Panduan Bphtb Menurut Uu No 28-2009

PANDUAN PELAKSANAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN (BPHTB) Bab 1 Latar Belakang Berlakunya Bea

Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) berdasarkan Undang Undang No. 21 Tahun 1997 tanggal 29 Mei 1997 Tentang "Bea Perolehan atas Hak Tanah dan Bangunan, yang diubah lagi dengan UU No. 28 Tahun 2009 TENTANG PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH (PDRB). Bagi Negara Republik lndonesia yang sedang meningkatkan pembangunan di segala bidang menuju masyarakat adil dan makmur, pajak merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang sangat penting bagi penyelenggaraan pemerintah dan pelaksanaan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Oleh karena itu, Undang-Undang Dasar 1945 menempatkan kewajiban perpajakan sebagai salah satu perwujudan kewajiban kenegaraan yang merupakan sarana peran serta dalam pembiayaan negara dan pembangunan nasional guna tercapainya masyarakat adil dan makmur, dan sejahtera. Sesuai dengan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945, bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Tanah sebagai bagian dari bumi yang merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa serta memiliki fungsi sosial, disamping memenuhi kebutuhan dasar untuk pangan dan lahan usaha, juga merupakan alat investasi yang sangat menguntungkan. Di samping itu, bangunan juga memberi manfaat ekonomi bagi pemiliknya. Oleh karena itu, bagi mereka yang memperoleh hak atas tanah dan bangunan, wajar menyerahkan sebagian nilai ekonomi yang diperolehnya kepada negara melalui pembayaran pajak, yang dalam hal ini Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Namum, pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan menurut Undang-undang ini telah memperhatikan aspek keadilan bagi masyarakat terutama masyarakat golongan ekonomi lemah dan masyarakat yang berpenghasilan rendah, yaitu dengan mengatur nilai perolehan hak atas tanah dan bangunan yang tidak dikenakan pajak. Pada masa lalu ada pungutan pajak dengan nama Bea Balik Nama yang diatur dalam Ordonansi Bea Balik Nama Staatsblad 1924 Nomor 291. Bea Balik Nama ini dipungut atas setiap perjanjian pemindahan hak atas harta tetap yang ada di wilayah Indonesia, termasuk peralihan harta karena hibah wasiat yang ditinggalkan oleh orang-orang yang bertempat tinggal terakhir di Indonesia. Yang dimaksud dengan harta tetap dalam Ordonansi tersebut adalah barang-barang

tetap dan hak-hak kebendaan atas tanah, yang pemindahan haknya dilakukari dengan pembuatan akta menurut cara yang diatur dalam undang-undang, yaitu Ordonansi Balik Nama Staatsblad 1834 Nomor 27. Dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, hak-hak kebendaan yang dimaksud di atas tidak berlaku lagi, karena semuanya sudah diganti dengan hak-hak baru yang diatur dalam Undang-undang tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Dengan demikian, sejak diundangkannya Undang-undang tentang peraturan Dasar PokokPokok Agraria, Bea Balik Nama atas hak harta tetap berupa hak atas tanah tidak dipungut lagi, sedangkan ketentuan mengenai pengenaan pajak atas akta pendaftaran dan pemindahan kapal yang didasarkan pada Ordonansi Bea Balik Nama Staatsblad 1924 Nomor 291 masih tetap berlaku. Dengan pertimbangan hal tersebut di atas dan sebagai pengganti Bea Balik Nama atas harta tetap berupa hak atas tanah yang tidak dipungut lagi sejak diundangkannya Undangundang tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, perlu diadakan pungutan pajak atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan dengan nama Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Tarif yang ditetapkan menurut Undang-undang ini adalah sebesar 5% (lima persen) dari Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak. Dengan demikian, semua pungutan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan di luar ketentuan Undang-undang ini tidak diperkenankan. Prinsip yang dianut dalam Undang-undang ini adalah: a. pemenuhan kewajiban Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah berdasarkan sistem self assesment, yaitu Wajib Pajak menghitung dan membayar sendiri utang pajaknya; b. besarnya tarif ditetapkan sebesar 5% (lima persen) dari Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak; c. agar pelaksanaan Undang-undang ini dapat berlaku secara efektif, maka baik kepada Wajib Pajak maupun kepada pejabat-pejabat umum yang melanggar ketentuan atau tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana ditentukan oleh Undang-undang ini, dikenakan sanksi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku; d. hasil penerimaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan merupakan penerimaan negara yang sebagian besar diserahkan kepada Pemerintah Daerah, untuk meningkatkan pendapatan daerah guna membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah dan dalam rangka memantapkan otonomi daerah; e. semua pungutan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan di luar ketentuan Undang-undang ini tidak diperkenankan. Penyusunan Undang-undang tersebut dilatarbelakangi oleh pemikiran untuk meningkatkan penerimaan negara, terutama penerimaan daerah yang dinilai penting bagi penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan nasional.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

2

Berdasarkan pemikiran itu pula, subjek pajak yang memperoleh hak atas tanah dan bangunan dianggap wajar apabila diwajibkan untuk menyerahkan sebagian nilai ekonomi yang diperolehnya kepada negara melalui pembayaran pajak yang diberi nama Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Dengan memperhatikan fungsi tanah yang demikian penting bagi penyelenggaraan kehidupan masyarakat ataupun bagi pembangunan, penggalian sumber penerimaan pajak tersebut sudah barang tentu akan berarti sekali terutama sebagai sumber pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. Namun demikian, dengan terjadinya gejolak moneter pada akhir tahun 1997 dan awal tahun 1998 yang demikian besar pengaruhnya terhadap kehidupan perekonomian dan pelaksanaan pembangunan, maka penggalian sumber-sumber penerimaan pajak yang baru menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Gejolak moneter yang terjadi beberapa bulan terakhir, telah memberi pengaruh yang besar dan menimbulkan gangguan terhadap pelaksanaan pembangunan nasional terutama dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. Diantara berbagai kemungkinan yang dapat ditempuh untuk mengurangi pengaruh gejolak moneter yang tidak menguntungkan tadi adalah penangguhan rencana pengenaan beban baru terhadap masyarakat. Behan baru seperti itu akan merupakan tambahan biaya ekonomi, yang dalam keadaan perekonomian yang sulit akan mengurangi kemantapan penciptaan lapangan kerja dan menurunkan kesempatan kerja yang baru, yang besar artinya terhadap kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu dikeluarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1998 Tentang "Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang No. 1 Tahun 1997 tentang Penangguhan Mulai berlakunya Undang-Undang No. 21 Tahun 1997 Tentang Bea Peralehan Hak Atas Tanah dan Bangunan Menjadi Undang- Undang" . Pada Pasal 2 UU No. 1 Tahun 1998 menyatakan "Undang Undang No. 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3688), ditangguhkan mulai berlakunya selama enam bulan dari tanggal 1 Januari 1998 sampai dengan tanggal 30 Juni 1998. Pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan harus memperhatikan asas-asas keadilan, kepastian hukum, legalitas, dan kesederhanaan serta didukung oleh sistem administrasi perpajakan yang memudahkan Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakan. Sehubungan dengan diberlakukan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 yang bersamaan dengan terjadinya perubahan tatanan perekonomian nasional dan internasional, berpengaruh terhadap perubahan perilaku perekonomian masyarakat sehingga perlu diakomodasikan dengan penyempurnaan Undang-undang Nomor 21 Tahun 1997.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

3

Oleh karena itu dibuat Undang-Undang No. 20 Tahun 2000 tentang " Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan". Berpegang teguh pada asas-asas keadilan, kepastian hukum, legalitas, dan kesederhanaan, arah dan tujuan penyempurnaan Undang-undang ini adalah sebagai berikut: a. menampung perubahan tatanan dan perilaku ekonomi masyarakat dengan tetap berpedoman pada tujuan pembangunan nasional di bidang ekonomi yang bertumpu pada kemandirian bangsa untuk membiayai pembangunan de ngan sumber pembiayaan yang berasal dari penerimaan pajak; b. lebih memberikan kepastian hukum dan keadilan bagi masyarakat pelaku ekonomi untuk berpartisipasi dalam pembiayaan pembangunan sesuai dengan kewajibannya. Berlandaskan pada arah dan tujuan penyempurnaan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tersebut, maka pokok-pokok perubahan sebagai berikut: a. memperluas cakupan objek pajak untuk mengantisipasi terjadinya perolehan hak atas tanah dan atau bangunan dalam bentuk dan terminologi yang baru; b. meningkatkan disiplin dan pelayanan kepada masyarakat serta pengenaan sanksi bagi pejabat dan Wajib Pajak yang melanggar; c. memberikan kemudahan dan perlindungan hukum kepada Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajibannya; d. menyesuaikan ketentuan yang berkaitan dengan Undangundang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839) dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3848). Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara hukum berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, bertujuan untuk mewujudkan tata, kehidupan bangsa yang aman, tertib, sejahtera, dan berkeadilan; Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 'tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

4

Daerah, maka penyelenggaraan pemerintahan daerah dilakukan dengan memberikan kewenangan yang seluas-luasnya, disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara; Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang penting guna membiayai pelaksanaanpemerintahandaerah. Dalam rangkameningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan kemandirian daerah, perlu dilakukan perluasan objek pajak daerah dan retribusi daerah dan pemberian diskresi dalam penetapan*tarif; Kebijakan pajak daerah dan retribusi daerah dilaksanakan berdasarkan prinsip demokrasi, pemerataan dan keadilan, pecan serta masyarakat, dan akuntabilitas dengan memperhatikan potensi daerah; Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan retribusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, perlu disesuaikan dengan kebijakan otonomi daerah; Berdasarkan pertimbangan tersebut diatas maka di buatlah Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tanggal 15 September 2009 tentang "Pajak Daerah dan Retribusi Daerah". Tujuan UU No. 28 Tahun 2009 O Memperbaiki kewenangan pemungutan O Meningkatkan local taxing power O Meningkatkan efektivitas pengawasan O Meningkatkan sistem pengelolaan Inti dari Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 adalah: ► Pengenaan pajak yang close list ► Pengawasan:represive 4 preventif dan korektif ► Sanksi bagi daerah apabila melanggar ► Memperkenalkan earmarking system ► Pengalihan hak pemungutan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah Berdasarkan Pasal 2 ayat 2 huruf "k" Undang undang PDRD dinyatakan bahwa salah satu Jenis pajak kabupaten/ kota adalah Bea Perolehan atas Hak Tanah dan Bangunan (BPHTB). Sehingga BPHTB yang dulunya ditangani oleh pemerintah pusat yang merupakan pajak pusat, sekarang ditangani sendiri oleh pemerintah kabupaten/kota dan merupakan pajak daerah. Aturan Peralihan Pengelolaan BPHTB ■ Pasal 180 ayat (6) Undang-Undang PDRD "Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3688) sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

5

Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3988) tetap berlaku paling lama 1 (satu) tahun sejak diberlakukannya UndangUndang ini". Dengan demikian, Kantor pusat dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memungut BPHTB sampai dengan 31 Desember 2010, sedangkan mulai tahun 2011, DJP tidak berwenang memungut BPHTB lagi. Oleh karena Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan (BPHTB) merupakan Pajak Baru yang akan dikelola oleh Pemerintah Kabupaten/Kota, maka penulis mencoba membuat buku panduan bagi bagi pemerintah daerah dalam pengelolaan BPHTB. Buku ini juga berguna bagi Stage holder pemerintah daerah yang terlihat dalam penanganan BPHTB, yaitu; Notaris/PPAT, Badan Pertanahan(BPN), Bank Persepsi maupun Bank Pembagi. Dan tak kalah pentingnya buku ini sangat berguna bagi Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakan khususnya BPHTB.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

6

Bab 2 Persiapan yang Harus Dilakukan oleh Pemerintah Daerah Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan merupakan salah satu pajak property yang harus ditangani dengan tepat. Aspek Tinjauan Dalam Pengelolaan Pajak Properti: 1. Aspek Penerimaan (Revenue) Pajak Properti merupakan sumber penerimaan yang potensial bagi daerah, dan tepat jika dikelola oleh pemerintah daerah. 2. Aspek Pengelolaan (Administrasi) Meliputi semua kegiatan Pengelolaan: Identifikasi Objek/ Subjek, Basis Data, Penilaian dan Pemungutan. 3. Aspek Wewenang Perumusan ( Policy) Untuk meningkatkan local Taxing Power, Akuntabilitas dan Trasparancy Dengan Berlakunya UU Nomor 28 Tahun 2009, dimana BPHTB menjadi Pajak Daerah hal itu berarti Desentralisasi BPHTB kepada pemerintah kabupaten/kota. Makna dari Desentralisasi pengelolaan BPHTB adalah menyerahkan semua kewenangan: Mendata, Menilai, Menetapkan, Mengadministrasikan, Memungut dan lain-lain kepada Pemerintah daerah. Syarat-syarat untuk membentuk Desentralisasi yang Ideal adalah: • Infrastruktur sudah berjalan baik • Undang-Undang/Aturan yang mendasari • Lebih efisien pelaksanaannya • Hasil yang lebih baik • Tidak memicu disintegrasi bangsa • Daerah siap menerima pelimpahan wewenang dari pemerintah Pusat. Beberapa kemungkinan tahap implementasi yang bisa diadopsi oleh Pemda: • Mengadopsi tax rate, NJOPTKP, NPOPTKP, sistem pendataan dan penilaian yang sudah berjalan • Menggunakan seluruh informasi properti yang sudah ada saat ini • Melakukan cloning terhadap seluruh kebijakan dan keahlian yang dimiliki pemerintah pusat Dalam rangka persiapan Desentralisasi BPHTB, hal hal yang harus dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota adalah; 1. Peraturan

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

7

Peraturan-peraturan terkait tentang: • Pendataan • Penilaian/Penentuan NJOP • Pencetakan SPPT/STTS/DHKP • Penerbitan SPPT/Salinan/Ket. NJOP • Penetapan Pajak {NPOPTKP, NPOPTKP, Ketetapan Minimal dan lain-lain) • Administrasi Penerimaan • Pemungutan dan Tempat Pembayaran • Penagihan • Tunggakan • Pemeriksaan/ Penelitian • Pengurangan dan Keberatan • dan lain-lain 2. Peralatan Perangkat Lunak: aplikasi oracle, DBKB, BDNPP, SISMIOP dan lain-lain Perangkat Keras : 1. High Speed Printer 2. Scanner dan Plotter untuk pets 3. Komputer dan Printer 4. GPS 5. Distometer 6. Theodolit 7. File Storage 8. Digital Camera 9. dan lain-lain 4. Pembiayaan 1. Pembangunan Basis Data 2. Pengadaan Barang (Blangko SPPT, STTS dan lain-lain ) 3. Pengadaan Peralatan 4. Honorarium Tim (Petugas Pungut, dan lain-lain ) 5. Pelatihan SDM 6. Biaya Administrasi 7. Biaya Pemungutan 8. Pelaksanaan Pendataan & Penilaian 9. Input Data Objek/Subjek 10. Pencetakan Keluaran (SPPT,STTS,DHKP) 5. Personil

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

8

• • • • • • •

Petugas Pendata/ Surveyor untuk pengidentifikasian objek pajak Penilai (Valuer) Operator Console (OC) Petugas Administrasi Pemungutan Petugas Pungut Petugas Penagih/Juru Sita Pendistribusi SPPT

pengukuran,

pemetaan

dan

Selain mempersiapkan empat hal tersebut diatas, maka pemerintah daerah juga harus melaksanakan beberapa kegiatan yaitu: 1. Koordinasi antar instansi Pemerintah daerah mengadakan koordinasi dengan stakeholder atau pihak lain yang terkait. Misalnya dengan Notaris/PPAT, Bank, Developer, Kantor Pertanahan dan lain-lain. 2. Tahapan, kegiatan untuk Transfer Knowledge Transfer knowledge dapat dilakukan oleh pemerintah daerah dengan membuat diktat yang bekerjasama dengan Balai Pusat Pelatihan Keuangan (BPPK) atau pihak lain yang berkompeten. 3. Pemagangan/Pelatihan Pemagangan/pelatihan dapat dilakukan pemerintah daerah dengan menempatkan pegawai pada Kantor Pelayanan. Pajak Pratama untuk dapat mengetahui secara langsung kegiatan apa saja yang dilakukan dalam pengelolaan BPHTB dan sekaligus mempraktekkannya. 4. Media Asistensi/Pendampingan Asistensi/Pendampingan dilakukan oleh pegawai Direktorat Jenderal Pajak dengan melakukan pelatihan secara langsung, membimbing pelaksanaan kegiatan pengelolaaan dan pengawasannya yang dilakukan di Kantor pemerintah daerah.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

9

Matrik Perbedaan BPHTB pada Undang-Undang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dengan Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD).
UU BPHTB Tarif UU PDRD Paling Tinggi 5% Paling rendah Rp300 juta untuk Waris dan Hibah Wasiat Paling rendah Rp60 juta untuk Selain Waris dan Hibah Wasiat 5% (Maksimal) x (NPOPNPOPTKP)

Sebesar 5%

NPOPTKP Paling banyak Rp300 juta untuk Waris dan Hibah Wasiat Paling banyak Rp60 juta untuk Selain Waris dan Hibah Wasiat BPHTB Terutang 5% x (NPOP - NPOPTKP)

Dampak pengalihan BPHTB, Sebaran Kabupaten/Kota dan Penerapan NPOPTKP
NO 1 16.000.000 NPOPTKP KAB/KOTA 24

2 3 4 5 6 7 8 9 10

6.000.001 - 12.000.000 12.000.001 - 18.000.000 18.000.001 - 24.000.000 24.000.001 - 30.000.000 30.000.001 - 36.000.000 36.000.001 - 42.000.000 42.000.001 - 48.000.000 48.000.001 - 54.000.000 54.000.001 - 60.000.000 Jumlah

175 163 96 32 1 2 0 0 4 497

@) Berdasarkan kompilasi data di DIP Tahun 2009

Perubahan UU BPHTB, UU PDRD, dengan asumsi: dengan asumsi: - Tarif 5 % Tarif 5 % - NPOPTKP waris dan N P O P T K P w a ris hibah wasiat paling dan hibah wasiat tinggi 300jt paling rendah - NPOPTKP paling 300jt tinggi 60 jt untuk selain waris N P O P T K P p a lin g

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

10

dan hibah wasiat

rendah 60 jt untuk selain waris dan.hibah w asiat Potensi penerimaan 4,99 T -37,67 %

Potensi Penerimaan 8,01 T

Dampak yang timbul dari penerapan UU PDRD secara nasional. Untuk mengantisipasi kemungkinan semakin turunnya potensi penerimaan BPHTB, maka pemerintah daerah disarankan untuk mengambil langkah-langkah: 1. Tarif yang digunakan adalah yang paling tinggi atau 5%. 2. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) waris dan hibah wasiat menggunakan Nilai yang paling rendah yaitu 300 Juta. 3. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) selain Waris dan hibah wasiat menggunakan nilai yang paling rendah. 4. Pemerintah daerah harus lebih mengintensifkan pengawasan terhadap laporan BPHTB baik dari internal, stakeholder maupun Wajib Pajak. 5. Melakukan intensifikasi maupun Ekstensifikasi dari data perpajakan yang dimiliki, misalnya Menambah jumlah Wajib Pajak, memperbaiki/ menyesuaikan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). 6. Melakukan perbaikan administrasi pembuktian BPHTB. 7. Meningkatkan koordinasi dengan instansi lain yang terkait.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

11

Bab 3 Struktur Organisasi yang Dapat Diterapkan oleh Pemerintah Daerah Dalam bentuk struktur organisasi yang akan menangani pelaksanaan BPHTB di daerah maka Pemda dapat mengadosi contoh dari Struktur organisasi yang dilaksanakan oleh Dirjen Pajak, dimana bentuk organisasi tersebut didasarkan pada fungsi (organization byfungtion). Bagan Organisasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama dan Kanwil Pajak 1. Kepala Kantor 2. Kepala SubBag Umum 3. Fungsi Pendataan dan Penilaian; a. Fungsional Penilai b. Ekstensifikasi dan Penilaian 4. Fungsi Penetapan dan Pelayanan Seksi Pelayanan 5. Fungsi Penerimaan dan Manajemen IT Seksi Pusat Data dan Informasi 6. Fungsi Penagihan -Seksi Penagihan 7. Fungsi Pengawasan a. Seksi Pengawasan dan Konsultasi b. Seksi Pemeriksaan

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

12

Bab 4 Penelitian Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan Dalam upaya untuk meningkatkan pengawasan terhadap penerimaan BPHTB maka pemerintah daerah dapat melaksanakan kegiatan penelitian SSB. Kegiatan penelitian SSB tersebut tidak diatur dalam Undang-Undang PDRD, oleh karena itu pemerintah daerah harus membuat Peraturan Daerah (Perda) mengenai petunjuk pelaksannnanya. Untuk itu pemerintah, daerah dapat mengadopsi/mencontoh perturan yang sudah ada sebelumnya. Tata cara penelitian Surat Setoran BPHTB (SSB) diatur dengan Peraturan No.16/PJ/2008 Tanggal 17 April 2008. Pasal 2 1) KPPBB/KPP Pratama/ Pemerintah Daerah melakukan Penelitian SSB atas SSB yang sudah tertera Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN) atau SSB yang dilampiri dengan Bukti Penerimaan Negara (BPN) yang disampaikan oleh Wajib Pajak atau kuasanya untuk keperluan Penelitian SSB. 2) Dalam hal BPHTB terutang nihil, Penelitian SSB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah SSB ditandatangani oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah/Pejabat Lelang atau Pejabat Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang/Pejabat Kantor Pertanahan yang berkaitan dengan perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan. 3) Penyampaian SSB oleh Wajib Pajak atau kuasanya untuk keperluan Penelitian SSB dilakukan dengan menggunakan formulir sebagaimana pada Lampiran 1 Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini dan dilampiri dengan fotokopi SPPT atau Surat Tanda Terima Setoran (STTS)/Struk ATM bukti pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan/ bukti pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan lainnya atas tanah dan/atau bangunan yang diperoleh haknya, fotokopi identitas Wajib Pajak, dan fotokopi kartu Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dalam hal Wajib Pajak sudah memiliki NPWP. 4) Penelitian SSB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan apabila atas tanah dan/ atau bangunan yang diperoleh haknya tidak memiliki tunggakan Pajak Bumi dan Bangunan. Proses pengajuan Penelitian SSB (Pasal 2):

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

13

Pasal 3 1) Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 telah terpenuhi, Pemerintah daerah menindaklanjuti dengan: a. mencocokkan NOP yang dicantumkan dalam SSB dengan NOP yang tercantum dalam fotokopi SPPT atau Surat Tanda Terima Setoran (STTS)/bukti pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan lainnya; b. mencocokkan NJOP bumi per meter persegi yang dicantumkan dalam SSB dengan NJOP bumi per meter persegi pada Basis Data PBB; c. mencocokkan NJOP bangunan per meter persegi yang dicantumkan dalam SSB dengan NJOP bangunan per meter persegi pada Basis Data PBB; d. meneliti kebenaran penghitungan BPHTB yang meliputi komponen Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP), Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP), tarif, pengenaan atas objek pajak tertentu, besarnya BPHTB yang terutang, dan BPHTB yang harus dibayar; e. meneliti kebenaran penghitungan BPHTB yang disetor, termasuk besarnya pengurangan yang dihitung sendiri; 2) Objek pajak tertentu sebagaimana dimaksud pda ayat (1) huruf d meliputi perolehan hak karena waris, hibah wasiat, atau pemberian Hak Pengelolaan Item-item yang diteliti adalah: • NOP antara SSB, SPPT, dan bukti pembayaran PBB • NJOP bumi antara SSB dengan basis data. • NJOP bangunan antara SSB dengan basis data. • Kebenaran penghitungan, yang terdiri; NPOP, NPOPTKP, Tarif, Pengenaan atas objek pajak tertentu (waris/hibah wasiat/pemberian hak pengelolaan),

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

14

BPHTB terutang , BPHTB yang harus dibayar . Pasal 4 (1) Penelitian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) dapat dilanjutkan dengan Penelitian Lapangan SSB apabila diperlukan. (2) Hasil Penelitian Lapangan SSB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam Laporan Hasil Penelitian Lapangan SSB dengan menggunakanformulirsebagaimana pada Lampiran 2 Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini. Pasal 5 (1) KPPBB/KPP Pratama/Pemerintah Daerah harus menyelesaikan Penelitian SSB dalam jangka waktu: a. paling lama 1 (satu) hari kerja sejak tanggal diterimanya SSB dalam hal tidak memerlukan Penelitian Lapangan SSB; b. palinglama3 (tiga) hari kerja sejak tanggal diterimanya SSB dalam hal memerlukan Penelitian Lapangan SSB; (2) Dalam hal berdasarkan Penelitian SSB dan/ atau Penelitian Lapangan SSB ternyata BPHTB yang harus disetor lebih besar daripada BPHTB yang disetor oleh Wajib Pajak, Wajib Pajak diminta untuk melunasi kekurangan tersebut. (3) Dalam hal tersebut kekurangan pembayaran BPHTB seba-gaimana dimaksud pada ayat (2), jangka waktu penyelesaian Penelitian SSB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi paling lama 1 (satu) hari kerja dihitung sejak diterimanya SSB bukti pelunasan kekurangan tersebut yang sudah tertera NTPN atau dilampiri BPN. (4) SSB atau SSB bukti pelunasan yang telah diteliti, distempel dengan bentuk stempel sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 3 Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini. Penelitian SSB Pasal 4: Penelitian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 (1) dapat dilanjutkan dengan Penelitian Lapangan SSB apabila diperlukan.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

15

Pasal 6 Terhadap SSB yang telah diteliti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (4) masih dapat diterbitkan: a. Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar (SKBKB) apabila berdasarkan pemeriksaan atau keterangan lain ternyata jumlah BPHTB terutang kurang dibayar. b. Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar Tambahan (SKBKBT) apabila ditemukan data baru dan/atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang setelah diterbitkan SKBKB; c. Surat Tagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (STB) apabila pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar, hasil pemeriksaan terhadap SSB terdapat kekurangan pembayaran BPHTB sebagai akibat salah tulis dan/atau salah hitting, atau Wajib Pajak dikenakan sanksi administrasi berupa denda dan/atau bunga.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

16

Bab 5 Pengertian Umum tentang BPHTB Pengertian mengenai BPHTB yang diulas disini berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 (PDRD) dan dikombinasikan dengan Undang-Undang 20 Tahun 2000 (BPHTB) beserta peraturan pelaksanaannya. Berdasarkan Undang-Undang PDRD tetang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan diatur pada Bagian Ke tujuh Belas: OBJEK PAJAK Pasal 85 (1) Objek Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah Perolehan Hak atas Tanah dan/ atau Bangunan. (2) Perolehan Hak atas Tanah dan/ atau Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. pemindahan hak karena: 1) jual beli; 2) tukar menukar; 3) hibah; 4) Hibah wasiat; 5) waris; 6) pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lain; 7) pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan; 8) penunjukan pembeli dalam lelang; 9) pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap; 10) penggabungan usaha; 11) peleburan usaha; 12) pemekaran usaha; atau 13) hadiah. b. pemberian hak baru karena: 1) kelanjutan pelepasan hak; atau 2) di luar pelepasan hak. (3) Hak atas tanah sebagaimana dimaksud pada - ayat (1) adalah: a. hak milik; b. hak guna usaha; c. hak guna bangunan; d. hak pakai; e. hak milik atas satuan rumah susun; dan f. hak pengelolaan. (4) Objek pajak yang tidak dikenakan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

17

Bangunan adalah objek pajak yang diperoleh: a. perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik; b. negara untuk penyelenggaraan pemerintahan dan/atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum; c. badan atau perwakilan lembaga internasional yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan dengan syarat tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain di luar fungsi dan tugas badan atau perwakilan organisasi tersebut; d. orang pribadi atau Badan karena konversi hak atau karena perbuatan hukum lain dengan tidak adanya perubahan nama; e. orang pribadi atau Badan karena wakaf; dan orang pribadi atau Badan yang digunakan untuk kepentingan ibadah. Objek BPHTB yang diatur pada UU PDRD sama dengan Objek BHTB yang diatur pada UU PBB. Objek pajak adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan yang dapat berupa: a. tanah, termasuk tanaman di atasnya; b. tanah dan bangunan; c. bangunan. Yang dimaksud dengan bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau diletakkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan, antara lain: a. gedung; b. rumah; c. kolam renang; d. tempat olah raga; e. silo. Hibah wasiat adalah suatu penetapan wasiat yang khusus mengenai pemberian hak atas tanah dan atau bangunan kepada orang pribadi atau badan hukum tertentu, yang berlaku setelah pemberi hibah wasiat meninggal dunia. Yang dimaksud dengan pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah pengalihan hak atas tanah dan atau bangunan dari orang pribadi atau badan kepada Perseroan Terbatas atau badan hukum lainnya sebagai penyertaan modal pada Perseroan Terbatas atau badan hukum lainnya tersebut. Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah pemindahan sebagian hak bersama atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan kepada sesama pemegang hak bersama. Penunjukan pembeli dalam lelang adalah penetapan pemenang lelang oleh Pejabat Lelang sebagaimana yang tercantum dalam Risalah Lelang.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

18

Sebagai pelaksanaan dari putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, terjadi peralihan hak dari orang pribadi atau badan hukum sebagai salah satu pihak kepada pihak yang ditentukan dalam putusan hakim tersebut. Penggabungan usaha adalah penggabungan dari dua badan usaha atau lebih dengan cara tetap mempertahankan berdirinya salah satu badan usaha dan melikuidasi badan usaha lainnya yang menggabung. Peleburan usaha adalah penggabungan dari dua atau lebih badan usaha dengan cara mendirikan badan usaha baru dan melikuidasi badan-badan usaha yang bergabung tersebut. Pemekaran usaha adalah pemisahan suatu badan usaha menjadi dua badan usaha atau lebih dengan cara mendirikan badan usaha baru dan mengalihkan sebagian aktiva dan pasiva kepada badan usaha baru tersebut yang dilakukan tanpa melikuidasi badan usaha yang lama. Hadiah adalah suatu perbuatan hukum berupa penyerahan hak atas tanah dan atau bangunan yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan hukum kepada penerima hadiah. Yang dimaksud dengan pemberian hak baru karena kelanjutan pelepasan hak adalah pemberian hak baru kepada orang pribadi atau badan hukum dari negara atas tanah yang berasal dari pelepasan hak. Yang dimaksud dengan pemberian hak baru di luar pelepasan hak adalah pemberian hak baru atas tanah kepada orang pribadi atau badan hukum dari negara atau dari pemegang hak milik menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hak milik adalah hak turun-temurun, terkuat, dan terpenuh yang dapat dipunyai orang pribadi atau badan-badan hukum tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah. Hak guna usaha adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara dalam jangka waktu sebagaimana yang ditentukan oleh perundang-undangan yang berlaku. Hak guna bangunan adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunanbangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. Hak pakai adalah hak untuk menggunakan dan atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh negara atau tanah milik orang lain, yang memberi

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

19

wewenang dan kewajiban yang ditentukan dalam keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang memberikannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya, yang bukan perjanjian sewa-menyewa atau perjanjian pengolahan tanah, segala sesuatu sepanjang tidak bertentangan dengan jiwa dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hak milik atas satuan rumah susun adalah hak milik atas satuan yang bersifat perseorangan dan terpisah. Hak milik atas satuan rumah susun meliputi juga hak atas bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama yang semuanya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan satuan yang bersangkutan. Hak pengelolaan adalah hak menguasai dari negara yang kewenangan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegang haknya, antara lain, berupa perencanaan peruntukan dan penggunaan tanah, penggunaan tanah untuk keperluan pelaksanaan tugasnya, penyerahan bagian-bagian dari tanah tersebut kepada pihak ketiga dan atau bekerja sama dengan pihak ketiga. Yang dimaksud dengan tanah dan atau bangunan yang digunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan dan atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum adalah tanah dan atau bangunan yang digunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan baik Pemerintah Pusat maupun oleh Pemerintah Daerah dan kegiatan yang semata-mata tidak ditujukan untuk mencari keuntungan, misalnya, tanah dan atau bangunan yang digunakan untuk instansi pemerintah, rumah sakit pemerintah, jalan umum. Badan atau perwakilan organisasi internasional yang dimaksud dalam pasal ini adalah badan atau perwakilan organisasi internasional, baik pemerintah maupun non pemerintah. Yang dimaksud dengan konversi hak adalah perubahan hak dari hak lama menjadi hak baru menurut Undang-Undang Pokok Agraria, termasuk pengakuan hak oleh pemerintah. Contoh: 1. Hak Guna Bangunan menjadi Hak Milik tanpa adanya perubahan nama; 2. Bekas tanah hak milik adat (dengan bukti surat Girik atau sejenisnya) menjadi hak baru. Yang dimaksud dengan perbuatan hukum lain misalnya memperpanjang hak atas tanah tanpa adanya perubahan nama. Contoh: Perpanjangan Hak Guna Bangunan (HGB), yang dilaksanakan baik sebelum maupun setelah berakhirnya HGB. Yang dimaksud wakaf adalah perbuatan hukum orang pribadi atau badan yang

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

20

memisahkan sebagian dari harta kekayaannya yang berupa hak milik tanah dan atau bangunan dan melembagakannya untuk selama-lamanya untuk kepentingan peribadatan atau kepentingan umum lainnya tanpa imbalan apa pun. jenis jenis hak hak atas tanah dasar hukumnya adalah sebagai berikut: ♦ Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, Hak Pakai: UUPA (UU No. 5 Tahun 1960). ♦ Hak Milik atas satuan Rumah susun : UU Rumah Susun (UU No. 16 Tahun 1985). ♦ Hak Pengelolaan: Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1953 Obyek Pajak yang diperoleh karena waris, hibah wasiat dan pemberian hak pengelolaan diatur dengan PP No 8/1953 Pasal 3 ayat (2) Pengenaan BPHTB pada waris dan hibah wasiat, untuk lebih memberikan rasa keadilan: ♦ Saat pewaris meninggal dunia pada hakikatnya telah terjadi pemindahan hak dari pewaris kepada ahli waris ♦ mengingat ahli waris memperoleh hak secara cuma-cuma, maka adalah wajar apabila perolehan hak karena waris termasuk objek pajak ♦ hibah wasiat merupakan penetapan wasiat yang khusus berlaku pada saat pemberi wasiat meninggal dunia, pada umumnya penerima hibah wasiat adalah orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga yang tidak mampu atau badan sebagai penghargaan Pengenaan BPHTB karena Pemberian hak pengelolaan: • Hak pengelolaan merupakan hak menguasai dari negara atas tanah yang sebagian kewenangannya dilimpahkan kepada pemegang haknya. SUBJEK PAJAK Subjek Pajak yang diatur dalam UU PDRD sama dengan UU PBB 32 Panduan Pelaksanaan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan... Pasal 86 (1) Subjek Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah orang pribadi atau Badan yang memperoleh Hak atas Tanah dan/atau Bangunan. (2) Wajib Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah orang pribadi atau Badan yang memperoleh Hak atas Tanah dan/atau Bangunan. Untuk lebih memberi kepastian hukum tentang Wajib Pajak, maka perlu dijelaskan pada Peraturan Daerah, yaitu ketentuan yang belum diatur dalam dalam Undang-Undang PDRD, misalnya yang tidak diketahui siapa Wajib Pajaknya atau adanya perselisihan dalam menetapkan Wajib Pajaknya. DASAR PENGENAAN Pasal 87

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

21

(1) Dasar pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangu-nan adalah Nilai Perolehan Objek Pajak. (2) Nilai Perolehan Objek Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dalam hal: a. jual beli adalah harga transaksi; b. tukar menukar adalah nilai pasar; c. hibah adalah nilai pasar; d. hibah wasiat adalah nilai pasar; e. waris adalah nilai pasar; f. pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah nilai pasar; g. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah nilai pasar; h. peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap adalah nilai pasar; i. pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah nilai pasar; j. pemberian hak baru atas tanah di luar pelepasan hak adalah nilai pasar; k. penggabungan usaha adalah nilai pasar; 1. peleburan usaha adalah nilai pasar; m. pemekaran usaha adalah nilai pasar; n. hadiah adalah nilai pasar; dan/atau o. penunjukkan pembeli dalam lelang adalah harga transaksi yang tercantum dalam risalah lelang. (3) Jika Nilai Perolehan Objek Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a sampai dengan huruf n tidak diketahui atau lebih rendah daripada NJOP yang digunakan dalam pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan pada tahun terjadinya perolehan, dasar pengenaan yangdipakai adalah NJOP Pajak Bumi dan Bangunan. (4) Besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan paling rendah sebesar Rp60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah) untuk setiap Wajib Pajak. (5) Dalam hal perolehan hak karena waris atau hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah dengan pemberi hibah wasiat, termasuk suami/istri, Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan paling rendah sebesar Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah). (6) Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) ditetapkan dengan Peraturan Daerah NPOPTKP pada UU PDRD terdapat perbedaan dengan UU PBB, besarnya NPOPTKP ditetapkan paling rendah Rp. 60.000.000,- enam puluh juta untuk setiap WP. Dan NPOPTKP untuk waris atau hibah wasiat ditetapkan paling

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

22

rendah Rp. 300.000.000,- (Tiga ratus juta rupiah). Yang perlu diantisipasi dari Undang Undang PDRD ini dalam hal Penetapan NPOPTKP ini adalah Pasal 87 ayat (4), dimana. penguranagan NPOPTKP ditetapkan "Untuk Setiap Wajib Pajak" hal tersebut akan menimbulkan polemik karena sulit dilaksanakan di lapangan. Seharusnya pengurangan NPOPTKP diterapkan "Untuk Setiap Transaksi Wajib Pajak". Tapi perlu diantisipasi juga kemungkinan kecurangan yang dilakukan Wajib Pajak dengan cara memecah transaksi sebanyak mungkin agar memperoleh pengurangan jumlah NPOPTKP yang banyak, hal tersebut perlu dibuat Peraturan Daerah yang lebih efektif dalam pengenaan BPHTB. Misalnya untuk kegiatan transaksi-transaksi yang dilakukan pada satu Hamparan Objek Pajak pada satu waktu tertentu maka pengenaan NPOPTKP nya hanya Satu Kali. Seperti yang diamanatkan pada UU PDRD maka, dalam Pengenaan BPHTB perlu diatur dalam Perda. Berikut ini beberapa contoh mengenai Pengenaan BPHTB yang dapat diadopsi oleh Pemerintah Daerah, yaitu mengenai: 1. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB) BPHTB 2. Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar (SKPDLB) BPHTB 3. Surat Ketetapan Bebas BPHTB (SKB BPHTB) 4. Pengenaan BPHTB atas Hak Baru 5. Pengenaan BPHTB Karena Waris dan Hibah Wasiat PERATURAN PEMERINTAH RI NOMOR 111 TAHUN 2000 TENTANG PENGENAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN KARENA WARIS DAN HIBAH WASIAT Kep. Men. Keu No.514/KMK.04/2000 tanggal 14 Desember 2000. • Perolehan hak karena waris adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan oleh ahli waris kepada pewaris, yang berlaku setelah pewaris meninggal dunia . • Perolehan hak karena hibah wasiat adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan dari pemberi hibah wasiat yang berlaku setelah pemberi hibah wasiat meninggal dunia. Besarnya BPHTB terhutang atas perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan karena Waris &Hibah wasiat yang diterima dikenakan sebesar 50% dari BPHTB yang seharusnya terhutang. SaatTerhutang Pajak atas Perolehan Hak karena Waris dan Hibah Wasiat sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

23

Nilai Perolehan Objek Pajak karena waris dan hibah wasiat adalah nilai pasar pada saat didaftarkannya perolehan hak tersebut ke Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota. Dalam hal nilai pasar lebih rendah daripada Nilai Jual Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan, Nilai Perolehan Objek Pajak yang digunakan sebagai dasar pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah Nilai Jual Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan pada tahun terjadinya perolehan. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota hanya dapat melakukan pendaftaran perolehan hak karena waris dan hibah wasiat pada saat Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak berupa Surat Setoran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. 6. Pengenaan BPHTB Karena Pemberian Hak Pengelolaan PERATURAN PEMERINTAH RI NOMOR 112 TAHUN 2000 TENTANG PENGENAAN BEA PEROLEHAN HAKATAS TANAH DAN BANGUNAN KARENA PEMBERIAN HAK PENGELOLAAN Kep. Men. Keu. No.515/KMK.04/2000 tanggal 14 Desember 2000. 36 Panduan Pelaksanaan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan... Hak Pengelolaan adalah Hak menguasai dari Negara atas tanah yang kewenangan pelak-sanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegang haknya. Antara lain untuk: • merencanakan peruntukan dan penggunaan tanah • keperluan pelaksanaan tugas • menyerahkan bagian tanah tersebut kepada pihak ketiga atau bekerja sama dengan pihak ketiga Besarnya Bea Perolehan Hak-atas Tanah dan Bangunan karena pemberian Hak Pengelolaan adalah sebagai berikut: • 0% (nol persen) dari Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang seharusnya terutang, dalam hal penerima Hak Pengelolaan adalah Departemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen, Pemerintah Daerah Provinsi, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, lembaga pemerintah lainnya, dan Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perum Perumnas); • 50% (lima puluh persen) dari Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang seharusnya terutang dalam hal penerima Hak Pengelolaan selain dimaksud pada huruf a. Saat terutang pajak atas perolehan hak atas tanah dan bangunan untuk pemberian Hak Pengelolaan adalah sejak tanggal ditandatangani dan diterbitkannya keputusan pemberian Hak Pengelolaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

24

Nilai Perolehan Objek Pajak dalam hal pemberian Hak Pengelolaan adalah nilai pasar pada saat diterbitkannya keputusan pemberian Hak Pengelolaan. Dalam hal nilai pasar lebih rendah dari pada Nilai Jual Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan, Nilai Perolehan Objek Pajak yang digunakan sebagai dasar pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah Nilai Jual Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan pada tahun terjadinya perolehan. 7. Tata Cara Penentuan Besarnya NPOPTKP BPHTB (Contoh Perda NPOPTKP pada Lampiran 1) a. Besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ditetapkan oleh setiap Pemerintah Kabupaten/Kota dengan memperhatikan usulan Masyarakat b. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (a) dapat diubah dengan mempertimbangkan perkembangan perekonomian regional. TARIF, CARA MENGHITUNG DAN TEMPAT PAJAK TERHUTANG Pasal 88 (1) Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ditetapkan paling tinggi sebesar 5% (lima persen). (2) Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Pasal 89 (1) Besaran pokok Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88 ayat (2) dengan dasar pengenaan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (1) setelah dikurangi Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (6). (2) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang dipungut di wilayah daerah tempat Tanah dan/ atau Bangunan berada. Cara Menghitung BPHTB: BPHTB - ( NPOP - NPOPTKP ) x Tarif Atau, Bila NJOP sebagai dasar Pengenaan maka: BPHTB - ( NJOP - NPOPTKP ) x Tarif Contoh: Wajib Pajak "A" membeli tanah dan bangunan Nilai Perolehan Objek Pajak Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak

= Rp 95.000.000,00 = Rp 60.000M.00 (-) Rp 35.000.000,00

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

25

Pajak yang Terutang = 5% x Rp35.000.000,00 SAAT TERHUTANG

= Rp 1.750.000,00

Pasal 90 (1) Saat terutangnya pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan ditetapkan untuk: a. jual beli adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta; b. tukar-menukar adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta; c. hibah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta; d. hibah wasiat adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta; e. waris adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke kantor bidang pertanahan; f. pemasukan dalam perseroan atau badanhukumlainnya adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta; g. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta; h. putusan hakim adalah sejak tanggal putusan pangadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap; i. pemberian hak baru atas Tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah sejak tanggal diterbitkannya surat keputusan pemberian hak; j. pemberian hak baru di luar pelepasan hak adalah sejak tanggal diterbitkannya surat keputusan pemberian hak; k. penggabungan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta; 1. peleburan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta; m. pemekaran usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta, n. hadiah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta; dan o. lelang adalah sejak tanggal penunjukkan pemenang lelang. (2) Pajak yang terutang harus dilunasi pada saat terjadinya perolehan hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Untuk Penetapan BPHTB terhutangatas lelang dan Penggabungan usaha atas Bank Mandiri maka pemerintah daerah dapat merujuk pada: Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP 09/PJ./1999 Tentang Tata Cara Pembayaran BPHTB sehubungan Merger Bank Mandiri dan Lelang. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang terutang sehubungan dengan Penggabungan Usaha (merger) dan Pembentukan Bank Mandiri, dapat dibayar sebesar BPHTB terutang setelah dikurangi sebesar 100% (seratus persen) dengan menggunakan Surat Setoran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (SSB). BPHTB yang terutang sehubungan dengan penjualan tanah dan atau bangunan secara lelang yang harga lelangnya lebih rendah daripada NJOP PBB, dapat dibayar

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

26

sebesar BPHTB terutang menurut harga lelang dengan menggunakan SSB. Kewajiban membayar sebagaimana dimaksud pada hal di atas dilaksanakan sebelum akta pemindahan hak atas tanah dan atau bangunan atau risalah lelang ditandatangani oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT)/ Notaris/ Pejabat Lelang. KETENTUAN BAGI PEJABAT . Pasal 91 (1) Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris hanya dapat menandatangani akta pemindahan Hak atas Tanah dan/ atau Bangunan setelah Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak. (2) Kepala kantor yang membidangi pelayanan lelang negara hanya dapat menandatangani risalah lelang Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan setelah Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak. (3) Kepala kantor bidang pertanahan hanya dapat melakukan pendaftaran Hak atas Tanah atau pendaftaran peralihan Hak atas Tanah setelah Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak. Pasal 92 (1) Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris dan kepala kantor yang membidangi pelayanan lelang negara melaporkan pembuatan akta atau risalah lelang Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan kepada Kepala Daerah paling lambat pada tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya. (2) Tata cara pelaporan bagi pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. Pasal 93 (1) Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris dan kepala kantor yang membidangi pelayanan lelang negara, yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 ayat (1) dan ayat (2) dikenakan sanksi administratif berupa denda sebesar Rp7.500.000,00 (tujuh juta lima ratus ribu rupiah) untuk setiap pelanggaran. (2) Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris dan kepala kantor yang membidangi pelayanan lelang negara, yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92 ayat (1) dikenakan sanksi administratif berupa denda sebesar Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) untuk setiap laporan. (3) Kepala kantor bidang pertanahan yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 ayat (3) dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah pasal 91, pasal 92 dan pasal 93 telah diatur ketentuan bagi Pajabat Pembuat

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

27

Akta Tanah/ Notaris dan Kepala Kantor Lelang/Pejabat Lelang untuk menyampaikan laporan tentang pembuatan akta, atau Risalah Lelang atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. Penyampaian laporan tersebut diperlukan dalam rangka pengawasan terhadap kepatuhan dan kebenaran pemenuhan kewajiban perpajakan. Selain itu, mengingat pendaftaran perolehan hak baru atas tanah dilakukan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kotamadya, maka pejabat dimaksud juga perlu memberitahukan penerbitan keputusan pemberian hak baru atas tanah. Oleh karena itu, untuk tertib administrasi pelaporan dan pemberitahuan serta pemberlakuan sanksi administrasi bagi pejabat, maka tata cara pelaporan atau pemberitahuan perolehan hak atas tanah atau bangunan perlu diatur lebih detail dan juga menampung semua aspirasi dari stakeholder. Hal-hal yang perlu disiapkan oleh Pemerintah Daerah Dalam Rangka penyusunan Perda tentang Pelaporan dan Pemberitahuan Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan 1. Laporan atau pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sekurang-kurangnya memuat nomor dan tanggal akta, Risalah Lelang atau surat keputusan pemberian hak atas tanah, status hak, letak tanah dan atau bangunan, luas tanah, luas bangunan, nomor dan tahun Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak Bumi dan Bangunan, Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan, harga transaksi atau nilai pasar, nama dan alamat pihak yang mengalihkan dan memperoleh hak, serta tanggal dan jumlah setoran. 2. Laporan atau pemberitahuan sebagaimana dimaksud di atas disampaikan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. 3. Apabila tanggal 10 bulan berikutnya jatuh pada hari libur, maka Laporan disampaikan pada hari kerja berikutnya. Pelaporan atau pemberitahuan dimaksud tidak perlu dilakukan dalam hal tidak terjadi perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. 4. Ketentuan pemberian hak baru oleh Badan pertanahan berlaku dalam hal perolehan hak atas tanah karena pemberian hak baru dimaksud merupakan objek pajak dan pelaksanaannya tidak dilakukan melalui Pejabat Pembuat Akta Tanah atau Kantor Lelang. 5. Dalam hal terjadi perpanjangan atau pembaharuan hak karena berakhirnya hak atas tanah yang sudah bersertifikat dan diberikan kepada pemegang hak semula, Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kotamadya tidak perlu menyampaikan pemberitahuan dimaksud. PPAT/ Notaris/ Camat yang terlambat melakukan pelaporan bulanan Pembuatan

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

28

Akta Tanah dikenakan Surat Tagihan Denda Pajak Daerah (STDPD), dengan ini disampaikan penjelasan sebagai berikut: 1. Bahwa Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) wajib menyampaikan Laporan Bulanan Pembuatan Akta Tanah oleh PPAT kepada Kepala Kantor Pemerintah Daerah yang wilayah kerjanya meliputi letak tanah dan atau bangunan, paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya 2. Bahwa Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud di atas dikenakan sanksi denda sebesar Rp. 250.000,- (Dua ratus lima puluh ribu rupiah) untuk setiap laporan (Pasal 93 ayat 2 UU. No. 28 Tahun 2009) 3. Pemerintah daerah dapat mengeluarkan Ketetapan perihal pemberian sanksi bagi PPAT yang melanggar Pasal 93 ayat 2 UU no. 28 Tahun 2009 yaitu Surat Tagihan Denda Pajak Daerah(STDPD) dengan jumlah denda yang: Rp. 250.000,-yang harus dibayar 4. Dengan diterbitkannya Surat Tagihan Denda Pajak Daerah (STDPD), maka: a. Agar membayar denda di Bank-bank Pemerintah/ Kantor Pos yang ditunjuk. b. Pembayaran denda dilaksanakan dengan menggunakan Surat Setoran Pembayaran Denda Pajak Daerah (SSPDPD). c. SSPDPD Lembar ke-2, supaya dikirimkan ke Kantor Pemerintah Daerah. Apa bila Akta ditandatangani sebelum BPHTB terbayar, bisa dikenakan Surat Tagihan Denda Pajak Daerah (STDPD), dengan penjelasan sebagai berikut: 1. Bahwa Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris hanya dapat menandatangani akta pemindahan hak atas tanah dan atau bangunan pada saat Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak berupa Surat Setoran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Pasal 91 ayat (1) W. No.28 Tahun 2009 2. Bahwa Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris dan Pejabat Lelang Negara yang melanggar Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 ayat (1) dan ayat (2), dikenakan sanksi administrasi dan denda sebesar Rp 7.500.000,00 (tujuh juta lima ratus ribu rupiah) untuk setiap pelanggaran. Pasal 93 ayat 1 UU. No. 28 Tahun 2009. 3. Pemerintah Daerah dapat mengeluarkan ketetapan perihal pemberian sanksi bagi PPAT dan Pejabat Lelang yang melanggar Pasal 91 ayat 1 dan ayat 2 dengan Surat Tagihan Denda Pajak Daerah (STDPD) dengan jumlah denda yang: Rp. 7.500.000,yang harus dibayar. 4. Dengan diterbitkannya Surat Tagihan Denda Pajak Daerah (STDPD), maka: a. Agar membayar denda di Bank-bank Pemerintah/ Kantor Pos yang ditunjuk. b. Pembayaran denda dilaksanakan dengan menggunakan Surat Setoran

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

29

Pembayaran Denda Pajak Daerah (SSPDPD). c. SSBP Lembar ke-2, supaya dikirimkan ke Kantor Pemerintah Daerah d. Surat Tagihan Denda Pajak Daerah dapat dibatalkan dengan menunjukkan SSPDB telah dilaporkan sebelum tanggal ditandatanginya akta. PENETAPAN DAN MUATAN YANG DIATUR DALAM PERATURAN DAERAH Pasal 95 (1) Pajak ditetapkan dengan Peraturan Daerah. (2) Peraturan Daerah tentang Pajak tidak berlaku surut. (3) Peraturan Daerah tentang Pajak paling sedikit mengatur ketentuan mengenai: a. nama, objek, dan Subjek Pajak; b. dasar pengenaan, tarif, dan cara penghitungan pajak; c. wilayah pemungutan; d. masa pajak; e. penetapan; f. tata cara pembayaran dan penagihan; g. kedaluwarsa; h. sanksi administratif; dan i. tanggal mulai berlakunya. (4) Peraturan Daerah tentang Pajak dapat juga mengatur ketentuan mengenai: a. pemberian pengurangan, keringanan, dan pembebasan da-lam hal-hal tertentu atas pokok pajak dan/atau sanksinya; b. tata cara penghapusan piutang pajak yang kedaluwarsa; dan/atau c. asas timbal balik, berupa pemberian pengurangan, keringanan, dan pembebasan pajak kepada kedutaan, konsulat, dan perwakilan negara asing sesuai dengan kelaziman internasional. PEMUNGUTAN PAJAK Pasal 96 Tata Cara Pemungutan (1) Pemungutan Pajak dilarang diborongkan. (2) Setiap Wajib Pajak wajib membayar Pajak yang terutang berdasarkan surat ketetapan pajak atau dibayar sendiri oleh Wajib Pajak berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan. (3) Wajib Pajak yang memenuhi kewajiban perpajakan berdasarkan penetapan Kepala Daerah dibayar dengan menggunakan SKPD atau dokumen lain yang dipersamakan. (4) Dokumen lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berupa karcis dan nota perhitungan.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

30

(5) Wajib Pajak yang memenuhi kewajiban perpajakan sendiri dibayar dengan menggunakan SPTPD, SKPDKB, dan/ atau SKPDKBT. Untuk lebih mempermudah bagi Pemerintah Daerah dalam membuat bentuk formulir SPTPD maka dapat mencontoh bentuk formulir SSB yang sudah ada dengan beberapa penyesuaian untuk kentingan daerah masing-masing; (Contoh Formulir SPTPD untuk BPHTB pada Lampiran 2). KEPUTUSAN PEMERINTAH DAERAH TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PEMBAYARAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN DAN BENTUK SERTA FUNGSI SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK DAERAH BPHTB Nomor 1 (1) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang terutang wajib dibayar oleh Wajib Pajak atau Kuasanya dengan menggunakan Surat Setoran Pajak Daerah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (SSB) ke Tempat Pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah di wilayah Kabupaten/Kota yang meliputi letak tanah dan atau bangunan. (2) Kewajiban membayar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan pada saat: a. dibuat dan ditandatanganinya akta dalam hal jual beli, tukar menukar, hibah, pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan, penggabungan usaha, peleburan usaha, dan hadiah; b. dilakukan pendaftaran hak oleh Pejabat Pertanahan dalam hal waris dan hibah wasiat; c. ditunjuknya pemenang lelang dalam hal lelang; d. ditandatanganinya surat keputusan pemberian hak oleh Pejabat Pertanahan dalam hal pemberian hak baru; e. putusan pengandilan mempunyai kekuatan hukum tetap dalam hal pelaksananan putusan hakim. Nomor2 (1) SPTPD untuk BPHTB sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 ayat (1) digunakan untuk melakukan pembayaran/ penyetoran BPHTB yang terutang dan sekaligus digunakan untuk melaporkan data perolehan hak atas tanah dan bangunan. (2) SPTPD selain berfungsi sebagai alat pembayaran/ penyetoran BPHTB dan pelaporan data perolehan hak atas tanah dan atau bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga berfungsi sebagai Surat Pemberitahuan Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan (SPOP PBB).

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

31

(3) SPTPD BPHTB terdiri dari 5 (lima) rangkap, yaitu: a. Lembar ke-1: untuk Wajib Pajak; b. Lembar ke-2: untuk Kantor Pelayanan Pemda melalui Bank Operasional BPHTB; c. Lembar ke-3: untuk Pemda disampaikan oleh Wajib Pajak; d. Lembar ke-4: untuk Tempat Pembayaran BPHTB; e. Lembar ke-5: untuk PPAT/ Notaris/Pejabat Lelang/ Pejabat Pertanahan Nomor3 (1) Formulir SPTPD disediakan di PPAT/Notaris, Kantor Lelang, Kantor Pertanahan, Pemda, Tempat Pembayaran BPHTB, dan tempat lain yang ditunjuk oleh Kepala KPPBB. (2) Wajib Pajak setelah melakukan pembayaran memperoleh SPTPD lembar ke-1, SSB lembar ke-3, dan SPTPD Lembar ke-5. (3) Tempat Pembayaran BPHTB mengirimkan SPTPD Lembar ke-2 Bank Operasional untuk diteruskan ke Pemda yang bersangkutan setiap ada pelimpahan. (4) SPTPD Lembar ke-3 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan oleh Wajib Pajak kepada Pemda. (5) SPTPD Lembar ke-4 disimpan oleh Tempat Pembayaran BPHTB sebagai arsip. (6) SPTPD lembar ke-5 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan oleh Wajib Pajak kepada PPAT/ Notaris/Kepala Kantor Lelang/Pejabat Lelang/Pejabat Pertanahan. Nomor4 (1) Dalam hal Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang seharusnya terutang nihil, maka Wajib Pajak tetap mengisi SPTPD dengan keterangan nihil. (2) SPTPD nihil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) cukup diketahui oleh PPAT/Notaris/Kepala Kantor Lelang/ Pejabat Lelang/Pejabat Pertanahan. (3) SPTPD nihil lembar ke-2, SSB nihil lembar ke-3, dan SSB nihil lembar ke-4 disampaikan oleh Wajib Pajak kepada Pemda. Nomor 5 Penyampaian SPTPD sebagaimana dimaksud dalam Nomor 3 ayat (4) dan Pasal 4 ayat (3) dilakukan dalam jangka jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari sejak tanggal pembayaran atau perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. Nomor6

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

32

Bentuk formulir dan petunjuk pengisian SPTPD adalah sebagai mana ditetapkan dalam Lampiran Keputusan Pemerintah Daerah. Untuk lebih mempermudah pemahaman pada SPTPD untuk BPHTB maka dapat dilihat pada diagram arus berkas dan arus dokumen pembayaran BPHTB. (Lampiran 3) DALUARSA PAJAK, SKPDKB, SPTPD, SKPDN DAN SKPDKBT Pasal 97 (1) Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya pajak, Kepala Daerah dapat menerbitkan: a. SKPDKB dalam hal: 1) jika berdasarkan hasil pemeriksaan atau ketera-ngan lain, pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar; 2) jika SPTPD tidak disampaikan kepada Kepala Daerah dalam jangka waktu tertentu dan setelah ditegur secara tertulis tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam surat teguran; 3) jika kewajiban mengisi SPTPD tidak dipenuhi, pajak yang terutang dihitung secara jabatan. b. SKPDKBT jika ditemukan data baru dan/atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak-yang terutang. c. SKPDN jika jumlah pajak yang terutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. (2) Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam SKPDKB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a angka 1) dan angka 2) dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak. (3) Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam SKPDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dikenakan sanksi administratif berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut. (4) Kenaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dikenakan jika Wajib Pajak melaporkan sendiri sebelum dilakukan tindakan pemeriksaan. (5) Jumlah pajak yang terutang dalam SKPDKB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a angka 3) dikenakan sanksi administratif berupa kenaikan sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari pokok pajak ditambah sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak. Pasal 98

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

33

Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis Pajak yang dapat dipungut berdasarkan penetapan Kepala Daerah atau dibayar sendiri oleh Wajib Pajak dan ketentuan lainnya berkaitan dengan pemungutan pajak diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 99 (1) Tata cara penerbitan SKPD atau dokumen lain yang dipersamakan, SPTPD, SKPDKB, dan SKPDKBT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96 ayat (3) dan ayat(5) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengisian dan penyampaian SKPD atau dokumen lain yang dipersamakan, SPTPD, SKPDKB, dan SKPDKBT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96 ayat (3) dan ayat (5) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. CONTOH KEPUTUSAN PEMERINTAH DAERAH TENTANG TATA CARA PENERBITAN SURAT KETETAPAN PAJAK DAERAH BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN KURANG BAYAR (SKPDKB), SURAT KETETAPAN PAJAK DAERAH BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN KURANG BAYAR TAMBAHAN (SKPDKBT). Nomor 1 (1) Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya pajak, Kepala Pemerintah Daerah dapat melakukan pemeriksaan atas kebenaran data objek pajak yang tertuang dalam SSPD. (2) Berdasarkan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) atau keterangan lain ternyata jumlah pajak yang terutang kurang dibayar, maka Kepala Pemerintah Daerah menerbitkan Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar (SKPDKB). (3) Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam SKPDKB sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan, dihitung mulai saat terutangnya pajak sampai dengan diterbitkannya SKPDKB. Nomor2 (1) Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya pajak, Kepala Pemerintah Daerah dapat menerbitkan Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT) apabila ditemukan data baru dan atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang dan sebelumnya telah pernah diterbitkan SKPDKB. (2) Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam SKPDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

34

sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut. (3) Sanksi administrasi berupa kenaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dikenakan apabila SKPDKBT diterbitkan berdasarkan keterangan tertulis dari Wajib Pajak atas kehendak sendiri, dengan syarat belum dilakukan tindakan pemeriksaan. Nomor3 (1) SKBKB, SKBKBT sebagaimana dimaksud diatas, merupakan dasar penagihan pajak. (2) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang berdasarkan SKPDKB, SKPDKBT yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus dilunasi dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak diterima oleh Wajib Pajak. (3) Apabila atas pajak yang terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak atau kurang dibayar pada saat jatuh tempo, maka atas jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar dimaksud dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan, dihitung dari saat jatuh tempo sampai dengan pembayaran. Bentuk SKBKB, SKBKBT, sebagaimana lampiran 29 dan 30. PEMERINTAH DAERAH TENTANG TATA CARA PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN. Nomor 1 (1) Untuk memperoleh pengembalian kelebihan pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, Wajib Pajak mengajukan permohonan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan menyebutkan jumlah kelebihan pembayaran disertai alasan yang jelas kepada Kepala Kantor Pemerintah Daerah yang wilayah kerjanya meliputi letak tanah dan atau bangunan. (2) tanda penerimaan surat permohonan diberikan oleh Kantor Pemerintah Daerah atau tanda pengiriman surat permohonan melalui pos tercatat dan sejenisnya, menjadi tanda bukti penerimaan surat permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Nomor2 (1) Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1, dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak diterimanya surat permohonan Wajib Pajak, Kepala Kantor Pemerintah Daerah menerbitkan: a. Surat Ketetapan Pajak Daerah bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar, apabila jumlah bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang dibayar ternyata lebih besar dari yang seharusnya terutang atau dilakukan pembayaran pajak yang tidak seharusnya terutang.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

35

b. Surat ketetapan Pajak Daerah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Nihil, apabila jumlah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang dibayar sama dengan jumlah Bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang seharusnya terutang. c. Surat ketetapan Pajak Daerah bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar, apabila jumlah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang ternyata lebih besar dari jumlah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang dibayar. (2) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat dan Kepala Kantor Pemerintah belum memberikan keputusan, maka Permohonan Wajib Pajak dianggap dikabulkan dan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak berakhirnya jangka waktu tersebut Kepala Kantor Pemerintah Daerah harus menerbitkan Surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar. (3) Apabila Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar terlambat diterbitkan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2), maka kepada Wajib Pajak diberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan dihitung sejak berakhirnya jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sampai dengan saat diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Daerah Bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan lebih Bayar. Nomor3 Kepala Kantor Pemerintah Daerah menerbitkan Surat Keputusan Pengembalian kelebihan Pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan berdasarkan Surat Ketetapan Pajak Daerah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar atau Surat Keputusan/Putusan lain yang menyebabkan timbulnya kelebihan pembayaran pajak, dan mengirimkannya kepada Wajib Pajak, Bank Tunggal/Bank Operasional, Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara. Nomor4 (1) Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan atas nama Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan terhitung sejak diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Daerah Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan lebih bayar, harus menerbitkan Surat Perintah Membayar Kelebihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. (2) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat, Surat Perintah Membayar Kelebihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan belum diterbitkan, maka kepada Wajib Pajak diberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan dihitung sejak berakhirnya jangka waktu 2 (dua) bulan tersebut sampai dengan diterbitkannya Surat Perintah Membayar Kelebihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

36

(3) Dalam hal Wajib Pajak diberikan imbalan bunga diterbitkan Surat keputusan Imbalan Bunga. (4) Imbalan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diterbitkan Surat Perintah Membayar Imbalan Bunga. (5) Dalam hal Wajib Pajak mempunyai utang Bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dan atau Pajak Bumi dan Bangunan dalam wilayah Daerah Tingkat 11 yang sama, maka kelebihan pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang tercantum dalam Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar sebagaimana dimaksud dalam Nomor 2 ayat (1) huruf a, ayat (2), dan ayat (3) diperhitungkan terlebih dahulu dengan utang Bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dan atau Pajak Bumi dan Bangunan. (6) Perhitungan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dicantumkan dalam Surat Keputusan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dan atas sisanya diterbitkan Surat Perintah Membayar Kelebihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. SURAT TAGIHAN PAJAK Pasal 100 (1) Kepala Daerah dapat menerbitkan STPD jika: a. pajak dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar; b. dari hasil penelitian SPTPD terdapat kekurangan pembayaran sebagai akibat salah tulis dan/atau salah hitung; c. Wajib Pajak dikenakan sanksi administratif berupa bunga dan/atau denda. (2) Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam STPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b ditambah dengan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan untuk paling lama 15 (lima belas) bulan sejak saat terutangnya pajak. (3) SKPD yang tidak atau kurang dibayar setelah jatuh tempo pembayaran dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dan ditagih melalui STPD. TATA CARA PEMBAYARAN DAN PENAGIHAN Pasal 101 (1) Kepala Daerah menentukan tanggal jatuh tempo pembayaran dan penyetoran pajak yang terutang paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja setelah saat terutangnya pajak dan paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal diterimanya SPPT oleh Wajib

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

37

Pajak. (2) SPPT, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT,STPD, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, dan Putusan Ban-ding, yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah merupakan dasar penagihan pajak dan harus dilunasi dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan. (3) Kepala Daerah atas permohonan Wajib Pajak setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dapat memberikan persetujuan kepada Wajib Pajak untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak, dengan dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembayaran, penyetoran, tempat pembayaran, angsuran, dan penundaan pembayaran pajak diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. Pasal 102 (1) Pajak yang terutang berdasarkan SPPT, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, STPD, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, dan Putusan Banding yang tidak atau kurang dibayar oleh Wajib Pajak pada waktunya dapat ditagih dengan Surat Paksa. (2) Penagihan pajak dengan Surat Paksa dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan. TATA CARA PELAKSANAAN PENAGIHAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN 1. umum Petunjuk Pelaksanaan ini merupakan petunjuk pelaksanaan yang digunakan dalam rangka penagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTP): A. Dasar penagihan yang dapat diikuti dengan Surat Paksa karena BPHTB menganut sistem self assesment maka dasar penagihan BPHTB yang tidak atau kurang dibayar setelah lewat jatuh tempo pembayaran dapat ditagih dengan Surat Paksa terdiri atas: 1. Surat Tagihan Pajak Daerah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan bangunan (STPDB); 2. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar BPHTB (SKPDKBB); 3. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT); 4. Surat Keputusan Pembetulan yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah; 5. Surat Keputusan Keberatan yang menyebabkan ju mlah pajak yang harus dibayar bertambah; 6. Putusan Banding yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

38

bertambah. B. Penerbitan STPD BPHTB Penerbitan STPD BPHTB atas SKBKB yang tidak atau kurang dibayar lewat jatuh tempo pembayaran yang dilanjutkan dengan penerbitan Surat Paksa. Pada dasarnya pelaksanaan penagihan BPHTB diawali dengan penerbitan Surat Teguran oleh Kepala Pemerintah Daerah/kuasa yang ditunjuk. Namun demikian, dalam rangka memberikan pelayanan kepada Wajib Pajak, pendekatan persuasif baik melalui pemberitahuan lewat telepon, surat, atau cara lain sebelum saat jatuh tempo pembayaran hendaknya dilakukan. Tindakan pelaksanaan penagihan harus dilakukan sampai tuntas dengan hasil akhir berupa pelunasan utang pajak beserta biaya penagihannya. II. PELAKSANAAN PENAGIHAN A. Penerbitan Surat Teguran Penerbitan Surat Teguran sebagai langkah awal dari tindakan pelaksanaan penagihan pajak dikeluarkan segera setelah 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pembayaran STPD B/ SKPDKB B/ SKPDKBT B/atau SK.Pembetulan/ SK.Keberatan/ Putusan Banding yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah. B. Penerbitan Surat Perintah Penagihan Pajak Seketika dan Sekaligus Surat Perintah Penagihan Pajak Seketika dan Sekaligus diterbitkan tanpa menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran STPD atau SKPDKB/SKPDKBT/ SK.Pembetulan/ SK.Keberatan/ Putusan Banding yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah apabila: a. Penanggung Pajak akan meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya atau berniat untuk itu. b. Penanggung pajak menghentikan atau secara nyata mengecilkan kegiatan perusahaan, atau pekerjaan yang dilakukannya di Indonesia, ataupun memindahtangankan barang yang dimiliki atau dikuasainya; c. Terdapat tanda-tanda bahwa Penanggung Pajak akan membubarkan badan usahanya atau berniat untuk itu; d. Badan usaha akan dibubarkan oleh negara; atau Terjadi penyitaanatas barang Penganggung Pajak oleh pihak ketiga atau terdapat tanda-tanda kepailitan. Dalam hal terhadap Penanggung Pajak telah diterbitkan Surat Teguran, maka Penagihan Seketika dan Sekaligus dilakukan tanpa menunggu lewat tenggang waktu 21 (dua puluh satu) hari sejak Surat Teguran diterbitkan. Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus diterbitkan sebelum penerbitan Surat Paksa. Oleh karena itu pengecualian jadwal waktu penagihan tersebut hanya berlaku sebelum diterbitkannya Surat Paksa, seadangkan jadwal waktu penagihan setelah diterbitkannya Surat Paksa mengikuti jadwal waktu normal.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

39

C. Penerbitan Surat Paksa Surat Paksa diterbitkan segera setalah lewat waktu 21 (dua puluh satu) hari sejak.diterbitkannya Surat Teguran apabila utang pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi atau telah diterbitkan Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus. 1). Pelaksanaan Sita Penyitaan terhadap barang milik Penanggung Pajak dilaksanakan oleh Jurusita Pajak berdasarkan Surat Perintah melaksanakan Penyitaan. Penyitaan dilaksanakan apabila utang pajak tidak dilunasi dalam jangka waktu 2 (dua) kali 24 (dua puluh empat) jam sejak tanggal Surat Paksa diberitahukan kepada Penanggung Pajak. Tujuan penyitaan adalah memperoleh jaminan pelunasan utang pajak dan biaya penagihannya dari Penanggung Pajak, oleh karena itu penyitaan dapat dilaksanakan terhadap semua barang milik Penanggung Pajak, baik yang berada di tempat tinggal, tempat usaha, tempat kedudukan, atau dipinjamkan atau yang dibebani hak atnggungan (hipotik, gadai, agunan), berupa: a. Barang bergerak termasuk mobil, perhiasan, uang tunai, dan deposito berjangka, tabungan, saldo rekening koran, giro, dan bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu, obligasi, saham, atau surat berharga lainnya, piutang, dan penyertaan modal kepada perusahaan lain; dan atau b. Barang tidak bergerak termasuk tanah, bangunan, dan kapal dengan isi kotor paling sedikit 20 (dua puluh) meter kubik. Penyitaan brang bergerak dan atau barang tidak bergerak berupa tanah atau bangunan dilakukan secara fisik dan sedapat mungkin dokumen bukti kepemilikan seperti sertifikat hak atas tanah dapat ikut disita Dalam rangka menjaga kelangsungan hidup dan usaha Penanggung Pajak, terhadap barang bergerak tertentu dikecualikan dari penyitaan yaitu: a. Pakaian dan tempat tidur beserta perlengkapannya yang digunakan Penanggung Pajak dan keluarga yang menjadi tanggungannya; b. Persediaan makanan dan minuman untuk keperluan satu bulan beserta peralatan masak yang ada di rumah; c. Perlengkapan Penanggung Pajak yang bersifat dings; d. Buku-buku yang bertaHan dengan jabatan atau pekerjaan Penanggung Pajak dan alat-alat yang dipergunakan untuk pendidikan, kebudayaan, dan keilmuan;

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

40

e. Peralatan dalam keadaan jalan yang masih digunakan untuk melaksanakan pekerjaan atau usaha seharihari dengan jumlah seluruhnya tidak lebih dari Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah); f. Peralatan penyandang cacat yang digunakan oleh Penanggung Pajak dan keluarga yang menjadi tanggungannya. Pada dasarnya penyitaan dilaksanakan dengan mendahulukan barang bergerak, namun dalam keadaan tertentu penyitaan dapat dilaksanakan langsung terhadap barang tidak bergerak, misalnya barang bergerak yang dapat dijadikan objek sits tidak dijumpai atau barang bergerak yang dijumpai tidak mempunyai nilai atau harganya tidak memadai dibandingkan dengan utang pajak. Urutan barang bergerak dan atau barang tidak bergerak yang disita ditentukan dengan memperhatikan jumlah utang pajak dan biaya penagihan pajak, kemudahan penjualan atau pencairannya. Penyitaan terhadap barang milik Penanggung Pajak dilaksanakan dengan memperhatikan jumlah dan jenis barang berdasarkan harga wajar yang diperkirakan cukup untuk melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari penyitaan yang berlebihan. Dalam memperkirakan nilai barang yang disita Jurusita dimungkinkan untuk meminta bantuan jasa penilai. Terhadap semua jenis barang yang disita oleh pengadilan Negeri atau instansi lain yang berwenang, misalnya Panitia Urusan Piutang Negara, tidak boleh disita lagi oleh Jurusita Pajak. E. Pencabutan Sita 1. Pencabutan Sita dilaksanakan: a. Apabila Penenggung Pajak telah melunasi utang pajak dan biaya penagihannya; b. Berdasarkan putusan pengadilan/putusan hakim dari peradilan umum, misalnya putusan atas gugatan gugatan pihak ketiga terhadap kepemilikan barang yang disita; c. Berdasarkan putusan Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP), misalnya putusan atas gugatan Penanggung Pajak terhadap pelaksanaan sita; d. Berdasarkan penetapan Menteri Keuangan karena adanya sebab-sebab diluar kekuasan, misalnya objek sita terbakar, hilang atu musnah. 2. Pencabutan Sita dilaksanakan berdasarkan Surat Pencabutan Sita yang berfungsi sebagai pencabutan Berita Acara Pelaksanaan Sita 3. Surat Pencabutan Sita (KP.PBB/ BPHTB 5.42 - 00) diterbitkan oleh Kepala Kantor Pelayanan PBB dan disampaikan oleh Jurusita Pajak kepada Penanggung Pajak serta instansi terkait dan tindakannya disimpan dalam berkas penagihan Wajib Pajak/ Penanggung Pajak yang bersangkutan sebagai peninggal-

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

41

F. Pelaksanaan Penjualan Barang Sitaan Secara Lelang Kepala Pemerintah Daerah berwenang menjual secara lelang terhadap barang yang disita melalui Kantor Lelang, kecuali barang yang disita berupa uang tunai, deposito berjangka, tabungan, saldo rekening koran, obligasi, saham, atau surat berharga lainnya, piutang dan penyertaan modal pada perusahaan lain. Untuk memberi kesempatan kepada Penangggung Pajak guna melunasi utang pajak dan biaya penagihannya serta sesuai dengan peraturan lelang, maka setiap penjualan barang sitaan secara lelang harus didahului dengan pengumuman lelang. Pengumuman lelang dilaksanakan sekurang-kurangnya 14 (empat belas) hari setelah penyitaan, sedangkan lelang dilaksanakan sekurang-kurangnya 14 (empat belas) hari setelah pengumuman lelang. Apabila Penanggung Pajak belum juga melunasi utang pajaknya, sedangkan lelang tetap harus, dilaksanakan, kepada Penganggung Pajak masih diberi kesempatan untuk menentukan urutan barang yang akan dilelang. Dalam hal Penanggung Pajak tidak menggunakan kesempatan dimaksud atau apabila pelaksanaan lelang terhadap urutan tersebut menjadi terhambat, maka Kepala Pemerintah Daerah menentukan kembali urutan barang yang dilelang dimaksud. Kepala Pemda dan Jurusita Pajak, beserta istri, keluarga sedarah atau semenda dalam garis keturunan lurus dan anak angkat tidak diperbolehkan membeli barang sitaan yang dilelang. Mengingat bahwa lelang merupakan tindakan lanjut eksekusi dari Surat Paksa yang kedudukannya sama dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, maka lelang tetap dilaksanakan walaupun keberatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak belum memperoleh keputusan keberatan atau tanpa dihadiri oleh Penaggung Pajak. Akan tetapi lelang ti-dak dilaksanakan: a. apabila Penanggung Pajak telah melunasi utang pajak dan biaya penagihannya; b. berdasarkan putusan pengadilan yang mengabulkan gugatan pihak ketiga atas kepemilikan barang yang disita; c. berdasarkan putusan Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP) yang mengabulkan gugatan Penanggung Pajak terhadap pelaksanaan penagihan pajak; d. apabila objek sita yang akan dilelang musnah karena terbakar atau bencana alam. Pada dasarnya tujuan lelang adalah untuk melunasi biaya penagihan pajak dan utang pajak. Hasil lelang digunakan terlebih dahulu untuk membayar biaya penagihan pajak dan sisanya untuk membayar utang pajak. Dalam rangka memberikan perlindungan kepada Penanggung Pajak, maka: a. pelaksanaan lelang agar tidak dilakukan secara berlebihan misalnya dalam hal hasil lelang sudah mencapai jumlah yang cukup untuk melunasi biaya penagihan pajak dan utang pajak, pelaksanaan lelang dihentikan walaupun barang yang akan dilelang masih ada;

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

42

b. Kepala Pemerintah Daerah agar tidak sewenang-wenang dalam melakukan penjualan secara lelang, seperti penentuan harga limit; c. Kepala Pemerintah Daerah mengembalikan sisabarangsitaan beserta kelebihan uang hasil lelang kepada Penanggung Pajak segera setelah dibuatnya Risalah Lelang. Ketentuan pelaksanaan penjualan barang sitaan lelang mengacu pada Surat Edaran Bersama Direktur Jenderal Pajak dan Kepala Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara Nomor SE-214/PJ/1999 tanggal 25 Agustus 1999 tentang Lelang Eksekusi Pajak. G. Pelaksanaan Penjualan barang Sitaan yang Dikecualikan dari Penjualan Secara Lelang Barang sitaan yang dikecualikan dari penjualan lelang berupa: a. Uang tunai; b. Kekayaan Penanggung Pajak yang tersimpan pada bank seperti deposito berjangka, tabungan, saldo rekening koran, giro atau bentuk lain yang daapt dipersamakan dengan itu; c. Obligasi; d. Saham; e. Piutang; f. Penyertaan modal; dan g. Surat berharga lainnya. Kepala Pemerintah daerah dan Jurusita beserta istri, keluarga sedarah dan semenda dalam garis keturunan lurus dan anak angkat tidak diperbolehkan membeli barang sitaan yang penjulannya dikecualikan dari penjualan secara lelang. III. BIAYA PENAGIHAN Biaya penagihan pajak meliputi: a. biaya pelaksanaan Surat Paksa sebesar Rp 25.000,00 (dua puluh lima ribu rupiah) untuk setiap pemberitahuan Surat Paksa, dengan rincian Rp 10.000,00 (sepuluh ribu rupiah) untuk biaya harian Jurusita Pajak dan Rp 15.000,00 (lima belas ribu rupiah) untuk biaya perjalanan Jurusita Pajak. b. biaya pelaksanaan penyitaan sebesar Rp 75.000,00 (tujuh puluh ribu rupiah) untuk setiap Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan yang dilaksanakan, dengan rincian untuk biaya harian Jurusita Pajak dan 2 (dua) orang saksi masing-masing Rp 10.000,00 (sepuluh ribu rupiah) dan untuk biaya perjalanan Jurusita Pajak dan 2 (dua) orang saksi masing-masing Rp 15.000,00 (lima belas ribu rupiah).

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

43

c. biaya pencegahan dan atau biaya penyanderaan; d. biaya pelaksanaan lelang meliputi: 1) biaya pengumuman lelang di surat kabar; 2) biaya lelang; 3) biaya penyimpanan barang yang disita; 4) biaya lain yang berhubungan dengan lelang; e. biaya yang timbul karena penjualan barang sitaan yang dilakukan tidak secara lelang. KEBERATAN DAN BANDING Pasal 103 (1) Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk atas suatu: a. SPPT; b. SKPD; c. SKPDKB; d. SKPDKBT; e. SKPDLB; f. SKPDN; dan Pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan daerah. (2) Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan-alasan yang jelas. (3) Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal surat, tanggal pemotongan atau pemungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kecuali jika Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya. (4) Keberatan dapat diajukan apabila Wajib Pajak telah membayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui Wajib Pajak. (5) Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) tidak dianggap sebagai Surat Keberatan sehingga tidak dipertimbangkan. (6) Tanda penerimaan surat keberatan yang diberikan oleh Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk atau tanda pengiriman surat keberatan melalui surat pos tercatat sebagai tanda bukti penerimaan surat keberatan.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

44

Pasal 104 (1) Kepala Daerah dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan, sejak tanggal Surat Keberatan diterima, harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan. (2) Keputusan Kepala Daerah atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian, menolak, atau menambah besarnya pajak yang terutang. (3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat dan Kepala Daerah tidak memberi suatu keputusan, keberatan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan. Pasal 105 (1) Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan banding hanya kepada Pengadilan Pajak terhadap keputusan mengenai keberatannya yang ditetapkan oleh Kepala Daerah. (2) Permohonan banding sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia, dengan alasan yang jelas dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak keputusan diterima, dilampiri salinan dari surat keputusan keberatan tersebut. (3) Pengajuan permohonan banding menangguhkan kewajiban membayar pajak sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding. Pasal 106 (1) Jika pengajuan keberatan atau permohonan banding dikabulkan sebagian atau seluruhnya, kelebihan pembayaran pajak dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. (2) Imbalan bunga sebagaintana dimaksud pada ayat(1) dihitung sejak bulan pelunasan sampai dengan diterbitkannya SKPDLB. (3) Dalam hal keberatan Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian, Wajib Pajak dikenai sanksi administratif berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan. (4) Dalam hal Wajib Pajak mengajukan permohonan banding, sanksi administratif berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dikenakan. (5) Dalam hal permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagian, Wajib Pajak dikenai sanksi administratif berupa denda sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pembayaran pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan.

KEBERATAN BPHTB

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

45

Ke Kepala Daerah atas: SPPT, SKPD; SKPDKB; SKPDKBT; SKPDKB; SKPDN; POTPUT. Syarat Formal : 1. Tertulis, Bahasa Indonesia, alas an. 2. Max 3 bulan 3. Membayar sebagian Pajak Keputusan Max 12 Bulan : 1. Menerima seluruh/sebagian 2. Menolak 3. Menambah Lebih 12 Bulan -Permohonan Dikabulkan (3) Dalam hal keberatan Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian, Wajib Pajak dikenai sanksi administratif berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

46

(4) Dalam hal Wajib Pajak mengajukan permohonan banding, sanksi administratif berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dikenakan. (5) Dalam hal permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagian, Wajib Pajak dikenai sanksi administratif berupa denda sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pembayaran pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan. KEBERATAN BPHTB Yang dimaksud dengan alasan-alasan yang jelas adalah mengemukakan dengan data atau bukti bahwa jumlah pajak yang terutang atau pajak lebih bayar yang ditetapkan oleh Petugas tidak benar. Pengertian di luar kekuasaannya adalah keterlambatan Wajib Pajak mengajukan keberatan yang bukan karena kesalahannya, misalnya Wajib Pajak sedang sakit atau kena musibah. Tanda Bukti penerimaan Surat Keberatan sangat Diperlukan untuk memenuhi ketentuan formal. Diterima atau tidaknya hak mengajukan Surat Keberatan dimaksud, tergantung dipenuhinya ketentuan batas waktu sebagaimana dimaksud pada Pasal 105 yaitu selama 3 bulan, yang dihitung mulai diterbitkannya surat ketetapan pajak sampai saat diterimanya Surat Keberatan tersebut oleh Pemerintah Daerah. Tanda bukti penerimaan tersebut oleh Wajib Pajak dapat juga digunakan sebagai alat kontrol baginya untuk mengetahui sampai kapan batas waktu 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 104 ayat (1) berakhir. Tanda bukti penerimaan itu diperlukan untuk memastikan bahwa keberatan dikabulkan, apabila dalam jangka waktu tersebut Wajib Pajak tidak menerima surat keputusan dari Direktur Jenderal Pajak atas Surat Keberatan yang diajukan. Dalam keputusan keberatan ini tidak tertutup kemungkinan utang pajaknya bertambah berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain karena ada data baru yang tadinya belum terungkap atau belum dilaporkan. Ketentuan ini dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum baik bagi Wajib Pajak maupun Petugas dan dalam rangka tertib administrasi, yaitu apabila dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal diterimanya Surat Keberatan, Pemerintah Daerah tidak memberikan keputusan atas keberatan yang diajukan, berarti keberatan tersebut dikabulkan. Imbalan bunga dihitung sejak bulan pelunasan sampai de ngan diterbitkannya Surat

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

47

Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar. Wajib Pajak dapat mengajukan usul permohonan pengembahan kelebihan pembayaran pajak, antara lain, dalam hal: a. pajak yang dibayar lebih besar daripada yang seharusnya terutang; b. pajak yang terutang yang dibayarkan oleh Wajib Pajak sebelum akta ditandatangani, namun perolehan hak atas tanah dan atau bangunan tersebut batal. Keputusan Pemda atas permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dapat berupa kurang bayar dengan menerbitkan Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar atau berupa lebih bayar dengan menerbitkan Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar atau mengukuhkan pajak yang terutang tetap dengan menerbitkan Surat ketetapan Bea Perolehan Hakatas Tanah dan Bangunan Nihil. PEMBETULAN, PEMBATALAN, PENGURANGAN KETETAPAN, DAN PENGHAPUSAN ATAU PENGURANGAN SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 107 (1) Atas permohonan Wajib Pajak atau karena jabatannya, Kepala Daerah dapat membetulkan SPPT, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT atau STPD, SKPDN atau SKPDLB yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis dan/atau kesalahan hitung dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan daerah. (2) Kepala Daerah dapat: a. mengurangkan atau menghapuskan sanksi administratif berupa bunga, denda, dan kenaikan pajak yang terutang menurut peraturan perundangundangan perpajakan daerah, dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena kekhilafan Wajib Pajak atau bukan karena kesalahannya; b. mengurangkan atau membatalkan SPPT, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT atau STPD, SKPDN atau SKPDLB yang tidak benar; c. mengurangkan atau membatalkan STPD; d. membatalkan hasil pemeriksaan atau ketetapan pajak yang dilaksanakan atau diterbitkan tidak sesuai dengan tata cara yang ditentukan; dan e. mengurangkan ketetapan pajak terutang berdasarkan pertimbangan kemampuan membayar Wajib Pajak atau kondisi tertentu objek pajak. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengurangan atau penghapusan sanksi administratif dan pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. Yang dimaksud dengan hal-hal tertentu adalah dalam hal tanah dan atau bangunan digunakan untuk tujuan tertentu yaitu untuk kegiatan sosial dan pendidikan yang semata-mata tidak bertujuan mencari keuntungan atau kondisi tertentu tanah dan atau bangunan yang ada hubungannya dengan Wajib Pajak.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

48

Contoh: • Tanah dan atau bangunan digunakan untuk mendirikan panti asuhan, panti jompo, rumah sakit, sekolah. • Seorang Wajib Pajak yang memiliki tanah dibebaskan oleh Pemerintah untuk kepentingan Negara atau kepentingan umum dan terhadap Wajib Pajak tersebut diberikan ganti rugi yang jumlahnya lebih rendah daripada Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan, dan kemudian Wajib Pajak membeli tanah dan atau bangunan baru. Terhadap Wajib Pajak ini dapat diberi pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dengan mengajukan permohonan. Untuk pelaksanaan pengurangan BPHTB dapat mengacu peraturan yang sudah ada yaitu Keputusan Menteri Keuangan Nomor 516/ KMK.03/ 2004 jo. PMK No. 104/ PMK. 03/ 2005 jo. PMK No. 91/PMK.03/2006. PEMBERIAN PENGURANGAN BEA PEROLEHAN HAK-ATAS TANAH DAN BANGUNAN. Nomor 1 Atas permohonan Wajib Pajak, dapat diberikan pengurangan Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan dalam hal: a. Kondisi tertentu Wajib Pajak yang ada hubungannya dengan Objek Pajak yaitu: 1. Wajib Pajak orang pribadi yang memperoleh hak baru melalui program pemerintah di bidang pertanahan dan tidak mempunyai kemampuan secara ekonomis; 2. Wajib Pajak Badan yang memperoleh hak baru selain Hak Pengelolaan dan telah menguasai tanah dan atau bangunan secara fisik lebih dari 20 (dua puluh) tahun yang dibuktikan dengan surat pernyataan Wajib Pajak dan keterangan dari Pejabat Pemerintah Daerah setempat; 3. Wajib Pajak orang pribadi yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan Rumah Sederhana (RS), dan Rumah Susun Sederhana serta Rumah Sangat Sederhana (RSS) yang diperoleh langsung dari pengembangan dan dibayar secara angsuran; 4. Wajib Pajak orang pribadi yang menerima hibah dan orang pribadi yang mempunyai hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah. b. Kondisi Wajib Pajak yang ada hubungannya dengan sebab-sebab tertentu yaitu. 1. Wajib Pajak yang memperoleh hak atas tanah melalui pembelian dari hasil ganti rugi pemerintah yang nilai ganti ruginya di bawah Nilai Jual Objek Pajak; 2. Wajib Pajak yang memperoleh hak atas tanah sebagai pengganti atas tanah dibebaskan oleh pemerintah untuk kepentingan umum;

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

49

3. Wajib Pajak Badan yang terkena dampak krisis ekonomi dan moneter yang berdampak luas pada kehidupan perekonomian nasional sehingga Wajib Pajak harus melakukan restrukturisasi usaha dan atau utang usaha sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah; 4. Wajib Pajak Bank Mandiri yang memperoleh hak atas tanah yang berasal dari Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Pembangunan Indonesia, dan Bank Ekspor Impor dalam rangkaian proses penggabungan usaha (merger); 5. Wajib Pajak Badan yang melakukan Penggabungan Usaha (merger) atau Peleburan Usaha (konsolidasi) dengan atau tanpa terlebih dahulu mengadakan likuidasi dan telah memperoleh keputusan persetujuan penggunaan Nilai Buku dalam rangka penggabungan atau peleburan usaha dari Direktur Jenderal Pajak; 6. Wajib Pajak yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan yang tidak berfungsi lagi seperti semula disebabkan bencana alam atau sebab-sebab lainnya seperti kebakaran, banjir, tanah longsor, gempa bumi, gunung meletus, dan huruhara yang terjadi dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak penandatanganan akta; 7. Wajib Pajak orang pribadi Veteran, Pegawai Negeri Sipil (PNS), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Polisi Republik Indonesia (POLRI), Pensiunan PNS, Purnawirawan TNI, Purnawirawan POLRI atau janda/dudanya yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan rumah dings pemerintah; 8. Wajib Pajak Badan Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan dalam rangka pengadaan perumahan bagi anggota KORPRI/PNS; 9. Wajib Pajak Badan anak perusahaan dari perusahaan asuransi dan reasuransi yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan yang berasal dari perusahaan induknya selaku pemegang saham tunggal sebagai ke lanjutan dari pelaksanaan Keputusan Menteri Keuangan tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi; c. Tanah dan atau bangunan digunakan untuk kepentingan sosial atau pendidikan yang semata-mata tidak untuk mencari keuntungan antara lain untuk panti asuhan, panti jompo, rumah yatim piatu, sekolah yang tidak ditujukan mencari keuntungan, rumah sakit swasta milik institusi pelayanan sosial masyarakat. Nomor2 Besarnya pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan ditetapkan sebagai berikut: a. sebesar25 (dua puluh lima persen) dari pajakyangterutang untuk Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf a angka 3;

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

50

b. sebesar 50 (lima puluh persen) dari pajak yang terutang untuk Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf a angka 2 dan angka 4, huruf b angka 1, angka 2, angka 5, angka 6, dan angka 9, serta huruf c; c. sebesar 75 (tujuh puluh lima persen) dari pajak yang terutang untuk Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf a angka 1, dan huruf b angka 3 dan angka 7; d. sebesar 100 (seratus persen) dari pajak yang terutang untuk Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf b angka 4, angka 8. Nomor 3 (1) Wajib Pajak dapat menghitung sendiri besarnya pengura-ngan Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan sebelum melakukan pembayaran dan membayar Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan terutang sebesar perhitungan setelah pengurangan. (2) Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) di atas wajib mengajukan permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Nomor 5 ayat (4) atau ayat (5). Nomor 4 (1) Kepala Kantor Pemerintah Daerahberwenang memberikan Keputusan Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf a, dan huruf b angka 1, angka 2, angka 6, angka 7, angka 8, angka 9, (2) Direktur Jenderal Pajak atas nama Menteri Keuangan berwenang memberikan Keputusan Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan selain dimaksud dalam Nomor 1 huruf b angka 3, angka 4 dan angka 5. Nomor5 (1) Wajib Pajak mengajukan permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan kepada Kepala Kantor Pemerintah Daerah yang wilayah kerjanya meliputi letak tanah dan atau bangunan atau dapat mengajukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam hal sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf b angka 3, angka 4, dan angka 5. (3) Dalam hal kewenangan memberikan Keputusan Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan berada pada Direktur Jenderal Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 4 ayat (2), Kepala Kantor Pemerintah Daerah meneruskan permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari sejak tanggal diterimanya surat permohonan. (4) Permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dalam hal Nomor 1 huruf a angka 1 dan angka 3, danNomor 1 huruf b angka 1, angka 2, angka 7, angka 8, dan angka 9 diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan yang jelas

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

51

dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak saat terutang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. (5) Permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam hal Nomor 1 huruf a angka 2 dan Nomor 1 huruf b angka 3, angka 4 dan angka 5 diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan yang jelas dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak saat pembayaran sebesar Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan terutang setelah pengurangan sebagaimana ditetapkan dalam Nomor 2." Nomor 6 (1) Kepala Kantor Pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya sebagaimana dimaksud dalam Nomor 4 ayat (1) dan (2), dalam waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterimanya surat permohonan harus memberikan keputusan atas permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang diajukan Wajib Pajak. (2) Direktur Jenderal Pajak sesuai dengan kewenangannya sebagaimana dimaksud dalam Nomor 4 ayat (2), dalam waktu paling la ma 6 (enam) bulan sejak tanggal diterimanya surat permohonan harus memberikan keputusan atas permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang diajukan Wajib Pajak. (3) Keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) berupa mengabulkan sebagian, atau mengabulkan seluruhnya, atau menolak. (4) Apabila dalam waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) telah lewat dan Kepala Kantor Pemerintah Daerah atau Direktur Jenderal Pajak tidak memberikan suatu keputusan, permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang diajukan dianggap dikabulkan dengan mengacu kepada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Nomor 2. Contoh Surat Keputusan Pemberian Pengurangan BPHTB pada Lampiran 21. TATA CARA PENGAJUAN DAN PENYELESAIAN PERMOHONAN PENGURANGAN ATAU PENGHAPUSAN SANKSI ADMINISTRASI BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN, DAN PENGURANGAN ATAU PEMBATALAN SURAT KETETAPAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN ATAU SURAT TAGIHAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN, YANG TIDAK BENAR Nomor I Kepala Pemerintah Daerah karena jabatan atau atas permohonan Wajib Pajak dapat: a. mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi yang tercantum dalam SKPDKB, SKPDKBT, atau STPD, berupa bunga, denda, dan/atau kenaikan yang dikenakan karena kekhilafan Wajib Pajak atau bukan karena kesalahan Wajib

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

52

Pajak; dan/atau b. mengurangkan atau membatalkan SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB, SKPDN, atau STPD, yang tidak benar. Nomor2 (1) Untuk mendukung permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf a, permohonan dimaksud dilampiri dengan: a. fotokopi identitas Wajib Pajak, dan fotokopi identitas kuasa Wajib Pajak dalam hal dikuasakan; b. dokumen pendukung yang dapat menunjukkan bahwa sanksi administrasi dikenakan karena kekhilafan Wajib Pajak atau bukan karena kesalahan Wajib Pajak; c. fotokopi surat pemberitahuan pengajuan keberatan BPHTB tidak dapat dipertimbangkan, dalam hal Wajib Pajak pernah mengajukan keberatan atas SKPDKB atau SKPDKBT;dan/atau d. dokumen pendukung lainnya. (2) Untuk mendukung permohonan pengurangan SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB, SKPDN, atau STPD sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf b, permohonan dimaksud dilampiri dengan: a. fotokopi identitas Wajib Pajak, dan fotokopi identitas kuasa Wajib Pajak dalam hal dikuasakan; b. dokumen pendukung yang dapat menunjukkan bahwa SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB, SKPDN atau STPD tersebut tidak benar; c. fotokopi surat pemberitahuan pengajuan keberatan BPHTB tidak dapat dipertimbangkan, dalam hal Wajib Pajak pernah mengajukan keberatan atas SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB atau SKPDN;dan/ atau d. dokumen pendukung lainnya. (3) Untuk mendukung permohonan pembatalan SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB, SKPDN, atau STPD sebagaimana dimaksud dalam Nomo 1 huruf b, permohonan dimaksud dilampiri dengan: a. fotokopi identitas Wajib Pajak, dan fotokopi identitas kuasa Wajib Pajak dalam hal dikuasakan; b. dokumen pendukung yang dapat menunjukkan bahwa SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB, SKPDN atau STPD tersebut tidak benar;dan/atau c. dokumen pendukung lainnya. Nomor3 (1) Permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 diajukan kepada Pemerintah Daerah: a. secara langsung; atau b. melalui pos dengan bukti pengiriman surat. (2) Atas penyampaian permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

53

(1) huruf a diberikan tanda bukti penerimaan surat. (3) Bukti pengiriman surat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b atau tanda bukti penerimaan surat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan bukti penerimaan surat permohonan Wajib Pajak. Nomor4 Tanggal bukti penerimaan surat permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 3 ayat (3) yaitu: a. tanggal terima yang tercantum pada bukti penerimaan surat, dalam hal surat permohonan Wajib Pajak disampaikan secara langsung; atau b. tanggal stempel pos yang tercantum pada bukti pengiriman surat, dalam hal surat permohonan Wajib Pajak disampaikan melalui pos. Nomor5 Direktur Jenderal Pajak berwenang memberikan keputusan atas permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1. Nomor 6 (1) Keputusan sebagaimana dimaksud dalam Nomor 5 ditetapkan berdasarkan hasil penelitian di kantor, dan apabila diperlukan dapat dilanjutkan dengan penelitian di lapangan. (2) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan surat tugas dan hasilnya dituangkan dalam laporan hasil penelitian. (3) Dalam hal dilakukan penelitian di lapangan, terlebih dahulu memberitahukan secara tertulis waktu pelaksanaan penelitian di lapangan kepada Wajib Pajak atau kuasanya. Nomor7 (1) Pemerintah Daerah dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal bukti penerimaan surat permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 4, harus memberi suatu keputusan atas permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1. (2) Keputusan Pemerintah Daerah atas permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf a dapat berupa mengabulkan sebagian atau seluruhnya, atau menolak permohonan Wajib Pajak. (3) Keputusan Pemerintah daerah atas permohonan pengurangan SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB, SKPDN, atau STPD sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf b, dapat berupa mengabulkan sebagian atau seluruhnya, atau menolak permohonan Wajib Pajak. (4) Keputusan Pemerintah Daerah atas permohonan pembatalan SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB, SKPDN, atau STPD sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf b, dapat berupa mengabulkan atau menolak permohonan Wajib Pajak.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

54

(5) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah terlampaui dan Pemerintah Daerah tidak memberi suatu keputusan, permohonan yang diajukan dianggap dikabulkan dan Pemerintah Daerah harus menerbitkan keputusan sesuai dengan permohonan Wajib Pajak dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan terhitung sejak jangka waktu dimaksud berakhir. (6) Atas permintaan tertulis dari Wajib Pajak, Pemerintah Daerah harus memberikan keterangan secara tertulis hal-hal yang menjadi dasar untuk menolak atau mengabulkan sebagian permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3), atau menolak permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (4). Bentuk formulir Keputusan Pemerintah Daerah mengenai: a. pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi BPHTB atas SKPDKB, SKPDKBT, atau STPD sebagaimana Lampiran 22b. pengurangan SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB, atau SKPDN, yang tidak benar, sebagaimana Lampiran 23 c. pengurangan STPD yang tidak benar, sebagaimana Lampiran 24. d. pembatalan SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB, atau SKPDN, yang tidak benar, sebagaimana Lampiran 25. e. pembatalan S TPD yang tidak benar, sebagaimana. Lampiran 26. TATA CARA PEMBETULAN KESALAHAN TULIS, KESALAHAN HITUNG, DAN/ATAU KEKELIRUAN PENERAPAN KETENTUAN TERTENTU DALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN. 1. Permohonan Pembetu Ian adalah permohonan pembetulan yang diajukan oleh Wajib Pajak atas kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan PDRD terhadap surat keputusan atau surat ketetapan. 2. Atas dasar permohonan Wajib Pajak atau secara jabatan, pembetulan kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan dapat dilakukan terhadap surat keputusan atau surat ketetapan sebagai berikut: Untuk Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), meliputi: 1) Surat Ketetapan BPHTB Kurang Bayar (SKPDKB); 2) Surat Ketetapan BPHTB Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT); 3) Surat Ketetapan BPHTB Lebih Bayar (SKPDLB); 4) Surat Ketetapan BPHTB Nihil (SKPDN); 5) Surat Tagihan BPHTB (STB); 6) Surat Ketetapan Pemberian Pengurangan BPHTB

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

55

7) Surat Ketetapan Pembetulan; 8) Surat Ketetapan Keberatan; 9) Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga; 10) Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi, Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi, Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak, atau Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak . 3. Pembetulan sebagaimana dimaksud diatas meliputi pembetulan atas kesalahan atau kekeliruan yang bersifat manusiawi yang tidak mengandung persengketaan antara fiskus dan Wajib Pajak, yaitu: • kesalahan tulis, antaralain kesalahan penulisanNomor Objek Pajak, nama Wajib Pajak, alamat Wajib Pajak, alamat objek pajak PBB, nomor surat keputusan atau surat ketetapan, luas tanah, luas bangunan, Tahun Pajak, dan/atau tanggal jatuh tempo pembayaran; • kesalahan hitung, antara lain kesalahan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan/atau pembagian suatu bilangan; dan/atau • kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundangundangan, antara lain kekeliruan dalam penerapan tarif, kekeliruan penerapan persentase Nilai Jual Kena Pajak (NW), kekeliruan penerapan Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP), kekeliruan penerapan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP), kekeliruan pengenaan BPHTB, dan kekeliruan penerapan sanksi administrasi. 4. Permohonan pembetulan hanya dapat diajukan oleh wajib Pajak atau kuasanya secara perseorangan. Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud di atas, permohonan pembetulan surat ketetapan BPHTB berupa SPPT dapat diajukan secara kolektif. 5. Permohonan pembetulan sebagaimana dimaksud Perseorangan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. setiap permohonan hanya dapat diajukan untuk 1 (satu) surat keputusan atau surat ketetapan b. diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia disertai alasan yang mendukung permohonannya; c. diajukan kepada pejabat; dan d. surat permohonan ditandatangani oleh Wajib Pajak, dan dalam hal surat permohonan ditandatangani oleh bukan Wajib Pajak: 6. Tanggal penerimaan surat yang dijadikan dasar untuk mem-proses surat permohonan sebagaimana dimaksud adalah: a. tanggal terima surat Wajib Pajak, dalam hal disampaikan secara langsung oleh Wajib Pajak pada petugas Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) atau Pelayanan Satu Tempat (PST) atau petugas yang ditunjuk; atau b. tanggal stempel pos tercatat, dalam hal surat permohonan disampaikan melalui pos tercatat.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

56

7. Permohonan pembetulan yang tidak memenuhi persyaratan dianggap bukan sebagai surat permohonan sehingga tidak dipertimbangkan. 8. Dalam hal permohonan pembetulan tidak dipertimbangkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pejabat harus memberitahukan secara tertulis kepada Wajib Pajak atau kuasanya. 9. Pejabat harus memberi keputusan atas permohonan pembetulan sebagaimana dimaksud dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal surat permohonan pembetulan diterima. Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah terlampaui, tetapi Pejabat tidak memberi suatu keputusan, permohonan pembetulan dianggap dikabulkan, dan pejabat wajib menerbitkan surat keputusan pembetulan sesuai dengan permohonan Wajib Pajak paling lama 1 (satu) bulan terhitung sejak berakhirnya jangka waktu 6 (enam) bulan. Keputusan sebagaimana dimaksud diatas dapat berupa menambahkan, mengurangkan atau menghapuskan jumlah yang terutang, BPHTB yang terutang, atau sanksi administrasi, memperbaiki kesalahan dan kekeliruan lainnya, atau menolak permohonan Wajib Pajak. 10. Dalam hal tidak ada permohonan oleh Wajib Pajak tetapi diketahui oleh pejabat telah terjadi kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan PBB atau BPHTB atas surat keputusan atau surat ketetapan sebagaimana dimaksud di atas yang diterbitkannya, pejabat dimaksud harus menerbitkan surat keputusan untuk membetulkan kesalahan atau kekeliruan tersebut secara jabatan. 11. Apabila keputusan masih terdapat kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan PBB atau BPHTB, pejabat dapat melakukan pembetulan lagi, baik secara jabatan maupun atas permohonan Wajib Pajak. • • Formulir Surat Keputusan Pembetulan BPHTB berdasarkan permohonan adalah sebagaimana contoh pada Lampiran 27. Formulir Surat Keputusan Pembetulan BPHTB secara jabatan adalah sebagaimana contoh pada Lampiran 28.

PEMBUKUAN DAN PEMERIKSAAN Pasal 169 (1) Wajib Pajak yang melakukan usaha dengan omzet paling sedikit Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) per tahun wajib menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

57

(2) Kriteria Wajib Pajak dan penentuan besaran omset serta tata ,cara pembukuan atau pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. Pasal 170 (1) Kepala Daerah berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan daerah dan kewajiban Retribusi dalam rangka melaksanakan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah dan Retribusi. (2) Wajib Pajak atau Wajib Retribusi yang diperiksa wajib: a. memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan objek Pajak atau objek Retribusi yang terutang; b. memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dianggap perlu dan memberikan bantuan guna kelancaran pemeriksaan; dan/atau c. memberikan keterangan yang diperlukan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemeriksaan Pajak dan Retribusi diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. TATA CARA PEMERIKSAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN. yang dimaksud dengan: 1. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang selanjutnya disebut dengan BPHTB adalah pajak yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan. 2. Pemeriksaan BPHTB adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan, dan/atau bukti untuk menguji pemenuhan kewajiban BPHTB atau untuk menyelesaikan keberatan BPHTB. 3. Pemeriksaan Kantor adalah Pemeriksaan BPHTB yang dilakukan di kantor Pemerintah Daerah 4. Pemeriksaan Lapangan adalah Pemeriksaan BPHTB yang dilakukan di luar kantor Pemerintah Daerah. Pemeriksaan BPHTB: a. wajib dilakukan dalam hal Wajib Pajak mengajukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran BPHTB selain permohonan karena keputusan keberatan, putusan banding, putusan peninjauan kembali, keputusan pengurangan, atau keputusan lain, yang mengakibatkan kelebihan pembayaran BPHTB; b. dapat dilakukan dalam hal: 1. Wajib Pajak mengajukan keberatan BPHTB; atau

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

58

2. terdapat indikasi kewajiban BPHTB yang tidak dipenuhi. Nomor 1 (1) Pemeriksaan BPHTB dilaksanakan oleh Pemeriksa atau tim Pemeriksa. (2) Tim Pemeriksa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari seorang ketua tim dan seorang atau lebih anggota tim. (3) Penugasan Pemeriksa ditetapkan dengan Surat Perintah Pemeriksaan BPHTB (SP2B) yang ditandatangani oleh Kepala Pemerintah Daerah dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 31. (4) Dalam hal terdapat penggantian Pemeriksa atau perubahan tim Pemeriksa, Kepala Pemerintah Daerah tidak perlu memperbaharui SP2B tetapi harus menerbitkan Surat Tugas. (5) Dalam hal Pemeriksaan BPHTB merupakan bagian dari pemeriksaan untuk seluruh jenis pajak, SP2B sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak perlu diterbitkan dan penugasan Pemeriksa mengikuti penugasan yang ditetapkan dalam Surat Perintah Pemeriksaan Pajak (SP3). Nomor 2 (1) Dalam rangka Pemeriksaan BPHTB, kepada Wajib Pajak disampaikan Surat Pemberitahuan Pemeriksaan BPHTB dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 32. Nomor 3 (1) Pemeriksaan BPHTB dilakukan dengan Pemeriksaan Kantor, dan dapat dilanjutkan dengan Pemeriksaan Lapangan dalam hal diperlukan data, keterangan dan/ atau bukti yang tidak terdapat di Kantor Pemerintah Daerah. (2) Pemeriksaan Lapangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan Surat Tugas Pemeriksaan Lapangan yang ditandatangani oleh kepala. Pemerintah Daerah dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 33. Nomor 4 (1) Untuk kepentingan Pemeriksaan BPHTB, dapat dilakukan pemanggilan kepada Wajib Pajak dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 34 (2) Wajib Pajak atau kuasanya harus memenuhi panggilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan waktu dan tempat yang telah ditentukan dalam Surat Panggilan dalam rangka Pemeriksaan BPHTB dengan membawa buku, catatan, dan/atau dokumen yang diperlukan oleh Pemeriksa.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

59

(3) Dalam hal buku, catatan, dan/atau dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berupa fotokopi, maka Wajib Pajak harus membuat surat pernyataan yang menyatakan bahwa fotokopi tersebut sesuai dengan aslinya. (4) Dalam hal diperlukan peminjaman buku, catatan, dan/ atau dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) atau fotokopinya sebagaimana dimaksud pada ayat (3), kepada Wajib Pajak diberikan bukti peminjaman. (5) Dalam hal Wajib Pajak tidak memenuhi panggilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemeriksaan BPHTB tetap dilanjutkan berdasarkan data yang ada pada Pemerintah Daerah. Nomor 5 Dalam hal Pemeriksaan BPHTB dihadiri oleh Wajib Pajak, Pemeriksa harus memperlihatkan Kartu Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak/kartu tanda pengenal pegawai Pemerintah Daerah dan SP2B kepada Wajib Pajak. Nomor 6 (1) Hasil Pemeriksaan BPHTB dituangkan dalam Laporan Hasil Pemeriksaan BPHTB (LHPB) dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 35. (2) Dalam hal dilakukan pemeriksaan untuk seluruh jenis pajak, LHPB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bagian dari laporan hasil pemeriksaan pajak. Nomor 7 LHPB sebagaimana dimaksud dalam Nomor 6 digunakan untuk pembuatan nota penghitungan BPHTB sebagai dasar penerbitan: a. Surat Ketetapan Pajak Daerah BPHTB Lebih Bayar (SKPDLB), apabila jumlah BPHTB yang dibayar ternyata lebih besar daripada jumlah BPHTB yang terutang atau dilakukan pembayaran BPHTB yang tidak seharusnya terutang; atau b. Surat Ketetapan Pajak Daerah BPHTB Nihil (SKPDN), apabila jumlah BPHTB yang dibayar sama dengan jumlah BPHTB yang terutang; atau c. Surat Ketetapan Pajak Daerah BPHTB Kurang Bayar (SKPDKB), apabila jumlah BPHTB yang terutang kurang dibayar; atau d. Surat Ketetapan Pajak Daerah BPHTB Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT), apabila terdapat penambahan jumlah BPHTB yang terutang setelah diterbitkannya SKPDKB; atau e. Surat Tagihan Pajak Daerah BPHTB (STPD), apabila pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar, terdapat kekurangan pembayaran sebagai akibat salah tulis dan/ atau salah hitung, atau dikenakan sanksi administrasi berupa denda dan/atau

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

60

bunga; atau f. Surat Keputusan Keberatan, dalam hal Pemeriksaan BPHTB yang dilakukan merupakan bagian dari proses penyelesaian keberatan Wajib Pajak. Nomor 8 (1) Dalam hal Pemeriksaan BPHTB dilakukan hanya dengan Pemeriksaan Kantor, jangka waktu Pemeriksaan BPHTB adalah paling lama 2 (dua) bulan yang dihitung sejak tanggal SP2B sampai dengan tanggal LHPB. (2) Dalam hal Pemeriksaan BPHTB dilakukan dengan Pemeriksaan Kantor dan dilanjutkan dengan Pemeriksaan Lapa ngan, jangka waktu Pemeriksaan BPHTB diperpanjang menjadi paling lama 4 (empat) bulan yang dihitung sejak tanggal SP2B sampai dengan tanggal LHPB. (3) Pemeriksaan BPHTB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a dan huruf b angka 1 diselesaikan dengan memperhatikan jatuh tempo pemberian keputusan atas permohonan pengembalian kelebihan pembayaran BPHTB atau keberatan BPHTB. INSENTIF PEMUNGUTAN Pasal 171 (1) Instansi yang melaksanakan pemungutan Pajak dan Retribusi dapat diberi insentif atas dasar pencapaian kinerja tertentu. (2) Pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. (3) Tata cara pemberian dan pemanfaatan insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. KETENTUAN PIDANA Pasal 174 (1) Wajib Pajak yang karena kealpaannya tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau pidana denda paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. (2) Wajib Pajak yang dengan sengaja tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau pidana denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

61

pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. Pasal 175 Tindak pidana di bidang perpajakan daerah tidak dituntut setelah melampaui jangka waktu 5 {lima) tahun sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak atau berakhirnya Bagian Tahun Pajak atau berakhirnya Tahun Pajak yang bersangkutan.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

62

Bab 6 Studi Kasus BPHTB 1. Masih adanya Badan Usaha yang sertifikat tanahnya atas nama pemilik/salah satu Direksi, padahal setiap badan usaha dalam rangka pembebasan lahannya harus melalui izin lokasi dan pembebasannya dengan surat pelepasan hak, tapi masih banyak menggunakan Akta Jual Beli (AJB) agar hak miliknya tidak turun menjadi Hak Guna Bangunan (HGB) Solusi: a. Pemerintah Daerah dan Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) dapat menghilangkan hal tersebut dengan konsekuen terhadap peraturan/ketentuan yang berlaku, misalnya: setiap izin lokasi harus ditindak lanjuti dengan pelepasan hak bukan dengan Akta Jual Beli (AJB). b. Pada saat Perusahaan mengajukan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) maka harus dilihat dulu bentuk Hak atas sertifikat Tanahnya. c. Penggalian Potensi BPHTB terhadap hal tersebut dapat ditingkatkan. Izin lokasi — Sertifikat Hak Milik ? — Seharusnya sertifikat HGB Hak milik Pelepasan Hak Permohonan Hak( PT) Pemberian Hak (BPN) Jadi Perusahaan atau Badan Hukum yang akan membebaskan Lahan Maka Sertifikat yang diperbolehkan Adalah Hak Guna Usaha (HGU) atau Hak Guna Bangunan (HGB ). Dan apabila ada perusahaan yang mendaftarkan Izin Mendirikan Bangunan dengan menggunakan sertifikat Hak Milik maka perlu di rubah dulu Hak sertifikat tersebut. Apabila sertifikat yang digunakan oleh perusahaan masih nama perorangan dan bentuk Haknya merupakan Hak Milik, maka perlu Pelepasan Hak kemudian Permohonan Hak Guna Usaha atau Hak Guna Bangunan atas nama Perusahaan / PT baru setelah itu Pemberian Hak oleh BPN. Dan Hal tersebut merupakan potensi Untuk Penerimaan BPHTB. 2. Pembayaran BPHTB pada saat pelepasan hak sering terjadi/ dilaksanakan oleh pengembang/perusahaan sehingga NPOPTKP dterapkan setiap Surat Pelepasan Hak (SPH). Solusi: Terutangnya BPHTB adalah kelanjutan daripada Pelepasan Hak yaitu pada saat terbitnya Surat Keputusan Kantor Badan Pertanahan Nasional, sehingga NPOPTKP sesuai jumlah SK BPN yang dikeluarkan. BPHTB Hak milik ---- Pelepasan Hak — Permohonan Hak( PT ) ------------Pemberian Hak (BPN)

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

63

Jadi Tanah tanah yang dimiliki oleh perorangan (Hak Milik atau Tanah Adat) apabila akan dibebaskan oleh Perusahaan /PT akan menjadi Tanah Negara, setelah itu kemudian Perusahaan mengajukan Permohonan atas tanah tersebut. Perusahaan tersebut umumnya menghitung Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) diterapkan pada setiap pelepasan Hak. Seharusnya BPHTB mulai terhutang saat dikeluarkanya Pemberian Hak Baru oleh Badan Pertanahan. Dan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) di terapkan hanya sejumlah Pemberian Hak Baru tersebut. 3. Sering terjadi penerapan NJOP yang dipakai saat SPH diproses, padahal SK BPN terbit tahun berikutnya. Solusi: Pemerintah Daerah akan menindak lanjuti setiap tindasan SK BPN yang terbit dengan mengadakan peninjauan dan penggabungan data sesuai dengan luas yang tertera di SK BPN dengan NJOP yang berlaku saat/ tahun berjalan dengan NPOPTKP sesuai SK BPN. Proses SPH Objek. Transaksi (NJOP) Tahun depan Penyesuaian NJOP dan luas

Pada saat pelepasan Hak tersebut sering kita jumpai Perusahaan Membayar Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sejumlah surat/sertifikat yang dilepaskannya dan Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) yang digunakan mengacu pada Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang tercantum di SPPT pada saat itu. Seharusnya NPOP yang di gunakan mengacu pada NJOP pada SPPT saat dikeluarkannya Pemberian Hak Baru dari Badan Pertanahan Nasional (BPN). 4. Bagaimana pengenaan BPHTB atas transaksi jual-beli terhadap objek pajak tanah kavling siap bangun? Apa kriteria yang menjadi dasar bahwa objek pajak tanah kavling siap bangun dalam perhitungan BPHTBnya dikenakan Tanah dan bangunan? Sedangkan dalam kenyataannya objek tersebut belum berdiri bangunan (tanah kosong). Solusi: a. Kalau yang dijual adalah tanah kosong maka BPHTB terhutang adalah atas tanah saja b. Permasalahannya adalah Developer menjual ke Konsumen dengan nilai Tanah dan Bangunan padahal kondisi lapangan masih tanah kosong. Hal tersebut dikarenakan berbagai faktor, antara lain: Adanya peraturan BPN dalam pembatasan lahan yang diperjualbelikan tidak boleh tanah kosong. • Developer hanya akan membangun jika sudah ada konsumen yang membeli.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

64

Untuk Perhitungan BPHTB Adalah sesuai dengan Harga Transaksi ,bukan hanya dari nilai perolehan Tanah saja. Objek BPHTB adalah peralihan atas Hak Apabila objek yang dialihkan terkandung "Future Value" maka Besarnya BPHTB terhutang sesuai dengan "harga transaksi" karena nilai transaksi sudah mengakomudir semua unsur nilai objek. Developer ---- jual KSB harga transaksi

Jadi apabila ada Developer yang Menjual Kavling Siap Bangun (KSB). Berdasarkan UU No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukirnan dijelaskan bahwa Developer tidak diperkenankan menjual dalam kondisi tanah kosong,sering terjadi ada penjualan kavling tersebut dibawah tangan (antara Developer dan Pembeli). Dan ada pula Developer yang menjual Tanah Plus Bangunan padahal Kondisi lapangan masih berupa tanah kosong, maka Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) dihitung berdasarkan nilai transaksi. 5. Bagaimana pengenaan BPHTB terhadap perolehan hak atas pemberian hak baru dan kapan saat terutangnya BPHTB tersebut? Solusi: Pengertian Pemberian Hak Baru: a. Karena Kelanjutan pelepasan Hak; b. Karena diluar pelepasan hak Saat terhutang BPHTB; sejak tanggal ditandatangani dan diterbitkannya surat keputusan pemberian hak oleh BPN, Jadi Pada waktu pelepasan Hak Belum terhutang BPHTB, Untuk menghitung besarnya SSB; NJOP yang digunakan adalah sesuai dengan besarnya NJOP yang tercantum dalam SPPT pada tahun pajak yang sama dengan saat diterbitkannya SK pemberian hak baru, bukan tahun pajak saat pelepasan hak. SSB Pelepasan Hak ---- permohonan Hak PHB

6. Bagaimana pengenaan BPHTB Terhadap suatu objek pajak dimana pada saat transaksi jual-beli diatas tanah tersebut sudah berdiri sebuah bangunan sedangkan di dalam SPPT data objek pajak masih kondisi tanah kosong? Solusi: a. SPPT tidak sesuai dengan kondisi Objek: Luas tanah, luas bangunan/bangunan kosong. b. Penyebab: Kesalahan ukur, penambahan tanah atau bangunan yang tidak dilaporkan WP.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

65

Langkah yang ditempuh WP; a. WP mengajukan pembetulan SPPT PBB ke KP PBB baik terhadap tanah maupun bangunan. b. WP dapat tetap melakukan transaksi peralihan Hak tanpa menunggu hasil perubahan. (karena pengisian SSB adalah self assesment). Tapi dengan syarat syarat sebagai berikut: • Pengisian SSB harus Benar, Lengkap dan Jelas serta ditandatangani WP/kuasanya. Luas tanah dan luas bangunan harus sesuai dengan luas yang ditransaksikan, bukan luas yang tercantum pada SPPT. Nilai per m2 untuk tanah dan bangunan diisi sesuai dengan yang tercantum dalam SPPT. Nilai transaksi harus dicantumkan sesuai nilai transaksi real bukan mengikuti NPOP dari SPPT. SPPT Luas yang ditransaksikan x per m2 dari SPPT harga transaksi SSB Jadi apabila SPPT yang digunakan sebagai acuan untuk transaksi tetapi tidak sesuai dengan kondisi lapangan maka yang terpenting adalah pada SPPT tersebut tercantum Nilai Per M2 untuk Tanah dan Bangunan dan Apabila untuk Bangunan Tidak ada maka harus didaftarkan dulu. Untuk perhitungannya maka Luas Tanah dan Luas bangunan yang dihitung adalah sebesar luas yang ditransaksikan bukan luas pada SPPT. Hasil dari penjumlahan Nilai Tanah dan Bangunan tersebut akan di bandingkan dengan Harga Transaksi. Nilai yang tertinggi antara keduanya. dijadikan Dasar untuk Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) dan menentukan besarnya BPHTB yang harus dibayar. 7. Suatu perusahaan melakukan penggabungan usaha (merger) dengan perusahaan lain, apakah sama dengan peleburan usaha? Bagaimana pengenaan dan perhitungan BPHTBnya? Solusi: Tidak sama antara penggabungan dan peleburan usaha. Penggabungan usaha adalah penggabungan dari dua badan usaha atau lebih dengan cara tetap mempertahankan berdirinya salah satu badan usaha dan melikuidasi badan usaha lainnya yang menggabung. Peleburan usaha adalah penggabungan dari dua atau lebih badan usaha dengan cara mendirikan badan usaha baru dan melikuidasi badan badan usaha yang bergabung. Perhitungan BPHTB: Penggabungan Usaha; Besarnya aset tak begerak Badan usaha yang dilikuidasi sedangkan aset tak begerak dari badan usaha yang berdiri tidak dihitung.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

66

Peleburan Usaha; Besarnya aset tak bergerak dari semua badan usaha yang bergabung. Penggabungan dan Peleburan usaha likuidasi BPHTB Badan usaha yang

Untuk perusahaan yang melakukan Penggabungan usaha maupun Peleburan Usaha yaitu dihitung dari Aset yang tak bergerak saja yang mengalami likudasi/Penghapusan. Jadi Karena Peleburan Usaha aset tak bergerak dari semua badan usaha dilebur maka aset tak bergeraknya dihitung semua untuk menentukan besarnya BPHTB. 8. Bagaimana pengenaan BPHTB atas waris/hibah wasiat terhadap objek pajak yang kepemilikannya masih kredit. Solusi: a. Pengenaan BPHTB diberlakukan sama dengan pe ngenaan waris atau hibahwasiat secara umum. b. Tanggungan kredit yang masih melekat ke objek pajak sangat tergantung pada hak penguasaan atas objek tersebut kecuali dalam catatan waris/hibah wasiat dinyatakan lain. Objek Waris/hibah ---- NPOPTKP Waris/hibah wasiat --- SSB Ahli waris tertanggung kredit. Jadi untuk pengenaan waris atau hibah yang kepemilikannya masih ada tertanggung kredit maka besarnya BPHTB terhutang dihitung sama dengan pemberlakuan Waris/Hibah wasiat. Dan tanggungan atas kredit masih melekat pada objek tersebut. 9. Bagaimana pengenaan BPHTB atas objek pajak yang berubah hak atas tanah dari Hak Guna Bangunan (HGB) ke Hak Milik atau sebaliknya? Solusi: Pengalihan jenis Hak atas tanah dari HGB ke HM atau yang sebaliknya Bukan merupakan objek BPHTB karena tidak ada pergantian nama dan tidak ada perubahan status kepemilikan. (konversi Hak). Perubahan jenis Hak atas Tanah Bukan Objek BPHTB 10. Bagaimana pengenaan BPHTB atas perubahan nama perusahaan? Solusi: a. Pergantian nama perusahaan dilakukan oleh badan usaha dengan akta notaris b. Akta notaris tersebut tidak otomatis dijadikan dasar perubahan sertifikat atas aset perusahaan tersebut karena bukan akta PPAT jadi harus didaftarkan ke BPN. c. Penggantian nama tersebut harus mencantumkan kondisi kepemilikan saham, ada penambahan atau pengurangan aset yang dimiliki. Apabila ada perubahan maka harus dikenakan BPHTB. d. Penggantian nama tersebut yang berkaitan dengan pihak perbankkan penjamin

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

67

harus memperhatikan surat aktiva yang dijaminkan. e. Perlu diantisipasi apakah yang baru tersebut merupakan pemekaran usaha yang lain atau bukan. Perubahan nama Badan Hukum ---- Peruhan hak atas aset dan jumlah aset BPHTB Jadi yang terpenting disini harus dilihat dulu 1. Entitas kepemilikan atas objek tersebut ada perubahan atau tidak. Jika tidak berubah tidak kena BPHTB dan masih dalam jangka waktu izin Perusahaan( Perpajangan Hak). 2. Aset tetap yang dimiliki oleh perusahaan awal apa ada perubahan atau tidak. Jika ada maka yang dihitung hanya penambahannya saja, serta jika "pemberian Hak" maka kena BPHTB. 11. Bagaimana pengenaan BPHTB atas Hibah Anak Haram Solusi: Pengertian anak haram dalam hukum Perdata Diperlakukan sama seperti anak biasa yang dalam perhitungan BPHTB diberi pengurangan BPHTB sebesar 50% Pemberian hibah anak haram -BPHTB 50% Dalam hukum Perdata memang dikenal adanya anak haram dan pemberlakuannya sama dengan dengan anak sendiri. 12. Bagaimana pengenaan BPHTB atas pembagian hak bersama atas waris? Solusi: a. Dalam menerapkan akta pembagian hak bersama (APHB) harus diperhatikan kondisi saat didaftarkannya akta tersebut ke BPN. b. APHB adalah masuk dalam rezim waris sehingga saat terhutangnya adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke BPN. c. Cara perhitungannya; •Pada saat di daftarkan ke ahli waris dihitung seperti penerapan terhadap waris. •Apabila dibagi ke Hak masing-masing ahli waris maka Tidak terhutang BPHTB. (peristiwa hukum) •Tetapi jika di alihkan, ke salah satu atau sebagian ahli waris maka besarnya nilai aset yang dialihkan terhutang BPHTB, diluar hak yang memperoleh. (perbuatan hukum) BPHTB BHTB Pendaftaran APHB Hak Ahli Waris Masing masing AW Ke sebagian AW APHB ; NJOP - NPOPTKP(waris) x 5% x 50%

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

68

Jadi APHB yang dibahas disini adalah: 1. Pajak atas warisan BPHTB atas Akta Pembagian Hak Bersama 2. Batasan Pembahasan Kewajiban Perpajakan atas Peralihan Hak atas tanah dan Bangunan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan atau Bangunan (BPHTB), Tidak/belum membahas PPh 3. Penghitungan BPHTB - APHB Pembagian Hak ada bermacam, misalnya Hukum Indonesia dan Hukum Islam. Dalam Hukum Indonesia, Hak anak adalah sama rata. Sedangkan dalam Hukum Islam, ada pembedaan pembagian antara Hak-laki-laki dan perempuan. Namun hukum yang sering dipakai/umum di Indonesia adalah hukum Indonesia Dalam perpajakan (BPHTB), yang dilihat (Objek pajak) adalah Peralihan Haknya. 4. Penghitungan BPHTB - APHB Setiap Anak memiliki hak masing-masing, namun bila dari APHB yang menerima bisa satu atau lebih anak. Sehingga yang dilihat atas peralihan Haknya adalah: Berapa Hak saudaranya yang diterima/diserahkan oleh anak penerima (itulah yang harus dibayarkan BPHTBnya) 5. Alur Pelaporan BPHTB Setelah SSB diteliti , Akta dapat ditandatangani. Untuk Waris menganut Hukum apa? Bukan kewenangan Pemerintah Daerah untuk menentukan hukum apa yang dipakai tetapi kita menghitung berdasarkan hukum yang dipakai /dilaporkan oleh wajib pajak 13. Bagaimana pengenaan BPHTB terhadap pengalihan perusahaan eks. BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) atau PPA (Perusahaan Pengelolaan Aset)? Solusi: a. Perusahaan yang ditangani oleh Eks BPPN (bubar) di ganti PPA adalah perusahaan yang mengalami kredit macet pada perbankkan. Sehingga nama aset yang dijaminkan masih nama perusahaan yang lama. b. Badan hukum yang akan membeli aset tersebut dari BPPN atau PPA secara otomatis memiliki piutang terhadap perusahaan asal. c. Pengalihan Hak atas Piutang terhadap aset tesebut sudah menjadi objek BPHTB. Perusahaan yang ditangani eks BPPN jual beli/ peralihan piutang BPHTB Jadi perusahaan yang akan membeli dari aset eks BPPN atau PPA maka punya

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

69

kewajiban untuk membayar BPHTB. 14. Bagaimana pengenaan BPHTB terhadap pengalihan Rumah Dings? Solusi: a. Pengalihan rumah dinas merupakan Objek BPHTB. b. Dalam peralihan rumah dinas harus diperhatikan status rumah tersebut dan Wajib pajak yang memohon rumah dinas tersebut. c. Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan Pengura ngan. (75%) Rumah dinas ---- Pengalihan ---- permohonan pengurangan Perlu di ketahui tidak semua rumah dinas dapat dialihkan, hal tersebut sangat tergantung pada institusi yang memilikinya. Apabila ada institusi yang menaunginya memberi izin pengalihan atas rumah dinas (tentunya dengan kriteria khusus) maka atas pengalihan objek tersebut terhutang BPHTB. Untuk Pemerintah Daerah berwenang untuk mengecek apakah nama pemohon sama dengan Nama orang yang diberi hak atas rumah dinas tersebut. Pemohon atas rumah dinas tersebut langsung dapat membayar sebesar 25% dari besarnya BPHTB terhutang tanpa menunggu dulu keputusan Pengurangan dari Kepala Pemerintah Daerah. Tetapi Pemohon wajib membuat surat permohonan Pengurangan kepada pemerintah daerah, dan data tersebut di jadikan bahan kontrol kepatuhan WP serta jika ditemukan data yang tidak sesuai maka pemerintah daerah dapat mengkonfimasi ke WP serta berhak mengeluarkan SKPDKB. 15. Bagaimana pengenaan BPHTB terhadap objek yang akan digunakan untuk Rumah Sakit swasta, Perguruan Tinggi swasta dan sarana. Keagamaan? Solusi: a. Pengenaan BPHTB atas objek yang diperuntukan RS swasta. dan PT swasta Sarana keagamaan sama dengan objek yang lain. b. WP tersebut diatas mempunyai hak untuk mengajukan pengurangan. c. jika disetujui Besarnya pengurangan sebesar 50%. d. Untuk aset aset lain yang dimiliki Wajib Pajak tersebut di atas tetapi penggunaannya tidak berhubungan langsung maka pengenaan BPHTBnya tetap penuh (mis; rumah dinas) RS swasta, PT swasta sarana Keagamaan — Pengurangan BPHTB 50% Aset aset yang Lain -- Pengenaan BBPHTB 100% PENGENAAN BPHTB ATAS PERGURUAN TINGGI SWASTA (PTS) 1. Yang dimaksud Perguruan Tinggi adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan berkelanjutan yang ditetapkan berdasarkan - tingkat perkembangan para peserta didik serta keluasan dan kedalaman bahan pengajaran yang lebih tinggi dari pada pendidikan menengah di jalur pendidikan sekolah; 2. Yang dimaksud Perguruan Tinggi Swasta selanjutnya disebut PTSadalahperguruantinggiyangberbentakAkademi, Politeknik, Sekolah Tinggi,

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

70

Institut, dan Universitas, yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggaraan PTS yang berbentuk yayasan, perkumpulan sosial dan/atau badan wakaf; 3. Pendaftaran/pendataan objek dan subjek pajak berpedoman pada Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. Kep-31/PJ.6/1994 Tanggal 25 Juni 1994 tentang Pendaftaran, Pendataan, dan Penilaian Objek dan Subjek Pajak Bumi dan Bangunan. 4. Penerbitan Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) PBB atas PTS dilaksanakan apabila memenuhi salah satu kriteria sebagai berikut: • Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SSP) dan pungutan lainnya dengan nama apa pun rata-rata >= Rp. 2.000.000,00 (dua juta rupiah) satu tahun. • Luas bangunan >= 2.000 m2 • Lantai/tingkat bangunan >= 4 lantai • Luas tanah >= 20.000 M2 • Jumlah mahasiswa >= 3.000 mahasiswa. 5. Bumi dan/atau bangunan yang dikuasai, dimiliki dan/ atau dimanfaatkan oleh PTS, dikenakan BPHTB sebesar 50% (lima puluh per seratus) dari PBB yang seharusnya terutang Jika pengajuannnya disetujui. 6. Bumi dan/atau bangunan yang dikuasai, dimiliki dan/ atau dimanfaatkan oleh PTS tetapi secara nyata tidak dimanfaatkan untuk penyelenggaraan pendidikan secara langsung yang terletak di luar lingkungan PTS yang bersangkutan, tetap dikenakan BPHTB sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku (BPHTB 100%). 7. Yang dimaksud keuntungan PTS adalah selisih lebih antara besarnya penerimaan yang diperoleh dari: • SPP • biaya seleksi masuk perguruan tinggi • sumbangan wajib pembangunan/pengadaan prasarana yang dikenakan kepada mahasiswa • hasil kontrak kerja yang sesuai dengan peranan dan fungsi perguruan tinggi • penerimaan dari hasil usaha sampingan dan sebagainya, 8. Apabila PTS dapat membuktikanbahwa dalam kegiatannya nyata-nyata tidak memperoleh surplus/ keuntungan, maka PTS tersebut dapat mengajukan permohonan pengurangan dan harus didukung dengan data yang dapat di pertanggung jawabkan serta menunjukkan besarnya manfaat yang diperoleh maupun beban yang ditanggung oleh subjek pajak sehubungan dengan pengelolaan objek tersebut, misalnya: Laporan Keuangan (antara lain Neraca Awal dan Neraca Akhir Tahun) yang telah diaudit oleh aparat pengawasan fungsional pemerintah dan/atau akuntan publik; Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Rutin sebagaimana terlampir; Data lain yang mendukung.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

71

BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN RUMAH SAKIT SWASTA. 1. Yang dimaksud dengan Rumah Sakit Swasta dalam keputusan ini adalah Rumah Sakit Swasta IPSM (Institusi Pelayanan Sosial Masyarakat) yang: a. 25% dari jumlah tempat tidur digunakan untuk pasien yang tidak mampu; b. Sisa Hasil Usaha (SHU) digunakan untuk reinvestasi Rumah Sakit dalam rangka pengembangan Rumah Sakit dan tidak digunakan untuk investasi di luar Rumah Sakit; 2. Atas bumi dan/atau bangunan yang dikuasai/dimiliki/dimanfaatkan oleh Rumah Sakit Swasta IPSM sebagaimana dimaksud di atas, dikenakan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebesar 50% dari jumlah yang seharusnya terhutang jaka permohonan pengurangannya disetujui. 3. Rumah Sakit Swasta Pemodal yang bukan merupakan Rumah Sakit Swasta IPSM sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dan didirikan oleh suatu badan yang berbentuk perseroan terbatas, dikenakan BPHTB sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 4. Atas bumi dan/atau bangunan yang dikuasai/ dimiliki/dimanfaatkan oleh Rumah Sakit Swasta tetapi secara nyata tidak dimanfaatkan untuk pelayanan kesehatan secara langsung yang terletak di luar lingkungan rumah sakit, tetap dikenakan BPHTB sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 16. Bagaimana pengenaan BPHTB atas Hak Pakai dan HGB ? Solusi: Hak Pakai adalah hak untuk menggunakan dan/atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh negara, dan/atau milik orang lain yang memberi wewenang dan kewajiban yang ditentukan pejabat berwenang yang bukan sewa menyewa atau pengolahan tanah. HGB adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri. Dengan jangka waktu tertentu BPHTB terhutang saat diberikanya tandatangan dan diterbitkanya surat keputusan dari BPN, Apabila masa berlaku-nya sudah jatuh tempo maka dapat diajukan lagi permohonan hak pakai dan HGB tanpa harus memenuhi kewajiban BPHTBnya lagi. (konversi hak) Pengajuan Hak Pakai /HGB persetujuan SK BPN BPHTB Jadi BPHTB terhadap Hak Pakai (HIP) dan Hak Guna Bangunan (HGB) terhutang saat diberikannya Surat Persetujuan dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk yang pertama kali. Selanjutnya untuk persetujuan perpanjangan Hak Pakai atau HGB tidak dikenakan BPHTB karena merupakan Konversi Hak tanpa ada

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

72

perubahan Nama. 17. Bagaimana pengenaan BPHTB atas tukar-menukar?. Solusi: Dalam proses tukar menukar kedua belah pihak saling memperoleh hak baru sehingga kedua belah pihak terhutang BPHTB sesuai dengan nilai aset yang diperolehnya. Peralihan tukar menukar objek Kewajiban BPHTB pada dua belah pihak Jadi pada proses tukar menukar aset tak bergerak yang dilakukan oleh wajib Pajak maka pada keduanya dikenakan kewajiban BPHTB , dimana masing-masing harus membayar sebesar dari Nilai Aset yang mereka "Peroleh" Contoh: Mr. A memiliki tanah dan Bangunan dengan Nilai Jual Objek Pajak X, sedangkan Mr. B memiliki hanya sebidang Tanah dengan Nilai Jual Objek Pajak Y maka apabila mereka mengadakan Tukar Menukar maka Mr. A membayar BPHTB dengan NJOP=NPOP sebesar "Y" sedangkan MR. B harus membayar kewajiban BPHTB dengan NJOP=NPOP sebesar "X" 18. Bagaimana pengenaan BPHTB terhadap pemekaran Usaha? 112 Panduan Pelaksanaan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan... Solusi: Pemekaran usaha adalah pemisahan suatu badan usaha menjadi dua atau lebih dengan cara mendirikan badan usaha baru dan mengalihkan sebagian aktiva dan pasiva kepada badan usaha baru yang dilakukan tanpa melikuidasi badan usaha yang lama. Yang terhutang BPHTB adalah atas pasiva yang dialihkan ke badan usaha yang baru saja. Pemekaran Usaha BPHTB atas passiva yang dialihkan saja.

Jadi BPHTB yang terhutang untuk perusahaan yang melakukan pemekaran Usaha adalah dihitung dari Nilai Jual Objek Pajak (Karena NPOP=NJOP) dari aset yang dialihkan pada perusahaan yang baru hasil pemekaran. 19. Bagaimana cara penghitungan BPHTB Karena Pemberian Hak Baru di luar Pelepasan Hak yang di atasnya terdapat bangunan? Solusi: Cara penghitungan BPHTB dalam peristiwa perolehan hak atas tanah dan bangunan karena pemberian hak baru di luar pelepasan hak yang di atasnya terdapat bangunan, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut: 1. Dalam hak Wajib Pajak menghitung BPHTB terutang berdasarkan atas NJOP tanah tanpa NJOP bangunan (dalam SSB), Pemerintah Daerah agar

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

73

menindaklanjuti dengan: a. menerbitkan SKPDKB dengan menambahkan NJOP bangunan sebagai dasar pengenaan BPHTB terutang "apabila bangunan didirikan/ dimiliki oleh penerima hak setelah UndangUndang PDRD diberlakukan . b. tidak perlu menerbitkan SKPDKB "apabila bangunan telah didirikan/dimiliki oleh penerima hak sebelum Undang-Undang PDRD diberlakukan . 2. Pembuktian bahwa bangunan sebagaimana tersebut di atas adalah didirikan/dimiliki oleh penerima hak sebelum atau setelah Undang-Undang PDRD diberlakukan 1 Januari 2011 antara lain dengan memperhatikan: a. Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB)/ Pemulihan Izin Membangun, atau; b. Surat keterangan lainnya, dan; c. Kondisi fisik bangunan. 3. Berkenaan dengan hal tersebut di atas sebelum menerbitkan SKPDKB, agar Kantor Pemerintah Daerah terlebih dahulu melakukan penelitian kembali untuk mendapatkan data/informasi yang lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. 4. Bahwa tata cara penghitungan BPHTB tersebut diatas hanya ditujukan terhadap Pemberian Hak di luar Pelepasan Hak dalam rangka Ajudikasi; 20. Bagaimana BPHTB Atas Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Untuk kepentingan Ibadah dan Untuk kegiatan Sosial / Pendidikan? Solusi: Sesuai dengan yang diamanatkan dalam Undang-undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Pasal 95,tentan Penetapan dan Muatan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Daerah maka perlu diatur Pengenaan BPHTB atas perolehan hak atas tanah dan bangunan yang digunakan untuk kepentingan ibadah serta untuk kegiatan sosial/ pendidikan yang semata-mata tidak bertujuan mencari keuntungan, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut: 1. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, ditegaskan bahwa tidak dikenakan BPHTB atas objek yang diperoleh untuk digunakan kepentingan ibadah. Kepentingan ibadah sebagaimana dimaksud dalam pasal tersebut antara lain untuk masjid, musholla, gereja, pura, wihara, pondok pesantren, maupun sarana ibadah lainnya. (pasal 85 ayat 4 huruf f) f 2. Terhadap Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang digunakan untuk kegiatan sosial dan pendidikan yang semata-mata tidak bertujuan keuntungan,diberikan pengurangan BPHTB sebesar 50% (lima puluh persen) 21. Mengapa diberi nama Bea Bukan Pajak pada BPHTB? Solusi: Asal usul dinamai Bea, karena dulu waktu pembuatan UU tentang BPHTB, dikhawatirkan adanya pemahaman pajak berganda atas tanah dan atau bangunan

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

74

(maksudnya dengan PBB). sehingga di beri istilah Bea bukan Pajak. Ada beberapa ciri khusus yang membuatnya dinamai bea. 1. Ciri pertama, dalam BPHTB ini tidak diperlukan Nomor Identitas baik untuk Wajib Pajak ataupun objek pajaknya. Ciri inilah yang membedakan bea dengan pungutan yang bernama pajak. 2. Ciri kedua, dalam BPHTB, saat pembayaran pajak terjadi lebih dahulu daripada saat terutang. Contohnya, pembeli tanah bersertifikat sudah diharuskan membayar BPHTB terutang sebelum terjadi saat terutang (sebelum akta dibuat dan ditandatangani). Hal ini terjadi juga dalam Bea Meterai. Siapapun pihak yang membeli meterai tempel berarti ia sudah membayar Bea Meterai, walaupun belum terjadi saat terutang pajak. 3. Ciri ketiga adalah frekuensi pembayaran bea terutang dapat dilakukan secara insidentil ataupun berkali-kali dan tidak terikat dengan waktu. Misalnya membeli (membayar) meterai tempel dapat dilakukan kapan saja, demikian pula membayar BPHTB terutang. Hal ini tentunya berbeda dengan pajak, yangharus dibayar sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. 22. Bagaimana cara pembayaran BPTHB atas Ajudikasi Massal? Solusi: 1. Dasar Hukum UU No. 28 Tahun 2009 tentang PDRB PMK Nomor 91 PMK.03/2006 tentang Pemberian Pengurangan BPHTB 2. Pembatasan Pembahasan BPHTB atas Objek Pajak yang Wajib Pajak Orang Pribadi yang diikutkan dalam Program Pemerintah bidang Pertanahan yang Wajib Pajaknya tidak mampu secara ekonomi 3. Objek Pajak (Ajudikasi) Pendaftaran tanah untuk pertama kali Luas tidak lebih dari 5.000 m2 untuk tanah pertanian Luas tidak lebih dari 200 m2 untuk tanah pemukirnan Biaya pendaftaran yang timbul seluruhnya atau sebagian dibebaskan oleh pemerintah WP tidak mampu secara ekonomis 4. Rumor BPTHB Nihil tidak usah mengisi SSB (lapor BPHTB) BPHTB terutang Otomatis dikenakan 25% 5. Seharusnya

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

75

Sekalipun BPHTB teruntangnya adalah Rp. 0,- (Nihil) TETAP mengisi SSB dan divalidasi BPHTB terutang Bukan dikenakan 25 % tapi mengajukan pengurangan BPHTB, bila disetujui dapat diberikan Pengurangan BPHTB sebesar 75% 6. PengajuanPenguranganWajibPajak Surat: Pengajuan Tertulis, Berbahasa Indonesia, Disebutkan Alasannya Surat Ditujukan ke: kepada Bupati/Walikota / Kepala Dinas Pendapatan / Kepala DPPKA 7. Pendukung Pengajuan Wajib Pajak Surat Keterangan WajibPajakorang pribadi memperolehhakbaru melalui Program Pemerintah dari Badan Pertanahan Nasional. Surat Keterangan Tidak Mampu Secara Ekonomi dari desa/ kelurahan setempat dan Dinas Sosial. 8. Wajib Pajak dapat diberikan pengurangan BPHTB dalam hal kondisi tertentu Wajib Pajak yang ada hubungannya dengan Objek Pajak yaitu: Wajib Pajak orang pribadi yang memperoleh hak baru melalui program pemerintah dibidang pertanahan dan tidak mempunyai kemampuan secara ekonomis (PerMenKeu No. 91/PMK.03/2006 Pasal 1 huruf a angka 1) Ketentuan Pejabat BPN Pasal 91 ayat (3) Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten / Kota hanya dapat melakukan pendaftaran hak atas tanah atau pendaftaran peralihan hak atas tanah setelah Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak (SSB) UU Nomor 28 Tahun2009_ 23. Apakah BPHTB bisa jadi Biaya/Pengurang Penghasilan Bruto? Bagaimana caranya? Solusi: Sehubungan dengan Peralihan BPHTB ke Daerah maka Pemerintah Daerah dapat mengusulkan perlakuan Pajak Penghasilan atas Pengeluaran untuk Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) Sebagai Biaya/Pengurang Penghasilan Bruto. Dengan dasar pertimbangan sebagai berikut: 1. Berdasarkan Pasal 85 Undang-undang No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, yang dimaksud dengan: Angka 1: Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah pajak yang dikenakan atas Perolehan Hak atas Tanah dan atau Bangunan. Angka 3: Hak atas tanah adalah hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

76

2. Berdasarkan Pasal 6 ayat (1) huruf a Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang No. 17 Tahun 2000 (Undang-undang Pajak Penghasilan), besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi antara lain biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, termasuk antara lain pajak kecuali Pajak Penghasilan. 3. Berdasarkan Pasal 9 ayat (2) Undang-Undang Pajak Penghasilan, pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun tidak dibolehkan untuk dibebankan sekaligus, melainkan dibebankan melalui penyusunan atau amortisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 atau Pasal 11A. 4. Berdasarkan Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Pajak Penghasilan, harga perolehan atau harga penjualan dalam hal terjadi jual beli harta yang tidak dipengaruhi hubungan istimewa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) adalah jumlah yang sesungguhnya dikeluarkan atau diterima, sedangkan apabila terdapat hubungan istimewa adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diteima. 5. Berdasarkan Pasal 11 Undang-Undang Pajak Penghasilan antara lain diatur bahwa: Ayat (1): Penyusutan atas pengeluaran untuk pembelian, pendirian, penambahan, perbaikan, atau perubahan harta berwujud, kecuali tanah yang berstatus hak milik, hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai, yang dimiliki dan digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang telah ditentukan bagi harta tersebut. Ayat (2): Penyusutan atas pengeluaran harta berwujud sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) selain bangunan, dapat juga dilakukan dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat, yang dihitung dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku, dan pada akhir masa manfaat nilai sisa buku disusutkan sekaligus, dengan syarat dilakukan secara taat asas. 6. Berdasarkan Pasal 11A ayat (1) Undang-Undang Pajak Penghasilan, amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh harta tak berwujud dan pengeluaran lainnya termasuk biaya perpanjangan hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun yang dipergunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, dilakukan dalam bagianbagian yang sama masa manfaat, yang dihitung dengan cara menerapkan tarif amortisasi atas pengeluaran tersebut atau atas nilai sisa buku dan pada akhir masa manfaat diamortisasi sekaligus dengan syarat dilakukan secara taat asas.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

77

7. Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut di atas, dengan ini di usulkan agar : a. BPHTB adalah pajak yang dibayar dalam rangka dan merupakan bagian dari biaya pengeluaran untuk memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan; b. BPHTB atas hak atas tanah yang dimiliki dan dipergunakan dalam perusahaan, atau dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, dapat dikurangkan sebagai biaya dalam penghitungan Penghasilan Kena. Pajak melalui amortisasi hak atas tanah sepanjang hak atas tanah tersebut dapat diamortisasi sesuai ketentuan Pasal 11A Undangundang Pajak Penghasilan. c. BPHTB atas hak atas bangunan yang dimiliki dan dipergunakan dalam perusahaan, atau dimiliki untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan, dapat dikurangkan sebagai biaya dalam penghitungan Penghasilan Kena. Pajak melalui penyusutan bangunan tersebut sesuai dengan ketentuan Pasal 11 Undang-undang Pajak Penghasilan; d. Usulan dimaksud pada huruf-huruf b dan c di atas, berlaku atas penghasilan yang tidak berkaitan dengan penerimaan/perolehan penghasilan yang dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final dan atau dikenakan berdasarkan Norma Penghitungan Penghasilan Neto/Norma Penghitungan Khusus. 24. Apa pengertian APHB pada Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)? Akta Pembagian Hak Bersama (APHB) terbagi pada dua kelompok, yaitu: I. APHB yang Bebas/ terbuka/ Perbuatan Hukum Yaitu akta yang dibuat atas suatu aset oleh dua orang atau lebih di mana besarnya kepemilikan atas aset tersebut sangat tergantung pada kesepakatan yang dibuat oleh mereka. Kegiatan yang mereka lakukan tersebut dapat dikatakan sebagai "Perbuatan Hukum" karena mereka secara sadar dan sah membuat kesepakatan hukum atas suatu aset. Contoh: kepemilikan bersama atas satu aset yang dibuat oleh tiga orang dewasa dengan proporsi pembagian asetnya adalah 20 %, 30 % dan 50%- Hal tersebut bebas dilakukan oleh siapapun walau tanpa hubungan keluarga atau Saudara, dan besarnya hak atas asset tersebut juga bebas ditentukan oleh mereka sesuai kesepakatan bersama. 2. APHB yang Terikat/ tertutup/ Peristiwa hukum Yaitu Akta yang dibuat atas suatu asset oleh dua orang atau lebih karena adanya peristiwa waris, jadi pemohon disini terbatas masih ada hubungan Saudara atau keluarga dengan pewaris atau dengan kata lain sifatnya tertutup hanya untuk ahli waris. Kegiatan mereka disebut "Peristiwa Hukum" karena secara otomatis kejadian tersebut terjadi pada mereka.
Contoh: Pewaris meninggalkan satu aset dengan ahli waris satu istri dan 4 orang anak.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

78

hukum waris yang digunakan adalah Hukum Indonesia. Maka APHB harus didaftarkan ke BPN sebagai Ahli Waris Cs. Baru kemudian dibuat pembagian hak pada masing-masing ahli waris. Besarnya harta gono gini istri sebesar 50%. Yang diwariskan 50% sisanya ke istri dan 4 anaknya yaitu masing-masing 10 %.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

79

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful