P. 1
Jurnal ROE - ROA

Jurnal ROE - ROA

|Views: 674|Likes:
Published by Vera Kana Syibil

More info:

Published by: Vera Kana Syibil on Jul 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/22/2014

pdf

text

original

PENGARUH DEBT TO EQUITY RATIO, CURRENT RATIO DAN TOTAL ASSET TURNOVER RATIO TERHADAP RETURN ON EQUITY (STUDI

KASUS PADA PERUM PEGADAIAN)
Sofia Maulida Dosen Jurusan Akuntansi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bisnis Indonesia Ikhwan Ashadi Alumni Pasca Sarjana Magister Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bisnis Indonesia

ABSTRAK : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh rasio DER, CR dan TATO terhadap kinerja keuangan ROE Perum Pegadaian selama Periode 1998-2007. Data-data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari kantor Pusat Perum Pegadaian Pusat Jakarta, dan sumber informasi lainnya media elektronik dan media massa lainnya Untuk mencapai tujuan penelitian digunakan analisa regresi linier berganda dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil pene1itian menunjukkan bahwa tingkat leverage, likuiditas, dan aktivitas mempunyai pengaruh terhadap kinerja keuangan Perum Pegadaian secara bersama-sama sebesar 69,60% sedangkan sisanya sebesar 31,40% dipengaruhi oleh variabellain diluar variabel tersebut diatas. Secara parsial ketiga rasio keuangan (DER, CR dan TATO) mempunyai pengaruh siginifikan terhadap kinerja . keuangan (ROE) Perum Pegadaian. Kata Kunci : Debt to equity ratio, Current ratio, Total assets turnover ratio, dan Return on equity ABSTRACK: The aim of this study is to know the influence of Increasing Leverage, Likuidity and Activity to the Performance of Finance Statement The Pawning Company in the period of 1998-2007 in order to be Go Public. The data that used in this study collected from The Pawning Company Office in Jl Kramat Raya, Jakarta. The other sources of information were come from The Website of The Pawning Company, other electronic media and also from the mass media for the period of 19982007. The data in this study was analyzed with Multiple Linear Regression with Classic Assumption Test, Determination Coefficient Test, TTest in the Confident Interval of95%. The results showed that the Long Term Credits, Short Term Credits and Equity have influence to the profitability offinance outcome. The Pawning Company in the period of 1998-2007 of 0.887 or 88.7%, while the rest 22.2% was influenced by the other variables. In partial, the Leverage have the influence with profitability offinance outcome while the Liquidity and Activity didn't give the influence in increasing the profitability offinance outcome of the Pawning Company. Key W01'ds: Debt to equity ratio, Current ratio, Total assets turnover ratio, and Return on equity

79

1. PENDAHULUAN Produk Perum Pegadaian berupa Kredit Gadai/ Kredit Cepat Aman (KCA) mengalami peningkatan dalam menyalurkan uang pinjamannya dalam 10 (sepuluh) tahun terakhir, Dari Rp. 3.122.553 juta tahun 1998 menjadi Rp. 20.9911.058 juta tahun 2007 atau meningkat 24.11% (Gambar 1.1). Peningkatan yang cukup tajam ini disebabkan semakin banyaknya masyarakat yang memanfaatkan jasa Perum Pegadaian seiring dengan pembenahan internal perusahaan yang dilaksanakan secara terns menerus dalam rangka peningkatan pelayanan. Dad Jumlah Pinjaman yang diberikan diatas menghasilkan outstanding I sisa pinjaman yang diberikan (pinjaman yang be1um dilunasi) yang jumlahnya meningkat 25.47% setiap tahun yaitu dati Rp. 787.805 juta tahun 1998 menjadi Rp. 5.572.744 juta tahu1l2007.
Perkembangan
Perkembangan

Gambar 1.1 Jumlah Pinjaman Yang diberikan Bisnis Inti
Jumlah Pinjaman Yang Oiberikan Blsnls Inti (KCA) Selama Tahun 1998·2007

o UP. Gol PJ A. o UP. Gal o UP. Gal

Class Loan

III UP. Gal BI B. Class Loa CI C Class Loan 01 0 Class Loan

1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 20052006 2007

Memperhatikan data terse but di atas, diketahui bahwa secara keseluruhan selama kurun waktu 1998 2007 beberapa indikator menunjukkan kinerja yang baik, akan tetapi dari tahun 1998 - 2007 terdapat kecenderungan peningkatan hutangjangka pendek maupun hutangjangka panjang yang berdampak positifterhadap kinerja keuangan dari aspekProfitabilitas / rentabilitas. Jumlah Aktiva 10 (sepuluh) tahun terakhir mengalami peningkatan dati Rp, 1.215.463 juta tahun 1998 menjadi Rp. 7.372.065 juta tahun 2007 atau meningkatkan rata-rata 22,92%. Secara nominal kenaikan aktiva terbesar pada aktiva lancar yaitu sisa uang pinjaman yang diberikan. Sejalan dengan meningkatnya aktiva yang sebagian besar didanai pinjaman dari pihak ketiga, maka jumlah kewajiban mengalami peningkatan dari Rp. 841.127 juta tahun 1998 menjadi Rp. 5.880.251 juta tahun 2007 atau meningkat rata-rata 25,44%. Ekuitas mengalami peningkatan dari Rp. 374.325 juta tahun 1998 menjadi Rp. 1.491.804 juta tahun 2007 atau rata-rata meningkat 16,98% yang disebabkan oleh adanya peningkatan perolehan laba selama 10 (sepuluh) tahun terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa sukses perusahaan dapat diukur dari suksesnya memproduksi jasa sehingga jasa yang diproduksi pada akhirnya akan dapat meningkatkan hasil operasi perusahaan tersebut. Terdapat banyak kriteria yang dapat digunakan sebagai variabel penilaian hasil operasi perusahaan diantaranya perubahan volume dan omzet penjualan, tingkat laba kotor, laba bersih. Akan tetapi kriteria tersebut tidak terlepas dari besar kecilnya jumlah investasi dan sumber permodalan yang digunakan untuk merealisasikan laba tersebut. Mengingat luasnya lingkup pennasalahan terkait dengan faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan yang dilihat dari pencapaian return on equity pada Perum Pegadaian, maka dalam penelitian ini dibatasi pada analisis faktor leverage, likuiditas dan aktivitas yang mempengaruhi kinerja keuangan. Berdasarkan pada uraian-uraian di atas, maka masalah pokok yang diidentifikasi dalam penelitian ini adalah: 1. Berapa besar tingkat pengaruh variabel debt to equity ratio, current

80

ratio dan total asset turnovers terhadap kinerja keuangan perusahaan yang dilihat dari return on equity, secara bersama-sama? 2. Berapa besar tingkat pengaruh variabel debt to equity ratio, current ratio dan total asset turnovers terhadap kinerja keuangan perusahaan yang dilihat dari return on equitysecara parsial? 2. KERANGKA TEORITIS 2.1. Rasio Keuangan dan Pengukurannya Analisa rasio adalah suatu alat analisis yang penting untuk dipakai mengintepretasikan posisi keuangan suatu perusahaan, apakah suatu perusahaan itu posisi keuangannya baik, atau buruk. Rasia akan memberikan gambaran keadaan keuangan yang lebih baik apabila dibandingkan dengan tahuntahun sebelumnya, atau rasio rata-rata dari perusahaan yang sejenis. Pada umumnya berbagai rasio yang dihitung bisa dikelompokkan kedalam 4 (empat) tipe dasar, yaitu : 1. Rasia likuiditas, yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finnansial jangka pendeknya. 2. Rasia leverage, yang mengukur seberapa j auh perusahaan dibelanjai dengan hutang. 3. Rasia aktivitas, yang mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan sumber daya, 4. Rasia profitabilitas, yang mengukur efktifitas manajemen secara keseluruhan sebagaimana ditunjukkan dari keuntungan yang diperoleh dari penjualan dan investasi, Di dalam penulisan ini, digunakan dua analisa ratio yaitu analisa ratio debt to equity, current ratio dan total assets turnover yang diduga mempengaruhi tingkat ratio profitabilitas yang diukur melalui return on equity. Sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitan agar lebih terarah dan mudah dalam menganalisa laporan keuangan suatu perusahaan. 2.2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Rasio Keuangan Diluar aktivitas operasi internal yang mempengaruhi rasio perusahaan, kita harus menyadari dampak peristiwa ekonomi, faktor industri, kebijakan manajemen, dan metode akuntansi. Sebelum menghitung rasio, atau ukuran yang sejenis seperti indeks tren dan hubungan persentase, kita gunakan analisis akuntansi untuk meyakinkan angka yang menjadi dasar perhitungan rasio sudah tepat. Sebagai contoh.jika persediaan dinilai dengan LIFO danharga naik, rasio lancar menjadi lebih rendah dari seharusnya (understated) karena persediaan LIFO (pembilang) dinyatakan terlalu rendah, Sarna halnya dengan kewajiban pensiun tertentu yang sering tidak disajikan melainkan hanya diungkapkan dalam catatan. Analisis biasanya ingin mengakui kewajiban pensiun saat menghitung rasio seperti rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity). Harus diakui bahwa penyesuain untuk satu rasio harus diterapkan secara konsisten untuk rasio lainnya Sebagai contoh, penghilangan kewaj iban pensiun berarti beban pensiun dilaporkan terlalu rendah. Dengan demikian, dalam perhitungan rasio, angka laba bersih sering memerlukan penyesuaian saat aktiva atau kewaj iban disesuaikan. Selain itu, juga harus ingat bahwa kegunaan rasio tergantung pada kehandalan angkanya. Jika pengendalian akuntansi internal perusahaan atau tata laksana lainnya dan mekanisme pengawasan kurang andal untuk menghasilkan angka yang tepat dipertanggungj awabkan, maka hasil rasio juga kurang andal. 2.3. Interpretasi Rasio secara U mum Rasia harus diinterpretasikan dengan hati-hati karena faktor-faktor yang mempengaruhi pembilang dapat berkorelasi dengan faktor-faktor yang mempengaruhi penyebut. Sebagai contoh, perusahaan dapat memperbaiki rasio beban operasi terhadap pejualan dengan mengurangi biaya yang menstimulasi penjualan (misalnya, penelitian dan pengembangan). Penguranganjenis biaya seperti

81

ini kemungkinan berakibat penurunan penjualan atau pangsa pasar jangka panjang. Dengan demikian, profitabilitas yang tampaknya membaik dalam jangka pendek dapat merusak prospek perusahaan di masa depan. Oleh karena itu harus menginterpretasikan perubahan tersebut dengan tepat. Banyak rasio memiliki variabel penting yang sama dengan rasio lainnya. Dengan demikian tidaklah perlu untuk menghitung semua rasio yang mungkin untuk menganalisis sebuah situasi. Rasia, seperti sebagian besar teknik analisis keuangan, tidak relevan dalam isolasi. Rasia bermanfaat hila diinterpretasikan dalam perbandingan dengan (1) rasio tahun sebelumnya, (2) standard yang ditentukan sebelumnya, (3) rasio pesaing. Pada akhimya, variabelitas rasio sepanjang waktu sering sama pentingnya dengan trennya. Rasia menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan (mathematical relationship) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah lain, dan dengan menggunakan alat analisa berupa rasio ini akan memberikan gambaran tentang baik atau buruknya kinerj a keuangan suatu perusahaan. Penggolongan angka rasio dapat ditinjau dari dua sisi yaitu berdasarkan sumber data keuangan yang merupakan unsur atau elemen dari angka ratio tersebut dan penggolongan yang kedua adalah didasarkan pada tujuan penganalisa. Berdasarkan sumber datanya maka angka ratio terdiri dari : rasio-rasio neraca (balance sheet ratios) yaitu rasio yang semua datanya diambil atau bersumber dari neraca, rasio-rasio laporan rugi-laba (income statement ratio) yaitu angka-angka rasio yang semua datanya diambil dari laporan rugi-Iaba, rasio-rasio antar laporan (interstatement ratios), yaitu semua angka rasio yang datanya berasal dari neraca dan data lainnya dari laparan rug ilaba. Sedangkan menurut tujuannya, rasio keuangan khususnya perusahaan dikelampokkan menjadi lima kategori sebagai berikut ; (1) Rasio-rasio untuk mengukur likuiditas (liquidity ratios) , (2) rasio-rasio untuk mengukur Profitabilitas dan Rentabilitas (profitability ratios), (3) rasio-rasio aktivitas (activity ratios), (4) rasio-rasio Permodalan/ solvabilitas (leverage atau solvency ratios), (5) Rasio-Rasia Investasi (investment ratios). Rasia likuiditas (liquidity ratio) adalah rasio yang menunjukkan tingkat kemudahan relatif suatu aktiva untuk segera dikanversikan ke dalam kas dengan sedikit atau tanpa penurunan nilai, serta tingkat kepastian tentang jumlah kas yang dapat diperoleh. Rasio-rasio yang tergolong dalam rasio likuiditas ini adalah current ratio, quick ratio dan cash ratio. masing-masing rasio ini mempunyai perspektifyang berbeda dalam mengukur tingkat likuiditas perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Current ratio untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan asumsi bahwa semua aktiva lancamya dikonversi menjadi kas, Quick ratio/acid test ratio mempunyai tujuan yang sama dengan current ratio, akan tetapi dalam perspektif yang lebih cepat yakni rasio ini tidak memperhitungkan persediaan, karen a memerlukan waktu yang relatif'lama untuk dikanversi menjadi uang kas. Sehingga dengan demikian rasia ini lebih tajam dari current ratio. Cash ratio digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan memperhitungkan aktiva yang paling Iikuid. Rasia profitabilitas atau rentabilitas (profitability ratio), digunakan untuk mengukur efektivitas manajemen dalam mengelola perusahaan. Efektivitas yang dimaksud adalah meliputi kegiatan fungsianal manajemen yang terdiri dari keuangan, pemasaran, sumber daya manusia dan operasional. Efektivitas pada faktor terse but akan menyebabkan peningkatan atau penurunan laba bagi perusahaan. Yang tergolong dalam rasio ini adalah: (1) Net Profit Margin (NPMj, (2) Return on Investment (ROI), (3) Return on Equity (ROE). Penurunan laba yang berlangsung terns menerus akan mengarah pada kebangkrutan perusahaan. Terdapat beberapa macam rasio keuangan dalam melakukan pengukuran kinerja keuangan perusahaan. Seperti yang telah dijelaskan secara ringkas tersebut di atas, dalam penelitian ini, sesuai

82

dengan permasalahan dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian, maka rasio-rasio keuangan yang akan dianalisis dijabarkan secara ringkas di bawah ini. 2.4. Return On Equity (ROE) Rasia profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dengan menggunakan sejumlah modal tertentu, penjualan, asset, maupun laba modal sendiri. Rasia ini digunakan mengukur keuntungan yang diperoleh dari modal-modal yang digunakan untuk operasi perusahaan. Dengan demikian bagi investor jangka panjang sangat berkepentingan dengan penilaian rentabilitas suatu perusahaan. Rasio ini bemacam-macam tergantung laba dan aktiva yang dibandingkan. Dalam penelitian ini rentabilitas yang dihitung adalah return on equity. Rentabilitas modal sendiri menunjukkan kemampuan modal sendiri untuk menghasilkan laba bagi pemegang saham, baik saham preferen maupun saham biasa. Rentabilitas modal sendiri sering disebut rentabilitas usaha adalah perbandingan jumlah modal yang tersedia oleh pemilik modal sendiri yang menghasilkan laba. Untuk rasio ini merupakan cara lain untuk mengukur laba yang diperhitungkan dalam rentabilitas modal sendiri adalah laba yang telah dikurangi modal asing dan pajak peseroaan atau income tax (earning after tax atau EAT), sedangkan modal yang diperhitungkan hanyalah modal sendiri yang ada dalam perusahaan. Rumus untukmenghitung besarnya rasio ini, adalah: EAT Rentabilitas Modal Sendiri (return on equity)
=

x 100 % Modal Sendiri

Perusahaan yang memiliki rentabilitas modal sendiri yang rendah menunjukkan perusahaan tidak begitu efisien den efektif dalam kegiatan operasi perusahaan, dimana kondisi umur perusahaan tidak menguntungkan. Sedangkan rasio yang tinggi di dalam perusahaan akan menunjukkan adanya manajemen yang efisien melalui organisasi perusahaan, kondisi umum perusahaan meuguntungkan. 2.5. RasioDER Rasia ini mengukur sebarapa jauh perusahaan dibelanjai oleh pihak kreditur, makin tinggi rasio ini berarti makin besar dana yang diambil dari pihak luar. Bila ditinjau dan segi solvabilitas, semakin tinggi rasio ini semakin tidak baik, karena apabila terjadi likuidasi, perusahaan akan rnengalami kesukaran. Rumus untuk menghitung besamya rasio tersebut, yaitu: Total Hutang Total Debt to Total Equity

=
Modal Sendiri

X 100%

Rasio total debt to total equity mencoba menunjukkan jumlah pendanaan yang disediakan oleh sumber - sumber lain selain pemegang saham. Semakin tinggi yang diungkapkan rasio ini, semakin tinggi pula risiko bagi mereka yang meminjamkan uangnya kepada perusahaan, Jika angka ini sampai seratus persen, berarti mereka yang meminjamkan uangnya kepada perusahaan mengambil lebih banyak risiko daripada pemilik perusahaan, dan kebanyakan bank atau kreditor tidak menyukai situasi seperti ini. (GaskingT, 1997: 18)

83

2.6. Current Ratio (CR) Likuiditas merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek tepat pada waktunya. Perusahaan dikatakan likuid, kalau perusahaan mampu menjaga keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran uang, sehingga perusahaan selalu dapat memenuhi kewajiban-kewajiban membayar tepat pada waktunya. (Slot R dan Miimar OH, 1995 : 293). Kemampuan perusahaan membayar hutang jangka pendeknya adalah penting dalam menilai posisi keuangan perusahaan. Posisi keuangan perusahaan dikatakan likuid apabila perusahaan mempunyai aktiva lancar yang lebih besar daripada hutang jangka pendek, sedangkan perusahaan dikatakan likuid, apabila perusahaan berada dalam keadaan tidak mempunyai kemampuan membayar hutang jangka pendek dengan menggunakan aktiva lancar yang ada dalam perusahaan. Untuk menilai keadaan tersebut ada beberapa rasio yang digunakan sebagai alat untuk menganalisis, dengan menghitung besamya Current ratio.Munawir (1996 : 72), menyataan bahwa : rasio yang paling urnurn digunakan untuk menganalisis posisi modal kerja suatu perusahaan adalah current ratio, yaitu perbandingan antara jumlah aktiva lancar dengan hutang lancar. Rumus untuk menghitung besamya rasio CR, adalah: Aktiva Lancar Current Ratio

=
Hutan Lancar

XIOO%

Current ratio ini menganalisis kemampuan perusahaan untuk membayar hutang yang harns segera dipenuhi dengan aktiva lancar. Rasio ini menggunakan standar normal dua banding satu, yang artinya disarankan untuk paling sedikit mempunyai aktiva lancar dua kali lebih banyak daripada hutang jangka panjang tetapi jangan terlalu tinggi kerena kurang baik terhadap erning power dan makin tinggi rasio ini berarti tidak semua modal kerj a digunakan. Perusahaan yang mempunyai current ratio tinggi belum tentu menjarnin dapat di bayamya hutangjangka pendek perusahaan yang sudahjatuh tempo, karena distribusi dari aktiva lancar yang tidak menguntungkan, antara lain: a. Jumlah persediaan yang relatif tinggi dibandingkan dengan taksiran persediaan yang akan mengakibatkan persediaan menumpuk. b. Jumlah piutangterlalu besar yang mungkin sulit ditagih. 2.7. RasioTATO Rasio ini merupakan rasio aktivitas yang mengukur tingkat aktivitas perusahaan dalam memanfaatkan surnber-surnber daya yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Rasio-rasio ini menyangkut perbandingan antara penjualan dengan berbagai investasi dalam aktiva. Rasio-rasio aktivitas ini dianggap bahwa suatu perbandingan yang layak barns ada, antara penjualan dan berbagai aktiva tersebut, seperti persediaan, piutang, aktiva tetap, dan lainnya. (Suad Husnan, 1989: 59). Dalam rasio aktivitas tingkat penjualan dibandingkan investasi dalam jumlah berbagai rekening aktiva. Dalam hal ini akan dihitung adalah total assets turnover (TATO). Rasio TATO ini menunjukkan bagaimana efektivitas perusahaan menggunakan keseluruhan aktiva untuk menciptakan penjualan dan mendapatkan laba. Tingkat perputaran ini juga ditentukan oleh perputaran elemen aktiva itu sendiri. Rumus untuk menghitung besarnya rasio TATO, adalah: Penjualan Total asset Tumover
=

Total Aktiva

84

3. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan mengunakan desain survei untuk memperoleh inforrnasi tentang masalah yang berkaitan dengan Analisis Pengaruh Debt to equity, Current ratio, dan Total assets turnover terhadap Return on equity (Studi Kasus Perum Pegadaian). Dalam pelaksanaannya dilakukan dalam bentuk penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif yang menggunakan data historis berupa laporan keuangan periode tahun 1998 sampai dengan 2007. 3.1. Sampel Penelitlan Sampel penelitian ini adalah kinerja keuagan Perum Pegadaian berupa rasio-rasio keuangan dinyatakan dalam Laporan Keuangan Manajemen Perum Pegadaian dengan ROE, DER, CR, dan TATO periode laporan keuangan 10 tahun mulai Januari 1998 sampai dengan Desember 2007. Input data yang digunakan disusun secara kwartalan periode Januari 1998 sampai dengan Desember 2007, sehingga jumlah sampel yang digunakan sebanyak 40 data. 3.2. Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini sepenuhnya menggunakan data sekunder, berupa laporan keuangan perusahaan Perum Pegadaian periode tahun 1998 sampai dengan tahun 2007 yang dihitung rasio-rasionya dalam bentuk kwartalan. Data sekunder berupa laporan keuangan yang diperoleh dari Perum Pegadaian dan telah diperiksa olehAkuntan Publik dengan pendapat wajar tanpa pengecualian. 3.3. Deflnisi Operasional Varia bel Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan sebelurnnya, maka dapat dikemukakan bahwa kinerja keuangan Perum Pegadaian berdasarkan Laporan Tahunan Perum Pegadaian Tahun 2007 dapat dipengaruhi oleh faktor baik internal maupun eksternal, dari faktor- faktor tersebut bila diidentifikasi lebih jauh maka terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan Perum Pegadaian, akan tetapi sesuai dengan uraian pada perumusan masalah dan hipotesis yang telah dikemukakan sebelumnya, maka beberapa faktor tersebut dapat diidentifikasi kedalam variabelvariabel penelitian sebabagai berikut: 1. Dependent Variabel (variabel terikat), yaitu kinerja keuangan Perum Pegadaian yang ditunjukkan oleh tingkat ROE 2. Independent variabel (variabel bebas), yaitu leverage, likuditas, aktivitas Perum Pegadaian Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka identifikasi variabel dapat ditunjukkan sebagai berikut: a) Kinerja keuangan (ROE) dinyatakan dengan Y, yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kinerja keuangan Perurn Pegadaian yang ditunjukkan dengan tingkat perolehan laba (profitabilitas/rentabilitas) pada Laporan Tahunan 1998- 2007, maka terkait Return on Equity tahun 1998 -2007 dengan sebaran data penelitian rasio kwartalan selama 10 tahun (n = 40). Pemilihan indikator kinerja keuangan berupa kemapulabaan ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa bobot maksimum dari kedua indikator kinerja keuangan tersebut sebesar 35 Point (50%) dari bobot kinerja keuangan standar BUMN Non-Infrastruktur, b) Leverage (Debt to equity ratio) (XI) adalah kemampuan perusahaan menggunakan utang untuk membiayai investasi oleh Perum Pegadaian periode 1998 - 2007 (10 tahun), yang dihitung dalam kwartalan sehingga jumlah data sebanyak 40 data. c) Likuditas (current ratio) (X2) adalah kernarnpuan perusahaan memenuhi sernua kewajibannya yang jatuh tempo oleh Perum Pegadaian peri ode 1998 - 2007 (10 tahun) yang dihitung dalarn kwartalan sehingga jumlah data sebanyak 40.

85

d)

Aktivitas yaitu total assets turnover (Xj) adalah kemampuan manajemen mengoptimalkan harta untuk memperoleh pendapatan oleh Perum Pegadaian periode 1998 - 2007 (10 tahun), yang dihitung dalam kwartalan sehingga data berjumlah 40 data.

3.4. TeknikAnalisis Data 3.4.1. Analisis Regresi Berganda Dalam penelitian ini digunakan analisis regresi berganda, ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran tentang kinerja keuangan Perum Pegadaian secara keseluruhan. Untuk melakukan pengujian hipotesis penelitian yang telah diajukan sebelumnya digunakan model regresi berganda (multiple regression), dengan persamaan (Sritua Arief: 1993) sebagai berikut: y=

a+~

IXI +13 2X2 +13 3X3 + E i Dimana: Y = Return on equity XI= Debt to equity ratio X~=Current ratio X3= total asset turn over ei = Paramater konstanta a = Kesalahan random

3.4.2. Pengujian Asumsi Regresi Digunakan analisis regresi terhadap tiga variabe1 independen XI' X2, X3, yang diduga berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan Perum Pegadaian. Model analisis yang digunakan dalam pene1itian ini secara teoritis akan menghasilkan nilai parameter model penduga yang sahih bila dipakai asumsi klasik. Karena model analisis regresi linier berganda maka estimasi yang digunakan adalah Metode Kuadrat Terkecil Biasa (Ordinary Leas Squares OLS) yang mempunyai sifat BLUE (Best, Liner, Unbiased, Elimation). Asumsi klasik tesebut menurut Gujarati (1999) alih bahasa Surnamo Zain, terdiri dari : Autokorelasi, Multikolinieritas, Heteroskedastisitas dan yang dapat dijelaskan sebagai berikut : a) Autokorelasi Autokorelasi menurut Gujarati (1999:201) dapat didefinisikan sebagai korelasi antara angota serangkaian observasi yang diurut menurut waktu (seperti data dalam deretan waktu) atau ruang (seperti data dalam cross-sectional). Akan tatapi biasanya autokorelasi banyak terjdi pada data time series. Uji yang menunjukkan bahwa varian residual tidak saling berpengaruh, kemungkinan ini bisa dilihat dari nilai Durbin Watson (DW). Apabila nilai DW_hitung besar lebih dari nilai DW-tobolrnaka tidak ditunjukkan adanya autokorelasi. Konsekuensi adanya autokorelasi adalah selang keyakinan menjadi lebar serta varian dan kesalahan standar ditaksir terlalu rendah. Menurut Gujarati (1999:217) rnekanisrne tes Durbin Watson (DW) sebagai berikut: 1. Lakukan regresi OLS dan dapatkan residual ei 2. Hitung d dari Durbin Watson dengan rumus sebagai berikut :
t=

d

=

...;t;......;.;.=......:;.2 __
t

L

N

(e

1 ~~ N

-

e
e

2

t-

1

) _

L

=

t=1

86

Dimana : et 3. 4.

5.

6.

residual dari persarnaan regresi pada periode t Et-l = nilai residual dari persamaan regresi pada periode t-I untuk ukuran sampel tertentu, dan banyak variabel yang menjelaskan tertentu, dapatkan nilai kritis dt dan du jikahipotesis H. adalah tidakada serialkorelasi positif, makajika: d<dL : menolak/r, d<du : tidakmenolak H, dl <d<du : pengujian tidakmeyakinkan j ika hipotes is Hu adalah tidak ada serial korelasi ne gatif, maka j ika : d>4-dL : menolak/r, d<4-du : tidak menolak H, 4-du<d<4-dJ : pengujian tidakmeyakinkan jikahipotesis H, dua ujung, yaitu tidak serial autokorelasi baik positifmaupun negatif, maka jika : d<dL : menolak.Ii, d>4-dL : menolak.E, du<d<4-du : tidak menolak Ho dl <d<du atau 4-du<d4-dJ: pengujian tidak meyakinkan Jika terjadi problem autokorelasi, bisa diatasi dengan berbagai cara, antara lain: a. Menghitung nilai taksiran 0 yaitu : 0= i: ee'.l i: e't-I Bentuk variabel-variabel baru dengan persamaan sebagai berikut :

= nilai

Y*,
X*
It

= Y, OY =X
2,

((.1) (1.1) (t.1) (t.1)

= XII OXI
OX1

X* 2t X* JI

= X3t OX!

b. Menghitung persamaan regresi baru dikarenakan pada data tersebut terjadi autokorelasi positif, maka data tersebut harus dimodifikasi seperti pad a rumus-rurnus diatas c. Meregresikan data tersebut sehingga diperoleh model persamaanregresi yang baru b) Multikolinieritas Multikolinieritas menurut Gujarati (1999 : 157) berarti terdapat hubungan linier yang sempurna atau pasti diantara beberapa atau semua variabel yang menjelaskan dari model regresi, yaitu terdapatnya lebih dari satu hubungan linier pasti.". Sedangkan Sritua Arief (1993:23) menyatakan bahwa Multikolinieritas adalah situasi adanya korelasi variabel-variabel bebas diantara satu dengan yang lainnya." Pendekatan terhadap gejala multikolinieritas menurut Norman H. Nie, et al (Eko, 2002:80) dapat dilihat dari korelasi antara variabel bebas lebih dari 0.8, maka terjadi multikolinieritas yang serius. Kemungkinan inijuga dapatdilihat dari tolerance value atau nilai variance inflation factors (VIF) batas toleransi value adalah 0.01 dan batas VIF adalah 10. menurut Hair (1998), apabila toleransi value dibawah 0.01 atau nilai VIP diatas 10 maka terjadi multikolinieritas menyebabkan standar error cenderung semakin besar dan meningkatkan tingkat korelasi antara variabel serta standar error menjadi sangat sensitifterhadap perubahan nilai. Bila Ho ditolak berarti terjadi masalah multikoliniearitas (Multiko), rnaka dapat dilakukan langkah seperti : 1. Mengeluarkan salah satu variable. Misal variable independent A & B saling berkorelasi dengan kuat, maka bisa dipilih variab le A atau B yang dilakukan dari model regresi 2. Menggunakan metode lanjut seperti regresi Bayesian atau regresi Ridge

87

c) Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas syarat klasik dalam Analisis regresi berganda adalah harus tidak terjadi gejala heteroskedastisitas yang berarti varian residual harus sarna. Untuk menguji ada atau tidaknya heteroskedastisitas dapat dilihat melalui uji Park. menurut Gujarati (1999: 186) bahwa pengujian park karenanya merupakan prosedur dua tahap. Dalam tahap pertama kita melakukan regresi OL5 dengan tidak memandang persoalan heteroskedastisitas, dan melakukan regresi model: ~~/3o+/3 A + dari sini akan diperoleh ei. kemudian tahap kedua dengan meIakukan regresi berikut : Lne 2=a + I3LnXi+ Vi Menurut uji Park jika 13 pada regresi tersebut diatas signifikan secara statistik, maka terdapat heteroskedastisitas di daIam data.
j

3.5. Pengujian Hipotesis Setelah meIakukan uji asumsi klasik terhadap data, selanjutnya dilakukan uji hipotesis. Hipotesis penelitian berkaitan dengan ada tidaknya pengaruh variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y), untuk menguji digunakan hipotesis nul (Ho) yang menyatakan bahwa koefisien regresi tidak signifikan dan hipotesis alternatif (H.) yang menyatakan bahwa koefisienregresi signifikan, Untuk menguji hipotesis 1 dan 2 digunakan a1atuj i sebagai berikut: a) Pengujian Hipotesis 1 (Pengaruh bersama-sama) Ho Tingkat leverage, liquiditas, dan aktivitas secara bersama-sama berpengaruh significan terhadap kinerja keuangan-profitabilitas Perum Pegadaian H. Tingkat leverage, Iiquiditas, dan aktivitas secara bersama-sama berpengarnh significan terhadap kinerjakeuangan-profitabilitas Perum Pegadaian. Untuk menguji hipotesis 1 dilakukan dengan uji-F Stat, untuk menguji tingkat confidence pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap kinerja keuanganprofitabilitas Perum Pegadaian. Langkah-langkah yang dilakukan adalah: 1. Menentukan tingkat confidence 95% (a = 0,05) 2. Menentukan hipotesis statistik : H, : l3i,132, ...... 13m _ 0, artinya tidak ada pengaruh yang nyata secara simultan dari independent variabel Xi terhadap dependent variabeI Y H, : 131,132, ... ···l3m :f:. 0, artinya terdapat pengaruh yang nyata secara simuItan dari independent variabel Xi terhadap dependent variabel Y 3. Menentukan nilai F dengan rumus SrituaArief (1993: 10) : R2/k-l F hit =--------------------(1-R2)/n k-l dimana: R2 = Koefisien determinasi n =jumlah sampel k = jumlah variabel bebas 4, Menentukan kaidah pengujian: Jika F hi lung < F tnbcl's terima H,, toIak H, berarti Debt to Equity Ratio (DER), Current Ratio (CR), Total Asset Tum Over (TATO) secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap Return On Equity (ROE).

88

Jika F hitung > F tabcl s terima Ho, tolak'H, berarti Debt to Equity Ratio CDER), Current Ratio (CR), Total Asset Turn Over (TATO) secara bersama-sama berpengaruh terhadap Return On Equity (ROE). b) Penguj ian Hipotesis Atas Koefisien Regresi Untuk pengujian hipotcsis ini dilakukan dengan uji t, untuk menguji tingkat signifikansi pengaruh variabel X secara parsial terhadap variabel Y dengan asumsi bahwa variabeI lain dianggap konstan. Adapun langkah- Iangkah penguj ian adalah: 1. Menentukan tingkatc01ifldence 95% (c= 0.05) 2. Menentukan hipotesis statistik ; H. : ~ i, 132, ~n' " 0, artinya tidak ada pengaruh yang nyata secara parsial dari independent variabel Xi terhadap dependent variabel Y. H. ; 131,132,..... ~m ;f:. 0, artinya terdapat pengaruh yang nyata secara parsial dari independent variabel Xi terhadap dependent variabel Y 3, Menentukan nilai t dengan rumus SrituaArief(l993 :9) : Bi t ;:;:; -------------Sbi dimana : bi ;:;:; Koefisien regresi masing-masing variabel Sbi ;:;:; standar error masing-masing variabel 4. Menentukan kaidah pengujian : Jika t hitung < t ,"bel> terima Ho, tolak H, berarti Debt to Equity Ratio (DER), Current Ratio (CR), Total Asset Turn Over (TATO) secara parsial tidak berpengaruh positif (+) maupun negatif (-) terhadap Return On Equity (ROE), Jika t hitung > t label' terima H, , tolak H berarti Debt to Equity Ratio (DER), Current Ratio (CR), Total Asset Turn Over (TATO) secara parsial tidak berpengaruh positif (+) maupun negatif (-) terhadap Return On Equity (ROE).
u,

c). Pengujian Koefisien Determinasi (R~) Uji koefisien detenninasi (RZ), digunakan untuk melihat berapa proporsi/variasi kemampuan prediktor dari tingkat DER, CR, dan TATO berpengaruh secara bersama-sama terahadap kinerja keuangan ROE Perum Pegadaian. Rumus yang digunakan adalah rumus menurut Gujarati (1999,Alih bahasa: Sumarno Zain) , sebagai berikut:

Dimana: RZ JKR
J;:y

;:;:;

;:;:;

kofisien determinasi jumlah kuadrat regresi (explained sum ofsquares) = jumlah total kuadrat(total sum a/squares)

Semakin besar nilai R2 berarti semakin besar variasi variabel independen X terhadap variabel dependen Y. 4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Analisis Deskripsi Data

89

Untuk mengetahui sebaran data variabel-variabel yang diteliti dilakukan analisis deskripsi, hasilnya ditampilkan pada Tabe14.l., sebagai berikut :
Deskrlpsi TabeI4.1. Data Varia bel Penelitian DER CR

Deskrlpst
N

I Valid I Missing

ROE

TATO 40 0 .33093 .30350 .20t .143347 ,ISO .805 13.237

Mean Median Mode Std. Deviation Minimum Maximum Sum
a Multiple modes exist. The smallest

40 0 .24498 .20150 ,106(a) .166332 .082 .852 9.799
value IS shown

40 0 3.23847 3.20000 .814(a) 1.137345 .814 6.637 129.539

40 0 2.67890 2.40150 1.791(a) 1.087196 .896 5.223 107.156

Sumbcr : Pcngolahan SPSS

Basil pengolahan rasio-rasio keuangan periode kwartalan selama 10 tahun (1998-2007) sebanyak 40 data untuk variabel-variabel penclitian, secara statistik kuantitatif dapat dideskripsikan, sebagai berikut:

a. VariabelRetum on Equity (ROE)

Hasil pengolahan data untuk variabel return on equity diperoleh nilai rata-rata (mean) = 0,24498; nilai tengah = 0,20150 dan data yang sering muncul (mode) = 0,106. Besarnya penyimpangan (standar deviasi) adalah 0,166332 dengan nilai minimum = 0,082 dan nilai maksimum sebesar 0,852. Kedua nilai tersebut menunjukkan rasio keuntungan dengan modal sendiri terkecil adalah 0,082 dan tertinggi adalah 0,852.

b. VariabelDebt to Equity ratio (DER)
Hasil pengolahan data untuk variabel debt to equity ratio (DER) diperoleh nilai rata-rata (mean) sebesar 3,23847; nilai tengah (mean) sebesar 3,2000 dan data yang sering muncul (mode) adalah 0,814. Besamya penyimpangan (standar deviasi) = 1,1373 dengan nilai minimum = 0,814 dan nilai maksimum sebesar 6,637. Kedua nilai tersebut menunjukkan rasio atau perbandingan seluruh hutang dan modal sendiri terendah adalah 0,814 dan tertinggi adalah 6,637.

c. Varia bel Current ratio (CR)
Basil pengolahan data variabel bebas current ratio (CR) diperoleh nilai rata-rata (mean) = 2,6789; nilai tengah = 2,4015 dan data yang sering muncul (mode) adalah 1,791. Besamya penyimpangan (standar deviasi) adalah 1,0871 dengan nilai minimum sebesar 0,896 dan nilai maksimum = 5,223. Kedua nilai rasio atau perbandingan tersebut menunjukkan current ratio terendah adalah 0,896 dan tertinggi adalah 5,223,

d. Variabel Total assets turnover (TATO)
Hasil analisis data untuk variabel bebas toial assets turnover (TATO) diperoleh nilai rata-rata (mean) sebesar 0,33093; nilai tengah sebesar 0,30350 dan data yang sering muncul (mode) adalah 0,201. Besarnya penyimpangan (standar deviasi) adalah 1,43347 dengan nilai minimum sebesar 0,150 dan nilai maksimum sebesar 0,805. Kedua nilai rasio tersebut menunjukkan nilai terendah adalah 0, 150 dan tertinggi 0,805.

4.2. Hasil UjiAsumsiRegresi
Uji asumsi klasik dilakukan untuk menguji apakah data (rasio-rasio keuangan) dapat memenuhi asumsi yang dipersyaratkan dalam melakukan analisis statistik regresi. Hasil pengujian asumsi klasik dalam penelitian ini, dijclaskan sebagai berikut :

90

1. UjiNormalitasData Pengujian normalitas untuk variabel-variabel yang diteliti, dilakukan melalui uji KolmogorovSmirnov (K-S), hasilnya diperlihatkan pada Tabel4.2, sebagai berikut :
Tabe14.2. HasH Uji Normalitas Data
One-Sample N Normal ParameterS'.b Most Extreme Differences Koimogorov-Smirnov Asymp. Sig. (2-tailed) Z Mean Std. Deviation Absolute Positive Negalive Kolmogorov-5mimoy Test ROE DER CR TATO 40

40 .24498 .166332 .216 .216 -.164 1.366 .058

40 3.23848 1.137345 .060 .058 -.060 .380 .999

40 2.67890 1.087196 .177 .177 -.081 1.121 .162

.33093 .143347 .206 .206 -.132 1.303 .067

a. Test distribution is Nonnal.
b. Calculated from data.

Surnber : Hasil Pcngoiahan SPSS

Pengujian normalitas data dilakukan dengan menggunakan uji Kohnogorov-Smimov (K-S). Ketentuan pengujian nonnalitas data, yaitu dengan melihat besamya nilai K-S hitung yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan besamya nilai K-S tabel, dengan kriteria yaitu: (a). Jika nilai K-S hitung > nilai K-S tabel, maka data dinyatakan berdistribusi normal; dan (b). Jika nilai K-S hitung < nilai K-S tabel maka data dinyatakan tidak berdistribusi normal. Hasil perhitungan pada Tabe14.2. tersebut di atas dan nilai K-S tabel sebesar 0,215, maka hasil uji normalitas un tuk masing -masing variabel penelitian dapat dije1askan sebagai beriku t : 1) Variabel bebas Debt to equity ratio (DER): ni1ai K-S hitung 0,380 > KS tabel 0,215 Atau nilai Asymp. Sig (2-tailed) 0,999 > a 0,05, kesimpu1an sarnpe1 berasal dari distribusi normal. 2) Variabel bebas Current ratio (CR) : nilai K-S hitung 1,121 > KS tabel 0,215. Atau nilai Asymp. Sig (2-tai1ed) 0, 162 > a "'" 0,05, kesimpulan sampe1 berasa1 dari distribusi normal. 3) Variabel bebas Total assets turnover (TATO) : nilai K-S hitung 1,303 > KS tabe1 0,215 Atau ni1ai Asymp. Sig (2-tailed) "'"0,067 > a = 0,05, kesimpulan sampe1 berasal dari distribusi tidak normal. 4) Variabel terikat Return on equity (ROE) : nilai K-S hitung 1,336> KS tabel 0,215. Atau nilai Asymp. Sig (2-tailed) = 0,058> a = 0,05, kesimpulan sarnpel berasal dari distribusi normal. Berdasarkan kriteria pengujian dan hasil perhitungan di atas, maka diketahui data yang diperoleh dari perhitungan rasio-rasio keuangan yang digunakan dalam analisis regresi ini adalah data atau sampel yang diambil dari populasi yang berdistribusi normal. Hal ini diketahui, karena seluruh nilai K-S hitung dari keempat variabel yang dijadikan sampel (diteliti) memiliki nilai yang lebih besar dari nilai K-S tabel (0,215).
;= ;= ;=

2. Uji Multikolinearitas Untuk mengetahui apakah terjadi korelasi antar variabel independent (bebas), jika terjadi korelasi antar variabel bebas yang kuat maka telah terjadi problem multikolinaritas yang serius. Berdasarkan hasil pengujian untuk mengetahui ada tidakuya gejala multikolinearitas pada data yang digunakan regresi, dapat di1ihat dari hasil regresi ganda, ditarnpilkan pada Tabel 4.3., Sebagai berikut :

91

TabeI4.3. Pengujian Multikolinearltas Model Zero-

Untuk menguji multikolinearitas, dilakukan dengan ketentuan: (a) Apabila memiliki nilai variance inflationfactor (VIF) disekitar angka 1; (b) Mempunyai angka Tolerancemendekati 1. Dan (c) Apabila kedua kriteria tersebut dipenuhi, maka dinyatakan tidak ada problem multiko. Hasil analisis pada Tabe14.5. di atas, diketahui bahwa: 1) Tolerance berikisar 0-1, dengan 0 = high collinearity dan I = low collineartiy 2) VIF = Variance Inflantion Factor, berkisar 1 - Infinity, dengan 1 = low collinearity (beberapa buku menyatakan bahwa VIF= 2 4masih dianggap lowcollinearity. 3) Nilai VIF (Xl) = 1,145, (X2) = 1,211; (X3) = 1.239. Ketiganilai VIF berkisar 0-4 dannilai tolerance menunjukkan (Xl) = 0,873, (X2) = 0,825; (X3) = 0,807; sernuanya mendekati 1. Hal tersebut menunjukkan tidak terjadi multikolinearitas. Dengan demikian, hasil analisis dan ketentuan pengujian tersebut di atas, maka diketahui bahwa ketiga variabel bebas memiliki nilai VIP disekitar angka 1, dan nilai Tolerance dibawah atau lebih kecil dari angka 1. 3. UjiHeteroskedastisitas Pengujian heteroskedastisitas, dengan melihat output pada lampiran 7, hasilnya diperhatikan pada Gambar 4.1., sebagai berikut:
Gambar4.1. Hasil Pengujian Heteroskedastisitas
oeoPQnd&nt V,""rr~'_I)le= ROE

.~ .c

~.~
.4

~.,----T.,----To----~,----r~----r-3--~
R&gres;oilon St::::lndaultzed Predicted V~"11ll1e

Pengujian apakah terdapat gejala heteroskedastisitas, yaitu dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada Gambar 4.1. tersebut di atas, dimana sumbu X adalah Y yang telah diprediksi, dan sumbu X adalah residual (yaitu Yprcdiksi Y,""unSJlI'hny.)' Selanjutnya, pengujian dengan pengambilan keputusan didasarkan pad a : (a). Apabila ada pola tertentu, seperti titik-titik (point-point) yang ada membentuk suatu pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka telah terjadi Heteroskedastisitas; dan (b). Apabila tidak ada pola yangjelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada surnbu Y, maka tidak terjadi Heteroskedastisitas Hasil uji pada Gambar 4.1., diketahui bahwa titik-titik (data) menyebar secara acak, tidak membentuk sebuah pola tertentu yang jelas, serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y. Dengan

92

demikian, maka berarti tidak terjadi Heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga model regresi layak dipakai untuk prediksi variabel terikat (kinerja) berdasarkan ketiga variabel bebas yang digunakan tersebut. 4. Vji Otokorelasi Pendeteksian apakah terdapat gejala otokorelasi antar variabel bebas yang dianalisis dalam regresi, dilakukan uji Durbin-Watson. Dimana, hasil analisis uji otokorelasi dengan melihat nilai DurbinWatson hitung (D-W), sebagai berikut :
Hasil Pengujian Autokorelasi Tabe14.4. dengan Uji Durbin-Watson (D-W)

Durbin-Watson 1,750
Sumbcr : Hasil Pcngolahan SPSS

Dari data pada Tabe14.6. di atas, diketahui besamya nilai Durbin-Watson (Dw) hitung adalah sebesar 1,750. Keterangan: Xl = DER; X2 = CR; dan X3 = TATO; Y = ROE. 1) Untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi, dilakukan pengujian Durbin-Watson (DW), dengan ketentuan sebagai berikut: (a) DW < 1,21 atau DW>2,79, artinya terjadi autokorelasi. (b) 1,65 < DW < 2,35, artinya tidak terjadi autokore1asi. 2) Jika nilai DW lebih keeil dari satu atau lebih besar dari tiga, maka residuals atau error dari model regresi berganda tidak bersifat independen atau terjadi autokorelasi. 3) Berdasarkan nilai DW sebesar 1,750 < 2,35, berarti tidak terj adi autokorelasi. Dengan demikian, maka dapat dijelaskan bahwa teknik analisis data dengan model regresi dengan data yang ada, berupa hasil jawaban kuesioner dapat memenuhi asumsi, Dengan kata lain, bahwa asumsi-asumsi yang diharapkan dari model analisis regresi dapat dipenuhi, sehingga analisis statistika dapat dilanjutkan. 4.3. HasH Vji Hipotesis 4.3.1.Analisis Korelasi Parsial Untuk mengetahui kadar kekuatan hubungan dari ketiga variabel bebas (DER, CR dan TATO) secara parsial terhadap return on equity (ROE), hasiinya dapat dilihat pada matrik Tabe14.5., di bawah ini :
TabeI4.5, Koefisien Pearson Correlation antara Variabel X dan Y
Variabel bebas

DER CR

TATO

Korelasi ( r) varia bel bebas dengan ROE 0,531 0,380 0,685

Sig. 0,000 0,000 0,000

Keterangan

Korelasi kuat Korelasi kuat Korelasi kuat

Sumber : Hasil Pengolahan SPSS

Pada Tabel4.5. di atas, menunjukkan besamya korelasi dari ketiga masing-masing variabel bebas rasio keuangan (DER, CR dan TATO) dengan ROE secara parsial dengan nilai koefisien korelasi dijelaskan sebagai berikut: a. Besarnya korelasi antara variabel bebas debt to equity (DER) dengan ROE sebesar 0,531. Angka koefisien sebesar ini berarti menunjukkan adanya hubungan atau korelasi yang kuat dan signifikan (positif) antara kedua variabel tersebut. Hal ini berarti bahwa apabila variabel DER meningkat

93

atau lebih baik maka akan terjadi perubahan atau peningkatan pada ROE. Dan sebaliknya, apabila D ER kecil/turun dapat mengakibatkan turunnya RO E. b. Besarnya nilai korelasi variabel bebas CR dengan ROE sebesar 0,380. Angka koefisien kore1asi tersebut menunjukkan hubungan yang relatif/cukup kuat dan positif atau searah antara kedua variabel tersebut. Yang berarti bahwa apabila variabe1 current ratio tersebut meningkat atau ditingkatkan pencapaiannya, dapat meningkatkan ROE. c. Besamya nilai kore1asi ant ant variabel total assets turnover (TATO) dengan ROE sebesar 0,685. Angka koefisien sebesar ini menunjukkan adanya korelasi yang kuat dan signifikan (positif). Hal ini berarti bahwa apabila variabel tersebut mengalami perubahan peningkatan maka akan terjadi peningkatan pada ROE. Berdasarkan nilai koefisien korelasi dan penjelasan tersebut diatas, maka dapat diketahui ketiga variabel bebas (DER, CR dan TATO) berkorelasi signifikan dengan ROE. Besamya masing-masing koefisien korelasi tersebut, berturut-turut dari koefisien korelasi tertinggi yaitu variabel bebas TATO sebesar 0,685; Variabel DER sebesar 0,531 dan variabel CR sebesar 0,380. Dengan demikian. maka variabel yang paling dominan atau kuat korelasinya terhadap ROE adalah variabel bebas TATO, sedangkan variabel bebas yang korelasinya terendah adalah variabel CR. Perbedaan tersebut memberikan gambaran bahwa ketiga variabel bebas memiliki hubungan yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai aspek, misalnya CR sudah baik (positif), rasio CR yang positif dan berada pada nilai rata-rata 2,67890. Namun terdapat hutang atau kewajibankewajiban yang sudahjatuh tempo. Dengan demikian ketiga variabel bebas tersebut masih memiliki korelasi yang kuat terhadap ROE. 4.3.2. Analisis Regresi Ganda Koefisien Korelasi dan Determinasi Hubungan ketiga variabel bebas (DER, CR dan TATO) kekuatan atau kadamya dapat diketahui dari besaran-besaran nilai dari koefisien korelasi yang menunjukkan kekuatan hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Hasil perhitungan tersebut ditunjukkan pada Tabel 4.6., sebagai berikut:
TabeI4.6. Nilai Koefisien Korelasi R dan R'

Nilai Koefisien

Penjelasan
Nilai koefisien ini
menunjukkan besamya korelasi antara vari abel rasio keuangan bebas (DER, CR dan TATO) dengan variabel terikat ROE Nilai koefisien determinasi ini rnenunjukkan besamya pengaruh atau kontribusi dari ketiga variabeI bebas (DER, CR dan TATO) secara bersama-sama terhadap kinerja keuangan perusahaan ROE

Keterangan
Korelasi yang signifikan positif, artinya apabila terjadi kenaikan pada ketiga variabel bebas rasio kellangan akan meningkatkan pula kinerja kellangan perusahaan ROE Pengaruh yang besar dari ketiga variabel bebas terhadap kinerja pegawai yaitu sebesar 69,60%

R

0.835

R Square

0.696

Surnber : Hasil Pengolahan SPSS

94

Data hasil perhitungan regresi pada TabeI4.6. di atas, diketahui bahwa besarnya angka dari koefisien korelasi (R) adalah 0,835 dan angka tersebut positif (mendekati 1), dengan demikian dapat diartikan bahwa terdapat korelasi yang sangat kuatdan searah dari ketiga variabel bebas rasio keuangan secara serempak dengan kinerja keuangan perusahaan. Apabilarasio-rasio tersebutmengalami peningkatan yang berarti menunjukkan kondisi perusahaan yang stabil dilihat dari keadaan keuangan. Diketahui pula besamya pengaruh bersama-sama ketiga variabel bebas X terhadap Y (kinerja), diketahui dari besamya nilai koefisien determinasi (R Square) yaitu 0,696 dan angka koefisien tersebut memberi petunjuk bahwa variasi perubahan dari ketiga variabel bebas DER (X), CR (X2) , dan TATO (XJ), yang secara bersarna-sama (simultan) berpengaruh terhadap variasi perubahan variabel ROE (Y) yaitu sebesar 69,60% dan sisanya sebesar 30,40% rrierupakan pengaruh dari variasi perubahan variabel bebas lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini, misalnya pemberdayaan biaya administrasi dan pemasaran, perputaran piutang, interest, dan lain-lain. 4.3.3. Analisis Varian (Nilai F -hitung) Untuk mengetahui signifikansi pengaruh ketiga variabel bebas (DER, CR, dan TATO) secara serempak terhadap ROE, maka dilakukan pengujian dengan F-test yang dilihat dari tabel Anova, sebagai berikut :
TabeI4.7. Analisis Varian dan Nilai F-hitung ANOVA(b) Nilai F-tabel; NiIai F-hitung a = 0,05 Si2· 0,251

Variasi

Mean Squares Regression Mean Squares Residual

nr,
=3

Keterangan 27,538> 2,866;
maka Ketiga Variabe Bebas ( DER, CR, dan TATO berpenga ruh signifikan terha dap ROE

= 0,251 0,009
=

0,009

27,538

Dfz =36

2,866

0,000

Sumbcr ; Hast! Pcngolahan

SPSS

Pada Tabel 4.7. di atas, diketahui besamya nilai F hitung adalah 27,538 dengan degree of freedom/derajat bebas (dt) regression sebesar 3 dan nilai df dari residual sebesar 36, maka dapat diketahui besarnya nilai dari F-tabel pada tingkat signifikansi 5% (a. = 0,05) sebesar 2,866 (lampiran 12). Berdasarkan kedua nilai tersebut, selanjutnya dilakukan pengujian apakah persamaan garis regresi berganda yang digunakan dalam penelitian ini dapat untuk mengestimasi atau memprediksi dari setiap perubahan besamya nilai ROE, atau menguji apakah persamaan merupakan model regresi yang terbentuk secara linear. Untuk pengujian yaitu dengan membandingkan besarnya nilai F hitung dan F tabel, memberikan hasil bahwa nilai F hitung lebih besar dari F tabel atau 27,538 > 2,866. Oleh karena itu, dapat dinyatakan bahwa persamaan garis regresi linear berganda dalam penelitian ini dapat digunakan dengan baik untuk memprediksi/memperkirakan setiap perubahan (kenaikanatau penurunan) dari nilai ROE (Y), atau dapat pula dinyatakan bahwa koefisien b dalam persamaan regresi tersebut nilainya adalah tidak sarna dengan (nol), yang berarti bahwa terdapat pengaruh yang signifikan terhadap ROE, yang berarti apabila ketiga variabe1 terse but mengalami perubahan kenaikan maka ROE menjadi lebih baik pula, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.

a

95

4.3.4. Nilai Koefisien Regresi B dan Nilai t-hitung Nilai koefisien regresi dari ketiga variabel bebas X dengan kinerja, hasilnya diperlihatkan pada Tabel 4.8, sebagai berikut:
Tabe14.8. Nilai Coefficient dan t-hitung Coefficients(a) Unstandardized Coefficients B Std. Error (Constant) DER CR Standardized Coefficients Beta

Model

t
-4.419
4.860

Sig. .000
.000

1

TATO
a Dependent Variable: ROE
Sumbcr : Hasil Pcngolahan SPSS

-.291 .070 .048 .549

.066 .014 .015 .119

.478 .312 .473

3.090 4.632

.004 .000

Selain pengujian atau pembuktian dengan Uji F, dilakukan pula pengujian hipotesis atas koefisien regresi dari masing-masing variabel bebas, yaitu apakah terdapat korelasi antara ketiga variabel bcbas dcngan variabel terikatkinerja, yaitu dengan melakukan pengujian tingkat signifikansi dengan membandingkan nilai t-hitung dcngan t-tabel atas koefisien korelasi masing-masing variabel bebas X (Debt to equity ratio, Current ratio, dan Total assets turnover) tcrhadap kincrja kcuangan perusahaan (ROE). Diketahui besamya nilai t-hitung masing-masing variabel yaitu Debt to equity ratio (DER) besamya nilai t-hitung = 4,860; variabel bebas Current ratio (CR) besamya nilai t-hitung = 3,090; dan variabel bebas Total assets turnover (TATO) dengan besamya nilai t-hitung scbesar 4,632. Nilai t-hitung ketiga variabel bebas tersebut lebih besar dari nilai t-tabel (2,0244) pada a = 0,05 atau t-tabel = 3,5657 pada tingkat signifikansi a = 0,001. Berdasarkan hasil pengujian signifikansi dengan uji t tersebut, selanjutnya digambarkan dalam bentuk kurva batas penerimaan dan penolakan hipotesis pada Gambar 4.2. Di bawah ini :
Gambar4.2. Batas Penerimaan dan Penolakan Hipotesis Pada a ""0,05

"Tblak Ho

-2,0244
Sumber : Nilai Hasil Pengolahan SPSS

+2,0244

total assetsturnover (TATO)

Hasil perhitungan t-hitung (pada Tabel 4.8) dan pengujian yang diperlihatkan pada Gambar 4.2. tersebut di atas, maka dapat diketahui bahwa ketiga variabel bebas (DER, CR dan TATO) tersebut memiliki korelasi atau hubungan yang sangat signifikan terhadap kinerja keuangan pcrusahaan ROE. Hal ini ditunjukkan oleh keberadaan ketiga variabe1 bebas yang memiliki nilai t-hitung berada pad a sisi sebelah kanan kurva pengujian hipotesis dan lebih besar dari nilai kritis t-tabel (2,0244 ; pada 0.=0,05). Hasil pengolaan, pengujian signifikansi (uji t), hal tersebut juga memberikan petunjuk, bahwa ketiga variabel bebas (DER, CR dan TATO) tersebut memiliki hubungan yang positif atau searah, yang artinya bahwa setiap perubahan yang terjadi oleh karena perlakuan peningkatan ketiga

96

variabel bebas rasio keuangan tersebut dapat rnenyebabkan peningkatan kinerja keuangan perusahaan. Dengan demikian, dari hasil pengujian tersebut di atas, antara kedua nilai t (t-hitung dengan t-tabel) tersebut, rnaka dapatdisirnpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan positif antara ketiga variabel bebas rasio keuangan dengan kinerja keuangan perusahaan (ROE). Dengan demikian, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian dapat dibuktikan.

4.3.5. Persamaan Garis Regresi
Hasil pengolahaan data dan analisis yang terdapat pada Tabe14.8., maka dapat dituliskan besarnya nilai dari persamaan regresi yang terbentuk sebagai persaman estimasi return equity, adalah :

Y =bo+btXt+b2X2+h3X3+£ Y = -0,291 +0,070Xt +0,048~ +0,549X3 t-stat (-4,419) (4,860) (3,090) (4,632)

on

Diketahui, Y adalah ROE; XI adalah DER; X, adalah CR dan X3 adalah TATO. Sedangkan, R sebesar 0,835; R2 sebesar 0,696 dannilai F-hitung = 27,538. Berdasarkan persamaan garis regresi yang terbentuk dan niIai-nilai dari koefisien regresi masing-masing variabe1 bebas, maka besarnya nilai dari intersep (bo) dan nilai koefisien (bx) dari ketiga variabel bebas X, dalam persamaan regresi yang terbentuk dapatdijelaskan sebagai berikut : a. Nilai dari koefisien konstanta (intersep) bo sebesar -0,291 hal ini berarti bahwa besarnya ROE sebesar turun 0,291 satuan apabila ketiga variabel bebas (X) yang diteliti nilainya sarna dengan 0 (nol). b. Nilai koefisien regresi b, dari variabel bebas DER (XI) sebesar 0,070 hal ini berarti apabila DER naik sebesar satu satuan maka ROE akan mengalami peningkatan sebesar 0,070 satuan, apabila variabel bebas yang lainnya dianggap konstan. c. Besarnya nilai koefisien regresi b, pada variabel CR (X) yaitu sebesar 0,048 hal ini berarti apabila CR naik sebesar 1 satuan maka ROE akan mengalami peningkatan sebesar 0,048 satuan, bila variabel bebas lain dianggap konstan. d. Besarnya nilai koefisien regresi b, dari variabel TATO (X)) sebesar 0,549 artinya apabila rasio TATO naik sebesar satu satuan, rnaka pencapaian kinerja keuangan perusahaan (ROE) akan mengalarni peningkatan sebesar 0,549 satuan, apabila variabel bebas lainnya dianggap tetap atau konstan.f Berdasarkan hasil perhitungan koefisien regresi dalam persamaan dan penjelasannya tersebut di atas, maka dapatlah diketahui bahwa ketiga variabel bebas (DER, CR, dan TATO) sangat mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan (ROE), dengan kata lain bahwa untuk meningkatkan ROE dapat dilakukan dengan memperbaiki atau meningkatkan ketiga variabeI bebas tersebut.

4.4. Pembahasan
Pengaruh variabel independen (X) berupa rasio DER, CR dan TATO secara bersaina-samaterhadap kinerja keuangan-prifitabilitas secara bersama-sama ditunjukkan oleh koefisien detenninasi (R2) analisis regresi. Kofisien detenninasi (R2) menunjukkan proporsi atau presentase variasi total dalam variabel dependen kinerja keuangan-profitabilitas (Y) dapat dijelaskan secara bersama-sama oleh variabel independen (X). Hasil analisis regresi berganda (multiple regression) pada Iampiran 9 menunjukkan bahwa nilai koefisien detenninasi (R) sebesar 0.696 hal tersebut menunjukkan bahwa besamya variasi dari variabel dependen kinerja keuangan-profitabilitas ROE (Y) dapat dijelaskan oleh variabel independen (X) adalah sebesar 0,696. Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa secara bersarna-sama ketiga variabel independen yang digunakan berupa jumlah DER, CR dan TATO sebesar 69,60% mampu menjelaskan perubahan kinerja keuangan-profitabilitas (ROE) Perum Pegadaian sedangkan sisanya sebesar 30,40% ini disebabkan oleh faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian misalnya faktor external berupa regulasi pemerintah tentang

97

pergadaian, suku bunga, dan lain-lain. Hasil perhitungan menunjukkan ketiga variabel rasio keuangan yang terdiri dari DER, CR dan TATO mempunyai nilai t hitung yang lebih besar dari nilai ttabel ( = 2,0244; pada a = 0,05). Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa ketiga rasio keuangan dianggap signifikan terhadap kinerja keuangan-profitabilitas (ROE). Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Hamanto (1991 :309), bahwa dengan menggunakan hutang yang disertai kewajiban membayar bunga yang bersifat tetap, tidak tergantung pada pendapatan yang dapat dihasilkan dari aktivitas pendayagunaan dana yang berasal dari kreditur tersebut. Selanjutnya penelitian ini pula didukung oleh data perusahaan yang menunjukkan bahwa jumlah kewajiban yang dimiliki oleh Perum Pegadaian yang cenderung mengalami peningkatan, berpengaruh pada peningkatan laba perusahaan. Ketiga variabel bebas yaitu rasio debt to equity, current ratio dan total assets turnover memiliki nilai t hitung yang positif, hal ini berarti menunjukan bahwa ketiga variabel bebas tersebut pengaruhnya kuat dan positifterhadap return on equity (ROE) yang disebabkan tingkat kepemilikan modal sendiri dengan pinjaman (debt) yang relatif sebanding sehingga operasional perusahaan walaupun banyak dibelanjai dengan modalluar (pinjaman) namun perusahaan mampu memenuhi kewaj iban-kewaj iban dan hal tersebut dapat meningkatkan kepercayaan para nasabah. Perputaran total harta tetap (total aktiva) re1atifpositif dan cenderung stabil dan pengumpulan kas hasil penjualan relatif cenderung meningkat, keadaan ini dapat tejadi oleh karen a aktiva-aktiva tetap yang dimiliki perusahaan yang dioperasionalkan relatif optimal sehingga banyak fixed assets yang dalam keadaan tidak idle terutama dalam bentuk asset tanah dan bangunan, yang diketahui dari semakin banyaknya kantor-kantor cabang barn di seluruh Indonesia yang telah dioperasionalkan secara maksimal oleh pihak perusahaan. Dari sisi pendapatan yang ditampilkan oleh ROI perusahaan selama tahun 1998 sampai dengan tahun 2007 perkembangannya cenderung relatif stabil terdapat peningkatan yang berarti hingga akhir tahun 2006 mencapai 63,75% dan pencapaian ROI mengalami kenaikan hingga mencapai angkarasio sebesar 67,21 %. Apabila dilihat dari ROE, selama periode tahun 1998 sampai dengan tahun 2007 terdapat perkembangan yang sangat baik, hal terse but terlihat dari perkembangan peningkatan yang sangat tajamhingga mencapai hampir 35,00%. Hal tersebut, oleh karena penjualan juga relatif meningkat dari tahun ke tahun, akan tetapi bila dilihat dari sisi hutang juga mengalami peningkatan untuk pembiayaanJpembelanjaan aktiva tetapnya, dan adanya peningkatan laba bersih perusahaan dibandingkan kenaikan rata-rata ekuitas perusahaan. 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
1. Faktor-faktor tingkat leverage, likuiditas, dan aktivita secara bersama-sama (simultan) berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan Perum Pegadaian yang diwakili oleh return on equity (ROE) melalui uji F pada tingkat signifikansi 95% (ex= 0.05) menunjukkan variabel independen leverage yaitu debt to equity ratio (DER = XI)' likuiditas yaitu current ratio (CR = Xz), dan aktivitas yaitu total asset turnover (TATO = XJ secara bersama-sama (simultan) mempunyai pengaruh yang cukup berarti terhadap variabel dependen kinerja keuangan-profitabilitas Perum Pegadaian 2. Faktor tingkat leverage, pada hasil pengujian hipotesis secara parsial (uji t) pada tingkat signifikansi 95% (0:. =0.05) menunjukkan bahwa tingkat leverage (DER) mempunyai pengaruh signifikan positif terhadap kinerj a keuangan-profi tabilitas (ROE). 3. Faktor Faktor tingkat likuiditas mempunyai pengaruh signifikan terhadap kinerja keuanganprofitabilitas (ROE), hal ini ditunjukkan oleh hasil pengujian hipotesis uji t pada tingkat signifikansi 95% (a =0.05) 4. Faktor aktivitas yaitu rasio TATO mempunyai pengarnh yang signifikan positifterhadap kinerja keuangan-profitabilitas yang diwakili oleh ROE, hal ini ditunjukkan oleh hasil pengujian

98

hipotesis menunjukkan bahwa t-hi,ung lebih besar dari t-'nbd'hal ini juga dapat dilihat pada tingkat signifikansi 95% pada taraf nyata a =0.05. 5. Melalui analisis tersebut, dapat diketahui bahwa kinerja keuangan perusahaan sangat dipengaruhi oleh leverage dalam hal ini perimbangan antara hutang dengan modal sendiri. Faktor likuiditas, penting bagi perusahaan sebagai petunjuk kemampuan perusahaan dalam menutup seluruh kewajibanya. Scdangkan, tingkat aktivitas dapat dilihat dari kemampuan manajemen dalam mengelola seluruh asset-asset yang dimilikinya agar efektif dan efesien, atau tidak ada asset-asset yang idle. 5.2. Saran-saran L Penggunaan hutang jangka panjang dan hutang jangka pendek seperti obligasi mempunyai pengaruh yang positif da1am meningkatkan kinerja keuangan profitabilitas Perum Pegadaian, karena hutang jangka dan hutang jangka pendck merupakan alternative yang terbaik dalam mencari tambahan modaluntuk pengernbangan/ peningkatan usaha gadai. 2. Perusahaan perlu mengakumulasi modal karena pertambahan modal sendiri secara nyata meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. 3. Peneliti menyadari bahwa pada penelitian ini terdapat kekurangan dari segi metode dan variabelvariabel penelitian yang hanya difokuskan pada variabel internal, olch karena itu kepada peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan pcnelitian pada metodedan variabel penelitian terutama variabel eksternal yang dapat berpengaruh terhadap kinerja keuangan Perum Pegadaian. DAFTARPUSTAKA Gujarati. Damodar, 1999. EkonometrikaDasar. AlihBahasa: Sumamo Zain, Jakarta: Erlangga Hamanto, 1991. Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: UPP AMPYKPN, Perum Pegadaian, 2007. Laporan Tahunan 2007. Jakarta: Perum Pegadaian Perum Pegadaian. 2008. Susunan Direksi (melalui) http://www.pcrumpegadaian.com. (Maret 2008) SrituaArIef, 1993. Metodologi Penelitian Ekonomi. Jakarta: Pcnerbit Universitas Indonesia.

99

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->