) Meningkatan kompetensi pegawai sesuai bidang tugas sehingga acuan pengukuran pemberian tambahan penghasilan dengan menggunakan standar pengukuran prestasi kerja dapat dipertahankan.

............3...........................1................... 3............... .. 15 Pelaksanaan Tambahan Penghasilan ........... Kerangka Pemikiran ........ Kerangka Kerja .. Pelaksanaan Tunjangan Kinerja Daerah (TKD) Pemerintah Provinsi Gorontalo .......................... 1................................................................................1................. METODOLOGI 2...................................................... ........ 16 3............................... II..1....................................... 2...........2.......... PENDAHULUAN 1............. Pemerintah Kota Pekanbaru: Latar Belakang Penerapan Tunjangan Penghasilan dan Peningkatan Kesejahteraan (TPPK)........................ 16 A.. 14 3....1... D............................1........................................................................................................................................... 18 B..................................................................................3.................2............. 2......... Dukungan Kebijakan Tambahan Penghasilan ..... Implementasi TKD Tahun 2004 ...................... 13 3.......... Implementasi tahun 2006 ................. Latar Belakang ..................... Implementasi tahun 2005 .................2..... 7 9 9 III...................... Pemerintah Provinsi Gorontalo : Latar Belakang Tunjangan Kinerja Daerah (TKD) ...................... 19 19 C.........................................1..3... DESKRIPSI PELAKSANAAN TAMBAHAN PENGHASILAN: PEMERIN TAH PROVINSI GORONTALO DAN PEMERINTAH KOTA PEKANBARU 3..................................................... Output Studi .. 19 13 meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan vii ................. Implementasi tahun 2007 .... Lokasi Studi dan Responden ......................................................1...... 3........................ Latar Belakang ..... 1...3...... 3 4 4 Tujuan Studi ..................2......................DAFTAR ISI I..............

.......................................... Gorontalo ....................... Gorontalo ...................... Pekanbaru ....... Peningkatan Kesejahteraan Pegawai dan Keluarganya ....3.................. 31 33 4..... 42 Peningkatan Pelayanan Publik .................................. 48 b...................................... DAMPAK PELAKSANAAN TAMBAHAN PENGHASILAN 5......... 31 4........2.... 48 d.. Pekanbaru ...... Peningkatan Disiplin Pegawai 29 .................................................................... Pemerataan Penghasilan dan Hilangnya Rasa Iri ............................1....................... 49 e............... Peningkatan dan Pemerataan Penghasilan PNS .................... 41 5...2.......1...2..................... Meningkatkan Kinerja .2.......... Meningkatkan Disiplin ...................................................................3...... 5........................................................................ Gorontalo ..2.................................. OUTPUT/OUTCOME PELAKSANAAN TAMBAHAN PENGHASILAN 4............. Kebutuhan Hidup Tercukupi .................................................. 49 43 viii meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan ....................................................... 4.....1....... Pelaksanaan Tunjangan Penghasilan dan Peningkatan Kesejahteraan (TPPK) Pemerintah Kota Pekanbaru ....2............................. 35 36 4........................................................ Pekanbaru ..................................2........................................3....... 42 5............... 4................2...............1.................................................. 27 4................. Gorontalo ....1..................1.1....................... 35 4..................... 42 5.................................................................3.................................2..3......................................................1................ V.................................................... Pekanbaru ....................................1... Pekanbaru ................1...................................................... VI..........................1.... 27 4..............2....................2.................. Peningkatan Penghasilan ...... 48 c...2.......... DAMPAK PELAKSANAAN TAMBAHAN PENGHASILAN a......................................... 21 IV......... 41 5.......... Gorontalo ............................... Peningkatan Kinerja Pegawai ...............................

........................... 68 65 53 meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan ix .......................................................Profil Responden ........................... 49 VII................ Lampiran 3 Jumlah dan Sebaran Serapan Anggaran untuk Tiap Unit Kerja di Provinsi Gorontlo.. LAMPIRAN Lampiran 1 Penilaian Kinerja Camat....................... ................ KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ............................... 59 Lampiran 2 Kriteria Penilaian Kerja untuk Pemberian TKD Pemerintahan Provinsi Gorontalo tahun 2007................ Lurah dan Kepala Desa ...............................................................................

.

meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan I PENDAHULUAN .

.

Kabupaten Solok melakukannya sejak tahun 2004. Tambahan penghasilan bagi seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS) di daerah ini juga ditujukan untuk mengurangi kecemburuan antara pegawai di tempat yang “basah” dan pegawai ditempat yang “kering”. Perbedaan ini dikarenakan waktu pelaksanaan. Pelaksanaan evaluasi tentunya tidak dapat dilaksanakan dengan menggunakan metode yang seragam di setiap daerah. dan Pemerintah Kota Pekanbaru sebagai pengikut program tambahan penghasilan. perlu dikaji manfaat apa saja yang dirasakan bagi pegawai sebagai beneficiary dari program ini maupun bagi pihak-pihak lain yang mempunyai korelasi dengan peningkatan kinerja pegawai. latar belakang serta proses pelakanaannya yang berbeda-beda. sekaligus sebagai upaya meningkatkan kinerja di kalangan aparatur/pegawai pemerintahan. Pemerintah Kota Pekanbaru tahun 2006 dan Pemerintah Kabupaten Jembrana tahun 2006. Studi ini mengambil sampel di dua daerah yaitu Pemerintah Provinsi Gorontalo mewakili provinsi “pioneer” dalam memberikan tambahan penghasilan. PENDAHULUAN 1.I. Konsekuensi dari adanya perbaikan renumerasi tersebut adalah terciptanya peningkatan kinerja dan semakin sedikitnya “uang tidak resmi” yang diterima oleh aparat. Kebijakan untuk memberikan tambahan penghasilan bagi PNS daerah dengan landasan hukum yang jelas dapat menjadikan salah satu alternatif solusi untuk mencegah terjadinya korupsi sebagai akibat desakan pemenuhan kebutuhan hidup primer (corruption by need).1. karena setiap daerah memiliki indikator yang berbeda dalam menggambarkan manfaat dan efektifitas program ini. restrukturisasi organisasi dan perbaikan renumerasi merupakan salah satu upaya yang efektif dalam mengurangi perilaku koruptif di jajaran birokrasi. Latar Belakang Pemberantasan korupsi tidak semata-mata dapat dilakukan dengan menerapkan efek jera melalui penindakan dan penangkapan pelaku korup semata. Perbaikan sistem melalui reformasi birokrasi. paling tidak perlu dilakukan evaluasi untuk mengidentifikasi dampak program tersebut bagi peningkatan kinerja pemerintah daerah. Pemerintah Provinsi Gorontalo tahun 2004. Dengan terlaksananya kebijakan pemberian tambahan penghasilan di berbagai daerah tersebut. Dalam rangka mengetahui dan mengukur manfaat pelaksanaan kebijakan tambahan penghasilan. meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 3 . Perbaikan renumerasi merupakan “resep” yang telah dicoba oleh beberapa daerah dalam usaha meningkatkan kinerja pegawainya.

Mengidentifikasi rencana kedepan pelaksanaan pemberian tambahan penghasilan pegawai negeri sipil di tiap daerah contoh. Dampak pelaksanaan program pemberian tambahan penghasilan. 4. 1. Deskripsi tambahan penghasilan bagi PNS di Pemerintah Provinsi Gorontalo dan Pemerintah Kota Pekanbaru.2.3. outcome ataupun dampak yang diberikan di tiap daerah akan memiliki karakter tersendiri.Tujuan Studi 1. sehingga pengukuran tingkat output. Dokumentasi dan analisa dalam studi ini diharapkan dapat digunakan untuk memperbaiki pelaksanaan kebijakan tambahan penghasilan bagi PNS di berbagai daerah lain di Indonesia. Rekomendasi untuk implementasi program tambahan penghasilan. akan tetap diukur suatu pola hubungan yang menunjukkan adanya manfaat ataupun ketidakberhasilan dilaksanakannya suatu program ini. 5. Output Studi 1. 2. Studi ini berusaha untuk merangkum seluruh hasil capaian kebijakan pelaksanaan Tambahan Penghasilan bagi PNS di Pemerintah Provinsi Gorontalo dan Pemerintah Kota Pekanbaru baik dari tahap awal pelaksanaannya hingga awal tahun 2007. outcome dan dampak pelaksanaan program pemberian tambahan penghasilan bagi pegawai negeri sipil di daerah. Pemetaan hubungan ini menjadi penting karena dapat dijadikan landasan dalam menetapkan rekomendasi lanjutan. 2. 3. Pada dasarnya sangat sulit menerapkan pengukuran dampak bagi suatu program yang baru berjalan. 4 meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan . Mengkaji output. Output dan Outcome pelaksanaan program pemberian tambahan penghasilan.Penetapan indikator pengukur tingkat keberhasilan di daerah sampel dilakukan dengan mengacu pada tujuan utama dari tiap-tiap jenis program di tiap daerah. 1. Namun. Hal-hal yang menjelaskan keberhasilan maupun kegagalan program pemberian tambahan penghasilan.

meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan II METODOLOGI .

.

Pendekatan before and after approach ini dilakukan dengan menganalisa kondisi terakhir sebelum pelaksanaan program dan kondisi terakhir selama pelaksanaan program. (ii) perubahan dampak secara simultan. melakukan modifikasi. sehingga wajar bila secara kuantitatif tidak semua indikator dampak dapat langsung terukur. tidak menutup kemungkinan analisa dampak tetap bisa dilakukan. Sedangkan pendekatan “before and after” memerlukan kondisi sebelum dan setelah treatment diberikan pada program bersangkutan. “with and without approach” dan “before and after approach”. Untuk itu. dan (iv) efektivitas program dibandingkan dengan program alternatif. studi ini tidak semata-mata mengandalkan data kuantitatif meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 7 .1. Kerangka Pemikiran Studi menilai dampak merupakan sarana yang penting dalam pelaksanaan suatu program dalam rangka mengetahui besaran manfaat atau keuntungan yang dihasilkan oleh program tersebut. Dalam pendekatan “before and after” program sebaiknya sudah ada dan berjalan sebelum treatment dilakukan. untuk menggunakan pendekatan “before and after approach”. analisa dampak dilakukan dengan membandingkan apabila program yang bersangkutan tidak ada. Pendekatan yang dilakukan dalam Program Tambahan Penghasilan adalah pendekatan before and after approach. atau b a h k a n m e n g h i l a n g k a n sama sekali suatu program. Selain itu tujuan dari program juga merupakan tolak ukur untuk mengukur dampak program yang bersangkutan.II. Berdasarkan hal tersebut. Informasi yang didapat dari evaluasi dampak menjadi pijakan bagi pengambilan keputusan apakah akan meneruskan. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan data dengan range waktu yang terjauh agar dapat mendeteksi adanya perubahan data yang cukup signifikan. Namun apabila program baru dilaksanakan pada saat pemberian treatment. METODOLOGI 2. Pada dasarnya Evaluasi dampak ditujukan untuk memberikan umpan balik dan membantu memperbaiki efektivitas program. (iii) variasi dampak di antara kelompok penerima manfaat yang berbeda. Pada kondisi ini. Mengingat pelaksanaan program tambahan penghasilan bagi PNS termasuk program yang relatif baru. maka akan lebih tepat bagi studi ini. dalam mengukur dampak. yang dalam hal ini adalah pemberian insentif kinerja. Terdapat dua pendekatan utama dalam mengukur dampak suatu program yakni. Evaluasi dampak memberikan sumbangan dalam memperbaiki efektivitas program dengan memberikan rekomendasi sekitar: (i) pencapaian tujuan. Pendekatan “with and without” memerlukan jenis program lain yang sejenis yang berfungsi sebagai pembanding.

evaluasi outcome dan evaluasi dampak. . 8 meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan . yang dijelaskan oleh gambar berikut.Peningkatan pelayanan publik Penjelasan lebih lanjut dari rantai proses tersebut dijelaskan pada tabel pengukuran yang akan dilaksanakan.Dasar Hukum . analisa kuantitatif dan kualitatif.Peningkatan disiplin aparat .Dana APBN .Pendistribusian Dana .Peningkatan kinerja aparat . Program tambahan penghasilan di daerah secara teori dilakukan berdasarkan rantai proses. di mana pada tabel tersebut dijelaskan mengenai indikator.Peningkatan kesejahteraan pegawai dan keluarganya .SDM Aparatur .Pemberian Tambahan Penghasilan pada individu .Pemerataan penghasilan .yang terukur saja namun juga menggunakan data kualitatif yang bersumber pada persepsi dan anggapan dari beneficiary maupun stakeholder terkait. variabel. Input : Biaya.Penetapan Kriteria Tunjangan . SDM yang dibutuhkan untuk implementasi program Activities : Aktivitas yang dilakukan sehubungan dengan masukan/input Outputs : Produk (jasa atau benda) yang dihasilkan oleh aktivitas Outcome : hasil yang diberikan oleh produk suatu program atau hasil lanjutan dari output Impact : Keseluruhan hasil (Hasil Jangka Panjang) disesuaikan dengan tujuan.

