PENGANTAR ILMU SOSIAL

Diskripsi Pemahaman konsep-konsep ilmu sosial, masalah-masalah masyarakat dan penggunaan berbagai pendekatan ilmu pengetahuan sosial sebagai dasar untuk menganalisis masalah kemasyarakatan

Buku Sumber Sumaadmodja. Nursid. 1985. Pengantar Ilmu Sosial. Bandung Sumaadmodja. Nursid. 1986. Perspektif Studi Sosial. Bandung Daldjoeni. 1985. Dasar-Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial. Bandung Supardan, Dadang , Pengantar Ilmu Sosial, Jakarta: Sinar Grafika Offset

I. A. B. C. D. E.

PENGERTIAN ILMU SOSIAL, METODE ILMIAH, DAN KEBENARAN ILMIAH Pengertian Ilmu Pengertian Sosial Pengertian dan Ruang Lingkup Ilmu Sosial Metode Ilmiah Kebenaran Ilmiah

II. A. B. C. D. E.

STRUKTUR DAN PERANAN ILMU Pengertian Struktur Ilmu Pengertian dan Peranan Fakta Pengertian dan Peranan Konsep Pengertian dan Peranan Generalisasi Pengertian dan Peranan Teori

III.

SOSIOLOGI

A. B. C. D. E.

Pengertian, Karakteristik, dan Ruang Lingkup Sosiologi Kegunaan Sosiologi Konsep-konsep Sosiologi Generalisasi-generlisasi Sosiologi Teori-teori Sosiologi

IV. A. B. C. D. E.

ANTROPOLOGI Pengertian dan Ruang Lingkup Antropologi Tujuan dan Kegunaan Antropologi Konsep-konsep Antropologi Generalisasi-generlisasi Antropologi Teori-teori Antropologi

V. A. B. C. D. E.

ILMU GEOGRAFI Pengertian dan Ruang Lingkup Geografi Manfaat Terapan Geografi Konsep-konsep Geografi Generalisasi-generlisasi Geografi Teori-teori Geografi

VI. A. B. C. D. E.

ILMU SEJARAH Pengertian dan Ruang Lingkup Sejarah Tujuan dan Kegunaan Sejarah Konsep-konsep Sejarah Generalisasi-generlisasi Sejarah Teori-teori Sejarah

VII. ILMU EKONOMI A. B. C. D. E. Pengertian dan Ruang Lingkup Ekonomi Sejarah Perkembangan Ekonomi Mazhab-mazhab dalam Ekonomi Generalisasi-generlisasi Ekonomi Teori-teori Ekonomi

VIII. PSIKOLOGI A. B. C. D. E. F. Pengertian dan Ruang Lingkup Psikologi Sejarah Perkembangan Psikologi Mazhab Psikologi Konsep-konsep Psikologi Generalisasi Psikologi Teori Psikologi

IX. A. B. C. D. E. F. G.

ILMU POLITIK Pengertian dan Ruang Lingkup Politik Tujuan dan Kegunaan Politik Sejarah Perkembangan Politik Mazhab Politik Konsep-konsep Politik Generalisasi-generlisasi Politik Teori-teori Ilmu Politik

BAB I PENGERTIAN ILMU SOSIAL, METODE ILMIAH, DAN KEBENARAN ILMIAH

A. PENGERTIAN ILMU Jerome R. Ravert dalam karyanya The Philosophy of science, sampai saat ini mungkin mengakui bahwa ilmu merupakan sebuah kisah sukses luar biasa. Kemenangan-kemenangan ilmu melambangkan suatu proses kumulatif peningkatan pengetahuan dan rangkaian kemenangan tehadap kebodohan dan takhayul dan dari ilmulah kemudian mengalir arus penemuan yang berguna untuk kemajuan hidup manusia.
The Liang Gie (1999), ilmu dipandang sebagai kumpulan pengetahuan sistematis, metode penelitian, aktivitas penelitian. 1. Ilmu sebagai kumpulan pengetahuan sistematis

Mark Baldwin (1957), mengemukakan: ‘pengetahuan; khususnya pengetahuan dalam arti luhur sebagai hasil dari pelaksanaan proses-proses koqnitif yang terpercaya dan sistematis‘. Soekanto (1986): ‘Ilmu pengetahuan (science) adalah pengetahuan (knowledge) yang tersusun sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran, pengetahuan selalu dapat diperiksa dan ditelaah (dikontrol) dengan kritis oleh setiap orang lain yang ingin mengetahuinya.

Ilmu menunjuk pada kumpulan yang disusun secara sistematis dari pengetahuan yang dihimpun tentang alam semesta yang selalu diperoleh melalui teknik-teknik pengamatan yang objektif. Tidak semua pengetahuan adalah ilmu sebab ilmu hanya terbatas pada pengetahuan yang diperoleh secara sistermatis.

2. Ilmu sebagai Metode Penelitian Pengertian ini menekankan bahwa ilmu pada hakikatnya sebagai metode penelitian. Para ahli yang nengemukakaan hal tersebut diantaranya: a. William J.Goode dalam bukunya Method In Social Research mengemukakan bahwa ilmu adalah suatu metode pendekatan terhadap seluruh dunia pengalaman, yakni dunia yang dapat terkena pengalaman oleh manusia. b. Caraghan delangles dalam bukunya‘‘a guide historical Method‘‘mengemukakan bahwa ilmu pada dasarnya suatu metode untuk menangani masalah. c. Harold H.Titus dalam bukunya ‗‘Living Issues in Philosophy‘‘ mengemukakan bahwa ilmu adalah suatu metode untuk memperoleh pengetahuan yang objektif dan dapat diperiksa kebenarannya.

3. Ilmu sebagai aktivitas penelitian Beberapa tokoh yang berpendapat bahwa ilmu sebagai aktivitas penelitian diantaranya:  The Liang Gie (1999): ‘Ilmu adalah proses membuat pengetahuan‘  Jean Ladriere (1975) : ‘Ilmu dapat dipandang sebagai keseluruhan pengetahuan kita saat ini, atau sebagai suatu aktivitas penelitian, atau sebagai suatu metode untuk memperoleh pengetahuan‘.

 I Charles Singer yang yang dikutip dalam bukunya ‗‘Critical Thinking‘‘ mengemukakan bahwa ilmah adalah proses pembuat pengetahuan .  John Warfield dalam bukunya ‗‘Social Sistem‘‘ mengatakan tetapi ilmu pun dipandang sebagai proses. Pandangan proses ini paling berkaitan dengan perhatian terhadap penyelidikan karena penyelidikan adalah suatu bagian besar dari ilmu sebagai suatu proses .Dengan demikan jelas bahwa ilmu merupakan aktivitas penelitian . Kesimpulan ilmu dipandang sebagai keseluruhan pengetahuan kita saat ini, atau sebagai suatu aktivitas penelitian, atau sebagai suatu metode untuk memperoleh pengetahuan.

B. PENGERTIAN SOSIAL Istilah sosial (social dalam bahasa inggris )dalam ilmu sosil memiliki arti yang berbeda–beda, misalkan istilah sosial dalam sosialialisme dengan istilah bepartemen sosial, jelas keduanya menunjukan makna yang sangat jauh berbeda.Menurut Soekanto apabila istilah sosial pada ilmu sosial mrnunjuk pada objeknya,yaiti masyarakat sosialisme adalah suatu ideologi yang pokok pada prinsip pemilikan umum alat-alat atau produksi dan jasa–jasa bidang ekonomi. Sedangkan istilah sosial pada departemen sosial menunjuk pada kegiatan–kegiatan di lapangan sosial. Artinya kegiatan–kegiatan yang ditunjukan untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat dalam bidang kesejahteraan, sepeti tuna karya,tuna susila,tuna wisma,orang jompo,anak yatim piatu, dan lain-lain. Selain itu Soekanto mengemukakan interpersonal,atau bahwa yang istilah sosial pun berkenaan dengan prilaku

berkaitan

dengan

proses-proses

sosial.Secara

keilmuan,masyarakat yang menjadi objek kajian ilmu-ilmu sosial ,dapat dilihat sebagai suatu yang terdiri dari berbagai segi .Dilihat dari segi ekonomi akan

bersangkut paut dengan paktor produkdi ,distribusi,penggunaan barang-barang serta jasa-jasa .Dari segi politik antaralain berhubungan dengan penggunaan kekuasan dalam masayarakat.Dari segi antropologi budaya lebih menekanka pada masyarakat dan kebudayaanya,dan begitu seterusnya untuk ilmu-ilmu sosial yang lainya,seperti geografi sosial,sejarah,maupun sosiologi. Begitupun tentang pengertian masyarakat (societi)banyak sarjana terdahulu yang mendepinisikan apa itu masyarakat dintaranya:

 Menurut Mac

Iver dan Page mengemukakan bahwa masyarakat adalah

suatu sistem dari kebiasaan dan tata cara, dari wewenang dan kerjasama antara berbagai kelompok dan penggolongan, dari pengawasan tingkah laku serta kebebasan-kebebasan manusia.  Menurut Ralph Linton dalam bukunya yang bejudul ―The Study of Man― mengemukakan bahwa masyarakat merupakan setiap kelompok manusia uang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang di rumuskan dengan jelas.  Menurut Selo Soemarjan Menyatakan bahwa masyarakat adalah yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan. Dari pendapat-pendapat di atas dapat di simpulkan bahwa pengertian masyarakat terdiri atas beberapa unsur. a. Manusia yang hidup bersama b. Bercampur untuk waktu yang lama c. Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama Sedangkan yang merupakan bentuk umum pada proses-proses sosial adalah interaksi sosial, bahkan ahli sosiologi berpendapat bahwa interaksi sosial tersebut merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Berlangsungnya suatu proses interaksi sosial yang di dasarkan pada berbagai faktor, dan menurut Soekanto di sebabkan melalui : 1. Imitasi Mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses interaksi interaksi sosial tersebut. Sebab salah satu peran positifnya adalah bahwa proses imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. 2. Sugesti Berlangsungnya apabila seseorang memberi suatu pandangan atau sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian di terima oleh pihak lain secara emosi. 3. Identifikasi Merupakan kecenderungan-kecenderungan ataupun keinginan-keinginan orang

dalam diri seseorang untuk menjadi identik atau sama dengan orang lain. 4. Simpati

Sebenarnya merupakan suatu proses yang di sebabkan oleh ketertarikan seseorang oleh pihak lain, baik itu sebatas kerjasama, merasa senang dan tertarik karena faktor-faktor yang menyebabkan ia patut di kaguminya, maupun karena merasa adanya keterikatan dengan dirinya.

C. PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN PERKEMBANGAN ILMU-ILMU SOSIAL Istilah ilmu sosial menurut Ralf Dahrendorf seorang ahli sosiologi Jerman dan penulis buku ― class and Class Conflict Industrial Society yang di kenal sebagai pencetus teori konflik Non-Marxis, Merupakan suatu konsef yang ambisius untuk mendefinisikan seperangkat disiplin akademik yang memberikan perhatian pada aspek-aspek kemasyarakatan manusia. Bentuk tunggal ilmu sosial menunjukan sebuah komunitas dan pendekatan yang saat ini hanya di klaim oleh beberapa orang saja ; sedangkan bentuk jamaknya, ilmu-ilmu sosial, mungkin istilah tersebut merupakan bentik yang lebih tepat. Ilmu-ilmu sosial mencakup sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, geografi sosial, politik, bahkan sejarah walaupun di satu sisi ia termasuk ilmu humaniora. Pendapat Bung Hatta mengenai ilmu sosial : 1. Sebagai critical discourse ( wacana kritis ) artinya pada kajian ini membahas tentang adanya yang keabsahannya tergantung pada kesetiaan pada

persyaratan sistem rasionalitas yang kritis dan pada konvensi akademis yang berlaku. 2. Sebagai academic interprise memiliki pengertian ― bagiman mestinya ―. 3. Sebagai applied science artinya bahwa dalm ilmu sosial itu di perlukan untuk mendapatkan atau mencapai hal-hal yang praktis dan berguna entah untuk mewujudkan sesuatu yang di cita-citakan. Contohnya kemakmuran maupun mengurangi atau meniadakn sesutu yang tidak di inginka contohnya kemiskinan. D.METODE ILMIAH Istilah pendekatan menurut Vernon Van Dyke dalam bukunya yang berjudul ―political science‖dikemukakan bahwa suatu pendekatan pada prinsipnya adalah ukuran –ukuran untuk memilih masalah dan data yang berkaitan satu sama lain Hal ini diperjelas oleh Kerlinger bahwa pendekata atau rancangan ilmiah merupakan bentuk sistematis yang khusus dari seluruh pemikiran .

Suatu pendekata dalam menelaah sesuatu dapat dilakukan berdasarkan sudut pandang ataupun tinjauan dari berbagai satu kesatuan karakteristik maupun cabang ilmu seperti sosiologi,Antropologi,geografi ,ekonomi ,politik dan sebagainya. Metode merupakan prosedur yang mewujudkan pla-pola dan tata langkah dalam suatu penelitian ilmiah(the Liang Gie1999) Teknik adalah suatu cara operasional yang seringkali bersipat

rutin,mekanis,atauj spesipik untuk dan menangani data dalam penelitian.sebagai contoh,suatu penelitian tentang gjala-gejala kemasyarakatan dapat menggunakan metode survei.berbagai teknik yang digunakan misalkan

wawancara,observasi,maupun menyebarkan angket . Secara etimologi metide dari bahasa Yunani ―meta‖yang berarti sesudah dan hodos yang berarti jalan Dengan demikian metode merupakan langkah-langkah yang diambil menurut urutan tertentu ,untuk mencapai pengetahuan yang telah dirancang dan dipakai dalam proses memperoleh pengetahuan (Soeprapto 2003:128) Menurut rumusan ―the World Of Science Encyclopedia‖(volume 17:181)metode ilmiah diartikan sebagai prosedur yang dipergunakan oleh ilmuan-ilmuan dalam pencarian sistematis terhadap pengrtahuan baru dan peninjauan kembali

pengetahuan yang ada. Menurut George Kneller (1978 ;118) dalam karyanya ―Science as a Human Endeavor ―mengemukakan bahwa dengan metode ilmiah kami maksudkan struktur rasional dari penyelidikan ilmiah yang hipotesisnya disusun dan diuji . Menurut Arturo Rosenblueth (1970 :1)dalam bukunya‖Mind and Brain‖mengemukakan bahwa metode ilmiah sebagai proswdur dan ukuran yang dipakai oleh ilmuwan-ilmuwan dalam penyusunan dan pengembangan cabang pengetahuan khusus mereka . Menurut Harold titus metode ilmiah sebagai proses-proses dan langkahlangkah yang membuat ilmu-ilmu menghasilkan pengetetahuan . Langkah-langkah metode ilmiah menurut Sheldon J.Lachman diantarnya: 1.Perumusan hipotesis spesipik atau pertanyaan spesifik untuk penyelidikan 2.Perancangan penyelidikan 3.Pengumpulan data 4.penggolongan data dan pengembangan generalisasi 5.pemeriksaan kebenara terhadap hasil-hasil yaitu terhadap data dan generalisasigeneralisasi

Kaplan kebenaran ilmiah itu beragam rentang penomena yang perlu dipelajari,ilmu pun begitu luas dan kompleka.Oleh karena itu membutuhkan strategi penelitian atau inkuiri yang beragam pula antara ilmu-ilmu sosial ,kealaman maupun humaniora.jadi tidak benar jika kita memutlakan apa yang disebut metode ilmiah. Pendapat yang sangat berbeda mengenai metode ilmiah diantaranya: 1.Menurut Gold Stein :sesungguhnya istilah metode ilmiah adalah menyesatkan 2.Menurut Kaplan:Kekhawatiran saya dengan konspsi kesatuan ―metode ilmiah‖hal itu terasa oleh saya sesuatu justifikasi progmatis yang sungguh mengada ada terus menerus analisis logika kita tidak mampu untuk menerima segalanya secara penuh kedalam catatan . Sanggahan-sanggahan tersebut mengingatkan kita untuk tidak tergesa-gesa memutlakan keampuha metode ilmiah sebagaimana dekemukaka sebagian orang. E.KEBENARAN ILMIAH Julie Rord dalam :‖Paradigms and Fairy Tales(1975)‖mengemukakan bahwa istilah kebenaran memiliki 4 arti yang berbeda yang ia simbolkan dalam T1,T2,T3,T4. 1. Kebenaran pertama (T1)adalah kebenaran metafisik,yaitu kebenaran yang paling mendasar dan puncak dari seluruh kebenaran atau basic ultimate truth (Supriadi ,1998:5)oleh karena itu harus diterima apa adanya sebagai suatu given, kebenaran iman dan doktrin-doktrin sbsolut agama. 2. Kebenaran Kedua (T2) adalah kebenaran etik,yaitu yang menunjuk pada perangkat standar moral atau profesional tentang prilaku yang pantas dilakukan termasuk kode etik atau‖Code of Conduct‖ 3. Kebenaran ketiga(T3) kebenaran logis.sesuatu dianggap benar apabila secara ligis atau matematis konsisten dan koheren dengan apa yang telah diakui sebagai sesuatu yang benar (dalam pengertian T3) atau sesuai dengan apa yang benar menurut kepercayaan metafisik. 4. Kebenaran keempat(T4)adalah kebenaran empirik ,yang lazimnya dipercayai ssebagai landasan pekerjaan para ilmuwan dalam melakukan penelitian . Dalam konteks kebenaran ilmiah yang melibatkan subjek(manusia ,knower ,dan observer)dan objek (fakta,realitas,knowen) ,terdapat tiga teori utama

kebenaran,yaitu : 1. Teori korespondensi(Correspondence Theory)teori ini beranggapan bahwa seluruh pernyataan itu benar jika apa yang diungkapkanya itu merupaka fakta,dalam arti adanya suatu kenyataan yang interaksionaj antara teori dengan

realita (Kattsoff,1998:7)Contoh,Jakarta adalah ibu kota Indonesia,dan setelah dicocokan dengan realitanya memang Jakarta adalah ibu kota negara Republik Indonesia. 2. Teori Koherensi(Coherence Theori)yang beranggapan bahwa sesuatu

dianggap benar jika terdapan koherensi atau konsistensi,dalam arti tidak terjadi kontradiktif pada saat bersaman yang ,antara dua atau lebih untuk sederhanakecil kemungkinan

logika.Contoh,pernyataan‖orang

berprilaku swrakah maupun materialistik ―. 3. Teori Pragmatis(Pragmatism Theory),yang beranggapan bahwa kebenaran itu tersimpul pada asfek fungsional secara praktis (Kattsoff,1996:130-131)

BAB 3 STUKTUR DAN PERANAN ILMU

A.PENGERTIAN STRUKTUR ILMU Menurut Joseph J.Schwab dalam tulisanya ―Structur Of The Disciplines Meaning and Significance‖konsep struktur bukanlah konsep yang mudah dipahami hal itu mengacu pada bagian –bagian dari suatu objek dan tata cara yang saling berhubungan .Menurutnya suatu disiplin ilmu adalah bentuk konsepsi yang

membatasi pokok masalah yang diselidiki dari suatu disiplin dan pengawasan atau pengendalian terhadap penelitianya Struktur suatu disiplin ilmu meliputi dua bagian yaitu subtantive conceptual strukture dan syntactial strukture.Subtantive conceptual Struktur adalah konsep-konsep yang menjadi kerangka berfikir dalan meneliti sesuatu .Syntactial Stucture berhubungsn dengan penelitian yang dilakukan oleh disiplin itu.Syntactial Structure menyangkut masalh-masalah jalan mana yang akan ditempuh dalam penelitian?cara mengumpulkan data,cara menguji data, kriteria yang dipakai dalam menetapkan kualitas data,ukuran untuk menentukan bahwa dat yang diperoleh relevan atau mungkin tidak relevan . B.PENGERTIAN DAN PERANAN FAKTA Menurut Oxford Advanced Learners Dictionary of Current

English(2000:449-450)yang dimaksud dengan fakta adalah: 1. Sesuatu yang digunakan untuk mengacu pada situasi tertentu atau khusus 2. Kualiatas atau sifat yang aktual atau dibuat atas dasar fakta-fakta 3. Sesuatu hal yang dikenal sebagai yang benar-benar ada dan terjadi terutama yang dapat dibuktikan oleh bukti yang benar atau dinyatakan benar-benar terjadi . 4. Hal yang terjadi dapay dibuktikan oleh hal-hal yang benar,bukan oleh berbagai hal yang telah ditemukan . 5. Suatu penegasan,pernyatan,atau informasi yang berisi atau

berartimengandung sesuatu yang memiliki kenyataan objektif,dalam arti luas adalah sesuatu yang ditampilkan dengan benar atau salah karena memiliki realitas objektif. Menurut Bachtiar fakta merupakan abstraksi dari kenyataan yang diamati,yang sifatnya terbatas dan dapat diuji kebenaranya secara empiris.

Menurut Sjamsudin fakta adalah erat hubunganya dengan jawaban atas apa,siapa,kapan,di mana dan juga dapat berupa benda-benda yang benar-benar ada dan atau peristiwa yang pernah terjadi pada masa lalu(Sjamsudin ,1996:5) Menurut James A.Bank (977:84)fakta adalah kejadian berbagai hal atau peristawa tertentuyang pada giliranya menjadi data mentah atau pengamatan dari ilmuwan-ilmuwan sosial.

C.PENGERTIAN DAN PERANAN KONSEP

1. Menurut Schwab (1969:12-14)konsep ,erupakan abstraksi,kontruksi logis yang terbentuk dari kesan,tanggapan dan pengalaman kompleks. 2. Menurut James Bank konsep adalah suatu kata abstrak atau kata yang bermanfaat untuk mengklasifikasikan atau menggolongkan suatu kelompok berbagai hal gagasan atau peristiwa. Jenis-jenis konsep menurut Fraenkel: 1. Konsep konjungtif,yaitu konsep yang berfunhsi untuk menghubungkan dari keberadaan dua atau lebih atribut yang semuanya harus

ada(Fraenkel,1980:58) 2. Konsep disjungtif,mencerminkan adanya alternatif-alternatif yang beragam. 3. Konsep relasional,yang memiliki arti mengandung suatu hubungan khusus antara dua atribut maupun lebih yang dinyatakan secara eksplisit dengan bilngan tertentu. 4. Kosep deskriptif,adalah konsep yang menuntut jawaban tentang gambaran suatu benda. 5. Konaep evaluatif,yaitu konssep yang berhubungan dengan pertimbangan baik atau buruk ,salah atau benar,cantik atau jelek. 6. Konsep campuran,yaitu suatu konsep yang tidak hanya memberikan penjelasan tentang suatu karakteristik yang dimiliki oleh benda

tersebut,tetapi juga sekaligus memberikan sikap ataupun penilaian terhadap pernyataan tersebut. Kegunaan konsep bagi kehidupan manusia: 1. Konsep berguna untuk melakukan episiensi dan efektivitas bagi manusia. 2. Melalui konsep itupun adanya klasifikasi atas beberapa individu. 3. Konsep dapat berfungsi untuk mereduksi keperluan yang sering dikatakan berulang uiang terhadap sesuatu kajian yang serupa dan sudah diketahui . 4. Konsep dapat berfungsi memudahkan kita untuk memecahkan masalah. 5. Konsep berguna untuk menjelaskan sesuatu yang dianggap rumit ataupun memerlukan keterangan yang cukup panjang dan rinci. 6. Konsep berguna untuk mengonseptualisasikan sesuatu secara cermat melalui simbol-simbol. 7. Konsep mengandung konotasi negatif dinamakan stereotif 8. Konsep berguna sebagai mata rantai penghubung ataupun katalisator antardisiplin ilmu

D.PENGERTIAN DAN PERANA GENERALISASI Pengertian generalisasi : 1. Generalisasi adalah pernyataan hubungan dua konsep atau lebih 2. Generalisasi merupakan pernyataan tentang hubungan antara konsepkonsep dan berfugsi untuk membantu dalam memudahkan pemahaman suatu maksud pernyataan itu 3. Generalisasi adlah kesimpulan yang ditarik secara induktif mengenai dua hubungan fakta-fakta atau lebih yang melahirkan teori 4. Generalisasi merupakan pernyataan yang menjelaskan hubungan antara konsep-konsep yang berfungsi sebagai penbantu berfikir dan memahami Tingkatan generalisasi: 1. High Order Generalization yaitui generalisasi yang pemakaianya secara universal. 2. Ntermediat Level Generalization yaitu generalisasi yang digunakan

dikawasan tertentu dan kebudayaan tertentu 3. Law order Generalization yaitu generalisasi yang digunakan atas data dari dua data atau tiga sampel kecil misalkan tentang kelompok kota pada suatu kawasan tertentu Tipe-tipe generalisasi: 1. Generalisasi deskriftip yaitu suatu generalisasi yang hanya mendeskripsikan suatu hubungan yang ada 2. Generalisasi Kausal ,yaitu suatu generalisasi yang menjelaskan hubungan sebab akibat terjadi suatu peristiwa 3. Generalisasi korelatif,yaitu generalisasi yang menunjukan adanya hubungan satu sama lain 4. Generalisasi kondisional,yaitu suatu generalsasi yang menyarankan apa yang akan terjadi jika seandainya suatu khusus dilaksanakan dengan drmikian adanya suatu persyaratan khusus E.PENGERTIAN DAN PERANAN TEORI Teori adalah suatu suatu preposisi dari masalah yang mengandung variable,hipotesis,dan saumsi berdasarkan mertode keilmuwan. Unsur-unsur teori menurut Capbell: 1. Definisi,memberitahu kita bagaimana prnulis akan memakai istilah-istilah kuncinya

2. Deskripsi,merupakan sebuah kegiatan yang tanpa ajhir dan selalu belum selesai serta tanpa batas. 3. Penjelasan, harus melampaui makna deskripsi denga mengatakan hal-hal apakah yang dapat memberikan pada kita suatu pemahaman tertentu mengenai mengapa suatu kenyataan seperti itu. Fungsi teori menurut Suppes dan Kerling: 1. Berguna sebagai kerangka kerja untuk melakukan penelitia 2. Teori memberika suatu keragka kerja bagi pengorganisasian butir-butir informasi tertentu. 3. Teori mengemukakan kompleksitas peristiwa-peristiwa yang tamoaknta sederhana. 4. Teori mengorganisasikan kembalio pengalaman –pengalama sebelumnya. 5. Teori berfunhsi untuk melakukan prediksi kontrol. BAB 4 SOSIOLOGI

A.

PENGERTIAN, KARAKTERISTIK, DAN RUANG LINGKUP SOSIOLOGI Secara terminologi Sosiologi berasal dari bahasa Yunani, yakni kata socius

dan logos. Socius yang berarti kawan, berkawan, ataupun bermasyarakat. Sedangkan logos berarti ilmu atau dapat juga berbicara tentang sesuatu. Dengan demikian, secara harfiah istilah Sosiologi dapat diartikan ilmu tentang masyarakat (Spencer dan Inkeles, 1982: 4; Abdulsyani, 1987: 1). beberapa definisi Sosiologi menurut beberapa ahli: 1. Pitirim Sorokin (1928: 760 – 761) mengemukakan bahwa Sosiologi adalah suatu ilmu tentang hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala – gejala sosial, contohnya antara gejala ekonomi dengan non ekonomi, seperti agama, gejala keluarga dengan moral, hukum dengan ekonomi, dan sebagainya. 2. William Ogburn dan Meyer F. Nimkoff (1959: 12 – 13) berpendapat bahwa Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial. 3. Roucekj dan Warren (1962: 3) berpendapat bahwa Sosiologi adalah ilmu tentang hubungan antara manusia dalam kelompok – kelompoknya. Di bawah ini terdapat

4. J.A.A. van Doom dan C.J. Lammers (1964: 24) mengemukakan bahwa Sosiologi ilmu tentang struktur – struktur dan proses – proses kemasyarakatan yang bersifat stabil. 5. Meta Spencer dan Alex Inkeles (1982: 4) mengemukakan bahwa Sosiologi ilmu tentang kelompok hidup manusia. 6. David Popenoe (1983: 107 – 108) berpendapat bahwa Sosiologi adalah ilmu tentang interaksi manusia dalam masyarakat sebagai suatu keseluruhan. 7. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (1982: 14) menyatakan bahwa Sosiologi adalah ilmu tentang struktur sosial dan proses –proses sosial, termasuk perubahan – perubahan sosial. Selanjutnya, menurut mereka bahwa struktur sosial keseluruhan jalinan antara unsur – unsur sosial yang pokok, yaitu kaidah – kaidah sosial (norma – norma sosial), lembaga – lembaga sosial, kelompok – kelompok, serta lapisan sosial. Sedangkan proses sosial adalah pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama, umpamanya pengaruh timbal balik antara segi kehidupan ekonomi dengan segi kehidupan politik, kehidupan hukum dengan agama, dan sebagainya. Dengan demikian, Sosiologi dapat didefinisikan sebagai disiplin ilmu tentang interaksi sosial, kelompok sosial, gejala – gejala sosial, organisasi sosial, struktur sosial, proses sosial, mapun perubahan sosial. Objek kajian sosiologi adalah masyarakat dan perilaku sosial manusia dengan meneliti kelompok – kelompoknya. Kelompok tersebut mencakup keluarga, etnis atau suku bangsa, komunitas pemerintahan, dan berbagai organisasi sosial, agama, politik, budaya, bisnis, dan organisasi lainnya (Ogburn dan Nimkoff, 1959: 13; Horton dan Hunt, 1991: 4). Sosiologi pun mempelajari perilaku dan interaksi kelompok, menelusuri asal usul pertumbuhannya, serta menganalisis pengaruh kegiatan kelompok terhadap para anggotanya. Dengan demikian, sebagai objek kajian sosiologi adalah masyarakat manusia yang dilihat dari sudut hubungan antarmanusia dan proses – proses yang timbul dari hubungan manusia dalam masyarakat. Jika ditelaah lebih lanjut, tentang karakteristik sosiologi menurut Soekanto (1986: 17) mencakup hal – hal berikut. 1. Sosiologi merupakan bagian dari ilmu sosial, bukan merupakan bagian ilmu pengetahuan alam maupun kerohanian.

2. Sosiologi bukan merupakan disiplin yang normatif, melainkan suatu disiplin yang bersifat kategoris. Artinya, sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi saat ini, dan bukan mengenai apa yang semestinya terjadi atau seharusnya terjadi. Dengan demikian, sosiologi dapat dikategorikan sebagai ilmu murni (pure science), bukan merupakan ilmu terapan (applied science). Sebagai ilmu murni sosiologi bukan disiplin yang normatif. Artinya, sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi pada saat ini, serta bukan mengenai apa yang terjadi seharusnya terjadi. 3. Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian – pengertian dan pola – pola umum (nomotetik). Sosiologi mencari apa yang menjadi prinsip – prinsip atau hukum – hukum umum dari interaksi antarmanusia individu maupun kelompok dan perihal sifat hakiki, bentuk, isi, struktur, maupun proses dari masyarakat manusia. 4. Sosiologi merupakan ilmu sosial yang empiris, faktual, dan rasional. 5. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak, bukan tentang ilmu pengetahuan yang konkret. Artinya, bahan kajian yang diperhatikan dalam sosiologi adalah bentuk – bentuk dan pola – pola peristiwa dalam masyarakat, dan bukan wujudnya tentang masyarakat yang konkret. 6. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang menghasilkan pengertian – pengertian dan pola – pola umum. Sosiologi sebagai ilmu yang memfokuskan pada kajian pola – pola interaksi manusia, dalam perkembangannya sering kali lebih banyak dihubungkan dengan kebangkitan modernitas. Menurut Zygmunt Bauman (2000: 1023) keterkaitan tersebut didasarkan beberapa alasan. 1. Mungkin satu – satunya denominator umum dari sejumlah besar mazhab pemikiran dan strategi riset yang mengklaim mengandung sumber sosiologis adalah fokusnya pada masyarakat. 2. Fenomena modern lainnya yang khas adalah ketegangan konstan

antarmanusia yang muncul dari latar belakang tradisional dan komunal, yang berubah menjadi individu dan menjadi subjek tindakan otonom, serta masyarakat sebagai batasan sehari – hari terhadap tindakan dari kegiatan individu. Sosiologi merupakan disiplin ilmu yang memiliki cakupan luas dan banyak cabang yang dipersatukan, meskipun tidak terlalu kuat oleh strategi hermeneutika

dan ambisi untuk mengoreksi kepercayaan umum. Garis batas bidang tersebut mengikuti divisi fungsional serta lembaga di dalam organisasi masyarakat yang menjawab tuntutan efektif dari bidang manajemen yang telah mapan. Jadi, spesialisasi bentuk pengetahuan terakumulasi dengan fokus pada penyimpangan dan kebijakan korektif atau hukuman, politik dan institusi politik, tentara dan perang, ras dan etnis, perkawinan dan keluarga, pendidikan dan media kultural, teknologi informasi, agama dan institusi agama, industri dan pekerjaan, kehidupan urban dan persoalan –

persoalannya, serta kesehatan dan kedokteran (Bauman, 2000: 1032).

Secara sistematis, ruang lingkup sosiologi dapat dibedakan menjadi beberapa subdisiplin sosiologi, seperti sosiologi pedesaan (rural sociology), sosiologi industri (industrial sociology), sosiologi perkotaan (urban sociology), sosiologi medis (medical sociology), sosiologi wanita (woman sociology), sosiologi militer (military sociology), sosiologi keluarga (family sociology), sosiologi pendidikan (educational sociology), sosiologi medis (medical sociology), dan sosiologi seni (sociology of art). 1. Sosiologi Pedesaan (Rural Sociology) Jurusan yang pertama kali mengkhususkan sosiologi pedesaan muncul di Amerika Serikat tahun 1930-an, kemudian muncul beberapa Akademi Land Grant yang dibentuk dalam wilayah kewenangan Departemen Pertanian Amerika Serikat untuk meneliti masalah pedesaan dan melatih ahli sosiologi serta ekstensionis pedesaan untuk kerjasama lembaga – lembaga pemerintah beserta organisasi petani (Hightower, 1973). Adapun kerangka yang paling sering digunakan untuk mengenali berbagai temuan empiris adalah gagasan tentang suatu ―kontinum pedesaan – perkotaan‖, yang berusaha menjelaskan berbagai pendekatan pola sosial dan kultural dengan mengacu kepada tempat masyarakat tersebut di sepanjang kontinum yang bergerak dari tipe pemukiman yang paling kota (the most urban) hingga yang paling desa (the most rural). Salah satu aspek yang paling mengganggu dalam sejarah sosiologi pedesaan adalah kegagalan ilmu ini mengembangkan analisis sistematis tentang produksi pertanian, pada tingkat perusahaan maupun struktur agraria(Newby, 1980). Sehingga nasib sosiologi pedesaan saat ini terperangkap dalam sejumlah kontroversi dan harapan. Sepanjang sejarahnya, sosiologi pedesaan tidak pernah dapat secara efektif menyatakan statusnya sebagai disiplin ilmu tersendiri yang

memiliki objek penyelidikan dan metode penjelasan yang khusus. Jika tradisi awal mengasumsikan bahwa ada perbedaan menyolok antarlokasi pedesaan yang membuat lokasi – lokasi itu memiliki perbedaan dalam hal sosial dan budaya dibandingkan dengan bentuk – bentuk kehidupan sosial perkotaan. Namun, akhirnya makin banyak peneliti yang berpandangan bahwa lokasi pedesaan hanya sekadar entitas empiris atau geografis tempat seseorang bekerja. Keadaan desa tidak mensyaratkan teori atau implikasi metodologis khusus untuk penelitian, tetapi sangat tergantung pada jenis masalah teoretis dan metodologis yang dikandungnya, dan tidak semata – mata didasarkan pada kenyataan yang sama – sama memiliki pengalaman pedesaan (Long, 2000: 942). 2. Sosiologi Industri (Industrial Sociology) Kelahiran bidang ini mendapat inspirasi dari pemikiran – pemikiran Karl Marx, Emile Durkheim, dan Max Weber, walaupun secara formal, sosiologi industri lahir pada kurun waktu antara Perang Dunia I dan II, serta secara matang tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an (Grint, 2000: 488). Dalam perkembangannya, sosiologi industri sejak tahun 1980-an terdapat empat tema baru yang muncul dari riset – riset sosiologi industri. a. Sosiologi industri yang hanya menekankan gaya tradisional yang patriarkat, memberikan peluang munculnya lini baru, yakni feminisme dalam riset. b. Runtuhnya komunisme di Eropa Timur, adanya globalisasi industri, pergeseran dari Fordisme (keadaan ekonomi seusai perang) menuju post Fordisme, perkembangan – perkembangan teknologi pengawasan dan bangkitnya

individualisme tanpa ikatan tahun 1980-an, mengantarkan bangkitnya minat pada peran norma dan dominasi diri yang sering kali dikaitkan dengan gagasan – gagasan Foulcault dan tokoh pascamodernis lainnya (Reed dan Hughes, 1992). c. Perkembangan teknologi informasi dan aplikasi – aplikasinya di bidang manufaktur serta perdagangan, telah mendorong bangkitnya kembali minat untuk menerapkan gagasan – gagasan konstruktivis sosial dari sosiologi ilmu pengetahuan serta teknologi ke sosiologi kerja dan industri (Grint dan Woolgar, 1994). d. Asumsi bahwa pekerjaan dan produksi merupakan kunci identitas sosial tentang argumen – argumen bahwa pola – pola konsumsi merupakan sumber identitas individual (Hall, 1992: 114). 3. Sosiologi Medis (Medical Sociology)

Sosiologi medis merupakan bagian dari sosiologi yang kajiannya memfokuskan pada pelestarian ilmu kedokteran, khususnya pada masyarakat modern (Amstrong, 2000: 643). Bidang ini berkembang pesat pada sejak tahun 1950-an sampai sekarang. Setidaknya ada dua alasan yang mendorong pesatnya perkembangan bidang ini. a. Berhubungan dengan asumsi – asumsi dan kesadaran bahwa masalah yang terkandung dalam perawatan kesehatan masyarakat modern adalah sebagai bagian integral masalah – masalah sosial. b. Meningkatkan minat terhadap pengobatan dalam aspek – aspek sosial dari kondisi sakit (illness), terutama berkaitan dengan psikiatri (berhubungan dengan penyakit jiwa), pediatri (kesehatan anak), praktik umum (pengobatan keluarga), geriatrik (perawatan usia lanjut), dan pengobatan komunitas (Amstrong, 2000: 643 – 644). Pada awal kelahirannya yang dominan adalah perspektif medis, psikologi, dan psikologi sosial. Dalam perspektif medis, terutama pada epidemiologi sosial yang berusaha mengidentifikasi peran dari faktor – faktor sosial terhadap berjangkitnya penyakit menular yang dilakukan oleh para ahli medis dan sosiologi. Hasil kajian awal menunjukkan bahwa terdapat pengaruh dari struktur sosial (kelas sosial) terhadap etiologi dari penyakit psikiatris maupun organis (Amstrong, 2000: 644). Dalam perkembangan selanjutnya, khususnya tahun 1990-an, minat terhadap studi detail kehidupan sosial pun dilibatkan yang meneliti ekspresi dalam pengalaman sakit pasien. 4. Sosiologi Perkotaan (Urban sociology) Sosiologi urban atau perkotaan adalah studi sosiologi yang menggunakan berbagai statistik di antara populasi dalam kota – kota besar. Kajiannya terutama dipusatkan pada studi wilayah perkotaan di mana zona industri, perdagangan, dan tempat tinggal terpusat. Sosiologi perkotaan baru dimulai di Eropa, perintisannya sejak tahun 1920-an dan 1930-an walaupun resminya sejak awal tahun 1970-an yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah khususnya Amerika Serikat. Hal itu pun memengaruhi studi masyarakat lainnya sampai ke kota – kota besar di Jepang pada tahun 1970an. Selama dua puluh tahun sejak pengenalannya dari Barat, dapat dibagi menjadi tiga tahapan.

a. Periode dari 1977 – 1985, ketika sosiologi urban Prancis, terutama sekali teori Manuael Castell pernyataannya sangat berpengaruh. b. Dari 1986 – 1992, memusatkan pada teori pergerakan sosial dan konsep global di kota besar dalam suatu konteks pembaruan, terutama kota – kota di Jepang. c. Dari 1992 sampai sekarang, ditandai oleh suatu perubahan bentuk sosiologi perkotaan dalam suatu teori ruang kemasyarakatan di bawah globalisasi yang telah begitu besar memengaruhi pekerjaan David Harvey (Kazutaka

Hashimoto, 2002). Beberapa tema yang relevan dalam kajian sosiologi urban tersebut, di antaranya populasi, geopolitik, ekonomi, dan lain – lain. 5. Sosiologi Wanita (Woman Sociology) Lahir dan berkembangnya sosiologi wanita, di mana sejarah perintisannya sejalan dengan perkembangan gerakan feminisme yang dipelopori oleh Mary Wollstonecraft dalam bukunya A Vindication of The Right of Woman (1779), kendati akar – akar historisnya dapat dilacak sejak lahirnya sosiologi sebagai disiplin akademik. Dilihat dari perspektif pendorong teori sosiologi wanita tersebut, terdiri atas tiga kelompok kontributor pemikiran sosiologi utama yang terpilih. a. Kelompok teoretisi positivis atau fungsionalis, menegaskan bahwa tatanan alamiah dominasi laki – laki sebagai suatu perbedaan terhadap argumen – argumen mengenai hak – hak kaum wanita. b. Kelompok para teoretisi konflik, melukiskan sistem – sistem penindasan yang secara sistematis membatasi kaum wanita. c. Kelompok altenatif, yakni kelompok aktivis karya sosial dan interaksionis. 6. Sosiologi Militer (Military Sociology) Bidang kajian ini menyoroti angkatan bersenjata sebagai suatu organisasi bertipe khusus dengan fungsi sosial spesifik (Bredow, 2000: 664). Fungsi – fungsi tersebut bertolak dari suatu tujuan organisasi keamanan dan sarana – sarananya, kekuatan, serta kekerasan. Sebenarnya, masalah – masalah seperti itu sudah lama didiskusikan oleh para sosiolog, seperti August Comte maupun Herbert Spencer. Akan tetapi, secara formal studi sosiologi militer tersebut baru dimulai selama Perang Dunia II. Sosiologi militer tersebut berkembang pesat khususnya di Amerika Serikat, yang menurut Bredow (2000: 665), terdapat lima bidang utama kajian sosiologi militer.

a. Problem organisasi internal yang menganalisis proses – proses dalam kelompok kecil dan ritual militer dengan tujuan untuk mengidentifikasi problem disiplin dan motivasi, serta menguraikan cara – cara subkultur militer dibentuk. b. Problem organisasional internal dalam pertempuran, di mana dalam hal ini dianalisis termasuk seleksi para petinggi militer, kepangkatan, dan evaluasi motivasi pertempuran. c. Angkatan bersenjata dan masyarakat yang mengkaji tentang citra profesi yang berkaitan dengan dampak perubahan sosial dan teknologi, profil rekrutmen angkatan bersenjata, problem pelatihan dan pendidikan tentara, serta peran wanita dalam angkatan bersenjata. d. Militer dan politik. Dalam hal ini, dianalisis ada suatu perbandingan bahwa pada demokrasi Barat rriset militer, terfokus pada kontrol politik terhadap jaringan militer, kepentingan ekonomi, dan administrasi lainnya. Namun, bagi negara – negara berkembang, memfokuskan berbagai sebab dan konsekuensi dari kudeta militer yang diperankannya dengan membawa atribut – atribut pembangunan dan Praetorisme (bentuk yang biasanya diterapkan oleh militerisme negara berkembang). e. Angkatan bersenjata dalam sistem internasional. Dalam hal ini, dianalisis tentang aspek – aspek keamanan nasional dan internasional, disertai peralatan atau perlengkapan dan pengendaliannya, serta berbagai operasi pemeliharaan perdmaian internasional. 7. Sosiologi Keluarga (Family Sociology) Mempelajari pembentukan dan perkembangan keluarga, bentuk keluarga, fungsi dan struktur keluarga, arah perkembangan keluarga pada masa

mendatang,permasalahanyang dihadapi keluarga serta penyelesaiannya, masalah penyimpangan hubungan dengan sosialisasi, disorganisasi keluarga, dan masalah keluarga berencana. Mencakup hubungan keluarga dengan sistemsosial lainnya, seperti sistem pendidikan, ekonomi, pemerintahan, hubungan keluarga dengan sistem nilai dan organisasi lainnya, serta implikasinya terhadap anggota keluarga. Pendekatan sosiologis dalam melihat keluarga, peranan, interaksi, danfungsi keluargadalamera modernisasi maupun pembangunan (Goode, 2002: 37). 8. Sosiologi Agama Sosiologi agama merupakan studi sosiologis yang mempelajari studi ilmu budaya secara empiris, profan, dan positif yang menuju kepada praktik, struktur

sosial, latar belakang historis, pengembangan, tema universal,dan peran agama dalam masyarakat (Goddijn, 1966: 36). Para ahli sosiologi agama mencoba untuk menjelaskan efek masyarakat itu pada agama maupun efek agama terhadap masyarakat. Dengan kata lain, terdapat hubungan yang bersifat dialektis antara keduanya, dalam kaitannya dengan agama ini terutama tertuju pada studi praktis, struktur sosial, latar belakang historis, perkembangan, tema universal, dan peran agama dalam masyarakat (Wikipedia, 2002). Dari definisi di atas, dapat dikemukakan bahwa sosiologi agama merupakan cabang dari sosiologi umum yang bertujuan untuk mencari keterangan ilmiah tentang masyarakat agama khususnya. 9. Sosiologi Pendidikan (Educational Sociology yang Kemudian Menjadi Sociology of Education) Merupakan bidang kajian sosiologi yang perintisannya selalu dikaitkan dengan sosiolog pendidikan bernama Lester Frank Ward pada tahun 1883, yang menegaskan bahwa untuk memperbaiki masyarakat diperlukan pendidikan

(Ballantine, 1983: 11). Selanjutnya, Ward menegaskan bahwa perbedaan kelas yang terjadi dalam masyarakat bersumber kepada perbedaan pemilikan kesempatan, terutama kesempatan dalam memperoleh pendidikan. Sebab perbedaan pemilikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan tersebut mengarah kepada monopoli pemilikan sumber – sumber sosial maupun keadilan. Pada abad ke-20, muncul semangat yang kuat untuk mendirikan sebuah cabang sosiologi yang dinamakan educational sociology (Brookover dalam Pavalko, 1976: 6). Perkembangan ternyata bidang baru tersebut sangat pesat, hal ini terlihat pada tahun 1914, khususny di Amerika Serikat telah 14 universitas yang mengadakan program perkuliahan bidang tersebut, di mana bidang educational sociology mengandalkan pada problem solving sosial sebagai metodenya (Adiwikarta, 1988: 2). Timbul ketidakpuasan atas educational sociology tersebut dari sosiolog lainnya, terutama Robert Angell terhadap nama subdisiplin itu, maupun terhadap metodenya sehingga pada tahun 1928, muncul istilah baru, yaitu sociology of education. Bagi Angell, sociology of education, ia tidak perlu menjanjikan jawaban sosiologis untuk mengatasi permasalahan sosial yang dihadapi dunia pendidikan. Bidang ini cukup bertugas untuk melakukan berbagai riset dan menjadikan institusi pendidikan sebagai sumber data ilmiah. Menurut Brookover, bidang – bidang kajian materi sociology of education tersebut mencakup (a) hubungan sistem pendidikan dengan sistem sosial lain;

(b) hubungan sekolah dengan komunitas sekitarnya; (c) hubungan antarmanusia dalam sistem pendidikan; (d) pengaruh sekolah terhadap perilaku anak didik 10.Sosiologi Seni Istilah sosiologi seni (sociology of art) digunakan dari sosiologi berbagai seni (sociology of art) atau soiologi seni dan literatur (sociology of art and literature). Sedangkan, sosiologi seni visual relatif jarang dikembangkan dibandingkan sosiologi literatur, drama, maupun film. Implikasinya, sifat generik dari bidang kajian ini mau tidak mau menimbulkan kesulitan dalam analisisnya karena tidak selalu terdapat hubungan linear antara musik dan novel dengan konteks atau politiknya (Wolff, 2000: 41). Namun demikian, sosiologi seni dapat dikatakan sebagai wilayah kajian yang cair karena di dalamnya tidak ada suatu model analisis atau teori yang dominan. B. PENDEKATAN, METODE, TEKNIK, ILMU BANTU, DAN JENIS PENELITIAN 1. Pendekatan Walaupun sosiologi di awal kelahirannya pada abad ke-19 sangat dipengaruhi oleh pemikiran – pemikiran yang bersifat positivistik, khususnya bagi pendirinya Auguste Comte, namun dalam pendekatan sosiologi tidaklah absolut bersifat kuantitatif, melainkan juga dapat menggunakan pendekatan kualitatif (Soekanto, 1986: 36). Dalam pendekatan kuantitatif, sosiologi mengutamakan bahan dan keterangan dengan angka sehingga gejala – gejala yang ditelitinya dapat diukur dengan mempergunakan skala, indeks, tabel, dan formula yang menggunakan statistik. Sedangkan dalam pendekatan kualitatif, sosiologi selalu dikaitkan dengan epistemologi interpretatif dengan penekanan pada makna – makna yang terkandung di dalamnya atau yang ada di balik kenyataan yang teramati.

2. Metode Para ahli sosiologi dalam penelitiannya banyak menggunakan beberapa metode penelitian. a. Metode Deskriptif Metode ini sering disebut bagian metode empiris yang menekankan pada kajian masa kini. Secara sngkat, metode deskriptif ini adalah suatu metode yang berupaya untuk mengungkap pengejaran atau pelacakan pengetahuan. Metode

tersebut dirancang untuk menemukan apa yang sedang terjadi, tentang siapa, di mana, dan kapan. Dengan demikian, dalam metode ini pun termasuk metode survei dengan jumlah sampel yang begitu banyak untuk mengungkap dan mengukur sikap sosial maupun politik, seperti yang dirintis George Gallup dalam The Literary Digest (1936). Dalam metode tersebut, pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan pertanyaan – pertanyaan yang disusun melalui angket (kuesioner) terhadap responden untuk mengukur pendapat atau tanggapan publik tentang sesuatu yang diteliti (Bailey, 1982: 110; Spencer dan Inkeles, 1982: 32). b. Metode Eksplanatori Metode ini pun merupakan bagian metode empiris. Popenoe (1983: 28) mengemukakan bahwa jika saja dalam studi deskriptif lebih banyak bertanya tentang apa, siapa, kapan, dan di mana maka dalam studi eksplanatori lebih banyak menjawab mengapa dan bagaimana. Oleh karena itu, metode ini bersifat menjelaskan atas jawaban dari pertanyaan ―mengapa‖ dan ―bagaimana‖. c. Metode Historis Komparatif Metode ini menekankan pada analisis atas peristiwa – peristiwa masa silam untuk merumuskan prinsip – prinsip umum, yang kemudian digabungkan dengan metode komparatif, dengan menitikberatkan pada perbandingan antara berbagai masyarakat beserta bidangnya untuk memperoleh perbedaan dan persamaan, serta sebab – sebabnya. d. Metode Fungsionalisme Metode ini bertujuan untuk meneliti fungsi lembaga – lembaga kemasyarakatan dan struktur sosial dalam masyarakat. e. Metode Studi Kasus Metode studi kasus merupakan suatu penyelidikan mendalam dari suatu individu, kelompok, atau institusi untuk menentukan variabel itu, dan hubungannya di antara variabel memengaruhi status atau perilaku yang saat itu menjadi pokok kajian (Fraenkel dan Wallen, 1993: 548). f. Metode Survei Penelitian survei adalah salah satu bentuk dari penelitian yang umum dalam ilmu – ilmu sosial.

3. Teknik Pengumpulan Data

Beberapa teknik pengumpulan data yang banyak digunakan dalam kajian sosiologi, di antaranya adalah sosiometri, wawancara, observasi,dan observasi partisipan. a. Sosiometri Dalam sosiometri berusaha meneliti masyarakat secara kuantitatif dengan menggunakan skala dan angka untuk mempelajari hubungan antarmanusia dalam suatu masyarakat. Bidang ini merupakan bidang keahlian psikologi yang mempelajari, mengukur, dan membuat diagram hubungan sosial yang ada pada kelompok kecil (Horton dan Hunt, 1991: 235). b. Wawancara atau Interview Teknik ini adalah situasi peran antarpribadi yang bertemu muka (face to face) ketika seseorang, yakni pewawancara mengajukan pertanyaan – pertanyaan yang dirancang untuk memperoleh jawaban yang relevan dengan masalah penelitian kepada seseorang yang diwawancarai atau responden (Supardan, 2004:159). c. Observasi Observasi adalah pengamatan yang diperoleh secara langsung dan teratur untuk memperoleh data penelitian. d. Observasi Partisipan Bentuk pengamatan yang menyeluruh dari semua jenis metode atau strategi (Patton, 1980). Dalam hal ini, peneliti turut serta dalam berbagai peristiwa dan kegiatan sesuai dengan yang dilakukan oleh subjek penelitian.

4. Ilmu Bantu Beberapa ilmu bantu yang sering digunakan dalam sosiologi, seperti statistik, psikologi, etnologi, arkeologi, dan antropologi, di samping ilmu – ilmu sosial lainnya, seperti sejarah, ekonomi, antropologi, politik, hukum, maupun geografi. a. Statistik Statistik sangat diperlukan dalam sosiologi terutama dalam perhitungan – perhitungan yang menyangkut pendekatan kuantitatif agar hasil – hasil penelitiannya lebih valid, akurat, dan terukur. b. Psikologi Psikologi pun sangat diperlukan dalam kajian sosiologi karena dalam psikologi dapat diperoleh keterangan, baik latar belakang seseorang

berperilaku maupun proses – proses mentl yang diperlukan keterangan – keterangannya. c. Etnologi Etnologi adalah ilmu tentang adat istiadat suatu bangsa. Ilmu tersebut sangat diperlukan dalam sosiologi karena menyangkut tradisi – tradisi yang berkembang pada bangsa tersebut. Oleh karena itu, etnologi sering disebut juga sosial antropologi (Shadily, 1984: 20). d. Arkeologi Arkeologi adalah ilmu tentang peninggalan ataupun kebudayaan klasik dari suatu bangsa yang telah silam. e. Antropologi Antropologi telah memasuki kajian kelompok maupun etnis atau ras masyarakat kota ataupun yang lebih maju. Maksud dari hasil penelitian bidang antropologi adalah untuk lebih mudah memahami tentang beberapa keunikan secara ideografis serta memberikan pengertian yang mendalam mengenai masyarakat modern yang lebih luas dan kompleks. 5. Jenis Penelitian Sosiologi Dalam penelitian sosiologi (Shadily, 1984: 50 – 52), setidaknya kita mengenal tiga macam penelitian sosiologi, yakni penelitian lengkap, penelitian fact finding, dan penelitian interpretasi kritis. a. Penelitian Lengkap b. Penelitian Fact Finding c. Penelitian Interpretasi Kritis C. KEGUNAAN SOSIOLOGI Kegunaan sosiologi secara praktis dapat berfungsi untuk mengetahui, mengidentifikasi, dan mengatasi problema sosial (Soekanto, 1986: 339 – 340). Adapun beberapa problema sosial tersebut jika dilihat fokus kajiannya secara makro dapat dibedakan berdasarkan bidang – bidang keilmuannya. Dari sisi fokus kajian mikro, sosiologi juga berfungsi dalam memberikan informasi untuk mengatasi masalah – masalah keluarga, seperti disorganisasi keluarga.

D. SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU YANG NYATA (OBVIOUS) Banyak orang sering memperdebatkan tentang sifat ilmu sosiologi itu. Tidak sedikit yang mengemukakan bahwa sosiologi sebagaimana layaknya ilmu sosial,

tidak jauh berbeda dengan ilmu – ilmu sosial lainnya. Akan tetapi, di balik itu semua tampak juga yang menekankan bahwa jika sosiologi ingin tetap merupakan sebuah ilmu pengetahuan maka harus merupakan suatu ilmu pengetahuan yang jelas nyata (Popenoe, 1983: 5). Sosiologi sebagai science of the obvious hanya dapat dilakukan melalui kajian – kajian yang penuh kehati – hatian dan objektif, bahwa kita dapat mengetahui dengan penuh percaya diri dalam menjawab banyak pertanyaan tentang tingkah laku manusia dan masyarakat kita. E. SEJARAH PERKEMBANGAN SOSIOLOGI Sosiologi yang lahir tahun 1839, berasal dari kata Latin socius yang berarti kawan, dan logos yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti kata atau berbicara. Dengan demikian, sosiologi berarti berbicara mengenai masyarakat. Bagi Comte sosiologi merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan hasil terakhir dari perkembangan ilmu pengetahuan. Tokoh ahli kemasyarakatan dari Inggris, yaitu Herbert Spencer (1820 – 1830), merupakan tokoh yang pertama – tama menulis tentang masyarakat atas dasar data empiris yang konkret dan dituangkan dalam bukunya yang berjudul Principles of Sosiology. Ia mengemukakan bahwa kunci memahami gejala sosial atau gejala alamiah itu adalah hukum evolusi universal (Spencer, 1967). Sosiologi berkembang dengan pesatnya pada abad ke-20, khususnya di Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat, walaupun arah perkembangan dari ketiga negara tersebut berbeda– beda. Untuk perkembangan sosiologi di Inggris, walaupun dipopulerkan oleh John Stuart Mill dan Herbert Spencer, ternyata sosiologi kurang berkembang pesat di sana, dan hal ini berbeda dengan di Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat (Soekanto, 1986:4). Nama – nama,seperti Auguste Comte dan Emile Durkheim (Prancis), Herbert Spencer (Inggris), Karl Marx, Manheim, Max Weber, Georg Simmel, Ralf Dahrendorf (Jerman), Vilfredo Pareto (Italia), Pitirim Sorokin (Rusia), Charles Horton Cooley, Talcot Parsons, George Herbert Mead, Lester F.Ward, Erving Goffman, Lewis Coser, Randall Collins (Amerika Serikat), beserta tokoh sosiolog lainnya yang terkemuka dalam perkembangan sosiologi di Eropa dan Amerika. Di Indonesia, walaupun secara formal sebelum kemerdekaan belum

berkembang sosiologi sebagai ilmu pengetahuan, namun menurut Selo Soemardjan banyak diantara para pujangga dan pemimpin – pemimpin kita yang telah

memasukkan unsur – unsur sosiologi dalam ajaran – ajarannya (1965). Rechtshogeschool atau Sekolah Tinggi Hukum yang berkedudukan di Jakarta merupakan lembaga perguruan tinggi di Indonesia yang pertama kali memberikan kuliah – kuliah sosiologi sebelum meletusnya Perang Dunia !!.begitu pun yang mengajar bukan sarjana – sarjana sosiologi, tetapi lebih bersifat filsafat sosial dan teoretis berdasarkan buku – buku karya Alfred Vierkandt, Lepold von Wise Steinmezt, dan Bierens de Haan (Soemardjan, 1965; Soekanto,1986: 43

HUBUNGAN SOSIOLOGI DENGAN ILMU SOSIAL LAINNYA 1. Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Ekonomi Hubungan antara ekonomi dan sosiologi bahwa ekonomi yang merupakan basis perilaku sosial yang ikut menentukan tipe dan bentuk interaksi mereka. Para ahli sosiologi mengakui bahwa ekonomi dan material itu memiliki pengaruh atas minat serta motivasi kerja pada masyarakat (Popenoe, 1983: 7). 2. Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Politik Ilmu politik memusatkan perhatiannya pada pemerintah dan penggunaan kekuatan politis. Para akademisi melihat ilmu politik terutama dari gagasan di belakang sistem pemerintah pada operasi proses politik itu, begitu pun para ahli sosiologi. Pada sisi lain, para ahli sosiologi menjadi lebih tertarik pada pertanyaan perilaku politik, seperti alasan orang – orang ikut serta berpolitik bergabung dalam pergerakan politik atau mendukung isu – isu politik, dan hubungan antara politik dan institusi sosial lainnya. 3. Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Sejarah Dalam hal ini, ilmu sejarah melihat kita ke belakang untuk menggambarkan suatu peristiwa, urutan, dan makna tentang peristiwa yang lampau itu. Penyelidikan sejarah telah bergeser dari laporan tentang orang – orang dan tempat – tempat untuk menggambarkan kecenderungan sosial yang luas dari waktu ke waktu. Di dalam putaran mereka, para ahli sosiologi banyak meminjam peranan penyelidikan historis. 4. Hubungan Sosiologi dengan Psikologi Psikologi jelas berbeda dengan sosiologi karena dalam kajian psikologi memusatkan pada pengalaman individu dibandingkan dengan sosiologi yang

menekankan kelompok sosial. Akan tetapi, psikologi sosial kajiannya dengan cara memahami kepribadian dan perilaku yang dipengaruhi oleh individu – individu sosial adalah hubungan erat dengan sosiologi. Hal itu mendukung metode dan disiplin pengetahuan kedua – duanya. 5. Hubungan Sosiologi dengan Antropologi Antropologi adalah studi biologi manusia dan kebudayaannya dalam semua periode dan dalam semua bagian – bagian dari dunia itu. Ilmu antropologi fisik berkonsentrasi pada dua aspek, yakni evolusi biologi manusia dan perbedaan fisik antara orang – orang did dunia. Sedangkan ilmu antropologi budaya mengkaji pengembangan dan kultur yang sebagian besar difokuskan pada masyarakat dan budaya pramodern, walaupun sekarang objek kajian yang demikian banyak terjadi pergeseran. Sebagai perbandingan, sosiologi lebih memusatkan pada peradaban modern yang relatif maju. Para ahli sosiologi banyak yang memunjam konsep – konsep dan pendekatan antropologi. F. FOKUS ANALISIS, KLASIFIKASI KENYATAAN SOSIAL, DAN PERSPEKTIF DOMINAN DALAM SOSIOLOGI Untuk memudahkan pemahaman fokus kajian dalam sosiologi, menurut sosiolog Popenoe (1983: 8 – 9) serta Spencer dan Inkeles (1982: 20), cakupannya dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu sosiologi makro dan sosiologi mikro. Sosiologi makro menurut Popenoe (1983: 9) sebagai ―… the study of the large scale structures of society and how they relate to one another”. Dengan semikian, jelas dalam sosiologi makro tersebut struktur kajian masyarakatnya berskala luas dan mempertanyakan bagaimana mereka berhubungan satu sama lain. Sanderson mengemukakan bahwa paling tidak terdapat enam strategi teoretis berkaitan dengan luasnya kajian sosiologi makro. 1) Materialisme, mengasumsikan bahwa kondisi – kondisi material dari eksistensi manusia. 2) Idealisme, menegaskan signifikasi pikiran manusia dan kreasinya. 3) Fungsionalisme, berusaha menjelaskan ciri – ciri dasar kehidupan manusia sebagai respons terhadap kebutuhan dan permintaan masyarakat sebagai sistem sosial yang pernah tetap. 4) Strategi konflik, memandang masyarakat sebagai arena di mana masing – masing individu dan kelompok bertarung untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan keinginannya.

5) Strategi evolusioner, memusatkan perhatian kepada upaya mendeskripsikan dan menjelaskan transformasi sosial jangka panjang, yang diasumsikan akan memperlihatkan arah transformasi untuk seluruh perubahan dalam masyarakat manusia. 6) Strategi elektisisme, memberikan toleransi kepada semua sudut pandang yang ada, yang dalam praktiknya berarti menggunakan bagian – bagian dari setiap yang ada untuk menjelaskan banyak kehidupan sosial. Sedangkan untuk kajian sosiologi mikro menurut Popenoe (1983), ―… the study of the individual as social being‖, dalam arti lebih memfokuskan pada kajian individual sebagai makhluk sosial. Sosiologi mikro tersebut menurut Douglas (1980) sering disebut sebagai the sosiology of everyday life yang bersifat mikro, khususnya dalam keluarga. Untuk memudahkan pemahaman dalam mengklasifikasikan berbagai tingkatan dalam kenyataan sosial, menurut Johnson (1986: 61 – 62) dapat dibedakan menjadi 4 (empat) tingkatan 1. Tingkat Budaya 2. Tingkat Individual 3. Tingkat Interpersonal 4. Tingkat Struktur Sosial G. OBJEKTIVITAS DALAM SOSIOLOGI Objektif merupakan sosiologi merupakan hal yang utama jika bukan pertama dalam keharusan ilmiah. Tidaklah cukup dengan bersedia mengetahui sesuatu sebagaimana adanya. Kita harus mengetahui dan waspada terhadap penyimpangan – penyimpangan yang mungkin kita lakukan. Secara sederhana penyimpangan adalah suatu kecenderungan, biasanya secara tidak sadar, melihat fakta dalam suatu arah tertentu karena pengaruh kebiasaan, harapan, kepentingan dan nilai – nilai seseorang. Dengan demikian, beberapa bahaya umum terhadap objektivitas adalah kepentingan pribadi, kedapatan, dan penyimpangan. Sebab bagi seorang pengamat objektivitas tidaklah datang sedemikian mudah, namun hal tersebut dapat dipelajari. Kita akan dapat lebih objektif apabila kita semakin waspada terhadap preferensi – preferensi pribadi kita untuk kemudian menyingkirkannya. Melalui latihan yang tepat dalam metodologi, studi ilmiah di atas kebanyakan eksperimen, serta mencatat

contoh – contoh penggunaan data, baik secara objektif maupun subjektif, seorang pengamat pada akhirnya mungkin dapat mengembangkan kemampuannya untuk menembus berbagai lapisan penipuan diri dan memandang fakta dengan objektivitas ilmiah pada tingkat yang lebih tinggi. Para ilmuan memiliki juga sekutu yang kuat, yaitu kritik dari rekan sejawat. Ilmuan menerbitkan hasil penelitiannya sehingga dengan demikian karya mereka dapat diperiksa oleh para sejawat ilmuan lainnya. Berkat proses penerbitan dan kritik tersebut, karya yang bermutu rendah akan segera terlihat dan para ilmuan yang membiarkan preferensinya mengatur penggunaan data akan mendapt kritik tajam. H. KONSEP – KONSEP SOSIOLOGI Herbert Blumer, seorang ahli sosiologi yang terpandang menetapkan bahwa konsep – konsep yang menjadi kunci dalam sosiologis adalah samar – samar, ambigu, dan tidak tentu, usaha untuk membuat terminologi yang lebih tepat telah menjadikan sebagian besarnya tanpa hasil (Quated dalam Gitter dan Manheim, 1947; 2). Zetterberg menuliskan dengan jernih tentang masalah ini sebagai berikut. Sosiologists have spent much energy in developing technical definitions, but to date they have not achieved a consensus about them that is commensurate with their effort. At present there are so many different competing definitions for key sociological notions such as “status” and “social role” that these terms are no more valuable than their counterparts …. In everyday speech” (Zetterberg, 1966: 30). Sebaliknya, Horton dan Hunt (1991: 48-49) mengemukakan pendapat yang jauh berbeda. Mereka beranggapan bahwa studi sosiologi yang menggunakan konsep – konsep tersebut paling tidak ada dua manfaat: 1. Kita memerlukan konsep yang diutarakan dengan teliti untuk melangsungkan suatu diskusi ilmiiah. 2. Perumusan konser menyebabkan ilmu pengetahuan bertambah. Adapun konsep – konsep yang terdapat dalam sosiologi tersebut, mencakup masyarakat, peran, norma, sanksi, interaksi sosial, konflik sosial, perubahan sosial, permasalahan sosial, penyimpangan, globalisasi, patronase, kelompok, patriarki, dan hierarki. 1. Masyarakat

Masyarakat adalah golongan besar atau kecil yang terdiri dari beberapa manusia yang dengan sendirinya bertalian secara golongan dan merupakan sistem sosial yang saling memengaruhi satu sama lain (Shadily, 1984:31; Soekanto, 1993: 466). 2. Peran Peran adalah satuan keteraturan perilaku yang diharapkan dari individu. 3. Norma Suatu norma adalah suatu standar atau kode yang memandu perilaku masyarakat. 4. Sanksi Sansksi adalah suatu rangsangan untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan (Soekanto, 1993: 446).

5. Interaksi Sosial Interaksi sosial adalah proses sosial yang menyangkut hubungan timbala balik antar pribadi, kelompok, maupun pribadi dengan kelompok (Popenoe, 1983: 104; Soekanto, 1993: 247). 6. Konflik Sosial Konflik sosial adalah pertentangan sosial yang bertujuan untuk menguasai atau menghancurkan pihak lain. 7. Perubahan Sosial Perubahan sosial mengacu pada variasi hubungan antarindividu, kelompok, organisasi, kultur, dan masyarakat pada waktu tertentu (Ritzer, 1987: 560). 8. Permasalahan Sosial Istilah permasalahan sosial merujuk kepada suatu kondisi yang tidak diinginkan, tidak adail berbahaya, ofensif, dan dalam pengertian tertentu mengancam kehidupan masyarakat. Dalam pendekatannya, studi tentang permasalahan sosial dapat dibagi menjadi dua kelompok, yakni pendekatan realis dan objektif dan konstruksionalisme sosial (Pawluch, 2000: 995). 9. Penyimpangan Istilah penyimpangan atau deviance sebenarnya dalam sosiologi telah lama ada sejak awal kelahiran ilmu tersebut. Akan tetapi, makna sosiologisnya baru

muncul belakangan.para

sosiolog dan kriminolog mengartikan sebagai

perilaku yang terlarang , perlu dibatasi , disensor, diancam hukuman atau label lain yang dianggap buruk sehingga istilah tersebut sering di padankan dengan pelanggaran aturan (Rock, 2000:227-228). Namun demikian, istilah

penyimpangan tersebut tetap lebih luas dari pada kriminalitas karena menyimpang itu tidak sepenuhnya melanggar secara kriminal.

10. Globalisasi Istilah globalisasi merujuk pada implikasi tidak berartinya lagi jarak nasional, regional, maupun teritorial sehingga apapun yang terjadi dan berlangsung di satu tempat, bukan jaminan bahwa kejadian atau peristiwa tersebut tidak membawa pengaruh di tempat lain (Ohmae, 2002: 3-30). 11. Patronase Istilah patronase dalam istilah ilmu – ilmu sosial lebih banyak dikaitkan dengan bitokrasi sehingga dikenal birokrasi patrimonial. Dalam birokrasi patrimonial ini serupa dengan lembaga perkawulaan, di mana patron adalah gusti atau juragan, dan klien adalah kawula. Hubungan antara gusti dan kawula tersebut bersifat ikatan pribadi, implisit dianggap mengikat seluruh hidup, seumur hidup, dengan loyalitas primordial sebagai dasar tali perhubungan (KuntjoroJakti, 1980: 6). 12. Kelompok Konsep kelompok atau group secara umum dapat didefinisikan sebagai sekumpulan orang yang disatukan oleh suatu prinsip dengan pola rekrutmen hak dan kewajiban tertentu (Holy, 2000:421). 13. Patriarki Secara harfiah patriarki berarti aturan dari pihak ayah. Istilah ini memiliki penggunaan yang cukup luas, namun umumnya memiliki kecenderungan untuk mendeskripsikan kondisi superioritas laki – laki atas perempuan (Cannel, 2000: 734). 14. Hierarki Konsep hierarki merujuk kepada suatu jenjang, tatanan, peringkat kekuatan, prestise, atau prioritas. Ditinjau dari historisnya, secara umum konsep hierarki diserap oleh ilmu – ilmu sosial pada mulanya hanya mengacu kepada gereja, pemerintahan pendeta, dan biasanya Gereja Katolik Roma. Dalam pengertian

yang lebih luas, merujuk pada organisasi bertingkat dari para pendeta atau paderi (Halsey, 2000: 433). I. TEORI – TEORI SOSIOLOGI 1. Teori Tindakan Sosial dan Sistem Sosial Talcot Parsons a. Teori Tindakan Sosial b. Teori Sistem Sosial 2. Teori Evolusi Sosial Herbert Spencer 3. Teori Teknologi dan Ketinggalan Budaya (Cultural Lag) William F. Ogburn 4. Teori Dramaturgi Erving Goffman 5. Teori Strukturasi Anthony Giddens 6. Teori Globalisasi “of Nothing” George Ritzer

BAB 5 ANTROPOLOGI

A. Pengertian dan Ruang Lingkup Antropologi Istilah antropologi berasal dari bahasa Yunani, asal kata anthropos berarti maberarti ilmu. Para antropologi sering mengemukakan antropologi merupakan

studi tentang umat manusia dan prilakunya, dan untuk memperolah pengertian

atupnusia dan logos un pemahaman yang lengkap tentang keanekaragaman manusia. Secara khusus ilmu antropologi terbagi kedalam 5 sub ilmu yang mempelajari : 1. Masalah asal dan perkembangan manusia secara biologis 2. Masalah terjadinya aneka ragam ciri fisik manusia 3. Masalah terjadinya perkembangan dan persebaran aneka ragam

kebudayaan manusia 4. Masalah terjadinya perkembangan dan persebaran aneka ragam bahasa yang diucapkan di seluruh dunia 5. Masalah mengenai asas-asas dari masyarakat dan kebudayaan manusia dari aneka ragam suku bangsa yang tersebar di seluruh dunia masa kini. 1. Antropologi fisik Mempelajari manusia sebagai organisme biologis yang melacak perkembangan manusia menurut evolusinya dan menyelidiki variasi biologisnya dalam berbagai jenis.

2. Antropologi budaya Memfokuskan perhatiannya pada kebudayaan manusia ataupun cara hidupnya dalam masyarakat. Antropolgi budaya lebih menekankan kepada 4 aspek yang tersusun : a. Pertimbangan politik b. Menyangkut hubungan kebudayaan dengan kekuasaan c. Menyangkut bahasa dalam antropologi budaya d. Preferensi dan pemikiran individual dimana terjadi hubungan antara jati diri dan emosi. Seperti yang telah dikemukakan diatas, cabang antropologi budaya ini dibagi menjadi 3 bagian, yaitu : a. Arkeologi Adalah cabang antropologi kebudayaan yang mempelajari benda-benda peninggalan lama dengan maksud untuk menggambarkan serta menerangkan prilaku manusia karena dalam peninggalan-peninggalan lama itulah terpantul ekspresi kebudayaannya.

b. Antropologi linguistik Ernest cassirer mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang paling mahir dalam menggunakan simbol-simbol sehingga manusia disebut homo

symbolicum. Disinilah antropologilinguistik berperan. Ia merupakan deskripsi suatu bahasa maupun sejarah bahasa yang digunakan. c. Etnologi Pendekatan etnologi adalah etnografi, lebih memusatkan perhatiannya pada kebudayaan-kebudayaannya zaman sekarang, telaahnya pun terpusat pada prilku manusia, sebagaimana yang dapat disaksikan langsung, dialami serta didiskusikan dengan pendukung kebudayaannya. Hanya dengan mempelajari mekanisme, struktur, serta sarana-sarana diluar diri manusia, yakni alat yang digunakan manusia untuk mentransformasikan dirinya sendiri,dapat kita ketahui alasan perbedaan keyakinan, nilai, prilaku,dan bentuk sosial antara kelompok satu dengan yang lainnya. Secara keseluruhan, yang termasuk bidang-bidang khusus secara tematis

dalam antropologi lainnya,selain antropologi fisik dan kebudayaan adalah : 1. Antropologi ekonomi Bidang ini merupakan cara manusia dalam mempertahankan dan

mengekspresikan diri melalui penggunaan barang dan jasa material. Ruang lingkup antropologi ekonomi tersebut mencakup riset tentang teknologi,produksi,perdagangan. Konsumsi,serta tinjauan tentang berbagai bentuk pengaturan sosial dan ideologis manusia untuk mendukung kehidupan materi manusia. 2. Antropologi medis Antropologi medis ini banyak membahas hubungan antara penyakit dan kebudayaan yang tampak mempengaruhi evolusi manusia tertuma

berdasarkan hasi-hasil penemuan paleopatologi. Begitu luasnya ruang lingkup antropologi medis ini, sampai sekarang tiadak mudah untuk mendefinisikan subjek kajiannya. 3. Antropologi psikologi Bidang ini merupakan wilayah antropologi yang mengkaji tentang hubungan antara individu dengan makna dan nilai dengan kebiasaan sosial dari sistem budaya yang ada. 4. Antropologi sosial

Dalam kajiannya, antropologi sosial mendeskripsikan proyek evolusionis yang bertujuan merekontruksi masyarakat primitif asli dan mencatat

perkembangannya melalui berbagai tingkat peradaban.

B. Pendekatan, Metode, Teknik, Ilmu Bantu, dan Jenis Penelitian Antropologi Menurut Gopala, sarana dalam ilmu antropologi,sedikitnya ada 4 macam penelitian komparatif, yaitu 1. Penelitian komparatif dengan tujuan menyusun sejarah kebudayaan manusia secara inferesial 2. Penelitian komparatif untuk menggambarkan suatu kebudayaan 3. Penelitian komparatif untuk taksonomi kebudayaan 4. Penelitian komparatif untik menguji korelasi-korelasi antar unsur, antar pranata, dan antar gejala kebudayaan untuk membuat generalisasigeneralisasi mengenai tingkah laku manusia pada umumnya. Kemudian jika dilihat dari beberapa ilmu yang merupakan bagian dalam ilmu antropologi, menurut Koentjaratningrat mencakup 5 disiplin ilmu, yaitu 1. Paleoantropologi Merupakan ilmu tentang asal usul atau soal terjadinya evolusi makhluk manusia dengan mempergunakan bahan penelitian melalui sisa-sisa tubuh yang telah membatu, atau fosil-fosil manusia dari zaman ke zaman yang tersimpan dalam lapisan bumi dan didapat dengan berbagai penggalian. 2. Antropologi fisik Merupakan bagian ilmu antropologi yang mempelajari suatu pengertian tentang sejarah terjadinya aneka warna makhluk manusia jika dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya, baik lahir maupun sifat bagian dalam. 3. Etnolinguistik atau antropologi linguistik Suatu ilmu yang berkaitan erat dengan ilu antropologi, dengan berbagiai metode analisis kebudayaan yang berupa daftar kata-kata, pelukisan tentang ciri dan tata bahasa dari beratus-ratus bahasa suku bangsa yang tersebar di berbagai tempat dimuka bumi ini.

4. Prehistori

Merupakan ilmu tentang perkembangan dan penyebaran semua kebudayaan manusia sejak sebelum manusia mengenal tulisan atau huruf 5. etnologi Merupakan bagian ilmu atropologi tentang asas-asas manusia , mempelajari kebudayaan-kebudayaan dalam kehidupan masyarakat dari bangsa-bangsa tertentu yang tersebar dimuka bumi ini pada masa sekarang. C. Tujuan dan Kegunaan Antropologi Setiap antropologi yang memulai penelitian lapangan perdana nya, pada umumnya mencari suatu bangsa atau kelompok yang belum pernah di teliti. Tujuannya sudah jelas adalah untuk memperluas arena perbandingan di samping untuk merekam berbagai budaya sebelum budaya-budaya itu lenyap. Antropologi memang merupakan studi tentang manusia. Ia tidak hanya sebagai suatu disiplin ilmu yang bersifat akademis tetapi juga merupakan suatu cara hidup yang berusaha menyampaikan kepada para mahasiswa apa yang telah diketahui orang. Antropologi fisik memusatkan perhatiannya pada manusia sebagai organisme biologis yang tekanannya pada upaya melacak evolusi perkembangan manusia dan mempelajari pariasi-pariasi biologis dalam spesies manusia. Sedangkan Antropologi budaya berusaha mempelajari manusia berdasarkan kebudayaan nya. Selain itu, antropologi bermaksud mempelajari umat manusia secara objektif, paling tidak mendekati objektif dan sistematis. Sedangkan data yang digunakan ahli antropologi dapat berupa data dari suatu masyarakat atau studi komparatif diantara sejumlah besar masyarakat.

D. Hubungan Antropologi dengan Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya 1. Hubungan antropologi dengan sosiologi Objek kajian sosiologi adalah masyarakat manusia terutama dari sudut hubungan antar manusia dan proses-proses yang timbul dari hubungan manusia dalam masyarakat. 2. Hubungan antropologi dengan psikologi Hal itu tampak karena dalam psikologi pada hakikatnya mempelajari prilaku manusia dan proses-proses mentalnya. Dengan demikian, psikologi membahas faktor-faktor penyebab prilaku manusia secara internal, seperti motifasi, minat,

sikap, konsep diri, dan lain-lain. Sedangkan dalam antropologi, khususnya antropologi budaya lebih bersifat faktor eksternal, yaitu lingkungan fisik, lingkungan keluarga, dan lingkungan sosial dalam arti luas. 3. Hubungan antroplogi dengan ilmu sejarah Konsep-konsep tentang kehidupan masyarakat yang di kembangkan oleh antropologi dan ilmu-ilmu sosial alinnya, akan memberi pengertian banyak kepada seorang ahli sejarah untuk mengisi latar belakang dari peristiwa polotik dalam sejarah yang menjadi objek penyelidikannya. 4. Hubungan antropologi dengan ilmu geografi Antropologi berusaha menyelami keanekaragaman manusia jika dilihat dari ras, etnis, maupun budayanya. 5. Hubungan antropologi dengan ilmu ekonomi Seorang ahli ekonomi yang akan membangun ekonomi di negara-negara, tentu akan memerlukan bahan komparatif mengenai, misalnya sikap terhadap kerja, sikap terhadap kekayaan, sistem gotongroyong, dan sebagainya dari yang sistem

menyangkut

bahan

komparatif

tentang

berbagai

unsur

kemasyarakatan di negara-negara. Untuk pengumpulan keterangan komparatif tersebut, ilmu antropologi memiliki manfaat yang tinggi bagi seorang ekonom. 6. Hubungan antara antropologi dengan ilmu politik Agar dapat memahami latar belakang dan adat istiadat tradisional dari suku bangsa itulah maka metode analisis antropologi menjadi penting bagi seorang ahli ilmu politik untuk mendapat pengertian tentang tingkahlaku dari partai politik yang di telitinya. E. Objektifitas Dalam Antropologi Masalah lama dalam ilmu-ilmu sosial yang belum terpecahkan sampai sekarang adalah mengenai kesenjangan peneliti. Barangkali soal inilah yang paling sulit dan menjadi kendala, terutama dalam antropologi karena dalam cara pengumpulan data dasarnya yang rumit dalam persoalan tersebut. Secara tradisional menurut David Kapplan dan Albert A Manners, antropologi berkecimplung selama satu tahun atau lebih dalam kancah suatu budaya yang eksotik yang dipelajarinya, mengamati lembaga-lembaga, pranata, dan cara hidup. F. Sejarah Perkembangan Antropologi

Dalam sejarah lahirnya antropologi, perkembangan ilmu tersebut melalui suatu tahapan yang panjang. Koentjaraningrat memaparkan bahwa lembaga-lembaga antropologi etnologi merupakan awal lahirnya antropologi. Jika disimak tentang perkembangan ilmu-ilmu bagian antropologi, boleh jadi etnografi merupakan bagian yang paling sukses dalam antropologi sosial dan budaya. Akan tetapi apa sebenarnya manfaat yang dapat di petik dari studi-studi etnografi yang umumnya menangani komunitas-komunitas kecil terasing itu ? menurut Kuper ada 4 jawaban, yaitu: 1. Menurut pemikiran evolusionistis, orang-orang yang di anggap primitif itu secara kesejarahan dapat memberikan pemahaman tentang cara hidup nenek moyang manusia. 2. Melihat gambaran ilmu-ilmu sosial, banyak ahli antropologi berpendirian bahwa penelitian dan perbandingan etnografi akan memudahkan

perkambangan ilmu sosial yang benar-benar universal, menyentuh umat manusia, dan tidak membatasi diri pada studi-studi tentang masyarakay modern barat. 3. Sejumlh ahli antropologi yang dipengaruhi oleh etnologi dan kemudian sosio biologi, meyakini bahwasannya etnografi komparatif akan mengangkat unsurunsur kemanusiaan yang universal. 4. Para humanis yang acap kali skeptis terhadap generalisasi-generalisasi mengenai prilaku manusia, berpendapat bahwa pemahaman terhadap kehidupan yang asing itu sendiri akan banyak gunanya. G. Konsep-Konsep Antropologi Konsep kebudayaan yang paling umum, paling tidak terdapat 7 kelompok pengertiaan kebudayaan, yaitu : 1. Kelompok kebudayaan sebagai keseluruhan kompleks kehidupan manusia 2. Kelompok kebudayaan sebagai warisan sosial atau tradisi 3. Kelompok kebudayaan sebagai cara dan aturan termasuk cita-cita, nilai-nilai, dan kelakuan. 4. Kelompok kebudayaan sebagai keterkaitan dalam proses-proses psikologis. 5. Kebudayaan sebagai struktur atau pola-pola kebudayan 6. Kelompok kebudayaan sebagai hasil perbuatan atau kecerdasan manusia 7. Kelompok kebudayaan sebagai sistem simbol. Adapun yang merupakan contoh konsep antropologi di antaranya,

1. Kebudayaan 2. Evolusi 3. Culture area 4. Enkulturasi 5. Difusi 6. Akulturasi 7. Etnosentrisme 8. Tradisui 9. Ras dan etnik 10. Stereotip 11. Kekerabatan 12. Magis 13. Tabu 14. Perkawinan H. Generalisasi-Generalisasi Antropologi 1. Kebudayaan Dalam mengapresiasi budaya bangsa, setiap kebudayaan di samping memiliki kelemahan juga memiliki keunggulan. 2. Evolusi Evolusi tidak terbatas pada bidang biologi saja, melainkan meluas pada bidang sosial dan kebudayaan 3. Culture area Pertumbuhan kebudayaan menyebabkan timbulmnya unsur-unsur baru yang akan mendesak unsur-unsur budaya lama ke arah pinggir, sekeliling daerah pusat pertumbuhan budaya itu 4. Enkulturasi Proses enkulturasi seseorang terhadap budaya orang lain itu di perlukan 5. Difusi Orang dapat saja beranggapan bahwa dengan meluasnya unsur-unsur budaya menyimpulkan bahwa telah terjadi proses difusi budaya 6. Akulturasi Perpaduan dua budaya tanpa menghilangkan budaya aslinya.

7. Etnosentrisme

Penilaian yang baik terhadap sikap-sikap dan pola kebudayaan kelompoknya sendiri. 8. Tradisi Aktivitas kebudayaan yang bermaksud untuk memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah kebutuhan naluri makhluk manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya. 9. Ras dan etnik Ras merupakan suatu konsep biologi yang valid. Sedangkan konsep etnik lebih merujuk kepada kesatuan-kesatuan sosial dalam sistem sosial. 10. Stereotip Berkembangnya prasangka dan stereotip antar etnik yang terjadi di indonesia akan memperlemah rasa persatuan dan kesatuan bangsa indonesia 11. Kekerabatan Ikatan ibu dan anak dapat diamati dan dinilai secara universal, tetapi peranan ayah maupun ibu dalam masyarakat tradisional sangatlah bervariasi. 12. Magis Magis memang kejam, jahat dan mudah disalah gunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan 13. Tabu Dalam pandangan kaum fungsionalis, tabu memilki nilai-nilai kegunaan yang perlu dijaga oleh masyarakat dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidupnya. 14. Perkawinan Untuk mengatur proses pemilihan pasangan dan perkawinan memiliki norma yang begitu kompleks. I. Teori-Teori Antropologi 1. Teori orientasi nilai budaya a. Dalam kaitannya dengan makna hidup manusia. b. Berkenaan dengan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. c. Dalam kaitannya dengan persepsi manusia dengan waktu. d. Dalam kaitannya dengan makna dari pekerjaan. e. Dalam kaitannya dengan hubungan antar sesama manusia. 2. Teori evolusi sosiokultural a. Evolusi sosiokultural meliputi seluruh sistem sosiokultural maupun komponen-komponen yang terpisah dari sistem tersebut.

b. Evolusi sosiokultural bukanlah proses tunggal. c. Perbedaan tersebut dapat dirinci sebagai evolusi paralelel, evolusi konvergen, dan evolusi divergen. d. Evolusi paralel, merupakan evolusi yang terjadi dalam dua atau lebih sosiobudaya tang berkembang dengan cara yang sama dan dengan tingkat yang pada dasarnya sama. e. Evolusi konvergen, terjadi namun ketika akhirnya berbagai mengikuti masyarakat pola yang berbeda serupa

perkembangannya, kemajuannya.

f. Evolusi divergen, terjadi ketika berbagi masyarakat yang semula mengikuti banyak persamaan yang serupa, namun akhirnya mencapai tingkat perkembangan yang jauh berbeda. 3. Teori evolusi kebudayaan a. Zaman liar tua b. Zaman liar madya c. Zaman liar muda d. Zaman barbar tua e. Zaman barbar madya f. Zaman barbar muda g. Zaman peradaban purba h. Zaman peradaban masa kini 4. Teori evolusi animisme dan magic a. Animisme adalah suatu kepercayaan pada semua benda. b. Asal mula religi adalah kesadaran manusia akan adanya jiwa c. Manusia memecahkan beberapa persoalan hidupnya selalu dengan akal dan sisitem pengetahuannya. d. Ilmu gaib mulanya hanya untuk mengatasi pemecahan masalah hidup yang berada diluar kemampuan akal dan sistem pengetahuannya. e. Karena penggunaan magic tidak selalu berhasil maka mulailah diyakini bahwa alam semesta dihuni oleh makhluk-makhluk halus yang lebih berkuasa daripada manusia. f. Antara agama dan magic itu berbeda. g. Magic memiliki 2 prinsip utama. Pertama magic simpatetis, kedua magic senggol.

5. Teori evolusi keluarga a. Tahap promiskuitas b. Lambat laun manusia sadar akan hubungan antara ibu dengan anaknya sebagai suatu kelompok keluarga inti dalam masyarakat. c. Sistem patriarchate, dimana ayah menjadi kepala keluarga. d. Perkawinan tidak selalu dari luar kelompok, tetapi dapat juga dari dalam kelompok yang sama. 6. Teori upacara sesaji a. Disamping sistem keyakinan dan doktrin sisitem upacara pun merupakan suatu perwujudan dan religi yang memerlukan studi analisis khusus. b. Upacara religi tersebut, biasnya dilaksanakan oleh banyak warga masyarakat dan memiliki fungsi sosial untuk mengintensifkan solidaritas masyarakat. c. Pada prinsipnya, upacara sesaji, dimana manusia menyajikan sebagian dari seekor binatang, terutama darahnya kepada dewa, kemudian memakan sendiri sisa daging dan darahnya.

BAB 6 ILMU GEOGRAFI

A. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP GEOGRAFI Geografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu geo yang berarti bumi dan graphein yang berarti lukisan atau tulisan. Menurut pengertian yang dikemukakan

Eratosthenes, geografika berarti tulisan tentang bumi. Pengerian bumi dalam geografi, tidak hanya berkenaan dengan fisik alamiah bumi saja, melainkan juga meliputi gejala dan prosesnya, baik itu gejala dan proses alamnya, maupun gejala proses kehidupannya. Gejala diproses kehidupan melibatkan kehidupan tumbuhtumbuhan, binatang, dan manusia sebagai penghuni bumi. Secara sederhana, dapat dikemukakan bahwa cakupan dan peranan geografi itu setidaknya memiliki 4 hal yang dikemukakan dari hasil penelitian UNESCO (1965: 12-35) maupun Lousbury (1975: 1-6) yaitu: 1. Geografi sebagai suatu sintesis Artinya, pembahasan geografi itu pada hakikatnya dapat menjawab substansi pertanyaan-pertanyaaan tentang what, where, when, why, dan how. 2. Geografi sebagai suatu penelaahan gejala dan relasi keruangan Dalam hal ini geografi berperan sebagai ―pisau‖ analisis terhadap fenomenafenomena, baik alamiah maupu insaniah. 3. Geografi sebagai disiplin tata guna lahan Di sini, titik beratnya pada aspek pemanfaatan atau pendayagunaan ruang geografi yang harus semakin ditingkatkan. Sebab pertumbuhan penduduk yang begitu pesat. 4. Geografi sebagai bidang ilmu penelitian Hal itu dimaksudkan agar dua haldapat tercapai, yaitu sebagai berikut: a. Meningkatkan pelaksanaan penelitian ilmiah demi disiplin geografi itu sendiri yang dinamis sesuai dengan kebutuhan pengembangan ilmu yang makin pesat. b. Meningkatkan penelitian praktis untuk kepentingan kehidupan dalam meningkatkan kesejahteraan umat manusia (Sumaatmadja, 1988:41). Ilmu geografi kontemporer bahwa secara sederhana geografi merupakan disiplin akademik yang terutama berkaitan dengan penguraian dan pemahaman atas

perbedaan-perbedaan kewilayahan dalam distribusi lokasi dipermukaan bumi. Fokusnya adalah sifat dan saling berkaitan antara tiga konsep yaitu, lingkungan, tata ruang, dan tempat. 1. Lingkungan Lingkungan alamiah pada suatu wilayah terdiri atas permukaan lahan itu sendiri, hidrologi permukaan air di wilayah itu, flora dan fauna yang tertinggal didalamnya. Lapisan tanah yang menutupi permukaan itu, dan atmosfer yang terdapat di atasnya. Semua unsure itu terjalin dalam suatu sistem lingkungan yang kompleks. 2. Tata Ruang Tata ruang merupakan fokus kajian bagi para ahli geografi manusia. Hal ini bukan semata-mata karena penggunaan lahan oleh manusia selama sekian decade menjadi topik yang penuh perhatian, tetapi juga esensi dalam berbagai skala ( antara perkotaan dan perdesaan) terdapat hubungan yang erat, selain dengan lingkungan fisiknya juga sosialnya. 3. Tempat Tempat merupakan pusat bagi geografi karena peranannya sebagai faktor pembatas dalam perkembangan manusia, serta mengingat pentingnya tempat sebagai kontruksi dunia ( Johnston, 2000:408). Sebab mengenal siapa dirinya dan orang lain, juga didasarkan pada tempat. Identitas fisik dan sosial budaya dipengaruhi oleh tempat. Tempat merupakan lingkungan pergaulan, diciptakan oleh manusia dalam konteks persepsi mereka mengenai alam dan sosialnya. Adapun cabang-cabang dari geografi manusia ( human man geography) mencakup: 1. Geografi Ekonomi ( Ecnomic Goegraphy) Geografi ekonomi menguraikan tentang produksi, distribusi, pertukaran atau perdagangan, serta konsumsi atas berbagai barang dan jasa yang dilakukan pada tempat-tempat yang saling berjauhan. Geografi ekonomi mulai diakui sebagai bidang studi tersendiri pada akhir abad ke-19 dan kebangkitannya bertolak dari kolonialisme Eropa ( Barnes, 2000: 267). 2. Geografi Politik ( Political Geography) Geografi politik menekankan bahwa teritorial ditafsirkan sebagai hubungan mendasar antara kedaulatan negara dengan tanah air nasional yang terletak di jantung legitimasi dan praktik negara modern. Dalam sejaranhya, sejak awal

terjadinya geografi politik sebagai suatu bangunan pengetahuan yang koheren pada akhir ke-19, sub disiplin ini telah mengalami empat fase perkembangan utama, yakni lingkunan,fungional, analisis wilayah, dan pluralistik. 3. Geografi Urban ( Urban Geography) Geografi urban berkaitan dengan sifat-sifat, tata ruang, kotak kecil dan besar, dan berbagai cara yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh proses fisik, demografi, ekonomi, sosial, budaya, politik. 4. Geografi Sejarah (Hystorical Geography) Geografi sejarah sebagai studi mengenai masa lalu yang mencerminkan keanekaragaman geografi itu sendiri. Ia tidak hanya mencakup geografi tradisional yang berhubungan dengan tempat, tata ruang, dan lingkugan, melainkan juga masalah-masalah modern. Seperti ekologi, lokasi, serta lansekap.

5. Geografi Populasi ( Population Geography) Bagian geografi dapat dibedakan tentang karya para ahli yang terfokus pada penyebaran populasi, dengan karya yang berusaha memahami faktor-Faktor yang mempengaruhi variasi dalam penyebaran tersebut. Dengan demikian, bidang ini menempati tempat yang berbeda dan terpisah diantara sub bidang geografi, bahkan menuntut pentingnya hubungan antara demografi, biologi manusia, dan ilmu kedokteran dengan ilmu-ilmu sosial lain, terutama dengan sosiologi serta ilmu ekonomi. 6. Geografi Sosial ( Social Geography) Geografi sosial merupakan sebuah sub disiplin dari geografi sebagai sebuah subjek yang mengaitkan ilmu-ilmu sosial dengan ilmu-ilmu alamiah, serta meliputi topic-topik mulai dari tektonik samapai psikoanalisis( Smith, 2000: 981). Dalam geografi sosial menyetarakan keseluruhan dengan geografi manusia yaitu dengan kekuatan ilmu-ilmu sosial dari disiplin ilmu tersebut dalam hubungan manusia ( masyarakat) dengan alam. 7. Sistem Informasi Geografi ( Geograpical Information Sistem) Sistem informasi geografi adalah sistem komputer yang terintegrasi yang

digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan, menambah, memanipulasi, menganalisis, dan menampilkan semua bentuk informasi mengenai masalah geogrfis ( Unwin 2000:402). Sistem informasi geografi ini dikembangkan oleh

para ahli geografi sejak tahun 1960-an, namun penggunaan sistem ini secara lengkap baru menyebar luas tahun 1980-an ketika biaya pengadaan komputermenurun tajam dan perangkat komputer sudah menjaadi hal yang umum. Pada setiap sistem informasi geografi harus menyertakan data, perangkat keras, dan personil pelaksanaanya.

B. PENDEKATAN, METODE, DAN TEKNIK PENELITIAN GEOGRAFI 1. Pendekatan Gegrafi Pendekatan ini berkaitan erat dengan kuatifikasi dan keyakinan pada keteraturan statistic yang merupakan bukti adanya sebaba akibat empiris, seperti yang disyratkan oleh teorinya. Beberapa macam pendekatan geografi yang sering digunakan diantaranya: a. Pendekatan Analisis Keruangan b. Pendekatan Ekologi c. Pendekan Kompleks Wilayah  Pedekatan keruangan  Pendekatan ekologi ( ecological approach)  Pendekatan historis ataupun kronologi  Pendekatan sistem (sistem approach) 2. Metode Penelitian Geografi a. Metode diskriptif Metode diskriptif banyak digunakan sejk ilmu geografi lahir sebagai disiplin ilmu yang bersifat akademis. Tujuan metode deskriptif adalah untuk mendeskriptikan atau menjelaskan peristiwa dan kejadian yang ada pada masa sekarang. Dalam metode deskriptif terbagi-bagi lagi menjadi metode studi kasus, survey, dan studi pengembangan. b. Metode Eksperimen dan Korelasi Pendekatan ini berkaitan erat dengan kantifikasi, keyakinan pada keteraturan statistikmerupakan bukti adanya hubungan sebab akibat empiris sseperti yang disyaratka oleh teorinya. c.Metode ex Post Facto

Metode ini untuk melihat dan mengkaji hubungan antara dua variabel atau lebih, dimana variable yang dikaji telah terjadi sebelumnya atau tidak diberiperlakuan khusus. Ex Post Facto artinya sesudah fakta karena dalam penelitian ini peneliti tidak perlu melakuakn manipulasi atau perlakuan terhadap variable bebas. 3. Teknik Penelitian Geografi Teknik penelitian yang banyak digunakan dalam ilmu geografi, misalnya observasi lapangan, wawancara, kuesioner, studi dokumentasi, dan studi literatur. a. Observasi Lapangan (Field Observation) Observasi lapangan merupakan teknik pengumpulan data dalam ilmugeografi yang berusaha melihat langsung tentang gejala dan masalah geografis. Teknik ini banyak sekali digunakan untuk penlitia-penelitian geografis, bahkan merupakan teknik pengumpulan data yang paling dominan ( Sumaatmadja, 1988:105). b. Wawancara (Interview) Wawwancara merupakan teknik pengumpulan data dalam ilmu geografi yang dilakukan oleh peneliti(interviewer) terhadap respon (interviewee) untuk memperoleh keterangan yang lebih jauh dari sekedar observasi. Teknik ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan langsung terhadap responden secara verbal, baik formal maupun informal. c. Kuesioner atau Angket Kuesioner atau angket merupakan teknik pengumpulan data dengan menyebarkan sejumlah pertanyaan-pertanyaan,baik yang bersifat terbuka maupun tertutup dan dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan tertulis. Tujuannya hampir sama dengan wawancara, yaitu untuk mengkontruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain-lain. (Fraenkel dan Wallen.1993:112-113). d. Studi Dokumentar Studi dokumentar merupakan teknik pengumpulan data yang merupakan upaya untuk mengkaji setiap bahan tertulis, film, serta catatan (record) dokumen dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu dokumen pribadi dan dokumen resmi. Sifat dokumen adalah tidak reaktif sehinga tidak sukar diperoleh dengan teknik kajian isi. (Moleong. 1998: 161). e. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan merupakan teknik pengumpulan data dengan megkaji berbagai teori, prinsip, konsep, dan hokum-hukum yang berlaku dalam ilmu geografi. Semuanya ini diperlukan sebagai data teritik yang releven dengan kebutuhan kajian atau penelitian. Oleh karena itu, sustu penelitian geografi musthail dilakukan tanpa disertai kajian kepustakaan (Sumaatmadja. 1988: 110). C. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ILMU GEOGRAFI

Seperti halnya ilmu-ilmu sosial lainnya, pada mulanya disiplin geografi tidak tersusun secara sistematis seperti sekarang ini.pada zaman Homeros dan Hesiodos. Pada abad ke-9 sampai ke-8 sebelum Masehi, sebagian orang menganggap pengetahuan tentang bumi masih sangat dipengaruhi oleh mitologi, terutama mitos kosmogonis ( keterangan tentang asal usul serta sifat kejadian-kejadian dalam alam semesta) (Bertens, 1999: 19). Selain itu, pengetahuan mengenai suatu wilayah yang meliputi aspek-aspek alamiah dan insaniah, pada mulanya hanya dalam bentuk cerita yang disampaikan oleh seseorang kepada yang lainnya. Pada zaman Thales (640-548 SM), masih beranggapan bahwa bumi berbentuk silinder yang terapung di atas air dengan separuh bola hampa diatasnya. Pendapat itu hilang seabad kemudian setelah Parmenides (515-455 SM) mengemukakan pendapatnya bahwa bumi memiliki bentuk bulat. Lambat laun pengaruh mitologi itu semakin berkurang dengan berkembangnya pengaruh ilmu alam sejak abad ke-6 SM, sehingga corak pengetahuan tentang bumi tersebut mulai memiliki dasar ilmu pasti/ alam yang lebih baik. Kemudian terdorong oleh kebutuhan untuk

mempermudah perjalanan berikutnya, secara sederhana pengalaman perjalan itu dilukiskan kedalam bentuk peta. Sejak itu, penyelidikan tentang bumi dilakukan dengan memakai logika. Dengan demikian, logos (akal budi dan rasio) mengganti mitos (Bintarto dan Hadisumarno, 1979:2). Bagi kepentingan perjalanan, perdagangan, peperangan, dan pertahanan, peta tersebut sangat membantu dalam memvisualisasikan suatu objek telaahan. Pada zaman Yunani kuno, pandangan paham geografi sangat dipengaruhi oleh pandangan filsafat spekulatif maupun sejarawan yang berusaha memadukan ilmu pengetahuan geografi dengan sejarah. Tidak sedikit uraian geografi bersifat sejarah, atau sebaliknya uraian sejarah bersifat geografi.

D. MANFAAT TERAPAN GEOGRAFI

Sebagai disiplin akademis yang memiliki potensi terapan untuk memahami mengenai dunia, terdapat beberapa pendapat, seberapa perlunya segi terapan ini karena beragamnya tuntutan yang dikemukakan kepada disiplin ini maupun kepada akademisinya secara umum. Makin meningkatnya minat pada isu-isu lingkungan, baik tingkat lokal, regional, nasional,maupun global, telah menjadi perhatian para ahli geografi. Banyak karya mereka menekankan kedua sisi, yakni proses yang terjadi dalam lingkungan fisik dan dampak aktivitas manusia terhadap proses tersebut serta hasilnya. Hal ini tampak dalam usaha penaksiran dampak lingkungan.

E. KONSEP-KONSEP GEOGRAFI

1. Tempat Konsep tempat (place) merujuk kepada suatu wilayah di mana orang hidup berada. Dalam analisis geografi, konsep tempat memiliki peran penting karena kedudukan dan konstribusi tempat member banyak arti dan makna bagi manusia serta bagi organisasi lainnya.

2. Sensus Penduduk Sensus penduduk merupakan suatu konsep geografi sosial yang jika dilihat dari sejarah aktivitasnya, merupakan salah satu kegiatan statistik tertua dan terluas yang dilakukan oleh pemerintah di seluruh dunia, dahulunya lebih berorientasi untuk taksiran kekuatan militer dan perpajakan. Sensus pu dikembangkan untuk mengumpulkan informasi mengenai perumahan, sektor manufaktur, pertanian industry pertambangan, dan dunia bisnis (Taeuber, 2000: 99).

3. Iklim Iklim menurut Ensiklopedia Indonesia (1984: 1376-1377) adalah keadaaan rata-rata dari cuaca di suatu daerah dalam periode tertentu, keadaan variasinya dari tahun ke tahun dan keadaan ekstremnya. Unsure-unsur yang

menggambarkan keadaan cuaca atau iklim meliputi suhu udara kelembaban udara, angin, curah hujaan dan penyinaran matahari. Biasanya, untuk

menggambarkan keadaan iklim, dibuat klafikasi iklim. Klafikasi iklim memiliki tujuan yang berbeda-beda. Ada yang bertujuan untuk digunakan dalam bidang pertanian, perdagangan maupun perindustrian.

4. Laut Laut dalam Ensiklopedia Indonesia (1984: 1974-1975) diartikan sebagai keseluruhan massa air yang saling berhubungan, mengelilingi semua sisi daratan di bumi. Laut yang besar dinyatakan sebagai samudera (lautan). Dari pantai ke laut dalam, pertama-tama terdapat suatu jalur dasar laut yang datar, yakni dataran kontinental yang merupakan lanjutan tanah daratan di bawah permukaan laut. Dari kedalaman lebih kurang 180 meter, kemiringan itu menjadi lebih besar berupa lereng kontinental, yaitu lanjutan lereng daratan di bawah permukaan laut. Pada kedalaman 3.000-6.000 meter baru terdapat dasar laut yang dalam, dalam mentuk cekungan besar yang dipisahkan oleh punggung-punggung dibawah permukaan laut.

5. Lingkungan Linkungan dalam ensiklopedia Indonesia (1984: 2021) didefinisikan sebagai segala sesuatu yang ada di luar suatu organism, meliputi lingkungan benda mati (abiotk) dan lingkungan hidup (biotik). Lingkungan benda mati atau fisik adalah lingkungan di luar suatu organisme yang terdiri atas benda atau faktor alam yang tidak hidup, seperti bahan kimia, suhu, cahaya, gravitasi, atmosfer, dan lain-lain. Lingkungan hidup (biaotik) adalah lingkungan di luar suatu organisme yang terdiri atas organism hidup, seperti tumbuh-tumbuhan, hewwan, dan manusia.

6. Benua Istilah benua dalam Ensiklopedia Indonesia (1984:449)merujuk pada suatu daratan yang begitu luas sehingga bagian tengah daratan yang luas tersebut tidak mendapat pengaruh angin laut sama sekali. Dalam sejarah, dikenal 5 benua yang dihuni manusia, yaitu Asia, Eropa, Amerika. Afrika, dan Australia. Sedangkan secara geografis, pembagian benua tersebut terbagi atas 3 benua, yakni Erasia, Afrika, dan Australia. Secara keseluruhan, luas benua tersebut

mencapai lebih kurang 29% dari seluruh permukaan bumi, dan sisannya (71%) adalah luas samudera

7. Urbanisasi Konsep urbanisasi memiliki dua pengertian. Pertama, para ahli demografi lebih banyak menggunakan istilah ini untuk menunjukan redistribusi penduduk ataupun perpindahan dari wilayah-wilayah pedesaan ke perkotaan,

memberikan makna yang oaling spesifik pada tingkat konseptua. Kedua, dalam beberapa ilmu sosial lainnya, terutama ekonomi, geografi, dan sosiologi, urbanisasi merujuk kepada struktur morfologik yang sedang berubah dari berbagai pemusatan (agglomeration) perkotaan dan perkembangannya (Sly, 2000: 1116). Pada kajian ini, tentu saja lebih didasarkan pada kajian yang pertama. Jika terdapat aspek-aspek kajian kedua, hanyalah sebagai

supplement karena satu sama lainnya berkaitan.

8. Peta Peta adalah pola permukaan bumi yang dilukiskan pada bidang datar (Esiklopedia Indonesia, 1984: 2698-2699). Gambar itu dapat menyatakan keadaan fisik bumi, keadaan budaya, ekonomi bahkan politik sekalipun. Biasanya, tiap titik peta itu menunjukan kedudukan geografis menurut skala dan proyeksiyang telah ditentukan.

9. Kota Konsep kota sebenarnya merujuk kepada fenomena yang sangat bervariasi sesuai dengan perbedaan sejarah dan wilayahnya. Namun, secara umum istilah kota adalah tempat di wilayah tertentu yang dihuni oleh cukup banyak banyak orang dengan tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Studi tentang masyarakat kota tidak hanya terbatas menelaah masyarakat secara luas, namun juga karakterisik-karakteristik tertentu dikehidupan internalnya (Hannerz, 2000:110).

10. Mortalitas Konsep mortalitas merujuk kepada rangkuman tingkat kematian kotor rata-rata (crude death rate di singkat CDR) penduduk, yaitu jumlah kematian per tahun

per seribu penduduk ( Ewbank, 2000:684). Rangkuman yang sederhana tersebut mengukur efek mortalitas pada laju pertumbuhan penduduk. Mortalitas atau CDR dipengaruhi oleh distribusi umum dari populasi. Oleh karena itu tidak akan banyak berguna membandingkan mortalitas pada masyarakat yang memiliki tingkat fertilitas yang berbeda atau pada masyarakat yang terpengaruh oleh migrasi.

11. Khatulistiwa (Ekuator) Khatulistiwa atau ekuator adalah sebuah konsep yang merujuk kepada garis khayal yang melingkari bola bumi dan membelahnya menjadi dua bagian yang sama besar, masing-masing 180 derajat. Garis ekuator inilah yang sering disebut garis khatulistiwa atau garis lintang nol derajat (Shadily, 1984:905). Dari garis lintang nol derajat tersebut, untuk kearah utara disebut gris lintang utara, dan kearah selatan disebut garis lintang selatan. Beberapa yang dilalui garis khatulistiwa tersebut adalah Indonesia, Ekuador, Colombia, Brazilia, Kenya, Uganda, Zaire, Kongo, dan Gabon. Di Indonesia, garis ekuator melintasi kota Pontianak (Kalimantan Barat), Sasak (Sumatera Barat), Teluk Gorontalo, Kalimantan Timur, Bagian Selatan Pulau Halmahera, serta pesisir utara Pulau Waigeo di Papua Barat.

12. Demografi Konsep demografi merujuk kepada analisis terhadap berbagai variabel kependudukan. Di dalamnya mencakup berbagai metode perhitungan dan hasil substantif dalam riset mengenai angka kematian (mortalitas), angka kelahiran (natalitas) migrasi, dan jumlah serta komposisi penduduk atau populasi (Keyfitz, 2000: 219).

13. Tanah Istilah tanah merujuk kepada suatu wilayah permukaan bumi dengan ciri khas mencakup segala sifat yang sepatutnya stabil atau diperkirakan selalu terulang kembali dari lingkungan hidup yang lurus, di atas atau di bawah wilayah tersebut. Dengan demikian, ia mencakup udara di atasnya, bumi dan geologi yang melandasinya, hirologi, tumbuhan, dan hewan yang ada akibat kegiatan manusia di masa lalu dan masa kini, sejauh semua hal tersebutm menimbulkan

pengaruh yang berarti atas penggunaan tanah tersebut oleh manusia, kini dan kelak kemudian hari (Vink, 1986: 194).

14. Transmigrasi Transmigrasi adalah suatu sistem pembangunan terpadu, upaya untuk mencapai keseimbangan penyebaran penduduk, juga dimaksudkan untuk menciptakan perluasan kesempatan kerja sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan melalui perpindahan penduduk dari darah yang padat ( jawa, Madura, dan Bali) ke daerah-daerah yang jarang penduduknya (Martono, 1986: 180).

15. Wilayah Konsep wilayah merujuk pada suatu area di permukaan bumi yang relatif homogen dan berbeda dengan sekelilingnya berdasarkan beberapa kritera tertentu (Johnston, 2000: 910). Jadi, kunci dalam geografi kawasan adalah kawasan yang dibangun di atas sebuah unit spasial yang homoddden. Konsep itu tampil sebagai kajian tentang bagaimana bagian-bagian bumi begitu beragam akibat distribusi yang tidak merata dari fenomena alam dan manusianya (termasuk interkasi keduanya). Berbagai jenis kumpulan fenomena berada dalam berbagai wilayah, menciptakan kawasan-kawassan sehingga kajian kawasan menyoroti tentang pembentukan kumpulan-kumpulan tersebut dan menguraikan cirri-ciri khas berbagai bagian dunia.

D. GENERALISASI-GENERALISAI GEOGRAFI

1. Tempat Nilai penting karakteristik suatu tempat dalam masa lalu, sekarang maupun masa sepan terhadap suatu tempat-tempat yang strategis secara ekonomi, selalu memiliki daya tarik tersendiri bagi pengembangan politik-ekonomi. Hal itu disebabkan makin meningkatnya mobilitas ddan faktor utama produksi, yaitu modal dan tenaga kerja. Suatu tempat harus memiliki daya tarik bagi investasi dan pekerja, mereka yang terlibat dalam manajemennya harus bekerja dengan tujuan tersebut. Hal itu telah menimbulkan ketertarikan untuk menciptakan dan menjual tempat kepada berbagai kelompok bisnis.

2. Sensus Penduduk Sensus penduduk memiliki makna multidimensi, karena darihasil tersebut dapat memberikan informasi tentang penduduk, angkatan kerja prouktif, perumahan sector manufaktor, pertanian, perindustrian, pertambangan, dunia bisnis, dan lain-lain. Dalam praktiknya, sensus penduduk dapat dilakukan secara de facto maupun de jure (di mana ia dihitung walaupu tidak ada ketika sensus berlangsung) (Taeuber, 2000:100).

3.

Iklim

Masalah-masalah yang sering muncul dalam pembangunan pertanian di daerah tropis dari segi iklim adalah tanah di daerah tropis beriklim lembab. Sepanjang tahun mungkin dapat digunakan untuk pertanian, tetapi sebagian tanah tanah itu tidak cocok untuk didayagunakan menurut pola pertanianmodrn yang mengandalkan penggunakan teknologi mutakhir karena tidak dapat dipupuk secara efektif dengan pupuk mineral (Weischet, 1986: 1).

4.

Laut

Sebagai Negara bahari, bangsa Indonesia belum optimal dalam melakukan peberdayaan kelautan atau apa yang dinamakan Revolusi biru masih jalan ditempat.

5.

Lingkungan

Dalam setiap proyek pembangunan, sebelumnya perlu dilakukan analisis menyeluruh tentang dampak lingkungan yang ditimbulkannya. Hal itu bukan hanya kepada perisahaan-perusahaan pemerintah, tetapi juga perusahaanperusahaan swasta, terutama sanagat berperan dalam memperoleh izin resmi usaha tersebut, khususnya bagi kegiatan-kegiatan yang dianggap peka lingkungan. (O‘ Riodan, 2000: 299).

6.

Benua

Sebagai penduduk dari benua yang paling banyak dan padat penduduknya, bangsa asia lebih kompleks menghadapi tantangan kehidupan mendatang

disbanding ddenga bangsa Australia yang lebih sedikit dan rendah tingkat kepadatan penduduknya.

7.

Urbanisasi

Urbanisasi merupakan salah satu proses perubahan sosial yang tercepat, khususnya di negara-negara berkembang bahkan dunia. Tranformasi-

transformasi sosial dan demografis yang tumbuh bersamaan dengan tumbuhnya penduduknya kota di Negara-negara berkembang tersebut, telah menunjukan pelipat gandaan pertumbuhan demografis yang memprihatinkan. (Evers, 1995:49).

8. Peta Para birokrat pemerintah, kaum profesional, maupun intelektual, pada hakikatnya memerlukan peta. Dsri keperluan untuk pembangunan ekonomi, pertahanan nasional, perlindungan lingkungan, ekonomi, bisnis, wisata, industry, maupun untuk memberikan eksplanasi visual dalam ranah-ranah abstrak yang perlu dipahami secara mendalam. Apalagi jika peta itu bentuk dan desainnya lebih bersifat dinamis dan interaktif karena dibuat dengan teknologi yang kian canggih dan menarik, jelas sangat diperlukan (Monmonier, 2000: 96).

9.

Kota

Banyak hal tentang kontak-kontak sosial diperkotaan sebagai sesuatu yang bersifat impersonal, supervisal, sementara, dan segmental. Hal ini pula yang dikhawatirkan oleh beberapa sosiolog yang cenderung pesismis mengenai kemungkinan terciptanya kehidupan manusiawi di perkotaan yang dipenuhi industry (Hannerz, 2000: 111).

10. Mortalitas Terjadinya transisi demografis (demographic transition) yang dikenal sebagai lingakran siklus demografis, menggambarkan proses perubahan tingkat mortalitas dan natalitas pada suatu masyarakat dari suatu situasi di mana keduanya menunjukan angka yang tinggi (Caldwel, 2000: 218).

11.

Khatulistiwa/Ekuator

Bagi negara-negara yang dilalaui dengan garis khatulistiwa, tidak ada alasan untuk merasa takut kekurangan sinar matahari. Hal ini jelas berbeda dengan daerah-daerah subtropis yang jauh dari garis khatulistiwa, hanya pada bulanbulan tertentu mereka dapat menikmati hangatnya sinar matahari.

12.

Demografi demografi dunia, khususnya di Negara-negara berkembang,

Ledakan

memperhatikan kecenderungan yang mencemaskan. Di tahun 1825, saat Malthus membuat perubahan akhir atas karya aslinya Essay on Population, kira-kira satu miliyar umat manusia mendiami planet bumi. Akan tetapi, menjelang itu, industrialisasi dan kedokteran modern memungkinkan penduduk bertambah dengan laju kecepatan yang makin meningkat. Dalam seratus tahun berikutnya, penduduk dunia berlipat ganda menjadi dua miliar, setengah abad berikutnya (dari tahun 1925 ke tahun 1976) berlipat ganda lagi menjadi 4 miliar, dan menjelang tahun 1990 angka itu melaju sampai 5,3 miliar (Kennedy, 1995: 28-29).

13.

Tanah

Banyak pekerjaan dilaksanakan diatas tanah yang diolah melalui sistem-sistem hidrologi. Sistem-sistem ini kerap kali menghubungkan tanah dengan perairan terbuka. Perairan terbuka, sungai, danau, laut, dan samudera memiliki ekosistem sendiri-sendiri yang juga dapat diteliti dan dipetakan serta sangat dipengaruhi oleh kegiatan manusia di daratan (Vink, 1986: 199).

14.

Transmigrasi

Bagi bangsa Indonesia, program transigrasi bukan sesuatu yang baru. Sejak pertengahan abad ke-19, Etische Politik telah mempengaruhi parlemen Belanda untuk mengetuk dan membuat penelitian tentang kemakmuran rakyat daerah-daerah pedesaan di Jawa (demindere wel vaart onderzoek) yang akhirnya mencanangkan dan melaksanakan program transmigrasi

(purboadiwidjojo), 1986:9), walaupun pelaksanaanya bukan semata-mata atas dasar kemanusiaan. Begitupun ketika Indonesia memasuki

pascakemerdekaan, pemerintah segera mencanangkan Program Transmigrasi, terutama untuk mengatasi ketidakseimbangan demografis antara Pulau Jawa

(termasuk Madura da Bali) yang padat penduduknya dengan pulau-pulau luar Jawa yang jarang penduduknya (Swasono, 1986:xi; Scholz, 1986: 287).

15.

Willayah

Kompleksitas persoalan-persoalan demografis wilayah Asia jauh melebihi kompleksitas persoalan-persoalan demografis wilayah Australia, baik melalui natalitas, mortalitas, proyeksi kependudukan, serta kesejahteraan.

H. TEORI-TEORI GEOGRAFI

1. Teori Ledakan Penduduk Thomas Robert Malthus a. Masyarakat manusia akan tetap miskin karena kecendrungan pertambahan penduduk berjalan lebih cepat daripada persediaan makanan. b. Pertambahan penduduk dapat diibaratkan deret kali atau deret ukur sehingga pelipatgandaan jumlah penduduk dalam setiap 25 tahun, sedangkan peningkatan sarana-sarana kehidupan berjalan lebih lambat, yakni menurut deret hitung atau deret tambah. c. melalui tindakan pantang seksual atau pantangan kawin, perang, bahaya, kelaparan, dan bencana alam, jumlah penduduk memang diusahakan sesuai dengan sarana kehidupan yang tersedia. Namun, cara itu tidak cukup untukmeningkatkan kehidupan masyarakat samapai di atas batas minimum.

2. Teori Pengaruh Iklim Terhadap Peradaban Ellsworth Hunting Pokok-pokok pikiran Hunting sebagai berikut: a. Peradaban besar yang ada di kawasan Asia Tengah dan Asia Barat Daya pada zaman kuno, sekarang kondisi dari daerah-daerah tersebut

mengerikan, pada awal abad ke-20 diperkirakan terjadinya kemerosotan peradaban yang disebabkan. b. Mengeringnya wilayah itu saat ini, kelihatannya tidak sesuai posisinya dahulu sebagai pusat kerajaan. Menurutnya, iklim yang dahulu jauh lebih lembap dan pada wilayah itu terjadi suatu proses pengeringan yang terus-menerus dan progresif.

c. Proses semacam ini menjadi bagian dari suatu proses yang lebih besar dari fenomena-fenomena yang lebih umum. Sesuai dengan hal itu, ia terdorong untuk membuat postulat tentang mengeringnya bumi yang terjadi dalam pulsasi ritmik, dengan periode-periodedari udara kering dan basah. d. Begitu pun cerita pengembaraan bangsa Ibrahim (Yahudi) dalam kitab suci berhubungan dengan titik tengah antara masa kekeringan dan masa kebasahan. e. Proses pengeringan yang progresif dari bumi mengikuti arah tertentu, umumnya dari timur ke barat.

3. Teori Lokasi Lahan Johann Heinrich von Thunen Johann Heinrich von Thunen dalam Der Isolierte Staat (1826)

mengemukakan bahwa pada dasarnya penggunaan lahan dapat dibagi dalam beberapa penggunaan. Dengan mengambil satu pusat kota sebagai satusatunya tempat memproduksi barang-barang yang dibutuhkan oleh seliruh Negara, ssedangkan daerah-daerah di sekitarnya hanya sebagai pemasok bahan mentah ke kota. 1. Lahan pertama berada di pusat kota (pasar), akan di pakai untuk kegiatankegiatan intensif bagi jenis tanaman yang hasilnya cepat rusak.memakan tempat, dan berat dalam kaitannya dengan transportasi. 2. Lahan kedua merupakan daerah hutan. Hal itu dapat dipahami, mengingat pada masa itu kebutuhan hasil hutan untuk kayu dan bahan bakar memiliki sifat yang memakan tempat dan berat sehingga harus ditempatkan dekat dari pusat kota. 3. Lahan ketiga digunakan untuk menanam tanaman sejenis gandum atau padi-padi. 4. Lahan keempat berupa daerah penggembalaan ternak. 5. Lahan kelima adalah daerah three field system yang merupakan daerah ilalang, dan daerah tandus. 6. Lahan keenam merupakan daerah perburuan. 7. Untuk memudahkan dan efesiensi transportasi, diperlukan sungai yang membelah kota. Hal itu ternyata dapat menghemat 1/6 tranfortasi darat sehingga lahan pertama akan berkembang sepanjang sungai.

8. Perlu dibuat kombinasi transportasi darat dan sungai sehingga akan sama biaya tranpor darat bagi daerah yang tidak dapat menikmati adanya sungai.

4. Teori Daya Sentrifugal dan Senttripetal Charles O. Colby Adapun isi pokok teori yang menyebabkan pada mayarakat kota terjadi daya dan sentrifugal sebagai berikut: a) Terdapat gangguan yang sering berulang, seperti kemacetan lalu lintas serta polusi udara dan bunyi menyebabkan penduduk kota merasa tidak nyaman bertempat tinggal di tempat itu. b) Dalam pengembangan industry modern dan bessar-besaran, memerlukan lahan relarif luas serta menjamin kelancaran transportasi dan lalu lintas. Hal itu hanya dapat dilakukan di pinggiran kota sebab kondisi kota-kota tua sangat padat. c) Harga sewa atau harga beli tanah di pinggir atau diluar kota jauh lebih murah daripada di kota. d) Di kota sudah penuh dengan gedung-gedung bertingkat tinggi, tidak mungkin lagi dapat dibangun baru, kecuali dengan biaya yang sangat tinggi. e) Kondisi perumahan kota umumnya padat dan sempit, sulit untuk dikembangakan labih lanjut, kecuali dengan biaya yang tinggi. Berbeda dengan pinggir atau luar kota, serba mungkin untuk memperoleh perumahan yang lebih nyaman, segar, dan murah. f) Hidup di kota terasa sesak, penat, dan berjubel. Sedangkan di pinggir atau diluar kota lebih terasa asri, segar, sunyi, dan nyaman.

Namun sebaliknya, banyak juga penduduk di luar atau di pinggir kota yang justtru senang tinggal di kota. Penyebabnya berkaitan dengan gaya sentripetal. a) Memiliki tempat-tempat di pusat kota yang strategis, sangat cocok untuk pengembangan industri dan merupakan kemudahan tersendiri dalam operasi industry. b) Berbagai perusahaan dan bisnis, biasanya lebih menyukai lokasi-lokasi ddekat stasiun kereta api, pelabuhan, terminal bus, maupun pusat-pusat keramaian public lainnya.

c) Dalam dunia bisnis, lebih menyukai dan kecendrungan adanya konsentrasikonsentrasi penjual jasa, seperti penjahit, tempat praktik para dokter, pengacara, tukang gigi, pemangkas rambut dan kecantikan, biassanya terdapat pada lokasi yang berdekatan. d) Selain itu, di kota-kota sudah tersusun pusat-pusat perbelanjaan, seperti took-toko.tekstil, elektronik, perhiassan (emas dan perak), pakaian jadi, makanan dan minuman, barang-barang kelontong, mainan anak dan sebagainya. e) Banyaknya flat-flat atau rumah tersusun untuk masyarakat kecil, setidaknya dapat meringankan harga sewa bagi penduduk kota. f) Kota pun menyediakan sejumlah tempat hiburan, olahraga, seni budaya, pendidikan, di samping menyediakan pekerjaan. g) Para pegawai dan pekerja kota lainnya, lebih menyukai tempat tinggal yang tidak berjauhan dengan tempat kerjanya. Artinya, kota tetap diminati sebagai kebutuhan untuk bertempat tinggal karena dekat dengan tempat bekerja.

5. Teori Kota Konsentris Burgess Inti teori kota konsentris tersebut sebagai berikut a. Pada hakikatnya, kota meluas secara seimbang dan merata dari suatu pusat atau inti sehingga muncul zona-zona baru sebagai perluasannya. b. Dengan demikian, pada setiap saat dapat ditemukan sejumlah zona yang konsentris letaknya sehingga struktur kota menjadi bergelang (melingkar). c. Di pusat kota terdapat Zona Pertama sebagai Central Bisnis Dictrict (disingkat CBD) jika di Chicago di sebut loop. Fungsi loop sebagai pusat atau jantung kehidupan perdagangan,perekonomian, dan kemasyarakatan. Zona kedua sebgai terdapat Zona Peralihan (transtitional zone) yang merupakan kawasan perindustrian, disertai oleh rumah-rumah pribadi yang kuno, bahkan jika Chicago telah berubah menjadi Chines Town maupun pertokoan dan perkantoran berskala kecil. Zona ketiga, sebagai kawasan perumahan para buruh yang kebanyakan kaum imigran. Zona Keempat, penghuninya kelas menengah, cukup rapi, memiliki jarak sanitasi yang lebih memadai sebagai tempat tinggal yang nyaman dan baik. Zona kelima merupakan Commuters Zone atau tempat orang yang pergi pulang setiap

hari untuk bekerja. Kondisi alamnya masih asri, luas, dan mewah serta berfungsi sebagai kota kecil untuk beristirahat dan tidur atau disebut dormitory towns, disebut demikian karena perumahan untuk orang-orang kaya.

6. Teori Konflik Antara Suku Bangsa Nomadik Sedenter Jean Bunhes Adapun isi pokok teori Jean Bunhes sebagai berikut. a. Stepa-stepa padang rumput di Asia dengan musim dingin yang kejam, tidak memungkinkan pengolahan alam yang intensif. b. Tanah secara alami sangat sesuai dengan jenis pastoral (pastoralart) untuk memelihara kawanan ternak dan hewan. c. Karena dihadapkan dengan suasana keharusan untuk berkeliling untuk mengetahui tentang wilayah perumputan serta sumber-sumber air untuk jarak yang jauh, mereka meperoleh rasa gerakan taktis dan strategi yang menempatkan mereka dalam posisi mendaulat terhadap ruang dan menguasai para tetangga mereka. d. Beberapa dari penakluk yang paling besar dan apling beerani dalam sejarah, muncul dari stepa-stepa Jengis Khan, Timur Lang, dan Khubilai Kan. e. Kualitas dan kemampuan yang menjadi alasan bagi kekuasaanya diperoleh dari stepa, dari keterampilan yang dianugerahkan kepada pastoral, dan dari subordinasi geografis pada lingkungannya. f. Kelompok pengembala ini bukan massa petani-petani kelompok kecil yang mengerumuni seluruh Asia Selatan Timur yang memimpin dunia. BAB 8 ILMU EKONOMI

A. PENGERTIAN EKONOMI Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Inti masalah ekonomi adalah adanya

ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas. Permasalahan tersebut kemudian menyebabkan timbulnya kelangkaan (Ingg: scarcity).Kata "ekonomi" sendiri berasal dari kata Yunani οἶκος (oikos) yang berarti "keluarga, rumah tangga" dan νόμος

(nomos), atau "peraturan, aturan, hukum," dan secara garis besar diartikan sebagai "aturan rumah tangga" atau "manajemen rumah tangga." Sementara yang dimaksud dengan ahli ekonomi atau ekonom adalah orang menggunakan konsep ekonomi dan data dalam bekerja. Secara umum, subyek dalam ekonomi dapat dibagi dengan beberapa cara, yang paling terkenal adalah‖ mikroekonomi vs makroekonomi”. Selain itu, subyek ekonomi juga bisa dibagi menjadi positif (deskriptif) vs normatif,‖ mainstream vs heterodox”, dan lainnya. Ekonomi juga difungsikan sebagai ilmu terapan dalam manajemen keluarga, bisnis, dan pemerintah. Teori ekonomi juga dapat digunakan dalam bidang-bidang selain bidang moneter, seperti misalnya penelitian perilaku kriminal, penelitian ilmiah, kematian, politik, kesehatan, pendidikan, keluarga dan lainnya. Hal ini dimungkinkan karena pada dasarnya ekonomi — seperti yang telah disebutkan di atas — adalah ilmu yang mempelajari pilihan manusia. Banyak teori yang dipelajari dalam ilmu ekonomi diantaranya adalah teori pasar bebas, teori lingkaran ekonomi, invisble hand, informatic economy, daya tahan ekonomi, merkantilisme, briton woods, dan sebagainya. Ada sebuah peningkatan trend untuk mengaplikasikan ide dan metode ekonomi dalam konteks yang lebih luas. Fokus analisa ekonomi adalah "pembuatan keputusan" dalam berbagai bidang dimana orang dihadapi pada pilihan-pilihan. misalnya bidang pendidikan, pernikahan, kesehatan, hukum, kriminal, perang, dan agama. Gary Becker dari University of Chicago adalah seorang perintis trend ini. Dalam artikel-artikelnya ia menerangkan bahwa ekonomi seharusnya tidak ditegaskan melalui pokok persoalannya, tetapi sebaiknya ditegaskan sebagai pendekatan untuk menerangkan perilaku manusia. Pendapatnya ini kadang-kadang digambarkan sebagai ekonomi imperialis oleh beberapa kritikus. Banyak ahli ekonomi‖ mainstream” merasa bahwa kombinasi antara teori dengan data yang ada sudah cukup untuk membuat kita mengerti fenomena yang ada di dunia. Ilmu ekonomi akan mengalami perubahan besar dalam ide, konsep, dan metodenya; walaupun menurut pendapat kritikus, kadang-kadang perubahan tersebut malah merusak konsep yang benar sehingga tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Hal ini menimbulkan pertanyaan "apa seharusnya dilakukan para ahli ekonomi?" The traditional Chicago School, with its emphasis on economics being an empirical science aimed at explaining real-world phenomena, has insisted on the powerfulness of price theory as the tool of analysis. On the other hand, some

economic theorists have formed the view that a consistent economic theory may be useful even if at present no real world economy bears out its prediction B. SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU EKONOMI Adam Smith sering disebut sebagai yang pertama mengembangkan ilmu ekonomi pada abad 18 sebagai satu cabang tersendiri dalam ilmu pengetahuan. Melalui karya besarnya Wealth of Nations, Smith mencoba mencari tahu sejarah perkembangan negara-negara di Eropa. Sebagai seorang ekonom, Smith tidak melupakan akar moralitasnya terutama yang tertuang dalam The Theory of Moral Sentiments. Perkembangan sejarah pemikiran ekonomi kemudian berlanjut dengan menghasilkan tokoh-tokoh seperti Alfred Marshall, J.M. Keynes, Karl Marx, hingga peraih hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 2006, Edmund Phelps. Secara garis besar, perkembangan aliran pemikiran dalam ilmu ekonomi diawali oleh apa yang disebut sebagai‖ aliran klasik”. Aliran yang terutama dipelopori oleh Adam Smith ini menekankan adanya‖ invisible hand” dalam mengatur pembagian sumber daya, dan oleh karenanya peran pemerintah menjadi sangat dibatasi karena akan mengganggu proses ini. Konsep ―invisble hand” ini kemudian direpresentasikan sebagai mekanisme pasar melalui harga sebagai instrumen utamanya. Aliran klasik mengalami kegagalannya setelah terjadi Depresi Besar tahun 1930an yang menunjukkan bahwa pasar tidak mampu bereaksi terhadap gejolak di pasar saham. Sebagai penanding aliran klasik, Keynes mengajukan teori dalam bukunya General Theory of Employment, Interest, and Money yang menyatakan bahwa pasar tidak selalu mampu menciptakan keseimbangan, dan karena itu intervensi pemerintah harus dilakukan agar distribusi sumber daya mencapai sasarannya. Dua aliran ini kemudian saling "bertarung" dalam dunia ilmu ekonomi dan menghasilkan banyak varian dari keduanya seperti: new classical, neo klasik, new keynesian, monetarist, dan lain sebagainya. Namun perkembangan dalam pemikiran ini juga berkembang ke arah lain, seperti teori pertentangan kelas dari Karl Marx dan Friedrich Engels, serta aliran institusional yang pertama dikembangkan oleh Thorstein Veblen dkk dan kemudian oleh peraih nobel Douglass C. North. C. METODOLOGI Sering disebut sebagai‖ The queen of social sciences”, ilmu ekonomi telah mengembangkan serangkaian metode kuantitatif untuk menganalisis fenomena ekonomi. Jan Tinbergen pada masa setelah Perang Dunia II merupakan salah satu

pelopor utama ilmu ekonometri, yang mengkombinasikan matematika, statistik, dan teori ekonomi. Kubu lain dari metode kuantitatif dalam ilmu ekonomi adalah model General equilibrium (keseimbangan umum), yang menggunakan konsep aliran uang dalam masyarakat, dari satu agen ekonomi ke agen yang lain. Dua metode kuantitatif ini kemudian berkembang pesat hingga hampir semua makalah ekonomi sekarang menggunakan salah satu dari keduanya dalam analisisnya. Di lain pihak, metode kualitatif juga sama berkembangnya terutama didorong oleh keterbatasan metode kuantitatif dalam menjelaskan perilaku agen yang berubah-ubah. Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Inti masalah ekonomi adalah adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas. Permasalahan itu kemudian menyebabkan timbulnya kelangkaan. Ilmu ekonomi dapat dikatakan memegang peranan penting dalam kehidupan sosial, terkait dengan kemakmuran. Ilmu ini mengkaji upaya memenuhi kebutuhan untuk mencapai kemakmuran. Kemakmuranitu sendiri diartikan sebagai kondisi dimana semua kebutuhan materi dapat terpenuhi dengan baik. Jika masyarakat sejahtera berarti masyarakat tersebut mengalami kemakmuran. Masyarakat dikatakan makmur apabila semua kebutuhan materi dapat dipenuhi dengan sebaik-baiknya, dan tingkat kemakmuran dapat diukur dari banyaknya barang dan jasa yang dihasilkan serta banyak barang dan jasa yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sebelum orang mengenal ilmu ekonomi, raja-raja dan para cerdik pandai pada jaman dahulu menggunakan ilmu filsafat sebagai dasar untuk mengatur dan memecahkan persoalan ekonomi. Dengan semakin pentingnya peranan ekonomi dalam kehidupan, mulailah banyak ahli yang tertarik untuk memecahkan persoalan ekonomi, karena filsafat tidak lagi sanggup memecahkan seluruh masalah yang berkembang di masyarakat. Adam Smith sering disebut sebagai yang pertama mengembangkan ilmu ekonomi pada abad 18 sebagai satu cabang tersendiri dalam ilmu pengetahuan. Melalui karya besarnya Wealth of Nations, Smith mencoba mencari tahu sejarah perkembangan negara-negara di Eropa. Sebagai seorang ekonom, Smith tidak melupakan akar moralitasnya terutama yang tertuang dalam The Theory of Moral Sentiments. Perkembangan sejarah

pemikiran ekonomi kemudian berlanjut dengan menghasilkan tokoh-tokoh seperti Alfred Marshall, J.M. Keynes, Karl Marx, hingga peraih hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 2006, Edmund Phelps. Dalam perkembangannya, ilmu ekonomi kemudian bercabang-cabang mengikuti perkembangan kehidupan ekonomi itu sendiri. Diantaranya yaitu : Ilmu ekonomi deskriptif adalah kajian yang memaparkan secara apa adanya tentang kehidupan ekonomi suatu daerah atau negara pada suatu masa tertentu. Misalnya:
 

Ekonomi Indonesia pada tahun 70-an. Ekonomi Jepang pasca perang dunia II.

Selain itu ilmu ini juga dibahas khusus secara teori yaitu makro ekonomi dan mikro ekonomi. Ilmu ekonomi teori ini membahas gejala-gejala yang timbul sebagai akibat perbuatan manusia dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan

masyarakat. Dalam hal ini makro ekonomi, mengkaji tentang pendapatan nasional, kesempatan kerja, pengangguran, inflasi, dsb. Mikro ekonomi, hanya mempelajari bagian-bagian dari teori ekonomi secara lebih mendalam seperti: pembentukan harga, rumah tangga produksi, konsumen, dsb. Cabang yang ketiga dari ilmu ini adalah ekonomi terapan. Ilmu ekonomi terapan merupakan cabang ilmu yang membahas secara khusus tentang penerapan teori ekonomi dalam suatu rumah tangga produksi, misalnya: ekonomi perusahaan, ekonomi moneter, ekonomi perbankan, dsb. Ilmu ekonomi memerlukan beberapa alat analisis untuk menerangkan teoriteorinya dan untuk menguji kebenaran teori-teori tersebut. Grafik dan kurva adalah alat analisis yang utama dalam teori ekonomi. Dalam teori yang lebih mendalam, matematika dan persamaan matematika memegang peranan yang sangat penting. Di samping itu statistik adalah alat analisis untuk mengumpulkan fakta dan menguji kebenaran teori ekonomi.

BAB 9 ILMU PSIKOLOGI

A. PENGERTIAN PSIKOLOGI

Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya. Menurut asalnya katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno: "ψυχή" (Psychē yang berarti jiwa) dan "-λογία" (-logia yang artinya ilmu) sehingga secara etimologis, psikologi dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Ilmu Psikologi adalah ilmu yang tergolong muda (sekitar akhir 1800an.) Tetapi, manusia di sepanjang sejarah telah memperhatikan masalah psikologi. Seperti filsuf yunani terutama Plato dan Aristoteles. Setelah itu St. Augustine (354-430) dianggap tokoh besar dalam psikologi modern karena perhatiannya pada intropeksi dan keingintahuannya tentang fenomena psikologi. Descartes (1596-1650) mengajukan teori bahwa hewan adalah mesin yang dapat dipelajari sebagaimana mesin lainnya. Ia juga memperkenalkan konsep kerja refleks. Banyak ahli filsafat terkenal lain dalam abad tujuh belas dan delapan belasLeibnits, Hobbes, Locke, Kant, dan Hume-memberikan sumbangan dalam bidang psikologi. Pada waktu itu psikologi masih berbentuk wacana belum menjadi ilmu pengetahuan. B. SEJARAH PSIKOLOGI Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, psikologi melalui sebuah perjalanan panjang. Bahkan sebelum Wundt mendeklarasikan laboratoriumnya tahun 1879, yang dipandang sebagai kelahiran psikologi sebagai ilmu. pandangan tentang manusia dapat ditelusuri jauh ke masa Yunani kuno. Dapat dikatakan bahwa sejarah psikologi sejalan dengan perkembangan intelektual di Eropa, dan mendapatkan bentuk pragmatisnya di benua Amerika. C. METODE PSIKOLOGI Beberapa metodologi dalam psikologi, di antaranya sebagai berikut : 1. Metodologi Eksperimental Cara ini dilakukan biasanya di dalam laboratorium dengan mengadakan berbagai eksperimen. Peneliti mempunyai kontrol sepenuhnya terhadap jalannya suatu eksperimen. Yaitu menentukan akan melakukan apa pada sesuatu yang akan ditelitinya, kapan akan melakukan penelitian, seberapa sering melakukan penelitiannya, dan sebagainya. 2. Observasi Ilmiah

Pada observasi ilmiah, suatu hal pada situasi-situasi yang ditimbulkan tidak dengan sengaja. Melainkan dengan proses ilmiah dan secara spontan. Observasi alamiah ini dapat diterapkan pula pada tingkah laku yang lain, misalnya saja : tingkah laku orang-orang yang berada di toko serba ada, tingkah laku pengendara kendaraan bermotor dijalan raya, tingkah laku anak yang sedang bermain, perilaku orang dalam bencana alam, dan sebagainya. 3. Sejarah Kehidupan Sejarah kehidupan seseorang dapat merupakan sumber data yang penting untuk lebih mengetahui ―jiwa‖ orang yang bersangkutan, misalnya dari cerita ibunya, seorang anak yang tidak naik kelas mungkin diketahui bahwa dia bukannya kurang pandai tetapi minatnya sejak kecil memang dibidang musik sehingga dia tidak cukup serius untuk mengikuti pendidikan di sekolahnya. 4. Wawancara Wawancara merupakan tanya jawab si pemeriksa dan orang yang diperiksa. Agar orang diperiksa itu dapat menemukan isi hatinya itu sendiri, pandanganpandangannya, pendapatnya dan lain-lain sedemikian rupa sehingga orang yang mewawancarai dapat menggali semua informasi yang dibutuhkan. 5. Angket Angket merupakan wawancara dalam bentuk tertulis. Semua pertanyaan telah di susun secara tertulis pada lembar-lembar pertanyaan itu, dan orang yang diwawancarai tinggal membaca pertanyaan yang diajukan, lalu menjawabnya secara tertulis pula. Jawaban-jawabannya akan dianalisis untuk mengetahui hal-hal yang diselidiki. 6. Pemeriksaan Psikologi Dalam bahasa populernya pemeriksaan psikologi disebut juga dengan psikotes Metode ini menggunakan alat-alat psikodiagnostik tertentu yang hanya dapat digunakan oleh para ahli yang benar-benar sudah terlatih. alatalat itu dapat dipergunakan unntuk mengukur dan untuk mengetahui taraf kecerdasan seseorang, arah minat seseorang, sikap seseorang, struktur kepribadian seeorang, dan lain-lain dari orang yang diperiksa itu.

D.METODE PSIKOLOGI PERKEMBANGAN Pada Metode Psikologi Perkembangan memiliki 2 metode, yaitu metode umum dan metode khusus. pada metode umum ini pendekatan yang dipakai dengan

pendekatan longitudinal, transversal, dan lintas budaya. Dari pendekatan ini terlihat adanya data yang diperoleh secara keseluruhan perkembangan atau hanya beberapa aspek saja dan bisa juga melihat dengan berbagai faktor dari bawaan dan lingkungan khususnya kebudayaan Sedangkan pada metode khusus merupakan suatu metode yang akan diselidiki dengan suatu proses alat atau perhitungan yang cermat dan pasti. Dalam pendekatan ini dapat digunakan dengan pendekatan eksperimen dan observasi. Psikologi kontemporer Diawali pada abad ke 19, dimana saat itu berkembang 2 teori dalam menjelaskan tingkah laku, yaitu: 1. Psikologi Fakultas Psikologi fakultas adalah doktrin abad 19 tentang adanya kekuatan mental bawaan, menurut teori ini, kemampuan psikologi terkotak-kotak dalam beberapa ‗fakultas‘ yang meliputi berpikir, merasa, dan berkeinginan. Fakultas ini terbagi lagi menjadi beberapa subfakultas. Kita mengingat melalui subfakultas memori, pembayangan melalui subfakultas imaginer, dan sebagainya. 2. Psikologi Asosiasi Bagian dari psikologi kontemporer abad 19 yang mempercayai bahwa proses psikologi pada dasarnya adalah asosiasi ide yaitu bahwa ide masuk melalui alat indera dan diasosiasikan berdasarkan prinsip-prinsip tertentu seperti kemiripan, kontras, dan kedekatan. Psikologi sebagai ilmu pengetahuan Walaupun sejak dulu telah ada pemikiran tentang ilmu yang mempelajari manusia dalam kurun waktu bersamaan dengan adanya pemikiran tentang ilmu yang mempelajari alam, akan tetapi karena kerumitan dan kedinamisan manusia untuk dipahami, maka psikologi baru tercipta sebagai ilmu sejak akhir 1800-an yaitu sewaktu Wilhem Wundt mendirikan laboratorium psikologi pertama didunia. Laboratorium Wundt Pada tahun 1879 Wilhem Wundt mendirikan laboratorium Psikologi pertama di‖ University of Leipzig”, Jerman. Ditandai oleh berdirinya laboratorium ini, maka metode ilmiah untuk lebih mamahami manusia telah ditemukan walau tidak terlalu memadai. dengan berdirinya laboratorium ini pula, lengkaplah syarat psikologi untuk menjadi ilmu pengetahuan, sehingga tahun berdirinya laboratorium Wundt diakui pula sebagai tanggal berdirinya psikologi sebagai ilmu pengetahuan.

Berdirinya Aliran Psikoanalisa Semenjak tahun 1890an sampai kematiannya di 1939, dokter berkebangsaan Austria bernama Sigmund Freud mengembangkan metode psikoterapi yang dikenal dengan nama psikoanalisis. Pemahaman Freud tentang pikiran didasarkan pada metode penafsiran, introspeksi, dan pengamatan klinis, serta terfokus pada menyelesaikan konflik alam bawah sadar, ketegangan mental, dan gangguan psikis lainnya. D. FUNGSI PSIKOLOGI SEBAGAI ILMU Psikologi memiliki tiga fungsi sebagai ilmu yaitu:

Menjelaskan, yaitu mampu menjelaskan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi. Hasilnya penjelasan berupa deskripsi atau bahasan yang bersifat deskriptif

Memprediksikan, Yaitu mampu meramalkan atau memprediksikan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi. Hasil prediksi berupa prognosa, prediksi atau estimasi

Pengendalian, Yaitu mengendalikan tingkah laku sesuai dengan yang diharapkan. Perwujudannya berupa tindakan yang sifatnya preventif atau pencegahan, intervensi atau treatment serta rehabilitasi atau perawatan.

Pendekatan perilaku Menurut pendekatan perilaku, pada dasarnya tingkah laku adalah respon atas stimulus yang datang. Secara sederhana dapat digambarkan dalam model S - R atau suatu kaitan Stimulus - Respon. Ini berarti tingkah laku itu seperti reflek tanpa kerja mental sama sekali. Pendekatan ini dipelopori oleh J.B. Watson kemudian dikembangkan oleh banyak ahli, seperti B.F.Skinner, dan melahirkan banyak subaliran. Pendekatan kognitif Pendekatan kognitif menekankan bahwa tingkah laku adalah proses mental, dimana individu (organisme) aktif dalam menangkap, menilai, membandingkan, dan menanggapi stimulus sebelum melakukan reaksi. Individu menerima stimulus lalu melakukan proses mental sebelum memberikan reaksi atas stimulus yang datang.xx Pendekatan psikoanalisa Pendekatan psikoanalisa dikembangkan oleh Sigmund Freud. Ia meyakini bahwa kehidupan individu sebagian besar dikuasai oleh alam bawah sadar. Sehingga tingkah laku banyak didasari oleh hal-hal yang tidak disadari, seperti

keinginan, impuls, atau dorongan. Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam alam bawah sadar dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk dipuaskan. Pendekatan fenomenologi Pendekatan fenomenologi ini lebih memperhatikan pada pengalaman subyektif individu karena itu tingkah laku sangat dipengaruhi oleh pandangan individu terhadap diri dan dunianya, konsep tentang dirinya, harga dirinya dan segala hal yang menyangkut kesadaran atau aktualisasi dirinya. Ini berarti melihat tingkah laku seseorang selalu dikaitkan dengan fenomena tentang dirinya. E. Kajian psikologi Psikologi adalah ilmu yang luas dan ambisius, dilengkapi oleh biologi dan ilmu saraf pada perbatasannya dengan ilmu alam dan dilengkapi oleh sosiologi dan anthropologi pada perbatasannya dengan ilmu sosial. Beberapa kajian ilmu psikologi diantaranya adalah: 1. Psikologi perkembangan Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari perkembangan manusia dan faktor-faktor yang membentuk prilaku seseorang sejak lahir sampai lanjut usia. Psikologi perkembangan berkaitan erat dengan psikologi sosial, karena sebagian besar perkembangan terjadi dalam konteks adanya interaksi sosial. Dan juga berkaitan erat dengan psikologi kepribadian, karena perkembangan individu dapat membentuk kepribadian khas dari individu tersebut 2. Psikologi sosial Bidang ini mempunyai 3 ruang lingkup, yaitu :

studi tentang pengaruh sosial terhadap proses individu, misalnya : studi tentang persepsi, motivasi proses belajar, atribusi (sifat)

studi tentang proses-proses individual bersama, seperti bahasa, sikap sosial, perilaku meniru dan lain-lain

studi tentang interaksi kelompok, misalnya kepemimpinan, komunikasi hubungan kekuasaan, kerjasama dalam kelompok, dan persaingan.

3. Psikologi kepribadian Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari tingkah laku manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, psikologi kepribadian berkaitan erat dengan psikologi perkembangan dan psikologi sosial, karena kepribadian adalah hasil dari perkembangan individu sejak masih kecil dan bagaimana cara individu itu sendiri dalam berinteraksi sosial dengan lingkungannya.

4. Psikologi kognitif Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari kemampuan kognisi, seperti: Persepsi, proses belajar, kemampuan memori, atensi, kemampuan bahasa dan emosi.

F. WILAYAH TERAPAN PSIKOLOGI Wilayah terapan psikologi adalah wilayah-wilayah dimana kajian psikologi dapat diterapkan. walaupun demikian, belum terbiasanya orang-orang Indonesia dengan spesialisasi membuat wilayah terapan ini rancu, misalnya, seorang ahli psikologi pendidikan mungkin saja bekerja pada HRD sebuah perusahaan, atau sebaliknya. 1. Psikologi sekolah Psikologi sekolah berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi. Yang bertujuan untuk membentuk mind set anak 2. Psikologi industri dan organisasi Psikologi industri memfokuskan pada menggembangan, mengevaluasi dan memprediksi kinerja suatu pekerjaan yang dikerjakan oleh individu, sedangkan psikologi organisasi mempelajari bagaimana suatu organisasi memengaruhi dan berinteraksi dengan anggota-anggotanya

3. Psikologi kerekayasaan Penerapan psikologi yang berkaitan dengan interaksi antara manusia dan mesin untuk meminimalisasikan kesalahan manusia ketika berhubungan dengan mesin (human error) 4. Psikologi klinis Adalah bidang studi psikologi dan juga penerapan psikologi dalam memahami, mencegah dan memulihkan keadaan psikologis individu ke ambang normal. BAB 10 ILMU POLITIK

A. PENGERTIAN, KARAKTERISTIK, DAN RUANG LINGKUP POLITIK

Istilah politik sering dikaitkan dengan bermacam- macam kegiatan dalam system politik ataupun Negara yang menyangkut prosespenentuan tujuan sampai dalam melaksanakan tujuan tersebut. Ilmu politik adalah kajian tentang Negara, tujuan- tujuan Negara, dan lembaga- lembaga yang akan melaksanakan tujuan- tujuan itu ; hubungan antara Negara dengan warga negaranya serta dengan Negara lain. Ruang lingkup disiplin ilmu politik kontemporer sangat luas. Subbidang utama dari penyelidikan ilmu politik meliputi : pemikiran politik, teori politik, lembaga- lembaga politik, sejarah politik, politik perbandingan, ekonomi politik, administrasi public, teori- teori kenegaraan, hubungan internasional.

1. Pemikiran Politik Subbidang ini merupakan akumulasi bangunan teks dan tulisanpara filsuf besar yang membingkai pendidikan intelektual. Bagi mereka, tugas pemikiran politik adalah untuk menemukan makna dan yang asli dari wacana klasik.

2. Teori Politik Para ahli teori politik biasanya memiliki gaya sendiri- sendiri, kendati memiliki cirri umum yang bersifat normative dalan orientasi teori politiknya yang telah lama berevolusi.

3. Lembaga- Lembaga Politik Merupakan kajian terhadap lembaga- lembaga politik, khususnya peranan konstitusi, eksekutif, birokrasi, yudikatif, partai politik, dan system pemilihan. Banyak para ahli kontemporer yang menghabiskan waktunya untuk memonitor, mengepaluasi, dan menghipotesiskan tentang asal usul,

perkembangan, dan konsekuensi lembaga politik, seperti aturan pluralitas system pemilihan atau organisasi- organisasi pemerintahan yang semu. 4. Sejarah Politik Banyak para ilmuan politik yang menjelaskan tentang sejarah politik walaupun sering bias terhadap sejarah kontemporer.

Secara garis besar politik cenderung terbagi dua kubu : a. Hight politics b. Low politics

5. Politik Perbandingan Merupakan asumsi dari para ilmuan politik bahwa focus perbandingan memberikan satu- satunya cara untuk menjadi ilmu social murni.

6. Ekonomi Politik Subidang ini bertolak dari suatu pemikiran bahwa teori perilaku politik sebagaimana teori perilaku ekonomi, harus bermula dari premis sederhana tentang manusia yang suka membangun prediksi dari perilaku mereka.di sinilah letak hubungan ilmu politik dan ekonomi, dimana manusia tidak pernah puas menggapai kepentingan diri yang rakus tersebut.

7. Administrasi Publik dan Kebijakan Umum Keduanya merupakan cabang empiris dan normative dari ilmu politik yang tumpang- tindih dengan hukum dan ekonomi.

8. Teori Kenegaraan Teori ini sering diduga merupakan teori politik yang paling padu dalam memerikan perhatian bagi teori politik kontemporer, pemikiran politik, administrasi politik, dan hubungan internasional.

9. Hubungan Internasional Hubungan antarnegara merupakan hubungan internasional, jelas istilah tersebut sangat menyesatkan bagi subdisiplin ilmu politik yang mempokuskan pada hubungan lintas Negara dan internegara dalam diplomasi, transaksi ekonomi, serta perang maupun damai. Beberapa bidang kajian bidang kajian ilmu politik secara tematis yang berkembang dewasa ini demikian luas dan banyak ragam seperti psikologi politik, pluralisme politik, budaya politik, ekonomi politik, antropologi politik, politik etnik, rekruitmen politik, partai politik, perwakilan politik, dan birokrasi politik.

B. PENDEKATAN, METODE, TEKNIK, DAN ILMU BANTU POLITIK

1. Pendekatan a. pendekatan kuantitatif b. pendekatan kualitatif 2. Metode a. metode deskriftif b. metode analisis c. metode evaluatif d. metode klasifikasi e. metode perbandingan 3. Teknik Teknik yang banyak digunakan dalam ilmu politik sebenarnya banyak ragamnya seperti field work, infestigation, questionare, sampling, interview, opinionnaire, participant observer, schedule, direct observation,case study, dan action research. 4. Ilmu Bantu a. Sejarah b. Filsafat c. Antropologi d. Sosiologi e. Psikologi Sosial f. Ilmu Ekonomi g. Ilmu Hukum h. Ilmu Geografi

C. TUJUAN DAN FUNGSI ILMU POLITIK Secara umum terdapat tiga makna tujuan mempelajari ilmu politik 1. Perpektif Intelektual 2. Perspektip Politik 3. Perspektip Ilmu Politik

D. SEJARAH PERKEMBANGAN POLITIK

Ilmu politik lahir sejak abad ke- 19. Apabila ilmu politik merupakan disiplin ilmu yang bercorak Amerika maka cikal bakalnya adalah eropa klasik. Singkatnya, dalam paradigma politik waktu itu yang terpenting adalah bagaimana untuk mencari suatu keselarasan atau keseimbangan antara penguasa dan yang dikuasai. E. HUBUNGAN POLITIK DENGAN ILMU- ILMU SOSIAL LAINNYA 1. Hubungan Sosiologi dengan Politik 2. Hubungan Antropologi dengan Politik 3. Hubungan sejarah dengan Politik 4. Hubungan Geografi dengan Ilmu Politik 5. Hubungan Ekonomi dengan Politik 6. Hubungan Psikologi dengan Politik

F. MAZHAB- MAZHAB POLITIK Dalam pengelompokan mazhab- mazhab ilmu politik terbagi menjadi 5 mazhab, yakni mazhab institusionalisme, behaviorisme, plurarisme,

strukturalisme, dan developmentalisme.

G. KONSEP- KONSEP POLITIK Adapun konsep- konsep yang dimaksud seperti, kekuasaan, kedaulatan kontrak social, Negara, pemerintah, legitimasi, oposisi, system politik, demokrasi, pemilihan umum, partai politik, desentralisasi, persamaan, demonstrasi, HAM dan voting.

H. GENERALISASI- GENERALISASI POLITIK Generalisasi itu merupakan pernyataan hubungan dua konsep atau lebih. Dari pernyataan tersebut maka generalisasi- generalisasi dalam ilmu politik yang sering dikembangkan di tingkat pendidikan menengah berkaitan dengan konsep yang telah dibahas sebelumnya,

I. TEORI- TEORI ILMU POLITIK 1. Teori Politik Empiris 2. Teori Politik Formal

3. Teori Politik Normatif

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful