BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

KAJIAN KRITIS PRO DAN KONTRA PELAKSANAAN HUKUMAN MATI DI INDONESIA KHUSUSNYA TERHADAP KEJAHATAN NARKOBA Oleh Supardi, SH 1. Pendahuluan Isu dan kontroversi mengenai hukuman mati di Indonesia kembali manghangat, setelah masyarakat semakin menyadari betapa dashyatnya ancaman bahaya narkoba, sehingga dengan gencar mempertanyakan kesungguhan Pemerintah, dengan menunjuk pelaksanaan eksekusi mati pada Agustus 2004 yang lalu, terhadap terpidana mati Ayoodhya Prasaad Chaubey yang tidak kunjung dilaksanakan walau grasinya telah ditolak oleh Presiden RI tahun 2002. Isu dan kontroversi terus berkembang menjelang pelaksanaan dan setelah pelaksanaan eksekusi mati tersebut yang penuh dengan lika-liku hokum. AYODYA Prasad Chaubey, seorang warga negara India berusia 67 tahun telah dijatuhi hukuman mati karena terbukti melakukan penyelundupan heroin ke Indonesia seberat 12,9 kg. Pelaksanaan eksekusi mati terhadap pria India ini sempat menjadi perdebatan antara Pemerintah India Kejaksaan Agung RI. Pemerintah India berargumen bahwa menurut Undang-Undang India, ada batas usia tertentu untuk seseorang yang akan dieksekusi mati. Hukuman mati akan terasa sangat berat bagi siapa pun, termasuk bagi seorang kakek berusia 67 tahun sekalipun. Pember-lakuan hukuman mati memang selalu mengundang kontroversi. Hal tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, namun kontroversi ini terjadi pula di sejumlah negara Eropa yang telah membatalkan hukuman mati. Hukum merupakan petunjuk mengenai tingkah laku dan juga sebagai perlengkapan masyarakat untuk menciptakan ketertiban. Hukum dapat dianggap sebagai perangkat kerja sistem sosial yang melakukan tugasnya dengan menentukan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mengatur hubungan antarmanusia. Keadilan harus selalu dilibatkan dalam hubungan satu manusia dengan manusia lainnya. Sebagai makhluk sosial, interaksi antar manusia tidak dapat dimungkiri lagi. Dalam kehidupan bermasyarakat seseorang dapat menjadi "pemangsa" bagi orang lain sehingga masyarakat dengan sistem sosial tertentu harus memberikan aturan pada para anggotanya yang mengatur tentang hubungan antar sesama. Menurut Herbert Spencer, setiap orang bebas untuk menentukan apa yang akan dilakukannya, asal ia tidak melanggar kebebasan yang sama dari lain orang. Tindakan yang dilakukan oleh Ayodya Prasad Chaubey sangat merugikan dan membahayakan banyak orang. Tindakan tersebut telah melanggar hukum yang berlaku di Indonesia. Para penyelundup, pemasok, maupun penjual narkoba merupakan pelaku-pelaku kriminal kelas berat. Pelaku kriminal tersebut menjadikan narkoba sangat mudah didapatkan oleh semua orang dari berbagai lapisan. Tindakan penyelundupan seperti ini menjadikan ribuan bahkan jutaan orang Indonesia menjadi korban efek negatif dari narkoba. Badan Narkotika Nasional mengungkapkan bahwa penduduk yang menjadi pengguna narkoba di semua ibu kota provinsi rata-rata sudah di atas 3,3 persen.

2
Pemberlakuan hukuman mati dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Kontroversi yang terjadi ditimbulkan oleh adanya pihak yang pro dan kontra terhadap pemberlakuan hukuman mati ini. Terlepas dari kontroversi tersebut, hukuman mati merupakan hukuman-hukuman pokok yang disebutkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) selain hukuman penjara, kurangan, dan denda. Hukuman mati memang mengerikan. Dalam hukuman mati ini, manusia seolah-olah mengambil peran sebagai Tuhan dengan menjadi penentu hidup atau mati seseorang. Setiap manusia sebenarnya memiliki hak untuk hidup sehingga pemberlakuan hukuman mati banyak yang menentang. Namun jika dilihat dari sudut pandang berbeda, seseorang yang melakukan tindak kejahatan berat telah melanggar hak banyak orang. Penyelundupan heroin seberat 12,9 kg telah menghancurkan masa depan rakyat Indonesia. Jika heroin sebanyak itu dikonsumsi oleh jutaan remaja di Indonesia, satu generasi penerus bangsa akan rusak. Seseorang yang mengonsumsi heroin tidak jarang berakhir dengan kematian, sehingga heroin seberat 12,9 kg dapat membunuh jutaan rakyat Indonesia. Hal tersebut menjadikan pemberlakuan hukuman mati bagi penyelundup, penjual, maupun pemasok narkoba sangat layak untuk dilakukan agar tidak muncul Ayodya-Ayodya lainnya di bumi Indonesia. Disusul dengan penolakan grasi Pemerintah terhadap terpidana mati kasus narkoba lainnya pada saat upacara Peringatan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI), tanggal 30 Juni 2006 di Istana Negara, beberapa waktu yang lalu. Setiap penolakan grasi oleh Presiden atau pada saat sidang pengadilan yang menjatuhkan vonis mati atau pada saat pelaksanaan hukuman mati terhadap seorang terpidana mati dalam kasus besar selalu menarik perhatian publik. Karena negara kita adalah negara hukum (rechstaat), dengan kondisi penegakan hukum yang masih sangat memerlukan penataan yang sungguh-sungguh (kalau tidak disebut sebagai memprihatinkan) ditengah-tengah gejolak politik yang sangat dinamis, maka tidak urung kontroversi tidak hanya berkembang di “wilayah hukum”, tetapi juga memasuki “wilayah politik” dengan berbagai interpretasi dan dugaan-dugaan. Adanya perbedaan, kontroversi, bahkan timbulnya berbagai interpretasi dan dugaan-dugaan, sebagai sesuatu yang lumrah dan wajar dalam kehidupan masyarakat plural yang mulai belajar berdemokrasi. Bahkan sebenarnya, kita harus menganggap dan menerimanya sebagai kekayaan dan suatu keharusan, bukan saja untuk memperluas wawasan dalam khasanah Demokrasi tetapi juga sebagai sarana kontrol agar tidak terjadi kesemena-menaan. 2. Hukuman Mati di Indonesia KUHP Indonesia dalam sejarahnya berasal dari Code Penal Perancis dan Wetboek Van Strafrecht Belanda yang diberlakukan pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. Dalam Code Penal dan Wetboek Van Strafrecht, masing-masing mencantumkan ancaman hukuman mati untuk kasus-kasus menyangkut keselamatan negara, keselamatan kepala negara dan kejahatan-kejahatan sadis lainnya. Sejarah hukum modern Indonesia mencatat, karena berbagai persoalan yang muncul dan pemikiran yang berkembang, para ahli hukum dan politisi Indonesia menggugat tentang KUHP yang bukan made in Indonesia, tetapi benarbenar made in Pemerintah Hindia Belanda yang diberlakukan untuk kepentingan penjajahan, dan kemudian terus dipertahankan untuk kepentingan penguasa setelah kemerdekaan, sehingga mendorong dengan keras agar KUHP Indonesia

3
direvisi. Tetapi pada kenyataannya, didalam revisi KUHP Indonesia yang ada dan berrlaku saat ini, ancaman hukuman mati tetap dipertahankan untuk berbagai jenis tindak kejahatan. Hukuman mati di Indonesia diatur dalam pasal 10 KUHP, yang memuat dua macam hukuman, yaitu hukuman pokok dan hukuman tambahan. Hukuman pokok, terdiri dari : Hukuman mati, hukuman penjara, hukuman kurungan dan hukuman denda; Hukuman tambahan terdiri dari : Pencabutan hak tertentu, perampasan barang tertentu dan pengumuman keputusan hakim. Tata cara pelaksanaan hukuman mati diatur dalam UU No.2/PnPs/1964 yang dipedomani sampai saat ini. Didalam KUHP terdapat beberapa pasal yang memuat ancaman hukuman mati, yaitu pasal 104 tentang kejahatan terhadap keamanan negara (makar), pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, pasal 111 ayat (2) tentang melakukan hubungan dengan negara asing sehingga terjadi perang, pasal 124 ayat (3) tentang penghianatan di waktu perang, pasal 124 (bis) tentang menghasut dan memudahkan terjadinya huru-hara, pasal 140 ayat (3) tentang pembunuhan berencana terhadap kepala negara sahabat, pasal 149 k ayat (2) dan pasal 148 o ayat (2) tentang kejahatan penerbangan dan sarana penerbangan, pasal 444 tentang pembajakan di laut yang mengakibatkan kematian dan pasal 365 ayat (4) tentang pencurian dengan kekerasan secara bersekutu mengakibatkan luka berat atau mati. Didalam perkembangan kemudian, terdapat beberapa Undang-Undang yang memuat ancaman hukuman mati, yaitu UU No.22/97 tentang Narkotika, UU No.5/97 tentang Psikotropika, UU No.26/2000 tentang Pengadilan HAM, UU No.31/99 jo UU No.20/2001 tentang Pemberantasan Korupsi dan UU No.1/2002 tentang tindak pidana korupsi. Artinya, ancaman hukuman mati dalam ketentuan per-undang-undangan di Indonesia masih jelas ada, bahkan semakin dikukuhkan dengan terbitnya beberapa UU yang diberlakukan sesuai dengan tuntutan kebutuhan yang berkembang di Indonesia, walaupun tidak terbebas dari tudingan, bahwa itu semua dilakukan sebagai langkah kompensasi politik akibat ketidakmampuan pemerintah membenahi sistem hukum yang korup. Berdasarkan rekaman data tahun 2004 yang ada, tercatat 62 orang yang telah dijatuhi hukuman mati dengan rincian 49 orang laki-laki dan 13 orang wanita, dimana 47 orang diantaranya sedang menunggu eksekusi. Sebelumnya 15 orang telah dilaksanakan eksekusi mati dalam berbagai kasus. Khusus dalam kasus tindak pidana narkoba, sejak tahun 1999 s/d 2006, tercatat jumlah terpidana yang dijatuhi hukuman mati 63 orang, terdiri dari 59 orang laki-laki dan 4 orang wanita dari berbagai kebangsaan (paling banyak Nigeria : 9 orang). Yang telah dieksekusi mati dalam kurun waktu 10 tahun (1994-2004) baru 2 (dua) orang, yaitu: tahun 1994, terpidana mati Steven (warga negara Malaysia) dan tahun 2004, Ayoodhya Prasaad Chaubey (warga negara India). Untuk terpidana mati kasus tindak pidana narkoba sebanyak 63 orang dan telah dieksekusi mati 3 orang, sehingga yang masih menunggu sebanyak 60 orang. Walau kini (2007) telah antri 60 orang terpidana mati kasus tindak pidana narkoba, belum juga dieksekusi. Padahal waktu putusan hukuman itu telah sepuluh tahun yang lalu. Perlu diketahui, sejak tahun 1994 hingga tahun 2006 ada 63 putusan hukuman mati bagi pengedar narkoba, namun baru dieksekusi 3 orang tahun 2004 yang lalu, berarti sepanjang 10 tahun masyarakat menanti keadilan. Menurut catatan berbagai lembaga HAM Internasional, jumlah terpidana yang dihukum mati di Indonesia, termasuk cukup tinggi setelah Cina, Amerika Serikat,

tapi meberlakukannya kembali). Thailand. khawatir. berpikir 1. Masih cukup banyak negara di dunia yang mempertahankan hukuman mati (termasuk negara-negara di kawasan ASEAN). bila hukuman mati dimaksudkan untuk pembalasan maupun untuk pencegahan.4 Kongo. berupa: gangguan kejiwaan. dan juga terangkat dalam Amandemen ke-2 UUD 1945 pasal 28A yang menyatakan bahwa “Setiap orang berhak untuk hidup. walau sesungguhnya Thailand merupakan negara yang amat sangat keras dan “getol” menjatuhkan hukuman mati terutama dalam kasus-kasus narkoba). Kelompok ini juga mengemukakan bahwa penolakan grasi sebenarnya sudah merupakan “hukuman tambahan” bagi terpidana mati maupun mereka yang masih dalam proses hukum. itu haruslah menjadi pedoman bagi segenap aturan hukum dibawahnya. Penjelasan di bawah ini mencoba menggambarkan perbedaan pendapat dan pandangan tersebut : 3. Kuba. Perbedaan Pandangan Terhadap Hukuman Mati Dapat dimengerti. RRC. Denmark. Selanjutnya dikatakan. kecuali dalam pengadilan militer). Jerman. sementara pencegahan dimaksudkan lebih pada agar orang lain jera (takut. Australia. Singapura. 3. Korea.000x) untuk melakukan kejahatan. tidak ada korelasi antara hukuman mati dengan berkurangnya tingkat kejahatan. antara lain : Rusia (pernah menghapus. hukuman mati jelas-jelas bertentangan dengan Kovenan Internasional tersebut. Dalam hal ini. yang tidak boleh dirampas. Perancis. Arab Saudi dan Iran (Thailand tidak disebutkan. Maka dengan demikian. Malaysia. atau perbedaan pendapat dan pandangan.1. yang seharusnya segera diratifikasi oleh pemerintah Indonesia sebagai bentuk kewajiban negara dalam memberikan perlindungan dan pemenuhan hakhak asasi terhadap segenap warga negara sebagai mana telah diadopsi dalam pasal 28A Amandemen UUD’45. diabaikan atau diganggu-gugat oleh siapapun. Inggris. yaitu pembalasan dan pencegahan. Italia dan negara-negara Skandinavia. Disamping itu berdasarkan Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik tentang hak untuk hidup (Right to Life) menyatakan bahwa “Setiap manusia berhak untuk hidup dan mendapat perlindungan hukum dan tiada yang dapat mecabut hak itu”. Jepang. stress. Namun cukup banyak juga yang telah menghapuskannya antara lain : Belanda (negara asal KUHP Indonesia. ternyata maksud dan tujuan itu tidaklah tercapai. mempertahankan hidup dan kehidupannya”. VXII/MPR/1998. Artinya menurut kelompok ini. Rumania. dengan melihat pada kenyataan semakin meningkatnya kasus-kasus pembunuhan (berencana) dan kasus-kasus narkoba. Maka sebagai Hukum Dasar Tertinggi (Grundnorm). Portugal. AS. tentang sikap dan pandangan bangsa Indonesia mengenai Hak-Hak Azasi Manusia. Swedia. Yang dimaksudkan dengan pembalasan yaitu pemberian hukuman yang seimbang dengan penderitaan korban. Yang Tidak Setuju Kelompok ini berpendapat bahwa hak hidup adalah hal dasar yang melekat pada diri setiap manusia / individu yang sifatnya kodrati dan universal sebagai karunia Tuhan YME. bahwa bentuk-bentuk pemidanaan tidak terlepas dari tujuan pemidanaan. bila hukuman mati banyak mengundang kontroversi. Hal itu tercantum dalam TAP MPR No. kekecewaan karena telah sekian lama mendekam di . karena menyangkut hak hidup (hak dasar) atau nyawa seseorang yang tidak akan dapat direhabilitasi bila eksekusi mati telah dilaksanakan.

Hak seseorang dibatasi oleh kewajiban menghargai dan menghormati hak orang lain (sejarah tentang hak dan kewajiban sudah ada sejak Nabi Adam dan Siti Hawa). Dari 52 orang yang dijatuhi 1 Sambutan Jaksa Agung dalam Diskusi Hukuman Mati. dari data statistik. 3. Memang sejarah hukum pidana di Indonesia pada masa lampau mengungkapkan. yang sudah barang tentu berada dalam penantian sejak dijatuhi vonis mati pada tingkat pengadilan pertama sampai dengan ditolaknya grasi oleh Presiden. Dari aspek manfaat/kegunaan. jika hukuman mati ditiadakan. pembunuhan berencana. serta institusi pemasyarakatan masih lemah. tetapi juga tetap menjalani hukuman mati. Dari aspek keadilan.1 Berdasarkan data-data yang dihimpun Kejaksaan Agung. seperti kepolisian dan kejaksaan. hukuman mati ada tercantum dengan jelas. maka penjatuhan hukuman mati seimbang dengan tindak kejahatan yang dilakukannya (terorisme. ketegasan. tetapi sebagai suatu cara untuk memperbaiki keadaan masyarakat. narkoba. kepastian hukum dan manfaat/kegunaan. dll). khayalan tetapi kenyataan yang dapat diwujudkan dengan tidak pandang bulu. Yang Setuju Didalam hukum positif (yang berlaku) di Indonesia. maka hak hidup dia bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan dan dibela. keturunan. Dalam menyikapi tentang hukuman mati. terorisme adalah perbuatan yang merusak apa yang harus dan wajib dipelihara. yaitu hak melaksanakan kewajiban dan kewajiban melaksanakan hak. yaitu : keadilan. hukuman mati akan membuat efek jera kepada orang lain yang telah dan akan melakukan kejahatan. histeris sebelum hukuman mati dilaksanakan dan beban psikologis berat bagi keluarganya. harta.2. adanya sikap dan pendapat bahwa pidana mati merupakan obat yang paling mujarab untuk menghadapi dan menanggulangi kejahatan-kejahatan berat. orang yang menjalani hukuman mati ternyata hanya sedikit. Dari aspek kepastian hukum. Bagi kelompok ini yang khusus mengacu pada Hukum Islam mengatakan. narkoba. di Jakarta. menunjukkan adanya konsistensi. Dimana ada hak disitu ada kewajiban. Berkaitan dengan hak asasi manusia. kelompok ini mengemukakan bahwa hak azasi juga mengandung kewajiban azasi. Hukuman mati sebenarnya bertujuan bukan untuk balas dendam. serta juga dapat memelihara wibawa pemerintah cq penegak hukum. nyawa. Khusus untuk perkara narkotika dan obat-obatan berbahaya. Kepastian hukum juga hal yang penting bagi terpidana mati. sebagai prinsip Islam yang wajib dijaga dan jangan sampai dirusak oleh siapapun. bahwa apa yang tertulis bukan sebuah angan-angan. Indonesia telah mengirimkan pesan yang salah kepada para pengedar.5 penjara. bahkan tata cara pelaksanaannya pun juga telah diatur dengan jelas.” Tindak kejahatan pembunuhan. Maka dari sudut hukum (legalistik) tidak ada hal yang harus diperdebatkan. Bila hukuman mati ditiadakan. bahwa “Islam mengajarkan agar umat Islam memelihara akal. dikhawatirkan situasi di Indonesia makin memburuk. Maka hukuman yang pas bagi pelakunya adalah hukuman mati. baik dalam KUHP Nasional maupun di berbagai perundang-undangan. 14 Desember 2006 . Abdul Rahman menjelaskan bahwa selama kurun waktu 1945-2003. yaitu ditegakkannya hukum yang ada dan diberlakukan. kelompok ini mengaitkannya dengan 3 (tiga) tujuan hukum. dan pada masa sekarang pun pendapat itu masih ada. Apabila seseorang telah dengan sengaja menghilangkan hak hidup (nyawa) orang lain. dan agama. Penghapusan hukuman mati di Indonesia masih belum bisa dilakukan karena institusi penegak hukum.

Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat. akan tetapi jika dibaca isi pasal 28 huruf (J) UUD 1945 secara eksplisit mengatakan: "kebebasan setiap orang harus dibatasi oleh UU. hingga menelan nyawa satu keluarga dalam rumah tangga. Memang menurut pasal 28 huruf (A) UUD 1945 menyebutkan. pengedar narkoba bertaraf trans-nasional/internasional yang mengakibatkan rusaknya moral dan mental masyarakat. Sekalipun penerapan pidana mati bukan jaminan terjadinya efek jera para penjahat kriminal. tetapi juga harus melihat kepentingan secara nasional. Kedua kejahatan itu dianggap membahayakan masyarakat dan negara. Isi lengkap pasal 28 (J) UUD 1945 tersebut. sebab kriteria atau elemen/unsur-unsur kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity) telah secara eksplisit diatur dalam pasal 9 UU No 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. bahwa penerapan pidana mati di berbagai UU tersebut adalah merupakan pengejawantahan dari UUD 1945. keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis. 2. Apakah penjahat semacam itu masih perlu dibiarkan hidup? . berbangsa dan bernegara . seperti: pembunuh berdarah dingin. tetapi harus secara utuh. UU Narkotika/Psikotropika. "Hak setiap orang untuk hidup". Itu berarti. Artinya bahwa penerapan pidana mati di Indonesia tidak bertentangan dengan UUD 1945. nilai-nilai agama. khususnya pihak korban yang terbunuh secara sadis. Para pembuat hukum di parlemen yang mewakili masyarakat mengklasifikasikan kejahatan-kejahatan itu sebagai ancaman terhadap kehidupan di Indonesia 4. yang tidak berperikemanusiaan itu. antara lain: 1. peledakan bom hingga mematikan banyak korban yang tidak berdosa. Bayangkan saja kalau malapetaka kejadian itu tertuju kepada pihak pendukung dihapuskannya pidana mati tersebut. Karena penerapan pidana mati telah mempunyai legitimasi konstitusional. UU Terorisme dan UU Pengadilan HAM. biadab. maka pemberlakuan hukuman mati di Indonesia pun tidak melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) terpidana mati. kita tidak boleh berpandangan sempit hanya tertuju kepada kepentingan terpidana mati saja. Indonesia saat ini masih menerapkan hukuman mati terhadap para pengedar narkoba dan tindak pidana terorisme. ternyata hanya 15 orang yang telah dieksekusi selama kurun waktu 58 tahun. agama. Dalam menjalankan hak dan kebebasannya. UU Tindak Pidana Korupsi. Oleh karena itu pencantuman pidana mati di berbagai UU tersebut termasuk di dalam RUU-KUHP mendatang telah mempunyai legitimasi konstitusional. Menyikapi penerapan hukuman mati di Indonesia. Membaca UUD 1945 tidak bisa sepotong-sepotong. setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral. setidaknya akan dapat meminimalisir berbagai angka kejahatan di Indonesia. namun penerapan pidana mati di Negara Indonesia yang beraneka-ragam suku. Pelaksanaan Hukuman Mati Tidak Bertentangan dengan UUD 1945 Alasan mempertahankan pidana mati: karena berbagai produk UU telah menetapkan secara eksplisit ancaman maksimal pidana mati dalam: Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP).6 hukuman mati. ras. Frans Hendra Winarta (2006) menjelaskan.

sekalipun Undang Undang menentukan adanya pidana mati. karena keadaannya yang semakin memprihatinkan. 5. karena Pemerintah melaksanakan eksekusi terpidana mati telah berdasarkan putusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (incraht van gewijsde). apakah ia hanya turut membantu atau yang disuruh melakukan kejahatan tersebut. sekali hakim salah menjatuhkan hukuman mati terhadap seorang terdakwa yang sebenarnya vonis itu tidak pantas dijatuhkan kepadanya. siapa otak intelektualnya. Namun. Ingat. masih bisa di perbaiki oleh hakim tingkat banding. bukan berarti hakim seenaknya menjatuhkan ancaman maksimal pidana mati kepada terdakwa tersebut. suatu permasalahan yang tidak boleh dipandang enteng. Hakim harus melihat secara cermat dan hati-hati. sebab putusan hakim disini menyangkut pencabutan "nyawa manusia" ciptaan Tuhan.7 Apakah terdakwa semacam ini tidak melanggar hak hidup orang lain yang justeru dapat dikualifisir melanggar HAM. dosa hakim yang memvonis hukuman mati tersebut tidak akan terampuni oleh Tuhan yang Maha Benar dan Maha Adil. Jika putusan hakim tingkat pertama masih dirasa kurang adil. Data Tindak Pidana Narkoba di Indonesia tahun 2001-2006 Dengan menyoroti permasalahan narkoba di Indonesia. Jika disebut Pemerintah melakukan pelanggaran HAM di saat mengeksekusi terpidana mati adalah keliru. Berikut Data kasus narkoba di Indonesia dalam 6 tahun terakhir. hakim kasasi dan hakim peninjauan kembali di Mahkamah Agung. fakta hukum yang terungkap di persidangan. DATA KASUS TINDAK PIDANA NARKOBA DI INDONESIA TAHUN 2001-2006 (NOPEMBER) .

8 .

Dalam UU No. profesionalisme tampak belum sepenuhnya dipenuhi.9 Disadari sepenuhnya. Setidaknya dimaksudkan. Anggapan lainnya. . Sementara kenyataan lainnya. Dalam hal ini tidak dapat dipungkiri. Permintaan dari pemakai dan calon pemakai dan penawaran dari pengedar/pemasok (sesuai tingkatannya) yang diperoleh dari produsen. kendati polisi sudah berulangkali menembak mati setiap pelaku kriminal yang tidak kooperatif atau bahkan membahayakan nyawa para penegak hukum itu. selain agar tepat sasaran. hukuman mati harus tetap mengacu pada kaidah-kaidah hukum lainnya dan mengindahkan prinsip kemanusiaan. tentu haruslah pada kedua pihak (yang meminta dan yang menawarkan). Bila berbicara tentang hukuman mati.22/97 tentang Narkotika dan UU No. Para kelompok yang anti hukuman mati itu berpandangan bahwa peninjauan kembali terhadap hukuman mati sangat diperlukan dengan adanya pro kontra itu. toh kenyataan menunjukkan tindakan tegas itu tidak cukup signifikan mengurangi angka kejahatan.5/97 tentang Psikotropika. maka tentulah hukuman ini diarahkan ke pihak yang menawarkan (supplier) yaitu pengedar dan produsen. yaitu ada permintaan dan ada penawaran. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Nah. Maka penanganannya. dalam permasalahan Narkoba berlaku hukum pasar. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika dan Pasal 59 ayat (2) UU No. yaitu : Pasal 80 ayat (1)a dan ayat (3)a UU No. kendati kehidupan di balik buih tidak pernah lepas dari cerita-cerita yang menyeramkan dan menyedihkan. namun catatan menunjukan jumlah tahanan tidak pernah berkurang. jelas terdapat pasal-pasal yang memuat ancaman hukuman mati bagi pelaku tindak pidana Narkoba. hal tersebut sangat terkait dengan profesionalisme aparat penegak hukum dalam menjalankan tugasnya.

7. dan denda. Terlepas dari kontroversi tersebut. yaitu kejahatan terhadap keamanan negara. Hukum nasional Indonesia juga memiliki mekanisme hukuman mati. Angka mereka yang dihukum mati di Indonesia termasuk cukup tinggi setelah Cina. Hukuman mati di Manca Negara Lebih dari separuh negara di dunia melarang hukuman mati. Presiden Megawati Soekarnoputri (2004) menyatakan mendukung tindakan segera melakukan eksekusi atas para terpidana mati. Kontroversi yang terjadi ditimbulkan oleh adanya pihak yang pro dan kontra terhadap pemberlakuan hukuman mati ini. Pemberlakuan hukuman mati dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Amerika Serikat. Eksekusi terhadap terpidana hukuman mati akan dilaksanakan dihadapan regu tembak sesuai denganUndang-Undang nomor 2/PNPS/1964 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pidana Mati. Hukuman Mati dan Dasar Hukumnya Hukuman mati ialah suatu hukuman atau vonis yang dijatuhkan pengadilan (atau tanpa pengadilan) sebagai bentuk hukuman terberat yang dijatuhkan atas seseorang akibat perbuatannya. Kongo. Sementara pada saat penerapan ancaman hukuman mati dikuatkan di dalam KUHP. terdapat dua pasal ancaman hukuman mati yaitu pasal 104 tentang kejahatan terhadap keamanan negara atau makar dan pasal 340 tentang pembunuhan berencana. yaitu Belarus. dengan merumuskannya dalam 104 KUHP. upaya membangun demokratisasi dan penghormatan HAM yang menjadi agenda reformasi di bidang hukum. dan saat ini masih diakui sebagai bagian dari hukum pidana pada Pasal 10 KUHP. Berdasarkan catatan berbagai lembaga HAM internasional.10 6. dikenal beberapa cara pelaksanaan hukuman mati: dipancung. Dalam sejarah. Langkah itu dijelaskan sebagai upaya mempercepat pelaksanaan eksekusi terhadap sejumlah orang yang telah dijatuhi pidana mati oleh Pengadilan.500 orang menunggu pelaksanaan hukuman mati di berbagai penjara di Amerika. beberapa tahun sebelumnya Pemerintah Belanda telah mencabut ancaman hukuman mati pada sistem hukumnya. Pakistan dan Amerika Serikat. Iran. Hampir 3. justru menerbitkan ketentuan hukum yang menerapkan pidana mati. Tahun 2004. hukuman mati merupakan hukuman-hukuman pokok yang disebutkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) selain hukuman penjara. dan disuntik.S) warisan peninggalan kolonial Belanda yang disahkan pada 1 Januari 1918 setelah dilakukannya unifikasi terhadap seluruh hukum pidana bagi golongan bangsa tertentu yang kemudian WvS berlaku bagi seluruh golongan penduduk Hindia Belanda. Bahkan ironisnya. ditembak mati. . digantung. Arab Saudi dan Iran. kurangan. Disadari bahwa KUHP yang dahulu bernama Wetboek van Strafrecht (Wv. 80% (Delapan puluh persen) dari seluruh hukuman mati yang dilaksanakan di dunia sejak tahun 1976 terjadi di Cina. Dalam KUHP. disetrum pada kursi listrik. yang masih mempertahankan hukuman mati. Indonesia termasuk salah satu negara yang masih menerapkan ancaman hukum mati pada sistem hukum pidananya. Hanya satu negara di Eropa. Amerika mengeksekusi 59 orang dewasa. Penguatan pasca hukuman mati oleh pemerintah kolonial Belanda di Indonesia (Hindia Belanda) adalah politik kolonial untuk menerapkan ancaman itu bagi kalangan Bumi Putra sebagai instrumen.

dari data statistik. Penghapusan hukuman mati di Indonesia masih belum bisa dilakukan karena institusi penegak hukum. Bagan Penerapan Hukuman Mati di Dunia Keterangan: Biru : dihapus untuk semua kejahatan Hijau : dihapus untuk kejahatan biasa tetapi tidak untuk luar biasa (perang) Oranye : secara praktis telah menghapus Merah : masih dilakukan 8. tetapi sejak itu telah mengeksekusi 956 orang. dikhawatirkan situasi di Indonesia makin memburuk. sementara seluruh mereka yang dijatuhi hukuman mati baik yang menunggu eksekusi . proses peradilan dan sudah eksekusi berjumlah 62. Dari 52 orang yang dijatuhi hukuman mati. Jumlah .11 Yaitu Undang-Undang No. Sementara sebelumnya telah dilakukan eksekusi terhadap 15 orang lainnya telah dijatuhi hukuman mati. Penerapan hukuman mati di Indonesia mempunyai efek jera dan hal ini masih digunakan di beberapa negara di dunia. maupun dalam tahap menunggu. ternyata hanya 15 orang yang telah dieksekusi selama kurun waktu 58 tahun. The Indonesian Human Rights Watch. dan Perpu / RUU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang diajukan ke DPR pada awal tahun ini. Beberapa tren menunjukkan berkurangnya dukungan pada hukuman mati di Amerika. Sedang menurut IMPARSIAL. jika hukuman mati ditiadakan. Khusus untuk perkara narkotika dan obat-obatan berbahaya. Berdasarkan data-data yang dihimpun Kejaksaan Agung (2003). selama kurun waktu 1945-2003. jumlah itu terdiri 13 orang perempuan dan 49 laki-laki. seperti kepolisian dan kejaksaan. orang yang menjalani hukuman mati ternyata hanya sedikit. saat ini di Indonesia tidak kurang 47 orang yang sedang menunggu eksekusi. baik telah dieksekusi. beberapa orang telah menunggu proses eksekusi lebih dari lima tahun. Menurut Jaksa Agung RI. Perdebatan soal hukuman mati sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Beberapa di antara para terpidana mati. Studi Banding Hukuman mati di Amerika Amerika melarang pelaksanaan hukuman mati selama enam tahun pada awal tahun 1970an. tetapi hanya jalan di tempat. Indonesia telah mengirimkan pesan yang salah kepada para pengedar. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. serta institusi pemasyarakatan masih lemah. Bila hukuman mati ditiadakan.

tidak seperti hukuman mati. yang memuat dua macam hukuman. Angket Gallup menunjukkan bahwa 60 persen warga Amerika tidak berpendapat bahwa hukuman mati dapat menjadi penangkal. yang telah mengeksekusi 336 orang narapidana sejak tahun 1976. didalam revisi KUHP Indonesia yang ada dan berrlaku saat ini. Dalam Code Penal dan Wetboek Van Strafrecht. Sejarah hukum modern Indonesia mencatat.12 vonis hukuman mati turun lebih dari 50 persen. yang membuat orang berpikir dua kali sebelum membunuh orang lain. ancaman hukuman mati tetap dipertahankan untuk berbagai jenis tindak kejahatan. terdiri dari : Hukuman mati. 12 negara bagian telah melarang hukuman mati. Mahkamah Agung Amerika sejak lama membahas isu ini. Pro death penalty activist Peggy Harris Tahun 1994. Mahkamah Agung menaikkan batas umur orang yang dapat dihukum mati menjadi 16 tahun. Hukuman mati di Indonesia diatur dalam pasal 10 KUHP. karena berbagai persoalan yang muncul dan pemikiran yang berkembang. dan eksekusi turun 40 persen sejak tahun 1999. hukuman penjara. jumlahnya turun menjadi 67 persen. yaitu hukuman pokok dan hukuman tambahan. Bahkan di negara bagian Texas. karena setiap negara bagian di Amerika boleh membuat undang-undang sendiri. negara bagian New York menyatakan hukuman mati melanggar konstitusi. batas itu telah dinaikkan menjadi 18 tahun. 80 persen warga Amerika mendukung hukuman mati. masing-masing mencantumkan ancaman hukuman mati untuk kasus-kasus menyangkut keselamatan negara. maka dukungan untuk hukuman mati hanya 50 persen. Hukuman pokok. Seorang tokoh keagamaan Amerika belum lama ini menyatakan keyakinan bahwa tidak lama lagi. dipertanyakan dengan serius. orang mulai bertanya-tanya. Tetapi tingkat pembunuhan di negara-negara bagian itu paling tinggi di Amerika. 9. Sebagian besar hukuman mati di Amerika dilaksanakan di empat negara bagian. sehingga mendorong dengan keras agar KUHP Indonesia direvisi. Satu alasan yang mungkin mempengaruhi pendapat warga Amerika mengenai hukuman mati adalah: sejak digunakannya DNA 25 tahun yang lalu. Tahun 2002. perampasan barang tertentu dan pengumuman keputusan hakim. Tahun 2004. Sebaliknya. Hukuman Mati di Indonesia KUHP Indonesia dalam sejarahnya berasal dari Code Penal Perancis dan Wetboek Van Strafrecht Belanda yang diberlakukan pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. 117 narapidana yang divonis mati telah dibebaskan karena bukti DNA menunjukkan bahwa mereka tidak bersalah. hukuman mati akan dilarang di Amerika. orang yang cacat mental dinyatakan tidak dapat dijatuhi hukuman mati. Tata cara . Tahun 1988. para ahli hukum dan politisi Indonesia menggugat tentang KUHP yang bukan made in Indonesia. dan kemudian terus dipertahankan untuk kepentingan penguasa setelah kemerdekaan. tetapi benarbenar made in Pemerintah Hindia Belanda yang diberlakukan untuk kepentingan penjajahan. hukuman kurungan dan hukuman denda. Delapanpuluh lima persen dari semua hukuman mati di Amerika dilaksanakan di negara-negara bagian di selatan. Argumen lama bahwa hukuman mati menjadi penangkal. Tidak mengherankan bahwa semakin banyak orang Amerika memilih hukuman yang masih dapat dibalikkan. keselamatan kepala negara dan kejahatan-kejahatan sadis lainnya. Hukuman tambahan terdiri dari : Pencabutan hak tertentu. Sekarang. Tahun 2004. Kalau responden diberi opsi vonis hukuman penjara seumur hidup. Tetapi pada kenyataannya.

Didalam perkembangan kemudian. Berdasarkan rekaman data tahun 2004 yang ada. terdiri dari 30 orang laki-laki dan 4 orang wanita dari berbagai kebangsaan (paling banyak Nigeria : 9 orang).2/PnPs/1964 yang dipedomani sampai saat ini.22/97 tentang Narkotika. yaitu: tahun 1994. sejak tahun 1999 s/d 2004. pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. tercatat 62 orang yang telah dijatuhi hukuman mati dengan rincian 49 orang laki-laki dan 13 orang wanita. Yang telah dieksekusi mati dalam kurun waktu 10 tahun (1994-2004) baru 2 (dua) orang. UU No. pasal 124 (bis) tentang menghasut dan memudahkan terjadinya huru-hara. . bahwa itu semua dilakukan sebagai langkah kompensasi politik akibat ketidakmampuan pemerintah membenahi sistem hukum yang korup. pasal 149 k ayat (2) dan pasal 148 o ayat (2) tentang kejahatan penerbangan dan sarana penerbangan. pasal 111 ayat (2) tentang melakukan hubungan dengan negara asing sehingga terjadi perang. jumlah terpidana yang dihukum mati di Indonesia. pasal 124 ayat (3) tentang penghianatan di waktu perang. maka semua bangsa menyatakan perang terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. bahwa kejahatan Tindak Pidana Narkoba dapat menghancurkan masa depan suatu bangsa dengan membunuh secara perlahan tapi pasti seluruh potensi dan aset berharga sebuah bangsa. walaupun tidak terbebas dari tudingan. Kongo. Mengingat besarnya harga yang harus dibayar oleh TP kasus narkoba. pasal 444 tentang pembajakan di laut yang mengakibatkan kematian dan pasal 365 ayat (4) tentang pencurian dengan kekerasan secara bersekutu mengakibatkan luka berat atau mati.26/2000 tentang Pengadilan HAM. terdapat beberapa Undang-Undang yang memuat ancaman hukuman mati.1/2002 tentang tindak pidana korupsi. Ayoodhya Prasaad Chaubey (warga negara India). yaitu UU No. terpidana mati Steven (warga negara Malaysia) dan tahun 2004. biaya sosial ekonomi akibat penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. UU No. 10.13 pelaksanaan hukuman mati diatur dalam UU No.20/2001 tentang Pemberantasan Korupsi dan UU No.5/97 tentang Psikotropika. Menurut catatan berbagai lembaga HAM Internasional. Artinya. pasal 140 ayat (3) tentang pembunuhan berencana terhadap kepala negara sahabat. walau sesungguhnya Thailand merupakan negara yang amat sangat keras dan “getol” menjatuhkan hukuman mati terutama dalam kasus-kasus narkoba). bahkan semakin dikukuhkan dengan terbitnya beberapa UU yang diberlakukan sesuai dengan tuntutan kebutuhan yang berkembang di Indonesia. Didalam KUHP terdapat beberapa pasal yang memuat ancaman hukuman mati. terbuangnya kesempatan berkarya tenaga produktif rakyatnya. kinerja kerja manusianya. Hukuman Mati Bagi Pelaku Tindak Pidana Narkoba Sebagaimana diketahui. ancaman hukuman mati dalam ketentuan per-undang-undangan di Indonesia masih jelas ada. dana negara untuk penyediaan obat dan pemeliharaan korban.31/99 jo UU No. dll. Khusus dalam kasus tindak pidana narkoba. Amerika Serikat. UU No. Sebelumnya 15 orang telah dilaksanakan eksekusi mati dalam berbagai kasus. Mulai dari generasi mudanya. tercatat jumlah terpidana yang dijatuhi hukuman mati 34 orang. Arab Saudi dan Iran (Thailand tidak disebutkan. dimana 47 orang diantaranya sedang menunggu eksekusi. termasuk cukup tinggi setelah Cina. yaitu pasal 104 tentang kejahatan terhadap keamanan negara (makar).

000. tetap tidak menyurutkan angka kejahatan tersebut. Pemerintah Malaysia dan Singapura. tetapi terus berperilaku merusak tatanan kehidupan. mengajak seluruh bangsa di Dunia untuk Perang terhadapa narkoba sejak tahun 1992. walau dianggap paling liberal/bebas terhadap peredaran narkoba. Hukuman mati bagi pelaku dilakukan setiap saat secara kolektif. mengeluarkan peraturan antara lain : barangsiapa membawa narkoba lebih dari 20 gram meskipun dengan resep dokter atau untuk keperluan medis akan dihukum mati. Walau daftar antri hukuman mati itu panjang.9 kg= 12. Mereka diarak keliling kota dan dipertontonkan kepada publik. Pemerintah India berargumen bahwa menurut Undang-Undang India. manusia dibuat seperti mayat hidup yang tidak berpotensi lagi membangun peradaban dan kebudayaannya. disaksikan masyarakat luas dan disiarkan untuk tujuan memberikan efek jera kepada masyarakat agar tidak melakukan kejahatan serupa. setiap pengguna yang kedapatan membawa lebih dari 5 ml gram heroin (sebuah kadar untuk pengguna) dijatuhi hukuman mati dengan digantung atau dihukum cambuk. Dengan dosis itu ia . dibawah koordinasi UNDCP yaitu organisasi yang menangani kejahatan dan narkoba Internasional. Pentingnya pemberlakukan hukuman mati bagi pelaku tindak pidana narkoba Kejahatan Narkoba adalah kejahatan kemanusiaan yang bertujuan memusnahkan umat manusia secara perlahan tetapi pasti.000. Pemerintah Thailand. mili gram kakek berusia 67 tahun ini berpotensi membunuh secara perlahan manusia sebanyak 129 juta jiwa. yang negaranya strategis di jalur peredaran narkoba Segitiga Emas dan Bulan Sabit Emas. Pemerintah Belanda.9 kg. c. yaitu hari Internasional melawan penyelahgunaan dan peredaran gelap narkoba. 11. Mengapa seorang Ayodya harus menerima hukuman mati? Dengan 12. adalah negara yang paling keras melakukan perang terhadap tindak pidana narkoba.9 x 1. hal itu diperingati terus sepanjang tahun hinggi kini. pengedar narkoba dikenai hukuman kerja paksa. Akankah mereka hanya mendapatkan hukuman penjara atau seumur hidup? Ayodya Prasad Chaubey. dengan perhitungan seorang penyalahguna narkoba jenis heroin memakai dosis 1 miligram. Beberapa negara yang keras memberlakukan hukuman mati itu antara lain : a. Sejak itu berbagai kebijakan dan strategi penanggulangan ancaman bahaya narkoba dilakukan termasuk pemberlakukan hukuman yang berat bagi pelakunya. harus ditebus oleh keluarga pelaku. ada batas usia tertentu untuk seseorang yang akan dieksekusi mati. seorang warga negara India berusia 67 tahun telah dijatuhi hukuman mati karena terbukti melakukan penyelundupan heroin ke Indonesia seberat 12. dengan tema yang setiap tahunnya berbeda. Dengan kejahatan narkoba. Setiap peluru yang dipergunakan untuk mengeksekusi.14 Semua bangsa di dunia. b. Pemerintah Republik Rakyat China (RRC). Seluruh potensi akal fikir dan budi manusia dirusak secara masal untuk kepentingan pribadai dan golongan. Pelaksanaan eksekusi mati terhadap pria India ini sempat menjadi perdebatan antara Pemerintah India Kejaksaan Agung RI. kemudian proses ekseskusi mati dengan ditembak. d. Pemerintah Jepang juga memberlakukan hukuman mati bagi pelaku TP Nakoba dan mewajibkan para bankir dan akuntan untuk melaporkan jika ada transaksi narkoba e.

Triliunan uang negara dan rakyat habis oleh akibat tindakan-tindakan mereka. Nah. pemberlakuan hukuman mati tidak akan berjalan efektif jika tidak diikuti oleh pembenahan sistem hukum dan peningkatan sumber daya manusia dalam bidang hukum. . Hukuman mati memang mengerikan. maupun penjual narkoba merupakan pelaku-pelaku kriminal kelas berat. Meskipun demikian.15 telah telah mengalami gangguan fisik dan psikis hingga berakibat kematian. Sebagai makhluk sosial. Hukum dapat dianggap sebagai perangkat kerja sistem sosial yang melakukan tugasnya dengan menentukan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mengatur hubungan antarmanusia. Bahkan. seharusnya menjadi ujung tombak pemrakarsa hukuman mati bagi pengedar gelap narkoba yang sudah diputuskan oleh Pengadilan. Tindakan yang dilakukan oleh Ayodya Prasad Chaubey sangat merugikan dan membahayakan banyak orang. Kata seharusnya sengaja ditempatkan pada kata di atas. dalam posisinya sebagai focal point di bidang upaya P4GN. Hukum merupakan petunjuk mengenai tingkah laku dan juga sebagai perlengkapan masyarakat untuk menciptakan ketertiban. Kelemahan sistem hukum Indonesia dapat dilihat ketika seorang terpidana mati akhirnya dapat melenggang bebas setelah melakukan beberapa kali banding atau ketika Mahkamah Agung mengurangi hukuman mati yang telah diputuskan oleh pengadilan negeri (PN) dan pengadilan tinggi (PT). Dalam kehidupan bermasyarakat seseorang dapat menjadi "pemangsa" bagi orang lain sehingga masyarakat dengan sistem sosial tertentu harus memberikan aturan pada para anggotanya yang mengatur tentang hubungan antarsesama. Pemberlakuan hukuman mati memang selalu mengundang kontroversi. bayangkan masih ada 43 orang yang masih nyaman menikmati hidupnya. interaksi antarmanusia tidak dapat dimungkiri lagi. namun hal ini merupakan tugas seluruh rakyat Indonesia untuk mengembalikan citra hukum sebagai suatu punishment yang harus dihormati dan tidak dapat diperjualbelikan 12. manusia seolah-olah mengambil peran sebagai Tuhan dengan menjadi penentu hidup atau mati seseorang. Dalam hukuman mati ini. Para penyelundup. termasuk bagi seorang kakek berusia 67 tahun sekalipun. Pembenahan hukum di Indonesia tidak bisa dibebankan pada salah satu pihak tertentu saja. pemasok. telah berapa banyak potensi korban yang diakibatkan oleh 1 orang Ayodya Prasad ini. namun pemerintah membalasnya dengan menunda-nunda eksekusinya. Setiap manusia sebenarnya memiliki hak untuk hidup sehingga pemberlakuan hukuman mati banyak yang menentang. Sejak ditangkap 10 tahun yang lalu. Keadilan harus selalu dilibatkan dalam hubungan satu manusia dengan manusia lainnya. Tindakan penyelundupan seperti ini menjadikan ribuan bahkan jutaan orang Indonesia menjadi korban efek negatif dari narkoba. Pelaku kriminal tersebut menjadikan narkoba sangat mudah didapatkan oleh semua orang dari berbagai lapisan. karena selama ini usaha yang dilakukan tidak optimal. Posisi Badan Narkotika Nasional dalam Proses Hukuman Mati Badan Narkotika Nasional sebagai lembaga non struktural pemerintah. Tindakan tersebut telah melanggar hukum yang berlaku di Indonesia. sementara korbanya satu per satu mati over dosis. Hukuman mati akan terasa sangat berat bagi siapa pun. hakim yang menjatuhkan hukuman mati di tingkat PN dan PT malah dimutasi ke daerah-daerah yang cukup jauh.

Begitu sulitkah BNN membantu memuaskan rasa keadilan rakyat yang peduli akan bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba? Nampaknya untuk 5 sampai 10 tahun ke depan hal itu belum akan terealisasikan manakala strategi yang dipakai masih jalan di tempat. Kurang komitmen dan koordinasi antara anggota BNN khususnya komunitas penegakan hukum yang selalu menjadi hambatan jalan di tempat tersebut. Komunitas ini nantinya menjadi semacam panitia khusus (pansus) percepatan eksekusi hukuman mati. bahkan tidak ada satu kabupaten/kota di 2 Menurut data Depkes (2005) faktor penyebaran HIV/AIDS oleh IDU’s tahun 2005 sebesar 50. yaitu penyalahgunaan Narkoba dan Penyebaran Virus HIV/AIDS yang harus ditangani secara serius. pertama. Pada kesempatan hari Internasioanl melawan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba tahun ini.1%. Namun apakah cukup sampai disitu? Tentu rakyat sangat menungggu wujud langkahlangkah strategis dan taktis di bidang penegakkan hukum. Kalakhar BNN mengundang komunitas penegak hukum untuk membicarakan tema khusus percepatan pelaksanaan eksekusi terhadap 35 terpidana mati kasus narkoba. Hal itu telah berhasil dilakukan engan berhasilnya dieksekusi 3 orang terpidana mati. Hasil dari kunjungan kerja itu disampaiakan melalui press releease ke berbagai media masa. ATS 35 juta jiwa (terdiri dari : Shabu 25 juta jiwa dan Ekstasi 10 juta jiwa). diketahui angka prevalensi penyalahguna Narkoba di Indonesia sebesar 1.4 juta jiwa. Penyalahgunaan Narkoba Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia dewasa ini telah merambah ke seluruh wilayah RI. Hasil Penelitian Menyoroti permasalahan narkoba di Indonesia tidak terlepas dari kondisi global penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba dan kecenderungan terus meningkat. 3. Ketua dan Kalakhar BNN mengadakan kunjungan kerja ke lembaga yang berhubungan langsung dengan pelaksanaan eksekusi yaitu Kejaksaan Agung. Di tingkat Anggota BNN.2 Sedangkan angka kematian pecandu sebesar 15. agar rakyat mengetahui usaha dan kesulitan eksekusi. . Hal ini mengancam Indonesia pada Epidemi Ganda.5% dari total populasi (± 3. Menurut survey BNN dan Puslitkes UI (2004). Di tingkat Lakhar BNN. Angka prevalensi setahun terakhir penyalahguna Narkoba di dunia sebesar 5% dari populasi dunia (kurang lebih 200 juta jiwa) dengan perinciannya yaitu : penyalahguna Ganja 162. 2. Dari Jumlah tersebut.3 juta jiwa). Kedua.4 juta jiwa. Opiat 15. Kunjungan kerja itu dilakukan untuk melihat sejauhmana tingkat hambatan-hambatan yang mempersulit pelaksanaan eksekusinya.Ada beberapa alternative yang ingin penulis sampaikan dalam tulisan ini. dalam mempengaruhi Pemerintah (Presiden) agar menolak grasi terpidanan kasus narkoba. melalui pendekatan kepada parlemen dengan menggunakan perpanjangan DPR.000 mati per tahun atau 41 orang per hari.2 juta jiwa). 13. yaitu : 1. yang berkaitan dengan percepatan eksekusi hukuman mati. ± 572.000 pecandu teridentifikasi sebagai IDUs yang berpotensi terjangkit HIV dan memicu penyebaran AIDS secara cepat.9 juta jiwa (dimana heroin sebesar 11. Menurut estimasi Badan Dunia bidang Narkoba (United Nations Office on Drugs and Crime—UNODC) pada World Drug Report (2006). Kokain 13. agar memberikan masukan yang konstruktif kepada presiden melalui Kejaksaan Agung sebagai pelaksana Eksekusi.16 Berbagai pendekatan telah dilakukan oleh BNN.

kemudian dirumuskan / diramu oleh pemerintah lalu kemudian diberlakukan kepada masyarakat itu. maka rakyatlah yang harus menghapusnya. tentu haruslah pada kedua pihak (yang meminta dan yang menawarkan). Dari sudut teori pembentukan hukum.2. Bahkan dari temuan hasil survey. 13. yaitu ada permintaan dan ada penawaran. Dengan penggambaran ini. Dari Sudut Ideologi dan Politis Sebagaimana uraian di atas. usia pertama kali menyalahgunakan Narkoba semakin muda Disadari sepenuhnya. betapa terancamnya masa depan bangsa ini karena begitu banyaknya generasi muda Indonesia yang telah menjadi korban dan akan menjadi korban dalam kesia-siaan akibat penyalahgunaan Narkoba. 13. Maka didalam berbagai ketentuan hukum dan per-UU-an di Indonesia. bahwa hukum yang berlaku di suatu negara diambil dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakatnya. 4 Berdasarkan Survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba pada Kelompok Pekerja Formal dan Informal yang dilakukan BNN dengan BPS (2004) angka prevalensi penyalahguna Narkoba di kalangan pekerja formal dan informal sebesar 3. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. yaitu : Pasal 80 ayat (1)a dan ayat (3)a UU No.5/97 tentang Psikotropika. 3 Berdasarkan Survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba pada Kelompok Pelajar dan Mahasiswa yang dilakukan BNN dengan Puslitkes UI (2006) angka prevalensi penyalahguna Narkoba di tingkat pelajar dan mahasiswa di 33 propinsi sebesar 5%.1. jelas pendapat di atas termasuk kelompok yang setuju dan sangat mengharap agar hukuman mati terhadap pengedar dan produsen tetap dipertahankan dan dilaksanakan secara konsisten. Umumnya yang menjadi sasaran pasar Narkoba para bandar dan sindikat Narkoba adalah generasi muda usia produktif (16-29 tahun). dalam permasalahan Narkoba berlaku hukum pasar.8% dan kelompok Rumah Kos sebesar 5.3% dari 97. Dihampir semua etnis di Indonesia dikenal hukuman mati. lingkungan kerja4 dan lingkungan pemukiman5. telah melalui pembahasan di DPR-RI yaitu oleh para wakil-wakil rakyat.3 juta pekerja di Indonesia.2% . untuk menggambarkan betapa mengkhawatirkannya keadaan yang kita hadapi saat ini. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika dan Pasal 59 ayat (2) UU No. juga didalam ajaran Islam (yang dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia) juga dikenal hukuman mati. Secara bombastis sering kita dengar pernyataan. Teori ini mengemukakan. Maka apabila hukuman mati itu tidak disetujui lagi. akan terjadi lost generation. Maka penanganannya.22/97 tentang Narkotika dan UU No. baik lingkungan pendidikan3. Dalam UU No. Penyalahguna Narkoba juga telah tersebar ke berbagai lingkungan kehidupan. Permintaan dari pemakai dan calon pemakai dan penawaran dari pengedar/ pemasok (sesuai tingkatannya) yang diperoleh dari produsen. jelas terdapat pasal-pasal yang memuat ancaman hukuman mati bagi pelaku tindak pidana Narkoba.17 Indonesia yang terbebas dari penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba. Bila berbicara tentang hukuman mati. bukan para ahli apalagi pihak lain / negara lain. Penetapan semua UU itu. maka tentulah hukuman ini diarahkan ke pihak yang menawarkan (supplier) yaitu pengedar dan produsen. tercantum hukuman mati. Paul Bohannan mengemukakan teori Re-institutionalization of Norm (pelembagaan hukum berganda). sebagai representase dari seluruh rakyat Indonesia. 5 Berdasarkan Survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba pada Kelompok Rumah Tangga dan Rumah Kos yang dilakukan BNN dengan Puslitkes UI (2005) angka prevalensi penyalahguna Narkoba di kelompok Rumah Tangga sebesar 0.

bila dibandingkan dengan hak hidup sekian juta anak-anak bangsa yang telah jatuh menjadi korban penyalahgunaan Narkoba. Bahkan dapat dikatakan sejak pertama kali adanya pidana mati jelas. Bagi pihak yang berada pada sisi si korban jelas akan sangat mendukung tentang pidana mati dengan mengingat pada kekejaman dan akibat dari tindakan si pelaku. hanya dengan berdasarkan 2 (dua) kali pelaksanaan eksekusi mati dalam kurun waktu 10 (sepuluh) tahun. bukanlah hal yang patut lagi dipersoalkan. kepastian hukum. Pro dan Kontra kemudian berkembang tidak hanya melibatkan pihak-pihak yang secara langsung merasakan dampak dari pidana mati. disamping melakukan upaya-upaya pencegahan (pembinaan. pelatihan. tetapi kemudian juga menjadi bahan pemikiran dan pendapat para pemikir. Dari sudut efektifitas untuk menurunkan angka dan kualitas kejahatan Narkoba.18 Memang mereka (pemakai) adalah pihak yang meminta. karena hak asasi bukan tanpa batas. sepantasnya kita menyebut bahwa para pengedar dan produsen Narkoba sebagai “pembunuh massal”. sebagaimana dikemukakan oleh kelompok yang setuju hukuman mati. 13. Hak hidup para “laknat” pengedar dan produsen Narkoba. Pendapat Dr. 13. Tentulah akan sangat mewakili rasa keadilan masyarakat terutama para orang tua yang putra/i nya telah menjadi korban. dengan tindakan yang tegas dan keras oleh pemerintah Thailand.3. apabila kepada para “laknat” pengedar dan produsen dijatuhi hukuman mati. 14. Oleh karena itu. sudah pasti ada mengenai pro dan kontra tersebut. mulai dari persoalan tidak sesuainya hukuman dengan kesalahan sampai pada hilangnya anggota keluarga untuk selamanya. maka batu loncatan / exit point produk heroin dari Daerah Bulan Sabit Emas dan Daerah Segitiga Emas telah bergeser dari Bangkok ke Manila. Rudy Satriyo Mukantardjo (Dosen hukum pidana FHUI) tentang Amandemen Terhadap Pidana Mati? Persoalan pro dan kontra terhadap pidana mati bukan persoalan yang baru. penguasa dan amasyarakat dari masa ke masa. Maka untuk menyelamatkan masa depan bangsa Indonesia. tetapi pasti tidak akan terjadi transaksi kalau tidak ada yang menawarkan (memasok/supplier). 13. sejauh mana efektifitas penjatuhan hukuman mati terhadap penurunan angka dan kualitas kejahatan Narkoba. karena perbuatan mereka telah mengakibatkan kematian demi kematian. penyuluhan.5. Hal ini sulit dijawab dan perlu penelitian. baik dari aspek keadilan. sebab adalah hal yang mustahil untuk menggambarkan.4. Hak asasi haruslah proporsional. maupun dari aspek manfaat/kegunaan. jelas ada pada pihak orang-orang yang ada dibelakang si terpidana mati. sehingga mencapai angka kematian dalam jumlah besar. dll) secara terencana dan berlanjut. Dari sudut hak asasi manusia. cara yang paling tepat adalah dengan cara menjatuhkan hukuman yang seberatberatnya termasuk hukuman mati kepada para perusak atau pembunuh massal itu. Dari sudut tujuan hukum. Kita bisa memahami aspirasi dari kelompok yang setuju hukuman mati. Sedangkan yang kontra. Namun sebagai bandingan. .

dan dengan adanya pidana mati ini maka hilanglah pula kewajiban untuk memelihara mereka dalam penjara yang sedemikian besar biayanya.19 Bichon van Ysselmonde. baik ditinjau dari sudut kepatutan hukum maupun dari sudut tidak dapat ditiadakannya. maka dia masih turut serta dalam kesejahteraan umum itu maka negarapun akan mempunyai hak untuk melaksanakan pidana mati” Bapak kriminologi Lombroso dan Garofalo. melukai hak miliknya dsb. Kedua-duanya jure divino et humano. sebab selagi dia masih hidup. “pidana mati adalah alat yang mutlak yang harus ada pada masyarakat untuk melenyapkan individu-individu yang tidak mungkin dapat diperbaiki lagi. maka ketertiban yang terancam itu dapat dipulihkan kembali dengan benar-benar sama sekali melenyapkan seluruhnya dia ini dari turut sertanya dalam kesejahteraan umum itu dengan membunuh penjahat tersebut. Dan hak dari penguasa untuk memidana mati itu adalah akibat yang logis daripada haknya untuk membalas dengan pidana. Jadi dari sisi kita berkesimpulan. “ Dalam Kitab Undang-undang tidaklah boleh tidak ada pengakuan bahwa negara mempunyai hak untuk menghilangkan nyawa dari penjahat yang tidak mengindahkan zedewet samasekali. bahwa penguasa negara mempunyai hak untuk memidana. Kalau karena kejahatan itu terganggulah ketertiban tersebut dalam satu bagian yang tertentu saja. tetapi seperti itulah selalu dan di mana-mana demikian. Bila seseorang menginjak-injak zedewet sedemikian rupa sehingga dengan perbuatannya itu dia menunjukkan tidak mengakui hukum lagi. Mempertahankan ketertiban hukum itu diujudkan oleh pidana. Pedang pemidana. tetapi haruslah dipertahankannya dan juga digunakan”. Pidana mati adalah suatu upaya yang radikal untuk meniadakan orang-orang yang tak terperbaiki lagi. maka hubungan yang baik akan dapat dipulihkan kembali dengan mengeluarkan atau tidak menurut sertakan penjahat itu dalam sebagian pula dari kesejahteraan umum. Dr Rambonnet. artinya membalas kejahatan. Dan karenanya kedua sarjana inipun menjadi pembela pidana mati. seperti juga pedang perang harus ada pada negara. berpendapat bahwa ancaman dan pelaksanaan dari pidana mati itu harus ada dalam tiap-tiap negara dan masyarakat yang teratur. maka hal itu masih termasuk orang yang mau mengatakan: kejahatan itu menghendaki adanya pembalasan. maka negara berhak dan berkewajiban melenyapkannya dari masyarakat” Mr. Bila suatu kejahatan dilakukan. Ini menjadi kewajiban daripada negara. “adalah tugas dari penguasa negara untuk mempertahankan ketertiban hukum. Begitu pula hilanglah ketakutan-ketakutan kita kalukalau orang-orang demikian melarikan diri dari penjara dan membikin kejahatan lagi dalam masyarakat” Thomas R Eddlem dalam artikelnya “Ten Anti-Death Penalty Fallacies”. . melainkan membuangkan dan merusakkan seluruh ketertiban. Tetapi … jika kejahatan itu tidak mengganggu ketertiban itu hanya dalam satu bagian tertentu saja daripadanya. Kaum abolisionis mengatakan bahwa kita tidak boleh mengajarkan bahwa kita pantas membunuh orang yang bersalah (lihat pendapat Rolling pada bagian yang kontra pidana mati). Hak dan kewajiban ini tidak boleh diserahkan begitu saja. De Savornin Lohman. Hukum pidana itu pada hakekatnya tidak lain dari hukum membalas dendam. menyanggah keras tudingan kaum abolisionis yang menyatakan bahwa hukuman mati sebagai melestarikan suatu siklus kekerasan dan mempromosikan “sense of vengeance” (rasa dendam) dalam kultur umat manusia. Ini secara umumnya dapat dilakukan dengan kemerdekaannya. Itu tidak hanya sekarang. yang menyetujui tetap adanya pidana mati.

hak untuk hidup. adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun” Tetapi Pasal 28 I (1) harus dilengkapi dengan juga memahami apa yang terkandung dalam Pasal 28 J (2) yang berbunyi: Dalam menjalankan hak dan kebebasannya. Jika hanya bermodalkan membaca Pasal 28 I (1) itu saja. mayoritas (75%) adalah penyalahguna Narkoba Jenis Ganja. Spesifik artinya hukuman mati diterapkan untuk kejahatan-kejahatan serius ("heinous") mencakupi korupsi. sesuai dengan keamanan dan ketertiban umum. hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani.2 juta (1.5% dari populasi penduduk) dimana 79% kategori Pecandu dan 21% kategori Pemakai Teratur. sesuai dengan undang-undang. maka dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa. Dengan kata lain. “hukuman mati sangat dibutuhkan khususnya di Indonesia. hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani. tetapi begitu kita membaca sebagai satu kesatuan Pasal 28 I (1) maupun Pasal 28 J (2). tetapi pelaksanaan hak tersebut dapat dibatasi dan bahkan dihilangkan pelaksanaannya asalkan : a. hak untuk tidak diperbudak. Masih menurut Achmat Ali. dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut. hak untuk tidak disiksa. Misalnya terdakwa sendiri secara gamblang mengakui perbuatannya. sama sekali tidak melarang hukuman mati. maka memang kesan dan pesan pertama yang kan kita tangkap adalah seolah-olah konstitusi kita “melarang hukuman mati”. adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan papun.20 Achmad Ali. hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum. pengedar narkoba. nilai agama. setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral. sesuai dengan pertimbangan moral. hak beragama. teroris. dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut. hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum. Dan yang dimaksudkan dengan selektif adalah bahwa terpidana yang dijatuhi hukuman mati harus yang benar-benar yang telah terbukti dengan sangat meyakinkan di pengadilan (“beyond reasonable doubt”) bahwa memang dialah sebagai pelakunya. Memang benar ada Pasal 28 I (1) yang berbunyiPasal 28 (1) Hak untuk hidup. d. c. seluruh alat bukti memang “menyatakan” diri terdakwalah sebagai pelakunya. keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat yang demokratis. hak beragama. pertimbangan moral. Jumlah biaya sosial dan ekonomi sebesar Rp . UUD 1945 hasil Amandemen. b. pelanggar HAM yang berat dan pembunuhan berencana. “dikecualikannya” jaminan hak yang ada dalam Pasal 28 I (1) itu dimungkinkan jika berdasarkan undang-undang. hak untuk tidak diperbudak. tetapi harus diterapkan secara spesifik dan selektif. Lebih penting lagi adalah hukuman mati tetap diperlukan karena tindakan dari pelaku sendiri yang tidak lagi memperhatikan aspek kehidupan yang berperikemanusiaan (Sila kedua dari Pancasila) dan kehidupan yang penuh dengan berkeadilan sosial (Sila kelima dari Pancasila). nilai-nilai agama. hak untuk tidak disiksa. Pada Studi Biaya Sosial dan Ekonomi Akibat Penyalah-Gunaan dan Peredaran Gelap Narkoba tahun 2004 diketahui bahwa : Estimasi Jumlah penyalahguna narkoba sebesar 3. sesuai dengan nilai agama. demi keamanan dan ketertiban umum.

kita sebaiknya terlebih dahulu melihat Islam dalam acuan berfikir yang global.8% dan 2. kita melihat . ‘hukuman’ atas sesuatu perbuatan haruslah ‘setimpal’ dengan kejahatan yang dilakukan.Pidana Mati dalam Tinjauan Islam Pemikir hukum pidana Islam Indonesia. Dengan mengingat si pelaku tindak pidana narkotika – pengedar – telah mati nilai kemanusiaan dan sosialnya melakukan didasarkan hanya memikirkan kepentingan diri semata. sangat meresahkan bagi setiap orangtua yang mempunyai anak tidak terkecuali pihak-pihak yang telah memperoleh kuasa dari pemohon judicial review. Falsafah ‘hukuman’ dalam Islam Dalam konsep filosofis Pidana Islam. dll) tahun 2005. Dengan memperhatikan semakin banyaknya manusia Indonesia yang telah menjadi korban dari pelaku tindak pidana narkotika.1. Prinsip ini lazim dikenal dengan ‘AlHakimiyatu Lillah’. Narkotika sebagai penghacur atau pemusnah segala harapan kepada generasi muda. Dalam prinsip `Aqidah Islam’. Si pelaku pengedar narkotika dengan dampak dari ketergan-tungan dan pengaruh narkotika menghilangkan hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani. Dialah yang berhak menetapkan hukum yang benar dan adil untuk manusia. Diketahui pada rumah tangga biasa. Memandang Islam dalam sudut ‘vonnis’ semata. asrama. kelebihan dan kelemahannya.6 Triliun. adalah pencipta manusia itu sendiri. hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum 15.4%). Estimasi angka penyalahgunaan setahun terakhir 1% di rumah tangga dan 5% di rumah kos. hak beragama. hanyalah Allah. tanpa mengaitkannya dengan aspek lain yang sesungguhnya tak boleh terpisah.1%) dibandingkan di rumah tangga (2. hak untuk tidak diperbudak. 36% penyalahguna adalah IDU’s dan 11% masih aktif menyuntik. Hal ini penting. Jumlah IDU’s diestimasikan sebesar 572. terkait dengan pidana mati menyatakan. Oleh karenanya. yang berhak menetapkan hukum untuk mengatur kehidupan manusia. Angka penyalahgunaan narkoba jauh lebih tinggi di rumah kos (13.21 23. Angka penyalahgunaan setahun terakhir dan sebulan terakhir di rumah kos relatif tinggi masing-masing 5. Si pelaku pengedar narkotika telah menghilangkan “hak untuk hidup” warganegara. 12% penyalahguna adalah IDU’s dan 7% masih aktif memakai jarum suntik. masa bodoh dengan bagaimana penderitaan orang lain. Di rumah kos. Maka tidak satupun manusia akan mengatakan layak baginya untuk hidup jika memang terbukti ia sebagai pengedar narkotoka. sebab yang lebih mengetahui tentang seluk beluk manusia.000 orang per tahun. 15. Si pelaku pengedar narkotika dengan tindakkanya telah melakukan penyiksaan yang luar biasa sebagai akibat dari ketergan-tungan sebagai akibat dari pengaruh narkotika. agar kita terhindar dari kekeliruan dalam memahami konsep Islam yang menganut sistem universal dan holistik.000 orang dan angka kematian penyalahguna narkoba sebanyak 15. Daud Rasyid. dimana Sebagian besar IDU’s ini adalah laki-laki. Hal ini sangat rasional. Narkotika merupakan “monster” yang sangat menakutkan. Untuk memahami sanksi-sanksi pidana dalam perspektif Islam. Pada kelompok Rumah Tangga Biasa dan Rumah Tangga Khusus (rumah kos.1%. karena dengan tindakannya mengedarkan narkotika mengakibatkan hilangnya “kehidupan” bagi korbannya dan kematian berada di depan matanya. Atas dasar ini. dapat memberikan kesan yang tidak positif tentang agama islam.

maka nyawa manusia lebih murah dari nyawa seekor ayam. 15. Tapi. Jaktim. hukumannya yang setimpal adalah dengan perbuatan serupa. Dalam hukum Qishash itu terdapat jaminan yang cukup besar bagi perlindungan terhadap hak azasi manusia. Masing-masing pihak saling menuntut pembalasan yang mengakibatkan terjadinya pembunuhan berkesinambungan. bukan salah satu pihak yang bertikai.22 bahwa membunuh orang lain. meminum benda-benda yang memabukkan (syurb al-khamr). Karena hukumannya setimpal. membuat orang-orang yang lemah imannya tidak takut melakukan pembunuhan. Sesungguhnya pidana mati diundangkan Allah SWT dalam hukumnya yang bertujuan untuk menjamin keamanan dan kelangsungan hidup manusia secara umum. perampokan yang disertai 6 Zaidan. dan 2. hukumannya yang setimpal adalah dengan membunuh sipelaku. Tindakan Pidana yang diancam dengan hukuman tertentu dan mutlak (al-Hudud) yang mencakup kejahatan-kejahatan berat seperti: Hubungan seks yang tidak legal (zina). 1969. sesuai dengan ketentuan Allah SWT dan yang menjatuhkannya adalah negara. terbitan Dar `Umar ibn al-Khattab. Mesir. barangkali akan berfikir berkali-kali ketika akan melakukan pembunuhan. terhadap satu keluarga yang terdiri dari seorang ibu dan tiga anak-anaknya yang masih kecil oleh seorang tetangganya bernama Philipus. konsep Hukum Islam menetapkan perbuatan tertentu yang dianggap sebagai kejahatan yang melanggar hukum (jarimah). “Al-Madkhal li Dirasat as-Syari`at al-Islamiyah”. tambahan lagi proses penegakan hukum mungkin masih bisa ditawar-tawar. maka setiap orang. `Abdul-Karim.. dapat diabaikan begitu saja. Sebab jika pembunuh diganjar dengan penjara enam atau tujuh tahun saja. Prof. Masalahnya tidak berakhir sampai di sini. Masing-masing pihak tidak lagi menyimpan rasa dendam. Salah satu tujuan hukuman ‘setimpal’ adalah untuk menanamkan rasa takut kepada setiap orang yang ingin melakukan perbuatan tersebut. dengan menjalankan Qishash.2. Dr. menuduh orang berzina (qazf). Namun karena hukuman atas kejahatan ini terasa ringan. Rasa keadilan di sini yang dijadikan sebagai parameter adalah rasa keadilan Tuhan. Barangkali sebagai contoh dari asas ‘setimpal’ ini dapat kita simak kasus pembantaian sadis di Cibubur. dan karenanya diancam dengan hukuman (‘uqubah). juga dapat menimbulkan kejahatan baru. Betapa tidak. Hak hidup manusia terjamin dengan sebenar-benarnya. menghilangkan nyawa orang lain hanya boleh karena dua faktor : 1. Atas dasar itu. hal. Jika kejahatan ‘membunuh’ dihukum dengan ‘qishash’ (pembalasan). Akibatnya pelampiasan rasa dendam tak dapat dihindari untuk membunuh si pelaku pembunuhan. di mana keluarga terbunuh tidak merasa puas atas hukuman itu. Hal ini pernah terjadi di Jawa Timur. Padahal dalam pandangan Islam. 403 . selain terasa tidak setimpal. Klasifikasi perbuatan pidana dalam Islam Tindak Pidana dalam Islam dapat dibagi atas tiga bagian6 : 1. Kemudian ‘hukuman’ harus sesuai dengan ‘rasa keadilan’. tak setetes darahpun yang tumpah. Kehendak Allah. Menyakiti atau memotong bagian tubuh orang lain. jika sejak awal hukum ‘qishash’ dijatuhkan kepada si pembunuh. Adapun dalam keadaan di mana hukum syari`at tidak dijalankan. Alexandria. pencurian (sariqah). Konsekuensi penegakan HukumNya (eksekusi atas putusan hakim).

jika kasus di atas telah terpenuhi persyaratannya secara lengkap. maka pelaku akan dihukum mati. maka hakim tidak berhak merubah hukuman yang telah ditetapkan. (3) pembunuhan (menghilangkan nyawa orang lain) dalam hal tidak mendapat kemaafan dari ahli waris. karena di sini terdapat perpaduan antara hak Allah dan hak manusia. Tindakan Pidana yang hukumannya diserahkan kepada keputusan hakim (atTa’zir). yaitu : (1) Dilakukan terhadap orang yang Pembunuhan yang sebenarnya tidak layak dibunuh (pembunuhan tanpa hak). Ketentuan qishash dan diyat ini dapat ditemukan dalam Al Qur’an. (2) perampokan dan subversi. Tindakan Pidana yang diancam dengan hukuman pembalasan setimpal (alQishash) dan ganti rugi (ad-Diyat). 2. jika tidak terpenuhi (misalnya kurang satu orang). konsep hukuman dikenal dengan istilah qishash dan diyat. Karenanya. bila ia melukai anggota tubuh korbannya. . (2) Pencederaan terhadap anggota badan tanpa hak. antara lain : QS. Inilah yang dimaksud dengan perpaduan hak Allah dan hak manusia. Sedang Diyat artinya denda adalah sejumlah uang tebusan yang diberikan kepada ahli waris korban karena pembunuhan atau pelukaan. maka hakim tidak boleh menerapkan hukuman hudud. Contohnya dalam masalah pembunuhan. Al Isra’ (17) : 33. membalas atau mengambil balasan. merugikan harga diri/kehormatan orang lain. beberapa orang membunuh satu orang dan orang merdeka membunuh budak dan ahli kitab membunuh wanita muslimah. qishash menurut pengertian syar’i adalah pembalasan untuk pelaku kejahatan setimpal dengan kejahatannya. Hukuman yang pertama adalah qishash dengan menjatuhkan hukuman mati bagi si pembunuh setelah terbukti dan terpenuhi syarat-syaratnya. maka hukuman alternatif adalah membayar diyat (sejenis ganti rugi) yang besarnya seratus ekor unta. 16. Kelompok kedua ini agak berbeda dari yang pertama. (4) pengkhianatan terhadap agama (murtad). Tetapi dalam keadaan ahli waris si terbunuh memberikan maaf. dan berbagai pelanggaran hukum lainnya. Qishash menurut bahasa artinya pembalasan yang sepadan. dikategorikan sebagai hak Allah SWT. (1) : 178-179. yaitu : pembunuhan dengan senagaja. Hukuman mati menurut Syariat Islam Dalam syariat Islam. Ada dua macam perbuatan pelanggar hukum yang bakal dikenai qishash. 3. atau dua ratus ekor sapi. maka hukum had tidak dapat diterapkan.23 dengan pembunuhan (hirabat). Artinya. Ancaman ‘pidana mati’ dalam pidana Islam mencakup empat kejahatan: (1) perbuatan zina bagi yang telah bersuamiistri dengan dirazam (konsep Hukuman mati yang tertulis dalam teks al Qur’an) sampai mati . maka pelaku akan mendapatkan balasan dengan dilukai anggota tubuhnya seperti luka yang diterima korbannya. Tetapi jika persyaratan yang diminta tidak terpenuhi. Umpamanya empat orang saksi yang harus menyaksikan langsung kasus perzinahan. Bila ia melakukan pembunuhan. Al Maidah (5) : 45 dan beberapa hadist Rasululah saw. Kelompok pertama ini merupakan kejahatan berat yang mengganggu ketertiban umum dan ketenangan dalam masyarakat. Misalnya : berduaan dengan lawan jenis yang tidak halal. merekayasa huru-hara/subversi (al-baghyu) dan murtad dari agama Islam (riddah).

Usaha untuk selalu mengembangkan alternative to imprison-ment. ketenteraman dan sekaligus kebahagiaan dalam kehidupan manusia. Inhuman or Degrading of Punishment. tetapi khamr (minuman keras---miras) dan segala yang memabukkan. Pengaturan semacam ini juga terdapat di dalam International Covenant on Civil and Political Rights. Sementara telah beredar di masyarakat luas dan menjadi ancaman buat kehidupan kita semua. adalah terwujudnya keamanan. 17. dan yang yang sangat menghantui setiap orang tua. Padahal narkoba pengaruhnya ribuan kali berbahaya dari miras. tidak terkecuali penerima kuasa dari 4 (empat) pemohon Hak Uji Materiil terhadap UU Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. konform dengan UN Declaration Against Torture and Other Cruel. dari sisi hukuman mati menurut qishash dan diyat mengandung dua polemik yaitu di Qishash dan diyat. Pidana ini hanya dijatuhkan terhadap tindak pidana yang berat. penyelesaian konflik maupun pembebasan rasa bersalah.24 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Sedang pembunuhan yang tidak perlu di Qishash. sebagaimana terungkap di dalam UN Congress on Crime Prevention and the Treatment of Offenders. bahkan disebut sebagai biangnya maksiat yang menimbulkan malapetaka. Kejahatan tindak pidana narkoba yang tidak hanya membawa malapetaka rusaknya umat dan generasi muda bangsa. perusak baik fisik dan atau mental secara masal dan sekaligus sebagai pembunuh yaitu narkotika. Dalam hubungan antara HAM. Hal ini sesuai dengan UN Standard Minimum Rules for Non-Custodial Measures dan in line dengan perkembangan di pelbagai negara di dunia. memperlemah produkstifitas berfikir adalah diharamkan. 18. dan Sanksi (pidana dan tindakan). di dunia dan akhirat. baik atas dasar tujuan prevensi sosial. b. antara lain : Pembunuhan agak sengaja Pembunuhan tidak sengaja Pembunuhan tidak langsung Muslim membunuh kafir zimmi Orang tua membunuh anaknya atau sebaliknya Suami membunuh istriya yang selingkuh atau sebaliknya Narkoba di jaman Rasulullah saw memang tidak dikenal. penghancur cita-cita dan kehidupan setiap manusia. maka dalam hal ini perkembangan nampak dari hal-hal sebagai berikut: a. c. mengubah daya fikir. b. Apakah alat penghilang nyawa orang hanya sekedar pisau. Penegasan tujuan pemidanaan. cekikan. Hal ini merupakan penegasan lebih lanjut dari hak asasi berupa presumption of innocence. Masalah Pidana dan Pemidanaan Penegasan berlakunya “asas tiada pidana tanpa kesalahan” (tiada pidana tanpa kesalahan) adalah asas fundamental dalam mempertanggungjawabkan pembuat karena telah melakukan tindak pidana. Perumusan pidana mati sebagai pidana pokok yang bersifat khusus. prevensi general. menurunkan fungsi berfikir. Demikian sasaran yang ingin dicapai di balik penerapan hukum Islam. Dari kenyataan tersebut pidana mati bagi pengedar narkotika juga merupakan salah satu solusi guna menjawab kegundahan kita semua. Pernyataan bahwa pidana tidak boleh menderitakan dan tidak boleh merendahkan martabat manusia. Tindak Pidana Narkotika Sebagai Kejahatan Internasional . pukulan atau tembakan jawabannya itu hanyalah sebagian kecil dari yang ada.

dapat dikatakan bahwa: kejahatan internasional adalah tindakan yang dianggap sebagai kejahatan dalam konvensi-konvensi multilateral. merupakan penegasan dan penyempurnaan sarana hukum yang lebih efektif dalam rangka kerjasama internasional di bidang kriminal dalam upaya mencegah dan memberantas organisasi kejahatan transnasional yang melakukan peredaran gelap narkotika dan psikotropika. Konvensi ini. Konvensi PBB tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika. tentang batasan narkotika dan psikotropika yang meliputi tindakan : (a) menanam. membeli. dan (d) mempersiapkan. 1988 (United Nations Convention Against Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances. 2. memperdagangkan. Muladi (2002:190-192) memberikan karakteristik tentang kejahatan transnasional. yang diakui negara-negara dalam jumlah yang signifikan asalkan instrumen-instrumennya mencakup data dari sepuluh karakteristik pidana. paling tidak terdapat 3(tiga) persyaratan harus berisi baik elemen internasional atau transnasional. pembujukan dan permufakatan untuk melakukan tindakan-tindakan tersebut pada huruf (a). atau sebagian dari keduanya dan disertai dengan elemen kebutuhan (necessity) untuk mengkategorikan sebagai kejahatan internasional. Sehubungan dengan konvensi internasional. Hal ini. Ketentuan konvensi yang mengatur narkotika dan psikotropika ini sebagai perumusan norma-norma hukum internasional dan dapat dikategorikan sebagai salah satu ketentuan yang mengatur tentang hukum pidana internasional.25 Tindak pidana narkotika menurut Romli Atmasasmita (1997:26) menggunakan istilah tindak pidana di banding dengan penggunaan istilah perbuatan pidana. manajemen dan membiayai tindakan-tindakan tersebut pada huruf (a).1988). (b) menyusun suatu organisasi. perencanaan. dilakukan di sebuah negara tetapi melibatkan organisasi kejahatan yang terikat dalam tindak kejahatan lebih dari satu negara. 3. 4. Basis doktrinal untuk mengelompokan kejahatan dalam kategori kejahatan internasional lebih bersifat empiris. dilatarbelakangi oleh suatu alasan bahwa istilah tindak pidana terkait unsur pertanggungjawaban pidana serta pertimbangan lain. percobaan. petunjuk atau pengendaliannya dilakukan di negara lain. mengangkut dan mendistribusi kan narkotika dan psikotropia. dilakukan lebih dari satu negara. Merujuk Konvensi PBB tentang kejahatan transnasional terorganisasi. di Palermo Tahun 2000. dilakukan di satu negara tetapi bagian substansial dari persiapan. terdiri dari atas ancaman baik langsung maupun tidak langsung terhadap kedamaian dan keamanan dunia dan menimbulkan perasaan terguncang terhadap nilai-nilai kemanusiaan. dilakukan di satu negara tetapi menimbulkan efek substansial bagi negaranegara lain. (c) mentranfer harta kekayaan yang diperoleh dari tindakan tersebut pada huruf (a). . Pasal 3 ayat (1) dan ayat (2) Konvensi Wina 1988. Dalam hal ini. sebagai berikut: 1. Elemen internasional lainnya. dan atas dasar konvensi atau kebiasaan internasional.

ialah: a. khususnya tindak pidana narkotika harus diperhatikan hal-hal yang pada intinya sebagai berikut: a. Perbuatan yang diusahakan untuk mencegah atau menanggulangi dengan hukum pidana harus merupakan perbuatan yang tidak dikehendaki yaitu perbuatan yang mendatangkan kerugian materiil dan spirituil atas warga masyarakat. c. Kelompok kejahatan yang terorganisir secara internasional c. Penggunaan hukum pidana harus pula memperhatikan kapasitas atau kemampuan daya kerja dari badan-badan penegak hukum yaitu jangan sampai ada kelampauan beban tugas (overbelasting). Pasal 3 ayat 1 telah digolongkan jenis-jenis kejahatan yang dianggap serius. Kejahatan yang dilakukan oleh pegawai negeri yang berkaitan dengan jabatannya f. sehubungan dengan ini maka penggunaan hukum pidana bertujuan untuk menanggulangi kejahatan dan mengadakan penyegaran terhadap tindakan penanggulangan itu sendiri. lembaga pelayanan sosial atau tempat-tempat lain untuk berkumpulnya anak sekolah atau pelajar. Menggunakan anak-anak sebagai korban atau untuk melakukan kejahatan g. Kelompok kejahatan yang terorganisir b. Kebijakan Pemerintah RI dalam Pemberantasan Tindak Pidana Narkotika Pemerintah Indonesia memutuskan dan menetapkan undang-undang tentang pengesahan United Nations Convention against Illicit Traffic in Narcotic drugs and Psychotopic. demi kesejahteraan dan pengayoman masyarakat. maka dalam menghadapi masalah kriminal atau kejahatan. ialah: a. Tujuan penggunaan hukum pidana harus memperhatikan tujuan pembangunan nasional yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata materiil dan spirituil berdasarkan Pancasila. Di samping itu.I.” d. untuk menakut-nakuti orang jangan sampai melakukan kejahatan baik secara menakut-nakuti orang banyak (generale preventie). Penggunaan kekerasan atau senjata api oleh pelaku kejahatan e. Kejahatan yang dilakukan di dalam atau di sekitar lembaga pemasyarakatan. Berdasarkan orientasi pada kebijakan sosial itulah. beberapa para sarjana hukum mengemukakan tentang tujuan hukum pidana. 1988 pada Tanggal 24 Maret 1997 berdasarkan Lembaran Negara R. psikotropika dan zat adiktif lainnya. agar di kemudian hari tidak melakukan kejahatan lagi (speciale preventie) . Penggunaan hukum pidana harus pula memperhitungkan prinsip “biaya dan hasil. b.26 Prinsip-prinsip umum terhadap penetapan kejahatan dan sanksi konvensi ini tidak berbeda dengan yang diatur dalam Konvensi Psikotropika 1971. Tahun 1997 Nomor 17. Untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional tersebut maka perlu dilakukan upaya secara terus menerus di bidang keamanan dan ketertiban serta di bidang kesejahteraan rakyat dengan memberikan perhatian khusus terhadap bahaya penyalahgunaan narkotika. Perbuatan melawan hukum yang ada kaitannya dengan kejahatan tersebut d. 19. lembaga pendidikan. maupun secara menakut-nakuti orang tertentu yang sudah menjalankan kejahatan.

Kepentingan Negara dalam Pemberantasan Tindak Pidana Narkotika Penegakan hukum (law enforcement) merupakan usaha untuk menegakkan norma-norma hukum dan sekaligus nilai-nilai yang ada di belakang norma tersebut. dan masalah lainnya. antara kesadaran hukum yang ditanamkan oleh penguasa (legal awareness) dengan perasaan hukum yang bersifat spontan dari rakyat (legal feeling). sehingga bermanfaat bagi masyarakat. adalah menyangkut kepentingan bangsa. yakni: a. keselarasan. Pengakuan hak-hak korban (Victim Right) . Dimensi-dimensi penegakan hukum terhadap tindak pidana narkotika. agar menjadi orang yang baik tabiatnya. yakni: 1. 3. ketertiban hukum (law order). 20. meliputi empat unsur. untuk mendidik atau memperbaiki orang-orang yang suka melakukan kejahatan. Dimensi penegakan hukum yang harus dicapai. 2) untuk menghilangkan noda-noda yang diakibatkan oleh tindak pidana. Bagaimanapun di mensi tindak pidana narkotika merupakan golongan extra ordinary crime. meliputi: kepentingan pertahanan. Penggunaan upaya hukum termasuk didalamnya hukum pidana merupakan salah satu upaya untuk mengatasi masalah sosial termasuk dalam bidang kebijakan penegakan hukum. maka dalam proses penegakan hukum pidananya. terhadap tindak pidana narkotika ini yang lebih difokuskan terhadap efektivitas penegakan hukum. Ketahanan Nasional (National Resilience) Ketahanan nasional ini. yang memerlukan penanganan secara ekstra keras. Terdapat fakta bahwa masalah narkotika. keamanan nasional (national security). Dalam proses pembuatan undang-undang tersebut terkait adanya keseimbangan. di samping harus memperhatikan penegakan hukum. merupakan bagian terkecil dari masalah-masalah narkotika yang dihadapi oleh bangsa dan negara dewasa ini. dan ketertiban sosial (social order). adalah merupakan perwujudan dari pengakuan hak-hak individu di depan hukum dan hak-hak kodrati. namun menyangkut berbagai masalah pertentangan kepentingan dari kelompok-kelompok kepentingan (interest groups). dan keserasian. bukanlah semata-mata hanya masalah penegakan hukum (law enforcement) belaka.27 b. Perlindungan Hak Asasi Manusia Perlindungan HAM ini. juga memperhatikan terhadap penegakan HAM (doe process of law) c. dan hal ini akan berkaitan dengan berbagai dinamika yang terjadi dalam proses pembuatan perundang-undangan (law making process). c. perlindungan masyarakat (social defence). yakni : 1) untuk membimbing agar terpidana insaf dan menjadi anggota masyarakat yang berbudi baik dan berguna. Dengan demikian masalah pengendalian atau penanggulangan kejahatan dengan menggunakan hukum pidana bukan hanya merupakan problema sosial saja tetapi juga merupakan masalah kebijakan. Para penegak hukum harus memahami benar-benar spirit hukum (legal spirit) yang mendasari peraturan hukum harus ditegakan. untuk mencegah dilakukannya tindak pidana demi pengayoman negara masyarakat dan penduduk. 2. b.

menyangkut masalah perlindungan hukum dan jaminan keamanan dari penegak hukum. narkotika. adalah bertujuan untuk menjaga. Sebagai contoh bahwa di USA terdapat kontroversi pidana mati. separuh negara bagian menentang dan separuhnya setuju. Berdasarkan pembahasan di atas. merupakan salah satu jenis hukuman yang diatur dalam Pasal 10 KUHP yang merupakan hukum positif. Di negara bagian USA. Dengan demikian penerapan sanksi pidana mati masih dipandang tepat untuk diterapkan pada tindak pidana narkotika yang bersifat yang patut dikenakan sanksi pidana mati. b. dan memberikan dampak terjadinya tindak pidana lain seperti tindak pidana pencucian uang. Penerapan sanksi pidana mati bagi para pelaku yang memproduksi. Masalah Kepentingan Internasional (International Interest) Pengaturan produksi. diatur dalam undang-undang oleh suatu negara sebagai pernyataan sikap untuk mentaati ketentuan konvensi-konvensi internasional. d. peredaran. 21. jelaslah bahwa peredaran gelap narkotika tidak terlepas dari kejahatan transnastional dan kejahatan internasional.28 Penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana narkotika harus memperhatikan apakah pengguna narkotika tidak dipandang sebagai korban (victim) akan tetapi dianggap sebagai pelaku tindak pidana. akan tetapi justru para pelaku tersebut telah melanggar hak asasi manusia. maka Muladi menandaskan bahwa tidak sependapat atas anggapan tersebut karena pada hakekatnya terpidana mati tersebut juga telah melanggar HAM yang lebih besar. termasuk oleh negara. apabila diadakan jajak pendapat kemungkinan hasilnya tidak jauh berbeda. Sanksi pidana mati telah diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana pada Pasal 10. yang merupakan bagian daripada sistem hukum nasional dan telah berlaku berabad-abad lamanya. secara realistispun kondisi hukum di Indonesia. mengedarkan secara gelap dan sebagainya bukanlah dipandang telah melanggar hak asasi manusia. pengunaan. hal ini dengan alasan sebagai berikut: a. Berkaitan dengan penilaian pidana mati dianggap melanggar HAM. Penjatuhan pidana mati hanya diputuskan oleh hakim. Pemberlakuan konvensi-konvensi tersebut. Tindak pidana narkotika merupakan tindak pidana yang digolongkan sebagai exstra ordinary crime maka dalam penanganannya juga harus dilakukan secara ekstra keras sebagai bentuk prevensi negara terhadap dampak ancaman destruktif dari tindak pidana narkotika. kalau kejahatan siterdakwa memang benar-benar terbukti sangat meyakinkan ( beyond reasonable doubt ). c. . yang memberikan dampak terhadap kehancuran generasi muda dimasa yang akan datang. dan sebagainya. Masalah Penerapan Sanksi Pidana Mati Hukuman mati. Hal ini. Kemungkinan di Indonesia. masih sangat membutuhkan pelaksanaan hukuman mati. sebagai suatu kebiasaan internasional yang harus dipatuhi. Terlepas dari landasan yang sifatnya legalistik. penyaluran. berdasarkan sistem hukum yang berlaku di masing-masing negara. guna kepentingan menjalin hubungan internasional. menjalin hubungan kehidupan bangsa-bangsa di dunia untuk lebih beradab. tindak pidana penyelundupan senjata api. Tentunya khusus bagi kejahatankejahatan spesifik yang dikemukakan di atas.

Berdasarkan pembahasan di atas. Sanksi pidana mati telah diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana pada Pasal 10. Hal ini apabila dikaitkan dengan nilai-nilai hukum adat. masih sangat membutuhkan pelaksanaan hukuman mati. bukan karena membalas dendam kepada siterhukum. Hukuman mati. keseimbangan masyarakat itu harus dijaga jangan sampai rusak. dan sebagainya bukanlah bertujuan sebagai pembalasan dendam akan tetapi sebagai wujud agar para . agar orang lain tidak ikut melakukan kejahatan. maka Muladi menandaskan bahwa tidak sependapat atas anggapan tersebut karena pada hakekatnya terpidana mati tersebut juga telah melanggar HAM yang lebih besar. yang merupakan bagian daripada sistem hukum nasional dan telah berlaku berabad-abad lamanya. Dengan demikian penerapan sanksi pidana mati masih dipandang tepat untuk diterapkan pada tindak pidana narkotika yang bersifat yang patut dikenakan sanksi pidana mati. akan tetapi justru para pelaku pengedar tersebut telah melanggar hak asasi manusia. akan tetapi supaya orang lain tidak ikut melakukan kejahatan yang sama dan meresahkan masyarakat yang dapat mengganggu keseimbangan masyarakat. Berkaitan dengan penilaian pidana mati dianggap melanggar HAM. e. dikecualikan bagi pelakupelaku tindak pidana yang dilakukan oleh anak-anak. dan sebagainya bukanlah bertujuan sebagai pembalasan dendam akan tetapi sebagai wujud agar para pelaku tindak pidana tersebut menjadi jera dan menjadi contoh bagi para pelaku-pelaku pemula.29 d. Secara filosofis bahwa hukuman mati bertujuan untuk kepentingan prevensi umum. Penerapan sanksi pidana mati bagi para Pelaku tsb diatas. dan sebagainya bukanlah dipandang telah melanggar hak asasi manusia. Penerapan sanksi pidana mati bagi para pelaku secara gelap melakukan pengedaran. yang memberikan dampak terhadap kehancuran generasi muda dimasa yang akan datang. 23. hal ini dengan alasan sebagai berikut: a. b.orang banyak. kalau kejahatan si terdakwa memang benar-benar terbukti sangat meyakinkan ( beyond reasonable doubt ). tindak pidana penyelundupan senjata api.1. Tentunya khusus bagi kejahatankejahatan spesifik yang dikemukakan di atas. dan memberikan dampak terjadinya tindak pidana lain seperti tindak pidana pencucian uang. secara realistispun kondisi hukum di Indonesia. Di samping itu. merupakan salah satu jenis hukuman yang diatur dalam Pasal 10 KUHP yang merupakan hukum positif. Penerapan sanksi pidana mati bagi para pengedar. dan sebagainya. Kesimpulan. Penjatuhan pidana mati hanya diputuskan oleh hakim. Tindak pidana narkotika merupakan tindak pidana yang digolongkan sebagai exstra ordinary crime maka dalam penanganannya juga harus dilakukan secara ekstra keras sebagai bentuk prevensi negara terhadap dampak ancaman destruktif dari tindak pidana narkotika. penyimpanan. Pihak Komnas HAM sendiri telah menyetujui penerapan pidana mati bagi pelaku-pelaku tertentu yang sanksinya bersifat spesifik. c. jelaslah bahwa peredaran gelap narkotika tidak terlepas dari kejahatan transnastional dan kejahatan internasional. seorang dihukum mati berdasarkan hukum yang berlaku. Kesimpulan dan Saran. d. 23. Terlepas dari landasan yang sifatnya legalistik.( mempunyai deterrent effect ).

. seorang dihukum mati berdasarkan hukum yang berlaku. karena dengan tindakannya mengedarkan narkotika mengakibatkan hilangnya “kehidupan” bagi korbannya dan kematian berada di depan matanya. Pelaksanaan eksekusi mati masih sangat diperlukan yang terpenting dapat ditegakkan secara proporsional. Di samping itu. akan tetapi supaya orang lain tidak ikut melakukan kejahatan yang sama dan meresahkan masyarakat yang dapat mengganggu keseimbangan masyarakat. dan HakimHakim Khusus Narkoba. hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum e. dari Kasasi ke PK (kalau memenuhi syarat PK). sebagai warna dari hidup dan kehidupan. karena masa depan bangsa Indonesia menjadi taruhannya. f. Si pelaku pengedar narkotika dengan dampak dari ketergantungan dan pengaruh narkotika menghilangkan hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani. Maka mari kita pagari negeri ini dengan sistem hukum yang baik (hukum. Si pelaku pengedar narkotika dengan tindakkanya telah melakukan penyiksaan yang luar biasa sebagai akibat dari ketergantungan sebagai akibat dari pengaruh narkotika. i. k. mulai dari tingkat PN ke PT. bukan karena membalas dendam kepada siterhukum. Pihak Komnas HAM sendiri telah menyetujui penerapan pidana mati bagi pelaku-pelaku tertentu yang sanksinya bersifat spesifik. agar orang lain tidak ikut melakukan kejahatan. apabila saat ini sudah ada Polisi Narkoba dan LP khusus Narkoba. Secara filosofis bahwa hukuman mati bertujuan untuk kepentingan prevensi umum. b. Saran. yaitu : ada novum (bukti baru) dan ada kesalahan prinsipil dari Hakim yang mengadili.30 pelaku tindak pidana tersebut menjadi jera dan menjadi contoh bagi para pelaku-pelaku pemula. Hukuman mati masih diperlukan di Indonesia. Khusus dalam menangani kasus Narkoba perlu ada saluran khusus proses peradilan yaitu. dari PK ke Pengajuan Permohonan Grasi. g. hak beragama. Pelaksanaan PK (Herziening) agar benar-benar mempedomani persyaratannya dengan tepat. c. a. baik pada tingkat PN. aparat penegak hukum). dikecualikan bagi pelaku-pelaku tindak pidana yang dilakukan oleh anak-anak. hak untuk tidak diperbudak. Soal kontroversi biarkanlah tetap ada. lembaga hukum. Adanya penetapan batas waktu proses pada tiap tahap pengadilan. Terselamatkannya masa depan bangsa ini tergantung kepada kita bangsa Indonesia bukan kepada pihak lain. j. maka seyogyanya di Kejaksaan ada Jaksa Narkoba. Hal ini apabila dikaitkan dengan nilai-nilai hukum adat. 23. PT maupun di MA. dari upaya untuk melakukan review terhadap penerapan sanksi pidana mati tersebut diatas. keseimbangan masyarakat itu harus dijaga jangan sampai rusak.2. Si pelaku pengedar narkotika telah menghilangkan “hak untuk hidup” warganegara. dari Pengajuan Permohonan Grasi ke Penolakan Grasi dan dari Penolakan Grasi ke Pelaksanaan Eksekusi Mati. d. serta dilandasi oleh komitmen yang tinggi terhadap masa depan Indonesia. Demikian tanggapan terhadap segala permasalahan tentang peredaran dan penyalahgunaan narkotika ini. dari PT ke Kasasi. h.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful