Jurnal Biogenesis Vol.

2(2):41-46, 2006 © Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau ISSN : 1829-5460

PENGARUH PEMBERIAN GIBERELIN (GA3) DAN AIR KELAPA TERHADAP PERKECAMBAHAN BAHAN BIJI ANGGREK BULAN (Phalaenopsis amabilis BL) SECARA IN VITRO
Yusnida Bey*) , Wan Syafii dan Sutrisna
Laboratorium Botani Jurusan PMIPA FKIP Universitas Riau 28293 Diterima 21 November 2006, Disetujui 1 Februari 2006 ABSTRACT In vitro investigation has conducted in order to find out the respons of orchid (Phalaenopsis amabilis BL) in medium by giberelin and coconut water treatment. This research was carry out at Balai Benih Tanaman Pangan dan Holtikultura Pekanbaru during Mei until August 2003 by using Completely Random Design pattern Factorial 4x4 with 3 replication. First factor is giberelin (ppm) 0,1,2 dan 3 and second factor is coconut water (ml/l): 0.15, 0.20, 0.25. The parameter were observed i.e. the emergence timing of protocorn like bodies, leaf and root, seedling height. Observed data were analysed descriptifely and analysis of variance with Duncan Multiple Range Test 5% level of significance. The result show giberelin 2 ppm treatment have a good effect on the emergence timing of protocorn like bodies, leaf and root (14-16, 31-45 and 49-58 days after planting). Average seedling height 0.545 cm. Coconut water 250 ml/l treatment have a good effect on the emergence timing of protocorn like bodies, leaf and root (14-18, 31-48 and 49-58 after planting), average seedling height 0.437 cm. Combination of giberelin 2 ppm and coconut water 250 m/l have a good effect on all parameter. Key word : Giberelin, Coconut water, Germination, Seed of orchid, Phalaenopsis amabilis BL.

PENDAHULUAN Tanaman anggrek (Orchidaceae) meliputi 25.000-30.000 spesies merupakan 10% dari jumlah tanaman berbunga di dunia. Anggrek memiliki nilai ekonomis yang tinggi bila dibandingkan dengan tanaman hias lainnya, baik untuk bunga potong maupun untuk bunga pot. Iklim tropis Indonesia selain cocok untuk hidup anggrek juga sangat potensial untuk menghasilkan anggrek alam yang bermutu. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan estetika dan kesegaran lingkungan permintaan akan bunga anggrek dan tanaman hias lainnya meningkat pula, maka sangat tepat jika bunga anggrek dibudidayakan baik untuk tujuan keindahan, kelestarian lingkungan maupun untuk usaha (Agrobisnis).
*)

Komunikasi Penulis :

Laboratorium Pendidikan Biologi PMIPA FKIP Universitas Riau

Salah satu jenis anggrek yang banyak diminati oleh masyarakat dan mempunyai nilai ekonomis tinggi adalah Phalaenopsis amabilis BL atau dikenal dengan nama Anggrek bulan. Anggrek bulan termasuk anggrek epifit, akarnya menempel pada batang atau dahan tanaman lain. Pada akar ini terdapat jaringan velamen yang berongga berfungsi memudahkan akar menyerap air hujan yang jatuh pada pohon inang. Pertumbuhan anggrek bulan termasuk dalam pola pertumbuhan monopodial yaitu meninggi pada satu titik tumbuh dan hanya terdiri dari satu batang utama. Batangnya sangat pendek hampir tidak nampak, daun berbentuk ellips memanjang, dan bagian ujung agak melebar. Bunga tersusun dalam rangkaian berbentuk tandan, bercabang dan pada tiap tandan terdapat maksimal 25 kuntum. Buah anggrek bulan merupakan buah lantera atau capsular yang memiliki 6 rusuk. Dalam satu buah anggrek terdapat ratusan bahkan jutaan biji (Iswanto, 2001). Dalam pengembangan tanaman anggrek, hal yang tidak kalah pentingnya adalah pengadaan bibit. Bibit yang dipakai untuk perbanyakan tanaman anggrek dapat diperoleh secara vegetatif 41

Bey, Syafii dan Sutrisna : Pengaruh Gigerelin dan Air Kelapa Terhadap Perkecambahan Anggrek Bulan

dan generatif. Perbanyakan secara vegetatif dinilai kurang efektif, jumlah anakan yang dihasilkan sangat terbatas. Pada perbanyakan secara generatif, masalah utama yang dihadapi adalah lamanya waktu yang diperlukan biji untuk berkecambah. Hal ini dikarenakan ukuran biji anggrek yang sangat kecil dan tidak mempunyai endosperm sebagai cadangan makanan pada awal perkecambahan biji. Menurut Abidin (1991), perkecambahan adalah proses pertumbuhan embrio dan komponenkomponen biji yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh secara normal menjadi tanaman baru. Pada biji anggrek, perkecambahan ditandai dengan terbentuknya protocorm diikuti dengan munculnya plumula dan radikula. Gunawan (1995) menyatakan bahwa tanda-tanda biji anggrek berkecambah ialah biji kelihatan berwarna kuning hijau dan membentuk bulatan-bulatan seperti gelembung yang disebut dengan Protocorm like bodies (plb). Protocorm adalah bentukan bulat yang siap membentuk pucuk dan akar sebagai awal perkecambahan pada biji yang tidak mempunyai endosperm. Perkembangannya di alam perlu berasosiasi dengan mikoriza. Menurut Rizki (2000), kelangsungan hidup biji anggrek di alam sangat tergantung pada cendawan mikoriza. Gunawan (2002) menyatakan bahwa perkecambahan biji anggrek dalam kondisi in vivo menunjukkan daya kecambah yang rendah yaitu kurang dari 1%. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan persentase daya kecambah biji anggrek tersebut adalah dengan cara in vitro, dengan menggunakan media tumbuh. Media tumbuh yang biasa digunakan untuk perkecambahan biji anggrek adalah media Vacint and Went (VW). Selain media, hormon juga memegang peranan penting dalam perkecambahan dan pertumbuhan. Hormon tumbuh ada yang bersifat alami dan ada yang bersifat sintesis. Giberelin merupakan hormon tumbuh pada tanaman yang bersifat sintesis dan berperan mempercepat perkecambahan. Penggunaan giberelin untuk mempercepat perkecambahan telah banyak dilakukan. Penelitian Murniati dan Zuhri (2002) mengungkapkan bahwa giberelin mampu mempercepat perkecambahan biji kopi. Giberelin dapat mempercepat pembentukan plb pada anggrek

bulan (Bey dkk, 2005). Giberelin merupakan senyawa organik yang berperan penting dalam proses perkecambahan, karena dapat mengaktifkan reaksi enzimatik di dalam benih (Wilkins, 1989). Giberelin juga terkandung di dalam bahan alami seperti air kelapa dalam jumlah yang sangat sedikit. Air kelapa adalah salah satu bahah alami, didalamnya terkandung hormon seperti sitokinin 5,8 mg/l, auksin 0,07 mg/l dan giberelin sedikit sekali serta senyawa lain yang dapat menstimulasi perkecambahan dan pertumbuhan (Morel, 1974). Penggunaan air kelapa dalam media kultur anggrek telah banyak dilakukan. Hasil penelitian Katuuk (2000) menyatakan bahwa pemberian 250ml/l air kelapa menunjukkan waktu yang paling cepat dalam perkecambahan biji anggrek macan (Grammatohyllum scriptum). Sehubungan dengan lamanya waktu yang diperlukan biji untuk berkecambah, dan peranan giberelin dalam memacu perkecambahan biji, begitu juga dengan peran air kelapa dalam perkecambahan maka dilakukan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian giberelin dan air kelapa terhadap perkecambahan biji anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis BL) secara in vitro. BAHAN DAN METODE Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Benih Tanaman Pangan dan Holtikultura Pekanbaru, dimulai pada bulan MeiAgustus 2003. Bahan yang digunakan adalah media Vacint dan Went, gula, agar-agar, NaOH 0,1 N, HCl 0,1 N, charcoal, aquades steril, sunklin, alkohol 70%, betadine, giberelin (GA3), air kelapa, kertas label, alumunium foil, kertas indikator, plastik, tisu, karet gelang, dan biji anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis BL). Alat-alat yang digunakan adalah timbangan analitik, botol kultur, botol stok, gelas ukur, gelas kimia, cawan petri, scapel, batang pengaduk, pipet tetes, corong, pinset, spatula, lampu bunsen, autoclaf, laminar air flow cabinet (LAFC), botol spayer, erlemenyer dan alat tulis. Penelitian dilakukan secara eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL)

42

Bey, Syafii dan Sutrisna : Pengaruh Gigerelin dan Air Kelapa Terhadap Perkecambahan Anggrek Bulan

pola faktorial 4 x 4. Faktor pertama adalah giberelin (GA3) dengan 4 aras terdiri dari 0 ppm, 1 ppm, 2 ppm dan 3 ppm. Faktor kedua adalah air kelapa dengan 4 aras terdiri dari 0 ml/l, 150 ml/l, 200 ml/l dan 250 ml/l. Setiap perlakuan terdiri dari 3 ulangan sehingga diperoleh 48 unit percoban. Langkah-langkah dalam penelitian ini terdiri dari sterilisasi alat, pembuatan media, perlakuan, penyiapan biji dan penaburan biji. Parameter yang diamati adalah saat munculnya Protocorm like bodies (plb), saat munculnya daun, saat munculnya akar, dan tinggi kecambah. Untuk pengamatan terhadap munculnya plb, daun dan akar, data dianalisis secara deskriptif, sedangkan untuk pengamatan tinggi kecambah, data yang diperoleh dianalisis dengan Anava dan di uji lanjut dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5% (Gaspersz, 1994). HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengamatan terhadap saaat munculnya Protocorm like bodies (plb), daun dan akar menunjukkan waktu yang bervariasi. Rentang waktu munculnya plb, daun dan akar anggrek bulan akibat pemberian giberelin (GA3) dan air kelapa dapat dilihat pada Tabel 1. Saat Munculnya Protocorm Like Bodies (plb) Tabel 1 menunjukkan bahwa semua perlakuan mampu mendorong pembentukan plb dan daun namun belum semua mampu mendorong pembentukan akar. Saat munculnya plb pada perlakuan giberelin dan air kelapa berkisar antara 14-29 hari setelah pengkulturan. Keberhasilan biji anggrek untuk membentuk plb dikarenakan tersedianya zat pengatur tumbuh eksogen yang dapat mengubah rasio dari zat pengatur tumbuh endogen sehingga dapat merangsang terbentuknya plb. Saat munculnya plb lebih cepat pada perlakuan tunggal giberelin konsentrasi 2 ppm, dengan rentang waktu antara 14-16 hsp. Cepatnya biji dapat membentuk plb pada konsentrasi ini diduga karena pemberian giberelin 2 ppm secara eksogen dapat membantu zat pengatur tumbuh endogen mengaktifkan reaksi enzimatik di dalam biji sehingga plb dapat terbentuk lebih cepat. Wilkins (1989) dan Bey dkk (2005) menyatakan bahwa

giberelin merupakan senyawa organik yang berperan dalam proses perkecambahan karena dapat mengaktifkan reaksi enzimatik di dalam benih sehingga metabolisme sel meningkat.
Tabel 1. Rentang Waktu Munculnya Protocorm Like Bodies (plb), Daun dan Akar Anggrek Bulan Akibat Pemberian Giberelin (GA3) dan Air Kelapa Perlakuan G Saat Muncul (hsp) plb Daun Akar 15-29 45-48 15-20 36-47 58* 14-16 31-45 49-58 14-18 33-39 50-55 14-29 37-45 14-19 33-47 50* 14-18 33-48 51-58 14-18 31-48 49-58 29* 18* 15-18 46-48 15* 45* 20* 19* 47* 15-17 36-45 17-18 38-45 58* 15-18 39-45 15-16 33-38 14-16 33-35 50-58 14-15 31-33 49-53 14-16 37-38 14-15 35-38 50* 14-18 35-39 51-55 15* 33* -

0 ppm (G0) 1 ppm (G1) 2 ppm (G2) 3 ppm(G3) 0 ml (A0) A 100 ml (A1) 200 ml (A2) 250 ml (A3) G+A 0 ppm + o ml/l 0 ppm + 150 ml/l 0 ppm + 200ml/l 0 ppm + 250 ml/l 1 ppm + o ml/l 1 ppm + 150 ml/l 1 ppm + 200 ml/l 1 ppm + 250 ml/l 2 ppm + 0 ml/l 2 ppm + 150 ml/l 2 ppm + 200 ml/l 2 ppm + 250 ml/l 3 ppm + 0 ml/l 3 ppm + 150 ml/l 3 ppm + 200 ml/l 3 ppm + 250 ml/l Ketr. : - = Belum tumbuh * = Dari 3 ulangan hanya 1 yang tumbuh G = Giberelin A = Air kelapa

Perlakuan tunggal air kelapa juga dapat mempercepat munculnya plb. Saat munculnya plb lebih cepat pada perlakuan tunggal air kelapa pada konsentrasi 200 ml/l dan 250 ml/l dimana plb tumbuh pada rentang waktu 14-18 hsp. Cepatnya pembentukan plb pada perlakuan ini diduga karena dengan pemberian air kelapa 200 ml/l sangat efektif untuk mendorong terbentuknya plb. Pada air kelapa selain mengandung bahan makanan seperti asam amino, asam organik, gula dan vitamin juga terkandung sejumlah hormon tumbuh yang dapat memacu proses perkecambahan biji. Menurut Morel (1974), air kelapa merupakan endosperm dalam bentuk cair yang mengandung unsur hara dan zat pengatur tumbuh sehingga dapat 43

Bey, Syafii dan Sutrisna : Pengaruh Gigerelin dan Air Kelapa Terhadap Perkecambahan Anggrek Bulan

menstimulasi perkecambahan dan pertumbuhan. Hasil penelitian Katuuk (2000) menyatakan bahwa penggunaan air kelapa sampai 250 ml/l dapat mempercepat perkecambahan biji anggrek macan. Munculnya plb lebih cepat pada perlakuan kombinasi giberelin air kelapa yaitu pada kombinasi giberelin 2 ppm + air kelapa 250 ml/l dan giberelin 3 ppm + air kelapa 150 ml/l dengan rentang waktu 14-15 hari setelah pengkulturan. Munculnya plb lebih cepat pada perlakuan ini diduga karena pemberian giberelin 2 ppm dan air kelapa 250 ml/l secara eksogen dapat mempengaruhi rasio zat pengatur tumbuh endogen yang ada pada biji tersebut, sehingga biji mampu tumbuh membentuk plb dengan waktu yang cepat. George dan Sherrington (1984) menyatakan bahwa penggunaan zat pengatur tumbuh dalam kultur in vitro pada batas-batas tertentu mampu merangsang pertumbuhan, namun dapat bersifat sebagai penghambat apabila digunakan melebihi konsentrasi optimum. Saat Munculnya Daun Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa saat munculnya daun pada perlakuan giberelin dan air kelapa berkisar antara 31-48 hari setelah pengkulturan. Munculnya daun lebih cepat pada perlakuan tunggal giberelin yaitu pada konsentrasi 2 ppm dengan rentang waktu 31-45 hari setelah pengkulturan. Giberelin yang diberikan pada konsentrasi 2 ppm sangat efektif meningkatkan pemanjangan sel sehingga plb yang telah terbentuk mampu berdiferensiasi membentuk daun. Menurut Salisbury dan Ross (1993), salah satu efek giberelin pada biji adalah mendorong pemanjangan sel. Munculnya daun lebih cepat pada perlakuan ini disebabkan munculnya plb yang lebih cepat dibanding perlakuan lain sehingga waktu untuk berdiferensiasi membentuk daun juga cepat. Pada perlakuan tunggal air kelapa munculnya daun lebih cepat pada konsentrasi 250 ml/l dengan rentang waktu 31-48 hari setelah pengkulturan (Tabel 1). Hal ini diduga pada konsentrasi tersebut rasio sitokinin lebih tinggi daripada auksin dan juga disebabkan karena plb yang muncul lebih cepat sehingga munculnya daun juga akan cepat. Belum semua biji pada kombinasi perlakuan giberelin dan air kelapa mampu membentuk daun seperti G0A0 (tanpa giberelin dan air kelapa), G0A1

(giberelin 0 ppm + air kelapa 150 ml/l) dan G1A0 (giberelin 1 ppm + air kelapa 0 ml/l). Belum terbentuknya daun pada perlakuan ini diduga ada hubungannya dengan saat munculnya plb yang cukup lama, sehingga terjadinya diferensiasi dari plb untuk membentuk daun membutuhkan waktu yang lama pula. Saat munculnya daun lebih cepat pada kombinasi giberelin 2 ppm + air kelapa 250 ml/l dengan rentang waktu 31-33 hari setelah pengkulturan, diduga karena hormon sebagai bahan dasar untuk pembentukan daun lebih tinggi sehingga akan mempercepat munculnya daun. Munculnya daun paling lama yaitu pada kombinasi giberelin 1 ppm + air kelapa 150 ml/l dengan rentang waktu 47 hari setelah pengkulturan. Hal ini diduga kurangnya auksin dan sitokinin yang ada dalam media untuk memacu pembentukan daun. Saat Munculnya Akar Dari Tabel 1 terlihat bahwa belum semua perlakuan mampu membentuk akar. Hal ini diduga karena rasio perimbangan sitokinin dan auksin lebih tinggi sitokininnya sehingga diferensiasi lebih banyak ke arah pembentukan daun. Saat munculnya akar lebih cepat pada perlakuan tunggal giberelin konsentrasi 2 ppm dengan rentang waktu 49-58 hari setelah pengkulturan. Munculnya akar lebih cepat pada perlakuan ini ada hubungannya dengan saat munculnya daun yang cepat. Setelah daun terbentuk maka bagian radikula akan berdiferensiasi membentuk akar dengan bantuan hormon auksin yang disintesis oleh daun. Saat munculnya akar lebih cepat pada perlakuan tunggal air kelapa konsentrasi 250 ml/l dengan rentang waktu 49-58 hari setelah pengkulturan. Hal ini disebabkan karena dalam air kelapa disamping mengandung auksin dan giberelin juga mengandung zeatin yang merupakan kelompok sitokinin. Sitokinin mempunyai kemampuan dalam merangsang pembelahan sel dan diferensiasi terutama dalam hal pembentukan pucuk daun auksin merangsang pembentukan akar. Munculnya akar paling lama pada konsentrasi 150 ml/l dengan rentang waktu 50 hari setelah pengkulturan. Hal ini diduga pada konsentrasi tersebut kandungan sitokinin dan auksin belum mencukupi sehingga meskipun akar dapat tumbuh tetapi membutuhkan waktu yang lama.

44

Bey, Syafii dan Sutrisna : Pengaruh Gigerelin dan Air Kelapa Terhadap Perkecambahan Anggrek Bulan

Pada kombinasi perlakuan giberelin dan air kelapa, munculnya akar lebih cepat pada kombinasi G2A3 (giberelin 2 ppm + air kelapa 250 ml/l) dengan rentang waktu 49-53 hari setelah pengkulturan. Cepatnya akar yang terbentuk karena pada perlakuan ini plb dan daun yang terbentuk lebih cepat dari perlakuan lain (Tabel 1) sehingga mendorong untuk terbentuknya akar lebih cepat, sedangkan saat munculnya akar paling lama yaitu pada kombinasi G1A3 (giberelin 1 ppm + air kelapa 250 ml/l) dengan rentang waktu 58 hari setelah pengkulturan. Tinggi Kecambah Hasil analisis varian menunjukkan perlakuan tunggal giberelin dan perlakuan tunggal air kelapa memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi kecambah, sedangkan interaksinya tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap tinggi kecambah. Rerata tinggi kecambah anggrek bulan akibat pemberian giberelin (GA3) dan air kelapa dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Rerata Tinggi Kecambah Anggrek Bulan pemberian Giberelin (GA3) dan Air Kelapa Giberelin (ppm) Air kelapa (ml/l) 0 1 2 3 0 0,00 0,11 0,27 0,31 150 0,05 0,13 0,50 0,70 200 0,14 0,45 0,68 0,38 250 0,16 0,55 0,73 0,31 Rerata 0,087b 0,310ab 0,545a 0,425ab Ketr: huruf yang sama pada masing-masing menunjukkan tidak berbeda nyata menurut pada taraf 5% Akibat Rerata 0,172b 0,345a 0,412a 0,437a kolom DMRT

Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa rerata kecambah tertinggi pada perlakuan tunggal giberelin pada konsentrasi 2 ppm dengan tinggi 0,545 cm dan rerata terendah adalah pada konsentrasi 0 ppm dengan tinggi 0,087 cm. Tingginya kecambah pada konsentrasi tersebut diduga karena pemberian giberelin 2 ppm sangat efektif mendorong pertambahan tinggi tanaman. Krisnamooty (1981) menyatakan bahwa penggunan giberelin dapat meningkatkan pertambahan tinggi tanaman. Konsentrasi giberelin 2 ppm saat pemunculan plb dan daun lebih cepat dibanding perlakuan lain, sehingga setelah 8 minggu pengkulturan daun yang terbentuk akan mengalami pemanjangan sel yang menyebabkan

tanaman pada konsentrasi tersebut menjadi lebih tinggi. Rendahnya rerata tinggi kecambah pada perlakuan tunggal giberelin pada konsentrasi 0 ppm diduga karena waktu yang dibutuhkan untk munculnya plb dan daun cukup lama (Tabel 1), sehingga setelah 8 minggu pengkulturan belum menunjukkan pertambahan tinggi. Perlakuan tunggal air kelapa pada konsentrasi 250 ml/l menunjukkan rerata tinggi kecambah tertinggi, namun tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan perlakuan 150 ml/l dan 200 ml/l, perbedaan konsentrasi air kelapa yang diberikan tidak banyak membantu ketersedian giberelin. Di dalam air kelapa banyak mengandung hormon sitokinin dan auksin (Morel 1974), pemanjangan sel dan batang lebih banyak dibantu oleh hormon giberelin. Pemberian kombinasi giberelin dan air kelapa, kombinasi G2A3 (giberelin 2 ppm + air kelapa 250 ml/l) menunjukkan rerata tinggi tanaman tertinggi dibanding perlakuan lain yaitu 0,73 cm (Tabel 2). Sedangkan rerata tinggi tanaman terendah pada kombinasi G0A0 (kontrol) yaitu 0,00 cm. Tingginya rerata pada kombinasi G2A3 diduga karena kandungan auksin dan sitokinin pada air kelapa akan membantu pembentukan tunas pucuk ditambah dengan adanya giberelin yang membantu pemanjangan dan perkembangan daun sehingga menyebabkan tanaman akan menjadi lebih tinggi. Hasil penelitian Bey dkk (2005) menunjukkan bahwa giberelin 2 ppm dapat meningkatkan tinggi kecambah anggrek. Pada kombinasi G0A0 belum terlihat pertumbuhan kecambah, hal ini disebabkan karena pada perlakuan tersebut biji yang dikecambahkan belum mampu membentuk daun dan akar sehingga setelah 8 minggu pengkulturan belum terjadi perkembangan pada plb sehingga tidak menunjukkan adanya pertumbuhan pada kecambah anggrek bulan. KESIMPULAN • Pemberian giberelin (GA3) dan air kelapa pada konsentrasi tertentu berpengaruh positif terhadap perkecambahan biji anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis BL). Perlakuan tunggal giberelin 2 ppm dapat mempercepat munculnya plb, daun dan akr

45

Bey, Syafii dan Sutrisna : Pengaruh Gigerelin dan Air Kelapa Terhadap Perkecambahan Anggrek Bulan

dengan rentang waktu 14-16, 31-45, 49-58 hsp, juga menghasilkan kecambah tertinggi (0,545 cm). Perlakuan tunggal air kelapa 250 ml/l menghasilkan munculnya plb, daun dan akar paling cepat dengan rentang waktu 14-18, 3148 dan 49-58 hsp, juga menghasilkan kecambah tertinggi (0,437 cm). Kombinasi giberelin 2 ppm dan air kelapa 250 ml/l merupakan kombinasi terbaik pada perkecambahan biji anggrek bulan pada semua parameter pengamatan. Untuk melihat pertumbuhan kecambah sampai terbentuk tanaman dewasa perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan zat pengatur tumbuh sitokinin.

DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z. 1991. Dasar Pengetahuan Ilmu Tanaman. Angkasa Raya. Bandung Bey, Y., W. Syafii, dan N. Ngatifah. 2005. Pengaruh Pemberian Giberelin pada media Vacint dan Went terhadap perkecambahan Biji Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis BL) secara In Vito Jurnal Biogenesis. Vol 1(2):57-61

George, L.W. 1995. Teknik Kultur In Vitro dalam Holtikultura. Penebar Swadaya. Jakarta Gunawan, L.W. 2002. Budidaya Anggrek. Penebar Swadaya. Jakarta Iswanto, H. 2001. Anggrek Phalaenopsis. Agro Media Pustaka. Jakarta Kamil, J. 1979. Teknologi Benih I. Angkasa Raya. Bandung Katuuk, J.R.P. 2000. Aplikasi Mikropropagasi Anggrek Macan (Grammatohyllum sciptum) dengan Menggunakan Air Kelapa. Jurnal Penelitian IKIP Manado.1a (iv):290-298 Krisnamooty, H.N. 1981. Plant Growth Substance. Tata Mc Growth Hill Publishing Company Limited. New Delhi Mitchell, R.L., R.B. Pearce and F.P. Gardner. 1991. Fisiologi tanaman budidaya. Terjemahan Herawati S. UI Press. Jakarta Murniati dan E. Zuhry. 2002. Peranan Giberelin Terhadap Perkecambahan Benih Kopi Robusta tanpa Kulit. Jurnal Sagu,. Vol 1(1):1-5 Rizki. 2000. Teknik Produksi Bibit Anggrek. Jurusan Budidaya Pertanian. http://situshijau. mysubdomains.com/situshijau/rubrik/artikel/bibit anggrek.htm. (9 februari 2003) Salisbury, F.B. dan Ross. 1993. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3. Terjemahan oleh Lukman dan Sumaryono. ITB. Bandung

46

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful