P. 1
Bank Indonesia report to DPR 4th Quarter 2004

Bank Indonesia report to DPR 4th Quarter 2004

|Views: 58|Likes:
Published by ssn_jkt8857

More info:

Published by: ssn_jkt8857 on Aug 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/05/2012

pdf

text

original

L APORAN P ERKEMBANGAN P ELAKSANAAN T UGAS D AN W EWENANG B ANK I NDONESIA K EPADA D EWAN P ERWAKILAN R AKYAT

Triwulan IV - 2004

B ANK I NDONESIA

…Penyampaian Laporan Perkembangan Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Bank Indonesia kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada setiap triwulan merupakan pemenuhan amanat yang digariskan dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No.3 Tahun 2004. Penyampaian laporan tersebut pada hakikatnya merupakan salah satu wujud dari akuntabilitas dan transparansi atas pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia. Laporan triwulan kali ini merupakan laporan triwulan pertama di tahun 2004 yang mengevaluasi pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia selama periode Oktober – Desember 2004 terutama dalam pencapaian sasaran inflasi dan sasaran moneter lainnya yang telah ditetapkan pada awal tahun 2004…

B ANK I NDONESIA

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR

Secara umum asesmen Bank Indonesia menyimpulkan bahwa selama triwulan terakhir tahun 2004, kestabilan ekonomi makro tetap dapat dipertahankan yang disertai pertumbuhan ekonomi yang meningkat. Inflasi tetap dapat dikendalikan pada level yang rendah dan sesuai dengan proyeksi awal tahun. Kurs rupiah relatif stabil dengan volatilitas yang rendah. Seiring dengan itu, suku bunga tetap stabil pada tingkat yang kondusif bagi dunia usaha. Sektor keuangan, khususnya perbankan dan pasar modal, juga menunjukkan perkembangan yang semakin mantap. Sementara itu, sejalan dengan meningkatnya kegiatan investasi serta tetap tingginya konsumsi, pertumbuhan ekonomi dalam triwulan IV-2004 mencapai 5,0%-5,5% (yoy). Berlanjutnya kestabilan ekonomi makro dalam triwulan IV-2004 tidak terlepas dari efektivitas kebijakan moneter yang diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi dalam jangka menengah guna mendukung kestabilan makroekonomi serta berbagai langkah koordinasi dan sinkronisasi kebijakan antara Bank Indonesia dengan Pemerintah. Dalam triwulan IV-2004, meskipun inflasi meningkat sesuai dengan pola musimannya, namun secara keseluruhan inflasi IHK tahun 2004 tetap dapat dikendalikan yaitu sebesar 6,4% (yoy) atau berada dalam kisaran proyeksi inflasi yang ditetapkan pada awal tahun yaitu 5,5% + 1% (yoy). Terkendalinya inflasi tersebut tidak terlepas dari kebijakan moneter dalam pengendalian tekanan inflasi, baik yang bersumber dari interaksi permintaan-penawaran, dari gejolak nilai tukar maupun dari memburuk ekspektasi. Selain itu, berbagai langkah Pemerintah dalam mengupayakan kecukupan dan kelancaran pasokan barang dan jasa juga turut berperan dalam pencapaian laju inflasi yang relatif rendah tersebut. Nilai tukar rupiah bergerak stabil dengan tingkat volatilitas yang rendah terutama karena cukupnya pasokan valas di dalam negeri yang berasal dari arus modal masuk serta didukung oleh kepercayaan pasar atas prospek ekonomi makro Indonesia, perbaikan persepsi risiko, serta dampak dari pelemahan dolar AS secara global. Seiring dengan tetap meningkatnya permintaan domestik, pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2004 terus meningkat. Peningkatan pertumbuhan tersebut juga diikuti dengan semakin seimbangnya pola ekspansi ekonomi yang tercermin dari peningkatan investasi dan ekspor. Berbagai indikator moneter dan keuangan dalam triwulan IV-2004 masih terkendali dan menunjukkan perkembangan yang relatif stabil. Hal ini tercemin pada perkembangan uang primer, uang beredar, suku bunga, serta kondisi kondisi pasar modal yang meningkat cukup pesat. Meningkatnya permintaan uang oleh masyarakat menjelang perayaan hari besar keagamaan dan tahun baru telah menyebabkan pertumbuhan uang primer tercatat meningkat, namun masih dalam batas yang aman. Sejalan dengan pertumbuhan uang primer, jumlah uang beredar juga meningkat seirama dengan peningkatan kegiatan ekonomi. Suku bunga SBI relatif stabil dan pada level yang kondusif bagi sektor usaha. Sejalan dengan kondisi ekonomi makro yang stabil, peran dan kinerja perbankan nasional terus menunjukkan kestabilan dan perbaikan. Fungsi intermediasi secara bertahap membaik tercermin dari peningkatan penghimpunan dana
BANK I NDONESIA i

KATA PENGANTAR

dan penyaluran kredit yang dibarengi dengan perbaikan kualitas kredit, peningkatan profitabilitas, serta permodalan bank yang tetap memadai. Ke depan, sejalan dengan berbagai langkah dalam memperkuat pemulihan ekonomi serta ekspansi pertumbuhan ekonomi yang lebih seimbang di tahun 2005, kestabilan ekonomi makro akan berlanjut di tahun 2005. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2005 diperkirakan berkisar antara 5,0%-6,0% (yoy). Tekanan inflasi khususnya di triwulan I-2005 terutama akan dipengaruhi oleh rencana Pemerintah untuk menaikkan harga BBM serta meningkatnya permintaan barang dan jasa dalam rangka industri dan konsumsi. Namun demikian, nilai tukar yang stabil dalam triwulan I-2005 diperkirakan akan memberikan pengaruh yang positif terhadap ekspektasi harga. Perkiraan stabilitas nilai tukar tersebut sejalan dengan kinerja NPI yang diperkirakan tetap menunjukkan perkembangan yang baik. Mencermati perkembangan ekonomi-moneter ke depan, kebijakan moneter tetap diarahkan pada upaya mencapai sasaran inflasi yang telah ditetapkan, namun dengan tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang terjadi. Secara operasional, kebijakan moneter tersebut dilakukan dengan mengarahkan uang primer berada pada proyeksi indikatifnya yakni rata-rata tumbuh sebesar 11,5% - 12,5% pada tahun 2005. Di bidang perbankan, kebijakan akan diarahkan untuk melanjutkan stabilitas sistem perbankan yang telah ada dan mengakselerasi upaya-upaya untuk mendorong fungsi intermediasi perbankan. Selain itu, dengan semakin meningkatnya persaingan dan mulai diterapkannya skim penjaminan LPS, bank-bank perlu memperhatikan adanya risiko likuiditas. Dalam mengantisipasi munculnya risiko tersebut, Bank Indonesia akan mengarahkan industri perbankan nasional agar mengakselerasi proses konsolidasi. Selain itu, langkah-langkah penguatan infrastruktur sistem keuangan juga akan ditempuh antara lain melalui pendirian LPS, penyempurnaan ketentuan yang terkait dengan good corporate governance perbankan, melanjutkan program sertfikasi manajemen risiko, persiapan pembentukan Credit Bureau. Sementara penguatan aspek-aspek prudensial dan peningkatan fungsi intermediasi juga akan diperkuat dengan penyempurnaan beberapa ketentuan yang dituangkan dalam Paket Kebijakan Perbankan pada bulan Juanuari 2005. Demikian pengantar atas gambaran mengenai kinerja kebijakan Bank Indonesia di bidang moneter, perbankan, dan sistem pembayaran selama triwulan IV-2004 yang disampaikan sebagai bentuk akuntabilitas dan transparansi Bank Indonesia kepada DPR, Pemerintah, dan publik. Jakarta, Januari 2005

GUBERNUR BANK INDONESIA

Burhanuddin Abdullah

BANK I NDONESIA ii

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................. DAFTAR ISI............................................................................................................................
i iii

BAB 1. TINJAUAN UMUM .................................................................................................

1

1. Evaluasi Perkembangan Ekonomi Makro dan Inflasi................................................... 3 1.1. Kondisi Ekonomi Makro ....................................................................................... 3 1.2. Inflasi ..................................................................................................................... 4 2. Evaluasi Perkembangan dan Kebijakan Moneter ......................................................... 5 3. Evaluasi Perkembangan dan Kebijakan Perbankan...................................................... 6 4. Evaluasi Perkembangan dan Kebijakan Sistem Pembayaran ....................................... 8 5. Prospek Ekonomi dan Moneter..................................................................................... 9 5.1. Prospek Ekonomi Makro ....................................................................................... 9 5.2. Prospek Inflasi ....................................................................................................... 10 5.3. Prospek Nilai Tukar............................................................................................... 11 6. Arah Kebijakan Bank Indonesia Ke Depan.................................................................. 11

BAB 2. EVALUASI KONDISI MAKROEKONOMI DAN PERKEMBANGAN INFLASI ............................................................................... 13
1. Evaluasi Sektor Eksternal ............................................................................................. 1.1. Perkembangan Ekonomi Internasional ................................................................. 1.2. Perkembangan Harga Komoditas Internasional..................................................... 1.3. Perkembangan Kebijakan Moneter Dunia............................................................. 1.4. Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia ...................................................... 2. Evaluasi Sektor Fiskal .................................................................................................. 2.1. Operasi Keuangan Pemerintah............................................................................... 2.2. Kontribusi Kebijakan Fiskal terhadap Permintaan Domestik, Moneter ................ Devisa .................................................................................................................... 3. Evaluasi Sektor Riil ...................................................................................................... 3.1. PDB Sisi Permintaan ............................................................................................ 3.2.PDB Sisi Penawaran............................................................................................... 14 14 14 15 16 18 18 20 20 20 24

B ANK I NDONESIA
iii

DAFTAR ISI

4. Perkembangan Inflasi ................................................................................................... 26 4.1.Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Inflasi............................................................. 27

BAB 3. EVALUASI DAN PERKEMBANGAN SEKTOR MONETER DAN KEUANGAN .................................................................................................. 29
1. Perkembangan Moneter ................................................................................................ 1.1. Pencapaian Sasaran Uang Primer (M0) ................................................................. 1.2. Operasi Pasar Terbuka........................................................................................... 1.3. Perkembangan Uang Beredar................................................................................ 1.4. Perkembangan Nilai Tukar.................................................................................... 2. Perkembangan Pasar Uang dan Pasar Modal ............................................................... 2.1. Perkembangan Suku Bunga ................................................................................... 2.2. Perkembangan Pasar Modal................................................................................... 3. Evaluasi Kebijakan Moneter......................................................................................... 29 29 30 31 32 34 34 34 35

BAB 4. EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN PERBANKAN ............ 36
1. Pengaturan dan Pengawasan Perbankan ....................................................................... 1.1. Penyempurnaan Ketentuan Perbankan .................................................................. 1.2. Jaring Pengaman Keuangan (Financial Safety Net) ............................................. 1.3. Implementasi Arsitektur Perbankan Indonesia (API) ........................................... 1.4. Investigasi Kasus Perbankan................................................................................. 1.5.Pengaruh Tsunami ................................................................................................. 2. Perkembangan Kinerja Perbankan................................................................................ 2.1. Gambaran Umum Perbankan Indonesia ................................................................ 2.2. Penilaian Risiko dan Perkembangan Beberapa Indikator Penting Perbankan....... 3. Perkembangan Perbankan Syariah................................................................................ 3.1. Perkembangan Kinerja Perbankan Syariah............................................................ 3.2. Kebijakan Perbankan Syariah................................................................................ 4. Perkembangan Bank Perbankan Rakyat........................................................................ 4.1. Perkembangan Kinerja BPR .................................................................................. 4.2. Perkembangan Kebijakan BPR.............................................................................. 36 36 38 39 40 40 41 41 42 47 47 48 49 49 50

B ANK I NDONESIA
iv

DAFTAR ISI

BAB 5. EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN................................................................................................ 51
1. Evaluasi Perkembangan Sistem Pembayaran Tunai ..................................................... 1.1.Kondisi Umum Pengedaran Uang .......................................................................... 1.2. Perkembangan Kegiatan Pengedaran Uang........................................................... 1.3. Evaluasi Kebijakan Pengedaran Uang .................................................................. 2. Evaluasi Kebijakan dan Perkembangan Sistem Pembayaran Non Tunai ..................... 2.1. Kebijakan Sistem Pembayaran Non Tunai ............................................................ 2.2. Perkembangan Sistem Pembayaran Non Tunai..................................................... 51 51 52 55 58 58 60

BAB 6.PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN DI TRIWULAN MENDATANG ................................................................................................... 65
1. Prospek Sektor Eksternal.............................................................................................. 1.1. Prospek Harga Komoditas Internasional ............................................................... 1.2. Prospek Inflasi Global ........................................................................................... 1.3. Prospek Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) ...................................................... 2. Prospek Sektor Riil ....................................................................................................... 2.1. Prospek Permintaan Agregat ................................................................................. 2.2. Prospek Penawaran Agregat.................................................................................. 3. Prospek Fiskal............................................................................................................... 4. Prospek Inflasi .............................................................................................................. 5. Prospek Uang Primer.................................................................................................... 6. Prospek Nilai Tukar Rupiah ......................................................................................... 7. Arah Kebijakan Triwulan ke Depan ............................................................................. 66 67 67 68 69 70 71 73 74 74 74 75

LAMPIRAN
Lampiran 1. Evaluasi Kebijakan Manajemen Intern .......................................................... 1. Kebijakan Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)........................................... 2. Kebijakan Pengembangan Infrastruktur ....................................................................... 2.1. Kebijakan di Bidang Pengawasan Intern ............................................................... 2.2. Kebijakan di Bidang Teknologi Informasi ............................................................ 2.3. Kebijakan di Bidang Hukum ................................................................................. 2.4. Kebijakan di Bidang Keuangan Intern................................................................... 2.5. Kebijakan di Bidang Kehumasan .......................................................................... 77 77 81 82 82 83 84 85

B ANK I NDONESIA
v

DAFTAR ISI

Lampiran 2. Produk Hukum Bank Indonesia Selama Triwulan IV-2003 ......................... 1. Peraturan Bank Indonesia ............................................................................................. 2. Peraturan Dewan Gubernur .......................................................................................... 3. Surat Edaran Ekstern Bank Indonesia .......................................................................... 4. Surat Edaran Intern Bank Indonesia .............................................................................

87 87 87 88 89

B ANK I NDONESIA
vi

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

1-1 Indikator Makroekonomi ...................................................................................................... 2-1. Neraca Pembayaran Indonesia ............................................................................................. 2-2. Operasi Keuangan Pemerintah 2004 .................................................................................... 2-3. Produk Domestik Bruto........................................................................................................ 2-4. PDB Sektoral (riil)................................................................................................................ 2-5. Penyediaan Lahan Properti di DKI Jakarta .......................................................................... 4-1. Indikator Perbankan.............................................................................................................. 4-2. Penyaluran Kredit Kepada UMKM dan Non UMKM ......................................................... 4-3 Perkembangan NAB dan DPK .............................................................................................. 4-4 Indikator Utama Perbankan Syariah...................................................................................... 4-5. Indikator Utama BPR ........................................................................................................... 4-6.Perkembangan TKS............................................................................................................... 5-1. Perkembangan Indikator Pengedaran Uang ........................................................................ 5-2. Perkembangan Aliran Uang Keluar (Outfow) ...................................................................... 5-3. Perkembangan Aliran Uang Masuk (Inflow)........................................................................ 5-4.Perkembangan Net Aliran Uang Masuk/Keluar (Net Inflow/Net Outflow) ........................... 5-5. Pemusnahan Uang ................................................................................................................ 5-6.Profil Pangsa Aliran Dana Dalam BI-RTGS......................................................................... 6-1. Perkembangan dan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi........................................................... 6-2. Proyeksi PDB Sisi Permintaan ............................................................................................. 6-3. Perkiraan Produksi dan Konsumsi Batubara ........................................................................ 6-4. Jumlah Pelanggan Listrik ..................................................................................................... 6-5. Proyeksi PDB Sisi Penawaran..............................................................................................

4 17 19 21 25 25 41 43 45 47 49 50 51 52 53 54 54 61 66 70 70 70 73

B ANK I NDONESIA
vii

DAFTAR ISI

DAFTAR GRAFIK

2-1. Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Negara Utama ................................................................ 2-2. Harga Minyak Dunia ........................................................................................................... 2-3. Harga Komoditas Industri ................................................................................................... 2-4. Harga Komoditas Pertanian................................................................................................ 2-5. Perkembangan Tingkat Suku Bunga Beberapa Negara Dunia ........................................... 2-6. Siklus Kebijakan Moneter Beberapa Negera Dunia........................................................... 2-7 Perkembangan Neraca Perdagangan Migas ....................................................................... 2-8. Perkembangan Neraca Perdagangan Non Migas................................................................ 2-9. Fiscal Impulse .................................................................................................................... 2-10. Indeks Penjualan Eceran.................................................................................................... 2-11. Permintaan Domestik (Survey JETRO) ............................................................................. 2-12. Indeks Keyakinan Konsumen (Survey Konsumen)............................................................ 2-13.Disposable Income .............................................................................................................. 2-14. Kredit Konsumsi................................................................................................................. 2-15.Pembiayaan Konsumen dan Leasing................................................................................... 2-16. Pertumbuhan Investasi........................................................................................................ 2-17.Suku Bunga vs Kredit Investasi .......................................................................................... 2-18.Investasi Non Bangunan...................................................................................................... 2-19. Kredit Properti .................................................................................................................... 2-20.Perkembangan Kegiatan Usaha Sektor Pertanian ............................................................... 2-21. Disagregaasi Inflasi ............................................................................................................ 2-22.Ekspektasi Harga Konsumen............................................................................................... 3-1. Perkembangan Base Money 2002-2004 ............................................................................. 3-2. Perkembangan Target vs Realisasi Base Money ................................................................ 3-3. Pangsa Tabungan dan Simpanan Berjangka....................................................................... 3-4. Pangsa Deposito a/d Maturitas ........................................................................................... 3-5. Rata-rata Nilai Tukar Rupiah ............................................................................................. 3-6. Rata-rata Volatilitas Rupiah ............................................................................................... 3-7. Kepemilikan Asing Dalam Saham ..................................................................................... 3-8. Posisi Kepemilikan Asing Dalam Swap dan Obligasi Pemerintah dan SBI ...................... 3-9. Real Effective Exchange Rate (REER)............................................................................... 3-10. Bilateral Equilibrium Exchange Rate (BRER) ..................................................................

14 15 15 15 16 16 17 17 20 22 22 22 22 22 23 23 23 24 24 25 26 28 30 30 31 31 32 32 33 33 33 33

B ANK I NDONESIA
viii

DAFTAR ISI

4-1. 4-2. 4-3. 4-4. 4-5. 4-6. 5-1. 5-2. 5-3. 5-4. 5-5. 5-6. 5-7. 6-1. 6-2. 6-3. 6-4. 6-5. 6-6.

Aktiva Produktif Per November 2004................................................................................ Komposisi Kredit Berdasarkan Sektor Ekonomi – November 2004.................................. Outstanding Kredit Menurut Jenis Penggunaan ................................................................. Perkembangan NPL dan Kredit.......................................................................................... Rasio Alat Likuid Terhadap NCD...................................................................................... Komposisi Pendapatan Bunga Perbankan Selama 2004 .................................................... Transaksi BI-RTGS ............................................................................................................ Transaksi BI-RTGS Berdasarkan Pelaku .......................................................................... Transaksi BI-RTGS Berdasarkan Waktu Transaksi ........................................................... Perkembangan Kliring Penyerahan Secara Nasional ......................................................... Nominal Kliring Penyerahan Berdasarkan Wilayah .......................................................... Volume Kliring Penyerahan Berdasarkan Wilayah............................................................ Perkembangan Aktivitas Intercity Kliring.......................................................................... Perkembangan Volume Perdagangan Dunia ...................................................................... Indeks Harga Barang Komoditas........................................................................................ West Texas Intermediate Crude Oil Price .......................................................................... World Oil Demand Growth ................................................................................................ Economic Leading Indicator .............................................................................................. Indeks Keyakinan Konsumen.............................................................................................

42 42 43 44 45 46 60 61 62 63 63 63 64 67 67 67 67 69 70

B ANK I NDONESIA
ix

TINJAUAN UMUM

BAB 1 TINJAUAN UMUM

S

ampai dengan triwulan IV-2004, perekonomian Indonesia menunjukkan perkembangan yang semakin baik. Kestabilan ekonomi makro dapat dipertahankan yang disertai dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi. Laju inflasi tetap dapat dikendalikan dalam tingkat yang rendah dan tetap sesuai dengan proyeksi yang telah ditetapkan pada awal tahun. Nilai tukar rupiah relatif stabil dengan volatilitas yang rendah. Seiring dengan itu, suku bunga di dalam negeri tetap stabil pada tingkat yang relatif rendah sehingga kondusif bagi perkembangan dunia usaha. Sektor keuangan, khususnya perbankan dan pasar modal, juga menunjukkan perkembangan yang semakin mantap. Sementara itu, sejalan dengan meningkatnya kegiatan investasi serta tetap tingginya konsumsi, pertumbuhan ekonomi dalam triwulan IV-2004 diperkirakan mencapai 5,0%-5,5% (yoy).

Dalam triwulan IV-2004, laju inflasi mengalami peningkatan dari triwulan sebelumnya. Kenaikan harga pada triwulan terakhir bersifat musiman yang hampir terjadi setiap tahun yang terkait dengan perayaan hari besar keagamaan dan waktu liburan. Meskipun mengalami kenaikan pada triwulan laporan, secara keseluruhan dalam tahun 2004 inflasi IHK tetap dapat dikendalikan yaitu sebesar 6,4% (yoy) atau berada dalam kisaran proyeksi inflasi yang ditetapkan pada awal tahun yaitu 5,5% + 1% (yoy). Tetap terkendalinya harga-harga di dalam triwulan laporan tersebut tidak terlepas dari kebijakan moneter yang ditempuh dalam mengendalikan tekanan inflasi yang bersumber dari interaksi permintaanpenawaran, mengendalikan gejolak nilai tukar, maupun mencegah memburuknya ekspektasi. Selain itu, berbagai langkah yang ditempuh Pemerintah dalam mengupayakan kecukupan dan kelancaran pasokan barang dan jasa juga turut berperan dalam pencapaian laju inflasi yang relatif rendah tersebut. Sementara itu, nilai tukar rupiah bergerak stabil dengan tingkat volatilitas yang rendah. Stabilnya nilai tukar pada triwulan laporan tidak terlepas dari terdapatnya pasokan valas yang berasal dari capital inflows yang didukung oleh kepercayaan pasar atas prospek ekonomi makro Indonesia, perbaikan persepsi risiko, serta dampak dari pelemahan dolar AS secara global. Stabilnya nilai tukar tersebut didukung pula oleh perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dalam triwulan IV-2004 yang tetap tercatat surplus sehingga cadangan devisa masih dalam posisi yang aman dan memadai. Seiring dengan peningkatan permintaan domestik, pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2004 meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Peningkatan pertumbuhan tersebut diikuti dengan semakin seimbangnya pola ekspansi ekonomi yang tercermin dari peningkatan

BANK I NDONESIA 1

TINJAUAN UMUM

investasi dan ekspor. Peningkatan investasi tersebut tidak terlepas dari dorongan konsumsi dan dukungan pembiayaan perbankan serta pasar modal. Sementara perbaikan ekspor yang telah berlangsung sejak triwulan II-2004 terus berlanjut hingga triwulan laporan. Berbagai indikator moneter dan keuangan dalam triwulan IV-2004 masih terkendali dan menunjukkan perkembangan yang relatif stabil. Hal tersebut seperti tercemin pada perkembangan uang primer, uang beredar, nilai tukar, suku bunga serta diikuti kondisi kondisi pasar modal yang mengalami perkembangan cukup pesat. Meningkatnya permintaan uang oleh masyarakat menjelang perayaan beberapa hari besar keagamaan dan tahun baru telah menyebabkan pertumbuhan uang primer meningkat, namun masih dalam batas yang aman. Sejalan dengan pertumbuhan uang primer, jumlah uang beredar juga mengalami pertumbuhan seiring dengan meningkatnya kegiatan perekonomian. Sejalan dengan kestabilan ekonomi makro, peran dan kinerja perbankan nasional terus menunjukkan kestabilan dan perbaikan yang berarti. Fungsi intermediasi perbankan nasional secara bertahap menunjukkan perbaikan tercermin dari peningkatan kredit perbankan khususnya kredit kepada UMKM. Di sisi lain, kualitas kredit perbankan juga relatif membaik yang ditunjukkan oleh penurunan NPL gross maupun net. Dana pihak ketiga (DPK) juga meningkat, mencerminkan tetap terjaganya kepercayaan terhadap perbankan. Profitabilitas perbankan juga menunjukkan peningkatan, dan sejalan dengan itu aspek permodalan tercatat tetap memadai. Ke depan, sejalan dengan berbagai upaya pemulihan ekonomi yang akan terus diperkuat disertai dengan ekspansi ekonomi yang lebih seimbang di tahun 2005, kestabilan ekonomi makro diperkirakan akan berlanjut di tahun 2005. Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I-2005 diperkirakan akan berkisar antara 5,0%-6,0% (yoy). Tekanan inflasi khususnya di triwulan I-2005 diperkirakan akan meningkat terutama terkait dengan rencana untuk menaikkan harga BBM oleh Pemerintah serta meningkatnya permintaan barang dan jasa dalam rangka produksi dan konsumsi. Pergerakan nilai tukar yang stabil dalam triwulan I-2005 diperkirakan akan memberikan pengaruh yang positif terhadap ekspektasi harga. Perkiraan stabilitas nilai tukar tersebut sejalan dengan kinerja NPI yang diperkirakan tetap menunjukkan perkembangan yang baik. Menghadapi potensi meningkatnya tekanan inflasi tersebut, kebijakan moneter ke depan tetap diarahkan pada upaya mencapai sasaran inflasi yang telah ditetapkan, namun dengan tetap menjaga momentum pertumbuhan yang sedang terjadi. Secara operasional, kebijakan moneter tersebut dilakukan dengan mengarahkan uang primer berada pada proyeksi indikatifnya yakni rata-rata tumbuh sebesar 11,5 - 12,5% pada tahun 2005. Untuk meningkatkan efektivitas kebijakan moneter Bank Indonesia akan menggunakan suku bunga sebagai instrumen kebijakan moneter pada pertengahan tahun 2005. Penggunaan target operasional suku bunga sebagai pengganti base money dalam pengendalian moneter ini juga dimaksudkan agar kebijakan moneter lebih fleksibel dalam merespon dinamika perekonomian yang terjadi serta agar sinyal kebijakan ini dapat lebih mudah dibaca oleh pasar. Di bidang perbankan, seiring dengan membaiknya perekonomian, kinerja perbankan pada tahun 2005 diperkirakan akan membaik dan fungsi intermediasi terus mengalami peningkatan. Kebijakan perbankan akan diarahkan untuk melanjutkan stabilitas sistem

BANK I NDONESIA 2

TINJAUAN UMUM

perbankan yang telah ada dan mengakselerasi upaya-upaya untuk mendorong fungsi intermediasi perbankan. Selain itu, dengan semakin meningkatnya persaingan dan mulai diterapkannya skim penjaminan LPS, bank-bank perlu memperhatikan adanya risiko likuiditas. Dalam mengantisipasi munculnya risiko tersebut, Bank Indonesia akan mengarahkan industri perbankan nasional untuk dapat mempercepat proses konsolidasi dan penguatan institusional. Selain itu, dengan semakin meningkatnya integrasi dan keterlibatan bank dalam kegiatan pasar modal dan besarnya risiko dari kegiatan ini, Bank Indonesia akan segera menyempurnakan dan memperkuat monitoring terhadap pelaksanaan berbagai peraturan yang terkait dengan prinsip kehati-hatian dalam kegiatan tersebut. Sejalan dengan arah kebijakan tersebut, dalam bulan Januari 2005 Bank Indonesia mengeluarkan Paket Kebijakan Perbankan yang berisikan beberapa penyempurnaan ketentuan perbankan

1. Evaluasi Perkembangan Ekonomi Makro dan Inflasi
1.1. Kondisi Ekonomi Makro Dalam triwulan IV-2004, kinerja perekonomian diperkirakan lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya dan mencapai 5,0%-5,5% (yoy). Pertumbuhan ekonomi tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan konsumsi terutama konsumsi swasta. Meskipun demikian, secara umum pola pertumbuhan tersebut telah menunjukkan perbaikan, yang ditandai oleh meningkatnya peran investasi dan ekspor dalam mendorong perekonomian. Di sisi lain, tingginya permintaan telah mendorong pesatnya peningkatan impor sebagai upaya untuk memenuhi peningkatan utilisasi maupun kapasitas produksi terpasang. Pada triwulan IV-2004, konsumsi diperkirakan tumbuh lebih tinggi sebesar 5,4% 5,9%, dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh sebesar 4,2%. Peningkatan pengeluaran konsumsi rumah tangga tersebut sejalan dengan hasil survei Penjualan Eceran, survei JETRO, serta sejalan dengan membaiknya kondisi kepercayaan konsumen. Namun demikian, pertumbuhan konsumsi swasta tersebut masih berada di bawah rata-rata pertumbuhan pada periode sebelum krisis (1993 sd pertengahan 1997) yang mencapai 9,9% (yoy) sehingga cukup wajar. Peningkatan konsumsi masyarakat diikuti juga dengan peningkatan investasi. Kegiatan investasi pada triwulan IV-2004 tumbuh sebesar 14,5 – 15,0% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 13,1% (yoy). Kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan juga meningkat menjadi 2,96%. Peningkatan investasi tersebut terutama didukung oleh tersedianya pembiayaan oleh perbankan yang cenderung meningkat. Secara sektoral, seluruh sektor ekonomi kecuali sektor pertambangan mengalami pertumbuhan pada ekonomi triwulan IV-2004. Peningkatan kinerja tersebut utamanya disebabkan oleh adanya beberapa perayaan hari besar di akhir tahun serta dukungan yang semakin meningkat di sisi pembiayaan. Di sisi lain terus meningkatnya permintaan diharapkan juga akan mendorong kegiatan ekonomi sektoral untuk meningkatkan utilisasinya sehingga iklim investasi akan semakin bergairah dan perekonomian secara keseluruhan bergerak ke arah yang semakin baik.

BANK I NDONESIA 3

TINJAUAN UMUM

Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dalam triwulan IV-2004 menunjukkan perkembangan yang terus positif sebagaimana tercermin dari surplus NPI sebesar USD1,5 miliar disepanjang triwulan laporan. Surplus tersebut mengakibatkan posisi cadangan devisa menjadi USD 36,3 miliar atau setara dengan 5,8 bulan impor dan pembayaran utang Pemerintah, atau lebih tinggi dari yang diperkirakan semula. Surplus tersebut utamanya disebabkan oleh terjadinya surplus pada transaksi berjalan (current account) yang disebabkan oleh peningkatan pertumbuhan ekspor khususnya migas yang pada triwulan ini mengalami pertumbuhan sebesar 47,5%. Neraca modal pada triwulan IV-2004 tetap tercatat mengalami surplus yang diperkirakan mencapai USD749 juta
Tabel 1.1 Indikator Makroekonomi
Indikator 2003 Trw IV
IHK (%) Triwulanan (quarter to quarter) Tahunan (year on year) PDB (% pertumbuhan, tahunan) Dari sisi permintaan : Konsumsi Total Investasi Total Dari sisi produksi : Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Sektor eksternal : Ekspor non migas (fob, % pertumbuhan tahunan) Impor non migas (c&f, % pertumbuhan tahunan) Transaksi berjalan (juta USD) Posisi Utang LN (juta USD) Besaran Moneter (miliar RP) M0 M1 M2 Suku bunga (%)1) SBI 1 bulan PUAB (overnight) Deposito 1 bulan Kredit modal kerja Kredit investasi Kurs (Rp/USD), nominal akhir periode Real Effective Exchange Rate (REER)2), 2003=100 Kurs rata-rata 2,51 5,06 4,07 5,79 -0,54 5,00 -2,92 3,98 5,5 9,4 1.624 135.402 166.474 223.799 955.692 8,31 4,65 6,62 15,07 15,68 8.420 100,44 8.468

2004 Trw I
0,91 5,11 5,10 6,13 8,27 5,67 -3,05 5,41 -8,8 7,0 -591 136.679 142.817 219.087 935.249 7,42 5,87 5,86 14,61 15,12 8.564 97,46 8.469

Trw II
2,35 6,83 4,54 5,19 12,53 1,75 -7,35 5,06 9,2 26,6 1.244 133.378 155.466 223.726 975.166 7,34 4,24 6,23 14,10 14,64 9.400 92,12 9.005

Trw III
0,51 5,06 5,03 4,21 13,09 2,39 -5,96 5,28 23,3 30,7 2.503 131.838** 175.351 240.911 986.806 7,39 4,13 6,31 13,80 14,33 8.420 94,74 9.163

Trw IV
2,51 6,40 5,0 – 5,5* 5,4 – 5,9* 14,5 –1 5,0* 3,1 – 3,6* --6,4 - -5,9* 4,9 – 5,4* 9,8** 4,6** 2.713** 134.329** 199.446** 250.222*** 1.000.339*** 7,43 3,76 6,36*** 13,57*** 14,18*** 9335 90,32 9.120

1) Rata-rata tertimbang akhir periode 2) REER adalah indeks nilai tukar rupiah per mata uang negara mitra dagang yang dibobot dengan total ekspor dan impor dari 8 mitra dagang utama Indonesia. * : Perkiraan Bank Indonesia menggunakan tahun dasar 2000 ** : Angka Sementara *** : Angka November 2004 Sumber : BPS (diolah) dan Bank Indonesia

1.2. Inflasi Secara umum inflasi dalam triwulan IV-2004 menunjukkan peningkatan sejalan meningkatnya permintaan barang dan jasa sehubungan dengan perayaan hari keagamaan dan liburan akhir tahun. Inflasi IHK selama triwulan IV-2004 mencapai 2,51% (qtq) meningkat cukup tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang hanya sebesar 0,5% (qtq).

BANK I NDONESIA 4

TINJAUAN UMUM

Sampai dengan akhir tahun 2004, inflasi IHK tercatat sebesar 6,40% (yoy), lebih tinggi bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 5,06% (yoy). Namun demikian, peningkatan permintaan tersebut masih dapat direspon dengan cukup baik oleh sisi penawaran meskipun terdapat beberapa bencana alam di beberapa daerah. Dengan kondisi tersebut, realisasi inflasi IHK 2004 masih sesuai dengan proyeksi Bank Indonesia di awal tahun sebesar 5,5% ± 1,0% (yoy). Peningkatan inflasi IHK dalam triwulan IV-2004 terutama disebabkan adanya faktor musiman seperti beberapa perayaan hari raya keagamaan dan akhir tahun serta kenaikan harga BBM yaitu elpiji, Pertamax dan Pertamax Plus. Meskipun kenaikan harga barangbarang administered price tersebut memberikan kontribusi terhadap peningkatan inflasi pada periode tersebut, namun dampak kenaikan tersebut dapat diminimilisasi mengingat tidak adanya perubahan harga barang-barang administered yang strategis seperti seperti harga BBM bersubsidi, tarif dasar listrik dan cukai rokok. Berdasarkan kelompok barang, kelompok barang yang dominan dalam menyumbang inflasi adalah kelompok bahan makanan dan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar. Sementara itu, perkembangan inflasi inti relatif stabil selama periode laporan. Perkembangan ini terlihat dengan kebijakan moneter Bank Indonesia yang ditempuh dalam mengendalikan sisi permintaan agregat yang dilakukan melalui kebijakan moneter yang cenderung ketat.

2. Evaluasi Perkembangan dan Kebijakan Moneter
Secara umum, pelaksanaan kebijakan moneter dalam triwulan IV-2004 tetap diarahkan pada pencapaian sasaran inflasi dalam jangka menengah-panjang dengan mengendalikan faktor-faktor yang menjadi penyebab utama inflasi, yaitu nilai tukar rupiah, permintaan domestik dan ekspektasi. Dalam operasionalnya, kebijakan yang ditempuh dilakukan dengan kebijakan moneter yang cenderung ketat (tight bias) melalui upaya penyerapan kelebihan likuiditas sistem perbankan secara optimal. Penerapan kebijakan moneter ini merupakan bentuk tindakan antisipatif kebijakan moneter dalam rangka mencapai dan mengamankan sasaran inflasi jangka menengah yang telah diputuskan Pemerintah dan berlaku untuk 3 (tiga) tahun ke depan sejak 2005. Selain itu, penerapan kebijakan tight bias ini juga dimaksudkan untuk tetap mendukung proses pemulihan ekonomi yang saat ini masih berlangsung. Sejalan dengan itu, besaran-besaran moneter dalam triwulan IV-2004 menunjukkan perkembangan yang relatif stabil dan sebagian besar masih sesuai dengan prakiraan semula. Sesuai dengan pola musiman pada akhir tahun, perkembangan uang primer menunjukkan peningkatan namun masih dapat dikendalikan sesuai dengan kebutuhan perekonomian. Suku bunga SBI 1 bulan dan 3 bulan bergerak relatif stabil dan masih sesuai dengan pencapaian proyeksi inflasi jangka menengah, yang diikuti oleh relatif stabilnya suku bunga perbankan. Nilai tukar rupiah juga bergerak stabil dengan volatilitas yang rendah, meskipun terdapat tekanan depresiasi. Secara umum, nilai tukar rupiah selama triwulan IV-2004 bergerak stabil dengan tingkat volatilitas yang cukup rendah. Namun demikian, menjelang akhir tahun rupiah sempat

BANK I NDONESIA 5

TINJAUAN UMUM

mengalami tekanan terkait dengan faktor eksternal atas antisipasi pasar menjelang FOMC dan faktor koreksi atas pelemahan USD yang terlalu cepat di bulan sebelumnya, ditengah upaya untuk merealisasikan keuntungan menjelang akhir tahun serta meningkatnya permintaan valas oleh sejumlah korporasi untuk pembayaran impor dan utang luar negeri. Cukup terjaganya stabilitas nilai tukar ditengah tekanan depresiasi khususnya pada akhir tahun, tidak terlepas dari peranan capital inflows yang didukung meningkatnya kepercayaan pasar (market confidence), membaiknya persepsi risiko, serta dampak kecenderungan melemahnya USD secara global yang dipicu oleh isu twin-deficit AS. Rata-rata nilai tukar rupiah selama triwulan IV-2004 berada pada level Rp9.120/USD tetapi masih dalam rentang perkiraan sebesar Rp8.700 – Rp9.300 per dollar AS. Sejalan dengan kebijakan moneter yang tight bias dan langkah penyerapan likuiditas yang secara optimal dilakukan Bank Indonesia, suku bunga SBI dalam triwulan IV-2004 dipertahankan stabil hingga pada akhir triwulan IV-2004. Suku bunga SBI 1 bulan hanya meningkat sebesar 4 bps menjadi 7,41% dibandingkan dengan triwulan III-2004. Sementara itu, suku bunga SBI 3 malah menunjukkan sedikit penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya menjadi sebesar 7,29% atau menurun sebesar 2 bps. Perkembangan suku bunga instrumen tersebut telah berpengaruh terhadap perkembangan suku bunga perbankan dan kredit. Selain itu, masih tingginya kondisi likuiditas di pasar uang telah menyebabkan suku bunga pasar uang menurun. Suku bunga deposito 1 bulan dalam triwulan ke IV-2004 mengalami sedikit peningkatan sebesar 5 bps dibandingkan dengan triwulan sebelumnya atau menjadi 6,36%. Kenaikan suku bunga ini juga terjadi pada suku bunga deposito 3 dan 6 bulan yang meningkat sebesar masing-masing 5 dan 17 bps dibandingkan triwulan sebelumnya menjadi masing-masing 6,66% dan 7,06%.

3. Evaluasi Perkembangan dan Kebijakan Perbankan
Selama triwulan IV-2004, kebijakan perbankan tetap difokuskan untuk melanjutkan berbagai langkah dalam mempertahankan stabilitas sistem perbankan guna menciptakan stabilitas sistem keuangan dan mendorong fungsi intermediasi perbankan. Kebijakan tersebut ditempuh melalui beberapa langkah antara lain melalui pemantauan risiko-risiko yang dihadapi industri perbankan, pemantauan persiapan pelaksanaan manajemen risiko, pemantauan intensif terhadap pelaksanaan rencana bisnis bank yang telah disetujui Bank Indonesia, pemantauan pemberian kredit baru dan kredit hasil restrukturisasi terutama di bank-bank besar, pemantauan action plan dari bank-bank terkait dengan kondisi permodalan (Capital Adequacy Ratio/CAR) dan kualitas kredit bermasalah (Net Performing Loan/NPL), serta penyempurnaan pengaturan dan pengawasan bank. Dalam hal pengaturan perbankan, dalam triwulan IV-2004 Bank Indonesia telah mengeluarkan ketentuan yang menyangkut pengaturan bank umum yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah dan pengaturan rencana bisnis umum, serta pengaturan mengenai penerapan manajemen risiko pada bank yang melakukan kerjasama pemasaran dengan perusahaan asuransi (bancassurance). Untuk meningkatkan efektivitas pengawasan bank khususnya dalam penanganan tindak pidana bank, dalam triwulan laporan Bank Indonesia telah melakukan penandatanganan MoU dengan Kapolri dan Kejagung. Sejalan dengan berbagai upaya konsolidasi internal dan program restrukturisasi perbankan yang telah dilaksanakan sejak beberapa tahun lalu, secara umum kinerja

BANK I NDONESIA 6

TINJAUAN UMUM

perbankan sampai dengan akhir triwulan IV-2004 menunjukkan perkembangan yang positif. Hal ini ditunjukkan dari peningkatan aset, dana pihak ketiga dan kredit yang diberikan. Peningkatan kredit tersebut menunjukkan bahwa fungsi intermediasi perbankan secara bertahap menunjukkan perbaikan. Sejalan dengan perbaikan struktur aset, kualitas kredit bermasalah semakin membaik serta kualitas aset, pendapatan dan efisiensi perbankan juga terus menunjukkan peningkatan. Sejalan dengan kondisi ekonomi makro yang stabil, Bank Indonesia terus berupaya untuk mendorong perbankan untuk meningkatkan fungsi intermediasi dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Beberapa indikator perbankan menunjukkan kestabilan dan perbaikan sebagaimana tercermin dari memadainya permodalan, menurunnya risiko kredit, meningkatnya profitabilitas perbankan serta perbaikan secara gradual intermediasi perbankan. Upaya ini terutama dilakukan terhadap peningkatan jumlah kredit Usaha Mikri, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta sektor-sektor usaha tertentu yang belum terjangkau oleh pelayanan bank. Langkah ini dipandang telah menunjukkan hasil yang menggembirakan sejalan dengan semakin meningkatnya kredit UMKM dan kredit baru perbankan. Berdasarkan data November 2004, penghimpunan dan penyaluran dana perbankan menunjukkan peningkatan. Pertumbuhan DPK juga meningkat sebesar Rp43,9 triliun atau 4,9% sehingga tercatat sebesar Rp932,5 triliun. Sementara kredit perbankan yang diberikan meningkat sebesar Rp96,2 triliun atau sekitar 20,2% sehingga posisinya menjadi Rp573,4 triliun (November 2004). Posisi UMKM yang disalurkan perbankan telah mencapai Rp270,5 triliun (posisi Oktber 2004) atau 51% dari total kredit perbankan (tanpa chanelling). Sementara itu, pertumbuhan DPK juga meningkat sebesar Rp43,9 triliun atau 4,9% sehingga tercatat sebesar Rp932,5 triliun. Dengan pertumbuhan kredit yang lebih besar dari pertumbuhan DPK telah mendorong perbaikan LDR perbankan dari 43,2% pada tahun sebelumnya menjadi 49,5%. Kualitas kredit menunjukkan perbaikan sebagaimana tercermin dari membaiknya NPLs gross dari 8,2% pada tahun sebelumnya menjadi 6,6% (November 2004). Sementara NPLs net juga membaik dari 3,04% pada tahun sebelumnya menjadi 2,01% (November 2004). Rendahnya NPL juga memperbaiki kinerja profitabilitas perbankan. Pendapatan bunga bersih (NII) meningkat 28% sementara efisiensi meningkat yang ditandai oleh menurunnya rasio BOPO dari 88,8% pada akhir tahun 2003 menjadi 80,8%. Dari sisi permodalan, CAR perbankan berada pada level yang memadai dan relatif stabil yakni 19,7%. Sejalan dengan perkembangan bank umum, perkembangan perbankan syariah dan BPR juga menunjukkan perkembangan yang meningkat. Kegiatan usaha perbankan syariah menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik, tercermin dari jumlah aset yang tumbuh 6,3% dari triwulan sebelumnya hingga mencapai 13,5 triliun. Pertumbuhan volume usaha ini juga didukung oleh pertumbuhan jumlah bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah. Peningkatan yang sama juga ditunjukkan dari total dana pihak ketiga yang dihimpun yang meningkat 4,12% menjadi Rp10,1 triliun, dan penyaluran dana yang meningkat 5,9% menjadi sebesar Rp10,7 triliun. Dengan laju pertumbuhan pembiayaan yang melebihi pertumbuhan dana yang dihimpun tersebut, maka FDR perbankan syariah meningkat menjadi 105,8%.

BANK I NDONESIA 7

TINJAUAN UMUM

4. Evaluasi Perkembangan dan Kebijakan Sistem Pembayaran
Secara umum, selama triwulan IV-2004 kebijakan yang ditempuh dalam sistem pembayaran tunai adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan uang kartal di masyarakat dalam jumlah nominal yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu dan dalam kondisi yang layak edar. Dalam triwulan laporan, Bank Indonesia telah mengeluarkan dan mengedarkan uang kertas emisi baru pecahan Rp100.000,00 dan Rp20.000,00 yang dilakukan pada tanggal 29 Desember 2004. Pengeluaran dan pengedaran uang kertas emisi baru tersebut dilakukan antara lain berdasarkan pertimbangan bahwa usia edar yang telah cukup lama serta bertujuan untuk menstandarisasi ukuran uang kertas, meningkatkan kualitas unsur pengaman yang mudah dan cepat dikenali masyarakat antara lain dengan menerapkan optical variable ink (OVI) dan memperlebar ukuran benang pengaman, serta memasukkan unsur blind code. Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang hari raya keagamaan, Bank Indonesia melakukan peningkatan pelayanan penukaran uang di seluruh Kantor Bank Indonesia (KBI) serta meningkatkan peran penukaran uang pecahan kecil kepada masyarakat oleh Perusahaan Penukaran Uang Pecahan Kecil (PPUPK) dengan penambahan plafon, membuka loket sementara di tempat-tempat strategis, meningkatkan pelayanan penukaran di tempat-tempat keramaian, serta menginformasikan kegiatan dan lokasi tempat penukaran oleh PPUPK melalui media cetak dan elektronik. Sejalan dengan terdapatnya faktor musiman khususnya hari raya keagamaan dalam triwulan IV-2004, beberapa indikator pengedaran uang seperti jumlah uang yang diedarkan (UYD), aliran uang masuk (inflow) dan aliran uang keluar (outflow) menunjukkan peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Jumlah uang kartal yang diedarkan (UYD) pada posisi akhir triwulan IV-2004 tercatat sebesar Rp126,90 triliun atau meningkat sebesar 9,33% dibandingkan dengan posisi akhir triwulan sebelumnya. Dilihat dari jumlah bilyet/keping uang kartal yang diedarkan Bank Indonesia, 89,5% merupakan uang pecahan Rp5.000 ke bawah, dan sisanya sebesar 10,5% merupakan uang kertas pecahan besar (Rp10.000 ke atas). Dari seluruh pecahan besar tersebut, uang yang paling banyak beredar di masyarakat adalah pecahan Rp50.000 dan Rp10.000 masing-masing sebesar 48,6% dan 20,6%. Aliran uang keluar (outflow) dari Bank Indonesia pada triwulan IV-2004 meningkat sebesar 30,1% dibandingkan triwulan sebelumnya, sedangkan aliran uang masuk (inflow) hanya meningkat sebesar 16,3% dari sebesar Rp64,51 triliun menjadi Rp74,99 triliun. Peningkatan outflow yang cukup signifikan pada triwulan IV-2004 tersebut terutama didorong oleh meningkatnya permintaan uang tunai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode hari raya keagamaan dan tahun baru. Di sistem pembayaran non tunai, dalam triwulan IV-2004 kebijakan diarahkan pada upaya penurunan risiko dan peningkatan efisiensi sistem pembayaran. Guna merealisasikan tujuan tersebut, Bank Indonesia melakukan serangkaian kegiatan antara lain penyusunan mekanisme Failure to Settle (FtS), pengembangan Sistem Kliring Nasional (SKN) dan Penerbitan Peraturan Bank Indonesia tentang Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran Dengan Menggunakan Kartu.

BANK I NDONESIA 8

TINJAUAN UMUM

Dalam triwulan IV-2004, total aktivitas BI-RTGS mencapai nilai Rp5.736 triliun dengan jumlah transaksi sebanyak 1.365 ribu. Dibandingkan triwulan III-2004, total aktivitas BI-RTGS tersebut meningkat sebesar 19,7% dari sebelumnya sebesar Rp4.790 triliun, sementara volume transaksi meningkat sebesar 3% dari sebelumnya sebesar 1.324 ribu transaksi. Kondisi tersebut menyebabkan rata-rata harian (RRH) nominal transaksi meningkat menjadi sebesar Rp94 triliun, sementara RRH volume transaksi meningkat menjadi sebesar 22.383 transaksi. Berdasarkan asal perintah untuk transaksi antar bank yang melalui RTGS, maka bank umum swasta nasional merupakan pihak yang paling banyak melakukan transaksi baik secara nominal maupun volume. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya transfer dana untuk untung nasabah, besarnyanya aktivitas pasar uang antar bank, serta transaksi fasilitas Bank Indonesia. Secara keseluruhan, transaksi antar bank untuk untung nasabah memiliki volume yang paling signifikan di dalam sistem RTGS. Hal ini menunjukkan bahwa nasabah sebagai pengguna akhir merupakan pihak yang paling diuntungkan dengan keberadaan sistem RTGS. Sementara itu, dari sisi kliring, dalam triwulan IV-2004 menunjukkan bahwa total nominal kliring penyerahan secara nasional mencapai Rp322,9 triliun dengan warkat sejumlah 18,7 juta lembar. Dibandingkan triwulan sebelumnya, nilai transaksi menurun sebesar 10,5% dari sebelumnya Rp371,8 triliun serta volume transaksi menurun 15,5% dari sebelumnya sebesar 22 juta transaksi.

5. Prospek Ekonomi dan Moneter
5.1. Prospek Ekonomi Makro Kondisi pemulihan ekonomi dengan disertai ekspansi pertumbuhanyang lebih seimbang pada tahun 2004 diperkirakan akan tetap berlanjut di tahun 2005. Kondisi ini juga sangat didukung oleh komitmen Pemerintah untuk mengoptimalkan upaya perbaikan iklim investasi termasuk diantaranya upaya mengakselerasi pembangunan infrastruktur. Sementara itu kondisi ekonomi global, meskipun tidak secerah tahun sebelumnya, dinilai juga masih kondusif untuk menopang kegiatan ekonomi dalam negeri yang berorientasi ekspor. Meskipun demikian, prospek ekonomi ke depan juga masih dihadapkan dengan beberapa permasalahan struktural ekonomi yang apabila tidak diatasi akan menyebabkan perekonomian Indonesia masih rentan terhadap beberapa shock yang yang terjadi baik dari dalam maupun luar negeri. Beberapa faktor risiko tersebut antara lain terkait dengan perkembangan harga minyak yang masih dapat bergejolak tinggi serta struktur arus modal masuk jangka pendek yang rentan terhadap terjadinya pembalikan arus modal (capital reversal). Dengan beberapa perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I-2005 diperkirakan akan berkisar antara 5,0%-6,0% (yoy). Semua komponen pengeluaran diperkirakan akan mencatat pertumbuhan yang positif, dengan komponen pendorong pertumbuhan terbesar berturut-turut adalah ekspor, konsumsi, dan diikuti investasi. Peningkatan konsumsi swasta masih akan terus terjadi pada awal triwulan 2005 ini, yang didorong oleh peningkatan pendapatan masyarakat sejalan dengan naiknya pertumbuhan ekonomi. Hasil proyeksi ini didukung oleh hasil survey konsumen yang menunjukkan

BANK I NDONESIA 9

TINJAUAN UMUM

semakin membaiknya ekspektasi konsumen. Dari sisi pembiayaan, kredit konsumsi yang terus meningkat juga turut memberikan sumbangan bagi kenaikan konsumsi. Dengan pertimbangan tersebut, maka konsumsi swsata diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 5,0%6,0% (yoy). Kegiatan investasi diperkirakan akan mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi dalam kisaran 11,8%-12,3% (yoy). Peningkatan kegiatan investasi terutama didorong oleh peningkatan kepercayaan investor atas perbaikan iklim investasi. Hal tersebut diindikasikan dari komitmen Pemerintah dalam mendorong investasi serta penguatan kepercayaan pebisnis yang terungkap dari hasil Survey Kegiatan Dunia Usaha (SKDU). Kegiatan ekspor diperkirakan juga akan tumbuh relatif tinggi antara lain didukung oleh perkiraan meningkatnya kapasitas produksi di sejumlah sub sektor industri. Seiring dengan peningkatan permintaan domestik dan ekspor, maka kegiatan impor diperkirakan juag mengalami peningkatan. Sementara di sisi penawaran, peningkatan nilai tambah diperkirakan akan berasal dari sektor industri pengolahan, pengangkutan, listrik dan bangunan. Industri pengolahan diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya atau pada kisaran 5,2%-6,2% di triwulan I-2005. Sub sektor industri alat angkutan, sub sektor kimia serta sub sektor semen diperkirakan akan tumbuh cukup tinggi. Seiring dengan itu, penggunaan pengolahan pun diperkirakan akan mengalami peningkatan dan secara rata-rata akan berada pada tingkat di atas 70%. Sektor pertanian diperkirakan mengalami sedikit perlambatan pertumbuhan terkait dengan mundurnya pelaksanaan musim tanam Oktober-Maret pada sebagian areal tanam, khususnya areal tadah hujan. Namun demikian, penundaan tersebut hanya akan menyebabkan penurunan produksinya pada awal triwulan. Dengan kondisi tersebut sektor pertanian akan tumbuh berkisar 2,8-3,8% di triwulan I-2005. Sektor bangunan diperkirakan akan tumbuh dalam kisaran 7,2-8,2% seiring dengan dimulainya pembangunan beberapa proyek besar.

5.2. Prospek Inflasi Secara umum prospek Inflasi triwulan I-2005 akan dipengaruhi oleh rencana kenaikan harga BBM oleh Pemerintah. Namun demikian, besarnya dampak dari kenaikan administered prices tersebut masih tergantung pada magnitude dan timing dari implementasi kebijakan Pemerintah, serta dampak tunda dari pengaruh tahap kedua (second round effect) administered prices. Di sisi penawaran, pasokan bahan makanan baik dari sisi produksi domestik maupun impor diperkirakan masih akan tetap terjaga meskipun terdapat beberapa bencana alam di beberapa daerah. Di samping itu, tekanan inflasi dari sektor ekstenal diperkirakan akan relatif minimal dengan perkembangan nilai tukar ke depan yang diperkirakan semakin membaik. Kedua faktor positif tersebut diharapkan akan mampu meredam tekanan inflasi yang berasal dari kenaikan harga akibat kenaikan harga BBM.

BANK I NDONESIA 10

TINJAUAN UMUM

5.3. Prospek Nilai Tukar Dalam triwulan I-2005, kestabilan nilai tukar diperkirakan akan berlanjut dan bahkan cenderung menguat. Optimisme pergerakan rupiah tersebut didukung oleh cukup kondusifnya kondisi eksternal dan internal yang mempengaruhi terjaganya kondisi penawaran dan permintaan valas, yang pada gilirannya turut menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Di sisi permintaan valas, seiring dengan meningkatnya kegiatan investasi dan konsumsi, kegiatan impor diperkirakan juga akan meningkat. Di sisi lain, pasokan valas yang berasal dari ekspor diperkirakan meningkat sejalan dengan kinerja ekspor non-migas yang semakin membaik. Pasokan valas lain diperkirakan bersumber dari aliran modal asing (capital inflows) terutama yang berjangka pendek yang diperkirakan terus berlanjut. Berbagai faktor positif dalam negeri akan mempengaruhi insentif investor asing dalam menanamkan dananya. Peningkatan rating serta proyeksi utang oleh beberapa lembaga selama tahun 2004 merupakan bukti membaiknya risiko domestik yang pada gilirannya dapat meningkatkan kepercayaan investor kepada Indonesia. Faktor lain yang menjadi daya tarik Indonesia sebagai alternatif investasi terutama jangka pendek, yakni masih cukup menariknya imbal hasil rupiah. Meski prospek ke depan cukup positif, namun beberapa perkembangan dari sisi eksternal perlu diwaspadai. Pergerakan USD yang cenderung terdepresiasi dalam jangka panjangnya akibat permasalahan twin deficit, dapat berfluktuasi (terkoreksi) dalam jangka pendeknya terutama terkait dengan berlanjutnya siklus pengetatan AS. Dalam triwulan I2005, Fedres merencanakan adanya FOMC sebanyak dua kali yaitu pada awal Februari dan pertegahan Maret. Bila data perekonomian AS membaik maka pasar akan kembali melakukan antisipasi terhadap kenaikan suku bunga Fedres. Fenomena ini berpeluang membuat rupiah akan mengalami tekanan melalui transmisi ekspektasi kenaikan suku bunga luar negeri.

6. Arah Kebijakan Bank Indonesia Ke Depan
Memperhatikan prospek ekonomi-moneter ke depan khususnya pencapaian sasaran inflasi jangka menengah serta faktor risiko yang berpotensi memberikan tekanan pada kestabilan ekonomi, dalam triwulan mendatang arah kebijakan Bank Indonesia di bidang moneter, perbankan, dan sistem pembayaran sebagai berikut : Di bidang moneter, kebijakan moneter dalam triwulan mendatang tetap diarahkan pada upaya mencapai sasaran inflasi yang telah ditetapkan, namun dengan tetap menjaga momentum pertumbuhan yang sedang terjadi. Secara operasional, kebijakan moneter akan ditempuh dengan dengan mengarahkan uang primer berada pada proyeksi indikatifnya yakni rata-rata tumbuh sebesar 11,5 - 12,5% pada tahun 2005. Untuk meningkatkan efektivitas kebijakan moneter Bank Indonesia akan menggunakan suku bunga sebagai instrumen kebijakan moneter pada pertengahan tahun 2005. Penggunaan target operasional suku bunga sebagai pengganti base money dalam pengendalian moneter ini juga dimaksudkan agar kebijakan moneter lebih fleksibel dalam merespon dinamika perekonomian yang terjadi serta sinyal kebijakan ini yang lebih mudah dibaca oleh pasar.

BANK I NDONESIA 11

TINJAUAN UMUM

Di bidang perbankan, kebijakan dalam triwulan mendatang diarahkan untuk melanjutkan upaya-upaya untuk mempertahankan stabilitas sistem keuangan dan perbankan serta mendorong peningkatan fungsi intermediasi perbankan dsiesuaikan dengan arah kebijakan perbankan kedepan yakni : (i) Mengakselerasi proses konsolidasi industri perbankan melalui penyelesaian proses konsolidasi individual bank dalam tahun 2005, (ii) Mengimplementasi langkah-langkah penguatan infrastruktur sistem keuangan antara lain melalui pendirian LPS, penyempurnaan ketentuan yang terkait dengan good corporate governance perbankan, melanjutkan program sertifikasi manajemen risiko, persiapan pembentukan Credit Bureau; (iii) Penguatan aspek-aspek prudential dan peningkatan fungsi intermediasi melalui penyempurnaan ketentuan BMPK, Sistem Informasi Debitur (SID), dan Sekuritisasi Aset, Kualitas Aktiva Aset, Pinjaman luar negeri, serta penyelesaian pengaduan nasabah dan perlindungan nasabah dan transparansi informasi produk perbankan. Penguatan aspek-aspek pridensial dan peningkatan fungsi intermediasi tersebut melalui penyempurnaan beberapa ketentuan tersebut akan dikeluarkan pada bulan Januari 2005 dalam bentuk Paket Kebijakan Perbankan. Dalam paket kebijakan tersebut, juga akan diatur pula perlakukan khusus terhadap kredit bank umum di Provinsi NAD dan Kabupaten Nias. Di bidang sistem pembayaran tunai, kebijakan tetap diarahkan pada upaya untuk memenuhi kebutuhan uang kartal di masyarakat dalam jumlah nominal yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu dan dalam kondisi yang layak edar. Terkait dengan hal tersebut, pada triwulan mendatang Bank Indonesia tetap mengupayakan pemenuhan kebutuhan uang tunai di seluruh wilayah di Indonesia sesuai dengan rencana distribusi serta memantau kecukupan persediaan kas. Sementara itu, dalam rangka memenuhi kebutuhan uang kartal di wilayah bencana di Propinsi Nangroe Aceh Darusalam ditempuh beberapa langkah antara lain dengan mengoperasikan kegiatan pelayanan kas sementara bertempat di rumah dinas Bank Indonesia, memfungsikan KBI Lhokseumawe untuk men-supply uang tunai ke KBI Banda Aceh di bawah koordinasi KKBI Medan, serta mengirimkan tenaga kasir Kantor Pusat untuk membantu operasional perkasan di KBI Banda Aceh maupun KBI Lhokseumawe. Selain itu, Bank Indonesia akan melanjutkan langkah-langkah penanggulangan uang palsu antara lain melalui perluasan jejaring dan kerjasama dengan pihak-pihak terkait pada langkah penanggulangan uang palsu. Sejalan dengan itu, upayaupaya publikasi dalam rangka pengenalan masyarakat atas ciri-ciri keaslian uang Rupiah akan dilanjutkan melalui media elektronik dan media cetak. Di bidang sistem pembayaran non tunai, kebijakan tetap diarahkan untuk melanjutkan upaya-upaya pengurangan risiko pembayaran, peningkatan kualitas dan kapasitas layanan sistem pembayaran serta pengaturan pengawasan sistem pembayaran guna mewujudkan sistem pembayaran yang cepat, aman, dan efisien. Dalam rangka meminimalkan risiko, meningkatkan efisiensi dan kesetaraan (fairness) dalam sistem pembayaran serta adanya perlindungan konsumen bagi pemakai jasa sistem pembayaran, maka dalam tahun 2005 Bank Indonesia akan mengimplementasikan beberapa program yang telah disusun pada tahun 2004 dan penyusunan ketentuan antara lain pelaksanaan FtS, Sistem Kliring Nasional, pelaksanaan pengawasan sistem pembayaran dengan menggunakan kartu dan sosialisasi untuk memperlancar implementasi Daftar Hitam Nasional (DHN).

BANK I NDONESIA 12

EVALUASI KONDISI MAKROEKONOMI DAN PERKEMBANGAN INFLASI

BAB 2 EVALUASI KONDISI MAKROEKONOMI DAN PERKEMBANGAN INFLASI

K

ondisi perekonomian dunia sampai dengan triwulan IV-2004 diperkirakan mengalami perlambatan dibandingkan dengan periode sebelumnya. Beberapa faktor yang menyebabkan perlambatan tersebut diantaranya adalah menurunnya laju pertumbuhan ekonomi pada hampir sebagian besar negara-negara dunia, seperti AS, Jepang, Euro, dan China, depresiasi mata uang USD yang memukul kinerja ekspor beberapa negara serta masih berlangsungnya siklus pengetatan moneter. Penerapan kebijakan moneter yang cenderung ketat oleh beberapa negara merupakan suatu tindakan yang dilakukan mengingat masih berlanjutnya tekanan inflasi yang berasal dari tingginya harga barang komoditas serta cukup tingginya consumer spending di beberapa negara. Meskipun perekonomian dunia relatif melambat, namun perkembangan harga komoditas internasional khususnya untuk harga komiditi primer yang menjadi andalan harga ekspor Indonesia masih menunjukkan peningkatan ditambah dengan harga minyak dunia yang masih berada dalam level yang cukup tinggi. Kondisi tersebut memberikan kontribusi yang positif bagi perekonomian Indonesia melalui peningkatan pertumbuhan ekspor Indonesia sehingga surplus neraca perdagangan terus mengalami peningkatan dan menyebabkan transaksi berjalan terus mengalami surplus. Di sisi lain, kinerja lalu lintas modal (LLM) cenderung melemah seiring dengan meningkatnya pembayaran utang luar negeri. Secara keseluruhan, neraca pembayaran Indonesia tetap mengalami surplus sehingga posisi cadangan devisa lebih tinggi dari yang diperkirakan semula. Pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2004 diperkirakan tumbuh sekitar 5,0–5,5% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2003. Meskipun pertumbuhan ekonomi tersebut masih bertumpu pada konsumsi, namun telah disertai oleh meningkatnya pertumbuhan investasi dan ekspor. Sementara itu, secara sektoral, pertumbuhan positif masih terjadi di seluruh sektor kecuali sektor pertambangan. Seiring dengan pertumbuhan PDB, peningkatan permintaan juga dirasakan cukup tinggi selama triwulan laporan terutama sebagai akibat berlangsungnya beberapa hari besar keagamaan dan libur tahun baru. Namun, dengan respon dari sisi penawaran secata baik dan disertai dengan pergerakan nilai tukar yang relatif stabil menyebabkan tekanan inflasi selama triwulan keIV-2004 masih dapat terkendali.

B ANK I NDONESIA 13

EVALUASI KONDISI MAKROEKONOMI DAN PERKEMBANGAN INFLASI

1. Evaluasi Sektor Eksternal
1.1. Perkembangan Ekonomi Internasional Laju pertumbuhan ekonomi global di triwulan IV-2004 diperkirakan mengalami perlambatan, setelah pada tiga triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Hal ini didorong oleh perlambatan laju pertumbuhan ekonomi pada hampir sebagian besar negara-negara di dunia, seperti AS, China, Euro dan Jepang dan kawasan dunia lainnya. Beberapa faktor yang memicu perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut diantaranya adalah kebijakan pemerintah China untuk mendinginkan perekonomiannya, masih tingginya harga minyak, serta masih berlangsungnya siklus pengetatan moneter di beberapa negara. Sementara itu, permasalahan twin deficit yang masih terus berlangsung di AS secara tidak langsung juga mempengaruhi laju pertumbuhan perekonomian global. Kondisi twin deficit tersebut akan memaksa pemerintah AS untuk membiarkan mata uangnya terdepresiasi terhadap beberapa mata uang utama, seperti JPY, Euro dan GBP agar permasalahan twin deficit yang semakin membengkak tersebut dapat diperkecil. Pelemahan mata uang USD ditengah menurunnya permintaan dunia menyebabkan kinerja ekspor di beberapa negara dunia, seperti kawasan Euro, Asia dan Amerika Latin pada periode laporan mengalami penurunan dan mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut.
% y-o-y
8.0

1 5.0

% y-o-y

10.0
6.0

P royeksi Consensus Forecast
5.0

4.0

2.0

0.0

Pro yeksi Co nsensus Forecast

0.0 I II 2000 -2.0 III IV I II III 2001 IV I II 2002 III IV I II 2003 III IV I II 2004 III IV

-5.0

USA Euro Japan

Malaysia Thailand Korea China Singapore
I II III IV I II III 2001 IV I II III 2002 IV I II

-10.0

sumber: Bloomberg III IV I II
2003

III

IV

-4.0

2000

2004

Grafik 2.1 Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Negara Utama

1.2. Perkembangan Harga Komoditas Internasional Setelah sempat mencapai yang tinggi pada bulan Oktober 2004, harga minyak dunia mulai bergerak turun dan berada pada level USD 40-47 per-barrel pada akhir tahun 2004. Penurunan ini disebabkan oleh kenaikan produksi negara-negara penghasil minyak yang tergabung dalam OPEC dan meningkatnya persediaan minyak AS --ditengah kondisi musim dingin di AS yang berlangsung tidak terlalu dingin--sehingga menambah penawaran (supply) di pasar. Dengan adanya penurunan harga tersebut, negara-negara OPEC sepakat untuk menurunkan tingkat produksi minyak sebesar 1 juta barrel per-hari. Dengan cukup tersedianya supply minyak, penurunan produksi tersebut tidak menimbulkan gejolak harga

B ANK I NDONESIA 14

EVALUASI KONDISI MAKROEKONOMI DAN PERKEMBANGAN INFLASI

di pasar. Bahkan, permintaan minyak Cina yang masih cukup tinggi –walaupun sedang dilakukan upaya mendinginkan perekonomian—tidak memberikan tekanan yang berarti terhadap harga (impor minyak China pada bulan November 2004 naik 46%, yoy).
$/barel
60

$/barel
60

55

55

50

50

Minas WTI
45

Brent Crude Oil

45

40

40

35

35

30

30

25

25

Sumber: Bl b
20 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul 2003 Ags Sep Okt Nov De Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags 2004 Sep Oct Nov De 20

Grafik 2.2 Harga Minyak Dunia

Lain halnya dengan harga minyak, harga barang komoditas non-migas di pasar Internasional, khususnya untuk komoditas pertambangan dan pertanian (kecuali lada) yang merupakan produk ekspor Indonesia, cenderung mengalami peningkatan. Namun demikian, beberapa harga komoditas industri, seperti plywood dan CPO mulai bergerak turun. Dengan masih tergantungnya ekspor Indonesia pada komoditas primer, perkembangan harga ini masih menguntungkan untuk meningkatkan ekspor Indonesia.
CPO (MYR)
600 CPO Tekstil Plyw ood

Tekstil, Ply (US$)
700

Kopi (BRL) 140 Kopi Pepper Karet

Pepper, Karet (MYR) 600

120

500

600

500

100

500 400
80

400

400
300

300
60

300
200

200 200

40

100

20

100

100
0 0 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov 2000 2001 2002 2003 2004

0 Jan-02

0 May-02 Sep-02 Jan-03 May-03 Sep-03 Jan-04 Jun-04 Oct-04

Grafik 2.3 Harga Komoditas Industri

Grafik 2.4 Harga Komoditas Pertanian

1.3. Perkembangan Kebijakan Moneter Dunia Masih adanya tekanan inflasi menyebabkan beberapa negara yang telah memasuki siklus kebijakan moneter yang ketat kembali menaikkan tingkat suku bunga. AS kembali menaikkan tingkat suku bunga Fed-fund rate sebesar 25 basis points (bps) menjadi 2.25% guna meredam tekanan inflasi yang masih berlangsung. Di kawasan Asia, kebijakan moneter yang cenderung ketat namun terukur diperkirakan masih akan diadopsi oleh Thailand, China dan India sebagai upaya untuk meredam inflasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi.

B ANK I NDONESIA 15

EVALUASI KONDISI MAKROEKONOMI DAN PERKEMBANGAN INFLASI

European Central Bank (ECB) diperkirakan masih akan bertahan untuk tidak menaikkan tingkat suku bunga (neutral stance) dari level 2% sejalan dengan masih rendahnya pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut. Sementara itu, Bank of England (BOE) dan Reserve Bank of New Sealand (RBNZ) juga diperkirakan akan mengakhiri siklus pengetatan moneternya dan mempertahankan tingkat suku bunga pada saat ini, yaitu masing-masing sebesar 4.75% dan 6.25%.

%

7.00 6.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 0.00
M a y-0 4 M a r-0 4 Ap r-0 4 Au g -0 4 Se p -0 4 N o v-0 4 Fe b -0 4 Ja n -0 4 Ju n -0 4 Oct-0 4 Ju l-0 4 D e c-0 4

% 7.00 6.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 0.00
May-02 May-03 May-04 Mar-02 Mar-03 Mar-04 Nov-02 Nov-03 Sep-03 Sep-02 Sep-04 Nov-04 Korea Jan-04 Jan-02 Jan-03 Jul-02 Jul-03 Jul-04

UK

NZ

US

Thai

Korea

Australia

UK

New Zealand

US

Thailand

Grafik 2.5 Perkembangan Tingkat Suku Bunga Beberapa Negara Dunia

Grafik 2.6 Siklus Kebijakan Moneter Beberapa Negara Dunia

1.4. Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dalam triwulan IV-2004 menunjukkan perkembangan yang terus positif sebagaimana ditercermin dari surplus NPI sebesar USD 1,5 miliar disepanjang triwulan laporan. Surplus tersebut mengakibatkan posisi cadangan devisa menjadi USD 36,3 miliar atau setara dengan 5,8 bulan impor dan pembayaran utang, lebih tinggi dari yang diperkirakan semula. Surplus tersebut utamanya disebabkan oleh masih positifnya kinerja transaksi berjalan (current account) yang disebabkan oleh peningkatan pertumbuhan ekspor baik di sekor migas dan migas. Selama triwulan IV-2004, perkembangan pertumbuhan ekspor mencatat pertumbuhan yang terus positif. Ekspor secara keseluruhan mencatat surplus sebesar USD 19,2 miliar dan tumbuh sebesar 18,7% non migas. Ekspor non migas tumbuh sebesar 9,8% (yoy) dan mencatat penerimaan sebesar USD 13,6 miliar. Sedangkan untuk ekspor migas menyumbang kenaikan surplus yang lebih besar dibandingkan dengan nonmigas seiring dengan adanya lonjakan harga minyak. Dalam periode laporan, harga rata-rata ekspor minyak nasional meningkat menjadi USD41,3 per barrel, tertinggi selama tahun 2004 dan menyebabkan pertumbuhan ekspor migas mengalami peningkatan sebesar 47,5% atau mencatat penerimaan sebesar USD 4,6 miliar. Sementara itu, defisit transaksi jasa-jasa menunjukkan peningkatan terutama dari kenaikan biaya angkut (62,2% yoy) sejalan dengan kegiatan impor dan kenaikan harga minyak yang mempengaruhi tarif kargo internasional. Secara keseluruhan, defisit transaksi jasa-jasa mengalami peningkatan yang cukup tinggi yaitu sebesar 67,5% dibandingkan

B ANK I NDONESIA 16

EVALUASI KONDISI MAKROEKONOMI DAN PERKEMBANGAN INFLASI

dengan periode sebelumnya. Hal tersebut mengakibatkan secara keseluruhan defisit transaksi jasa-jasa sebesar USD6,3 miliar pada triwulan IV –2004 ini.
USD Miliar 6

USD Miliar 15

4

10

2

5

0 I II III IV I II III IV I II III IV

0 I II III IV I II III IV I II III IV

2002 Ekspor

2003 Impor

2004 Migas Neto

2002 Ekspor

2003 Impor

2004 Nonmigas Neto

Grafik 2.7 Perkembangan Neraca Perdag. Migas

Grafik 2.8 Perkembangan Neraca Perdagangan Nonmigas

Disisi lain, perkembangan impor pada periode ini mengalami perlambatan setelah telah mencapai level yang cukup tinggi dalam periode sebelumnya. Selama triwulan IV2004, impor mencatat angka sebesar USD 11,4 miliar atau mengalami perlambatan menjadi 14,1% (yoy) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang meningkat sebesar 33,7%.
Tabel 2.1 Neraca Pembayaran Indonesia
Nilai (USD Juta) Rincian 2003 Total 8,106 24,562 64,109 15,234 48,875 -39,546 -7,823 -31,723 -16,456 -5,171 -11,285 -949 -833 -116 -597 2,251 -1,770 7,157 -4,257 I -453 3,534 15,202 3,957 11,245 -11,668 -2,410 -9,258 -3,987 -1,224 -2,763 1,448 397 1,050 432 782 -165 995 -1,123 II 1,392 5,354 17,318 4,270 13,048 -11,964 -2,428 -9,536 -3,961 -1,197 -2,765 -1,052 -958 -94 93 -2 -185 341 2,568 2004* III 2,831 6,618 19,640 4,563 15,077 -13,022 -3,121 -9,901 -3,787 -856 -2,931 736 -1,075 1,811 59 942 810 3,567 49 IV 1,450 7,782 19,182 5,614 13,568 -11,400 -3,068 -8,332 -6,332 -874 -5,458 311 -438 749 -56 1,280 -475 1,761 -1,518 Total 5,221 23,288 71,342 18,404 52,938 -48,054 -11,027 -37,027 -18,067 -4,150 -13,917 1,444 -2,073 3,517 528 3,003 -14 6,665 -24 2003 Total Pertumbuhan (%, yoy) I II -33.6 2004* III 32.3 IV -39.4 Total -35.6 -5.2 11.3 20.8 8.3 21.5 41.0 16.7 9.8 -19.7 23.3

TRANSAKSI BERJALAN Neraca Perdagangan Ekspor Migas Non Migas Impor Migas Non Migas Jasa-jasa Migas Non Migas NERACA MODAL LLM Pemerintah (Net) LLM Swasta (Net) Foreign Direct Investment 1/ Portfolio Investment Others TOTAL Monetary Movement 2/ Memorandum Items Reserve Assets (In Months of Imports & Official Debt Repayment)

3.6 -130.6 4.5 8.4 18.5 5.5 10.9 17.4 9.4 4.9 12.9 1.6 -39.5 -7.4 -2.9 -8.8 10.4 25.4 7.0 -8.6 -7.8 -8.9

-12.4 2.8 26.1 12.8 21.4 18.7 25.5 15.5 47.5 9.2 23.3 9.8 29.4 33.7 14.1 42.1 44.0 51.6 26.6 30.7 4.6 -1.4 -11.9 67.5 -6.5 -38.1 -26.0 1.1 0.5 109.9

36,296 7.1

37,419 5.9

34,851 5.5

34,802 5.5

36,320 5.8

36,320 5.8

* : Sementara ** : Sangat Sementara 1/ FDI including privatization and banking restructuring 2/ (-) surplus, (+) defisit Sumber : Bagian SNP, Exercise 31 Des 2004

B ANK I NDONESIA 17

EVALUASI KONDISI MAKROEKONOMI DAN PERKEMBANGAN INFLASI

Di sisi modal, neraca lalu lintas modal (LLM) pada triwulan IV-2004 masih tetap mengalami surplus meskipun mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Surplus dalam periode tersebut mencatat surplus sebesar USD 311 juta, menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencatat surplus sebesar USD736 juta. Penurunan tersebut disebabkan oleh memburuknya LLM sektor swasta yang bersumber dari peningkatan pembayaran ULN, sementara inflows dari pencairan ULN mengalami penurunan. Dengan perkembangan tersebut surplus LLM swasta menurun menjadi USD749 juta. Sementara itu, meskipun LLM pemerintah menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, namun masih tetap mencatat defisit. Dalam periode laporan tersebut, defisit LLM pemerintah mengalami penurunan defisit menjadi sebesar USD USD 438 juta dari USD 736 juta pada periode sebelumnya. Penurunan tersebut utamanya disebabkan oleh adanya peningkatan pencairan ULN pemerintah sebesar USD1,8 miliar, lebih tinggi dari perkiraan awal mengingat pada awalnya beberapa pinjaman yang terkait dengan lembaga internasional (ADB dan World Bank) yang semula diragukan realisasinya ternyata dapat dicairkan. Dari perkembangan tersebut, secara keseluruhan, NPI mengalami surplus sehingga posisi cadangan devisa menjadi USD36,3 miliar, lebih tinggi dari prakiraan awal.

2. Evaluasi Sektor Fiskal
2.1. Operasi Keuangan Pemerintah Perkembangan operasi keuangan pemerintah pada triwulan IV-2004 secara keseluruhan berdampak ekspansif pada arah perekonomian. Sesuai pola pengeluaran pemerintah pada setiap triwulan IV, belanja negara diperkirakan akan mencapai Rp178 triliun, meningkat dari triwulan sebelumnya hanya sebesar Rp. 98 triliun. Sementara pada sisi pendapatan, penerimaan pemerintah pada triwulan IV-2004 diperkirakan juga meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya dan mencapai Rp. 172,2 triliun, utamanya berasal dari penerimaan pajak sebesar Rp96 triliun.

B ANK I NDONESIA 18

EVALUASI KONDISI MAKROEKONOMI DAN PERKEMBANGAN INFLASI

Tabel 2.2 Operasi Keuangan Pemerintah 2004
Triliun Rp

2004
Rincian APBN
A. Pendapatan Negara dan Hibah I. Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Perpajakan 2. Penerimaan Bukan Pajak (PNBP) a. Penerimaan Minyak dan Gas b. PNBP Lainnya II. B. Hibah

% PDB

APBNP

% PDB

Trw I

Trw II

Trw III

Trw IV*

2004*

% PDB

% APBN

349.9 349.3 272.2 77.1 44.0 33.1 0.6 374.4 255.3 184.4 56.7 65.7 41.3 24.4 26.4 35.7 70.9 119.0 112.2 6.9 41.2 (24.4) 24.4 40.6 19.2 19.2 21.4 5.0 5.0 11.4 (16.1) 28.2 (44.4)

17.5 17.5 13.6 3.9 2.2 1.7 0.0 18.7 12.8 9.2 2.8 3.3 2.1 1.2 1.3 1.8 3.5 6.0 5.6 0.3 2.1 (1.2) 1.2 2.0 1.0 1.0 1.1 0.3 0.3 0.6 (0.8) 1.4 (2.2)

403.8 403.0 279.2 123.8 87.6 36.2 0.7 430.0 300.0 228.1 54.2 63.2 39.8 23.4 69.9 40.8 71.9 130.0 123.1 6.9 37.0 (26.3) 26.3 50.1 23.9 23.9 26.1 5.0 12.9 8.2 (23.8) 21.7 (45.5)

20.3 20.3 14.0 6.2 4.4 1.8 0.0 21.6 15.1 11.5 2.7 3.2 2.0 1.2 3.5 2.0 3.6 6.5 6.2 0.3 1.9 (1.3) 1.3 2.5 1.2 1.2 1.3 0.3 0.6 0.4 (1.2) 1.1 (2.3)

66.2 66.2 60.1 6.1 1.7 4.4 0.0 72.1 42.3 36.6 14.8 14.8 10.6 4.2 0.9 6.2 5.7 29.8 29.6 0.2 8.9 (5.9) (11.8) (5.2) (15.5) (20.9) 5.0 0.5 10.3 0.3 5.0 5.0 (6.6) 3.8 (10.5)

78.6 78.5 58.8 19.7 13.8 6.0 0.0 91.2 59.1 48.3 16.0 15.3 8.2 7.1 9.8 7.2 10.8 32.2 27.5 4.7 2.6 (12.7) 14.8 21.0 17.9 21.0 (8.2) 5.1 3.1 3.1 5.4 (5.4) (6.2) 5.4 (11.5)

91.4 91.4 65.2 26.2 14.1 12.0 0.0 98.4 70.3 51.3 12.4 16.1 11.0 5.1 17.3 5.5 19.1 28.0 26.6 1.4 9.1 (7.0) (0.1) 8.4 5.7 6.2 0.9 (1.5) 2.7 2.7 (8.5) 2.8 (11.4)

172.9 172.2 96.7 75.5 61.0 14.5 0.7 178.7 138.4 102.0 11.0 17.0 10.0 7.1 51.9 22.0 36.5 40.3 39.8 0.5 11.2 (5.8) 28.5 30.9 19.4 21.2 2.3 (4.2) 11.5 4.0 7.4 (2.4) 9.7 (12.2)

409.0 408.3 280.8 127.5 90.5 36.9 0.7 440.4 310.1 238.1 54.2 63.2 39.8 23.4 79.9 40.8 71.9 130.3 123.4 6.9 31.9 (31.3) 31.3 55.1 27.5 27.5 0.0 27.6 3.5 14.4 9.7 (23.8) 21.7 (45.5)

20.5 20.4 14.0 6.4 4.5 1.8 0.0 22.0 15.5 11.9 2.7 3.2 2.0 1.2 4.0 2.0 3.6 6.5 6.2 0.3 1.6 (1.6) 1.6 2.8 1.4 1.4 0.0 1.4 0.2 0.7 0.5 (1.2) 1.1 (2.3)

116.9 116.9 103.2 165.3 205.8 111.5 116.2 117.6 121.5 129.1 95.6 96.3 96.5 96.1 303.1 114.3 101.5 109.5 110.0 100.0 77.3 128.4 128.4 135.9 143.2 143.2

Belanja Negara I. Belanja Pemerintah Pusat 1. Pengeluaran Rutin a. Belanja Pegawai b. Pembayaran Bunga Utang (i) Utang Dalam Negeri (ii) Utang Luar Negeri c. Subsidi 1) d. Pengeluaran Rutin Lainnya 2. Pengeluaran Pembangunan II. Anggaran Belanja Untuk Daerah 1. Dana Perimbangan 2. Dana Otnm Khs & Penyeimbang

C. Keseimbangan Primer D. Surplus/(Defisit) (Overall Balance ) E. Pembiayaan I. Pembiayaan Dalam Negeri 1. Perbankan Dalam Negeri a. Otoritas Moneter b. Kredit/Pinjaman Sektor Perbankan c. Koreksi Moneter 2. Non-Perbankan Dalam Negeri a. Privatisasi b. Penj Aset Prog Restruk. Perbankan c. Penjualan Obligasi Pemerintah II. Pembiayaan Luar Negeri (Neto) 1. Penarikan Pinjaman LN 2. Pembayaran Cicilan Pokok Pinj LN 1) Termasuk Belanja Barang Sumber: Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)

129.4 69.8 289.0 85.4 147.3 77.0 102.6

Dengan perkiraan perkembangan pada triwulan IV-2004 tersebut, secara keseluruhan operasi keuangan pemerintah pada 2004 diperkirakan akan mengalami defisit sebesar Rp31 triliun atau setara dengan 1,5 hingga 1,6% terhadap PDB. Nilai ini tercatat lebih besar dibandingkan dengan sasaran awal tahun sebesar 1,2% atau bahkan sasaran pertengahan tahun sebesar 1,3%. Peningkatan defisit tersebut sangat terkait dengan meningkatnya harga minyak dunia hingga rata-rata mencapai USD37,6 per barel atau berada di atas perkiraan awal tahun sebesar USD22 per barel. Tingginya harga minyak ini telah berdampak pada meningkatnya beban subsidi BBM yang diperkirakan mencapai Rp70 triliun atau sekitar 16% dari total belanja negara pada tahun 2004. Khusus terkait dengan bencana tsunami dan gempa bumi di Aceh dan Sumut pada minggu keempat Desember 2004, kinerja fiskal 2004 diperkirakan tidak akan mengalami banyak perubahan dari perkiraan. Meskipun pemerintah akan menanggung beban pajak sumbangan dalam rangka bantuan kemanusiaan bencana alam di Aceh dan Sumut sebagaimana Peraturan Menteri Keuangan No.609/PMK.03/2003, penerimaan pajak diperkirakan tetap tidak akan jauh dari perkiraan di atas. Sementara dari sisi pengeluaran, pemerintah diperkirakan akan mengoptimalkan penggunaan dana darurat yang tersisa sebesar Rp200 miliar dari anggaran sebesar Rp2 triliun, disamping penyesuaian prioritas pembangunan infrastruktur ke daerah terkena bencana.

B ANK I NDONESIA 19

EVALUASI KONDISI MAKROEKONOMI DAN PERKEMBANGAN INFLASI

2.2. Kontribusi Kebijakan Fiskal terhadap Permintaan Domestik, Moneter dan Cadangan Devisa Dengan peningkatan pengeluaran pada triwulan IV-2004 tersebut maka secara umum pada triwulan IV-2004, kebijakan fiskal berada dalam arah ekspansif terhadap perekonomian sejalan. Indikator fiscal impulse menggambarkan bahwa arah kebijakan ekspansif tersebut terlihat cukup kuat sehingga mampu meminimisasi dampak musiman kebijakan fiskal (Grafik 1.7). Dari perkembangan tersebut maka secara keseluruhan kebijakan fiskal pada tahun 2004 berada dalam arah ekspansif terhadap perekonomian. Berdasarkan jenis pengeluarannya maka selain akibat meningkatnya beban subsidi, ekspansi kebijakan fiskal 2004 secara umum banyak terarah kepada komponen konsumsi yang meningkat menjadi 8,9% terhadap PDB.
% PDB
10.0 8.0 6.0 30.0 4.0 2.0 0.0 -2.0 -4.0 -10.0 -6.0 -8.0 -10.0 -20.0 20.0

Triliun Rp
50.0

FI (% PDB) Perubahan Penerimaan (Rp) Perubahan Pengeluaran (Rp)

40.0

10.0

0.0

-30.0

1

2 2002

3

4

1

2 2003

3

4

1

2 2004

3

4*)

Catatan :

FI (+) = ekspansif dibanding periode sama tahun sebelumnya; (-) = kontraktif dibanding periode sama tahun sebelumnya; (0) = netral dibanding periode sama tahun sebelumnya
*) Proyeksi

Grafik 2.9 Fiscal Impulse

Dari sisi kontribusinya terhadap perilaku kondisi moneter, perkembangan operasi keuangan pemerintah pada triwulan IV-2004 diperkirakan memberikan kontribusi ekspansi terhadap kondisi moneter, seperti tercermin dari ekspansi uang primer melalui rekening rupiah pemerintah selama triwulan IV-2004. Sementara dari sisi kontribusinya terhadap perkembangan cadangan devisa, operasi keuangan pemerintah pada triwulan IV-2004 diperkirakan memberikan kontribusi pada peningkatan cadangan devisa seperti tercermin pada peningkatan dana rekening pemerintah di Bank Indonesia. Dengan perkembangan tersebut maka pada tahun 2004 secara keseluruhan operasi keuangan pemerintah memberikan kontribusi ekspansi moneter terhadap uang primer sebesar Rp41 triliun. Sementara pada kontribusinya terhadap cadangan devisa, operasi keuangan pemerintah diperkirakan meningkatkan cadangan devisa Rp13 triliun.

3. Evaluasi Sektor Riil
3.1. PDB Sisi Permintaan Produk Domestik Bruto pada triwulan IV-2004 diperkirakan tumbuh sebesar 5,0 – 5,5% (y-o-y), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2003. Pertumbuhan tersebut masih dimotori oleh pertumbuhan konsumsi, terutama konsumsi swasta. Meskipun demikian, secara umum pola pertumbuhan tersebut telah menunjukkan perbaikan, yang

B ANK I NDONESIA 20

EVALUASI KONDISI MAKROEKONOMI DAN PERKEMBANGAN INFLASI

ditandai oleh meningkatnya peran investasi dan ekspor dalam mendorong perekonomian. Di sisi lain, tingginya permintaan telah mendorong pesatnya peningkatan impor sebagai upaya untuk memenuhi peningkatan utilisasi maupun kapasitas produksi terpasang. Pada triwulan IV-2004, total konsumsi diperkirakan tumbuh lebih tinggi sebesar 5,4% - 5,9%, dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh sebesar 4,2%. Peningkatan konsumsi tersebut terutama berasal dari konsumsi swasta, yang meningkat sebesar 5,3 – 5,8% (y-o-y), seiring dengan meningkatnya daya beli masyarakat dan sumber-sumber pembiayaan. Disisi lain, meskipun peran konsumsi pemerintah lebih rendah dibandingkan konsumsi swasta namun selama triwulan IV konsumsi pemerintah meningkat cukup tinggi yaitu sebesar 14-14,5% dibandingkan dengan triwulan III lalu yang mencatat pertumbuhan negatif.
Tabel 2.3 Produk Domestik Bruto
% (y-o y)

Rincian Total Konsumsi Konsumsi Swasta Konsumsi Pemerintah Total Investasi Ekspor Barang dan Jasa Impor Barang dan Jasa PDB

2 001 3.88 3.49 7.56 6.49 0.64 4.18 3.83

2 002 4.74 3.83 12.99 2.18 -1.02 -4.01 4.25

2 003 4.51 3.85 10.03 1.88 6.58 2.80 4.51

I 6.13 5.65 10.45 8.27 1.05 18.73 5.10

II 5.19 5.26 4.60 12.53 4.06 23.71 4.54

2 004 III 4.20 5.09 -2.74 13.09 19.85 29.87 5.03

IV * 5.4 5.3 14.0 14.5 16.5 13.8 5.0 5.9 5.8 14.5 15.0 17.0 14.3 5.5 5.4 5.2 6.6 12.0 10.1 21.3 4.5

2 004 * 5.9 5.7 7.1 12.5 10.6 21.8 5.0

* Perkiraan Bank Indonesia menggunakan tahun dasar 2000

Peningkatan pengeluaran konsumsi rumah tangga tersebut sejalan dengan berapa hasil survei yang ada. Dari hasil survei indeks Penjualan Eceran (hasil survei Penjualan Eceran), terutama untuk kelompok pakaian dan perlengkapan dan survei JETRO menunjukkan bahwa pengeluaran konsumsi masyarakat selama periode tersebut mengalami peningkatan. Selain itu, tingginya pengeluaran konsumsi tersebut sejalan dengan membaiknya kondisi keyakinan konsumen (consumer confidence). Namun demikian, pertumbuhan konsumsi swasta tersebut masih berada di bawah rata-rata pertumbuhan pada periode sebelum krisis (1993 sd medio 1997) yang mencapai 9,9% (y-o-y)

B ANK I NDONESIA 21

EVALUASI KONDISI MAKROEKONOMI DAN PERKEMBANGAN INFLASI

% y -o -y 40

50

D i fu ss i on In d ex (L o ca l M a rk e t)
30

30

20

10

10

0 Nov Nov**) Jan Jan Jun Feb Jul Okt*) Mar Apr Sep Mei Juni Feb Mar Apr Mei Sep Des Ags Okt Ags Juli

-1 0

-1 0 2003 -2 0 2004

-3 0 To tal D em and -5 0 Non-m anufac turing JET R O -7 0 Apr-03 Aug-03 Apr-04 Sep-03 Aug-04 Nov-03 May-04 Juni-03 Dec-03 Sep-04 Jan-03 Mar-04 Jul-03 Jan-04 Jun-04 Mar-03 Feb-03 Mei-03 Feb-04 Oct-03 Jul-04 Manufac turing

-3 0

-4 0

-5 0

P a k a ia n & P e rle n g k a p a n n y a

B a h a n k o n s t ru k s i

Grafik 2.10 Indeks Penjualan Eceran
140

Grafik 2.11 Permintaan Domestik (Survei JETRO)
Indeks K eyakinan K ons um en K ondis i E konom i S aat Ini E ks pektas i K ons um en

120 optim is 100

80

60

40 Apr Mei Jun Jul Agt Sep Oct Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Oct Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Oct Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Oct Nov

2001

2002

2003

2004

Grafik 2.12 Indeks Keyakinan Konsumen (Survei Konsumen)

Peningkatan konsumsi masyarakat didukung oleh membaiknya kondisi pendapatan, maupun tersedianya bantuan pembiayaan dari perbankan serta lembaga keuangan lainnya. Penyaluran dana perbankan untuk membiayai kegiatan konsumsi tumbuh dengan laju yang tinggi. Kredit konsumsi sampai dengan bulan November 2004 rata-rata tumbuh sebesar 39,37% (y-o-y), lebih tinggi dibandingkan tahun 2003 yang tercatat rata-rata sebesar 33,5%. Volume transaksi kartu kredit dan debet tumbuh rata-rata sebesar 34,2% (y-oy) selama bulan Januari sd Agustus 2004, meningkat dibandingkan pertumbuhan volume transaksi selama tahun 2003 (14,5%). Sementara itu pembiayaan konsumen non perbankan juga menunjukkan peningkatan yang pesat di tahun 2004, mencapai rata-rata 61,7% (y-oy), lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan tahun 2003 (41,1%).
15 % , y -o -y 10
% y - o -y 50 45 40

5

35 30

0

25 20 15 10 5

g K re d i t K o n s u m s i

-10
P e n d a p a t a n D is p o s a b le R iil K o n su msi R u m a h T a n g g a

19 90 19 91 19 92 19 93 19 94 19 95 19 96 19 97 19 98 19 99 20 00 20 01 20 02 20 03 20 04 20 05

-5

0 Nov Jan Jan Jun Mar Feb Mar Feb Jun Jul Apr Apr May May Dec Jul Aug Aug Sep Sep Oct Oct

-15

2003

2004

Grafik 2.13 Disposble Income

Grafik 2.14 Kredit Konsumsi

B ANK I NDONESIA 22

Oct-04

IN D E K S T O T A L

M a k an a n & Te m b a k a u

EVALUASI KONDISI MAKROEKONOMI DAN PERKEMBANGAN INFLASI

% y -o -y 80 70 60 50 40 30 20 10 0 -1 0 -2 0 -3 0 Nov Jun Jan Jun Jul Mar Mar Feb Feb Apr Dec Aug Sep Apr Jul Aug May May Sep Oct L e a s in g P e m b ia y a a n K o n s u m e n

2003

2004

Grafik 2.15 Pembiayaan Konsumen dan Leasing

Peningkatan konsumsi masyarakat diperkirakan masih akan diikuti dengan peningkatan investasi. Kegiatan investasi pada triwulan IV-2004 diperkirakan tumbuh sebesar 14,5 – 15,0% (y-o-y), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 13,1% (y-o-y). Dengan laju pertumbuhan tersebut, sumbangan investasi terhadap pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2004 diperkirakan mencapai 2,96%, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (2,54%). Di sisi pembiayaan, kegiatan investasi didukung oleh penyaluran kredit oleh perbankan yang masih menunjukkan kecenderungan meningkat. Namun demikian, di sisi lain realisasi penanaman modal dalam dan luar negeri mengalami penurunan secara tahunan masing-masing sebesar 25% dan 75% .
(%)
80.0 Grow th Bangunan (2000) Grow th Inv Non Bang (2000) Grow th Total Inv (2000)

19 18 17 16 15 14
I II III IV I II III IV I II III IV I II 2004** III

%

%

30 25 20 15 10

60.0

40.0

5 0 -5 -1 0 S uku B unga KI g K re d it In ve s ta s i (R H S ) May-04 Nov-03 Feb-04 Nov-04 Aug-03 Aug-04 -1 5 -2 0 May-02 May-03 Feb-02 Nov-02 Aug-02 Feb-03

20.0

0.0

-20.0

2001

2002*

2003**

13

-40.0

Grafik 2.16 Pertumbuhan Investasi Grafik 2.17 Suku Bunga vs Kredit Investasi

Peningkatan investasi tersebut dapat dilihat dari berbagai indikator investasi yang tersedia. Permintaan luas areal industri yang digunakan sebagai indikator investasi diperkirakan akan mengalami peningkatan baik dari industri kecil, menengah, maupun skala besar1. Indikator lain yang menunjukkan pertumbuhan investasi juga ditunjukkan oleh pertumbuhan yang tinggi pada investasi non-bangunan seperti yang ditunjukkan oleh peningkatan penjualan truk dan alat berat, maupun impor barang modal selama triwulan IV-2004. Di sisi lain, pertumbuhan investasi bangunan diperkirakan masih menunjukkan kecenderungan meningkat seperti yang diindikasikan oleh meningkatnya konsumsi semen serta penyaluran kredit properti oleh perbankan sampai dengan triwulan III-2004 dan diperkirakan akan terus meningkat pada triwulan IV-2004.
1

Berdasarkan hasil survey PT Procon Indah dan PT Colliers International Indonesia

B ANK I NDONESIA 23

EVALUASI KONDISI MAKROEKONOMI DAN PERKEMBANGAN INFLASI

(%)
(%)
100.00 Grow th Mesin (2000) 80.00 60.00 Grow th Alat Angkut (2000)

70.00 60.00 50.00 40.00 Konstruksi Real Estate KPR

40.00

30.00
20.00

20.00
0.00 I -20.00 2001 -40.00 -60.00 2002* 2003** 2004** II III IV I II III IV I II III IV I II III

10.00 0.00 O ct-03 Feb-03 Feb-04 May-04 Mar-04 Jan-04 May-03 Mar-03 Jan-03 Jun-03 Nov-03 Dec-03 Jun-04 Jul-03 Jul-04 Sep-03 Aug-03 Aug-04 Sep-04 Apr-03 Apr-04

Grafik 2.18 Investasi Non Bangunan

Grafik 2.19 Kredit Properti

Selama triwulan IV-2004, kinerja ekspor barang dan jasa diperkirakan tumbuh sebesar 16,5-17,0% (y-o-y). Meningkatnya kinerja ekspor tersebut tidak terlepas dari faktor masih tingginya volume permintaan dunia, serta didukung dengan peningkatan kapasitas produksi pada industri yang berorientasi ekspor. Sejalan dengan peningkatan ekspor, kegiatan impor selama periode yang sama juga diperkirakan tumbuh sebesar 13,8-14,3%. Kenaikan volume impor terjadi pada kelompok bahan baku dan barang modal, sebagai dampak dari upaya peningkatan utilisasi maupun kapasitas terpasang industri. Dengan perkembangan tersebut, ekspor secara neto2 selama triwulan IV-2004 diperkirakan memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan PDB sebesar 2,17%.

3.2. PDB Sisi Penawaran Secara sektoral, seluruh sektor ekonomi kecuali sektor pertambangan mengalami pertumbuhan pada ekonomi triwulan IV-2004. Peningkatan kinerja tersebut utamanya disebabkan oleh adanya beberapa perayaan hari besar di akhir tahun serta dukungan yang semakin meningkat di sisi pembiayaan. Di sisi lain terus meningkatnya permintaan diharapkan juga akan mendorong kegiatan ekonomi sektoral untuk meningkatkan utilisasinya sehingga iklim investasi akan semakin bergairah dan perekonomian secara keseluruhan bergerak ke arah yang semakin baik.

2

Ekspor barang dan jasa dikurangi dengan impor barang dan jasa

B ANK I NDONESIA 24

EVALUASI KONDISI MAKROEKONOMI DAN PERKEMBANGAN INFLASI

Tabel 2.4 PDB Sektoral (riil)
% (y o y )

R in c ia n

2 0 0 3

2 0 0 4 I II III IV *

2 0 0 4 *

P e r t a n ia n P e rta m b a n g a n In d u s tr i P e n g o la h a n L is t r ik B angunan P e rd a g a n g a n P e n g a n g k u ta n K euangan J a s a -J a s a
P D B

3 .0 7 -1 .5 7 5 .0 2 5 .8 7 6 .3 1 5 .3 0 1 1 .5 6 6 .8 8 4 .0 7 4 .5 1

5 .6 7 -3 .0 5 5 .4 1 4 .9 9 7 .5 7 6 .4 1 1 2 .8 7 4 .9 1 4 .5 5 5 .1 0

1 .7 5 -7 .3 5 6 .0 6 5 .4 8 7 .9 4 7 .9 8 1 3 .8 1 4 .7 3 4 .9 3 4 .5 4

2 .3 9 -5 .9 6 5 .2 8 3 .4 0 8 .8 9 9 .4 4 1 4 .1 9 6 .6 7 4 .5 4 5 .0 3

3 -6 4 4 7 9 14 6

.1 .4 .9 .6 .8 .0 .2 .0

-

3 .6 -5 .9 5 .4 5 .1 8 .3 9 .5 1 4 .7 6 .5 4 .9 5 .5

3 -5 5 4 7 8 13 5

.0 .9 .2 .4 .9 .0 .6 .4

-

3 .5 -5 .4 5 .7 4 .9 8 .4 8 .5 1 4 .1 5 .9 4 .9 5 .0

4 .4 5 .0

4 .4 4 .5

Pada triwulan IV-2004, sektor pertanian diperkirakan mengalami peningkatan mengingat panen di beberapa daerah sentra produksi mengalami keberhasilan disamping adanya pengaruh cuaca yang mendukung. Walaupun di sub sektor tanaman perkebunan diperkirakan masih mengalami sedikit perlambatan namun pertumbuhan sektor pertanian secara keseluruhan diperkirakan antara 3,1%-3,6% pada triwulan IV-2004. Sektor bangunan diperkirakan tumbuh pada kisaran 7,8%-8,3% pada triwulan IV, seiring dengan adanya pembangunan berbagai proyek konstruksi. Walaupun diperkirakan sedikit melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, namun pertumbuhan sektor ini masih masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan selama tahun 2003.
Tabel 2.5 Penyediaan Lahan Properti di DKI Jakarta
(% SBT) 1.00 Tw II-2004 Tw III-2004 Tw IV-2004 0.50

Jenis Properti

Triwulan II2004

Kumulatif s.d. Triwulan II2004

Tingkat hunian

0.00 Tanaman Pangan Tanaman Perkebunan Peternakan Kehutanan Perikanan

Perkantoran Pusat Perbelanjaan Apartemen Industri

11.000 m2 2.087 unit 28 ha

5,08 juta m2 1,70 juta m2 29.453 unit 6.981 ha

81.6% 82.0% 83.1% 70,1%

-0.50

Sumber : Procon Indah Research, Juni 2004

Sumber: SKDU

Grafik 2.20 Perkembangan Kegiatan Usaha Sektor Pertanian

Kinerja sektor industri pengolahan diperkirakan tumbuh pada kisaran 4,9%-5,4%, sedikit melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Melambatnya kegiatan produksi selama periode tersebut sejalan dengan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha yang menunjukkan bahwa siklus kegiatan usaha pada triwulan IV diperkirakan melambat dibandingkan triwulan III sebagaimana juga pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini terkait dengan banyaknya hari libur yang jatuh pada akhir tahun seperti hari raya Idul Fitri serta Natal-Tahun Baru. Namun demikian, untuk beberapa industri seperti industri makanan dan minuman, serta industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) meningkatkan utilisasi produksi masing-masing sekitar 20% dan 5%. Sementara itu sektor pertambangan di triwulan IV masih mengalami kontraksi yaitu berkisar -6,4%--5,9% sejalan dengan adanya penurunan produksi di sub sektor migas.

B ANK I NDONESIA 25

EVALUASI KONDISI MAKROEKONOMI DAN PERKEMBANGAN INFLASI

Pertumbuhan sektor pengangkutan dan telekomunikasi pada triwulan IV-2004 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan triwulan-triwulan sebelumnya. Hal ini terkait dengan tingginya kegiatan komunikasi dan transportasi pada hari-hari besar keagamaan di akhir tahun. Maraknya penggunaan telepon selular, meningkatnya harga dan slot pemasangan iklan di berbagai media elektronik serta kebutuhan transportasi yang tinggi di triwulan ini merupakan faktor utama sektor ini dapat tumbuh berkisar 14,2%-14,7% di triwulan IV. Pertumbuhan sektor perdagangan, hotel, dan restoran pada triwulan IV-2004 diperkirakan masih cukup tinggi yaitu pada kisaran 9,0%-9,5%. Sub sektor perdagangan besar dan eceran diperkirakan masih menjadi penyumbang utama seiring dengan perayaan beberapa hari besar keagamaan. Sementara itu sub sektor hotel dan restoran walaupun porsinya masih relatif kecil namun diperkirakan juga mengalami pertumbuhan yang menggembirakan.

4. Perkembangan Inflasi
Dengan inflasi IHK (indeks harga konsumen) bulan Desember sebesar 1,04% (mtm), maka inflasi IHK selama triwulan IV-2004 mencapai 2,51% meningkat cukup tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang hanya sebesar 0,5%. Peningkatan tersebut terutama disebabkan adanya faktor musiman seperti beberapa perayaan hari raya keagamaan dan akhir tahun serta kenaikan harga BBM yaitu elpiji, Pertamax dan Pertamax Plus. Pada triwulan laporan, kelompok barang yang dominan dalam menyumbang inflasi adalah kelompok bahan makanan (0,58%) dan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,23%). Dengan realisasi inflasi Desember 2004 di atas, inflasi IHK tahunan untuk 2004 tercatat sebesar 6,40%, atau sesuai dengan proyeksinya di awal tahun sebesar 5,5% ± 1,0%.

(%) y-o-y

(%) y-o-y

25 17 15 13 11 9 7 5 3 1 -1 -3 -5
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6 7 8 10 11 12 9 10 11 2003 2004 12

IHK Inti Volatile Food Administered (skala kanan)

20

15

10

5

0

Grafik 2.21 Disagregasi Inflasi

B ANK I NDONESIA 26

EVALUASI KONDISI MAKROEKONOMI DAN PERKEMBANGAN INFLASI

4.1. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Infasi Eksternal Selama triwulan laporan, sektor eksternal memberikan kontribusi yang minimal terhadap inflasi. Hal tersebut disebabkan oleh relatif stabilnya inflasi global dan inflasi negara-negara mitra dagang juga disebabkan oleh relatif stabilnya nilai tukar rupiah selama periode tersebut. Nilai tukar yang relatif stabil tidak memberikan dampak yang kuat terhadap pada perkembangan inflasi sebagaimana diindikasikan oleh relatif stabilnya gerakan inflasi IHPB (indeks harga pedagang besar), khususnya IHPB impor untuk barangbarang input dan inflasi negara mitra dagang yang relatif stabil.

Interaksi Permintaan dan Penawaran Secara umum, selama triwulan IV-2004 kondisi peningkatan permintaan masih dapat direspon oleh sisi penawaran sehingga tidak memberikan tekanan yang kuat terhadap inflasi. Dilandasi oleh optimisme masyarakat terhadap kondisi perekonomian yang makin membaik, permintaan terhadap barang dan jasa menunjukkan peningkatan seperti diindikasikan oleh hasil survei penjualan eceran Bank Indonesia. Peningkatan permintaan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, meningkatnya pendapatan masyarakat (disposable income) sejalan dengan meningkatnya ekspansi ekonomi dan tingkat upah. Kedua, perkembangan suku bunga simpanan yang terus turun mendorong masyarakat untuk meningkatkan konsumsinya. Ketiga, dukungan pembiayaan dalam bentuk kredit konsumtif yang saat ini relatif lebih mudah dan murah. Disamping itu, peningkatan permintaan yang terjadi selama periode tersebut, juga sebagai akibat pola musiman berupa adanya perayaan beberapa hari besar keagamaan dan libur akhir tahun. Namun demikian, peningkatan permintaan tersebut ternyata dapat direspon dengan cukup baik oleh sisi penawaran meskipun terdapat beberapa bencana alam dibeberapa daerah. Cukup baiknya respon dari sisi penawaran tersebut diindikasikan oleh perkembangan beberapa indikator sisi penawaran yang cenderung meningkat seperti utilisasi kapasitas terpasang, impor bahan baku dan barang modal, serta konsumsi listrik sektor manufaktur. Respon sisi penawaran tersebut tidak terlepas dari dukungan pembiayaannya baik dari perbankan maupun pasar modal. Suku bunga kredit yang menurun dan akses ke pasar modal yang lebih mudah menyebabkan dunia usaha mampu melakukan ekspansi usahanya.

Ekspektasi Inflasi Masyarakat Perkembangan ekspektasi selama triwulan IV-2004 dirasakan agak memburuk seiring dengan kenaikan harga elpiji, pertamax dan pertamax plus yang lebih cepat dan besar daripada perkiraan masyarakat serta adanya rencana Pemerintah untuk menghilangkan subsidi harga BBM tahun 2005. Kondisi tersebut tercermin dari cenderung memburuknya ekspektasi inflasi konsumen yang sebelumnya cenderung membaik, namun

B ANK I NDONESIA 27

EVALUASI KONDISI MAKROEKONOMI DAN PERKEMBANGAN INFLASI

demikian penurunan ekspektasi tersebut masih relatif terkendali. Namun demikian dengan kondisi makro yang relatif terkendali serta dengan koordinasi kebijakan moneter dan fiskal yang cukup hati-hati maka ekspektasi inflasi masyarakat diharapkan akan semakin membaik.

Indeks

170 160 150 140 130 120 110 100 Survei Kons umen - BI 90 Apr. Mei. Jun. Jul Ags. Sept. Okt. Nov. Des. Jan. Feb. Mar. Apr. Mei. Jun. Jul. Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des 2001 2002 2003 2004 Eks pektas i harga 6 bl ke depan

Grafik 2.22 Ekspektasi Harga Konsumen

Kebijakan Pemerintah di bidang Harga (Administered price) dan Volatile Food Di triwulan akhir 2004, tekanan inflasi yang berasal dari administered price mengalami peningkatan akibat kenaikan harga eceran gas elpiji tahap 2 sekitar 40% dari Rp.3000 per kg menjadi Rp.4250 per kg (kenaikan harga tahap 1 terjadi di triwulan I sebesar 5%). Meskipun kenaikan harga barang-barang administered price tersebut memberikan kontribusi terhadap peningkatan inflasi pada periode tersebut, namun dampak kenaikan tersebut dapat diminimilisasi mengingat tidak adanya perubahan harga barangbarang administered yang strategis seperti seperti harga BBM bersubsidi, tarif dasar listrik dan cukai rokok. Sementara itu, inflasi volatile food mengalami peningkatan akibat faktor musiman seiring dengan adanya perayaan beberapa hari raya keagamaan, akhir tahun, dan berkurangnya pasokan yang diakibatkan oleh bencana banjir serta berakhirnya musim panen.

B ANK I NDONESIA 28

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN SEKTOR MONETER DAN KEUANGAN

BAB 3 EVALUASI DAN PERKEMBANGAN SEKTOR MONETER DAN KEUANGAN

ada triwulan IV-2004, berbagai indikator moneter dan keuangan masih menunjukkan perkembangan yang relatif stabil. Hal tersebut seperti tercemin pada perkembangan uang primer, uang beredar, nilai tukar, suku bunga serta diikuti kondisi pasar modal yang mengalami perkembangan cukup pesat. Nilai tukar rupiah pada triwulan IV-2004 bergerak relatif stabil sehingga secara rata-rata mencapai Rp9.120/USD sedikit menguat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Sementara itu, meningkatnya permintaan uang oleh masyarakat menjelang perayaan beberapa hari besar keagamaan dan tahun baru telah menyebabkan terlampauinya uang primer terhadap target indikatifnya, namun masih dalam batas yang aman. Sejalan dengan pertumbuhan uang primer, jumlah uang beredar juga mengalami pertumbuhan seiring dengan meningkatnya kegiatan perekonomian. Di pasar keuangan, sejalan dengan kebijakan realignment suku bunga oleh Bank Indonesia perkembangan suku bunga deposito terus menunjukkan peningkatan sedangkan suku bunga kredit terus mengalami penurunan sehingga spread antara kedua suku bunga tersebut menjadi semakin mengecil. Semakin menurunnya suku bunga kredit tersebut menunjukkan indikasi yang positif bagi sektor riil. Sementara itu, masih rendahnya suku bunga deposito yang menyebabkan insentif penanaman di perbankan menjadi semakin kurang menarik dan menyebabkan pasar modal dan obligasi mengalami peningkatan yang cukup pesat. Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mengalami peningkatan dan ditutup pada level 1000,23 di akhir Desember 2004. Peningkatan tersebut menjadikan IHSG pada tahun 2004 ini sebagai indeks tertinggi dalam 27 tahun diaktifkannya Bursa Efek Jakarta (BEJ).

P

1. Perkembangan Moneter
1.1. Pencapaian Sasaran Uang Primer (M0) Pada triwulan IV-2004 realisasi test date base money aktual diperkirakan tumbuh rata-rata mencapai 11,26 – 12,61% (y-o-y) atau di atas proyeksinya (10,03%, y-o-y). Kondisi ini selain didorong oleh tingginya kebutuhan transaksi dengan uang kartal seiring dengan kegiatan temporer seperti libur, puasa, hari raya, dan tutup tahun yang lebih tinggi dari perkiraan semula. Selain itu, dipengaruhi pula oleh cukup tingginya posisi excess reserve

BANK I NDONESIA 29

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN SEKTOR MONETER DAN KEUANGAN

selama bulan Puasa dan akhir tahun1. Namun demikian peningkatan tersebut masih dalam batas yang aman sehingga tidak menggangu pencapaian inflasi secara keseluruhan.

Grafik 3.1 Perkembangan Base Money 2002 – 2004 Grafik 3.2 Perkembangan Target vs Realisasi Base Money

Sementara itu, posisi uang primer pada akhir triwulan laporan meningkat sebesar Rp. 24 triliun dari triwulan sebelumnya menjadi Rp199,5 triliun. Berdasarkan komponennya, peningkatan uang primer tersebut terutama disebabkan oleh oleh peningkatan uang yang diedarkan (currency) khususnya uang kartal (currency outside bank) sebesar Rp11,4 triliun. Permintaan uang kartal ini seiring dengan meningkatnya permintaan uang untuk kebutuhan transaksi berhubungan dengan perayaan besar keagamaan dan perayaan akhir tahun. Dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhi, ekspansi uang primer terutama disebabkan oleh ekspansi Net Claim on Central Government (NCG ) sebesar Rp22,5 triliun, sementara Net International Reserve (NIR) hanya sebesar Rp. 5,2 triliun.

1.2. Operasi Pasar Terbuka (OPT) Selama triwulan IV-2004, operasi pasar terbuka (OPT) ditandai dengan kecenderungan ditingkatkannya porsi penyerapan liquiditas seperti terlihat dari peningkatan hasil penyerapan OPT yang pada akhir triwulan IV-2004 tercatat sebesar Rp144,6 triliun, naik sebesar Rp. 5,2 triliun dari triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 139,3 triliun. Penyerapan liquiditas tersebut tercermin dari peningkatan posisi SBI dari sebesar 62,9 triliun pada triwulan sebelumnya Rp103,8 triliun dan FASBI sebesar Rp40,7 triliun, lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang terdiri dari SBI sebesar Rp dan FASBI sebesar Rp76,4 triliun. Meskipun terjadi peningkatan peyerapan likuiditas dalam OPT, namun suku bunga SBI masih relatif stabil. Suku bunga SBI 1 bulan hanya meningkat sebesar 4 basis point (bps) menjadi 7,41% dibandingkan dengan triwulan III-2004. Sementara itu, suku bunga SBI 3

1

Pada akhir tahun excess reserve mencapai Rp11,9 triliun seiring dengan tidak dibukanya window FASBI O/N sore.

BANK I NDONESIA 30

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN SEKTOR MONETER DAN KEUANGAN

bulan malah menunjukkan sedikit penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya menjadi sebesar 7,29% atau menurun sebesar 2 basis point (bps). 1.3. Perkembangan Uang Beredar Sejalan dengan meningkatnya kegiatan perekonomian, perkembangan uang beredar pada triwulan IV-2004 (sampai November) menunjukkan perkembangan yang meningkat. Posisi uang kuasi sebagaimana tercatat di M2 masih masih meningkat meski cenderung melambat. Uang kuasi tercatat sejumlah Rp750,117 triliun (4,14%, y-o-y), sementara posisi M1 tercatat Rp250,221 triliun (11,55%, y-o-y), sehingga M2 tercatat pada level Rp1000,338 triliun (5,90%, y-o-y), atau mengalami ekspansi yang jauh lebih rendah dari tahun 2003. Melambatnya pertumbuhan uang kuasi diindikasikan terutama bersumber dari semakin minimnya insentif penanaman di perbankan sehingga mendorong pengalihan portofolio aset (portfolio switching) ke pasar saham dan obligasi seperti tercermin dari lonjakan transaksi yang signifikan di ke dua pasar tersebut. Disamping itu, meningkatnya preferensi likuiditas dan fleksibilitas masyarakat ditengarai turut mendorong pergeseran maturitas simpanan deposito berdurasi lebih besar dari 1 bulan ke 1 bulan dan dari deposito ke tabungan, giro, ataupun kartal sebagaimana tercermin dari perkembangan money divisia yang masih tumbuh lebih cepat dari M2 dan peningkatan rasio C/DPK (currency/dana pihak ketiga).
1 0.9 0.8 0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 Nov-04 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003
100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% Nov-04 Lainnya 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003

Tabungan

Sim Bjk p

Depo 1 bl

Depo 3 bl

Depo 6 bl

Depo 12 bl

Depo 24 bl

Grafik 3.3 Pangsa Tabungan dan Simpanan Berjangka

Grafik 3.4 Pangsa Deposito a/d Maturitas

Sementara itu, Claims on Business Sector (CBS) --sebagai faktor utama yang mempengaruhi M2— pada November 2004 tercatat sebesar Rp594,751 triliun (28,79%, y-oy), atau mengalami ekspansi Rp127,925 triliun (naik hampir 100%) dari posisi akhir tahun 2003. Ekspansi ini terutama disumbang oleh naiknya kredit baik rupiah maupun valas sebesar Rp93,747 triliun dari tahun sebelumnya. Dari sisi penggunaan, naiknya kredit ini disalurkan untuk modal kerja (naik Rp41,135 triliun, 16%, rata-rata y-o-y), konsumsi (naik Rp33,974 triliun, 41%, rata-rata y-o-y), dan investasi (naik Rp18,636 triliun, 20%, rata-rata y-o-y). Dari

BANK I NDONESIA 31

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN SEKTOR MONETER DAN KEUANGAN

sisi sektor, ekspansi kredit tersebut terutama ditujukan untuk membiayai kegiatan perdagangan, perindustrian, dan jasa dunia usaha.

1.4. Perkembangan Nilai Tukar Secara umum, nilai tukar rupiah selama triwulan IV-2004 bergerak relatif stabil yang ditandai dengan tingkat volatilitas yang cukup rendah. Secara rata-rata nilai tukar rupiah selama triwulan IV ini berada pada level Rp9.120/USD, tidak jauh berbeda dengan dengan rata-rata triwulan sebelumnya yang mencatat Rp. 9.163/USD. Namun demikian, menjelang akhir tahun rupiah sempat mengalami tekanan terkait dengan faktor eksternal atas antisipasi pasar menjelang The Federal Open Market Committee (FOMC) dan faktor koreksi atas pelemahan USD yang terlalu cepat di bulan sebelumnya, ditengah upaya untuk merealisasikan keuntungan menjelang akhir tahun serta puncak permintaan valas sektor korporasi.

%
9. 0
Rp/USD
9,600 TW II : 9.005 9,400 Rata-rata Nilai tukar 1 bulan Rata-rata harian selama 1 triwulan 9,200
9028 9049 9254 9185 9099 9022 9234 9392

TW III : 9.163 TW IV : 9.120

8. 0

Volatilitas Harian Rata-rata Volatilitas Triwulanan

7. 0

6. 0

9,000
8895 8900

8925 8800

5. 0 3, 92
TW-I : 8.469
8617 8580 8510 8417 8454 8441 8336 8230 8501 8488 8431 8387

8,800

4. 0

8,600

3. 0

8,400

2. 0 0, 83

1 , 29

8,200

1 .0

8,000

0. 0

Ja n03 Fe b03 M ar -0 3 Ap r-0 3 M ay -0 3 Ju n03 Ju l-0 3 Au g03 Se p03 O ct03 No v03 De c03 Ja n04 Fe b04 M ar -0 4 Ap r-0 4 M ay -0 4 Ju n04 Ju l-0 4 Au g04 Se p04 O ct -0 4 No v04 De c04
Sumber: Bloomber, diolah

Grafik 3.5 Rata-rata Nilai Tukar Rupiah

Grafik 3. 6 Rata –rata volatilitas Rupiah

Cukup stabilnya nilai tukar tersebut tidak terlepas dari peranan aliran masuk dana asing (capital inflow) yang masuk kedalam perekonomian Indoensia. Beberapa faktor yang mendukung masuknya aliran modal tersebut adalah berupa menurunnya faktor risiko dalam negeri paska terbentuknya pemerintahan baru yang dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhono dan Jusuf Kalla dan perbaikan kestabilan makroekonomi –tercermin dari perbaikan rating— dan pengasilan dari hasil asset rupiah yang masih menarik. Sementara dari sisi eksternal (push factors), kestabilan rupiah tersebut didorong oleh kecenderungan melemahnya USD secara global yang dipicu oleh isu twin-deficit AS. Peningkatan preferensi asing dalam menanamkan dananya dalam rupiah tercermin dari peningkatan penempatan asing pada beberapa outlet rupiah seperti saham, SBI, obligasi

BANK I NDONESIA 32

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN SEKTOR MONETER DAN KEUANGAN

pemerintah, dan swap. Dari beberapa outlet penempatan tersebut, saham merupakan pilihan portofolio yang paling diminati investor asing, sejalan dengan tindakan pemerintah melakukan divestasi terhadap beberapa bank yakni Bank Permata, Bank Danamon dan Bank Niaga. Selain itu, kepemilikan asing dalam SBI dan obligasi pemerintah juga mempunyai kecenderungan yang meningkat.

Triliun Rp
6.0

Triliun Rp
12.0

Kepemilikan SBI Triliun Rp

Volume Swap Juta USD SBI milik Asing

9.0 8.0 7.0
Dana Asing pada Swap

900 800 700 600 500 400 300 200 100 0

Kepemilikan Asing di SUN (skala kanan)
5.0 4.0 3.0 2.0 1.0 0.0 -1.0
Ja n Fe -0 3 b M - 03 ar A p 03 r M - 03 ay Ju -03 n0 Ju 3 l A u - 03 gS e 03 pO 03 ct N - 03 ov D - 03 ec Ja 0 3 n Fe -0 4 bM 04 ar A p 04 r M - 04 ay Ju -04 nJu 0 4 l A u - 04 gS e 04 pO 04 ct N - 04 D o vec 0 -0 4 4 *)

Net Beli Asing di BEJ (skala kiri)

10.0 8.0 6.0 4.0 2.0 0.0 -2.0

6.0 5.0 4.0 3.0 2.0 1.0 (1.0)
6-Apr-04 16-Apr-04 26-Apr-04 5-May-04 13-May-04 24-May-04 02-Jun-04 11-Jun-04 21-Jun-04 29-Jun-04 8-Jul-04 16-Jul-04 26-Jul-04 3-Aug-04 11-Aug-04 20-Aug-04 26-Aug-04 3-Sep-04 14-Sep-04 23-Sep-04 1-Oct-04 11-Oct-04 19-Oct-04 27-Oct-04 4-Nov-04 12-Nov-04 29-Nov-04 7-Dec-04 15-Dec-04 23-Dec-04 31-Dec-04

*) Data Obligasi Dec masih sementara (sumber : DPM-PTPU dari laporan manual harian sub-reg)

Grafik 3.7 Kepemilikan Asing dalam Saham

Grafik 3.8 Posisi Kepemilikan Asing dalam Swap dan Obligasi Pemerintah dan SBI

Dengan sedikit tertekannya rupiah pada akhir tahun, indeks REER (Real Effective Exchange Rate) di bulan Desember berada di posisi 91,5 (undervalued) yang mencerminkan daya saing ekspor Indonesia dilihat dari sisi harga masih cukup kompetitif. Sementara itu, indeks BRER (Bilateral Equilibrium Exchange Rate) juga menunjukkan relatif masih kompetitifnya ekspor Indonesia dibanding negara-negara sekitar. Hampir sepanjang tahun 2004 kecuali awal tahun, rupiah berada pada posisi undervalued sehingga masih memungkinkan untuk bergerak ke arah penguatan guna mendukung sasaran inflasi dengan tanpa mengurangi daya saing ekspor Indonesia.
Index
140 120 100 80 60 40 20
55 Indeks 100 95 90 85 RRC

Korea Sl t
Singapura Malaysia

91.5

80 75 70 65 60 Indonesia

Thailand

65.16

0
Ap Au r-97 g D - 97 ec Ap -9 7 Au r-98 g D - 98 ec Ap -9 8 Au r-99 g D - 99 ec Ap -9 9 Au r-00 g D - 00 ec Ap -0 0 Au r-01 g D - 01 ec Ap -0 1 Au r-02 g De -02 c Ap -0 2 Au r-03 gD 03 ec Ap -0 3 Au r-04 g D - 04 ec -0 4

50
Ja Fen Mb a Apr Mr Juei n Ju i Agli Ses p O k N t o Dev Jas Fen Mb a Apr Mr Juei n Ju i Agli Ses Op k N t o Dv e Jas Fen Mb a Apr Mr e Ju i n Ag Jul us Se t p O k N t o Dp ec

2002

2003

2004

Grafik 3.9 Real Effective Exchange Rate (REER) Grafik 3.10 Bilateral Equilibrium Exchange Rate (BRER)

BANK I NDONESIA 33

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN SEKTOR MONETER DAN KEUANGAN

2. Perkembangan Pasar Uang dan Pasar Modal
2.1. Perkembangan Suku Bunga Seiring dengan upaya realignment yang dilakukan oleh Bank Indonesia, perkembangan suku bunga deposito dan kredit menunjukkan perkembangan yang semakin positif yang diindikasikan oleh semakin kecilnya spread antara kedua suku bunga tersebut, dimana suku bunga deposito 1 dan 3 bulan meningkat tipis dan suku bunga kredit terus mengalami penurunan. Penurunan suku bunga kredit tersebut menunjukkan indikasi yang positif bagi sektor riil Selama triwulan Suku bunga deposito 1 (satu) dalam triwulan ke IV-2004 mengalami peningkatan walaupun hanya sebesar 5 bps dibandingkan dengan triwulan sebelumnya atau menjadi 6,36%. Kenaikan suku bunga ini juga terjadi pada suku bunga deposito 3 dan 6 bulan yang meningkat sebesar masing-masing 5 dan 17 bps dibandingkan triwulan sebelumnya menjadi masing-masing 6,66% dan 7,06%. Sementara untuk jangka waktu yang lebih panjang yaitu untuk tenor 12 bulan dan 24 bulan, suku bunga masih cenderung menurun yaitu berada di posisi 7,04% dan 8,28% atau menurun sebesar masing-masing 23 bps dan 66 bps dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara itu, suku bunga kredit sampai dengan November secara umum masih cenderung menurun. Bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, suku bunga kredit konsumsi tercatat mengalami penurunan terbesar 28 bps menjadi 16,74%, sementara suku bunga kredit modal kerja dan investasi masing-masing menurun sebesar 23 bps dan 15 bps sehingga tercatat sebesar 13,57% dan 14,18%. Meskipun laju penurunan suku bunga kredit modal kerja dan investasi terlihat lebih lambat daripada suku bunga konsumsi namun trend penurunan suku bunga yang terjadi menunjukkan indikasi yang positif bagi sektor riil. Perbedaan magnitude penurunan suku bunga antara tiap jenis kredit tersebut diduga erat kaitannya dengan persepsi risiko bank terhadap dunia usaha. Hal ini ditambah faktor sumber pendanaan perbankan yang relatif semakin berjangka pendek, ditengarai mendorong bergesernya preferensi perbankan mengucurkan kredit yang relatif lebih berjangka pendek dengan risiko minimal.

2.2. Perkembangan Pasar Modal Melanjutkan perkembangan yang terjadi sebelumnya, IHSG pada triwulan IV-2004 masih dalam kecenderungan bullish. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pada bulan Desember secara point to point ditutup pada level 1000,23. Peningkatan tersebut sekaligus menjadi IHSG pada tahun 2004 ini sebagai indeks tertinggi dalam 27 tahun diaktifkannya BEJ, ditengarai oleh meningkatnya aktivitas investor lokal dibanding investor asing. elain itu, sentimen positif dari naiknya indeks bursa regional dan dunia ikut memberikan dorongan terhadap IHSG. Pada penutupan tahun 2004, IHSG menjadi indeks terbaik di dunia dengan peningkatan 44,6%.

BANK I NDONESIA 34

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN SEKTOR MONETER DAN KEUANGAN

Ke depan, indeks diperkirakan masih akan meningkat berdasarkan skenario membaiknya sentimen pasar akan prospek perekonomian domestik (sebagaimana tercermin dari membaiknya rating Indonesia versi S&P), insentif suku bunga, dan bertambahnya suplai emisi saham baru2. Selain itu, dukungan dari nilai PER bursa Indonesia yang sudah melebihi bursa Thailand dan Filipina, bahkan hampir sama dengan bursa Malaysia dan Singapura, diperkirakan akan memberikan arah yang baik bagi perkembangan bursa. Meskipun demikian perlu dicermati risiko yang diindikasi terutama bersumber dari masih rentannya pasar terhadap pembalikan sentimen yang seringnya dipicu oleh pelaku asing.

3. Evaluasi Kebijakan Moneter
Pelaksanaan kebijakan moneter pada triwulan ke IV-2004 menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Secara umum kestabilan makto ekonomi masih dapat terus dipertahankan sebagaimana tercermin dari terjaganya keseimbangan besaran-besaran ekonomi utama yaitu tingkat pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, jumlah uang beredar, suku bunga dan inflasi. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2004 tumbuh sebesar 5,0 – 5,5% (y-o-y), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2003., nilai tukar dalam periode yang sama juga juga sedikit menguat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yaitu secara rata-rata Rp. 9.120. Sementara itu, laju inflasi IHK pada akhir triwulan IV-2004 mencapai 6,4% (yoy) sedikit meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar 5,06% (yoy) namun inflasi tersebut masih sesuai dengan target yang ditetapkan pada awal tahun yaitu sebesar 5,5% +/- 1%. Disamping itu, kebijakan moneter yang cenderung ketat (tight bias) yang diterapkan oleh Bank Indonesia juga dirasakan sudah cukup antisipatif dalam merespon tekanan inflasi yang berkembang dan mampu meminimalkan ekses likuiditas secara lebih agresif pada saat diyakini adanya ekses likuiditas yang berpotensi sebagai amunisi kegiatan spekulasi valas.

Bursa Efek Jakarta menargetkan bahwa di tahun 2005 akan ada 30 emiten yang melakukan IPO saham dengan transaksi rata-rata harian Rp750 miliar.

2

BANK I NDONESIA 35

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN PERBANKAN

BAB 4 EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN PERBANKAN

inerja perbankan nasional selama triwulan IV-2004 tetap menunjukkan perkembangan positif yang terlihat dari peningkatan total aset, dana pihak ketiga dan kredit yang diberikan. Peningkatan kredit tersebut menunjukkan mulai berfungsinya peran intermediasi perbankan yang tercermin dari perbaikan LDR. Peningkatan kredit tersebut umumnya didanai dengan pencairan SBI dan obligasi yang jumlahnya terus menurun. Selain itu, indikator kualitas asset, pendapatan dan efisiensi perbankan juga terus membaik. Permodalan bank masih memadai, meskipun rasio kecukupan modal (CAR) cenderung sedikit menurun karena peningkatan kredit yang cukup besar. Dalam kondisi makroekonomi yang relatif stabil ini, Bank Indonesia terus berupaya mendorong perbankan untuk meningkatkan fungsi intermediasinya dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Upaya ini terutama dilakukan terhadap peningkatan jumlah kredit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) serta sektor-sektor tertentu yang sebelumnya belum terjangkau oleh pelayanan bank. Upaya tersebut sedikit banyak telah memberikan hasil, yang ditunjukkan dengan semakin meningkatnya porsi kredit UMKM dari jumlah kredit baru perbankan. Meskipun demikian, terdapat beberapa faktor yang apabila tidak diatasi dengan baik dapat berpotensi mempengaruhi stabilitas sistem keuangan khususnya perbankan dalam jangka menengah, antara lain: (i) potensi peningkatan risiko kredit sejalan dengan peningkatan kredit perbankan dan memburuknya kredit-kredit yang direstrukturisasi; (ii) persaingan antar bank yang makin tinggi dan berpotensi menekan kinerja bahkan kelangsungan usaha sebagian bank-bank kecil; (iii) migrasi dana antar bank dan kemungkinan terjadinya pemindahan dana (flight to safety) dari bank-bank kecil (perceived risky banks) ke bank-bank besar khususnya BUMN (perceived safer banks) sebagai dampak dari penerapan skim penjaminan simpanan terbatas yang akan diterapkan secara bertahap mulai pertengahan tahun 2005.

K

1. Pengaturan dan Pengawasan Perbankan
1.1. Penyempurnaan Ketentuan Perbankan Secara garis besar kebijakan perbankan pada triwulan IV-2004 merupakan tindak lanjut dari kebijakan perbankan sebelumnya yaitu: (1) Pemantapan ketahanan sistem dan program pemulihan perbankan yang meliputi pelaksanaan program penjaminan pemerintah

BANK INDONESIA 36

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN PERBANKAN

(blanket guarantee), program divestasi sebagai kelanjutan dari rekapitalisasi perbankan, restrukturisasi kredit serta pengembangan infrastruktur perbankan, (2) Pemantapan penerapan prinsip kehati-hatian perbankan, meliputi peningkatan good corporate governance, penyempurnaan pengaturan dan sistem pengawasan bank. (3) Dalam upaya pemulihan fungsi intermediasi perbankan, Bank Indonesia juga terus mendorong peran perbankan dalam pengembangan Kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tanpa mengurangi prinsip kehati-hatian perbankan. Selama triwulan IV-2004, Bank Indonesia telah mengeluarkan beberapa ketentuan perbankan yaitu: a. SE Ekstern No. 6/37/DPNP tanggal 10 September 2004 tentang Penilaian dan Pengenaan Sanksi atas Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah dan Kewajiban Lain Terkait dengan Undang-undang tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Ketentuan ini dikeluarkan untuk lebih memastikan kepatuhan Bank Umum terhadap kewajiban penerapan prinsip mengenal nasabah dan kewajiban lain terkait dengan UU Tindak Pidana Pencucian Uang (UU TPPU). Dengan ketentuan ini, pelanggaran sanksi terkait akan diperhitungkan dalam penilaian tingkat kesehatan bank dengan ancaman hukuman baik berupa pembekuan kegiatan usaha tertentu dan atau pemberhentian pengurus melalui mekanisme penilaian kemampuan dan kepatutan (fit and proper test). b. SE Ekstern No. 6/43/DPNP tanggal 7 Oktober 2004 tentang Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Kerjasama Pemasaran Dengan Perusahaan Asuransi (Bancassurance) Ketentuan ini dimaksudkan untuk melindungi kepentingan masyarakat dan memberi payung hukum bagi bank yang melakukan kegiatan usaha pemasaran produk asuransi (bancassurance). Ketentuan ini juga mewajibkan bank agar tetap mengelola risiko reputasi dan risiko hukum yang mungkin timbul dari kegiatan bancassurance tersebut. c. Peraturan Bank Indonesia No. 6/24/PBI/2004 tanggal 14 Oktober 2004 tentang Bank Umum Yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah Ketentan ini bertujuan untuk mendorong perkembangan jaringan kantor kegiatan usaha bank berdasarkan prinsip syariah, pengaturan tentang kepemilikan dan permodalan, kepengurusan demi menciptakan kepastian hukum dan meningkatkan good corporate governance. d. Peraturan Bank Indonesia No.6/25/PBI/2004 tanggal 22 Oktober 2004 tentang Rencana Bisnis Bank Umum dan SE Ekstern No. 6/44/DPNP tanggal 22 Oktober 2004 tentang Rencana Bisnis Bank Umum Ketentuan ini merupakan penyempurnaan ketentuan Rencana Bisnis Bank Umum yang diatur dalam SK Direksi Bank Indonesia No.27/117/KEP/DIR tanggal 25 Januari 1995. Penyempurnaan bertujuan untuk meningkatan kualitas tata kelola yang sehat (good corporate governance), mengarahkan Bank agar senantiasa beroperasi dengan perencanaan yang matang berdasarkan prinsip kehati-hatian, azas perbankan yang sehat dan mengendalikan risiko strategik Bank.

BANK INDONESIA 37

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN PERBANKAN

1.2. Jaring Pengaman Keuangan (Financial Safety Net) Dalam rangka penguatan infrastruktur perbankan khususnya untuk memelihara stabilitas sistem keuangan, Bank Indonesia dan Pemerintah telah menyusun kerangka dan kebijakan Jaring Pengaman Sektor Keuangan (Financial Safety Net) atau yang disingkat dengan JPSK. JPSK merupakan salah satu pilar utama untuk mewujudkan sistem perbankan yang sehat dan efisien, disamping regulasi dan pengawasan yang efektif. Secara umum, JPSK yang komprehensif mencakup lima elemen yakni: (i) Regulasi yang efektif; (ii) Pengawasan yang independent dan efektif; (iii) Lender of last resort yang memadai; (iv) Asuransi simpanan yang kredibel memadai dan (v) Resolusi bank bermasalah dan penyelesaian krisis yang memadai. Pada intinya, JPSK memuat peran dan tanggung jawab serta mekanisme koordinasi lembaga-lembaga terkait dalam JPSK yakni Bank Indonesia, Departemen Keuangan, Otoritas Pengawas dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Dalam kaitan tersebut, sesuai Undang-undang No.23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No.3 Tahun 2004, Bank Indonesia dapat memberikan fasilitas pembiayaan jangka pendek (FPJP) kepada bank yang mengalami kesulitan likuiditas akibat kesenjangan antara arus dana masuk dengan arus dana keluar. Selanjutnya, atas beban pemerintah Bank Indonesia juga dapat memberikan fasilitas pembiayaan darurat (FPD) kepada bank yang mengalami kesulitan keuangan yang berdampak sistemik dan berpotensi membahayakan sistem keuangan. Untuk itu, Bank Indonesia dan Departemen Keuangan telah menandatangani Nota Kesepakatan tentang pemberian FPD tersebut. Ketentuan pelaksanaan pemberian FPD tersebut sedang disusun oleh Bank Indonesia dan Departemen Keuangan. Sejalan dengan rencana pengurangan secara bertahap (phasing-out) program penjaminan pemerintah (blanket guarantee), DPR telah mengesahkan UU No. 24 tahun 2004 tentang LPS. UU tersebut mengatur fungsi pokok LPS sebagai berikut: (i) berperan selaku penjamin (insurer) atas simpanan masyarakat sampai jumlah tertentu yang ditetapkan; dan (ii) untuk menangani penyehatan dan penutupan bank bermasalah. Dengan berdirinya LPS maka tanggung jawab atas pengelolaan program penjaminan dan penangananan bank bermasalah yang sudah insolven akan lebih jelas. Untuk meyakinkan terpeliharanya stabilitas sistem keuangan, khususnya perbankan, implementasinya akan dilakukan secara bertahap yakni sebagai berikut: • • • • • Tahap 1: seluruh dana pihak ketiga dan antar bank Tahap 2: seluruh dana pihak ketiga Tahap 3: dana pihak ketiga sampai dengan Rp5 miliar Tahap 4: dana pihak ketiga sampai dengan Rp1 miliar Tahap 5: dana pihak ketiga sampai dengan Rp100 juta

Berkaitan dengan ketentuan tersebut, Bank Indonesia juga akan menyesuaikan beberapa peraturan khususnya yang terkait dengan exit policy dan pencabutan izin usaha dan likuidiasi bank. Bank Indonesia dan Pemerintah juga telah melakukan persiapanpersiapan pendirian LPS yang direncanakan akan berdiri pada September 2005 khususnya yang menyangkut petunjuk pelaksanaan program penjaminan, organisasi LPS, mekanisme koordinasi dan pertukaran informasi antara Bank Indonesia dengan LPS

BANK INDONESIA 38

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN PERBANKAN

1.3. Implementasi Arsitektur Perbankan Indonesia (API) Sejak diimplementasikan bulan Januari 2004, inisiatif API sebagai blue print arah kebijakan perbankan kedepan telah mencapai hasil yang baik dan mendapatkan tanggapan baik dari masyarakat. Beberapa program yang telah dilakukan selama tahun 2004 antara lain sebagai berikut; a. Program Penguatan Struktur Perbankan Nasional Dalam implementasi Program Penguatan Permodalan Bank, Bank Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia No.6/25/PBI/2004 dan SE No.6/44/DPNP Jakarta, 22 Oktober 2004 tanggal 22 Oktober 2004 tentang Rencana Bisnis Bank Umum. Pada salah satu pasal, disayratkan bahwa agar perbankan menguraikan upaya-upaya dalam rangka memenuhi Arsitektur Perbankan Indonesia khususnya mengenai permodalan termasuk merger atau akuisisi. Dengan demikian, diharapkan bahwa sehingga sejak dini bank-bank telah mempunyai strategi bisnis kedepan termasuk arah pemilihan kelompok bank yang akan dicapai sesuai struktur/kategori bank yang diatur dalam API. b. Program Peningkatan Kualitas Pengaturan Perbankan Terkait dengan peningkatan kualitas pengaturan perbankan, telah diperoleh komitmen pakar-pakar di bidang perbankan, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk memberikan masukan-masukan strategis mengenai perbankan sehingga pada tahun 2005, Expert Panel diharapkan sudah melakukan rapat dalam rangka memberikan masukanmasukan strategis mengenai perbankan. c. Program Peningkatan Fungsi Pengawasan Pembahasan program konsolidasi sektor perbankan sampai dengan akhir bulan November 2004 telah menghasilkan beberapa opsi usulan mengenai realokasi fungsifungsi di sektor perbankan, high level struktur organisasi Sektor Perbankan dan detail struktur organisasi masing-masing satker di sektor perbankan. Untuk program peningkatan koordinasi antar lembaga pengawas, telah disusun mapping informasi dari institusi lain yang diperlukan oleh satker-satker di Bank Indonesia khususnya satker di Sektor Perbankan. Mapping tersebut akan digunakan sebagai masukan dalam pembahasan dengan instansi terkait seperti Departemen Keuangan, Bappepam dan instansi terkait lainnya dalam rangka peningkatan kerjasama khususnya dalam hal consolidated supervision. d. Program Peningkatan Kualitas Manajemen dan Operasional Perbankan Dalam rangka penetapan standar minimum Good Corporate Governance (GCG) perbankan, pada saat ini tengah dilakukan proses pembentukan forum kerjasama dengan seluruh Asosiasi Perbankan dan Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance (KNKCG) di bidang GCG perbankan. Penandatanganan nota kesepahaman forum kerjasama tersebut direncanakan akan dilakukan pada awal Januari 2005. Dalam rangka pelaksanaan sertifikasi manajemen risiko bekerjasama dengan Indonesian Risk Professional Association (IRPA), pada bulan Agustus 2004 telah dilakukan program Eksekutif bagi Direksi perbankan dengan respon yang cukup menggembirakan. Diharapkan, akhir tahun 2004 jumlah Direktur Bank yang sudah

BANK INDONESIA 39

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN PERBANKAN

disertifikasi mencapai lebih dari 250 orang. Program Eksekutif bagi Komisaris bank saat ini tengah dipersiapkan untuk dimulai pada bulan Februari 2005. e. Program Pengembangan Infrastruktur Perbankan Pengembangan infrastruktur perbankan dalam API berkaitan dengan dua hal, yaitu pembentukan credit bureau dan optimalisasi lembaga rating. Credit bureau ini akan dilaksanakan sendiri oleh Bank Indonesia. Optimalisasi lembaga rating pada prinsipnya akan dilakukan dengan mempersyaratkan kewajiban rating untuk setiap surat berharga yang diterbitkan bank. Kewajiban rating ini tidak hanya pada saat penerbitan, namun juga dilakukan secara berkala setidaknya setahun sekali. f. Program Peningkatan Perlindungan Nasabah Saat ini Bank Indonesia sedang menyusun pokok-pokok ketentuan mengenai Standar Mekanisme Pengaduan Nasabah dan Standar Transparansi Informasi Produk dan Perlindungan Data Pribadi Nasabah. Diharapkan pada awal tahun 2005 kedua PBI tersebut sudah dapat diterbitkan. Dalam program Pembentukan Lembaga Mediasi Independen, saat ini blueprint pembentukan lembaga mediasi independent saat ini sudah dalam tahap finalisasi. Kemungkinan implementasi lembaga tersebut akan dilakukan secara bertahap dimana pada tahap pertama akan dilaksanakan oleh Bank Indonesia dan selanjutnya dialihkan kepada lembaga mediasi perbankan ke luar BI berupa Badan Hukum dengan melibatkan industri perbankan dalam operasional nya. Pembahasan blueprint Forum Edukasi Masyarakat sampai saat ini masih terus dilaksanakan dengan menyusun konsep MOU antara Bank Indonesia dengan asosiasiasosiasi perbankan dan perwakilan nasabah. Forum Edukasi Masyarakat ini telah dilaunch pada akhir tahun 2004 dan akan mulai diimplementasikan pada tahun 2005. 1.4. Investigasi Kasus-Kasus Perbankan Dalam menangani kasus-kasus penyimpangan perbankan yang diduga mengandung unsur pidana, Bank Indonesia senantiasa bekerja sama dengan Mabes Polri dan Kejaksaan Agung seperti tertuang dalam Keputusan Bersama jaksa Agung RI, Kepala Kepolisian RI dan Gubernur Bank Indonesia tanggal 6 November 1997. Selanjutnya dalam rangka law enforcement serta peningkatan efektivitas penanganan tindak pidana perbankan, pada triwulan IV-2004 telah ditandatangani kembali MoU antara Gubernur BI, Kapolri dan Jaksa Agung. 1.5. Pengaruh Tsunami Terkait dengan bencana yang terjadi di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kabupaten Nias, Propinsi Sumatera Utara pada akhir tahun 2004, Bank Indonesia telah mempersiapkan ketentuan perlakuan khusus bagi penyediaan dana perbankan di daerah tersebut. Kebijakan ini diharapkan dapat membantu meringankan beban perbankan dan masyarakat yang tertimpa musibah. Bank Indonesia telah menetapkan kebijakan yang sama untuk beberapa daerah tertentu dan yang terakhir adalah kebijakan yang sama berkaitan dengan tragedi di Bali. Selain itu, terkait dengan operasional kegiatan bank-bank

BANK INDONESIA 40

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN PERBANKAN

di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Bank Indonesia telah melakukan langkah-langkah dalam rangka normalisasi kegiatan perbankan antara lain dengan membentuk crisis centre dan menyediakan ruangan di gedung Bank Indonesia Aceh bagi operasional bank.

2. Perkembangan Kinerja Perbankan
2.1. Gambaran Umum Perbankan Indonesia Kondisi perbankan nasional selama triwulan IV-20041 cukup stabil dan tidak terdapat indikasi yang berpotensi mengancam stabilitas sistem perbankan meski terjadi pembekuan usaha terhadap 1 (satu) bank dengan skala kecil pada periode tersebut. Kinerja perbankan terus menunjukkan perbaikan diiringi dengan peningkatan jumlah kredit dan dana pihak ketiga (DPK) yang selama triwulan IV-2004 masing-masing mencapai 18,3% dan 6,1%. Perbaikan kinerja perbankan tersebut tampak dari peningkatan LDR dari 48,2% menjadi 49,5%; perbaikan BOPO dari 83,5 menjadi 80,8% dan penurunan NPL dari 6,9% menjadi 6,6%. Namun rasio permodalan (CAR) sedikit menurun dari 20,7% menjadi 19,7% sebagai akibat peningkatan ATMR yang terutama berasal dari peningkatan kredit, sementara ROA selatif stabil . Berkaitan dengan bencana gempa dan gelombang tsunami yang terjadi Aceh pada akhir Desember 2004, penilaian yang dilakukan Bank Indonesia mengindikasikan tidak adanya potensi gangguan stabilitas sistem keuangan. Dari sebanyak 11 bank yang memiliki kantor pusat dan atau kantor cabang di NAD, 10 diantaranya tidak mengalami permasalahan serius mengingat operasi di NAD relatif kecil sedangkan 1 (satu) bank yang berkantor pusat di NAD kemungkinan akan terancam kelangsungan usahanya sehingga perlu penanganan serius mengingat bank dimaksud adalah pemegang kas daerah. Sampai dengan minggu kedua Januari 2005, 7 bank telah beroperasi kembali digedung sendiri, 2 bank menyewa di gedung lain, dan 4 bank beroperasi di ruangan yang disediakan oleh Bank Indonesia.
Tabel 4.1 Indikator Perbankan
Indikator Utama Tw IV-03 Tw I-04 Tw II-04 Tw I-04 Tw III-04 Tw IV-04 TwIII-04 - TwIV-04 (+/-) Total Aset (T Rp) DPK (T Rp) Kredit (T Rp) * Aktiva Produktif (T Rp) NII (T Rp) LDR (%) ROA (%) NPLs Gross (%) NPLs net (%) CAR (%) BOPO (%) 1,196.2 888.6 477.19 1,072.4 3.2 43.2 2.5 8.2 3.0 19.4 88.8 1,150.0 875.1 485.91 1,080.3 5.7 43.7 2.7 7.8 2.7 23.5 91.6 1,185.7 912.8 528.68 1,102.8 5.4 46.4 2.7 7.6 2.1 20.9 87.0 1,182.8 909.5 530.18 1,087.7 5.4 46.8 2.7 7.3 2.2 20.6 76.0 1,213.1 926.4 555.1 1074.7 5.3 48.2 3.0 6.9 2.1 20.5 83.5 1,228.1 932.5 573.4 1114.9 5.0 49.5 3.0 6.6 2.0 19.7 80.8 15.0 6.1 18.3 40.2 -0.3 (%) 1.2 0.7 3.3 3.7 -5.5

1

Data posisi November 2004 dibandingkan dengan posisi September 2004, kecuali dikatakan lain.

BANK INDONESIA 41

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN PERBANKAN

2.2. Penilaian Risiko dan Perkembangan Beberapa Indikator Penting Perbankan a. Risiko Kredit dan Perkembangan Aktiva Produktif Aktiva produktif perbankan mengalami peningkatan Rp40,2 triliun atau 3,3% sehingga mencapai 90,8% dari total aset perbankan. Peningkatan tersebut terutama berasal dari penambahan jumlah kredit sebesar Rp18,3 triliun, sehingga pada akhir November 2004 posisi kredit tercatat sebesar Rp573,4 triliun. Pertumbuhan kredit tersebut umumnya bersumber dari pengalihan portfolio asset bank dari surat-surat berharga. Hal ini juga ditunjukkan dari pertumbuhan kredit yang lebih besar dari pada pertumbuhan DPK sehingga mendorong perbaikan LDR dari 48,2% menjadi 49,5%. Dengan demikian, porsi kredit dalam komposisi aktiva produktif bank semakin meningkat dan mencapai 51,4% pada akhir triwulan IV-2004.

9,3%

0,6%

31,1% 7,5% Kredit Obligasi & SSB Lainnya Penyertaan SBI ABA

51,4%

Grafik 4.1 Aktiva Produktif per November 2004

Dari jumlah kredit sebesar Rp573,4 triliun tersebut, konsentrasi tertinggi terdapat di sektor lain-lain2 (27,5%), diikuti sektor industri (25,8%) dan perdagangan (20,2%), sedang konsentrasi terendah terdapat pada sektor Listrik dan Pertambangan.

5,9%

9,9%

1,3% 1,1% 1,5%

(%)
20,2%

3,6% 3,2% 25,8% 27,5%

Perdagangan Lain-lain Industri Pengangkutan Konstruksi Pertanian Jasa Dunia Usaha Jasa Sosial Pertambangan Listrik

Grafik 4.2 Komposisi Kredit Berdasarkan Sektor Ekonomi – November 2004
2

Share sektor lain-lain tertinggi tidak diikutkan karena gabungan bermacam-macam jenis kredit.

BANK INDONESIA 42

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN PERBANKAN

Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit modal kerja masih mendominasi sebesar 51,4% walaupun pertumbuhan tertinggi terjadi pada kredit konsumsi terutama sejak paska krisis. Pesatnya pertumbuhan kredit konsumsi tersebut terutama disebabkan maraknya penerbitan obligasi swasta sebagai alternatif sumber pembiayaan, pertumbuhan pasar modal yang cukup pesat serta masih cukup tingginya persepsi risiko bank dalam memberikan kredit investasi.

300 250 200 150 100 50 0 KMK KI

Tw IV-03 Tw III-04 Tw IV-04

KK

Grafik 4.3. Outstanding Kredit Menurut Jenis Penggunaan

Kredit baru perbankan selama triwulan IV-2004 mencapai Rp31,84 triliun sehingga dengan demikian, total kredit baru selama tahun 2004 telah mencapai Rp89,0 triliun. Dari total kredit baru selama tahun 2004 tersebut sebanyak 47,4% disalurkan kepada UMKM dan sebanyak 52,6% disalurkan kepada Non UMKM.
Tabel 4.2 Penyaluran Kredit kepada UMKM dan Non UMKM
KREDIT UMKM Non UMKM Mar 1,182.0 972.7 2,154.7 Jun 5,236.3 6,563.3 11,799.6 2004 Sep Okt 7,542.5 3,182.7 5,335.6 2,720.0 12,878.1 5,902.7 Nop 5,681.4 7,459.4 13,140.8 Total 42,171.0 46,884.8 89,055.8

Kualitas Kredit Perkembangan NPL Perbankan selama triwulan IV-2004 terus menunjukkan perbaikan meskipun masih relatif tinggi. NPL gross turun dari 6,9% menjadi 6,6% terutama karena peningkatan jumlah kredit sedangkan perbaikan pada NPL net dari 2,1% menjadi 2,0% merupakan dukungan dari peningkatan jumlah PPAP. Meskipun demikian NPL ini berpotensi meningkat kembali karena memburuknya kualitas kredit restrukturisasi

BANK INDONESIA 43

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN PERBANKAN

dan akibat macetnya kredit perbankan di daerah NAD yang terkena musibah gempa dan tsunami.
(%) 12 10 8 6 4 2 NovMayJulSepNovJanMarMayJulSepNovNPL Gross NPL Net Kredit

(triliun) 700 600 500 400 300 200 100 0

Grafik 4.4. Perkembangan NPL dan Kredit

Walaupun masih relatif rendah, sejak awal tahun 2002 NPL Kredit Konsumsi cenderung terus meningkat. Nominal NPL kredit konsumsi meningkat dari Rp3,0 triliun pada triwulan III-2004 menjadi sebesar Rp3,4 triliun pada triwulan IV-2004, atau meningkat 12,2%, sementara Kredit Investasi meningkat 2,0% sedangkan Kredit Modal Kerja justru turun 1,9%. Dengan perkembangan tersebut, perhatian terhadap Kredit Konsumsi perlu lebih ditingkatkan dan Perbankan akan dihimbau untuk mulai memonitor secara lebih ketat perkembangan Kredit Konsumsi ini serta lebih selektif dalam penyaluran kreditnya. Namun demikian, perbankan telah melakukan antisipasi dengan telah membentuk cadangan kerugian (PPAP) yang memadai untuk menutup potensi kerugian di masa yang akan datang. Dampak Tsunami di NAD Total kredit 11 bank ke daerah NAD mencapai Rp3,1 triliun atau sebesar 0,6% dari total kredit perbankan atau 0,9% dari total kredit 11 bank dimaksud, dengan NPL sebesar 1,8% dari total kredit di NAD. Apabila diasumsikan bahwa seluruh kredit tersebut menjadi macet maka NPL 11 bank dimaksud meningkat dari rata-rata 7,9% menjadi 8,8% sedangkan NPL Industri juga meningkat dari 6,6% menjadi 7,2%. b. Risiko Likuiditas Likuiditas perbankan selama triwulan IV-2004 cukup stabil dengan sedikit peningkatan pada rasio perbandingan alat likuid dengan non core deposit dari 106,4% menjadi 106,6%. Dengan rasio tersebut, diyakini bahwa industri perbankan Indonesia cukup mampu untuk membayar kewajiban jangka pendek karena penarikan dana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

BANK INDONESIA 44

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN PERBANKAN

210 205 200 195 190 185 180 175 170 165 160

120% 118% 116% 114% 112% 110% 108% 106% 104% 102% 100% 98%

Tw

Alat lk d

Tw II

Tw III NCD

Okt'0 Nov'0 alat lk d C

Grafik 4.5. Rasio Alat Likuid terhadap NCD

Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan selama triwulan IV-2004 terus menunjukkan peningkatan yaitu mencapai 6,6 triliun atau 0,7% terutama pada giro dan tabungan yang masing-masing meningkat Rp4,2 triliun dan Rp8,3 triliun. Meskipun masih mendominasi DPK perbankan, deposito justru mengalami penurunan sebesar Rp5,9 triliun. Penurunan deposito ini diperkirakan karena dua hal : (i) adanya perpindahan dana masyarakat ke dalam bentuk tabungan dan giro, yang cenderung meningkat selama tahun 2004, (ii) adanya pengalihan sebagian deposito ke dalam instrumen investasi lainnya, seperti reksadana yang dirasa lebih menuntungkan. Dengan perkembangan tersebut, pada bulan November 2004, 48,3% DPK perbankan merupakan deposito, sedangkan tabungan dan giro masing-masing hanya sebesar 27,1% dan 24,7% dari total DPK yang ada.
Tabel 4.3. Perkembangan DPK dan NAB

Tw I NAB Giro Tabungan Deposito
Sumber : BI dan Bapepam

Tw II 87.7 243.9 270.8 408.0

Tw III 97.6 244.7 270.8 410.9

Okt'04 98.3 244.9 274.7 408.4

Nov'04 102.0 248.9 279.1 404.9

Triliun Growth (%)
Nom 4.40 4.24 8.34 -5.96 % 4.5% 1.7% 3.1% -1.5%

Rp

72.9 226.1 247.3 401.7

Dari keseluruhan deposito yang ada, 80,8% merupakan deposito besar (>Rp100 juta) dan terkonsentrasi pada simpanan berjangka pendek (kurang dari 3 bulan). Hanya 5,8% deposito yang berjangka panjang, sedangkan 94,2% merupakan deposito berjangka

BANK INDONESIA 45

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN PERBANKAN

pendek. Besarnya konsentrasi pada deposito jangka pendek, menunjukkan masih tingginya motif nasabah untuk berjaga-jaga. c. Risiko Pasar Risiko pasar perbankan nasional selama triwulan IV-2004 cenderung stabil didukung oleh volatilitas rupiah yang relatif rendah. Permodalan bank pun cukup stabil dalam mengatasi fluktuasi suku bunga dan nilai tukar. Disisi lain, bank pada umumnya memiliki strategi penetapan spread yang relatif lebar sehingga memiliki kemampuan untuk memitigasi risiko suku bunga. Namun demikian, masih terdapat downside risks mengingat masih relatif besarnya PDN on balance sheet serta profil jatuh tempo kewajiban bank pada umumnya berada dalam posisi short dalam jangka pendek (short-term negative gap). Dua hal tersebut dapat meningkatkan eksposur risiko pasar perbankan. d. Profitabilitas Kinerja profitabilitas perbankan umumnya menunjukkan perkembangan positif antara lain membaiknya efisiensi dengan turunnya rasio BOPO dari 83,5% menjadi 80,8% dan peningkatan Return on Asset (ROA) dari 2,95% menjadi 3,03%. Namun pendapatan bunga bersih (NII) bank sedikit menurun dari Rp5,3 triliun menjadi Rp5,0 triliun sebagai dampak dari semakin sempitnya spread suku bunga, karena suku bunga kredit yang cenderung terus menurun sementara suku bunga dana pihak ketiga cenderung meningkat. Berdasarkan kelompok, rasio efisiensi kelompok bank BUMN masih tergolong paling buruk yakni 91,37% sedang efisiensi terbaik terdapat pada kelompok bank asing yakni 77,17%. Rasio ROA tertinggi juga terdapat pada kelompok bank asing sebesar 5,07% sedang ROA terendah juga terdapat pada kelompok bank BUMN. Dominasi pendapatan bunga pada struktur pendapatan perbankan terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah kredit, Total pendapatan kredit terhadap total pendapatan bunga industri perbankan per November 2004 mencapai 58,9 % atau naik dari posisi September 2004 sebesar 57,6%.

100% 80% 60% 40% 20% 0% Jan BI Mrt SSB Mei Juli KREDIT Sept_04 No'04

LAINNYA

Grafik 4.6 Komposisi Pendapatan Bunga Perbankan Selama 2004

BANK INDONESIA 46

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN PERBANKAN

e. Permodalan Permodalan industri perbankan yang ditunjukkan dengan capital adequated ratio (CAR) sedikit menurun dari 20,5% menjadi 19,7% yang disebabkan karena peningkatan ATMR dari kenaikan jumlah kredit. Namun CAR pada level tersebut pada dasarnya cukup memadai untuk mengatasi timbulnya kerugian yang tidak terduga (unexpected loss) misalnya terjadi peningkatan risiko kredit dan risiko pasar. Kelompok bank campuran memiliki rasio permodalan tertinggi yakni sebesar 29% sedangkan rasio CAR terkecil terdapat pada kelompok bank asing sebesar 15%. Rasio permodalan yang cukup tinggi ini menunjukkan bahwa kelompok bank campuran masih sangat selektif dalam memberikan kredit.

3. Perkembangan Perbankan Syariah
3.1. Perkembangan Kinerja Perbankan Syariah Selama triwulan IV-2004, kegiatan usaha perbankan syariah menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik. Sampai dengan bulan Oktober 2004, jumlah aset perbankan syariah telah mencapai Rp13,5 triliun dengan pertumbuhan 6,3% dari triwulan sebelumnya. Pertumbuhan volume usaha ini didukung oleh pertumbuhan jumlah bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah dimana dalam periode yang sama meningkat menjadi 3 bank umum syariah, 14 unit usaha syariah dari bank umum konvensional dan 89 BPRS yang didukung oleh 404 kantor. Total dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun juga meningkat menjadi Rp10,1 triliun dengan pertumbuhan 4,12% sementara dana yang disalurkan mengalami peningkatan 5,9% menjadi sebesar Rp10,7 triliun. Dengan laju pertumbuhan pembiayaan yang diberikan (pyd) yang melebihi pertumbuhan dana yang dihimpun tersebut, maka dalam periode yang sama rasio FDR perbankan syariah meningkat dari 104,8% menjadi 105,8%.
Tabel 4.4. Indikator Utama Perbankan Syariah
Indikator Asset Pembiayaan yang Diberikan Dana Pihak Ketiga FDR NPF ROA (quarterly) data sd. Oktober 2004 Trw IV-03 7.9 5.5 5.7 96.6% 2.3% -0.2% Trw I-04 9.5 6.4 7.0 91.4% 2.6% 0.4% Trw II-04 11.0 8.4 8.3 100.5% 2.4% 0.5% Trw III-04 12.7 10.1 9.7 104.7% 2.8% 0.4% Trw IV-04* Posisi 13.5 10.7 10.1 105.8% 2.7% 0.5% Growth % 6.30 5.94 4.12

Dari segi jenis pembiayaan yang diberikan, pertumbuhan pembiayaan berbasis pada bagi hasil yang terdiri atas pembiayaan mudharabah dan musyarakah ternyata melebihi pertumbuhan pembiayaan berbasis jual beli, sehingga per Oktober 2004 pangsa

BANK INDONESIA 47

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN PERBANKAN

pembiayaan bagi hasil mencapai 28,4% dibandingkan posisi 1 tahun sebelumnya yang baru mencapai 19,6%. Beberapa faktor yang diperkirakan mempengaruhi peningkatan pangsa pembiayaan bagi hasil tersebut diantaranya adalah meningkatnya kerjasama dengan lembaga keuangan non bank seperti koperasi dan pegadaian, serta adanya proyek-proyek jangka pendek infrastruktur dan public service. Adapun dari segi kualitas pembiayaan, rasio NPF sedikit turun dari 2,8% menjadi 2,7% yang terutama disebabkan oleh besarnya ekspansi pembiayaan baru. Memasuki tahun 2005, diperkirakan industri perbankan syariah masih akan mengalami ekspansi yang signifikan, dengan volume usaha diproyeksikan dapat mencapai lebih dari Rp24 triliun. Sejalan dengan peningkatan tersebut kebutuhan terhadap regulasi yang komprehensif dan integral antara norma syariah dengan konsep pengaturan perbankan yang berlaku umum menjadi semakin penting. Demikian pula kebutuhan akan peningkatan kompetensi dan profesionalisme SDM pengawas dan pengelola perbankan syariah. 3.2. Kebijakan Perbankan Syariah Pertumbuhan industri perbankan syariah masih terus ekspansif seiring dukungan infrastruktur yang semakin baik. Sejalan dengan peningkatan tersebut kebutuhan terhadap regulasi yang komprehensif dan integral antara norma syariah dengan konsep pengaturan perbankan yang berlaku umum menjadi semakin penting. Demikian pula kebutuhan akan peningkatan kompetensi dan profesionalisme SDM pengawas dan pengelola perbankan syariah. Sejalan dengan tahapan strategis pada cetak biru perbankan syariah yang bertujuan untuk memperkuat struktur industri perbankan syariah, agenda pokok kebijakan pengembangan perbankan syariah kedepan meliputi: • • • • • Peningkatan kuantitas dan kualitas SDM industri perbankan syariah nasional, yang berarti peningkatan pada manajemen dan mutu pelayanannya, Pengembangan instrumen dan produk yang lebih inovatif, Pengembangan pasar sekunder, pasar uang syariah, pasar interbank dan linkage di industri keuangan syariah, Implementasi dan pengembangan risk management, prudential regulations, good corporate governance & syariah compliance pada lembaga keuangan syariah, dan Mendorong terciptanya a uniform regulatory; standard akad, produk dan transaksi.

Berkaitan dengan agenda tersebut, beberapa regulasi dan kebijakan yang diprioritaskan dalam tahun mendatang diantaranya adalah mendukung pembahasan RUU perbankan syariah, ketentuan mengenai capital adequacy ratio (CAR) bagi bank syariah, sistem penilaian tingkat kesehatan bank syariah, lanjutan standarisasi akad bank syariah, penyempurnaan PSAK perbankan syariah dan perbaikan ketentuan mengenai Konversi bank umum konvensional menjadi bank umum syariah dan Pembukaan Kantor Syariah oleh BUK. Disamping itu dalam rangka peningkatan kompetensi pengelola bank syariah,

BANK INDONESIA 48

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN PERBANKAN

khususnya BPRS, direncanakan akan dilakukan program sertifikasi kepada pengurus BPRS.

4. Perkembangan Bank Perkreditan Rakyat3
4.1. Perkembangan Kinerja BPR Jumlah BPR yang aktif sampai dengan akhir triwulan III-2004 mencapai 2.162 BPR, dimana sebanyak 89 merupakan BPR berdasarkan prinsip syariah. Dibandingkan posisi akhir Juni 2004, jumlah BPR aktif bertambah sebanyak 10 BPR termasuk 1 (satu) BPR berdasarkan prinsip syariah karena diberikannya persetujuan izin usaha baru. Total asset BPR periode September 2004 mencapai Rp15.474 milyar, atau naik Rp2.840 milyar (22,5%) dari posisi Desember 2003, atau naik Rp3.715 milyar (31,6%) dari periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan total asset tersebut berasal dari peningkatan jumlah kredit yang diberikan, yang terutama bersumber dari peningkatan jumlah simpanan masyarakat di BPR. Sementara itu, jumlah Dana Pihak Ketiga yang berhasil dihimpun sampai dengan September 2004 menunjukkan peningkatan 6,9% yaitu dari Rp9.894 milyar menjadi Rp10.579 milyar, sedang dari sisi nasabah penyimpan meningkat 1,7%.
Tabel 4.5 Indikator Utama BPR
Dalam Milyar Rp No Pos-pos Tertentu Neraca Des ‘01 Des ‘02 Des ‘03 Juni 2004 September Growth Nom 1 2 3 Total Asset Kredit yg Diberikan Dana Pihak Ketiga - Tabungan - Deposito 4 5 6 7 8 Laba/Rugi Th Berjalan LDR NPLs ROA ROE 6,474 4,860 4,280 1,574 2,706 223 80.9% 11.8% 3.4% 20.0% 9,080 6,683 6,126 2,002 4,124 338 77.0% 8.7% 3.7% 24.7% 12,635 8,985 8,868 2,617 6,251 429 74.5% 8.0% 3.4% 25.0% 14,416 10,419 9,894 2,889 7,005 294 78.5% 7.9% 2.0% 15.4% 15,474 11,511 10,579 3,132 7,447 614 79.6% 7.6% 4.0% 30.5% 22.5 28.1 19.3 19.7 19.1 43.1 % 31.6 33.5 27.9 29.5 27.3 84.4

Jumlah kredit mengalami peningkatan Rp343 miliar atau 3,3% dengan komposisi 92,2% dikategorikan lancar. Hal ini diikuti dengan peningkatan kualitas kredit BPR yang tercermin dari penurunan rasio non-performing loans (NPL) dari 7,96% menjadi 7,64% pada akhir September 2004.

3

Data keuangan per posisi akhir September 2004 adalah data sementara

BANK INDONESIA 49

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN PERBANKAN

Kondisi tingkat kesehatan BPR mengalami perbaikan yang ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah BPR kategori sehat dan cukup sehat yaitu sebanyak 1.607 BPR atau 70% dari seluruh BPR pada akhir tahun 2001 menjadi 1.705 BPR atau 80% dari seluruh BPR pada akhir tahun 2002 dan kemudian meningkat kembali menjadi 1.788 BPR atau 84% dari seluruh BPR pada akhir Desember 2003. Pada triwulan II-2004 jumlah BPR dengan kategori sehat dan cukup sehat mengalami penurunan menjadi 1.777 BPR atau 82,5% dari seluruh BPR.
Tabel 4.6 Perkembangan TKS
KATEGORI Sehat Cukup Sehat Kurang Sehat Tidak Sehat Total 2001 2002 TW IV % TW IV % 1,290 56 1,373 65 317 14 332 16 233 10 200 9 466 20 223 10 2,306 100 2,128 100 TW II 1,345 364 203 213 2,125 2003 % TW IV % 63 1,424 67 17 364 17 10 173 8 10 174 8 100 2,135 100 TW I 1,436 367 170 173 2,146 2004 % TW II 67 1,442 17 335 8 185 8 193 100 2,155 % 67 16 9 9 100

4.2. Perkembangan Kebijakan BPR Kebijakan pengembangan BPR oleh Bank Indonesia terus dilakukan dengan arah meningkatkan efektivitas pengawasan dan pengaturan terhadap BPR demi mewujudkan industri BPR yang sehat. Menuju kearah itu, berbagai program yang telah dan sedang dilaksanakan oleh Bank Indonesia antara lain: (i) penyehatan industri BPR; (ii) penguatan kelembagaan BPR; (iii) penyempurnaan sistem pengaturan dan pengawasan; (iv) penyusunan blue print BPR; dan (v) peningkatan kerjasama BPR dengan bank umum serta lembaga lain.

BANK INDONESIA 50

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN

BAB 5 EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN

K
1.1.

ebijakan sistem pembayaran tunai yang ditempuh pada triwulan IV-2004 tetap diarahkan pada upaya untuk memenuhi kebutuhan uang kartal di masyarakat dalam jumlah nominal yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu dan dalam kondisi yang layak edar. Sementara itu, kebijakan yang ditempuh sektor pembayaran non tunai diarahkan pada upaya menciptakan sistem pembayaran yang efektif, efisien, aman dan handal. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan kebijakan mengurangi risiko pembayaran, meningkatkan efisiensi dan kualitas serta kapasitas layanan sistem pembayaran.

1. Evaluasi Perkembangan Sistem Pembayaran Tunai
Kondisi Umum Pengedaran Uang

Beberapa indikator pengedaran uang selama triwulan IV-2004 seperti jumlah uang yang diedarkan (UYD), aliran uang masuk (inflow) dan aliran uang keluar (outflow) mengalami peningkatan dibandingkan triwulan III-2004. Peningkatan outflow yang tercatat lebih tinggi dari peningkatan inflow menyebabkan persediaan kas Bank Indonesia yang tercermin dari jumlah posisi kas pada posisi akhir triwulan IV-2004 mengalami penurunan, sebagaimana terlihat pada tabel 5.1.
Tabel 5.1. Perkembangan Indikator Pengedaran Uang Miliar Rp
2004 INDIKATOR UK UYD POSISI KAS SETORAN YG BLM DIHITUNG UK/UL YG TDK LAYAK EDAR INFLOW OUTFLOW PEMUSNAHAN 67,276 6,772 1,938 65,607 53,059 22,813 Tw – I UL 268 2 24 61 80 5 Total 67,544 6,774 1,962 65,668 53,139 22,818 UK 50,947 4,662 642 59,700 69,562 22,032 Tw - II UL 288 1 33 54 102 15 Total 51,235 4,663 675 59,754 69,664 22,047 UK 59,020 5,535 823 64,473 65,119 19,502 Tw - III UL 272 1 31 41 102 23 Total 59,292 5,536 854 64,514 65,221 19,525 UK 44,443 12,607 991 74,943 84.699 21,738 Tw – IV UL 223 13 32 51 117 2 Total 44,666 12,620 1,023 74,994 84.816 21,740

100,215 2,139

103,238 111,190 2,373 113,563 113,615 2,461 116,076 124,319

2,576 126,895

Jumlah uang kartal yang diedarkan (UYD) pada posisi akhir triwulan IV-2004 sebesar Rp126,90 triliun atau meningkat sebesar 9,33% dibandingkan dengan posisi akhir triwulan III2004 yang mencapai sebesar Rp116,08 triliun. Jumlah UYD tertinggi selama tahun 2004

B ANK INDONESIA 51

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN

dicapai pada tanggal 11 November 2004 yaitu sebesar Rp141,32 triliun atau lebih besar dibandingkan dengan jumlah UYD tertinggi tahun 2003 sebesar Rp125,17 triliun yang terjadi pada tanggal 1 Desember 2004. Dilihat dari jumlah bilyet/keping uang kartal yang diedarkan Bank Indonesia, 89,52% merupakan uang pecahan Rp5.000 ke bawah, dan sisanya sebesar 10,48% merupakan uang kertas pecahan besar (Rp10.000 ke atas). Dari seluruh pecahan besar tersebut, uang yang paling banyak beredar di masyarakat adalah pecahan Rp50.000 dan Rp10.000 masing-masing sebesar 48,55% dan 20,62%. Aliran uang keluar (outflow) dari Bank Indonesia pada triwulan IV-2004 meningkat sebesar 30,06% dibandingkan triwulan sebelumnya, dari sebesar Rp65,22 triliun menjadi Rp84,82 triliun, sedangkan aliran uang masuk (inflow) hanya meningkat sebesar 16,25% dari sebesar Rp64,51 triliun menjadi Rp74,99 triliun. Peningkatan outflow yang lebih tinggi dari peningkatan inflow tersebut menyebabkan persediaan kas nasional yang tercermin dari jumlah posisi kas menurun dari Rp59,29 triliun pada akhir triwulan III-2004 menjadi Rp44,66 triliun pada posisi akhir triwulan IV-2004. Namun demikian, jumlah persediaan kas tersebut masih berada pada kisaran Kebutuhan Kas Minimum secara nasional sebesar 2 – 3 bulan outflow. Peningkatan outflow yang cukup signifikan pada triwulan IV-2004 tersebut terutama didorong oleh meningkatnya permintaan uang tunai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode hari raya keagamaan dan tahun baru.

1.2. Perkembangan Kegiatan Pengedaran Uang 1.2.1. Aliran Uang Keluar (Outflow) dan Aliran Uang Masuk (Inflow) Jumlah outflow pada triwulan IV-2004 sebesar Rp84,82 triliun meningkat sebesar 30,06% dibandingkan triwulan III-2004 yang mencapai sebesar Rp65,22 triliun. Secara regional, peningkatan outflow yang lebih tinggi dari peningkatan outflow nasional terjadi di Kantor Koordinator (KKBI) Medan, KKBI Bandung, Kantor Pusat, dan KKBI Makasar.
Tabel 5.2. Perkembangan Aliran Uang Keluar (Outflow) Miliar Rp
2004 SATKER UK KANTOR PUSAT KKBI MEDAN KKBI PADANG KKBI BANDUNG KKBI SEMARANG KKBI SURABAYA KKBI BANJARMASIN KKBI MAKASSAR TOTAL 17,225.71 3,673.70 4,271.04 6,862.94 5,013.40 8,631.12 3,643.59 3,737.89 53,059.38 Tw - I UL 42.12 5.33 4.04 8.38 4.48 8.52 3.64 3.11 79.61 Total UK Tw - II UL 51.31 7.23 5.19 10.51 5.99 11.73 6.06 4.06 Total 21,027.21 4,367.61 5,886.39 9,006.50 6,984.31 11,978.04 5,101.72 5,311.95 69,663.73 UK 20,638.76 3,856.27 5,277.92 7,551.74 6,494.69 11,430.58 4,869.34 4,999.74 Tw - III UL 44.84 8.80 5.29 12.58 5.85 11.73 6.27 7.02 Total 20,683.60 3,865.07 5,283.20 7,564.32 6,500.54 11,442.31 4,875.61 5,006.76 65,221.40 UK 27,774.80 5,238.75 6,833.63 10,184.96 8,138.38 13,786.27 6,099.01 6,642.72 84,698.51 Tw - IV UL 57.35 8.08 5.72 12.23 6.09 14.63 6.78 6.24 117.13 Total 27,832.15 5,246.83 6,839.35 10,197.20 8,144.46 13,800.90 6,105.79 6,648.96 84,815.64

17,267.83 20,975.90 3,679.03 4,275.08 6,871.32 5,017.88 4,360.38 5,881.20 8,995.99 6,978.32

8,639.64 11,966.31 3,647.23 3,741.00 5,095.66 5,307.89

53,139.00 69,561.65 102.08

65,119.03 102.38

B ANK INDONESIA 52

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN

Jumlah aliran uang masuk ke Bank Indonesia dari masyarakat dan bank (inflow) pada triwulan IV-2004 sebesar Rp74,99 triliun meningkat sebesar 16,25% dari triwulan III-2004 yang mencapai sebesar Rp64,51 triliun. Secara regional, peningkatan inflow tertinggi dicapai di KKBI Semarang dan KKBI Surabaya yang mencapai masing-masing sebesar 28,65% dan 23,10%.

Tabel 5.3. Perkembangan Aliran Uang Masuk (Inflow) Miliar Rp.
2004 SATKER UK KANTOR PUSAT KKBI MEDAN KKBI PADANG KKBI BANDUNG KKBI SEMARANG KKBI SURABAYA KKBI BANJARMASIN KKBI MAKASSAR TOTAL 14,372.02 4,759.34 4,355.68 13,778.08 8,209.95 11,744.36 3,700.00 4,687.84 65,607.27 Tw - I UL 7.11 0.73 0.30 27.62 21.36 2.67 0.16 1.15 61.09 Total 14,379.13 4,760.07 4,355.98 13,805.71 8,231.31 11,747.03 3,700.15 4,688.99 65,668.36 UK Tw - II UL Total 13,576.30 4,053.06 3,896.13 11,475.40 8,085.64 11,159.41 3,518.26 3,990.06 59,754.26 UK 4,423.99 4,366.96 Tw – III UL 2.91 0.07 Total 14,553.73 4,426.90 4,367.03 12,086.97 8,649.16 11,807.93 3,816.48 4,805.62 64,513.82 UK 15,915.88 5,031.04 4,882.48 14,019.40 11,115.41 14,534.42 4,427.09 5,017.48 74,943.20 Tw - IV UL 8.74 2.85 0.23 24.67 11.48 1.49 0.32 1.28 51.06 Total 15,924.62 5,033.89 4,882.71 14,044.07 11,126.89 14,535.91 4,427.40 5,018.77 74,994.26

13,567.17 9.13 4,051.43 1.63 3,896.03 0.10 11,454.08 21.32 8,068.82 16.82 11,155.39 4.02 3,518.16 0.10 3,989.10 0.96 59,700.18 54.08

14,544.97 8.75

12,070.36 16.61 8,639.65 9.51

11,805.70 2.23 3,816.40 0.08 4,804.56 1.07

64,472.59 41.23

Jumlah aliran uang keluar selama triwulan IV-2004 sebesar Rp84,82 triliun, sedangkan jumlah aliran uang masuk sebesar Rp74,99 triliun yang berarti pembayaran dan penukaran kepada bank dan masyarakat dari Bank Indonesia lebih besar dibandingkan dengan yang disetorkan ke Bank Indonesia atau terjadi net outflow. Jumlah net outflow pada periode tersebut tercatat sebesar Rp9,82 triliun, lebih tinggi dari net outflow yang terjadi selama triwulan III-2004 yang mencapai sebesar Rp0,71 triliun. Secara regional, KKBI yang mengalami net outflow selama triwulan IV-2004 terjadi di Kantor Pusat, KKBI Medan, KKBI Padang, KKBI Banjarmasin, dan KKBI Makassar. Sedangkan 3 KKBI di wilayah Pulau Jawa yaitu KKBI Bandung, KKBI Semarang, dan KKBI Surabaya mengalami net inflow.

B ANK INDONESIA 53

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN

Tabel 5.4. Perkembangan Net Aliran Uang Masuk/Keluar (Net Inflow/Net Outflow) Miliar Rp
2004 SATKER UK KANTOR PUSAT KKBI MEDAN KKBI PADANG KKBI BANDUNG KKBI SEMARANG KKBI SURABAYA KKBI BANJARMASIN KKBI MAKASSAR TOTAL Tw – I UL Total -2,888.70 1,081.04 80.91 6,934.38 3,213.43 3,107.39 52.92 947.99 12,529.37 UK -7,408.73 -308.95 -1,985.17 2,458.09 1,090.50 -810.92 -1,577.50 -1,318.79 -9,861.47 Tw - II UL -42.18 -5.60 -5.09 10.81 10.83 -7.71 -5.96 -3.10 -48.00 Total -7,450.91 -314.55 -1,990.26 2,468.90 1,101.33 -818.63 -1,583.46 -1,321.89 -9,909.47 UK -6,093.91 567.72 -910.96 4,518.62 2,144.96 375.13 -1,052.93 -195.18 -646.43 Tw – III UL -36.09 -5.89 -5.21 4.03 3.67 -9.50 -6.20 -5.96 -61.15 Total -6,129.87 561.83 -916.17 4,522.65 2,148.63 365.62 -1,059.13 -201.14 -707.58 UK -207.71 -1,951.15 3,834.44 2,977.03 Tw - IV UL -5.23 -5.49 12.43 5.39 Total -212.94 -1,956.64 3,846.87 2,982.43 735.01 -1,678.39 -1,630.20 -9,821.38

-2,853.69 -35.01 1,085.65 -4.60 84.64 -3.73 6,915.14 19.24 3,196.55 16.88 3,113.24 -5.85 56.41 -3.48 949.95 -1.96 12,547.89 -18.52

-11,858.92 -48.61 -11,907.53

748.16 -13.15 -1,671.92 -1,625.24 -6.47 -4.96

-9,755.31 -66.07

1.2.2. Pemusnahan Uang Dalam rangka mempertahankan kondisi uang yang layak edar, Bank Indonesia melakukan kegiatan pemusnahan uang terhadap uang yang sudah tidak layak edar. Pemusnahan uang oleh Bank Indonesia pada triwulan IV-2004 meningkat sebesar Rp2,21 triliun atau 11,32% dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu dari sebesar Rp19,53 triliun menjadi Rp21,74 triliun. Kegiatan pemusnahan uang selama triwulan IV-2004 paling banyak terjadi di KKBI Bandung, Kantor Pusat dan KKBI Surabaya, masing-masing sebesar 25,77%, 21,14% dan 16,53% dari total pemusnahan uang. Rasio pemusnahan uang terhadap inflow secara nasional sebesar 28,99%, sedangkan secara regional rasio tertinggi terjadi di KKBI Bandung, KKBI Medan, dan KKBI Padang yang masing-masing mencapai lebih dari 35%.
Tabel 5.5. Pemusnahan Uang Miliar Rp
2004 SATKER UK KANTOR PUSAT KKBI MEDAN KKBI PADANG KKBI BANDUNG KKBI SEMARANG KKBI SURABAYA KKBI BANJARMASIN KKBI MAKASSAR TOTAL 3,995.06 1,543.92 1,776.60 5,140.85 3,707.97 4,306.78 939.32 1,402.26 22,812.76 Tw - I UL 0.00 0.00 0.00 0.00 4.97 0.00 0.00 0.00 4.97 Total UK 3,995.06 4,445.65 1,543.92 2,361.32 1,776.60 1,421.47 5,140.85 4,237.80 3,712.94 3,742.34 4,306.78 3,758.00 939.32 884.19 Tw - II UL 0.00 0.00 0.00 2.79 10.66 1.75 0.00 0.00 Total 4,445.65 2,361.32 1,421.47 4,240.59 3,753.00 3,759.75 884.19 1,180.88 UK 3,805.56 1,860.06 1,354.81 4,836.52 2,604.54 3,099.39 725.09 1,216.19 19,502.15 Tw - III UL 0.00 0.00 0.00 7.67 11.93 3.56 0.00 0.00 23.16 Total 3,805.56 1,860.06 1,354.81 4,844.20 2,616.47 3,102.95 725.09 1,216.19 UK 4,596.35 1,940.34 1,750.68 5,601.63 2,260.76 3,592.25 888.49 1,107.42 Tw - IV UL 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 2.21 0.00 0.00 2.21 Total 4,596.35 1,940.34 1,750.68 5,601.63 2,260.76 3,594.46 888.49 1,107.42 21,740.12

1,402.26 1,180.88 22,817.73 22,031.65

15.20 22,046.85

19,525.32 21,737.91

B ANK INDONESIA 54

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN

1.3. Evaluasi Kebijakan Pengedaran Uang Sebagai satu-satunya lembaga yang berwenang mengeluarkan, mengedarkan, mencabut, menarik dan memusnahkan uang, Bank Indonesia berupaya memenuhi kebutuhan uang kartal di masyarakat dalam jumlah nominal yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu dan dalam kondisi yang layak edar. Adapun kebijakan yang telah ditempuh dan dilakukan dalam bidang sistem pembayaran tunai selama triwulan IV-2004 adalah sebagai berikut : 1.3.1. Pengeluaran Uang Emisi Baru Pengeluaran uang kertas emisi baru pecahan Rp100.000,00 dan Rp20.000,00 telah dilakukan pada tanggal 29 Desember 2004. Penerbitan uang kertas emisi baru tersebut dilakukan antara lain berdasarkan pertimbangan bahwa usia edar yang telah cukup lama serta bertujuan untuk menstandarisasi ukuran uang kertas, meningkatkan kualitas unsur pengaman yang mudah, cepat dikenali masyarakat antara lain dengan memasukkan unsur blind code, serta mengantisipasi perkembangan teknologi pengaman uang. Selain itu, Bank Indonesia juga mengeluarkan uang khusus, lelang nomor seri tertentu dan uncut notes (uang kertas bersambung) dengan nomor seri khusus untuk pecahan uang kertas emisi baru tersebut. Hasil lelang ini selanjutnya digunakan untuk mendanai kegiatan-kegiatan sosial termasuk sumbangan untuk korban bencana alam di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara. Langkah-langkah yang telah dilakukan sehubungan dengan pengeluaran uang kertas emisi baru tersebut antara lain: • • • Melakukan konferensi pers pada tanggal 25 November 2004 Melakukan pembahasan dan koordinasi dengan Peruri berkaitan dengan rencana pencetakan uang khusus. Melakukan distribusi ke seluruh wilayah Kantor Bank Indonesia (KBI).

Sementara itu, untuk uang kertas pecahan Rp10.000 dan Rp50.000 yang direncanakan akan dikeluarkan pada triwulan III-2005, saat ini masih dalam proses pengkajian unsur-unsur pengaman uang dan proses awal desain. 1.3.2. Realisasi dan Kegiatan Distribusi Uang Dalam rangka memenuhi kebutuhan uang kartal di seluruh wilayah di Indonesia, Bank Indonesia melakukan kegiatan distribusi/remise uang. Dalam rangka distribusi uang tersebut, Kebijakan Bank Indonesia diarahkan pada peningkatan efektivitas distribusi dengan menyusun rencana distribusi uang (RDU) yang sesuai dengan kebutuhan secara nasional maupun masingmasing Kantor Bank Indonesia (KBI), pengembangan sistem pemantauan transportasi yang mendukung keamanan dan kelancaran distribusi, serta peningkatan kerjasama dengan pihak terkait. Pelaksanaan pemenuhan kebutuhan kas Kantor Bank Indonesia di seluruh Indonesia pada tahun 2004 mencapai 103,22% atau terealisasi sebesar Rp96,74 triliun dari rencana distribusi sebesar Rp93,73 triliun yang berarti masih sesuai dengan target deviasi maksimal 10% dari total Rencana Distribusi Uang.

B ANK INDONESIA 55

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN

1.3.3. Program Kerja Sama Penukaran Uang Pecahan Kecil Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap uang pecahan kecil, Bank Indonesia telah melakukan kerjasama dengan pihak ketiga yaitu Perusahaan Penukaran Uang Pecahan Kecil (PPUPK) dalam menyalurkan uang pecahan Rp10.000 ke bawah kepada masyarakat tanpa dipungut biaya dan telah dilakukan di Kantor Pusat Bank Indonesia (KP) dan 7 Kantor Bank Indonesia (KBI) yaitu KBI Medan, KBI Palembang, KBI Padang, KBI Bandung, KBI Semarang, KBI Surabaya, KBI Denpasar, dan KBI Makassar. Dengan pertimbangan bahwa kegiatan layanan penukaran uang pecahan kecil tersebut cukup membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan uang pecahan kecil, maka pada tahun 2005 kegiatan tersebut akan di kembangkan di 5 KBI lainnya, sehingga pelayanan PPUPK akan meliputi wilayah KP dan 12 KBI. Dalam rangka meningkatkan pelayanan dan peran penukaran uang pecahan kecil kepada masyarakat oleh PPUK, selama periode menjelang hari raya keagamaan telah dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: a. Menambah jumlah plafon penukaran, sehingga mencapai 100% atau 2 kali lipat jumlah plafon penukaran normal selama periode menjelang dan masa liburan Lebaran. b. Membuka loket sementara di tempat-tempat kompleks perkantoran DPR-RI. yang dianggap strategis seperti di

c. Meningkatkan pelayanan penukaran di tempat-tempat keramaian seperti terminal bus, stasiun kereta api dan pasar-pasar tradisonal. d. Menginformasikan kepada masyarakat tentang kegiatan dan lokasi/ tempat penukaran yang dilayani oleh PPUPK baik melalui media cetak maupun elektronik. 1.3.4. Temuan Uang Palsu Uang palsu yang paling banyak ditemukan pada triwulan IV-2004 adalah pecahan Rp50.000 dan Rp100.000 masing-masing sebanyak 52,39% dan 24,45%. Rasio perbandingan antara temuan uang palsu terhadap UYD pada triwulan IV-2004 menunjukkan penurunan yaitu dari 0,0000003433 atau terdapat 3 lembar uang palsu pada setiap 10 juta bilyet uang yang diedarkan menjadi 0,0000001927 pada triwulan IV-2004 atau terdapat 2 lembar uang palsu setiap 10 juta bilyet uang yang diedarkan.

B ANK INDONESIA 56

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN

1.3.5. Upaya Peningkatan Pemahaman terhadap Ciri-ciri Keaslian Uang Rupiah Dalam rangka peningkatan pemahaman masyarakat terhadap ciri-ciri keaslian uang Rupiah, BI terus melakukan dan meningkatkan berbagai upaya baik yang bersifat preventif maupun represif, antara lain : a. Melakukan sosialisasi ciri-ciri keaslian uang rupiah kepada kalangan perbankan, mahasiswa, masyarakat umum, lembaga negara, dan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri serta wilayah perbatasan seperti Tahuna dan Atambua. b. Meningkatkan sosialisasi 3D (Dilihat, Diraba, dan Diterawang) melalui media elektronik seperti media televisi dan radio, media cetak, media terbatas seperti iklan layanan di kereta api, Cineplex, dan kerjasama dengan Persatuan Perfilman Keliling (Perfiki) serta melalui brosur/pamflet. c. Menyediakan sarana informasi kepada masyarakat dalam bentuk hotline services antara lain meliputi informasi ciri-ciri keaslian uang rupiah serta permasalahannya baik di Kantor Pusat maupun di Kantor Bank Indonesia serta melalui website BI. 1.3.6. Peningkatan Pelayanan Perkasan pada Periode Hari Raya Keagamaan Hari Raya Keagamaan yaitu Idul Fitri dan Natal berlangsung pada triwulan IV-2004. Menghadapi hari raya keagamaan tersebut telah ditempuh beberapa kebijakan yaitu : a. Memelihara kecukupan kas dan distribusi uang tunai ke kantor-kantor Bank Indonesia. b. Meningkatkan pelayanan dan peran penukaran uang pecahan kecil kepada masyarakat oleh PPUK khususnya menjelang hari raya Idul Fitri. c. Meningkatkan pelayanan kas oleh Bank Indonesia yaitu : d. Bank Indonesia tetap melayani penukaran uang kepada masyarakat melalui loketloket penukaran di seluruh kantor Bank Indonesia. e. Untuk memenuhi kebutuhan perbankan, Bank Indonesia telah meminta perbankan untuk menyampaikan rencana harian penarikan uang tunai selama 2 (dua) minggu menjelang hari raya. 1.3.7. Penyediaan Kecukupan Uang Tunai di Wilayah Bencana Alam Menjelang akhir triwulan IV-2004 telah terjadi bencana alam di wilayah Propinsi Nangroe Aceh Darussalam yang menyebabkan tidak dapat beroperasinya kegiatan perkasan di KBI Banda Aceh sejak tanggal 27 Desember 2004. Untuk mengantisipasi kebutuhan uang tunai di wilayah tersebut, telah dilakukan beberapa kebijakan jangka pendek sebagai berikut : a. b. Memfungsikan KBI Lhokseumawe untuk penyediaan uang tunai bagi Propinsi Nangroe Aceh Darussalam Distribusi uang tunai ke KBI Lhokseumawe melalui KBI Medan dan mengirimkan tenaga kasir guna membantu operasional KBI Lhokseumawe dan atau KBI Banda Aceh.

B ANK INDONESIA 57

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN

2. Evaluasi Kebijakan dan Perkembangan Sistem Pembayaran Non Tunai
Salah satu tugas pokok Bank Indonesia dalam rangka mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah adalah mewujudkan sistem pembayaran nasional yang efisien, cepat, aman dan handal. Berkaitan dengan hal tersebut, Bank Indonesia telah menempuh berbagai kebijakan dibidang sistem pembayaran non tunai yang menitikberatkan pada upaya penurunan risiko dan peningkatan efisiensi sistem pembayaran. Guna merealisasikan tujuan tersebut, Bank Indonesia melakukan serangkaian kegiatan antara lain penyusunan mekanisme Failure to Settle (FtS), pengembangan Sistem Kliring Nasional (SKN) dan Penerbitan Peraturan Bank Indonesia tentang Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran Dengan Menggunakan Kartu 2.1. Kebijakan Sistem Pembayaran Non Tunai 2.1.1. Penyusunan Skema Untuk Mengatasi Kegagalan Peserta Kliring dalam Penyelesaian Kewajiban Setelmen (Failure to Settle Scheme) Penyelesaian transaksi kliring pada akhir hari (net settlement) yang dilakukan saat ini memungkinkan timbulnya saldo debet pada rekening giro bank apabila bank gagal memperoleh dana dari pasar untuk menutup kekurangan tersebut. Hal ini merupakan risiko dalam sistem pembayaran yang seharusnya ditanggung oleh peserta kliring yang telah memanfaatkan jasa sistem pembayaran. Meskipun nilai settlement transaksi melalui sistem kliring sudah berkurang secara signifikan sejak diimplementasikannya sistem BI-RTGS, namun masih tetap terdapat kemungkinan bank tidak mampu memenuhi kewajiban settlement-nya dalam kliring. Berkaitan dengan hal tersebut Bank Indonesia akan menerapkan suatu mekanisme Failure to Settle Scheme yang bertujuan untuk meminimalisir risiko yang ditanggung Bank Indonesia dalam penyelenggaraan kliring. Pembahasan mengenai skema FtS telah dimulai sejak tahun 2003 dengan melibatkan pihak perbankan yang diwakili oleh Forum Komunikasi Sistem Pembayaran Nasional (FKSPN). Pembahasan ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan, pemikiran dan gagasan dari sisi praktek perbankan mengingat penerapan mekanisme FtS akan berdampak pada kegiatan operasional bank. Berdasarkan hasil pembahasan dengan FKSPN, pada prinsipnya perbankan telah sepakat bahwa risiko yang terdapat pada kliring selayaknya ditanggung oleh peserta kliring dan bukan oleh Bank Indonesia. Pada triwulan IV-2004, Bank Indonesia telah mensosialisikan rencana penerapan mekanisme FtS kepada seluruh pimpinan bank di Indonesia. Selain itu, saat ini tengah disusun perumusan ketentuan FtS dalam PBI Penyelenggaraan Kliring Antar Bank. Mengingat modul FtS merupakan bagian dari aplikasi Sistem Kliring Nasional (SKN) yang sedang dikembangkan, maka penerapan mekanisme FtS pada sistem kliring akan dilakukan bersamaan dengan penerapan Sistem Kliring Nasional (SKN) dan akan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama, penerapan mekanisme FtS akan dilakukan pada semester II tahun 2005 untuk wilayah kliring Jakarta dan Bandung. Dengan demikian pada saat implementasi tahap pertama tersebut ketentuan mekanisme FtS baru akan diberlakukan uji coba untuk wilayah kliring Jakarta dan Bandung. Untuk selanjutnya penerapan mekanisme FtS akan dilakukan secara bertahap di seluruh wilayah kliring.

B ANK INDONESIA 58

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN

2.1.2. Pengembangan Sistem Kliring Nasional (SKN) Sebagaimana telah dilaporkan pada triwulan sebelumnya, saat ini Bank Indonesia tengah mengembangkan kliring kredit paperless untuk mengakomodasi penyelesaian transaksi retail yang diproses melalui kliring baik dalam kota maupun antar kota diseluruh Indonesia. Mengingat seluruh sistem kliring yang digunakan saat ini merupakan satu kesatuan sistem baik digunakan untuk memproses warkat kredit maupun warkat debet, menyebabkan pengembangan kliring kredit akan berimplikasi terhadap sistem kliring secara keseluruhan. Berkaitan dengan hal tersebut, untuk meningkatkan efisiensi sistem pembayaran ritel yang dilakukan melalui mekanisme kliring, dikembangkan Sistem Kliring Nasional (SKN) yang mencakup pengembangan sistem kliring kredit paperless dan sistem kliring warkat debet. Dengan diimplementasikannya Sistem Kliring Nasional pelayanan transfer antar bank melalui kliring menjadi efisien dan lebih luas jangkauannya. Sampai dengan triwulan IV-2004 pengembangan SKN telah sampai pada tahap penyusunan capacity planning dan pengembangan aplikasi oleh pihak pengembang sesuai dengan user requirement yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia. Selain itu, guna memperlancar dan mempercepat kesiapan bank dalam menghadapi penerapan SKN tersebut, pada bulan Desember 2004 telah dilakukan sosialisasi mengenai aspek teknis SKN kepada seluruh bank. Direncanakan pengembangan SKN akan diimplementasikan pada bulan Juli 2005. 2.1.3. Penerbitan Peraturan Bank Indonesia tentang Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran Dengan Menggunakan Kartu Pengaturan kegiatan alat pembayaran berbasis kartu, termasuk pula kartu kredit merupakan salah satu pelaksanaan tugas Bank Indonesia dalam mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, sesuai Pasal 15 Undang-undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 3 Tahun 2004. Berdasarkan UUBI tersebut, Bank Indonesia berwenang antara lain melaksanakan dan memberikan persetujuan dan izin atas penyelenggaraan jasa sistem pembayaran dan mewajibkan penyelenggara jasa sistem pembayaran untuk menyampaikan laporan tentang kegiatannya. Persetujuan atau izin Bank Indonesia atas penyelenggaraan jasa sistem pembayaran dimaksudkan agar penyelenggaraan jasa sistem pembayaran memenuhi persyaratan, khususnya persyaratan keamanan dan efisiensi. Saat ini penggunaan alat pembayaran berbasis kartu (Kartu Kredit, Kartu ATM, Kartu Debet, dan Kartu Prabayar) oleh masyarakat sebagai alat pembayaran pengganti uang tunai menunjukkan peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahu. Penggunaan alat pembayaran berbasis kartu khususnya kartu kredit mengandung aspek pemberian kredit yang berisiko tinggi sehingga perlu dilengkapi oleh pengaturan yang komprehensif, jelas dan mengandung kepastian hukum. Berkaitan dengan hal tersebut, pada tanggal 28 Desember 2004 telah diterbitkan Peraturan Bank Indonesia No. 6/30/PBI/2004 yang mengatur mengenai penyelenggaraan kegiatan usaha alat pembayaran berbasis kartu. Pengaturan penyelenggaraan kegiatan alat pembayaran berbasis kartu tersebut ditujukan untuk meningkatkan keamanan dan kelancaran kegiatan alat pembayaran berbasis kartu, mendukung perkembangan industri alat pembayaran berbasis kartu secara sehat, dan untuk memastikan bahwa penyelenggara kegiatan tersebut

B ANK INDONESIA 59

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN

senantiasa menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menjalankan kegiatannya, serta menerapkan aspek perlindungan nasabah. PBI tentang Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran Dengan Menggunakan Kartu ini berlaku untuk kegiatan Alat Pembayaran Dengan Menggunakan Kartu, baik yang diselenggarakan oleh Bank ataupun Lembaga Selain Bank. Hal ini dimaksudkan untuk menerapkan pengaturan yang sama kepada seluruh penyelenggara kegiatan Alat Pembayaran Dengan Menggunakan Kartu sehingga dapat meningkatkan iklim persaingan yang sehat. Dalam ketentuan tersebut diatur mengenai aspek payment system regulation termasuk pengaturan mengenai kliring dan settlement pembayaran dengan menggunakan kartu, aspek perlindungan nasabah, aspek pengawasan, dan aspek prudential regulation. 2.2. Perkembangan Sistem Pembayaran Non Tunai 2.2.1. Perkembangan BI-RTGS Pada triwulan IV-2004, total aktivitas BI-RTGS mencapai nilai Rp. 5.736 triliun dengan jumlah transaksi sebanyak 1.365 ribu. Dibandingkan dengan triwulan III-2004, hal tersebut berarti terjadi peningkatan nilai transaksi sebesar 19,7% (dari Rp. 4.790 triliun) serta peningkatan volume transaksi sebanyak 3% (dari 1.324 ribu transaksi). Kondisi tersebut menyebabkan rata-rata harian (RRH) nominal transaksi mencapai Rp. 94 triliun (naik dari Rp. 77,3 triliun). Sementara RRH volume transaksi mencapai 22.383 transaksi (meningkat dari 21.364 transaksi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya).
31 29 26 24 170.00 21 rib u tra n s a k s i 19 16 14 11 9 6 4 1
4 /1 /2 0 0 4 4 /8 /2 0 0 4 4 /1 5 /2 0 0 4 4 /2 1 /2 0 0 4 4 /2 7 /2 0 0 4 5 /4 /2 0 0 4 5 /1 0 /2 0 0 4 5 /1 4 /2 0 0 4 5 /2 1 /2 0 0 4 5 /2 7 /2 0 0 4 6 /2 /2 0 0 4 6 /9 /2 0 0 4 6 /1 5 /2 0 0 4 6 /2 1 /2 0 0 4 6 /2 5 /2 0 0 4 7 /1 /2 0 0 4 7 /8 /2 0 0 4 7 /1 4 /2 0 0 4 7 /2 0 /2 0 0 4 7 /2 6 /2 0 0 4 7 /3 0 /2 0 0 4 8 /5 /2 0 0 4 8 /1 1 /2 0 0 4 8 /1 8 /2 0 0 4 8 /2 4 /2 0 0 4 8 /3 0 /2 0 0 4 9 /3 /2 0 0 4 9 /9 /2 0 0 4 9 /1 6 /2 0 0 4 9 /2 3 /2 0 0 4 9 /2 9 /2 0 0 4 1 0 /5 /2 0 0 4 1 0 /1 1 /2 0 0 4 1 0 /1 5 /2 0 0 4 1 0 /2 1 /2 0 0 4 1 0 /2 7 /2 0 0 4 1 1 /2 /2 0 0 4 1 1 /8 /2 0 0 4 1 1 /1 2 /2 0 0 4 1 1 /2 5 /2 0 0 4 1 2 /1 /2 0 0 4 1 2 /7 /2 0 0 4 1 2 /1 3 /2 0 0 4 1 2 /1 7 /2 0 0 4 1 2 /2 3 /2 0 0 4 1 2 /2 9 /2 0 0 4

Q-2/2004

Q-3/2004

Q-4/2004
220.00

trily u n R p

120.00

70.00

20.00

Nominal

Volume

Trend Nominal Transaksi RTGS

Trend Volume Transaksi RTGS

Grafik 5.1. Transaksi BI-RTGS

Sementara itu, berdasarkan asal perintah untuk transaksi antar bank yang melalui RTGS, maka bank umum swasta nasional (BUSN) merupakan pihak yang paling banyak melakukan transaksi baik secara nominal maupun volume. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya transfer dana untuk untung nasabah, besarnya aktivitas pasar uang antar bank, serta transaksi

B ANK INDONESIA 60

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN

fasilitas Bank Indonesia (atau FASBI yang berupa SBI, SWBI, serta OPT). Secara keseluruhan, transaksi antar bank untuk untung nasabah memiliki volume yang paling signifikan di dalam sistem RTGS. Hal ini menunjukkan bahwa nasabah (end user) merupakan pihak yang paling diuntungkan dengan keberadaan sistem RTGS.
Transaksi BI-RTGS Berdasarkan Pelaku Triwulan IV-2004
70%

60%

50%

40%

30%

20%

10%

0%

B.Asing

B.Campuran

B.Pemerintah

Bank Indonesia

BPD

BUSN

Non-Bank Switching

Nominal

Volume

Grafik 5.2. Transaksi BI-RTGS Berdasarkan Pelaku

Sementara itu, aliran dana antar bank di dalam BI-RTGS masih didominasi oleh kelompok BUSN. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok BUSN masih merupakan kelompok bank yang menjadi pendorong pertumbuhan jumlah nasabah bank.
Tabel 5.6. Profil Pangsa Aliran DanaDalam BI-RTGS

B ANK INDONESIA 61

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN

Sementara itu, waktu teraktif transaksi BI-RTGS terdiri atas : (a) secara nominal, pada rentang waktu sebelum 07.00 WIB (akibat tingginya transaksi antar bank untuk nasabah, transaksi tarik/setor uang tunai oleh bank yang perintahnya dikirim melalui RTGS yang diinput oleh bank sehari sebelumnya, serta pengkreditan kembali rekening bank oleh Bank Indonesia untuk pelunasan FASBI); sementara (b) secara volume, pada rentang waktu 13.00 – 14.00 WIB akibat dari mulai masuknya transaksi antar bank untuk nasabah (yang diinput pada hari tersebut), mulai aktifnya trasaksi PUAB, serta pelimpahan saldo kliring dari seluruh wilayah kliring.
M [> 6 PM] L [5 - 6 PM] K [4 - 5 PM] J [3 - 4 PM] I [2 - 3 PM] H [1 - 2 PM] G [12 - 1 PM] F [11 AM - 12 PM] E [10 - 11 AM] D [9 - 10 AM] C [8 - 9 AM] B [7 - 8 AM] A [< 7 AM] 0% 5% D [9 - 10 AM] 8.87% 4.94% E [10 - 11 AM] 11.92% 7.02% 10% F [11 AM 12 PM] 14.54% 9.44% 15% 20% 25% Total 100 % 100 %

A [< 7 AM] B [7 - 8 AM] C [8 - 9 AM] Volume Nominal 2.68% 23.58% 1.24% 4.18% 4.19% 4.55%

G [12 - 1 H [1 - 2 PM] I [2 - 3 PM] J [3 - 4 PM] K [4 - 5 PM] L [5 - 6 PM] M [> 6 PM] PM] 14.89% 12.99% 15.83% 7.62% 14.03% 8.37% 8.85% 8.11% 2.58% 8.65% 0.22% 0.43% 0.16% 0.12%

Grafik 5.3. Transaksi RTGS Berdasarkan Waktu

Dilihat dari wilayah asal perintah transaksi RTGS, maka wilayah Jakarta masih sangat mendominasi transaksi BI-RTGS baik dari sisi volume maupun nominal. 2.2.2. Perkembangan Kliring Untuk triwulan IV-2004, total nominal kliring penyerahan secara nasional mencapai Rp. 284,8 triliun dengan warkat sejumlah 15,8 juta lembar. Hal ini menunjukkan masingmasing penurunan nilai transaksi sebesar 23,4% (dari Rp. 371,8 triliun) serta volume transaksi sebanyak 27,9% (dari 22 juta transaksi) dibandingkan dengan periode triwulan III-2004. Hal

B ANK INDONESIA 62

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN

tersebut menyebabkan RRH nominal dan volume turun masing-masing sebesar 19,9% (dari Rp 6 triliun menjadi Rp 4,8 triliun) dan 24,5% (dari 356 ribu warkat menjadi 269 ribu warkat).

Juta Rp

Warkat

160,000,000

9,000,000

140,000,000

8,000,000

7,000,000 120,000,000 6,000,000 100,000,000 5,000,000 80,000,000 4,000,000

60,000,000

3,000,000

40,000,000 VII VIII IX
2002

2,000,000 X XI XII I II III IV V VI VII VIII IX
2003

X

XI XII

I

II

III

IV

V

VI VII VIII IX
2004

X

XI XII*

Volume

Value (Rp Juta)

Trend Bulanan Volume Transaksi Kliring

Trend Bulanan Nominal Transaksi Kliring

Grafik 5.4. Perkembangan Kliring Penyerahan Secara Nasional

Grafik 5.5. Nominal Kliring Penyerahan Berdasarkan Wilayah

Grafik 5.6. Volume Kliring Penyerahan Berdasarkan Wilayah

B ANK INDONESIA 63

EVALUASI KEBIJAKAN DAN PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN

Ditinjau dari wilayah kliringnya, wilayah kliring Jakarta dalam transaksi kliring penyerahan secara nasional memiliki pangsa 47% dari volume dan 48% secara nominal. Sementara itu, terkait dengan perkembangan aktivitas intercity clearing (IC) dalam triwulan laporan terjadi peningkatan dalam jumlah warkat dan nominal yang di-IC-kan. Nominal transaksi IC pada triwulan laporan sebesar Rp. 2,9 triliun atau naik sebanyak 21,9% dari Rp. 2,4 triliun pada triwulan sebelumnya. Sementara volume transaksi IC meningkat 9,4% dari 112 ribu pada triwulan III-2004 menjadi 122 ribu pada periode laporan. Hal tersebut menyebabkan RRH nominal IC triwulan laporan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya naik 25,9% (dari Rp. 39,5 miliar menjadi Rp. 49,7 miliar). Sedangkan RRH volume IC meningkat 13,9% (dari 1.832 transaksi menjadi 2.088 transaksi).

Rp Juta

Lembar

1,100,000 1,000,000 900,000 800,000 700,000 600,000 500,000 400,000 300,000 200,000 100,000 I II
2002

50,000

40,000

30,000

20,000

10,000

III IV V VI VII VIII IX X XI
2003

XII

I

II

III

IV

V

VI

VII

VIII

IX

X

XI

XII*

2004

Value IC (Rp Juta)

Volume IC

Poly. (Volume IC)

Poly. (Value IC (Rp Juta))

Grafik 5.7. Perkembangan Intercity Clearing

B ANK INDONESIA 64

PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN DI TRIWULAN MENDATANG

BAB 6 PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN DI TRIWULAN MENDATANG

tabilitas ekonomi makro yang telah terpelihara dan perbaikan pertumbuhan perekonomian di tahun 2004 diperkirakan akan memberikan pondasi yang semakin kokoh bagi peningkatan ekonomi di triwulan kedepan serta tahun 2005. Stabilitas ekonomi makro sebagaimana tercermin dari relatif rendahnya inflasi yang disertai dengan nilai tukar yang stabil diperkirakan akan dapat mendorong peningkatan kegiatan investasi pada triwulan I-2005. Peningkatan kegiatan investasi tersebut juga sangat didukung oleh komitmen pemerintah untuk mengoptimalkan upaya perbaikan iklim investasi termasuk diantaranya upaya mengakselerasi pembangunan infrastruktur. Sementara itu kondisi ekonomi global, meskipun sedikit mengalami perlambatan, dinilai juga masih cukup kondusif untuk menopang kegiatan ekonomi dalam negeri berorientasi ekspor, terutama masih tingginya harga komoditas non migas dan migas yang menjadi andalan ekspor Indonesia. Berdasarkan perkembangan di atas, pertumbuhan perekonomian Indonesia di triwulan I-2005 diperkirakan akan berkisar antara 5,0%-6,0% (yoy). Dari sisi permintaan, pertumbuhan diperkirakan akan didorong oleh tingginya kegiatan investasi dan ekspor. Sementara dari sisi penawaran, peningkatan nilai tambah diperkirakan akan berasal dari sektor industri pengolahan, pengangkutan, listrik, dan bangunan. Dalam triwulan I-2005, kestabilan nilai tukar diperkirakan masih akan dapat dipertahankan. Selain prospek kondisi makroekonomi yang membaik, kestabilan tersebut juga didukung oleh mengalirnya pasokan valas terutama yang berasal dari portfolio investment. Namun demikian, beberapa faktor risiko perlu diwaspadai diantaranya kemungkinan Fedres menaikkan sukubunga selama triwulan I-2005 yang diperkirakan dapat memicu pembalikan modal (capital reversals) terutama bila terdapat reaksi yang berlebihan (overreacted) seperti yang terjadi pada semester I-2004. Pergerakan nilai tukar yang stabil ini diharapkan akan memberikan pengaruh positif terhadap inflasi melalui ekspektasi harga yang membaik. Namun demikian, adanya rencana pemerintah untuk menaikan harga-harga administered, terutama harga BBM diperkirakan akan dapat memperngaruhi pencapaian target inflasi tahun 2005 yang ditetapkan Pemerintah sebesar 6% + 1%. Menghadapi meningkatnya potensi tekanan

S

B ANK I NDONESIA 65

PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN DI TRIWULAN MENDATANG

inflasi tersebut, kebijakan moneter ke depan tetap diarahkan pada upaya mencapai sasaran inflasi yang telah ditetapkan, namun dengan tetap menjaga momentum pertumbuhan yang sedang terjadi.

1. Prospek Sektor Eksternal
Pertumbuhan ekonomi global di triwulan I-2005 diperkirakan masih cukup kondusif walaupun mengalami perlambatan. Menurunnya permintaan global, masih tingginya harga barang komoditas, serta masih diadopsinya kebijakan moneter yang ketat oleh beberapa negara merupakan beberapa faktor yang akan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi global. Selain itu, berlangsungnya ketidakseimbangan global serta terhambatnya upaya pendinginan ekonomi Cina (hard landing economy) merupakan faktor yang ikut berperan dalam memperlambat laju pertumbuhan ekonomi di berbagai kawasan.
Tabel 6.1 Perkembangan dan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi
GDP USA Japan Euro United Kingdom China Indonesia Malaysia Singapore Korea Thailand Australia Selandia Baru
** proyeksi sumber: Consensus Forecast 6 Dec 2004

2004 Q1 4.5 3.9 1.4 3.4 9.8 5.1 7.8 7.5 5.3 6.7 4.0 5.1 Q2 3.3 3.0 2.1 3.6 9.6 4.5 8.2 12.5 5.5 6.4 4.5 5.7 Q3 4.0 2.7 1.8 3.1 9.1 5.0 6.8 7.5 4.6 6.0 3.0 4.8 Q4** 3.8 2.5 1.8 2.8 8.5 5.3 5.8 5.5 3.7 5.3 2.6 4.4 Q1 3.3 1.3 1.6 2.6 8.2 5.4 5.3 4.6 3.3 5.4 3.0 3.0 Q2 3.5 1.5 1.5 2.4 8.1 5.5 4.9 3.0 3.4 5.4 3.0 2.5

2005** Q3 3.6 1.7 1.7 2.3 8.0 5.5 5.2 4.7 4.6 5.6 3.4 2.2 Q4 3.5 1.6 1.9 2.2 7.9 5.4 5.3 5.1 5.1 5.5 3.2 2.2

Sejalan dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan volume perdagangan juga diperkirakan mengalami sedikit penurunan. Volume perdagangan dunia di tahun 2005 diperkirakan akan mencapai 8.4%1, lebih rendah dibandingkan tahun 2004 yang diperkirakan mencapai 10%. Namun demikian, level ini masih cukup tinggi dan cukup kondusif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi global. Demikian pula halnya dengan harga-harga komoditas internasiona, meskipun diperkirakan lebih rendah dari tahun sebelumnya tetapi tetap dalam level yang cukup tinggi. Indeks harga barang komoditas pada selama tahun 2005 diperkirakan akan mencaoai angka 116, sedikit menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencatat angka 121. Perkembangan tersebut diperkirakan masih dapat mendorong kinerja ekspor Indonesia di tahun 2005.

1

Proyeksi World Bank, November 2004

B ANK I NDONESIA 66

PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN DI TRIWULAN MENDATANG

%
12.0
10.2
140.00
120.73* 116.02*

10.0
8.4

120.00

8.0 6.0 4.0 2.0
3.7 5.5

7.8

100.00

103.37 95.96 96.50

100.00 80.00 60.00 40.00 20.00

0.0 2002 2003 2004e 2005f 2006f
0.00 2000
source: IFS Statistik * perkiraan

source: World Bank, Nov 2004 e = estimate, f = f orecast

2001

2002

2003

2004

2005

Grafik 6.1 Perkembangan Volume Perdagangan Dunia

Grafik 6.2 Indeks Harga Barang Komoditas

1.1. Prospek Harga Komoditas Internasional Prospek harga komoditas internasional baik migas dan non migas diperkirakan akan mengalami penurunan meskipun masih berada di posisi yang cukup tinggi. Seperti halnya komoditas non-migas, prospek harga minyak (migas) di triwulan I-2005 juga diperkirakan bergerak turun. Permintaan minyak yang menurun di tahun 2005 seiring dengan tidak terlalu buruknya kondisi musim dingin, bertambahnya persediaan negaranegara maju, terutama AS, serta meningkatnya penawaran dari negara-negara produsen minyak merupakan beberapa faktor penyebab turunnya harga minyak. Namun demikian, harga minyak di tahun 2005 masih berpotensi untuk meningkat mengingat permintaan Cina yang masih cukup tinggi dan persediaan minyak negara-negara maju masih berada dibawah level historisnya.

Grafik 6.3 West Texas Intermediate Crude Oil Price

Grafik 6.4 World Oil Demand Growth

1.2. Prospek Inflasi Global Tekanan inflasi global di triwulan I-2005 diperkirakan mulai berkurang seiring dengan mulai menurunnya permintaan dunia serta masih berlangsungnya siklus pengetatan moneter. Selain itu, penurunan harga barang komoditas, terutama minyak, serta deflasi dari barang impor --seiring dengan melemahnya mata uang USD -- diperkirakan akan mengurangi tekanan terhadap inflasi. Namun demikian, masih terdapat down-side risk yang berpotensi untuk meningkatkan tekanan inflasi, seperti naiknya kembali harga barang

B ANK I NDONESIA 67

PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN DI TRIWULAN MENDATANG

komoditas apabila permintaan dunia --terutama Cina-- untuk barang komoditas masih tetap tinggi. Sementara itu, siklus pengetatan moneter diperkirakan masih berlangsung di awal tahun 2005 seiring dengan masih adanya tekanan inflasi akibat pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di tahun 2004. Di AS dalam triwulan I-2005 terdapat dua pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) yang berpotensi menghasilkan keputusan kenaikan suku bunga mengingat masih diperlukannya upaya meredam tekanan inflasi serta upaya untuk menarik aliran dana asing guna membantu membiaya defisit anggaran AS yang terus membengkak. Sementara di kawasan Asia, sebagian besar negara-negara diperkirakan akan mengadopsi kebijakan moneter yang cenderung ketat namun tetap dilakukan secara terukur untuk tetap mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang sustainable. 1.3. Prospek Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Kinerja NPI di triwulan I-2005 diperkirakan akan diwarnai dengan masih surplusnya transaksi berjalan yang lebih baik dibandingkan dengan triwulan yang sama di tahun sebelumnya. Sementara itu, neraca modal diperkirakan akan mengalami defisit, seiring dengan meningkatnya pembayaran utang luar negeri pemerintah. Dengan kondisi tersebut kinerja NPI secara keseluruhan akan mengalami sedikit penurunan. Dengan perkembangan diatas, cadangan devisa diperkirakan akan berada pada level USD36,1 miliar atau setara dengan 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Namun demikian, apabila moratorium (penangguhan pembayaran utang luar negeri) oleh negara-negara donor disepakati maka hal tersebut akan mengakibatkan kondisi NPI akan menjadi lebih baik. Transaksi berjalan pada triwulan I-2005 diperkirakan masih mengalami surplus sebesar USD1,3 miliar, lebih baik dari triwulan yang sama tahun 2004 yang mencatat defisit USD 0,5 miliar. Surplus tersebut terutama bersumber dari ekspor yang diperkirakan tumbuh cukup tinggi sebesar 16,6% dengan motor utama masih disektor migas. Sementara impor migas diperkirakan tumbuh negatif dengan berkurangnya volume impor untuk konsumsi BBM domestik dibanding tahun sebelumnya. Dengan perkembangan tersebut, rasio transaksi berjalan terhadap PDB akan meningkat dari triwulan sebelumnya menjadi 2,7%2. Secara umum, kinerja ekspor masih mendapat dukungan utama dari sektor primer terutama migas sejalan dengan perkiraaan harga minyak yang masih tinggi (sekitar USD38 per barrel). Sementara itu, untuk kinerja ekspor non-migas khususnya di sektor industri diperkirakan akan menghadapi tantangan yang cukup berat dengan semakin ketatnya persaingan. Ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) dengan pangsa yang cukup besar
Indikator rasio transaksi berjalan thd PDB secara triwulanan dihitung dengan meng-annualized data triwulanan baik untuk transaksi berjalan maupun PDB.
2

B ANK I NDONESIA 68

PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN DI TRIWULAN MENDATANG

menghadapi dimulainya penghapusan kuota. Dalam masa transisi ini, ekspor TPT diperkirakan mengalami penurunan meskipun dalam jangka menengah berdampak tidak terlalu besar3 mengingat berbedanya jenis ekspor TPT Indonesia dibandingkan negara lain dan kelengkapan struktur produksi (dari hulu ke hilir). Produsen yang sebelumnya mempunyai pasar ke negara kuota, setidaknya membutuhkan waktu untuk melakukan penetrasi ke negara pasaran yang baru sambil melakukan spesialisasi produk untuk tetap bertahan dipasaran negara eks kuota. Pada triwulan I-2005, arus masuk modal swasta yang berasal dari foreign direct investment (FDI) dan foreign portfolio investment (FPI) diperkirakan cukup besar sehingga LLM (lalu lintas modal) swasta menjadi surplus USD0,2 miliar. Namun di sisi pemerintah, besarnya beban pembayaran ULN (USD1,8 miliar) dan rendahnya perkiraan realisasi bantuan proyek mengakibatkan defisit yang cukup besar. Perkembangan tersebut menjadikan total LLM diperkirakan defisit USD1,3 miliar. Mengingat defisit terjadi pada sektor pemerintah dampaknya terhadap nilai tukar diperkirakan akan minimal. Dengan berbagai perkembangan tersebut, NPI secara keseluruhan mengalami defisit sebesar USD267 juta sehingga posisi cadangan devisa menjadi USD36,1 miliar atau setara dengan 5,2 bulan impor dan pembayaran ULN pemerintah.

2. Prospek Sektor Riil
Perekonomian Indonesia di triwulan I-2005 diperkirakan akan tumbuh pada kisaran berkisar 5,0%-6,0% (yoy). Dari sisi permintaan, pertumbuhan tersebut diperkirakan akan didorong oleh tingginya kegiatan investasi dan ekspor. Sementara dari sisi penawaran, peningkatan nilai tambah diperkirakan akan berasal dari sektor industri pengolahan, pengangkutan, listrik, dan bangunan. Perkiraan pertumbuhan ekonomi tersebut juga sejalan dengan perkembangan Leading Indicator Economy yang masih memperlihatkan fase ekspansi.
103 102

101

101

101 99 100 97 100 95 PDB Cli+11 (RHS) 93 99 99

91 123456789 112 101 123456789 112 10 123456789 112 1 101123456789 11 123456789112 10 12 10 123456789 112 1 101123456789 11 123456789112 10 12 10 123456789 112 1 101 123456789 112 10 123456789 1 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005

98

Grafik 6.5 Economic Leading Indicator
3

Porsi ekspor TPT Indonesia ke negara-negara kuota (Amerika, UE, Norwegia, dan Kanada) setiap tahun rata-rata mencapai 60 persen dari total ekspor TPT nasional

B ANK I NDONESIA 69

PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN DI TRIWULAN MENDATANG

2.1. Prospek Permintaan Agregat Secara keseluruhan, perekonomian Indonesia tahun 2005 diperkirakan akan menunjukkan pemulihan ekonomi yang semakin kuat. Komitmen pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi serta rencana pemerintah untuk mengakselerasi pembangunan infrastruktur menjadi salah satu faktor penting pembentuk ekspektasi positif yang melatarbelakangi perkiraan membaiknya pertumbuhan ekonomi pada tahun ini. Berdasarkan hal ini, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2005 diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 5.0 – 6.0% (yoy).
Tabel 6.2 Proyeksi PDB Sisi Permintaan
R in c ia n I
5 .6 5 1 0 .4 5 6 .1 3 8 .2 7 6 .6 1 1 .0 5 1 8 .7 3 5 .1 0

2004 II
5 .2 6 4 .6 0 5 .1 9 1 2 .5 3 6 .8 0 4 .0 6 2 3 .7 1 4 .5 4

III
5 .0 9 - 2 .7 4 4 .2 0 1 3 .0 9 6 .1 9 1 9 .8 5 2 9 .8 7 5 .0 3

IV *
5 .5 1 4 .6 6 .7 1 4 .8 8 .4 1 6 .3 1 3 .8 5 .2

2004
5 . 2 - 5 .7 6 .7 - 7 .2 5 .4 5 .9 1 2 .0 - 1 2 .5 6 . 8 - 7 .3 1 0 .0 - 1 0 .5 2 1 .2 - 2 1 .7 4 . 5 - 5 .0

yo y(%) 2005* I
5 .0 - 6 . 0 3 .6 - 4 . 6 4 .8 - 5 . 8 1 1 .5 - 1 2 .5 6 .4 - 7 . 4 1 3 .0 - 1 4 .0 9 . 4 - 1 0 .4 5 .0 - 6 . 0

K o n s u m s i S w a s ta K o n s u m s i P e m e r in t a h T o ta l K o n s u m s i T o ta l In v e s t a s i Pe r m in t a a n D o m e s t ik Ek s p o r B a r a n g d a n J a s a Im p o r B a r a n g d a n J a s a

PDB

140

120 optimis 100

Indeks Keyakinan Konsumen Kondisi Ekonomi Saat Ini Ekspektasi Konsumen

80

60

40 Apr Mei Jun Jul Agt Sep Oct Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Oct Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Oct Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Oct Nov 2001 2002 2003 2004

Grafik 6.6 Indeks Keyakinan Konsumen

Peningkatan konsumsi swasta masih akan terus terjadi pada awal triwulan 2005 ini, yang didorong oleh peningkatan pendapatan disposable sejalan dengan naiknya pertumbuhan ekonomi. Hasil proyeksi ini juga didukung oleh hasil survei konsumen yang menunjukkan semakin membaiknya ekspektasi konsumen. Selain itu, sisi pembiayaan yang mendukung seperti yang tercermin dari kredit konsumsi yang terus meningkat juga memberikan sumbangan tidak kecil bagi kenaikan konsumsi. Dengan pertimbangan tersebut di atas, maka konsumsi swasta diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 5,0 – 6.0% yoy, yang berarti relatif sama dibandingkan triwulan sebelumnya.

B ANK I NDONESIA 70

PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN DI TRIWULAN MENDATANG

Sementara itu sejalan dengan penurunan beberapa pos dalam APBN 2005 yang terkait dengan konsumsi pemerintah, maka konsumsi pemerintah untuk keseluruhan tahun 2005 diperkirakan akan melambat dari tahun sebelumnya. Sejalan dengan hal ini, pada triwulan I-2005 konsumsi pemerintah diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 3,6 – 4,6% yoy, melambat dari triwulan sebelumnya. Mengawali tahun 2005, kegiatan investasi diperkirakan akan mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi, yaitu dalam kisaran 11,8 –12,3%. Komitmen pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi termasuk diantaranya fokus pemerintah untuk pembangunan infrastruktur (seperti tertuang dalam program 100 hari pemerintah) merupakan pendorong utama bergairahnya kegiatan investasi di tahun 2005 ini. Perkembangan positif ini tercermin pula dari penguatan kepercayaan pebisnis seperti yang terungkap dalam hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha yang menunjukkan semakin meningkatnya jumlah responden yang memiliki persepsi positif terhadap situasi bisnis dalam 6 bulan ke depan. Pada triwulan I-2005 kegiatan ekspor diperkirakan juga akan tumbuh cukup tinggi, yaitu dalam kisaran 13,0 – 14,0%. Pertumbuhan ekspor yang cukup tinggi ini antara lain didukung oleh perkiraan meningkatnya kapasitas produksi di sejumlah sub-sektor industri. Indikasi peningkatan ini terlihat dari tren tingginya impor bahan baku maupun modal sejak tahun lalu. Sementara itu volume perdagangan dunia, meskipun tahun ini diperkirakan tidak akan secerah tahun lalu, namun diperkirakan masih cukup kondusif untuk kegiatan ekspor kita. Seiring dengan peningkatan permintaan domestik dan ekspor, maka kegiatan impor diperkirakan juga akan mengalami peningkatan. 2.2. Prospek Penawaran Agregat Secara sektoral, seluruh sektor ekonomi kecuali pertambangan diperkirakan mengalami peningkatan selama triwulan I-2005. Sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah pengangkutan (transportasi), perdagangan, dan bangunan. Sementara itu, sektor industri pengolahan masih tetap mengalami pertumbuhan yang negatif seperti periode-periode sebelumnya. Industri Pengolahan diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya atau pada kisaran 5,2%-6,2% di triwulan I-2005. Sub sektor industri alat angkutan, sub sektor kimia serta sub sektor semen diperkirakan akan tumbuh cukup tinggi. Seiring dengan itu utilisasi di industri pengolahan-pun diperkirakan akan mengalami peningkatan dan secara rata-rata akan berada pada tingkat di atas 70%. Sektor Pertanian diperkirakan akan mengalami sedikit perlambatan pertumbuhan terkait dengan mundurnya pelaksanaan musim tanam Oktober-Maret pada sebagian areal tanam, khususnya areal tadah hujan (mencapai sekitar 20% dari luas areal tanam). Namun demikian, penundaan tersebut hanya akan menyebabkan penurunan produksi pada awal triwulan. Dengan kondisi tersebut sektor pertanian diperkirakan akan tumbuh berkisar 2,8%-3,8% di triwulan I-2005.

B ANK I NDONESIA 71

PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN DI TRIWULAN MENDATANG

Sektor bangunan diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 7,2%-8,2% pada triwulan I-2005. Dimulainya pembangunan beberapa proyek besar seperti pembangunan prasarana jalan dan pelabuhan maupun masih berlangsungnya pembangunan beberapa proyek properti seperti pembangunan bandara baru maupun renovasi bandara lama di beberapa kota, serta pembangunan pertokoan akan menjadi faktor utama pendorong kinerja sektor bangunan pada triwulan ini. Sektor Pertambangan diperkirakan mengalami perbaikan kinerja walaupun masih akan tumbuh negatif pad kisaran -4,1%--3,1%. Industri tambang batu bara diperkirakan akan semakin baik kinerjanya. Indonesia saat ini memiliki potensi batubara yang relatif besar mencapai 57,8 miliar ton dengan cadangan yang siap dieksploitasi mencapai 6,9 miliar ton. Sebagian besar, sumberdaya batubara berlokasi di pulau Kalimantan (52%) dan Sumatera (47%). Kebutuhan domestik akan batu bara diperkirakan akan meningkat seiring dengan adanya diversifikasi sumber energi di beberapa industri. Sektor listrik, gas dan air bersih diperkirakan akan mengalami sedikit peningkatan dibandingkan triwulan IV-2004 yaitu akan tumbuh sekitar 4,7%-5,7% di triwulan I-2005. Perkiraan akan meningkatnya konsumsi listrik baik dari industri maupun rumah tangga akan mendorong industri kelistrikan untuk menambah jaringan trasmisi serta kapsitas terpasangnya.
Tabel 6.3 Perkiraan Produksi dan Konsumsi Batubara
juta ton Tahun 2002 (aktual) 2003 (aktual) 2004 2005 Produksi Listrik 103.3 114.6 135.7 141.6 20.0 21.0 23.7 27.6 Konsumsi Domestik Semen Lain2 4.7 5.0 5.5 6.0 4.5 4.6 5.0 5.5 Ekspor 74.2 85.7 101.5 102.5

Total 29.2 30.6 34.2 39.1

Sumber : Departemen ESDM

Tabel 6.4 Jumlah Pelanggan Listrik
Jenis Tarif Rmh Tangga Industri Bisnis Sosial Kantor Penerangan TOTAL Growth(%) 2000 26,796,675 44,337 1,062,995 582,811 79,453 23,174 28,589,445 3.9 2001 27,885,612 46,014 1,172,274 608,713 79,746 35,396 29,827,755 4.3 2002 28,903,325 46,824 1,245,709 633,114 80,954 43,993 30,953,919 3.8 2003 29,997,554 46,818 1,310,686 659,034 83,810 53,514 32,151,416 3.9 2004* 31,147,373 47,681 1,405,757 686,597 85,322 71,115 33,434,853 4.0

Sumber : Departemen ESDM

B ANK I NDONESIA 72

PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN DI TRIWULAN MENDATANG

Sektor pengangkutan dan komunikasi khususnya di sub sektor komunikasi diperkirakan tumbuh masih cukup tinggi sementara sub sektor pengangkutan diperkirakan akan mengalami sedikit perlambatan. Dengan perkiraan tersebut sektor pengangkutan dan komunikasi akan tumbuh sedikit melambat dibanding triwulan sebelumnya yaitu pada kisaran 13,6%-14,6%. Sektor perdagangan juga diperkirakan akan mengalami sedikit perlambatan kinerja setelah mengalami pertumbuhan tinggi pada akhir tahun 2004. Pada triwulan I-2005, sektor ini akan mengalami pertumbuhan sekitar 8,0%-9,0%, sejalan dengan perkiraan Asosiasi Peritel Indonesia (APERINDO) mengenai pertumbuhan penjualan ritel yang mencapai 25-30% selama tahun 2005.
Tabel 6.5 Proyeksi PDB Sisi Penawaran
% (y o y)

Rincian

2003

2004 I II III IV* 3.3 -6.1 5.2 4.8 8.0 9.2 14.4 6.2 4.7 5.2

2004* 3.0 -5.9 5.2 4.4 7.9 8.0 13.6 5.4 4.4 4.5 3.5 -5.4 5.7 4.9 8.4 8.5 14.1 5.9 4.9 5.0 2.8 -4.1 5.2 4.7 7.2 8.0 13.6 6.2 4.2 5.0

2005 I* 3.8 -3.1 6.2 5.7 8.2 9.0 14.6 7.2 5.2 6.0

Pertanian 3.07 5.67 1.75 2.39 Pertambangan -1.57 -3.05 -7.35 -5.96 Industri Pengolah 5.02 5.41 6.06 5.28 Listrik 5.87 4.99 5.48 3.40 Bangunan 6.31 7.57 7.94 8.89 Perdagangan 5.30 6.41 7.98 9.44 Pengangkutan 11.56 12.87 13.81 14.19 Keuangan 6.88 4.91 4.73 6.67 4.07 4.55 4.93 4.54 Jasa-Jasa
PDB 4.51 5.10 4.54 5.03

3. Prospek Sektor Fiskal
Pada triwulan I-2005, kebijakan fiskal masih tetap dilakukan secara hati-hati (prudent fiscal policy). Oleh karena itu defisit anggaran pemerintah akan selalu diupayakan tidak terlalu besar dan masih dalam kondisi yang aman (managable level), sehingga fiscal suistability dapat tetap terjaga. Dalam periode tersebut, penerimaan diperkirakan masih dominannya bila dibandingkan dengan pengeluaran. Sejalan dengan itu, kontribusi operasi keuangan pemerintah terhadap kondisi moneter pada triwulan I-2005 diperkirakan juga akan berdampak kontraktif. Strategi dan arah operasi keuangan pemerintah baik pada APBN 2005 maupun pada skenario perubahan operasi keuangan pemerintah menjadi defisit 1,0% mengimplikasikan arah kebijakan fiskal 2005 dibandingkan 2004 berada dalam kondisi kontraktif. Estimasi lebih rinci mengindikasikan bahwa pada triwulan I-2005, kebijakan fiskal akan berada dalam arah kontraktif dibandingkan triwulan yang sama tahun 2004 sejalan dengan perkiraan masih lebih dominannya sisi penerimaan pajak dibandingkan pengeluaran. Berdasarkan jenis pengeluarannya, komponen konsumsi diperkirakan akan dominan dalam mempengaruhi belanja pemerintah pusat.

B ANK I NDONESIA 73

PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN DI TRIWULAN MENDATANG

4. Prospek Inflasi
Secara umum, perkembangan inflasi di triwulan I-2005 kedepan akan banyak diwarnai oleh rencana diberlakukannya kenaikan harga BBM oleh pemerintah. Meskipun demikian besarnya pengaruh tersebut masih tergantung pada besarnya kenaikan, waktu penerapan, dan dampak tunda dari second round effect. Sementara itu disisi penawaran, pasokan bahan makanan baik dari sisi produksi domestik maupun impor diperkirakan masih akan terjaga, meskipun terdapat berbagai bencana alam di beberapa wilayah di Indonesia. Disamping itu, tekanan inflasi dari sektor ekstenal diperkirakan akan relatif minimal dengan perkembangan nilai tukar ke depan yang diperkirakan semakin membaik. Kedua faktor positif tersebut diharapkan akan mampu meredam tekanan inflasi yang berasal dari kenaikan harga akibat kenaikan harga BBM.

5. Prospek Uang Primer
Base money (test date) pada triwulan I-2005 diperkirakan secara tahunan tumbuh rata-rata sekitar 12,2 – 13,2%. Di sisi lain, posisi base money akhir triwulan I-2005 (end of period) diperkirakan akan menurun Rp17,7 triliun seiring dengan pola musiman kembalinya uang kartal ke sistem perbankan. Sementara itu, dari sisi penawaran diperkirakan akan terjadi penambahan likuiditas sekitar Rp12,6 triliun. Kedua hal ini mengakibatkan likuiditas perbankan meningkat sebesar Rp5,0 triliun.

6. Prospek Nilai Tukar Rupiah
Untuk triwulan I-2005, rata-rata nilai tukar rupiah diperkirakan akan sedikit menguat dibanding kondisi akhir tahun. Secara umum, optimisme pergerakan rupiah tersebut didukung oleh cukup kondusifnya kondisi eksternal dan internal yang mempengaruhi terjaganya kondisi supply-demand valas, yang pada gilirannya turut menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Dari sisi permintaan valas, sejalan dengan meningkatnya kegiatan investasi dan konsumsi maka kegiatan impor diperkirakan juga akan mengalami peningkatan. Hal ini membawa konsekuensi terhadap meningkatnya permintaan valas. Namun demikian, sumber pasokan valas yang berasal dari ekspor diperkirakan meningkat sejalan dengan kinerja ekspor non-migas yang semakin membaik. Sumber pasokan valas lain yang cukup penting adalah berasal dari aliran modal asing (capital inflows) terutama yang berjangka pendek yang diperkirakan terus berlanjut –setelah sempat mengalami adjustment guna merealisasikan keuntungan di akhir tahun. Berbagai faktor positif dalam negeri akan mempengaruhi insentif investor asing dalam menanamkan dananya. Peningkatan rating serta outlook utang oleh beberapa lembaga selama tahun 2004 merupakan bukti

B ANK I NDONESIA 74

PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN DI TRIWULAN MENDATANG

membaiknya risiko domestik yang pada gilirannya dapat meningkatkan kepercayaan investor kepada Indonesia. Faktor lain yang menjadi daya tarik Indonesia sebagai alternatif investasi –jangka pendek— adalah masih cukup menariknya imbal hasil rupiah. Meski prospek ke depan cukup positif, namun beberapa perkembangan dari sisi eksternal perlu diwaspadai. Pergerakan USD yang cenderung terdepresiasi dalam jangka panjang akibat permasalahan twin deficit, dapat berfluktuasi (terkoreksi) dalam jangka pendek terutama terkait dengan berlanjutnya siklus pengetatan ekonomi AS. Dalam triwulan I-2005, Fedres merencanakan adanya FOMC sebanyak dua kali yaitu pada awal Februari dan pertegahan Maret. Bila data perekonomian AS membaik maka pasar akan kembali melakukan antisipasi terhadap kenaikan suku bunga Fedres. Fenomena ini berpeluang membuat rupiah akan mengalami tekanan melalui transmisi ekspektasi kenaikan suku bunga luar negeri.

7. Arah Kebijakan Triwulan Kedepan
Memasuki triwulan I-2005, kestabilan ekonomi makro diperkirakan akan terus terpelihara. Kondisi tersebut diharapkan akan dapat digunakan sebagai pondasi untuk mengakselerasikan pertumbuhan ekonomi yang disertai dengan pola ekspansi yang lebih seimbang dimana peran investasi dan ekspor mengalami terus peningkatan. Meskipun demikian, rencana kenaikan beberapa harga-harga administered (administered price) terutama harga BBM triwulan I-2005 perlu diwaspadai mengingat hal tersebut dapat berpengaruhi terhadap pencapaian target inflasi tahun 2005 yang ditetapkan Pemerintah sebesar 6% + 1%. Berdasarkan perkembangan tersebut diatas, kebijakan moneter ke depan tetap diarahkan pada upaya mencapai sasaran inflasi yang telah ditetapkan, namun dengan tetap menjaga momentum pertumbuhan yang sedang terjadi. Secara operasional, kebijakan moneter tersebut dilakukan dengan mengarahkan uang primer berada pada proyeksi indikatifnya yakni rata-rata tumbuh sebesar 11,5 - 12,5% pada tahun 2005. Untuk meningkatkan efektivitas kebijakan moneter Bank Indonesia akan menggunakan suku bunga sebagai instrumen kebijakan moneter pada pertengahan tahun 2005. Penggunaan target operasional suku bunga sebagai pengganti base money dalam pengendalian moneter ini juga dimaksudkan agar kebijakan moneter lebih fleksibel dalam merespon dinamika perekonomian yang terjadi serta memberikan sinyal yang lebih mudah dibaca oleh pasar. Di bidang perbankan, kebijakan dalam triwulan mendatang diarahkan untuk melanjutkan upaya-upaya untuk mempertahankan stabilitas sistem keuangan dan perbankan serta mendorong peningkatan fungsi intermediasi perbankan dsiesuaikan dengan arah kebijakan perbankan kedepan yakni : (i) Mengakselerasi proses konsolidasi industri perbankan melalui penyelesaian proses konsolidasi individual bank dalam tahun 2005, (ii) Mengimplementasi langkah-langkah penguatan infrastruktur sistem keuangan antara lain melalui pendirian LPS, penyempurnaan ketentuan yang terkait dengan good

B ANK I NDONESIA 75

PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN DI TRIWULAN MENDATANG

corporate governance perbankan, melanjutkan program sertifikasi manajemen risiko, persiapan pembentukan Credit Bureau; (iii) Penguatan aspek-aspek prudential dan peningkatan fungsi intermediasi melalui penyempurnaan ketentuan BMPK, Sistem Informasi Debitur (SID), dan Sekuritisasi Aset, Kualitas Aktiva Aset, Pinjaman luar negeri, serta penyelesaian pengaduan nasabah dan perlindungan nasabah dan transparansi informasi produk perbankan. Penguatan aspek-aspek pridensial dan peningkatan fungsi intermediasi tersebut melalui penyempurnaan beberapa ketentuan tersebut akan dikeluarkan pada bulan Januari 2005 dalam bentuk Paket Kebijakan Perbankan. Dalam paket kebijakan tersebut, juga akan diatur pula perlakukan khusus terhadap kredit bank umum di Provinsi NAD dan Kabupaten Nias. Di bidang sistem pembayaran tunai, kebijakan tetap diarahkan pada upaya untuk memenuhi kebutuhan uang kartal di masyarakat dalam jumlah nominal yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu dan dalam kondisi yang layak edar. Terkait dengan hal tersebut, pada triwulan mendatang Bank Indonesia tetap mengupayakan pemenuhan kebutuhan uang tunai di seluruh wilayah di Indonesia sesuai dengan rencana distribusi serta memantau kecukupan persediaan kas. Sementara itu, dalam rangka memenuhi kebutuhan uang kartal di wilayah bencana di Propinsi Nangroe Aceh Darusalam ditempuh beberapa langkah antara lain dengan mengoperasikan kegiatan pelayanan kas sementara bertempat di rumah dinas Bank Indonesia, memfungsikan KBI Lhokseumawe untuk mensupply uang tunai ke KBI Banda Aceh di bawah koordinasi KKBI Medan, serta mengirimkan tenaga kasir Kantor Pusat untuk membantu operasional perkasan di KBI Banda Aceh maupun KBI Lhokseumawe. Selain itu, Bank Indonesia akan melanjutkan langkah-langkah penanggulangan uang palsu antara lain melalui perluasan jejaring dan kerjasama dengan pihak-pihak terkait pada langkah penanggulangan uang palsu. Sejalan dengan itu, upaya-upaya publikasi dalam rangka pengenalan masyarakat atas ciri-ciri keaslian uang Rupiah akan dilanjutkan melalui media elektronik dan media cetak. Di bidang sistem pembayaran non tunai, kebijakan tetap diarahkan untuk melanjutkan upaya-upaya pengurangan risiko pembayaran, peningkatan kualitas dan kapasitas layanan sistem pembayaran serta pengaturan pengawasan sistem pembayaran guna mewujudkan sistem pembayaran yang cepat, aman, dan efisien. Dalam rangka meminimalkan risiko, meningkatkan efisiensi dan kesetaraan (fairness) dalam sistem pembayaran serta adanya perlindungan konsumen bagi pemakai jasa sistem pembayaran, maka dalam tahun 2005 Bank Indonesia akan mengimplementasikan beberapa program yang telah disusun pada tahun 2004 dan penyusunan ketentuan antara lain pelaksanaan FtS, Sistem Kliring Nasional, pelaksanaan pengawasan sistem pembayaran dengan menggunakan kartu dan sosialisasi untuk memperlancar implementasi Daftar Hitam Nasional (DHN)

B ANK I NDONESIA 76

LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 EVALUASI KEBIJAKAN MANAJEMEN INTERN

S

ektor Manajemen Intern pada dasarnya diarahkan untuk menjadi strategic partner bagi sektor moneter, perbankan, dan sistem pembayaran dalam mencapai tujuan Bank Indonesia.

1. Kebijakan Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)
Pada periode triwulan IV-2004, Bank Indonesia telah menyempurnakan 5 (lima) Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia yaitu Sistem Promosi Penghargaan, Sistem Penggajian dan Insentif Dewan Gubernur, Sistem Penggajian dan Insentif Pegawai, Sistem Batas Usia Pensiun dan Sistem Penilaian Prestasi dan Perilaku Kerja Pegawai (SP3K). Selain itu telah juga diselesaikan 3 (tiga) ketentuan yang perlu disesuaikan sebagai dampak dari ditetapkannya Sistem Penggajian dan Insentif Dewan Gubernur serta Pegawai dimaksud yaitu Sistem Kepangkatan, Ketentuan mengenai Fasilitas Dewan Gubernur, dan Ketentuan mengenai Pajak Penghasilan Pegawai dan Anggota Dewan Gubernur. Seluruh sistem dan ketentuan dimaksud telah disahkan oleh Dewan Gubernur dalam bentuk Peraturan Dewan Gubernur (PDG) dan sebagai acuan teknis implementasi, PDG tersebut juga telah dijabarkan dalam bentuk Surat Edaran Intern sebagai bahan sosialisasi kepada pegawai. Khusus dalam hal rencana implementasi secara menyeluruh Sistem Informasi Manajemen Sumber Daya Manusia (SIMASDAM) di seluruh Kantor Bank Indonesia, juga telah diselesaikan petunjuk pelaksanaan dalam bentuk Surat Edaran (SE) intern yang menurut rencana akan disosialisasikan dalam waktu dekat. Selain sistem-sistem dan ketentuan-ketentuan di atas, telah juga diselesaikan konsep mengenai Program Pensiun Dini Bank Indonesia (PPDBI) yang bersifat individual dan konsep Pengorganisasian Bank Indonesia. Finalisasi akan dilakukan dalam waktu dekat untuk kemudian dimintakan persetujuan kepada Dewan Gubernur. Penjelasan singkat mengenai masing-masing sistem dan ketentuan yang disempurnakan adalah sebagai berikut:

BANK I NDONESIA 77

LAMPIRAN

1.1. Sistem Promosi Penghargaan Sebagai implikasi dari Sistem Promosi yang baru, yang antara lain memberikan kewenangan yang cukup besar kepada Pimpinan Satuan Kerja dalam memilih pegawai yang terbaik untuk mengisi jabatan lowongan pada satuan kerjanya, maka Sistem Promosi Penghargaan juga perlu disesuaikan. Pada ketentuan yang berlaku saat ini, promosi penghargaan dapat diberikan kepada pegawai yang memenuhi syarat bagi G.I s.d. G.IV. Promosi penghargaan diberikan pada saat pegawai memasuki Masa Persiapan Pensiun (MPP) bagi G.III dan G.IV atau umur 55 tahun, dan 1 (satu) tahun sebelum MPP bagi G.I dan G.II atau umur 54 tahun. Ketentuan ini telah disesuaikan menjadi hanya diberikan kepada pegawai G.I dan G.II, dan dapat diberikan pada saat pegawai memenuhi syarat, atau tidak harus menunggu umur 55 tahun. Hal ini dimaksudkan sebagai penghargaan kepada pegawai G.I dan G.II yang berkinerja baik dan memiliki motivasi kerja yang tingigi, yang telah bekerja di Bank Indonesia minimal selama 30 dan 22 tahun. 1.2. Sistem Penggajian dan Insentif Penyempurnaan Sistem Penggajian dan Insentif Pegawai ditujukan untuk meningkatkan dan memotivasi pegawai agar berkinerja baik, memberikan penghargaan terhadap kinerja dan senioritas pegawai serta mendukung penilaian kinerja yang lebih objektif terhadap seluruh pegawai. Pokok-pokok penyempurnaan sistem penggajian bagi pegawai meliputi : penggunaan Indeks Prestasi Kumulatif sebagai dasar perhitungan gaji yang dipengaruhi kinerja pegawai, penambahan Skala Gaji karena adanya rencana perpanjangan Batas Usia Pensiun, dan penyesuaian Indeks Konjungtur untuk mempertahankan daya beli pegawai yang dihitung atas dasar tingkat inflasi tahun 2004. Di samping itu penyempurnaan Sistem Penggajian juga menggabungkan Sistem Kompensasi yang masih terpisah menjadi satu kesatuan dalam Sistem Penggajian. 1.3. Sistem Masa Persiapan Pensiun Untuk efisiensi dan optimalisasi pemanfaatan SDM maka Ketentuan Masa Persiapan Pensiun yang telah diberlakukan mulai tanggal 1 Juli 2004 sebagaimana telah dilaporkan pada periode laporan sebelumnya telah disesuaikan kembali. Masa Persiapan Pensiun bersifat optional yaitu pegawai dapat memilih untuk tetap bekerja sampai dengan umur 56 tahun atau menjalani Masa Persiapan Pensiun selama 6 (enam) bulan. Untuk menjalani MPP diperlukan persetujuan dari Pejabat yang berwenang. Ketentuan ini mulai diberlakukan tanggal 1 Januari 2005. 1.4. Sistem Batas Usia Pensiun Dalam rangka meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemanfaatan Sumber Daya Manusia, saat ini sedang dilakukan finalisasi ketentuan Batas Usia Pensiun (BUP). Dalam ketentuan yang berlaku saat ini, semua pegawai wajib pensiun pada usia 56 tahun, tanpa membedakan golongan dan jenis jabatan. Oleh karena karakteristik pekerjaan untuk setiap golongan dan jabatan berbeda dan terkait pula dengan tingkat produktivitas dan usia pegawai, maka akan diberlakukan BUP yang berbeda untuk golongan dan jenis jabatan

BANK I NDONESIA 78

LAMPIRAN

tertentu. Untuk masa yang akan datang, BUP dapat diperpanjang hingga mencapai usia 58 (lima puluh delapan) tahun dan khusus diberikan kepada Pegawai Golongan G.VII dan G.VIII. Pegawai yang memperoleh perpanjangan harus sesuai dengan kebutuhan organisasi dan memenuhi kriteria tertentu yaitu : (a) memiliki keahlian khusus pada salah satu bidang yang menjadi tugas pokok Bank Indonesia, (b) mampu melakukan transfer knowledge baik secara lisan maupun tulisan, (c) mempunyai motivasi dan integritas yang tinggi, dan (d) sehat jasmani dan rohani. 1.5. Sistem Penilaian Prestasi dan Perilaku Kerja Pegawai (SP3K) Ketentuan SP3K yang baru diberlakukan untuk penilaian pegawai tahun 2005. Untuk penilaian pegawai tahun 2004 tetap menggunakan SP3K yang berlaku saat ini, namun kinerja individu dikaitkan dengan kinerja satuan kerja. Finalisasi SP3K dilakukan melalui proses yang sedikit lebih panjang dari sistem lainnya, karena merupakan bagian dari sistem manajemen kinerja organisasi secara keseluruhan, dan dipergunakan sebagai dasar dalam pelaksanaan pengembangan pegawai dan pemberian reward serta punishment yaitu melalui program pendidikan dan pelatihan, promosi, mutasi, exit policy, pembinaan dan program suksesi. Mengingat peranannya yang sangat penting, maka sebelum diimplementasikan akan diselenggarakan workshop guna meyakinkan bahwa sistem tersebut dapat dilaksanakan dengan objektif dan konsisten. Ketentuan SP3K diberlakukan sejak tanggal 1 Januari 2005. 1.6. Sistem Kepangkatan Sebagai implikasi dari penerapan azas merit system, maka sistem kepangkatan perlu disesuaikan. Pada ketentuan yang berlaku saat ini, kenaikan jenjang golongan tidak terkait erat dengan kinerja pegawai dan bersifat otomatis setiap 3 (tiga) tahun sepanjang kinerja pegawai yang bersangkutan minimal Sesuai Dengan Harapan (SDH). Ketentuan ini belum sejalan dengan azas merit system. Pada ketentuan yang baru, kenaikan jenjang golongan tidak secara otomatis setiap 3 tahun, namun tergantung dari kinerja pegawai yang bersangkutan. Pegawai dengan kinerja yang lebih baik akan memperoleh kenaikan jenjang golongan dalam jangka waktu yang lebih cepat dibandingkan pegawai dengan kinerja yang lebih rendah, sepanjang kinerja pegawai yang bersangkutan tidak di bawah persyaratan minimal. Ketentuan ini akan diberlakukan mulai tahun 2005. 1.7. Perumusan dan Pemetaan Kompetensi Kompetensi jabatan (profil sukses) untuk jabatan G.IV dan G.V pada 12 Satuan Kerja sebagaimana telah dilaporkan pada periode sebelumnya telah selesai disusun. Sesuai dengan jadwal proyek, saat ini sedang dilakukan finalisasi “assessment tool” yang akan dipergunakan oleh Pimpinan Satuan Kerja dalam menilai level kompetensi yang dimiliki oleh masing-masing pegawai. Untuk meyakinkan bahwa “assessment tool” tersebut dapat dipergunakan secara mudah dan tepat oleh Pimpinan Satuan Kerja, terlebih dahulu akan dilakukan workshop yang diikuti oleh para Pejabat dari Satuan Kerja terkait. Dengan memanfaatkan tool tersebut, maka untuk selanjutnya kegiatan assessment terhadap

BANK I NDONESIA 79

LAMPIRAN

kompetensi pegawai termasuk merencanakan program pengembangan yang diperlukan untuk menutup gap kompetensi, dapat dilakukan sendiri oleh para Line Manager dan tanpa bantuan konsultan ahli. 1.8. Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Dalam bidang pendidikan dan pelatihan, sampai dengan triwulan IV-2004 telah dilakukan kegiatan-kegiatan yang meliputi: a. Pendidikan Peningkatan Mutu dan Keterampilan (PPMK) dengan mengikutsertakan pegawai pada berbagai seminar, kursus, lokakarya yang diselenggarakan oleh pihak ketiga dari Dalam Negeri sebanyak 491 orang, menyelenggarakan pendidikan pegawai melalui metode in-house training untuk berbagai topik pelatihan sebanyak 2.871 orang, dan mengikutsertakan pegawai dalam berbagai kursus, seminar, workshop dan attachment ke Luar Negeri sebanyak 475 orang. Pendidikan Peningkatan Basis Akademis yaitu pengiriman pegawai untuk memperoleh gelar S2/S3 baik melalui universitas di dalam negeri maupun luar negeri dilakukan melalui Program Beasiswa dan Atas Inisiatif Sendiri (AIS). Jumlah pegawai yang sedang mengikuti program S2/S3 LN melalui program beasiswa sampai dengan triwulan IV 2004 adalah sebanyak 53 orang, yaitu 32 orang melalui Program Beasiswa BI dan 21 orang melalui Program Beasiswa tanpa ikatan dari AusAid (Australia), JDS/JICE dan ADB (Jepang), NEC (Belanda), Fullbright (Amerika), Temasek (Singapura) dan Sampoerna (Indonesia). Di samping itu 23 orang pegawai mengikuti program S2/S3 DN melalui Program Atas Inisiatif Sendiri (AIS). Pendidikan Karir yaitu pendidikan bagi pegawai yang telah lulus seleksi penerimaan atau seleksi promosi. Total jumlah pegawai yang mengikuti pendidikan karir sampai dengan triwulan IV tahun 2004 sebanyak 634 orang. Sementar itu, pada triwulan laporan itu diselenggarakan Pendidikan Pemeriksa Bank Yunior yang diikuti oleh 49 calon pegawai dan Pendidikan Calon Pegawai Muda sebanyak 177 calon pegawai.

b.

c.

1.9. Rencana Kebijakan Pengembangan SDM Tahun 2005 Pada tahun 2005, akan dilakukan penyempurnaan terhadap 6 (enam) sistem Manajamen Sumber Daya Manusia yaitu Sistem Perencanaan Sumber Daya Manusia, Sistem Mutasi dan Rotasi Pegawai, Sistem Perencanaan Karir Pegawai, Sistem Perencanaan Suksesi, Sistem Tata Tertib Pegawai dan Sistem Kompensasi. Dalam bidang pengembangan organisasi telah diselesaikan rancangan organisasi beberapa satuan kerja sebagai implikasi dari penyesuaian strategi organisasi dalam mencapai sasaran tugas Satuan Kerja. Pada saat ini telah diperoleh persetujuan dari Dewan Gubernur mengenai High Level Organizational Structure (HLOS), Single Point of Accountability bagi masing-

BANK I NDONESIA 80

LAMPIRAN

masing anggota Dewan Gubernur, termasuk pembentukan beberapa Komite guna meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan. Sebagai implikasi dari persetujuan HLOS, pembentukan Komite dan Single Point of Accountability tersebut, maka perlu dilakukan penyesuaian kembali terhadap beberapa ketentuan tentang proses pengambilan keputusan dan rancangan organisasi beberapa Satuan Kerja.

2. Kebijakan Pengembangan Infrastruktur
2.1. Kebijakan di Bidang Pengawasan Intern Sebagaimana triwulan-triwulan sebelumnya, dalam triwulan IV-2004 upaya peningkatan kualitas terhadap fungsi dan kegiatan pengawasan intern baik dari sisi sistem, sumber daya manusia dan efektivitas kegiatan audit intern yang berbasis kemitraan terus dilanjutkan secara berkesinambungan. Dari sisi sistem dan implementasinya, telah dilakukan evaluasi terhadap Sistem Manajemen Mutu (SMM) Audit dan pelaksanaannya oleh Lloyd’s Registered Quality Assurance (Assessor ISO) pada tanggal 10 Januari 2004 yang hasilnya menunjukkan bahwa SMM Audit masih valid dan pelaksanaannya dilakukan secara konsisten, sehingga Serfitikat ISO 9001:2000 untuk kegiatan audit intern dapat dipertahankan. Kegiatan audit intern sampai dengan triwulan IV-2004 mencapai 92 kegiatan audit yang meliputi 49 audit umum, 23 audit khusus, 13 audit teknologi informasi, dan 7 audit keuangan. Dari 92 kegiatan audit tersebut 41 diantaranya dilakukan terhadap Satuan Kerja di Kantor Pusat, 49 kegiatan audit terhadap Kantor Bank Indonesia (KBI) dan 2 kegiatan terhadap Kantor Perwakilan Bank Indonesia di luar negeri. Selain itu, telah pula dilaksanakan verifikasi pencapaian Indeks Kinerja Utama terhadap 27 Satuan Kerja di Kantor Pusat Bank Indonesia serta 12 Kantor Bank Indonesia. Terhadap hasil audit baik audit intern maupun ekstern (BPK-RI), senantiasa dipantau dengan cermat penyelesaian tindak lanjutnya, sehingga 98.91% dari temuantemuan audit intern dan 93.48% dari temuan-temuan audit ekstern (BPK-RI) telah dapat diselesaikan. Upaya untuk meningkatkan dan membangun kepedulian terhadap risiko dan pengendalian intern melalui kegiatan workshop Control Self-Assessment (CSA) terus dilanjutkan. Berbeda dengan tahun sebelumnya, untuk tahun 2004, workshop CSA tidak lagi dilakukan per Satuan Kerja, namun dilakukan dengan pola gabungan secara lintas Satker terhadap 5 kegiatan yang dinilai memiliki risiko signifikan. Dengan pola gabungan tersebut seluruh permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan maupun penerapan suatu ketentuan dapat diindentifikasi dengan lebih komprehensif sehingga dapat langsung ditindaklanjuti oleh Satuan Kerja pemrakarsa ketentuan. Kegiatan pendidikan dan pelatihan terus dilanjutkan dalam rangka meningkatkan kompetensi auditor intern. Pelatihan yang telah dilaksanakan pada tahun 2004 meliputi

BANK I NDONESIA 81

LAMPIRAN

berbagai jenis dan materi pelatihan yang terdiri dari 7 pelatihan di luar negeri dan 48 pelatihan di dalam negeri dengan materi yang berkaitan dengan audit, termasuk pendidikan/pelatihan audit bersertifikasi, seperti Qualified Internal Auditor (QIA) dan Certified Internal Auditor (CIA). Sebagai hasil, saat ini DPI memiliki 36 orang auditor yang telah memperolah sertifikasi QIA yang dikeluarkan oleh Yayasan Pendidikan Internal Audit (YPIA), dan 2 orang auditor yang telah memperoleh sertifikasi internasional sebagai CIA, yang dikeluarkan oleh the Institute of Internal Auditor (IIA). 2.2. Kebijakan di Bidang Teknologi Informasi Pada triwulan IV-2004, beberapa ketentuan internal BI terutama yang menyangkut pengamanan TI telah selesai disusun. Melengkapi ketentuan /prosedur monitoring anti virus yang telah ditetapkan sebelumnya, maka pada akhir tahun 2004 telah ditetapkan prosedur pelaporan dan penanganan insiden pengamanan TI. Prosedur ini merupakan salah satu butir rekomendasi yang tercantum dalam standar internasional pengamanan TI ISO/IEC 17799 ”Information Technology – Code of Practice for Information Security Management”. Diharapkan dengan adanya prosedur tersebut maka penanganan insiden pengamanan TI dapat dilakukan dengan lebih baik. Disamping penyelesaian ketentuan, BI telah menyelesaikan hasil kajian mengenai rencana kelangsungan bisnis (Business Continuity Plan) Bank Indonesia. Disadari bahwa dengan semakin meningkatnya ketergantungan pada pemanfaatan teknologi informasi, maka antisipasi terhadap terjadinya gangguan pada teknologi informasi semakin diperlukan. BI telah memiliki pusat pengolahan data cadangan (Disaster Recovery Center) khususnya untuk aplikasi-aplikasi yang bersifat kritikal. Hasil kajian tersebut akan berguna bagi peningkatan upaya antisipasi BI akan terjadinya gangguan pada teknologi informasi BI. BI menyadari pentingnya lisensi atas teknologi informasi yang digunakan. Selain sebagai bentuk penghargaan terhadap hak cipta intelektual, lisensi juga menjamin kesinambungan layanan terhadap produk yang dibeli. Mengingat cukup banyaknya aplikasi yang digunakan BI baik untuk keperluan internal maupun dalam rangka mendukung kelancaran tugas dalam bidang moneter, perbankan dan sistem pembayaran, maka BI mengupayakan perjanjian lisensi yang seoptimal mungkin. Sebagai contoh adalah perjanjian lisensi secara korporasi (corporate license agreement) untuk produk berbasis Microsoft. Pada triwulan IV-2004, telah dilakukan pula corporate licence agreement untuk produk berbasis oracle. Di sisi aplikasi, beberapa aplikasi yang pada triwulan sebelumnya dikembangkan dan diuji coba, pada triwulan IV-2004 telah diimplementasikan. Sebagai contoh adalah aplikasi di bidang moneter yaitu Sub Dealing Room Reporting System, aplikasi Database Pedagang Valas dan aplikasi di bidang manajemen internal BI yaitu aplikasi Otomasi Perpustakaan. Sementara itu aplikasi di bidang perbankan seperti Laporan Bulanan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) dan aplikasi Sistem Informasi Debitur masih dilakukan uji coba yang intensif serta sosialisasi ke perbankan.

BANK I NDONESIA 82

LAMPIRAN

Aplikasi Sub Dealing Room Reporting System adalah sistem yang memungkinkan ”sharing report” antara Dealing Room di Kantor Pusat dengan Sub Dealing Room (SDR) di KPW dengan memanfaatkan Enterprise Data Warehouse. Aplikasi ini telah diimplementasikan di Kantor Perwakilan New York, London dan Singapore. Dengan diimplementasikannya sistem ini maka data yang berasal dari Dealing Room di kantor pusat dapat diakses secara online oleh pengguna di SDR kantor perwakilan sehingga dapat memungkinkan akses data yang lebih akurat untuk membantu kegiatan operasional di SDR kantor perwakilan. Aplikasi Database Pedagang Valas adalah sistem untuk meningkatkan proses perizinan, pelaporan, analisa dan data profil Pedagang Valuta Asing. Dengan menggunakan teknologi web, aplikasi ini dapat diakses melalui jaringan intranet Bank Indonesia, sehingga dapat diakses secara bersamaan oleh beberapa pengguna sekaligus dan dapat meningkatkan efisiensi dalam input data dan pengolahan laporan yang dibutuhkan. Aplikasi Otomasi Perpustakaan digunakan untuk menggantikan sistem manual dalam melakukan tata usaha kegiatan perpustakaan di Kantor Bank Indonesia (KBI). Dengan diimplementasikannya aplikasi ini di KBI, diharapkan peran perpustakaan di KBI dapat lebih ditingkatkan dalam menunjang kegiatan penelitian dan pengembangan kompetensi pegawai di KBI. Aplikasi ini telah diimplementasikan di 15 KBI. 2.3. Kebijakan Di Bidang Hukum Dalam rangka menunjang pelaksanaan tugas-tugas Bank Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang No.23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No.3 Tahun 2004, BI telah melakukan perumusan produk hukum BI yang digunakan sebagai landasan hukum dalam pelaksanaan tugas-tugas dimaksud. Dalam triwulan IV-2004, BI telah menerbitkan berbagai perangkat hukum, baik yang bersifat ekstern maupun intern, berupa peraturan dibidang moneter, perbankan, sistem pembayaran maupun manajemen intern, yaitu 10 (sepuluh) Peraturan Bank Indonesia, 9 (sembilan) Peraturan Dewan Gubernur, 12 (dua belas) Surat Edaran Bank Indonesia Ekstern dan 31 (tiga puluh satu) Surat Edaran Bank Indonesia Intern. Selanjutnya pada triwulan I-2005 BI terus mengupayakan untuk menerbitkan peraturan-peraturan sebagai landasan hukum dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas BI untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam Undang-undang. Sampai dengan Januari 2005, BI telah menerbitkan 1 (satu) Peraturan Bank Indonesia, 2 (dua) Peraturan Dewan Gubernur, 1 (satu) Surat Edaran Bank Indonesia Ekstern, dan 3 (tiga) Surat Edaran Bank Indonesia Intern. Disamping itu, Bank Indonesia juga sedang menyusun dan atau menyempurnakan beberapa Peraturan Bank Indonesia, Peraturan Dewan Gubernur, Surat Edaran Bank Indonesia Ekstern dan Surat Edaran Bank Indonesia Intern. Dalam rangka mendukung adanya peraturan perundang-undangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, saat ini BI sedang menyusun konsep Rancangan Undangundang (RUU) Amandemen UU Perbankan, RUU Perbankan Syariah, dan RUU Transfer

BANK I NDONESIA 83

LAMPIRAN

Dana. Disamping itu BI juga ikut serta berperan aktif dalam pembahasan RUU Informasi dan Transaksi Elektronik, RUU Informasi Publik, RUU Perkumpulan, RUU Usaha Perseorangan dan Badan Usaha Bukan Badan Hukum, RUU Amandemen UU Koperasi, RUU Amandemen UU Perpajakan, RUU Jaring Pengaman Sektor Keuangan (IFSN), RUU Amandemen UU Perseroan Terbatas, RUU Pengampunan Pajak, RUU Otoritas Jasa Keuangan, dan RUU Resi Gudang. Berkaitan dengan hubungan internasional, saat ini masih berlangsung sidang liberalisasi perdagangan sektor jasa-jasa dalam kerangka WTO (termasuk di dalamnya sub sektor jasa perbankan) baik multilateral maupun bilateral. Disamping itu, masih diselenggarakan pula sidang APEC dan ASEAN serta sidang yang membahas topik yang berkaitan dengan upaya penanganan permasalahan pencucian uang dan pendanaan terorisme. Menindaklanjuti perkembangan tersebut, sampai saat ini Bank Indonesia tetap aktif mengikuti perkembangan dan turut serta sebagai anggota delegasi RI dalam perundingan bilateral dan multilateral di forum internasional serta berkoordinasi dengan instansi terkait. 2.4. Kebijakan Di Bidang Keuangan Intern Kebijakan Manajemen Keuangan Intern selama triwulan IV-2004 pada dasarnya merupakan kelanjutan dari kebijakan triwulan sebelumnya, yaitu mendukung pencapaian Sasaran Strategis Bank Indonesia yang telah ditetapkan, dengan memperhatikan pemenuhan amanat Undang-undang No.23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No.3 Tahun 2004. Sejalan dengan upaya untuk mewujudkan sasaran strategis dimaksud, maka dukungan manajemen keuangan terhadap pelaksanaan kebijakan di bidang moneter, perbankan dan sistem pembayaran, serta kebijakan di bidang manajemen intern lainnya pada triwulan IV-2004, antara lain sbb: a. Berdasarkan Laporan Surplus Defisit sementara posisi per 31 Desember 2004, BI mengalami surplus sebesar Rp 453 miliar. Hal ini berbeda dengan rencana anggaran pada awal tahun 2004 yang diproyeksikan akan mengalami defisit sebesar Rp 14,4 triliun. Perbedaan dimaksud terutama disebabkan perubahan asumsi-asumsi ekonomi makro, diantaranya kenaikan tingkat suku bunga internasional yang secara signifikan mempengaruhi penerimaan BI. Selain itu, pada sisi pengeluaran BI telah berhasil melakukan efisiensi pengeluaran dalam berbagai aspek kebijakan sehingga realisasi pengeluaran BI di tahun 2004 hanya mencapai 81,08% dari total anggaran pengeluaran. b. Dalam hubungan dengan Pemerintah, BI dan Departemen Keuangan terus melakukan upaya-upaya penyelesaian masalah khususnya terkait dengan Surat Utang Pemerintah (SUP) No.2 dan No.4. Pada prinsipnya, BI dan Departemen Keuangan telah sepakat untuk melakukan restrukturisasi SU No.2 dan No.4, antara lain terkait dengan tunggakan bunga, jangka waktu dan tingkat suku bunga SUP dengan memperhatikan

BANK I NDONESIA 84

LAMPIRAN

implikasinya terhadap kondisi keuangan BI dan Pemerintah. Dalam kaitan ini, akan dilakukan pertemuan antara Gubernur BI dan Menteri Keuangan untuk mencari kesepakatan mengenai metode restrukturisasi SU No.2 dan SU No.4 untuk kemudian melaporkan hasil kesepakatan dimaksud kepada DPR c. Dalam wacana peningkatan kondisi perekonomian Indonesia, diantaranya dengan indikasi kenaikan jumlah cadangan devisa yang lebih memperkuat terpeliharanya kecukupan cadangan devisa serta dalam rangka meningkatkan kredibilitas pemerintah RI, maka sensitivitas selisih antara penerimaan dari pengelolaan cadangan devisa dengan tingkat bunga pinjaman luar negeri telah menjadi bahan kajian yang intensif dalam lingkungan BI, khususnya tekait dengan berbagai aspek pinjaman luar negeri termasuk beban biaya dari pinjaman tersebut. d. Pada akhir tahun 2004, terdapat tambahan biaya operasional yang cukup besar dalam rangka penanggulangan dampak dari bencana alam tsunami yang melanda Nanggroe Aceh Darusalam (NAD) dan Sumatera Utara. Biaya tersebut dimaksudkan untuk penanganan/perbaikan sumber daya BI di Banda Aceh (SDM, sarana, prasarana, dan lain-lain), serta upaya koordinasi antara berbagai instansi pemerintah dan BI dengan arah membangun kembali perekonomian, sekaligus meringankan beban finansial dan non finansial dari masyarakat di daerah bencana. 2.7. Kebijakan Di Bidang Kehumasan Pada triwulan IV-2004, pelaksanaan program kehumasan Bank Indonesia difokuskan pada upaya untuk meningkatkan aspek transparansi kepada berbagai kelompok stakeholder dalam rangka meningkatkan pemahaman stakeholder mengenai pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia. Berkaitan dengan itu, Bank Indonesia menyadari pentingnya koordinasi/kerja sama dengan berbagai unsur masyarakat. Dalam hubungannya dengan lembaga negara, Bank Indonesia telah menunjukkan komitmen atas pelaksanaan berbagai kegiatan yang melibatkan lembaga negara berupa penyediaan informasi dan pelaporan kebijakan Bank Indonesia baik dalam Rapat Kerja dan Kunjungan Kerja DPR-RI serta berbagai Rapat Koordinasi dengan Pemerintah/lembaga negara lainnya. Bank Indonesia juga telah terlibat secara aktif dalam organisasi kehumasan seperti Perhumas (Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia) dan Forkamas (Forum Komunikasi Humas Bank), di samping terus bertukar pikiran dengan berbagai lembaga publik serta pakar, akademisi, dan media massa melalui diskusi, pelatihan, dan penyelenggaraan berbagai seminar dan workshop. Adapun upaya edukasi/sosialisasi kepada masyarakat umum mengenai pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia terus dilakukan melalui penyelenggaraan berbagai seminar, penerimaan kunjungan edukasi di Bank Indonesia, penyediaan tenaga pengajar di berbagai perguruan tinggi (termasuk anggota Dewan Gubernur), serta berbagai publikasi dan penyajian informasi di website Bank Indonesia (www.bi.go.id)

BANK I NDONESIA 85

LAMPIRAN

Di samping berbagai kegiatan sosialisasi/edukasi dan berjejaring, Bank Indonesia bekerjasama dengan PPATK dan instansi lainnya telah melaksanakan program kehumasan di bidang prinsip mengenal nasabah dan anti pencucian uang untuk mengeluarkan Indonesia dari daftar Non Cooperating Countries and Territories (NCCT). Pada penghujung 2004, Bank Indonesia telah berinisiatif untuk menjadi koordinator bagi perbankan nasional dalam rangka menunjukkan kepedulian sosial terhadap musibah tsunami di NAD dan Sumatera Utara. Hal ini dilakukan melalui pengumpulan dana, pemberian bantuan darurat, dan penyusunan program rehabilitasi yang akan dilakukan setidaknya sampai pertengahan 2005

.

BANK I NDONESIA 86

LAMPIRAN

LAMPIRAN 2 PRODUK HUKUM BANK INDONESIA SELAMA TRIWULAN IV-2004
1. Peraturan Bank Indonesia
No. Urut Nomor PBI Tanggal Perihal

1. 2. 3.

6/24/PBI/2004 6/25/PBI/2004 6/26/PBI/2004

14/10/2004 22/10/2004 25/10/2004

Bank Umum Yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah Rencana Bisnis Bank Umum. Suku Bunga Dan Nisbah Atas Pembiayaan Dengan Prinsip Bagi Hasil Kredit Program Pelaksanaan Pengawasan Badan Kredit Desa Pengeluaran dan Pengedaran Uang Kertas Rupiah Pecahan 100.00 (seratus ribu) Tahun Emisi 2004. Pengeluaran dan Pengedaran Uang Kertas Rupiah Pecahan 20.00 (dua puluh ribu) Tahun Emisi 2004. Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran Dengan Menggunakan Kartu Pengeluaran dan Pengedaran Uang Rupiah Khusus Pecahan 100.00 (seratus ribu) Tahun Emisi 2004 Dalam Bentuk Uang Kertas Belum Dipotong. Pengeluaran dan Pengedaran Uang Rupiah Khusus Pecahan 20.00 (dua puluh ribu) Tahun Emisi 2004 Dalam Bentuk Uang Kertas Belum Dipotong. Perubahan Kedua Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/9/PBI/2002 Tentang Operasi Pasar Terbuka

4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

6/27/PBI/2004 6/28/PBI/2004 6/29/PBI/2004 6/30/PBI/2004 6/31/PBI/2004 6/32/PBI/2004 6/33/PBI/2004

13/12/2004 17/12/2004 17/12/2004 28/12/2004 28/12/2004 28/12/2004 31/12/2004

2. Peraturan Dewan Gubernur
No. Urut Nomor PBI Tanggal Perihal

1. 2.

6/13/PDG/2004 6/14/PDG/2004

19/10/2004 09/12/2004

Perubahan Atas Peraturan Dewan Gubernur Bank Indonesia No. 3/12/PDG/2001 Tentang Organisasi Sektor Sistem Pembayaran Sistem Masa Persiapan Pensium (MPP)

BANK I NDONESIA 87

LAMPIRAN

No. Urut

Nomor PBI

Tanggal

Perihal

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

6/15/PDG/2004 6/16/PDG/2004 6/17/PDG/2004 6/18/PDG/2004 6/19/PDG/2004 6/20/PDG/2004 6/21/PDG/2004

09/12/2004 09/12/2004 28/12/2004 29/12/2004 29/12/2004 31/12/2004 31/12/2004

Pinjaman Multiguna Bagi Pegawai Bank Indonesia Perubahan Atas Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 25/141/KEP/DIR tanggal 22 Maret 2003 Tentang Peraturan Tunjangan Hari Tua Bank Indonesia Sistem Promosi Penghargaan Pegawai Bank Indonesia Perubahan Keempat Atas Peraturan Dewan Gubernur Bank Indonesia Nomor 3/1/PDG/2001 Tentang Organisasi Sektor Perbankan Perubahan Kedua Atas Peraturan Dewan Gubernur Bank Indonesia Nomor 4/10/PDG/2002 Tentang Organisasi Sektor Moneter Sistem Perencanaan, Anggaran, dan Manajemen Kinerja Bank Indonesia Perubahan Atas Peraturan Dewan Gubernur Bank Indonesia Nomor 6/12/PDG/2004 Tentang Standar Identitas Visual Bank Indonesia

3. Surat Edaran Ekstern Bank Indonesia
No. Urut Nomor SE BI Ekstern Tanggal Perihal

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

6/41/DPM 6/42/DASP 6/43/DPNP 6/44/DPNP 6/45/DASP 6/46/DPM 6/47/DPM 6/48/DPM 6/49/DPU 6/50/DPM

05/10/2004 07/10/2004 07/10/2004 22/10/2004 25/10/2004 29/10/2004 29/10/2004 29/11/2004 14/12/2004 30/12/2004

Perubahan atas Surat Edaran Bank Indonesia No.6/13/DPM Tanggal 11 Maret 2004 perihal Tata Cara Perijinan, Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah, Pengawasan, Pelaporan dan Pengenaan Sanksi Bagi Pedagang Valuta Asing Bukan Bank. Fasilitas Perekaman Data Hasil Kliring Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Kerjasama Pemasaran Dengan Perusahaan Asuransi (Bancassurance) Rencana Bisnis Bank Umum Batasan Nominal Transaksi Antar Bank Untuk Kepentingan Nasabah Melalui Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement Sehubungan Dengan Hari Libur Nasional Tertentu. Perubahan Keempat atas Surat Edaran Nomor 6/20/DPM tanggal 26 April 2004 Perihal Suku Bunga Penjaminan Simpanan Pihak Ketiga dan Pasar Uang Antar Bank Perubahan Kedua atas Surat Edaran Nomor 6/17/DPM tanggal 6 April 2004 Perihal Transaksi Perdagangan Sertifikat Bank Indonesia Secara Repurchase Agreement (Repo) Dengan Bank Indonesia di Pasar Sekunder Perubahan Kelima atas Surat Edaran Nomor 6/20/DPM tanggal 26 April 2004 Perihal Suku Bunga Penjaminan Simpanan Pihak Ketiga dan Pasar Uang Antar Bank Permintaan Klarifikasi oleh Masyarakat dan Bank atas Uang Yang Diragukan Keasliannya dan Laporan Penemuan Uang Palsu oleh Bank Perubahan Keenam atas Surat Edaran Nomor 6/20/DPM tanggal 26 April 2004 Perihal Suku Bunga Penjaminan Simpanan Pihak Ketiga dan Pasar Uang Antar Bank

BANK I NDONESIA 88

LAMPIRAN

No. Urut

Nomor SE BI Ekstern

Tanggal

Perihal

11 12

6/51/DLN 6/52/DASP

31/12/2004 31/12/2004

Kewajiban Pelaporan Utang Luar Negeri Wakat dan Dokumen Kliring Serta Pencetakannya pada Perusahaan Pencetakan Warkat dan Dokumen Kliring

4. Surat Edaran Intern Bank Indonesia
No. Urut Nomor SE BI Intern Tanggal Perihal

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.

6/55/INTERN 6/56/INTERN 6/57/INTERN 6/58/INTERN 6/59/INTERN 6/60/INTERN 6/61/INTERN 6/62/INTERN 6/63/INTERN 6/64/INTERN 6/65/INTERN 6/66/INTERN 6/67/INTERN 6/68/INTERN 6/69/INTERN

01/10/2004 07/10/2004 11/10/2004 21/10/2004 02/11/2004 02/11/2004 08/11/2004 08/11/2004 30/11/2004 07/12/2004 09/12/2004 15/12/2004 16/12/2004 16/12/2004 16/12/2004

Organisasi Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Perubahan Ketiga Atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 3/13/INTERN tanggal 31 Mei 2001 Perihal Bank Indonesia Real Time Gross Settlement Perubahan Atas Surat Edaran No. 4/48/INTERN Tanggal 29 November 2002 Tentang Pedoman Bank Indonesia Data Akuntansi dan Keuangan (BIDAK) Perubahan Atas Surat Edaran No. 5/65/INTERN Tanggal 30 Desember 2003 Tentang Laporan Keuangan Bank Indonesia Perubahan Kedua Atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 4/18/INTERN tanggal 30 Mei 2002 Tentang Penyempurnaan Organisasi Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran (PO DASP) Tahap III Perubahan Kedua Atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 5/53/INTERN tanggal 17 November 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Penyelesaian Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Pedoman Pelaksanaan Ketentuan Tindak Lanjut Pengawasan dan Penetapan Status Bank Tatacara Pelaksanaan Pinjaman Luar Negeri Bank Indonesia Pedoman Umum Bank Indonesia Aplikasi Sistem Akunting (BIASA) Organisasi Direktorat Pengedaran Uang Akuntansi Aktiva Tetap dan Aktiva Tidak Berwujud Sistem Informasi Manajemen Sumber Daya Manusia Sistem Masa Persiapan Pensiun (MPP) Pegawai Bank Indonesia Perubahan atas Surat Edaran Bank Indonesia No. 3/53/INTERN tanggal 18 Desember 2001 Tentang Pendelegasian Wewenang Sektor Perbankan di Kantor Bank Indonesia Perubahan Keempat atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 2/62/RUPA-RUPA Tanggal 1 Oktober 1969 Tentang Tabungan Pegawai Bank Indonesia

BANK I NDONESIA 89

LAMPIRAN

No. Urut

Nomor SE BI Intern

Tanggal

Perihal

16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31.

6/70/INTERN 6/71/INTERN 6/72/INTERN 6/73/INTERN 6/74/INTERN 6/75/INTERN 6/76/INTERN 6/77/INTERN 6/78/INTERN 6/79/INTERN 6/80/INTERN 6/81/INTERN 6/82/INTERN 6/84/INTERN 6/86/INTERN 6/87/INTERN

21/12/2004 21/12/2004 22/12/2004 24/12/2004 24/12/2004 24/12/2004 24/12/2004 28/12/2004 28/12/2004 30/12/2004 30/12/2004 30/12/2004 30/12/2004 30/12/2004 30/12/2004 30/12/2004

Pengeluaran dan Pengedaran Uang Kertas Rupiah Pecahan 100.000 (seratus ribu) Tahun Emisi 2004 Pengeluaran dan Pengedaran Uang Kertas Rupiah Pecahan 20.000 (duapuluh ribu) Tahun Emisi 2004 Pelaksanaan Tata Tertib di Area Kas dan Area Tertentu Pedoman Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum (CAMELS Rating) Pedoman Pengawasan dan Pemeriksaan Penerapan Manajemen Risiko Dala Aktivitas Pelayanan Jasa Bank Melalui Internet (Internet Banking) Organisasi Biro Kredit Perubahan Keempat Atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 2/35/INTERN tanggal 27 September 2000 Tentang Pedoman Akuntansi Keuangan Bank Indonesia Pengeluaran dan Pengedaran Uang Rupiah Khusus Pecahan 100.000 (Seratus Ribu) Tahun Emisi 2004 Dalam Bentuk Uang Kertas Belum Dipotong Pengeluaran dan Pengedaran Uang Rupiah Khusus Pecahan 20.000 (Duapuluh Ribu) Tahun Emisi 2004 Dalam Bentuk Uang Kertas Belum Dipotong Sistem Promosi Penghargaan Pegawai Bank Indonesia Manajemen Logistik Bank Indonesia Perubahan Kedua Atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 3/8/INTERN Tanggal 2 Mei 2001 Tentang Organisasi Sektor Perbankan Perubahan Atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/49/INTERN Tanggal 3 September 2004 Tentang Penyempurnaan Organisasi Direktorat Pengelolaan Moneter Pedoman Sistem Informasi Rapat Dewan Gubernur Perubahan Surat Edaran Nomor 6/10/INTERN tanggal 16 Februari 2004 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Fasilitas Likuiditas Intrahari Bagi Bank Umum Prosedur Penatausahaan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri dan Pembayaran Pinjaman Luar Negeri

BANK I NDONESIA 90

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->