You are on page 1of 6

Asuhan Keperawatan 3.1 Pengkajian 3.1.

1 Identitas Dalam pengkajian kita mencantumkan identitas klien (nama klien, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, pendidikan) dan identitas penanggung jawab (nama, umur, alamat, pekerjaan). Identitas klien dapat ditanyakan kepada keluarga atau dengan melihat data yag sudah diambil sebelumnya. 3.1.2 Keluhan utama dan alasan masuk. Kita kaji apa yang menyebabkan klien dibawa oleh keluarga ke rumah sakit untuk saat ini, apa yang sudah dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah klien dan bagaimana hasilnya. Hal tersebut akan berguna untuk perencanaan perawatan nantinya. 3.1.3 Faktor predisposisi Berbagai faktor yang menunjang perubahan dalam konsep diri seseorang. Faktor ini dapat dibedakan sebagai berikut : a. Faktor yang mempengaruhi harga diri, meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan yang berulang-ulang, kurangnya tanggung jawab personal, terlalu bergantung kepada orang lain, dan ideal diri yang tidak realistis. b. Faktor yang mempengaruhi performa peran adalah stereotip peran gender, tuntutan peran kerja, dan harapan peran budaya. c. Faktor yang mempengaruhi identitas pribadi meliputi kurangnya saling percaya antara orang tua dan anak, tekanan dari teman sebaya atau teman bermain, dna adanya struktur budaya yang berubah. 3.1.4 Faktor Presipitasi Kemampuan individu yang lemah dalam mengatasi stressor yang mempunyai intensitas kecemasan ekstrem dan berlangsung lama diduga mengakibatkan berbagai masalah kejiwaan dan hubungan sosial seperti menarik diri. 3.1.5 Perilaku Pengumpulan data meliputi perilaku yang objektif dan dapat diamati serta perasaan subjektif klien dan dunia dalam diri klien sendiri. kaji apakah perilaku klien berhubungan dengan harga diri rendah seperti mengkritik diri sendiri dan orang lain, penurunan produktivitas, gangguan dalam berhubungan, keluhan mengenai fisik klien, pandangan hidup yang bertentangan. 3.1.6 stresor pencetus Mengetahui stresor pencetus akan membantu dalam terapi perawatan. Adapun Stresor pencetus dapat berasal dari internal (dalam diri klien sendiri) atau eksternal (dari luar diri klien atau lingkungan). Kaji persepsi klien terhadap masalah saat ini atau yang sedang dihadapi, identifikasi hub klien yang signifikan dan tingkat keterlibatan keluarga serta tentukan kemauan klien untuk menerima terapi perawatan dan harapan atas terapi tersebut..

3.1.7 Sumber koping Salah satu bagian paling penting untuk meningkatkan respon interaktif klien adalah dengan membicarakan dan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang menyenangkan klien. Dukungan sosial dari keluarga , teman, dan pemberi pelayanan kesehatan juga merupaakan sumber yang penting. 3.1.8 mekanisme koping mekanisme koping klien dapat berupa mekanisme pertahanan ego, biasanya dipakai mekanisme pertahanan ego fantasi, disosiasi,isolasi,proyeksi, pengalihan, splitting, berbalik marah pada diri sendiri dan mengamuk. 3.2. Analisa Data NO. DATA 1). DS : - menolak makan ETIOLOGI menarik diri MASALAH KEPERAWATAN Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.

- DO : - Tampak lemas dan lemah, tidak bergairah intoleransi aktifitas - BB turun. nafsu makan

tidak ada asupan makanan dalam tubuh

2).

DS : - menolak mandi, ganti baju, menarik diri dan berias DO : - pakaian tampak kumal, intoleransi aktifitas tidak rapi, bau dan kotor

Defisit perawatan diri

3).

- tubuh kotor, rambut acak- badan tak terurus acakan dan tampak tidak segar DS : - berbicara dan teriak sendiri depresi - Jawaban yang disampaikan tidak sesuai dengan menarik diri pertanyaan.

Resiko perubahan persepsi sensori

4).

klien bermain sendiri, timbul bayangan2 menangis dan tertawa sendiri. DS : - klien menolak untuk kehilangan melakukan aktivitas dan berinteraksi seseorang yang dicintai DO : - klien menyendiri di sudut kamar dan menghindari koping individu inefektif interaksi menyendiri depresi

DO : -

Halusinasi lihat Menarik diri

5).

DS : - klien tidak mau beraktivitas DO: klien menyendiri tidak melakukan apa2

Intoleransi aktifitas

menyendiri - Klien tmpak lemas

malas sesuatu 6). DS : sangat sedih karena kehilangan sesuatu

berbuat Koping individu inefektif

kehilangan sesuatu DO : Merasa bersalah. tampak ketakutan kadang depresi sedih .

3.3 Pohon Masalah Resiko perubahan persepsi sensori : Halusinasi lihat (E)

Defisit Perawatan Diri

Intoleransi aktifitas Isolasi social: menarik diri (CP)

Koping individu tak efektif

Kehilangan

(C)

Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

3.4 Rencana Intervensi Intervensi Rasional Mandiri Rencanakan pertemuan secara Akan mampu membangun kepercayaan konsisten dan tepat waktu dengan klien karena klien tahu bahwa perawat akan komitmen dengan semua pertemuan yang telah disepakati. Sapa klien secara rutin, komentari sisi Menguatkan harga diri klien dan positif dari klien ( mis. Penampilan, mendapatkan perhatian. Kesempatan cara berpakaian, tatanan rambut). Beri untuk berinteraksi jika pasien memilih. informasi hal-hal yang terjadi pada saat itu ( mis. Pergantian jaga,observasi dll) tanpa memperhatikan respon klien Gunakan sentuhan kecuali di Sentuhan bentuk dasar komunikasi, kontraindikasikan membantu klien berinteraksi dan memperlihatkan perhatian kita pada klien. Mulai percakapan dan beri klien sebuah Klien sulit memulai aktivitas adanya topi ( mis. Kejadian tadi malam atau penugasan untuk membantu klien kejadian di lorong dll). memulai aktivitas. Tekankan keikutsertaan aktivitas unit yang rutin dsn tidsk menuntut ( mis. Menonton tv). Awalnya tekankan keikutsertaan bukan partisipasi atau kesenangan. Memulai dengan hal-hal yang mudah dicapai.akan ada interaksi dengan orang lain meningkatkan harga diri klien. Keikutsertaan mendahului partisipasi

Tingkatkan jadwal aktivitas secara bertahap. Ikut terlibat dengan satu individu lain. Anjurkan kunjungan dari teman, keluarga atau kerabat. Tentukan aktivitas favorit klien ,minta klien mengungkapkannya. Gunakan sistem kelompok untuk memberi dampak yang maksimal( mis, terapi kelompok)

Meningkatkan perubahan kerja sama, menghilangkan ancaman, meningkatkan keberhasilan interaksi. Membantu mengenal kembali perasaan saling memiliki yang merupakan hubungan yang paling berharga Membawa klien kepada ingatan atau tindakan yang membuatnya lebih baik. Sistem kelompok lebih banyak memberi kesempatan interaksi , penguatan satu sam lain dan umpan balik.

3.5 Implementasi 3.5 1 Tunjukkan sikap obyektif dan apa adanya ketika berinteraksi dg klien dan pertahankan komunikasi verbal dan non verbal yang jelas dan konsisten 3.5.2 Berikan aktifitas harian yang terstruktur 3.5.3 Pertahankan fokus pada realita dan topik yang berbasis realita 3.5.4 Bantu klien memecahkan masalah-masalah hidup yang diidentifikasi sebagai sumber stress 3.5.5 Libatkan klien secara bertahap dalam situasi kelompok, beri dukungan bila diperlukan , beri umpan balik positif untuk perilaku sosial yang tetap. 3.5.6 Eksplorasi perasaan klien berkaitan dengan penolakan, kesendirian dan ketakutan ditinggalkan 3.5.7 Gunakan pendekatan pemecahan masalah untuk membantu klien mengeksplorasi perubahan sesuai kebutuhan 3.5.8 Anjurkan klien mengidentifikasi sifat diri secara positif 3.6 Evaluasi 3.6.1 Apakah Klien tidak ada ancaman untuk melukai dirinya sendiri maupun orang lain.? 3.6.2 Apakah perilaku Klien mencerminkan penerimaan diri, nilai diri dan persetujuan diri? 3.6.3 Apakah klien menggunakan respon koping yang adaptif? 3.6.4 Apakah kemampuan interaksi klien meningkat dan mampu memberi umpan balik yang positif? 3.6.5 Apakah klien mampu mengungkapkan segala keresahan dalam hatinya? 3.6.6 Apakah klien terpenuhi kebutuhan nutrisi dan kebersihan diri serta mampu memenuhi kebutuhannya sendiri dengan bantuan yang minimum?

Panduan belajar keperawatan kesehatan jiwa dan psikiatri edisi 3 Ann isaacs, 2005 egc jakarta

Rencana asuhan keperawatan psikiatri Edisi3 egc 2007 Marilynn e. Doenges Mary c. Townsend Mary frances moorhouse Jakarta

Buku saku keperawatan jiwa edisi 5 Gail W. Stuart EGC jakarta 2007