Kerangka Kerja Proses kerja studi terdiri dari 4 tahap kegiatan. Pengumpulan data primer dan sekunder dilakukan dengan melakukan wawancara mendalam terhadap responden yang mengetahui dengan baik proses terlaksananya pemberian tambahan penghasilan bagi PNS di daerahnya. proses data dan final. Gambar-gambar berikut menunjukkan kegiatan yang dilakukan pada setiap tahap kegiatan 2. meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 9 . yaitu persiapan. Selain itu juga dilakukan penyebaran kuesioner terhadap pegawai yang menerima tambahan penghasilan yang mewakili berbagai golongan dengan tujuan untuk memberikan input yang signifikan bagi penulisan laporan ini. Sampel pemerintah daerah yang diambil adalah Pemerintah Provinsi Gorontalo dan Pemerintah Kota Pekanbaru.3. Sebaran dan jenis responden dalam studi ini adalah sebagai berikut.2.2. Lokasi Studi dan Responden Obyek penelitian dari studi ini adalah pemerintah daerah yang telah melaksanakan pemberian tambahan penghasilan. survei lapang.

.

meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan III DESKRIPSI PELAKSANAAN TAMBAHAN PENGHASILAN: PEMERINTAH PROVINSI GORONTALO DAN PEMERINTAH KOTA PEKANBARU .

.

yang kemudian disebut Tunjangan Kinerja Daerah (TKD). (4) rendahnya capaian kinerja dari PNS. terlihat jelas bahwa gubernur atau pimpinan daerah merupakan figur yang mempunyai peran penting sebagai penentu kebijakan. DESKRIPSI PELAKSANAAN TAMBAHAN PENGHASILAN: PEMERINTAH PROVINSI GORONTALO DAN PEMERINTAH KOTA PEKANBARU 3. Departemen Dalam Negeri maupun lembaga donor. serta (7) tuntutan dari masyarakat dan stakeholder untuk berinovasi dan menunjukkan perbaikan kinerja. Dengan melihat ketidakefektifan penyelenggaraan program lebih banyak bersumber dari kinerja aparat.1. Ide awal dari kebijakan ini berasal dari pemikiran gubernur terpilih saat itu Fadel Muhammad untuk memperbaiki tingkat ketercapaian dan akurasi dari program pembangunan yang disusun. Pada awal kepemimpinan pemerintahan Gubernur Fadel Muhammad di tahun 2002. (3) rendahnya penghasilan “resmi” dan ketimpangan total pendapatan antar unit kerja. Latar Belakang Dukungan faktor internal dan keterlibatan faktor eksternal menentukan suksesnya implementasi suatu program. (2) Pemerintah sepenuhnya adalah milik rakyat dan menyerahkan kontrolnya meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 13 . yang dirancang sebagai upaya pemecahan masalah merupakan aplikasi dari teori motivasi.1. (2) komitmen dari pimpinan untuk meningkatkan kinerja bawahannya. beberapa hal yang mendorong terlaksananya kebijakan. secara tegas telah menetapkan prinsip enterpreneur government yang mengutamakan (1) Pemerintah sebagai katalis yang memisahkan fungsi pemerintah sebagai pengarah (policy maker) dan fungsi pemerintah sebagai pelaksana kebijakan (policy executor). maka gubernur berinisiatif merancang program yang dapat mengubah perilaku dan memperbaiki kinerja aparatnya.III.1. (5) dukungan dari instansi luar seperti Kementerian PAN. (6) dorongan untuk memberikan layanan yang lebih baik kepada masyarakat. Pemerintah Provinsi Gorontalo : Latar Belakang Tunjangan Kinerja Daerah (TKD) Pemerintah provinsi Gorontalo merupakan salah satu pemerintah daerah “pioneer” dalam penerapan tambahan penghasilan bagi pegawainya. Pada program pemberian tambahan penghasilan bagi PNS. diantaranya adalah: (1) momentum kebijakan otonomi daerah. Untuk pemerintah Provinsi Gorontalo. Faktor-faktor pendorong ini bisa menjadi amat variatif tergantung pada karakteristik daerah masing-masing. Program pemberian insentif. 3. Motivasi dalam bentuk insentif dianggap merupakan satu-satunya cara yang paling realistis untuk meningkatkan kinerja pegawai pada saat itu.

Agar prinsip entrepeneur government dapat berjalan. berbagai kelengkapan mulai disiapkan baik yang berupa peraturan keadministrasian.1. Terkait dengan hal tersebut. Secara umum. 14 meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan . Gorontalo yang pemberian tunjangannya dilatarbelakangi pada teori motivasi untuk mendapatkan kinerja yang lebih baik. sanksi. Untuk tercapainya tujuan tersebut. latarbelakang diterapkannya kebijakan Tunjangan Penghasilan dan Peningkatan Kesejahteraan (TPPK) Pemerintah Kota Pekanbaru adalah pemerataan honor atau penghasilan antar pegawai. Ketua DPRD Provinsi dan Ketua DPRD Kabupaten/Kota se Provinsi Riau tentang “Program Kerja Bersama dalam rangka Upaya Mewujudkan Tata Pemerintahan yang Baik melalui Pencegahan Korupsi di Jajaran Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota se Provinsi Riau.2. 3. Upaya pemberantasan korupsi di lingkungan Pemko. Hal ini sangat wajar mengingat kebijakan ini merupakan kebijakan yang relatif baru untuk diterapkan dalam organisasi pemerintahan daerah. Dalam hal ini Pemko Pekanbaru mengharapkan dengan dihapuskannya pemberian honor-honor proyek. Gorontalo. pada tanggal 8 Juli 2004. ketimpangan pendapatan antar pegawai dapat dihilangkan. Fokus dari kebijakan Tunjangan Kinerja Daerah bagi Provinsi Gorontalo adalah pada kinerja. (3) Pemerintahan kompetitif yaitu mengkondisikan persaingan diantara para aparat pelayanan publik untuk bersaing berdasarkan kinerja dan harga. dibutuhkan perubahan sikap dan perilaku aparatnya agar dapat menunjang budaya kerja yang positif. Pemerintah Kota Pekanbaru: Latar Belakang Penerapan Tunjangan Penghasilan dan Peningkatan Kesejahteraan (TPPK) Berbeda dengan Pemprov. dan dibangun dengan tujuan yang terukur.ke tangan rakyat. konsep penyusunan TKD Provinsi Gorontalo ini tergolong cukup komprehensif. Kesepakatan ini juga disaksikan dan dimonitori oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (MenPAN). Bupati/Walikota. Mengubah budaya kerja dalam organisasi pemerintah bukanlah hal yang mudah dan merupakan suatu proses yang panjang dan berkelanjutan. Pekanbaru ini diawali dengan ditandatanganinya kesepakatan bersama antara Gubernur Riau. mengubah perilaku atau memperbaiki kinerja aparat melalui pemberian TKD diakui oleh Pemprov Gorontalo sebagai suatu proses yang bertahap dengan banyak penyesuaian dan perbaikan dalam pelaksanaannya. Penghapusan ketimpangan pendapatan ini ditetapkan Pemko. dan berbagai perangkat penunjang lain yang mendukung tercapainya budaya kinerja positif di lingkungan Pemprov. Pekanbaru sebagai salah satu strategi awal upaya pemberantasan korupsi di lingkungan pemerintahannya.

Pemerintah Kota Pekanbaru mengharapkan berbagai rencana aksi tersebut dapat tercapai salahsatunya melalui penerapan TPPK. Pemerintah Kota Pekanbaru melakukan berbagai rencana aksi dalam rangka mendorong terselenggaranya good governance di lingkungan Pemerintah Kota Pekanbaru. (4) tambahan penghasilan berdasarkan kelangkaan profesi. Namun demikian pemberian tambahan penghasilan ini juga harus dikaitkan dengan kedisiplinan dan kinerja pegawai. namun di sisi lain pendapatan pegawai negeri sipil masih sangat kecil untuk memenuhi kebutuhan hidup sementara mereka dituntut untuk dapat melayani masyarakat dengan baik. pelaksanaan tambahan penghasilan mendapatkan cukup perhatian dari banyak pihak. namun dengan tidak melakukan pemborosan APBD. dan (5) tambahan penghasilan berdasarkan prestasi kerja. Pelaksanaan tambahan penghasilan bagi pegawai di daerah memang merupakan hal yang sangat sensitif. KPK tetap mendukung upaya pemberian tambahan penghasilan bagi PNS. Rencana aksi penerapan good governance tersebut meliputi: (1) meningkatkan kapasitas pemerintahan di kota Pekanbaru. Departemen Dalam Negeri maupun Komisi Pemberantasan Korupsi. 3. baik dari internal pemerintahan maupun pihak luar yang mempunyai kepentingan dalam peningkatan kapasitas dan kinerja pemerintahan. meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 15 . (3) meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. 13/2006 juga mendukung pemberian tambahan penghasilan bagi PNS. Dukungan Kebijakan Tambahan Penghasilan Meskipun terbilang baru. seperti Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara. pemberian tambahan penghasilan dianggap merupakan pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Tujuannya adalah untuk meningkatkan produktivitas pegawai sehingga tambahan penghasilan yang diberikan kepada pegawai juga akan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat melalui peningkatan kualitas pelayanan publik. Terkait dengan hal tersebut. (2) mewujudkan manajemen berbasis kinerja serta pengelolaan aset. Caranya adalah dengan menghapuskan honor-honor yang saat ini hanya dirasakan oleh pegawai tertentu saja dan menggantikannya dengan tambahan penghasilan yang diberikan kepada seluruh pegawai. Di satu sisi. dan (4) melakukan berbagai upaya pemberantasan korupsi. (2) tambahan penghasilan berdasarkan tempat bertugas. Departemen Dalam Negeri melalui Permendagri No. namun berdasarkan kriteria: (1) tambahan penghasilan berdasarkan beban kerja.Berdasarkan kesepakatan tersebut dan Inpres Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi. (3) tambahan penghasilan berdasarkan kondisi kerja.2.

Langkah penerapan TKD tahun 2005 dengan variabel indikator kinerja 60 persen pada aspek disiplin. 2. dinamika pemberian TPPK ini hanya terjadi pada besaran jumlah TPPK yang diberikan dan bukan pada konsep syarat pemberian TPPK nya. kecepatan kerja dan keakuratan kerja 4. inovasi. Variabel pencapaian kinerja terdiri dari inovasi. 16 meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan . dengan penekanan pada prestasi.Pelaksanaan Tambahan Penghasilan Perkembangan pelaksanaan kebijakan dan pelaksanaan tambahan penghasilan berbeda di tiap wilayah. perkembangan kebijakan TKD di Gorontalo adalah sebagai berikut: 1. masih mengikuti konsep di tahun 2005 dengan variabel yang sama. menitikberatkan pada pencapaian kinerja 70 persen.3. pemahaman tupoksi. Pelaksanaan Tunjangan Kinerja Daerah (TKD) Pemerintah Provinsi Gorontalo Meskipun mulai diterapkan pada tahun 2004. 5. Langkah penerapan TKD tahun 2007. Untuk Pemerintah Provinsi Gorontalo. 3. konsep TKD ini berkembang dengan cukup dinamis yang ditandai dengan munculnya konsep dan indikator pengukur baru tiap tahunnya.1. Kebijakan TKD mulai diterapkan pada tahun 2004 dengan variabel indikator kinerja 100 persen pada aspek disiplin. tergantung pada kesiapan dan komitmen daerah untuk terus mengembangkannya.3. kebijakan TKD ini baru mulai diterapkan di tahun 2004. Dari rentang waktu kajian dan penerapannya. terlihat kehati-hatian dan keseriusan dari Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam menerapkan kebijakan ini. Langkah penerapan TKD tahun 2006. kerjasama. Lahir konsep tunjangan kinerja dan kajian kemampuan keuangan pada akhir tahun 2002 sampai 2003. Diawali dengan studi/kajian mengenai keuangan daerah di tahun 2002. dan 40 persen pada pencapaian kinerja. sejak mulai diterapkan pada tahun 2004. Sementara untuk pemerintah kota Pekanbaru. 3. Secara umum hingga tahun 2007.3. dan kemampuan manajerial bagi yang memegang jabatan serta aspek disiplin 30 persen yang terdiri dari ketaatan terhadap jam kerja (15%) dan kepatuhan terhadap peraturan kepegawaian (15%). namun proses lahirnya kebijakan TKD di Provinsi Gorontalo dimulai melalui proses yang cukup panjang.

Pada tahun 2007. untuk meraih visi sebagai Provinsi Agropolitan. Actuating dan Controlling Tahap Perencanaan Tahap Pelaksanaan Dalam tahap perencanaan. meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 17 . Pemerintah Provinsi Gorontalo mulai merencanakan dan berupaya mengimplementasikan model tunjangan kinerja daerah. Pembahasan mengenai pemberian TKD bagi camat dan kepala desa terdapat di Lampiran 1. Melalui pendekatan kewirausahaan. selalu melalui tiga tahapan penting yaitu Planning dan Organizing. namun pada dasarnya dalam merumuskan kebijakan TKD tiap tahunnya. terlihat bahwa salah satu implementasi dari good governance adalah “new public management” . meskipun tiap tahun ada perbedaan penekanan indikator dan bobot penilaian. Dalam perkembangan dari tahun ke tahun. yaitu tahap perencanaan dan tahap pelaksanaan. Gorontalo. Pemerintah Provinsi Gorontalo mulai menerapkan TKD bagi kepala desa dan camat yang mempunyai kinerja bagus dalam membangun daerahnya. Untuk tahap pelaksanaan. pada dasarnya terdapat dua proses penting dalam pelaksanaan TKD di Pemprov.

karena kemampuan keuangan daerah yang terbatas. 18 meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan . Untuk realisasi anggaran TKD tahun 2004. Untuk jumlah nominal. karena setiap PNS di lingkungan Pemprov. Perkembangan pelaksanaan Tunjangan Kinerja Daerah (TKD) di Pemprov. menggunakan pos dana honor pada APBD dengan realisasi dana sebesar 20. c) Mengikuti atau tidak mengikuti kegiatan kenegaraan dan kegiatan kantor lainnya. Gorontalo dipastikan menerima tambahan penghasilan. dan terus berubah menyesuaikan kebutuhan dan dinamika pembangunan daerah. Tiap pegawai yang berhak untuk mendapatkan TKD terlebih dulu harus memenuhi beberapa syarat disiplin dan pencapaian kinerja yang telah ditentukan. akan diuraikan lebih jelas pada bagian berikut. b) Tidak meninggalkan kantor pada jam kerja tanpa ijin. hanya menilai aspek disiplin pegawai sebagai parameter penilaian selama satu tahun. secara umum penerapan TKD di tahun 2004 diklaim dapat meningkatkan disiplin aparat pemerintah hingga mencapai 70 sampai 80 persen. Dengan mulai terinternalisasinya penyelenggaraan TKD dalam tiap diri PNS di lingkungan kerja Pemerintah Provinsi Gorontalo maka konsep pelaksanaan TKD yang awalnya bersumber dari konsep “reward and punishment” berubah menjadi sistem “reward and reward”. Implementasi TKD Tahun 2004 Penerapan TKD pada tahun 2004. Untuk yang berkinerja baik maka reward yang diperoleh akan lebih tinggi dibanding yang berkinerja kurang baik. Komponen penilaian inilah yang terus dikaji di Gorontalo. Parameter disiplin yang digunakan antara lain: a) Ketepatan waktu masuk kantor dan pulang kantor. hal yang paling mendasar dari pelaksanaan kebijakan TKD selama ini adalah penetapan komposisi penilaian sebagai syarat wajib yang harus dipenuhi oleh tiap pegawai dalam mendapatkan tunjangan tunai tersebut. tidak ada perkembangan jumlah yang signifikan untuk tiaptiap kelompok pegawai. Pemberian TKD dianggap sebagai suatu reward. A.3 milyar rupiah. Gorontalo yang dibedakan berdasarkan periode pelaksanaannya. Yang membedakan adalah kinerja dari pegawai yang bersangkutan. d) Hal-hal lain yang menyangkut disiplin kehadiran. Berdasarkan data laporan Badan Kepegawaian Daerah dan Diklat Provinsi Gorontalo.Selama hampir empat tahun pelaksanaannya.

staf dan tenaga kontrak dengan bobot tertinggi 40 persen. komposisi untuk pemberian TKD di tahun 2006 akan diubah dari komponen penilaian disiplin yang sebelumnya 60 persen menjadi 40 persen dan pencapaian kinerja yang terdiri dari indikator inovasi. baik dari segi komponen penilaian maupun jumlah maksimal TKD yang diberikan. Namun pemerintah Provinsi Gorontalo tetap mempunyai komitmen untuk memperbaiki pelaksanaan kebijakan TKD dengan meminta bantuan konsultan dari luar untuk membahas kembali rasio komponen yang sesuai agar pelayanan dan kinerja dari aparat pemerintah dapat berjalan dengan baik dan sesuai rencana. D.45 tahun 2005 tentang TKD pasal 3 ayat (1) dan (2) menyebutkan bahwa perhitungan TKD berdasarkan komponen disiplin dengan bobot tertinggi 60 persen dan pencapaian kinerja sesuai TUPOKSI dari jabatan struktural. Sayangnya hasil penilaian dari konsultan dianggap belum cukup implementatif dan cenderung terlalu teoritis. Implementasi tahun 2006 Implementasi TKD pada tahun 2006 tidak banyak berbeda dari tahun 2005. Berdasarkan peraturan Gubernur no. kerjasama. Padahal berdasarkan rencana. C. kecepatan kerja dan keakuratan kerja yang sebelumnya 40 persen ditingkatkan menjadi 60 persen.B. Gagalnya perubahan komposisi disiplin dan pencapaian kinerja pada tahun 2006 ini dikarenakan pelaksanaan komposisi di tahun 2005 dianggap belum maksimal. pemahaman tupoksi. Dalam peraturan gubernur ini juga diatur tata cara penilaian komponen disiplin yang berlaku umum dan pencapaian kinerja tiap-tiap jenjang pegawai sesuai dengan komposisi yang ditetapkan. dan pegawai masih membutuhkan banyak waktu untuk beradaptasi dengan kebijakan TKD ini. Gorontalo yang menerima TKD. Implementasi tahun 2007 Hingga pertengahan Maret 2007. Keterlambatan tersebut disebabkan karena konsep pemberian TKD untuk tahun 2007 belum sempurna jika langsung meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 19 . belum ada pegawai di lingkungan Pemprov. Implementasi tahun 2005 Penerapan TKD di tahun 2005 mulai memasukkan komponen pencapaian kinerja. Oleh karena itu Balai Penelitian dan Pengembangan daerah (Balitbangda) Provinsi Gorontalo menyempurnakan kembali kajian tersebut dengan tujuan dapat segera diimplementasikan pada tahun 2007.

Konsep awal penerapan TKD tahun 2007 adalah menerapkan 100 persen komponen penilaian untuk pencapaian kinerja. Berdasarkan penjelasan A sampai D mengenai rentang waktu pelaksanaan TKD Tahun 2004-2007. Selain komponen penilaian yang berubah. TKD yang belum diberikan tersebut. Ketentuan besaran untuk point ini disesuaikan dengan jenjang jabatannya. Tetap dimasukkannya komponen kedisiplinan ini bertujuan untuk memudahkan kepala dinas atau atasan dalam melakukan koordinasi.semakin banyak point yang dikumpulkan.diimplementasikan pada awal tahun. Kajian TKD tahun 2007 ini disosialisasikan ke seluruh unit kerja pada sekitar bulan April 2007.terdapat perubahan komponen dalam pemberiannya seperti yang terlihat dalam tabel berikut. komponen kedisiplinan dianggap tetap diperlukan. Sedangkan unsur pencapaian kinerja yang sebesar 70 persen terdiri dari prestasi. Tabel berikut menjelaskan mengenai nilai nominal maksimal Tunjangan Kinerja Daerah (TKD) Tahun 2005 dan 2007 yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo . Untuk lebih jelasnya ringkasan mengenai kajian penentuan TKD di tahun 2007 dapat dilihat dalam Lampiran 2. semakin banyak nominal TKD yang diperoleh. inovasi. 5000. kehadiran dan ketepatan waktu untuk berada di tempat tugas tidak bisa ditiadakan. 20 meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan . Pada unit kerja ini. Komponen kedisiplinan menjadi penting terutama bagi unit kerja yang bertugas melayani masyarakat secara langsung. Namun setelah didiskusikan lebih lanjut. Dengan tetap digunakannya komponen kedisiplinan maka komposisi antara komponen pencapaian kinerja dan kedisiplinan adalah 30 persen untuk kedisiplinan dan 70 persen untuk pencapaian kinerja.. rencananya akan dirapel setelah penilaian kinerja diberlakukan. dan kemampuan manajerial bagi yang memegang jabatan. Unsur 30 persen disiplin terdiri dari ketaatan terhadap jam kerja (15%) dan kepatuhan terhadap peraturan kepegawaian (15%). Tiap point yang didapatkan dinilai sebesar Rp. sistem penilaian TKD untuk tahun 2007 didasarkan pada sistem point.

seperti terlihat pada tabel berikut. ketimpangan pendapatan antara pegawai dapat dikurangi dengan meningkatkan pendapatan pegawai yang biasanya tidak pernah terlibat dalam proyek dan tidak pernah mendapatkan honorarium. meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 21 .Dalam tabel nilai nominal disebutkan sebagai TKD maksimal. mulai terjadi efisiensi anggaran dan pemerataan alokasi honor. Dengan adanya pemberian TPPK. hal ini dikarenakan jumlah tersebut hanya dapat diperoleh pegawai jika setiap pegawai dapat memenuhi persyaratan disiplin dan kinerja 100 persen terlebih dulu. 3.3. rata-rata pegawai mendapatkan TKD dengan nilai 60 sampai 90 persen dari nilai TKD maksimal. Pekanbaru lebih ditekankan untuk mengurangi ketimpangan pendapatan.2.Pelaksanaan Tunjangan Penghasilan dan Peningkatan Kesejahteraan (TPPK) Pemerintah Kota Pekanbaru Sesuai dengan istilah kebijakannya. pelaksanaan Tunjangan Penghasilan dan Peningkatan Kesejahteraan (TPPK) di Pemerintah Kota Pekanbaru mempunyai tujuan yang relatif berbeda dengan pelaksanaan TKD di Pemerintah Provinsi Gorontalo. menertibkan pemberian honorhonor sekaligus melakukan efisiensi anggaran untuk honorarium. TPPK yang dijalankan di Pemko. Berdasarkan pengalaman. Melalui kebijakan ini.

diasumsikan sama ** Untuk Tahun 2007. PNS yang tidak hadir berdasarkan daftar hadir sebanyak 1 kali tanpa keterangan dikenakan pemotongan TPPK sebanyak 4 persen. 22 meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan . persyaratan absensi untuk menerima TPPK ini adalah: 1. belum disyahkan/dirapatkan dengan DPRD pada saat survey dilakukan Seperti halnya tahun 2006. Bagi PNS yang tidak hadir lebih dari 10 (sepuluh) kali atau 40 persen tanpa keterangan dalam 1 (satu) bulan TPPK yang bersangkutan tidak dibayarkan dengan penjatuhan hukuman disiplin sesuai PP no. Perbedaan yang dianggap paling signifikan dalam penerapan TPPK di Pekanbaru adalah nilai TPPK yang diterima pegawai tiap bulannya di tahun 2007 meningkat dibandingkan di tahun 2006.30 tahun 1980. TPPK masih dapat dibayarkan kepada PNS yang bersangkutan dalam batas maksimum ketidakhadirannya sebanyak 10 (sepuluh) kali atau 40 persen dalam 1 (satu) bulanannya. Tidak ada perbedaan pelaksanaan TPPK antara tahun 2006 dan 2007 di Pemko. Belum ada komponen penilaian yang terukur selain absensi untuk menentukan apakah seseorang berhak mendapatkan pengurangan atau penambahan TPPK. bervariasi tergantung golongan kepangkatannya seperti yang terlihat dalam tabel berikut ini. Catatan: *Data jumlah pegawai tidak banyak berubah.15 tahun 2006 tentang Pemotongan Tunjangan Penghasilan dan Peningkatan Kesejahteraan bagi Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kota Pekanbaru. Hasil pemotongan TPPK disetorkan kembali ke kas daerah oleh pemegang kas paling lambat pada tanggal 10 bulan berikutnya. 4. Peningkatan mencapai 10 sampai 100 persen. 3. perkiraan nilai ini masih berupa rencana.Dasar hukum tata cara dan syarat-syarat pemberian TPPK untuk tahun anggaran 2006 di Pemerintah Kota Pekanbaru adalah Keputusan Walikota Pekanbaru no. 2. Pekanbaru.

Gorontalo dan Pemko. Pekanbaru terlihat berbeda dalam implementasinya. Perbedaan tersebut dikarenakan latar belakang dan tujuan penerapan TKD dan TPPK yang memang berbeda di kedua pemerintah daerah tersebut meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 23 .Pelaksanaan TKD dan TPPK di Pemprov.

.

meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan IV OUTPUT/OUTCOME PELAKSANAAN TAMBAHAN PENGHASILAN .

.

Gubernur Fadel Muhammad menyatakan bahwa sebelum diterapkannya kebijakan TKD di Pemprov. 4.1. Perkembangan kebijakan pemberian tambahan penghasilan juga dapat dijadikan indikasi konsistensi suatu daerah dalam menerapkan kebijakan ini. dan tidak punya dampak besar bagi masyarakat. OUTPUT/OUTCOME PELAKSANAAN TAMBAHAN PENGHASILAN Pada bagian kerangka pemikiran telah disebutkan bahwa output/outcome dari program tambahan penghasilan bagi pegawai negeri sipil di daerah adalah: 1.IV. 3. Peningkatan penghasilan pegawai bukan merupakan tujuan utama diterapkannya TKD di Pemprov. Gorontalo. Peningkatan dan Pemerataan Penghasilan PNS 4.1. sehingga manfaat proyek yang seharusnya diterima masyarakat menjadi berkurang. Peningkatan dan Pemerataan Penghasilan bagi PNS di daerah. meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 27 . sekaligus penertiban pemberian honor-honor. penerapan TKD ini juga menurunkan penghasilan beberapa pegawai di lingkungan pemerintah provinsi. Kondisi tersebut ditunjukkan bahwa selain terjadi peningkatan penghasilan sebagian besar pegawai terutama golongan menengah ke bawah.1. Peningkatan Kinerja Pegawai. Hal ini karena program disusun bukan untuk menyelesaikan masalah namun hanya untuk mencari proyek baru yang memberikan peluang korupsi. terjadi perbedaan perkembangan pelaksanaan tambahan penghasilan pada tiap daerah yang melaksanakannya. dan keberadaannya membuat perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan berjalan tidak efektif. Gorontalo Makna utama pemberian TKD di Pemerintah Provinsi Gorontalo adalah peningkatan kinerja pegawai. Pada bagian selanjutnya akan dibahas tiga output/outcome tambahan penghasilan tersebut di dua daerah sampel. Jumlah honor tersebut ternyata cukup besar. 2. Seiring dengan berjalannya waktu. tiap proyek pembangunan harus menyisihkan dana yang ditujukan untuk honor bagi penyelenggara proyek. Gorontalo. Peningkatan Kedisiplinan bagi PNS di Daerah. terutama pejabat dan pegawai yang sering mendapatkan tambahan penghasilan dari honor.

beban kerja pegawai. dan uang beredar lain yang dapat dikategorikan sebagai uang suap. Persentase kenaikan pada tiap kelompok pegawai berbeda.Kondisi ini perlu ditertibkan dengan menutup peluang korupsi yang ada. Pada saat survey lapang dilakukan (Maret 2007) oleh KPK di Pemprov. Bahkan dalam rangka merealisasikan sistem TKD perubahan 28 meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan . Sementara respon negatif yang disampaikan lebih ke arah nilai nominal yang diterima yang menurut mereka masih kurang karena tidak ada peningkatan nilai dari tahun 2004 sampai 2006. baik itu berupa honor maupun tunjangan yang telah dianggarkan. Gorontalo melakukan penambahan terhadap nilai TKD maksimal yang ditetapkan. Dengan melakukan kajian yang mempertimbangkan dasar hukum. mulai dari 0 persen sampai dengan 50 persen. Salah satu cara yang dianggap efektif adalah memberi batasan yang jelas terhadap uang resmi yang patut diterima. Tabel berikut menggambarkan respon pegawai sehubungan dengan dampak TKD terhadap peningkatan penghasilan. tunjangan kinerja ini ditetapkan dan dimasukkan ke dalam kategori pendapatan resmi yang dapat diterima oleh pegawai. penambahan nilai TKD maksimal ini belum disosialisasikan kepada pegawai karena masih dalam proses finalisasi alat ukur. Respon positif yang disampaikan rata-rata menganggap bahwa pemberian TKD cukup menambah penghasilan rumah tangga. Yang dimaksudkan dengan uang resmi adalah uang atau penghasilan yang diterima oleh pegawai melalui kas daerah. Gorontalo. Penambahan ini dimaksudkan untuk menyesuaikan dengan peningkatan kebutuhan hidup. Pada tahun 2007 Pemprov. Dari berbagai respon tersebut. dapat disimpulkan bahwa bagi pegawai dengan jumlah TKD yang relatif besar lebih merasakan manfaatnya dibanding pegawai dengan TKD yang lebih kecil. jumlah anggaran. terdapat kejelasan dan keteraturan penghasilan yang diterima pegawai per bulannya. jenjang kepangkatan dan kebutuhan hidup minimum. Respon dari pegawai terhadap pemberian TKD berdasarkan data pemberian TKD Tahun 2004 sampai 2006 cukup beragam. Selain itu dengan adanya TKD.

walaupun pendapatan per bulannya secara rata-rata menurun. 4. Namun demikian ternyata tidak ada respon negatif dari pegawai yang penghasilannya turun akibat TPPK. biaya sekolah. Pekanbaru TPPK yang diterima oleh pegawai di lingkungan Pemko. Pekanbaru tidak semuanya berdampak pada peningkatan penghasilan pegawai. Pemerintah Provinsi Gorontalo menunjukkan perhatian yang lebih besar terutama kepada pegawai tingkat staf dan tenaga kontrak melalui persentase peningkatan nilai TKD Tahun 2007 yang cukup besar di kedua golongan tersebut. yang paling penting bagi mereka adalah adanya kepastian dan keteraturan pendapatan perbulannya. Tabel berikut menunjukkan nilai TKD Tahun 2007 dan persentase perubahannya. Gorontalo secara keseluruhan cukup besar sehingga dari sisi anggaran nilainya cukup signifikan. bila dibandingkan dengan sebelum tahun 2006 yang masih menerima honor. Pemprov. Namun untuk pejabat eselon IV ke atas. dll). (i) Penghasilan meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 29 . sampai dengan maret 2007 TKD belum dibayarkan kepada para pegawai. sehingga mereka bisa merencanakan kebutuhan jangka panjang menjadi lebih baik (kredit rumah. Selain itu.2. Gorontalo. Khususnya untuk pegawai eselon IV b keatas yang terjadi adalah penurunan jumlah penghasilan yang signifikan. Mereka tetap merasa diuntungkan dengan alasan.1. kendaraan. Gorontalo memang tidak memfokuskan pemberian TKD pada peningkatan dan pemerataan penghasilan.tersebut. Walaupun secara nominal nilai kenaikan yang diterima oleh perorangannya tidak terlalu besar. namun melalui pemberian TKD ini mereka merasa lebih berperan dalam upaya pemerataan pendapatan di lingkungan Pemprov. namun jumlah staf dan tenaga kontrak di lingkungan Pemprov.

riauterkini. Di lingkungan Pemko Pekanbaru. Pekanbaru. Dari 20 pegawai yang diwawancarai. sebenarnya nilai TPPK yang diberikan oleh Pemko. masih dijumpai pegawai yang tidak puas dengan kenaikan tersebut. Catatan: * Untuk Tahun 2007. 20 persen pegawai menyatakan bahwa TPPK tidak meningkatkan penghasilan. dianggap terlalu kecil dan tidak sesuai dengan harga kebutuhan bahan pokok yang terus meningkat di Pekanbaru. (ii) Tidak ada keraguan dalam menerima tambahan penghasilan karena statusnya resmi. dan 40 persennya menyatakan bahwa jumlah TPPK yang diberikan belum ideal. Untuk itu sudah waktunya bagi Pemko.com/sosial. jumlah TPPK yang diberikan terus meningkat.php?arr=13857 30 meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan . Meskipun kenaikan TPPK di Pemko Pekanbaru terjadi setiap tahunnya. namun juga perbaikan syarat-syarat kinerja yang menyertai peningkatan nilai TPPK ini. Pekanbaru untuk tidak hanya terkonsentrasi pada nilai nominal TPPK yang diberikan. belum disyahkan/rapatkan Dengan DPRD pada saat survey dilakukan Tabel menjelaskan bahwa walaupun belum disahkan DPRD. namun.yang didapat lebih pasti dan jelas tiap bulannya sehingga lebih mudah mengatur pengeluaran rumah tangga. meskipun mereka mengakui masih banyak kelemahan didalamnya.000 di tahun 20071 . 1 UMK (Upah Minimum Kota) Pekanbaru sama dengan UMP (Upah Minimum Provinsi) Riau karena hingga 1 Februari 2007. 710. perkiraan nilai ini masih berupa rencana. bahkan untuk pegawai-pegawai di Eselon IV ke bawah kenaikannya mencapai 100 persen. Salah satu hal yang menjadi perhatian pegawai mengenai TPPK adalah besaran nilai yang diterima. terjadi upaya meningkatkan nilai TPPK yang sangat signifikan di Tahun 2007. kota Pekanbaru tidak mengajukan keberatan atas UMP yang telah ditetapkan sumber : http://www. Tabel berikut menunjukkan perkembangan nilai TPPK di Pemko. Pekanbaru telah mencukupi kebutuhan minimum pegawainya. Jika dibandingkan dengan syarat penerimaan dan beban tugas yang ada. Data tersebut juga menunjukkan bahwa nilai TPPK yang diterima oleh pegawai negeri paling rendah di Kota Pekanbaru (diluar gaji pokoknya) sudah jauh lebih besar daripada upah minimum untuk Provinsi Riau yang sebesar Rp. Peningkatan terjadi di seluruh kelompok pegawai. Dari 20 orang pegawai yang diwawancarai. semuanya setuju dengan kebijakan TPPK ini.

2.2. peningkatan disiplin pegawai di Pemprov. Gorontalo adalah indikator yang seharusnya paling mudah dimonitor. terlihat adanya peningkatan disiplin pegawai. tingkat pegawai yang masuk cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dengan pengakuan dari Badan Kepegawaian Daerah. bahkan tingkat keikutsertaan kegiatan rutin ataupun kegiatan kenegaraan hampir 100 persen. seperti yang terlihat dalam tabel berikut. Permohonan cuti atau ijin tidak masuk kerja menjadi sangat sedikit. Gorontalo Sebagai prioritas awal kebijakan pemberian TKD.1. meskipun sebenarnya cuti merupakan hak masing-masing pegawai. Catatan: * angka untuk tahun 2006 merupakan angka sementara Sumber: BKD Diklat dan Banwas Provinsi Gorontalo. tingkat keterlambatan pegawai semakin berkurang. Memang tidak semua keberhasilan peningkatan disiplin disebabkan oleh diterapkannya kebijakan TKD. namun setidaknya prinsip reward dari TKD cukup signifikan dalam memacu pegawai untuk bekerja sesuai jadwal dan aturan yang ada.4. 2006 Tabel di atas menjelaskan bahwa dengan adanya pengadministrasian yang lebih baik. Hasilnya cukup menggembirakan. Hal tersebut dikarenakan sejak tahun 2004. tingkat kedisiplinan. Peningkatan Disiplin Pegawai 4. indikator ini telah mulai direview. meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 31 . Berdasarkan laporan dari beberapa unit kerja. jumlah pelanggaran dan hukuman akan lebih terekam dengan baik. Berdasarkan catatan yang ada di Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Gorontalo. dimana saat ini banyak pegawai di lingkungan Pemprov. Hal ini disebabkan karena pegawai merasa sayang untuk mengambil cuti karena pengambilan cuti tahunan berakibat pada berkurang/hilangnya TKD yang mereka terima. Gorontalo yang meminimalisir penggunaan cuti tahunan. Mekanisme dan administrasi pelaporan dari Unit Kerja ke Badan Kepegawaian Provinsi pun terus diperbaiki.

Sebagai salah satu upaya untuk menunjang kedisiplinan pegawai. masih menjadi komponen penilai dalam TKD ini. dalam TKD. selama tiga tahun pelaksanaannya. Gorontalo dengan lokasi kantor yang terletak di kawasan perbukitan yang jauh dari 32 meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan . absensi/kehadiran masih diperlukan. Seperti diketahui bahwa dalam rencana awal implementasi TKD. dimana pencatatan dan penyimpanan datanya masih sangat sederhana. Berdasarkan pengalaman di daerah lain yang menggunakan mesin absen otomatik. Sebagai pemberi layanan bagi masyarakat. Apalagi komponen TKD walaupun dengan persentase yang lebih kecil. Hal ini dikarenakan beberapa alasan. hingga saat ini pemerintah Provinsi Gorontalo belum memutuskan untuk menghilangkan indikator disiplin tersebut. Ada yang menganggap penting penggunaan absen otomatik. prioritas utama adalah pada kinerja dibandingkan pada kehadiran. namun tingkat akurasi. yaitu: 1. Kajian inilah yang belum dapat dilakukan oleh Pemprov. Namun upaya perubahan mekanisme absensi dari manual menjadi otomatik saat ini masih mengalami kendala selain masalah dana juga masih terdapat perbedaan wacana dalam menggunakan absen otomatik di tiap unit kerja. Dibutuhkan perangkat lunak maupun keras yang cukup komplit serta mekanisme penilaian yang jelas dalam mengimplementasikan 100 persen indikator pencapaian kinerja. 4. Pemprov. 2. Hal ini terutama untuk menjamin terselenggaranya proses pelayanan yang tertib dan sesuai aturan. namun terdapat pula pegawai/pejabat yang menganggap mesin absen otomatik tidak penting. proporsi indikator disiplin berangsur-angsur akan dihilangkan untuk mencapai indikator kinerja sebesar 100 persen. kedetailan dan mekanisme penilaian kedisiplinan masih sangat tergantung dari kinerja bagian kepegawaian unit kerja yang bersangkutan. Alasannya. Pengukuran tingkat kedisiplinan masih tergantung pada sistem absen yang manual. Banyak pimpinan unit kerja yang merasa pentingnya indikator disiplin tetap digunakan untuk mendukung kelancaran program kerja mereka.Saat ini tugas untuk mereview kinerja dan kedisiplinan pegawai dilakukan oleh Bagian Kepegawaian dari unit kerja masing-masing. Sejalan dengan perkembangannya. sehingga sistem rekapitulasi khusus untuk komponen disiplin ke dalam komponen TKD menjadi lebih mudah. sebenarnya mesin absen otomatik justru akan lebih memudahkan pencatatan absensi/kehadiran. Meski sudah ada indikator kedisiplinan yang mengikat. Penentuan 100 persen indikator TKD menjadi pencapaian kinerja saja membutuhkan kajian yang lebih dalam dan detail Tujuannya adalah untuk menentukan indikator yang tepat agar dapat menghitung kinerja secara fair. 3. Gorontalo dalam waktu dekat.

Pekanbaru masih menggunakan sistem manual. tidak semata-mata disebabkan oleh masalah dana. belum ada rencana atau keinginan dari Pemko. Pekanbaru Indikator yang paling signifikan untuk menilai keberhasilan dari kebijakan TPPK dalam meningkatkan disiplin pegawai adalah catatan absensi. Jumlah dan sebaran serapan anggaran untuk tiap unit kerja di Provinsi Gorontalo dijelaskan di Lampiran 3.5 milyar yang dianggarkan hanya Rp. belum ada catatan pemotongan tunjangan yang didasarkan pada indikator kedisiplinan. Hingga saat survey ini dilakukan pada bulan Maret 2007. Gorontalo untuk tahun anggaran 2006.2. di Pemprov. Alasannya adalah menanamkan kedisiplinan tidak harus melalui otomatisasi. Dari Rp.87 milyar yang terdistribusikan. memang tidak semua anggaran TKD terserap karena tidak dipenuhinya target disiplin dan pencapaian kinerja dari pegawai. dimana biro/bagian kepegawaian membagikan absensi yang harus ditandatangani untuk kemudian direkapitulasi.24%. Kendaraan dinas tersebut juga bisa dimanfaatkan oleh pegawai yang tidak terangkut bis karyawan. Pekanbaru untuk menggunakan alat absensi otomatis. 4. Sistem absensi yang digunakan di lingkungan Pemko. kemungkinan penyalahgunaan masih saja terbuka. meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 33 .8% dan yang terkecil adalah Kantor Perlindungan Tanaman Hewan dan Ternak yaitu hanya sebesar 58. Dinas yang memiliki serapan TKD terbesar adalah Badan Kepegawaian dan Diklat yaitu sebesar 95. Pemotongan TKD terhitung secara kumulatif sehingga sulit melacak satu per satu asal pemotongan TKD.2. namun juga karena masalah keinginan. Selain Bis pegawai. Hingga saat ini berdasarkan catatan Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Gorontalo. Belum adanya penggunaaan sistem absensi otomatis di Pekanbaru. Berdasarkan tahun anggaran 2006.permukiman dan belum dilewati angkutan umum. serapan anggaran untuk TKD di Provinsi Gorontalo adalah sebesar 77.97%. karena meskipun absen otomatis disediakan. Dengan adanya fasilitas dan kondisi tersebut diharapkan PNS dapat datang tepat waktu sehingga kedisiplinan tetap dapat terjaga. 33. 25. Namun. Sistem menggunakan mesin absen otomatis belum digunakan. pemerintah provinsi juga melengkapi dengan kendaraan dinas sewaan yang diberikan kepada pejabat eselon tertentu dengan syarat kendaraan tersebut tidak diperbolehkan digunakan diluar kepentingan dinas dan keluar dari teritorial Provinsi Gorontalo. menyediakan bis pegawai yang rutin mengangkut PNS setiap pagi dan saat pulang kantor.

Pembenahan ini. Penjelasannya diilustrasikan sebagai berikut. salah satunya melalui sistem otomitasi absensi. etos kerja dan pola kerja PNS di Pemko. Dengan sedikitnya indikator kedisiplinan yang digunakan membuat PNS cenderung 34 meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan . perlu dilakukan berbagai upaya pembenahan mekanisme pelaporan kehadiran tersebut. Pekanbaru. Kondisi ini tercipta akibat syarat pemotongan TPPK yang relatif ringan. Berdasarkan data yang ada. selama ini belum terbukti keterlambatan atau masalah absensi bisa memotong nilai TPPK yang diterima pegawai di Pemko.Sebenarnya bagi Pemerintah Kota Pekanbaru yang syarat penerimaan TPPKnya hanya melalui absensi. Jika ada pegawai yang TPPK nya dipotong. Pekanbaru tidak akan ada bedanya seperti saat sebelum diberlakukannya TPPK. Mereka berpendapat bahwa syarat kedisiplinan dalam penerimaan TPPK masih sangat ringan. Mengacu pada syarat yang ada. biasanya disebabkan pegawai yang bersangkutan melakukan pelanggaran yang cukup berat atau sudah dikenakan sanksi PP 30 Tahun 1980. Perbaikan indikator dan penilaian menjadi penting. sebab jika tidak segera dilakukan. diperlukan mengingat selama ini masih ada sebagian pegawai yang menganggap bahwa kebijakan TPPK tidak berpengaruh signifikan dalam meningkatkan kedisiplinan pegawai. maka terdapat pengecualian-pengecualian yang mengakibatkan TPPK kurang efektif dalam meningkatkan kedisiplinan pegawai. Perbaikan indikator kedisiplinan mutlak diperlukan demi perbaikan tingkat kedisiplinan dan kinerja di lingkungan Pemko Pekanbaru.

Beberapa hal mengenai peningkatan kinerja selama kurun waktu pelaksanaan TKD antara lain dapat dinarasikan sebagai berikut. Meskipun jumlah PNS yang tidak tahu ini masih sedikit. namun hal ini memberikan gambaran kurangnya sosialisasi terkait pemberian TPPK kepada PNS di lingkungan Pemko. 3 orang merasa tidak perlu persyaratan apa-apa untuk mendapatkan TPPK dan 1 orang tidak tahu akan adanya syarat dalam pemberian TPPK tersebut. baik dari bobot/persentase penilaian maupun dari jenis indikatornya. dan berbagai pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu. Sayangnya tidak ada data time series yang dapat dikumpulkan untuk membuktikan secara empirik peningkatan kinerja yang terjadi sehubungan dengan adanya pemberian TKD ini. Dari tahun 2004 hingga awal 2007. Dari yang 0 persen pada tahun 2004. Pekanbaru. Peningkatan Kinerja Pegawai 4.3. bawahan lebih responsif terhadap tugas. Pekanbaru terhadap kebijakan TPPK cenderung pada nilainya yang dianggap terlalu kecil. Bahkan dari 20 orang yang ditanyai mengenai syarat-syarat pemberian TPPK. keberatan PNS di Pemko. Di luar kekurangan-kekurangan yang ada. bagi sebagian besar PNS di lingkungan Pemko.menilai TPPK dari nilai yang mereka peroleh atau hak yang mereka terima dan kurang mempertimbangkan kewajiban yang harus dipenuhi. memperbaiki perilaku dan kinerja aparatnya. maka indikator peningkatan kinerja pegawai di lingkungan Provinsi Gorontalo menjadi penting untuk dianalisa ketercapaiannya. bukan pada indikator syarat penerimaannya yaitu kedisiplinan. Gorontalo Mengingat pemberian TKD di Pemprov. meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 35 .1. Pekanbaru. Indikator penilaian kinerja ini mengalami berbagai perubahan. dan pegawai mulai memperhatikan untuk selalu hadir pada kegiatan-kegiatan rutin serta tidak banyak mengajukan ijin. Gorontalo ditujukan untuk meningkatkan motivasi. Namun dari hasil wawancara diperoleh informasi bahwa para pimpinan unit kerja merasakan dengan adanya TKD program kerja dapat berjalan dengan lebih baik. Karena bagaimanapun juga tetap ada kekhawatiran pegawai jika mendapatkan penilaian buruk dari atasan akan berakibat pada berkurangnya TPPK yang mereka terima.3. 4. pemberian TPPK setidaknya mampu mengurangi tindakan indisipliner dari pegawai. menjadi 70 persen yang direncanakan di tahun 2007 ini. Dari hasil wawancara yang dilakukan.

semua indikator yang ada baru dirancang untuk mengukur kedisiplinan pegawai.2. dengan adanya TPPK. Hal penting yang patut dicatat dari dampak penerapan TKD di lingkungan Pemprov. selain terjadi peningkatan tingkat kehadiran (absensi). proses mutasi atau rotasi pegawai baik di dalam maupun antar unit kerja yang ada 36 meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan . Sumber catatan kinerja bisa dilihat dari hasil pencapaian kinerja dalam komponen pemberian TKD. Pekanbaru. Pekanbaru Sangat sulit menentukan indikator yang relevan untuk mengukur manfaat pemberian tambahan penghasilan pegawai terhadap peningkatan kinerja di lingkungan Pemko. Meskipun diakui sangat sulit untuk memenuhi ataupun mengukur inisiatif dan inovasi. Pemprov. Hingga tahun 2006 belum ada indikator kinerja yang dirancang dan digunakan di Pemko. Proses penilaian dilakukan dengan cara masing-masing unit kerja mengajukan calonnya.3. Gorontalo adalah adanya usaha meningkatkan inisiatif atau inovasi. Gorontalo juga memberikan motivasi kepada pegawai melalui pemilihan pegawai terbaik tingkat provinsi yang dilaksanakan setiap tahunnnya. namun setidaknya masuknya indikator inisiatif dan inovasi ini paling tidak dapat dijadikan awal bagi perubahan budaya pasif seperti “menunggu petunjuk/arahan dari pimpinan” yang selama ini berjalan di lingkungan PNS menjadi budaya aktif di mana pegawai mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan aspirasi dan pendapat dalam melaksanakan tupoksinya. Kriteria pegawai yang diajukan tentu saja salah satunya adalah memiliki catatan kinerja yang baik. Namun setidaknya berdasarkan informasi yang ada.Diluar komponen pencapaian kinerja dalam TKD yang merupakan indikator utama dalam pemberian TKD. 4. Pekanbaru. Data-data pegawai yang dicalonkan oleh masing-masing unit kerja kemudian disampaikan kepada Badan Kepegawaian Daerah untuk dinominasikan sebagai pegawai terbaik tingkat Provinsi untuk mendapatkan hadiah naik haji.

meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 37 . Rendahnya resistensi dikarenakan tidak akan banyak perbedaan penghasilan antara unit kerja satu dengan unit kerja yang lain.di lingkungan Pemko Pekanbaru menjadi lebih mudah. dan tidak banyak muncul resistensi dari pegawai yang akan dirotasi/dimutasi.

.

meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan V DAMPAK PELAKSANAAN TAMBAHAN PENGHASILAN .

.

5. 5. 2. Menentukan dampak pada program yang baru saja berjalan pada dasarnya sangat sulit untuk dilakukan. Peningkatan Pelayanan Publik. meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 41 . memperbaiki perilaku dan kinerja aparatnya. maka dampak yang diharapkan dalam pemberian TKD yaitu peningkatan kesejahteraan pegawai dan keluarganya sebenarnya sangat sulit diukur. Artinya. Gorontalo. Berdasarkan tujuan tersebut. Peningkatan Kesejahteraan Pegawai dan Keluarganya Salah satu output/outcome pemberian tambahan penghasilan bagi pegawai negeri sipil daerah adalah pemerataan dan peningkatan penghasilan pegawai. Pekanbaru. Namun pada bagian ini akan coba diidentifikasi dampak pemberian tambahan penghasilan bagi PNS di dua daerah contoh yaitu Pemprov. terutama dalam hal pendidikan anak. Namun demikian dari hasil wawancara diperoleh beberapa informasi terkait dampak TKD bagi peningkatan kesejahteraan pegawai di lingkungan Pemprov. Gorontalo juga merupakan faktor kesulitan dalam mengukur dampak TKD dalam peningkatan kesejahteraan pegawai dan keluarganya. DAMPAK PELAKSANAAN TAMBAHAN PENGHASILAN Dampak pelaksanaan tambahan penghasilan bagi pegawai negeri sipil di daerah yang telah disebutkan di bagian kerangka pemikiran adalah: 1. Gorontalo dan Pemko. yaitu: 1. pemberian TKD ditujukan untuk meningkatkan motivasi.1. Selain dari itu nilai TKD yang kurang signifikan di Pemprov.1.1. Peningkatan Kesejahteraan Pegawai dan Keluarganya. pegawai bisa memperkirakan kebutuhan biaya pendidikan anak di masa depan dengan membandingkan pendapatan yang diperoleh per bulannya saat ini. Pegawai dan keluarga bisa lebih mudah merencanakan kebutuhan hidup seharihari karena pendapatan yang diperoleh nilainya tetap dan pasti per bulannya (gaji+TKD). 2. Gorontalo Di Pemprov. Gorontalo. Pegawai dan keluarganya lebih mudah merencanakan masa depan. Dengan penghasilan yang meningkat diharapkan selanjutnya akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan pegawai dan juga keluarganya.V.

500. Pekanbaru.1. Peningkatan kesejahteraan tersebut lebih mudah lagi terlihat bila dibandingkan dengan status hidup pegawai/karyawan/ masyarakat yang statusnya bukan PNS. Peningkatan Pelayanan Publik 5. beberapa hal berikut menunjukkan dampak pemberian TPPK terhadap peningkatan kesejahteraan pegawai dan keluarganya. Kondisi tersebut ditunjukkan oleh upah minimum tingkat provinsi yang hanya Rp. Pegawai bisa memiliki barang yang selama ini tidak mampu dibeli dengan cara tunai. 2. 3.2. lebih dari dua kali lipat. yaitu mencapai Rp. di luar gaji minimal untuk pegawai yang paling rendah termasuk pegawai kontrak. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan pegawai dan pejabat di lingkungan Pemko. karena pendapatan per bulannya yang tetap dan pasti. 710. 1.1. memperbaiki perilaku dan 42 meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan . bahkan ada kemungkinan lebih besar dari gaji.3. Pekanbaru seharusnya memiliki dampak yang cukup signifikan dalam peningkatan kesejahteraan pegawai dan keluarganya. Dampak-dampak yang dirasakan oleh pegawai tersebut secara tidak langsung menunjukkan bahwa pemberian TKD sedikit banyak berperan dalam peningkatan kesejahteraan pegawai dan keluarganya. Pegawai lebih mudah mengajukan kredit ke bank atau leasing karena tingkat pendapatan yang cukup baik dan tetap per bulannya. pemberian TKD di Pemprov. Bisa menyisihkan sebagian dari pendapatannya untuk ditabung dengan jumlah nominal yang relatif tetap. 1. 5.000. Dengan pemberian TPPK ini. 5. beberapa kebutuhan penting seperti kendaraan dan rumah dapat dibeli oleh pegawai dan keluarganya dengan cara kredit.2. Gorontalo Seperti telah disampaikan di bagian sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan nilai TPPK yang diterima setiap pegawai cukup besar. dan sangat berpengaruh dalam meningkatkan status hidup pegawai yang bersangkutan.2.000 per bulannya. Gorontalo ditujukan untuk meningkatkan motivasi. Pegawai bisa menabung untuk merencanakan kebutuhan masa depan keluarganya. Pekanbaru Pemberian TPPK di Pemprov. sementara nilai minimal TPPK yang direncanakan di Tahun 2007.

2. pada tahun 2007 hanya melalui 2 meja dalam waktu 1 jam. pengurusan perijinan. Gorontalo hari kerja cuma 5 hari seminggu (Senin-Jumat). Pekanbaru ditujukan untuk memberikan tambahan pendapatan kepada pegawai di lingkungan Pemko. Sulitnya mengukur dampak dalam bentuk peningkatan pelayanan publik di Pemko.2. meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 43 . Berdasarkan pengamatan dan hasil wawancara diperoleh informasi terkait dengan dampak peningkatan pelayanan publik pada pemberian TKD di Pemprov. Berdasarkan tujuan tersebut. sehingga efeknya tidak begitu berpengaruh bagi PNS yang bersangkutan. Gorontalo. terutama dalam efisiensi pelayanan publik (misalnya pelayanan pencairan dana untuk unit kerja. sebelumnya tahun 2002 melalui 24 meja dalam waktu 1-2 bulan). Pekanbaru selain karena tujuan nya TPPK saat ini hanya untuk meningkatkan pendapatan pegawai. 2. maka dampak peningkatan pelayanan publik yang diharapkan dalam pemberian TKD ini merupakan dampak yang diharapkan akan terjadi di lingkungan Pemprov. Aparat memberikan pelayanan kepada publik 6 hari kerja (Senin-Sabtu). Namun berdasarkan pengamatan dan hasil wawancara. Sehingga untuk mengukur dampak dalam bentuk peningkatan layanan publik akan sangat sulit. Pekanbaru. Dengan kehadiran yang tepat waktu tersebut.kinerja aparatnya. juga disebabkan oleh longgarnya syarat-syarat pemberian TPPK yang diberlakukan. 5. Hal tersebut dikarenakan memang seluruh kinerja PNS seharusnya ditujukan untuk melayani masyarakat. 1. Berdasarkan informasi tersebut terbukti bahwa pemberian TKD dengan tujuan peningkatan motivasi. dll) dapat dimulai pada jam yang telah ditentukan. Pekanbaru Pemberian TPPK di Pemprov. memperbaiki perilaku dan kinerja pegawai ternyata secara otomatis akan mampu meningkatkan kualitas pelayanan publik. kegiatan pelayanan publik (misalnya pembuatan KTP. fakta yang bisa menunjukkan bahwa TPPK cukup mampu meningkatkan kualitas pelayanan publik adalah paling tidak TPPK sedikit banyak mampu membuat pegawai datang tepat waktu. Selain dari itu waktu pemberian TPPK yang baru dimulai pada Tahun 2006 dianggap masih terlalu pendek bila dilakukan pengukuran dampaknya. padahal di Pemprov. Terjadi inovasi dalam pelayanan publik. Gorontalo.

.

meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan VI PERSEPSI PEGAWAI PENERIMA TAMBAHAN PENGHASILAN .

.

VI. terjadi peningkatan disiplin dan kinerja pegawai. dan hanya 75 persen dan 70 persen pegawai di lingkungan Pemko. Pekanbaru. Pekanbaru yang sangat signifikan dalam meningkatkan pendapatan dibanding dengan TKD di Pemprov. Gorontalo menyatakan bahwa dengan diberikannya TKD. maupun alat dalam menunjukkkan output. Gorontalo. dan hanya 65 persen saja yang menyatakan bahwa TPPK mampu meningkatkan kinerja. Hasil lain pemberian tambahan penghasilan mampu meningkatkan pendapatan dan memenuhi kebutuhan hidup diakui oleh 93 persen dan 90 persen pegawai di lingkungan Pemprov. Gorontalo. Hasil ini cukup mengherankan mengingat nilai TPPK di Pemko. Gambar di atas menjelaskan bahwa 100 persen PNS yang diwawancara di Pemprov. Gorontalo. outcome maupun dampak dari kebijakan ini. Tidak begitu banyak perbedaan persepsi antara PNS di Pemko. meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 47 . Pekanbaru dan Pemprov. Sementara hanya 90 persen PNS yang diwawancarai di Pekanbaru yang berpendapat bahwa kebijakan TPPK mampu meningkatkan disiplin.PERSEPSI PEGAWAI PENERIMA TAMBAHAN PENGHASILAN Persepsi atau pendapat dari PNS sebagai stakeholder utama dari kebijakan tunjangan penghasilan ini menjadi penting untuk dapat dijadikan sebagai bahan masukan.

6. Hanya beberapa orang pegawai di Pekanbaru yang tidak merasa ada peningkatan disiplin dengan adanya kebijakan ini. namun persentase responden yang mengakui bahwa kebijakan tambahan penghasilan mampu memberikan kenaikan penghasilan kepada pegawai. Hal ini wajar.2. Meningkatkan kinerja Dengan adanya syarat kinerja yang relatif ketat.3. Pekanbaru memang tidak mensyaratkan indikator peningkatan kinerja dalam pemberiannya. lebih besar di Gorontalo dibandingkan di Pekanbaru. Meskipun absen masih dijalankan secara manual. (ii) Kebutuhan dan gaya hidup di Pekanbaru relatif lebih tinggi dari Gorontalo. sehingga penghapusan honor proyek/kegiatan dan diganti dengan tambahan penghasilan justru menurunkan pendapatan responden Pekanbaru. seluruh responden dari Pemprov Gorontalo mengakui bahwa TKD yang ada mampu meningkatkan kinerja. Dari gambaran mengenai persepsi tersebut dapat tersirat beberapa kemungkinan berikut: (i) Lebih banyak PNS di Gorontalo yang terbantu secara ekonomi dengan adanya tambahan penghasilan dibandingkan dengan PNS di Pekanbaru. 6. Penjelasan mengenai persepsi untuk masing-masing indikator yang mencerminkan dampak kebijakan pemberian tambahan penghasilan secara ringkas adalah sebagai berikut.Indikator pemerataan yang dipersepsikan dengan menghilangnya rasa iri antar pegawai disetujui lebih banyak persentase pegawai di Pekanbaru dibandingkan di Gorontalo. seluruh pegawai merasa terikat untuk mematuhi. karena TPPK untuk PNS di Pemko. (iii) Jumlah honor yang dihapuskan lebih besar dibandingkan dengan tambahan penghasilan yang diterima PNS di Pemko. namun hal yang sama tidak terjadi dengan responden dari Pemko.Pekanbaru. Kondisi tersebut tidak terjadi 48 meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan . Meningkatkan Disiplin Secara umum seluruh responden berpendapat bahwa kebijakan pemberian tambahan penghasilan meningkatkan disiplin dalam bekerja. Pekanbaru. Gorontalo. 6.1. Hal ini menandakan masih banyak hal yang perlu dibenahi dengan syarat pemberian TPPK di kota Pekanbaru. Pekanbaru relatif lebih besar dibandingkan Pemprov. Peningkatan Penghasilan Meskipun secara absolut nilai penghasilan pegawai untuk golongan yang sama di Pemko. Hampir setengah dari responden Pekanbaru tidak beranggapan bahwa kebijakan TPPK mampu meningkatkan kinerja mereka.

lebih tingginya biaya hidup dan gaya hidup perkotaan di Pekanbaru menjelaskan mengapa lebih banyak persentase PNS di Pekanbaru merasa tunjangannya tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dibandingkan dengan PNS di Gorontalo. Total jumlah responden yang memberikan response terhadap kuesioner di studi ini hanya berjumlah 61 orang.5. Kebutuhan Hidup Tercukupi Seperti halnya dengan indikator penghasilan. pemberian TPPK cukup menghilangkan rasa iri antar pegawai atau pejabat. Pada responden di Pemko. tentunya jumlah ini kurang mewakili populasi PNS yang ada di kedua daerah studi ini. Untuk itu persepsi dari responden hanya digunakan untuk melengkapi dan memperkaya data yang dikumpulkan dari studi ini. Pekanbaru. Pemerataan Penghasilan dan Hilangnya Rasa Iri Indikator kinerja yang diterapkan bagi seluruh PNS yang menerima TKD di Gorontalo. Bahkan dengan penghapusan honor dan menggantikannya dengan TPPK. 6. Persepsi ini menjelaskan mengapa lebih sedikit persentase PNS di Gorontalo yang merasa bahwa nilai TKD yang mereka terima belum berimbang dan masih bisa menimbulkan rasa iri antar unit kerja ataupun golongan dibandingkan dengan PNS di Pekanbaru. Jika studi ini didasarkan pada data kuantitaif semata. (iv) Peningkatan penghasilan tanpa disertai dengan syarat-syarat atau penjelasan tertentu (di Pekanbaru) menyebabkan lebih banyak ketidakpuasan.6. meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 49 . 6. Beberapa responden yang diwawancari di Gorontalo menyatakan bahwa beban kerja mereka lebih berat dari unit kerja yang lain sehingga seharusnya mereka dibayar lebih besar dibandingkan unit kerja lain yang beban kerjanya lebih ringan. menyadarkan PNS di Gorontalo akan tupoksi dan resiko pekerjaan yang ditangani setiap hari. Pengawasan akan kinerja yang ketat juga mengakibatkan untuk pekerja pada level bawah merasa beban pekerjaan mereka tidak jauh berbeda dengan beban kerja atasannya. Hal ini membuat PNS di Gorontalo membandingkan beban pekerjaan mereka dengan unit kerja yang lain. karena tidak memikirkan “jasa/kinerja apa yang telah diberikan” namun lebih memikirkan “berapa jumlah yang pantas diterima”. Profil Responden Responden yang dimaksud dalam studi ini adalah PNS di daerah studi yang menerima kebijakan pemberian tambahan penghasilan. mutasi yang biasa dilakukan untuk para pegawai dan pejabat menjadi lebih lancar dan tidak ada gejolak.di Gorontalo.

berpendidikan Tamat SD (72.7%). 50 meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan .Jumlah responden dari Gorontalo sebanyak 41 orang dan Pekanbaru 20 orang. Responden terbanyak adalah laki-laki (63. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam gambar.3%) dengan proposi usia terbesar 40-50 tahun ( 36.07%).

meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan VII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI .

.

studi ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi sekitar pencapaian tujuan. Untuk memudahkan maka rekomendasi dalam bab ini dirangkai dengan kesimpulan dan fakta yang dijumpai di lapangan dalam bentuk matriks sebagai berikut. meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 53 . ataupun efektivitas program. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Berdasarkan tujuan awalnya. variasi dampak.VII. perubahan yang terjadi.

54

meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan

Rekomendasi yang tidak selalu sama disampaikan dalam tindak lanjut pelaksanaan tambahan penghasilan di Pemerintahan Provinsi Gorontalo dan Pemerintah Kota Pekanbaru didasarkan pada kenyataan berbedanya latar belakang dan tujuan penerapan tambahan penghasilan di kedua pemerintah daerah tersebut. Namun demikian Komisi Pemberantasan Korupsi tetap mendukung upaya peningkatan tambahan penghasilan pegawai negeri sipil di daerah dengan cara-cara yang sah dan tidak melanggar hukum serta tidak melakukan pemborosan pada keuangan negara. Tulisan mengenai pelaksanaan tambahan penghasilan ini diharapkan memberi gambaran kepada pemerintah daerah lain meangenai pelaksanaan pemberian tambahan penghasilan kepada PNS terutama yang dilaksanakan di Pemprov. Gorontalo dan Pemko. Pekanbaru. Dengan mengetahui kelebihan dan kelemahan pelaksanaan tambahan penghasilan di dua pemerintah daerah tersebut, diharapkan dapat menyempurnakan pelaksanaan tambahan penghasilan bagi PNS di daerah lain yang tertarik melaksanakannya.

meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan

55

meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan LAMPIRAN .

.

(3) Pengembangan Kehutanan dan Perkebunan (Tanaman Jarak Pagar). kinerja tiap kepala daerah (camat dan lurah/kades) perlu dimonitor dengan baik. Salah satu cara untuk memonitor dan meningkatkan kinerja camat dan lurah/kades adalah dengan memberikan insentif berdasarkan prinsip Pay for performance (Tunjangan Kinerja). 32 tahun 2004. 3. Kepala Daerah (camat dan lurah/kades) mempunyai peran yang penting dalam menjamin keberhasilan program. Terdapat lima program pembangunan yang ditujukan bagi desa/kelurahan di Provinsi Gorontalo. APBD tahun 2007 sesuai Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo (PERDA) nomor 2 tahun 2007.Lampiran 1. yaitu: (1) Pengembangan Agropolitan Jagung. (2) Pengembangan Perikanan (Taksi Mina Bahari) dan Kelautan. Kepala Desa dan Lurah adalah tambahan penghasilan yang diberikan berdasarkan kinerja yang ditunjukkan dalam waktu tertentu. bermoralitas agama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia” Pemerintah Provinsi Gorontalo pada tahun 2007 melaksanakan berbagai program pembangunan yang tersebar ke seluruh desa dan kelurahan. Untuk itu. (4) Pengembangan Peternakan (Ternak Sapi) dan (5) Pembangunan Lingkungan Hidup (Adipura tingkat Kecamatan dan desa/kelurahan dan kebersihan Danau Limboto). pengendalian dampak lingkungan serta pelayanan dasar lainnya. Undang-Undang no. Peraturan Pemerintah Nomor 105 tahun 2000 tentang pengelolaan pertangung jawaban keuangan daerah. dalam hal ini setiap bulan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2. Lurah dan Kepala Desa Latar belakang Dalam mewujudkan visi dan tujuan Provinsi Gorontalo untuk mencapai “Masyarakat Provinsi Gorontalo yang mandiri. Penilaian Kinerja Camat. pasal 13 ayat 1 dan 2 mengenai kewenangan pemerintah daerah dalam perencanaan dan pengendalian pembangunan. berbudaya entrepeneur. Tunjangan Kinerja Daerah untuk camat. meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 59 . Dasar Hukum 1.

peternakan dan lingkungan hidup.Tujuan Tujuan dari diberikannya TKD bagi Camat dan Kepala Desa/Lurah adalah: 1. Membangun jejaring kerja pemerintah provinsi sampai pemerintah desa/kelurahan. Meningkatkan keselarasan pembangunan tingkat pemerintah provinsi sampai pemerintah desa/kelurahan. 3. Untuk tahun 2007. 60 meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan . 2. Meningkatkan keselarasan pembangunan tingkat provinsi sampai desa/ kelurahan Mekanisme Pemberian Tunjangan Kinerja Metode/Kriteria Penilaian Mengingat tujuan dari pemberian TKD ini adalah untuk peningkatan lima program pembangunan. Pengajuan kriteria wilayah dari kepala desa/lurah dibahas bersama Tim Teknis Provinsi. Insentif (TKD) untuk kepala desa/lurah diperoleh berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh Tim Teknis Provinsi terhadap keberhasilan daerah yang bersangkutan mencapai target yang ditetapkan sebelumnya oleh kepala desa/lurah bersama Tim Teknis. sebaran jumlah desa berdasarkan aspek/komoditas yang dimiliki adalah sebagai berikut. Kriteria akhir yang diperoleh adalah hasil kesepakatan antara kepala desa/lurah dengan Tim Teknis. Memacu percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan pertanian. maka tiap kepala desa/lurah diharuskan mengajukan kriteria wilayahnya sesuai dengan aspek/komoditas unggulan yang dimiliki. 4. perikanan.

Desa Padi 2. D esa Kebersihan 7. Desa Peternakan 6. kapasitas kepala desa/kelurahan. Desa rumput laut /perikanan 4.Desa Pembersihan enceng gondok 17 9 7 7 9 41 1 Ke delapan jenis desa/kelurahan tersebut dinilai menurut indikator dan kriteria nilai masing-masing yang telah ditentukan oleh balitbangda yang berkoordinasi dengan instansi terkait sebagai tim penilai. Penjelasan terperinci ditampilkan dalam tabel berikut. Gorontalo Boalemo Pohuwato Kab. meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 61 . dan tujuan program. Kota Bone Gorontalo Bolango 17 14 23 - 1 Desa Pertanian : 1. Kab. keterbatasan waktu penyusunan.Desa Jagung 5 3. Desa Peternakan Sapi 27 4 3 - 4. Kab.Desa Rumput Laut 5.Desa Budidaya perikanan 16 7 13 4 10 1 15 5 2 2 3. Kriteria disusun sesederhana mungkin dengan memperhatikan kapasitas monitoring.No Aspek/ Komoditas yang dinilai Jumlah Desa per Kabupaten/Kota Kab.Desa Jarak 50 1 18 3 38 21 36 2 2.Desa Kebersihan & RTH 8.

Perbandingan <20% 21-40% 41-60% 61-80% >80% Jagung potensi lahan potensi lahan potensi lahan potensi lahan potensi lahan potensi lahan (Nilai M ax: dan luas dimanfaatkan dimanfaatkan dimanfaatkan dimanfaatkan dimanfaatkan 15) pemanfaatan b.Pemeliharaan Tumbuh Liar Max: 10) Tanaman Ditanam Ditanam + Ditanam + tanpa pemeliharaan pembersihan pemeliharaan gulma gulma 4.Desa a. Frekuensi Penanaman 5. Produktivitas < 4 ton/ha 3. Persentase pengembalian kredit <20% 21-40% 41-60% 61-80% >80% potensi lahan potensi lahan potensi lahan potensi lahan potensi lahan dimanfaatkan dimanfaatkan dimanfaatkan dimanfaatkan dimanfaatkan 1x menanam per tahun < 5% nelayan <20% total kredit/bulan 2x menanam per tahun 5-25% nelayan 20-40% total kredit/bulan 1-2% dari populasi <25% ternak di kandangkan 3x menanam per tahun 25-50% nelayan 41-60% total kredit/bulan >2-3% dari populasi >25-50% ternak di kandangkan 4x menanam per tahun 50-75% nelayan 61-80% total kredit/bulan >3-4% dari populasi >50-75% ternak di kandangkan 3x sebulan minimal 2000 kg >4 menanam per tahun > 75% nelayan >80% total kredit/bulan >4% dari populasi >76-100% ternak di kandangkan 4 x sebulan minimal 2500 kg 6.80 Ha > 3x musim tanam per tahun 7 ton/ha 80 Ha Ditanam + pembersihan gulma + pemupukan c. Luas <20 Ha 2 Jarak Tanaman Jarak pagar (Nilai b. Frekuensi Penanaman 1x musim tanam per tahun 1x musim tanam per tahun 4-5 ton/ha 1.Desa a.Desa Ikan(Taksi MinaBahari / TMB) (Nilai M ax: 10) a. Teknik 100% Max=10) Pemeliharaam ternak dilepas/diikat 7. Jumlah nelayan peserta TMB b.Produktivitas < 1x musim tanam per tahun 3 ton/ha 1x musim tanam per tahun 3-4 ton/ha 2x musim tanam per tahun 4-5 ton/ha 2x musim tanam per tahun 5-6 ton/ha 3x musim tanam per tahun > 6 ton/ha 2.Desa a.Desa Pembersih an Enceng Gondok (Nilai max=5) Pembersihan 1 x sebulan Enceng Gondok minimal secara sukarela 500 kg di danau/ sungai 1 x sebulan 2 x sebulan minimal 1000 minimal kg 1000 kg 62 meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan .Frekuensi Penanaman c.Desa a.40 Ha 4 2x musim tanam per tahun 5-6 ton/ha 1.60 Ha 6 2x musim tanam per tahun 6-7 ton/ha 1. Luas Rumput Penanaman laut ( Nilai Max : 10) b.Desa a.Perbandingan <20% 21-40% 41-60% 61-80% >80% Padi potensi Lahan potensi lahan potensi lahan potensi lahan potensi lahan potensi lahan (Nilai M ax: dan luas dimanfaatkan dimanfaatkan dimanfaatkan dimanfaatkan dimanfaatkan 15) pemanfaatan b.NAMA DESA INDIKATOR Tidak Baik 1 KRITERIA NILAI Kurang Baik 2 Agak Baik 3 Baik 4 Sangat Baik 5 1.Pertambahan <1% Ternak Populasi dari populasi Sapi ( Nilai b.

Tempat sampah Tidak ada tempat sampah Tidak ada Ada.Pohon peneduh: sebaran dan fungsi 2. Indikator tersebut antara lain: LINGKUNGAN INDIKATOR KRITERIA NILAI Tidak Baik 1 Kurang Baik 2 Berserakan Agak Baik 3 Bertumpuk pada tempat tertentu Bertumpuk di sebagian kecil selokan dan menyumbat Ada di setengah (±50 %) lokasi Bertumpuk pada tempat tertentu Bertumpuk di sebagian kecil selokan dan menyumbat Baik 4 Sedikit Sangat Baik 5 Tidak ada sampah/ sangat bersih Tidak ada di seluruh lokasi 1. Sampah di saluran drainase Bertumpuk di sebagian besar selokan dan menyumbat Ada sedikit dan tidak menyumbat c.Untuk daerah perkotaan (41 desa/kelurahan di Gorontalo) yang dikategorikan sebagai desa kebersihan memiliki lebih banyak indikator untuk menilai lingkungan perumahan. jalan dan sekolah dengan nilai maksimal 45. JALAN a. nilai maksimal ini merupakan nilai yang dijadikan pembanding bagi skor TKD. sampah Tidak ada tertutup sampah/ sangat bersih Ada di tiga per empat (±75 %) lokasi Ada di seluruh lokasi b. Pohon peneduh: sebaran dan fungsi 3. Pohon peneduh: sebaran dan fungsi Tiap desa mempunyai nilai maksimal. SEKOLAH a. sampah Ada. PERUMAHAN a. Sampah Bertumpuk dan berserakan Bertumpuk di seluruh selokan dan menyumbat b. sampah Tidak ada sampah/ tertutup sangat bersih Ada di tiga per empat (±75 %) lokasi Ada di seluruh lokasi d. dengan rumus : Nilai Kerja (NK) = Total Skor yang diperoleh x 100 Total Skor maksimum Nilai Kinerja (NK) bervariasi antara 20-100 Nilai Kinerja (NK) bervariasi antara 20-100 meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 63 . tidak sampah berserakan berserakan Ada di seperempat (±25%) lokasi Ada di setengah (±50 %) lokasi Ada. sampah Ada. Sampah di saluran drainase Bertumpuk di sebagian besar selokan dan menyumbat Ada di seperempat (±25%) lokasi Berserakan Ada sedikit dan tidak menyumbat c. Tempat sampah Tidak ada tempat sampah Tidak ada Ada. tidak berserakan sampah berserakan Ada di seperempat (±25%) lokasi Ada di setengah (±50 %) lokasi Ada. Sampah Tidak ada Ada di tiga per empat (±75 %) lokasi Sedikit Ada di seluruh lokasi Bertumpuk dan berserakan Bertumpuk di seluruh selokan dan menyumbat Tidak ada sampah/ sangat bersih Tidak ada di seluruh lokasi b.

Mekanisme monitoring dan teknis penilaian adalah sebagai berikut: Kepala Desa/Lurah 1. Hasil penilaian diserahkan pada BPMD (badan Pemberdayaan Masyarakat Desa) Provinsi Gorontalo tanggal 26 bulan berjalan BPMD (Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa) Provinsi Gorontalo 1.000. Pembayaran Tunjangan Kinerja Daerah antara tanggal 1 s/d 5 per TRIWULAN 64 meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan . BPMD melaksanakan proses administrasi keuangan TKD Kepala Desa/Lurah pada tanggal 27-30 bulan berjalan 2. melalui telpon.000 . Laporan dapat disampaikan secara tertulis. Camat mensyahkan laporan lurah/kades dan mengirimkannya ke dinas/badan terkait.500. fax atau Asia 3.1.000 rupiah. Melakukan penilaian dan verifikasi lapangan terhadap laporan yg disampaikan kepala desa/lurah 2. Sedangkan Camat tiap bulannya memperoleh 300.Nilai kinerja inilah yang menentukan jumlah tunjangan kinerja yang diterima.000 rupiah.1. Proses penilaian dan verifikasi lapangan dilaksanakan mulai tanggal 21 s/d 25 bulan berjalan 3. Apabila tidak ada aktivitas atau nilai skor nol maka TKD tidak dibayarkan. Nilai minimum TKD yang diterima kepala desa/lurah per bulannya adalah 200. Laporan diterima oleh dinas terkait paling lambat tanggal 20 bulan berjalan Badan dan Dinas Penilai 1. Melaporkan perkembangan komoditas/aspek yang dinilai di daerah masing-masing pada dinas/badan terkait dan camat sesuai format 2.000 .

Kriteria Penflaian Kinerja untuk Pemberian TKD Pemerintah Provinsi Gorontalo Tahun 2007 Pada tahun 2007. Dengan kriteria tersebut. kriteria penilaian kinerja diperluas dengan tetap memperhatikan prinsip sederhana (simple). penilaian kinerja tahun 2007 didasari 2 aspek yaitu: (1) Disiplin dan (2) kinerja. dapat dibandingkan (comparable) dan obyektif (objective). 5000.3.1. Jenis Penilaian Eselon IIA Eselon II B Staf Indikator capalan Point Eselon Eselon III /PJB II /PJB Fungsion. III a-b Tenaga Kontrak Ket A.2. Tdk hadir dengan alasan ijin meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 1. Disiplin dalam kehadiran (15%) 1. Tiap aspek memiliki kriteria masing-masing yang dinilai dengan sistem poin.1. Tiap eselon/jenjang kepangkatan memiliki rentang jumlah poin yang berbeda. Tidak hadir dengan alasan cuti 65 . Tdk hadir tanpa keterangan 1.1. Aspek disiplin diberi bobot 30 persen dan kinerja 70 persen. Disiplin (30%) 1. Tiap poin bernilai Rp. Ketaatan Terhadap jam kerja 0 hari kerja 1-3 hari kerja > 3 hari kerja 0 hari kerja 1-5 hari kerja > 5 hari kerja 0 hari kerja 1-6 hari kerja 7-12 hari kerja > 12 hari kerja 5 25 15 5 20 5 20 25 15 0 25 15 0 25 20 10 0 20 10 0 10 5 0 20 10 5 0 10 5 0 10 5 0 20 10 5 0 7 4 0 7 4 0 10 7 5 0 5 3 0 5 3 0 5 4 3 0 Daftar Absensi Daftar Absensi Daftar Absensi 1.Lampiran 2. Dalam tabel berikut digambarkan jenis penilaian dan penghargaan dalam bentuk poin TKD sesuai dengan jenjang kepangkatannya.Fungsional Gol.-. semakin tinggi jabatan semakin besar rentang poinnya.1. terukur (measurable). IV/ al Gol.1.

Pejabat lin hilang lin hilang lin hilang lin hilang hilang lin hilang Berwenang 0 kali 4 0 30 10 10 5 5 Teguran ≥ 1 kali Poin TKD Poin TKD Poin TKD Poin TKD Poin TKD Poin TKD tertulis dari dari disip. IV/ al Gol.2. Tidak berada ditempat pada jam kerja 1.dari disip. Dikenai sanksi hukuman disiplin ringan 2.Pelanggaran terhadap Peraturan SKPD . Cepat pulang/tdk ikut apel sore c. Dikenai sanksi hukuman disiplin ringan 2.Pejabat lin hilang lin hilang lin hilang lin hilang hilang lin hilang Berwenang Jenis Penilaian Indikator capalan meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan 1.dari disiplin dari disip.2. Kumulatif dari a.1. Tidak senam tanpa alasan rasional 2.66 Eselon IIA Eselon II B Ket Point Eselon Eselon III /PJB II /PJB Fungsion.dari disip.dari disiplin dari disip. Terlambat datang/tidak ikut apel pagi b.2.1. Tidak hadir pd kegiatan kenegaraan/rapat koordinasi 1. 2.1.dari disip.1.4.1. III a-b Staf Tenaga Kontrak 0 kali 4 5 kali 6-10 kali 1 > 10 kali 0 5 0 10 0 5 0 5 0 4 0 5 25 25 20 20 10 10 7 8 6 5 4 3 0 Daftar Absensi 0 kali 4 1-5 kali 2 > 5 kali 0 kali 4 1-2 kali 2 > 2 kali 5 0 0 5 0 0 25 15 0 25 15 0 20 10 0 10 5 0 10 5 0 10 5 0 7 4 0 8 4 0 5 3 0 5 3 0 Daftar Absensi Daftar Absensi 0 kali 4 ≥ 1 kali 0 30 10 10 5 5 Teguran Poin TKD Poin TKD Poin TKD Poin TKD Poin TKD Poin TKD tertulis dari dari disip.dari disip.2. Kegiatan Kedinasan resmi 1. Pelanggaran thd PP 30/1980 2.2.dari disip.Fungsional Gol.dari disip.1. Penataan Terhadap Peraturan (15%) 2.

Inovasi Min : Sangat tidak bersedia meluangkan waktu untuk kepentingan unit kerja diluar jadwal kerja = 0-59 Max: Pengabdian. Max: kepernimpinannya patut diteladani dan sulit dicari dgn kualitas yang sama = 125-150 Nilai max 390 Nilai max 240 Nilai max 150 Nilai max 90 Nilai max 60 Nilai max 45 Nilai max 90 Nilai max 60 Nilai max 45 67 .Jenis Penilaian Eselon Eselon II /PJB Eselon IIA Eselon II B III /PJB Fungsion. Penilaian Prestasi (30%) 0 kali > 1 kali 1. pikiran & perasaan pada unit kerja sgt luar biasa=125-15 Nilai max 130 Nilai max 80 Nilai max 50 Nilai max 30 Nilai max 20 Nilai max 15 meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan Kernampuan Managerial (10%) Min : Sangat tidak punya keinginan untuk menyelesaikan pekerjaan meski telah dibantu / diarahkan =0-5 Max : Dapat menciptakan ide.Nilai max 130 150 Min : Sangat tidak akurat (hasil kurang 60% benar) = 0-59. Loyalitas 2. Ketelitian dan keakuratan menyelesaikan pekerjaan Min : Selalu gagal mencapai target (target dibawah 60%) = 0-59.2. metod alat & pengetahuan baru untuk kemajuan org / unit kerja sgt=125-15 Nilai max 390 Nilai max 240 Nilai max 150 Min : Tidak dapat menjalin hubungan kerja.disiplin berat) B.1.Fungsional Gol. Mendapat hukuman disiplin atas pelanggaran ketentuan dari pimpinan SKPD (huk. Kualitas clan kecepatan menyelesaikan pekerjaan Nilai max 80 Nilai max 80 Nilai max 50 Nilai max 30 Nilai max 50 Nilai max 30 Nilai max 20 Nilai max 20 Nilai max 15 Nilai max 15 1. 1. Inovasi (30%) 2.2. tidak dapat menerima pendapat atau keputusan yang bertentang an dengan pendapatnya=0-59. Penlialan Kinerja (70%) 1. Nilai max 130 Max: Luar biasa teliti=125-150 1. IV/ al Gol. III a-b Staf Tenaga Kontrak Ket 5 40 30 20 10 Poin TKD dr Poin TKD dr Poin TKD dr Poin TKD dr Poin TKD dr disiplin hilang disiplin hilang disiplin hilang disiplin hilang disiplin hilang Nilai max 390 Nilai max 240 Nilai max 150 Nilai max 90 Nilai max 60 5 Poin TKD dr Teguran tertulis disiplin hilang dari pejabat berwenang Nilai max 45 Indikator capalan Point 2.3. Max: Luar biasa produktif=125.1.

327. Jumlah dan Sebaran Serapan Anggaran untuk tiap Unit Kerja di Provinsi Gorontalo NO NAMA INSTANSI 1 Badan Kepegawaian Daerah dan Diklat 2 Badan Keuangan 3 Badan Pengawas Daerah 4 Badan Perencanaan Pernbangunan dan Percepatan 5 Badan Perwakilan Jakarta 6 Sekertariat DPRD 7 Sekertariat Daerah 8 Badan Kesatuan Bangsa dan Politik 9 Dinas Kehutanan dan Perkebunan 10 Dinas Perhubungan.248.000 645.000.000 2.000.317.000 1.361.000 1.000 1.377.500.000 1.000 462.274.675. Hewan dan Ternak 19 Badan Litbang & Pengendalian Dampak Lingkungan 20 Dinas RJ dan Kimpraswil 21 Dinas Kesehatan 22 Dinas Badan Layanan Kesehatan Mandiri 23 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan 24 Balai Pengembangan Kegiatan Belajar 25 Badan Pemberdayaan Masyarakat 26 Dinas Kesejahteraan Sosial Total Anggaran ANGGARAN 2006 1.317.000 963.81 82.000 1.269.13 77.336.000.200.29 70.662.015 REALISASI 2006 1.362.000 666.500.68 69 77.109.77 85.000.52 80.204.000 924.020.910.108.158.500.787.500.000.456.000 846.000.500 5.72 78.500 989.000 972.767.000 777.785.000.000.000 1.877.000 6.000 753.000 657.99 58.650.015 718.000 807.000 441.24 1.000 333.000 615.000 33.500 539.000.637.000.125 243. Transmigrasi dan Koperasi 17 Kantor Pengawasan dan Sertifikasi Benih 18 Kantor Perlindungan Tanaman.000.400.000 804.000 2.500.400 1.000 963.0001 1.500 2.171.000 963.205.000.000 339.000.97 79.000 2.000 1.575.450.000 1.750.46 82.52 68.000 929. Perdagangan dan Penanaman Modal 13 Dinas Pertarnbangan & Energi 14 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan 15 Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan 16 Dinas Tenaga Kerja.669.500 734.000.000 380.000 1.000 885.000.000 843.000.400.750.000.986.000.250.866.000.500 1.56 88.000.82 82.375.Lampiran 3.57 71.8 76.000 1.750.150.000 510.500 485.406.050.500 773.000 288.712.000 1. Postel dan Pariwisata 11 Dinas Perikanan dan Kelautan 12 Dinas Perindustrian.000 975.725.127.0001 958.000.005.000 2.500 660.500 740.000.068.226.889.000.000 402.397.000.000 412.47 75.000 833.650.11 80.250.000 981.500.167.887.037.000.000 370.13 80.500 172.491.22 76.000.500.650 REALISASI TKD 2006 % ANGGARAN 2007 1.000.375.000 95.000.625 638.000.842.84 89.838.21 73.000 2.000 226.04 80.512.000.000 1.21 73.000.502.000 565.750.662.19 75.924.401.313.000 1.73 65.250 831.000 1.000.500.500.500 695.000 10.000 68 meningkatkan kinerja pns melalui perbaikan penghasilan .206.025.250 25.500.287.000 762.000 611.000.000 35.136.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful