You are on page 1of 12

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN MENENGAH Topik : KEPEMIMPINAN DAN ETIKA PROFESI POLRI Judul

: IMPLEMENTASI KEPEMIMPINAN VISIONER GUNA TERCAPAINYA INTERNALISASI ETIKA PROFESI POLRI DALAM RANGKA TERWUJUDNYA KEPERCAYAAN MASYARAKAT BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Perkembangan lingkungan strategis baik internasional, regional maupun nasional yang didominasi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, infiltrasi budaya asing, arus globalisasi dan pasar bebas, tidak hanya membawa pengaruh postif bagi kesejahteraan masyarakat, namun juga membawa dampak negatif terhadap situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di tanah air. Tingginya angka kriminalitas, rendahnya pengungkapan tindak pidana, keresahan masyarakat akan rasa aman dan tenteram serta maraknya pelanggaran dan penyimpangan oleh oknum anggota Polri yang terjadi di berbagai wilayah di tanah air, adalah indikator bahwa Polri harus senantiasa membenahi diri. Reformasi Polri pada aspek struktural, instrumental dan kultur menjadi permasalahan dalam internal Polri belum terlaksana secara optimal. Meskipun reformasi ketiga aspek tersebut dilaksanakan secara simultan, namun dirasakan bahwa kelemahan Polri yang paling dominan berada pada aspek kultural, hal ini tercermin dari kemampuan Polri yang belum ‘well motivated’ dalam menghadapi segala

bentuk permasalahan yang menjadi tantangan tugas Polri, sehingga berdampak pada rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri. Kita sadari bahwa transformasi kultural yang terintegrasi dalam diri setiap insan Bhayangkara merupakan unsur mutlak dalam rangka mewujudkan kepercayaan masyarakat dan diyakini hanya dapat dicapai bila mendapat dukungan komitmen dari setiap individu Polri pada semua lini posisi dan jabatan, terutama yang memegang kendali pimpinan. Oleh karenanya, dibutuhkan berbagai upaya dalam menginternalisasi Etika Profesi Polri ke dalam diri setiap insan Bhayangkara yang dilandasi oleh kristalisasi nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam

hal. 1 2 . Bagaimana Solusi (Problem Solving) berupa rekomendasi terhadap permasalahan tersebut? 1 Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2011.1 Berangkat dari premis bahwa “baik buruknya suatu organisasi sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia (SDM)-nya”. c. yang pada gilirannya dapat membawa institusi Polri mencapai visi Polri yang telah ditetapkan. Penulis berpendapat bahwa Polri perlu menerapkan Tipe Kepemimpinan Visioner kepada para insan Bhayangkara. Bagaimana kondisi kepemimpinan Polri saat ini berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan? b. Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 608. maka Penulis mencoba untuk mengurai menjadi beberapa persoalan. Permasalahan dan Persoalan Dari uraian di atas maka diperlukan berbagai upaya pengembangan kemampuan dan keterampilan kepemimpinan guna mencapai internalisasi Etika Profesi Polri dalam rangka mewujudkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri. tidak akan memberikan arti yang signifikan manakala SDM yang mengawakinya tidak memiliki motivasi dan komitmen yang selaras dengan visi organisasi. Tahun 2011.Tribrata dan Catur Prasetya sebagai pedoman yang diharapkan dapat mendukung perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Apa yang dimaksud dengan Kepemimpinan Visioner dan Etika Profesi Polri? Bagaimana implementasi Tipe Kepemimpinan Visioner pada diri setiap insan Bhayangkari sehingga tercapai kondisi yang diharapkan? d. agar diperoleh pemahaman yang mendalam terhadap permasalahan tersebut. Oleh karena itu. “Kode Etik Profesi Polri”. yaitu : a. sebagai penanggungjawab roda operasional Polri baik di tingkat pusat sampai ke seluruh wilayah. 2. karena terbukti paling efektif dalam upaya penciptaan dan pengkaderisasian SDM Polri. oleh karenanya Naskah Karya Perorangan ini mengangkat permasalahan “Bagaimana Implementasi Kepemimpinan Visioner Guna Tercapainya Internalisasi Etika Profesi Polri Dalam Rangka Terwujudnya Kepercayaan Masyarakat?” Berdasarkan latar belakang dan rumusan permasalahan diatas. Jakarta. maka penulis berpendapat bahwa sebesar apa pun dukungan sumber daya lainnya bagi eksistensi dan operasionalisasi suatu organisasi.

Dihadapkan dengan tantangan tugas yang semakin berat dan kompleks saat ini. berani mengambil keputusan dan yang paling utama yaitu berwibawa serta dapat memimpin suatu organisasi yang dipimpinnya. dengan kata lain. terutama yang berasal dari mancanegara dan yang masuk dan disadur ke dalam bahasa Indonesia. 3. maka diperlukan kepemimpinan polri yang strategis. namun justru Penulis beranggapan bahwa itulah yang paling tepat untuk dikembangkan. Polri selaku institusi yang mempunyai tugas pokok memelihara kamtibmas. Kemampuan dan ketrampilan seorang Pemimpin dalam menentukan Visi dan Misi organisasinya. Sering kali suatu jabatan Kepala Satuan Kerja (Contoh : Kapolres sebagai seorang Manajer di tingkat Polres) diartikan sebagai refleksi bentuk kepemimpinan. 2. Lembaran Negara Republik Indonesia No. penulis memilih untuk menggunakan teori kepemimpinan visioner yang lahir dari pemikiran putra-putra bangsa untuk menjadi referensi dalam penulisan ini.BAB II PEMBAHASAN Setiap organisasi membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengembangkan organisasinya dengan baik sampai jauh ke depan. 3 . tidak hanya atas nama rasa nasionalisme dan patriotisme. Pemimpin berbeda dengan kepemimpinan. Kepemimpinan berkaitan dengan kemampuan individu untuk mempengaruhi. penegakan hukum serta perlindungan. melampaui usia zamannya. sedangkan kepemimpinan lebih menekankan kepada sikap atau figure pemimpin yang bijaksana. 2 Undang-undang No. “Kepolisian Negara Repbulik Indonesia”. Dengan tidak mengecilkan arti dan pemahaman konsep-konsep tentang kepemimpinan lainnya. Pemimpin adalah jabatan seseorang dalam suatu organisasi yang bertugas mengepalai suatu organisasi. pengayoman dan pelayanan masyarakat. sedangkan tidak semua manajer memiliki jiwa pemimpin. sesuai dengan harapan dan aspirasi masyarakat. 2 dituntut untuk dapat mengikuti perkembangan yang terjadi serta mampu menjawab tantangan tugas yang ada. yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada visi atau kepemimpinan visioner. karena berlandaskan pada kearifan lokal di bumi pertiwi. Tahun 2002. memotivasi dan membuat orang lain mampu memberikan kontribusinya demi efektivitas dan keberhasilan organisasi. Seorang pemimpin dapat menjadi Kasatker (Manajer). kehormatan dan amanah yang ditipkan kepadanya. berikut langkah-langkah strategi dalam mencapai hal tersebut merupakan faktor penentu keberhasilan kepemimpinan yang dianutnya. Begitu banyak teori tentang kepemimpinan yang berkembang saat ini. hal. seorang pemimpin harus dapat mengemban kepercayaan. namun belum tentu benar adanya. 2 Tahun 2002.

melainkan dipelopori oleh pemimpin-pemimpin visioner. dan sadar bahwa tidak akan ada keadilan tanpa Indonesia yang berdaulat. selaras antara ucapan dan perbuatan dan selalu berlatih untuk meraih prestasi yang lebih tinggi. bersatu dan merdeka dari penjajahan. organsasi yang bertujuan untuk memakmurkan pedagang pribumi. 4 . mampu memperbaharui konsep kepemimpinan visioner dan menghapus kesalahan konsep-konsep kepemimpinan lainnya. yaitu dengan mengedepankan ajaran yang berlandaskan Pancasila. tetapi kekurangan pemimpin visioner. Pemimpin visioner adalah pemimpin yang memiliki karakter seorang pahlawan. khususnya dalam hal keberanian dan sikap rela berkorban untuk kebaikan yang lebih tinggi (greater good). salah satu pelopor Kebangkitan Nasional. bersatu. 4. Kita ketahui bersama bahwa Sarekat Islam (SI). Tut wuri handayani. Jakarta. Mereka hidup dalam jaman penjajahan namun mampu melihat Indonesia yang merdeka. Namun para pendiri SDI adalah pemimpin visioner yang tau bahwa tidak akan ada kemakmuran tanpa keadilan hak dagang dengan pedagang asing. melihat hidup sebagai tantangan dan petualangan. yaitu : Selalu belajar (terus menerus). Pemimpin yang visioner berani untuk mengambil resiko demi mencapai visi yang diperjuangkannya. memancarkan energi positif. Kepemimpinan Visioner Sebagai flash-back. berdaulat. Ing madyo bangun karso. Ki Hajar Dewantara. Kebangkitan Nasional di Indonesia tidaklah dipelopori oleh pemimpin-pemimpin nasionalis. 1993. Kode Etik Profesi Polri Ketegori teknik kepemimpinan visioner digunakan oleh seorang pemimpin sebagai suatu cara mempengaruhi bawahannya agar dapat diarahkan pada pencapaian organisasi adalah 3 Abrar Yusra dan Ramadhan KH. Hoegeng Imam Santoso. berorientasi pada pelayanan. “Hoegeng : Polisi Idaman dan Kenyataan”. Jenderal Pol. percaya orang lain. Pahlawan Nasional Indonesia yang juga merupakan Bapak Pendidikan Nasional. kekurangan pemimpin yang bisa meneruskan visi para pejuang kemerdekaan. hal. 5.3 Adapun Ciri-ciri Kepemimpin Visioner dapat terlihat dari sifat-sifat seorang visioner. adil dan makmur.3. Boleh dikatakan bahwa Indonesia saat ini tidak kekurangan pemimpin yang nasionalis. Pustaka Sinar Harapan. Pemimpin yang visioner akan rela berkorban karena ia dapat melihat bahwa ada sesuatu yang berharga di ujung perjuangannya. Polri pun sebenarnya memiliki contoh figure Pemimpin Visioner yaitu : Mantan Kapolri. awalnya adalah Sarekat Dagang Islam (SDI). yaitu : Ing ngarso sung tulodo.

maka sikap profesional dan keteladanan akan segera terlihat dan terasa pada saat dia menentukan tindakannya. only bad officer” 6 . wewenang. dan konsep bahwa pemimpin harus dikenal sebagai pemimpin. Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2011. Sementara itu. dapat kita lihat korelasi yang signifikan antara teknik kepemimpinan dengan Etika Profesi dari organisasi tempat ia bekerja. dilarang. Frasa metaforik Napoleon tersebut memiliki makna "bersayap" bahwa suatu kelompok atau organisasi. pemimpin yang visioner kerap kali harus mengambil 4 Dr.sebagai berikut : 4 Etika profesi pemimpin dan etiket. Konsep-konsep salah ini yang utamanya adalah: Pemimpin harus sepenuhnya demokratis terhadap keinginan rakyatnya. Minimnya jumlah pemimpin visioner yang kita miliki lebih dikarenakan konsep-konsep salah yang ikut tertanamkan dalam usaha negara membangun jiwa kepemimpinan pada generasi mudanya. Dengan adanya kode etik. atau tidak patut dilakukan oleh Anggota Polri dalam melaksanakan tugas. Kartini Kartono. Rajawali Pers. 2. dan tanggung jawab jabatan. terkoordinasi. op. Sesungguhnya. komunikasi. Tahun 1827. “The Life Of Napoleon Buonaparte : Emperor Of The French”. 5 Bila Etika Profesi Polri dapat diaplikasikan dengan baik dan benar akan membantu Polri dalam pemecahan masalahnya sehari-hari. Jakarta. Demikian pula kinerja pelaksanaan tugas-tugas kepolisian akan lebih terarah. Fakta-fakta Terhadap Kelemahan Kepemimpinan Polri Saat Ini. J. 5 6 5 . Harper. hal 123. hal 95. kemampuan pengambilan keputusan dan keterampilan berdiskusi. patut. Semua kode etik intinya merupakan aturan-aturan dan peraturan yang diendapkan dari cita-cita dan kegiatan untuk mewujudkan cita-cita. keberhasilannya berada pada pemimpin dan kepemimpinannya. Dari kategori tersebut. & J. dan mendatangkan manfaat serta dukungan yang maksimal dari masyarakat. Sir Walter Scott Bart. New York. “There are no bad soldier. secara tegas yang sudah disebut dalam sumpah jabatan. strategi.cit. Tahun 2010. Kode Etik Profesi Polri adalah norma-norma atau aturan-aturan yang merupakan kesatuan landasan etik atau filosofis yang berkaitan dengan perilaku maupun ucapan mengenai hal-hal yang diwajibkan. Polisi secara tepat dapat menentukan apakah tindakan itu baik atau tidak baik dalam mengemban tugas mereka. “Pemimpin dan Kepemimpinan : Apakah Kepemimpinan Abnormal itu?”. dinamika kelompok. Pemimpin harus selalu memiliki jabatan pemimpin. 5. bawahan merupakan "perpanjangan" pelaksanaan dari ide. dan kebijakan pemimpin. hal. Apakah harus menerima uang imbalan atas hasil karyanya atau harus menolaknya. kebutuhan dan motivasi (manusia)..

dan dalam pengorbanan ini. ia harus memberi contoh bahwa ia juga ikut berkorban. Disamping itu. Kesemuanya bermuara pada asumsi dasar bahwa kelemahan-kelemahan tersebut merupakan indikasi seorang pemimpin yang belum memiliki komitmen dan etika kepemimpinan atau penulis sebut dengan istilah „tidak visioner‟. diantaranya : kepemimpinan yang masih militeristik. kesenjangan antara Top-Manager dengan Low-Manager. 6. justru pimpinan itu sendiri terlibat kasus KKN dan memberikan contoh yang buruk bagi para anggotanya.langkah yang terlihat tidak demokratis. overambisius. 6 . Analisa Permasalahan Penulis berpendapat bahwa Kepemimpinan Visioner layak menjadi ‘role model’ dari tipe kepemimpinan yang selama ini berlaku dalam institusi Polri tercinta dengan mengedepankan prinsip-prinsip dasar sebagai berikut : a. masih mengedepankan egoistis. belum berorientasi pada lingkungan organisasi. pemimpin yang „abnormal’. misalnya yang mempunyai sifat inferior. sedikit „gila kekuasaan‟ atau ‘power-sindrome’. Bapak Hoegeng pernah berpesan pada istrinya saat akan dipensiunkan dini karena menentang perintah kekuasaan otoriter dengan berhasil mengungkap perkara besar yang melibatkan banyak petinggi ABRI masa itu. Sangat disayangkan bahwa dalam beberapa contoh kasus. ketidaktaatan terhadap system serta ketidakpedulian terhadap lingkungan. Selain itu juga. mungkar. “selesaikan tugas dengan kejujuran. kecenderungan „menjilat‟ pada atasan untuk kepentingan pribadinya dan ketidaktulus-ikhlasan akan berdampak pada penyimpanganpenyimpangan tingkah laku atau gejala psikologis. bergaya hidup mewah. Ia juga tidak khawatir bila tidak memiliki jabatan pemimpin atau bahkan bila ia tidak dianggap pemimpin oleh khalayak ramai. Bila kita mampu jujur. sudah menjadi „rahasia umum‟ bahwa dalam organisasi Polri masih sarat dengan „kepentingan‟ dalam penunjukkan suatu posisi jabatan-jabatan tertentu yang bersifat strategis atau dikenal dengan istilah „basah‟ yang tidak berbasis pada kompetensi. masalah yang mendasar lainnya. belum memiliki visi ke depan yang jelas dan terukur. harus kita akui bahwa masih terdapat sederet kelemahan pola kepemimpin Polri yang berkembang saat ini. Bila dikaitkan dengan kepemimpinan visioner. pemimpin visioner harus berani memaksa rakyatnya melalui pengorbanan yang temporal demi mencapai hasil yang lebih baik. dan penyimpangan sosial pada angota bawahan-nya. Ing ngarso sungtulodo (Di depan memberi teladan) Mengandung pengertian bahwa sebagai seorang pemimpin harus menjadi contoh untuk para pengikutnya. belum memiliki kemampuan manajerial yang mumpuni.

“Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. hal. op. Contoh lain. Ing Madyo Mangun Karso (Di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa) Mengandung arti bahwa seorang pemimpin visioner. bahkan hingga memaksakan rakyat bahwa perubahan itu harus dilaksanakan. pemimpin visioner mampu memotivasi pengikutnya untuk ikut berkorban demi kebaikan yang lebih tinggi. 95. cit. Alhasil. Dengan memberikan contoh yang baik. mereka berkali-kali dikhianati oleh mereka yang diperjuangkan. Hoegeng tetapi hidup sebagai simbol bagi kejujuran hidup.” Sila ini jelas mengatakan bahwa kerakyatan harus dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan. Sutan Sjahrir dan Tan Malaka. Mungkin bentuk pemaksaan oleh pemimpin terhadap rakyat terkesan tidak demokratis. untuk kemudian disalurkan menjadi program-program pelayanan prima yang mengedepankan kepentingan masyarakat luas. sehingga pemimpin 7 Abrar Yusra dan Ramadhan KH. Dalam hal ini. dimana dalam kepemimpinan dan perjuangan ketiga Pahlawan Nasional ini. ia dan keluarganya tidak berniat untuk menikmati fasilitas yang diberikan Negara kepadanya sebagai seorang Kapolri. Pemimpin visioner dapat mempelajari tren ini dari beberapa Pahlawan Nasional Indonesia seperti Soekarno. Samsat Drive-through dan berbagai pelayanan gratis lainnya. Walau telah tiada. Kapolres yang memiliki jiwa kepemimpinan visioner.. seperti : SIM Corner. Namun perlu diingat bahwa perubahan seringkali tidak disukai meski perubahan itu bertujuan baik. tidak hanya meminta pengorbanan dari para anggota dibawahnya untuk „mengencangkan ikat pinggang‟. tidaklah harus memiliki suatu jabatan kepemimpinan. Sila ke-4 dari Pancasila berbunyi.Karena kita masih bisa makan nasi dengan garam” 7. seorang Kapolres yang bersedia mengorbankan sebagian atau seluruhnya „jatah dari lalu-lintas’. namun Kapolres tersebut juga menjadi teladan dengan ikut merelakan penghasilan yang biasa diperolehnya demi kebersamaan dan ketauladanan. karena kadang sangat memungkinkan rakyat tidak mengerti kenapa perubahan itu baik. ia harus berani memaksakan kehendaknya sebisa mungkin meskipun hal ini beresiko dengan jatuhnya sang pemimpin dari tampuk kepemimpinan. Pemimpin memiliki akar kata dari pimpin. hingga di penghujung karirnya. Bila sang pemimpin memiliki hikmat kebijaksanaan. Adalah tugas pemimpin untuk meyakinkan. 7 . b.

Seringkali justru ketika seseorang tidak memiliki jabatan atau validitas sebagai pemimpin.adalah mereka yang memimpin. Inilah alasan utama kenapa para pejuang kemerdekaan dari kaum bangsawan tidak menggunakan gelar kebangsawanan di depan nama mereka. walaupun dalam posisi bukan sebagai seorang pemimpin. walaupun pada akhirnya dia tidak mendapat kesempatan menjadi Kapolres di tempat tersebut. namun dengan prakarsa dan pengorbanan yang dia curahkan untuk kepentingan organisasi tersebut. dengan berpegang pada prinsip diri pribadi sebagai seorang pemimpin yang visioner. sebenarnya dia lah yang memimpin anggota organisasi tersebut ke tujuan yang ada di dalam visinya. Pahlawan lain yang patut diteladani adalah Si Singamangaraja XII yang tidak mau berkompromi dengan penjajah kendati kepadanya ditawarkan menjadi Sultan Batak. daripada memperjuangkan hak-hak untuk menyejahterakan rakyat. mereka yang membawa seseorang ke tujuan. tanpa menjadi ketua sekalipun. Pangeran Diponegoro menolak keinginan ayahnya (Sri Sultan Hamengku Buwono III) untuk mengangkatnya menjadi raja. Memiliki jabatan tidaklah buruk. Karena justru dengan berada di tengah-tengah rakyat. Namun. Justru hal ini lah yang membuatnya lebih bebas untuk berbaur dengan rakyatnya dan pada akhirnya mendukung perjuangannya melawan Belanda. Kehidupan Pahlawan Nasional kembali memberikan teladan yang baik untuk tidak „gila jabatan’. karena ingin lebih dekat dengan rakyatnya. andaikan mereka berjuang hanya karena mereka gila jabatan atau kekuasaan. waktu dan pikiran dalam mendukung operasionalisasi suatu Polres. Andaikan mereka bukan pemimpin visioner. mereka jadi lebih leluasa untuk memimpin. andaikan mereka hanya berpikiran sempit. ia akan tetap bersemangat dalam bekerja dan berkarya sehingga dapat memberikan semangat bagi rekan-rekan di lingkungan kerjanya. Dengan tidak gila jabatan dan berada di tengah rakyat justru kedua pahlawan menunjukan kepemimpinannya. namun sangat disayangkan banyak pemimpin di Indonesia sekarang ini lebih mengejar jabatan karena keuntungan pribadi yang ia dapatkan dari jabatannya. Indonesia tidak akan menjadi negara 8 . hal seperti ini lah yang dilakukan oleh banyak tokoh nasionalis dalam memerdekakan Indonesia. mereka bisa mendapat simpati rakyat dan membawa mereka ke tujuan yang ada di dalam visi. sebagai insan Bhayangkara yang berjiwa kepemimpinan visioner. setiap anggota Polri tidak selalu mendapat kesempatan untuk menjadi pimpinan sesuai yang diharapkan. Sesungguhnya. Dalam implementasinya di kedinasan. Sebagai contoh : Anggota Staf yang dengan gigih bekerja siang malam mencurahkan tenaga.

Seorang pimpinan kesatuan yang mengarahkan para anggotanya menuju visi yang telah disepakati. Seorang guru mendidik. Banyak sekali pemimpin yang juga pahlawan nasional yang tidak memiliki gelar Pahlawan Nasional. Pemimpin visioner harus mengerti bahwa ada kalanya tidak memimpin sama sekali justru merupakan tindakan memimpin. dimana justru Kapolres tidak ikut di dalamnya. karena dialah yang memilih dan memberikan motivasi kepada ketua panitia. seperti halnya seorang Guru. 9 . Penafsiran yang sedalam-dalamnya akan tut wuri handayani kedalam arti kepemimpinan ialah bahwa untuk menjadi pemimpin. Kapolres telah memberikan kedewasaan dan keleluasaan kepada ketua panitia. dan bukan tidak mungkin Indonesia akan terpecah menjadi banyak negara-negara kecil. Hal yang sama juga berlaku di dunia bisnis dimana direktur menyerahkan kepemimpinan kepada CEO. walaupun sejatinya Kapolres tersebut tetaplah memimpin acara itu menuju kesuksesan acara. mewariskan ilmu.kesatuan seperti ini. Bahkan karena itulah mereka disebut-sebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. c. memimpin sebenarnya berarti membawa ke tujuan. Seperti yang dijelaskan di atas. mengarahkan ke jalan yang benar dan menggali citacita muridnya. adalah guru untuk para bawahannya. Bila semua pemimpin mempedulikan bawahannya. memberikan nasihat dan bimbingan dalam kehidupan sehari-hari dengan ikhlas. maka niscaya Polri akan menjadi institusi tauladan dan pada gilirannya akan mengembalikan kepercayaan masyarakat. sehingga tampak jelas bahwa seorang guru memberikan visi kepada muridnya. Dengan demikian. Pada umumnya dibentuk panitia penyelenggaraan acara. tidak menghalang-halangi generasi mudanya untuk mendapat ilmu yang seharusnya mereka peroleh. (Di belakang memberikan dorongan) Hal ini juga merupakan esensi penting dari seorang pemimpin visioner. Satu contoh yang akan mempermudah pemahaman konsep ini ialah pendelegasian tugas dari seorang Kapolres kepada Staf yang ditunjuk untuk menyelenggarakan kepanitiaan suatu kegiatan yang dilaksanakan di Polres tersebut. semisal agenda kegiatan tahunan menyambut acara peringatan HUT Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945. kita tidak perlu pengakuan orang lain bahwa kita adalah pemimpin. Tut wuri handayani. Namun aplikasi semboyan tut wuri handayani dalam konsep kepemimpinan masih jauh lebih dalam dari sekedar memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menjadi ketua.

Itulah dasar dari moralitas Etika Profesi Polri yang hakiki. Dengan melaksanakan kepemimpinan visioner. Menentukan strategi yang tepat untuk diterapkan guna pencapaian visi. aspirasi anggota dan perkembangan lingkungan strategis di wilayahnya. triwulan dan bulanan. h. Menjabarkan visi organisasi tersebut ke dalam misi organisasi yangbersifat fleksibel (tidak kaku/rigid) dan sederhana. sebagai pedoman perilaku ideal yang kokoh dari polisi dalam melaksanakan pengabdiannya maka akan membuat mereka teguh dalam pendiriannya. f. e. sehingga mudah dilaksanakan dalam mencapai tujuan. Tipe Kepemimpinan Visioner memiliki hubungan yang erat dengan penjabaran kristalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam Etika Profesi Polri. kemudian mensosialisasikan visi tersebut secara detail kepada seluruh anggota. pada saat organisasi menghadapi permasalahan kritis. Melaksanakan evaluasi terhadap keberhasilan dan kegagalannya. Meneguhkan komitmen yang kuat dalam menjalankan roda organisasi. c.7. kepemimpinan visioner dalam diri setiap pemimpin Polri harus mampu melaksanakan langkah-langkah sebagai berikut : a. sehingga mereka dapat mengambil sikap yang tepat dalam setiap tindakannya. apakah tingkah laku pribadinya benar atau salah. maka pemahaman dasar Etika Kepolisian. Oleh karena itu dalam implementasinya. yang merupakan suatu norma atau serangkaian aturan yang ditetapkan untuk membimbing petugas dalam menentukan. d. Mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat. karakteristik wilayah. sebagai penentuan feedback berikutnya. Implementasi Kepemimpinan Visioner Guna Mencapai Etika Profesi Polri Dalam Rangka Mewujudkan Kepercayaan Masyarakat. 10 . Memiliki etika kepemimpinan (yang terkandung dalam Etika Profesi Polri). sedang dan pendek. Strategi tersebut harus bersifat komprehensif mencakup strategi jangka panjang. Menentukan visi organisasi berdasarkan pengamatan tantangan tugas. dan dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan sesuai dengan visi yang telah dirumuskan. b. sehingga lebih fokus dan terukur pencapaiannya. g. sehingga dapat dimengerti. Menentukan program yang dijabarkan ke dalam rencana kerja tahunan. dipahami dan diamalkan. Dimana sikap kepemimpinan dan etika tersebut berpangkal dari integritas yang mendalam dalam sanubari dan hati nuraninya.

Pemimpin visioner tidak gila jabatan atau kekuasaan karena ia tau bahwa tanpa jabatan pun ia dapat memimpin. tipe kepemimpin bersifat situasional. karena kadang visi yang dimilikinya tidak dapat dicerna oleh mereka yang ia pimpin. Jakarta. yang disesuaikan dengan perkembangan lingkungan strategis di era modern dewasa ini adalah tipe kepemimpinan visioner.BAB III PENUTUP 1. Tipe kepemimpinan sangat penting diketahui bagi setiap orang yang mendapat kesempatan untuk memimpin suatu organisasi. dan di Polda X pada khususnya. Kepemimpian Visioner yang diterapkan dengan sungguh-sungguh akan menumbuhkan Etika Kepolisian dalam diri setiap insan Bhayangkara. akan dapat memperkuat hati nuraninya. Prenhallindo. Pemimpin visioner mungkin tidak selalu demokratik. 11 . 8 Nanus Burt. berangkat dari situasi dan kondisi kritis yang berkembang saat ini. kemampuan manajerial dan intelektual yang mumpuni. pelaksanaan tugasnya dan tingkah lakunya adalah berguna. maupun masyarakat luas. Sejatinya. 56. meskipun dia tidak dianggap sebagai pemimpin oleh khalayak ramai. dapat diterima baik oleh organisasi yang dipimpinnya secara internal. pengabdiannya. sehingga didalam pengambilan keputusan ataupun melahirkan suatu kebijakan.8 Demikian halnya. Kesimpulan Meleburkan gagasan Ki Hajar Dewantara ke dalam konsep kepemimpinan akan menghasilkan konsep kepemimpinan visioner yang ideal. “Kepemimpinan Visioner”. artinya kita tidak dapat memakai satu tipe kepemimpinan terhadap semua situasi tertentu. karenanya dia dihargai. Polri jelas membutuhkan lebih banyak pemimpin-pemimpin visioner. PT. hal. sebab Kepemimpinan Visioner (Visionary Leadership) merupakan syarat mutlak bagi organisasi yang ingin berkembang sampai puluhan tahun ke depan. Penulis beranggapan bahwa tipe kepemimpinan yang tepat diterapkan pada organisasi Polri pada umumnya. dengan sosok Pemimpin Visioner adalah seorang pemimpin yang memiliki kejelasan visi. Namun. pemimpin yang berani dan rela berkorban karena ia memiliki visi yang baik untuk rakyat. sehingga mereka sungguh-sungguh merasakan bahwa hidupnya. Pemimpin visioner bahkan tetap dapat memimpin Organisasi Polri bergerak kemana. bermanfaat bagi masyarakat. Tahun 2001. khususnya pada para pemegang tongkat komando / pimpinan polri.

sebagai penentuan feed-back berikutnya. maka Penulis mengambil kesimpulan dari persoalan-persoralan tersebut diatas. Sehingga dapat mengangkat martabat kepolisian didalam masyarakat jika dilaksanakan dengan baik yang pada gilirannya akan mewujudkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri tercinta. Perlu kiranya diterapkan Tipe Kepemimpinan Visioner yang berakar dari Pancasila dan kearifan lokal bangsa Indonesia. melalui pendidikan dan pelatihan. misi.diterima. Implementasi Tipe Kepemimpinan Visioner sebagaimana tersebut pada Bab II Pembahasan. bahkan ditempatkan secara terhormat didalam masyarakatnya. Saran dan Rekomendasi Dalam menerapkan Tipe Kepemimpinan Visioner. c. program organisasi Polri bagi setiap pimpinan kesatuan terhadap organisasi yang diawakinya berdasarkan pengamatan tantangan tugas. serta perlu dilakukan evaluasi terhadap keberhasilan dan kegagalannya. aspirasi anggota dan perekembangan lingkungan strategis di wilayahnya. Dari seluruh esensi penulisan naskah ini. Perlu penanaman komitmen dan etika kepemimpinan yang terkandung dalam Etika Profesi guna pengambilan keputusan secara cepat dan tepat. Penulis memberikan solusi (Problem Solving) berupa rekomendasi untuk dapat menjawab permasalahan mengenai kepemimpinan yang dihadapi oleh institusi Polri. b. Berdasarkan uraian pembahasan dari permasalahan naskah ini. harus dapat terinternalisasi dalam diri setiap insan Bhayangkari sehingga tercapai kondisi yang diharapkan. Berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan saat ini. pada saat organisasi menghadapi permasalahan kritis. Penulis memberikan rekomendasi berupa kepada setiap Pimpinan untuk melakukan upaya sebagai berikut : a. karakteristik wilayah. sehingga tidak terkesan menjiplak gaya-gaya kepemimpinan yang berasal dari Negara asing. c. 2. Perlu pencanangan visi. b. d. 12 . maka tipe Kepemimpinan Visioner yang berlandaskan pada Etika Profesi Polri adalah TIPE kepemimpinan yang terbaik untuk diterapkan oleh institusi Polri. strategi. dapat ditarik kesimpulan bahwa kondisi kepemimpinan Polri saat ini masih terdapat beberapa kelemahan yang mendasar sehingga memunculkan berbagai permasalahan yang bermuara pada distrust masyarakat terhadap institusi Polri. yaitu : a. Dalam menghadapi permasalahan dan persoalan yang dihadapi.