1

2

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

JARINGAN KERJA BUDAYA
Maret 2002

3

Diskusibulanpurnama. [Dbp] adalah diskusi berkala yang diadakan oleh Jaringan Kerja Budaya. Dbp mengangkat segala persoalan, gagasan dan penciptaan untuk memajukan kehidupan budaya dan intelektual di Indonesia. Buku kumpulan hasil diskusi ini diterbitkan dalam rangka peringatan 3 tahun Diskusibulanpurnama. [Dbp.]. Dirangkum dan diterbitkan oleh Jaringan Kerja Budaya. Seluruh isi dari penerbitan ini dapat digunakan seluasluasnya kecuali untuk kepentingan komersial semata-mata.
© 2002, Diskusibulanpurnama.[Dbp.], Jaringan Kerja Budaya /

Diskusibulanpurnama.[Dbp.] Jalan Pondok Gede Raya No. 40, Persimpangan Taman Mini - Pondok Gede, Jakarta Timur 13560. tel./fax: 021.800.9213 & 809.5474 e-mail: diskusibulanpurnama@yahoo.com e-group: www.egroups.com/group/diskusibulanpurnama website: www.geocities.com/diskusibulanpurnama

rancangan sampul & tata letak: Nobodycorp. Internationale Unlimited <www.geocities.com/nobodycorp>

4

Daftar Isi

Pengantar
19 FEBRUARI 2000 18 MEI 2000 16 JULI 2000 4 AGUSTUS 2000

7 15 35 44

Profil Tentang Museum Ruang Publik dan Tata Kota Gerakan Petani Gerakan Non-Kekerasan: Pengalaman Timur Tengah

55

14 AGUSTUS 2000

Gegenjekan dan Pendekatan Antropologi
Krisis Pengungsi dan Politik Bantuan Pembantaian 1965 Che Guevara: Antara Kaos Oblong, Cimeng dan Revolusi Naiknya Fasisme yang Mengatasnamakan Islam

69 86 106

25 AGUSTUS 2000 13 SEPTEMBER 2000 12 OKTOBER 2000

131

13 DESEMBER 2000

149

5

Pengantar

A

walnya adalah sebuah obrolan ringan di “kalangan sendiri” di pelataran rumah-studio pematung Dolorosa Sinaga di daerah Garuda-TMII, Pondok Gede. Sekelompok seniman dan intelektual yang kadang-kadang menyebut dirinya Jaringan Kerja Budaya (JKB), kadang-kadang juga Forum Kita, merasa perlu mencerna apa yang sedang terjadi di negeri ini, sekaligus menambah pengetahuan umum. Kami bukannya tak tahu masalah sama sekali. Oleh pergolakan politik sepanjang 1998 hampir semua dari kami, secara langsung pun tidak, terseret ke dalam kerja-kerja kemanusiaan yang dikoordinir melalui Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK). Rumah Dolorosa sendiri secara tidak resmi ditahbiskan menjadi “Posko Pemulihan” mental dan pikiran setelah lelah bergerak di jalanan. Namun, informasi yang diperoleh dan disimpan sendiri-sendiri ternyata perlu diuji kebenarannya. Apalagi di tengah situasi tak berketentuan, kebenaran dan gunjingan tumpang tindih di setiap kolom dan saluran media massa yang baru merdeka. Berita dan cerita lebih banyak buat hati cemas dan kepala pening ketimbang bantu jernihkan pandangan. Sebenarnya sejak Soeharto jatuh ada banyak forum diskusi yang diselenggarakan berbagai kelompok di Jakarta. Beberapa diantara kami sempat cukup rajin menghadiri seminar, diskusi panel, dialog terbuka, atau peluncuran buku di berbagai hotel dan gedung pertemuan eksklusif. Yang segera tampak adalah jarak sosial antara narasumber dan peserta diskusi; pembicara dianggap sebagai yang maha tahu dan peserta hampirhampir tak berkesempatan untuk mempengaruhi jalannya diskusi. Menurut kami hal ini terjadi karena pembicaraan cenderung bergerak di antara dua kutub ekstrim: sangat teoretik sehingga membuat peserta lebih banyak terpana oleh jargon-jargon ilmiah, atau terlalu sarat dengan anekdot yang tidak berkaitan dengan pokok permasalahan dalam diskusi. Tema-tema yang diangkat pun bergantung pada apa yang sedang ramai
Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

7

dibicarakan di media massa. Alhasil, pembicara atau penyelenggara acara acap kali menggunakan forum lebih untuk membuat pernyataan politik daripada menjelaskan duduk soal suatu kejadian. Pengalaman ini membuat kami semakin yakin akan perlunya suatu forum yang lebih akrab dan santai dalam penyelenggaraan tanpa meninggalkan unsur pendidikan di dalamnya. Atas usulan Arjuna “Oom” Hutagalung, guru musik yang terlanjur dipilih menjadi pendamping hidup Dolorosa, dirancanglah sebuah diskusi bulanan dengan mengundang narasumber yang tidak perlu terkenal, tapi dianggap mampu membantu kami lebih paham akar masalah. Mengapa pada bulan purnama? Tak ada alasan yang terlalu filosofis. Kebetulan kalender yang tergantung di rumah itu kalender Bali yang
Topik-topik yang dibicarakan di Dbp. 1999: Ignatius Wibowo tentang Globalisasi Alit Ambara tentang Tatlin dan Seni Konstruktivisme Rusia Leonard Retel Helmrich dan Amarzan Lubis tentang Film Dokumenter Allan Nairn tentang Hubungan Militer Indonesia dan Militer Amerika Serikat Munir dan Nezar Patria tentang Kekerasan Militer di Aceh Myra Diarsi tentang Hak-hak Perempuan Wahyu tentang Buruh Migran John Roosa tentang Nasionalisme Cellia Mather tentang Gerakan Buruh di Afrika Selatan Roger Clark tentang Hukum Internasional dan Timor Lorosae Tim Investigasi Kontras tentang Kerusuhan Ambon Ana Luisa Rodriguez tentang Pengaruh Zapatista terhadap Gerakan Sosial di Meksiko

dipenuhi segala tanda upacara. Di setiap lembar yang bertanggal ada satu bulatan merah menyolok untuk menandai saat bulan bundar benar. Agaknya mudah bagi siapa pun untuk mengingatnya. Alit Ambara, pekerja seni yang ikut menjaga Garuda, mencoba memberi pembenaran kultural. Tapi tak seorang pun berhasil mengingat kembali penjelasan itu. Pokoknya setiap bulan ada “diskusi bulan purnama” tentang soal-soal yang sedikit atau sama sekali tidak kami ketahui asal-usulnya. Diskusi Bulan Purnama (Dbp.) pertama kali diadakan pada Februari 1999 dengan nara sumber Ignatius Wibowo tentang Globalisasi. Sekitar 20 orang menghadiri diskusi ini. Acara dimulai dengan makan malam bersama yang dipersiapkan oleh Irok, komandan dapur Garuda, dan dilanjutkan dengan presentasi oleh narasumber. Biasanya presentasi berlangsung tak lebih dari satu jam, kemudian moderator akan memulai sesi diskusi terbuka yang bisa berlangsung hingga menjelang tengah malam. Karena perbincangan dilakukan di beranda rumah yang berbatasan dengan halaman terbuka, ketika langit cerah, cahaya bulan ikut menghangatkan suasana. Pada tahun pertama pelaksanaan diskusi diserahkan kepada tiga “pemuda gondrong” yang sebetulnya jarang bicara satu sama lain, yaitu Alex Supartono, Alit Ambara dan Arjuna Hutagalung. Penentuan tema dan narasumber pun bergantung
8
Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

pada kecekatan si “3 A” ini menangkap keinginan forum dan informasi mendesak yang beredar di luar Garuda. Tak jarang terjadi tema mencuat di sela-sela obrolan ringan, tapi tidak ada narasumber yang dianggap mampu membahasnya. Pola yang lebih lazim muncul, kami berbincang-bincang atau bekerja dengan seseorang dan muncul ide untuk mengundangnya bicara karena pengetahuan si kawan dianggap berguna untuk dibagikan ke forum yang lebih luas. Menariknya, tanpa diberitahu terlebih dahulu, narasumber paham bahwa ia tidak akan dibayar untuk bicara di Dbp. Layanan utama yang diberikan hanyalah makan malam yang cukup sedap dan mengenyangkan, dan antar-jemput sampai ke tujuan kalau narasumber tak memiliki kendaraan pribadi. Dalam waktu beberapa bulan jumlah orang yang menghadiri Dbp. bertambah banyak. Padahal penyebaran undangan awalnya hanya melalui berita dari mulut ke mulut dan jaringan email. Dari 20 orang yang saling kenal cukup baik pengunjung Dbp. berkembang menjadi sekitar 50 sampai 150 orang yang cukup saling bertegursapa. Memang ada tema dan narasumber tertentu, seperti ketika Munir dari Kontras dan Nezar Patria bicara tentang Kekerasan Militer di Aceh, yang mengundang perhatian lebih banyak pihak. Selebihnya, jumlah pengunjung tidak pernah kurang dari 50 orang. Selain itu, kedatangan beberapa kawan dari luar negeri yang bekerjasama dengan personil-personil JKB dan Forum Kita menjadi pertimbangan pula untuk menambah frekuensi pertemuan. Dbp extended version (Dbp.-ev) pun mau tidak mau dilahirkan tanpa bergantung pada sinar purnama. Dengan meningkatnya jumlah orang yang menghadiri Dbp. timbul kebutuhan untuk membuat kegiatan ini lebih tertata. Dbp. bukan lagi ruang eksklusif bagi sekelompok orang belaka, tapi sudah menjadi wahana terbuka untuk tahu soal dan beradu pendapat. Karena latar belakang dan pengetahuan dasar pengunjung berbeda-beda, kami selalu berusaha mengangkat tema-tema sederhana yang dikenal publik tapi tidak pernah dibahas secara menyeluruh. Kepada pembicara pun kami tekankan lebih pentingnya pemaparan masalah dan pengungkapan data dan informasi yang tidak lazim diketahui daripada pengajuan argumenargumen teoretik yang terlalu rumit ujung-pangkalnya. Dbp. menjadi “ruang belajar publik” yang kerap berlanjut menjadi medan ujian bagi gagasan-gagasan picik yang berangkat dari kecerobohan membangun asumsi. Sementara itu situasi politik berkembang semakin kompleks dan berubah-ubah sangat cepat sejalan dengan kerasnya perebutan kekuasaan di lapisan elit. Sebelum Mei 1998 perhatian orang diarahkan sepenuhnya ke kejahatan Soeharto. Setelah diktator ini dipaksa pensiun, sederetan soal lama yang tidak pernah diperhitungkan bermunculan: peran IMF dan hutang luar negeri, hubungan erat pemerintah AS dan militer Indonesia, referendum di Timor Lorosae dan operasi bumi hangus yang mengikutinya, dll. Diskusi dengan beberapa kawan dari luar negeri yang kebetulan ada di Jakarta sangat membantu pengunjung Dbp. membangun perspektif

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

9

internasional tentang masalah-masalah ekonomi-politik di Indonesia. Perkembangan lain yang juga berpengaruh terhadap penentuan tema-tema diskusi adalah meledaknya konflik berdarah di beberapa daerah dan surutnya gerak mahasiswa di jalanan setelah Peristiwa Semanggi II terjadi pada September 1999. Timbul banyak pertanyaan mengenai bagaimana gerakan sosial bisa bertahan lama dan menjangkau kalangan yang lebih luas dari mahasiswa lelaki. Peran partai politik sebagai wadah aspirasi politik rakyat dan LSM sebagai agen perubahan pun diragukan. Pengalaman berbagai kelompok menghadapi perkembangan ini — seperti usaha yang dilakukan oleh kelompok masyarakat di bawah pimpinan Pak Ghaffar dari Palu untuk mencegah konflik dan menangani pengungsi dari Poso – memberi gambaran lebih konkrit tentang bentuk-bentuk organisasi dan kegiatan alternatif yang dibutuhkan masyarakat dewasa ini. Selain lebih serius memikirkan bentuk dan isi diskusi, kami juga melihat pentingnya menjaga hubungan baik dengan pengunjung. Bagaimana pun juga oleh keterbatasan waktu tidak mungkin pembicaraan suatu soal dituntaskan lewat sekali pertemuan. Kami selalu berharap beberapa hal yang dirasa menggantung dalam satu diskusi bisa dibicarakan pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Ternyata memang banyak pengunjung baru yang meminta pemberitahuan rutin tentang acara ini, sedangkan kami sendiri merasa perlu mengetahui siapa saja yang hadir. Maka, absensi pun mulai diedarkan sejak awal 2000. Lalu, melalui email kawan-kawan di luar Jakarta meminta notulensi atau transkripsi diskusi tema-tema tertentu. Kami putuskan untuk merekam seluruh proses diskusi dan mentranskripnya. Memang, tidak semua diskusi terekam dengan baik, entah karena wireless pinjaman dari IKJ sudah kelewat tua, atau karena penjaga mesin perekam seringkali terlalu asyik mengikuti diskusi sehingga lupa membalik kaset. Pada tahun yang sama Alit berinisiatif membuka situs Dbp. di internet dan layanan e-group untuk melancarkan peredaran informasi. Di situs ini dimuat program diskusi, peta lokasi – banyak yang kesulitan mencari rumah-studio Dolorosa – dan transkrip diskusi. Kemudian, kawan-kawan dari Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) yang rajin mengunjungi diskusi mengusulkan agar hasil diskusi diterbitkan dalam bentuk yang sederhana. Kami sepakati usulan itu dan mulai menggarapnya bersama dengan LSPP. Proses transkripsi berlangsung cepat, tapi kerja editing tersendat-sendat, pertama karena tidak mudah menentukan bagian-bagian yang harus dipotong tanpa mengurangi bobot diskusi; kedua, karena beban kerja personil JKB yang berlebihan. Sementara itu Dbp. semakin berkembang juga menjadi “ruang sosial serbaguna” bagi siapa pun. Dari anak jalanan, ibu rumah tangga, relawan kemanusiaan yang memerlukan pengetahuan tambahan; kaum profesional yang selalu dibuat penasaran dengan isyu-isyu politik tingkat

10

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

tinggi; pekerja seni yang tergugah oleh isyu-isyu kemanusiaan; bekas tapol/napol lansia yang ingin memahami pemikiran generasi muda; sampai aktifis pemuda yang perlu membakar semangat “massa” dengan kejantanannya mendapat tempat seluasluasnya untuk angkat bicara atau sekedar mendengar saja. Sesudah diskusi usai, terjadilah berbagai “transaksi” yang kadangkala berlangsung lebih lama dan lebih luas daripada diskusi itu sendiri. Bahkan, pada suatu waktu salah satu pengunjung setia Dbp., Pak Surya, menawarkan “Beras Bagus, Murah, Karya Bumiputera” hasil panen petani Karawang dan mendapat sambutan meriah dari para pengunjung! Pengunjung Dbp. bisa semakin beragam saat topik yang dibicarakan mengena kepentingan banyak pihak dan narasumber yang diundang dikenal luas. Dua topik yang paling menarik perhatian adalah Pembantaian 1965 pada September 2000 dan Kedaulatan Rakyat atau Kedaulatan Negara? pada April 2001 dengan pembicara sosiolog Dr. George Junus Aditjondro. Reaksi spontan pengunjung pun beragam. Dalam sebuah diskusi tentang Peran Ibu dalam Perjuangan Masa Transisi Mega Prianti dari Suara Ibu Peduli (SIP) bercerita tentang pengalamannya sebagai ibu rumah tangga yang terlibat dalam kegiatan kemanusiaan. Tiba-tiba di tengah perbincangan seorang aktifis perempuan menyambut cerita itu dengan penghargaan terhadap para ibu sambil tersedak tangis haru. Tapi mungkin diskusi yang paling mengundang tawa berkepanjangan adalah Militer Indonesia dengan narasumber bekas Pangdam Kalimantan Timur, Hario Kecik, yang memang terkenal jenaka. Selama hampir 3 tahun menjalankan kegiatan ini kami hampir tidak pernah mengalami hambatan yang berarti. Bahkan, para polisi lalu lintas yang berjaga di pos jalan masuk ke halaman rumah Dolorosa meminta diundang, “Mbak, kalau yang bicara bagus-bagus, seperti George Aditjondro itu, kami diundang dong. Kalau yang bodoh-bodoh, ngga usahlah!” Tentu saja ada ‘kecelakaan’ di sana-sini yang membuat kami harus putar otak atasi keadaan. Sekali waktu penulis kawakan bekas anggota Lekra, Hersri Setiawan, yang diharapkan akan berbicara mengenai Sastra Eksil Indonesia, mengalami keterlambatan pesawat dan tidak bisa hadir dalam diskusi. Karena pengunjung sudah berkumpul, terpaksa topik diganti menjadi Musik Punk karena kebetulan malam itu banyak kawan-kawan dari kelompok underground yang hadir. Kali lain, mobil yang dipakai untuk menjemput narasumber mogok di tengah jalan dan acara harus mundur sekitar 1,5 jam. Sering pula kami kelabakan tentukan tema dan narasumber sementara waktu sudah mendesak sehingga pilihan jatuh pada orang-orang JKB saja. Apa pun, kehadiran dan harapan pengunjung setia Dbp. tetap memberi kami semangat untuk melanjutkan diskusi ini. Atas desakan banyak pihak di Jakarta maupun di luar Jakarta, akhirnya awal tahun ini niat menerbitkan buku tahunan Dbp. terlaksana. Dengan mempertimbangkan kualitas perbincangan dan rekaman yang ada tidak semua diskusi kami muat dalam buku ini. Selain itu, demi kejelasan persoalan yang dibicarakan, transkrip diskusi sengaja kami sederhanakan dengan memotong bagian-bagian pembicaraan yang lebih bersifat “debat

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

11

kusir”. Kami membayangkan akan sulit bagi pembaca yang tidak hadir dalam diskusi untuk mengikuti alur silang pendapat apabila transkrip dibiarkan sebagaimana aslinya. Harapan kami buku ini bukan saja berfungsi sebagai bahan bacaan awal untuk memahami soal-soal yang diperbincangkan, tetapi juga bisa menjadi inspirasi bagi siapa pun untuk menyelenggarakan kegiatan serupa dimana saja. Bertahannya ritual bulanan ini tentunya tak bisa dilepaskan dari kebesaran dan kemurahan hati sang pemilik rumah, Dolorosa Sinaga dan Arjuna Hutagalung, serta kesediaan para pekerja rumah tangganya, yaitu Irok dan Johan, yang mempersiapkan makanan dan ruangan untuk berdiskusi. Mereka kerap harus relakan waktu bersama keluarganya karena lembur sampai jauh malam untuk mencuci peralatan makan dan membersihkan arena diskusi. Mulanya para pekerja ini hanya tahu “mau ada rapat di rumah ibu”. Belakangan, Johan, yang sedang merintis karir sebagai pematung, mulai
untuk tahun 2001, program lengkap Dbp sbb.: Soetjipto & Olly Supit: Pandangan Int. tentang Gerakan Kiri Internasional Ibe Karyanto & Ignas Kleden: Pendidikan Mega Prianti & Maria Hartiningsih: Peran Ibu dalam Perjuangan Masa Transisi dan Diskusi Buku Ibunda karya Maxim Gorky (diskusi buku Ibunda, Gorky) bekerjasama dengan Kalyanamitra Endo Suanda: Revitalisasi seni tradisi Amarzan Lubis dan Bre Redana: Jurnalisme Budaya Hario Kecik: Militer Indonesia Ir Widodo: Teknologi Metalurgi di Dunia Ketiga Arya Kusumadewa: Pemutaran film ‘Beth’ dan diskusi Film Michael Bodden: Teater dan Sastra FX Harsono: Tentang Senirupa John Roosa: Tentang terorisme pasca 11 sept. Dialog Kebudayaan dalam rangka Pameran Tunggal Dolorosa Sinaga di Galeri Nasional Gunawan Wiradi :Reforma Agraria

tertarik ikut diskusi. Dengan bertambahnya jumlah pengunjung, mau tak mau kami semua turun tangan untuk mempersiapkan arena diskusi, memasak, dan kadangkadang saweran untuk makan malam. Tak kurang dari Atoen, sekretaris JKB dan Rara, sekretaris pribadi Dolorosa luangkan waktu istirahatnya untuk membantu kami persiapkan kegiatan ini. Buku ini antara lain didedikasikan pada mereka. Jakarta, 28 Februari 2002

12

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

13

14

19 FEBRUARI 2000

Profil Tentang Museum
Narasumber: Sudarmadji Damais, mantan Direktur Museum Sejarah Jakarta Fatahillah. Moderator: Alit Ambara.

Seperti apa nasib museum di Indonesia sekarang? Di tengah ambruknya perekonomian, menurun drastisnya dana pendidikan dan kesejahteraan lain, berdiskusi tentang museum seolah menjadi kemewahan tersendiri. Namun, seperti yang ditunjukkan Sudarmadji Damais, atau yang lebih dikenal dengan Adji Damais, museum bukan hanya tempat nongkrong, tapi tempat bangsa merekam masa lalunya. Berdasarkan pengalaman Adjie mempelajari sejarah permuseuman di Eropa dan mengelola beberapa museum di Indonesia, ia berpendapat bahwa apa yang ada dalam museum sesungguhnya mencerminkan watak sebuah bangsa. Miskinnya museum di Indonesia mencerminkan kemiskinan berpikir di kalangan elite yang sesungguhnya bisa berbuat banyak untuk memajukan kehidupan budaya. Penguasa Orde Baru lebih senang membuat museum untuk membela citranya sendiri ketimbang untuk berbicara tentang bangsa sebagai keseluruhan. Walaupun tidak dihadiri banyak orang, diskusi ini memberikan gambaran yang lebih jelas tentang apa fungsi museum sebenarnya dan apakah negeri ini perlu museum. Adji sendiri berpendapat bahwa pertanyaan yang lebih mendasar sebetulnya berkaitan dengan sikap bangsa ini terhadap masa lalunya. Apa pentingnya masa lalu bagi kita? Dan, bagaimana seharusnya kita mempelajari sejarah? Hanya jika kedua pertanyaan ini dijawab, kita bisa menentukan apakah kita perlu museum atau tidak, dan kalau diperlukan, museum seperti apa yang akan didirikan.

Sudarmadji Damais: Pertama-tama saya ingin memperkenalkan diri. Saya bukan ahli museum tetapi orang yang suka sejarah dan kebetulan pada zaman Ali Sadikin disuruh mengurus museum. Saya menulis tesis tentang kebudayaan Polynesia. Nah, karena saya juga mempelajari Jawa — maaf saja nanti kalau keluar bahasa Jawa dan juga ada Sundanya. Istilah “museum” berasal dari bahasa Latin, yang bentuk aslinya dari bahasa Yunani, yaitu museon. Dulu ada kerajaan Yunani dan rajanya tertarik pada filsafat. Istilah philosophie, atau mencari hal-hal yang benar. Dia mengumpulkan guru-guru besar waktu itu dan membuat museon atau tempat ibadah untuk sembilan dewi yang namanya musee. Sembilan dewi ini semuanya anak haram, dan masing-masing musee itu dibuat khusus untuk sastra dan sejarah yang diberi nama epic, lalu ada khusus untuk teater, tragedie dan komedie. Ada untuk tarian dan anehnya, ada untuk astronomi. Kesembilan cabang yang mewakili sembilan musee ini anehnya tidak memasukkan senirupa. Tidak ada dewi seni patung atau seni lukis. Kenapa? Karena pada zaman itu seni lukis dan patung dianggap
Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

15

sebagai kerja tukang atau kriya. Jangan lupa pengagungan seni rupa itu baru terjadi beberapa abad sesudahnya, paling sedikit enam abad sesudahnya. Jadi, agak mirip dengan pematung di Bali yang lebih seperti pematung. Kalau disuruh patung, ya bikin patung. Disuruh melukis, ya melukis. Penjualan patung, memasarkannya melalui pameran itu adalah hal baru. Dalam museon ini, berdasarkan cerita-cerita kuno, pemerintah membayar sekelompok pemikir yang mengembangkan daya cipta dalam bentuk ceramah. Gedung itu pun berkembang, ada ruang perpustakaan, ada juga ruang untuk berpikir. Coba perhatikan kalau orang Eropa berpikir, maka dia cenderung jalan kaki wira-wiri. Beda dengan orang Indonesia yang kalau mikir malah ndeprok atau semedi. Nah, di dalamnya ada juga ruang seminar, dan yang paling penting tentunya ada ruang makan. Rupanya entah dua atau tiga kali sehari ada santapan untuk orang-orang yang berpikir itu, dan semuanya dibayar oleh pemerintah. Nah, kita tidak tahu lebih jauh apakah ini semua ada kaitannya dengan dua lembaga kuno dalam sejarah Yunani, yaitu musoleum untuk mengembangkan anak muda, dan academia. Kalau akademi kita tahu ciptaan orang Yunani di mana filsuf seperti Plato bicara menyebarluaskan pemikirannya. Sebenarnya nama academia ini semula berasal dari taman milik seseorang bernama Academos. Itulah asal-usulnya. Tapi yang lebih penting kita tinjau adalah perkembangan museum ini sendiri. Di zaman Renaissance sekitar abad ke-14 dan 15, tiba-tiba bermunculan koleksi-koleksi pribadi, sebagian diberi nama museum. Orang mulai kumpul lagi di ruangan seperti itu, ada buku-buku langka, lukisan, kerang dan macam-macam lainnya. Orang mulai mengumpulkan benda-benda yang dianggap ajaib, untuk menunjukkan kehebatan dan kekayaan. Seperti sekarang juga. Sampai sekarang masih ada orang yang mengumpulkan kerang, di Oxford Univesity bahkan khusus untuk itu. Tapi juga ada lukisan, patung dan naskah-naskah tua dari Indonesia dalam bahasa Jawa dan Sunda. Nah, keinginan membuat koleksi dan mengumpulkan barang terang menimbulkan masalah. Kalau didiamkan saja akan hancur. Jadi harus dilestarikan. Pelestarian itu pun perlu ilmu yang disebut konservasi. Tapi di Indonesia ini kan biasanya kalau ada barang mau hancur dibiarkan saja. Saya tidak menilai ini salah atau benar, tapi ada perbedaan sikap. Di satu pihak ada orang yang mau barang tetap utuh, otentik, tidak dimakan kutu atau rayap. Di pihak lain ada orang – seperti kita di Indonesia ini – yang kalau barangnya hancur, selalu mikir bikin baru. Di Eropa baru pada abad ke-18 orang membuat koleksi benda-benda seni, jadi bukan hanya benda alam seperti kerang dan sebagainya itu. Muncul koleksi lukisan yagn besar dari zaman sebelum Revolusi Prancis dan dibuka untuk umum. Tapi umum yang mana dulu? Umum di sini maksudnya orang berpendidikan, biasanya orang kaya, yang punya koneksi dan seterusnya. Koleksi itu

16

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

biasanya ada di istana raja yang tidak dibuka untuk sembarang orang. Waktu Revolusi Prancis terjadi muncul konsep baru. Daripada menghancurkan barang-barang kerajaan dan gereja yang dianggap feodal – dan barangnya dianggap benda maksiat – maka beberapa tokoh Prancis berpengaruh yang terpengaruh Pencerahan mulai mengatakan bahwa semua itu harus dipelajari. Semua koleksi itu akhirnya menjadi milik pemerintah revolusioner Prancis yang mengatakan benda-benda itu tidak boleh dihancurkan. Mereka yang menghancurkan akan dihukum. Semua itu harus dilestarikan untuk pendidikan dan pengajaran rakyat. Istana-istana yang tadinya tertutup lalu dibuka untuk rakyat, demi pencerahan rakyat. Soal rakyat itu doyan lukisan yang dipajang atau tidak, tidak dipertanyakan. Tapi yang pasti pemerintahnya membuka pintupintu museum itu. Sampai di sini kita lihat bahwa museum itu awalnya adalah tempat ibadah, tempat kumpulnya pemikir dan juga perpustakaan. Tapi tidak ada koleksi seni rupa. Lalu ada gelombang kedua di mana museum menjadi tempat menyimpan barang-barang aneh. Sebetulnya seperti itu di Indonesia juga banyak, tapi orang hanya mengumpulkan saja. Saya kenal orang yang punya kambing berkepala dua. Sudah mati, tapi masih disimpan. Dia juga punya batu akik dengan tulisan Allah, juga disimpan. Nah, dari tempat mengumpulkan benda-benda aneh, larinya ke seni rupa. Seperti museum di Prancis yang sebelumnya adalah koleksi rajaraja. Nah, Revolusi Prancis yang pertama membuka museum seperti kita kenal sekarang. Belakangan semakin banyak ke seni rupa. Itu sebabnya ada yang disebut art gallery. Gallery ini sebenarnya selasar tempat raja lewat tiap hari yang temboknya penuh lukisan. Jadi sebenarnya hanya bagian dari sebuah museum. Dalam periode inilah muncul gagasan tentang museum sebagia tempat mengumpulkan, mengawetkan dan melestarikan, meneliti dan menyebarluaskan isinya kepada masyarakat. Unsur pendidikan yang dulu tidak ada, sekarang malah menjadi penting. Anehnya Indonesia itu ternyata memiliki salah satu museum tertua di dunia. Museum Nasional itu dibangun tahun 1778 dengan konsep yang sama. Mereka menemukan barang yang dianggap menarik atau aneh dari kepulauan Indonesia, lalu dikumpulkan dan digabung dengan perpustakaan serta koleksi-koleksi lainnya. Dulu ada koleksi khusus mineral yang akhirnya dipindahkan. Masalah seni justru tidak ditekankan, walau ada patung dan tekstil dari seluruh Indonesia. Ini semua bertolak dari sikap ilmu dalam antropologi yang mau mengumpulkan segala hasil karya orang Indonesia. Museum yang saya mau bicarakan di sini sebenarnya hanya dua. Pertama, museum budaya seperti Museum Nasional itu, dan kedua museum seni rupa. Nah, memang aneh museum seni rupa itu dalam sejarahnya tidak ada. Patung dan lukisan tidak masuk hitungan di antara sembilan kesibukan orang Yunani. Soal ini ada cerita

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

17

lucu. Seorang Prancis bercerita bahwa di dunia ada dua anak yatim-piatu, namanya seni patung dan seni lukis. Mereka luntang-lantung karena ibu mereka, seni bangunan, sudah dibunuh. Nah, supaya kedua anak ini punya tempat maka lahirlah museum. Dan dalam 20 tahun terakhir yang paling banyak kita lihat adalah museum seni rupa. Hampir tidak ada yang lain. Museum seni rupa menjadi perkembangan yang paling penting. Jadi ibunya, seni bangunan, itu dibunuh dan hanya mendapat penghormatan lewat bangunan museum seni rupa yang megah. Di sini kita perlu bertanya juga, apa sebenarnya yang dicari orang – khususnya orang Eropa – dengan membangun museum? Apakah seperti dikatakan oleh pakarpakar itu, sebagai tempat menoleh ke masa lalu, merenungkan kebesaran masa lalu, merenungkan keanehan, atau apa? Tadi saya sempat bicara dengan Alit tentang sikap kita terhadap kebudayaan. Orang melihat waktu sejarah sebagai garis dari nol sampai 2000, dari zaman orang telanjang sampai orang berpakaian sampai sekarang. Jadi ada satu garis yang seolah bergerak, tapi ada juga yang melihat sejarah sebagai proses berulang atau siklus. Orang di Timur, khususnya Cina, melihat kadang orang hidup di atas, turun lagi, lantas mati dan begitu seterusnya. Tetapi di Barat, apalagi sejak zaman pencerahan mereka sadar bahwa kita mulai dari nol, dari gerombolan biadab menjadi beradab. Nah, inilah yang perlu kita tanyakan. Apa yang sebenarnya dirasakan oleh lingkungan kita sendiri. Konsepsi tentang waktu itu penting. Misalnya di Bali ada legenda Batara Kala, mulut yang tidak punya badan. Kerjanya makan bulan, tapi bulan itu selalu keluar lagi. Batara Kala ini kerjanya merongrong sehingga orang terus menjadi tua. Di Yunani ada juga, tapi namanya Kronos. Dia ini dewa yang makan apa pun, rumah atau kota bisa dia makan. Maksudnya hancur karena waktu. Nah, sikap kita terhadap waktu ini yang perlu dipertanyakan. Karena Batara Kala terus mengganggu dan menghancurkan segalanya, apa sikap kita terhadap pelestarian? Kalau di Eropa orang mau melestarikan barang tua karena dianggap penting untuk pendidikan, penting untuk menjadi tapak ingatan. Pertanyaannya, apakah kita perlu mengingat-ingat semua demi kemajuan dan agar kesalahan yang sama tidak terulang? Dalam kebudayaan Barat kita mengenal monumen, artinya benda yang dipakai untuk memperingati sesuatu, entah tokoh atau kejadian. Di Indonesia nampaknya beda. Apakah ingatan memang punya tempat yang penting dalam hidup kita sehari-hari? Misalnya ada barang yang hancur, orang Indonesia biasanya bilang, “ya sudah biarkan saja hancur. Mana fotonya, kita bikin lagi.” Kalau di Barat replika itu dianggap hina. Anda masuk museum mana pun tidak ada barang replika, kecuali beberapa koleksi tertentu karena terpaksa. Tapi museum atau lembaga yang merasa dirinya terhormat, tidak akan menerima copy atau replika. Nah, di sini saya minta tolong pada teman-teman untuk bertanya pada diri sendiri. Menurut saudara-saudara orang Indonesia itu pada umumnya, kalau mau mengacu ke masa

18

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

lalu atau mendekatkan diri pada masa lalu, tujuannya apa? Menurut saya kebanggaan kita sering kali ada di sekitar mitos. Jadi yang kita hormati sebenarnya sesuatu yang tidak berbentuk, kecuali keris mungkin. Tapi soal keris pun perlu dipertanyakan. Kita ambil contoh di Tiongkok. Ada orang Prancis yang cerita kepada saya naik kereta api dan terkagum-kagum karena setiap stasiun punya nama yang mengingatkan orang akan kebesaran kebudayaan Tiongkok. Tapi anehnya kalau pergi ke tempat-tempat tersebut, sisa peninggalan kebudayaan Tiongkok yang kuno tidak ada lagi. Karena orang di sana punya kebiasaan – seperti kita mungkin – untuk menghancurkan segala setiap kali ada pergantian kekuasaan. Jadi kalau kita pergi ke Kota Terlarang, umurnya belum sampai 500 tahun itu. Tapi kalau ke Roma, tidak jarang kita lihat bangunan yang usianya sudah seribu bahkan dua ribu tahun. Dan masih asli. Misalnya Pantheon di Roma, umurnya sudah 2000 tahun. Mungkin dulunya tempat ibadah lalu jadi gereja yang terus dilestarikan. Tembok Besar Tiongkok itu batunya sering diganti, dan umurnya pun baru 300400 tahun. Si ahli dari Prancis ini bertanya-tanya, “kok aneh orang Cina yang begitu mengagungkan masa lalu, kebesaran mereka, sering mengganti-ganti seperti itu?” Di sisi lain kita tahu tulisan mereka sudah 2000 tahun usianya dan tidak sampai sekarang pada dasarnya masih sama. Jadi ada semacam kesinambungan kebudayaan yang luar biasa, tapi tidak ada kesinambungan peninggalan. Saya dulu juga berpikir hanya orang Indonesia yang tidak punya sense of archeology, tapi ternyata orang Cina dan Jepang juga tidak. Orang Jepang malah merombak puri mereka setiap 60 tahun sekali sampai ke paku-pakunya. Tapi lantas dia bilang bahwa puri itu usianya sudah 2000 tahun. Kesimpulan orang Prancis itu, di Timur yang dihormati ternyata bukan benda tapi kemampuan untuk membuat benda itu. Jadi, masalahnya konsep yang lebih kuat daripada benda. Di Indonesia saya juga pernah terpikir begitu ketika bicara dengan orang kraton. Mereka bilang, “ini pusaka dari Brawijaya pamungkas, yang ini dari Amangkurat Tegalwangi” dan seterusnya. Saya mulai mikir. Dalam iklim seperti ini benda-benda yang dari besi – biar pakai pamor yang peng-pengan – itu tetap akan berkarat. Belum lagi keris itu setiap satu Syuro – sebenarnya ini bukan tradisi Jawa tapi ciptaan Orba – harus dicuci. Selalu diwarang, padahal warang itu bahan kimia yang merongrong besi. Mestinya dalam seratus tahun besi itu sudah habis. Lalu saya lihat, umpamanya keris yang namanya Kyai Turonggo itu ada keris yang disebut Kyai Turonggo Putro, atau copy-nya. Tapi kalau keris kita tidak bilang itu di-copy. Namanya amurtani atau bikin anak. Artinya barang baru tapi dengan sukma dari keris yang lama. Itu sebabnya kraton Solo dan Jogja punya koleksi keris lengkap, dari sekitar 500 sampai 600 tahun sebelumnya. Jadi, sekali lagi yang penting bukan wujud tapi isi. Nah, ini sikap yang sangat berbeda dengan orang Barat yang ngotot “it must be authentic”. Kalau nggak otentik, dibuang. Kalau kita sekarang mau bikin museum demi keagungan masa lalu, jelas keris tidak bisa dipertontonkan. Tapi di sini kita akan berhadapan dengan sikap orang yang tidak keberatan dengan copy atau replika. Saya

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

19

pernah usul bikin pameran foto tentang revolusi. Artinya harus bicara dengan Hippos. Tapi lalu ada yang bilang, “nggak usah, Pak. Kita main fotocopy saja.” Buat saya, kalau mau pajang fotocopy-nya, buat apa bikin pameran? Tapi buat kebanyakan orang nggak jadi masalah, yang penting masih kelihatan. Saya sengaja mengangkat masalah-masalah ini untuk dijawab. Bagaimana caranya kita membikin museum yang lebih baik dan dikunjungi oleh masyarakat luas. O ya, saya berikan contoh lain. Tadi saya sudah cerita sama Alit, pernah diminta seorang rahib membantu membuat kelenteng di Malang. Saya ini kan arsitek amatiran. Saya bikin bangunan kelentengnya dengan gaya the fifties (era 1950-an). Rahib ini masih muda, anak orang kaya, Cina dari Semarang yang baru kembali sekolah dari Amerika Serikat. Lalu waktu masuk saya sudah membayangkan, kelentengnya harus begini-begitu. Terus saya lihat patung Buddha, kok dibuat dari semen dan tidak berbentuk? Saya bilang, “Mas, kenapa tidak pesan patung perunggu dari Thailand?” Orangnya dengan tenang bilang, “kesaktiannya tidak ada.” Jadi, yang penting adalah semangat kesaktian itu, kekuatan yang ada dalam patung tersebut. Urusan patung itu bagus atau tidak, bukan masalah bagi dia. Jadi kelihatan bahwa sikapnya lebih umum dari yang saya duga. Nah, kita selalu mendengar bahwa museum itu elitis, kurang merakyat dan sebagainya. Saya sih ngerti rakyat, ngapain masuk museum tidak ada seru-serunya. Kalau saya rakyat biasa tentu lebih baik ke mall, dingin, bendanya mewah, indah tapi tidak bisa dibeli. Kalau masuk ke Louvre, ada Monalisa, tapi saya tidak mampu beli. Hal ini sedikit banyak ada hubungannya dengan kebudayaan modern yang juga datang dari Barat. Artinya kebudayaan yang cukup dengan melihat dan puas. Ini juga ada hubungan kuat dengan orang pergi ke mall. Lihat sepatu, aduh keren banget, tapi kok mahal? Sekarang di museum juga sebenarnya kita bisa ngobrol, ketemu teman, ada restoran yang mahal. Mall juga sama, sebuah tempat nyaman di mana kita bisa jalan-jalan satu sampai dua jam. Museum modern makin lama, makin seperti mall. Ini melahirkan pertanyaan. Kalau sekarang kita bikin museum itu untuk apa dan untuk siapa? Dalam hal ini menarik memperhatikan sikap kita terhadap masalah waktu. Benda budaya itu penting atau tidak? Perlu dilestarikan atau tidak? Atau cukup reproduksi saja? Kalau kita anggap reproduksi itu cukup, tidak usah pusing dengan pelestarian. Tetapi kalau kita anggap barang itu harus dilestarikan, maka perlu laboratorium, perlu ahli, AC khusus, bendanya tidak boleh dijamah, tidak boleh keluar museum dan seterusnya. Dan yang paling penting adalah pemanfaatannya. Kalau dulu museum dibuat orang kaya, raja-raja dengan koleksi agar dia kelihatan hebat. Zaman sekarang, koleksi semacam itu kan penting juga untuk negara. Pemerintah Prancis bayar puluhan milyar untuk museum. Pengunjungnya bisa sampai lima juta orang per tahun dan dari sudut ekonomi jelas sangat bermanfaat. Mereka semua beli tiket, beli kartu

20

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

pos, belum tentu beli buku, beli souvenir, dan paling sedikit orang itu minum teh dan kopi. Itu semua membawa uang berlipat ganda, belum lagi yang nginap. Paling sedikit tiga hari di kota Paris. Pakai taksi, pakai travel agent, jadi ada perputaran ekonomi karena kunjungan orang ke sana itu luar biasa. Apakah orangnya kemudian merasa terdidik dan lebih beradab, saya serahkan kepada saudara-saudara sekalian yang terhormat ini. Jadi, sekarang pertanyaannya kembali, menurut kita museum Indonesia seperti apa yang ideal? Maksudnya menurut kita di sini. Saya tidak punya pendapat lho. Saya sudah sepuluh tahun ngurus museum dan kasarnya sampai pada kesimpulan mungkin museum itu harus ditutup. Sebab menurut saya pribadi tidak ada manfaatnya. Mungkin juga saya merasa bosan, capai dan frustasi, ya. Kalau ada uang bisa dilestarikan, dipamerkan dengan baik, ada publikasi. Masyarakatnya belajar, tapi sekarang ada masalah apakah masyarakatnya mau masuk museum dan diberi pendidikan yang baik? Agung Putri: Saya mau tanya soal kegunaan. Kalau tadi disebut kegunaannya untuk pendidikan pencerahan, bagaimana dengan museum seperti Lubang Buaya? Apakah memang dibuat dengan maksud pencerahan atau tujuan politis saja? Sudarmadji Damais: Budaya itu kan politik. Keagungan masalalu itu juga kan politik. Lubang Buaya ini kan dianggap keramat, diciptakan jadi semacam keramat. Ada satu kejadian yang dianggap jelek oleh pemerintah ketika itu, dan menjadi contoh buat masyarakat sekarang dan masyarakat yang lalu, supaya ini tidak terulang lagi. Agung Putri: Padahal cerita sekitar Lubang Buaya ini mau dipertanyakan lagi, sedang mau dikaji ulang. Sudarmadji Damais: Kalau soal itu, kita sudah terlambat tiga tahun. Kalian tidak baca koran, waktu Cipinang dibuka untuk pers, semua orang lari ke Xanana Gusmão. Cuma ada satu orang Australia yang cari orang lain. Siapa yang dia cari? Kolonel Latief, satu-satunya saksi hidup yang belum dibunuh, yang tahu persis kejadian malam itu. Orang lain tidak tertarik, dan this is the problem. Apakah kita sebenarnya tertarik pada masa lalu? Orang Indonesia tidak ada satu yang mendatangi Latief. Jadi jangan salahkan orang lain. Salahkan diri kita sendiri. Pada dasarnya tertarik tidak sih dengan G-30-S? Saya mendengar begitu menunggu-nunggu kapan itu laporan keluar, kapan buku itu diterbitkan, tetapi nggak ada yang tulis. Kita selalu demonstrasi dengan urusan yang tidak jelas. Jadi, yang saya masalahkan, kok di antara begini banyak orang tidak ada terpikir mau mengorek keterangan Latief? Tentu mengorek dengan disiplin sejarah.

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

21

Semua yang Latief katakan belum tentu kita telan bulat-bulat kan? Mesti periksa dan diperiksa dengan kejadian lain. Waktu G-30-S meletus saya nggak ada di sini. Jadi bacanya dari koran luar negeri dan nonton televisi. Waktu itu penuh dengan pertanyaan, dan saya sangat terpengaruh dengan satu versi, bahwa itu urusan Dewan Jenderal. Saya pulang ke Indonesia yang dibicarkan di sekililing saya sama sekali lain. Jadi saya selalu dihantui oleh kejadian malam itu. Tapi kalau saya ajak bicara teman atau saudara saya, tidak ada yang tertarik. Sudah terang saya dianggap orang aneh, terlalu tercemar oleh pemikiran Barat mau tahu kebenaran, dan lama-lama jadi tidak perduli juga. Sampai saat orang Australia itu ketemu Pak Latief, saya penasaran lagi apa sih ceritanya. Coba kita tanya pada diri kita sendiri, apakah kita tertarik dengan masa lalu? Sebab, kalau kita betul tertarik mestinya sudah muncul 10 buku. Tidak usah jauh-jauh. Kennedy dibunuh sudah berapa puluh buku dengan sepuluh ribu teori. Ada yang mengatakan Kennedy dibunuh oleh si A, atau si B, dan seterusnya. Apakah semua orang betul atau salah, tidak jadi masalah, tetapi paling sedikit muncul puluhan buku. Di kita kok nggak muncul? Saya tidak menyalahkan orang, tapi saya cuma bertanya apakah masa lalu itu begitu penting buat kita? Soal maksud politis mendirikan museum. Louvre saja oleh Mitterand dipakai untuk mengangkat keagungan Prancis. Jadi selalu ada itu. Tetapi, saya mau tanya apakah itu diterima masyarakat atau tidak? Ternyata sangat diterima, dan yang datang lima juta orang. Orang Prancis yang kere saja bangga. Tidak usah jauh-jauh. Gus Dur di Paris kemarin dipertemukan dengan Kadin-nya konglomerat Prancis. Mereka kumpul di satu ruangan, mengelilingi meja lalu ada protokol Indonesia yang datang duluan dan bilang, “Saudara-saudara sekalian, presiden Indonesia akan datang, dan kalian diharapkan berdiri dan tepuk tangan.” Orang Prancis dibegitukan ngedumel dua jam. “Apa-apaan ini? Itu kan spontanitas. Itu hak kita mau tepuk tangan atau tidak.” Boss-nya datang dan Gus Dur lalu duduk. Sambil si boss-nya bicara menjelaskan Indonesia itu apa dan pertemuan ini untuk kepentingan apa, dan segala tetek bengek semua peserta ngedumel terus. Gus Dur lalu ngomong dalam Inggris, “saya sangat bahagia ada di Prancis, kebetulan saya belajar bahasa Prancis waktu kecil. Jadi perkenankanlah saya bicara Prancis.” Ini saya dengar dari teman saya, bahasa Prancisnya bagus dan lugu. Hampir tidak ada logat Jawanya dan apapun, dan dia bicaranya sangat pelan. “Saya pengagum Prancis, pada waktu kecil saya belajar Prancis dan akhirnya saya dapat mengatakan bahwa filsuf favorit saya dari kebudayaan Prancis namanya Jean-Paul Sartre.” Saya yakin separuh

22

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

ruangan itu hanya tahu nama ketimbang membaca karyanya. Dan Prancis tidak terlalu beradab. Karya Sartre yang mereka sukai adalah “Pintu Tertutup” yang diterjemahkan oleh Asrul Sani mengenai pengadilan. Setelah itu Gus Dur menambahkan, “tetapi ada buku yang tidak pernah saya tinggal ke mana-mana karya André Malreaux.” Lantas dia bilang. “Sekarang saya berbahasa Inggris.” Lalu disambung tanya-jawab. Saya dengar ini dari beberapa orang dan mestinya benar. Waktu selesai bicara, tanpa disuruh semua orang berdiri dan tepuk tangan. Gus Dur menunjukkan kekuatannya. Kalau disentuh dengan baik, maka hasilnya sama seperti kalau kita pentung. Pikiran Gus Dur tentunya, “Wah Prancis ini harus gue pukul lewat sini. Kalau nggak, pasti nggak kena.” Pelajaran yang bisa kita tarik di sini, bahwa ternyata rakyat Prancis yang kelihatannya tinggi, ternyata sama saja dengan kita, hidup dengan mitos-mitos dan klise juga. Nah, tinggal pintarnya kita memakai itu untuk politik. Setianingsih Purnomo: Sebagian dari kita menganggap masa lalu kita kan seperti aib yang tidak perlu dikasih tahu ke orang. Yang kedua, adalah filsafat mikul dhuwur, mendem jero. Jadi nggak nyambung. Nah bagaimana kita mau bicara tentang museum yang ideal dalam situasi begini? Sudarmadji Damais: Sekarang cuma ada dua jenis museum. Museum pemerintah pusat yang namanya museum negeri yang selama 30 tahun dikembangkan. Ada yang mulai dari nol, tetapi kebanyakan mengambilalih museum lama dari jaman Belanda yang dulu merupakan lembaga swasta. Ada Museum Bali, Museum Radya Pustaka di Solo – museum swasta Jawa tertua, museum pribumi tertua. Itu yang mendirikan adalah para pangeran dan raja-raja di Solo. Kalau museum Sonobudoyo di Yogya itu bukan museum Belanda, tapi museum Jawa. Kalau di Bali, museum yang di Denpasar itu ciptaan Bali Institute kerjasama raja-raja Bali dengan orang Belanda. Museum Batak Simalungun itu juga swasta, lho. Repotnya dengan revolusi Indonesia itu semua dilahap pemerintah pusat, seringkali dengan maksud dan tujuannya tidak jelas. Tetapi baru 30 tahun Orde Baru itu timbul gagasan setiap propinsi punya museum yang sangat jauh dari museum yang saya ceritakan tadi. Karena umumnya museum itu melekat dengan filsafat kita pada saat itu, bahwa selalu ada satu ruangan untuk satu kebudayaan. Misalnya propinsi Maluku, museum Siwalima itu menerangkan siapa kita orang Indonesia di Maluku. Tetapi ada ruangan lain yang menghubungkan Bhinneka Tunggal Ika, hubungan kita dengan kebudayaan-kebudayaan lain. Seringkali ada koleksi boneka orang kawin dari 27 propinsi, nanti ada anik-anik dari 27 propinsi, ada gendang. Itu salah satu cara yang saya tidak berani nilai sebab saya tidak pernah bekerja di museum negeri

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

23

seperti itu. Museum negeri saya itu lebih ke sejarah Jakarta dan beratnya sudah terang ke VOC. Nah, ini kan ada pertentangan antara kehendak pemerintah pusat menempatkan diri, “ini adalah orang Maluku berdiri di tengah 27 propinsi dengan 27 jenis budaya.” Tapi biar pun ada 27 propinsi, yang menonjol biasanya cuma satudua, Di Sumatra Utara, Nias menjadi anak bawang, karena yang muncul hanya yang Melayu dan yang Batak. Di Jawa Barat kebudayaan Sundanya yang dipegang, padahal Cirebon itu juga Jawa Barat, tetapi itu dianggap sepertinya Sunda. Kalau Jawa Tengah, jelas semuanya dilahap oleh kraton. Tidak ada yang tertarik dengan kebudayaannya orang Banyumas atau Tegal yang notabene berbeda dan seterusnya. Kalau Bali gampang, agak homogenous tapi yang lain-lain masih menjadi pertanyaan. Tapi, paling sedikit ada keinginan pemerintah pusat lewat Depdikbud waktu itu, untuk menempatkan setiap budaya daerah dengan budaya saudara-saudaranya. Apa itu berhasil atau tidak, masih pertanyaan, karena sekali lagi museum tidak sekadar memperagakan koleksi, tetapi dengan mengembangkan kegiatan. Dan kebanyakan museum Indonesia itu justeru mati di kegiatannya, padahal kita ini tukang upacara, kenapa tidak nyetrum? Mestinya kan begitu kalau kita menganggap museum itu tempat ibadah baru untuk mengagungkan budaya. Di Eropa kan orang mengatakan museum itu pada dasarnya adalah katedral-nya masa baru. Kenapa katedral? Karena tempat orang ngumpul untuk beribadah mengagungkan, menyembah sesuatu yang dianggap lebih luhur. Kalau di gereja jelas urusannya Yesus Kristus dan Maria. Tapi kalau di museum benda hasil karya manusia itu atau hasil cipta manusia. Jadi yang penting adalah kegiatannya, dan saya kira ini masalah utama di museum-museum Indonesia. Tidak ada kegiatan untuk mengangkat lembaga tersebut. Penelitian yang diterbitkan saja tidak ada. Sebenarnya kita harus menggiatkan dengan festival, pembacaan syair, teater, tarian atau merayakan salah satu tokoh. Dulu kan di samping hari raya Kristen, Islam, Hindu, Buddha dan sekarang kelihatannya Konghucu juga masuk, masih ada hari pos nasional, hari anak, hari nelayan, hari ibu, lahirnya Diponegoro, Sumpah Pemuda, hari kebangkitan nasional dan seterusnya. Daripada hanya dirayakan dengan membacakan asas-asas Korpri, lebih baik dimanfaatkan untuk kegiatan yang bisa mengangkat museum. Dewi Wilutomo: Mas, karena bidang saya bahasa, menurut saya perubahan itu juga harus melalui dan dari bahasa. Mungkin istilah “museum” saja sudah berjarak dengan kita. Mungkin kalau diganti namanya, bisa lebih jelas tujuannya. Setiap kata punya referensi tertentu, dan kita tidak mungkin menciptakan nama tanpa memikirkan sesuatu di baliknya. Tapi dari segi konsep saya juga tidak tahu apakah kebutuhan orang Indonesia akan masa lalu itu perlu dilestarikan seperti apa. Apakah seperti museum di Barat, kita tidak tahu. Tapi yang pasti saya tidak percaya kalau orang Indonesia tidak punya curiosity. Sudarmadji Damais:

24

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Saya setuju. Orang Indonesia masih senang menyimpan souvenir untuk dikenang sebagai bagian dari masa lalu. Nah, inilah yang perlu dilembagakan. Museum Indonesia di Taman Mini itu lumayan banget… karena yang bikin itu saya [tertawa]. Walaupun harus putar otak waktu menerima pesan dari Ibu Tien Soeharto. Ini maunya apa. Akhirnya saya ngarang saja dan untungnya Ibu Tien senang. Dia malah terima kasih, dan sejak itu hormat sama saya. Di bawah museum itu, saya disuruh bikin sebuah tata pameran 27 pasang penganten dengan pakaian lengkap. Saya bilang ini cara aneh untuk membuat museum, karena pengunjung ujuk-ujuk melihat penganten kawin. Habis itu dia bilang, “untuk lantai atas diisi saja, kan banyak sumbangan.” Saya waktu itu putar otak cari konsep yang bisa menampung koleksi macam-macam ini. Tapi lebih penting pesannya Ibu Tien, itu dapat dipertanggungjawabkan. Katanya yang penting harus nalar. Makanya saya ciprat saja dengan urusan kejawen. Saya terus minta bikin sebuah fresco, lukisan kaca dari Cirebon: kepulauan Indonesia dari lukisan kaca. Di atas ada burung garuda, di bawah ada naga. Itu dipertanyakan, “naga itu kan Cina?” Oh, tidak. Ini kan filsafatnya orang Indonesia, Garuda itu adalah bopok ngakoso, naganya itu ibu pertiwi. Karena pertemuan dari prinsip perempuanlaki ini, maka terjadilah dunia Indonesia persada nasional. Lalu saya tambahkan lagi, karena dalam wayang Arjuna sebelum mencoblos Cakil bilang “sambato bopok ngakoso ibumu pertiwi babumu wadon, tumengo ing ngakoso waspadakno ndirgantoro wus katon mangalap-alap genine naroko jahanan kang wus ngarep-ngarep tekane nyawamu.” Itu kan artinya kejawen, agama yang sangat primitif dan turun-temurun, masih hidup tapi dalam bentuk baru. Waktu dibacakan ke ibu Tien, dia klenger. Dia malah bilang, “Pak Damais, saya terimaksih bapak mengingatkan saya kembali warisan leluhur.” [tertawa] Naik ke lantai dua, ini urusan perkakas rumah tangga. Bagaimana menatanya, memang bingung juga. Lantas saya bilang, ”kita sekarang coba bikin – saya kerja sama tim sudah terang – satu display urusan dapur, satu urusan ruang tengah, satu urusan ruang belakang. Kita isi dengan ritual-ritual dari seluruh Indonesia.” Pokoknya supaya semua koleksinya dapat dipakai. Terakhir saya taruh pohon hayat yang dibikin orang Bandung, tapi konsepnya datang dari kelompok kita. Karena dalam kebudayaan Jawa itu ada sikap semua yang lama harus nunggak semi, tidak boleh dilestarikan, tapi harus beranak, harus berkembang menjadi sesuatu yang baru. Terus kita buat pohon yang ditaruh di atas, biarpun tidak ada pengunjung naik lantai tiga karena tidak ada lift, capek dia naik. Jadi, biasanya orang berhenti di lantai dua, tidak pernah lihat pohon di atas. Perkara museum itu dikunjungi atau tidak, saya tidak tahu. Semua museum yang ada di Taman Mini sebetulnya kan kayak keramat. Koleksinya tidak berubah. Kita mengunjungi tulisannya dari tahun ke tahun itu sama semua, tidak ada yang diubah. Dan yang paling banyak pengunjungnya di Taman Mini ternyata Museum Listrik. Saya lupa berapa

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

25

ribu orang tiap tahun. Tapi direkturnya nakal, karena semua orang beli tiket, dia belakangan empang tempat orang bisa mancing. Jadi orang pengunjungnya mancing semua, tidak masuk museum. Saya bilang sama dia, paling tidak ada orang dan merasa bayar tiket itu bermanfaat. Bahwa manfaat yang mereka dapat itu bukan yang kamu harapkan, itu urusan kedua. Jadi, kalau kalian datang ke situ pada hari minggu itu pemancing penuh. Saya bisa cerita tentang Condet yang saya alami. Waktu ramai-ramainya tahun 1970-an kita ngurus museum ada gagasan yang sebenarnya tidak langsung saya bikin, yaitu melestarikan budaya salak dan duku. Tanahnya gede di pinggiran kota dan kepadatan bangunannya rendah. Kebun mangga dibiarkan, kebun duku dan seterusnya. Ketika konsep ini sampai ke kuping Kepala Dinas Kebudayaan, mereka langsung bikin proyek cagar budaya Condet. Lho, kok jadinya cagar budaya? Masalahnya planologi kok jadi cagar budaya? Dan mulailah salah pengertian yang luar biasa dan akhirnya meresahkan penduduk setempat. Keluar peraturan gubuk tidak boleh diubah, tanah tidak boleh dibagi, orang Betawi tidak boleh beginibegitu. Orang Betawinya protes, “kita kan juga mau jual tanah, beli motor, naik haji” dan seterusnya. Akhirnya bingung sendiri, padahal konsep awalnya adalah menciptakan daerah resapan hujan sepanjang kali Ciliwung, apalagi di sepanjang Ciliwung banyak sisa-sisa prasejarah. Tapi akhirnya malah jadi cagar budaya, di mana orang nggak boleh bikin apa-apa. Sampai keluar ucapan dari Nurcholish Madjid, “memangnya kita orang Indian Amerika, harus terus hidup dalam tenda primitif? Orang Betawi kan juga mau maju.” Saya bilang, ini urusannya bukan soal orang Betawi mau maju atau tidak, tapi semata-mata urusan pohon yang tidak boleh ditebang. Akhirnya sekarang kacau-balau semua, dan malah sekarang katanya jadi pusat penampungan TKW. Jadi maksud baik sekelompok orang belum tentu diterima oleh orang lain. Jadi waktu mendengar perkembangannya seperti itu, kalau ada yang mengajak bicara soal Condet, saya langsung tutup mulut. Untungnya cuma satu, banyak seniman yang sekarang kumpul di Balekambang. Jadi, ini semua cuma ilustrasi. Kalau mau bikin museum, kita harus menyatukan pandangan paling sedikit tentang konsep museum itu. Apa manfaat yang diharapkan dan apa maksud-tujuannya. Tapi umumnya itu tidak pernah dipersoalkan. Orang bikin saja. Zaman Ali Sadikin, antara tahun 1972-77, kita bikin tujuh museum. Tapi saya merasa paling beruntung karena paling sedikit bangunannya dilestarikan. Museumnya, koleksinya, masih lengkap. Nah, sekarang bagaimana caranya museum itu dimanfaatkan. Jadi kalian ini jangan cuma ngurusin orang miskin. Bantu saya cari volunteers untuk museum. Saya sangat perlu itu. Dewi Wilutomo: Barang-barang yang masuk di museum itu seleksinya bagaimana? Dalam bayangan saya koleksi itu semuanya bagian dari sejarah besar, jadi tradisi orang-orang besar. Kalau lukisan, maka lukisannya Raden Saleh. Tapi, seandainya patungnya Dolorosa Sinaga atau topengnya Galis, itu mungkin tidak jadi

26

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

bagian dari museum? Sudarmadji Damais: Ya, mungkin banget. Tapi, museum-museum Jakarta dan museum lain umumnya tidak otonom. Kedua, tidak ada kebijakan mengembangkan koleksi. Museum Nasional boleh dibilang koleksinya masih sama dengan apa yang mereka punya 50 tahun lalu. Dia merasa tidak perlu menambah sebab dianggap sudah lengkap. Itu kesalahan besar. Saya kira yang mengembangkan koleksi hanya museumnya Pelita Harapan di Karawaci. Itu punya kebijakan, kita punya sepuluh Sudjojono, kita harus punya 20 Affandi. Itu memang ada program. Ada panitia seleksinya sendiri. Tapi, kalau orangnya merasa tidak perlu menambah koleksi, bagaimana Dolo mau masuk? Nah, ditambah lagi itu kan perlu uang. Kerjasama antara museum dan swasta itu boleh dikatakan lemah. Mau tambah koleksi saja tidak, apalagi perlu uang. Dia akan mengetuk pintu orang berduit, dan orang berduit itu tidak semuanya murah hati. Ada yang kasih besar dan ada kasih karya yang jelek, yang bagus nanti dijual. Muncul pertanyaan bagaimana caranya kita dapat karya-karya yang terbaik? Kita hidup di negara yang tidak kenal pajak museum. Padahal di seluruh dunia ada. Artinya saya kasih seratus rupiah ke sebuah lembaga masyarakat, pajak saya dikurangi seratus rupiah. Di Amerika Serikat jalannya seperti itu. Kamu pikir orang Amerika bermurah hati kasih satu juta dollar? Tidak, karena dengan begitu dia juga bebas pajak satu juga dollar yang lain. Di Inggris demikian, tapi di Prancis boleh dikatakan tidak ada. Prancis itu sepeti Indonesia, semuanya terpusat di Paris. Semuanya pemerintah yang bayar. Sekarang memang mulai meningkat tetapi 20 tahun yang lalu itu minim. Amerika sudah 100 tahun, seluruh permuseuman Amerika itu betul-betul pengembangan dari masyarakat murni, pemerintah hanya bayar tanah, perawatan gedung, security dan bayar listrik. Saya saja minta listrik ditambahin untuk AC, agar AC-nya dapat melestarikan lukisan sampai buyutan juga nggak dapat. Malah dikasih kipas angin untuk mengurangi debu, katanya. Padahal bukan debu yang paling bahaya, tapi kelembaban. Moderator: Sebetulnya yang disampaikan oleh Adji bahwa museum harus hidup di masyarakatnya. Di Indonesia museum itu lahir bukan karena kebutuhan. Kita kembali kepada pertanyaan dasar, sebenarnya kita ini perlu museum atau tidak? Kalau perlu, seperti apa idealnya museum itu. Lantas, kenapa kita mau membangun dan membentuk museum? Apakah memang masa lalu dan pelestariannya penting buat kita? Dari pertanyaan-pertanyaan itu mungkin kita bisa membayangkan konsep museum yang ideal di Indonesia,

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

27

artinya museum yang memang tumbuh dari masyarakatnya. Ayu Ratih: Saya tertarik uraian Adji tadi. Ambil contoh Museum Nasional, yang ternyata bukan cerminan orang Indonesia melihat dirinya, tapi orang Belanda yang melihat Indonesia. Bukan kita melihat diri sendiri, tapi orang lain melihat Indonesia. Artinya konsep museum sebenarnya berkaitan erat dengan pertanyaan siapa kita sebenarnya. Pertanyaan yang sebenarnya sederhana, tapi sulit dijawab. Perjalanan museum di Indonesia ini erat kaitannya dengan masa lalu yang tidak pernah dipertanyakan, tidak pernah diperdebatkan. Misalnya kaitannya dengan menjadi modern. Itu pun belum pernah dimulai. Dulu pernah ada Polemik Kebudayaan yang membicarakan itu. Memang tidak ada yang bicara museum, tapi ada konsep tentang siapa kita ini sebagai sebuah bangsa. Alex Supartono: Tadi Adji mengatakan masyarakat kita tidak punya kebiasaan menyimpan barang-barang tua yang otentik. Juga soal kecenderungannya lebih pada ide atau konsep sehingga barang tidak diperlukan. Kalau ini dipertemukan dengan konsep-konsep modern, apakah masyarakat kita tidak perlu museum? Menurut saya museum itu tempat melihat perjalanan peradaban manusia. Dan menurut saya memang perlu. Memang tidak secara langsung dihubungkan dengan kondisi obyektif masyarakat, tapi memperlihatkan masyarakat yang ada sekarang itu hasil sebuah proses. Sudarmadji Damais: Jadi menurut kamu perlu dipaksakan? Itu ide yang fasis. Alex Supartono: Dipaksakan bukan karena masyarakat tidak punya sense atau kurang peduli terhadap dokumentasi sejarah. Ketidakpedulian itu kan hasil dari proses sebelumnya. Kalau saya berkunjung ke tempat orang lama – artinya dari masa sebelum 1965 – dokumentasi mereka jauh lebih hebat dari saya. Masalahnya di sini adalah apresiasi orang terhadap buku misalnya. Kalau kita berkunjung ke tempat kos mahasiswa, jangan kaget kalau di kamarnya tidak ada buku. Jadi, soal masyarakat itu perlu museum atau tidak, sebenarnya tidak relevan. Yang penting kita bagaimana membuat museum itu menjadi kebutuhan. Agung Putri: Saya belum tahu apakah museum itu perlu dalam arti umum. Dalam konteks Indonesia sekarang, yang hidup 30 tahun dalam situasi represif, museum masih menjadi alat manipulasi. Kalau dulu museum itu menjadi bagian dari kebesaran raja-raja, sekarang pun begitu. Dan bahkan lebih keras lagi, seperti Lubang Buaya itu. Nah, ini menimbulkan persepsi bahwa museum hanya melestarikan kekuasaan dan membenarkan tindakannya. Saya tidak tahu museum

28

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

yang lain, apakah juga melestarikan nilai-nilai orang yang berkuasa. Tapi kalau ke Museum Lubang Buaya, saya tidak dapat pencerahan di sana, tapi seperti dijejali kebenaran yang dibuat oleh orang-orang yang berkepentingan langsung membuat tafsiran sendiri atas peristiwa itu. Hario Kecik: Secara umum saya juga senang menungunjungi museum, terutama waktu saya di luar negeri, di Rusia dan Cina. Tapi pertanyaan apakah museum itu perlu atau tidak, belum pernah saya pikir. Barangkali memang tidak perlu, tapi dibuat supaya kita tahu bahwa itu tidak perlu. Barangkali kita sendiri ini juga tidak perlu. Kalau dipikir-pikir manusia ini perlunya apa di dunia? Baik, saya ingin hubungkan diskusi ini dengan perkembangan teknik. Dulu museum itu lampunya belum listrik, sekarang sudah listrik. Museum itu nantinya harus punya bentuk yang sesuai dengan kemampuan teknik ini, terutama elektronik dan komputer. Kalau sekarang kita sudah bisa belanja dengan komputer, tidak perlu lagi bersinggungan lagi dengan orang yang melayani, museum juga mesti begitu. Museum harus punya bentuk yang sesuai dengan zamannya. Kalau tidak begitu, maka tidak ada orang yang ke situ. Saya ke Museum Gajah, nggak tahunya gajah itu dari Thailand. Saya kira bikinan sini, dari Jogja atau mana. Jadi saya pikir memang lain Indonesia ini. Kalau di sini orang ke museum bawa bayi nangis, kalau di Eropa museum itu barang serius. Di St Petersburg, ada museum yang pinjam lukisan Monalisa dari Paris. Di Rusia diumumkan, “kita pinjam lukisan Monalisa untuk 15 hari.” Saya lihat, nggak tahunya cuma orang mesem begitu. Terus ada arloji yang digambar Salvador Dali. Saya pikir itu lukisan besar, nggak tahunya cuma kecil segini. Padahal saya di rumah maunya orang bikin lukisan besar, tiga setengah meter kali satu setengah meter. Di majalah Tempo foto lukisan saya itu besar sekali. Tapi kalau di Eropa lukisan itu mesti ada datanya, ukuran sekian-sekian, pakai kanvas, cat minyak dan seterusnya. Kalau di sini tidak ada. Kalau bikin lukisan besar orang tidak tahu seberapa besar. Ini semua penting untuk kaum intelektual melihat, museum itu buat apa. Mungkin lebih baik perkembangan motor atau mesin. Bikin museum di sini mahal. Siapa yang mau beri uang? Lebih baik bikin rumah sakit, orang mau mati saja tidak bisa diurus, mau bikin museum. Mungkin begitulah yang ada di benak banyak orang. Nah, saya sekarang sedang menulis buku, dan yang paling berat bagi saya adalah bagian the past. Perlu saya tonjolkan atau tidak? Itulah pertanyaannya. Sama dengan dokumentasi dan museum juga, tapi dalam bentuk buku. Yang mau saya tonjolkan adalah etika militer, yang harus menjadi dokumentasi sebab TNI sudah terlanjur bilang, “militer Indonesia itu dari rakyat untuk rakyat.” Lha, pernyataan itu

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

29

konsekuensinya besar. Tidak ngerti orang-orang itu. Kembali soal museum. Museum ini sebenarnya dokumentasi. Nah, kalau pemerintahnya masih seperti 30 tahun lalu, terus mau menutupi barang-barang yang tidak enak supaya dia tetap kuasa, jelas tidak bisa. Jadi yang penting bagaimana masyarakat ini bisa membentuk pemerintah yang betul-betul mewakili kepentingan masyarakat. Ada masalah demokrasi di sini. Apakah rakyat kebanyakan itu bisa membentuk pemerintah demokratik yang betulbetul baru. Kalau itu selesai, baru kita bisa jawab apakah museum itu perlu atau tidak. Kecuali museum fosil-fosil, lha buat apa bohong di situ? Tapi kalau Museum Lubang Buaya, itu tergantung rakyat sendiri, apakah bisa membentuk pemerintah demokratik atau tidak. Saya sendiri masih merenungkan masalah ini. Saya tadi surprised, ada orang yang 30 tahun kerja di museum, masih tanya apakah museum itu perlu atau tidak. Sudarmadji Damais: Tapi pada dasarnya, Pak, museum itu pemaksaan dari luar. Parlemen juga begitu. Kalau kita tidak punya parlemen nanti dianggap biadab. Soal Internet, memang benar. Kalau mau lihat perkembangan museum di Eropa dan Amerika Serikat sekarang tinggal lewat Internet. Hario Kecik: Tadi saya sudah bilang, semua ini tergantung pada perkembangan teknik. Internet, elektronik dan sebagainya. Orang belanja saja pakai itu, apalagi lihat museum. Saya pernah cari di Internet, fosil-fosil seperti Homo Sapiens, Pithecanthropus Erectus, keluar semua. Saya tidak perlu ke museum. Jadi semuanya tergantung teknik. Tapi pertanyaannya, siapa yang menggunakan teknik itu. Kalau yang menggunakan fasis ya bahaya juga. Soeharto dan Hitler itu sama fasisnya. Tapi kalau Hitler menundukkan bangsa lain, Dritte Reich über alles, maka Soeharto temannya sendiri yang ditundukkan. Kalau Hitler tidak punya kekayaan, paling cuma si Eva Braun Sudarmadji Damais: Kalau urusan dokumentasi, saya juga menganggap itu penting, karena penyakit saya ini senang sejarah. Pertanyaannya, apakah dokumentasi itu bermanfaat atau tidak. Tapi saya setuju, dengan perkembangan yang kita punya sekarang, kita sudah tidak bisa mundur. Masalahnya tinggal museum seperti apa yang kita dambakan. Ini bukan soal bentuk saja, tapi konsep juga. Ambil contoh Museum Tekstil. Dulu Ali Sadikin mau bikin museum untuk Ibu Tien. Dia panggil saya dan bilang, “Adji, saya mau bikin museum untuk Ibu Tien.” Saya tanya, “Museum apa?” Dia jawab, “Museum batik. Ibu Tien kan orang Jawa. Itu ada gedung lama di Tanah Abang baru saya ambil oper, dan saya mau itu jadi museum batik.” Saya bilang, “Itu gagasan baik, Pak. Tapi kalau boleh beri saran jangan museum batik, tapi museum tekstil. Karena batik kan hanya milik satu-dua budaya. Lalu bagaimana dengan songket, ikat dan seterusnya?” Akhirnya

30

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

dia setuju bikin Museum Tekstil. Ini bisa jadi contoh. Museum itu kemudian dibangun sebagai acuan bagi pengrajin yang mungkin kehilangan ilham atau apa. Dia bisa ke Museum Tekstil untuk menciptakan pola baru. Itu keinginan awalnya. Tapi setelah itu, karena museum itu kurang dihayati, Museum Tekstil itu tidak pernah bertambah koleksinya. Awalnya hanya 100 lembar, sekarang paling 110 atau 120 begitulah. Padahal kalau lihat kekayaan Indonesia ini, mestinya paling tidak ada seribu kain dalam waktu 10 tahun. Masalahnya si pengelola ini tidak menghayati dokumentasi yang bapak jelaskan tadi. Dokumentasi itu kan harus direkam, digambar, dibikin jadi buku lalu disebarluaskan supaya pengrajin bisa bikin pola baru. Tapi itu satu cara, Pak. Penyebarluasan dokumentasi yang bapak masalahkan tadi adalah kuncinya. Kalau tidak percuma saja. Etika militer yang bapak mau tulis itu juga sia-sia, dan bapak akan kecewa. Jadi, di samping mengumpulkan, kita harus menyimpan, melestarikan. Jadi tulisan bapak yang ratusan halaman itu jangan cuma dimakan debu, tapi dicetak dan disebarluaskan. Soal murah-mahalnya, itu urusan kedua. Ayu Ratih: Museum sebenarnya institusi pendidikan modern seperti yang lain. Kembali soal Revolusi Prancis yang menghasilkan republik. Republik itu mengambil tanggungjawab untuk mendidik, yang sebelumnya ada di tangan institusi tradisional. Artinya urusan museum juga harus ditanggung pemerintah. Pak Hario tadi tanya, siapa yang bayar. Ya, pemerintah yang bayar. Seperti juga sekolah. Katakanlah monumen untuk mengenang korban Mei 1998 yang seribu orang lebih itu. Untuk bikin monumen mau tidak mau mereka harus mendesak Pemda, mendekati pengusaha yang mau bantu. Jadi harus dari dua arah, tidak bisa dilepas begitu saja kepada masyarakat, tapi juga tidak diserahkan mentah-mentah kepada pemerintah. Karena ada bahaya yang tadi disebutkan Agung Putri. Begitu juga dengan sekolah. Kalau dilepas sepenuhnya ke masyarakat, maka jadilah sekolah-sekolah elite, seperti Pelita Harapan, Al Azhar dan sebagainya. Kalau sekarang ditanya kepada masyarakat, “perlu museum atau tidak?” Mungkin mikir saja tidak. Jadi perlu kesadaran bahwa masyarakat, kita semua ini, perlu dapat pencerahan, dibebaskan dari kebodohan, kemiskinan dan sebagainya. Dalam konteks ini museum menjadi penting, sama seperti institusi pendidikan atau institusi modern lainnya, yang tugasnya adalah pembebasan manusia. Jadi tidak relatif dalam arti tersearh mau buat museum, ya buat saja. Saya pikir tidak sesederhana itu. Misalnya di Amerika, banyak sekali museum yang menjadi simbol status sosial. Jadi ada orang kelebihan uang dan menghindari pajak, bikin museum. Dari bawah ada orang yang mau bikin museum Holocaust, museum ras di Kalifornia dan sebagainya. Semua itu diatur oleh pemerintah

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

31

negara bagian, jadi ada kerjasama semacam itu. Saya pikir semua ini tidak bisa berdiri begitu saja. Selalu ada kaitan antara civil society dan pemerintah. Masalahnya sekarang, siapa yang punya akses seperti itu? Sudarmadji Damais: Jadi, menurut kamu pemerintah pun harus diketok dari atas. Akhirnya jadi dikotomi antara pemerintah sebagai pusat kekuasaan dan masyarakat. Semua ini harus dipertentangkan, agar bisa timbul yang kamu harapkan itu? Ayu Ratih: Ya, kita kembali lagi ke demokrasi tadi. Pemerintah ini tidak lepas dari masyarakat. Kalau pemerintah lahir sebagai organ yang dibentuk oleh masyarakat dengan sendirinya dia akan berusaha ke arah itu. Sudarmadji: Tapi itu masalah waktu lagi. Ayu Ratih: Ya, memang. Tapi kita kan bicara soal perlu tidaknya museum. Sama seperti kita bicara perlu tidaknya demokrasi. Sudarmadji Damais: Masalahnya, apakah pendidikan kita sekarang setara? Apakah pendidikan semua orang sama, dari orang gedongan di kota sampai orang desa? Menurut saya yang perlu ditinjau lagi sekarang adalah soal desentralisasi. Orang bisa bicara tentang muatan lokal. Dan itu perlu waktu dan kesadaran juga. Soal kesetaraan itu justru yang jadi masalah. Sejak dulu kebijakannya semua orang dapat kesempatan pendidikan yang sama. Tapi kesempatan untuk meningkatkan hidup tidak mungkin sama. Di seluruh dunia juga begitu. Kecuali kalau pendidikannya disesuaikan dengan lingkungan. Konsep pendidikan universal ini kan lahir dari watak fasis Revolusi Prancis yang mematahkan demokrasi. Kita ingat, bahasa-bahasa daerah di Prancis dilarang. Baru beberapa tahun lalu Prancis mengubah konstitusinya mengenai kedudukan bahasa daerah. Di negara Eropa yang lain tidak ada masalah seperti itu, hanya di Prancis. Artinya di Prancis yang sudah dua ratus tahun revolusinya, baru tahun 1989 ada desentralisasi. Kita baru 50 tahun merdeka, mau mikir desentralisasi sekarang tapi bentuknya apa juga kita tidak tahu. Moderator: Baiklah, saya pikir diskusi ini sudah cukup, ada banyak hal yang dibicarakan. Dari museum ke pendidikan, akhirnya sampai ke demokrasi dan desentralisasi. Saya tutup sampai di sini, dan selamat malam.

32

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

33

34

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

18 MEI 2000

Ruang Publik dan Tata Kota
Narasumber: Marco Kusumawijaya, pengamat tata kota dan Christina Gantini, dosen arsitektur. Moderator: Alit Ambara.

Diskusi ini diadakan untuk memenuhi desakan beberapa kawan seniman yang merisaukan terbatasnya ruang terbuka untuk menumbuhkan semangat berkesenian di masyarakat. Sebagian besar kegiatan kesenian dilakukan di gedung-gedung tertutup dan/atau eksklusif sehingga masyarakat melihat hanya seniman yang punya kemampuan dan berhak menghasilkan karya seni. Marco Kusumawijaya dan Christina Gantini, keduanya arsitek dan pengamat tata kota, diundang ke Dbp. lebih untuk memberi gambaran tentang apa ruang publik dan kepublikan itu sebenarnya dan bagaimana perencanaan tata ruang di Jakarta dilaksanakan sepanjang sejarah. Ruang publik sebagai milik kolektif diperlukan dalam setiap masyarakat. Masalahnya tidak semua masyarakat niscaya akan membentuk “publik” dan berjuang untuk mendapatkan tempat. Di Indonesia misalnya ruang publik cenderung ditentukan dari atas, oleh penguasa yang bekerjasama dengan kalangan bisnis. Pada 1971 pemerintah mendapat hutang dari Asian Development Bank (ADB) untuk merancang dan membangun “ruang-ruang publik”. Tidak ada hasil yang berarti. Ruang publik tidak terbentuk tapi hutang publik semakin bertumpuk. Tanggapan dari kawan-kawan aktifis yang menangani masalah kaum miskin kota menggiring diskusi ke semacam kesimpulan bahwa untuk membangun ruang publik memang diperlukan tingkat kolektivitas tertentu yang semakin tipis dewasa ini, dan untuk itu itu diperlukan pemerataan ekonomi. Hanya dengan itu kita bisa bicara tentang kebersamaan dan milik bersama yang bernama ruang publik itu.

Moderator: Ruang publik perkotaan, seperti Jakarta dirasakan sudah mendesak untuk dicermati. Banyak pihak merasakan bahwa pembicaraan persoalan ruang publik saat ini banyak terbentur pada peraturan perundangundangan dan pengaruh modal yang ada. Dalam kesempatan ini hadir Christina Gantini, dosen Universitas Winaya Mukti Bandung jurusan arsitektur yang sedang magang di Universitas Parahiyangan dan Marco Kusumawijaya, pekerja di British Council dan sebagai arsitek. Keduanya merupakan nara sumber dalam diskusi kali ini. Pada kesempatan awal kedua nara sumber akan memulai dengan membicarakan gagasannya tentang bagaimana ruang publik dan penataan kota Jakarta. Hadir juga di sini mahasiswa, aktivis buruh, kalangan LSM yang diharapkan membuat diskusi lebih leluasa. Christina Gantini: Secara historis kota Jakarta sebenarnya merupakan sebuah kota benteng yang didirikan Pangeran Jayakarta. Sebelumnya Jakarta

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

35

merupakan perkampungan. Di sekitar perkampungan dari ujung utara Jakarta dibuat sebuah benteng kolonial, kemudian berkembang ke arah selatan menyusuri sungai Ciliwung yang selanjutnya membentuk aliran air di Monas. Kemudian dalam perkembangannya pada periode abad 20 dibentuk sebuah kota baru yang berdasarkan atas konsep Garden City di Kebayoran Baru yang berkembang terus sampai sekarang. Dilihat dari segi style, banyak bangunan yang mengadopsi bangunan kolonial awal abad 20. Karena dirasakan dengan iklim Indonesia tidak cocok, maka kemudian beberapa arsitek Belanda mulai menyesuaikannya dengan iklim Indonesia. Dari segi planologinya, perkembangan Jakarta sebelumnya cukup tertata hampir mengikuti bentuk kota Den Haag, di Amsterdam dengan parit-parit di sekelilingnya. Tapi perkembangan akhirnya menjadikan Jakarta seperti sekarang ini. Perkembangan baru kota Jakarta yang dimulai dengan konsep garden city mengakibatkan perkembangan kota ini menjadi semerawut. Marco Kusumawijaya: Saya sangat surprised dengan para hadirin yang terdiri dari berbagai kalangan. Saya juga ingin mendapat masukan dari beberapa teman. Kalau kita bicara tentang ruang publik kota Jakarta, kita harus lebih teliti, bahwa Jakarta itu permasalahannya lebih jauh dari sekadar ruang publik. Hal pertama yang harus dikatakan adalah ruang publik itu baru bermakna bila ada kepublikan atau publicness. Kalau tidak ada publicness, maka ruang publik tidak ada yang akan memakai. Kepublikan itu mensyaratkan adanya tingkat kolektivitas tertentu. Saya berusaha berbicara pada bahasa ini agar berbagai kalangan bisa menyambung. Jadi saya menghindari uraian yang teknis tentang arsitektur atau tata kota. Yang saya rasakan menjadi masalah besar dalam ruang lingkup kita yaitu syarat minimal yang berupa kepublikan dari kehidupan Jakarta ini sangat lemah. Hal itu bukan hanya menyangkut hal terbuka saja, juga dalam hal lain seperti hal transportasi, usaha kita dalam memecahkan masalah pendidikan, perumahan, kegiatan publik dan sebagainya. Saya sulit sekali menghindari kesimpulan bahwa memang pemerataan itu penting, karena tanpa pemerataan tidak ada rasa kolektivitas yang cukup. Saya tidak menganggap bahwa kolektivitas itu sesuatu yang mutlak harus ada, tapi bagaimana pun tingkat kolektivitas tertentu sangat diperlukan. Sejauh mana kota itu mempunyai ruang yang bernilai publik, tergantung masyarakat sendiri dalam mengaturnya. Di samping itu juga sulit untuk tidak meyimpulkan yang dimaksud dengan pemerataan itu adalah kesejahteraan sosial ekonomi. Saya merasa kita perlu memiliki suatu tingkat pemerataan sosial ekonomi yang minimal. Dengan satu tingkat yang minimal itulah baru kita bisa membangun kolektivitas. Moderator: Publicness masih merupakan pertanyaan yang masih harus dijelaskan

36

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

lebih lanjut. Kedua, ada yang melontarkan isu tentang kesadaran dalam merebut ruang publik. Apakah ini bisa lebih dielaborasi? Dan yang lebih penting lagi seperti diungkapkan di depan adalah mengisi ruang publik ini dan juga mengetahui kendalakendalanya, misalnya perundang-undangan yang menyebabkan arti ruang publik yang sebenarnya hilang. Kalau dilihat dari sejarah kota Jakarta ini pernah punya ruang publik dan kepublikannya. Tapi itu kemudian hilang. Kecenderungan pasar bebas dengan privatisasi mengubah ruang publik menjadi ruang-ruang privat. Seperti mall-mall yang ada itu sebenarnya milik pribadi yang dibuka sebagai ruang publik. Konsep kepublikan semacam itu sangat semu. Karena kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali sebagai konsumen yang berbelanja. Itu beberapa hal hal kunci yang bisa dielaborasi lagi dalam diskusi. Kemudian saya minta tanggapan dari kawan-kawan semua atau komentar. John Roosa: Pendapat saya Jakarta adalah gudang, bukan kota benteng. Sejak awal kota ini dipakai untuk impor dan ekspor. Kita lihat sekarang ada dua masalah. Pertama orang dari daerah atau desa yang tidak bekerja, tidak punya uang atau anak pengangguran. Kedua kita juga melihat bahwa pemerintah tidak mewakili publik, tapi lebih mewakiti orang yang mempunyai gudang-gudang itu. Orientasi ekonomi pemerintah Indonesia lebih pada ekspor-impor, bukan pada pembangunan desadesa di daerah, mengambil sumber daya alam untuk dibawa ke pasar dunia. Masalah di Jakarta berkembang karena struktur ekonomi yang tidak bagus dan tidak ada rencana pembangunan yang bagus untuk Indonesia. Untuk mengerti Indonesia kita harus mengerti struktur ekonomi Indonesia seluruhnya dan kebijakan ekonomi yang ada dari masa lalu dan masa sekarang. Menurut saya ada kesalahan historis menempatkan Jakarta sebagai ibu kota negara. Akan lebih baik kalau kita membuat ibu kota di tempat lain. Karena kita harus memikir soal ekonomi dan juga pembangungan untuk seluruh Indonesia. Marco Kusumawijaya: Saya hanya ingin mengingatkan bahwa jangan-jangan kita lupa pengertian dasar dari public space. Menurut saya public space berbicara tentang social intercourse atau pergaulan sosial dalam produksi. Pengertian ruang publik berkembang seperti sekarang karena memang sudah bermain dengan berbagai kepentingan dan perkembangan. Hal tersebut bukan sesuatu yang baru. Dia lahir dan berkembang secara historis dan kita bisa tahu di mana sebenarnya letak perlawanan terhadap perkembangannya. Satu contoh, teman dari kalangan seminan bidang seni rupa membuat perlawanan terhadap iklan, hal yang sebenarnya sama atas perkembangan yang dibawa oleh kapitalisme. Tahun 1961 pernah mau dirancang penataan tentang tata letak kota

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

37

Jakarta oleh DPRS/MPRS. Konsepnya sederhana, yaitu bagamana menyeimbangkan kota dengan kampung atau desa. Rencana tidak berlangsung karena adanya peristiwa 1965. Sejak tahun 1971 sampai tahun-tahun berikutnya tata letak kota Jakarta bahkan seluruh Indonesia ditangani Asian Development Bank (ADB). Hingga sekarang menurut data yang ada, ADB sudah mengeluarkan US$16 milyar yang berupa hutang. Sementara pada tahun 1961 perencanaan kota akan terjadi tanpa tergantung lagi ke bank-bank asing. Sekarang ini perencanaan tata kota selalu tergantung pada modal asing. Dan tidak ada kontrol tata kota dari publik. Kita harus membuat ruang yang sangat besar dan harus dirancang dan diperkuat dengan badan air. Karena air mempunyai yoni yang sangat kuat Jadi tidak cukup hanya patungnya. Kalau kita bicara space berarti bukan hanya di rumput karena ada pemantulan maka keberadaan air saya rasa perlu dipikirkan. Saya sangat setuju Monas itu diisi dengan berbagai hal sehingga akan menjadi sesuatu yang plural, meskipun masalahnya tetap yaitu Monas sebagai lingga bukan hanya besar dan tegak, tapi berada tepat di tengah-tengah. Kekuatan yang besar dan tegak di tengah ini sulit untuk dihancurkan. Kalau bicara tentang public space hanya dengan pengertian intercourse saya rasa tidak benar, karena ada public space untuk hal lain misalnya, untuk keperluan domestik atau untuk anak bermain dan sebagainya. Jadi space itu bertingkat-tingat. Yang paling heran orang selalu menyebut ruang publik sebagai agora, dalam kebudayaan Yunani yang bukan hanya punya arti sosial tapi juga politik. Ruang publik itu seperti ruang keluarga, semua urusan ada di situ. Apalagi ruang keluarga Indonesia, makan di situ, ngobrol di situ. Itu adalah ruang keluarga untuk satu polis, tapi sayang sekali agora hancur bersama hancurnya polis akibat totalitarianisme Romawi. Agora atau polis itu merupakan satu contoh luar biasa dari otonomi masyarakat kota. Yang kita perjuangkan di sini adalah otonominya, betul-betul kita perjuangkan dan wujudkan. Di situ baru terasa proses itu benar-benar penting . Sebetulnya pernah ada diskusi di Kompas yang mengambil judul “Hak Atas Kota”, kerjasama Kompas dengan Kelompok Arsitek Muda Indonesia. Kebetulan saya menjadi moderator dan membuat konsepnya. Intinya adalah proses itu penting. Masalahnya pembangunan tidak pernah dilakukan melalui proses konsultasi yang benar. Contoh yang paling ilustratif misalnya Pak Soetiyoso, waktu diangkat jadi gubernur ditanya oleh wartawan, “Apa programnya?” Jawabannya, ”Wah, saya belum tahu”. Setelah beberapa hari dengan Soeharto baru dia bisa menjawab apa saja yang akan diperbuat. Hal itu sangat ironis. Ilustrasi itu hanya satu dari banyak contoh lain. Jakarta memang tidak dibangun dengan konsultasi yang nyata dengan masyarakat. Bukan hanya masyarakat kecil, masyarakat menengah, juga masyrakat besar pun tidak pernah dimintai pertimbangan. Kalau gubernur tanya kepada pengusaha sana-

38

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

sini, itu saya anggap bukan konsultasi. Konsultasi di sini adalah konsultasi terbuka/ publik. Yang menderita di Jakarta ini bukan hanya anak-anak jalanan. Kita menderita di Jakarta bukan hanya dari segi ekonomi saja. Jalan raya macet juga membuat kita menderita. Semuanya membuat konflik yang seharusnya tidak perlu. Saya jadi mudah marah terhadap orang lain gara-gara macet. Kenapa hal ini tidak dijadikan program prioritas bagi seorang gubernur? Karena tidak dikonsultasikan dengan nyata. Hal yang perlu dibicarakan adalah bagaimana mekanismenya. Sebelum kerja di British Council pernah bekerja di UNDP selama satu tahun. Program yang saya jalankan itu direncanakan jauh sebelum reformasi. Intinya adalah modernisasi pengelolaan kota dengan participatory programming and planning. Jadi masyarakat diikutsertakan. Hal itu cukup berhasil dilakukan misalnya di kota Kendari. Biasanya kalau program pembangunan itu ada yang disebut proses P5D. Artinya seolah-olah ada perencanaan dari masyarakat, naik ke kecamatan, lalu ke tingkat II, kemuidan digodok di BAPPEDAL. Tapi setelah sampai di sana, tidak pernah dilaporkan kembali kepada rakyat. Dinas-dinas pemerintah yang langsung jalan. Di Kendari agak terbalik. Kecamatan dan kelurahan akhirnya tidak ada urusan dengan dinas-dinas. Baru di tingkat kota dinas-dinas membuat program sendiri juga. Memang wajar kalau masyarakat ditanya tentang program, mereka hanya akan memikirkan lingkungannya saja. Tapi secara rasional dinas tugasnya memikirkan secara keseluruhan kota. Misalnya lingkungan sistem kereta api, tidak bisa dipikirkan di kampung, tapi mereka dipertemukam dalam forum yang sejajar dan disiarkan langsung serta terbuka. Sampai sekarang mentradisi tiap Jumat ada acara live mereka saling berkomunikasi. Di situ orang bisa tanya kepada wali kota, kepala dinas. Saya melihat sendiri wali kota ketika ketemu di airport. Rupanya ada pertanyaan yang harus dijawab oleh kepala dinas PU, tapi kepala dinas PU-nya tidak ada. Dia minta kepala dinas PU meninggalkan rapat dengan DPRD untuk menjawab pertanyaan. Dia bilang, “Tinggalkan saja DPRD. Pergi saja ke radio jawab itu pertanyaan dari masyarakat”. Tidak mungkin kita melakukan hal seperti itu, tapi dengan mekanisme bagaimana kita menjalin konsultasi dengan DPRD dan gubernur yang dipilih. Buat apa bicara dengan gubernur yang tidak dipilih. Kalau kita lihat orang berkampanye supaya presiden dipilih langsung, syukur-syukur sampai gubernur, bupati, camat juga dipilih langsung. Untuk Jakarta hal itu penting, karena Jakarta itu besar dan penduduknya lebih dari 10 juta, DPRD-nya haya satu. Jarak antara kita dengan DPRD itu masih jauh. Proses itu harus bisa kita rebut. Jadi merebut Jakarta itu juga merebut proses. Ada dua hal yang sangat krusial yang berkaitan dengan ruang publik khususnya Jakarta ini. Hal pertama adalah menyadarkan kepublikan yang masih banyak kendalanya, karena masing-masing jalan sendiri. Dan yang kedua adalah ruang publik yang kembali harus diartikan sebagai interaksi sosial yang bisa dilihat seluas-luasnya. Peserta: Saya pikir dalam persoalan publik para pemilik modal tidak pernah peduli dengan kebutuhan publik. Perspektif mereka dalam membangun

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

39

kota Jakarta adalah bisnis. Kita pesimis membuat public space bagi banyak orang, tapi orang tidak peduli. Konsep yang telah ditawarkan Marco tadi menurut saya adalah konsep yang dibuat untuk memenangkan pemilik modal. Dalam konsep pemberdayaan, maka yang penting saat ini adalah kesadaran dari kelas menengah. Arsitektur hendaknya mulai mengoptimalisasi perannya. Tidak hanya sebagai pengambil order dari pemerintah, tetapi mengangkat gagasan dari bawah mencoba menegosiasikan ke pengambil keputusan. Peran semacam ini yang belum diambil oleh agen-agen tadi. Sementara kita tahu yang bisa mendobrak kekuasaan itu adalah agen. Kita bicara tentang tata ruang kota, kalau agen-agen ini tidak pernah berpikir tentang ruang publik untuk rakyat bagaimana ide ini bisa sampai ke atas? Misalnya masyarakat kampung ada gagasan tentang ruang publik yang begitu sederhana, di mana mereka bisa berkumpul, bisa berekspresi secara bebas, berkesenian dan tidak terkooptasi oleh kekuasaan. Gagasan ini masih kita temui di Jatinegara, Kampung Melayu dan lain sebagainya dengan adanya kesenian jaipongan. Kalau agen memikirkan ini sebagai ruang publik, maka sebetulnya ini merupakan sebagian dari garapannya. Kemudian kita lihat bahwa taman-taman di Jakarta ini dipagari sehingga tidak bisa dinikmati oleh banyak orang. Ini juga membutuhkan perhatian yang sangat serius demi tata ruang yang bisa diharapkan. Peserta: Dalam membicarakan ruang publik kita harus kembali kepada tatanan sosial, standarisasi sosial masyarakat. Saya ingin tahu bagaimana mengukur standar sosial tersebut untuk mengkaji ruang publik itu. Sebab yang saya lihat mereka punya pasar tradisional yang mereka gunakan untuk berkumpul dengan kapasitas orang banyak dan sangat bebas berekspresi dan tempat yang lapang. Secara ekonomi sudah baik, tapi di Jakarta ini jarak antara si kaya dan si miskin sangat jauh. Saut Sitompul: Pengertian saya tentang ruang publik ini, anggap saja kalau ada kerumunan orang di suatu tempat, hal ini bisa dijadikan ruang untuk mengekspresikan apa yang saya mau. Contoh saya sebagai pengamen yang tampil di bus-bus. Dengan penampilan itu, seolah-olah yang ada dalam ruangan bus itu memang membutuhkan saya. Sehingga saya kalau berhadapan dengan mereka selalu bilang semoga anda terhibur dan lain sebagainya. Seolah-olah sudah merupakan kebutuhan mereka. Walaupun mungkin ada yang complain karena dengan penampilan pengamen merasa tidak nyaman. Ruang publik untuk kebudayaan, kesenian saya pikir berbeda. Ruang publik untuk sastra atau kesenian memang tidak terbatas dan begitu luas. Marco Kusumawijaya: Ruang publik disini adalah plural, dan juga harus menerima kemungkinan diberlakukan atau tidak karena harus dimusyawarahkan. Kembali kepada pertanyaan, bagaimana mengatur tingkat ruang kota?

40

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Ada yang sedikit kaku dan ada yang lewat musyawarah. Dalam kehidupan tradisional kita, memang betul ada yang disebut tata krama dalam menentukan ruang. Misalnya dengan permisi di tengah perjalanan. Kita harus sadar bahwa tata krama itu adalah panggung sandiwara, kalau kita harus membuat perilaku baru, kita buat perilaku baru. Kalau kita butuh tata krama baru, kita harus buat tata krama baru. Saya punya pengalaman pribadi waktu SMA, saya naik sepeda di tengah jalan berhenti karena ada orang menyeberang. Saya ditabrak oleh orang Jogya yang tutur katanya halus sekali. Ada juga di sebelah saya mengalami hal serupa, dia seorang bule yang berhenti kalau ada orang yang menyeberang di sepeda cross. Hal itu sudah menjadi kebiasaan yang melekat. Saya juga selalu bilang kepada sopir saya, “Kamu harus mengalah dengan pejalan kaki”. Sebenarnya pejalan kaki mengalah dengan mobil dalam aturannya tidak ada. Jadi setiap lingkungan membutuhkan tata krama baru dan bagi saya kota adalah satu lingkungan baru dan membutuhkan tata krama baru. Dan kadang-kadang kita tidak sadar bahwa seolah-olah tata krama itu begitu saja dan tidak bisa diubah seperti bayi baru lahir. Di negara maju pun tata krama kota itu dibentuk dan diajarkan. Sehingga sebelum 1970 an itu berantakan di Cina. Di Inggris pun, masih di zaman Beatles, ketertiban lalu lintas di sana masih omong kosong. Tetapi ada kebersamaan untuk menyadari itu dengan membuat program yang kongkret, mengkampanyekan tata krama baru. Di persimpangan jalan mobil keluar akan saling ketemu. Di Jerman ada caranya sendiri, setiap arus memasukkan mobilnya silih berganti. Hal demikian sangat damai tanpa harus ribut dan semua orang tahu karena ada sosialisasi sebelumnya. Tata krama seperti itu juga tidak akan kita temui di desa. Jadi kita jangan menganggap kebudayaan itu sebagai suatu yang tertanam, yang tidak bisa diubah. Jadi ukurannya menurut saya fasilitas umum harus lebih baik dari pada fasilitas untuk pribadi/individual. Karena kesenjangan yang terlalu besar, maka akan menjadi sulit. Ini mungkin definisi sosial demokrasi yang paling sederhana. Orang memerlukan kesamaan dalam suatu tingkat sosisl ekonomi supaya bisa berbeda dengan hal-hal lainnya. Kalau tidak ada kesamaan dalam tingkat tertentu, dalam sosial ekonomi, maka tidak mungkin kita mengukur minimal, dengan begitu kita harus musyawarah dulu. Menurut saya hal itu penting sekali dan dengan dasar itu kita bisa menentukan hal-hal yang lain. Tapi jangan dianggap ini mengajak ramairamai menyama-ratakan semua orang dengan statement. Saya rasa kurang bagus. Minimal orang mempunyai tingkat sosial minimal tertentu. Kalau ini sudah ada, maka orang akan lebih mudah dalam hidup di masayarakat secara kolektif. Pada masyarakat pluralitas, maka kita tidak perlu mengatakan Monas itu paling penting. Ada sisi lain yang lebih penting. Saya tidak akan bilang trotoar itu kurang baik, tapi jalan pun juga masih tidak baik. Kita hindari cara berpikir yang mengatakan bahwa yang susah hidup

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

41

di Jakarta itu orang yang jalan kaki atau orang miskin. Semua orang hidup di Jakarta itu susah dan semua orang bisa hidup lebih baik. Saya yakin jalanan kita tidak memenuhi syarat. Di Inggris dari jalan sampai naik ke trotoar maksimum 10 cm untuk kepentingan mobil dan juga pejalan kaki. Bagi mobil, kalau trotoar terlalu tinggi pelek bisa mentok dan rusak dan bagi pejalan kaki berbahaya bisa membuat orang jatuh. Akhirnya dalam menggunakan ruang itu orang tidak merasakan nyaman. Itu sisi teknis yang berhubungan dengan arsitektur. Ada juga pemecahan-pemecahan untuk menghindari konflik horisontal untuk mensejahterakan semua orang bukan hanya orang miskin/kaya. Meskipun dalam ilmu lain juga seperti itu. Memang dalam perkembangan teknologi sekarang harus ada keberpihakan kapada orang-orang lemah, karena dia kurang memiliki akses. Sedang akses berkaitan dengan proses yang harus diciptakan. Dan saya tidak mengatakan bahwa kalau tidak ada publicness lalu kita tidak bisa berbuat apa-apa. Semua harus berbarengan melakukan sesuatu yang nyata. Merumuskan publicness itu bukan hanya dengan wacana saja tapi juga dengan eksperimen. Dan saya merasakan bahwa hidup itu selalu eksperimen terus. Memang betul bahwa publicness itu syarat bagi public space. Karena itulah kita harus selalu memperjuangkan fasilitas bersama termasuk transportasi umum, karena memang termasuk juga publik space. Dan itu sangat mengintensifkan hubungan warga dengan berbagai golongan. Itu merupakan hal yang sehat untuk kehidupan suatu kota.

42

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Diskusibulanpurnama.[Dbp.] Diskusibulanpurnama [Dbp.]

45 3

16 JULI 2000

Gerakan Petani
Narasumber: Hedar Laudjeng, Organisator petani di Sulawesi Tengah dan aktifis LBH Bantaya, Palu.

Indonesia disebut sebagai negara agraris, tapi selama seratus tahun terakhir kekuasaan negara modern, petani selalu tersingkir. Zaman Orde Baru tidak banyak bedanya dari zaman kolonial. Hedar Laujeng, seorang aktivis gerakan tani di Palu, Sulawesi Tengah, yang kebetulan sedang mengikuti pelatihan di Jakarta, hadir di Dbp. untuk membicarakan berbagai masalah yang dihadapi petani dalam membangun gerakannya sendiri. Menurut Hedar, pendampingan petani yang lazim dilakukan LSM tidak senantiasa positif, apalagi jika segala sesuatu sudah diatur dari pusat, lengkap dari program sampai biaya. Solidaritas dalam gerakan tani dihancurkan oleh Orde Baru sehingga orang biasanya berjuang untuk mendapat tanahnya sendiri tanpa memikirkan kepentingan petani secara umum. Jalan keluarnya tidak lain dengan membantu petani sendiri membentuk organisasi. Walau tidak banyak peserta yang pernah bersinggungan dengan petani, apalagi jadi petani dalam kehidupan sehari-hari, diskusi tetap menarik. Ada yang datang untuk belajar, sekadar mendengar, dan juga berapi-api menceritakan pengalamannya berurusan dengan petani. Sebagian berupaya untuk menempatkan masalah petani ini dalam konteks yang lebih luas, membandingkan dengan pengalaman di sektor kehidupan yang lain.

Hedar Laudjeng: Saya sebetulnya tidak membayangkan kalau diskusi ini serius. Saya ini seorang praktisi dan selama kuliah tidak pernah menjadi aktivis mahasiswa. Jadi mohon maklum kalau tidak bisa menjawab pertanyaanpertanyaan yang berat. Keterlibatan saya dalam persoalan-persoalan petani berawal dari kerja saya sebagai pengacara yang tidak tahu dagang. Saya tinggal di kampung dan karena itu lebih banyak berurusan dengan kampung. Sempat juga menjadi kepala desa lima tahun dan karena itu selalu berurusan dengan permasalahan masyarakat. Saya juga bersentuhan dengan soal-soal kesenian. Dalam kesenian selalu ada kebutuhan eksplorasi, dan saya bergabung dengan kelompok seniman setempat. Kebetulan di tempat kumpul itu kepala desanya dipecat, lalu saya ditawari. Saya terima tawaran itu dan semuanya mengalir begitu saja, tidak pernah direncanakan sebelumnya. Jadi itulah latar belakang keterlibatan saya dalam urusan petani dan masalah masyarakat serta agraria. Saya kerja di Sulawesi Tengah dan ada pergerakan petani di sana.
44
Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Nah, saya kurang tahu apakah gerakan ini masuk dalam kategori petani atau tidak sebenarnya, tapi menurut saya kalu bicara tentang gerakan maka berarti ada cita-cita yang diperjuangkan. Saya sendiri mulai dari kegiatan pembelaan bagi petani melawan perusahaan perkebunan sebagai pengacara di tahun 1990-an. Gerakannya sangat legalistik. Saat itu di Sulawesi Tengah gerakan mahasiswa belum bersentuhan dengan persoalan agraria dan petani. Banyak aksi mahasiswa memang, tapi lebih banyak pada soal porkas atau judi, prostitusi dan sejenisnya. Masalah agraria belum pernah disinggung dalam gerakan mahasiswa. Saya mau ajak teman-teman menelusuri lebih jauh aksi-aksi protes petani ini. Di Palu sendiri protes petani terjadi di kampung Nunu, ketika tanah rakyat di sana dirampas oleh pemerintah sejak tahun 1974. Tapi mahasiswa saat itu sama sekali belum tertarik. Keterlibatan mahasiswa dan LSM secara massal baru dimulai tahun 1992 ketika pemerintah merencanakan pembangunan bendungan di tengah Taman Nasional Lore Lindu. Pada tahun itulah baru ada protes yang dilakukan mahasiswa dan LSM yang berkaitan dengan sumber daya alam. Dan sejak itu pula pengelolaan sumber daya alam menjadi isu utama bagi LSM di Sulawesi Tengah. Melihat pertanyaan ini, saya ingin kembali kepada pertanyaan semula: apakah ini disebut gerakan atau tidak? Saya sendiri belum melihat petani atau masyarakat adat terlibat yang terlibat dalam protes itu punya cita-cita tentang perubahan. Saya belum melihat persoalan yang mereka hadapi itu adalah persoalan politik, sebuah kebijakan atau masalah struktural. Masalah itu memang jadi bahan pembicaraan ramai kalangan aktivis mahasiswa dan LSM. Memang LSM boleh dibilang menjadi motor dari protes-protes itu, tapi kecenderungan LSM di sana, seperti daerah lainnya, adalah mem-fotokopi apa yang terjadi di Jakarta. Ketika orang Jakarta ramai bicara jender, semua orang di sana juga omong jender. Kalau orang Jakarta omong masyarakat adat, begitu pula di daerah. Kadang-kadang ini tidak jelas juntrungannya. Kita banyak menemukan LSM yang mengurusi segala macam isu, tergantung apa yang terlihat “seksi” di mata funding-nya. Memang sejarah lahirnya NGO di sana berkaitan dengan funding. Karena itu saya berpikir tentang jalan lain. Dengan pendekatan LSM, tampaknya gerakan akan sulit berkembang menjadi besar dan sulit dibangun. Salah satu indikasinya adalah gerakan protes petani selama ini belum mendapat respons dari kelompok petani di tempat lain yang merasakannya sebagai masalah bersama. Saya pikir persoalan ini juga terjadi di Jawa. Saya belum pernah mendengar ada protes petani di Jawa Timur misalnya yang mendapat respons dari petani di Jawa Barat. Masalah itu selalu mengganggu saya, apakah memang betul ada gerakan yang sedang kita bangun? Kelihatannya untuk kepentingan politik gerakan mahasiswa

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

45

atau LSM juga berbicara tentang petani, tapi tidak ada upaya serius untuk membangun gerakan petani itu sendiri meskipun sudah ada berbagai jaringan dan forum. Di daerah juga ada kecenderungan membangun forum berdasarkan isu yang ada di Jakarta saat itu, hampir tidak ada yang membangun sebuah forum berdasarkan kebutuhan lokal. Dan sebaliknya ketika kebutuhan lokal muncul, orang di Jakarta seperti ogah-ogahan dengan forum itu karena tidak sama dengan format mereka. Inilah pertanyaan yang selalu mengganggu pikiran saya. Saya kembali ke munculnya protes massal di Sulawesi Tengah. Waktu itu kami merasa tidak punya dasar yang cukup secara yuridis untuk melakukan pembelaan terhadap petani yang ada di Lindu. Hal itu sebetulnya sudah saya alami sebelumnya. Hukum kita sangat tidak memihak kepada petani. Inilah yang kemudian melatarbelakangi munculnya isu masyarakat adat di Sulawesi Tengah. Sebetulnya lebih sebagai landasan bagi pembelaan, khususnya dengan menggunakan hukum adat. Hukum adat di sini maksudnya adalah hukum rakyat, yaitu hukum yang berlaku di kalangan rakyat. Memang sejak awal istilah hukum adat ini punya banyak pengertian dan banyak disalahgunakan sehingga yang muncul kemudian adalah distorsi atas pengertian itu, seperti yang terjadi dalam forum teman-teman di AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara). Ada bekas raja feodal yagn kemudian bicara tentang hukum kerajaan, padahal awalnya bicara tentang hukum rakyat. Dengan hukum rakyat ini sebenarnya kita melakukan pembelaan dengan perspektif ke depan, yaitu membangun gerakan rakyat, bukan menghidupkan kembali lembaga-lembaga kerajaan. Dan ini terjadi tidak hanya di Sulawesi Tengah. Saya sempat diundang ke Bali dan melihat persoalan itu dialami semua daerah. Saya sendiri seperti frustrasi melihat semua itu. Bagi saya gerakan masyarakat pada dasarnya adalah gerakan kebudayaan, di mana kita membangun kembali kekuatan rakyat melalui apa yang mereka punya, melalui apa yang paling mereka pahami. Ada pengalaman di lapangan, ketika masyarakat menyatakan keinginan seperti itu tapi tidak secara eksplisit. Misalnya di Sulawesi Tengah ada orang Pakava, yang tidak menghendaki campur tangan pihak lain atau pemerintah dalam urusan mereka. Misalnya kalau ada perkelahian di antara lalu polisi datang dan menahan orang yang berkelahi, masyarakat akan ramai-ramai datang ke kantor polisi dan mengatakan bahwa itu bukan urusan polisi, tapi urusan mereka sebagai orang Pakava. Inilah bentuk protes kebudayaan yang sedang saya kerjakan sekarang. Sebenarnya sejak di Lindu saya mulai bergerak seperti ini. Kami punya hukum sendiri, punya mekanisme penyelesaian konflik sendiri dan pihak lain tidak perlu mencampuri. Karena itu jargon yang selalu saya kemukakan adalah otonomi rakyat, yaitu rakyat mengurus dirinya sendiri. Negara harus berhenti campur

46

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

tangan. Kalau rakyat punya sistem pengelolaan sumber daya alam sendiri, negara harus berhenti. Tapi sebaliknya kita tidak bisa terima semua hukum adat begitu saja. Harus ada nilai-nilai yang jadi patokan agar tidak terjebak pada kekurangan-kekurangan yang ada selama ini, katakanlah feodalisme atau perkembangan kepemilikan individual. Saya bukan peneliti tapi sebagian dari petani yang bekerjasama itu satu suku dengan saya, sehingga saya lebih mudah memahami. Misalnya persepsi tentang sumber daya alam. Sumber daya alam bagi mereka adalah subyek yang tidak bisa diperlakukan seenaknya. Alam punya hak istirahat dan hak menolak untuk diolah. Mungkin kedengaran agak aneh bagi teman-teman di sini. Tapi di Sulawesi Tengah pemikiran seperti ini masih banyak, begitu pula dengan bentuk-bentuk pengelolaan sumber daya alam secara bersama-sama. Saya belum berani mengklaim itu kepemilikan komunal, tapi ada sistem pengelolaan padi misalnya di daerah Boya [satuan pemukiman terkecil di daerah Pakava – ed], yang mengatur orang harus berladang bersama-sama. Pengalaman menunjukkan bahwa orang yang tidak ikut tanam, maka tidak akan berhasil. Hal seperti itu yang ingin kita bantu, apalagi kalau cara itu kemudian berkonflik dengan negara maupun perusahaan-perusahaan besar. Itulah pekerjaan saya di sana. Jadi kalau bicara hukum adat, sebenarnya yang saya maksud adalah hukum rakyat, bukan hukum kerajaan. Dan kalau bicara hukum adat maksudnya bukan orang lain harus pergi, sebab adat itu tidak statis. Persoalannya sekarang ini banyak orang yang campur tangan dalam urusan adat, mengurus masyarakat adat dan sebagainya, sehingga muncul juga konflik horisontal. Ini yang membuat orang di sana jadi marah, karena banyak orang yang tidak tahu masalah ikut campur, dan akhirnya menurut saya juga terjadi komodifikasi. Karena yang laku dijual masyarakat adat, maka orang ramai-ramai bicara tentang itu sampai akhirnya malah jadi konflik dengan kalangan petani. Norman Sophan: Saya sebenarnya pendatang dan tertarik pada apa yang dibicarakan. Saya mengajar di Universitas Mercu Buana dan Universitas Trisakti, di samping saya juga pengusaha. Pembicara mungkin perlu lebih jelas apakah yang diperjuangkan itu petani darat atau petani laut. Menurut saya yang perlu diperjuangkan itu petani laut. Dia cari ikan dengan peralatan tradisional, kapalnya ngambang sampai nyasar ke negara lain, kemudian ditangkap. Ikannya juga tidak dapat. Sedangkan ikan yang dia cari dikeruk oleh kapal dengan pukat harimau. Saya ingin tahu juga soal pembelaannya. Kalau di Jawa Barat seperti kasus Cimacan, petani dirampas tanahnya oleh pengusaha untuk dijadikan lapangan golf. Itu pernah

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

47

dibela oleh Bambang Sulistomo, putranya Bung Tomo, rekan saya itu. Mereka sampai puasa di sana untuk menuntaskan kasusnya. Ada lagi kasus Tapos, tanah petani dijadikan peternakan. Masalah dengan petani, mereka itu mudah disewor. Sebagai contoh, mereka disuruh menanam cabe oleh pemerintah dengan iming-iming harga mahal dan seterusnya. Giliran panen harganya anjlok dan tidak menguntungkan. Mereka kemudian dipermainkan oleh tengkulak dan pengusaha. Jadi kalau bicara pembelaan, itu dari sudut mana? Sementara pemegang HPH semena-mena mengambil hasil hutan, petani yang ikut mengambil malah ditangkap. Nah, ini harus kita bela. Bicara petani, saya ini juga petani, punya tanah di Jonggol. Hanya 100 hektar memang, tapi dalam pengelolaannya saya sertakan petani semuanya. Coba kalau tanah itu dijarah, bukan saya yang marah tapi petani-petani itu. Saya dekat dengan petani. Jadi, saya minta Hedar bisa jelaskan salah satu kasus baru kita bahas, karena saya bingung mau dibahas dari sebelah mana. Misalnya bisa bicara tentang petani cengkeh yang dipermainkan oleh pengusaha cengkeh. Kemudian kita bisa lihat sudut pembelaannya. Hedar Laudjeng: Memang saya tidak bicara kasus, karena di Indonesia ini sudah berlimpah kasusnya. Tapi baiklah kalau memang mau lebih spesifik saya bisa kasih satu contoh nanti. Tapi yang ingin saya katakan sebenarnya bahwa kita perlu lebih banyak hidup bersama petani. LSM yang menyebut dirinya gerakan maupun mahasiswa yang selalu bicara tentang gerakan rakyat harus turun. Tapi sayangnya sangat sedikit yang mau tinggal lamalama dengan rakyat. Hal lain kita perlu strategi informasi sehingga masyarakat tahu duduk persoalan yang sebenarnya. Kita perlu lebih proaktif. Selama ini sebatas bicara saja, tapi belum dijalankan seperti seharusnya. Kalau hanya bicara kasus seringkali terbatas dalam penanganan kasus saja, dan akhirnya hanya bereaksi terhadap kasus. Ini yang saya sebut hobby kampanye. Basis pengorganisasiannya kecil tapi kita kampanye seolah-olah basisnya sudah besar. Karena kebiasaan begitu akhirnya kita sendiri percaya bahwa ini benar. Jadi, ketika terjadi “protes petani” tetangganya ternyata adem-adem saja. Soal penanganan kasus, saya ini cenderung menghindari kasus sampai ke pengadilan, karena yang jadi cenderung menjadi bintang lapangan adalah lawyer-nya. Petani pilih tidur dan menyerahkan masalahnya kepada lawyer. Barangkali sudah saatnya kita memikirkan kembali gerakan bantuan hukum di Indonesia ini. Saya awalnya juga mulai dari sana, membaca buku-buku yang diterbitkan di Jakarta, dan akhirnya ambil inisiatif untuk membuat bantuan hukum. Tapi setelah bertemu beberapa aktivis di bidang bantuan hukum, yang ditulis di bukunya ternyata tidak bisa jalan. Bantuan hukum akhirnya menjadi cara menjinakkan petani itu sendiri. Contohnya kasus di Bohotokong. Itu kasus yang sudah berlangsung lama antara petani dengan perusahaan kebun kelapa. Petani sudah

48

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

lama melakukan aksi reclaiming. Saya coba menghindari dan meminta mereka berupaya menempuh jalur legal. Mereka kirim surat sampai ke tingkat presiden segala, tapi tidak ada respons sama sekali. Kalau begitu, mengapa kita tidak coba mengadu kepada tetangga sendiri. Akhirnya jalan. Ada beberapa orang ditangkap dan baru dilepas seminggu kemudian oleh pengadilan, tapi reclaiming jalan terus. Dalam kasus itu saya juga tidak memaksakan publikasi, karena menurut saya petani akhirnya cenderung menggantungkan diri pada media massa. Mereka mulai tidak kreatif membangun informasi di kalangan sendiri dan desa-desa. Tapi sebaliknya saya tidak mengharamkan publikasi. Itu juga penting. Kembali soal Sulawesi Tengah yang tidak jauh berbeda dari daerah lain. Memang benar. Misalnya ada kampung yang tiba-tiba diklaim sebagai hutan oleh pemerintah, dan orang yang tinggal di “hutan” itu dengan sendirinya dianggap kriminal. Karena menurut UU Kehutanan, “barangsiapa tinggal di kawasan hutan, dianggap melakukan tindakan pidana”. Di Jawa ini banyak kasus petani kehilangan tanah. Begitu juga di Sulawesi Tengah. Menurut Sensus Pertanian, tanah yang dikuasai petani di Sulawesi Tengah makin menurun. Soal lain adalah ekspansi kota, semakin banyak tanah dikuasai oleh orang kota. Itu dimulai tahun 1970-an. Orang kampung berlomba menanam cengkeh karena saat itu sedang ramai di pasaran. Dan ini sangat berkaitan dengan kebijakan pemerintah, yang menghidupkan kembali klaim “tanah negara”. Dengan klaim itu pemerintah dengan mudah memberikan tanah kepada siapa saja yang membutuhkan dan mampu membayar izin pengolahan dengan ongkos itu – dan itu jelas bukan orang kampung yang mampu. Jadi tidak ada bedanya dengan politik agraria zaman kolonial yang punya domeinverklaring. Tidak ada bedanya dengan zaman Belanda, tapi pada Orde Baru ini prakteknya malah jauh lebih jahat. Kalau di zaman Belanda ada daerah yang diperintah langsung oleh gubernemen, tapi ada yang tidak diperintah langsung. Di zaman merdeka disebut daerah swapraja. Aturan domeinverklaring itu hanya berlaku pada daerah gubernemen. Di Jawa dan Madura umumnya diperintah langsung, tapi kalau di luar Jawa sebagian besar swapraja. Tapi sekarang di luar Jawa aturan itu tetap berlaku, dan di situlah Orde Baru lebih jahat dari zaman Belanda. Setelah tahun 1970-an masyarakat baru tahu ada “tanah negara”, dan kaget. “Kok sekarang ada tanah negara segala?” Jadi kalau ditanya pokok pembelaannya di mana, saya pikir yang terpenting itu pengakuan hak-hak rakyat, bukan kasus per kasus seperti sekarang ini. Kalau cuma kasus per kasus itu sama saja dengan tambal sulam. Karena itu kita perlu organisasi yang lebih solid. Memang sudah banyak organisasi yang lahir, tapi mereka cenderung menyuarakan kepentingan tertentu, termasuk LSM. LSM ini berkaitan dengan funding, dan kalau tidak jalan, kan tahu sendiri akibatnya seperti

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

49

apa. LSM besar butuh dana besar, LSM daerah juga begitu. Dan di sini terjadi jualbeli kasus. Ada inisiatif rakyat menampung informasi dan memberikan bantuan hukum dengan membuat posko. Saya minta dukungan ke NGO besar di Jakarta dan meminta terbitannya dikirim ke masyarakat,. Sampai sekarang terbitannya masih menumpuk dengan alasan tidak ada dana pengiriman. Lalu, ke mana semua yang diomongkan selama ini? Apakah orang di daerah yang harus ikut kita atau kita yang harus mendukung inisiatif itu? Kalau orang harus ikut kita, lebih baik jangan bicara gerakan rakyat. Mari kita bicara gerakan LSM, supaya jelas. Kalau tegas bicara LSM maka urusan semacam itu sudah merupakan hal biasa. Ian: Aku dari LMND (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi). Aku tertarik soal gerakan di Sulawesi Tengah itu, apakah termasuk gerakan atau tidak. Dari statement terakhir tentang pembentukan organisasi yang solid, sebenarnya masalah sudah terjawab. Kalau bicara penindasan atau penghisapan oleh rezim, wataknya di mana-mana sama, yaitu rakus. Mereka punya infrastruktur di seluruh daerah dan sudah disusun rapi. Gerakan petani secara nasional atau menyeluruh memang lebih bagus. Dan itu juga usulan LMND. Inilah yang menjadi dasar teman-teman membuat LMND. Kalau kita bicara perubahan sejati maka itu harus dilakukan secara nasional. Jadi gerakan petani tidak bisa jalan sendirisendiri. Harus menyeluruh dan dalam organisasi yang solid. Persoalannya sekarang, bagaimana kita membentuk organisasi yang solid? LMND sadar bahwa peubahan di Indonesia sekarang tidak mungkin dilakukan oleh mahasiswa, karena mahasiswa adalah kelas parasit yang tidak punya nilai lebih. Dia malah merampok punya orang lain. Yang paling penting adalah bagaimana mengorganisir masyarakat dengan cara orang yang sadar memberi injeksi kepada yang belum sadar. Propaganda secara nasional juga penting, karena itu yang menjadi kelemahan kita selama ini. Di daerah-daerah aksi tersumbat oleh media. Contohnya, kalau ada 50 orang di Jakarta yang demo, pasti diberitakan. Tapi di Sulawesi, ribuan petani berdemo tidak dimuat. Ini merupakan kelemahan dalam distribusi informasi. Jadi kawan-kawan dari media juga mestinya cepat tanggap dengan aksi pergerakan rakyat agar sama-sama maju bareng. Jadi intinya, yang penting adalah pengorganisasian petani secara nasional. Hedar Laudjeng: Memang kita perlu organisasi yang solid. Tapi persoalannya, sudah banyak organisasi yang dibentuk, kenapa sampai sekarang belum juga solid? Saya pikir karena sejak awal kekuasaan Orde Baru tidak ada pendidikan politik. Di kampung-kampung orang bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Ini harus dijawab, dan siapa yang bisa jawab? Sekarang tidak ada yang menjawab dan bagaimana kita bisa membantu rakyat

50

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

menjawab pertanyaan itu. Tentunya menjawab ini tidak bisa dalam semalam. Semua harus diperjelas agar menjadi kongkret berdasarkan apa yang dialami rakyat, dan kita perlu mengaitkannya dengan persoalan lebih besar. Inilah yang tidak terjadi di Sulawesi Selatan. Contohnya dalam pemilu kemarin. Golkar menang telak, termasuk di daerah “dampingan LSM”, sehingga ada anekdot, “LSM pendampingku, Golkar pilihanku.” Apa yang kita lakukan selama ini adalah kegagalan. Semakin banyak orang hidup dari LSM, semakin lama petani menjadi komoditi terus. Lalu, kenapa yang di daerah tidak menerbitkan sendiri? Ibarat orang mengetik dengan komputer, tentu harus tahu apa programnya agar file-nya tidak error. Nah, anggaplah masyarakat ini sebuah komputer, maka kita harus pahami dulu apa pikiran masyarakat itu agar kita tidak error dalam memberi penjelasan. Kalau kita tidak memahami, dan tidak hidup dengan mereka, seolah-olah yang kita jelaskan akhirnya text-book thinking semua, dan itu hanya membuat masyarakat takut. Apalagi kalau bicara soal reformasi agraria. Itu persoalan riil yang mereka alami. Nah, bagaimana kita menyampaikan masalah ini? Kalau saya sering mengatakan – mungkin karena kurang baca – bahwa “siapa kuasai orang banyak, dia kuasai politik. Siapa kuasai tanah, dia kuasai ekonomi. Siapa kuasai ekonomi, dia kuasai politik. Siapa kuasai politik, dia kuasai orang banyak.” Saya biasanya bicara sebatas itu saja, karena tidak tahu teoriteori besar. Seringkali kita ini terlalu banyak jargon. Padahal yang perlu adalah menyampaikan dengan bahasa sendiri dan mencoba berbicara dengan apa yang kita dan juga mereka pahami. LSM dan teman-teman mahasiswa juga kebanyakan jargon, misalnya “ganyang tujuh setan desa”. Akibatnya bukan semakin banyak teman, tapi orang takut. Saya kira ini kebiasaan lama yang sudah gagal dan membuat orang marah, bisa-bisa kita disembelih semua. Tapi diulang-ulang lagi. Kenapa tidak bicara yang substansial saja? Di kalangan rakyat ada banyak potensi untuk pendidikan politik. Misalnya dalam masyarakat adat, ada konsep “komunalistik”, atau ajaranajaran agama misalnya. Jadi yang penting adalah menangkap pikiran lokal dan membangun pergerakan bersama. John Roosa: Saya hanya ingin tanya, kalau saudara katakan petani maksud apa. Buruh atau tani yang punya tanah? Kemudian kata “memperjuangkan”, apakah itu untuk merombak segi kepemilikan atau memperjuangkan hak-hak mereka yang dirampas secara hukum? Ini berhubungan dengan penguasaan tanah. Kalau masalah organisasi yang solid, saya pikir mesti ada pemimpin yang solid juga. Hedar Laudjeng: Saya bicara petani tadi maksudnya adalah petani yang tidak punya tanah atau petani gurem. Soal slogan “tujuh setan desa”, saya pilih tidak bicara soal itu karena hanya menimbulkan perkelahian dan saling bunuh. Jadi saya memilih menciptakan musuh bersama yang lebih besar. Jadi kampung bersatu untuk melawan musuh bersama. Itu dulu. Harus ada

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

51

pencerahan. Kemudian ada musuh bersama yang lebih besar. Kalau sudah selesai, baru bicara di antara kita. Sekarang ada masalah di mana-mana. Ada orang yang punya tanah sampai 30 hektar dan ada juga yang tidak punya tanah. Kalau kita ciptakan permusuhan di antara mereka, sebetulnya kita bunuh diri saja, sebab kekuatannya tidak seimbang. Saya misalnya cenderung memilih local leader di kampung untuk pendidikan, meskipun dia punya tanah puluhan hektar. Karena kalau mendidik petani yang tidak punya tanah lebih dulu, maka pengikutnya tidak ada. Berapa puluh tahun yang kita perlukan kalau mendidik yang di bawah saja? Berapa energi yang dibutuhkan? Jangan-jangan, belum apa-apa sudah dimusuhi pemimpin lokalnya. Jadi saya biasanya tidak mempersoalkan ketimpangan dalam kampung lebih dulu. Sebenarnya penting juga pencerahan dari atas, dan akhirnya orang yang di atas bisa kritis terhadap dirinya sendiri. Itu sebuah proses, dan mungkin setelah itu akan terjadi pembagian tanah secara baik-baik. Pengalaman sejarah menunjukkan, kalau kita berangkat dari mempersoalkan kepemilikan tanah di kampung, maka hasilnya tragis. Menurut saya sekarang bukan saatnya untuk melakukan hal itu. Kalau omong masalah hama tikus, bagi saya itu persoalan yang ditemui di mana-mana. Orang semakin tergantung pada obat-obatan dan bibit dari pemerintah yang dimonopoli orang-orang tertentu. Dalam gerakan masyarakat adat sebetulnya kita berupaya menggali cara-cara lama untuk mengatasi hama. Pengalaman saya di Pakava misalnya. Orang di sana hidup dengan ladang berpindah-pindah. Saya tanya, “kenapa harus pindah?” Mereka bilang, “tanah ini harus istirahat, kalau tidak bisa kualat.” Saya tanya lagi, “kenapa pindahnya jauh?” Dijawab, “kalau dekat dengan ladang semula, maka hama tikus dengan mudah mengikuti. Kita pindah jauh agar kalau panen tidak didului tikus.” Nah, inilah contoh pengendalian hama sendiri. Norman Sophan: Diskusi ini menarik tapi ngambang. Lebih baik kita bicara bagaimana membuat sebuah LSM yang betul-betul membela petani. Karena ini persoalannya luas maka harus dibicarakan hubungannya dengan Departemen Pertanian, Badan Pertanahan Nasional, kebijakan dalam negeri dan sebagainya. Kita mau ambil posisi di mana? Misalnya bagaimana di kotamadya, masyarakat bisa kembali bertani. Lalu petani mana yang akan kita bela? Ada kasus di Lampung, di sebuah kecamatan yang jadi areal kehutanan. Masyarakat di sana mungkin sudah hidup puluhan tahun di sana, tapi kemudian diusir. Jadi kita harus lihat kebijakan kehutanannya seperti apa. Pengalaman selama ini mestinya membuat kita tahu harus membela petani dari sudut mana. Dan salah satu caranya adalah membuat LSM.

52

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Hedar Laudjeng: Berbicara tentang LSM, masalahnya sekarang LSM sudah banyak sekali. Apakah masih perlu ditambah lagi? Di Bandung ada Konsorsium Pembaruan Agraria, di YLBHI ada divisi pertanahan dan seterusnya. Pertanyaannya, apakah kita perlu tambah lagi LSM-nya agar banyak dan makin ramai? Kalau menurut saya, kita perlu organisasi lain. Bukan LSM yang diperbanyak tapi organisasi yang punya visi sama, bergerak dan bertindak yang sama. Kalau bicara hukum, sudah banyak yang melakukan kajian tentang hukum. KPA misalnya sudah menyiapkan rancangan Tap MPR untuk reformasi agraria. Ada juga yang sedang menyiapkan rancangan undang-undang tentang sumber daya alam. Saya kira sudah banyak yang memikirkan itu. Tetapi, apakah itu bisa jalan tanpa dukungan dari petani sendiri? Menurut saya, tidak akan jalan. Dukungan petani sangat diperlukan. Dan tidak akan ada dukungan dari petani tanpa organisasi yang kuat. Saya sudah lama bergerak di bidang hukum dan tidak percaya hukum Indonesia. Baik hukumnya sendiri maupun pengadilannya. Karena itu selama beberapa tahun terakhir saya menghindari pengadilan. Kalau rakyat cukup kuat, reclaim saja tanahnya. Di Indonesia sekarang di mana-mana terjadi reclaiming oleh petani, tapi masih berdiri sendiri. Menurut saya salah satu persoalannya adalah LSM. Kasarnya, LSM membuat petani bergantung kepada mereka, dan karena itu LSM enggan duduk bersama mempersatukan gerakan. Mungkin sudah pernah dengar istilah-istilah seperti “dewa petani” atau “dewa buruh”. Di luar Jawa memang transportasi itu sulit. Dari Sulawesi Tengah ke Manado perlu biaya besar. Tetapi di Jawa transportasi mudah. Nah, kenapa tidak ada gerakan petani seJawa? Padahal kalau ada gerakan petani di Jawa yang solid, itu sudah pukulan berat. Agung Putri: Saya mau lihat persoalan ini lebih jauh lagi, bukan soal siapa institusinya, akademisi atau apa. Pertanyaannya, gerakan petani itu gagasan besarnya apa? Saya membaca beberapa literatur – kebetulan karena memang harus mempelajarinya – tapi setelah mempelajarinya malah makin bingung karena begitu banyak isu. Artinya masalah itu dikemukakan seolah semuanya berdiri sendiri, sehingga tidak tahu lagi hubungannya satu sama lain. Misalnya isu perampasan tanah dan hak intelektual itu ada di mana? Sampai sekarang saya belum menemukan pembahasan yang komprehensif. Kemudian saya coba cari-cari sendiri dan akhirnya menemukan rumusan yang saya pikir menjadi penyambungnya, yaitu bahwa kita harus mengubah tata ekonomi Indonesia menjadi tatanan ekonomi agraria. Tapi saya jadi bertanya-tanya sendiri, apakah ini bukan romantisme ingin kembali ke pertanian. Mudahmudahan ini cuma bias Jawa, karena memang di luar Jawa pertanian

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

53

masih besar. Di Jawa kalau kita bicara pertanian sebagai “sokoguru ekonomi Indonesia”, saya pikir agak sulit karena semua petani di Jawa ini sudah jadi buruh dan tanah punya pemodal yang arahnya ke agrobisnis. Kalau sekadar menuntut kembali ke pertanian, saya pikir bukan soal yang sulit. Kebetulan saya baru dua jam lalu kembali dari Bali. Di sana Bank Dunia sedang bikin program living culture, artinya mengembangkan kebudayaan yang hidup di mana petani dengan seluruh gerak-gerik kulturnya, mulai dari mencangkul tanah, akan jadi tontonan turis. Artinya ekonomi agraria ini bisa juga nyambung ke pariwisata dan sebagainya. Nah, jadi masih ada pertanyaan seperti apa sebetulnya gagasan besar dalam gerakan petani itu. Sekarang ini belum apa-apa sudah dibuat pengkotakan, buruh beda dengan petani dan seterusnya. Memang dari segi pengorganisasian berbeda, tapi tujuannya sama. Nah, kita belum sampai ke sana tapi sudah ada pengkotakkotakan. Buat saya ini tragis. Terakhir, tentang kelas menengah. Kalau memang benar kelas menengah ini tidak peduli dengan masalah pertanian, itu hanya bukti rendahnya moral kelas menengah itu.

54

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

4 AGUSTUS 2000

Gerakan Non-Kekerasan: Pengalaman Timur Tengah
Narasumber: Mubarak Awad, Ketua Non-Violence International dan penggagas gerakan intifada di Palestina. Moderator: John Roosa. Penerjemah: Hilmar Farid.

Gerakan non-kekerasan punya sejarah panjang. Di Palestina gerakan inilah yang dianggap paling efektif mengganggu penguasa Israel. Salah satu pencetusnya adalah Mubarak Awad, seorang Palestina-Amerika yang memimpin organisasi Non-Violence International berbasis di Washington, DC. Melalui seorang kawan dari organisasi yang sama, Michael Beer, Dbp. mengundang Mubarak untuk berbagi pengalaman tentang gerakan itu dan sekaligus memberi inspirasi pada perjuangan pembebasan di banyak tempat. Berbeda dengan pandangan aktifis pada umumnya bahwa gerakan nonkekerasan identik dengan sikap pasif tidak melawan, Mubarak justru berpendapat bahwa gerakan non-kekerasan merupakan gerakan perlawanan yang bertumpu pada kekuatan diri untuk mengalahkan rasa takut dan kemampuan mengorganisir aksi-aksi kecil besar hasil. Gerakan ini memerlukan keyakinan, keberanian, dan kecerdasan melihat kelemahan lawan, bukannya sekedar ketangguhan fisik di lapangan. Kreatifitas untuk membuat penguasa sadar bahwa mereka tidak disukai adalah kunci keberhasilannya. Seperti yang sering terjadi dalam diskusi lain, peserta umumnya mempertanyakan keampuhan taktik non-kekerasan ini. Apakah kita tidak berhak mempertahankan diri, dengan kekerasan sekali pun, apabila aparat mengancam hidup kita? Ada juga yang berpendapat bahwa dalam memperjuangkan hak-haknya sebetulnya tak seorang pun berangkat dengan pikiran akan menggunakan kekerasan. Benturan dengan kekuasaan yang menggunakan kekerasan lah yang akhirnya mengkondisikan orang untuk memilih mengangkat senjata.

Mubarak Awad: Terima kasih, saya gembira berada di sini, begitu pula Nancy, istri saya. Dan mohon maaf tidak dapat hadir di sini kemarin, karena kami ketinggalan pesawat. Saya seorang Palestina, orang Arab, yang sangat tertarik pada masalah non-kekerasan. Seringkali orang bertanya, mengapa seorang Arab – apalagi orang Palestina – seperti saya ini, tertarik pada masalah non-kekerasan. Sebagai orang Palestina saya dan orang-orang sebangsa sudah berjuang selama 52 tahun melawan penguasa Israel. Dalam masa itu saya merasa bahwa perang atau pembunuhan bukanlah jawaban untuk memecahkan masalah. Kami punya organisasi yang disebut PLO, yang mengabdikan dirinya bagi pembebasan Palestina. Ada yang mengabdi bagi pembebasan Palestina melalui gerakan bersenjata. Saya sendiri belajar di sana, saya lahir di Yerusalem, dan merasa seolah-olah orang Israel harus membunuh semua orang Palestina, atau orang Palestina harus membunuh semua orang Israel untuk memecahkan masalah. Karena itu saya merasa harus mulai membangun sebuah lembaga di Yerusalem untuk mempelajari
Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

55

masalah non-kekerasan. Saya mulai mempelajari mentalitas orang Arab, mentalitas Palestina. Pertanyaannya, apakah kami orang Arab atau Palestina ini memang sudah sejak lahir punya watak yang keras? Apakah sebagai manusia kami memang dilahirkan begitu? Saat mulai pengetahuan saya tentang gerakan non-kekerasan masih sangat terbatas. Tapi saya mulai dengan merasakannya, dengan meyakininya, walau belum banyak yang saya ketahui. Tapi dalam perspektif religius, sebagai manusia, saya sangat yakin bahwa seseorang – maksudnya siapa saja, tidak peduli laki atau perempuan dan terlepas dari apa agamanya – itu adalah ciptaan Allah. Dan tidak boleh ada orang atau pemerintah yang berwenang membunuh orang lain. Lalu di situ kita mengambil keputusan. Kalau hak-hak kita dirampas dan kita mengalami ketidakadilan, maka apa saja metode untuk mendapatkan kembali hak-hak itu. Dan saya merasa bahwa sebagai manusia kita tidak boleh berhenti melawan, kita tidak boleh tinggal diam seandainya ada orang lain yang haknya dirampas. Perjuangan harus terus berlanjut, tapi perjuangan bagi saya itu dengan jalan non-kekerasan. Saya seorang guru, jadi saya mulai dengan menulis tentang nonkekerasan dan menjelaskan kepada orang Palestina bahwa inilah metode yang digunakan Gandhi, atau metode yang digunakan banyak orang lainnya, yakni non-kekerasan. Saya mulai menyebarkan bacaan kepada banyak orang tentang non-kekerasan. Banyak orang yang berpikir saya ini gila dan mengatakan, “tapi lihatlah, orang Israel punya senjata dan mereka sangat berkuasa, dan sekarang kamu pikir bisa melawan mereka dengan cara begini? Saya tidak yakin itu bisa berhasil.” Jadi pekerjaan pertama adalah mengajar orang Palestina atau membuat mereka paham bahwa dalam perjuangan ini kita tidak hanya aktif setahun atau sebulan sekali. Tapi perjuangan itu harus dilakukan setiap hari. Dan setiap orang Palestina, tidak peduli berapa usianya, dapat memberikan sesuatu bagi perjuangan. Lalu saya mulai mencari dan menulis tentang 120 jalan bagi orang Palestina untuk berjuang tanpa menggunakan senjata. Misalnya, orang Palestina tidak boleh makan atau minum produk apa pun yang dibuat di Israel. Kalau anda hidup di bawah pendudukan, anda tidak perlu menaati aturan atau hukum apa pun yang dikeluarkan penguasa. Anda tidak perlu bayar pajak. Jangan bayar pajak sama sekali! Orang Israel memaksa kami menulis dengan huruf Ibrani, yakni bahasa mereka. Nah, kalau anda bangga dengan bahasa anda, yakni bahasa Arab, maka semua yang berasal dari pemerintah dan ditulis dengan huruf Ibrani, tidak perlu dibuka. Kirim saja kembali kepada pemerintah. Begitulah kira-kira yang saya katakan. Orang-orang pertama yang bekerja dengan kami dalam situasi itu adalah kaum muda Palestina yang sangat bergairah tapi masih senang menggunakan senjata. Tugas

56

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

kami menggerakkan kaum muda dan mengatakan bahwa kita akan memperoleh hasil lebih banyak dengan metode non-kekerasan dan tidak perlu ada yang mati terbunuh atau membunuh. Tentu perlu waktu lama untuk meyakinkan mereka dalam situasi seperti itu. Tapi dalam situasi apa pun, jika anda hidup di bawah pendudukan atau di bawah kediktatoran… maka yang paling penting untuk mengalahkan penguasa adalah dengan mempersulit pekerjaan mereka. Setiap hari mereka harus merasa tidak diterima oleh kita. Dan kita juga harus membuat mereka membayar mahal untuk pendudukan itu. Maksudnya sangat-sangat-sangat mahal. Secara psikologis mereka harus dibuat merasa tidak enak, sehingga mereka tidak bisa bilang bahwa “kami menduduki tempat itu tapi penduduk merasa senang.” Dan hal yang paling sulit dalam perjuangan non-kekerasan, khususnya antara orang Palestina melawan Israel, adalah bahwa kita harus berbicara dengan orang Israel dan mengatakan kepada mereka, bahwa perbuatan mereka itu salah. Jadi selama hampir lima tahun kami tak melakukan apa pun kecuali menyelenggarakan pelatihan. Kami mulai tahun 1982, dan akhirnya memutuskan untuk membuat demonstrasi. Kami tahu bahwa setiap pendudukan atau kediktatoran, itu ada karena hidup di atas apa yang disebut ketakutan. Jadi salah satu tugas pertama jika anda tertarik pada perjuangan, adalah membantu orang yang hidup di bawah penindasan untuk membuang rasa takut terhadap penguasa. Dan cara terbaik untuk membuang rasa takut itu adalah melalui aksi. Misalnya kami mulai dengan 5 atau 10 orang untuk memprotes pendudukan. Dengan bertambahnya jumlah peserta aksi maka kita tidak perlu izin lagi dari penguasa untuk membuat aksi. Dan bukan hanya itu. Kami juga makin tertarik untuk mengajak orang Israel yang percaya akan hak asasi manusia ke dalam perjuangan. Akhirnya mereka ikut bergabung dan melakukan protes bersama kami melawan pemerintahnya sendiri. Seringkali kita melihat masalah secara hitam-putih. Mereka jahat dan kitalah yang baik. Berdasarkan pengalaman saya, dalam masyarakat mana pun, semakin banyak anda coba berbicara dengan musuh, dengan diktator, polisi atau angkatan bersenjata, maka semakin besar kemungkinan terciptanya pengertian. Saya akan berbicara tentang satu aksi untuk memberi gambaran apa yang saya maksud dengan aksi. Di Palestina ada orang yang disebut pemukim, yaitu orang Israel yang datang untuk merampas tanah, membangun rumah dan membawa penduduk Israel. Jumlahnya semakin banyak sehingga akhirnya terbentuk pemukiman Israel. Waktu itu ada satu kelompok baru yang datang dan merampas tanah kami. Mereka membangun pagar mengelilingi tanah milik orang Palestina. Pemilik tanah itu mendatangi lembaga kami di Yerusalem dan meminta bantuan. Ia minta bantuan agar orang Israel itu tidak merampas tanahnya. Waktu ia datang saya hanya bilang, “Begini saja, seluruh dunia Arab ini tidak akan bisa mengambil kembali

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

57

tanah itu. PLO juga tidak bisa. Jadi, apa yang membuatmu berpikir bahwa lembaga ini bisa melakukannya?” Lalu dia bilang, “Anda datang ke desa kami bicara tentang keadilan, gerakan non-kekerasan. Kamu bilang itu lebih hebat dari senjata. Nah, sekarang kami datang untuk bertanya bagaimana caranya mendapatkan tanah kami kembali tanpa senjata.” Saya jawab, “Kalau kamu memang mau mendapat tanah kembali, kita perlu bantuan dari desamu, dari teman-temanmu. Mereka yang ingin melihat tanah itu kembali harus membongkar pagar-pagar yang dipasang orang Israel itu, tapi tidak boleh lempar batu dan tidak boleh pakai senjata.” Lalu saya minta dia pergi dan bicara kepada orang desanya. Waktu itu saya pikir dia tidak akan kembali. Tapi dua hari kemudian ia kembali dan bilang, “Kami sudah siap.” Akhirnya kami semua, ada laki-perempuan, orang muda dan anak-anak, berangkat ke lokasi dan mulai membongkar pagar itu. Tapi sebelum membongkar pagar, saya menghubungi wartawan agar datang meliput. Orang Israel dan tentaranya datang dan mulai menembak di antara kami untuk menakut-nakuti. Tapi kami terus saja membongkar pagar itu. Kalau memang mati saat itu, ya sudah, kami memang sudah bertekad begitu. Kalau mau ditangkap, silakan saja. Tapi kami tidak akan melempar secuil batu pun ke orang Israel itu. Nah, kalau jumlah kita besar dan seluruh dunia tahu apa yang kita lakukan, maka itu sudah termasuk berhasil. Akhirnya militer mengalah dan bilang, “Baiklah, ini memang tanah kalian. Ambillah.” Inilah kemenangan pertama. Kami banyak melakukan aksi seperti itu dan tahun 1988 orang Israel merasa saya menjadi masalah besar bagi mereka. Saya ditahan berulangkali, tapi pada tahun 1988 setelah ditahan selama 40 hari, mereka bilang, “sekarang kamu pergi dari sini.” Saya akhirnya dideportasi. Saya pergi ke Washington DC dan membuka lembaga baru yang disebut Non-Violence International. Saya pernah bekerja di berbagai belahan dunia. Saya bekerja di Birma, Chechnya dan sampai saat ini masih bekerja dengan orang Palestina. Kami juga pernah bekerja di Aceh selama kurang lebih enam tahun. Saya juga bekerja dengan pemuda dan anak-anak, dan di Amerika Serikat kami ada program untuk menangani remaja bermasalah. Pekerjaan kami bermuara pada program penanganan anak-anak bermasalah di seluruh dunia. Nancy ini adalah penanggungjawab program Advocate Youth International. Baiklah, saya akhiri sampai di sini dan silakan saja kalau mau bertanya sesuatu. Moderator: Saya kira tidak usah bikin kesimpulan dari ceramah ini. Aku hanya mau menjelaskan sedikit lagi mengenai perlawanan sehari-hari. Saya kira itu tema yang penting sekali untuk kita di sini. Dan kita harus memikir soal itu. Mubarak Awad belum bicara banyak karena waktu terbatas, mengenai aktivitas organisasi dia, Non-Violence International. Tapi ada flyer ini di depan sini. Mungkin kita bisa bicara lebih banyak tentang organisasi dia. Ada pertanyaan? Pasti ada banyak, tapi kalian masih malumalu… [tertawa] Razif:

58

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Saya cuma mau tahu bagaimana gerakan non-violence di Palestina sekarang dan berapa jumlah penduduk Palestina. Sebab gerakan non-violence ini sangat erat kaitannya dengan massa yang terorganisasi secara baik. Yang kedua, saya ingin tahu pada tahun 1982 dikatakan gerakan non-violence ini baru dimulai di Palestina, tapi pada saat itu banyak pemimpin PLO yang sangat setuju dengan PLO, salah satunya yang saya ingat Edward Said. Tapi entah kenapa, saya nggak tahu, setelah perjanjian Oslo, Edward Said mengecam PLO dan Yasser Arafat. Saya minta penjelasan lebih jauh dari Mubarak Awad. Mubarak Awad: Penduduk Palestina itu jumlahnya sekitar enam juta jiwa, dan tiga setengah juta di antaranya, hidup di luar Palestina sebagai pengungsi. Sebenarnya semakin banyak jumlah penduduk, semakin baik itu untuk gerakan non-kekerasan. Tapi bukan berarti bahwa dengan penduduk kecil kita tidak dapat melakukan perlawanan. Setiap orang punya hak untuk melawan, bahkan anak-anak punya hak untuk melawan orang tua mereka, jika orang tua itu melanggar hak-haknya. Mengenai Edward Said, ia memang pendukung perjuangan Palestina, tapi ia merasa bahwa kesepakatan Oslo tempo hari tidak adil bagi orang Palestina, dan bahwa dalam perundingan para pemimpin Palestina sudah terlalu banyak memberi, tapi menerima terlalu sedikit dari Israel. Edward Said itu teman saya, ia sangat tegar, dan ia merasa bahwa orang Palestina dengan perjuangannya seharusnya mendapat lebih banyak daripada yang diberikan kesepakatan Oslo. Irwan Firdaus: Saya ingin tahu tentang perkembangan terakhir setelah pertemuan kedua di Camp David. Sangat mengkhawatirkan bahwa kebanyakan kaum muda Palestina di daerah pendudukan mulai melatih diri menggunakan senjata. Semua itu hanya menciptakan masalah. Tapi agaknya sampai saat ini di Yerusalem, Tel Aviv dan juga Tepi Barat, suasananya masih tenang. Nah, bagaimana perasaan anda setelah bekerja dua dekade melatih orang tentang non-kekerasan, melihat kaum muda pendukung Al-Fatah melatih diri menggunakan senjata? Soal kedua, setelah perundingan kedua di Camp David, kabarnya Arafat akan memproklamirkan kemerdekaan Palestina pada tanggal 13 September. Apakah ini memang akan terjadi, dan apa dampaknya bagi gerakan anda, bagi kaum muda yang mulai menggunakan senjata dan juga bagi anak-anak yang hidup di kamp pengungsian? Mubarak Awad: Saya mulai dari pertanyaan pertama tentang kaum muda. Memang sangat menyedihkan bahwa Otoritas Palestina yang tadinya begitu menentang negosiasi dan metode non-kekerasan sekarang juga

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

59

menggunakan metode-metode itu, sebaliknya kaum muda yang awalnya menggunakan metode non-kekerasan justru mulai angkat senjata. Saya pikir ini terjadi karena kaum muda merasa frustrasi. Mereka tidak punya pekerjaan dan merasa bahwa masa depan mereka tengah dirampas sekarang. Tapi tidak semua kaum muda seperti itu. Memang ada beberapa yang mulai angkat senjata dan menjadi masalah besar baik bagi orang Palestina maupun Israel, begitu pula untuk proses perdamaian ke depan. Pertanyaan kedua mengenai Camp David. Saya pikir Arafat sudah benar dengan tidak mau menyerahkan sebagian dari Yerusalem, khususnya bagian Arab dari Yerusalem. Yerusalem memang bagian dari perjuangan Palestina, tapi ia juga merasa bahwa itu pada saat bersamaan adalah perjuangan rakyat Arab dan dunia Islam, sehingga tidak bisa mengambil keputusan tanpa berkonsultasi dengan kedua pihak itu. Tentang negosiasi yang lain-lain, saya pikir ia cukup berhasil khususnya soal pengungsi, air, batas-batas wilayah dan tentang pemukiman Israel. Tentang memproklamirkan Palestina sebagai negara merdeka. Saya tentu akan mendukung proklamasi itu tapi juga sadar bahwa akan banyak kesulitan sesudah itu. Orang Palestina tahu bahwa selama ini dunia Arab dan dunia Islam hanya memberikan lip-service saja. Mereka sama sekali tidak memberi service yang lain dalam perjuangan ini. Jadi kalau negara Palestina diproklamirkan, maka akan banyak frustrasi pada kedua belah pihak, maksudnya di pihak Palestina maupun Israel. Dan kita tidak tahu kartu apa yang akan dimainkan Amerika Serikat. Amerika Serikat memang penting dalam masalah Timur Tengah. Sekitar 80% pejabat pemerintah Amerika Serikat ada di pihak Israel. Jadi kalau Amerika Serikat bilang “jangan bikin proklamasi”, maka kita tahu bahwa dalam proklamasi itu juga akan menghadapi Amerika Serikat. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dari Amerika Serikat. Istri Clinton, Hillary, sekarang maju dalam pemilihan senat di New York. Ia perlu dukungan dari masyarakat Yahudi di sana. Clinton tidak akan kehilangan apa pun seandainya ia mendukung Israel 100% dan melawan orang Palestina. Sekarang ini ada ancaman dari Amerika Serikat yang akan memindahkan kedutaan besar untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem. Itu semacam pernyataan kepada dunia bahwa Yerusalem adalah ibukota Israel, dan menuntut negara-negara lain mengikuti mereka. Jadi kalau Arafat mengatakan bahwa kita akan memproklamirkan negara Palestina, saya yakin 90% penduduk dunia akan setuju dengan kami. Tapi yang kami perlu justru 10% sisanya itu, yakni Amerika Serikat. Moderator: Di sini ada Lennox Hinds juga dari Rutgers University. Ia seorang dosen hukum dan punya pengalaman luas di Afrika Selatan. Saya mau memintanya membuat komentar tentang gerakan non-kekerasan. Apa

60

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

saja pengalamannya dengan gerakan itu dan bagaimana pandangannya. Seperti kita tahu di Namibia dan Afrika Selatan ada gerakan bersenjata, begitu juga di tempattempat lain. Nah, apa pentingnya gerakan non-kekerasan ini? Apa konteks yang membuatnya muncul? Lennox Hinds: Terima kasih banyak. Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih atas kesempatan ini karena bisa bertemu dengan Mubarak yang pernah saya jumpai limabelas tahun lalu. Saat itu saya sedang berkeliling di daerah pendudukan dan Israel. Waktu itu kepala saya masih banyak rambutnya dan tidak pakai anting-anting, jadi mungkin dia sudah tidak kenal lagi. Tapi saya terus mengikuti karya-karyanya dan sangat menghormati kegiatannya, khususnya kegiatan di Palestina. Waktu saya bertemu dengannya gerakan Intifada sedang berkembang pesat. Saya juga mau berterima kasih kepada Dolorosa karena mengundang saya ke sini. Semalam saya hadir di pamerannya dan sangat terkesan oleh karya-karyanya. Karya yang lain juga menarik, tapi yang sangat mengesankan itu karya-karya tentang pembebasan perempuan. Ada tiga karya. Satu figur perempuan yang berdiri menantang dengan tangan terlipat, lalu ada lima figur perempuan yang lain. Dan ada patung tujuh perempuan berbaris. Satu di antaranya jelas sedang hamil, dan wajah mereka penuh penderitaan, tapi anda bisa lihat ada semangat solidaritas dan pemberdayaan di sana. Kehadiran saya di Indonesia, di samping karena Julia, juga karena Pramoedya. Saya pernah berjumpa dengannya saat ia berkunjung ke New York menerima sejumlah penghargaan. Saya sangat terkesan padanya, dan saya bertemu dengannya sebagai wakil tetap di PBB dari Perhimpunan Internasional Pengacara Demokratik. Sebagai seorang pengacara internasional, kami berupaya mendirikan pengadilan internasional bagi Soeharto. Dengan pembukaan seperti itu saya mau menanggapi sedikit masalah yang dibicarakan malam ini. Di samping mengajar hukum saya juga seorang pengacara praktek. Saya punya pengalaman langsung, setidaknya interaksi dan berpartisipasi dengan gerakan perlawanan pasif tanpa kekerasan dalam gerakan hak-hak sipil di Amerika Serikat. Saya bukan seorang pembela atau pun pemimpin gerakan perlawanan pasif. Selama era perjuangan hak-hak sipil saya bekerja dengan Kongres untuk kesetaraan ras, dan itu semua adalah perlawanan pasif tanpa kekerasan. Tapi saya dengan cepat pindah ke posisi pengacara yang mendampingi orang-orang yang didakwa melakukan kekerasan untuk perubahan sosial. Saya tidak bermaksud menyangkal teori dan praktek non-kekerasan, tapi sekadar menjelaskan hubungan saya dengan bermacam-macam gerakan ini. Dalam tigapuluh tahun terakhir saya menjadi pembela orang-orang yang didakwa melakukan konspirasi menggulingkan pemerintah Amerika Serikat dengan gerakan bersenjata. Salah satu klien saya adalah

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

61

Angela Davis dan ada beberapa lainnya. Salah satunya menjadi pelarian di Kuba. Saya pernah membawa petisi ke PBB dari tahanan politik di Amerika Serikat. Mereka ini mantan anggota Black Panthers. Saat bertemu Mubarak tahun 1985, saya baru memenangkan kasus membela delapan orang muda yang dituduh berkonspirasi menggulingkan pemerintah Amerika Serikat. Begitulah, sepanjang karir sebagai pengacara saya selalu membela orang-orang yang menggunakan kekerasan untuk tujuan politik mereka. Jadi awalnya saya terlibat dalam gerakan non-kekerasan merebut hakhak sipil tapi dalam tigapuluh tahun terakhir banyak mendampingi elemen-elemen paling radikal dalam masyarakat. Di dunia internasional saya bekerja untuk MPLA, SWAPO dan ANC. Saya mendukung PLO dan lebih penting lagi mendukung hak memberontak dalam hukum internasional. Memberontak terhadap penindasan bukan hanya hak tapi kewajiban. Tanpa keadilan tidak mungkin ada perdamaian. Saya mendukung garis itu, membelanya, menulis tentang itu, dan akibatnya nama saya masuk dalam file FBI dengan lima kategori: Pertama, ekstrimis hitam – saya tidak tahu apakah saya ini ekstrimis atau bukan, tapi saya pikir ini karena mereka menyamakan saya dengan orang-orang yang saya bela. Jadi ekstrimis, radikal hitam, komunis, simpatisan merah, dan sebagainya. Semacam indeks keamanan internasional. Jadi kalau anda kebetulan lihat dokumennya, maka terlihat kategorinya seperti itu. Dan setiap kali saya bicara di sebuah tempat, file itu akan ada tambahannya. Dan saya yakin setelah malam ini pun akan ada halaman baru di file mereka [tertawa]. Saya bukan mau menakut-nakuti, tapi sebagai seorang pengacara, anda tahu kerja dinas intelijen. Anda bertemu orang banyak dan berpikir mereka semua mendukung. Tapi tiba-tiba anda akan bertemu salah satu pendukung itu di ruang sidang memberi kesaksian yang memberatkan. Paling anda cuma bisa bilang, “Ya, ampun… saya kira…” Nah, begitulah pengalaman saya sebagai pengacara, sebagai aktivis, dan seringkali batas-batas ini menjadi kabur. Maaf kalau saya bicara terlalu panjang. Moderator: Baiklah, ada lagi yang mau komentar? Kalau belum saya coba lanjutkan dulu. Kalau melihat kasus Timor Lorosae, ada gerakan bersenjata di sana yang melawan pendudukan, tapi pada saat bersamaan ada gerakan rakyat yang juga melakukan perlawanan sehari-hari. Ada banyak bentuk perlawanan non-kekerasan, sama seperti yang dilakukan Mubarak di Palestina. Nah, apakah anda melihat non-kekerasan ini sebagai strategi yang berguna dalam konteks tertentu atau memang sebuah filsafat yang tidak bisa ditawar lagi? Saya hanya ingin tahu, apakah non-kekerasan itu sebuah strategi yang tepat untuk konteks tertentu, dan apakah kekerasan bisa dibenarkan dalam konteks yang lain? Atau apakah anda

62

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

percaya bahwa non-kekerasan itu satu-satunya metode yang tepat? Mubarak Awad: Saya pikir ada banyak orang yang yakin bahwa kekerasan akan membawa keadilan dengan cepat. Dan kalau ada kelompok yang saling bertikai seperti di Birma misalnya, atau ada penguasa militer atau kediktatoran yang menindas rakyatnya sendiri, kerusakan, pembunuhan, kematian dan bencana ekonomi yang ditimbulkan tidak hanya berlangsung setahun, tapi kadang-kadang bisa sampai lima tahun, sepuluh tahun, bahkan limabelas tahun. Lalu orang akan mengatakan, “untuk apa semua ini?” Orang Palestina juga berpikiran seperti itu. Gerakan baru kaum muda di Palestina sekarang, merasa bahwa orang Israel tidak akan mundur dari Lebanon Selatan, karena Hizbullah melakukan perjuangan bersenjata dan kekerasan. Lalu mereka mulai menghitung berapa orang Israel yang sudah mati, dan akhirnya memutuskan tidak ada gunanya bertahan di sana. Mereka pergi. Nah, banyak orang Palestina mengatakan, kalau Hizbullah di Lebanon bisa bersikap seperti itu, mestinya kita juga bisa berhasil. Jadi semua ini menjadi bagian dari strategi kekerasan. Tapi menurut saya dalam jangka panjang, jika tidak ada pertumpahan darah kita selalu bisa mendatangi musuh dan berjabatan tangan tanpa harus menunggu terlalu lama. Itulah strategi non-kekerasan. Moderator: Okay, ada pertanyaan lagi atau komentar? Saya mau minta kita berpikir tentang gerakan non-kekerasan di sini, di Indonesia. Kalau gerakan itu bisa dibangun, bentuknya kira-kira apa itu? Kita harus memikir tentang konteks Indonesia. Saya minta orang untuk komentar mengenai itu. Bukan hanya tanya sama Mubarak Awad mengenai Palestina, tapi juga bikin komentar saja. Pendapat kalian mengenai kekerasan atau non-kekerasan, bagaimana? Ada orang di sini yang suka kekerasan. Kita lihat film-film banyak penuh kekerasan. Ada enjoyment di situ, ya. Benar atau tidak? Ini memancing pendapat, ya. Atau non-kekerasan itu bagaimana? Mubarak Awad: Mungkin ada baiknya Nancy bicara tentang beberapa buku yang kami bawa, dan juga tentang apa yang kami lakukan di seluruh dunia dengan program-program kami. Mungkin teman-teman di sini tertarik dan mau bekerjasama dengan kami. Nancy: Selama ini saya terus bekerja dengan anak-anak. Sebagian besar ketika bekerja sebagai pegawai dan guru sekolah. Ketika Mubarak dan saya tinggal di Yerusalem, saya menjadi kepala sekolah untuk anak perempuan. Ada 550 anak perempuan, mulai dari taman kanak-kanak sampai kelas 12. Semuanya anak perempuan Palestina. Sekarang saya

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

63

bekerja di Washington DC dan lebih banyak bekerja di belakang komputer, dan salah satu proyek organisasi yang saya kerjakan adalah menerbitkan serial booklet tentang kaum muda dan masalah kaum muda secara internasional. Kami sudah menerbitkan enam buku. Saya bagikan saja agar semuanya bisa melihat [membagikan buku kepada peserta]. Ada buku tentang serdadu anak, buruh anak, perdagangan seksual anak, tentang anak-anak yang dipenjara, dan kaum muda yang diburu dan dibunuh. Satunya lagi buku tentang anak-anak dan HIV/AIDS, cerita tentang mereka yang sudah terjangkit dan terpengaruh, lalu anak-anak yang kehilangan orang tuanya karena AIDS. Buku terakhir dibuat untuk pertemuan Beijing +5 di PBB, mengenai diskriminasi anak perempuan, antara lain tentang perempuan yang disunat dan juga pembunuhan. Buku-buku ini saya tinggal di sini, tapi kalian juga bisa melihatnya melalui website. Kami mencoba mendidik masyarakat Amerika Serikat. Kebanyakan orang di sana hanya melihat masalah di lingkungannya sendiri, dan tidak melihat bahwa ada banyak masalah di seluruh dunia, dan bahwa ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari seluruh dunia. Jadi inilah usaha kami membuat penduduk Amerika Serikat menjadi bagian dari warga dunia. Buku tentang serdadu anak sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis, sementara perdagangan seksual anak sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Cina, dan booklet tentang HIV/AIDS diterjemahkan ke bahasa Vietnam. Ada satu lagi buku yang diterjemahkan ke bahasa Arab, tapi tidak saya bawa sekarang. Dan kami senang jika ada organisasi di sini yang mau menerjemahkan dan mendistribusikannya. Nah, ini buku lain lagi. Mubarak selalu membawanya ke mana-mana karena ditulis oleh putrinya sendiri. Buku ini ditulis dan diberi ilustrasi khusus untuk anakanak yang berbicara tentang hak-hak anak. Buku ini juga bisa dibacakan oleh orang tua untuk anak-anak mereka, tentang hak mempunyai nama, kebangsaan, hak atas pelayanan kesehatan, pendidikan dan seterusnya. Kami menerbitkan buku itu sebagai bagian dari perjuangan di Amerika Serikat. Kebanyakan orang di sana merasa bahwa anak-anak tidak punya hak. Jadi buku ini ditulis khusus untuk orang Amerika Serikat, tapi kelihatannya ada banyak orang di luar Amerika yang juga tertarik akan buku itu. Razif: Orde Baru itu dibangun oleh mekanisme kekerasan militer. Tapi setelah Orde Baru itu runtuh, ternyata kekerasan itu tidak berhenti. Hal ini mungkin sama dengan yang dikatakan oleh Mubarak mengenai intervensi Amerika, terutama dengan industri bantuannya yang beroperasi di Aceh dan juga beroperasi di Ambon. Industri bantuan ini kalau kita lihat lama-lama seperti bagian dari mekanisme kekerasan itu. Saya pikir itu komentar saya atas pancingannya John. Alit Ambara: Saya komentar atas pancingannya John juga. Saya kira kekerasan yang terjadi di Indonesia selama ini telah diromantisasi. Orang berbicara tentang kekerasan selalu merujuk pada ekspresi kebudayaan yang seolah-

64

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

olah memang penuh kekerasan, seperti permainan dan sebagainya. Nah, ketika gerakan non-kekerasan ditawarkan di sini, yang terjadi justru sebaliknya. Gerakan nonkekerasan cuma dilihat bentuknya saja, misalnya bagi-bagi bunga, tapi pemikirannya tidak. Memang penting bagi kita untuk belajar tentang mentalitas bangsa. Apa benar masyarakat ini keras, seperti digambarkan Clifford Geertz ketika bicara tentang Bali? Pemikiran ini rasanya sudah masuk ke dalam kesadaran, sehingga terlihat bahwa masyarakat memang suka kekerasan. Kembali ke gerakan non-kekerasan, saya pikir pemikirannya itulah yang paling penting disebarluaskan, agar kita tidak hanya mengambil bentuknya saja. Mubarak Awad: Biasanya kita berpikir tentang gerakan non-kekerasan kalau sedang menghadapi masalah. Sebenarnya sangat penting untuk mulai bekerja, membangun NGO, memperluas jaringan justru saat tidak ada masalah. Kita harus kenal polisi, angkatan bersenjata, orang pemerintah. Berkunjung ke tempat mereka, menulis surat, kenalan dengan anaknya, apa sajalah. Nah, kalau situasi atau masalah itu datang, kita sudah lebih siap karena kenal semua orang. Ika: Saya hanya memberikan komentar saja mengenai masalah gerakan anti-kekerasan ini. Kalau saya pikir di Indonesia sendiri sudah ada lembaga-lembaga hak asasi manusia. Tapi saya sendiri melihat badan itu tidak bergerak seperti yang kita inginkan. Seperti sekarang ini, mahasiswa sudah melakukan gerakan non-kekerasan, dengan memberikan bunga di jalan. Tapi saat mahasiswa melakukan itu ada juga yang memasuki gerakan itu dengan kekerasan. Jadi saya rasa susah untuk mulai melakukan gerakan anti-kekerasan itu. Maka untuk itu saya rasa kita harus mulai bersama-sama, karena dalam hal ini pemerintah sendiri sebenarnya tidak seluruhnya mendukung untuk mengatasi halhal semacam itu. Nah, pemerintah sendiri kayaknya diam saja, tidak memberikan sambutan yang baik untuk gerakan anti-kekerasan ini. Walaupun mereka tahu, mereka diam saja. Jadi bagaimanapun saya rasa agak sulit untuk mengatasi hal semacam itu. Mubarak Awad: Ini masalah menarik. Memang saat kita melancarkan gerakan nonkekerasan, kita berharap lawan kita tidak menggunakan kekerasan. Itu bagus saja, tapi tidak selamanya benar. Namun, kalau bicara pemerintah Indonesia sekarang, sebenarnya presiden itu [Gus Dur] orang yang tahu persis apa itu gerakan non-kekerasan. Ia tahu apa artinya, ia tahu apa kekuatannya, dan ia sering hadir dalam konperensi mengenai nonkekerasan. Dan bukan hanya dia. Waktu ada konperensi di Washington DC, saya pikir ada tiga menteri lain yang hadir dan bicara mengenai

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

65

non-kekerasan. Jadi sebenarnya ada perhatian dari pihak mereka. Hal lain yang menurut saya penting, kadang kala orang merasa tidak berdaya, tidak mampu berbuat apa-apa. Saya tidak setuju karena seseorang itu bisa melakukan banyak hal. Kalian punya kekuatan di dalam diri untuk digunakan. Kalau bertemu mahasiswa, temui dan bicaralah. Kalau bertemu anak-anak, temui dan bicaralah. Lalu bikin aksi, sebanyak mungkin. Kalau bertemu orang miskin, sudah jelas mereka perlu bantuan. Kita perlu membentuk kelompok untuk memberikan bantuan. Non-kekerasan bukan hanya perjuangan melawan ketidakadilan politik, tapi juga ketidakadilan sosial. Dan dengan begitu kita akan mampu menggalang kekuatan. Pertemuan kita ini juga bagian dari aksi itu, sangat indah. Saya pikir akan baik sekali kalau kalian mulai berpikir tentang sesuatu yang dapat dikerjakan untuk masyarakat, di mana saja. Misalnya 50 orang berkumpul lalu memutuskan bahwa besok setiap orang akan menanam sepuluh pohon atau menanam bunga di pangkalan militer. Kita harus melakukan sesuatu, kita harus mau berkeringat, membuat tangan kotor. Dan itu semua bagian dari gerakan non-kekerasan menurut saya. Moderator: Saya kira dari penjelasan mengenai gerakan non-kekerasan seperti itu, jelas sudah ada gerakan non-kekerasan di sini. Ada SIP (Suara Ibu Peduli), ada gerakan petani untuk mengambil tanah, dan banyak orang di Indonesia tidak pakai kekerasan untuk minta keadilan. Mungkin kita harus pikir lebih mendalam bagaimana kita bisa membangunkan apa yang sudah ada di Indonesia, supaya itu bisa lebih canggih. Kita bisa melihat apa yang sudah ada di sini, supaya kita bisa bikin gerakan dan ideologi gerakan, strategi gerakan yang lebih developed. Itu komentar saya. Ada komentar lain? Emigo: Pertanyaan saya singkat saja. Apa yang Mubarak tahu tentang kekerasan di Indonesia, dan kalau teori anda mau diterapkan di sini, dari mana harus mulai? Mubarak Awad: Saya tidak tahu banyak tentang Indonesia maupun kekerasan yang terjadi di sini. Tapi sebenarnya orang Indonesia itu tidak beda jauh dari orang Palestina. Kita semua manusia. Kalau kita berpegang pada prinsip itu, artinya tidak ada orang yang sejak lahir sudah senang kekerasan. Kekerasan biasanya datang pada kita, kita belajar kekerasan dari orang tua, atau masyarakat di sekeliling kita. Tapi sebagai manusia, kita bukan mahluk penuh kekerasan. Jadi tidak peduli kebangsaan atau agamanya. Hal penting menurut saya bagi Indonesia adalah perlunya indidivu berhak untuk memerintah dirinya, dan juga punya suara dalam pemerintahan.

66

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Dan kalau ini dirampas, maka hasilnya adalah kekerasan di mana-mana. Kita harus mulai dari mana, itu pertanyaan kedua. Pertama, kita punya semua deklarasi hak asasi manusia. Sederhana saja. Lalu kita harus memahami konsep kekuasaan, karena kalau orang sudah berkuasa maka biasanya jadi serakah, korup, menganggap dirinya dewa, memberi perintah seenaknya tapi tidak mau dengar orang lain. Itu bukan hanya di sini. Di mana-mana kita melihat itu. Yang perlu kita tangani adalah memastikan bahwa mereka yang bekerja dalam pemerintah memang melayani rakyat, bukan berkuasa atas rakyat. Moderator: Saya pikir sudah waktunya mengakhiri diskusi. Saya pikir komentar terakhir dari Mubarak dengan abstraksi filosofis demikian, sudah merangkum segalanya, dan memberi perspektif yang jelas bagi diskusi kita malam ini. Kita masih bisa terus ngobrol seperti biasa. Saya berterima kasih kepada Mubarak Awad dan Nancy yang hadir di tengah kita malam ini, yang sudah berjuang – tanpa kekerasan – untuk bisa datang ke sini [tertawa]. Dan saya juga mau berterima kasih kepada kalian, kepada Nancy dan karyanya di tengah anak-anak untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik. Dan juga kepada Mubarak Awad dan pekerjaannya di Non-Violence International. Kalau masih ada yang mau tanya, bisa langsung ke Mubarak. Lennox juga masih ada di sini. Alit Ambara: Terima kasih kepada Mubarak, Nancy dan Lennox. Juga kepada Fay yang berjuang menerjemahkan dan kepada Gung Ayu yang mengatur kedatangan Mubarak ke sini. [tepuk tangan meriah]

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

67

14 AGUSTUS 2000

Gegenjekan di Bali dan Pendekatan Antropologi
Narasumber: John MacDougal, Kandidat Doktor Antropologi pada Princeton University, New Jersey, AS. Moderator: Alit Ambara.

Seperti apa kebudayaan Bali dewasa ini? Brosur dan buku turis masih menyajikan citra yang hanya menguntungkan industri turisme: sebuah surga dengan daya magis bagi mereka yang lelah oleh hiruk-pikuk kehidupan modern dan ingin mencari jati dirinya. Di tengah gemerlap pariwisata yang mulai pudar dan memasuki krisis, ada banyak ekspresi kebudayaan lain yang tumbuh di Bali dan tidak diperhatikan sungguhsungguh oleh para peneliti. Dbp. memilih tema ini setelah 3 orang kawan JKB bertemu dengan John MacDougall di sebuah konperensi Antropologi di Denpasar, Bali, Agustus 2000. Kami melihat penelitian yang dilakukan John MacDougall tentang gerak gegenjekan di Bali cukup penting untuk memberi gambaran lain tentang kebudayaan Bali. Genjek adalah ekspresi kultural yang menantang seni adiluhung-pariwisata dan sekaligus mengungkap masalah-masalah sosial, dari putus cinta, kemiskinan sampai politik Orde Baru. Di dalam gegenjekan ini John melihat adanya kekuatan baru yang tidak terlihat karena perspektif antropologi yang konvensional-konservatif selama ini. Diskusi ini berlangsung cukup meriah karena John memperdengarkan beberapa contoh musik gegenjekan melalui tape. Selain itu, banyak peserta yang terlibat dalam kegiatan membangun kebudayaan alternatif mencoba mempertajam analisis John dengan mempertanyakan apakah kegiatan kesenian ini mempunyai daya resistensi yang cukup kuat untuk mendorong perubahan sosial di Bali. John ternyata tidak melihat kesenian ini sebagai upaya perlawanan, tapi lebih sebagai cara untuk melepaskan ketegangan dari tekanan hidup sehari-hari

Moderator: John adalah kandidat doktor antropologi dari Princeton University, yang sekarang tinggal di Bali. Beberapa waktu lalu bersama Alex Edmonds pernah membuat video dokumenter dengan judul “Satan in Paradise” tentang turisme, kelompok-kelompok musik death metal dan gegenjekan dan black magic di Bali. Malam ini dia akan bicara tentang gegenjekan yang sangat populer di Bali. Silakan, John. John MacDougall: Sejak tahun 1995 saya mulai meneliti gegenjekan sebagai sebuah tradisi, walau tiga tahun terakhir saya lebih banyak bekerja di Lombok. Sebenarnya gegenjekan tidak terlalu tepat disebut tradisi lisan, dan saya agak kesulitan juga menjelaskan istilah itu. Jadi, mari kita diskusi untuk sama-sama mencari definisi yang lebih mewakili. Mohon maaf kalau bahasa Indonesia saya kurang fasih. Saya akan berusaha menerjemahkan pikiran-pikiran yang agak kacau ke dalam bahasa Indonesia yang lebih bersih dan mudah dimengerti. Semuanya dimulai dari populisme pemuda Bali pada akhir 1990-an.
Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

69

Hingga sekarang belum ada pendekatan teoretik, fenomenologi atau wacana yang bisa menangkap kesinambungan antara aneka ragam peristiwa budaya dan politik yang memaksa masyarakat Bali, masyarakat Indonesia untuk saling berhadapan. Dibanding masa sebelumnya, di tahun-tahun ini kita menyaksikan pesatnya perkembangan politik antar partai, mobilitas preman, kehadiran pengungsi di kampung halaman orang atau kepenuhan panca indera akibat media massa. Semua ini telah menarik massa “bersih politik” Bali ke dalam keterpecah-belahan yang sangat sulit dipahami atau pun diteliti. Penelitian standar mengenai Indonesia sayangnya belum memberi kita bantuan yang berarti. Selama literatur tentang kehidupan di Bali memaksa kita untuk menghadapi suara sunyi kebudayaan, sejarah Orde Baru dan penelitian yang dilahirkannya. Banyak suara sunyi ini dilestarikan oleh para peneliti agar dapat melanjutkan studinya dan karirnya di Indonesia. Seperti kita ketahui, pembicaraan tentang kasta atau pembantaian G-30-S/PKI sering dihadapi dengan muka seram, kebungkaman atau perubahan topik secara mendadak. Penelitian yang sanggup mengungkap kekerasan G 30 S PKI atau kekerasan militer Orde Baru menempatkan peneliti pada posisi yang sulit pula. Dia harus memilih untuk mengekspos atau menutupi kelakuan mayoritas orang Bali dan generasi yang berkuasa hingga kini. Orang-orang ini bukan hanya menjadi pegawai negeri, tapi juga kelian banjar, hansip dan kadang kala kawan. Jadi, kalangan kritis banyak yang mencari ruang sah untuk melemparkan kritik melalui topik “modifikasi budaya Bali”. Kami bersandar dengan enak pada kritik dari aliran politik Marxis. Pada waktu itu tidak muncul kajian sosial mengenai struktur kemiskinan atau mengenai kriminalitas karena topik itu terlalu berbau empirisisme, berbau politik praktis yang naif, jargon-jargon keaslian, mengenai politik yang asli dan ritual yang asli, politik yang asli bla-bla-bla mensahkan partisipasi oleh semua kalangan, termasuk pemerintah. Namun harus diakui fungsi politik keaslian dirumitkan oleh benturan ekonomi ritual yang mungkin unik di Bali. Kapitalisme pariwisata Bali ikut menggiatkan ekonomi pertukaran yang ada dalam ritual Bali, dan dengan cara itu menciptakan “prestasi total”, maksudnya pengeluaran uang secara habis-habisan tapi sekaligus penumbalan dan komoditas, ungkapan sosial dan pentas: suatu karnaval pengungkapan keakraban dan pengasingan makna sosial pada hal yang sama. Ritual megah menjadi trendy dan dilaksanakan tiap tahun dan dikaji baik oleh orang Bali maupun orang asing. Ada juga pemberdayaan philantropic yang menaruh perhatian pada seniman tua seperti Ida Bagus Made Poleng. Made sebagai pakar pelestarian seni membelokkan perhatian peneliti dari apa yang sedang dibelokkan oleh orang Bali. Jika dia membahas konflik kekerasan, ingatannya dan peristiwa-peristiwa politik yang hadir justru tak nampak Beberapa peneliti mencoba membicarakan makna kebisuan secara budaya politik dan cara pengutusan kebisuan itu pada hubungan orang Bali dengan rezim wacana negara dan wakil lokalnya. Makalahnya Hendrik Gates “Teater Kekejian” dan essay-nya Degung Santikarma “Koh

70

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Ngomong” adalah dua contoh yang baik, membahas sikap populer orang Bali terhadap kekuasaan dan politik dalam era sejarah yang sangat berbeda. Makalah Gates menjelaskan penyiksaan pada sekelompok orang politik pada awal tahun 1950-an oleh kelompok politik dominan, yaitu bangsawan dominan di salah satu desa di Bali Tengah. Degung Santikarma menjelaskan koh ngomong, suatu ungkapan populer anak muda di Bali. Koh berarti suatu kelesuan dan ngomong berarti bicara, seperti dalam bahasa Indonesia. Tapi koh ngomong itu kemudian menjadi jawaban terhadap wacana-wacana negara. Misalnya begini. Tanah bapak diambil. Lalu saya datang dan bilang, “Bagaimana, saya mau beli tanahmu Rp 100 ribu per are.” Lawan bicara menjawab, “Koh ngomong,” artinya “lesu hati saya bicara”, tapi maksud sesungguhnya “untuk apa saya bicara dengan kamu”. Jadi, diusir begitu saja. Dan itu menurut Degung adalah kebisuan sebagai kekuatan perlawanan. Kedua makalah ini menghindari pendekatan konvensional, dan mencari gema-gema sosial yang ada dalam bahasa populer, dengan meneliti ungkapan agama, politik ritual dan psikologis dalam sebuah peristiwa atau masa. Nah, coba kita lihat masa sekarang. Apa yang diciptakan oleh reformasi dan apa yang tersisa dari Orde Baru? Ini mungkin pertanyaan awal dan mungkin juga pertanyaan yang terlalu umum. Sekarang, pada awal era reformasi ini, kita dibekali gejala-gejala sosial baru tanpa ke-tunggal-an. Kekuasaan yang heterogen atau aneka ragam telah muncul dan membuat ruang dimensi sosial baru, mendorong praktek-praktek yang dulu berada di bawah tanah ke permukaan, tapi sekaligus memperlihatkan praktekpraktek Orde Baru di balik layar bersama kekuasaan dan sarana untuk menyalurkannya. Bagaimanapun kemegahan negara imajiner Orde Baru, orang tetap mendengarnya dalam hubungan sosial, gaya bahasa dan wacana yang menandakan kemodernan. Rezim wacana negara telah memasuki semua dimensi sosial kehidupan orang Bali, tapi dalam praktek sosial terucap cara yang tidak lazim, atau dalam bahasa jazz yang sengaja tak seirama. Pada akhir masa Orde Baru mulai muncul gaya sosial tandingan di Bali, seperti kampanye politik, penentangan upacara-upacara besar yang dilakukan oleh kalangan bangsawan, munculnya pecalang – mungkin siskamling kalau di Jakarta – dan gegenjekan. Praktek-praktek ini menangkap dan menolak rayuan terselubung dalam wacana negara dengan gaya jago-jagoan dan ungkapan yang dirancang untuk mengasingkan kekuatan pengasingan Orde Baru. Jadi dia mengasingkan wacana Orde Baru yang mengasingkan dirinya. Alat atau wacananya kelihatan begitu dangkal dan dungu. Dengan gaya pentas seperti ini gegenjekan mengisahkan wacana Orde Baru sebagai sesuatu yang hampa, kekanak-kanakan tapi terlalu sungguh-sungguh. Orde Baru dan kecengengan kelas menengah Bali muncul pula dalam estetika “ketunggalan negara”, dan di bawah sinar gerakan seperti genjek mulai tampak memuakkan. Mulai timbul rasa muak yang

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

71

melegakan. Jadi, bagaimana kita melihat periode ini, di mana yang di bawah tanah berada di atas panggung, di mana bayang-bayang telah berbentuk dan rahasia umum menjadi fakta dan bukti? Gegenjekan berasal dari bahasa Bali, artinya kurang lebih parodi, tapi tidak ada padanan yang tepat. Genjek tidak ada miripnya dengan seni panggung Bali yang sudah distandarisasi untuk industri pariwisata atau pentas lainnya. Dari Karangasem, Jembrana, di pesisir Bali Utara, grup-grup gegenjekan berkumpul dan minum tuak, menyanyikan lagulagu yang mengisahkan putusa cinta, gagal mencari pendidikan, reformasi dan harapan yang digugurkan penguasa – penguasa ini bisa saja penguasa di Jakarta atau tetangganya sendiri, pendeknya siapa saja. Lagu-lagu itu kemudian ditarikan dan disambut yel-yel oleh kelompok laki-laki yang saling gesek dan sindir. Mereka melingkari ember tua, sambil menari memegang gelas dan bergilir dari satu penyanyi ke penyanyi lain mengisi panasnya persuasi dengan kenyaman tuak. Nyam itu berarti dingin tapi juga berarti gila. Itulah perasaan yang muncul pada waktu orang minum tuak, mungkin. Saya pernah menjadi nyam juga dan menari yang jauh dari halus. Tarian genjek ini lebih mirip ngibing-nya joged. Dengan gerakan dan yel-yel yang menghentak, genjek menangkap dan mengucapkan dadakan atau perasaan spontan dan cerdas. Perasaan dadakan ini menyalurkan ketegangan dalam persuasi yang digarap bersama teman-teman senasib, biar cuma sesaat. Setelah bergaul dengan pemuda genjek yang gondrong dan bertato di pesisir Karangasem, saya dan beberapa teman Bali di Denpasar mencoba membuat film mengenai gegenjekan dan perlawanan populer pada musim kemarau tahun 1997. Tahun itu penting karena menunggangi momentum pasca-pemilu, Golput dan kekerasan khas Orde Baru, yang dimulai dari peristiwa 27 Juli 1996. Di Bali tahun 1996 tidak hanya ditandai munculnya teror baru, maraknya popularitas PDI-P, tapi juga membuka peluang populerisasi gerakan pemuda dengan yel-yel gaya baru, atau gegenjekan. Dari November sampai Desember 1996, harian Bali Post jadi penuh dengan polemik, di satu sisi elite budaya perkotaan Bali menentang pencemaran tradisi pasca-panen a la pedesaan, yaitu gegenjekan. Pak Wayan Bandem, ketua STSI waktu itu menentangnya dan berharap anak-anak lebih banyak bermain saja. Seolah mengatakan, “kenapa kalian tidak ke mall saja seperti ABG lainnya?” Jawaban anak muda waktu itu setengah menyindir atau mengejek, “Kami sedang melestarikan budaya kita.” Kaset genjek menjadi semakin populer, dijual, diputar dan ditiru hampir di seluruh Karangasem, Buleleng, dan jalur wisata Bali dari Ubud sampai Kuta. Mereka menyanyikan genjek klasik seperti “Adi Ayu”, lagu yang menyesali patah hati akibat kawin paksa, atau “Edi Bungsil” – sebenarnya

72

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

yang dimaksud Eddy Tansil – “cenik mapecik” anak muda yang mau jadi wartawan. Ada genjek transmigrasi, dan ada juga genjek stress. Lagu-lagu seperti ini ditiru dan dipentaskan dengan gaya semi-jagoan baru Bali. Kadang ada improvisasi dengan adegan jorok-jorokan. Lagu-lagu dadakan ini juga disusupi gaya setempat. Saya pikir gaya setempat juga muncul sebagai jawaban terhadap tantangan bagi genjek untuk mencari yang spontan, dadakan, jadi tidak hanya asal tiru saja. Mungkin bagian teorinya bisa kita bahas nanti. Dari pengamatan awal ini dengan melihat debat-debat di Bali Post dan pentas yang kami hadiri, ikut genjek serta wawancara dengan penyanyi genjek, banyak pertanyaan yang muncul dan hanya beberapa yang sanggup saya jawab. Dari semua pertanyaan ini yang paling saya pikirkan adalah: bagaimana gegenjekan yang merayakan kegagalan melalui stress dan cinta tidak terwujud atau mimpi menjadi orang kaya di kota itu, mengungkapkan dan menggerakkan birahi sosial-politik dan ketegangan yang dirasakan oleh pemuda-pemuda Bali pada akhir 1990an. Gegenjekan sebagai sebuah performance atau gaya pentas adalah gerakan yang nikmat bagi yang menyanyikannya, seperti blues di Amerika. Lagu-lagunya menyanyikan kehampaan atau sesuatu yang tidak ia miliki. Kalau di Bali, mungkin karena kedudukannya dalam jajaran status masyarakat, penyanyi-penyanyi gegenjekan merindukan keberuntungan. Jadi seolah-olah genjek menjadi nyanyian terhadap kematian, keberhasilan dan pembangunan. Kehampaan ini punya dimensi pula dan inilah yang akan saya jelaskan. Saya menggunakan “dimensi” karena istilah seperti ini menceritakan ruang dan juga wacana yang bersifat emosional atau ideologis. Dimensi ini mencakup semua unsur. Tapi dalam gema keakraban antara dimensi emosi ruang dan politik penyanyi genjek, kita menemukan pencarian dan kepuasan, walaupun kepuasaan sesaat dari kehampaan itu. Jadi koordinat dari kehampaan ini ada dalam lagu-lagu genjek. Kekerasan dalam gerakan genjek khususnya bisa ditelusuri pada sejarah praktek-praktek sosial dan mobilitas masyarakat pekerja Bali yang berasal dari Karangasem dan Buleleng. Inilah yang menjelaskan mengapa munculnya pada akhir 1990-an. Sejak meletus Gunung Agung pada tahun 1993, penduduk dari wilayah Bali Utara bermigrasi atau pindah ke Bali Selatan mencari pekerjaan kasar, pendidikan atau kehidupan baru. Sekarang pada tahun 1990-an kita masuk pasar, kebanyakan pedagangnya bukan dari Karangasem. Pada awal pembangunan besarbesaran Bali Selatan hampir semua tenaga kerja kasar berasal dari Karangasem dan Buleleng, termasuk pembantu rumah tangga, buruh pasar yang berusaha memenuhi kebutuhan mereka dengan cari makan pada kelas menengah Bali yang muncul begitu subur pada tahun 1990-

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

73

an. Dari sudut pandang pekerja Karangasem dan Buleleng, migrasi ke Bali Selatan, Denpasar atau Kuta adalah perjalanan jauh. Dalam perjalanan itu sudah terpahat sebuah dimensi ruang yang penuh birahi mendapat keberhasilan, dan juga kegagalan kalau akhirnya dia kembali ke desa. Jadi dimensi ini bisa kita lihat dalam wacana lagulagu mereka. Sejak tahun 1992 setiap malam Minggu grup-grup gegenjekan tidak hanya kumpul di kampung halaman mereka, tapi juga Kuta, Sanur di mana mereka mencari buruh, atau di mana mereka mencari pedagang acung di pinggir pantai. Di sana mereka mengumpulkan uang dan pengalaman, lalu menemukan blues baru, suatu warna biru yang dimiliki oleh kebanyakan orang Bali yang tidak ikut menjadi kaya karena pariwisata. Saya akan bacakan teks sebuah lagu, Tidak terfikir oleh kakak ingat akan diri adik sekarang Sekarang kita saling ketemu kakak sama adik di pesisir Baru kakak panggil adik datang sambil tersenyum manis lalu sama-sama ngaku saling rindu lama tidak bertemu Semoga saja bli ada jodoh dengan adik Mari kawin sama kakak pada saat manis galungan Adik, bingung sekali kakak saat ini Kakak mendengar berita akan diminta lagi tiga hari Yang meminang adalah sepupumu Ke sanalah adik melangkah dan jangan lagi menoleh ke manamana Baik-baik engkau melangkah Lalu, lagu “Bli Bagus” Janganlah kamu menyesali, karena sudah jalan saya dijodohkan bapak-ibu Tidak ada hal yang perlu saya bicarakan padamu Jangan kakak ngambek, saya bukan satu-satunya perempuan di sini Masih banyak bintang di langit Lalu, lagu “Sang Primadona”, cerita tentang gadis cantik perawan desa yang punya cita-cita jadi sarjana. Sebenarnya tidak punya ijazah, pergi ke kota mencari kerja dan menjadi pelayan toko Banyak orang-orang muda dan tua saling mendahului tapi malang nasibnya terlunta-lunta lalu sekarang jadi primadona.

74

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Dalam lagu-lagu tadi saya tidak menjelaskan ada letupan-letupan suara yang justru menjadi jawaban dari dimensi-dimensi yang saya bahas tadi – yang dibicarakan. Banyak suara ini muncul dari peperangan antara Bali dan Lombok, pada waktu penjajahan Bali terhadap Lombok, di mana masyarakat miskin dari pegunungna dibawa ke Lombok, sebagai kawula atau budak, atau jadi orang panggilan yang harus ikut perang dengan raja Karangasem pada waktu itu. Ini beberapa bekas dan gema yang ikut menyumbang makna pada ungkapan pemuda-pemuda Bali yang menyanyikan genjek. Mirip seperti blues di mana laki-laki tidak bertempat tinggal atau tanpa kampung halaman mulai menyanyikan kehilangan ideal yang romantis. Lagu pertama mengungkapkan rasa rindu, sebuah dialog antara dua pekerja desa yang sama dan tidak bisa mengaktualisasikan cintanya karena mereka hanya bisa menikah kalau kembali ke desa mereka pada waktu Galungan, musim klasik untuk menikah bagi orang Bali. Namun masalahnya mereka tidak bisa membiayai upacara sebesar itu, jadi hanya membayangkan betapa indahnya kalau pulang kampung dan menikah. Lagu kedua mengisahkan kehilangan cinta karena keluarga perempuan mau menguatkan keturunannya dengan pernikahan dalam keluarga. Kedua lagu itu lebih bisa dimengerti kalau kita tanya salah satu penyanyi yang tadi saya kutip, teman saya yang namanya Gede. Ia menjelaskan kalau ada orang meninggal di desanya, biasanya perempuan membawa beras dan bahan masakan dan laki-laki menyusul dengan tuak dan sate untuk makemit. Biasanya di Bali sebelum jenazah dibawa ke kuburan mereka harus berdiam semalam, begadang semalam untuk menjaga jenazah dari leak atau roh-roh yang bisa mengganggunya. Rohroh ini hanya bisa mengganggu yang ada di sekitarnya dengan memasuki emosi orang yang menjaganya, dengan kemarahan, rasa cepat tersinggung. Teman saya bilang waktu mereka begadang, mereka harus hati-hati agar tidak met. Met itu artinya malas atau bosan. Dan kalau ada orang yang bosan, orang bisa bicara apa saja. Misalnya, “Apa bukan kamu yang kemarin mengganggu kakak saya di sungai?” Nah, untuk menghindari argumen atau pertengkaran seperti itu kita menyanyikan genjek, dan saat itulah kita merasakan persuasi muncul, “saya tidak punya uang, tidak punya pekerjaan, tidak punya masa depan”, dan kita meneriakannya dalam lagu. Kalau orang yang punya massa di rumahnya, kita selalu bisa melihatnya genjek. Dia bernyanyi sekuat tenaga dan mencemplungkan diri ke dalam lagunya, ke dalam gerakan genjeknya seperti yang baru kita dengar. Mereka tidak menggunakan lagu atau lirik khusus. Jawaban-jawaban Gede itu secara tidak langsung membantu kita melihat dimensi teoretik dari genjek, supaya kita tidak melihat genjek hanya sebagai satu fenomena sastra lisan yang muncul pada akhir Orde Baru. Tapi justru kita melihat bagaimana

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

75

dia mengisahkan birahi-birahi baru yang muncul antara masyarakat yang sedang dimobilisasi untuk kebutuhan pasar. Genjek menjadi kebutuhan mereka yang tidak punya pendidikan, tidak punya pekerjaan. Birahi-birahi yang muncul pada tahun 1990-an, saat Bali begitu kaya sementara masih banyak orang miskin terutama di wilayah Karangasem dan Jembrana. Pendekatan-pendekatan yang saya gunakan adalah pendekatan psikologis yang lebih banyak melihat bagaimana birahi harus selalu mengambil obyek. Tapi birahi ini sedikit manja, tidak puas dengan obyek ini-itu dan bisa mengambil apa saja menjadi obyek dan kapan saja. Birahi itu seperti mengambil kepuasan sebentar dengan membahas apa yang tidak bisa diperoleh, menyanyikan yang tidak bisa diperoleh, seperti perempuan yang diambil dan seperti lagu yang baru saya ceritakan tadi. Tapi sebaliknya juga kelihatan seperti mimpi buruk di mana birahi itu tidak dapat disentuh, tapi selalu dicari. Gegenjekan mengilustrasikan dimensi-dimensi birahi atau pinggiran-pusat, militer dan sipil, elite dengan kelas pekerja. Setelah tahun 1996-97 muncul lagu-lagu baru yang mengisahkan negara, militer, elite yang menolak terwujudnya birahi pemuda-pemuda yang mencari kerja dan identitas pada akhir 1990-an. Saya akan bacakan syair lagu “Uya Tibum”: Setiap sore I Galuh bergegas pergi menjajakan kue menyusuri trotoar Berkeliling gendong anaknya yang masih kecil Anaknya menangis melihat dagang mainan Mau beli balon dengan boneka yang berbunyi Sedang ramai orang berbelanja ada petugas yang datang I Galuh lari anaknya nangis di jalan Dagangannya bergeletakan kena tendang Pedagang mainan bergenggong tanpa bisa berontak Pandang-pandang meletus balon semua “dar!” Lacur miskin anak ini, memang miskin Kepung tibum dikejar tibum Maaf demi keamanan, kenyamanan dan keindahan Seperti kita sadari pada akhir 1990-an di Bali banyak pasar senggol atau pasar malam yang ditutup untuk mewujudkan “sapta pesona”. Pasarpasar dibersihkan untuk pariwisata supaya investor dengan modal besar bisa membuka “pesona” mereka kepada turis yang biasanya suka makan di senggol-senggol seperti itu dan berbelanja di pasar biasa. Jadi karena mereka tidak mendapatkan bisnis, mereka memaksa petugas untuk menutup pasar senggol dan pasar biasa. Saya pikir lagu ini cukup kaya menggambarkan bagaimana masuknya negara menyusup dalam
76
Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

kehidupan sehari-hari, pada pedagang biasa seperti I Galuh, yang mensimbolkan deflasi ekonominya. Juga deflasi balon yang ditaksir anaknya. Jadi simbol-simbol seperti ini yang sering dinyanyikan dalan gegenjekan. Balon yang ditaksir oleh si anak mewakili pengempesan daya atau kemungkinan untuk berhasil para pedagang di Bali pada waktu itu. Setelah Suharto turun tahun 1998 gegenjekan mulai mengambil kelokan yang lebih radikal. Gegenjelekan pindah dari banjar ke posko PDI-P. Pada album “Genjek Direformasi, Hidup Mega!” kita mulai melihat kritik terselubung menjadi lebih jagoan, dalam bentuk pecalang atau pemuda banteng yang punya lawan. Dalam bahasa Bali, “acung” atau menyombongkan diri dengan sengaja, dengan tujuan tertentu dan obyek tertentu pula. Seperti lagu “Kalikali zaman Orba”: Ini cerita waktu zaman Orba bekas prajurit perang menjadi pejabat pejabat tinggi punya gigi taring punya gigi, garis tangannya sangatlah berarti tanda tangan sekali hasilnya jutaan orang punya uang teman berbisnis dan dari kelas rendah sampai punya Bakrie lupa akan sumpah jabatannya penting uang sogokan rambutnya semakin tipis, dompetnya semakin tebal. Zamannya sekarang telah berubah zaman reformasi sekarang zaman perubahan salah tidak jujur sekarang dituntut mundur selesai saja ditindih dengan jabatan lebih baik pulang menghitung dosa jangan lagi mengarang alasan biarpun bagai mana semua tahu jangan lagi mengulur-ulur waktu diri sudah tidak laku lagi serahkan jabatan fasilitasnya kembalikan Saudara-saudara semua, rapatkan barisan jangan satu langkah kalian mundur pukul semua gendang untuk mengusir semua budakala-budakala korupsi dan kolusi ini Pemuda di Bali usia 17-20 tahun biasanya bertugas mengusir buthakala-buthakala dalam upacara, seperti mengorbankan hewan untuk memberi makan kepada buthakala supaya bisa terusir. Dia tidak bisa diusir begitu saja, tapi harus diusir oleh gendang, dan anak muda yang bertato, kekar dan gondrong itu yang mengusirnya. Simbol
Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

77

buthakala itu kemudian diganti dengan dimensi sosial politik yang sangat umum waktu itu. Tapi bagaimana kita mengkaji anak muda yang melagukan perasaan dan frustrasi yang mereka rasakan waktu itu? Mungkin ada beberapa tafsiran yang saya pikir membantu kita untuk mengerti apa yang terjadi waktu itu. Saya melihat ada pemisahan kelas, tapi ada juga masalah produksi dan konsumsi. Di Bali ada dua cara menyebut kotoran. Kata itu bisa berarti kotoran tapi bisa juga bunga dari uang. Jadi kalau gegenjekan, kalau ada teman membuat lingkaran dan menyanyikan genjek mereka mengganggap semuanya sama rata, walaupun ada yang dari kasta brahmana dan yang lain lebih rendah. Semuanya sama rata, tidak ada tinggi, tidak ada rendah, dan itu berarti sama-sama kotornya. Inilah cara untuk menunjukkan keakraban. Lalu, irama genjek itu datang dari mana sebenarnya? Kalau kita melihat laki-laki memotong daging di banjar, irama pukulan pisau mereka persis seperti gegenjekan, tidak berpatokan pada gamelan Bali. Justru lagu-lagu itu mereka ciptakan secara spontan untuk menghilangkah lelah ketika bekerja bersama-sama, atau istilah Bali-nya, ngayah. Sebenarnya uraian saya belum habis, tapi waktunya sudah habis. Saya kembalikan saja kepada moderator. Moderator: Baik tadi kita mendengar pengantar tentang gegenjekan dan juga mendengar beberapa contohnya. Latar belakang gegenjekan ini dijelaskan oleh John dari segi psikologi, sebagai usaha kalangan tertentu untuk mengekspresikan kejenuhan dan rasa frustrasi. Di samping itu gegenjekan digambarkan sebagai perlawanan terhadap apa yang disebut kebisuan, perlawanan terhadap wacana negara yang dipaksakan. Bali kita tahu digembar-gemborkan begitu kaya, namun kenyataannya banyak sekali kemiskinan. Produk dari situasi ini salah satunya adalah gegenjekan. Kita mulai diskusi saja, bagi yang punya pertanyaan atau komentar, silakan saja. Peserta: Saya ingin minta penjelasan lebih lanjut dari John tentang hubungan munculnya gegenjekan dengan politik pariwisata di Bali. Tadi sempat disinggung tapi belum terlalu jelas. Kedua, saya jadi ingin tahu karena John menyebut dua wilayah, Karangasem di Bali Utara dan Bali Timur, yang setahu saya memang daerah miskin. Di Karangasem banyak pura, tapi beda dengan pura di Bali Selatan. Kalau banyak pura di Karangasem yang jatuh miskin, apakah para pemuda yang lari ke Bali Selatan itu juga berasal dari kalangan anak agung atau orang pura? Lalu, apakah John melihat ada hubungan antara janger dengan gegenjekan? John MacDougall: Hubungan antara gegenjekan dan pariwisata sudah mulai ada. Ada grup gegenjekan yang mulai tampil di pentas dan digaji. Kedua, Bali Timur memang beda dengan Bali Utara, sejarahnya berbeda dan Balinya juga beda. Tapi soal kemiskinan di daerah itu, sulit kiranya dibedakan. Banyak orang dari timur pergi ke kota Denpasar dan mengundang

78

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

keluarganya. Banyak yang juga pulang ke desa mereka, membangun pura dan rumah besar. Tapi kalau di Culik, sedikit sekali seperti itu. Jusrtu banyak yang menjadi buruh atau pembantu di Denpasar lalu kembali ke desa untuk menikah dan menetap di desanya. Biasanya ada proses seorang pemuda mencari uang supaya bisa pulang, membiayai pernikahan lalu menetap di desa. Soal janger, saya kira memang ada hubungannya kalau melihat apa yang terjadi pada genjek ketika mulai diakui oleh kalangan elite Denpasar. Misalnya kemudian muncul lomba genjek, seperti lomba kesenian yang ada di mana-mana. Dan ini juga bagian dari pengkotakan gegenjekan. Sebelumnya tidak ada gegenjekan yang baku. Biasanya hanya ada penyanyi yang dianggap hebat karena improvisasi dan gaya spontan yang luar biasa. Tapi dengan adanya lomba gegenjekan seperti itu semua kelompok mulai dari Singaraja sampai Denpasar datang dan berlomba, tapi tidak boleh minum! Itu masalah. Jadi dari jam enam sore sampai jam sembilan pagi. Lumayan kacau dan tidak terlalu rapi gerakannya. Mereka masuk ke ruangan pakai janger dengan gerakan monoton yang robotik, lalu duduk dalam lingkaran atau dua barisan. Jadi yang kita lihat adalah tarian janger yang buruk karena laki-laki ini tidak pernah belajar. Janger mulai diangkat lagi oleh Golkar lima tahun terakhir dan anehnya untuk kampanye partainya. Dulu ada perlombaan janger antara PNI dan PKI yang sama-sama menggunakan wacana kepartaian dan gerakan robotik. Ada satu kelompok genjek dari Singaraja yang hebat. Mereka berusaha masuk ke sekat-sekat yang sudah ditetapkan juri, padahal sekat-sekat itu sesungguhnya membungkam improvisasi mereka. Tapi mereka ikut dan taat pada syarat-syaratnya. Waktu masuk mereka pakai gerakan robot a la janger, gerak menghentak-hentak ke atas. Di satu sisi mengikuti gerakan baku tapi sekaligus menyindir dan mengasingkan pengasingan seperti kita bicarakan tadi. Mereka menertawakan juri dan jurinya juga ikut tertawa. Di Bali memang ada kebiasaan raja membayar orang-orang untuk mengejek dan dia harus ikut tertawa. Nah soal puri-puri di Karangasem. Sebenarnya ada banyak puri di Bali, ada puri pusat kemudian puri yang digeser dan sejarahnya cukup rumit untuk dijelaskan di sini. Tapi kalau puri Karangasem, yang pasti kehilangan rajanya di Lombok. Karangasem menjadi lebih miskin dan ada sejumlah faktor sosial lain dan agak rumit. Misalnya kaum brahmana di sana justru ikut partai-partai dari bawahannya dan ada banyak keganjilan lain yang tidak bisa ditemukan di Bali Selatan. Memang untuk dapat jawaban yang lebih memuaskan perlu melihat penelitian lebih lanjut di Karangasem. Soal anak agung yang ikut genjek. Banyak juga, dan memang mereka itu suka minum dan nyanyi. Kehidupan seharihari pun tidak banyak aturan, brahmana harus duduk di sebelah utara atau timur. Mereka tidur bersama-sama yang lain, kecuali kalau upacara. Nah, itu lain lagi peraturan ruangnya. Mereka harus duduk sesuai aturan yang mereka tentukan dan masyarakat sekitarnya.

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

79

Norman Sophan: Saya dulu juga menari Bali. Tadi John ceramah soal kegelisahan masyarakat Bali dalam tembang. Pertanyaan saya, apa yang menyebabkan kegelisahan ini? Apakah karena ada nilai-nilai yang hilang dalam masyarakat Bali? Apakah karena nilai budaya yang orisinal sudah tidak bisa didapatkan, karena semua sudah diperjual-belikan? Seperti kita lihat ritual juga diperdagangkan dan jadi obyek wisata. Nah, apakah John sudah melihat ke sana? Kalau penelitiannya hanya di tahun 1980-an saja, maka Bali-nya sudah tidak orisinal, tidak seperti Bali tahun 1965 ke bawah. Lalu, apakah John pernah ke Lampung melihat orang-orang Bali yang merantau atau transmigrasi sebelum Orde Baru? Di Lampung itu ada yang namanya kampung Bali, dan kita bisa coba bandingkan kesenian tradisional Bali di sana dengan yang ada di wilayah lain. Semacam studi perbandingan. John MacDougall: Saya justru ingin mengurai rasa frustrasi dan kejenuhan, soal pemisahan antara kalangan, kelas elite atau kelas menengah dengan orang desa, padahal mereka berasal dari desa yang sama. Tapi ada yang bayar dengan uang, ada yang bayar dengan tenaga kerja. Saya pikir itu pemisahan yang sangat mendasar dan sangat masuk akal kalau melihat kesejajaran upacara dan pariwisata yang sama-sama punya ekonomi. Ada ekonomi ritual dan ada ekonomi berdasarkan pertukaran, pengorbanan dan tenaga kerja yang disumbangkan bersamaan. Pentas di panggung itu bukan wujud kesadaran mereka atas kewajiban atau kesadaran terhadap dewa-dewa dan banjar, tapi untuk mendapatkan uang. Uang itu memotong hubungan yang justru dirayakan kembali dalam gegenjekan. Kalau laki-laki yang ikut genjek pergi ke disko atau nyanyi lagu pop, atau ikut temannya ke tempat ABG kumpul, dia tidak akan diterima lagi oleh teman-temannya yang nyanyi genjek. Saya sempat tanya kepada teman-teman di sana, “kenapa kamu segan meninggalkan genjek?” Jawabannya, “ya, karena kalau saya meninggalkan mereka, saya tidak punya apa-apa lagi.” Padahal dari segi kasta, mereka ini berbeda. Jadi ada ikatan yang dibangun dan mengikat. Soal nilai-nilai yang hilang. Keaslian atau orisinalitas itu saya pikir sesuatu yang baru. Konsep keaslian sendiri modern dan romantis. Adalah pariwisata yang memunculkan dan menggunakan kata tradisi dan keaslian untuk mengkotak-kotakkan bentuk kesenian atau gerak dalam seni. Memang ada tradisi lain yang hilang karena dilarang. Misalnya di abad ke-19 istri raja masih melompat ke perapian dalam upacara ngaben atau pelebon, tapi kemudian dilarang oleh Belanda waktu itu. Ini sejarahnya panjang dan ceritanya jauh ke belakang, dan saya pikir mungkin ada

80

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

lagu gegenjekan yang merindukan praktek sosial semacam itu. Kalau soal Lampung, saya pikir ada banyak orang yang keluar dari Bali, dari daerah asli mereka, dan menjadi lebih Bali di sana ketimbang waktu masih tinggal di kampung halaman. Saya misalnya di Amerika tidak pernah makan hamburger, tapi di sini saya selalu cari hamburger di mana-mana. Orang yang pergi dari kampung halamannya seringkali punya kerinduan seperti itu dan banyak citra yang membuat dia berpegang teguh pada kebiasaan keluarganya – sebenarnya kebiasaan keluarga yang dibayangkannya, belum tentu kebiasaan yang nyata ada. Itu terjadi di mana-mana, termasuk di Amerika. Kalau di Indonesia saya tidak tahu persis, tapi saya harap suatu saat bisa pergi ke Lampung untuk menguji pikiran ini. Peserta: Pariwisata sekarang tampaknya menjadi jawaban banyak negara mengatasi krisis, antara lain karena didorong oleh lembaga-lembaga dunia seperti World Bank dan IMF. Bali adalah contoh yang menarik, dan saya pikir wilayah-wilayah pariwisata akan mengikuti jejak Bali ini. Dan kekuatan pariwisata ini besar. Seperti ditunjukkan John tadi, gegenjekan tidak muncul dari pariwisata tapi akhirnya dilibas juga. Nah, akar gegenjekan ini sesungguhnya apa? Apakah karena ada pemuda Bali yang terasing oleh kemajuan ekonomi luar biasa yang dimotori pariwisata ini kemudian mendorong munculnya gegenjekan? Sebenarnya menarik juga kita diskusi tentang Indonesia yang sudah dibuat sedemikian romantis oleh pandangan-pandangan antropologi seperti ini. Berbicara tentang keaslian, identitas dan pandangan antropologis. Saya mau tanya ke John, apakah pandangan antropologi terhadap gegenjekan atau ekspresi budaya seperti itu bisa menjadi acuan untuk program konservasi atau malah berkaitan dengan pengembangan pariwisata. Saya ingin John menjelaskan persoalan itu. Apakah gegenjekan yang nyleneh bisa juga jadi paket pariwisata? John MacDougall: Sekarang ini banyak kelompok genjek yang pentas untuk Golkar atau PDI-P. Terutama setelah gegenjekan dilombakan, dibakukan dan dibuat standar-standarnya. Siapa pun sekarang bisa mengolahnya asal punya uang, atau memanipulasi kecintaan pada partai. Kalau Bank Dunia itu mau melestarikan gegenjekan mereka akan pusing karena sifat spontannya. Dengan gaya dadakan dan gerak serta irama yang tidak layak disuarakan apalagi direkam, genjek memang lebih cocok dan bergema pada kaum pekerja kalau mereka kumpul di banjar. Itu musik yang punya suasana sendiri, seperti penyanyi yang saling menirukan, saling tantang di antara mereka yang punya suara bagus, interaksi dalam

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

81

dialog, mengaktualisasikan perasaan dalam gerakan. Misalnya sekarang saya menggerakgerakkan tangan seperti genjek, orang tidak tahu maksudnya apa. Tapi dalam suasana genjek, orang bisa tahu bahwa ini gerakan orang marah, karena kita seperti larut dalam frustrasi. Sinal: Saya tertarik dengan cerita tentang gegenjekan yang bisa mempersatukan kasta-kasta di Bali, paling tidak bersatu untuk menari. Kemudian saya lihat genjek ini bisa menggambarkan penindasan dan juga tentang pencarian yang begitu jauh. Nah, saya mau tanya. Di tingkatan seperti apa perlawanan terhadap penindasan yang dialami oleh masyarakat Bali di bawah kapitalisme itu terjadi? Bagaimana orang dari berbagai kasta itu bersatu melawan sistem yang sangat menindas mereka. Saya bukan antropolog, jadi melihatnya lebih dari sisi perlawanan yang muncul. John MacDougall: Awalnya saya berpikiran seperti Anda, bahwa gegenjekan ini adalah perlawanan terhadap negara, terhadap bermacam wacana dominan. Jadi mirip dengan apa yang dikatakan James Scott mengenai weapons of the weak, perangkat kaum lemah untuk menyiasati sistem. Rakyat punya prosedur atau cara untuk menghindari kekuasaan, menertawakan kekuasaan dan membuat kekuasaan kelihatan konyol dan rendah. Gegenjekan biasa melakukan itu tapi tujuannya bukan untuk perlawanan semacam itu. Mereka tidak melawan seseorang atau melawan tibum yang menggusur tempat pedagang kakilima. Yang mereka sesali misalnya balon meletus yang membuat anak kecil menangis, jadi soal mencari sesuatu yang hilang. Lalu cerita tentang orang bekerja di Denpasar tapi sebelum dapat uang dia sakit dan harus pulang, atau cerita tentang orang beli tanah yang akhirnya diserobot investor sehingga terpaksa transmigrasi. Menurut saya ini bukan suatu perlawanan, tapi lebih sebuah ungkapan untuk menampung perasaan masing-masing untuk sementara dalam rasa pusing, mabuk atau senang dan bahagia. Setelah itu mereka tetap kembali seperti semula. Soal perbedaan kelas, saya pikir tidak gamblang tampak di Bali. Kita tidak bisa membuat pembedaan antara kelas menindas dan kelas yang ditindas dengan mudah. Tidak bisa misalnya dengan memisahkan kelas yang bekerja di banjar dan yang tidak kerja di banjar. Dan saya pikir banyak orang yang tinggal di kota dan jadi pembesar tidak berpikir bahwa mereka itu menindas dan memang mungkin tidak menindas. Di sinilah uang menjadi penting. Uang itu dipakai untuk memisahkan hubungan antara diri mereka dengan kelompok yang mengikat. Dan itu dilakukan bukan dengan sengaja. “Saya pakai uang ini untuk memotong hubungan, lalu menjadi penindas,” bukan begitu pola pikirnya. Banyak

82

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

orang yang kirim uang ke desa, memotong hubungan itu, justru karena mereka tidak mampu. Ada yang karena memang statusnya sudah merasa tinggi, ada juga yang gengsi untuk kembali. Nah, dalam konteks gengsi dan status ini memang ada unsur kesengajaan memotong hubungan dengan desa. Tapi itu akibat dari akumulasi uang yang memisahkan orang dari tenaga kerja yang mesti dilakukan di banjar. Soal perlawanan, saya kadang berpikir bahwa perlawanan itu kadang-kadang hanya membuat yang dilawan itu kelihatan makin hebat, padahal sesungguhnya hanya orang biasa. Kalau kita anggap gegenjekan ini perlawanan, maka negara ini tampaknya seolah-olah begitu hebat, dan setelah dilawan dengan genjek malah semakin hebat. Saya pikir itu tidak terjadi. Orang genjek melakukannya bersama-sama, dan tidak perlu negara untuk menjadi lebih kuat. Peserta: Menurut John gegenjekan itu bukan perlawanan tapi semacam pelarian dari kehidupan sehari-hari. Semacam gerakan meninggalkan dominasi negara, dengan kata lain negara dicuekin. Makanya pakai mabuk segala sehingga gegenjekan sifatnya sementara saja. Peserta: Saya belum mengerti betul tentang gegenjekan ini, tapi hanya bereaksi terhadap musik yang diperdengarkan tadi. Menurut saya musik ini kalau ditata akan bagus juga dan sangat komersial. Kalau dibuat video-clip malah jadi komoditi yang laku. Saya ingat ketika Bill Frederick bikin penelitian tentang dangdut tahun 1982. Kebetulan saya sedang bikin filmnya Rhoma Irama, “Satria Bergitar”. Di situ diperlihatkan bahwa dangdut memang musik pinggiran, tidak mungkin masuk televisi apalagi hotel. Orang dangdut merasa tersisih dan berusaha melawan orang pop dan rock. Tapi sekarang terbalik, semua televisi maunya dangdut dan prosedur kaset bilang yang untung cuma musik dangdut. Kalau Bill Frederick bikin penelitian lagi sekarang maka tentu kesimpulannya akan berubah. Dangdut bukan lagi musik pinggiran tapi sudah menjadi musik yang in. Acara “Joged” di RCTI mengemas dangdut sekarang seperti orkestra. Saya kembali kepada gegenjekan. Katanya orang PDI-P di banjarbanjar juga banyak yang menyanyikannya waktu itu. Memang waktu itu PDI-P dikejar-kejar, tapi sekarang PDI-P sudah memerintah, berarti menjadi penguasa. Bukan sebagai korban yang menderita, tapi malah menciptakan penderitaan bagi orang lain. Jadi saya pikir gegenjekan itu juga akan berubah, apalagi kalau ada yang mengelola promosinya. Mungkin John ini yang akan promosi sampai ke Amerika. Anda sebenarnya harus membuat perhitungan juga bahwa lima tahun lagi mungkin analisis itu sudah tidak sahih lagi. Mungkin genjek yang tadinya pakai tuak, lima tahun lagi sudah pakai Johnnie Walker.

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

83

John MacDougall: Ini pertanyaan menarik sekali. Waktu kami membuat film, sebenarnya bukan hanya gegenjekan yang disorot tapi juga musik underground dan death metal. Keduanya jauh sekali dari gegenjekan. Di sana yang paling penting adalah indylabel, artinya tidak diterbitkan oleh produser besar tapi membuat label sendiri dan menjualnya melalui pasar bawah tanah. Dan menariknya mereka ini kadang menyanjung setan. Lalu saya bilang, “kalian ini pemuja setan”. Tapi mereka jawab: “Tidak, kami ini masih sembahyang.” Jadi bukan pemuja setan lokal tapi setan global. Mereka memotong kelinci waktu pertunjukan, tapi bukan untuk setan. Itu adalah tanda penghormatan terhadap grup yang sama di Finlandia yang mereka ikuti lewat internet. Soal PDI-P, saya pikir memang menarik seperti yang Anda sebutkan tadi. Buat saya gegenjekan itu bukan perlawanan terhadap orang-orang yang bikin masalah di negeri ini, tapi kalau mau ditinjau dari sudut politik mungkin lebih semacam konsolidasi masyarakat Bali. Jadi ada unsur penyadarannya juga. Kalau kita lihat teksnya, jelas ada perlawanan terhadap politik praktis di Jakarta: lupa sumpah jabatan, pentingnya uang sogokan, rambut semakin tipis dompet semakin tebal. Lalu ada bekas prajurit yang jadi pejabat. Itu jelas perlawanan terhadap negara, lebih tepatnya kebudayaan negara. Gegenjekan bagi banyak antropolog yang memfokuskan perhatiannya pada komodifikasi budaya, sering lupa pada mobilisasi masyarakat yang terjadi dalam masyarakat. Lupa pada apa yang mereka rasakan dan bagaimana cara mengungkapkannya dalam bentuk sehari-hari. Dari pendekatan teoretik yang mengikuti perkembangan postmodernism semua image itu didekonstruksi dan lupa bahwa di baliknya ada semacam gerakan juga. Banyak antropolog hanya melihat perlawanan-perlawanan terhadap komodifikasi. Di sini saya tidak menyindir perlawanan tapi justru menyindir para peneliti yang terlalu mencari-cari perlawanan itu, dengan melihat apa yang paling sederhana yaitu apa yang dilakukan orang genjek, apa yang mereka sindir dan apa yang mereka tidak puas, dan dari mana mereka mencari penghidupan dan bagaimana penghidupan itu membentuk pengungkapan, bahasa. Gerakan tubuh juga menjadi penting. Memang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kelihatannya dangkal, dan hanya berlaku untuk orang setempat. Tapi saya sendiri belum puas dengan pemahaman sejauh ini. Moderator: Baik, karena waktunya sudah habis dan uraiannya juga sudah ditutup dengan sangat jelas oleh John, maka saya akhiri diskusi ini. Hal menarik tadi adalah cara pandang John tentang antropologi yang melihat ekspresi budaya di Bali. John sadar betul bahwa Indonesia, dan khususnya Bali, sudah diromantisasi oleh antropologi, dan berusaha untuk menyiasatinya.

84

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

85

25 AGUSTUS 2000

Krisis Pengungsian dan Politik Bantuan
Narasumber: Abdul Gaffar, Kepala RT Kampung Nunu, Palu, Sulawesi Tengah. Moderator: Alit Ambara.

Gelombang kekerasan di seluruh Nusantara selama beberapa tahun terakhir telah melahirkan kategori baru dalam masyarakat, yakni pengungsi. Namun berbeda dari gambaran umum tentang pengungsi, di Indonesia rakyat dipaksa menjadi pengungsi di atas tanahnya sendiri. Kekerasan negara adalah salah satu penyebab utama, termasuk dalam konflik-konflik yang dianggap horisontal antarwarga. Di tengah kekacauan muncul industri bantuan dengan lembaga-lembaga dan sebagai ujung tombaknya yang sepintas terlihat membantu, tapi setelah diperiksa lebih lanjut seringkali mematikan kreatifitas dan daya tahan masyarakat sendiri. Abdul Gaffar Karim, pekerja kemanusiaan dari Palu yang juga ketua RT, membagi pengalamannya menangani pengungsi di kotanya. Mereka tidak hanya mengulurkan tangan membantu yang susah tapi juga memikirkan cara efektif untuk membantu para pengungsi bangkit sebagai manusia dan menyelesaikan konflik laten dalam masyarakat. Sebagian peserta yang kebetulan ikut menangani pengungsi di berbagai daerah ikut meramaikan diskusi dengan membagi pengalaman masing-masing. Tidak banyak perdebatan karena umumnya orang setuju dengan apa yang dikatakan Pak Gaffar, tapi diskusi itu membantu orang melihat persoalan dengan jelas dan rinci, terutama mengenai watak industri bantuan yang sepintas nampak seperti “malaikat”, tapi dalam kenyataan sangat bermasalah.

Moderator: Kita mulai saja. Dalam diskusi kali ini kita beruntung dapat narasumber dari Palu yaitu Bung Gaffar, yang nanti akan memperkenalkan diri sendiri. Tema kita malam ini adalah “Krisis pengungsian di Indonesia dan politik bantuan”, khususnya berdasar pengalaman di Palu. Di samping itu juga ada Fay di sini yang akan menyinggung masalah politik bantuan. Mungkin kita sudah tahu bahwa gelombang pengungsian di Indonesia demikian besarnya sampai pemerintah sendiri kewalahan atau angkat tangan dan kemudian hanya mengharap bantuan dari luar negeri. Nah, hal ini yang membuat banyak organisasi internasional datang berlomba-lomba dengan konsep dan kepentingannya sendiri-sendiri. Pengalaman di lapangan mencatat bahwa kehadiran organisasi semacam ini justru menciptakan krisis dan konflik baru. Baik konflik di antara organisasi-organisasi itu sendiri maupun juga konflik di kalangan pengungsi, karena ada gejala bantuan justru menjadi dukungan logistik bagi mereka yang bertikai. Bantuan itu selanjutnya juga memperpanjang rantai kemiskinan dan melemahkan masyarakat menghadapi krisis. Saya pikir itu saja
86
Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

pengantarnya, dan kita langsung ke Bung Gaffar. Abdul Gaffar: Terima kasih. Sebelumnya saya memperkenalkan diri. Nama saya Abdul Gaffar Karim, asal Palu. Saya dari sebuah kelompok swadaya lokal di Palu yang menangani pengungsi asal Poso. Kita tahu bahwa pada awal Mei 2000 terjadi kerusuhan di sana dan masyarakatnya eksodus ke berbagai tempat. Di hampir seluruh Sulawesi sekarang ada pengungsi dari Poso, termasuk di Sulawesi Tengah. Untuk kotamadya Palu dan kabupaten Donggala, jumlah pengungsinya sekitar 10.000 jiwa. Mereka ditangani oleh pemerintah, tapi ada juga yang ditangani oleh masyarakat sendiri. Kalau yang ditangani pemerintah tempatnya ada dua, di gedung olahraga dan stadion Sulawesi Tengah. Sementara yang ditangani masyarakat tersebar di empat kecamatan kotamadya Palu. Kalau di kecamatan Palu Barat, jumlahnya ada sekitar 18 kelurahan. Yang bisa saya sampaikan kepada bapak dan ibu di sini adalah penanganan pengungsi oleh masyarakat di kelurahan Nunu. Di sana ada sekitar 320 pengungsi dewasa, anak-anak dan perempuan. Latar belakang penanganan swadaya ini adalah petaka kemanusiaan di kabupaten Poso yang telah meluluh-lantakkan sendi-sendi kemanusiaan kita. Masyarakat secara spontan ikut berperan menangani pengungsi. Masyarakat Nunu sendiri beranggapan bahwa pengungsi adalah tamu yang perlu mendapat bantuan moral dan spiritual. Semua elemen masyarakat terlibat di sini. Sebelum ada eksodur besar-besaran, kami dari warga kelurahan Nunu sudah sepakat untuk menanggulangi. Pikirannya, jangan sampai kerusuhan ini merebak ke kotamadya Palu. Kita coba mempelajari sebab terjadinya kerusuhan dan kesimpulan pertemuan-pertemuan kami bahwa sebenarnya kerusuhan Poso ini bukan masalah SARA atau agama, tapi perebutan kekuasaan. Jadi ada elite sipil dan militer yang bermain di sini. Dengan latar belakang ini kami mulai membentuk panitia, disebut Panitia Peduli Pasca Kerusuhan. Gelombang pengungsi pertama datang awal Juni 2000. Kita mulai dengan pertemuan-pertemuan kecil di lingkup RT masing-masing, di setiap kelurahan. Di kelurahan Nunu ada sekitar 27 RT dan enam RW. Nah, tokoh dari masing-masing RT, maksudnya ketua RT dan para pembantunya serta tokoh masyarakat, tokoh agama dan perempuan kita undang untuk membicarakan masalah pengungsi ini. Diskusi berkembang menjawab pertanyaan bagaimana mengatasi pengungsi yang ada di sini. Dari mana kita mulai, bagaimana caranya? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang harus kita jawab. Kita juga berusaha menepis isyu yang kencang beredar di Palu sendiri, seperti selebaran gelap dan sebagainya. Ada selebaran yang katanya diterbitkan di Salatiga. Kalau selebaran di

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

87

kalangan Islam isinya menjelek-jelekkan orang Kristen. Lalu di kelurahan Mahesa yang mayoritas penduduknya beragama Kristen, dibuang selebaran yang menjelekjelekkan orang Islam. Tapi syukurlah, warga kelihatannya mulai sadar dan tidak terpancing dengan isyu murahan yang dibuang oleh orang-orang tidak bertanggungjawab. Dalam kepengurusan juga ada beberapa pembina dari tokoh masyarakat. Di Palu kami melibatkan bupati Donggala. Beliau ini berasal dari kelurahan Nunu, jadi kami angkat sebagai pembina tapi dalam kapasitas sebagai tokoh masyarakat. Lalu ada imam masjid di kelurahan, Pak Kamaluddin, yang kami angkat sebagai penasehat. Ada teman-teman yang beragama Buddha, Pak Rudi Chandra, lalu dari kalangan Kristen ada John Mela. Semuanya kita angkat sebagai pembina. Kami juga libatkan tokoh perempuan dalam kepengurusan. Kemudian ada peran keluarga-keluarga di sini. Setelah rapat disepakati bahwa warga wajib menyumbang satu liter beras setiap minggu dan uang tunai Rp 500 setiap bulan. Itu sumbangan wajib. Sumbangan sukarela bisa berupa beras, susu untuk balita, dan pakaian yang masih layak. Itu yang kemudian dikumpulkan di satu posko yang sudah diatur sebelumnya. Setelah terkumpul ada divisi yang bertugas mendistribusikan, namanya divisi distribusi. Ada juga semacam tim relawan yang terdiri dari ibu-ibu di setiap RT. Jadi di setiap RT itu ada lima relawan perempuan, tinggal dikalikan 27 jadinya ada 135 relawan ibu-ibu yang setiap minggu membagikan bantuan warga ke pengungsi. Itu berlangsung selama satu bulan. Selanjutnya adalah langkah pemberdayaan pengungsi itu. Setelah kami data ternyata pengungsi itu kebanyakan petani. Kaum ibu juga punya keahlian menjahit dan membuat kerajinan tangan bola takraw. Ada juga yang membuat kerajinan dari kayu ebony atau kayu hitam. Petani kami bantu agar bisa menanam sayur, dan ada yang bekerjasama dengan warga mengolah kebun sayur, menanam tanaman jangka pendek atau holtikultura. Perempuan yang punya keahlian menjahit kemudian diberi tempat strategis yang mudah dijangkau konsumen. Kalau di Palu itu kita tempat di Pasar Inpres Manonda, sebenarnya pasar terbesar di Palu Barat. Di situlah mereka bekerja menjahit. Para petani biasanya disebar di setiap RT yang warganya juga petani sayur. Di situlah kita mulai membuat kripik pisang, ubi dan lainlain. Kalau ada yang sakit kita coba lobby ke rumah sakit dan memasukkan mereka ke sana. Nah, untuk anak-anak sekolah – mulai dari TK sampai SMA – kita menghubungi sekolah-sekolah terdekat dengan tempat pengungsian. Jadi mulai dari TK sampai SMA kita coba tangani ditambah pendidikan

88

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

alternatif. Untuk ibu-ibu setiap malam Jumat – khususnya yang beragama Islam – ada ceramah agama, sementara yang Kristen kalau hari Minggu ada sekolah minggu. Baik, mungkin itu dulu yang bisa disampaikan. Moderator: Terima kasih. Kita bisa lanjutkan dengan diskusi yang intensif, karena sebelum acara dimulai sudah ada permintaan dari Manado agar hasilnya cepat-cepat dikirim. Sentot: Saya pikir ada yang dilewatkan Pak Gaffar tadi soal kelurahan Nunu. Kelurahan ini kalau di Jakarta mungkin seperti Manggarai yang kerjanya berkelahi terus. Jadi kalau ada maling masuk ke daerah itu, polisi nggak berani masuk karena pasti akan dihajar habis-habisan. Jadi tidak ada istilah benar atau salah, pokoknya yang masuk ke sana akan dipertahankan. Nah, ketika meledak kerusuhan Poso, provokasi di sana juga luar biasa seperti terlihat dari cerita tentang selebaran itu. Para pemuda, sekalipun nggak taat-taat banget beragamanya, ketika diprovokasi langsung ambil pedang dan sebagainya. Ada juga orang yang kemudian termakan provokasi, lalu bilang “oke, kita berangkat perang jihad.” Tapi sebelum berangkat mereka mau latihan bela diri dulu. Jadi mereka kumpul dan dikatakan pendaftarannya ada di kelurahan Nunu. Jadi seluruh pemuda mendaftar ke sana. Dan ketika sampai di sana sudah ada satu-dua orang yang belajar senjata rakitan. Tapi ada juga yang memberikan informasi tentang apa yang sesungguhnya terjadi di Poso sehingga akhirnya pemuda mulai berpikir. “Oh, berarti kita mati konyol kalau berangkat ke sana.” Akhirnya semangat jihad tadi langsung dibelokkan oleh Pak Gaffar dan beberapa tokoh masyarakat, untuk mengurus pengungsi. Pak Gaffar sebagai ketua RT kemudian menggunakan posisinya untuk mengambil prakarsa tersebut. Dia menekan tokoh-tokoh masyarakat lain untuk membuat panitia itu. Saya pikir ini juga penting untuk ditambahkan, yakni bagaimana bersikap terhadap provokasi yang luar biasa. Bagaimana mengolah semangat kekerasan menjadi non-kekerasan. Moderator: Saya kira perlu juga diceritakan tentang mekanisme RT. Terlihat dari uraian tadi bahwa pengorganisasian masyarakat sangat epnting. Tapi saya kurang tahu seperti apa sistem RT di sana, mungkin lebih kuat dari apa yang kita kenal di Jakarta ini. Atau memang ada sesuatu yang khas dari wilayah Nunu itu? Abdul Gaffar: Kalau dibilang khas, mungkin pemilihan RT itulah. Di sana kita praktekkan demokrasi langsung. Jadi masyarakat memilih langsung ketua RT-nya.

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

89

Orang menentukan kriterianya sendiri dan melihat calon-calonnya langsung. Kedua, soal kelurahan Nunu yang memang punya karakter berbeda. Masyarakat di sana sangat solider dari dulu sampai sekarang. Apa yang dikatakan Sentot memang benar adanya. Di zaman Permesta banyak orang Tionghoa yang mengungsi ke kelurahan kita. Dan kalau sudah mengungsi ke sana orang luar tidak akan pernah ganggu. Itu jelas aman. Di desa Nunu memang persatuannya kuat. Tidak peduli salah atau benar, dipertahankan dulu. Tidak sembarang orang bisa bikin keributan di sini. Jadi misalnya kalau ada orang Nunu yang keluar bikin ribut, orang luar jangan coba-coba langsung masuk ke Nunu. Warga pasti akan membela dulu. Maksudnya bukan membela yang salah tentunya, tapi jangan bikin ramai-ramai. Warga harus tahu kenapa orang kita sampai dicari-cari, begitulah. Di kalangan perempuan pun begitu. Sayang sekali Erliny tidak ada malam ini, saya banyak keliling ke lapangan dengan dia. Untuk bikin pertemuan kita tidak perlu bikin surat, tapi cukup diumumkan lewat gereja atau vihara, kemudian masjid. Kita umumkan akan ada diskusi dengan Tim Relawan dari Jakarta, semua orang kumpul. Di sekolahsekolah pun begitu. Ibu-ibu, bapak-bapak dan anak muda akan datang. Moderator: Uraiannya menarik sekali, jadi ada kaitannya dengan demokrasi dan pengorganisasian masyarakat. Silakan kalau ada kawan yang punya pertanyaan. O ya, sebelum itu. Apakah dalam pengorganisasian itu, masyarakat Nunu pernah didatangi organisasi kemanusiaan dari luar yang misalnya menawarkan uang atau bagaimana? Abdul Gaffar: Ya, ada juga yang datang dari Oxfam kalau tidak salah. Ada tiga orang yang datang, dua dari Jogja dan satunya lagi dari Bangladesh. Mereka tawarkan kepada panitia untuk kerjasama soal sanitasi. Tapi anehnya Oxfam ini malah meminta apa yang sudah dikerjakan masyarakat dengan swadaya lokal ini, harus dihentikan. Sebagai ketua panitia saya bilang, “kalau begitu, lebih baik nggak usah. Masyarakat masih bisa mengatasi ini.” Sayang sekali kalau tatanan yang sudah bagus begini diubah lagi hanya karena mengikuti kemauan Oxfam. Saya sampaikan juga soal ini kepada warga, dan jelas-jelas ditolak. Ada juga partai politik yang masuk seperti Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Keadilan. Mereka datang untuk merekrut pasukan jihad katanya [tertawa]. Lho, ini lebih susah lagi. Kita saja sudah susah-payah meredam anak-anak muda yang punya semangat jihad, malah datang lagi orang menambah-nambah masalah. Saya secara tegas menolak permintaan itu. Lalu mereka datang lagi untuk minta data-data pengungsi. Saya tolak juga karena pengungsi di sana bukan hanya orang Islam tapi ada juga yang Kristen. Mungkin mereka mau minta data untuk bikin provokasi lagi, saya kurang tahu.

90

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Moderator: Memang masalah pengungsi sekarang kelihatannya menjadi prioritas bagi banyak LSM internasional. Mereka terlibat mengurus pengungsi di Kosovo, Timor Lorosae dan tempat-tempat lain. Anehnya yang mereka buat itu semacam refugees haven yang malah mengisolasi pengungsi dari masyarakat sekitar, semacam kamp begitulah. Sehingga pengungsi kemudian lepas dari persoalan negara atau tempat asalnya. Ini kita lihat terjadi di Australia dan beberapa negeri maju lainnya. Apa yang diceritakan Bung Gaffar sangat menarik, karena pengungsi justru diurus oleh masyarakat sendiri. Di Jakarta juga ada “usaha masyarakat”, misalnya pengumpulan dana melalui media massa, kantong kemanusiaan dan sebagainya. Tapi semua itu sebatas karitatif, tidak ada unsur pengorganisasian rakyat di sana. Agung Putri: Saya ingin tahu rencana selanjutnya dari Bung Gaffar dan temanteman di sana seperti apa? Apakah terbayang bahwa pengungsi akan tinggal lama di sana? Lalu, apakah ada masalah khusus yang muncul karena bagaimanapun orang-orang itu tercerabut dari tempat asalnya? Lalu, kira-kira antisipasinya seperti apa dan rencana ke depan seperti apa? Sekarang sudah berlangsung satu bulan dan mestinya Bung Gaffar sudah bikin semacam evaluasi atau refleksi atas kegiatannya selama ini. Saya ingin tahu bagaimana bayangan teman-teman di sana tentang hubungan pengungsi dan masyarakat selanjutnya. Abdul Gaffar: Keadaan di Poso sekarang parah sekali. Semua infrastrukturnya hancur. Rumah-rumah habis dibakar dan tempat kerja seperti ladang dan sebagainya, tanamannya habis dibabat. Sebenarnya pengungsi ingin kembali tapi syaratnya Poso harus betul-betul aman dan infrastruktur harus dibangun kembali. Dengan keadaan Poso seperti itu mungkin waktu yang diperlukan agak lama. Memang ada efek negatif untuk warga sendiri, tapi banyak juga positifnya. Efek negatif misalnya cerita pengalaman pengungsi yang bisa membuat orang terhasut begitulah. Tapi kami dari panitia sudah bisa mengenali orang-orang yang sering membakar kemarahan seperti itu. Yang penting kita meyakinkan anakanak muda di kampung yang bersemangat jihad untuk tidak melakukan kekerasan. Itulah masalahnya. Tapi secara umum saya pikir yang lebih kuat justru hubungan harmonis antara pengungsi dan warga. Misalnya pengungsi yang rata-rata berasal dari Jawa punya keahlian kemudian membantu warga dan sebaliknya. Jadi ada pertukaran ketrampilan begitulah. Hal lain di kelurahan Nunu itu anak muda hidupnya “malam dijadikan siang, siang dijadikan malam”. Nah, setelah ada pengungsi ada perubahan juga. Anak-anak

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

91

muda melihat pengungsi rajin kerja semuanya dan juga banyak dapat duit. Pelanpelan ada perubahan pola pikir di kalangan muda di sana. Begitu juga untuk ibuibunya. Ada banyak ketrampilan yang dimiliki dan terjadi saling tukar informasi. Mereka mulai tahu caranya bikin keripik buah, padahal tadinya hanya tahu bikin keripik dari ubi kayu. Jadi banyak ilmu baru yang mereka dapatkan dari hubungan itu. Dari segi keamanan, pengungsi dengan sadar ikut dengan warga setempat melakukan ronda. Di setiap RT ada pos ronda simpatik yang tidak akan mengganggu orang-orang yang lewat. Kalau sudah lewat jam satu malam, kita pagari dan secara selektif kita tanyai tamu-tamu yang lewat. Masalahnya memang karena di Palu sudah banyak provokator yang jalan. Di Al-Khairat misalnya ada orang yang sengaja datang mengirim makanan yang dicampur racun. Untung saja satpam di situ teliti, kue itu dilemparkan ke ayam dan ternyata ayam itu mati semua. Itulah alasannya mengapa kami membuat ronda-ronda semacam itu. Di samping itu kita juga merahasiakan titik-titik pemukiman pengungsi di kelurahan agar tidak mudah diganggu oleh orang lain. Oey Hay Djoen: Saya pikir ada baiknya kalau Gaffar ini bisa mengidentifikasi sumber konflik di Poso. Saya pikir itu perlu betul-betul dibuat sebab sampai sekarang tulisan yang ada tidak pernah bicara tentang sumber konfliknya. Jadi semua ini seakan-akan hanya “konflik horisontal”, antara rakyat dengan rakyat. Padahal kalau dengar keterangan tadi kan, jelas sumbernya bukan rakyat dengan rakyat. Jadi supaya kita ini jelas bahwa yang terjadi sekarang bukanlah konflik horisontal. Dan kekuasaan ini senang sekali kalau kita berpikir ini konflik horisontal. Rakyat saling bunuh dan mereka bisa lolos. Kedua, saya pikir ada beberapa hal yang bisa dikembangkan di masa mendatang, misalnya untuk keamanan dan pembangunan ekonominya. Sekarang pengungsi sudah bersama penduduk sipil dan mengurus diri sendiri. Saya kira ini perlu betulbetul ditangani sehingga ketika pengungsi kembali juga bisa tetap mengurus diri-sendiri. Bukan hanya dalam bidang ekonomi ya, tapi juga sampai pada keamanan. Ini kan sebetulnya jawaban bagi masalah di negeri kita ini, yaitu rakyat mengurus dirinya sendiri. Dan itu harus direbut, tidak bisa kita tunggu jatuh dari atas. Nah, kalau bisa tolong disiapkan bahan lalu kita cari media yang bisa menjadikan pengalaman itu sebagai pengetahuan umum. Sederhana saja, tentang bagaimana penduduk Palu membantu pengungsi bukan hanya dengan semangat charity, tapi membuat pengungsi bisa mengurus diri sendiri. Saya kira ini penting sekali. Abdul Gaffar: Ya, memang proses seperti itu, Pak. Dari 320 pengungsi sekarang ini

92

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

hanya sisa 24 orang yang rutin dibantu pangan dan sandangnya. Masalahnya mereka ini adalah petani coklat yang tidak bisa menanam sayur setelah sampai di tempat pengungsian. Nah, untungnya tempat mereka tinggal sekarang ini adalah pengrajin bola takraw, jadi akhirnya mereka mulai belajar menganyam bola takraw. Kalau petani lainnya kita bantu membuat bedengan. Itu cuma soal waktu saja. Soal identifikasi sumber konflik. Kami di sana bekerjasama dengan teman-teman LSM. Kebetulan ada LSM Bantaya yang kantornya di kelurahan Nunu. Mereka yang membantu warga mengidentifikasi sumber konflik tadi. Jadi ada yang menangani pengungsi, ada yang bikin investigasi tentang penyebab kerusuhan. Sudah ada pembagian tugas begitulah. Sebenarnya Bung Dedy yang juga diundang malam ini tapi tidak bisa datang yang menangani. Saya sendiri tahu juga sedikit-sedikit, dan kalau diperlukan saya bisa cerita juga. Moderator: Kemarin saya dapat e-mail dari Manado yang minta hasil diskusi dikirim ke sana, karena kawan-kawan itu juga sedang kebanjiran pengungsi. Mereka juga tahu bahwa ini bisa jadi lahan atau proyek garapan banyak LSM serta pemerintah daerah. Nah, hasil diskusi malam ini akan kita kirim ke sana juga agar kawan-kawan itu bisa menyusun strategi lebih baik menghadapi masalah yang ada. Mungkin ada gunanya pengalaman di Palu diterapkan di Manado. Baiklah, saya persilakan teman-teman yang punya pertanyaan atau komentar. Rusdi Marpaung: Saya hanya ingin tahu keadaan terakhir konflik di sana seperti apa? Abdul Gaffar: Di Poso masih terus ada pertikaian dan masyarakat masih mengungsi. Di sana ada kelompok merah dan kelompok putih. Belakangan saya dengar keadaannya mulai tenang, tapi saya pikir itu ketenangan yang semu. Maksudnya semu karena sementara ini ada aparat TNI dan Polri di sana. Mungkin jumlah aparat ini lebih banyak daripada orang yang sebenarnya bertikai. Sebelum berangkat ke sini saya dengar bahwa masyarakat asal Poso mulai dipaksa kembali, karena katanya sudah ada TNI dan Polri. Sayangnya saya belum sempat diskusikan masalah tersebut dengan warga Nunu. Fay: Ya, saya tidak bicara tentang Palu, tapi soal krisis pengungsi secara umum yang terjadi di seluruh Nusantara. Pengungsian itu sebenarnya salah satu cara penduduk menghindari masalah. Kalau ada keributan orang cepat berkesimpulan, “lebih baik mengungsi dan menunggu keadaan aman”. Orang yang bersikap begini semakin banyak jumlahnya, dan kita nggak bisa bicara pengungsi seperti misalnya dalam bencana alam. Diurus sebulan, daerahnya tenang, lalu kembali lagi. Kita lihat sekarang

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

93

kekerasan terus-menerus terjadi dan orang juga terus-menerus mengungsi. Hal ini antara lain karena seperti yang diceritakan tadi, pengungsi juga didatangi partai dan organisasi yang mau memperluas konflik. Dari catatan-catatan tentang Palu ini, kebetulan saya baca juga soal Aceh dan lihat sendiri pengalaman Timor Lorosae, nampaknya ada kaitan antara krisis pengungsian ini dengan krisis yang lebih luas. Tapi orang cenderung ambil jalan pintas untuk mencari penyelesaian. Saya ingat persis waktu Mei 1998 di Jakarta, orang bereaksi membentuk pertahanan swadaya seperti yang dibuat Bung Gaffar dan teman-teman di Palu. Tapi ada juga yang cari gampang, misalnya dengan menyewa marinir, Kostrad dan aparat lainnya. Sepertinya nggak ada inisiatif dari warga untuk bikin sesuatu. Nah, itu bukan jalan keluar. Kembali soal krisis pengungsian dan krisis yang lebih luas. Saya pikir karena kondisi ekonomi yang buruk, semakin banyak orang yang akan terseret dalam kekerasan berkelanjutan ini. Di Maluku misalnya kekerasan menciptakan persoalan luar biasa dalam kehidupan ekonomi. Orang tidak mudah menyelesaikan masalahnya dengan damai-damai begitu saja. Dan akibatnya akan banyak orang yang terpaksa masuk dalam konflik. Mereka yang punya duit cukup katakanlah, mungkin bisa menghindar dan menunggu situasi reda. Mereka baru ribut kalau kekerasan sudah masuk pekarangannya sendiri. Nah, sekarang ini dalam situasi krisis ekonomi banyak orang yang sudah nggak punya pekarangan lagi. Artinya setiap konflik akan langsung terasa di badan dan memaksa dia untuk terlibat. Tidak ada lagi “zona aman” tempat dia bisa berlindung. Kalau kita percaya data statistik bahwa 40 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan, maka inilah jumlah orang yang potensial terlibat dalam konflik. Sedikit saja gangguan, bisa meledak. Sikap kelas menengah “ya, terserahlah mau bunuh-bunuhan, asal jangan di daerah gue”, nggak berlaku buat mereka. Karena mereka nggak punya daerah. Jarak antara badan dan masalah itu begitu tipis. Hal lain yang menurut saya penting adalah apa yang terjadi setelah orang mengungsi. Apa yang terjadi misalnya pada pemilikan tanah di Poso setelah ditinggalkan sebagian besar penduduknya? Saya ingin dengar cerita soal ini dari Bung Gaffar. Perubahan semacam apa yang terjadi setelah orang itu pergi dan apa yang akan terjadi kalau mereka kembali. Di Timor Lorosae ini perkara besar. Kita ingat ada sekitar 200.000 orang yang mengungsi. Sebagian sudah kembali dan mulai timbul soal dalam penguasaan tanah. Orang yang pro-kemerdekaan pulang mengklaim tanah milik keluarga yang dicurigai pro-integrasi. Padahal tanah orang pro-integrasi itu sudah dititipkan ke keluarga lain yang pro-kemerdekaan. Akhirnya ribut satu sama lain. Dan ini adalah sumber konflik baru. Menurut saya kita perlu lihat proses lebih besar yang menata kembali susunan masyarakat setelah konflik. Pertanyaannya tentu saja, siapa yang melakukan penataan?

94

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Jawaban gampangnya, ya tentu saja mereka yang punya kemampuan menata semua itu, alias modal. Di Maluku ini sudah terjadi. Bank Dunia sudah bikin rencana untuk menata kembali Maluku yang hancur-hancuran. Rencana kerjanya sangat lengkap. Di Timor Lorosae begitu juga adanya. Ada banyak proyek pembangunan infrastruktur yang disub-kontrakkan ke perusahaan-perusahaan. Ini bukan sesuatu yang khas atau unik. Pembangunan kembali Kosovo dan Bosnia waktu itu juga diperebutkan perusahaan-perusahaan Inggris dan Jerman. Perusahaan Jerman ngotot sekali karena kalah tender sewaktu membangun kembali kawasan Teluk yang porak-poranda akibat perang. Semua proyek rekonstruksi dipegang oleh perusahaan Inggris dan Amerika. Dalam konteks itu, bantuan justru bersifat mematikan. Apa yang dikerjakan oleh Bung Gaffar dan diharapkan oleh Oom Oey justru dirusak dengan proyek-proyek bantuan yang bekerjasama dengan industri rekonstruksi tadi. Pola pikir proyek bantuan itu sederhana saja. Ada orang lapar, kasih beras. Ada orang sakit, kasih obat. Setahun saja orang hidup seperti itu tentu akan jadi tergantung. Dan itulah kuncinya, menciptakan ketergantungan baru. Kita bisa lihat ini terjadi sampai hal-hal yang sangat teknis. Memang sulit posisi kita kadang-kadang. Tidak mau membantu dianggap keterlaluan, tapi kalau membantu malah menciptakan ketergantungan. Tapi mau tidak mau kita harus kritis. Timor Lorosae dari segi pertanian menurut saya sudah dijajah kembali. Republik belum berdiri tapi penjajahan kembali di bidang pertanian sudah dimulai. Selama berbulan-bulan rakyat diberi bibit-bibit sekali tanam. Sama sekali tidak ada usaha mengembalikan kekuatan menciptakan bibit lokal. Artinya apa? Untuk selanjutnya petani akan terus mengimpor bibit baru karena hasil panen tidak akan menghasilkan bibit baru. Jadi, bayangan tentang pertanian mandiri itu sudah hapus. Mereka akan tergantung terus pada modal yang memberikan bibitbibit sekali tanam itu. Di Maluku situasinya sama saja, begitu juga di Aceh. Proyek-proyek bantuan ini semacam Kuda Troya bagi industri rekonstruksi dan juga perusahaan multinasional lainnya untuk menguasai kembali daerahdaerah yang mereka “bantu”. Contoh obat mungkin paling mudah dilihat. Pengungsi ditaruh di kamp dan terus makan obat yang disediakan proyek bantuan. Di satu sisi memang membantu orang sakit, tapi di sisi lain ini bisnis luar biasa gede untuk industri obat. Kalau kita hitunglah pengungsi di Indonesia sekarang – kalau kita percaya hitung-hitungan yang dibuat UNHCR – ada sekitar 500.000 orang. Hitung saja setiap kepala perlu aspirin satu per minggu. Artinya setengah juta tablet aspirin per minggu. Itu baru sakit pusing, belum diare dan lainnya. Silakan dihitung sendiri. Tapi logika ini jangan kita balik dan bilang bahwa konflik sengaja diciptakan karena ada kepentingan modal. Tidak instrumentalistik seperti itu, saya kira. Tapi yang jelas dominasi modal dalam kehidupan kita sudah luar biasa sehingga tidak bisa mengatasi krisis apa pun sendirian. Kurang lebih begitulah. Apalagi kalau proses rekonstruksinya dikuasai

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

95

oleh modal. Jelas mereka tidak akan membiarkan masyarakat merekonstruksi kekuatannya sendiri yang bisa menjadi lawan di masa mendatang. Pasti rekonstruksi disesuaikan dengan keperluan jangka panjang dari modal. Nah, kalau bicara tentang apa alternatifnya, saya pikir apa yang dikerjakan Bung Gaffar sudah merupakan jawaban yang tepat. Artinya, bagaimana masyarakat mampu mengurus diri sendiri. Dan kuncinya memang pengorganisasian serta keputusan yang dibuat secara demokratik dalam masyarakat. Hanya dengan begitu orang akan merasa bahwa ini memang tugas atau kewajiban bersama, bukan semata-mata karena kasihan melihat pengungsi. Warga kelurahan Nunu sudah melampaui kerangka charity atau sinterklas-isme. Sudah jauh melampaui itu, dari praktek bertolak ke perumusan. Cerita pengalaman itu menurut saya sudah merupakan pelajaran berharga buat temanteman yang menangani pengungsi. Terakhir soal media. Saya pikir kita mesti hati-hati. Kelas menengah ini kan cepat sekali merasa kasihan. “Wah, kasihan pengungsinya banyak sekali. Ayo kita tolong”. Mereka lupa bahwa rasa kasihan ini dibuat oleh media. Media menciptakan gambaran horor luar biasa, sementara di tempat pengungsiannya biasa-biasa saja. Saya juga pernah tinggal di tempat pengungsian dan tahu bahwa situasinya tidaklah seburuk yang diceritakan. Ya memang orang susah makan tapi bukan tidak berdaya sama sekali. Gambaran horor sering membuat orang berpikir bahwa rakyat pengungsi itu tidak berdaya dan harus ditolong. Padahal yang diperlukan pengungsi itu sekadar pertolongan agar mereka bisa bangkit mengurus diri sendiri. Coba bayangkan kalau pengungsi ditaruh di kamp militer, dijaga Brimob dan sebagainya, keluar-masuk harus izin, makan selalu disuapi, sakit langsung disuntik. Itu kan jadinya seperti ternak saja. Dan memang ada juga orang atau lembaga yang menjadikan pengungsi seperti ternak miliknya, yang dibawa ke pasar proyek bantuan. Jelas dalam situasi seperti itu pengungsi yang tadinya punya kekuatan jadi amblas semuanya. Bagi saya sederhana saja, hentikan konfliknya, pastikan keamanan – artinya militer dan polisi yang bikin gara-gara harus ditangkap atau ditarik – maka penanganan pengungsi akan jauh lebih mudah. Kita lihat penjelasan Bung Gaffar tadi soal keamanan. Ternyata rakyat mampu bikin keamanan swadaya. Ini inspirasi bagi kita sebetulnya, dan menjadi bentuk kongkret dari tuntutan menghapus struktur teritorial Kodam sampai Koramil. Selama ini kan tuntutan “cabut Dwifungsi” itu abstrak, nggak jelas maunya apa. Nah, inilah yang saya pikir menjadi bentuk kongkretnya, keamanan swadaya dari masyarakat sendiri. Inilah bukti bahwa rakyat sebenarnya bisa, nggak perlu panggil tentara kalau cuma urusan berkelahi di kampung. Jadi semacam bukti nyata dari tuntutan menghapus militerisme. Dolorosa Sinaga: Saya hanya ingin menyambung pertanyaan Agung Putri soal antisipasi itu. Kalau kita lihat masalah pengungsi muncul karena ada konflik. Tapi konflik sudah berkembang sedemikian rupa, dan seperti diceritakan Bung Fay, orang semakin mudah terseret ke dalamnya. Rekonstruksi

96

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

dan penanganan justru menciptakan ketergantungan, dan konflik akan terus berlanjut. Nah, bagaimana kira-kira caranya menghentikan konflik itu? Apakah memang semua pertikaian bisa diselesaikan sendiri oleh masyarakat tanpa campur tangan pihak lain, atau bagaimana? Abdul Gaffar: Ya, dan sebenarnya masyarakat memang sedang menuju ke sana. Kerusuhan Poso misalnya, bisa disebut kerusuhan dadakan. Tidak jelas ujung-pangkalnya tapi menimbulkan eksodus besar-besaran. Infrastruktur rusak dan sebagainya. Nah, pengungsi yang datang kita tanya “apa yang sebenarnya menjadi penyebab kerusuhan?” Rata-rata menjawab tidak tahu apa persoalannya. Tiba-tiba saja mereka diserang orang dengan pakaian ninja begitu. Sementara itu pemerintah terus bilang, “Poso itu aman. Ibu-ibu, bapak-bapak, nggak usah ngungsi”. Tapi malam harinya diserang dan tidak tahu siapa pelakunya. Setelah keluar rumah mereka dibakar dan banyak juga yang mati dibantai. Nah, ini menimbulkan tekanan psikologis. Kalau kita mulai dengan menyelesaikan konfliknya lebih dulu, mungkin agak susah. Rakyat saja tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, apalagi kita dari luar? Saya pikir yang paling penting menciptakan ketenangan bagi orang, membuat mereka bisa berpikir jernih, lalu mengambil langkah selanjutnya. Dari situlah kita bisa bicara soal kembali ke tempat asal dan penanggulangan masalah pengungsi baik dari segi ekonomi maupun kejiwaan. Moderator: Ada hal menarik, soal apa yang terjadi dan dilakukan setelah pengungsian. Fay tadi bicara tentang rekonstruksi dan modal. Bahwa bantuan justru mematikan pemberdayaan. Pengalaman yang disampaikan Bung Gaffar menjadi menarik, bahwa masyarakat ternyata mampu memberdayakan diri sendiri. Dalam konteks pengungsi, penanganan seperti itu jauh lebih baik daripada menaruh pengungsi di kamp-kamp. Kita bisa juga diskusikan soal lain, seperti masalah media, lembaga bantuan yang masuk ke daerah konflik. Abdul Gaffar: Memang banyak lembaga bantuan yang masuk ke Palu. Mereka kerjasama dengan pemerintah daerah, dan sudah perjanjian yang kalau tidak salah ditandatangani empat gubernur se-Sulawesi di Manado. Tapi kami nggak pusing. Kita tahu bahwa mereka cuma bikin proyek dengan alasan kemanusiaan tapi duitnya masuk kantong semua. Bagi saya sederhana saja. Saya ini warga dan bekerja membantu warga yang lain. Kita sendiri bisa mengatasi masalah yang dihadapi. Kalau ada lembaga lain, silakan, selama tidak mengganggu kerjasama yang ada. Nah, tadi saya sebutkan kalau di Nunu sempat ada lembaga Oxfam itu. Tapi kita tolak. Begitu juga dengan partai-partai, karena visi dan misinya berbeda.

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

97

Soal media. Ada beberapa media yang mengangkat yang kita kerjakan di Nunu. Paling intensif itu suratkabar Tadulako. Ini suratkabar kampus. Kalau suratkabar lain seperti Mercusuar itu juga bicara tentang korban, tapi kayaknya tidak netral juga. Mercusuar ini diterbitkan oleh yayasan milik Muhammadiyah, artinya pendirinya kebanyakan orang Muhammadiyah. Nah, mereka lebih banyak ekspos korban-korban yang Muslim. Kita pikir ini nggak imbang. Sebenarnya ada banyak orang Kristen yang jadi korban tapi tidak diberitakan. Di samping itu ada beberapa teman dari WALHI di sana yang banyak memberikan informasi mengenai korban di Poso. Kita juga dapat data dari pengungsi. Moderator: Jadi media ini bisa jadi alat untuk mengatasi krisis tapi sekaligus juga untuk mendorong konflik. Ada juga yang menjadikannya lahan seperti diceritakan Bung Gaffar tadi. Apa ada pertanyaan lain di sekitar itu? Fay: Sebelum ke sana saya nyambung sedikit tentang apakah konflik harus diselesaikan dulu sebelum kita menangani pengungsi. Saya pikir penanganan pengungsi menjadi penting. Kita mesti ingat bahwa orang yang mengungsi itu tiba-tiba saja berubah statusnya. Apa pun yang dia kerjakan sebelumnya, petani, guru, pengusaha atau apalah, kalau sudah masuk ke kamp pengungsian statusnya sama saja, tidak punya pekerjaan. Di samping itu mereka juga tidak pernah tahu pasti kapan bisa kembali. Jadi ada situasi vakum begitulah. Nah, kalau nggak dikasih pekerjaan, nggak ada kegiatan apa pun, tentu mudah sekali diajak atau dihasut untuk masuk lebih jauh dalam konflik. Maluku saya pikir adalah contoh yang jelas. Konflik berkembang begitu cepat karena ada situasi vakum. Jadi saya pikir memang betul kalau pengungsi harus ditangani dulu karena bagaimanapun tempat pengungsian itu menjadi lahan meluas dan berkembangnya konflik. Kalau soal penyelesaian konflik, ya jelas harus diselesaikan. Cuma masalahnya kita harus tahu bentuk konfliknya seperti apa. Jangan-jangan yang dimengerti masyarakat sebagai konflik dan konflik sesungguhnya itu lain. Di Palu kita lihat ada persoalan bupati. Nah, buat saya kalau calon-calon bupati itu mau pukul-pukulan berebut jabatan, silakan saja. Selesaikanlah sana, tapi jangan seret masyarakat. Persoalannya konflik elite ini kadang dibungus sedemikian rupa sehingga yang keluar itu seolaholah konflik horisontal. Saya pikir jawaban atas soal ini adalah mengorganisir pengungsi dan masyarakat yang terkena dampak konflik untuk suatu saat sama-sama bilang kepada para petinggi yang celaka itu, “kalau kalian mau ribut, ributlah! Tapi jangan bawa perkara Islam-Kristen, asli-pendatang dan sebagainya!” Mungkin selanjutnya bisa sampai menghapus jabatan yang diributkan, karena toh masyarakat bisa mengurus diri sendiri. Jadi jawabannya menurut saya akan datang dari masyarakat sendiri, dari warga sendiri. Memang ada konflik yang tidak dapat diselesaikan tanpa perubahan

98

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

mendasar. Dan itu menurut saya tidak perlu dihindari, tapi justru menjadi tantangan bagi kita untuk membangun institusi demokratik di mana konflik semacam itu dapat ditangani. Ini yang sekarang nggak ada. Sehingga konflik apa pun tidak ada penyelesaiannya. Tidak ada lembaga yang mampu. Pengadilan jelas nggak mampu, kita semua tahu kualitasnya seperti apa, sampai ke Mahkamah Agung sekalipun. Sementara ini belum ada lembaga yang mampu memberi jawaban. Kelanjutan dari apa yang dikerjakan kawan-kawan di Palu menurut saya akan sampai ke sana, memikirkan lembaga-lembaga demokratik baru yang bisa menangani masalah tanah misalnya. Di Timor Lorosae sekarang mulai tumbuh. Ini luar biasa sebenarnya, tapi PBB tidak mendukung. Pikirannya memang nggak sampai ke sana. Pikirannya seperti Orde Baru saja, ada poteni sekian kerahkan tenaga sekian, modal sekian, jadi proyek. Nanti setelah beberapa tahun akan take-off. Nggak ada bedanya dari rezim Soeharto, Gus Dur dan lain-lainya. Pikirannya lurus begitu saja. Tidak ada diskusi warga tentang bagaimana sebaiknya menata kembali masyarakat yang porak-poranda. Padahal yang penting justru melibatkan semua orang, perempuan, Islam-Kristen, guru-murid, terserah mau dilihat dari segi apa pun, yang penting penataan kembali itu memang menjamin keamanan dan kelangsungan hidup yang lebih baik. Rekonstruksi yang ada sekarang praktis lebih banyak menciptakan kemungkinan konflik atau kekerasan baru. Banyak dana yang disediakan untuk beras tapi nggak ada langkah untuk mengontrol senjata misalnya. Padahal itu yang jadi soal. Peluru, senjata, mobilisasi kekerasan dibiarkan berlanjut terus. Semuanya dibiarkan lepas tapi makanan dipasok terus. Itu sama saja dengan memberi logistik kepada orang yang mau tempur. Dan inilah yang terjadi di Maluku menurut saya. Beras disalurkan melalui kekuatan-kekuatan yang ada, entah Laskar Jihad, Laskar Kristus, dan sebagainya. Nah, itu kan kembali ke situasi perang zaman dulu. Siapa yang pegang logistik banyak dialah yang bisa bertahan perang. Dan memang itu yang terjadi. Orang mengambil jatah beras kan sama saja seperti prajurit antre makanan. Dengan mudah pimpinan laskar itu bilang, “kami bisa dapat beras lima liter, tapi harus ikut latihan. Sepuluh liter kalau bisa ajak sepupu dan seterusnya.” Jadi nggak heran kalau konflik terus berlanjut. Saya pikir di tengah kesulitan seperti sekarang kita mesti mulai bekerja dari pinggirpinggir persoalan lalu bergerak ke tengah. Saya tidak tahu juga apa dengan begini masalahnya bisa selesai. Tapi paling tidak kalau melihat pengalaman Palu, rasanya lebih menjanjikan ketimbang datang ke tengah situasi konflik, kumpulkan laskarlaskar terus bicara tentang resolusi konflik. Apalagi pakai pendekatan dialog antar agama, sudah terbukti nggak jalan itu. Wong masalahnya bukan agama, disuruh dialog antar agama. Sentot: Saya tertarik pertanyaan dari Dolorosa tadi. Mana yang lebih penting, mengurus pengungsi atau menyelesaikan konflik. Saya mulai dari pengalaman jalan ke Manado beberapa waktu lalu. Ternyata pengungsi,

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

99

baik yang datang dari Ternate atau Maluku, itu seperti bom waktu. Artinya potensial untuk meledak menyebarkan konflik lebih luas. Di pelabuhan Bitung sekarang ada sekitar 16.000 pengungsi. Dalam konteks ekonomi setempat, itu artinya buruh murah. Kesempatan orang bekerja di sana semakin sulit. Pemerintah daerah ketemu dengan Kedubes Amerika, British Council dan nggak tahu siapa lagi, bikin agreement. Pengungsi dibikin jadi proyek baru. Orang lagi nongkrong tiba-tiba petugas bantuan datang, “mau kerja, ya?” Kasih duit tiga juta. Sementara orang setempat nggak pernah dapat kesempatan seperti itu. Akhirnya muncul kecemburuan antara penduduk lokal dengan pengungsi. Lalu persoalan bantuan. Manado itu kalau nggak salah sudah berhasil mencapai swasembada beras. Ada Amurang, Tondano dan Tanawangko. Tapi anehnya beras untuk pengungsi datangnya dari luar Manado. Bisa dibayangkan, ada sekitar 30.000 pengungsi yang dapat beras, berlebihan malah. Akhirnya dijual lagi oleh mereka dengan harga murah agar bisa membeli keperluan lain seperti pakaian, uang sekolah dan sebagainya. Nah, efeknya harga beras kemudian jatuh dan petani terpaksa jual beras murah. Anak-anak pengungsi juga dipekerjakan di toko-toko yang jual cengkeh karena upahnya lebih murah. Mereka yang semula kerja di sana akhirnya nganggur. Jadi kecemberuan seperti ini – saya tidak mengatakan ini sengaja direkayasa atau bagaimana – tapi jelas merupakan bom waktu. Kedatangan pengungsi ini jadi masalah tersendiri lepas dari konspirasi atau apalah yang menjadi latar belakang konflik semula. Jadi soal mana yang harus diselesaikan lebih dulu, memang sulit dijawab. Tapi yang pasti kita perlu pertimbangkan situasi kongkret yang ada sekarang. Agung Putri: Saya hanya mau share sedikit saja. Tadi sore saya sempat ngobrol agak panjang dengan teman yang aktif mengorganisir petani di Padang. Ceritanya sangat menarik. Awalnya saya tanya, “kenapa di Padang tidak ada gerakan mahasiswa yang kuat?” Aktivitas hak asasi manusia dan demokratisasi juga tidak besar seperti di Aceh misalnya. Dari pertanyaan itu kita ngobrol soal kehidupan masyarakat pada umumnya di Sumatera Barat. Menurut dia di Padang itu konflik tanah sebetulnya sangat banyak. Tapi masyarakat di sana, terutama elite dan aparatnya, pandai sekali menyelesaikan dengan cara negosiasi dan surat-menyurat. Nyaris tidak ada konflik yang keras sampai harus pukul-pukulan, merampas tanah dan sebagainya. Akhirnya aktivis di sana juga bilang kepada petani agar jangan sampai negosiasi karena pasti kalah. Begitu pandainya kalangan elite dan aparat bicara, menggunakan tradisi musyawarah, sehingga selalu menang. Itu menarik karena sebenarnya ada konflik mendalam tapi selalu diselesaikan dengan negosiasi. Jadi semua dibuat hitam di atas putih.

100

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Jadi petani, entah di tingkat nagari atau mana saja, punya surat. Entah adil atau tidak, tapi semuanya hitam di atas putih. Saya pikir kok ini advanced sekali, ya. Jadi penguasa punya bermacam-macam cara mengontrol kekuasaannya. Tidak selalu harus dengan kekerasan. Itu contoh dari Padang, dan bisa menjelaskan mengapa tidak muncul gerakan mahasiswa atau gerakan demokrasi seperti di tempat lain. Tidak ada ruang untuk kampanye-kampanye atau aksi pembelaan petani. Buat mereka berpolitik artinya masuk partai. Dan memang kesulitan mengorganisir petani secara independen. Ada petani pintar sedikit langsung diambil oleh partai-partai. Mereka sebelumnya dilatih oleh LSM tapi akhirnya milih masuk partai karena dianggap kemajuan. Sementara buat LSM-nya, “wah, kamu kok meninggalkan masyarakat”. Tapi itulah, menurut petani berpolitik itu harus masuk partai. Jadi ada model-model penyelesaian dari atas yang ternyata berpengaruh terhadap cara orang membangun kekuatan di bawah. Saya nggak tahu soal Palu, tapi mungkin Bung Gaffar bisa cerita soal membangun kekuatan bersama rakyat. Apakah itu respons terhadap cara penguasa menangani masalah selama ini atau bagaimana? Apakah temanteman mulai bergerak setelah melihat penguasa tidak menangani masalah dengan benar, sehingga melihat perlunya cara-cara lain? Abdul Gaffar: Saya pikir ada benarnya. Kita memang kecewa dengan apa yang dilakukan Pemda di sana. Bisa dibayangkan tempat penampungan pengungsi pemerintah itu kecil sekali tapi harus menampung banyak sekali orang. Petani yang mengungsi ke sana hanya hidup dari bantuan beras dan lauk. Padahal mereka perlu lahan untuk bekerja. Nah, ini salah satu faktor yang membuat warga berpikir bagaimana caranya mengeluarkan petani dari sana sehingga bisa kembali bekerja. Kemudian masalah perempuan dan anak-anak sama saja. Anak-anak yang ditampung di sana tidak bisa sekolah karena jaraknya snagat jauh. Setiap hari mereka cuma dapat uang Rp 1.500 untuk semua keperluan, jadi jelas tidak bisa bersekolah. Jadi akhirnya kita duduk bareng dengan pengungsi dan bicara. Kita kembalikan kepada sesama warga dan bicara tentang jalan keluar. Akhirnya ada pemikiran yang muncul dan ramai-ramai kita kerjakan. Kalau soal tanah situasinya agak lain. Di kelurahan Nunu masih banyak lahan yang kosong, atau istilahnya, lahan tidur. Ya, daripada tidur terus lebih baik dibangunkan, dan yang bertugas membangunkan ya pengungsi itu. Dan ini semua disepakati warga. Ada juga warga yang menyerahkan lahannya cuma-cuma kepada pengungsi selama tinggal di sana untuk digarap.

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

101

Dedi: Saya ingin tanya sejauh mana pengungsi di tempat Bung Gaffar tahu tentang situasi daerah asalnya. Artinya informasi yang obyektif tentu saja. Misalnya kalau tentara dan polisi bilang “aman”, apakah langsung percaya atau ada informasi lain yang mereka baca? Abdul Gaffar: Sebenarnya ada banyak sumber informasi, dan menariknya pengungsi bisa membedakan mana yang benar dan mana yang tidak. Misalnya koran Mercusuar itu bikin laporan tentang desa Tokorondo. Setelah baca mereka bilang, “wah, ini nggak benar.” Kalau soal media dari kita sendiri, saya pikir perlu tapi bukan dalam bentuk tulisan. Yang penting adalah bagaimana pengungsi itu bisa berhubungan dengan warga. Jadi setiap bulan kita sepakati bikin pertemuan warga. Jadi masyarakat punya dua akses. Pertama membaca suratkabar atau media lokal tapi juga pertemuan untuk sharing. Nah, ini berjalan seiring. Jadi ada hubungan timbal-balik yang saling mendukung, kita bisa menekan gejolak-gejolak yang timbul dan kadang ditimbul-timbulkan oleh media. Peserta: Dari keterangan tadi kelihatannya bahwa pengungsi itu bukan hanya orang Islam, tapi juga ada Kristen. Dan mereka mendapat pelayanan yang sama di tempat pengungsian. Lalu bagaimana sikap pengungsi itu sendiri? Tadi kan dikatakan mereka tidak apa yang sesungguhnya menjadi sumber konflik. Mereka cuma korban yang kemudian mengungsi. Nah, sekarang ada pengungsi yang Kristen, dan ada yang Islam. Bagaimana sikap mereka satu sama lain? Dan bagaimana cara berkembangnya kesadaran padahal provokasi masih jalan terus melalui koran dan sebagainya. Abdul Gaffar: Soal kesadaran itu kita tangani lewat pertemuan-pertemuan rutin. Bukan cuma warga yang hadir tapi pengungsi juga. Kita tidak tahu agama yang mereka anut, tapi yang penting dikumpulkan. Lalu ada temanteman, seperti Bung Hedar dari Bantaya, memberikan semacam pencerahan, penjelasan tentang kondisi kerusuhan dan sebab-sebabnya. Kemudian tokoh-tokoh mengambil kesimpulan sendiri. Memang ada juga yang terjebak ke arah lain. Mereka bilang bahwa di Islam juga banyak orang kafir, di Kristen dan Buddha juga ada orang kafir, sehingga kesimpulannya orang kafir inilah yang berbuat. Tapi paling tidak pengungsi menyadari bahwa mereka ini korban dan bahwa agama yang mereka anut tidak pernah mengajarkan kekerasan. Apalagi terhadap manusia. Dalam pertemuan itu juga hadir tokoh Buddha dan Hindu setempat, walau tidak banyak bicara. Tapi mereka memberikan

102

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

pandangan tentang keyakinan yang dianut. Itu sejauh ini yang saya pikir cara paling tepat untuk menghindari konflik. Amiruddin: Saya kebetulan pernah beberapa kali ke Aceh. Di sana pengungsian agak lain masalahnya. Tidak terbuka seperti di tempat lain. Dan ada masalah serius. Misalnya orang dari Aceh Utara masuk ke Tenggara, dari Barat masuk ke Selatan. Orang yang wilayahnya didatangi biasanya marah, “kalian yang bikin konflik kenapa datang ke sini.” Nah, jadi mulai bertengkar di situ. Ada daerah yang bahkan menolak datangnya pengungsi. Sehingga ribut di antara warga sendiri. Ada juga yang mulai berpikir bahwa masalah ini sebenarnya antara orang Lhokseumawe, Pidie dan Aceh Besar. Tapi bagi orang Gayo di Tenggara dan Selatan, itu bukan masalah. Mereka nggak mau merdeka, jadi menolak berurusan dengan pengungsi. Saya pikir cara-cara dari Bung Gaffar sangat penting untuk menangani masalah pengungsi di Aceh. Masalah bantuan-bantuan itu juga. Saya bertemu teman-teman dari Maluku Utara. Mereka cerita bantuan itu banyak sekali waktu itu. Dari Saudi Arabia saja kirim duit ke Al-Fatah dalam jumlah banyak. Akhirnya jatuh ke tangan Laskar Jihad. Di sisi lain ada uang dari Belanda yang dikirim ke gereja Maranatha. Akhirnya jadi bekal untuk perang-perangan. Saya juga sempat bilang, “lebih baik tidak dikasih bantuan saja. Kalau nggak ada bantuan kan nggak jadi perang.” Tapi teman-teman itu malah marah. Saya coba jelaskan bahwa bantuan itu ternyata hanya memperpanjang energi orang untuk perang. Dan orang saling bertikai karena memang bantuannya ada terus. Sekarang malah ada spesialis yang kerjanya cari bantuan ke mana-mana. Mereka datang ke kedutaan, ke mana-mana sajalah. Ini juga perlu kita pelajari betul sehingga tidak terjebak ke dalam bantuan yang katanya untuk kemanusiaan, tapi buntutnya malah melahirkan soal. Di Maluku saya lihat seperti itu. Di Aceh bantuan juga bisa membuat orang saling bertengkar. Contohnya ketika Gus Dur kasih duit ke Aceh. Untuk menampung duit dibuat yayasan namanya Aswajana. Kalau orang Aceh bilangnya, “asli Jawa”. Pimpinannya itu jadi semacam boss kecil di Aceh. Kalau ada orang datang minta duit dia bilang, “perlu berapa?” Tinggal bikin proposal atau bicara saja dikasih duit ratusan ribu sampai sejuta. Semua dikasih. Akhirnya bertengkar sendiri dan dia dipanggil DPR. Dia cuma bilang, “lho yang pakai duitnya kalian semua, kok jadinya malah ribut?” Nah, inilah masalah di Aceh. Pengungsi akhirnya dikonsentrasikan di satu tempat dan jadi lahan tawar-menawar dengan Jakarta untuk dapat uang. Memang luar biasa. Saya sendiri terima banyak sekali surat tentang persoalan seperti ini. Ada juga lembaga di Aceh yang hanya mau bantu perempuan. Pengungsi begitu banyak dia nggak mau, kecuali kalau ada kaitannya

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

103

dengan perempuan. Akhirnya teman-teman ada juga yang terpaksa bikin proyek khusus soal itu. Akhirnya bertengkar lagi. Jadi saya pikir yang disampaikan Bung Gaffar itu penting sekali, masukan yang baik sekali bagi kita. Nanti kalau ketemu teman-teman dari Aceh atau Ambon saya bisa ngobrol soal ini. Moderator: Apa ada komentar lain? Atau Bung Gaffat sendiri mau tambahkan sesuatu? Kalau tidak ada mike akan saya matikan seperti biasa… oh, ada satu lagi. Peserta: Apakah dalam penyelesaian konflik di Palu masyarakat adat dilibatkan? Abdul Gaffar: Kalau penanganan adat secara langsung tidak. Tapi kebetulan YBH Bantaya yang membantu kita banyak berkiprah di bidang masyarakat adat. Kita juga mendengar uraian dari Bung Hedar tentang bagaimana masyarakat adat menyelesaikan persoalan mereka. Jadi tidak secara langsung tapi peranannya ada. Lebih banyak karena YBH Bantaya bekerja pendampingan masyarakat adat dan direkturnya juga bicara banyak soal itu dalam penanganan kasus tanah dan sebagainya. Moderator: Baik, saya tidak akan merangkum tapi menyinggung apa yang telah kita diskusikan malam ini. Bahwa krisis pengungsian di Indonesia ini bukan sekadar cerita tentang eksodus orang atau berpindahnya orang dari tempat asalnya, tapi ada banyak masalah baru yang terkait. Kawankawan di Palu sudah cukup efektif menjawab masalah pengungsian ini melalui pengorganisasian masyarakat, dan saya kira hasil diskusinya juga bisa segera dikirim ke Manado. Mudah-mudahan kawan di Manado bisa mengikuti apa yang sudah dilakukan Bung Gaffar, dan kita bisa bergerak lebih jauh bukan hanya mengurus pengungsian tapi sampai pada fase masyarakat mengurus diri sendiri. Terima kasih kepada Bung Gaffar dan Fay. [tepuk tangan].

104

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

105

13 SEPTEMBER 2000

Pembantaian 1965
Moderator: Hilmar Farid. Materi Film: Indonesia’s Kiling Field, SBS Australia.

Walau sudah puluhan tahun berlalu, peristiwa kekerasan 1965-66 masih menghantui kehidupan banyak orang sampai hari ini. Jika klaim keanggotaan PKI dapat dipercaya, maka boleh dibilang satu dari sepuluh orang di Indonesia dengan satu atau lain cara menjadi korban, saksi atau setidaknya berhubungan dengan peristiwa itu. Diskusi tentang peristiwa ini menjadi bagian dari gerakan sejarah lisan yang dikerjakan Tim Relawan Kemanusiaan (TRK) dan Jaringan Kerja Budaya (JKB). Dbp. kali ini tidak menampilkan pembicara, dan semua orang boleh berpendapat dan berpandangan sesuai dengan apa yang dialami, dirasakan dan dipikirkan. Kebiasaan saling hujat yang mendominasi diskusi tentang peristiwa tersebut selama ini tidak membawa kita bergerak maju. Dalam diskusi ini hadir sekitar 150 orang dari berbagai kalangan, mulai dari bekas tapol/napol, aktifis mahasiswa dari bermacam organisasi, seniman, pekerja kemanusiaan, ibu rumah tangga, sampai guru SMA dan murid-muridnya. Perdebatan hangat terjadi ketika sejumlah pengunjung, terutama generasi muda, mempersoalkan sikap para korban langsung peristiwa 65 yang cenderung melihat penderitaan mereka jauh lebih berat daripada korbankorban pelanggaran HAM lainnya. Para korban bercerita panjang lebar tentang pedihnya kehidupan mereka dan menuntut pemerintah untuk bertanggung-jawab, tapi mereka seakan tidak terlalu peduli dengan para korban kekerasan di Aceh, Papua, Tanjung Priok, Lampung, dst. Kawankawan muda ini berpendapat bahwa tanpa kesatuan langkah di kalangan korban, tidak akan mungkin mereka mampu mendesakkan tuntutannya berdasarkan kasus-kasus tertentu saja.

Moderator: Baik, saya akan membuka diskusinya dan saya lihat sudah cukup aman dan tertib – walau pun nggak ada Kopkamtib. Nah, diskusi ini agak beda dari biasanya karena biasanya kita ada satu atau dua pembicara setelah itu kita bisa memberikan komentar atau semacam tanya jawab. Kali ini tidak ada pembicaranya. Ada dua alasan sebetulnya. Pertama, sulit mencari orang yang bisa mengulas ini secara komprehensif, artinya menyeluruh. Dan alasan kedua yang sebetulnya berkaitan dengan yang pertama, bahwa tiap orang yang ada di sini juga punya pengetahuan dan pengalamannya masing-masing. Dan kita pikir akan jauh lebih berharga kalau semuanya berbicara, artinya memberikan apa yang mereka tahu agar bisa memperkaya pengetahuan masing-masing yang ada sekarang. Saya akan membuka dengan semacam pengantar. Mungkin angkatan yang lebih muda belum pernah dengar tentang peristiwa pembunuhan massal yang biasa disebut “pembunuhan massal ‘1965”. Sebetulnya pembunuhan itu tidak berhenti tahun 1965, tapi terus berlanjut sampai
106
Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

tahun 1968, dan 1973 juga di Purwodadi masih terjadi. Jadi, satu rangkaian yang sangat panjang. Diduga korban yang jatuh dalam rangkaian peristiwa itu antara 78 ribu - itu angka yang disebutkan fact finding commission yang anggotanya antara lain Oei Tjoe Tat (almarhum) - sampai 3 juta orang. Angka terakhir adalah pengakuan dari Jenderal Sarwo Edhie (almarhum). Soal angka ini memang menjadi perdebatan besar, tapi dalam diskusi ini kita ingin mengajak bergerak melampaui angka-angka. Karena ada semacam prinsip bahwa satu orang pun sudah terlalu banyak kalau menyangkut pembunuhan karena alasan-alasan politik, alasan keyakinan dan seterusnya. Nah, ada pertanyaan mendasar yang saya pikir hidup di kita semua, yaitu mengapa peristiwa yang begitu besar bisa seperti hilang dari ingatan kolektif kita? Mungkin masing-masing orang pernah mendengar mungkin juga melihat. Tetapi, secara publik peristiwa ini seperti hilang. Tidak bisa kita temukan misalnya kisah-kisah yang merujuk kepada pengalaman itu. Nah, ini menjadi suatu pertanyaan besar mengapa itu bisa terjadi? Belakangan ini ada beberapa tulisan yang muncul, satu buku dan satu disertasi. Satu buku ditulis oleh Hermawan Sulistyo, dengan judul Palu Arit Di Ladang Tebu, yang sebenarnya juga disertasi pada universitas di Amerika. Terus ada disertasi dari Iwan Gardono Sujatmiko, yang juga membahas pembunuhan itu dengan membuat perbandingan Jawa Timur dan Bali. Di luar negeri beberapa tulisan sudah, sebetulnya dari tahun 60-an, mencoba mengulas dan berusaha memahami, kenapa pembunuhan yang begitu masif itu mungkin terjadi. Sebetulnya kalau mau melihat tulisan-tulisan yang muncul, keterangan yang diberikan ini masih sangat terbatas. Kalau mau main-main angka atau persentase, boleh dibilang hanya 5-10% yang kita tahu tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Bahkan sampai sekarang masih ada orang bilang pembunuhan itu hanya terjadi di Jawa dan Bali. Saya sendiri tahu bahwa itu terjadi di Flores dan masing-masing di sini tahu bahwa pembunuhan itu terjadi juga di tempat-tempat lain. Nah, cerita-cerita tentang itu bisa kita sumbangkan dalam forum ini, dan saya yakin juga masih banyak sekali cerita lain yang akan muncul dari sini. Cerita tentang kejahatan Nazi dalam Perang Dunia kedua sampai hari ini masih beredar. Sekarang pun bukti-bukti baru tentang pembunuhan massal di sini mulai bermunculan, ada banyak sekali keterangan baru, cerita dan pengalaman yang selama ini dipendam atau lebih tepatnya ditindas. Batas-batas lain yang ingin saya tawarkan dalam diskusi ini, kita tidak mendiskusikan peristiwa penculikan para Jenderal tanggal 30 September. Alasannya sederhana, karena sudah banyak keterangan mengenai kejadian itu dan bisa dibaca di tempat-tempat lain. Saya justru mengajak berbicara khusus tentang pembunuhan yang terjadi sesudah peristiwa itu. Tapi, ini

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

107

hanya tawaran yang terbuka untuk dikomentari. Catatan lain yang saya ingin sampaikan untuk membuka diskusi ini berangkat dari film ini sendiri. Ada beberapa keterangan menarik dari para pelaku yang mengatakan bahwa pembunuhan itu memang massal dan terorganisir. Artinya ini melawan anggapan bahwa yang terjadi saat itu semacam amuk massa yang tidak terkontrol atau tidak terkendali. Saya pikir menarik menggarisbawahi pernyataan Pak Hasjim, paman dari Abdurrachman Wahid, bahwa memang sudah dipersiapkan sebelum peristiwa itu terjadi. Banser sengaja dibentuk untuk menghadapi Pemuda Rakyat dan dilatih oleh militer. Bahkan untuk itu, dia bilang “kita pakai referensi Mein Kampf-nya Hitler.” Ini keterangan-keterangan menarik saya pikir untuk didiskusikan lebih lanjut. Di film itu ada adegan wawancara dengan seseorang di Bali yang bekerja di perkebunan, dan dia diminta oleh perusahaan untuk membersihkan perkebunan itu dari PKI. Siapa yang menjadi PKI? Ya, perkebunan yang tahu, tinggal kasih daftarnya nanti orang ini yang mengerjakan dan ia mengaku membunuh sekurangnya 25 orang. Jadi pembunuhan massal itu ternyata lebih dari sekadar reaksi spontan seperti yang selama ini diceritakan dalam buku resmi, tapi sangat terkait dengan masalah-masalah lain seperti tanah, masalah keadilan di pabrik dan seterusnya. Itu yang sangat mempengaruhi perkembangan atau peristiwa pembunuhan itu. Catatan terakhir menyangkut istilah “kudeta”. G-30-S/PKI resminya adalah sebuah kudeta. Sementara kalau melihat keterangan Jenderal Mursyid dan Kemal Idris, kudeta itu terjadi setelah peristiwa G-30-S itu atau sering disebut “kudeta kedua” yang dilakukan oleh Soeharto. Inilah beberapa poin yang saya lontarkan. Memang tugas yang aneh menjadi moderator tetapi tidak ada pembicaranya. Jadi saya minta bantuan teman-teman untuk memberikan komentar atau pendapat, pandangan. Mungkin selama 30 menit ke depan kita bisa saling melontarkan pandangan. Nanti saya coba antu dengan membuat rumusan setelah itu beberapa poin akan kita diskusikan lebih mendalam. Itu tawaran dari saya, dan saya persilakan sekarang kalau langsung ada yang mau bicara. Norman Sophan: Assalaamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Pertama saya menaruh hormat kepada generasi terdahulu, yang menyaksikan secara langsung. Karena saya ini generasi baru. Jadi yang saya lihat di film ini tadi, saya melihat dari sisi apa dulu? Kalau dari sisi HAM ya jelas melanggar. Saya melihat ini film tidak ada bedanya dengan negara-negara lain. Karena pada waktu itu ada dua kekuatan besar, ideologi komunis dan ideologi liberal. Ini yang kita lihat rebutan terhadap negara-negara berkembang.

108

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Pada waktu G-30-S/PKI itu kalau nggak salah saya masih SD kelas satu, kelas dua. Ingat sekali saya setiap rumah disuruh gali lubang. Saya nggak tahu untuk apa. Nah ini, ini masa lalu. Kalau saya melihat, betapa gobloknya bangsa-bangsa negara berkembang. Pada waktu itu negara RRC dan Uni Soviet yang ideologi komunisnya begitu hebat melawan kelompok Eropa dan Amerika. Ini dua kekuatan besar yang merebut bangsa-bangsa yang terjajah. Kalau kita lihat, kita ini jadi kelinci percobaan, jadi boneka. Menurut referensi yang saya baca katanya kalau Indonesia bisa ditaklukkan komunisnya maka minimal Asia Pasifik akan komunis semua. Maka berlombalombalah Amerika, mungkin support duit, sponsor apa dan segala macam. Mungkin saya salah persepsi. Terima kasih. Peserta: Saya seorang bekas guru di Jawa Timur, guru Sekolah Teknik Menengah. Mungkin kalau kita bicara tentang pengalaman atau korban orang bosan mendengarkan. Tapi kalau generasi muda menghendaki supaya diungkap secara gamblang apa yang terjadi, maka kewajiban kami orang-orang tua ini untuk menyampaikan kepada mereka, bahwa inilah pengalaman kami pada saat-saat menjelang ’65 itu. Kalau dilihat dari jumlah korban memang Jawa Timur paling banyak dan terutama terjadi di antara para guru. Guru-guru SD yang di desadesa itu hampir semuanya terbunuh. Dan ini merupakan satu kenyataan, sebab pada umumnya guru-guru di desa ini adalah pembawa pikiran baru, pembawa pikiran modern di desanya, sehingga bertentangan dengan tradisi yang ada di dalam desa itu sendiri. Oleh karena itu pada saat terjadinya peristiwa itu orang yang merasa diganggu oleh pikiranpikiran maju para guru itu lalu bangkit pikirannya untuk mengadakan pembunuhan. Dan ini terjadi sedemikian rupa, sehingga para guru paling banyak terbunuh di Jawa Timur, terutama guru-guru SD sampai kepada guru-guru SMP, guru-guru Sekolah Teknik. Kami adalah salah seorang pengurus Persatuan Guru Teknik di Jawa Timur. Waktu itu memang rekan-rekan kami guru-guru teknik banyak yang terbunuh juga di Magetan, di Blitar, mereka itu begitu dibunuh dimasukan ke sumur, atau diluweng sehingga keluarganya tidak tahu kemana anaknya atau suaminya itu pergi. Jelas bahwa generasi muda harus tahu tentang itu. Karena anakanak saya sendiri misalnya, menganggap bahwa saya atau kami, sesuai dengan indoktrinasi dari sekolah waktu itu, adalah musuh-musuh mereka. Ini suatu kenyataan. Banyak kawan-kawan yang pulang dari penjara dikucilkan oleh keluarganya. Dan ini banyak sekali sehingga mereka menganggap kedatangan para tahanan dari penjara akan menambah beban keluarga itu sendiri. Pertentangan yang terjadi pada waktu itu adalah pertentangan antara kami orangorang tua jangan sampai sekarang ini berimbas kepada generasi muda kita. Oleh

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

109

karena itu, kami menyerukan adanya rekonsiliasi. Rekonsiliasi ini tentu saja musti berdasarkan pikiran Presiden Soekarno waktu itu, bahwa harus dihimpun kekuatan revolusi untuk memenangkan revolusi. Jadi [kalau] rekonsiliasi yang secara vulgar diterapkan tentu saja akan merupakan rekonsiliasi yang tidak menguntungkan bagi revolusi itu sendiri atau reformasi total yang diinginkan oleh mahasiswa kita. Hario Kecik: Saya ini tentara dulu, saya bukan dari KNIL, dan bukan dari PETA, dan bukan dari Heiho, tapi saya masuk tentara ini karena mahasiswa yang ingin berontak. Jadi, jiwa berontak ini saya bawa di dalam perjuangan. Sebetulnya nggak tinggi ideologi saya, cuma ingin nembaki londo, gitu aja. Terus saya jadi panglima, di situ saya ingat dengan keadaan masyarakat yang kongkret. Di situ saya belajar adanya partai-partai yang kerja di tengah-tengah rakyat, dan ada problem-problem yang kebanyakan karena negara kita ini agraria - mengenai tanah. Tanah, nah ini yang penting.Jadi waktu saya panglima, itu sebetulnya sekolah untuk saya. Karena saya memikirkan perkara bagaimana rakyat ini? Di situ, orang harus dikombinasikan dengan tanah. Itu diinterpretasi oleh orang-orang atasan itu, yang nggak senang tentu saja, sebagai pikiran kiri. Memang itu pikiran kiri, kalau pikiran kanan, ndak bisa begitu. Rakyat harus dieksploitasi di dalam perusahaan-perusahaan, di dalam perkebunanperkebunan. Tapi saya mempunyai ide rakyat ini harus transmigrasi, harus mempunyai tanah sendiri, harus produksi. Ini sudah betentangan dengan perusahaan minyak yang ada di daerah saya itu. Ya, ngerti sendiri perusahaan minyak dalam rangka kapitalisme itu apa? Jadi, setelah melihat ini dan sebelumnya melihat ini, yang kita cari itu causality, hubungannya, itu. Di mana? Yaitu di tanah, masalah tanah, dan masalah kekuatan yang dipakai kaum kapitalis itu untuk menjalankan niatnya yang umum untuk dijalankan di negara-negara berkembang itu. Apa itu? Tentara pada saat itu.Jadi film ini hanya menunjukkan highlight dari perjuangan rakyat yang pada saat itu kalah, dibunuh, jutaan dibunuh. Tapi perjuangannya tetap. Ini kaum muda harus mengerti. Ndak perlu kita jelaskan, mereka ngerti sendiri. Moderator: Terima kasih Pak Haryo, saya sebetulnya mau stop. Tapi pembukaannya dia bilang, “Saya ini tentara”, jadi saya segan juga nyetopnya. Ini dari tadi anak muda dibilang harus begini-begitu. Saya mau nyambung sedikit karena sudah ada tiga orang yang bilang anak muda harus begini, harus begitu. Jadi mau kasih kesempatan anak muda dululah untuk mengemukakan pikirannya. Silakan. Martin Aleida:

110

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Pada salah seorang teman saudara Fay, saya pernah bertanya, apakah yang diskusi ini ditranskrip atau tidak? Atau dibiarkan saja sebagai rekaman? Sebab saya kira ini kesempatan yang baik untuk memulai kebiasaan untuk menulis. Misalnya banyak hal yang buat saya sendiri baru, misalnya mengenai peristiwa Madiun. Pram mengatakan bahwa itu adalah upaya untuk membiarkan Jawa Barat diambil oleh Belanda. Tapi ini kan tidak pernah tertulis. Tidak ada yang tulis. Dan saksi-saksi sejarah, kecuali Putu Oka, tidak pernah ada yang menulis. Tidak ada. Hanya satu dua yang menulis dari peristiwa yang begitu dahsyat. Dan saya kira juga forum kita ini kurang terbuka. Saya pernah mengusulkan supaya Hermawan Sulistyo diajak bicara. Sebab saya kira, dia adalah seorang sarjana sejarah - saya kira sejarah politik - yang pertama dan paling luas membuat satu studi mengenai pembunuhan yang terkonsentrasi di Kediri dan Jombang. Saya kira dia orang pertama yang sebagai seorang sarjana begitu jujur. Saya kira kalau difilmkan hasil wawancara dia, tidak kalah dahsyat daripada yang dikerjakan rekanrekan kita dari Australia. Saudara Alex dari kelompok kita ini apriori bahwa Hermawan Sulistyo pada kesimpulannya tidak mau mengatakan bahwa G-30-S itu adalah grand strateg y Angkatan Darat. Tapi jangan begitu, dong. Sebab kalau kita lihat kesimpulan tulisan saudara Hermawan Sulistyo, dia dengan jelas mengatakan bahwa tentara itu kasarannya membiarkan atau mendorong orang untuk membunuh. Saya kira ini sudah satu sikap yang sangat maju sebagai seorang sarjana sejarah politik. Saya ingin tekankan bahwa siapa yang mengalami peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah kita mau ditulis, dan saya kira kewajiban saudara Fay, tentu sebagai seorang sejarawan, menulis dengan komprehensif. Ilham Aidit: Film itu sangat berhubungan secara emosional dengan saya. Waktu umur saya 6 tahun, saya baru mulai bisa membaca beberapa kata menjadi kalimat terpanjang. Saya baca di dinding besar dengan tulisan dari cat merah, “Bubarkan PKI, gantung Aidit, Subandrio anjing Peking.” Saya pikir kenapa begitu banyak yang ingin menggantung ayah saya? Saat itu saya sadar, sejak umur 6 tahun, hidup saya akan sulit. Sejak itu saya selalu berpikir sebetulnya apa yang terjadi saat itu? Dan betulkah ayah saya bersalah? Ini sekedar sharing saja bagaimana rasanya menjadi seorang anak komunis, anak PKI. Waktu saya SD, saya hanya tahu bahwa ayah saya pemberontak. Dan sulit buat saya untuk mengatasi masalah itu, karena kata “memberontak” punya konotasi sangat buruk. Dan saya tidak cukup tahu bagaimana harus mengatasi itu. Ketika saya SMP, saya termasuk anak yang sering berkelahi. Karena dibilang ”anak Aidit”. Hampir tiap hari saya berkelahi hanya karena orang bilang anak PKI. Kemudian waktu kelas 3 SMP saya ingat sekali ada seorang anak memanggil saya

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

111

“anak PKI”. Saat itu saya tiba-tiba merasa tidak harus berurusan fisik dengan dia. Saya betul-betul ingin tanya, “Apa yang kamu ketahui tentang PKI?” Dia jawab waktu itu, masih ingat sekali, “PKI itu orang dengan dengan topi caping dan selalu punya palu dan arit di bajunya. Palu untuk membenturkan kepala orang dan arit untuk melibas leher orang.” Biasanya saya tonjok orang itu langsung, perkara saya kalah itu urusan belakangan. Tapi saat itu sedih, sedih sekali, karena saya pikir orang seusia saya seperti dia - namanya Rono - saya masih ingat sekali, banyak sekali dan semua berpikir seperti itu. Saat itu saya merasa bahwa hidup saya akan semakin sulit. Paling tidak, tidak semudah orang lainlah, kira-kira begitu. Waktu itu saya menangis. Umur saya 15 tahun dan itu menangis yang kedua kali setelah saya ditinggal orang tua saya. Itu menangis pertama kali agak serius. Guru sejarah saya waktu melihat kejadian itu bilang, “Kamu kembali ke tempat duduk kamu dan nanti setelah selesai sekolah kamu ketemu saya.” Setelah selesai sekolah saya ketemu beliau dan dia bilang cuma satu, “Kalau energi kamu, tenaga kamu, semua pikiran kamu habis untuk melayani seperti itu , kau pasti sering tidak naik kelas, bahkan kamu sering keluar sekolah. Jadi lebih baik kamu tidak pikir tentang itu, kamu konsentrasi penuh pada pelajaran kamu, dan kamu harus naik kelas tiap tahunnya.” Dan itu cukup melegakan saya, jadi selama SMA saya pegang kata-kata guru itu, dan sangat membantu. Ini saya sharing saja, sedikit perjalanan hidup saya supaya mungkin Anda bisa tahu bagaimana rasanya sebagai seorang anak yang dibilang “anak PKI”. SMA saya lewati sedikit lebih mudah, karena hanya katakata dari guru SMP saya yang mengatakan, “Jangan buang energi kamu untuk melayani ocehan semacam itu.” Nah, waktu SMA pikiran yang sangat mengganggu saya itu sebetulnya hanya dua, “Apakah ayah saya memang bersalah? Apakah ayah saya memang seorang penjahat? Atau kedua, apa sebetulnya yang waktu itu terjadi?” Karena versi yang ada cuma satu. Dan saya sudah hafal sekali versi itu. Ketika SMA saya sudah mendapatkan beberapa versi lain, tapi sangat sepotong-sepotong. Ketika saya mahasiswa, saya kebetulan agak dekat dengan Brouwer, dan saya banyak diskusi soal peristiwa yang lalu untuk saya ketahui. Dan Brouwer tanya, “Kenapa kamu ingin tahu?” Saya bilang, “Saya sangat perlu tahu siapa ayah saya. Apakah dia seorang penjahat, ataukah dia seorang yang baik, apakah dia seorang yang dikhianati, dicurangi dan sebagainya, buat saya penting.” Kedua, saya ingin tahu persis sebetulnya apa yang terjadi waktu itu? Dan beberapa data sudah saya dapat sedikit demi sedikit. Kemudian ada sedikit pengalaman juga ketika saya satu hari, karena saya sering mendaki gunung dan melakukan operasi SAR. Saya berkumpul dengan teman-teman dan ada seorang pendaki gunung

112

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

lewat dengan caping dan golok di pinggangnya. Kemudian satu orang nyeletuk, “PKI pisan eh”. Saat itu saya kaget karena saya melihat sampai seumur itu pun, sebaya saya pun, berpikir bahwa PKI seperti itu. Kemudian saya panggil dia dan saya bilang, “Kenapa Anda bilang itu seperti PKI?” Dia cerita banyak tentang apa yang dia tahu tentang PKI, tentang komunis dan sebagainya. Dan itu mengejutkan buat saya karena saya anggap itu adalah pikiran umum orang sebaya mereka. Dia cerita bahwa syarat menjadi anggota PKI adalah mampu dan tega untuk membantai kepala, tangan dan sebagainya. Itu adalah hal mengejutkan buat saya, karena ternyata frame itu sudah sangat kuat di benak banyak orang sebaya saya. Saya sekedar ingin sharing kepada teman-teman, bagaimana korban itu, dan saya termasuk orang yang beruntung, karena akhirnya saya mendapatkan pendidikan yang baik, dan orang-orang berani memelihara saya, mengasuh saya. Tapi sebenarnya saya ingin katakan korban itu bukan hanya mereka yang menjadi korban. Tetapi orang-orang yang tidak menjadi korban seperti anak dan cucunya juga sebetulnya melewati hidupnya dengan sangat sulit. Saya termasuk yang sangat beruntung, akhirnya saya bisa survive seperti sekarang. Tapi saya bisa bayangkan mereka-mereka yang tiba-tiba orang tuanya hilang, tanahnya diambil oleh pihak militer, kemudian hilang segala-galanya. Sebetulnya yang saya harapkan waktu saya diundang oleh kawan saya untuk hadir di sini, kita berdiskusi soal bagaimana kita bisa mencegah ini supaya tidak terulang lagi. Karena cukup sering kita katakan bahwa hal ini tidak harus terulang lagi, tetapi akhirnya dengan mudah dan sangat mudah itu bisa terulang seperti yang kemarin-kemarin ini. Jadi lucunya kita seperti sangat sadar bahwa ini tidak boleh terulang, tetapi dengan sangat mudah terulang. Itu sebenarnya agak mengerikan karena ternyata - mungkin saya terlalu lancang - tapi kita punya naluri kebinatangan yang buas sekali, dan dalam waktu singkat menjadi sangat liar. Itu bisa kita lihat dalam peristiwa Mei, dan peristiwa yang baru lalu. Sebetulnya itu saja yang ingin saya sharing dengan kawan-kawan. Ya, mungkin membicarakan tentang bagaimana ini tidak terulang, itu mungkin lebih penting karena toh kita harus berjalan ke depan. Bakri (Pakorba): Tadi dikemukakan bahwa masalah pembunuhan massal, kekejaman dan sebagainya hanya terjadi di Pulau Jawa dan Bali. Saya kira itu kurang tepat juga karena di setiap bidang tanah di Nusantara ini, ada mayatmayat itu. Cuma sekarang belum jelas mau diapakan. Masalah pembunuhan massal itu sudah sejak lama hilang dari udara, yang ada rekonsiliasi. Rekonsiliasi untuk apa? Ini juga ndak jelas. Nah, yang akan saya sampaikan ini hanya sekelumit fakta. Bahwa di

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

113

pantai barat pulau Sumatra, kabupaten Pesisir Selatan, ada mayat lebih kurang 300 orang. Empat puluh delapan di antaranya kuburan massal yang saya sudah pernah ke tempat itu, dan di atasnya sekarang kebetulan ada tugu yang dibuat. Tidak tugu peringatan, tapi tugu tanda Bakorstanal. Angkatan Laut punya main itu. Letaknya di sebuah lereng di laut. Nah di laut itu pula, di depan kuburan itu, Komandan Kodim yang membunuh ini tenggelam. Barangkali itu kata orang kehadiran Illahi. Dari 300 orang itu, 48 namanya jelas, si pembunuhnya jelas, yang cukur rambutnya diambil dari penjara polisi juga jelas, dokter yang disuruh nyuntik apa isi suntikannya tidak tahu, cuma sebelum mereka dibawa ke tempat itu disuntik lebih dulu. Tempat itu kira-kira 18 kilometer selatan kabupaten Pariaman. Di satu tempat namanya bukit Pulai. Karena itu bukit, jalan lalu lintas yang dari selatan dan dari utara distop. Jadi itu betul-betul pembunuhan official, pembunuhan resmi oleh karena di daerah itu tidak ada konflik horisontal. Daerah itu adalah daerah nelayan, petani, petaninya punya tanah. Di situ tidak ada problem agraria, malah tanahya sampai sekarang banyak yang kosong. Buruhnya juga tidak banyak, kecuali buruh listrik dan guru, pedagang, itulah isi kabupaten itu. Di situ ada 300 mayat, tapi di tempat kuburan itu ada 48 yang jelas datanya semua. Nah, cuma mau diapain ini data? Apakah ada suatu forum yang bisa menyelesaikan masalah ini? Baru-baru ini kalau saya nggak salah ada Tap MPR Nomor VIII ayat 18 atau 28 itu, yang menyatakan bahwa tidak bisa dituntut. Kalau begitu ini jatuh di bawah masalah impunity. Tanpa ada sanksi, dan sampai sekarang tidak ada satu pun lembaga yang memberikan solusi. Memang kita dengar ada rekonsiliasi seperti disebut tadi, rekonsiliasi nasional dan sebagainya, yang rencana undangundangnya sering dibuat, tapi juga ndak jelas. Dan barang kali juga dibuat oleh elitelit yang mustinya bertanggung jawab atas pembunuhan itu. Barangkali, ya. Karena mereka yang menjadi korban atau keluarga yang menjadi korban pembunuhan ini tidak terwakili di dalam pembentukan rencana-rencana itu. Jadi inilah masalah yang saya kemukakan kepada saudara-saudara. Dan tentu yang 300 saya sebut ini hanya sebagian kecil dari yang disebut oleh Cribb dari Monash University, katanya ada tiga juta. Cuma yang kecil ini, ada 48 yang sangat eksak sekali dan kalau riset barangkali di sampingnya banyak lagi kuburan-kuburan lain. Nah ini mau diapakan? Adakah forum untuk membicarakan ini? Dan kalau tidak, apakah ini kita jadikan cerita sejarah? Apakah ada suatu bentuk keadilan dan sebagainya? Penanggungjawab sudah jelas, ini yang mengambil semua tentara. Bahkan di suatu tempat, Air Haji, namanya Nurhayati. Yang mau ditangkap ayahnya, dia umur 18 tahun, tentara mau datang katanya, “Jangan ayah saya mau diambil, bunuh saya dulu.” Itu Nurhayati langsung dimasukan dalam karung dilempar ke satu batang [sungai/kali, ed.], lupa saya nama batang Air Haji itu, tapi masih sempat setelah mati di dalam karung itu diambil oleh keluarganya. Nah ini, ini banyak sekali yang terjadi begitu. Mau diapakan fakta ini? Peserta:

114

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Saya ulangi pembicaraan saya di gedung Dewan Pers tempo hari waktu meluruskan pembicaraan Bu Carmel Budiardjo tentang G-30-S/PKI yang di Eropa dan Amerika dianggap konflik horisontal. Bahkan secara vulgar dikatakan seakan-akan perang saudara. Itu semata-mata hanya istilah untuk menghalalkan pembunuhanpembunuhan itu. Saya bantah, dan diterima oleh Bu Carmel Budiardjo. Itu skenario konspirasi internasional dengan oknum-oknum pengkhianat - kalau Bung Karno bilang oknum-oknum tidak benar - diusahakan adanya konflik horisontal. Tapi itu hanya terjadi, beberapa bulan setelah G-30-S... sebetulnya Gestok karena itu sudah Subuh, itu Gerakan Satu Oktober. Obyektif, maaf ya, saya ini lawman, sebenarnya ndak pernah ngerti politik. Enam dua masuk perguruan, saya langsung masuk bidang kepolisian, cuma kok terus jadi korban politik. Jadi mau nggak mau harus tahu politik, orang nggak tahu politik itu ternyata jadi korban. Satu almamater dengan Pak Haryo, sama-sama di RTM dulu. Sampai hari ini nggak jelas salah saya itu apa? Nah, tentang film tadi, saya sebagai lawman lebih banyak melihat dari aspek hukum. Ada dua pemilahan, yaitu bahwa ada semacam konflik horisontal, tapi yang terlibat adalah organisasi pemuda agama tertentu, yang berhasil diprovokasi oleh RPKAD. Saya tegaskan RPKAD! Itu terjadi di Jawa Tengah, Jawa Timur, kebetulan baru-baru Bung Karno membentuk Tim Pencari Fakta, saya mendampingi Pak Oei Tjoe Tat keliling Jawa Tengah, Jawa Timur. Jadi saya sebenarnya ingin mencocokkan apa yang saya lihat dan yang di film. Dan kalau film itu luar biasa itu, bagaimana nyolongnya ngerekam, ngerangkainya itu. Tapi yang jelas, yang lebih penting adalah untuk membuktikan kejahatan-kejahatan politik Orba, Orde Bandit. Secara kriminologis, pembunuhan-pembunuhan masal yang dikesankan konflik horisontal itu hanya terjadi Oktober, November, Desember, Januari. Awal Februari kami keliling, masih ada secara sporadis. Tapi, yang lebih jahat adalah pasca Supersemar, yang lebih besar jumlahnya karena dilakukan oleh penyelenggara negara. Dibunuh oleh angkatan-angkatan bersenjata tertentu, atas perintah panglima tertentu yang sekarang masih pada hidup! Kita bisa membuktikan! Pembunuhan yang terjadi pasca Gestok, sampai bulan Januari, dan pembunuhan yang pasca Supersemar itu jelas pembunuhan-pembunuhan sistematik. Tiap malam di semua daerah oleh kesatuan, pembunuhan resmi karena dilakukan oleh penyelenggara negara atas perintah-perintah jenderal tertentu oleh kesatuan-kesatuan tertentu. Ini yang perlu diungkap, lebih dari Hitler. Oleh karena itu, menyambut ajakan pimpinan nasional, berangkat dari minta maaf terjadinya peristiwa G-30-S. Cuma kita masih bingung, Gus Dur minta maaf dalam kapasitas apa? Sebagai siapa? Dan minta

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

115

maaf kepada siapa? Dan minta dari hal apa? Tidak jelas. Tapi, sudah didahului dengan seruan rekonsiliasi. Rekonsiliasi ini apa? Apalagi belum-belum sudah merujuk Afrika Selatan. Lain! Rekonsiliasi nasional mana mungkin bisa efektif, mana mungkin inisiatif dari penyelenggara negara. Memang memberi harapan, karena diucapkan oleh seorang pimpinan nasional yang sekarang jadi presiden. Tapi, operasionalnya mana? Kita berseru sudah lama supaya dibentuk Komisi Kebenaran, kok nggak ada sambutan sampai hari ini? Terus terang saja, kami yang korban nggak butuh rekonsiliasi. Yang berkepentingan rekonsiliasi ini siapa? Yang berbuat kan? Kalau kami menurut emosi, utang nyowo bayar nyowo, utang wirang bayar wirang! Apalagi sudah satu turunan lho, kalau nuruti emosi. Tapi alhamdullilah menuruti hadis Nabi, “Dendam itu tidak baik”. Oleh karena itulah kami telah merasa menjalani kesabaran revolusioner selama 35 tahun. Sampai kapan lagi kita harus menunggu? Ini pertanyaan kita kepada bapak-bapak ibu sekalian, dan kepada terutama korban-korban Orba. Kemarin di Dewan Pers saya bilang, “Rekonsiliasi itu bisa terjadi manakala ada pengakuan bersalah dulu dari pelaku. Rehabilitasi dong kami. Kalau ganti rugi sih wallahualam deh, negara kayak begini mampu ganti rugi dari mana?” Kami direhabilitasi sajalah, bentuknya terserah. Nah, untuk itu bentuk dong Komisi Kebenaran. Hai, Gus Dur! Bentuk Komisi Kebenaran! Jadi, menurut saya harus dipilah antara pembunuhan-pembunuhan yang terjadi sebelum Supersemar, dan sesudah Supersemar. Dan ini selalu berulang. Kemarin Mei 98 kan jelas kelihatan sekali, bahwa akan dimunculkan Joko Tingkir modern, Prabowo. Diciptakan anarkisme, chaos. Penyelenggara negara nggak mau mengendalikan. Itu satu alasan militer untuk mengambil alih kekuasaan. Terus mengeluarkan keadaan darurat perang. Seenaknya dia. Itulah yang terjadi ’65. Enam lima itu adalah ulangan peristiwa Demak. Bagaimana Joko Tingkir merebut tahta dari Raden Trenggono. Dan sebenarnya peristiwa Demak itu, juga ulangan dari peristiwa Singosari. Bagaimana Ken Arok merebut tahta Tunggul Ametung? Tentang ini kepustakaan kita sudah diboyong semua ke Leiden. Inilah yang dimaksud Bung Karno dulu. “Jas Merah” diucapkan Bung Karno sebagai wujud pribadi yang tahu sebelum kejadian, weruh sedurungi winarah, 17 Agustus ’65 Bung Karno mengatakan, “Jangan sekali-kali menghilangkan sejarah.” Eh, satu setengah bulan kemudian terjadi ’65. Saya hanya mengacu apa yang pernah dikatakan oleh Bung Karno. Satu, terjadinya G-30-S adalah lihainya super cacing; dua, keblingernya pimpinan PKI; tiga, adanya oknum-oknum yang tidak benar, kalau saya lebih vulgar adanya oknum-oknum pengkhianat. Yang menarik adalah lihainya super cacing. Super cacing yang mana? Itu ada konspirasi internasional, itu yang perlu dipahami. Bukan [hanya] CIA Amerika. CIA jelas, sejak Republik kita proklamasi diobok-obok terus, suatu ketika

116

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

57-58 Republik kita tinggal Jawa Timur sama Bali. Tapi Alhamdullilah Soekarno dan Ahmad Yani, kembali mempersatukan republik lumpuh. Maksud saya cerita ini adalah kita tidak usah pesimis, kita tidak usah kecil hati menghadapi gonjang-ganjing ancaman klise, disintegrasi nasional, disintegrasi bangsa dan sebagainya. Kita pernah lebih jelek sebetulnya, asal kita sebagai anak bangsa bermoto, “Karmane fatekalase timapelesu kita cana,” kata Bung Karno. Mari kita laksanakan tugas suci kita sebagai anak bangsa, tanpa menghitung-hitung untung ruginya. Moderator: Terimakasih, Pak. Sebelum nyambung, ini masalah arah diskusi. Saya catat sekurangnya ada lima poin yang mungkin bisa kita perdalam di sini. Pertama, pembunuhan massal yang kita lihat bukan yang pertama dan ternyata juga bukan yang terakhir. Tadi dipertanyakan apakah dia merupakan bagian konflik yang lebih besar, ya ada persoalan Amerika itu, ada persoalan negara industri maju dan seterusnya. Soal yang kedua, adalah bahwa pembunuhan ini ternyata terkait, kalau menurut penuturan tadi terutama masalah tanah mungkin bisa diperluas jadi soal sumber daya alam, ya. Kalau Pak Hario menyinggung masalah tambang minyak dan sebetulnya ada beberapa masalah lain juga. Seperti kalau kita lihat nggak ada urusannya Nurhayati dengan apa yang dibuat G-30-S atau apapun, tetapi kemudian dia juga menjadi korban. Persoalan ketiga, perlunya penyelidikan lebih lanjut. Tadi berulang kali disebut bahwa bahan-bahan banyak di perpustakaan di luar negeri ternyata, yang mungkin mempersulit proses penyelidikan. Nah, saya juga mau angkat ini sebagai sebuah persoalan, karena bahan terbanyak masih di sini. Justru banyak cerita-cerita belum tergali, belum sama sekali terdengar, ya lebih banyak di sini dari pada di luar negeri. Terus yang keempat, persoalan korban. Saya pikir sangat menarik cerita saudara Ilham tadi, bahwa orang mungkin membayangkan angka saja. Kita bisa berdebat dengan mudah soal sejuta atau 3 juga atau berapa ratus ribu. Tapi mendengar cerita dari satu saja korban itu ternyata luar biasa. Keterangan yang kita peroleh dan saya pikir mungkin ada yang lain yang mau menyambung dengan cerita-cerita lain di sekitar masalah korban ini. Dan yang terakhir pertanyaan yang paling mendesak kayaknya: kalau sudah terkumpul, daftar, data atau apapun itu mau diapakan? Dan ini berkaitan dengan begitu banyak tawaran. Ada tawaran rekonsiliasi dari pemerintah, tapi ada juga anggapan bahwa rekonsiliasi ini nggak ada gunanya. Jadi diskusi di sekitar itu akan menarik. Nah, saya silakan siapa yang mau melanjutkan? Su n a r n o :

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

117

Saya dari Kodrat (Komite Pemberdayaan Rakyat).Yang lebih saya sorot di sini adalah kedudukan Bung Karno. Bung Karno mengatakan, “Di dunia ini ada dua kekuatan saja, yaitu the new emerging forces dan old established forces.” Ini menyebabkan kapitalisme takut akan pikiran Bung Karno. Sebab kekuatan golongan sosialisme dan rakyat tertindas di dunia yang anti imperialisme disatukan untuk melawan kapitaslime imperialisme. Buktinya beberapa kali Bung Karno dicoba untuk dibunuh. Jadi jelas bahwa faktor Bung Karno juga menentukan kekuatan kapitalisme-imperalisme untuk mengadakan peristiwa Gestok. Saya kira ini yang tadi belum disoroti. Bung Karno dianggap lebih berbahaya dari pada Khruschev. Kalau Khruschev sudah jelas dari pihak sosialisme, tapi Bung Karno membawa golongan sosialis dan rakyat bekas jajahan anti kapitaslime-imperalisme. Saya kira perlu dimengerti sekarang ini di mana-mana di dunia dibangkitkan suatu pertentangan untuk pergolakan-pergolakan, ini adalah usaha kapitalisme-imperialisme itu sendiri. Sebab dengan adanya pertentangan antara sesama bangsa, pihak republikan di Amerika yang menghasilkan senjata akan laku. Gustaf Dupe: Terimakasih. Kalau bicara lembaga, saya dari KPTN, Komite Pembebasan Tapol/Napol. Tadi beberapa kali disebut konflik horisontal pada G-30-S. Saya ingin ini diluruskan, apa memang ada? Jangan sampai kita terjebak pada istilah-istilah itu. Yang ada adalah orang yang PKI atau dianggap PKI dibantai tanpa melawan. Malah yang di Bali ada ayah dari teman saya dengan teman-temannya - saya nggak tahu apa yang lima orang tadi di film itu - mereka dibawa lantas suruh gali kuburnya sendiri. Kemudian berdiri di tepi tiang, lantas diminta mereka itu menyampaikan pesan terakhir. Mereka sampai terakhir nggak yakin bahwa akan mati begitu gampang. Jadi nggak ada pesan, tapi didor habis. Saya pikir ada hal-hal sangat penting dari film tadi yang saya lihat perlu disosialisasikan. Ada kesaksian-kesaksian nyata dari para pelaku. Khususnya yang saya lihat itu Kyai Yusuf dari pesantren Tebu Ireng sama Pak Kemal Idris. Saya kira pengakuan-pengakuan mereka itu orang nggak tahu. Itu entah bagaimana caranya disosialisasikan, itu sangat penting. Lantas korban-korban itu masih sangat banyak yang ’65, yang Aceh, yang Lampung, yang Papua, yang Timtim. Nah, setelah sekarang Soeharto sebagai rezim itu secara formal nggak ada, menurut saya kekuasaannya masih ada. Tapi masing-masing kategori korban ini celakanya terus merasa bahwa hanya dia sendiri yang korban. Lantas dia memperjuangkan kepentingannya sendiri tanpa melihat kebersamaan sebagai kepentingan korban dari satu rezim. Dan yang repot lagi bagi kita - korban-korban

118

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

’65 - kelompok-kelompok korban yang lain tidak mendukung perjuangan korbankorban ’65. Nah, sekarang tinggal sendiri mau ndak mau. Barangkali itu pentingnya kesaksian-kesaksian para pelaku disosialisasikan. Bisa diubah opini itu dengan kesaksisan-kesaksian demikian dan kita harapkan bisa digali lagi kesaksian-kesaksian lain. Kenyataannya sekarang, indoktrinasinya adalah bahwa PKI itu ateis, ateis itu anti agama. Jadi, kita yang beragama harus bikin pasukan untuk hantam PKI atau yang memperjuangkan hak-hak PKI. Perjuangan kita liku-likunya banyak. Kita harus mengenal liku-liku itu sehingga masuknya juga tidak membenturkan kepala sendiri. Billy: Kebetulan saya datang dari Palembang. Saya ingin bertanya kepada bapak-bapak yang duluan lahir waktu ’65. Mungkin bapak-bapak bisa menceritakan bagaimana konspirasi saat itu. Maksudnya bukan konspirasi yang luas sekali, tapi lebih mendetil. Misalnya kalau pun ada keterlibatan tentara di sana, bagaimana cara dia main, selain dari film yang telah kita putarkan. Memang itu salah satu bukti atau fakta. Semakin banyak data mungkin akan mendukung fakta-fakta yang lebih banyak lagi. Mungkin bisa diceritakan, bagaimana mainnya, kalaupun tentara main. Kalau pun konflik horisontal, bagaimana dalam konflik ini bisa terjadi pembantaian massal seperti itu? Ruth Indiah Rahayu: Maaf, tanpa mengurangi hormat saya, saya merasa malam ini kok forumnya jadi sekali lagi forum katarsis sebagaimana juga saya dengar di semua forum yang menggelar kasus ’65. Saya ingin dengar cerita dari teman-teman kita yang muda, seperti Rinto dari Tim Relawan dan kawan-kawannya, yang sudah mulai melakukan penelitian dengan pendekatan oral history dan mereka telah bertemu para korban. Alangkah baiknya orang seperti Rinto dan kawankawan yang muda ini, yang tidak tahu apapun tentang ’65, menceritakan pendapat mereka setelah bertemu para korban? Karena kami lihat Rinto dan kawan-kawan sempat shock ketika ketemu dengan ibu-ibu yang tidak pernah dikenal dalam catatan sejarah dimanapun termasuk ’65. Coba kita dengarkan, biarkanlah yang muda ini belajar berpidato. Bapak-bapak dulu juga banyak kesempatan berpidato, sehingga biar yang muda mengalami katarsis malam ini. Rinto: Sebenarnya saya tadi juga sempat pesimis, karena pembicaraanya justru lebih banyak penekanan ke intrik-intrik politik sebelum dan ketika peristiwa itu terjadi. Saya yang lahir di tahun 70-an, di Orde Baru, besar di Orde Baru juga, sama seperti teman-teman lain yang seusia dengan saya itu. Wajar kalau kita nggak ngeh dengan suara korban itu. Tapi
Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

119

kenapa justru yang di sini seperti melupakan itu? Saya awalnya nggak ngeh ketika berhadapan dengan korban. Mereka menceritakan misalnya karena dia cantik, masuk penjara itu, dihamili oleh komandan sampai punya anak di kamp. Ketika diinterogasi komandan itu menanyakan, “Dengan siapa kamu berbuat?” Nah, kenapa dalam dalam pelajaran maupun di masyarakat pun, nggak pernah tertuang pengalamanpengalaman korban seperti ini? Dan kemarin juga ketika saya main di Purwodadi, saya sempat ketemu dengan seorang bapak yang sempat dibuang di Pulau Buru. Dia punya seorang isteri dan dua orang anak. Dia menceritakan bagaimana ketika baru beberapa hari dia ditangkap, tiap malam isterinya digumuli, malam ini oleh Banser, besok malamnya lagi oleh Pak Lurah, besok malamnya lagi Dandim, besoknya lagi Mas Kopral, Mas Sersan, akhirnya meninggal. Teror-teror seperti ini. Dan menyakitkan lagi ormas pemuda waktu itu, datang katanya minta kerokan dengan isterinya itu kemudian masuk kamar. Ketika datang dia membawa pedang yang berlumur darah dengan baju pun berlumur darah, habis menjagal orang-orang yang dituduh kiri. Saya pernah juga ketemu seorang ibu di daerah Rembang. Dulu suaminya seorang guru dan dia sendiri anggota Gerwani yang membangun pemberantasan buta huruf di daerahnya. Saya membayangkan tahun 2000 saja daerah yang ditempati ibu itu sulit dijangkau, apa lagi tahun ’65. Kok bisa dituduh terlibat G-30-S? Jangan lagi Jakarta, kota Semarang saja dia ndak tahu, kok dituduh terlibat dan datang ke Jakarta? Ini bagaimana? Ini nggak pernah diceritakan dalam sejarah dan sampai sekarang masyarakat nggak ngeh. Tahunya PKI itu layak dibunuh, layak dibantai, layak dipenjarakan, layak dibuang. Terus terang saya shock ketika mendengarkan ini, karena saya nggak pernah membayangkan. Saya mendampingi korban Mei waktu itu, ketika ’98. Saya pikir ini mungkin batas terakhir penderitaan orang, bagaimana ayahnya dibakar hidup-hidup di plaza atau di mall. Ketika seorang Tionghoa diperkosa ramai-ramai. Saya pikir ini penderitaan terakhir yang paling tinggi yang dihadapi oleh manusia. Tapi ketika saya menghadapi korban, rupanya masih lebih banyak. Seorang ibu mencari suaminya ketika ditangkap di tahun ’65 sampai tahun ’99. Bagaimana ini bisa terjadi? Ketika mencari misalnya, dia harus menumpang truk dari Rembang ke Semarang, dari Semarang kemalaman tidur di emperan toko. Pulang buang barang, cari lagi suaminya ke Surabaya itupun tanpa hasil. Bahkan dia juga sampai ke dukun-dukun. Kalau dengar ada dukun yang tersohor dan bisa menangani beberapa masalah, maka dia didatangi sekalipun harus jual tanah dan jual rumah. Ketika dia membuka usaha jahit, dia mendapat order 16 potong pakaian tetangganya. Kemudian suatu malam dia kecurian setelah pulang dari
120
Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

pencarian suaminya dari Pekalongan. Dia mendapati mesin jahitnya hilang, pakaian orderan yang sudah jadi juga hilang. Nah, dia menemukan KTP yang diduga milik pencuri, dia lapor polisi. Polisi bukannya mencari atau mengusut atau menolong dia, malah memukul dia. Ini kan nggak pernah tercatat. Kita selalu tekun dan semangat membicarakan intrik-intrik politik perang dan peristiwa itu, tapi kita nggak ngeh, nggak sadar, banyak orang yang menderita. Mungkin Pak Ilham lebih beruntung sekalipun bapaknya tokoh PKI. Tapi orang di daerah nggak ngerti apa-apa. Sekolah dibatasi. Saya pernah ketemu seorang anak yang nggak tahu apa-apa, ketika ujian SD, dia dipanggil gurunya. Gurunya menanyakan, “Kamu anak PKI?” Teman-temannya mengerjakan soal, dia dipukuli sama gurunya, dia nggak lulus. Marco Kusumawijaya: Saya menyambung tiga pembicara terakhir dengan Ilham tadi juga, yaitu membawa persoalan pada sisi personal. Saya merasa sangat prihatin, karena pertanyaan Ilham tadi, apa yang bisa menjamin hal itu tidak terjadi lagi? Dan kritik rekan terhadap pidato - dengan segala hormat - bapakbapak kita mengenai hal-hal yang sifatnya sangat struktural dan intrik, adalah bahwa kita hampir-hampir melupakan bagaimanapun korban adalah individu-individu, dan pelaku-pelaku itu adalah individu-individu yang mempunyai tanggung jawab otonomi sebagai manusia yang tidak bisa dibenarkan atau pun dilempar kepada hal-hal yang bersifat skenario besar, atau hal-hal yang bersifat intrik, seolah-olah mereka ini bagian dari suatu mesin yang besar dan karena itu tidak mempunyai tanggung jawab otonomi pribadi. Jangan lupa korban adalah pribadi-pribadi, pelaku juga adalah pribadi-pribadi. Pada saat kopral tadi tidur dengan isteri yang suaminya ditangkap, pada saat itu dia mengambil keputusan secara otonom, dan itu tidak ada kaitan ideologi apapun. Dia adalah manusia, dan dia harus bertanggungjawab sebagai pribadi, sebagai manusia. Saya rasa ini pertanyaan Ilham bagaimana lalu kita ke depan? Karena tentu tidak saya sangkal bahwa harus ada perubahan-perubahan struktural, harus ada perubahan-perubahan politik dan lain sebagainya. Tetapi, karena ini berulang-ulang terjadi, apakah kita tidak ingin bertanya apa gunanya perubahan-perubahan struktural itu kalau tidak ada perubahan yang terjadi pada tiap-tiap individu? Karena itu saya melihat masa depan itu sangat memerlukan aksi atau rencana yang mengenai masing-masing orang sebagai manusia. Saya ingin mengatakan bahwa ada tanggung jawab individu masingmasing di situ. Itu penting dan tidak bisa dilupakan. Kita tidak bisa mengkritik ortodoksi kapitalisme dengan ortodoksi lain yang berupa

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

121

marxisme sekalipun. Karena ortodoksi itulah yang menghilangkan manusia sebagai individu. Yanti: Dari tadi kita tampaknya bicara bahwa orang-orang yang ditiadakan pada tahun ’65 itu adalah korban, ibu-ibu yang kehilangan suaminya adalah korban, anak-anak yang kehilangan bapak dan orang tuanya adalah korban. Tapi satu hal yang tidak kita sadari pada malam ini bahwa ternyata kita pun yang ada pada jaman ini adalah korban. Kenapa saya bilang seperti itu? Karena kita menjadi korban dari sebuah sejarah yang dibutakan, sejarah yang digelapkan oleh Orde Baru. Tidak hanya pada kasus 1965, Tanjung Priok, Aceh… apa saja kasus di Indonesia mengakibatkan seluruh rakyat Indonesia menjadi korban sejarah yang dibutakan tadi. Dan beranjak dari pemikiran bahwa kita menjadi korban adalah suatu pemicu yang kuat untuk melakukan perubahan di masa depan. Apabila kita sama-sama merasa sebagai korban kita akan sama-sama memperjuangkan keadilan itu. Kalau kita tak ingin ini terulang, yang harus kita lakukan adalah kita sebagai korban bersamasama berjuang melakukan perubahan terhadap sejarah yang dibutakan itu dan kembali membuka semua kasus-kasus yang ada. Saya pikir semua generasi yang masih mudamuda, yang kecil-kecil itu adalah jiwa korban. Maka kita baru akan bisa sama-sama menggalang kekuatan untuk melakukan perubahan di Indonesia ini. Jansen: Saya dari Medan. Mendengar cerita-cerita tadi dari awalnya orasiorasi bapak-bapak tadi itu membuat saya kembali teringat basisnya petani di situ. Teman-teman yang BTI dan yang di-BTI-kan itu cukup banyak kayaknya di sana. Jadi kalau dibilang Jawa dan Bali, ternyata di sekitar Sumatera banyak. Seperti Bandar Betsy dan lain-lainnya itu termasuk juga beberapa kabupaten di sana mempunyai basis ini. Kita cerita tadi kembali, solusinya apa sih setelah kita tahu bahwa sejarah mengakibatkan korban yang begitu banyak. Awal dari kita mulai terjun ke basis, terus kita melihat bahwa mereka sangat antipati dan sangat apatis. Mereka nggak punya arti lagi. Bahwa kawan-kawan korban ’65 ini tidak mempunyai hak apa-apa lagi terhadap haknya dulu. Nah, setelah kita mulai mendengar cerita-cerita yang seperti bapakbapak ceritakan tadi, bagaimana pengalaman dia dipenjara, bagaimana pengalaman pembantaian-pembantaian itu. Itu sebenarnya tidak mampu lagi harus berbuat apa? Kebetulan ada bisa beberapa referensi bisa kita diskusikan bersama-sama, termasuk juga novelnya Pak Putu Merajut Harkat itu. Sehingga kita bisa meresapi sebenarnya yang paling merana, yang paling sakit, yang paling merasakan ekses dari sebuah kejadian yang sangat memakan banyak korban itu adalah korban yang ditinggalkan. Antara lain anak-anak korban PKI tadi, ketika dia mencari

122

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

makan menjual kue-kue, bukan malah kuenya laku, malah kuenya dipijak-pijak, ”Oh kue PKI! Kue PKI!” gitu. Nah, ketika seorang ibu ingin menyekolahkan anaknya dengan berharap bisa menanami tanah-tanah yang dulu ditinggali oleh suaminya, tanahnya dirampok oleh tentara. Itu yang kita lihat kejadian-kejadian di Sumatra. Kalau kita membongkar sejarah dan membangun opini bahwa sejarah yang selama ini diutarakan itu salah dan kita putar balikkan kembali 180 derajat itu naif sekali, kalau kita tidak mulai dari gerakan-gerakan awal. Kita coba sosialisasikan ke kawankawan, setelah melihat dan merasakan cerita-cerita mereka, kita berupaya bagaimana mereka bisa hidup layak sebagai manusia yang seperti kita. Seperti saya yang tidak merasakan ataupun bukan korban kejadian ’65 ini berupaya untuk menyadarkan mereka bahwa sebenarnya kejadian-kejadian yang diutarakan melalui buku-buku sejarah dan propaganda-propaganda yang dilakukan itu 100% salah. Itu suatu cara yang mungkin kita sampaikan kepada mereka, untuk mengingatkan mereka kembali bahwa mereka sebenarnya tidak bersalah, minimal sebatas itu awalnya. Terus mereka tertantang untuk mengetahui lebih dalam. Sebenarnya apa sih yang bisa kami perbuat? Nah, kita semakin larut dalam permasalahan-permasalahan mereka. Sampai kita menawarkan bagaimana mereka supaya bisa berkumpul kembali, terus bersama-sama kembali menyadari bahwa tanah yang dulu ditinggalkan suaminya itu adalah tanah mereka, sehingga mereka harus bisa bersama-sama meminta tanahnya kembali. Terus mereka mendengar kata organisasi itu sangat takut. Itu membuat kita tertantang untuk sama-sama menyadarkan mereka. Bahwa mereka sama-sama punya hak untuk hidup, dan sama-sama bisa menikmati kehidupan. Itu yang kita lakukan, minimal kita sudah sampaikan kepada mereka, dan mereka sekarang sudah mampu membangun organisasinya sendiri dan mereka sekarang sedang berjuang untuk merebut tanahnya kembali. Putu Oka Sukanta: Saya melihat permasalahan ’65 ini dari sisi yang agak berbeda. Mungkin latar belakang kepengarangan saya yang menyebabkan itu. Ada bangunan kejiwaan yang rusak akibat peristiwa ’65. Saya kasih contoh begini. Ada seorang anak yang ayahnya dibunuh pada tahun ’65. Dia studi di Amerika kemudian menikah dengan orang Amerika, sudah sangat jauh dengan kampung kelahirannya, dimana beberapa orang dibunuh. Kemudian dia kembali ke Bali dan dia mempunyai seorang anak dari perkawinannya itu. Ketika anak itu lahir, dia angkat anak itu dan dia bicara, “Hai kau anak PKI, apakah kamu akan dibunuh juga seperti kakekmu?” Jadi ada satu bangunan kejiwaan yang rusak pada setiap individu. Saya lihat dalam konteks ini, selain dari korban yang sudah terbunuh, selain dari orang yang pernah ditahan, ada sisa lain yang sangat banyak

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

123

merasakan akibat ini. Dan jiwanya rusak, goyang. Sorry, saya tidak menyebutkan rusak, tapi goyang. Dan mereka - saya tidak pernah menyebut korban - mereka survivor. Orang yang bertahan hidup. Saya bukan korban, saya survivor. Saya seorang yang bertahan untuk hidup dalam situasi yang bagaimanapun juga. Bagaimana misalnya kalau penelitian yang lebih jauh lagi bisa menyentuh hal-hal yang ini? Dan ini yang lebih mampu berbicara, goyangnya kejiwaan orang yang sejak kecil sampai dewasa, sampai sudah berumahtangga, dia tetap goyang sebagai manusia. Yang kedua masalah rekonsiliasi. Saya kok nggak percaya ada rekonsiliasi. Bagaimana bisa direkonsiliasi, instruksi Menteri Dalam Negeri tahun ’81 sampai sekarang belum dicabut. Artinya, mana mungkin ada rekonsiliasi [kalau] yang satu sebagai obyek, dan yang satu subyek. Selama itu tidak dicabut, saya harap tidak berpikir tentang rekonsiliasi. Sulami: Saya sangat tersentuh laporannya Nak Rinto. Hasil penelitiannya boleh dikata cerita yang sangat menyedihkan. Memang kalau ke daerah, ketemu mereka yang pernah di Plantungan, yang pernah di penjara-penjara, itu hanya cerita tentang kesedihan. Dan cerita-cerita demikianlah justru sekarang ini yang kami kumpulkan. Kami dari YPKP (Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan tahun 65-66), dan banyak sekali terdapat rekamanrekaman yang sudah disalin sehingga tinggal publikasi. Dan cerita-cerita macam itu tidak hanya di Jawa. Di Bali lebih menyedihkan dan di Sumatera Utara lebih menyedihkan lagi. Kami pernah kedatangan teman-teman dari Sumatera Utara, tengah dikumpulkan tulisan-tulisan mereka yang tidak jadi mati, yang sedia menjadi saksi-saksi hidup. Dan saksi-saksi itu ada di daerah-daerah mana saja, dan siap untuk mengadakan kesaksian kapan pun. Mereka itu ingin sekali perkaranya segera dituntaskan melalui pengadilan. Kami dari YPKP sudah mempunyai jaringan kerja di daerah-daerah dan telah menemukan bukti-bukti otentik, tinggal penggarapannya. Dan itu cukup nanti untuk menjadi bukti suatu perkara. Ini sudah kami bicarakan dengan lain-lain organisasi-organisasi para lawyer, baik dari Kontras, maupun PBHI, ELSAM, dan Bu Nursjahbani Katjasungkana. Mereka selalu mau membantu apabila sudah disiapkan materinya. Jadi kami sangat menyambut pertemuan malam ini. Kami merasa senang. Ternyata meskipun malam, tidak ngantuk, dan tidak merasa capai. Mudahmudahan demikian karena ini semua menyangkut diri kita sendiri, kewajiban kita sendiri yang harus di selesaikan. Seperti film yang baru kita tonton sebetulnya kami sendiri belum melihat selengkap ini, baru sepotong-sepotong di Jogja. Dibuatnya film itu, masih pemerintahan Habibie, bulan Juni tahun 1998, dan masih sembunyi-sembunyi. Ya, bayangkan saja kalau wartawan

124

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Australia itu mau mencari data ke hutan tidak mungkin bisa disembunyikan sedangkan alatnya besar-besar. Tapi, atas usaha bersama dan kami dibantu oleh temen-temen PRD, usaha itu dapat berhasil. Tapi esoknya kami diusir dari Blora, oleh Kodim setempat. Tetapi pembuatan film telah terjadi seperti yang kita lihat malam ini. Santo (Kodrat): Kalau melihat film tadi, seakan-akan kita terus bernapas dalam lumpur. Kita bisa mengubah bangsa ini, saya rasa kita harus bersatu. Untuk bersatu kita harus mempunyai keberanian moral. Kita harus berani berkorban, supaya kita jangan jadi korban lagi. Kita harus berani mensosialisasikan seperti Kemal Idris, dia harus bicara di depan, kita ajak gitu, supaya dia sadar, dia mau bertobat berbuat yang nggak benar itu. Kita sadarkan kita mempunyai kedekatan, mungkin sama Kemal Idris. Bagaimana bangsa kita supaya berubah wajahnya, jangan kebenaran itu tertindas terus. FX Harsono: Saya hanya ingin menceritakan sedikit pengalaman saya, yang barangkali bisa menjelaskan apa memang betul pada tahun ’65 terjadi konflik horisontal. Juga barangkali bisa sedikit menjawab bagaimana militer pada waktu itu berperan. Waktu tahun ’65, saya adalah murid SMA di Blitar. Sebelum tahun ’65, saya senang sekali melihat 17 Agustus karena di sana ada alun-alun untuk - istilah kita show of force - partaipartai politik ini memakai drum band dan macam-macam. Ada Fatayat, ada Ansor, dan ada NU. Yang paling besar massanya pada waktu itu adalah PKI, kemudian NU, Ansor, Fatayat dan sebagainya. Nah, sebagai anak-anak pada waktu itu saya hanya melihat suatu yang menyenangkan sekali. Saya tidak mempunyai kesadaran politik pada waktu itu. Tapi, setelah tahun ’65 saya baru sadar bahwa rupanya memang pada tahun ’65 itu militer memanfaatkan persaingan politik yang terjadi sebelumnya untuk membantai PKI. PKI dianggap sebagai partai yang paling kuat dan yang paling dimusuhi, terutama oleh para pemilik-pemilik tanah besar di desa-desa karena PKI pada waktu itu mempunyai program land reform. Sampai beberapa hari setelah Oktober atau 30 September saya tidak tahu apa-apa. Mungkin sekitar tiga atau empat hari setelah itu baru peristiwa di Blitar terjadi. Kebetulan sekali empat rumah dari rumah saya itu kantor Pemuda Rakyat. Dan celakanya semua orang di rumah saya pergi semua. Bapak saya tidak ada, adik-adik saya semua sekolah, dan saya sendiri yang disuruh menjaga rumah. Saya hanya bisa melihat dari celah-celah jeruji atau pintu angin, apa yang terjadi pada waktu itu. Saya tidak tahu itu massa dari mana, mereka menyerbu dan ingin membakar kantor Pemuda Rakyat yang dekat dari rumah saya. Itu kalau terjadi betul-

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

125

betul, pasti rumah saya terbakar. Tetapi kemudian dilarang oleh polisi kalau nggak salah. Kemudian tidak ada perlawanan sama sekali, meskipun saya tahu persis di seberang jalan rumah saya adalah basis dari PKI dan Pemuda Rakyat. Mereka hanya keluar dari gang-gang dan membawa pentungan tetapi mereka disuruh kembali lagi. Saya sangat ketakutan karena saya sendiri pada waktu itu. Dan celakanya sekali mereka melemparkan fotonya Aidit. Itu kena pintu rumah saya, saya sangat kaget dan lari ke belakang sembunyi. Itu trauma sekali buat saya. Setelah beberapa hari, saya lihat banyak sekali orang-orang dari Ansor yang membawa pedang, tapi mereka menyembunyikan pedang itu. Yang saya tahu persis mereka membawa rotan yang kurang lebih garis tengahnya satu inci atau dua senti. Mereka mengatakan bahwa rotan ini sudah ‘diisi’. Mereka kebanyakan bukan dari Blitar tapi dari derah Bangil, Jombang, Jember dan seterusnya. Daerah sana memang basis Ansor. Mereka disuruh mengamankan Blitar. Pada waktu itu saya tahu persis memang tidak ada perlawanan. Jadi kalau dikatakan konflik horisontal sebetulnya kalau menurut saya nggak. Memang yang terjadi adalah pembantaian. Ketika itu semua organisasi kepemudaan di luar PKI dan onderbouwnya memang dikoordinir oleh Kodim, Koramil. Kita diminta untuk menjaga tawanan, tahanan, di daerah Blitar Selatan. Saya waktu itu aktif di organisasi sekolah Katholik. Kemudian saya tahu persis bahwa tiga orang sahabat saya ikut dan ternyata mereka di sana itu memang disuruh membunuh. Jadi mereka memang ditugaskan oleh militer yang mengkoordinir untuk membunuh, dikasih jatah satu orang membunuh satu orang. Waktu itu kawan saya, setelah dua minggu di daerah Blitar Selatan ingatannya hilang. Ya kembali, tetapi dengan mata yang sorot mata yang sudah tidak jelas kemudian dia ngoceh ke sana kemari. Pakaiannya penuh dengan bercak-bercak darah, dan saya tahu persis bahwa dia sudah mulai tidak waras. Itu saya temui pada beberapa orang yang saya kenal. Nah, setelah tahun ’65 kemudian ada peristiwa Blitar Selatan, saya tidak tahu persis tahun ’68 mungkin. Saya sebagai anggota organisasi siswa Katholik kemudian ikut yang namanya KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia). Dan kemudian saya diperkenalkan dengan Pak Witarmin, pada waktu itu dia yang mengepalai operasi Blitar Slatan yang disebut operasi Trisula. Memang betul bahwa operasi di Blitar Selatan itu betul-betul dilaksanakan oleh militer secara sistematis. Tetapi, sebelumnya memang betul bahwa organisasi kepemudaan di luar Partai Komunis oleh militer direkayasa untuk membunuh, untuk menghabiskan semua

126

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

yang dianggap anggota PKI. Yang namanya nyawa pada waktu itu sama sekali tidak berharga. Salah satu pembunuh itu besoknya datang dan hanya meminta maaf. Di daerah Blitar banyak sekali guru-guru yang dibunuh. Ada satu daerah di Blitar namanya Kampung Meduran, di sana memang orang Madura semua. Kampung Meduran itu isinya cuma dua: Ansor dan PKI (Pemuda Rakyat atau PKI lah). Jadi mereka saling membunuh. Dan kemudian ada satu orang pekerja Jawatan Kereta Api, yang dicari dan dibunuh. Tetapi ternyata salah bunuh, yang dibunuh adalah guru. Dan kemudian besoknya dia cuma minta maaf, begitu aja. Sebagai anak pada waktu itu, saya merasakan ada suatu trauma, seperti yang dikatakan Pak Putu Oka. Meskipun saya tidak terlibat, tetapi sebagai keturunan Cina, merasakan ada semacam trauma. Karena Baperki pada waktu itu sebagai salah satu organisasi - meskipun saya bukan Baperki dan saya tidak sekolah di sekolah Baperki - tetapi etnis Cina itu sudah melekat dengan Komunis. Sehingga kemudian, ingat sekali ketika itu semua orang Cina di Blitar dikumpulkan di satu gedung bioskop namanya gedung bioskop Dipoyono. Kemudian dilakukan briefing, dan di situ dikatakan bahwa orang-orang Tionghoa di sini harus membantu pemerintah terutama militer dengan memberikan dana. Dan saya ingat sekali bahwa semenjak itu orangorang Cina di Blitar, itu berhak untuk, istilahnya diperas. Misalnya mobilnya bisa dipinjam berapa hari dengan alasan untuk melakukan operasi, meskipun itu tidak. Kemudian mereka bisa dimintai dana berapa saja untuk operasi, tapi sebetulnya kita juga tidak tahu. Pada akhirnya ada semacam persepsi dari kelompok Cina di Blitar: kalau ingin selamat dan kalau bisnis kita ingin selamat, maka kita harus menyumbang kepada Kodim. Nah, itu persepsi ini terus berjalan sampai sekarang tentunya. Setelah itu kemudian trauma ini bertambah dengan adanya Gunung Kelud meletus. Wah, itu betul-betul… sebagai remaja pada waktu itu saya merasakan setiap sore setelah matahari terbenam, ada semacam ketakuktan yang luar biasa pada saya sehingga saya tidak berani di rumah sendirian dan selalu harus pergi ke rumah teman, kadan-kadang tidur di rumah teman. Kalau Pak Putu tadi mengatakan bahwa rusaknya jiwa pada korban atau pada keluarga korban, saya rasa bukan hanya mereka, tapi juga masyarakat dimana situasi memang sangat kuat sekali. Sering sekali saya melihat mayat tergeletak di perempatan, seperti ada satu orang pemain bass drum dari Pemuda Rakyat namanya Ping Ation An. Dia dibunuh di perempatan, mayatnya ditaruh di perempatan dan selama dua hari tidak satu orang pun yang berani mengambil mayat itu. Keluarganya sendiripun nggak berani. Sampai kemudian membusuk dan diambil oleh Kodim, dikubur di mana saya nggak tahu. Nah, peristiwa-peristiwa seperti itu memang memberikan trauma, setidak-tidaknya kepada anak yang berkembang pada waktu itu. Dan kalau tadi Marco mengatakan bahwa pada akhirnya berkaitan dengan individu, menurut saya memang betul bagaimana sebetulnya sekarang ini pun kekerasan terjadi di mana-mana di Indonesia. Semenjak itu sampai

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

127

sekarang saya selalu melihat kekerasan-kekerasan dari satu peristiwa ke peristiwa lain, dari satu jaman ke jaman lain, hanya dengan motif yang berbeda-beda. Tetapi saya merasakan bahwa ada semacam… selalu ada rasa tidak aman yang menghantui kita sebagai anak pada waktu itu. Terutama saya sudah berhadapan dengan imigrasi atau yang menanyakan, “Kamu keturunan Tionghoa, ya?” Wah, langsung keringat dingin saya keluar, karena ada saja yang dipertanyakan. Dan, terkahir ketika saya memperpanjang paspor saya masih dipungli karena ada satu surat yang tidak lengkap di daerah sana dan itu selalu terjadi pada saya. Sehingga trauma itu rasanya selalu melekat pada anak-anak yang mengalami permasalahan di daerah yang memang situasinya cukup keras dan rawan pada saat itu. Moderator: Saya akhiri sampai di sini diskusi ini, dan saya tidak mau menyiksa saudara-saudara lagi dengan keterangan yang lebih panjang. Tapi saya terpaksa juga membuat semacam catatan dari apa yang kita diskusikan. Saya pikir lontaran-lontaran dari semua orang, baik itu berupa komentar, pidato maupun pertanyaan, mengingatkan kita bahwa kita hidup selama ini atau terbentuk melalui semacam perjalanan sejarah kekerasan. Baik itu yang terjadi pada zaman kolonial, sekarang dan - mudah-mudahan tidak - di masa mendatang. Kita mencatat juga bahwa proses yang panjang ini menghasilkan tumbuhnya masyarakat korban. Tadi Mbak Yanti bilang bahwa kita semua ini sesungguhnya korban dan punya dendam kemarahan kolektif yang bergenerasi. Sejarah kekerasan ini juga terkait dengan banyak masalah. Mulai dari tanah, orang bikin pertambangan dan seterusnya. Dan menjelaskan juga kepada kita bahwa ini bahwa ini bukan sesuatu yang terjadi spontan di luar kontrol, tapi memang sesuatu yang sistematis, walaupun kita tidak menyentuh yang sistematis itu. Bagian kedua yang saya catat bahwa ada pertanyaan besar bagaimana kita keluar dari situasi ini atau mau kita apakan yang kita tahu sekarang? Kelihatan juga bahwa perubahan atau solusi itu ternyata nggak cukup dengan niat baik, karena kita berbicara tentang sistem. Kita musti berpikir tentang solusi yang sistematis dan di sini tentunya tujuannya - kalau dengar pembicaraan tadi baik yang pakai ide yang basi, maupun yang mutakhir - itu suatu sistem yang menjamin sejarah kekerasan tidak terulang. Ada beberapa poin lain di dalam proses solusi yang disinggung, soal rehabilitasi, kompensasi, ada masalah peradilan, dan rekonsiliasi yang menarik. Karena semua orang berbicara menolak rekonsiliasi, saya pikir poinnya cukup jelas, bahwa rekonsiliasi hanya mungkin kalau berpijak pada kebenaran dan keadilan. Nah, semua juga yang bicara kelihatannya sadar bahwa ini suatu proses yang panjang dan di dalam proses yang panjang ada beberapa hal yang kayaknya perlu diperhatikan. Pertama saya catat kita mesti lebih banyak mendengarkan suara korban. Kalau saya kasih catatan tambahan pribadi mungkin kaum perempuan, karena malam ini

128

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

kaum perempuan hanya tiga orang yang berbicara. Rata-rata yang laki banyak pidatonya. Sementara suara korban kayaknya bukan hanya pidato ya, tetapi banyak yang lain. Nah, dengan suara korban ini kita bisa juga bisa menyelami sisi personal, baik dari sisi korban maupun pelaku. Selanjutnya adalah bagaimana kita membuka kasus-kasus yang ada sebagai langkah, dan kemudian memikirkan publikasinya. Bukunya Putu Oka diterbitkan sebagai semacam catatan terhadap apa yang dia lihat, dan apa yang dia alami dan masih ada beberapa publikasi lain. Saya juga dapat buku dari Martin tadi. Kedua, pengetahuan kita ternyata masih sangat terbatas, dan kita boleh dibilang sama-sama beruntung bisa ketemu di sini. Tapi mayoritas orang kurang beruntung, karena nggak bisa datang malam ini dan ikut mendengarkan. Kita punya banyak sekali potongan-potongan cerita tapi kesempatan untuk menukar cerita, pengetahuan dan pengalaman ini mungkin perlu diperbanyak. Saya mau pinjam ungkapan dari seorang teman di Bali, kebetulan korban dan juga mengalami semua peristiwa ini, bagaimana kita memulai atau membuat sebuah gerakan tutur: yaitu menceritakan kembali dan menghidupkan kembali, bukan kenangan jeleknya tentang peristiwa ini, tapi apa saja yang mungkin dipelajari sehingga membentuk semacam ingatan atau pengetahuan bersama yang menuju kepada keberanian kolektif. Keberanian kolektif tentunya agar tidak perlu takut lagi bikin film, agar lebih bebas menuliskan apa yang perlu ditulis dan seterusnya. Nah, begitu catatan dari saya, saya berharap bahwa kita semua bisa mengambil sesuatu dari sini. Yang jelek boleh titip sama saya, kalau yang bagus-bagus dan berguna silahkan bawa pulang, tapi jangan lupa disampaikan kepada yang lain. Sekian dari saya, selamat malam. Assalaamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

129

130

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

12 OKTOBER 2000

Che Guevara: Antara Kaos Oblong, Cimeng dan Revolusi
Narasumber: Hilmar Farid dan John Roosa. Moderator: Alit Ambara.

Ide untuk mengangkat tema ini timbul ketika dilihat semakin banyak aktifis mahasiswa yang menghadiri Dbp. Sejak maraknya aksi-aksi jalanan Che Guevara menjadi sosok yang paling banyak menghiasi kaos oblong, poster dan bendera demonstrasi mahasiswa. Bahkan ada sebuah mikrolet di Jakarta yang menempelkan poster wajah Che sampai menutup bagian tengah kaca belakang dan di bawahnya tertulis “Anak Bangsa”. Boleh jadi anak si pemilik mikrolet aktifis mahasiswa! Apapun alasan orang untuk kagum terhadapnya, cukup jelas bahwa Che lebih dikenal sebagai image kegagahan belaka. Pemikiran dan praktek perjuangannya sangat jarang dibahas. Dunia bisnis sekarang menggunakan image-nya untuk menjual alkohol, rokok dan garmen, dan kaum muda menyambutnya tanpa sadar bahwa ia menentang komersialisasi. Beragamnya pemahaman peserta tentang Che sendiri dan gerakan pembebasan yang diwakilinya membuat diskusi ini melebar kemana-mana, sampai ke masalah pilihan menggunakan kekerasan atau tidak dalam memperjuangkan hak-hak dasar manusia. Yang juga cukup banyak memperoleh perhatian dari kalangan aktifis mahasiswa adalah bagaimana komersialisasi image Che sebenarnya lebih banyak menghalangi daripada mendorong tumbuhnya pemahaman tentang gerakan pembebasan secara umum. Karena pada akhirnya banyak mahasiswa yang merasa sudah berjuang hanya dengan mengenakan tshirt bergambar Che, atau mengenakan baret a la Che, saja. Usulan yang muncul di luar diskusi kemudian adalah agar buku-buku tentang Che dan gerakan pembebasan di belahan dunia lain yang sudah diterjemahkan didiskusikan lebih serius di kalangan aktifis.

Moderator: Selamat malam dan selamat ketemu lagi. Sebenarnya banyak sekali usulan yang masuk ke koordinator, tapi pilihan akhirnya jatuh pada Che Guevara, yang tidak asing lagi bagi kebanyakan aktivis. Dalam demonstrasi teman-teman sering terlihat membawa icon Che, entah berupa bendera, emblem dan lainnya. Kita belum tahu apakah Che ini dipahami sebatas icon saja, sebagai seorang yang romantis atau revolusioner. Pemahaman kita bisa berbeda-beda, dan malam ini kita buka bagi siapa saja yang merasa kenal dengan dan paham tentang Che Guevara, untuk berbicara. Di sini ada John dan Fay, yang diharapkan bisa membantu kita lebih mengenal Che. Judul diskusinya adalah “Antara Cimeng, Kaos Oblong dan Revolusi”. Artinya elo mau ngomong apa pun boleh. Sekitar revolusi atau ada baubaunya Che Guevara, saking bingungnya koordinator memberi judul karena begitu banyak fenomena yang terlihat sekarang. Saya silakan juga para hadirin yang mau menyumbangkan pengetahuannya tentang Che Guevara, bercerita tentang perkenalannya dengan Che, dan
Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

131

sebagainya. Hilmar Farid (Fay): Biasanya kalau saya yang duduk di sini, itu artinya panitia sudah mulai panik karena tak ada lagi orang yang dikorbankan untuk Diskusi Bulan Purnama. Che Guevara memang sosok yang menarik, karena gambarnya jauh lebih dikenal daripada pikirannya. Ini agak berbeda dengan, sebutlah Pramoedya di Indonesia, yang juga sering jadi coverboy, tapi pikirannya juga dikenal luas. Kalau Che, orang lebih kenal gambarnya – gambar silhouette yang khas dengan pandangan menerawang ke depan – daripada pikirannya. Dia menjadi lebih populer setelah meninggal ketimbang waktu masih hidup dan bergerilya untuk menumbangkan kediktatoran, mendirikan negara sosialis. Dan populer bukan hanya bagi orang yang mendukung ide-idenya, tapi juga di kalangan yang bertolak belakang pikirannya. Misalnya tahun 1997 ada kasus ketika juru potret yang mengabadikan gambar Che yang legendaris itu menuntut sebuah perusahaan iklan, karena perusahaan iklan itu menggunakan image Che untuk iklan minuman Vodka. Ada dua masalah. Pertama, digunakannya sosok Che dalam iklan, untuk menjual barang dagangan, yang jelas ditentang olehnya. Kedua, barang yang dijual itu adalah minuman keras, dan kita tahu bahwa Che Guevara tidak minum alkohol. Che selama ini menjadi simbol perlawanan. Di Amerika, anak muda yang menentang perang Vietnam pada tahun 1960-an mengusung gambarnya, dan seruan-seruannya dipasang di kamar tidur, disablon di atas kaos oblong, dan seterusnya. Di Jakarta, teman-teman banyak yang pakai kaos bergambar Che, dan bahkan benderanya pun dibawa dalam demonstrasi menjadi simbol perlawanan. Dalam kasus iklan di atas, menjadi menarik karena bagaimana mungkin orang yang revolusioner seperti Che bisa mendapat tempat di kalangan, sebutlah borjuasi atau elit yang menjadi lawannya? Penjelasannya tidak lain karena Che Guevara kemudian dilepaskan dari konteks sejarahnya. Orang bisa berbicara tentnag Che tapi tidak menyinggung revolusi Kuba. Che kemudian dilihat semata-mata sebagai sosok yang begitu agung dan dikenal tinggi moralnya, manusia dengan komitmen tak terkalahkan yang tidak bergeser dari prinsip dan seterusnya. Ini semacam gambaran grotesque tentang pahlawan dalam masyarakat borjuis. Padahal kalau kita kenal dengan Che sebagai manusia, kisah hidupnya jauh sekali dari citra yang selama ini dilekatkan oleh orang. Begitu banyak yang dia lakukan semasa hidup, sampai Sartre menyebutnya “manusia yang paling lengkap di zaman kita”. Che tidak revolusioner sejak lahir, melainkan melalui proses yang

132

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

panjang. Dan tidak semua yang dia lakukan dan alami sesuai dengan image yang kita kenal sekarang. Misalnya saja ketika muda dia senang sekali mengganggu perempuan. Sampai pada satu titik dia mulai menyadari bahwa apa yang dia lakukan terhadap perempuan itu keliru. Perkembangan ini penting untuk memahami pikiran dia juga. Dalam biografi yang ditulis John Lee Anderson ada cerita begini. Suatu saat Che pergi ke kedai minuman, dan dilayani oleh seorang perempuan Indian. Seperti biasa ia dan teman-temannya mengganggu perempuan ini, yang kemudian melawan dan akhirnya terjadi keributan. Polisi datang dan perempuan itu kalah. Di sini Che melihat bahwa apa yang dia lakukan selama ini sebenarnya adalah bagian dari penindasan. Dan juga bukti bahwa kultur macho itu bukan sesuatu yang alamiah dalam darah manusia Latin, tapi bagian dari kultur mestizo di alam penindasan kolonial. Dalam kasus di atas, jelas Che dan teman-temannya yang bersalah. Tapi mereka dimenangkan oleh polisi, karena mereka mestizo dan laki-laki, dan perempuan itu kalah sematamata karena Indian dan perempuan. Dari hal-hal seperti ini ia mengembangkan pikiran tentang bagaimana penindasan mungkin terjadi. Banyak sekali pengalaman kecil yang membentuk kehidupannya, dan kita mesti ingat bahwa sosok revolusioner yang kita kenal sekarang sebenarnya punya perjalanan hidup yang jauh dari mulus. Cita-cita awalnya adalah menjadi dokter, dan hidup biasa seperti orang lain, tapi kemudian berakhir mati mengenaskan di Bolivia karena membantu pembebasan rakyatnya dari penindasan. Saya tidak akan cerita lebih detail lagi, karena mungkin teman-teman sudah banyak tahu. Tapi ada beberapa poin yang saya mau angkat. Pertama, soal gerakan. Che Guevara awalnya membayangkan bahwa perubahan bisa dilakukan oleh sekelompok orang yang sangat kuat dan punya komitmen tinggi, punya ideologi dan kesadaran yang tinggi. Kelompok seperti itu disebutnya foco (inti), yaitu kumpulan orang terpilih yang sangat militan – “unsur termaju” kalau mengikuti istilah temanteman di sini – dan akan membawa perubahan. Lalu rakyat tempatnya di mana? Ya, hanya ikut saja. Dalam perjalanannya bergerilya sering sekali dia terbentur karena perkara ini. Seperti waktu ia pertama mendarat di Kuba untuk menghancurkan kediktatoran Batista. Dalam hagiografi tentang Che, kisahnya begitu heroik dan hebat, tapi sebetulnya kelompok foco itu mendarat di tempat yang salah dan seluruh rencana penyerangannya gagal. Dengan kata lain pikiran dia yang kita kenal lewat buku-buku itu sebenarnya adalah produk pergulatannya dalam revolusi Kuba. Di dalam revolusi itulah pikiran-pikiran terpentingnya lahir, termasuk pikirannya tentang perang gerilya. Artinya bukan melahirkan teori baru bergerak, tapi membangun teori dari pengalaman berjuang. Khusus soal teori gerilya atau teori perang itu datang kemudian, bukan sejak awal. Pada awalnya perjalanan gerilya dia adalah kisah kegagalan melulu. Pada awalnya Che dan kawan-kawannya masuk ke Kuba untuk bergabung dalam joint action.

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

133

Tapi mereka terlambat mendarat karena salah satu orang di kapal itu, yang kerjanya melihat ke daratan, jatuh ke laut, sehingga kapalnya terpaksa putar balik, dan akhirnya mendarat satu mil dari tempat tujuan semula. Dan tempat pendaratan itu di rawarawa. Che marah-marah, dan banyak anak buahnya yang tidak sampai di tujuan. Jadi seluruh penyerangan yang digambarkan begitu heroik sebetulnya gagal. Nah, saya pikir penting buat kita untuk melihat pengalaman orang seperti Che Guevara atau “pahlawan” apa pun dengan cerita-cerita nyata di balik penggambaran yang dahsyat tentang mereka. Soal lain, Che Guevara biasanya dikaitkan dengan moralitas, dengan komitmen perjuangan dan sebagainya, tapi sedikit sekali orang yang berbicara tentang pemikiran ekonomi dia. Nanti John bisa cerita lebih panjang soal itu. Kita ingat bahwa setelah episode gerilya itu selesai, Fidel Castro jadi pemimpin, dan Che diangkat menjadi menteri dan gubernur bank sentral kalau saya tidak salah. Tugasnya adalah mengurus ekonomi Kuba. Hal ini tidak banyak dibahas menurut saya, padahal luar biasa penting. Ide-idenya luar biasa radikal sampai banyak orang menyebutnya terlalu radikal, kekiri-kirian atau leftist. Seorang pejabat Kuba bilang, pikiran Che sebenarnya berlaku untuk masa depan bukan untuk masa sekarang. Misalnya ketika dia coba mengubah sistem penghitungan dalam ekonomi – yang biasa kita sebut akuntansi. Dia coba menyusun sendiri penghitungan keuangan negara yang sama sekali berbeda dan sebagai kritik terhadap sistem penghitungan yang digunakan dalam masyarakat borjuis, menurut dia. Konsep itu disebut budgetary finance system yang melihat ekonomi negara seperti sebuah unit usaha tunggal. Tidak ada lagi unit-unit usaha atau perusahaan yang berdiri sendiri dengan sistem akuntasi sendiri, karena segala sesuatu disedot ke pusat, dan direncanakan serta diatur dari sana. Ini seperti sistem perencanaan teratur yang sangat radikal. Semua perhitungan untungrugi dan sebagainya, yang lazim kita temui dalam perhitungan ekonomi borjuis, ditinggalkan. Segala sesuatu digodok di lembaga perencanaan pusat, dan kebutuhan masyarakat dihitung dalam satu account. Ide ini memang tidak pernah dipakai di Kuba sendiri. Che sendiri mengakui bahwa untuk menerapkan ide itu diperlukan tingkat kesadaran berbeda, sebuah kesadaran yang lebih tinggi, yang dirumuskannya dalam tulisan “Sosialisme dan Manusia di Kuba”. Di situ dia bicara tentang harus lahirnya orang-orang dengan kualitas baru, kesadaran dan keyakinan tinggi bahwa kita mampu hidup bersama secara kolektif dan komunal. Saya pikir apa yang dia katakan – terlepas dari kita setuju atau tidak – adalah bayangan tentang masyarakat masa depan. Sekarang kita di Indonesia sulit membayangkan masa depan negeri. Jangankan soal ekonomi masa depan, masalah wilayah saja kita tidak bisa jamin bahwa republik ini dalam beberapa tahun mendatang masih akan sama bentuknya seperti yang ada sekarang.

134

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Baru-baru saja muncul propinsi Banten, besok mungkin ada propinsi lain, dan Gus Dur sudah bilang cita-citanya ada 50 propinsi selama ia menjabat sebagai presiden. Jadi, bayangan tentang masa depan ini menurut saya penting sebagai sumber insipirasi dan pikiran tentang perubahan. Membayangkan perubahan dalam ekonomi, perubahan dalam tatanan masyarakat secara menyeluruh, dan Che melakukan semua itu dengan konsisten. Dia coba merumuskan mulai sistem keuangan, mekanisme untuk menerapkannya, sampai pada konsep kerja sukarela, dan sebagainya. Dia coba menerapkan prinsip “bekerja sesuai kemampuan dan menerima sesuai kebutuhan” dengan merumuskan kerja sukarela yang total. Dia membentuk brigade-brigade kerja yang bisa dikirim ke mana saja untuk mengerjakan apa saja, mulai dari menyelesaikan persoalan nyamuk di kampung, persoalan panen tebu dan seterusnya. Soal tebu misalnya ada perhitungan bahwa panen akan anjlok jika tidak dikerjakan maksimal. Maka dihitung berapa besar kebutuhan tenaga, lalu dikirim sejumlah brigade untuk bekerja sukarela. Memang tidak semuanya berjalan mulus seperti yang diharapkan, tapi ini adalah ide-ide yang saya pikir jauh lebih penting dibicarakan ketimbang misalnya Che Guevara sebagai simbol perjuangan. Apalagi kalau cuma berhenti pada kekaguman sesaat. Simbol boleh jadi penting, tapi yang penting diingat bahwa di balik simbol itu banyak pikiran yang sebenarnya perlu digali lagi. Hal lain yang penting adalah pikiran Che Guevara mengenai susunan masyarakat, yang berkaitan juga dengan ekonomi. Di sini Che tidak hanya berbicara mengenai Kuba, tapi tentang benua. Revolusi harus bersifat kontinental, yang kemudian diterjemahkan dengan ekspor gerilyawan atau foco ke beberapa negara, seperti Kongo, Argentina dan Bolivia. Setelah Che meninggal proyek ini diteruskan dengan mengirim foco ke Angola, dan menjadi pelopor revolusi di banyak daerah. Dalam pemikiran dia, Dunia Ketiga dan rakyat tertindas itu tidak bisa merdeka di satu tempat karena saling tergantung dan terkait. Ini aspek yang menarik dari Che menurut saya, karena lain dari rezim-rezim yang menyebut dirinya komunis pada tahun 1960-an atau 1970an. Uni Soviet misalnya tetap berhubungan dengan Orde Baru di Indonesia. Urusan dagang tetap jalan. Bagi Che, hubungan semacam itu tidak haram, tapi perlu dipertanyakan apakah sudah imbang, apakah hubungan itu adil? Di forum internasional seperti sidang PBB dia selalu membuat merah telinga para pejabat negara industri maju, terutama Amerika Serikat, dengan berbicara keras bahwa revolusi harus dituntaskan dan seterusnya. Sayangnya pikiran semacam ini jarang kita diskusikan, dan yang lebih populer di kalangan anak muda adalah sosoknya yang berani dan image heroik yang menurut saya diputus dari konteks revolusi Kuba yang melahirkan dia. Padahal yang perlu kita pelajari adalah apa yang sebetulnya membuat orang seperti Che itu ada. Kalau melihat Che sebagai orang berani, seorang santo yang agung dan hebat, kita mungkin mengabaikan kenyataan bahwa ia lahir dari sebuah proses revolusi di mana banyak orang yang terlibat, banyak kekuatan yang ikut

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

135

mempengaruhi pemikiran dan perbuatannya. Saya lebih baik berhenti di sini dulu. John Roosa: Saya lihat di toko buku di Indonesia sekarang ada banyak buku tentang Che Guevara. Mungkin ada lima atau enam buku, dan saya berharap mahasiswa, pelajar dan publik Indonesia bisa belajar tentang Che Guevara dan mengenalinya bukan sebagai sebagai icon tetapi sebagai pemikir dan aktivis. Saya pikir kita bisa belajar banyak dari pengalaman Che Guevara dan pengalaman revolusi Kuba. Tapi kita juga harus sadar, karena banyak hal yang tidak relevan dan situasinya sangat berbeda di Kuba atau di Amerika Latin. Nah, kita harus memutuskan apa yang relevan, kenapa kita belajar mengenai Che Guevara dan kenapa bukan tentang orang lain. Dan menentukan apa yang penting dalam tulisan dan kehidupan Che? Saya tidak mau menjawab pertanyaan itu langsung, karena itu pertanyaan untuk kita semua. Mungkin ada orang yang mau bilang bahwa Che tidak relevan bagi kita. Saya baru lihat di MKB ada iklan “senjata tak selesaikan masalah”. Che Guevara tidak setuju dengan itu, dan kalau dia di sini, dia pasti akan memaki kita. Ini satu soal besar, apakah perjuangan bersenjata masih bisa berjalan sekarang sebagai strategi revolusioner. Fay sudah menjelaskan bahwa rencana Che Guevara untuk bikin revolusi di luar Kuba itu gagal. Setahu saya ada empat kasus. Sewaktu Che di Kuba dia melatih gerilya, memberi senjata dan uang, lalu juga mengirim gerilya dari Kuba ke negara lain. Ada juga orang lokal yang dilatih, misalnya orang Peru datang ke Kuba, lalu kembali ke Peru untuk revolusi. Dalam keempat kasus itu dia gagal. Setelah mundur dari posisinya di Kuba, dia ke Kongo untuk ekspedisi, dan juga gagal. Kemudian ke Bolivia, dan gagal juga. Nah, kita harus belajar kenapa dia enam kali gagal, dan akhirnya mati karena kegagalan itu dibunuh oleh orang CIA di Bolivia bersama orang Kuba. Saya kira kita harus sadar bahwa perjuangan bersenjata tergantung kepada perjuangan yang lebih luas. Perjuangan bersenjata sendiri tidak bisa bikin revolusi, dan kita harus sadar ada banyak perjuangan lain yang tidak bersenjata tapi petning, bahkan mungkin lebih penting. Waktu Uni Soviet mengirim senjata nuklir ke Kuba, Che juga mau pakai senjata itu. Dia mau launch senjata itu ke Amerika dan bilang begitu kepada wartawan. Che begitu semangat untuk melawan Amerika dengan senjata apa saja, termasuk senjata nuklir. Sekarang ini di Amerika Latin, Afrika dan Asia ada banyak pasukan bersenjata. Di Aceh ada GAM, dan di Afrika yang berkuasa itu semua tentara, ada kelompok-kelompok kecil yang bersenjata. Dan saya kira di Afrika sekarang dan di tempat lain di dunia mungkin yang lebih penting bukan menambah senjata atau bikin kelompok gerilya baru, tapi membuat gerakan non-kekerasan. Masalah sekarang justru karena

136

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

terlalu banyak orang yang punya senjata. Waktu Che ke Kongo untuk membantu membuat pasukan gerilya, baru ada satu kelompok. Tapi sekarang Kongo hampir tidak ada lagi sebagai negara karena banyak kelompok kecil yang bersenjata dan saling perang. Di Kongo sekarang mungkin ada sepuluh pasukan gerilya, dan kalau kita bikin gerilya baru jelas tidak bisa bikin apa-apa. Di Amerika Latin kita lihat ada gerilya seperti Shining Path (Jalan Terang) yang berideologi Maois. Che juga diangkat sebagai orang Maois, yang berpikir bahwa petani akan bikin revolusi, bukan buruh. Petani bersenjata. Tapi ada banyak pasukan gerilya di Amerika Latin seperti Shining Path yang menurut saya reaksioner. Mereka juga melawan orang kiri yang lain, membunuh orang sipil. Jadi kita harus hati-hati, karena ada gerilya yang bicara dengan retorika Marxis, Leninis, atau Maois. Tapi itu bukan berarti mereka progresif. Ada contoh lain di Meksiko, yaitu kelompok Zapatista. Saya kira mereka progresif dan juga bergerilya. Dan dalam konteks itu ternyata strategi gerilya sangat cocok. Tapi strategi mereka berbeda dari Che Guevara, karena strategi mereka bukan untuk mengambil kekuasaan negara seperti pasukan gerilya di Kuba, tapi hanya untuk membantu semua orang Meksiko membuat gerakannya sendiri. Zapatista hanya ada di Chiapas, di salah satu propinsi Meksiko, dan mereka bikin revolusi di situ. Lalu mereka bilang “kita berharap semua orang lain di Meksiko melawan dan memberontak”. Itu lain dari Che, dan Zapatista belajar dari pengalaman Che dan pengalaman revolusi Kuba. Semua rencana Che untuk ekspor revolusi di luar Kuba ternyata gagal. Ada satu perkecualian mungkin, yakni revolusi Nikaragua yang menang 20 tahun setelah perlawanan gerilya dimulai. Tapi mereka menang bukan hanya karena ada gerilya di situ, tapi juga karena ada gerakan yang lebih luas. Dan ada kontak antara gerilya dan masyarakat sipil. Artinya masyarakat sipil juga bikin revolusi, bukan hanya ikut pasukan gerilya. Di El Salvador dan Guatemala ada gerilya yang tidak menang, tapi mereka bisa memaksa negara untuk mulai negosiasi dengan mereka untuk membuat negara baru. Saya tidak bisa bilang strategi Che untuk perlawanan bersenjata itu salah, tapi kita harus hati-hati. Saya kira dalam situasi Indoneisa, yang paling sekarang adalah bagaimana mengurangi konflik bersenjata, bukan menambahnya dengan yang baru. Sampai sekarang saya hanya berbicara tentang strategi gerilya, tetapi sebenarnya ada juga soal ekonomi. Waktu Che jadi menteri perindustrian dan presiden Bank Kuba, dia sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang ekonomi. Ceritanya dalam sebuah rapat Fidel bertanya kepada peserta “apakah ada economista (ekonom) di sini?” Lalu Che angkat tangan, “Saya!” Semua orang rapat heran dan bilang, “kamu tidak tahu apa-apa mengenai ekonomi”. Che menjawab, “Oh, economista, saya kira yang ditanya tadi apa ada komunista (komunis) di sini.” [hadirin tertawa] Memang pengangkatan dia menjadi presiden Bank Kuba itu tidak jelas. Mungkin hanya karena dia bisa kerja keras dan sabar untuk duduk lama. Kalau kita membaca tulisannya mengenai ekonomi sekarang, ada

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

137

banyak aspek yang bagus sekali, karena Che berpikir tentang bagaimana memajukan Kuba yang tadinya adalah negara dengan ekonomi terbelakang. Waktu itu ekonomi Kuba sepenuhnya bergantung kepada tebu. Kuba waktu itu seperti sebuah perkebunan tebu, hampir semua tanah yang ada dipakai untuk tebu dan produksi gula yang dijual ke Amerika. Separuh dari produksinya itu Amerika yang beli. Hanya itu saja ekonomi Kuba. Selain itu ada turisme, dan Kuba juga bikin cerutu. Dia kemudian berpikir bagaimana caranya mengubah ekonomi Kuba sehingga ada industri, bagaimana membuat ekonomi agar bisa membantu semua orang, agar orang bisa bekerja dan punya standar hidup yang cukup. Kalau kita baca tulisannya dalam situasi sekarang ada beberapa hal yang tidak relevan. Tapi ada banyak yang penting dalam tulisan dia. Pertama, bahwa kita harus melawan negara-negara imperialis. Pada tahun 1960-an tidak banyak negara Amerika Latin yang mendukung Kuba, karena di negara itu ada diktator, tentara atau elit-elit yang mau bikin deal sendiri dengan Amerika. Revolusi Kuba dan kebijakannya itu lain, karena pemerintahnya mau bikin ekonomi yang baik untuk semua orang. Sementara negara lain tidak peduli, seperti pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia tidak peduli kalau ada banyak orang mati kelaparan, kalau ada orang yang kerja keras tanpa gaji cukup. Elit Indonesia melihat orang lain seperti binatang saja. Itu benar, termasuk pemerintah yang berkuasa sekarang, “orang reformis” yang bikin deal sendiri dengan IMF. Jelas bahwa Indonesia tidak perlu membayar hutang lama dari rezim Soeharto, tapi pemerintah sekarang nyatanya mau bayar. Kalau kita membaca tulisan Che dalam konteks ini, kita bisa bilang bahwa Che memang hebat. Ada cerita waktu Che ke Indonesia setelah revolusi Kuba. Kira-kira tahun 1960 atau 1961. Dia diajak ke istana dan presiden Soekarno dengan bangga membawanya keliling istana, menunjukkan lukisan mahal. Akhirnya Che bosan, karena tidak peduli dengan kekayaan Soekarno. Dia bilang, “Mana cewek Rusia yang dikasih oleh pemerintah Rusia. Dia itu milikmu yang paling berharga?” Che rupanya dengar bahwa Soekarno punya simpanan baru dari Rusia. Tapi untungnya semua itu tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan presiden Soekarno tidak tahu apa yang dikatakannya dalam bahasa Spanyol. Tapi itulah Che, yang tidak bisa empathy dan tidak mau memahami Soekarno. Karena kalau menurut dia orang revolusioner itu harus punya perspektif lain. Baiklah, saya mau tahu orang Indonesia sendiri berpikir apa tentang Che, karena kalau saya keluar rumah selalu lihat kaos bergambar Che di mana-mana. Setiap orang kelihatannya punya, tiap mahasiswa dan pelajar punya, bahkan ibu-ibunya juga. Moderator: Baik, itu tadi uraian dari John dan Fay, yang cukup luas. Ada satu hal yang menarik, yaitu soal konteks dan simbol, artinya sejauh mana simbol itu dipahami dalam konteksnya. Apakah benar kita mengangkat Che hanya sebagai icon saja, tanpa tahu bahwa dia punya gagasan brilyan

138

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

dan revolusioner. Pertanyaannya, sejauh mana masyarakat Indonesia – kita semua – memahami Che? Kenapa semua orang sekarnag memakai kaos oblong bergambar Che Guevara, aksi turun ke jalan juga membawa bendera dengan gambar Che, emblem juga bergambar Che. Jadi sebelum ditanya, John dan Fay melontarkan pertanyaan lebih dulu kepada hadirin, supaya hadirin bisa menjawab dulu. Silakan para hadirin. Kita hadir di sini bukan hanya sebagai pendengar, tapi juga sebagai pembicara. Apakah benar yang diceritakan tadi soal sisi gelap Che yang dulu juga suka main-main dengan perempuan. Mungkin ada teman yang suka mengibarkan bendera Che yang tersinggung… Sigit: Di kalangan mahasiswa keterkenalan Che tidak dapat dilepaskan dari keberhasilan group dari Amerika yang bernama Rage Against the Machine. Saya sendiri tidak sepakat dengan kelompok itu, karena sudah terkooptasi dan menjadi komoditi pasar. Dan ini bukan kesalahan Che Guevara atau kesalahan Rage Against the Machine. Mereka sendiri bilang Che ditampilkan karena sudah menjadi milik dunia. Kesalahannya, kelompok itu bermain di tatanan mainstream industri rekaman yang sangat dominan. Konsekuensinya, ketika figur Che Guevara itu diterima oleh audience atau publik, yang diterima itu hanya sebatas image saja. Hanya macho dan heroismenya yang diterima, sementara seluruh perjuangan dan pemikiran dia justru kabur. Tapi di sisi lain kita lihat bahwa Rage Against the Machine pada tahun 1995-98 ikut di hutanhutan Meksiko dengan orang Zapatista. Dalam beberapa event dia melakukan konperensi pers dan menyatakan bahwa 50% penghasilan kelompoknya diserahkan untuk mendukung perjuangan Zapatista. Aku pikir Che Guevara kemudian hanya diterima heroisme dan macho-nya saja, terutama karena permainan industri musik mainsream yang dikuasai kapitalisme global. Amerika kelihatannya ingin menebus dosa kemanusiaan mereka dan memberi kesan setuju dengan demokratisasi dan bahkan ide-ide sosialisme dan komunisme, seolah punya punya komitmen dengan perjuangan rakyat tertindas. Nah, di Indonesia selama ini tidak pernah ada gerakan yang mau meluruskan dan menjelaskan Che itu sebenarnya siapa, apa gagasannya. Kita yang tahu pun kadang terdiam, dan akibatnya semakin banyak orang menyukai Che sebagai figur macho dan heroik. Nah, aku lemparkan ke kawan-kawan yang ada di sini, bagaimana sikap kita setelah kita mendengar penjelasan soal Che. Industri musik jelas menjadikan figur Che hanya sebagai komoditi di pasar, dan sayangnya tidak ada pembelaan. Ini sama halnya ketika kita bicara soal Ska misalnya. Ska itu sangat berkomitmen pada pergerakan working class, tapi kenapa Ska di sini hanya ditangkap centilnya saja, hanya bicara cinta saja. Sementara kawan-kawan yang katanya punya komitmen kuat pada kultur Ska juga diam saja.

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

139

Kembali lagi ke Che Guevara, ini sama saja halnya. Bagaimana kita membuat pelurusan dan mengimbangi gambaran yang sudah dijadikan komoditi oleh kapitalisme global. Kalau Che hanya ditangkap dari segi petualangan, main motor, atau tingkah lakunya yang sedikit hedonis, aku pikir kawan-kawan mahasiswa yang sangat fanatik pada Rage Against the Machine dan menyukai Che Guevara pun akan mentok pada tataran macho, heroisme dan hedonismenya saja. Sekali lagi pertanyaannya, bagaimana sikap kita sebenarnya? Oey: Pada tahun 1960 kebetulan saya pernah menerjemahkan buku Che Guevara, yaitu Perang Gerilya yang memang salah satu buku terpenting dari dia. Karena di dalam buku ini dia esperti menjadi Mao Zedong-nya dunia Barat. Karya ini penting karena perang gerilya di Tiongkok dasar teori dan sebagainya itu tidak ada di Kuba. Semua tindakan militer a la gerilya itu gagal. Sedangkan kalau di Timur, karena lahirnya dari bawah, dari kaum tani dan bukan dari atas yang membentuk grup-grup khusus begitu, lain lagi hasilnya. Ini memang perbedaan yang sangat mencolok. Kedua, soal Che Guevara yang kita terima citranya sekarang, sebagai orang tampan, heroik dan flamboyan juga. Tampilan ini sangat menarik buat anak-anak muda. Itu wajar saja. Tinggal sekarang membicarakan isinya juga. Soal ekonomi, memang bukan Che Guevara orangnya. Sama seperti Raul Castro yang tahu-tahu jadi menteri pertahanan. Itu semacam keberanian Kuba untuk tidak terikat pada norma lama. Sebenarnya ada teoretikus revolusi Kuba itu. Bukan Fidel Castro atau Che Guevara, tapi Carlos Cienfuegos, yang hilang dalam penerbangan ke luar negeri. Dia inilah tokoh utama dari revolusi Kuba. Perang Gerilya itu memang buku yang menarik, secara rinci menjelaskan apa saja yang dilakukan kalau orang mau menempuh perang gerilya, sampai membuat bom molotov segala. Kalau di sini kan orang bikin bom molotov, cuma botol diisi bensin, dinyalakan lalu dilempar. Padahal bukan begitu. Bom molotov juga memakai bahan kimia dan sebagainya agar bisa meledak. Tidak perlu dinyalakan segala. Kalau dilemparkan, membentur sesuatu, lalu meledak. Kalau di sini saya pikir kita agak primitif juga. Hal lain yang saya anggap serius, adalah pemahaman Che Guevara bahwa revolusi tidak bisa menang hanya di satu tempat. Ini bau-baunya permanent revolution, bahwa revolusi itu harus sekaligus di semua negeri, baru bisa dijamin menang. Ini penting, sebab kenyataannya revolusi Rusia yang tahun 1930-an kemudian diluncurkan sebagai “sosialisme di satu negeri” ternyata sekarang juga gagal. Apakah ini ada hubungannya dengan teori revolusi permanen itu? Lantas, masalah ekspor revolusi. Kita tahu bahwa itu gagal karena

140

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

tidak bisa memaksakan suatu negeri untuk ikut satu pola saja, sementara kondisinya begitu berbeda. Tapi yang menarik buat saya adalah soal internasionalismenya. Che Guevara ini seorang internasionalis, dan konsekuen dengan itu. Dia bersedia mati di negeri orang dan bukan negerinya sendiri, dan dia buktikan juga. Kepahlawanan seperti ini punya daya tarik sendiri. Buku Perang Gerilya itu lebih jauh ternyata punya hubungan juga dengan Indonesia. Teman-teman tentunya ingat tahun 1968 itu kan ada gerakan di Blitar Selatan. Idenya bukan dari Che Guevara, tapi dari Vietnam. Memang mau perang goa, membangun basis-basis di goa yang bertempat di Blitar Selatan. Kita tahu bahwa ini juga gagal, setelah dioperasi pagar betis semua habis. Belakangan dari Tiongkok juga dikatakan bahwa gerakan itu hanyalah advonturisme. Nah, saya jadi ingat salah satu bagian dari buku Che yang menyatakan begini, “menentukan basis tempat kita bergerak tidak boleh di areal yang bisa dicapai oleh angkutan umum, yang berada di jarak jangkauan kekuasaan resmi.” Jadi harus di luar jangkauan itu. Kalau Blitar Selatan itu lain, itu sentralnya lalu lintas, jadi sebentar saja dipagar betis sudah habis. Moderator: Ada dua hal menarik yang disampaikan oleh Oey dan Sigit dari Taring Padi. Sigit masih meragukan apakah teman-teman sekarang benar memahami gagasan Che Guevara. Ini pertanyaan sama yang dilontarkan Fay sebenarnya, sejauh mana sebenarnya kita memahami konteks yang melahirkan Che? Agung Putri: Kita malam ini dibawa oleh romantisme tentang Che sambil melihat Indonesia. Saya sendiri tidak tahu apakah Che memang luar biasa atau menjadi luar biasa justru setelah dia mati. Artinya, apakah memang ada sesuatu dalam dirinya yang begitu lain, atau justru sejarah yang membuat dia menjadi lain, atau mungkin juga kedua-duanya. Kalau dilihat latar belakangnya, Che ini orang biasa saja. Ia anak dari keluarga middle class, anak seorang kaya Spanyol yang di Argentina waktu itu dianggap sebagai warga kelas satu. Sejak kecil terkena penyakit asma sehingga harus pindah ke daerah pegunungan yang elit, mendapat perawatan dan ketenangan. Saya pikir bukan masa kecil seperti itu tidak memberinya sifat berani. Tapi saya pikir dari pengalaman itu dia menjadi dingin, karena sejak kecil berjuang melawan penyakitnya sendiri. Kedua, saya pikir dia orang yang sangat suka membaca dan menulis. Pengetahuannya luar biasa banyak. Saat bergerilya dia juga membawa koleksi bukunya menyeberangi lautan menuju Kuba. Jadi, sebenarnya dia bukan orang yang berani, tapi semata-mata terlatih untuk berpikir karena sangat kuat membaca dan mampu menulis. Saat ia dan rombongannya menuju Kuba, dia satu-satunya orang yang mengerti teori, jauh di atas Fidel Castro sendiri.

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

141

Kedua, dia ini juga seorang dokter dan menjadi sangat dingin terhadap luka dan kekerasan. Di satu sisi dia memang humanis, baik karena pengalaman maupun pengalamannya, tapi sebagai dokter dia memang luar biasa dingin. Kita bisa lihat ini ketika membaca buku hariannya. Di situ dengan ringan dia melukiskan otak yang keluar dari tempurung temannya sendiri, yang ia tembak dengan pistol karena berkhianat. Dia menjelaskannya dengan bahasa kedokteran yang dingin, dengan melukiskan gejaga-gejala kedokteran setelah ditembak. Nah, kita bisa saja menafsirkan ini sebagai tindakan berani, orang yang konsisten dan sebagainya. Tapi saya melihatnya lebih sebagai orang yang dingin karena ilmunya, yang melihat gejala kematian itu dari segi ilmu. Memang ada juga tulisannya yang romantis dan lebih banyak beredar, seperti pidato-pidatonya dan tulisan dia mengenai manusia dan sebagainya. Tapi kalau lihat buku hariannya kita seperti menemui orang yang sangat kering, intelektual yang tidak punya sisi kemanusiaan. Begitulah, saya hanya menambahkan sedikit saja. Anom: Seorang ahli Amerika Latin, James Petras, pernah menulis dalam bukunya Latin America in the Time of Cholera tentang kemunduran kaum intelektual di Kuba. Di situ dijelaskan bahwa pada tahun 1990-an revolusi Kuba mengalami berbagai kemunduran, dan ada kebutuhan untuk membangkitkan kembali semangat pemuda Kuba dengan memunculkan icon Che. Ini diperkuat dengan peringatan kematian Che dan dikembalikannya kerangka Che dari Bolivia ke Kuba. Dari segi medis, ada penyakit yang berkembang di Kuba saat itu, yakni kegemukan atau kubisitas, karena hidup keenakan. Komite Sentral Partai Komunis Kuba kemudian berusaha membangkitkan kembali semangat revolusioner untuk membangun sosialisme di Kuba. Tahun 1997 kematian Che diperingati besar-besaran, Fidel Castro berpidato di PBB dan dari sana icon Che punya menyebar luas. Sebelumnya ada periode kosong, di tahun 1980-an di mana icon Che tidak muncul. Tapi tahun 1997 itu Fidel Castro sendiri berpidato, “jadilah pemuda progresif seperti Che”. Nah, di Indonesia realitasnya berbeda. Di sini saya lihat tidak jelas kaitan kemunculan icon Che dengan situasinya. Memang kita harus mempelajari dedikasi Che pada perjuangan seperti yang diungkapkan. Ada konteks yang harus dipelajari, bukan sekadar melihatnya sebagai orang berani, heroik… [suara peserta lain: “mahasiswa sekarang juga berani”] Persoalannya, mahasiswa sekarang tidak menyimpulkan aktivitas mereka sendiri. Sederhana saja masalahnya. Che yang saya kenal melalui bukunya John Lee Anderson, adalah orang yang menulis semua pengalaman dan kegiatannya dalam buku harian. Sebuah buku kecil yang selalu dibawa. Di situ dia menulis apa saja. Mau perang, menulis. Setelah perang, menulis. Jadi tergila-gila menulis dan membaca. Dari situ dia menyimpulkan pengalamannya dan membuat teori, misalnya teori gerilya.

142

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Dengan menulis dia membaca kembali sejarahnya sendiri dalam melakukan perlawanan. Dalam sejarah revolusi Kuba, Che sebenarnya mulai terlibat dalam perjuangan bersenjata kedua, setelah penyerbuan barak Moncada yang gagal. Fidel Castro ditahan setelah penyerbuan itu, lalu dibebaskan dan pergi ke Meksiko. Ia kemudian bertemu Che, berdiskusi dan coba mengulangi gerakan bersenjata. Revolusi Kuba memang unik, dan pilihan perjuangan bersenjata dilakukan karena gerakan massa tidak berkembang. Kuba adalah negara pulau yang kecil dan jumlah massa juga sangat kecil. Gerakan massanya tidak berkembang, sementara tingkat represi begitu tinggi. Nah, perjuangan bersenjata dipilih karena melihat perkembangan masyarakat seperti itu. Lenin sendiri ketika memutuskan untuk angkat senjata menghadapi kesulitan bukan main. Pertanyaannya, apakah gerakan bersenjata merupakan tuntutan demokratik atau tidak? Dalam sebuah film karya Sergei Eisenstein, Battleship Ptomkin, kebetulan saya masih punya dokumentasinya, itu film tanpa suara, diceritakan bahwa perlawanan bersenjata di Rusia dimulai dari sebuah kapal, oleh kelasi-kelasi yang tidak terima karena daging jatah mereka setiap hari sudah ada ulatnya (belatung). Itu sangat sederhana. Kemudian ada salah satu kelasi yang meninggal karena daging itu, dan kemudian membangkitkan perlawanan masyarakat di pantai Odesa. Perlawanan itu dipukul secara represif oleh militer, dan membuat masyarakat bingung: “kenapa perlawanan damai kok dipukul dengan senjata, dibunuh?” Di sini slogan “senjata untuk rakyat” menjadi tuntutan rakyat, sebuah tuntutan yang sangat logis. Jadi, gerakan bersenjata itu juga tidak bisa dipaksakan. Kalau masih ada ruang dialog yang lebih besar untuk kedua pihak, ya kita kembangkan gerakan massa. Nah, begitulah pendapat saya, agar kita tidak melihat Che sebatas gantengnya saja. Hendrik: Tadi sudah disampaikan oleh koordinator bahwa kita berbicara tentang Che Guevara. Fay dan John sudah memperkenalkan beberapa pemikirannya, dan menekankan bahwa kalau kita bicara tentang dia maka tidak bisa dilepaskan dari pikiran-pikirannya. Kalau memang Che ditampilkan sebagai idola atau tokoh, maka kita harus memahami betul pikiran-pikiran dia, jadi tidak mengidolakannya secara membabi-buta. Tadi diuraikan bahwa Che membentuk foco, yang menjadi pelaksana revolusi. Sebuah kelompok inti yang berkomitmen tinggi dan bertugas menjalankan revolusi. Saya pikir Che dalam hal itu benar, tapi tidak mutlak benar. Setiap perubahan pasti punya syarat-syarat. Ada syarat penentu dan ada syarat pembantu. Syarat penentu di sini menurut saya adalah kondisi masyarakat itu sendiri. Sementara foco atau kelompok inti ini perannya adalah sebagai faktor subyektif, yang sangat diperlukan. Memang seandainya syarat penentu itu sudah memenuhi untuk perubahan tapi kelompok inti itu tidak ada, maka perubahan tidak akan

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

143

berjalan. Sebagai contoh kita bisa melihat kondisi masyarakat Indonesia sekarang. Menurut saya kita sekarang sedang menghadapi perubahan, tapi kelompok inti yang menempati posisi sebagai pimpinan ini belum tercipta. Lalu pikiran yang dikemukakan oleh Fay tadi, mengenai prinsip “kerja sesuai kemampuan, dan menerima sesuai kebutuhan”. Saya lihat prinsip itu sekarang dijalankan di negara-negara yang menganut paham komunis, tapi tidak berhasil alias gagal. Di Cina sekarang ini diadopsi pula sistem kapitalis yang dulu dikecam habishabisan. Kenapa? Karena pada prinsip “bekerja sesuai kemampuan dan menerima sesuai kebutuhan” pada periode tertentu memang bisa merangsang semangat, solidaritas pun tinggi. Tapi tidak bisa bertahan seterusnya, karena orang akhirnya akan berpikir “rajin atau malas, kok sama saja?” Akhirnya ditempuh sistem kapitalis itu. Saya melihat ini dalam kaitannya dengan Che Guevara sebagai seorang tokoh. Menurut saya, dia – seperti juga tokoh-tokoh lainnya – berhasil dalam periode tertentu, dalam situasi tertentu. Tapi tidak berarti bahwa seluruh policy atau pikiran-pikiran dia itu mutlak berlaku untuk segala zaman dan segala situasi. Situasi yang berbeda menuntut buah pikiran baru, tahun yang berbeda menuntut kita meneliti kembali kondisi yang ada. Dari situ kita menciptakan, katakanlah, teori baru untuk menghadapi masalah. Jadi apa yang benar diterapkan di Kuba, belum tentu benar jika diterapkan di sini. Apa yang benar di Rusia, juga belum tentu benar diterapkan di sini. Mengenai kata-kata Che Guevara bahwa perubahan hanya bisa dilakukan dengan senjata, dalam konteks tertentu, saya pikir benar. Tapi itu juga tidak berlaku mutlak, karena ada situasi yang jika kita paksakan bersenjata, justru akan buyar semuanya. Contohnya, bagaimana mungkin kita merdeka kalau tidak angkat senjata melawan Belanda. Tapi dalam kondisi lain, cara-cara semacam itu tidak populer dan tidak sesuai dengan kondisi masyarakatnya. Jadi, yang penting itu memahami kondisi masyarakat. Zaman dulu ada usaha menyontek cara-cara yang dilakukan Cina dalam menempuh revolusi, padahal kondisi Cina dan Indonesia sangat berbeda. Kaum tani di Cina memang menderita sangat hebat, sehingga kalau angkat bedil mereka merasa tidak kehilangan apa-apa kecuali belenggu penindasannya sendiri. Sementara petani di Indonesia masih bisa makan kenyang tiga kali sehari dan masih punya harapan. Dan untuk diajak menderita itu saya kira pada umumnya tidak akan mau. Hilmar Farid (Fay): Saya pikir Xanana Gusmão adalah tokoh menarik untuk dibandingkan dengan Che. Sejak tahun 1983 Falintil (Angkatan Bersenjata Pembebasan Nasional Timor Lorosae) menyadari bahwa mereka tidak akan menang melawan Indonesia secara militer. Tapi kenapa gerakan bersenjata itu tetap dipertahankan? Alasannya, tidak lain seperti yang dibilang Hendrik tadi, bahwa perjuangan itu perlu simbol, sebuah pernyataan “kita masih ada dan masih berjuang”. Sejak tahun 1983 tidak pernah ada lagi latihan militer bagi pemuda yang direkrut, tidak ada lagi latihan menembak dan seterusnya. Nah, kalau kita lihat Falintil sekarang, mungkin kita bingung, “mengapa berani melawan tentara Indone-

144

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

sia?” Usia para pemimpinnya sudah cukup tua, tapi mereka tetap pegang senjata dan bertahan dengan kondisi yang serba kekurangan. Saya pikir simbol itu memang penting dan pahlawan itu memang perlu. Tapi yang perlu kita tahu adalah apa yang ada di balik simbol dan tokoh itu. Maksudnya ketika melihat simbol bahwa perjuangan masih ada, kita perlu tahu apa yang sesungguhnya dikerjakan oleh perjuangan. Nah, dalam hal ini yang dilakukan Xanana waktu itu memang luar biasa. Dia praktis mengubah seluruh strategi Falintil, tidak lagi berjuang dengan harapan bisa menang secara militer, apalagi setelah tahun 1983 basis-basis pertahanannya di desa dihancurkan oleh militer. Basis perjuangannya justru ia pindah ke kota, di pemukiman penduduk, membangun gerakan klandestin. Penguasa kerepotan karena susah membedakan perlawanan dari rakyatnya. Seperti sering dikatakan Xanana sendiri, “rakyat itu sendiri adalah perlawanan”. Dia sering main-main juga, katanya “jangan tanya siapa yang berjuang di negeri kami, karena setiap napas itu adalah perjuangan. Bahkan ikan-ikan di laut pun mendukung perjuangan kami.” Memang industri perikanan di Timor Lorosae masa pendudukan Indonesia itu memble. Jadi, buat saya penting untuk memahami apa yang ada di balik cerita-cerita besar tentang para pahlawan dan simbol. Di balik semua itu banyak sekali pekerjaan penting, dan ini yang saya pikir hal penting untuk dipelajari. Bersenjata atau tidak, menurut saya, masalah pilihan strategis saja. Sepanjang pengetahuan saya tidak ada gerilya yang mampu bertahan selama bertahun-tahun tanpa basis pendukung sipil, tanpa gerakan rakyat atau gerakan massa. Kita lihat saja FSLN di Nikaragua, Farabundo Marti di El Salvador dan sebagainya. Tidak mungkin mereka hidup tanpa gerakan perempuan, pendidikan popular dan lain-lainnya. Contoh yang paling baik adalah Vietnam. Ketika semua yang ada di atas tanah itu dibabat habis oleh Amerika, mereka pindah ke bawah tanah, dalam arti sesungguhnya berjuang di bawah permukaan tanah. Ini juga merupakan usaha yang menurut saya tidak main-main. Ho Chi Minh juga sadar bahwa dia tidak mungkin bertahan hidup hanya mengandalkan senjata. Pikiran yang sama ada pada Che ketika dia pertama kali terjun dalam perjuangan bersenjata dan menemui banyak kegagalan. Tadinya dia pikir perjuangannya akan mulus, turun dari kapal lalu bergabung dengan Gerakan 26 Juli, naik ke Sierra Maestra, turun ke Havana, dan menang. Tapi baru saja turun kapal, bertemu seorang petani yang ia pikir pendukung. Tapi rupanya justru si petani ini yang melaporkan “si Argentina gila” itu ke tentara. Dari pengalaman itu Che belajar bahwa gerakannya tidak mungkin hidup kalau tidak kenal petani. Proses belajar ini yang menurut saya sangat penting, karena tidak ada jalan mulus menuju perubahan. Terlepas dari pilihan bersenjata, tidak bersenjata atau strategi lainnya. Memang perjuangan itu sesuatu yang kompleks, tapi terlalu sering dianggap sederhana. Sering kita mendengar seloroh “sudahlah, masalahnya sudah jelas. Pada pokoknya kita harus begini, begini…” Dan selalu lupa bahwa di samping “yang pokok” itu masih banyak masalah lain. Itulah pelajaran paling berharga

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

145

yang saya tangkap dari pengalaman gerakan-gerakan semacam itu. Soal bersenjata dan tidak bersenjata, saya pikir kita mesti lihat lagi, apakah keduanya memang senantiasa bertentangan? Apakah memang itu pilihan yang harus dibuat seperti kita memilih baju? Kalau sudah pakai yang satu tidak lagi bisa pakai yang lain? Atau sebaliknya pilihan itu sangat fleksibel dan berkait? Hal-hal seperti inilah yang perlu kita diskusikan lebih lanjut. John Roosa: Menurut saya ironis sekali bahwa Che kemudian menjadi icon, karena dia sendiri mau mengorbankan dirinya sebagai manusia atau individu. Dia tidak mau lagi menjadi individu dan catatan harian dia penuh dengan pikiran seperti itu. Dia maju jadi “kita-individu”, atau mau jadi manusia kolektif. Tapi justru setelah dia mati ada kultus. Memang sebagai orang, Che itu luar biasa dan banyak orang pun mengakuinya. Jadi, saya kira kita justru mengkhianatinya kalau memuji dia sebagai individu, karena justru itulah yang tidak dia inginkan. Ayu Ratih: Tadi Sigit di awal diskusi bertanya, bagaimana Che ini tidak sekadar menjadi icon. Saya juga tidak tahu caranya, tapi kita bisa belajar dari cara yang dipakai oleh Zapatista di Chiapas, Meksiko. Subcommandante Marcos secara sadar melihat pengarus pengkultusan Che, sehingga ia membuat keputusan bersama dalam gerakan Zapatista untuk menutup wajah mereka. Dia sendiri bukan commandante, tapi subcommandante. Komandannya adalah rakyat. Dia sendiri sulit ditemui. Wartawan yang mau menemuinya harus bertemu dengan sekian lapis rakyat dan kadangkadang setelah seminggu penuh baru bisa bertemu dan mewawancarainya. Begitu juga dalam pertemuan-pertemuan di pegunungan Chiapas setiap musim panas. Ada ribuan orang, wartawan dan lainnya, datang karena ingin melihat Subcommandante Marcos, tapi dia tidak muncul-muncul. Memang datang sebentar naik kuda pada hari terakhir, lalu menghilang lagi. Dia memang sangat sadar akan pengaruh media, dan mengatur strategi untuk kampanye tanpa terperangkap ke dalam pengkultusan individu. Sampai sekarang orang hanya bisa menebak-nebak seperti apa sesungguhnya wajah Marcos. Setiap kali ada barisan berkuda yang memakai penutup muka, orang tidak bisa membedakan satu dari yang lain. Nah, ini saya pikir adalah tindakan kongkret untuk mewujudkan apa yang dibayangkan Che tentang meleburnya individu dalam gerakan kolektif. Moderator: Saya tidak bisa menyimpulkan diskusi tadi, paling tidak kita menyinggung Che sebagai icon, sebagai tokoh, dan juga mengeksplorasi pemikiran yang ditekuni dan dipraktekkannya. Mudah-mudahan ini bisa menjadi insiprasi bagi kerja kita selanjutnya, artinya bagaimana

146

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

menghindari agar gerakan sosial tidak menjadi sesuatu yang terpaku pada tokoh dan individu. Ini tidak bisa dilepaskan dari adanya kekuatan pasar. Tadi ada teman-teman yang punya gagasan mengembangkan produksi kaset independen dari pasar. Pikiran itu relevan dengan pikiran-pikiran Che Guevara yaitu tidak mau kompromi. Masalahnya bagaimana caranya kita tidak berhenti di tingkat jargon saja, tapi merumuskan apa yang bisa kita lakukan bersama-sama untuk mengembangkan pemikirannya.

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

147

13 DESEMBER 2000

Naiknya Fasisme yang Mengatasnamakan Islam
Narasumber: Ulil Abshar Abdala, Lakpesdam NU. Moderator: Hawe Setiawan.

Selama beberapa tahun terakhir masyarakat menyaksikan munculnya kelompok-kelompok politik Islam yang menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuannya. Mereka giat mengobrak-abrik warung penjual minuman beralkohol, café dan tempat hiburan lainnya. Pada 1999 mereka bahkan menduduki kantor Gubernur DKI menuntut penutupan tempattempat semacam itu. Belakangan malah meningkat dan mengancam akan melakukan sweeping terhadap penduduk asing di seluruh Indonesia. Beberapa di antaranya juga gencar terlibat dalam konflik berdarah di Ambon, Poso dan sebagainya. Ulil Abshor Abdalla, seorang intelektual muda NU, melihat ini sebagai ancaman bangkitnya fasisme yang berjubah agama. Baginya kelompok-kelompok tersebut tidak mewakili ajaran Islam, tapi justru menampilkan citra buruk agama Islam. Diskusi ini berlangsung cukup hangat karena sebagian orang menganggap gerakan ini sebagai gerakan fundamentalis yang sangat membahayakan kehidupan demokrasi di negeri ini sehingga perlu diciptakan hukum-hukum yang bisa mencegah gerakan ini berkembang lebih jauh. Sebagian lagi melihat seandainya gerakan ini tidak melakukan kekerasan dalam usahanya menegakkan ajaran Islam, tidak ada masalah. Bukan fundamentalisme nya yang perlu ditakuti, tetapi pemaksaan kehendak dengan kekerasan. Hal lain yang juga disinggung adalah selama ini fundamentalisme hampir selalu dikaitkan dengan Islam, padahal agama-agama lain pun punya kecenderungan fundamentalis, seperti kelompok Hindu chauvinist yang berkuasa di India atau kelompok Kristen Evangelist di Amerika. Merupakan tantangan tersendiri bagi kelompok-kelompok Islam progresif untuk menunjukkan bahwa Islam tidak identik dengan fundamentalisme, apalagi kekerasan.

Moderator: Ketika merumuskan tema ini muncul beberapa pertanyaan, misalnya “dari mana datangnya militansi atau sikap tidak toleran dari sebagian kalangan Islam belakangan ini?” Sebagai contoh kita bisa lihat munculnya kelompok-kelompok seperti Front Pembela Islam (FPI), Gerakan Pemuda Ka’bah atau Laskar Jihad. Apakah kelompok-kelompok seperti ini adalah bagian dari gerakan Islam di Indonesia. Kalau memang benar, dari mana akarnya? Atau jangan-jangan agak berlebihan jika kita menyebutnya sebagai gerakan Islam, karena kemunculannya lebih terkait dengan kondisi sekarang ketimbang sejarah Islam sendiri. Ambil contoh FPI. Kita lihat psikologi pemimpinnya yang pulang ke Indonesia dan membentuk semacam polisi susila yang kerjanya mengobrak-abrik tempat-tempat seperti klab malam, pub dan sebagainya. Lalu Jafar Umar Thalib dari Laskar Jihad. Dia pernah belajar di pesantren Gontor, tidak

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

149

selesai lalu pindah ke Pakistan dan belajar di sana. Ia bergabung dengan Hekmatyar di Afghanistan dan akhirnya pulang ke Indonesia membawa pikiran tentang perang agama. Malam ini kita berbicara tentang persoalan-persoalan ini, dan lebih jauh coba mencari akar dari gerakan-gerakan semacam ini dalam sejarah Indonesia. Juga melihat apakah memang ada rujukan teologis yang mereka gunakan. Ulil Abshar Abdala: Assalamualaikum wr wb, selamat malam dan salam sejahtera buat teman-teman. Tema yang akan kita diskusikan pada malam hari ini terus terang menjadi keprihatinan saya sejak setahun terakhir ini. Saya lihat keprihatinan ini belum di-share oleh banyak orang dan tampaknya ada semacam kelengahan terhadap munculnya sebuah trend baru di dalam gerakan Islam yang cenderung menggunakan kekerasan. Bahkan sejumlah organisasi Islam yang resmi seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah maupun Persis dan lembaga-lembaga lain yang sudah mapan, cenderung mengabaikan perkembangan baru. Dugaan saya organisasi-organisasi Islam ini sudah terlalu mapan dan tidak lagi sensitif terhadap perkembangan baru dan dinamika yang lahir dalam masyarakat Islam sendiri. Saya hanya khawatir suatu ketika kita menyaksikan ledakan gerakan yang tidak mungkin lagi dikendalikan, karena sejak awal kita tidak pernah membicarakan hal ini secara publik dan tidak melakukan semacam pengendalian terhadap gerakan ini. Sebelum membicarakan tema ini saya ingin memberikan satu-dua pengantar kecil beberapa hal berkaitan dengan Islam. Pertama, yang disebut Islam tidak selamanya sekadar sebuah agama. Selain ajaran agama Islam juga merupakan fakta sosial, dan sebagai fakta sosial Islam muncul dalam berbagai ekspresi yang tidak seragam sesuai dengan konteks sosial yang berbeda-beda. Kedua, di dalam Islam itu tidak ada yang disebut lembaga tafsir resmi. Kalau pun ada yang berupaya membuatnya, maka lembaga tafsir ini tidak mempunyai kekuatan yang memadai untuk memaksakan tafsir ini secara monolitik kepada seluruh anggota masyarakat. Selalu ada berbagai lembaga, tidak ada satu lembaga yang secara otoritatif berhasil melakukan imposisi ajaran terhadap pemeluk agama Islam. Ketiga, ada kesepakatan di antara berbagai penafsir bahwa Islam itu sebagai teks selalu atau pasti tunggal, tetapi sebagai kenyataan sehari-hari – ketika ditafsirkan oleh para pemeluknya – maka Islam ini akan berbunyi beragam. Jadi teks Islam yang diajarkan di dalam Al Qur’an dan hadist adalah teks yang diam. Nah, agar teks ini berbunyi, maka harus ada manusia yang membunyikannya. Karena manusia berbedabeda maka bunyi teks ini tentu tidak akan pernah seragam.

150

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Tidak adanya otoritas tunggal untuk menentukan dan menyeragamkan jenisjenis tafsir, mengandung aspek positif dan negatif. Positif karena berarti ada ruang yang bebas untuk semua orang Islam melakukan penafsiran. Tapi negatif karena seperti yang sudah kita alami sekarang, ada semacam kekacauan karena tidak ada otoritas yang berwibawa untuk melakukan kontrol “terhadap penafsiran yang berkembang”. Nah, di dalam konteks masyarakat urban seperti Jakarta, situasi kacau ini berkembang. Indikator yang sangat awam misalnya kita lihat kutipan uang yang dilakukan di pinggir-pinggir jalan. Di sisi lain kita temukan juga supply juru dakwah yang mendalami Islam dengan baik sangat kurang jumlahnya. Mereka yang belajar di IAIN itu lebih suka di sektor swasta, non-agama atau birokrasi pemerintah tapi di pos-pos yang non-agama pula. Lapangan yang ditinggalkan oleh orang-orang inilah yang kemudian diduduki oleh juru dakwah liar, yang tumbuh begitu cepat. Mereka ini sebetulnya lahir mendadak tanpa proses pendidikan yang memadai, dengan membaca sejumlah literatur, menghapal satu-dua ayat dan hadist, kutipan dari beberapa ulama, dan dengan kecakapan orasi mereka bisa ditahbiskan menjadi juru dakwah yang diundang ke mana-mana. Menurut saya gejala ini adalah salah satu yang bertanggung jawab terhadap timbulnya “Islam liar” yang berkembang dan berkecambah di berbagai tempat. Nah, menurut saya ini salah satu akibat negatif karena tidak ada kontrol yang berwibawa, karena pada akhirnya Islam yang ditafsirkan vulgar oleh para juru dakwah liar ini. Mereka kemudian mempermainkan sentimen massa dan memori massa yang tidak pernah dikritik secara serius. Memori umat Islam sebetulnya adalah memori yang bertahan berabad-abad tapi tidak pernah dianalisis dan dikritik dari perspektif historis dan sosiologis secara memadai, sehingga mudah dimobilisasi oleh para juru dakwah liar ini. Keadaan inilah yang menurut saya yang menjadi latar sosiologis dari munculnya satu gerakan seperti FPI. Sekarang saya akan masuk kepada tema kita malam ini, mengenai naiknya kekuatan fasisme berdasarkan Islam. Saya ingin mengulas beberapa penjelasan yang dikemukakan oleh beberapa orang. Pertama, penjelasan politis. Kita sering dengar kemunculan FPI dan Laskar Jihad ini sebetulnya merupakan kelanjutan dari pertarungan elit yang mencoba menggunakan agama sebagai daerah lahan baru untuk bermain dan menggunakan nama Islam sebagai alat untuk bargaining politik. Penjelasan ini juga digunakan oleh Gus Dur ketika berbicara tentang gerakan seperti FPI. Kemarin malam saya mendengar sendiri dari Gus Dur bahwa FPI ini, “sebetulnya kelompok yang digunakan oleh orangorang yang tidak suka dengan saya”. Dia mengatakan bahwa perusakan tempat-tempat hiburan itu dilkaukan karena di situlah orang asing berkumpul. Kemang misalnya adalah daerah expatriate dan kalau diganggu mereka akan bilang kepada wartawan bahwa Indonesia tidak tenang, tidak cocok untuk investasi dan akhirnya proyek pemulihan ekonomi tidak akan berhasil, sehingga pemerintahan

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

151

Gus Dur akan menjadi tidak legitimate. Saya pikir Gus Dur salah dan ada banyak detail analisisnya yang menurut saya tidak tepat. FPI tidak hanya melakukan perusakan di daerah Kemang tapi juga di tempat-tempat lain. Tapi pesan dari penjelasan ini adalah bahwa kemunculan kelompok-kelompok militan itu adalah bagian dari permainan politik elit untuk melakukan delegitimasi atas pemerintahan sekarang. Kedua, penjelasan ekonomi. Kita juga sering dengar ada hubungan yang saling menguntungkan antara kelompok-kelompok ini dengan aparat keamanan. Misalnya ada berita yang mengatakan bahwa tempat-tempat yang diserbu atau dirazia oleh kelompok-kelompok ini adalah tempat-tempat yang biasanya tidak memberikan setoran yang cukup pada pihak keamanan. Pihak keamanan menggunakan kelompok ini untuk melakukan debt-collecting (menagih utang), kira-kira begitu. Sebagian penjelasan ini mungkin benar, tapi saya tidak puas. Ketiga, penjelasan kultural yang sudah pernah saya kemukakan dalam berbagai forum. Orang-orang yang memimpin gerakan semacam itu umumnya adalah elit yang masih muda usiana, antara 40-50 tahun, berasal dari daerah perkotaan, pendidikan cukup tinggi, dan memperoleh pendidikan di atas rata-rata. Mereka pernah kuliah dan menguasai terminologi modern untuk melakukan analisis perkembangan masyarakat. Menariknya, mereka ini banyak orang Arab yang menganggap dirinya keturunan Nabi. Dalam tradisi Betawi disebut habib. Habib Rizieq misalnya mengaku diri sebagai keturunan Nabi. Nah, menurut saya orang-orang ini sebetulnya berupaya memperoleh peran baru dalam transisi politik. Selama ini Islam selalu direpresentasikan secara intelektual maupun dalam aksi politik, oleh orang-orang Jawa, kemudian Sumatra Barat, sedikit Bugis dan Makassar. Tokoh-tokoh Islam di Jakarta ini jarang sekali memperoleh perhatian. Nah, di masa perubahan rezim Soeharto ke Habibie kemudian ke Gus Dur, kelompok ini menggunakan Islam untuk memobilisasi kekuatan massa. Mereka melakukan ini untuk mencari perhatian karena selama ini tidak pernah diperhatikan dan di masa transisi semuanya serba mungkin. Dengan metode kekerasan yang vulgar mereka dengan mudah menciptakan semacam histeria, lalu semua orang menyorotkan kamera ke kelompok ini, dan untuk itu mereka memang berhasil. Beberapa tokohnya kemudian dekat dengan Kapolda. Kita tahu di Jakarta ini ada beberapa tokoh Arab yang berusaha merebut kesempatan dan berkompetisi satu sama lain untuk memperoleh popularitas. Bukan hanya Habib Rizieq, tapi ada juga Habib Idrus yang kemudian menjadi tokoh PPP. Kalau kita mengikuti retorika dalam pengajiannya, kita akan mendengar radikalisme yang agak vulgar, joke-joke kasar. Dan itulah yang disenangi masyarakat Jakarta yang struktur pengetahuan Islamnya sangat berbeda dengan orang-orang di Jawa. Di Jakarta struktur pengetahuan Islam dibentuk melalui pengajian umum yang sangat dangkal, sementara kalau di Jawa struktur pengetahuannya dibentuk melalui pengajian

152

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

yang sifatnya private, terbatas dan sangat mendalam, sehingga tidak mudah dipermainkan oleh tokoh-tokoh yang mencari popularitas semacam ini. Penjelasan keempat yang saya ajukan bertolak dari ketidapuasan atas penjelasan yang sepenuhnya politik, ekonomi dan kultural tadi. Kemunculan kelompok ini bukan sekadar urusan uang, pengaruh politik atau persoalan elit yang mencari kedudukan di masa transisi. Bagi saya ada sesuatu yang lebih serius dari itu. Saya ingin share pemahaman saya ini kepada teman-teman, karena khawatir kalau kita terus tidak peduli tiba-tiba akan menyaksikan gejala yang tidak mungkin lagi dikendalikan. Penjelasan ini terarah pada ideologi di dalam kelompok-kelompok ini, yakni adanya keyakinan yang diperjuangkan, meskipun di dalam perjuangan itu ada kepentingan yang campur-aduk baik dari pihak elit maupun massanya. Tapi secara keseluruhan kelompok-kelompok ini didasari suatu keyakinan yang entah karena sokongan politik atau uang dari tokoh tertentu, bisa tetap bertahan. Saya baru saja membaca buku diterbitkan FPI, semacam pamflet kecil mengenai perjuangan menegakkan syariat Islam di Indonesia melalui Piagam Jakarta. Bukunya mungkin baru terbit beberapa bulan lalu. Secara kasar buku ini ingin mengatakan bahwa FPI perjuangannya bukan hanya menghancurkan botol bir di Kemang atau Margonda. Itu hanya entry point yang kecil sifatnya. Tujuan akhirnya adalah penegakan syariat Islam di Indonesia. Ini menurut saya jauh lebih serius ketimbang persoalan kepentingan tokoh-tokoh atau massa yang karena kebutuhan menyambung hidup terlibat dalam gerakan itu. Di sini menurut saya pemerintah kita lengah, dan saya punya feeling bahwa Gus Dur rupanya lupa bahwa kelompok-kelompok ini disetir bukan hanya oleh motif politik dan ekonomi tapi juga ideologi. Pada tahun 1990-an, beberapa bulan setelah berdirinya ICMI, Gus Dur pernah mengirim surat pribadi kepada Soeharto yang mengingatkan bahwa gejala fundamentalisme seperti di Afghanistan akan terulang di Indonesia. Surat itu kemudian menimbulkan kontroversi karena beberapa pengamat menganggapnya berlebihan. Menurut saya apa yang dikatakan Gus Dur di dalam surat itu sebagian benar, tapi kenapa ketika memerintah sekarang ini Gus Dur justru mengabaikan gejala yang secara naluriah dia rasakan pada awal tahun 1990-an? Kenapa kekhawatiran itu tidak muncul dalam benak dia, dan justru mencoba meremehkannya sematamata sebagai upaya musuh untuk mendongkelnya. Bagi saya pikiran seperti itu terlalu simplistik. Oleh karena kelompok-kelompok ini punya landasan serius, landasan ideologis, maka menurut saya ada ancaman yang serius pula. Proposal Gus Dur untuk menerapkan syariat Islam di Aceh bagi saya merupakan preseden yang kurang baik karena dengan begitu kelompok-kelompok Islam iin melihat bahwa dengan satu atau lain cara di Indonesia ini dimungkinkan legislasi syariat Islam. Saya bertemu dengan sejumlah teman-teman di partai politik, dan bahkan di kalangan praktisi hukum seperti Abdul Hakim Garuda Nusantara. Saya berdiskusi soal ini dan mereka sepertinya meremehkan keseriusan masalah dan mengatakan bahwa “apa salahnya orang mengajukan syariat Islam sebagai pilihan untuk mengatur masalah publik? Itu

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

153

kan hak, dan wajar saja jika ada anggota masyarakat yang mengajukannya.” Dalam bahasanya Abdul Hakim ini adalah judicial choice. Orang-orang partai juga lain lagi sikapnya. Mereka bilang syariat Islam itu kan sekadar retorika. Orang yang menuntut itu dianggapnya seperti anak kecil yang menangis dan diam kalau dikasih permen. Jadi, mereka menganggap seolah-olah tuntutan itu tidak mengandung esensi, tapi sekadar simbol, dan kalau simbol sudah diberikan maka mereka yang menuntutnya sudah senang, meskipun tidak mendapat isinya. Saya memandang masalahnya bukan hanya itu. Di Indonesia kita mengabaikan perkembangan baru yang terjadi di Asia Tenggara. Teman-teman aktivis Islam di sini semakin condong ke Malaysia sebagai model yang paling mungkin ditiru. Munculnya partai seperti PAS di Malaysia atau kelompok-kelompok Islam yang masif di sana, menjadi model yang sangat disukai karena secara geografis dekat dengan kita dan yang kedua, seperti ditunjukkan oleh PAS, ternyata bisa memperjuangkan cita-cita syariat Islam secara “demokratis”. Nah, yang dilupakan oleh banyak orang adalah titik dan lubang dalam syariat islam itu sendiri. Ini tidak pernah diperhatikan secara memadai dan orang-orang memperjuangkannya di Indonesia maupun negeri lain biasanya mengabaikan pemberlakuan syariat Islam dalam kenyataan. Studi-studi yang dilakukan oleh kaum feminis di berbagai negara yang memberlakukan syariat Islam menunjukkan bahwa kelompok yang paling dirugikan adalah kaum perempuan. Misalnya dalam kasus perkosaan yang sering terjadi di Pakistan. Studi yang dilakukan oleh Rifat Hassan membuktikan bahwa kasus-kasus itu sulit dibawa ke pengadilan syariat, karena prosedur KUHAP-nya sangat sulit dipenuhi korban. Seperti kita tahu dalam syariat Islam, korban perkosaan harus mengajukan empat orang saksi yang semuanya laki-laki, yang melihat langsung perkosaan itu. Saya pikir, kecuali dalam pertunjukan strip tease, ini tidak mungkin terjadi. Dan ini semua menimbulkan efek yang negatif sekali dalam masyarakat. Di Sudan juga sama. Hukum Islam di sini menimbulkan masalah dengan minoritas Kristen. Sekalipun dikatakan hanya berlaku bagi orang Islam, tapi efeknya banyak sekali terhadap orang non-muslim. Penerapan syariat Islam karena itu mungkin seperti membeli kucing dalam karung, kita tidak tahu warna, suara dan segala macamnya. Tapi ketika bicara tentang syariat Islam kita menganggapnya sebagai ide yang mudah saja, tanpa sadar adanya berbagai arus, aliran dan peanfsiran yang seluruhnya tidak seragam dan bahkan bertentangan satu sama lain. Enforcement hukum syariat itu tidak mudah. Sekarang Departemen Agama membuat eksperimen dengan kompilasi hukum Islam – yang sudah dimulai sejak zaman Soeharto – tapi nyata banyak kesulitannya. Masalah-masalah hukum perdata seperti warisan, perkawinan dan perceraian itu tidak mudah dipraktekkan, karena kompilasi hukum Islam yang digunakan hanyalah pendapat sejumlah ulama yang berbedabeda, dan kita tahu di dalam Islam itu ada berbagai mazhab dan aliran pikiran. Aliran yang diresmikan ada empat, tapi kenyataannya jauh lebih

154

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

banyak dari itu, artinya ada perbedaan pandangan yang cukup besar. Nah, enforcement dalam hukum mengandaikan adanya keseragaman, karena tidak mungkin hukum memiliki penafsiran ganda. Nah, inilah yang tidak dipikirkan oleh mereka yang selalu berbicara tentang penegakan syariat Islam. Mereka sebenarnya tidak berpikir tentang syariat Islam, dengan kata lain tidak pernah ada kritik mendasar sehingga beberapa hal krusial yang tadi disebutkan tidak lagi menjadi beban. Saya sendiri berpendapat, kalau seandainya syariat Islam ini sudah mengalami dekonstruksi yang mendasar, boleh jadi retorika yang berkaitan dengan syariat itu tidak bermasalah. Tapi justru di sinilah masalahnya. Syariat Islam tidak pernah mengalami itu semua, dan sampai sekarang ide tentang syariat Islam itu hanya dipikirkan besarannya saja. Di sinilah kemudian timbul bahaya fasisme. Menurut saya, kemungkinan munculnya fasisme dari Islam itu justru dari pikiran yang memaksakan satu tafsir syariat yang hanya dilihat besarannya saja tanpa melihat detailnya. Jadi syariat itu seperti ideologi totaliter yang mencakup semua segi. Retorika yang sering diungkapkan oleh orang-orang pengusung syariat ini adalah “syariat Islam itu mencakup semua segi kehidupan”, dan itu menurut saya jelas-jelas totaliter. Karena kalau semua segi itu diatur dengan aturan Islam, maka hasilnya persis seperti yang dikehendaki Orde Baru dengan Pancasila. Orang ingin dijadikan manusia seutuhnya, dengan pengertian manusia yang sempurna seperti superman. Menurut orang Islam sendiri, Islam itu mengatur orang mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali, atau dengan kata lain bersifat besaran. Kita bisa mengartikannya secara positif, bahwa Islam itu komprehensif, tapi di sisi lain juga berbahaya karena kata-kata semacam ini membolehkan Islam masuk ke dalam semua segi kehidupan baik yang bersifat publik maupun privat. Kalau tidak ada kontrol terhadap syariat Islam, dengan sendirinya akan timbul totalitarianisme, dan terus terang kalau kita baca tulisan-tulisan yang menjadi rujukan dari kelompok seperti ini, maka kita lihat wataknya sebetulnya totaliter sekali. Inilah yang bisa saya sampaikan sebagai pengantar diskusi. Qodari: Nama saya Qodari dari ISAI. Saya punya concern yang sama dengan Mas Ulil, dan coba melihatnya dalam perspektif yang lebih luas. Saya kira sejak tahun 1998, dengan terbukanya struktur kesempatan politik kekuatan Islam politik ramai-ramai berebut kesempatan berkuasa. Pertama melalui jalur demokratis atau pemilihan umum. Kita ingat awalnya ada puluhan partai politik Islam yagn berdiri, termasuk sebuah gerakan sosial Islam yang kemudian menjadi Partai Keadilan. Kebetulan saya mengamati partai ini cukup lama. Sebenarnya mereka tidak siap menjadi partai tapi karena melihat peluang berkuasa melalui pemilu, mereka memutuskan menjadi partai. Ada dua alasan mengapa mereka mengambil kesempatan itu. Pertama, ingin menunjukkan ke lingkungan

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

155

Islam domestik bahwa mereka mendapat simpati dari kalangan Islam. Kalau mereka meraih suara banyak dalam pemilu, maka itu menjadi legitimasi. Dan itu sekaligus menunjukkan ke luar negeri bahwa Islam bisa berkuasa dengan jalur demokratis. Nah, celakanya mereka meraih suara yang relatif kecil. Kalau tidak salah semua partai Islam hanya meraih 84 suara di DPR, dan itu tidak sampai 18 persen. Memang ada prestasinya yang mengejutkan seperti ketika PAN membuat improvisasi dan membentuk Poros Tengah, lalu menggolkan Gus Dur. Celakanya Gus Dur ternyata tidak bisa menerima titipan agenda Islam politik, malah usulannya adalah mencabut Tap 25/MPRS/1966, membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Nah, kemudian saya mau melihat keberadaan varian Islam politik yang kedua, yang sedang kita bicarakan di sini yaitu kelompok radikal Islam seperti FPI, Laskar Jihad, Gerakan Pemuda Ka’bah dan lainnya. Saya tidak tahu persis apakah ada semacam perjanjian diam-diam antara kelompok pertama dan kedua, atau tidak ada hubungan sama sekali. Atau mungkin ada hubungan afiliatif, patronase atau lainnya? Tetapi mengacu kepada pernyataan Mas Ulil yang terakhir, saya setuju bahwa sebetulnya dari sekian banyak motif, maka ideologi yang paling menonjol. Kita lihat keinginan PPP, PBB dan beberapa partai Islam lain untuk kembali memasukkan tujuh kata Piagam Jakarta dalam amandemen UUD 1945. Saya kira paling tidak ada kesamaan agenda. Nah, kita harus teliti apa betul ada kolaborasi atau apa pun namanya antara varian Islam politik yang pertama – yang menempuh jalur demokrasi – dengan mereka yang menggunakan jalur ekstra parlementer? Di samping itu faktor kepentingan militer juga penting diperhatikan. Setidaknya fraksi-fraksi tertetnu dalam militer punya hubungan dengan kelompok Islam politik yang kedua ini. Karena kelompok ini punya motif ideologis yang sangat kental maka dengan mudah seseorang atau militer datang membawa uang dan senjata, dan membiarkan mereka bergerak sendiri. Mereka itu tidak terdeteksi lagi jejaknya. Lili Sinaga: Saya baru pertama hadir di diskusi ini, dan juga pertama kali bicara. Saya dari International Crisis Group (ICG), jadi makanan saya seharihari itu violence, bacaan tentang Timor Timur, Papua, Aceh dan seterusnya. Saya memandang masalah ini dari segi kekerasan, bukan Islam-nya. Setan itu pada dasarnya ada di mana-mana, di Islam ada setan, di Kristen juga ada setan, di Buddha ada dan Hindu juga ada. Jadi tidak usah mengatasnamakan agama. Saya benci sama orang Islam yang menggunakan kekerasan, dan juga orang kepada Kristen yang berbuat jahat. Mereka yang menolak cinta Tuhan itulah yang akan masuk neraka. Ulil Abshar Abdala: Dari komentar kedua timbul pertanyaan, jangan-jangan memang ada bibit totalitarianisme dalam Islam. Terus komentar yang pertama, apa betul ada kaitan antara kelompok radikal dengan mereka yang bergerak

156

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

di partai dan mengangkat Piagam Jakarta. Saya mulai dari yang kedua. Sebetulnya kecenderungan agama menjadi totaliter adalah kecenderungan yang baru berkembang di dalam abad 20 dan sebetulnya berkaitan dengan watak kekuasaan dan bagaimana kontrol kekuasaan itu makin dipercanggih melalui teknikteknik modern. Berbeda dengan kerajaan yang hanya kuat di pusat tapi lemah di pinggiran, negara modern itu betul-betul omnipresent: ada di pusat maupun pinggiran, karena teknik kontrolnya sudah dipercanggih. Misalnya saja dengan mengembangkan satu ideologi, yang disusun sedemikian rupa dan disebarkan kepada anggota masyarakat, sehingga masyarakat merasa menjadi bagian dari satu negara-bangsa. Dengan pengertian tunggal ini kemudian kontrol dari pemerintahan pusat bisa dilakukan dengan efektif, sekalipun masyarakat itu tinggal berjauhan seperti di Irian Jaya atau Aceh. Tumbuhnya totalitarianisme dalam masyarakat modern dalam kaitannya dengan agama, berhubungan dengan watak ini. Di dalam Islam, Said Quttub – salah seorang ideolog penting dari gerakan ikhwanul muslimin yang menjadi model gerakan modern Islam militan di berbagai negara – menulis tentang Islam sebagai ideologi itu persis seperti penulis modern tentang ideologi, katakanlah Marx atau para manggala BP-7. Ideologi di sini adalah suatu konstruksi pikiran tentang manusia sempurna, warga negara yang taat dan patuh, dan memenuhi citra ideal yang diinginkan oleh negara itu. Pikiran ini kemudian disosialisasikan ke seluruh penduduk dan dengan kontrol negara akhirnya menjadi sangat totaliter. Tulisan seperti itu tidak akan pernah kita temukan dalam Islam klasik. Citra islam sebagai ideologi yang totaliter itu tidak ada sama sekali, karena dalam Islam klasik yang konteksnya adalah negara kerajaan, teknik kontrolnya masih sangat sederhana. Artinya orang yang ada di pinggir kekuasaan biasanya sulit dikontrol oleh negara, sehingga bisa mengembangkan pikiran-pikiran yang berbeda sama sekali. Kalau kita melihat kerajaan-kerajaan Islam di Baghdad, Istambul atau Cordova, maka akan terlihat hubungan aneh antara Islam resmi yang dikembangkan oleh ulama kerajaan dengan semacam buku standar mengenai Islam, dengan mereka yang ada di pinggiran dan mengembangkan jenis tafsir yang berbeda sama sekali. Dalam sejarah Islam ini disebut tradisi heterodoksi atau Islam yang “menyimpang” dari ajaran resmi. Itu berkembang pesat di pinggiran, misalyna tradisi Islam di Asia Kecil, seperti di daerah-daerah yang dulu pernah menjadi bagian dari Uni Soviet, atau di Baghdad. Di sana berkembang trandisi yang berbeda sama sekali dengan tradisi Islam yang berkembang di pusat. Ada seorang penulis yang banyak dipuji orang, Bob Hefner, mengatakan dalam bukunya yang terakhir, Civil Islam, bahwa tradisi masyarakat Islam itu tidak pernah totaliter. Tradisinya selalu poliarchy. Itu bisa kita lihat bukan saja di lingkungan masyarakat Melayu tapi juga di lingkungan masyarakat Timur Tengah. Jadi di dalam Islam itu, terutama

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

157

tradisi Sunni – sekte terbesar dalam Islam – secara tradisi kekuasaan itu menyebar sifatnya dan lembaga yang mempunyai otoritas tertinggi untuk menentukan tafsir itu tidak ada.. Jadi tidak ada bakat totalitarianisme. Orang yang membaca khazanah Islam klasik itu sulit menemukan gagasan mengenai totalitarianisme. Itu sebabnya saya katakan kemunculannya baru mungkin terjadi pada abad ke-20 ketika ada ide mengenai negara modern. Dan jangan lupa Said Quttub, ideolog penting ikhwanul muslimin itu pernah belajar di Amerika Serikat dua tahun. Dengan kata lain, fasisme Islam itu adalah anak kandung masyarakat modern bukan anak kandung tradisi damai dalam Islam klasik sebetulnya. Oleh karena itu saya katakan bahayanya kelompok seperti FPI ini karena mereka coba mengkonstruksi Islam begitu rupa dengan memilah tradisi Islam klasik yang sesuai dengan pikiran mereka untuk membentuk semacam masyarakat tunggal. Mereka ini menganggap diri secara moral lebih bersih dari kelompok lain dan punya otoritas moral yang memadai untuk memaksakan pikirannya kepada orang lain. Itu kan asal-usulnya totalitarianisme. Ada kelas yang secara moral mempunyai kedudukan lebih tinggi dan berhak untuk memaksakan moralitasnya kepada orang lain dan membenci kelompok-kelompok yang berbeda dengan dirinya. Inilah bahayanya. Soal yang kedua. Memang ada perbedaan antara Islam politik parlementer dan yang radikal, tapi perbedaan itu terlalu penting. FPI, Laskar Jihad maupun Partai Keadilan sama-sama memperjuangkan syariat Islam. Apakah itu dilakukan secara parlementer dan damai atau tidak, bagi saya idenya sama saja: syariat Islam yang monolitik dengan tafsir tunggal. Mereka tidak pernah bisa menerima kenyataan bahwa dalam syariat Islam itu ada banyak penafsiran. Jadi ketika mereka bicara tentang syariat Islam, sudah tidak ada perdebatan lagi. Saya tidak tahu persisnya karena tidak melakukan penelitian empiris, tapi berdasarkan bacaan saya terhadap retorika mereka, dan juga tulisan-tulisannya, saya punya kesan bahwa baik orang dari Partai Keadilan maupun FPI itu sekalipun memiliki perbedaan ritual – ada yang shalat tarawih 20 raka’at, ada yang 8 raka’at dan seterusnya – sebenarnya punya gagasan yang sama, yaitu pengaturan publik atau negara berdasarkan syariat yang ditafsirkan menurut pikiran mereka sendiri. Bagi saya, syariat Islam itu sendiri tidak apa-apa, asal dibuka kemungkinan menafsirkannya. Mungkin sama seperti Orde Baru. Pancasila sendiri tidak ada masalah, tapi Pancasila sebagai ideologi tertutup, tidak bisa. Kalau terbuka tentu tidak masalah, karena selalu bisa kita diskusikan, tapi kalau tertutup dia pasti akan menjadi tempat tumbuhnya bibit-bibit fasisme. John Roosa: Saya mau kembali ke soal bagaimana kita menganalisis FPI dan artinya dalam sistem politik. Saya setuju FPI punya tujuan lebih luas dari sekadar menghancurkan diskotek. Itu hanya permulaan dalam gerakan mereka.

158

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Kampanye anti-maksiat dipakai untuk mendapat perhatian dari publik dan setelah berhasil mereka bisa maju terus sampai mendapatkan syariat sebagai hukum Indonesia. Mungkin juga agenda mereka lebih luas lagi. Saya tidak setuju dengan orang yang bilang tidak usah peduli dengan FPI, karena itu kelompok kecil dan Islam di Indonesia itu sangat liberal dan berbeda, seperti yang diangkat dalam Tempo minggu ini. Salah kalau kita mengatakan bahwa semua kelompok itu ekstrem kanan dan tidak akan berhasil di Indonesia. Dulu di Timur Tengah sekitar 30-40 tahun lalu orang juga bilang ideologi yang paling kuat adalah nasionalisme Arab, tapi sekarang ternyata Islam fundamental yang muncul dan menjadi sangat populer. Mungkin dalam generasi yang lalu semua orang bilang tidak usah peduli pada Moslem Brotherhood atau Islam kanan, karena tradisi kita lain. Tapi itu tidak benar. Kelompok kecil bisa muncul atau berkembang seperti fasis di Eropa. Waktu mulai kelompoknya kecil sekali, tapi akhirnya bisa mengambil kekuasaan negara. Kelompok ekstrem seperti itu juga bisa mengambil kekuasaan negara kalau mendapat dukungan dari elit politik, atau kalau situasi krisis. Sekarang ini di Indonesia ada krisis besar dan wajar saja kalau ada kelompok kecil yang muncul dan bilang kami punya kunci untuk menyelesaikan semua ini dengan syariat. Mereka bisa berkembang dan saya khawatir ada fraksi dalam militer Indonesia yang melihat Islam sebagai legitimasi mereka karena memang militer tidak punya legitimasi yang kuat lagi. Mungkin juga sudah ada beberapa perwira atau fraksi yang mau pakai Laskar Jihad dan FPI. Kalau benar begitu, maka bahaya kelompok semacam ini tentu lebih besar lagi. Saya kira kita bisa lihat situasi di India juga. Ada kelompok kecil di sana, yaitu Hindu kanan. Mereka bisa muncul karena ada krisis legitimasi negara. Kebijakan ekonomi India itu neoliberal dan negara tidak punya legitimasi lagi karena bangkrut. Negara menyerang kepentingan publik dengan kebijakan neoliberal, kemiskinan jadi lebih besar, dan dalam situasi seperti itu negara bisa memakai agama sebagai legitimasi. Di India juga orang bilang bahwa Hindu kanan tidak akan berhasil, tapi nyatanya berhasil. Komentar terakhir, kelompok fasis atau kelompok kanan yang mau naik biasanya pakai dua wajah. Satu wajah keras seperti FPI, dan satunya wajah yang lebih manis, seperti bikin klinik untuk cari dukungan dari rakyat biasa. Mungkin di sini Islam kanan mbelum menciptakan wajah seperti itu. Hari: Saya dari LSPP (Lembaga Studi Pers dan Pembangunan). Diskusi ini sangat menarik, dan saya punya banyak pertanyaan sebenarnya. Pertama, apakah Islam radikal seperti ini adalah fenomena elit atau fenomena massa? Saya hal ini perlu diperjelas untuk melihat ke depan. Saya awalnya juga ragu kelompok ini karena kecil tapi sangat vokal dan mungkin juga

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

159

mahir menggunakan media massa sehingga terkesan besar. Kalau kelompok ini dianggap sebagai sebuah fenomena massa, kita perlu bertanya apakah ada jaminan kesetiaan dari para pengikutnya terhadap para pemimpin? Tadi misalnya Ulil menguraikan beberapa perspektif untuk menjelaskan kelompok ini. Kalau dari perspektif ekonomi, apakah ada jaminan massa pendukung mereka akan bertahan? Artinya, berapa lama kelompok-kelompok yang membiayai Islam politik ini punya kekuatan? Saya membayangkan kemunculan kelompok ini sebagai pertemuan dari berbagai kepentingan. Ada kepentingan ekonomi, politik dan macam-macam itu. Nah, dari sini awalnya terbayang semuanya mungkin persinggungan sementara saja, tapi mungkin bisa juga lebih panjang. Lalu kalau ke belakang lagi, kita lihat kenapa munculnya kelompokkelompok seperti itu, saya dengan penjelasan cukup komprehensif dari Ulil. Bagaimana misalnya kita menjelaskan kelompok ini jika diletakkan dalam konteks lebih global? Jangan-jangan kelompok seperti ini sedang mengalami kehilangan identitas dalam dunia modern sehingga kembali ke akar-akar konstituen mereka dan memilih agama untuk melakukannya. Kemudian kaitan kelompok-kelompok ini dengan komunitas Islam yang lain. Dalam tingkat negara, apakah ada dukungan terhadap kelompokkelompok ini dari OKI (Organisasi Konperensi Islam) misalnya? Apakah ada dukungan semacam itu? Lantas seberapa besar sebetulnya jaringan itu. Misalnya bagaimana menjelaskan kemunculan mereka di Solo? Beberapa hari lalu saya kebetulan naik taksi dan ngobrol dengan supirnya, terus sampai pada omongan tentang kelompok-kelompok ini. Supir itu bilang bahwa kelompok semacam ini penting dan perlu ada untuk menjaga agar pada bulan puasa orang tidak datang ke café atau tempat hiburan lainnya. Saya menyela, kalau orangnya memang berpegang pada agama, tentunya tidak akan pergi. Jadi tidak ada perlunya. Saya jadi bertanya-tanya apakah kelompok seperti ini bisa menjadi besar atau tidak, dan kalau besar, seberapa besar? Apakah ada persoalan kehilangan identitas, dan kalau ya, mengapa larinya ke agama? Kenapa tidak ke persoalan kehidupan sehari-hari seperti etika sosial misalnya. Ulil Abshar Abdala: Ada dua hal yang ingin saya tanggapi. Pertama soal wajah manis dan wajah keras dari Islam politik ini, atau tepatnya Islam radikal. Sebetulnya di Indonesia dua wajah itu sudah ada. Kelompok yang radikal itu bukan hanya memberi identitas jelas kepada anggota, tapi juga memiliki semacam asuransi sosial bagi anggotanya. Mereka memiliki jaringan bisnis retail yang cukup baik, mulai dari toko buku, garmen, kebutuhan barang sehari-hari, dan bahkan mini market di sejumlah tempat di Jakarta. Mereka

160

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

juga mengelola bisnis kecil-kecilan seperti home industry dan memberikan security secara ekonomi kepada anggotanya. Misalnya kalau ada anggota yang sakit mereka akan tanggung bersama-sama. Di negara yang sistem asuransinya sangat bobrok seperti Indonesia, kelompok seperti ini jelas memberikan keamanan alternatif. Dengan menjadi anggota orang bisa mendapat tunjangan sosial yang preminya hanya aqidah saja, bukan uang. Jadi ada wajah manis ke dalam kepada anggotanya, dan wajah keras keluar, yaitu untuk melakukan serangan terhadap kelompok-kelompok yang dianggap berbeda dengan mereka. Kelompok lain ini lebih sering di dalam Islam sendiri sebetulnya, yaitu orang-orang yang dianggap Islam-nya kurang. Di mana-mana begitulah adanya. Di sini ada masalah kedua. Organisasi Islam yang sudah mapan di Indonesia umumnya tidak sensitif dengan kebutuhan umatnya. Jadi persoalan ketidakadilan yang sangat nyata di tingkat massa akar rumput itu tidak pernah ditangani secara memadai oleh gerakan-gerakan besar. Gerakan Islam yang sudah mapan ini makin elitis, makin bersifat politik dan menjauhi massanya sendiri. Sementara kelompokkelompok itu menawarkan alternatif yang nyata dan berkaitan dengan problem seharihari orang Islam di tingkat bawah. Meskipun orang-orang Islam ini hanya dipakai oleh “elit gerakan alternatif ” itu dan kebutuhan mereka tidak sungguh-sungguh ditangani, sekurangnya secara retorika mereka mengangkat persoalan kemiskinan, solidaritas dan kemaksiatan yang di dalam memori kolektif orang Islam itu sangat penting. Orang NU dan Muhammadiyah misalnya, tidak peduli pada persoalan drugs yang begitu meluas di Jakarta. Sementara dalam kehidupan nyata masyarakat yang motif ke-Islam-annya sangat tipis itu pun merasakannya sebagai masalah. Nah, yang menangani justru kelompok kecil seperti FPI. Kritik saya terhadap NU dan Muhammadiyah adalah mereka melupakan semua ini. Kalau penangannya dilakukan oleh gerakan Islam yang mapan ini jalannya mungkin bukan kekerasan, karena saya berpendapat bahwa bagaimanapun ruang publik harus ada regulasi, tidak mungkin diserahkan sepenuhnya kepada semua orang untuk memperebutkannya. Nah, inilah yang sering dilupakan orang, bahwa kemunculan FPI adalah bagian dari kompetisi antara berbagai kelompok dalam masyarakat untuk mengatur ruang publik berdasarkan suatu norma. Contohnya di Jakarta, sebagai kota yang sangat ilustratif. Ruang publiknya disusun berdasar motif yang sangat tidak sensitif terhadap kebutuhan orang kecil, dan sangat bias pada kepentingan pengusaha besar. Motif kebutuhan ekonomi jauh lebih menentukan dalam mengatur tempat-tempat umum di Jakarta. Nah, sementara kepentingan orangorang kecil tidak pernah diperhatikan sehingga menimbulkan perasaan diperlakukan tidak adil. Perasaan ketidakadilan itulah yang kemudian menimbulkan reaksi semacam FPI, apalagi karena tidak pernah mendapatkan saluran demokratis. Kemunculan FPI kalau mau dibaca

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

161

secara positif bagi saya adalah kritik terhadap Islam yang mapan dan tidak sensitif terhadap ketidakadilan yang berkembang di masyarakat. Dan sekaligus kritik terhadap politik pengaturan ruang publik yang meminggirkan orang kecil. Itu kalau dilihat secara positif. Saya pikir aspek ini tetap perlu dilihat karena bagaimanapun FPI dan Laskar Jihad ini tidak bisa dibaca semata-mata sebagai kelanjutan kepentingan elit yang tidak berkaitan dengan persoalan nyata dalam masyarakat. Jadi saya punya tesis bahwa elit itu tidak memobilisasi massa. Kalau di dalam massa itu tidak ada kondisi yang memungkinkan mobilisasi, entah itu simbol yang di-share oleh massa atau memang ada masalah nyata yang dihadapi oleh masyarakat sehingga masalah ini dengan mudah diangkat oleh elit, maka mobilisasi sulit terjadi. Menurut saya masalah yang dihadapi oleh orang-orang kecil ini adalah ketidakadilan, tingginya biaya hidup yang susah dijangkau orang kecil sehingga kelompok-kelompok Islam ini mudah sekali masuk untuk memperoleh dukungan. Masalah kedua yang diangkat oleh Hari, apakah ini gerakan massa atau gerakan elit. Saya pikir dua-duanya benar. Tadi saya katakan elit tidak bisa menggunakan massa kalau memang massanya tidak mau digunakan. Pertanyaannya, kenapa orang Islam liberal seperti Cak Nur atau lainnya, tidak bisa mempunyai pengikut yang banyak seperti FPI. Kalau persoalannya adalah elit menggunakan massa tentunya Cak Nur akan mudah menggunakan massa. Memang elit ini mengerti betul psikologi massa, mengerti simbol yang berkembang dalam masyarakat dan mengerti perasaannya. Jadi menurut saya itu adalah gerakan elit dan massa sekaligus. Justru itu saya setuju dengan yang dikatakan tadi, bahwa gerakan-gerakan ini pertama memang kecil tapi militan. Sebagian besar umat Islam di Indonesia memang toleran tapi diam. Kalau orang kecil yang terus ngomong, militan ini atau itu, tapi kemudian tidak memperoleh tanggapan dari mayoritas Islam yang toleran tapi diam ini, maka saya khawatir kelompok-kelompok ini akan bisa melakukan sweeping untuk meraih dukungan dari orang yang semula tidak peduli atau bahkan benci. Kaitannya dengan konteks global. Saya berkali-kali ditanya apakah ada kaitan gerakan ini dengan Taliban di Afghanistan atau dengan Osama bin Laden. Terus terang saya tidak bisa jawab. Tapi ada satu hal yang bisa dikatakan mengenai pertanyaan ini. Gejala ini memang tidak unik terjadi di Indonesia saja, tapi sebuah gejala global. Dan saya kira kita tidak mungkin lagi menjelaskan gerakan ini dengan konsep standar Orde Baru, bahwa ini semata sempalan. Menurut saya dalam situasi dengan komunikasi seperti sekarang, kita tidak bisa lagi menganggap FPI itu

162

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

lebih rendah dari NU atau sebaliknya NU lebih rendah dari FPI. Laskar Jihad misalnya punya homepage yang luar biasa dan di-update dengan rutin, mungkin lebih rutin dari JKB malah [tertawa]… Dan lebih baik dari NU yang tidak punya homepage sama sekali. Kalau Muhammadiyah punya homepage tapi updating-nya sekali setahun. Nah, sekarang dalam situasi seperti ini, siapa yang lebih unggul? Laskar Jihad yang punya homepage dan bisa diakses seluruh dunia dengan baik sekali, atau NU yang tidak punya sama sekali walau anggotanya banyak. Apakah masih relevan berbicara tentang pusat gerakan Islam dalam situasi semacam ini? Saya kira tidak bisa lagi. Kita tidak bisa menjelaskan kehadiran kelompok seperti ini dalam perspektif kelompok sempalan seperti yang dilakukan semasa Orde Baru. Jadi sekarang ini, semua kelompok bisa berebut pengaruh dengan bebas, tanpa halangan. Tidak ada lagi kelompok mainstream atau sempalan lagi dengan kemudahan komunikasi semacam itu. Saya tidak mau underestimate, jadi harus bertanding betul. Saya sebagai pemeluk Islam yang katakanlah liberal, saya menganggap ini tantangan serius. Terlepas dari adanya dukungan finansial dari Djadja Suparman, tidak terlalu penting. Yang pasti kelompok ini mempunyai kedudukan setara dengan kita-kita untuk mencapai pengaruh politik. Dino: Saya dari KONTRAS. Saya mau menyambung kekhawatiran mas Ulil soal makin eksisnya kelompok Islam radikal. Jangan-jangan kita terlambat untuk mengantisipasi. Salah satu kasus yang paling jelas adalah Ambon, di mana negara tidak berdaya melihat ribuan Laskar Jihad datang ke sana. Saya takut ketika Gus Dur menawarkan syariat Islam diberlakukan di Aceh, karena itu juga akan dituntut oleh orang-orang yang sekarang ini secara ilegal telah memberlakukan hukum Islam di sana. Saya hanya ingin menegaskan bahwa sementara kita di sini masih berharap-harap cemas, orang di daerah sudah merasakan akibatnya. Lihatlah, mahasiswa diserang FPI, kelompok pro-demokrasi diserang Laskar Jihad yang berafiliasi dengan kelompok yang namanya GAM di Yogyakarta baru-baru ini. Saya melihat orang di Jakarta masih sibuk berteori sementara orang di daerah itu sangat ketakutan atnara hidup dan mati. Kebetulan saya orang Islam dari Ambon dan saya terpaksa harus angkat kaki dari Ambon karena menolak konsep jihad dan praktekpraktek yang mereka lakukan lewat tulisan saya di koran lokal. Orang di Jakarta tidak serius melihat masalah ini, apalagi elit-elit politiknya. Begitu pula organisasi Islam yang mapan kemudian “mengikuti” gerakan Islam radikal ini. Saya bekas anggota Banser-NU tapi kemudian keluar, karena setelah Gus Dur berkuasa saya melihat Banser hanya dipakai untuk melawan orang-orang yang tidak senang dengannya. Saya pikir Mas Ulil sebagai orang yang dekat dengan NU bisa menerangkan soal ini. Kemudian soal link-link gerakan radikal ini dengan dunia internasional. Saya melihat sendiri ketika Laskar Jihad belum datang ke Ambon ada sejumlah orang dari

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

163

Afghanistan, Pakistan dan Aljazair datang ke Ambon dan merekrut anak-anak muda yang ingin masuk Laskar Jihad. Dan jangan lupa sejumlah orang sekarang sedang dilatih di Moro dan Afghanistan, senjata mereka pun di-supply dari sana. Saya pikir gerakan-gerakan itu tidak berdiri sendiri seperti dikatakan Mas Ulil tadi. Agung Putri: Saya melihat persoalannya agak berbeda dari Ulil, yang nampaknya begitu khawatir dengan kelompok ini. Saya justru mempertanyakan partaipartai besar itu. Saya sependapat dengan Abdul Hakim – bukan karena dia direktur di kantor saya – dengan pikirannya tentang freedom of association. Secara prinsip memang boleh saja. Persoalannya sekarang, mengapa dia bisa tumbuh besar. Selama ini kita hanya melihat adanya dukungan militer, dunia internasional dan dana dari mana-mana, tapi bagi saya yang paling penting di sini adalah sikap dari partai-partai besar itu sendiri. Di Jerman, Nazi bisa berkuasa justru karena partai atau pemerintahan “demokratik” menjadi oportunis, dan tidak bisa mengambil sikap. Kalau mau belajar dari pengalaman Indonesia. Di masa pemerintahan Soekarno, Masyumi bersaing keras dengan NU. Tapi ketika terjadi pembantaian 1965 ada suara yang sama: melawan atheisme. Nah, di situlah partai-partai besar itu berubah. Saya sendiri tidak takut dengan Islam yang “radikal”, tapi justru khawatir melihat partai besar seperti PDI-P. Bagi mereka, apa sulitnya mengakomodasi syariat Islam, selama itu bisa menyelamatkan posisinya. Dalam situasi genting dan memaksa dia memilih, partai itu mungkin akan bersekutu dengan mereka. Dalam partai besar besar kemungkinannya tidak ada pikiran tunggal, melainkan ada faksi kiri dan kanan, sebutlah begitu. Saya pikir Ulil masih berharap bahwa organisasi Islam yang mapan ini punya nilai tunggal tersendiri. Tapi bagi saya itu semua bisa berubah. Saya perlu tanggapan Ulil soal ini. Pertanyaan lain yang berkaitan dengan itu, mengapa partai-partai besar dan organisasi Islam yang mapan tidak bersuara. Negara seolah tidak berdaya ketika FPI menduduki kantor gubernur DKI, menuntut tempat hiburan malam dan seterusnya. Saya ingin tahu apa yang mesti dilakukan, karena penegak hukum tidak bisa diharapkan. Coen Pontoh: Menurut saya basis dari fasisme ini paling tidak ada dua. Pertama, demokrasi itu sendiri dan kedua, kenyataan bahwa demokrasi itu belum terkonsolidasi karena ditimpa krisis ekonomi yang dahsyat. Dalam iklim demokrasi kita tidak bisa melarang siapa pun untuk menyampaikan pendapat, itu memang sudah menjadi diktum demokrasi: “saya berbeda pendapat dengan anda, tapi saya akan menjadi orang yang akan membela anda ketika anda dilarang berpendapat.” Tapi sikap ini belum terkonsolidasi karena adanya krisis yang dahsyat.

164

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

Dalam situasi seperti ini saya kira kita tidak bisa mengharapkan pertolongan atau upaya dari negara. Negara sendiri jelas tidak bredaya, begitu pula partai-partai besar. Saya mengkritik Gungtri dan Benny yang mengharapkan satu partai politik, entah itu PDI-P atau NU, atau kelompok agama mayoritas untuk bersuara. Menurut saya justru kita kelompok pro-demokrasi yang tidak sensitif dengan persoalan seperti ini. Kita masih sibuk dengan agenda masing-masing, tidak punya prioritas mengkonsolidasi demokrasi. KONTRAS misalnya sibuk dengan kekerasan, ICW sibuk dengan korupsi, tapi elit memanfaatkan itu semua sehingga muncul apa yang dikatakan oleh Emmy Hafild, bahwa LSM bingung menghadapi dilema: mengkritik Gus Dur akan digunakan oleh parlemen untuk menjatuhkan dia, mengkritik parlemen maka akan digunakan oleh Gus Dur untuk menjatuhkannya. Kebuntuan ini menurut saya muncul karena kelompok pro-demokrasi belum terkonsolidasi dengan baik, sehingga dalam situasi yang terbuka seperti ini dan krisis ekonomi, rakyat lebih senang dengan tawaran yang emosional sifatnya. Dalam hal ini saya setuju dengan Mas Ulil. Kita harus melakukan konsolidasi kelompok pro-demokrasi. Tentu bukan dengan membentuk Laskar Café, atau gerakan pro-café, tapi kita menyusun prioritas agendaagenda kita. Kalau kita mengkritik Gus Dur tanpa agenda yang jelas dan asyik dengan gerakan-gerakan kita sendiri, akan repot. Ulil Abshar Abdala: Saya senang dengan komentar dari Coen. Tapi saya tambahkan kritik pada kelompok pro-demokrasi, yang entah dengan sengaja atau tidak mengabaikan pentingnya faktor agama dalam proses transisi. Entah ini bertolak dari asumsi “sekuler” di dalam gerakan-gerakannya, sehingga menganggap agama itu fenomena palsu saja – atau sesuatu yang tidak penting – atau sekadar gejala lanjutan dari faktor yang lebih genuine misalnya atau elit politik atau perebutan sumber daya ekonomi atau sumber daya lain, tapi yang pasti gejala agama ini dianggap sesuatu yang pinggiran. Kedua, pengabaian gejala yang bersumber dari agama ini mungkin juga karena ada perasaan minder, karena kelompokkelompok pro-demokrasi merasa tidak sama kedudukannya secara moral. Ada anggapan bahwa kelompok-kelompok Islam politik itu lebih suci dari yang “sekuler” misalnya, sehingga kita tidak bisa berhadapan dengan mereka. Di Yogya misalnya – kita tahu itu kamp-nya Laskar Jihad – teman-teman LBH, AJI dan media lainnya takut menyinggung mereka. Pertama, takut karena kalau menyinggung akan diserbu, dan kedua ada anggapan bahwa yang mengurus mereka ini seharusnya organisasi yang sama-sama Islam seperti NU dan Muhammadiyah dengan alasan “lebih otoritatif ketimbang kita yang tidak tahu agama”. Jadi ada semacam ketakutan secara moral, seolah-olah kedudukannya lebih rendah. Saya kira sudah saatnya sekarang mereka harus dihadapi dengan sungguh-sungguh oleh kelompok pro-demokarsi yang selama ini

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

165

mengabaikan mereka. Dan ini sebagai bagian dari proses pendidikan kepada publik. Yang dipertanyakan harus langsung issue-nya, bukan lagi menganalisis sesuatu yang diluar issue-nya. Persoalan elit yang memanfaatkan massa menurut saya adalah soal kedua, yang pertama harus dipersoalkan adalah issue-nya itu sendiri: misalnya mengenai serangan FPI ke tempat hiburan, yang perlu diangkat ke publik: apakah orang memang tidak boleh mengkonsumsi bir? Apakah Jakarta ini harus disusun berdasarkan suatu ide tertentu yang bersumber pada Islam, dan harus dibersihkan dari itu semua? Menurut saya itu harus dipersoalkan, karena dengan begitu masyarakat akan memperoleh alternatif pikiran. Masalah lain, soal syariat Islam itu. Baik aktivis Islam sendiri maupun non-Islam tidak pernah mempersoalkan, apakah syariat Islam masih layak diterapkan di zaman modern ini? Saya sendiri belajar syariat Islam bertahun-tahun karena saya sendiri mahasiswa syariah. Tapi saya berpandangan bahwa syariat Islam itu tidak seluruhnya relevan diterapkan sekarang. Ada beberapa hal – mungkin banyak sekali – yang harus dikritik bahkan dibuang sama sekali. Orang tidak berani mengatakan ini terus terang, jadi publik hanya mendengar syariat Islam tanpa penerangan lebih lanjut. Menurut saya kalau sungguh-sungguh mau menghadapi kelompok Islam politik ini, maka yang betul-betul harus dipersoalkan justru adalah issue-nya sendiri. Di Jakarta ini banyak sekali orang yang baru masuk Islam – the new converts istilahnya – yang kadang-kadang lebih Islam dari orang yang sudah lebih lama Islam-nya, seperti saya ini. Mereka tidak pernah mendapat gagasan yang detail tentang apa itu Islam sebenarnya, jadi tidak bisa diajak diskusi. Terus pertanyaannya Gungtri yang tidak takut sama gerakan itu. Kemarin saya diskusi dengan Abdul Hakim dan saya sebetulnya jengkel, karena dia sok liberal. Maksud saya, semua orang boleh berpendapat sesuai dengan yang mereka yang pikir. Tapi saya tidak tahu apakah ini berlaku di dalam demokrasi yang menurut Coen tadi belum terkonsolidasi? Apakah orang fasis bisa mengatakan, “hak kami untuk berpandangan fasis”? Apakah benar argumen yang mau menghancurkan demokrasi bisa diterima dalam demokrasi yang belum terkonsolidasi? Atau kembali kepada pertanyaan klasik dalam diktum demokrasi: apakah dalam demokrasi kita membolehkan orang-orang yang tidak menghendaki demokrasi itu sendiri? Ini pertanyaan rumit: apakah kita bisa hidup dengan orang yang tidak membiarkan kita hidup? Kalau ada orang yang berpendapat bahwa orang seperti saya ini harus dibunuh, apakah saya kemudian bisa mentolerirnya? Saya cenderung mengatakan, tidak! Dalam pengertian begini, harus ada aturan terhadap kelompok semacam itu, harus ada hukum yang mengatur. Saya kira tidak ada jaminan bahwa kelompok-kelompok ini tidak

166

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

akan besar. Jadi persis pertanyaan Gungtri tadi, persoalannya adalah melihat “bagaimana dia bisa menjadi besar?” Saya menjawab begini. Pertama, ruang demokrasi memang belum terkonsolidasi. Kedua, tidak ada aturan yang mengekang gerakan semacam itu. Di sini partai-partai besar menjadi tidak begitu penting. Memang benar, ada partai oportunis yang sekadar mencari popularitas kemudian mengakomodasi gerakan semacam itu. Di Malaysia ini sudah terjadi ketika PAS muncul sebagai alternatif, UMNO langsung menampilkan diri sebagai partai yang tidak kurang Islam-nya. Akhirnya mereka berebut menjadi yang paling suci, paling Islami, lebih ekstrem dan seterusnya. dan karena kalah ekstrem, UMNO pun kalah dari PAS dalam pemilu terakhir, dan memacunya menjadi lebih ekstrem lagi. Bisa saja hal seperti itu terjadi di Indonesia, tapi persoalannya saya pikir bukan pada partai melainkan ruang demokrasi yang menurut saya masih rentan sehingga kelompokkelompok itu bisa berkembang dengan leluasa. Oey: Kenyataan bahwa gerakan itu memiliki ruang hidup saya anggap penting sekali, apakah dengan berdagang kecil-kecilan atau memberikan kesejahteraan sosial. Kita mesti ingat bahwa yang terjadi di sini adalah kesempatan merebut ketimpangan sosial, keterbelakangan sosial, keterpinggiran sosial dan sebagainya. Lalu, soal nasionalisme. Saya pikir yang dibesarkan di sini adalah kemurnian ras, kemurnian agama. Dan itu dilakukan dengan simbol-simbol yang tipikal. Kalau fasisme di Jerman dan Italia menggunakan bendera-bendera besar dan seragam, di sini juga menggunakan seragam putih-putih. Itu memang untuk memperkuat identitas mereka. Moderator: Diskusi ini hanya sampai pukul 10 malam. Kalau mau dilanjutkan silakan, setelah forum ini secara resmi ditutup. Saya tidak menyimpulkan karena memang tidak mampu dan juga tidak perlu saya kira. Tapi kita akan pulang membawa agenda menghadapi kecenderungan fasisme dan semoga saja kita menjadi lebih sensitif. Wassalam.

Diskusibulanpurnama.[Dbp.]

167

168

Kumpulan Hasil Diskusi Tahun 2000

169

170

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.