Menakar Jokowi Di Ibukota

oleh Achmad Syukri Prihanto

Jokowi sudah jelas maju di Pilkada DKI bersama Basuki Tjahja Purnama ( Ahok ). Keduanya telah mendaftar secara resmi dan menyerahkan dokumen untuk verifikasi di Kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD), Jakarta ( Solopos.Com, 19/03 ). Berita ini sekaligus mengakhiri beragam kabar mengenai jadi atau tidaknya pencalonan Jokowi dengan menyisakan keberatan sejumlah warga Solo atas keputusan Jokowi tersebut. Bukan Jokowi kalau tidak membuat fenomena. Sebagai warga Solo, kita tinggal mendukung saja apa yang sedang diperjuangkan Jokowi tersebut. Sekarang sudah tidak relevan lagi menyesalkan atau nggondheli Jokowi. Jika kita mengakui Jokowi memang pantas melenggang ke pentas nasional, kita bisa meyakini ini jalan bagi Jokowi untuk “ memperbaiki kelasnya “, sebagai tokoh nasional. Kita tinggalkan sisa – sisa pemikiran agar Jokowi tetap di Solo. Tulisan ini mencoba menggagas secara realistis sejauh mana Jokowi dan pasangannya bisa menggapai harapannya untuk memenangkan Pilkada DKI

Fakto Penentu Ibarat pertandingan sepakbola, pertarungan Jokowi dan Ahok kali ini adalah pertandingan Away melawan incumbent Foke dan sejumlah pasangan lainya yang lebih dulu bercokol di ibukota. Ini akan menjadi hal yang menarik. Secara mental, Jokowi akan bertanding tanpa beban dipundak. Apalagi sokongan dari partainya, direstui langsung oleh Megawati dan digadang Prabowo. Banyak teori mengenai faktor penentu kemenangan dalam pilkada. Salah satunya adalah studi yang mengaitkan antara letak geografis suatu kawasan dengan kekuatan dan kekuasaan yang dikenal sebagai geopolitik. Faktor letak wilayah sangat penting dalam menyusun kekuatan dan untuk mempertahankan kekuasaan. Dalam kaitan ini, analisis geografis terutama dikaitkan peta etnografis suatu kawasan, seperti suku, adat istiadat, budaya dan bahasa serta agama. Studi ini diperkenalkan oleh Karl Haushofer (1869-1946). Jika melihat teori kuno ini, perhitungan kemenangan hanya diukur oleh dukungan dari kekuatan kedaerahan. Dalam angka, jumlah penduduk Jakarta yang berasal dari suku Jawa mencapai 35 % ( Sensus 2000 ), mereka tersebar dalam beragam profesi mulai pengusaha, pedagangan, pekerja kantoran sampai pelajar yang tinggal dan menetap sebagai warga Jakarta. Apakah ini bisa menjadi modal kuat Jokowi meraih dukungan orang Jawa yang berada di Jakarta ?. Tentu ini juga layak menjadi bahan perhitungan sebab kita tidak bisa menyangkal begitu saja faktor kedekatan emosional ini. Belum lagi pendukung dari Basuki Tjahja Purnama. Jakarta adalah kota metropolitan yang plural. Mengusung isu putera daerah tentu kurang popular di mata warga Jakarta. Dalam konteks inilah Jokowi dan Ahok, akan mampu menarik perhatian pemilih.

melainkan hasil penilaian secara cerdas dan rasional dari pemilih.59 % pemilih golput alias tidak memilih. semisal keluarga. Seperti yang kita ketahui. Teori pertama ini sagat berkaitan dengan teori Geopolitik yang menguntungkan Jokowi dan Ahok. akan mempermudah pemasaran pasangan Jokowi – Ahok. Media dalam konteks mempengaruhi perilaku memilih meliputi dua hal yakni converting (mengubah pandangan awal pemilih menjadi pilihan lain). masalah banjir dan kemacetan di Jakarta yang belum berhasil ditangani mereka akan membandingkan program yang ditawarkan kandidat dibanding incumbent. masyarakat sudah bisa mengenal keduanya lewat social media atau tinggal menelusuri di internet.Mengenai perilaku pemilih sendiri. Chris Fill ( 1999 ) menyatakan differentiation product and service dibutuhkan dalam pemasaran yang akan membedakan produk yang ditawarkan dari produk saingan agar pelanggan mudah mengingatnya. Alhasil nama besar mereka akan sangat mempengaruhi bagaimana kelak pemilih menjantuhkan pilihannya pada Jokowi. McNair ( 1995 ) menyebut politik di zaman sekarang dengan politik di era mediasi. pendekatan rasional-choice. rekan-rekan. Pendekatan sosiologis. menuliskan dalam Logika Politik Opera Van Java. Misalnya. Pemilih pemula atau pemilih muda inilah yang kelak memberi banyak suara dibanding ke kandidat lainnya. Pertama. Dari ketiga hal di atas. Walaupun belum ada media resmi pasangan Jokowi – Ahok. Mereka mampu menilai bagaimana kiprah sosok kandidat maupun incumbent dari berbagai referensi atau yang mereka rasakan sendiri. Suwarmin ( Solopos. menurut model ini yang menentukan dalam sebuah pemilihan bukanlah adanya ketergantungan dalam ikatan sosial tertentu. Artinya. 19/03 ). dua tokoh nasional yang tentunya akan dipatuhi oleh kader – kader mereka. Bisa jadi angka tersebut akan mengecil karena terjadi iklim politik di DKI dan semakin banyaknya pilihan dan kemampuan Jokowi – Ahok memainkan pemasaran lewat media. masih ada lagi faktor penakar kemenangan Jokowi – Ahok. Hebatnya. Dalam pernyataannya di sebuah televisi usai mendaftar di KPUD. Sebagai catatan pemilih usia muda di Pilkada DKI 2007 mencapai 20 %. untuk urusan ini. Namun. munculnya pasangan Jokowi dan Ahok adalah kreasi dari Prabowo Subianto dan Megawati. Roth Dieter ( 2010 ) mengungkapkan model-model penjelasan teoretis mengenai perilaku pemilih. Menurutnya terdapat tiga macam pendekatan yang dapat menerangkan perilaku pemilih. Ketiga. setiap manusia terikat alam lingkaran sosialnya. Dengan membuat perbedaan yang jelas. tertarik lalu memilihnya. dewasa ini jika seseorang akan berpolitik mau tak mau harus menggunakan media. yaitu pemanfaatan media untuk pencitraan dalam mempengaruhi perilaku memilih seseorang. pendekatan sosial psikologis berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan memilih dalam jangka pendek atau keputusan yang diambil dalam waktu singkat namun mampu mengubah psikologi massa. Kedua. misalnya karena identifikasi partai. faktanya sudah semakin banyak pemilih cerdas yang muncul tanpa ada ikatan apapun dengan eksistensi partai. Kekuatan politik PDIP dan Gerindra di legislatif memang tidak sekuat kekuatan partai lainnya. Jokowi sudah mencuri start untuk menarik perhatian mereka dengan menyatakan sebagai pasangan muda yang siap memberi perubahan pada Jakarta. orientasi kandidat dan orientasi isu politik. Namun sekarang. demografis maupun psikografis sehingga bukan hal yang mudah untuk menemui mereka. Teori ini bisa jadi mematahkan teori Geopolitik di atas. . Uniknya pasangan ini mempunyai differentiation yang jelas dibanding pasangan lainnya. yakni muncul sebagai representasi pemimpin muda. Hal ini terjadi karena jumlah manusia bertambah banyak dan pada dasarnya tersebar luas baik secara geografis. Data Pilkada DKI 2007 lalu menyebutkan sekitar 34. kita tidak perlu meragukan lagi kiprah Jokowi dalam pencitraannya. pemberitaan kedua pasangan ini jauh dari citra negatif. tempat kerja dan lain sebagainya. atau reinforcing ( memperkuat pilihan awal yang sudah diyakini sebelumnya ).

tapi baru pada awal tahun ini wajah Jokowi baru sering muncul di televisi. Dengan perhitungan yang matang serta banyaknya faktor pendukung. Jadi. Sejak menjabat sebagai walikota Jokowi memang sarat prestasi. Bagaimana perhitungan anda ? . bintang tamu acara televisi bahkan sebagai news maker dengan esemka-nya beberapa waktu lalu. tidak heran Jokowi terlihat sumringah dan mantap saat mendaftarkan diri maju dalam Pilkada DKI kali ini.betapa piawainya Jokowi berteman akrab dengan media. Entah sebagai narasumber. Jokowi bukan “ orang bodoh “. seperti yang pernah kita dengar dari seseorang yang kebijakannya ditentang oleh Jokowi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful