RESPON TERHADAP IMPLIKASI MK45 Oleh : Banjar Yulianto Laban

Kata kunci : hutan tetap, tata kelola, proses, konsisten, pembenahan, jujur, adil.

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tidak seperti putusan pengadilan biasa. Putusan MK45 misalnya, berlaku setelah dibacakan di sidang pleno umum dan tidak bisa diajukan banding. Nasib UU kehutanan tidak dapat menghindar dari putusan MK45 tersebut, sehingga pasal 1 angka 3, sejak 21 Februari 2012 berbunyi: kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap. Bunyi tersebut dapat diposisikan dalam ranah hukum sebagai definisi kawasan hutan, yang sama sekali tidak memandang ada vegetasi pohon atau tidak ada vegetasi pohon. Bunyi baru tersebut juga menguntungkan Kementerian Kehutanan dalam melakukan pembenahan tata kelola kawasan hutan, karena dinilai akan menguatkan pemahaman publik bahwa institusi kehutanan di manapun berada di NKRI ini kerjaan pokoknya adalah menjaga, memelihara dan menebang pohon di kawasan hutan bervegetasi pohon dan menanam pohon di kawasan hutan tidak/kurang bervegetasi pohon. Disamping itu, bunyi baru tersebut memperjelas tugas Kementerian Kehutanan yang harus tidak boleh lepas dari proses menuju ke hutan tetap dimaksud. Kejelasan tersebut ternyata diakomondir di dalam MK45, yaitu rangkaian kata : ditunjuk dan atau ditetapkan masih tetap ditenggerkan di pasal peralihan (pasal 18) UU kehutanan sebagai penguatan perlunya proses sebagaimana dibunyikan di pasal 15. Dengan demikian kekuatiran terhadap dampak MK45, terutama dampak negatif seharusnya tidak ada apabila Kementerian Kehutanan segera melakukan pembenahan, percepatan aksi, jujur, adil dalam pelayanan dan konsisten dengan proses yang harus dilakukan.

Selama ini terkait dengan perijinan konsesi, baik HPH, HTI, pinjam pakai kawasan, maupun Pengusahaan Sarana Wisata Alam/Jasa Lingkungan di Kawasan Hutan, selalu melalui proses pengukuran dan pemancangan batas konsesinya yang rencana dan pelaksanaannya dibiayai oleh pemohon/pemegang ijin konsesi. Permasalahannya adalah proses tersebut tidak/belum didokumentasi sebagai bagian dari proses penetapan kawasan hutan, terutama bagi kawasan yang secara spasial statusnya masih penunjukan. Orientasi Kementerian Kehutanan selama ini, pembiayaan yang bersumber dari APBN hanyalah untuk batas luar dan batas fungsi kawasan hutan. Sumber anggaran terbatas ditambah kelemahan sistem, terutama kuantitas SDM ahli ukur dan GIS yang semakin merendah dimakan usia pensiun, menyebabkan kinerja penetapan kawasan hutan berbasis batas luar dan fungsi hutan selama ini hanya mencapai sekitar 10% saja. Kemungkinan besar energy dan waktu habis untuk melayani konsesi. Hal tersebut, boleh jadi ada keharusan di Kementerian Kehutanan untuk merubah orientasi dan strategi dari “man made consession” ke “man made condominium”. Dalam membangun kondominium tidak ada investasi coba – coba. Segala langkah menuju kepastian baik hukum, kebijakan maupun sistem pengelolaan yang menjamin dan mempertahankan keberadaannya selalu dipertaruhkan. Menuju ke hutan tetap, melalui langkah – langkah seperti membangun kondominium sebenarnya telah digariskan di dalam Rencana Strategi (Renstra) Pembangunan Kehutanan 2010 – 2014. Rencana Kehutanan Tingkat Nasional (RKTN) yang berorientasi pada Rencana Tata Ruang Nasional maupun Regional/Pulau besar (seperti Kalimantan dan Sumatera) adalah fondasi penting untuk melangkah ke Rencana Kehutanan Tingkat Propinsi (RKTP) yang harus memperhatikan pula prediksi –prediksi pengembangan investasi yang timbul di wilayah regional, sehingga ada rencana yang saling sinergi antar propinsi dalam aspek efektifitas pemanfaatan bentang alam, efisiensi ekonomi mikro dan upaya strategis penurunan emisi karbon dalam rangka

REDD+/carbon trade. Untuk carbon trade, pada kesempatan ini perlu dipertanyakan juga progres LoI dengan Norway sebesar US$ 1 milyar yang ditandatangani tahun 2010. Kompensasi karbon (CO2e) tersebut diharapkan dapat digunakan prioritas secara transparan untuk tindak lanjut MK45 oleh Kementerian Kehutanan. RKTP sebagai dasar petunjuk operasional pengelolaan kawasan dalam upaya mempertahankan keberadaan kawasan hutan, tentunya tidak akan meninggalkan orientasi yang terkait dengan arahan pembangunan Unit/Kesatuan Pengelolaan Hutan atau KPH berbasis fungsi di Propinsi yang bersangkutan. Dalam pelingkupan KPH inilah Kementerian Kehutanan dapat fokus ke pemantapan kawasan hutan melalui proses – proses yang saling bersinergi mendukung percepatan operasional pengelolaannya. Proses – proses dimaksud antara lain : deliniasi tata ruang, penataan batas fungsi dan batas luar kawasan, identifikasi dan inventarisasi potensi, pelayanan dan pemantauan konsesi, rehabilitasi, restorasi ekosistem dan konservasi. Sinergi proses – proses dimaksud, yang biasa disebut konvergensi, hendaknya dapat menunjukkan ke publik bahwa keberadaan kawasan hutan tersebut tetap dipertahankan. Perlunya kelembagaan KPH yang berorientasi pengelolaan kawasan hutan (fokus utama : Lapangan dan teknis), sebagai penanggungjawab proses – proses yang berlangsung di lapangan akan memberi jawab langsung ke publik tentang kondisi kawasan hutan, potensi kawasan hutan dan manfaat kawasan hutan bagi pelayanan publik. Kondisi kawasan hutan, semenjak reformasi, terutama terasa sepuluh tahun terakhir ini dibenturkan pada ketidakjelasan publik terhadap kawasan hutan akibat tidak sinerginya UU kehutanan dan praktek penerapan UU Tata Ruang sebelum UU 26/2007 di daerah. UU Tata Ruang yang fokus pada orientasi rencana infrastruktur sebagai fondasi pembangunan dan pengembangan ekonomi daerah, sementara UU Kehutanan fokus pada kriteria alamiah yang berorientasi pada potensi flora fauna dan bentang alam di daerah. Ketidakjelasan publik terhadap kawasan hutan semakin menguat setelah otonomi daerah

dipraktekkan melalui langkah awal yaitu penyusunan/review Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) dan penyusunan/review Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota (RTRWK), disamping pemekaran wilayah Propinsi/ Kabupaten/Kota baru. Dalam pertimbangan munculnya PP 60/2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan Dan Fungsi Kawasan Hutan baru – baru ini, secara tegas disebutkan: bahwa sebelum berlakunya UU 26/2007 tentang Penataan Ruang, Pemerintah Daerah telah menetapkan RTRWP dan RTRWK yang menjadi pedoman dalam pemanfaatan ruang. Hasilnya antara lain terdapat peruntukan ruang berdasarkan RTRWP dan RTRWK berbeda dengan peruntukan dan fungsi kawasan hutan sebagaimana diatur UU Kehutanan. Dampaknya adalah konflik kepentingan merajalela di beberapa daerah, terutama berkaitan dengan perijinan konsesi kebun yang diterbitkan Bupati/Walikota di luar kawasan hutan sesuai RTRWK nya, namun di dalam kawasan hutan sesuai UU Kehutanan. Hal inilah yang menurut UU Kehutanan telah terjadi tindak pidana pelanggaran penerbitan ijin oleh Bupati/Walikota di kawasan hutan. Pembenahan kondisi kawasan hutan melalui tindakan fisik dalam lingkup pengelolaan KPH akan berkekuatan hukum bila disertai secara paralel pembenahan di aspek regulasi. PP 60/2012 adalah satu hasil pembenahan regulasi yang memberi peluang Kementerian Kehutanan untuk proses penyelesaian konflik ruang di daerah pada kasus – kasus yang terbatas, yaitu : (1) Kegiatan usaha perkebunan yang izinnya diterbitkan oleh Pemerintah Daerah berdasarkan RTRWP dan RTRWK yang ditetapkan sebelum berlakunya UU 26/2007 tentang Penataan Ruang, namun berdasarkan UU Kehutanan areal tersebut merupakan kawasan hutan dengan fungsi hutan produksi yang dapat dikonversi, pemegang izin dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak berlakunya PP 60/2012 wajib mengajukan permohonan pelepasan kawasan hutan kepada Menteri.

(2) Kegiatan usaha perkebunan yang izinnya diterbitkan oleh Pemerintah Daerah berdasarkan RTRWP dan RTRWK yang ditetapkan sebelum berlakunya UU 26/2007 tentang Penataan Ruang, namun berdasarkan UU Kehutanan areal tersebut merupakan kawasan hutan dengan fungsi hutan produksi tetap dan/atau hutan produksi terbatas, pemegang izin dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak berlakunya PP 60/2012 wajib mengajukan permohonan tukar menukar kawasan hutan kepada Menteri. (3) Tukar menukar dilakukan dengan menyediakan lahan pengganti dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun sejak permohonan tukar menukar disetujui. (4) Dalam hal pemohon telah menyediakan lahan pengganti, Menteri dapat menerbitkan pelepasan kawasan hutan. PP 60/2012 diberlakukan sejak ditandatangani Presiden tanggal 6 Juli 2012. PP ini sebagai dasar pelayanan publik yang mendesak, paling lama hanya 6 (enam) bulan sejak PP diberlakukan permohonan dapat diproses. Untuk itu sistem pelayanan perijinan yang on line di kementerian Kehutanan tidaklah cukup tanpa disertai transparansi, tegas, jujur dan adil. Hal yang perlu dipikirkan adalah sangsi tegas apabila butir (1) s/d butir (4) tidak dipenuhi semua atau sebagian oleh pemohon, mengingat PP 60/2012 tidak mengatur sangsi khusus untuk kesalahan dan atau ketidaktepatan waktu permohonan ijin “keterlanjuran” kebun tersebut. Sebagai payung hukum untuk menerapkan prinsip dasar keadilan dan tindak lanjut MK45 dalam penyelesaian konflik status lahan perkebunan swasta/BUMN/BUMD di daerah, tentunya PP 60/2012 membutuhkan dukungan aktif Pemerintah Daerah dalam hal mempermudah Kementerian Kehutanan menetapkan kawasan hutan dan mengelola kawasan hutan tetap melalui kelembagaan KPH. Adapun permasalahan konflik kawasan hutan produksi dengan kegiatan pertambangan di dalamnya, PP 61/2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2010 Tentang Penggunaan Kawasan Hutan, secara khusus menegaskan bahwa Kegiatan usaha Pertambangan yang izinnya diterbitkan oleh Pemerintah Daerah berdasarkan RTRWP yang ditetapkan sebelum berlakunya UndangUndang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, namun berdasarkan UU Kehutanan areal tersebut merupakan kawasan hutan

dengan fungsi hutan produksi, pemegang izin dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak berlakunya PP 61/2012 wajib mengajukan permohonan izin pinjam pakai kawasan hutan kepada Menteri. Berdasarkan permohonan tersebut, Menteri dapat menerbitkan izin pinjam pakai kawasan hutan dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak pemenuhan kewajiban dinyatakan lengkap dan benar. Selanjutnya, kegiatan atau proses yang memerlukan koordinasi pusat – daerah, kiranya sudah tidak bermasalah lagi semenjak terbitnya PP 19/2010 yang disempurnakan dengan PP 23/2011. Melalui PP tersebut Gubernur sebagai wakil pemerintah di daerah, wajib menggalang koordinasi dan sinkronisasi pembangunan bagi kepentingan nasional di wilayahnya. Satu kepentingan nasional yang penting dalam penetapan kawasan hutan di propinsi sesuai kriterianya adalah minimum 30% luas Propinsi dan atau pulau yang bersangkutan. Konsekuensi lanjut adalah Kepala Dinas Kehutanan Propinsi harus mengkoordinasikan kegiatan UPT – UPT Kementerian Kehutanan dan Dinas – Dinas Kabupaten/Kota yang menangani kehutanan dalam pembangunan dan pemantapan kawasan hutan di wilayah kerjanya. Kementerian Kehutanan dalam rangka tindak lanjut MK45 secara revolusioner juga melakukan pembenahan dalam organisasi dan tata kerjanya melalui Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : P.33/Menhut-II/2012 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.40/Menhut-II/2010 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Kehutanan. Beberapa hal yang menarik dari P.33/2012, khususnya yang mengarah pada upaya penyelesaian issue penetapan dan pengelolaan kawasan hutan atau tindak lanjut MK45, antara lain yaitu : 1. Pelibatan Pusat Pengendalian Pembangunan Kehutanan Regional (Pusdalreg) secara langsung dalam penyusunan RKTP, rencana pembangunan dan monitoring pengembangan KPH di daerah. 2. Pembentukan Pusat Sarana dan Peralatan Kehutanan yang bertanggungjawab ke Menteri melalui Sekretaris Jenderal 3. Penyelesaian masalah tenurial yang akan ditangani Direktorat Pengukuhan, Penatagunaan dan Tenurial Kawasan Hutan.

Kementerian Kehutanan telah melangkah, khususnya dalam pembenahan regulasi yang berlanjut ke pembenahan organisasi dan tata kerja. Konsekuensinya struktur anggaran, rekruiting dan pemberdayaan SDM perlu segera menyesuaikan. Contoh : Pusdalreg I – IV sebelum Permenhut P.33/Menhut-II/2012 diberlakukan, SDMnya berkisar 25 – 30 orang dan Keahlian/kompetensi terkait dengan perencanaan ruang dan operasional GIS sama sekali belum disentuh. Renstra 2010 - 2014 masih memberi peluang 2 (dua) tahun lagi. Target 120 KPH beroperasi di akhir tahun 2014, mungkin menjadi harapan minimum sebagai indikator keberhasilan penetapan kawasan hutan yang dikelola, terutama di luar jawa. Walahu’alam. Bogor, 15 Agustus 2012.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful