KATA PENGANTAR

Segala puji syukur ke hadirat Allah SWT yang begitu banyak melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan referat yang berjudul “Epistaksis” ini. Shalawat dan salam bagi Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Dengan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini :
1. dr. Hj. Elfi H. Budiman Sp.M dan dr. H. Syahruddin H. Sp.M selaku pembimbing. 2. Orang tua, keluarga dan orang terdekat yang selalu mengiringi dan mendukung serta

selalu memberi semangat.
3. Nuri, ka nafila, ka nita dan ka raihana sebagai Rekan-rekan dokter muda di

kepaniteraan mata RSUD Dr. Slamet Garut.
4. Perawat-perawat mata yang telah banyak membantu dan berbagi ilmu.

Semoga referat ini dapat bermanfaat bagi penulis pribadi khususnya dan pembaca umumnya. Akhirnya penulis mohon maaf bila terdapat banyak kekurangan dan sumbang saran membangun sangat penulis harapkan guna penyempurnaan isi referat ini.

Garut, juli 2012

Penulis

1

DAFTAR ISI

Kata pengantar...........................................................................................................I Daftar isi...................................................................................................................II I Pendahuluan............................................................................................................3 II Efek anestesi pada mata ..........................................................................................4 II.1 mekanisme kerja obat anastesi..........................................................................4 II.2 fisiologi tekanan intraokular.............................................................................4 II.3 efek obat – obat anestesi pada mata ..................................................................5 III Jenis dan teknik anestesi lokal pada mata .................................................................7 III.1 anestesi topikal..............................................................................................7 III.2 anestesi lokal untuk suntikan...........................................................................8 III.3 pemilihan teknik anastesi lokal........................................................................10 III.4 block nervus fascial.......................................................................................10 III.5 retrobulbar anastesia......................................................................................13 IV Komplikasi anaestesi pada mata..............................................................................15 V Penutup................................................................................................................17 Daftar pustaka...........................................................................................................18

TEKNIK LOKAL ANASTESI PADA MATA

2

I PENDAHULUAN

Sensasi dari kelopak mata atas dan kening merupakan bagian pertama yang dipersarafi nervus trigeminus ( nervus cranial V). nervus ini juga mempersarafi konjunctiva bulbi atas dan kornea superior. Bagian kedua yang dipersarafi oleh nervus trigeminus ini adalah mensuplai input sensori kepada kelopak mata bawah dan sedikit bagian kornea inferior dan konjunctiva bulbi bagian bawah.(1) Anastesi adalah pengobatan yang menhilangkan sensasi rasa terutama nyeri. General anastesi biasa diberikan secara intravena atau inhalasi untuk menginduksi agar pasien tidak merasakan nyeri. Dalam oftalmologi, general anastesi jarang sekali digunakan. prosedur yang dikerjakan pada mata dan adneksanya merupakan pendekatan terbaik dengan variasi regional atau local anastesia. Anastesi dapat diperoleh dengan memblocking nervus sensoris yang mempersarafi mata dan kulit kelopak serta jaringan sekitarnya. anastesi jenis ini biasa disebut dengan “block”. Local anastesi dapat juga dicapai dengan dalam jangka waktu yang lebih cepat dengan injeksi langsung pada jaringan, tanpa memblocking nervus yang mempersarafi. Sebagai tambahan, karena permukaan mata lebih banyak terexpose dengan dunia luar, maka untuk memudahkan dapat dilakuakan pemberian anastesi secara langsung dengan cara penggunaan tetes mata.(1) Pembedahan mata merupakan tindakan yang unik dan menantang bagi ahli anastesi. Karena saat melakukan operasi harus mengatur regulasi tekanan intraokuler, pencegahan reflek okulocardiac dan penanganan terhadap konsekuensi pemberian anastesi tersebut. Pengontrolan perluasan gas intaokuler dan penanganan untuk menantispasi segala kemungkinan efek sistemik yang timbul dari penggunaan obat-obatan anastesi mata. Pengetahuan tentang mekanisme dan penanganan masalah tersebut tersebut dapat mempengaruhi hasil pembedahan. Bagian ini juga mempertimbangkan teknik khusus dari anastesi umum dan regional dalam bedah mata. Tidak ada teknik anastesia local yang benar – benar bebas dari resiko sistemik serius. Factor – factor lain termasuk keadaan medis pasien, kecemasan, dan rasa sakit atau reaksi stress terhadap operasi.(2)

II EFEK ANESTESIA PADA MATA

1. Mekanisme kerja anastesi
3

Semua obat anastesi bekerja dengan memblok transmisi impuls neural dari ujung saraf pada kulit kelopak, konjungtiva atau kornea ke dalam badan sel saraf dan kembali ke otak. Secara kimiawi, hal ini terjadi penghambatan sodium channel dan pencegahan depolarisasi nervus, oleh karena itu, terjadi penghambatan konduksi impulse secara fisiologis.(1) Tergantung dari formulasi anastesinya, onset kerja dan durasi dapat dikontrol . pertama obat anastesi sangat cepat dimetabolisme, kerja jangka panjangnya dapat bertahan selama beberapa jam. Durasi kerja dari anastesi local tergantung dari efek terhadap fisiologis obat terserbut. Pada konsentrasi rendah, kebanyakan obat anastesi local menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah. Dalam konsentrasi dan volume tinggi kebalikannya, dapat terjadi dilatasi pembuluh darah. (1)

2. Fisiologi tekanan intraocular Mata dapat ddianggap sebagai bola hampa dengan dinding yang kaku . jika isi dari bola mata meningkat, tekanan intraocular ( normal 12-20 mmHg ) akan naik. Sebagai contoh, glaucoma disebabkan oleh sumbatan aliran humor aquos. Begitu juga tekanan intraocular akan naik jika volume darah dalam bola mata meningkat. Naiknya tekanan vena akan meningkatkan tekanan intraocular oleh penurunan aliran aquos dan peningkatan volume darah koroid. Perubahan yang ekstrim dari tekanan darah arteri dan ventilasi dapat meningkatkan tekanan intraokuler seperti laringoscopy, intubasi, sumbatan jalan napas, batuk, posisi trendlenburg.(2) Hal lain peningkatan ukuran bola mata yang tidak proporsional mengubah volume isinya akan meningkatkan tekanan intraokuler. Penekanan pada mata dari sungkup nyang sempit, posisi prone yang tidak baik, atau pendarahan retrobulbar merupakan tanda peningkatan tekanan.(2) Tekanan intraocular membantu mempertahankan bentuk dan membangun optic dari mata. oleh karena itu Variasi temporer tekanan biasanya dapat ditoleransi dengan baik oleh mata normal. Dalam kenyataan berkedip menaikkan tekanan intraocular sebanyak 5 mmHg sampai dengan 26 mmHg. Episode transien peningkatan tekanan intraokuler pada pasien dengan tekanan arteri opthalmikus yang rendah. Hipotensi, arteriosklerotik arteri retina, bagaimanapun dapat membahayakan retina yang menyebabkan iskemia retina.(2) Pada saat bola mata dibuka selama prosedur pembedahan atau setelah trauma tembus, tekanan intraokuler dapat mendekati tekanan atmosfer. Beberapa factor secara normal meningkatkan ntekanan intraokuler akan menurun bila terjadi pengaliran aquos atau ekstruksi vitreus menembus luka. Komolikasi lama yang serius menimbulkan kelainan visus yang permanen.(2)
4

3. Efek obat anastesi pada tekanan intraocular Umumnya obat – obatnya anastesi lain dengan konsentrasi rendah tidak berefek pada tekanan intraokuler. Anastesi inhalasi menurunkan tekanan intraokuler yang proposional sesuai dalamnya anastesi. Penyebab penurunannya multiple antara lain : penurunan tekanan darah mengurangi volume korodial, relaksasi otot – otot ekstraokuler menurunkan tekanan dinding bola mata , kontriksi pupil memudahkan aliran aquos. Anastesi intravena juga dapat menurunkan tekanan intraocular. Mungkin pengecualian adalah ketamin, yang dapat menaikkan tekanan darah arteri dan tidak menyebabkan relaksasi otot ekstraokuler. (2) Table 38-1 variabel efek jantung dan pernapasan pada tekanan intraocular Variabel Tekanan vena sentral Meningkat Menurun Tekanan darah arteri Meningkat Menurun Pa CO2 Meningkat (hipoventilasi) Menurun (hiperventilasi) PaO2 Meningkat Menurun O ↑ ↑↑ ↓↓ ↑ ↓ ↑↑↑ ↓↓↓ Efek pada TIO

Keterangan gambar : ↓ : menurun ( ringan, sedang, petanda ) ↑ : meningkat ( ringan, sedang, petanda )
5

O : tidak ada efek

III JENIS DAN TEKNIK ANESTESI LOKAL PADA MATA

1. Anastesi topical Anastesi topical berguna untuk sejumlah prosedur diagnostic dan terapetik, termasuk tonometri, pembuangan benda asing atau jahitan, gonioskopi, kerokan konjungtiva, dan tindakan bedah ringan pada kornea dan konjungtiva, dan test fungsi air mata juga menggunakan anastesi topical juga. Satu dua tetes biasanya sudha cukup, namun dosisnya dapat diulang selama tindakan berlangsung.(1) Proparacaine, tetracaine, dan benoxinate adalah obat anastesi yang paling umum digunakan. Untuk praktisnya dikatakan dikatakan bahwa obat ini memiliki potensi
6

anastetik yang ekuivalen. Larutan cocain 1-4% juga dapat dipakai sebagai anastesia topical. (3) Tetracaine banyak digunakan dalam anastesi topical dan dapat digunakan untuk penggunaan tunggal baik dalam drop atau ampul. Propacaine dan benoxinate efektif untuk ujung saraf kornea melalui pemberian topical. Formula tersebut merupakan formulasi dengan tingkat osmotic yang tinggi dan memberikan rasa perih dan terbakr merupakan formulasi dengan tingkat osmotic yang tinggi, dan memberikan rasa perih dan terbakar saat diberikan. Kadang – kadang dilusi anastesi topical yang diimbangi dengan larutan garam dapat mengurangi perasaan tidak nnyaman ketika tetesan pertama diteteskan . drop anestesi topical tidak boleh diresepkan untuk penggunaan pasien dirumah.(4)
1. Proparacaine hydrochloride (ophtaine, dll ) (3,4)

Sediaan : larutan 0,5 % sediaan kombinasi proparacain dan flourescen tersedia sebagai flouracaine. Dosis : 1 tetes dan diulangi bila perlu Mula dan lama kerja : anestesi ulai bekerja dalam 20 detik dan bertahan 10-15 menit Catatan : paling sering iritasinya diantara obat – obat mata topical

2. Tetracaine hydrochloride ( pontocaine) (3,4)

Sediaan : larutan 0,5 % dan salep 0,5 % Dosis : 1 tetes dan diulangi bila perlu Mula dan lama kerja : mulai bekerja dalam 1 menit dan bertahan selama 15 – 20 menit Catatan : nyeri saat diteteskan

3. Benoxinate hydrochlodirde (3,4)

Sediaan : larutan 0,4%
7

Dosis : 1 tetes dan diulangi bila perlu Mula dan lama kerja : mulai bekerja 1-2 menit dan bertahan selama 10 – 15 menit. Catatan : benoxinate 0,4 % dan flourescin dapat dipakai sebelum tonometri aplanasi.

2. ANASTESI LOKAL UNTUK SUNTIKAN

Khususnya salah satu anastesi amida yang dikombinasikan dengan long-act ester anestesi untuk mendapatkan efek anastesi sensorik dan motorik jangka panjang. Campuran tersebut dapat disuntikan langsung ke dalam cone otot orbita , memblok nervus mototik dan sensoris mata. Penyuntikan anastesi juga dapat diberikan pada m.orbicularis ( van lint block ), ke dalam nervus ketujuh sebagaimana penyuntikan sebagaimana penyun tikan ini melintasi tulang maxilla, untuk memblok nervus (O’brien blok) atau langsung dimasukkan ke dalam foramen stylomastoid, untuk memblok motorik otot wajah secara lengkap dari samping (Atkinson block ) (1,3) Lidokain, procain, mepivacain adalah anestesi local yang umum dipakai untuk dipakai operasi mata. Obat yang bekerja lebih lama seperti bupivacaine dan etidocaine sering dicampurkan dengan anestesi lain untuk memperpanjang kerja. Anastesi local sangat aman bila dipakai hati – hati. Namun dokter harus sadar akan potensi toksik sistemik bila terjadi penyerapan cepat dari tempat suntikan, pada kelebihan dosis atau tanpa sengaja suntikan intravena.(1) Penambahan hyalorunidase memudahkan penyebaran anastesi dan memperpendek onset sampai 1 menit. Dengan alasan ini, hyalorunidase sering dipakai pada penyuntikan retrobulber sebelum ekstrasi katarak. Sampai 4-5 cc, dapat disuntikkan dibelakang bola mata dengan relative aman. Anastesi suntik yang paling banyak dipakai optalmolog pada pasien tua, yang rentan terhadapa aritmia jantung. Karenanya jangan pakai epinefrin dengan konsenterasi melebihi 1 : 200.000. (1)
1. Lidocain hydrochloride (xylocaine) (3)

Berkat kerjanya yang cepat dan lama (1-2 jam ), lidokain menjadi anastesi local yang paling sering dipakai. Anastesi ini dua kali lebih poten daripada prekain. Sampai 30cc larutan 1% tanpa epinefrin, dapat dipakai dengan aman. Pada operasi katarak, 15 – 20cc umumnya lebih cukup. Dosis maksimal yang aman adalah 4,5 mg/Kg tanpa epinefrin dan 7 mg/Kg dengan epinefrin.

8

2. Procaine hydrochloride (novacaine) (3,4)

Sediaan : larutan 1%, 2% dan 10% Dosis : kira – kira 50cc larutan 1% dapat disuntikkan tanpa menimbulkan efek sistemik. Dosis maksimal yang aman adalah 10 mg/Kg Lama kerja : 45 – 60 menit

3. Bupivacaine hydrochloride (marcaine, sensorcaine) (3,4)

Sediaan : larutan 0,25%, 0,5% dan 0,75% Dosis ; larutan 0,75% paling sering dipakai dalam ophtalmologi. Dosis aman maksimum untuk dewasa adalah 250 mg dengan epinefrin dan 200 mg tanpa epinefrin. Bupivacaine sering dicampur dengan lidocain dengan perbandingan 50 : 50
4. Etiocaine hydrochloride (duranest) (3,4)

Sediaan : larutan 1% dan 1,5 % Dosis : dosis maksimum yang aman adalah 4 mg/Kg tanpa epinefrin dan 5,5 mg/Kg dengan epinefrin. Obat ini sering dicampurkan dengan lidokain untuk anastesi local pada bedah mata Mula dan lama kerja : mula kerja lebih lambat daripada lidocaine, namun lebih cepat dari pada bupivicaine. Lama kerja kira- kira dua kali lidocaine ( 4-8 jam ).

3. PEMILIHAN TEKNIK ANASTESI LOKAL

Dalam memutuskan pemilihan tipe anastesi local yang digunakan ada beberapa hal yang dipertimbangkan. Diantaranya : 1. Faktor pasien Operasi katarak dengan anastesi local sangat dibutuhkan pasien yang kooperatif selama operasi. Jadi pasien dengan persiapan , kecemasan dan kemampuannya untuk bekerja sama kesemuanya itu perlu diperhitungkan. Lokal anastesi merupakan prosedur pilihan untuk kebanyakan pasien , bahkan mereka yang memiliki kelemahan pendengaran . kemampuan pasien untuk memaklumi
9

manipulasi disekitar mata tanpa blesparospasme seharusnya telah menjadi penilaian selama preoperative.
2. Faktor pembedahan

a. Tipe dan ukuran insisi b. Resiko komplikasi c. Lamanya operasinya ( lamanya operasi tidak merupakan kontraindikasi anastesia local) d. Pengalaman operator. Rekomendasi tipe anastesia mengenai keputusan pembedahan harus mencakup tentang keputusan pemilihan tipe anastesi yang diindikasikan untuk tiap – tiap pasien. Hal ini bergantung pada aspek psikologi dan temuan klinis mengenai bola mata dan orbita, dan mengantisipasi kesulitan pembedahan. (5)

4. BLOK NERVUS FASCIALIS (4) 4.1 Teknik umum

a. Gunakan jarum 25 G, 1,5 inch b. Masukkan sedikit jarum anastesi tradisional untuk memanipulasi jarum sedikit lebih sakit c. Arah jarum mungkin dapat diubah tanpa mengeluarkan jarum dari kulit d. Selalu inspirasi sebelum menyuntikkan anastesi untuk mencegah masuknya obat secara intravena e. Masukkan larutan sejumlah 3-5 ml f. Suntikkan secara perlahan g. Berikan tekanan diatas tempat suntikkan untuk menyebarkan efek obat anastesi pada nervus motoris dan meminimalisasi pendarahan.

4.2 Teknik van lint klasik

a. Suntikkan jarum 1 cm dibelakang pada margin lateral orbita inferior
10

b. Masukkan sedikit ujung jarum anastesi c. Jauhkan jarum dari tulang dan suntukkan kira – kira 0,5 ml anastesi d. Selanjutnya, masukkan horizontal dan suntikkan 1 – 2 ml subkutaneous sepanjang inferotemporal orbta sambil mengeluarkan jarum e. Sama suntikkan superonasal dan suntikkan sepanjang supertemporal orbital

Gambar 1. Teknik van lint

4.3 Teknik van lint modifikasi

a. Hindari pembengkakan kelopak mata secara berlebihan b. Masukkan jarum kira – kira 1 cm dari lateral canthus c. Masukkan sedikit ujung jarum
d. Masukkan jarum ke dalam ruang subkutaneus superior dan suntikkan 1 – 2 ml sambil

menarik jarum. Tapi jangan mengeluarkan jarum dari kulit. e. Masukkan jarum kedalam inferior dan suntukkan anastesi f. Keluarkan jarum dari kulit

4.4 Teknik O’Brien

a. Identifikasi proscessus condyloid dari mandibual b. Masukkan jarum sampai ke periosteum processus condyloid
11

c. Suntikkan kira – kira 2 ml larutan anastesi d. Tarik jarum sampai bagian ujungnya lalu masukkan ke arah posterior dan anterior dari arcus zygomaticus e. Suntikkan larutan anastesi f. Lalu jarum di arahkan ke bagian inferior sepanjang tepi posterior ramus mandibula. Dan suntikkan 1 -2 ml.

4.5 Teknik atkinson a. Masukkan jarum subkutaneous pada tepi inferior tulang zygomatic secara langsung

di bawah rongga orbta
b. Masukkan jarum menjelang arcus zygomaticus , arahkan kira – kira 300 diatas telinga

c. Suntikkan kira – kira 3-4 ml larutan anastesi

5. RETROBULBARIS ANASTESI a. Berikan anastesi topikal ( contoh proparakain ) b. Gunakan spuit ukuran 25 G, 1,5 inci tumpulkan ujung jarum retrobulbar ( misal jarum atkinson ) untuk meminimalisasi kemungkinan perforasi menyeluruh
c. Perintahkan pasien menatap ke atas dan ke arah berlawanan dari arah suntikan

d. Palpasi rongga orbita inferior e. Tempatkan jarum prependikular melalui kulit f. Suntikkan kira – kira 0,5 ml larutan subkutan untuk mengurnagi rasa sakit ketika septum orbita di suntikkan g. Suntikkan jarum lurus ke dalam ( sejajar dengan dsar orbita ), perforasi septum orbita
h. Setelah septum diperforasi dn equator menyeluruh sudah terjadi ( kira – kira 1 cm

jarum penetrasi ), jarum supero nasal pada kira – kira sudut 300 i. Jarum disuntikkan menembus septum intramuskular dan masuk ke otot j. Pindahkan jarum dari sisi ke sisi secara perlahan, lihat setiap gerakan dari mata secara menyelurh apakah sudah terjadi penetrasi
12

k. Aspirasi untuk menyakinkan bahwa obat tidak masuk ke pembuluh drah l. Suntukkan secara perlahan 3 – 4 ml larutan anastesi m. Pindahkan jarum n. Berikan tekanan untuk mencegah pendarahan dan untuk menyebarkan anastesi. o. Komplikasi : Pendarahan retrobulbar Oklusi areteri retina sentralis Injeksi anastesi intravascular Perforasi mata dengan jarum retrobulbar Depresi respirasi dan kardiovascular

13

Gambar 2. Anastesia retrobulbar

Konta indikasi relative anatesi lokal (5) a. Pasien menolak anatesi lokal walaupun setelah konseling dan penjelasan mengenai resiko didalamnya b. Pasien dengan kondisi kesehatan yang buruk dan dengan posisi tubuh yang terbatas
c. Pasien dengan riwayat sebelumnya memuliki reaksi buruk, alergi atau komplikasi lain

terhadap anastesi lokal.

14

IV KOMPLIKASI ANASTESI PADA MATA

Komplikasi anastettik terutama berkaitan dengan tipe anastesia yang digunakan. Komplikas ini jarang terjadi pada anestesia topikal dan subtenon dan sering terjadi pada anestesia retrobulbar dan peri bulbar. Komplikasi yang dapat terjadi adalah : 1. Pendarahan retrobulbar Hal ini dapat terjadi pada injeksi retrobulbar atau oeribulbar. Biasanya terdapat protopsis, bola mata yang tegang, dan kesulitan dalam membuka kelopak mata. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah pemijatandengan tangan sesegera mungkin selama 15 – 20 menit. Hal ini akan menghentikan pendarahan . periksa tekanan intra okular dengan palpasi kemudian operasi dapat dilakukan . tekanan intraokular dapat juga diturunkan dengan kantotomi lateral. Jika TIO tidak dpat dilakukan maka pembedahan di tunda dan di berikan obat – obat anti glaukoma.(5,6) 2. Perforasi bola mata Komplikasi ini sering ditemui selama atau dengan injeksi retrobulbar. Terkadang dapat ditemukan juga kerusakan nervus optikus. Untuk menghindari komplikasi ini maka sebaiknya anastesia peribulbar dilakukan dengan jarum pendek. Diagnosis dini perforasi bola mata sangatlah penting. Biasanya terdiagnosis dengan hipotoni mendadak. Penatalaksanaan dengan evaluasi mata yang lengkap untuk mencari tempat perforasi. Lokasi perforasi ini biasanya ditutup dengan krioterapi. Evaluasi perifer untuk mengecek status retina jika terjadi break atau ablasio pada retina maka haru s ditatalaksana dengan tepat. (5,6) 3. Pendarahan subkonjungtiva Keadaan ini biasanya didapatkan dengan anastesia peribulbar subtenon dan injeksi retrobulbar. Untuk membedakannya dengan perdarahan retrobulbar, warnanya merahsegar dan TIO normal.(5,6) 4. Kemosis Diatasi dengan membuat insisi subkonjunctiva dan drainase cairan dari pembengkakan.(5,6)

5. Komplikasi terhadap nervus VII

15

Blok terhadap nervus fascial proximal mungkin menyebabkan disfagia atau mungkin obstruksi respirasi dan menyebar ke glossofaringeal, vagus dan nervus accesory spinal. (5,6) 6. Alergi Alergi terhdapa anastesi dan hualoronidase sangatlah jarang. (5,6) 7. Oculocardiac reflex Kejadian ini sangat jarag terjadi, hal ini disebabkan karena terjadi reaksi vasovagal.
(5,6)

V PENUTUP
16

Penggunaan anestesi lokal ditujukan untuk menghilangkan sensasi nyeri pada saat operasi mata. Dalam pengerjaannnya seorang anastesi diharuskan mengatur regulasi tekanan intraokuler, pencegahan reflek okulocardiac dan penanganan terhadap konsekuensi pemberian anastesi tersebut. Pengontrolan perluasan gas intaokuler dan penanganan untuk menantispasi segala kemungkinan efek sistemik yang timbul dari penggunaan obat-obatan anastesi mata.(1) Obat anastesi pada anastesi lokal mata bekerja dengan cara memblok transmisi impuls neural dari ujung saraf pada kulit kelopak, konjungtiva atau kornea ke dalam badan sel saraf dan kembali ke otak. Secara kimiawi, hal ini terjadi penghambatan sodium channel dan pencegahan depolarisasi nervus, oleh karena itu, terjadi penghambatan konduksi impulse secara fisiologis.(2) Pada pemakaian anastesi lokal pada mata ada beberapa teknik yang bisa dipilih mulai dari teknik topikal yang biasa dipakai pada pembedahan minor samapai teknik retrobulbaris yang digunakan untuk operasi dalam skala yang lebih besar.(3) Layaknya semua operasi walaupun memakai teknik lokal masih memiliki efek samping. Terutama pada pemakaian teknik retrobulbar dan subtenon. Efek samping yang bisa timbul adalah pendarahan retrobulbar yang dikhawatirkan dapat memicu terjadinya peningkatan TIO yang akan berakhir dengan terjadinya glaukoma.(5,6)

DAFTAR PUSTAKA
17

1. Duvall brian, kershner robert. Anesthethic. Dalam opthalmic medivations and pharmacology second edition SLACK incorporated 2. Morgan g. Edward jr, mikhail maged s. Anesthesia for opthalmic surgery. Dalam clinical anestheshioloogy second edition. Prentince-hal international, inc. United state of america 1996. Hal 656 – 659
3. Vaughan D.G, asbury T, riordan – eva P. Obat = obat mata yang biasa dipakai. Dalam

oftalmologi umum edisi 14. Ilustrasi laurael V.S. Alih bahasa Jan tambajong, bram U pendit. Editor Y, joao suyono, penerbit widya medika. Jakarta 2000. Hal 64 – 65 4. Hershoeter s. Opthalmic anesthesia. Dalam opthalmic surgical procedurs, little, brown and compan. Boston /toronto 1998. Hal 15 – 22
5. http://www.rcoa.ac.uk/docs/RCARCOGuidelines.pdf 6. http://www.anesthesia-analgesia.org/cgi/reprint/yudapratiwi3.pdf

18

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful