P. 1
Pengembangan Variasi Mengajar

Pengembangan Variasi Mengajar

|Views: 2,368|Likes:
Published by Hatta Ata Coy
Makalah
Makalah

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Hatta Ata Coy on Aug 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/22/2014

pdf

text

original

Makalah PENGEMBANGAN VARIASI MENGAJAR

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Final

DISUSUN OLEH: NAMA NIM PRODI : : :

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM – BANDA ACEH 2012

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, yang telah meberi hidayah dan inayah-Nya pada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaika makalah ini dengan baik dan lancar. Serta tak lupa pula kami kami ucapkan terimakasih pada Dosen yang membimbing dan mengarahkan penulis dalam penulisan makalah yang berjudul Pengembangan Variasi Mengajar ini semoga dapat bermanfaat bagi pembaca dan penulis. Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan maka dari itu penulis menerima saran dan kritik yang membangun dari pembaca makalah ini.

Banda Aceh, Juni 2012

Penulis

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... DAFTAR ISI ................................................................................................... BAB I, PENDAHULUAN .............................................................................. A. Latar Belakang Masalah ....................................................................... B. Rumusan Masalah ................................................................................ C. Tujuan Penulisan .................................................................................. BAB II, PEMBAHASAN ............................................................................... A. Tujuan Variasi Mengajar...................................................................... B. Prinsip Penggunaan Variasi Mengajar ................................................. C. Komponen-Komponen Variasi Mengajar ............................................ BAB III, PENUTUP ....................................................................................... A. Kesimpulan .......................................................................................... B. Saran ..................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

i ii 1 1 1 1 2 3 7 8 13 13 13 14

ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Kebosanan pada dasarnya keadaan yang tidak ingin dialami setiap orang dalam kehidupan ini. Perasaan bosan tidaklah menyenangkan bagi siapa saja. Kalau setiap hari kita memakan makanan yang sama terus menerus yang akhirnya nanti akan berujung pada kebosanan. Demikian juga pada dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Guru diharapkan dalam proses pembelajaran menggunakan variasi mengajar dan tidak monoton dalam proses pembelajaran. Hal ini diharapkan agar siswa tidak menjadi bosan, lebih perhatian, tidak mengantuk dalam proses pembelajaran sehingga nantinya tujuan pembelaran dapat tercapai dengan efektif. Dalam proses pembelajaran terjadinya variasi mengajar guru dapat ditunjukkan dengan adanya perubahan gaya mengajar, media yang digunakan berganti-ganti, dan ada perubahan dalam pola interaksi antara guru-siswa, siswa-guru, dan siswa-siswa. Penggunaan variasi dalam mengajar ditujukan kepada perhatian siswa, motivasi dan belajar siswa.

B. Rumusan Masalah Dari beberapa uraian di atas, timbul beberapa permasalahan sebagai berikut: 1. Apakah tujuan dari diadakannya variasi dalam mengajar? 2. Apa saja prinsip-prinsip penggunaan variasi pengajaran? 3. Apa saja komponen-komponen variasi mengajar?

C. Tujuan Penulisan Tujuan penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui apa tujuan dari diadakannya variasi dalam mengajar? 2. Untuk mengetahui prinsip-prinsip penggunaan variasi pengajaran? 3. Untuk mengetahui apa saja komponen-komponen variasi mengajar?

1

BAB II TEORI DAN PEMBAHASAN

Pengertian Variasi mengajar Kemampuan mengajar adalah kemampuan essensial yang harus dimiliki oleh guru, tidak lain karena tugas guru yang paling utama adalah mengajar. Yang dihadapi oleh guru adalah para siswa yang dinamis, baik sebagai akibat dari dinamika internal yang berasal dari diri siswa maupun sebagai akibat dari dinamika lingkungan yang sedikit banyak berpengaruh terhadap siswa. Oleh karena itu, kemampuan mengajar guru haruslah dinamis juga, sebagai akibat dari tuntutan-tuntutan dinamika siswa yang tak terelakkan. Variasi mengajar adalah suatu kegiatan guru dalam konteks proses interaksi belajar-mengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan siswa sehingga, dalam situasi belajar-mengajar, siswa senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme, serta penuh partisipasi. Keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar meliputi tiga aspek, yaitu variasi dalam gaya mengajar, variasi dalam menggunakan media dan bahan pengajaran, dan variasi dalam interaksi antara guru dengan siswa. Hakikat Belajar Mengajar Belajar merupakan suatu aktivitas mental yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan yang bersifat relatif konstan. Belajar pada hakikatnya adalah ”perubahan” yang terjadi di dalam diri seseorang yang terjadi di dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan akivitas belajar.

2

Namun, tidak semua perubahan termasuk kategori belajar seperti perubahan fisik, mabuk, gila, dan sebagainya. Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Proses belajar mengajar mempunyai pengertian dan makna yang berbeda dengan mengajar. Dalam proses belajar mengajar terdapat tersirat adanya satu kesatuan kegiatan yang tak terpisahkan antara siswa yang belajar dan guru yang mengajar. Antara kedua kegiatan ini terjalin interaksi yang saling menunjang. A. Tujuan Variasi Mengajar Penggunaan variasi terutama ditujukan terhadap perhatian siswa, motivasi, dan belajar siswa. Tujuan mengadakan variasi mengajar adalah: 1. Meningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap relevansi proses belajar mengajar Dalam proses pembelajaran perhatian siswa terhadap materi pelajaran yang diajarkan sangat dituntut. Tidak diharapkan sedikitpun terdapat siswa yang tidak atau kurang memperhatikan penjelasan yang diberikan guru, karena hal tersebut akan membuat siswa tidak memahami akan bahan yang diajarkan oleh guru. Dalam jumlah siswa yang besar sering ditemukan kesulitan untuk mempertahankan agar perhatian siswa tetap pada materi pelajaran yang diberikan. Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Misalnya faktor penjelasan guru yang kurang mengenai sasaran, situasi di luar kelas yang lebih menarik

3

dibandingkan dengan materi pelajaran yang diberikan guru, siswa yang kurang menyenangi materi pelajaran yang diberikan guru. Fokus permasalahan pentingnya perhatian ini dalam proses belajar mengajar, karena dengan perhatian yang diberikan siswa terhadap materi pelajaran yang guru jelaskan, akan mendukung tercapainya tujuan pembelajaran tersebut bila setiap siswa mencapai penguasaan terhadap materi yang diberikan dalam suatu pertemuan kelas. Indiktor penguasaan siswa terhadap materi pelajaran adalah terjadinya perubahan dalam diri siswa. Jadi, perhatian adalah masalah yang tidak bisa dikesampingkan dalam konteks percapaian tujuan pembelajaran. Karena itu, guru selalu memperhatikan variasi mengajarnya apakah sudah dapat meningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap materi yang dijelaskan atau belum. 2. Memberikan kesempatan kemungkinan berfungsinya motivasi Motivasi memegang peran penting dalam belajar. Seorang siswa tidak akan dapat belajar dengan baik dan tekun jika tidak ada motivasi di dalam dirinya. Bahkan tanpa motivasi, seorang siswa tidak akan melakukan kegiatan belajar maka dari itu, guru siswa tidak adak melalakukan kegiatan belajar. Maka dari itu, guru selalu memperhatikan masalah motivasi ini dan berusaha agar tetap tergejolak dalam diri setiap siswa selama pengajaran berlangsung. Dalam proses belajar mengajar di kelas, tidak setiap siswa mempunyai motivasi yang sama terhadap suatu bahan pelajaran. Untuk bahan tertentu mungkin seorang siswa menyenanginya, tetapi untuk bahan yang lain boleh jadi siswa tersebut tidak menyenanginya. Ini merupakan masalah bagi guru dalam setiap kali mengadakan pertemuan. Guru selalu dihadapkan pada masalah motivasi. Guru

4

selalu ingin memberikan motivasi terhadap siswanya yang kurang memperhatikan materi pelajaran yang diberikan. Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Dalam diri siswa yang seperti ini sudah tertanam motivasi untuk belajar yang disebut motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan sendirinya memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih tinggi terhadap materi pelajaran yang diberikan. Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya. Untuk siswa yang seperti ini motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak dibutuhkan. Disini peran guru lebih diinginkan untuk memerankan fungsi guru sebagai motivator, yaitu memotivasi sebagai alat yang mendorong manusia untuk berbuat, motivasi sebagai alat yang menentukan arah perbuatan, dan motivasi sebagai alat untuk menyeleksi perbuatan. 3. Membentuk sikap positif terhadap guru dan sekolah Masih sering dijumpai disetiap sekolah terdapat siswa tertentu yang kurang senang terhadap seorang guru. Konsekuensinya bidang studi yang dipegang oleh guru tersebut juga menjadi tidak disenangi. Kecuekan selalu ditunjukkan lewat sikap dan perbuatan ketika guru tersebut sedang memberikan materi pelajaran di kelas. Kurang senangnya seorang siswa terhadap guru bisa jadi disebabkan gaya mengajar guru yang monoton tidak bervariasi atau guru kurang datap menguasai kelas. Kegaduhan biasanya sering terjadi pada sudut-sudut kelas. Akibatnya jalannya proses pembelajaran tidak efektif. Guru gagal menciptakan suasana belajar yang menbangkitkan kreativitas dan kegairahan belajar siswa.

5

4. Memberi kemungkinan pilihan dan fasilitas belajar individual Sebagai seorang guru yang profesional dituntut mempunyai keterampilanketerampilan yang mendukung tugasnya dalam proses pembelajaran. Penguasaan metode mengajar yang dituntut kepada guru tidak hanya satu atau dua metode, tetapi lebih banyak dari itu. Penguasaan terhadap berbagai penggunaan media merupakan keterampilan lain yang harus dimiliki bagi guru. Fasilitas merupakan kelengkapan balajar yanag harus ada di sekolah yang berguna sebagai alat bantu pengajaran. Lengkap tidaknya fasilitas belajar mempengaruhi pemilihan yang harus guru lakukan. Sangat terbatasnya fasilitas belajar cenderung lebih sedikit alternatif yang tersedia untuk melakukan pemilihan. 5. Mendorong siswa untuk belajar Membuat suasana belajar yang nyaman adalah tugas guru. Kewajiban belajar adalah tugas siswa. Kedua kegiatan ini menyatu dalam sebuah interaksi pengajaran yang disebut interaksi edukatif. Lingkungan pembelajaran yang kondusif adalah lingkungan yang mampu mendorong siswa untuk selalu belajar. Gejala adanya siswa yang kurang senang menerima pelajaran dari guru tidak semestinya terjadi, karena hal ini akan menghambat proses pembelajaran. Disinilah diperlukan peranan guru, bagaimana upaya menciptakan lingkungan belajar yang mampu mendorong siswa untuk senang dan bergairah belajar. Untuk hal ini cara yang tepat yang mesti dilakukan oleh guru adalah mengembangkan varisai mengajar, baik dalam gaya mengajar, dalam menggunakan media dan bahan pengajaran maupun dalam interaksi guru dengan siswa.

6

B. Prinsip Penggunaan Variasi Mengajar Dalam proses belajar mengajar kegiatan siswa adalah yang menjadi fokus perhatian. Apapun kegiatan yang guru lakukan tidak lain adalah suatu upaya bagaimana lingkungan ang tercipta itu menyenangkan hati semua siswa dan dapat menggairahkan belajar siswa. Itu berarti tidak ada seorang guru pun yang ingin agar siswanya tidak senang dan tidak bergairah dalam belajar, maka akan mengganggu kelancaran kegiatan pengajaran. Apalagi jika sebagian besar siswanya tidak mau memperhatikan penjelasan ang diberikan guru, atau tidak mau mengerjakan tugas yang diberikan guru untuk materi tertentu. Agar kegiatan pengajaran dapat merangsang siswa untuk aktif dan kreatif belajar, tentu saja diperlukan lingkungan belajar yang kondusif. Salah satu upaya ke arah itu adalah dengan cara memperhatikan beberapa prinsip penggunaan variasi dalam mengajar. Beberapa prinsip penggunaan ini sangat penting untuk diperhatikan dan betulbetul harus dihayati guna mendukung pelaksanaan tugas mengajar di kelas. Prinsipprinsip penggunaan variasi mengajar itu adalah seagai berikut: 1. Dalam menggunakan keterampilan variasi sebaiknya semua jenis variasi digunakan, selain juga harus ada variasi penggunaan komponen untuk tiap jenis variasi. Semua itu untuk mencapai tujuan belajar. 2. Menggunakan variasi secara lancar dan berkesinambungan, sehingga momen proses belajar mengajar yang utuh tidak rusak, perhatian siswa dan proses tidak terganggu. 3. Penggunaan komponen variasi harus benar-benar terstruktrur dan direncanakan oleh guru. Karena itu memerlukan penggunaan yang luwes sesuai dengan umpan balik yang diterima dari siswa.

7

C. Komponen-konmponen Variasi Mengajar 1. Variasi gaya mengajar Variasi gaya mengajar pada dasarnya meliputi variasi suara, variasi anggota badan, dan variasi perpindahan posisi guru dalam kelas. Bagi siswa variasi tersebut dilihat sebagai sesuatu yang energik, antusias, bersemangat, dan semuanya memiliki relevensi dengan hasil belajar. Perilaku guru seperti itu dalam proses belajar mengajar akan menjadi dinamis dan mempertinggi komunikasi antara guru dan siswa, menarik perhatian siswa, menolong penerimaan bahan pelajaran, dan memberi stimulasi. Variasi gaya mengajar ini adalah sebagai berikut: a. Variasi suara Suara guru dapat bervariasi dalam intonasi, nada, volume, dan kecepatan. Guru dapat mendramatisasi suatu perstiwa, menunjukkan hal-hal yang dianggap penting, berbicara secara pelan dengan seorang siswa, atau berbicara secara tajam dengan siswa yang kurang perhatian, dan seterusnya. b. Penekanan (ocusing) Untuk memfokuskan perhatian siswa pada suatu aspek yang penting atau aspek kunci, guru dapat menggunakan ”penekanan secara verbal”; misalnya, ”Perhatikan baik-baik. Nah, ini yang penting. Ini adalah bagian yang sukar, dengarkan baik-baik!” penekanan seperti itu biasanya dikombinasikan dengan gerakan anggota badan yang dapat menunjukkan dengan jari atau memberi tanda pada papan tulis. c. Pemberian waktu (pausing) Untuk menarik perhatian siswa, dapat dilakukan dengan mengubah yang bersuara mejadi sepi, dari akhir bagian pelajaran ke bagian berikutnya.

8

Dalam keterampilan bertanya, pemberian waktu dapat diberikan setelah guru mengajukan beberapa pertanyaan, untuk mengubahnya menjadi pertanyaan yang lebih tinggi tingkatannya setelah keadaan memungkinkan. Bagi siswa, pemberian waktu dipakai untuk mengorganisasi jawaban agar menjadi lengkap. d. Kontak pandang Bila guru berbicara atau berinteraksi dengan siswa, sebaiknya mengarahkan pandangannya ke seluruh kelas, menatap mata setiap siswa untuk dapat membentuk hubungan yang positif dan menghindari hilangnya kepribadian. Guru dapat membantu siswa dengan menggunakan matanya menyampaikan informasi, dan dengan pandangannya dapat menarik perhatian siswa. e. Gerakan anggota badan (gesturing) Variasi dalam mimik, gerakan kepala atau badan merupakan bagian yang penting dalam komunikasi. Tidak hanya untuk menarik perhatian saja, tetapi juga menolong dalam menyampaikman arti pembicaraan. f. Perpindahan posisi guru (teachers movement) Perpindahan posisi guru dalam ruang kelas dapat membantu menarik perhatian siswa, dapat meningkatkan kepribadian guru. Perhatian posisi dapat dilakukan dari muka ke bagian belakang, dari sisi kiri kesisi kanan, atau diantara siswa dari belakang ke samping siswa. Dapat juga dilakukan dengan posisi berdiri kemudian berubah menjadi posisi duduk. Yang penting dalam perubahan posisi ialah harus ada tujuannya, dan tidak sekedar mondarmandir. Guru yang kaku adalah tidak menarik dan mejemukan, dan bila bervariasi dilakukan secara berlebikan akan mengganggu.

9

2. Variasi media dan bahan ajaran Setiap siswa mempunyai kemampuan indra yang tidak sama, baik pendengaran maupun penglihatannya, demikian juga kemampuan berbicara. Ada yang lebih enak atau senang membaca, ada yang lebih suka mendengarkan dulu baru membaca, dan sebaliknya. Dengan variasi menggunaan media, kelemahan indra yang dimiliki tiap siswa misalnya, guru dapat memulai dengan berbiara terlebih dahulu kemudian menulis di papan tulis, dilanjutkan dengan melihat contoh konkret. Dengan variasi seperti itu dapat memberi stimulasi terhadapa indra siswa. Ada tiga komponen dalam variasi penggunaan media, yaitu media pandang, media dengar, dan media taktil. Bila guru dalam menggunakan media bervariasi dari satu ke yang lain, atau variasi bahan ajaran dalam satu komponen media akan banyak sekali memerlukan penyesuaian indra siswa, membuat perhatian siswa menjadi lebih meningkatkan kemampuan belajar. a. Variasi media pandang Penggunaan media pandang dapat diartikan sebagai penggubaan alat dan bahan ajaran khusus untuk komunikasi seperti buku, majalah, globe, peta, majalah dinding, film, film strip. televisi, radio, recorder, gambar grafik, model, demonstrasi, dan lain-lain. Penggunaan yang lebih luas dari alat-alat tersebut memiliki keuntungan: 1) Membantu secara konkret konsep berpikir, dan mengurangi respon yang kurang bermanfaat. 2) Memiliki secara potensial perhatian siswa pada tingkat yang tinggi. 3) Dapat membuat hasil belajar yang riil yang akan mendorong kegiatan mandiri anak ddik.

10

4) Mengembangkan cara berpikir dan berkesinambungan, seperti halnya dalam film. 5) Mememberi pengalaman yang tidak mudah dicapai oleh alat lain 6) Menambah frekuensi kerja, lebih dalam, dan variasi belajar. b. Variasi media dengar Pada umumnya dalam proses belajar mengajar di kelas suara guru adalah alat utama dalam komunikasi. Variasi dalam penggunaaan media dengan memerlukan sekali saling bergantian atau berkombinasi dengan media pandang dengan media taktil. Sudah barang tentu ada sejumlah media dengar yang dapat dipakai untuk itu diantaranya ialah pembicaraan siswa, rekaman bunyi dan suara, rekaman musik, rekaman drama, wawancara, bahkan rekaman suara ikan lumba-lumba, yang semuanya itu dapat memiliki relevansi dengan pelajaran. c. Variasi Media Taktil Komponen terakhir dari keterampilan variasi media dan bahan ajar adalah penggunaan media yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyentuh dan memanipulasi benda atau bahan ajaran. Dalam hal ini akan melibatkan siswa dalam kegiatan penyusunan atau pembuatan model, yang hasilnya dapat disebutkan sebagai media taktil. Kegiatan tersebut dapat dilakukan secara individu ataupun kelompok kecil. Contohnya dalam bidang studi sejarah dapat membuat maket desa zaman Majapahit, dalam bidang studi geografi dapat membuat model lapisan tanah; megumpulkan berbagai jenis mata uang logam contoh untuk bidang studi ekonomi.

11

3. Variasi Interaktif Variasi dalam pola interaksi antara guru dengan siswanya memiliki rentangaan yang bergerak dari dua kutub, yaitu: a. Siswa bekerja atau belajar secara bebas tanpa campur tangan dari guru. b. Siswa mendengarkan dengan pasif. Situasi didominasi oleh guru, di mana guru berbicara kepada siswa. Diantara kedua kutub itu hanya memungkinkan dapat terjadi. Misalnya, guru berbicara dengan sekelompok kecil siswa melalui mengajukan beberapa pertanyaan atau guru berbincang dengan siswa secara individual, atau guru menciptakan situasi sedemikian rupa sehingga antar siswa dapat saling tukar menukar pendapat melalui penampilan diri, demonstrasi, atau diskusi. Bila guru yang berbicara, dapat melalui beberapa kategori: filling persetujuan, penghargaan atau peningkatan, menggunakan pendapat siswa, bertanya, ceramah, memberi petunjuk, dan mengeritik. Sebaliknya siswa dapat berbicara melalui pemberian respons dan pengambilan prakarsa. Bila guru mengajukan pertanyaan dapat juga divariasi sesuai dengan domain kognitif dari Bloom, pertanyaan dapat diajukan ke seluruh kelas atau ditujukan kepada siswa, maka dapat berbentuk: mendengarkan ceramah guru, mengajukan pendapat pada diskusi kelompok kecil. Bekerja individual atau kerja kelompok, membaca secara keras atau secara pelan, melihat film, bekerja di laboraturium, baik bahasa maupun alam, bekerja atau belajar bebas, atau dapat juga menciptakan kegiatan sendiri.

12

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa variasi mengajar adalah suatu kegiatan guru dalam konteks proses interaksi belajar-mengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan siswa sehingga, dalam situasi belajar-mengajar, siswa senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme, serta penuh partisipasi. Keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar meliputi tiga aspek, yaitu variasi dalam gaya mengajar, variasi dalam menggunakan media dan bahan pengajaran, dan variasi dalam interaksi antara guru dengan siswa. Adapun prinsip-prinsip dari penggunaan variasi mengajar sebagai berikut: 1. Dalam menggunakan keterampilan variasi sebaiknya semua jenis variasi digunakan, selain juga harus ada variasi penggunaan komponen untuk tiap jenis variasi. Semua itu untuk mencapai tujuan belajar. 2. Menggunakan variasi secara lancar dan berkesinambungan, sehingga momen proses belajar mengajar yang utuh tidak rusak, perhatian siswa dan proses tidak terganggu. 3. Penggunaan komponen variasi harus benar-benar terstruktrur dan direncanakan oleh guru. Karena itu memerlukan penggunaan yang luwes sesuai dengan umpan balik yang diterima dari siswa.

B. Saran 1. Hendaknya dalam mengajar guru-guru dapat memperhatikan variasi mengajar agar tidak membuat siswa jenuh dalam relajar. 2. Hendaknya demi kelancaran kegiatan relajar mengajar para siswa juga turut berperan aktif sehingga proses pembelajaran tidak membosankan dan hubungan antara siswa dengan guru atau siswa dengan siswa akan terjalin dengan harmonis.

13

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2006. Strategi Relajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Imron, Ali. 1995. Pembinaan Guru Indonesia. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya. Moh. Uzer Usman, 2004. Menjadi Guru Profesional, Jakarta: Remaja Rosdakarya. Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 2006. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta. Usman, Moh. Uzer. 2004. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

14

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->