KOGNITIF BEHAVIORAL 1.

PENDEKATAN BEHAVIORAL (BEHAVIORAL THERAPHY) PENDAHULUAN Pendekatan behavioral didasari oleh hasil eksperimen yang melakukan investigasi tentang prinsip-prinsip tingkah laku manusia. Eksperimen-eksperimen tersebut menghasilkan teknik-teknik spesifik dalam pendekatan ini yang dipelopori oleh beberapa tokoh behaviorisme yang terpercaya. Tokoh

behaviorisme yang melahirkan teknik-teknik konseling antara lain, Skinner, Watson, Pavlov, dan Bandura. Pendekatan tingkah laku atau behavioral menekankan pada dimensi kognitif individu dan menawarkan berbagai metode yang berorientasi pada tindakan (action-oriented) untuk membantu mengambil langkah yang jelas dalm mengubah tingkah laku. Istilah modifikasi perilaku (behavior modification) dan pendekatan (behavioral approach) banyak digunakan secara bersamaan dengan makna yang sama. Konseling behavior memiliki asumsi dasar bahwa setiap tingkah laku dapat dipelajari, tingkah laku lama dapat diganti dengan tingkah laku baru, dan manusia memiliki potensi berperilaku baik atau buruk, tepat atau salah. Selain itu, manusia dipandang sebagai individu yang mampu melakukan refleksi atas tingkah lakunya sendiri, mengatur serta dapat mengontrol perilakunya, dan dapat belajar tingkah laku baru atau dapat mempengaruhi perilaku orang lain (Walker & Shea, 1988, p. 36).

SEJARAH Perkembangan pendekatan behavior diawali pada tahun 1950-an dan awal 1960-an sebagai radikal menentang perspektif psikoanalisis yang dominan. Pendekatan ini dihasilkan berdasarkan hasil eksperimen para behaviorist yang memberikan sumbangan pada prinsip-prinsip belajar dalam tingkah laku manusia. Pendekatan ini memiliki perjalanan panjang mulai dari penelitian laboraturium terhadap binatang hingga eksperimen terhadap manusia. Secara garis besar, sejarah perkembangan pendekatan behavioral terdiri dari tiga trend utama, yaitu trend I : konditioning klasik (classical conditioning), trend II kondisioning operan (operant conditioning), dan ternd III terapi kognitif (cognitive therapy) (Corey, 1986, p.174)

1

TREND I : CLASSICAL CONDITIONING Tren pertama dalam pendekatan behavioral adalah classical conditioning. Tokoh classical conditioning yang banyak dijadikan refernsi adalah Ivan

Petrovich Pavlov. Ia adalah seorang psikolog dari Rusia lahir di Rjasan 14 september 1849 dan meninggal di Leningrad 27 februari 1936 (1849-1936). Ia memiliki dasar pendidikan ilmu faal sebagai Doktor kedokteran dari Universitas St. Petersburg. Studinya tentang refleks merupakan dasar bagi perkembangan aliran psikologi behaviorisme dan sebagai dasar penelitian proses belajar dan pengembangan teori belajar. Hasil penelitian Pavlov yang terkenal adalah tentang refleks berkondisi (conditioned reflex) dengan sebutan proses kondisioning klasik, penelitiannya menggunakan anjing yang dalam keadaan lapar ditempatkan pada ruang kedap suara. Dihadapan anjing, diletakkan meja untuk meletakkan makanan yang mudah dijangkau anjing. Pada leher dipasang alat pada kelenjar ludahnya yang dihubungkan dengan selang sehingga saat air liur yang keluar dapat ditampung dan diukur dengan menggunakan gelas ukuran.

Proses konditioning dalam penelitian ini adalah stimulus yang digunakan bunyi bel, dan makanan. Pada percobaan pertama, tahapannya adalah Conditioning Stimulus (CS) berupa bel, Unconditioning Stimulus (US) adalah makanan, Unconditioning Response (UR) adalah air liur. Ketika percobaan pertama, bel dibunyikan dan tidak menghasilkan air liur, makanan menghasilkan air liur. Kemudian pada percobaan kedua proses konditioning, CS berupa bel diikuti pemberian US berupa makanan dengan diulang sebanyak 10-20 kali. Setelah terbentuk asosiasi antara CS dan US. Ketika CS berupa bunyi bel dibunyikan tanpa US yaitu makanan, diikuti CR yaitu keluar air liur. Pada penelitian ini jarak waktu pemberian CS dan US serta penghentian pemberian US mengakibatkan terjadi proses penghapusan (extinction) yaitu ketika CS dan US telah membentuk CR, proses ini disebut tahap akuisisi (acquisition stage). Bila jarak waktu antara CS dan US selama 18 detik, maka terjadi penurunan CR, seperti saat percobaan kesatu, kehadiran CS tanpa diikuti US secara terus menerus akan melemahkan CR. Hal ini disebut dengan penghapusan (extinction). Akan tetapi setelah fase laten, bila proses ini diulang dengan jarak waktu 1 atau 2 detik antara CS1 dan US2, maka akan kembali terjadi CR. Dengan

2

demikian CS + US = CR. Dalam hal ini US memperkuat munculnya CR, maka US berfungsi sebagai positive reinforcement. Pavlov menemukan bahwa fase penurunan bersifat temporer, karena pada saat setelah periode istirahat selama 30 menit. Pemberian CS langsung diikuti munculnya CR. Peristiwa ini disebut spontaneous recovery. Penerapan proses dapat dilakukan dengan berhasil pada anjing, monyet, dan manusia. Proses penghapusan extinction dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

CS

+
CS

CR (Air Liur)

Pada tahun 1950-an Pavlovian classical conditioning dan Hullarin Lerning Theory digunakan oleh Joseph Wolpe dan Arnold Lazarus di Afrika Utara dan Hans Eysenck di Inggris dalam membantu menyembuhkan phobia di area kedokteran (Corey, 1986, p. 174).

TREND II : OPERANT CONDITIONING Trend kedua adalah operant conditioning. Operant behavior terdiri dari

tingkah laku yang beroperasi dilingkungan yang menghasilkan konsekuensi. Pada classical conditioning, organisme dipandang sebagai responden yang pasif seperti penggunaan air liur pada anjing. Sedangkan operant conditioning, organisme dipandang sebagai responden yang aktif. Contoh tingkah laku operan adalah membaca, menulis, menyetir, dan makan dengan menggunakan alat(Corey, 1986, p. 174). Operant conditioning awalnya dikembangkan oleh E.L. Thorndike. Prinsip-prinsip operant conditioning yaitu reinforcer diasosiasikan dengan respons, karena respon itu beroperasi memberi reinforcement. Respon tersebut disebut tingkah laku operan (operant behavior). Dalam pecobaan ini

3

menggambarkan tingkah laku operan sebelumnya belum pernah dimiliki, ketika ia melakukan tingkah laku tersebut dan mendapat hadiah (reinforcement) maka tingkah laku tersebut berpeluang untuk sering terjadi. Tokoh lain yang mengembangkan operant conditioning adalah B.F. Skinner yang berpendapat bahwa tingkah laku yang dikontrol berdasarkan pada prinsip operant conditioning yang memiliki asusi bahwa perubahan tingkah laku diikuti dengan konsekuensi (Corey, 1986, p. 174-175). Operant conditioning memusatkan pada akibat tingkah laku sehingga disebut juga instrumental conditioning. Skinner percaya bahwa tingkah laku yang paling berarti adalah tingkah laku operant dan tingkah laku ini dikontrol oleh akibat-akibatnya yang diistilahkan dengan reinforcer atau punisher (Rosjidan, 1994, p. 8). Skinner, pelopor behaviorisme menolak semua teori kepribadian dan analisi kehidupan internal. Satu-satunya aspek yang nyata dan relevan dengan psikologi adalah tingkah laku yang teramati dan satu-satuinya cara mengotrol dan meramalkan tingkah laku adalah mengaitkannya dengan kejadian yang mengawali tingkah laku di lingkungan (event antecedent). Ia juga tidak tertarik dengan perbedaan individual seperti trait, gaya hidup (life style), ego dan self. Perbedaan tingkah laku disebabkan oleh perbedaan kejadian yang menyebabkannya bukan karena kondisi psikologis. Ia juga berpendapat bahwa binatang dan manusia memiliki perbedaan kompleksitasnya, tapi secara umum proses tingkah laku mengikuti prinsip yang sama. Berdasarkan hasil penelitian tingkah laku, diambil kesimpulan tetang klasifikasi tingkah laku, yaitu : 1. Tingkah laku responden, yaitu respon organisme terhadap stimulus spesifik berhubungan dangan rspon tersebut. Contohnya adalah air liur keluar saat melihat makanan, menghindar saat akan dipukul, takut saat akan ujian, dan sebagainya. 2. Tingkah laku operan yaitu, organisme melakukan pilihan respon saat dihadapkan pada stimulus. Pilihan ini dipengaruhi efek atau konsekuensi yang mengikuti respon tersebut. Asumsi dasar operant conditioning tentang tingkah laku antara lain tingkah laku mengikuti hukum atau prinsip tertentu, tingkah laku dapat diramalkan, tingkah laku dapat dikontrol atau dimanipulasi, tingkah laku dikontrol

4

degan teknik analisis fungsional dalam bentuk hubungan sebab akibat dan bagaimana suatu respon timbul mengikuti stimuli atau kondisi tertentu yang dikontrol penyebabnya. Percobaan operant conditioning dilakukan oleh B.F Skinner menggunakan media burung merpati yang dimasukkan kedalam kotak Skinner yang kedap suara. Salah satu dinding kotak terdapat bintik yang akan mengeluarkan cahaya merah setiap dipatuk, dan diikuti oleh keluarnya makanan (reinforcement). Merpati dilatih untuk mematuk dari lubang makanan. Pada percobaan ini, merpati berdiri didekat bintik cahaya (dan lubang makanan) dan diberi makanan. Merpati berdiri dekat bintik cahaya dan menegakkan kepala, kemudian keluar makanan. Kemudian merpati mematuk bintik cahaya dan keluar makanan. Merpati menjadi makin sering mematuk bintik cahaya karena akan mendapat hadiah

(reinforcement) beriupa makanan. Percobaan ini mengajar merpati untuk memilih tingkah laku baru, yaitu mematuk bintik cahaya merah untuk mendapatkan makanan. Pembentukan tingkah laku (shaping) dengan teknik ini disebut pendekatan berangsur (successive approximation). R1 Mematuk dinding

R2 Menabrak dinding SA Stimulus Kotak

R3 Mematuk cahaya

Penguat

R4 Diam 5

R1 Mematuk dinding

R2 Menabrak dinding SA Stimulus Kotak

R3 Respon kondisi

Penguat

R4 Diam

Diagram Konseling Instrumen
TREN III: KOGNITIF Tokoh pada trend ketiga ini adalah Albert Bandura dengan teori belajar sosial. Bandura berpandangan bahwa manusia dapat berfikir dan mengatur tingkah lakunya sendiri, manusia dan lingkungan saling mempengaruhi dan fungsi kepribadian melibatkan interaksi satu orang dengan orang lainnya. Teori balajar sosial didasarkan pada konsep saling menentukan (reciprocal determinism)menjelaskan hubungan timbal balik antara individu-lingkungan-tingkah lakutanpa reinforcement dan pengaturan diri(self regulation/kognitif). Terdapat tiga proses yang dapat dipakai untuk regulasi diri yakni manipulasi

eksternal,memonitor, evaluasi tingkah laku internal.

6

Proses regulasi internal:   Observasi diri,berdasarkan kualitas dan kuantitas penampilan ,orisinalitas dan tingkah laku. Penilaian tingkah laku, melihat kesesuaian tingkah laku dengan standar pribadi,dengan standar norma orang lain,menilai pentingnya aktifitas tersebut dan memberi atribut performasi.    Standar pribadi, didapat dari pengalaman mengamati model,

menginterpretasi reinforcement dari performansi. Perbandingan sosial, kolektif dan orang lain. Respon diri,berdasarkan pengamatan dan penilaian.

Proses regulasi eksternal:   Memberikan standar untuk megevaluasi tingkah laku. Memberi penguatan agar tingkah laku dilakukan lagi.

Faktor Eksternal
Standar Masyarakat Self Observation

Faktor Internal
Judgemental Process Standar Dimensi Performansi sumber penguatan Kualitas Frenkuensi Kuantitas Orisinalitas Kebenaran bukti Pedoman performs: Norma standar Perbandingan sosial Perbandingan personal Perbandingan kolektif Menghargai aktivasi Sangan dihormati Netral Direndahkan Etika Atribut performansi Lokus pribadi Lokus eksternal Tanpa respon self Positif Negatif Dampak terhadap self Dihadiahi Dihukum pribadi, model dan Reaksi evaluasi diri Self Respon

Penguatan

Dampak Penyimpangan

7

Struktur kepribadian menurut Bandura adalah:  Self system Struktur kognitif yang memberi pedoman mekanisme dan seperangkat fungsi persepsi, evaluasi dan pengaturan tingkah laku.  Self regulation Kemampuan berfikir digunakan untuk memanipulasi lingkungan dengann strategi reaktif untuk mencapai tujuan dan proaktif untuk menentukan tujuan baru yang lebih tinggi  Self effication Penilaian diri, apakah ia mampu / tidak mampu melakukan tindakan dengan baik dan memuaskan. Sember self effication o Pengalaman menguasai suatu prestasi yang berisi prestasi yang dicapai di masa lalu o Pengalaman vikarius, efikasi meningkat disaat mengamati

keberhasilan orang lain atau sebaliknya. o Persuasi sosial, sangat bergantung rasa percaya pada pemberi persuasi atau sifat realistik dari apa yang dipersuasi o Pembangkitan emosi, kondisi emosi yang mengikuti kegiatan akan mempengaruhi efikasi  Collective afficacy Keyakinan masyarakat bahwa usaha secara bersama-sama dapat

menghasilkan perubahan sosial tertentu. PANDANGAN TENTANG MANUSIA Manusia dipandang memiliki potensi untuk berperilaku baik atau buruk, tepat atau salah. Manusia mampu melakukan refleksi atas tingkah lakunya, dapat mengatur serta mengontrol perilakunya dan dapat belajar tingkah laku baru atau mempengaruhi perilaku orang lain

8

KONSEP DASAR Istilah behavioral conseling pertama sekali dikemukakan oleh Krumboltz. Ciri-ciri utama behavioral conseling ini adalah:  Proses pendidikan Konseling membantu konseli mempelajari tingkah laku baru untuk memecahkan masalahnya  Teknik rakit secara individual Dalam proses konseling, menentukan tujuan konseling, proses asesmen, dan teknik-teknik dibangun oleh konseli dengna bantuan konselor  Metodologi ilmiah Konseling behavioral dilandasi oleh metode ilmiah dalam melakukan asesmen dan evaluasi konseling. Pendekatan behavioral didasari oleh pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia yaitu pendekatan yang sistematik dan terstruktur dalam konseling. Pandangan ini melihat individu sebagai produk dari kondisioning sosial, sedikit sekali melihat potensi individu sebagai prosedur lingkungan. Pada awal pendekatan ini hanya mempercayai hal yang dapat diamati dan diukur sebagai sesuatu yang sah dalam pengukuran kepribadian (radical behaviorism), dan dikembangkan lebih lanjut yang mulai menerima fenomena yang abstrak seperti id, ego, super ego dan ilusi. Pendekatan ini memandang perilaku yang malajusted sebagai hasil belajar dari lingkungan secara keliru. Konseling behavioral dikenal juga dengan modifikasi perilaku yang dapat diartikan sebagai tindakan yang bertujuan untuk mengubah perilaku. Modifikasi perilaku memiliki kelebihan dalam menangani masalah-masalah yang dialami oleh individu, yaitu :   Langkah-langkah dalam memodifikasi perilaku dapat direncanakan terlebih dahulu. Perincian pelaksanaan dapat diubah selama treatmen disesuaikan dengan kebutuhan konseli.

9

  

Bila berdasarkan evaluasi sebuah teknik gagal memberikan perubahan pada konseli, teknik tersebut dapat diganti dengan teknik lain. Teknik-teknik konseli dapat dijelaskan dan diatur secara rasional serta dapat diprediksi dan dievaluasi secara objektif. Waktu yang dibutuhkan lebih singkat

Dalam memahami tingkah laku, terdapat beberapa model tingkah laku yang dipengaruhi oleh teori-teori psikologi. Model-model tersebut antara lain:   Model psikodinamika, yaitu tingkah laku manusia ditentukan kehidupan dinamika intra-psikis individu (id, ego, superego). Model biofisik, yaitu tingkah laku ditentukan oleh organisasi neurologi, belajar perseptual motor, kesiapan fisiologis, integrasi dan perkembangan sensori.   Model lingkungan, yaitu tingkah laku ditentukan oleh interaksi antara individu dan lingkungan. Model tingkah laku, yaitu tingkah laku dapat diobservasi dan diukur.

TUJUAN KONSELING     Menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar Penghapusan hasil belajar yang tidak adaptif Memberi pengalaman belajar yang adaptif namun belum dipelajari Membantu konseli membuang respon-respon yang lama yang merusak diri atau maladaptif dan mempelajari respon-respon yang baru yang lebih sehat dan sesuai.   Konseli belajar perilaku baru dan mengeliminasi perilaku yang maladaptif, memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan Penetapan tujuan dan tingkah laku serta upaya pencapaian sasaran dilakukan bersama antara konseli dan konselor

10

PERAN DAN FUNGSI KONSELOR Peran konselor dalam konseling behavioral berperan aktif, direktif dan menggunakan pengetahuan ilmiah unuk menemukan solusi dari persoalan individu. Konselor behavioral biasanya berfungsi sebagai guru, pengarah dan ahli yang mendiagnosa tingkah laku yang maladaptive dan menetukan prosedur yang mengatasi persoalan tingkah laku individu. Selain itu, konselor juga sebagai model bagi kliennya. TAHAP-TAHAP KONSELING Konseling behavioral memiliki empat tahap yaitu :     Melakukan asesmen (assessment) Menentukan tujuan (goal setting) Mengimplementasikan teknik (technique implementation) Evaluasi dan mengakhiri konseling (evaluation termination)

Melakukan Asesmen (Assessment) Tujuan melakukan asesmen adalah untuk menentukan apa yang dilakukan oleh konseli pada saat ini. Asesmen dilakukan adalah aktivitas nyata, perasaan dan pikiran konseli. Kanfer dan Saslow (1969) mengatakan terdapat tujuh informasi yang digali dalam asesmen, yaitu :     Analisis tingkah laku yang bermasalah yang dialami konseli saat ini Analisis situasi yang didalamnya masalah konseli terjadi Analisis motivasional Analisis self control,yaitu tingkatan control diri konseli terhadap tingkah laku bermasalah ditelusuri atas dasar bagaimana control itu dilatih dan atas dasar kejadian-kejadian yang menetukan keberhasilan self control   Analisis hubungan sosial Analisis lingkungan fisik-sosial budaya

Dalam kegiatan asesmen ini konselor melakukan analisis ABC A= antecedent (pencetus perilaku)

11

B= behavior (perilaku yang dipermasalahkan) C= consequence (konsekuensi atau akibat perilaku tersebut) Contoh Analisis Teori ABC A= terlambat bangun pagi

B= terlambat masuk sekolah 30 menit setelah jam belajar pertama dimulai sebanyak 6 kali dalam sebulan

C= tidak mengikuti pelajaran jam pertama, kurang memahami materi pelajaran pada jam pertama Menetapkan Tujuan (Goal Setting) Burks dan Engelkes (1978) mengemukakan bahwa fase goal setting disusun atas tiga langkah, yaitu : (1) membantu konseli untuk memandang masalahnya atas dasar tujuan-tujuan yang diinginkan, (2) memperhatikan tujuan konseli berdasarkan kemungkinan hambatanhambatan situasional tujuan belajar yang dapat diterima dan dapat diukur, (3) memecahkan tujuan kedalam sub tujuan dan menyusun tujuan menjadi susunan yang berurutan

Implementasi teknik (Technique Implementation) Setelah merumuskan tujuan konseling, konselor dan konseli menentukan strategi belajar yang terbaik untuk membantu konseli mencapai perubahan tingkah laku yang diinginkan. Dalam implementasi teknik konselor membandingkan perubahan tingkah laku antara baseline data dengan data intervensi.

12

Evaluasi dan pengakhiran (Evaluation and Termination) Evaluasi dibuat atas dasar apa yang konseli perbuat. Tingkah laku konseli digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi efektivitas konselor dan efektivitas tertentu dari teknik yang digunakan. Terminasi lebih dari sekedar mengakhiri konseling, terminasi meliputi:     Menguji apa yang konseli lakukan terakhir Eksplorasi kemungkinan kebutuhan konseling tambahan Membantu konseli mentransfer apa yang dipelajari ke tingkah laku konseli Memberi jalan untuk memantau secara terus menerus tingkah laku konseli (Rosjidan,1994, p.25) Selanjutnya konselor dan konseli mengevaluasi implementasi teknik yang telah dilakukan serta menentukan lamanya intervensi dilaksanakan sampai tingkah laku diharapkan menetap. TEKNIK TEKNIK KONSELING Ada 2 jenis, untuk meningkatkan tingkah laku atau menurunkan tingkah laku.  Untuk meningkatkan prilaku : penguatan positif, token economy, pembentukan tingkah laku (shaping), pembuatan kontrak (contingency contract)  Untuk menurunkan tingkah laku: Penghapusan (extinction), Time-out, Pembanjiran (flooding), penjenuhan (satiation), Hukuman (punishment), terapi aversi, desensitisasi sistematis. Penguatan positif (positive reinforcement) Penguatan positif (positive reinforcement) adalah memberikan penguatan yang menyenangkan setelah setelah tingkah laku yang diinginkan ditampilkan yang bertujuan agar tingkah laku yang diinginkan cenderung akan diulang , meningkat, atau menetap di masa yang akan dating (Walker & Shea, 1984)

13

Penguatan negatif (negative reinforcement) yaitu menghilangkan aversive stimulus yang biasa dilakukan agar tingkah laku yang tidak diinginkan berkurang dan tingkah laku yang diinginkan meningkat. Reinforcement dapat bersifat tidak menyenangkan atau tidak memberi dampak pada perubahan tingkah laku tujuan (Sukadji, 1983, p.12) Klasifikasi Tingkah Awal Reinforcement + Ria membersihkan kamarnya Reinforcement Bob tentang kelas mengeluh Orangtua Orangtua member pujian Laku Konsekuensi Kemungkinan efek ria Ria akan terus

membersihkan kamarnya bob Bob akan terus tidak masuk

kakak membolehkannya yang tidak

masuk sekolah

memukul dan ia sekolah tidak mau masuk sekolah

Prinsip-Prinsip penerapan penguatan positif (reinforcement positive) Agar mendapatkan hasil yang maksimal konselor perlu memperhatikan prinsip reinforcement, antara lain:     Penguatan positif tergantung pada penampilan tingkah laku yang diinginkan Tingkah laku yang diinginkan diberi penguatan segera setelah tingkah laku tersebut ditampilkan Pada tahap awal, proses perubahan tingkah laku yang diinginkan diberi penguatan setiap kali tingkah laku tersebut ditampilkan Ketika tingkah laku yang diinginkan sudah dapat dilakukan dengan baik, penguatan diberikan secara berkala dan pada akhirnya dihentikan.

14

Pada tahap awal, penguatan social selalu diikuti dengan penguatan yang berbentuk benda

Hubungan penguatan (reinforcement) dan tingkah laku     Reinforcement diikuti oleh tingkah laku (Grandma’s Law) Tingkah laku yang diharapkan harus diberi reinforcement segera setelah ditampilkan Reinforcement harus sesuai dan bermakna bagi individu atau kelompok yang diberi reinforcement Pujian atau hadiah yang paling kecil tapi banyak lebih efektif dari yang besar tapi sedikit Jenis-jenis Penguatan (reinforcement) Ada 3 jenis reinforcement yang dapat digunakan untuk modifikasi tingkah laku, yaitu:    Primary reinforcer atau uncondition reinforcer, reinforcement yang langsung dapat dinikmati misalnya makanan dan minuman Secondary reinforcer atau conditioned reinforcer, reinforcement berupa uang, senyuman, pujian, medali, pin, hadiah, dan kehormatan Contingency reinforcement, tingkah laku yang tidak menyenangkan dipakai sebagai syarat agar anak melakukan tingkah laku menyenangkan, misal kerjakan PR dulu baru nonton TV Penerapan Penguatan positif yang efektif Ada beberapa persyaratan yang perlu dipertimbangkan agar penguatan dapat bekerja secara efektif, antara lain:   Memberikan penguatan dengan segera Penguatan akan memiliki efek yang lebih bermakna bila diberikan segera setelah tingkah laku yang diinginkan dilakukan oleh konseli, dengan alasan agar tidak ada tingkah laku lain yang menyela

15

        

Memilih penguatan yang tepat Mengatur kondisi situasional Menentukan kuantitas penguatan Memilih kualitas dan kebaruan penguatan Memberikan sampel penguatan Menangani persaingan asosiasi Mengatur jadwal penguatan Mempertimbangkan efek penguatan terhadap kelompok Menangani efek kontrol kontra

Langkah-Langkah pemberian penguatan (reinforcement) 1. Mengumpulkan informasi tentang permasalahan melalui analisis ABC a. Antecendent (pencetus prilaku) b. Behavior ( prilaku yang dipermasalahkan; Frekuensi, intensitas, dan durasi ) c. Consequence (akibat yang diperoleh dari perilaku tersebut) 2. Memilih perilaku target yang ingin ditingkatkan 3. Menetapkan data awal (baseline) perilaku awal 4. Menetapkan reinforcement yang bermakna 5. Menetapkan jadwal pemberian reinforcement 6. Penerapan reinforcement positif Ilustrasi Kasus     Rika sering terlambat masuk sekolah Ibu tidak berhasil mendorong rika untuk siap lebih cepat Ibu mempersiapkan hadiah dengan menyatakan “kalau rika siap tepat jam 6.30, akan mendapat boneka cantik.” Pada saat rika siap jam 6.30, ibu member boneka cantik. Hal ini dilakukan beberapa kali sampai terbentuk perilaku yang diharapkan atau target perilaku

16

  

Kelemahannya adalah bila dalam jangka waktu lama hadiah boneka dihilangkan, anak memiliki kemungkinan akan kembali terlambat. Perilaku yang muncul semata-mata karena hadiah. Hal ini merupakan prinsip belajar Clasiccal conditioning Pavlov Bila menggunakan prinsip Operant Conditioning Skinner. Reinforcemnt diberikan pada saat anak secara mandiri berperilaku yang diharapkan. Perilaku akan cenderung menetap, karena kesadaran muncul dari diri sendiri

Jadwal pemberian penguatan Terdapat beberapa bentuk jadwal pemberian penguatan yang dibutuhkan sesuai dengan karakteristik konseli.  Penguat berkelanjutan (Continuous reinforcement), diberikan setiap kali tingkah laku muncul, bila reinforcement dihentikan maka tingkah laku akan cepat hilang.  Penguat berselang seling (intermittent reinforecement), diberikan secara selang seling yaitu: o Interval tetap (fixed interval), berselang secara teratur misalnya setiap 5 menit o Interval berubah (variable interval), diberikan dalam waktu tidak tentu, misalnnya berselang 3, 4, 5, 6, dan 7 menit. Penghapusan lebih lambat disbanding interval tetap. o Perbaikan tetap (fixed ratio): reinforcement sesudah respons yang dikehendaki muncul kesekian kalinya misalnya setelah muncul sepulu atau duabelas kali o Perbandingan berubah (variable ratio): reinforcement diberi secara acak setelah 8,9,10,11,12 kali perilaku muncul dengan rata-rata sama dengan fixed ratio. Penghapusan pada rasio variabel paling lambat terjadi.

17

Bagan Jadwal reinforcement
Fixed interval Continuous Reinforcement Reinforcement Intermitted Reinforcement Ratio Variable ratio Interval Variable interval Fixed ratio

Kartu Berharga ( Token Economy) Kartu berharga ( token economy ) merupakan teknik konseling behavioral yang didasarkan pada prinsip operant conditioning Skinner yang termasuk di dalamnya adalah penguatan. Token economy adalah strategi menghindari pemberian reinforcement secara langsung, token merupakan penghargaan yang dapat ditukar, kemudian dengan berbagai barang yang diinginkan oleh konseli. Token Economy bertujuan untuk mengembangkan perilaku adaptif melalui pemberian reinforcement dengan token. Ketika tingkah laku yang diinginkan telah cenderung menetap, pemberian token dikurangi secara bertahap (Corey, 1986,p. 185). Agrass (1978) mengatakan bahwa konselor sebaiknya memberikan variasi cadangan reinforcement untuk meningkatkan perilaku. Ia memberikan catatan bahwa substansi utama token adalah target perilaku yang teridentifikasi dengan jelas dan berbagai barang atau hak istimewa yang akan didapatkan oleh konseli (dalam Corey, 1986,p. 185). Menurut Corey, token economy dapat diaplikasikan untuk membentuk tingkah laku ketika penghargaan dan berbagai reinforcement social tidak berhasil digunakan. Penggunaan token sebagai reinforcer untuk membentuk tingkah laku memiliki beberapa keuntungan, yaitu:  Token tidak mengurangi nilai insentif, terutama ketika kekuatan pemerolehan (earning power) dan nilainya meningkat seiring dengan peningkatan perilaku.

18

      

Token dapat mengurangi penundaan antara tingkah laku yang diinginkan dengan hadiah (reward). Token dapat digunakan sebagai motivator konkrit (concrete motivator) untuk merubah tingkah laku tertentu. Token adalah bentuk penguatan yang positif. Individu memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana

menggunakan token yang didapat. Token economy dapat mengarahkan ke peningkatan moral konseli dan staf. Sisten token dapat memungkinkan untuk mengukur penguatan social. Token menjadi jembatan antara institusi dan kehidupan di luar sekolah (Corey, 1986,p. 185). Langkah – Langkah Penerapan Token Economy, Yaitu:           Membuat analisis ABC Menetapkan target perilaku yang akan dicapai dengan konseli Penetapan besar harga atau poin token yang sesuai dengan perilaku target Penetapan saat kapan token akan diberikan pada konseli Menetapkan perilaku awal program Memilih reinforcement yang sesuai dengan konseli Memilih tipe token yang akan digunakan, misalnya: bintang, stempel, dan kartu. Mengidentifikasi pihak yang terlibat dalamprogram seperti staf sekolah, guru, relawan, siswa, anggota token economy Menetapkan jumlah dan frekuensi penukaran token,missal 25-75 token perorang dan menurun hingga 15- 30 token perhari Membuat pedoman pelaksanaan token economy (perilaku mana yang akan diberi penguatan, bagaiman cara memberi penguatan dengan token, kapan waktu pemberian, berapa jumlah token yang bisa diperoleh, data apa yang harus dicatat, kapan dan di mana data akan dicatat siapa administratornya, dan bagaimana prosedur evaluasinya).  Pedoman diberikan pada konseli dan staf

19

Lakukan monitoring.

Checklist token economy diiringi dengan reward menu Reward Meminjam buku cerita Menonton film Main di time zone Waktu 2 hari 1 kali 1 kali Poin 20 30 50

Pembentukan ( Shaping ) Shaping adalah membentuktingkah laku baru yang sebelumnya belum ditampilkan dengan memberikan reinforcement secara sistematik dan langsung setiap kali tingkah laku ditampilakan. Tingkah laku diubah secara bertahap dengan memperkuat unsur – unsur kecil tingkah laku baru yang diinginkan secara berturut – turut sampai mendekati tingkah laku akhir. Langkah – langkah Penerapan Shaping       Membuat analisis ABC Menetapkan target perilaku yang akan dicapai dengan konseli Tentukan bersama jenis reinforcement positif yang akan digunakan Membuat perencanaan dengan membuat tahapan pencapaian perilaku mulai dari perilaku awal sampai perilaku akhir Perencanaan dapat dimodikasikan selama berlangsung program shaping Penetapan waktu pemberian reinforcement pada setiap tahap program

Penerapan Perencanaan Shaping
   Konseli harus diberi tahu sebelum perencanaan dilakukan Beri penguatan segera pada saat awal perilaku Jangan pindah ke tahap berikut sebelum konseli menguasai perilaku pada satu tahap

20

  

Bila belum yakin penguasaan perilaku konseli, dapat digunakan aturan: perpindahan tahap bila sudah benar 6 dari 10 percobaan Jangan terlalu sering memberi penguatan pada satu tahap, dan tidak memberi penguatan pada tahap lainnya Kalau konseli berhenti bekerja, maka konselor dapat berpindah cepat ke tahap berikut. Mungkin tahapan tidak tepat atau reinforcement tidak efektif.

   

Cek efektivitas penguatan Atau apakah tahapan terlalu rendah Atau perpindahan tahap terlalu cepat, sehingga harus kembali pada tahap sebelumnya. Bila untuk melanjutkan konseli mendapatkan kesulitan, maka dilatih ulang pada tahap yang dirasa sulit.

Factor Yang Mempengaruhi Efektivitas Shaping
  Spesifikkan perilaku akhir yang ingin dicapai. Ketepatan pemilihan perilaku yang spesifik akan mempengaruhi ketepatan hasil. Memilih perilaku awal. Hal ini bertujuan untuk menetapkan level pencapaian awal yang dimiliki,karena program shaping bertujuan untuk mencapai perilaku secara bertahap  Memilih tahap shaping, mulai dari perilaku awal bergerak ke perilaku akhir  Tidak ada pedoman yang ideal ; berapa kali percobaan dari satu langkah ke langkah berikutnya.  Tidak ada pedoman yang ideal ; berapa banyak tahapan yang harus digunakan pada program shaping.  Penetapan ditentukan fleksibel sesuai kecepatan belajar konseli  Ketepatan jarak waktu perpindahan tahapan  Perpindahan dari langkah pertama ke langkah berikutnya harus sesuai dengan tahapan, jangan terlalu cepat dan jangan terlalu lambat. Upayakan pindah pada saat perilaku sudah menetap.

21

 Penetapan setiap tahapan jangan terlalu dekat/kecil jaraknya  Tapi kalau terlanjut terlalu cepat pindah tahap dan perilaku yang diharapkan hilang atau tidak muncul, maka kembali ke tahap sebelumnya. Pembuatan Kontrak (Contingency Contacting) Pembuatan kontrak adalah mengatur kondisi sehingga konseli

menampilkan tingkah laku yang diinginkan berdasarkan kontrak antara konseli dan konselor. Prinsip Dasar Kontrak       Kontrak disertai dengan penguatan Reinforcement diberikan dengan segera Kontrak harus dinegoisasikan secara terbuka dan bebas serta disepakati antara konseli dan konselor Kontrak harus fair Kontrak harus jelas (target tingkah laku, frekuensi, lamanya kontrak) Kontrak dilaksanakan secara terintegrasi dengan program sekolah.

Langkah – langkah pembuatan kontrak      Pilih tingkah laku yang akan diubah dengan melakukan analisis ABC. Tentukan data awal (baseline data) (tingkah laku yang akan diubah). Tentukan jenis penguatan yang akan diterapkan. Berikan reinforcement setiap kali tingkah laku yang diinginkan ditampilkan sesuai jadwal kontrak. Berikan penguatan setiap saat tingkah laku yang ditampilkan menetap.

Contoh kontrak 1 Senin Tidak terlambat Murid Selasa Rabu Kamis Jum’at Jumlah

22

mengajukan pertanyaan yang bagus pada guru Murid menyerahkan tugas tepat waktu

KONTRAK TINGKAH LAKU Tingkah laku yang bermasalah Masalah yang dialami saat ini adalah subjek sering tidak dapat menyelesaikan tes atau ulangan sebelum waktu yang disediakan berakhir. Perilaku yang ditunjukkan oleh subjek adalah pada subjek mengerjakan tes atau ulangan dengan batas waktu yang telah ditentukan subjek tidak dapat fokus dalam mengerjakan tes atau ulangan. Subjek cenderung untuk mengajak temannya mengobrol, sambil sesekali mengerjakan tugasnya. Sehingga pada saat waktu untuk mengerjakan sudah habis, subjek tidak dapat menyelesaikan seluruh tugas ataupun soal yang diberikan.

Tingkah laku yang diinginkan Subjek mampu untuk focus dan tepat waktu dalam menyelesaikan tes atau ulangan tanpa berbicara dengan temannya. Sangsi Bila subjek tidak dapat menyelesaikan tes atau ulangan tepat waktu, maka subjek juga tidak dapat waktu istirahat. Hadiah Bila subjek dapat menyelesaikan tes atau ulangan tepat waktu, maka subjek akan mendapatkan tambahan 10 poin nilai.

23

Tanda tangan Siswa Guru Pihak lain yang terlibat : ………………………………………………….. : ………………………………………………….. : …………………………………………………..

KONTRAK TINGKAH LAKU Saya, (nama subjek), pada tanggal ..... menyatakan bahwa saya setuju melakukan hal – hal di bawah ini : Focus dan tepat waktu dalam menyelesaikan tes atau ulangan tanpa berbicara dengan teman. Tidak mengajak teman mengobrol saat mengerjakan tes atau ulangan.

………………….. Tanda tangan siswa Usaha saya dianggap berhasil bila:

………………… Tanda tangan guru

Saya dapat menyelesaikan tes atau ulangan tepat waktu tanpa berbicara dengan teman. Bila saya telah berhasil melakukan hal di atas, maka saya akan mendapatkan tambahan 10 poin nilai. Tanggal berakhirnya kontrak, …………….

………………….. Tanda tangan siswa

…………………. Tanda tangan guru

24

Penokohan (Modeling) Modeling merupakan belajar melalui observasi dengan menambahkan atau mengurangi tingkah laku yang teramati, menggenelisirkan berbagai pengamatan sekaligus, melibatkan proses kognitif. Terdapat beberapa tipe modeling, yaitu modeling tingkah laku baru yang dilakukan melalui observasi terhadap model tingkah laku yang diterima secara social individu memperoleh tingkah laku model baru. Modeling mengubah tingkah laku lama yaitu dengan maniru tingkah laku model yang tidak diterima social akan memperkuat / memperlemah tingkah laku tergantung tingkah laku model itu diganjar atau dihukum. Modeling simbolik yaitu modeling melalui film dan televisi menyajikan contoh tingkah laku, berpotensi sebagai sumber model tingkah laku. Modeling kondisioning banyak dipakai untuk mempelajari respons emosional. Contoh emosi seksual yang timbul akibat nonton film porno dilampiaskan ke objek yang ada di dekatnya, perkosaan atau pelecehan. Proses penting modeling  Perhatian, harus focus pada model. Proses ini dipengaruhi asosiasi pengamat dengan model, sifat model yang atraktif, arti penting tingkah laku yang diamati bagi si pengamat.   Representasi, yaitu tingkah laku yang akan ditiru harus disimbolisasikan dlam ingatan. Peniruan tingkah laku model, yaitu bagaimana melakukannya ? Apa yang harus dikerjakan ? Apakah sudah benar ? Hasil lebih pada pencapaian tujuan belajar dan efikasi pembelajar.  Motivasi dan penguatan. Motivasi tinggi untuk melakukan tingkah laku model membuat belajar menjadi efektif. Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan penokohan (Modeling)   Ciri model seperti, usia, status social, jenis kelamin, keramahan. Anak lebih senang meniru model seusianya daripada model dewasa.

25

 

Anak cenderung meniru model yang standar prestasinya dalam jangkauannya. Anak cenderung mengimitasi orang tuanya yang hangat dan terbuka.

Prinsip – prinsip modeling  Belajar bisa diperoleh melalui pengamatan langsung dan bisa tidak langsung   dengan mengamati tingkah laku orang lain berikut

konsekwensinya. Kecakapan social tertentu bisa diperoleh dengan mengamati dan mencontoh tingkah laku model yang ada. Reaksi – reaksi emosional yang terganggu bisa dihapus dengan mengamati orang lain yang mendekati objek atau situasi yang ditakuti tanpa mengalami akibat menakutkan dengan tindakan yang dilakukannya.       Pengendalian diri dipelajari melalui pengamatan atau model yang dikenai hukuman. Status kehormatan model sangat berarti. Individu mengamati seorang model dan dikuatkan untuk mencontoh tingkah laku model. Modeling dapat dilakukan dengan model symbol melalui film dan alat visual lainnya. Para konseling kelompok terjadi model ganda karena peserta bebas meniru pemimpin kelompok atau peserta lain. Prosedur modeling dapat menggunakan berbagai teknik dasar modifikasi perilaku. Kasus yang diterapi dengan modeling antara lain : penderita fobia, ketergantungan atau kecanduan obat – obatan, ketergantungan atau kecandaan alcohol, gangguan kepribadian berat psikosis, kesulitan anak adaptasi di sekolah, dan takut sekolah.

26

Prinsip-prinsip modeling  Belajar bisa di peroleh melalui pengalaman langsung dan tidak langsung dengan cara mengamati tingkah laku orang lain berikut dengan konsekuensinya.   Kecakapan sosial tertentu bisa diperoleh dengan mengamati dan mencontoh tingkah laku model yang ada. Reaksi-reaksi emosional yang terganggu bisa dihapus dengan mengamati orang lain yang mendekatiobyek atau situasi yang ditakuti tanpa mengalami akibat menakutkan dengan tindakan yang dilakukannya.       Pengendalian diri dipelajari melalui pengamatan dari model yang dikenai sebuah hukuman. Status kehormatan model sangat berarti Individu mengamati seorang model dan dikuatkan untuk mencontoh tingkah laku model. Modeling dapat dilakukan dengan model simbol melalui film dan alat visual lain. Pada konseling kelompok terjadi model ganda karena peserta bebas meniru perilaku pemimpin kelompok atau peserta lain. Prosedur modeling dapat menggunakan berbagai teknik dasar modifikasi perilaku. Pengaruh modeling   Pengambilan respon atau keterampilan baru dan memperlihatkannya dalam perilaku baru. Hilangnya respon takut setelah melihat tokoh melakukan sesuatu yang menimbulkan rasa takut konseli,tidak berakibat buruk bahkan berakibat positif.  Melalui pengamatan terhadap tokoh, seseorang terdorong untuk

melakukan sesuatu yang mungkin sudah diketahui atau dipelajari dan tidak ada hambatan.

27

Macam-macam model    Model nyata (live modeling), seperti: terapis,guru,anggota keluarga atau tokoh yang dikagumi dijadikan model oleh konseli Model simbolik (symbolic modeling), seperti: tokoh yang dilihat melalui film,video, atau media lain. Model ganda (multiple modeling), seperti:terjadi dalam kelompok, seorang anggota mengubah sikap dan memperlajari sikap baru setelah mengamati anggota lain bersikap. Langah-langkah   Menetapkan bentuk model (live model,symbolic model,multiple model ) Pada live model, pilih model yang bersahabat atau teman sebaya konseli yang memiliki kesamaan seperti : usia,status ekonomi,dan penampilan fisik. Hal ini penting terutama bagi anak-anak.    Bila mungkin gunakan lebih dari satu model. Kompleksitas perilaku yang dimodelkan harus sesuai dengan tingkat perilaku konseli. Kombinasikan modeling dengan aturan,instruksi,behavioral rehearsal, dan penguatan. Pengelolaan Diri (Self Management) Sekf Management adalah prosedur dimana individu mengatur perilakunya sendiri. Pada teknik ini individu terlibat pada beberapa atau keseluruhan komponen dasar yaitu: menentukan perilaku sasaran, memonitor perilaku tersebut, memilih prosedur yang akan diterapkan, melaksanakan prosedur tersebut, dan mengevaluasi efektivitas prosedur tersebut (Sukadji, 1983, p.96). Tahap-tahap pengelolaan diri Pengelolaan diri biasanya dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:  Tahap montor diri atau observasi diri

28

Pada tahap ini konseli dengan sengaja mengamati tingkah lakunya sendiri serta mencatatnya dengan teliti. Catatan ini dapat menggunakan daftar cek atau catatan observasi kualitatif. Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh konseli dalam mencatat tingkah lakuadalah frekuensi,intensitas, dan durasi tingkah laku.  Tahap evaluasi diri Pada tahap ini konseli membandingkan hasil catatan tingkah laku dengan target tingkah laku yang telah dibuat oleh konseli. Perbandingan ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas dan efisiensi program. Bila program tersebut tidak berhasil, maka perlu ditinjau kembali program tersebut, apakah target tingkah laku yang ditetapkan memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi, perilaku yang ditargetkan tidak cocok, atau penguatan yang diberikan tidak sesuai.  Tahap pemberian penguatan,penghapusan atau hukuman Pada tahap ini konseli mengatur dirinya sendiri, memberikan

penguatan,menghapus dan membarikan hukuman pada diri-sendiri. Tahap ini merupakan tahap yang paling sulit karena membutuhkan kemauan yang kuat dari konseli untuk melaksanakan program yang yang telah dibuat secara kontinyu. Penghapusan (Extinction) Penghapusan (extinction) adalah menghentikan reinforcement pada tingkah laku yang sebelumnyadiberi reinforcement. klasifikasi Tingkah awal Extinction (penurunan) Jim mencuci Ayahnya peduli laku konsekuensi Kemungkinan efek tidak Jim akan berhenti mencuci ayah Extinction (penurunan) Jason meletakkan Joe jem tidak Jason akan mobil

mobil ayahnya

ditempat mempedulikannya

menghentikan

29

duduk joe

meletakkan dikursi temannya

jem

teman-

Langkah-langkah   Tentukan tingkah laku yang akan dihentikan dengan analisis ABC Bila tingkah laku itu ditampilkan, guru atau orang tua diam dan tidak memberikan indikasi bahwa guru atau orang tua melihat tingkah laku tersebut  Extinction akan lebih kuat bila dikombinasikan dengan teknik penguatan positif. Factor yang mempengaruhi pelaksanaan penghapusan  Control terhadap pemberi penguatan bagi perilaku yang akan

diturunkan/dihapuskan. Saat perilaku diabaikan jangan sampai ada orang lain yang member perhatian/penguatan pada perilaku yang tidak diharapkan.  Penurunan perilaku dikombinasi dengan penguatan positif bagi perilaku alternatif. Penguatan diberi secara gradual. Misalnya saat anak menangis menjerit-jerit diabaikan, kemudian setelah anak diam menangis selama 15 detik-1 menit kemudian diberi penguatan positif.  Lakukan pada situasi yang memaksimalkan program extinction dan meminimalkan situasi yang memungkinkan pihak lain memperkuat perilaku yang tidak diharapkan. Misalnya anak temper tantrum di super market akan sulit ditenangkan dibandingkan dilakukan di rumah.  Memberi instruksi dengan membuat aturan. Contoh suami setiap pulang kantor selalu mengeluh kemacetan lalu lintas. Istri mengatakan “Tono kemacetan terjadi setiap hari dan tidak ada yang bisa dilakukan dengan mengeluh. Saya lebih suka bicara dengan kamu tentang hal lain. Tapi kalau suatu saat nanti kamu pulang dan complain lagi tentang lalu lintas,

30

saya akan mengabaikannya”. Ini perlu dilakukan beberapa kali agar benarbenar menurun.  Extinction akan berlangsung cepat setelah diikuti continuous

reinforcement pemberian penguatan setiap kali perilaku diharapkan muncul. Contohnya anak meminta perhatian saat ibu sedang bicara di telepon, ibu mengabaikan. Begitu anak diam dan tenang, ibu langsung memperhatikan dan memberikan apa yang dibutuhkan anak.  pemberian continuous reinforcement pada extinction akan lebih cepat menurunkan perilaku yang tidak diharapkan dibandingkan intermittent reinforcement.  Extinction bisa menghasilkan perilaku agresi. Hal ini dapat diminimalisir apabila mengkombinasi antara penghapusan (extinction) dengan penguatan positif (positive reinforcement) bagi perilaku alternatif yang muncul.  Perilaku yang sudah hilang dapat muncul kembali setelah beberapa waktu. Ini disebut spontaneous recovery. Bila hal ini terjadi maka perlu dilakukan kembali atau dilanjutkan program penghapusan (extinction).  Prinsip penting dalam modifikasi tingkah laku adalah :bila ingin perilaku muncul lebih sering maka beri dia penguatan. Bila ingin perilaku menurun atau hilang,maka abaikanlah. Pembanjiran (Flooding) Pembanjiran (flooding) adalah membanjiri konseli dengan situasi atau penyebab kecemasan atau tingkah laku tidak dikehendaki, sampai konseli sadar bahwa yang dicemaskan tidak terjadi. Pembanjiran (flooding) merupakan teknik modifikasi perilaku berdasarkan prinsip teori yang dikemukakan oleh B.F. Skinner. Pembanjiran sesuai untuk menangani kasus fobia. Tujuannya untuk menurunkan tingkat rasa takut yang ditimbulkan, dengan menggunakan stimulus yang dikondisikan (condition stimulus) yang dimunculkan secara berulang-ulang sehingga terjadi penurunan, tanpa member penguatan (reinforcement). Cara-cara penerapan pembanjiran (flooding) Terdapat dua cara melakukan penerapan pembanjiran (flooding), yaitu:

31

1. Invivo Yaitu, konselor mencoba membawa konseli hadir pada situasi atau stimulus yang menimbulkan rasa takut dengan segera selama terapi berlangsung, dilakukan selama 1 jam atau lebih setiap sesinya, disertai pencegahan terhadap perilaku untuk menghindari atau lari dari situasi tersebut. Misal takut akan ketinggian, dimulai dengan mengajak konseli melihat ke jendela dari ruang lantai 1, lantai 2, sampai ke lantai 10.

2. Imajeri Yaitu, stimulus yang menakutkan bisa dihadirkan juga dengan

membayangkan, konselor akan membuat gambaran situasi yang semakin meningkatkan rasa takut dan semakin mencemaskan. Pengalaman konseli membayangkan tanpa disertai akibat yang dahsyat dapat menurunkan tingkat rasa takutnya, dan ia akan siap menghadapi situasi sebenarnya. Teknik ini biasa digunakan untuk kasus-kasus fobia, obsesif, psikotik. Teknik flooding dikembangkan oleh Stamfl 1975 dengan nama terapi implosif. Prosedur terapi implosif Langkah-langkah penerapan terapi implosif adalah:  Pencarian stimulus yang memicu gejala.  Menaksir bagaimana gejala-gejala berkaitan dan bagaimana gejalagejala membentuk perilaku konseli.  Meminta konseli membayangkan sejelas-jelasnya apa yang dijabarkan tanpa disertai celaan atas kepantasan situasi yang dihadapi.  Bergerak semakin dekat kepada ketakutan paling kuat yang dialami konseli, dan meminta konseli untuk membayangkan apa yang paling ingin dihindarinya.  Mengulang prosedur tersebut sampai kecemasan tidak muncul lagi dalam diri konseli.

32

Penjenuhan (Satiation) Penjenuhan (satiation) adalah varian flooding untuk self control. Kontrol diri adalah bagaimana individu mengontrol variable eksternal yang menentukan tingkah laku. Hal ini dilakukan dengan memindahkan atau menghindar (removing/avoiding) dari situasi berpengaruh buruk. Memperkuat diri (reinforce oneself) yaitu member reinforcement kepada diri sendiri, terhadap „prestasi” dirinya. Self punishment yaitu menghukum diri sendiri bisa hukuman fisik atau mengurangi hak-haknya seperti menonton TV atau membeli makanan atau barang yang diinginkannya. Penjenuhan (satiation) adalah membuat diri jenuh terhadap suatu tingkah laku, sehingga tidak lagi bersedia melakukannya. Menurunkan atau

menghilangkan tingkah laku yang tidak diinginkan dengan memberikan reinforcement yang semakin banyak dan terus menerus, sehingga individu merasa puas dan tidak akan melakukan tingkah laku yang tidak diinginkan lagi. Contoh:  Ani suka sekali makan permen, untuk menurunkan kebiasaan tersebut, ia diberi permen sebanyak-banyaknya sampai ia tidak ingin lagi permen, karena nilai permen sudah berkurang.  Agus selalu meminjam alat tulis temannya tanpa izin. Pada hari penerapan satiation, guru mempersiapkan alat tulis di meja agus. Setelah jam pertama, guru memberi lagi tiga alat tulis, hal ini berlangsung sampai jam sekolah berakhir. Pada batas tertentu, agus tidak membutuhkan alat tulis lagi, karena nilai dari alat tulis tersebut sudah berkurang. Hukuman (punishment) Hukuman atau punishment merupakan intervensi operant-conditioning yang digunakan konselor untuk mengurangi tingkah laku yang tidak diinginkan. Skinner berkeyakinan bahwa hukuman kerap kali digunakan bukan untuk menghilangkan tingkah laku yang tidak diinginkan tetapi hanya mengurangi

33

kecenderungan tingkah laku. Ketika hukuman dihilangkan maka tingkah laku tersebut akan muncul kembali Klasifikasi Tingkah Laku Awal Punishment (Hukuman) Gina duduk Kemungkinan efek

Konsekuensi

di Gina dicubit ibu Gina tidak lagi setiap kali duduk duduk di tanag di tangan kursi kursi

tangan kursi

Akan tetapi, hukuman memiliki efek emosional yang negative seperti kemarahan atau depresi. Bila hukuman digunakan harus diiringi dengan penguatan positif. Hal-hal yang harus diperhatikan Dalam pemberian punishment terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan yaitu:  Hukuman diberikan segera setelah perilaku yang tidka diinginkan muncul pada satu situasi, agar individu sedikit memiliki keinginan untuk mengulang kembali perilaku tersebut bila berada pada situasi yang sama.  Penerapan punishment dalam pengubahan tingkah laku, lebih kepada fungsi konsekuensi yang memberi efek penurunan perilaku.  Pemberian hukuman bisa dilakukan sebagai tambahan atas kensekuensi tingkah laku (tambahan tugas) atau penghilangan sesuatu yang menyenangkan bagi siswa (mengikuti kegiatan ekstrakurikuler diganti dengan tugas tambahan). Efek samping emosional pemberian hukuman  Tingkah laku yang tidak diinginkan hanya ditekan saat ada hukuman  Jika tingkah laku alternative tidak muncul, konseli akan menarik diri  Pengaruh hukuman bisa jadi generalisasi pada tingkah laku lain yang berkaitan dengan tingkah laku yang dihukum. Misal anak dihukum karena terlambat, jadi tidak suka sekolah, semua pelajaran, semua guru dan sebagainya.

34

Terdapat tiga metode operan yang digunakan untuk mengurangi perilaku, yaitu time-out, overcorrection dan response cost. 1. Hukuman fisik Bentuknya bisa stimulus aversif, hukuman aversif, aversif sederhana. Jenis hukuman aversif yaitu kejut listrik (electric shock), suara keras, diberi amoniak, ditarik rambutnya, dan cubit yang disebut dengan unconditional punishers. 2. Timeout Yaitu pemberian hukuman dengan memisahkan individu dari situasi. 3. Reprimands Stimulus verbal negative (Jangan! Itu jelek! ) diterapkan saat perilaku yang tidak diharapkan muncul. 4. Response cost Membebankan “biaya” apabila individu melakukan perilaku yang tidak diharapkan, misalnya tidak boleh pinjam buku perpustakaan, dan memberi tugas tambahan di rumah. Biasa digunakan sebagai bagian darin penerapan token economy, dengan pengurangan atao pemotongan nilai token. Time-out Merupakan teknik menyisihkan peluang individu untuk mendapatkan penguatan positif. Teknik ini biasa digunakan di kelas, di mana siswa yang berprilaku tidak diharapkan diasingkan atau dipindahkan dari siswa-siswa yang lain pada waktu yang spesifik dan terbatas. Sehingga dalam keadaan terasing, individu tidak lagi berupaya untuk melakukan perilaku yang dapat menarik perhatian guru maupun teman-temannya. Tipe-tipe time out  Exclusionary atau ekslusi Memindahkan individu dari situasi yang member peluang mendapat penguatan untuk waktu singkat ke dalam ruang time out. Berdasarkan hasil penelitian, lima menit adalah waktu yang efektif dalam pemberian time out. Kalau dalam

35

situasi belajar di kelas, berarti individu dipindahkan dari ruang kelas. Akan dopindahkan ke ruang time out tertentu (isolasi) misalnya perpustakaan atau ruang lain.  Nonexclusionary Individu dipindahkan untuk beberapa saat pada situasi dengan sedikit ponguatan. Contoh ketika siswa menganggu kelas, tidak diperbolehkan berpartisipasi dalam aktivitas kelad dan diabaikan oleh guru selama beberapa saat. Setelah itu boleh kembali berpartisipasi. Dapat disebut observational, menempatkan siswa di luar akitivitas (tidak boleh mengikuti) tapi ia masih bisa melihat aktivitas tersebut. Contoh: menempatkan siswa di pojok kelas atau menuruhnya menundukkan kepala atau tetap di tempat duduk tapi tidak boleh ikut aktivitas beberapa saat.

Contoh Format time-out Siswa Guru Tanggal : ………………………………………. : ……………………………………….. : ………………………………………..

Waktu

Tingkah sebelum out

laku Tingkah laku selama Tingkah laku time- time-out setelah timeout

Masuk

Keluar

36

Langkah – langkah time out   Menyeleksi perilaku spesifik yang akan diubah, misalnya: lompat dari bangku. Memaksimalkan kondisi untuk memunculkan perilaku alternative, sehingga dapat diberi penguatan saat ini dilakukan individu sebagai pengganti perilaku yang tidak diharapkan.  Meminimalisir penyebab timbulnya perilaku yang mendapat hukuman, dengan mengidentifikasi di awal program. Serta menghilangkan peluang munculnya penguatan bagi perilakunynag tidak diharapkan.  Memilih hukuman yang efektif, dengan memastikan menghukum segera saat perilaku tidak diharapkan muncul, dan diberikan setiap kali perilaku tersebut muncul, dan tidak diberikan bersamaan dengan penguatan  Penerapan hukuman dilakukan dengan aturan yang jelas; beri tahu konseli semua program yang akan dilakukan, dan katakan ia akan diberi hukuman segera setiap kali perilaku tidak diharapkan muncul, dan akan mendapat penguatan. Hindari hukuman diberi bersamaan dengan reinforcement, administrasikan dengan baik pemberian hukuman.  Program dilakukan dengan langkah dan aturan main yang jelas, lakukan pencatatan data dan lakukan pemantauan Terapi Aversi Kontrol diri aversi → Konseli

Terapi pengaturan diri → Terapis Stimuli yang tidak disukai ( aversive stimuli) akan menciptakan stimulus yang tidak menyenangkan bersamaan dengan stimulus yang ingin dikontrol. Terapi aversi merupakan teknik yang bertujuan untuk meredakan gangguangangguan behavioral yang spesifik, melibatkan pengasosiaan tingkah laku simtomatik dengan suatu stimulus yang menyakitkan sampai tingkah laku yang tidak diinginkan terhambat kemunculannya.

37

Stimulus aversi biasanya berupa hukuman dengan kejutan listrik atau ramuan yang membuat mual. Kendali aversi bisa melibatkan penarikan penguatan positif atau penggunaan hukuman. Area penggunaan aversi adalah untuk tingkah laku maladatif antara lain; ketergantungan alcohol, obat-obatan, merokok, obsesi, kompulsi, berjudi, homoseksualitas, penyimpangan seksual seperti pedofila. Merupakan teknik utama untuk alkoholik, melalui pemberian ramuan yang menimbulkan mula kedalam alcohol yang diminum. Prosedur aversif menyajikan cara-cara menahan respons maladaptive pada suatu periode, sehingga ada kesempatan untuk memperoleh tingkah laku alternative yang adaptif. Hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan terapi aversi  Hukuman jangan sering digunakan, meskipun konseli menginginkannya. Apabila masih ada alternative baiknya digunakan cara-cara pemberian reinforcement positif, untuk mengurangi efek samping hukuman.    Bila menggunakan hukuman, perumusan tingkah laku alternative harus spesifik dan jelas. Hukuman digunakan dengan cara-cara yang tidak mengakibatkan konseli merasa ditolak sebagai pribadi Konseli harus tahu bahwa konsekuensi aversif diasosiasikan dengan tingkah laku maladaptive spesifik

Jenis konseling aversi    Aversi kimia yaitu dengan memasukkan bahan kimia yang menimbulkan mual ke dalam alcohol Kejutan listrik yaitu dengan menggunakan 2 elektroda yang dipasang dilengan, betis atau jari Covert sensitization yaitu dengan meminta konseli membayangkan perilaku maladaptive yang biasa dilakukan dan akibat negative utnuk menimbulkan rasa menyesal atau merasa bersalah

38

Disensitisasi sistematis Digunakan untuk menghapus rasa cemas dan tingkah laku menghindar. Dilakukan dengan menerapkan pengkondisian klasik yaitu dengan melemahkan kekuatan stimulus penghasil kecemasan, gejala kecemasan bisa dikendalikan dan dihapus melalui penggantian stimulus. Melibatkan teknik relaksasi. Melatih konseli untuk santai dan mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalaman pembangkit kecemasan yang dibayangkan atau divisualisasi Langkah-langkah  Analisis tingkah laku yang membangkitkan kecemasan  Menyusun tingkat kecemasan  Membuat daftar situasi yang memunculkan/ meningkatkan taraf kecemasan mulai dari yang paling rendah-paling tinggi  Melatih relaksasi konseli yang digariskan Yacobsen dan diuraikan rinci oleh Wolpe yaitu dnegan berlatih pengenduran otot dan bagian tubuh dengan titik berat wajah, tangan, kepala, leher, pundak, punggung, perut, dada, dan anggota badan bagian bawah  Konseli mempraktikkan 30 menit tiap hari, hingga terbiasa untuk santai dengan cepat  Pelaksanaan desensitisasi konseli dalam santai dan mata tertutup  Meminta konseli membayangkan dirinya berada pada suatu situasi yang netral, menyenangkan, santai, nyaman, tenang. Saat konseli santai diminta

membayangkan situasi yang menimbulkan kecemasan pada tingkat yang paling rendah  Dilakukan terus secara bertahap sampai tingkat yang memunculkan rasa cemas, dan dihentikan  Kemudian dilakukan relaksasi lagi sampai konseli santai, diminta membayangkan lagi pada situasi dengan tingkat kecemasan yang lebih tinggi dan sebelumnya  Terapi selesai apabila konseli mampu tetap santai ketika membayangkan situasi yang sebelumnya paling menggelisahkan dan mencemaskan  Cocok untuk kasus fobia, takut ujian, impotensi, frigiditas, kecemasan neurotic, kekuatan yang digeneralisasikan

39

Penyebab kegagalan disensitisasi sistematis : – Konseli yang mengalami kesulitan dalam melakukan relaksasi – Tingkatan kecemasan yang tidak relevan atau tidak tepat saat disusun bersama konseli – Ketidak memadaian dalam membayangkan (Wolpe 1969)

40

2. PENDEKATAN RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY (REBT)
PENDAHULUAN Pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah pendekatan behavior kognitif yang menekankan pada keterkaitan antara perasaan, tingkah laku, dan pikiran. Pendekatan REBT dikembangkan oleh Albert Ellis melalui beberapa tahapan. Pandangan dasar pendekatan ini tentang manusia adalah bahwa individu memiliki tendensi untuk berpikir irasional yang salah satunya didapat melalui belajar sosial. Di samping itu, individu juga memiliki kapasitas untuk belajar kembali untuk berpikir rasional. Pendekatan ini bertujuan untuk mengajak individu untuk mengubah pikiran-pikiran irasionalnya ke pikiran yang rasional melalui teori GABCDE. SEJARAH Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah pendekatan yang dikembangkan oleh Albert Ellis pada tengah tahun 1950an yang menekankan pada pentingnya peran pikiran pada tingkah laku (Corey,1995,p.381). Pada awalnya pendekatan ini disebut dengan Rational Therapy (RT). Kemudian Ellis mengubahnya menjadi Rational-Emotive Therapy (RET) pada tahun 1961. Pada tahun 1993, dalam Newsletter yang dikeluarkan oleh the Institute for Rational Emotive Therapy, Ellis mengumumkan bahwa ia mengganti nama Rational Emotive Therapy (RET) menjadi Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT). (Nelson Jones,1995, p.309; Corey, 1995,p.381) Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) merupakan pendekatan kognitif-behavioral. Pendekatan ini merupakan pengembangan dari pendekatan behavioral. Dalam proses konselingnya, Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) berfokus pada tingkah laku individu, akan tetapi REBT menekankan bahwa tingkah laku yang bermasalah disebabkan oleh pemikiran yang irasional sehingga fokus penanganan pada pendekatan REBT adalah pemikiran individu. REBT adalah pendekatan yang bersifat direktif, yaitu pendekatan yang

41

membelajarkan kembali konseli untuk memahami input kognitif

yang

menyebabkan gangguan emosional, mencoba mengubah pikiran konseli agar membiarkan pikiran irasionalnya atau belajar mengantisipasi manfaat atau konsekuensi dari tingkah laku (George & Cristiani, 1990,p.81). Kata rational yang dimaksud Ellis adalah kognisi atau proses berpikir yang efektif dalam membantu diri sendiri (self helping) bukan kognisi yang valid secara empiris dan logis. Menurut Ellis, rasionalitas individu bergantung pada penilaian individu berdasarkan keinginan atau pilihannya atau berdasarkan emosi dan perasaannya (Nelson-Jones,1995,p.309). Ellis memperkenalkan kata behavior (tingkah laku) pada pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) dengan alasan bahwa tingkah laku sangat terkait dengan emosi dan perasaan (Nelson-Jones,1995,p.309). PANDANGAN TENTANG MANUSIA Pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) memandang manusia sebagai individu yang didominasi oleh sistem berpikir dan sistem perasaan yang berkaitan dalam dalam sistem psikis individu. Keberfungsian individu secara psikologis ditentukan oleh pikiran, perasaan, dan tingkah laku. Tiga aspek ini saling berkaitan karena satu aspek mempengaruhi aspek lainnya (Walen et.al., 1992,p.15). Secara khusus pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) berasumsi bahwa individu memiliki karakteristik sebagai berikut:  Individu memiliki potensi yang unik untuk berpikir rasional dan irasional.  Pikiran irasional berasal dari proses belajar yang irasional yang didapat dari orang tua dan budayanya.  Manusia adalah makhluk verbal dan berpikir melalui simbol dan bahasa. Dengan demikian, gangguan emosi yang dialami individu disebabkan oleh verbalisasi ide dan pemikiran irasional.  Gangguan emosional yang disebabkan oleh verbalisasi diri (self verbalising) yang terus menerus dan persepsi serta sikap terhadap kejadian merupakan akar permasalahan, bukan karena kejadian itu sendiri.

42

 Individu memiliki potensi untuk mengubah arah hidup personal dan sosialnya.  Pikiran dan perasaan yang negatif dan merusak diri dapat diserang dengan mengorganisasikan kembali persepsi dan pemikiran, sehingga menjadi logis dan rasional (George & Cristiani, 1990, p.82-83). Landasan filosofi Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) tentang manusia tergambar dalam quotation dari Epictetus yang dikutip oleh Ellis : Men are disturbed not by things, but by the views which they take of them. (manusia terganggu bukan karena sesuatu, tetapi karena pandangan terhadap sesuatu) Landasan filosofi Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) tentang manusia, melekat pada epistemology atau theory of knowledge, dialectic atau sistem berpikir, sistem nilai dan prinsip etik (Walen et.al.,1992,p.3). Secara epistemologi, individu diajak mencari cara yang reliable dan valid untuk mendapatkan pengetahuan dan menentukan bagaimana kita mengetahui bahwa sesuatu itu benar. Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) mengadvokasi berpikir ilmiah dan berdasarkan bukti empiris (Walen et.al.,1992,p.4). Secara dialektik, Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) berasumsi bahwa berpikir logis itu tidak mudah. Kebanyakan individu cenderung ahli dalam berpikir tidak logis (Walen et.al., 1992, p.5). Contoh berpikir tidak logis yang biasanya banyak menguasai individu adalah :    Saya harus sempurna. Saya baru saja melakukan kesalahan, bodoh sekali ! Ini adalah bukti bahwa saya tidak sempurna, maka saya tidak berguna (Walen et. al., 1992, p.5). Secara sistem nilai, terdapat dua nilai eksplisit dalam filosofi RationalEmotive Behavior Therapy (REBT) yang biasanya dipegang oleh individu namun tidak sering diverbalkan, yaitu :

43

1. Nilai untuk bertahan hidup (survival) 2. Nilai kesenangan (enjoyment) Kedua nilai ini didesain oleh individu agar ia dapat hidup lebih panjang, meminimalisir stress emosional dan tingkah laku yang merusak diri, serta mengaktualisasikan diri sehingga individu dapat hidup dengan penuh dan bahagia (Walen et.al.,1992,p.5-6). Tujuan-tujuan ini dipandang sebagai pilihan daripada kebutuhan. Hidup yang rasional terdiri dari pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang berkontribusi terhadap pencapaian tujuan-tujuan yang dipilih individu. Sebaliknya, hidup yang irasional terdiri dari pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang menghambat pencapaian tujuan tersebut (Nelson-Jones, 1995, p.313). Selanjutnya, manusia dipandang memiliki tiga tujuan fundamental (NelsonJones,1995,p.312), yaitu : 1. Untuk bertahan hidup (to survive) 2. Untuk bebas dari kesakitan (to be relatively free from pain) 3. Untuk mencapai kepuasan (to be reasonably satisfied or content) Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) juga berpendapat bahwa individu adalah hedonistik, yaitu kesenangan dan bertahan hidup adalah tujuan utama hidup. Hedonisme dapat diartikan sebagai pencarian kenikmatan dan menghindari kesakitan. Bentuk hedonisme khusus yang membutuhkan perhatian adalah penghindaran terhadap kesakitan dan ketidaknyamanan. Dalam RationalEmotive Behavior Therapy (REBT), hal ini menghasilkan Low Frustation Tolerance (LFT). Individu yang memiliki LFT terlihat dari pernyataan-pernyataan verbalnya seperti : ini terlalu berat, saya pasti tidak mampu, ini menakutkan, saya tidak bisa menjalani ini (Walen et.al.,1992,p.8). Ellis mengidentifikasi 11 keyakinan irasional individu yang dapat mengakibatkan masalah, yaitu : 1. Dicintai dan disetujui oleh orang lain adalah sesuatu yang sangat esensial. 2. Untuk menjadi orang yang berharga, individu harus kompeten dan mencapai setiap usahanya.

44

3. Orang yang tidak bermoral, kriminal dan nakal merupakan pihak yang harus disalahkan. 4. Hal yang sangat buruk dan menyebalkan adalah bila segala sesuatu tidak terjadi seperti yang saya harapkan. 5. Ketidakbahagiaan merupakan hasil dari peristiwa eksternal yang tidak dapat dikontrol oleh diri sendiri. 6. Sesuatu yang membahayakan harus menjadi perhatian dan harus selalu diingat dalam pikiran. 7. Lari dari kesulitan dan tanggung jawab lebih mudah daripada menghadapinya. 8. Seseorang harus memiliki orang lain sebagai tempat bergantung dan harus memiliki seseorang yang lebih kuat yang dapat menjadi tempat bersandar. 9. Masa lalu menentukan tingkah laku saat ini dan tidak bisa diubah. 10. Individu bertanggung jawab atas masalah dan kesulitan yang dialami oleh orang lain. 11. Selalu ada jawaban yang benar untuk setiap masalah. Dengan demikian, kegagalan mendapatkan jawaban yang benar merupakan bencana (Gladding, 1992, pp.115-116). Ellis berpendapat bahwa secara natural berpikir irasional dan memiliki kecenderungan merusak diri sendiri (self-defeating behavior), oleh karena itu individu memerlukan bantuan untuk berpikir sebaliknya. Namun, Ellis juga mengatakan individu memiliki cinta dan menolong orang lain selama mereka tidak berpikir irasional. Untuk menjelaskannya dalam lingkaran berpikir irasional (the circle of irrational thinking). Berpikir irasional mengarah kepada kebencian terhadap diri (self-hate) yang mengarah pada tingkah laku yang merusak diri sendiri (self distructed behavior) kemudian individu akan membenci orang lain

45

sehingga pada akhirnya menyebabkan bertindak irasional kepada orang lain dan secara terus menerus mengikuti lingkaran tersebut (Thompson et.al.2004,p.207). Lingkaran berpikir irasional :

Doni terlibat dalam berpikir irasional

Doni membenci dirinya

Orang lain merespon secara irasional kepada Doni

Doni bertingkah laku yang merusak diri (self-defeating behavior)

Doni membenci orang lain

KONSEP DASAR Asumsi Dasar Ellis (1993) mengatakan beberapa asumsi dasar REBT yang dapat dikategorisasikan pada beberapa postulat, antara lain:

46

-

Pikiran, perasaan dan tingkah laku secara berkesinambungan saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain

-

Gangguan emosional disebabkan oleh faktor biologi dan lingkungan Manusia dipengaruhi oleh orang lain dan lingkungan sekitar dan individu juga secara sengaja mempengaruhi orang lain disekitarnya

-

Manusia menyakiti diri sendiri secara kognitif, emosional, dan tingkah laku. Individu sering berpikir yang menyakiti diri sendiri dan orang lain

-

Ketika hal yang tidak menyenangkan terjadi, individu cenderung menciptakan keyakinan yang irasional tentang kejadian tersebut

-

Keyakinan irasional menjadi penyebab gangguan kepribadian individu Sebagian besar manusia memiliki kecenderungan yang besar untuk membuat dan mempertahankan gangguan emosionalnya

-

Individu bertingkah laku menyakiti diri sendiri (self-defeating behavior)

Tiga hipotesis fundamental yang menjadi landasan pendekatan RationalEmotive Behavior Therapy (REBT) menurut Nelson-Jones (1995), yaitu : 1. Pikiran dan emosi yang saling berakitan 2. Pikiran dan emosi biasanya saling mempengaruhi satu sama lain, keduanya bekerja seperti lingkaran yang memiliki hubungan sebabakibat, dan pada poin tertentu, pikiran dan emosi menjadi hal yang sama 3. Pikiran dan emosi cenderung berperan dalam self-talk (perbincangan dalam diri individu yang kerap kali diucapkan oleh individu sehingga menjadi pikiran dan emosi). Sehingga pernyataan internal individu sangat berarti dalam menghasilkan dan memodifikasi emosi individu

Menurut Ellis, terdapat enam prinsip teori REBT, antara alain: 1. Pikiran adalah penentu proksimal yang paling penting terhadap emosi individu

47

2. Disfungsi berpikir adalah penentu utama stress emosi 3. Cara terbaik untuk mengatasi stress adalah mengubah cara berpikir (mind set) 4. Percaya atas berbagai faktor yaitu pengaruh genetik dan lingkungan yang menjadi penyebab pikiran yang irasional 5. Menekankan pada masa sekarang (present) daripada pengaruh masa lalu 6. Perubahan tidak terjadi dengan mudah (Walen et. al., 1992, p.15-16)

Proses Berpikir Tiga tingkatan berpikir yang dimiliki individu menurut pandangan pendekatan REBT, yaitu: 1. Berpikir tentang apa yang terjadi berdasarkan fakta dan bukti-bukti (inferences) 2. Mengadakan penilaian terhadap fakta dan bukti (evaluation) 3. Keyakinan terhadap proses inferences dan evaluasi (core belief) (Froggatt, 2005, p.4) Ellis berpendapat bahwa yang menjadi sumber terjadinya masalahmasalahemosional adalah evaluative belief yang dikenal dalam istilah REBT adalah irrational belief yang dapat dikategorikan menjadi empat yaitu: 1. Demand (tuntutan) adalah tuntutan atau ekspektasi yang tidak realistis dan absolute terhadap kejadian atau individu yang dapat dikenali dengan kata-kata seperti, harus, sebaiknya, dan lebih baik 2. Awfulising adalah cara melebih-lebihkan konsekuensi negatif dari suatu situasi sampai pada level yang ekstrim, sehingga kejadian yang tidak menguntungkan menjadi kejadian yang sangat menyakitkan 3. Low frustation tolerance (LFT) adalah kelanjutan dari tuntutan untuk selalu berada dalam kondisi nyaman dan merefleksikan

ketidaktoleransian terhadap ketidaknyamanan

48

4. Global evaluations of human worth, yaitu menilai keberhargaan diri sendiri dan orang lain. Hal ini bermakna bahwa individu dapat diberi peringkat yang berimplikasi bahwa pada asumsi beberapa orang lebih buruk atau tidak berharga dari yang lain (Walen et. al., 1992, pp. 1718) Ellis membagi pikiran individu dalam tiga tingkatan, yaitu: 1. Pikiran dingin (cool), yaitu pikiran yang bersifat deskriptif dan mengandung sedikit emosi 2. Pikiran hangat (warm), yaitu pikiran yang mengarah pada satu preferensi atau keyakinan rasional, pikiran ini mengandung evaluasi yang mempengaruhi pembentukan perasaan 3. Pikiran panas (hot), yaitu pikiran yang mengadung unsur evaluasi yang tinggi dan penuh dengan perasaan

Tabel 6.1 contoh tiga tingkatan pikiran manusia
Pikiran yang dingin “Saya perhatikan bahwa ayah saya itu galak” Pikiran yang hangat “Saya tidak suka kegalakan ayah saya, saya harap dia tidak bertindak seperti itu” Pikiran yang panas “Saya benar-benar benci perbuatan ayah saya. Dia tidak boleh berbuat itu pada saya. Dia tidak berhak melakukan itu! Saya akan bunuh dia!”

Rasionalitas sebagai Filosofi Personal Individu memiliki personal aturan-aturan atau filosofi hidup yang dipengaruhi oleh pola asuh, ajaran agama, prinsip umum hidup atau opini yang dipegang teguh secara umum. Karena dipegang teguh secara dogmatik, prinsip ini dipaksakan secar kaku dapat menjadi masalah bagi individu yang menghambat pencapaian tujuan untuk kesenangan dan bertahan hidup. Prinsip-prinsip ini yang menjadi fokus untuk diubah (Walen et. al., 1992, p.13)

49

REBT membantu individu untuk mengembangkan filosofi hidup yang baru yang dapat membantu mengurangi stress dan meningkatkan kebahagiaan. Pandangan REBT bahwa individu dapat memilih untuk menyakiti diri sendiri dengan pikiran yang tidak logis dan tidak ilmiah atau mengembangkan kebahagiaan hidup dengan berpikir rasional berdasarkan bukti-bukti dan fakta. Tujuan-tujuan prinsip rasional adalah untuk meningkatkan keyakinan dan kebiasaan yang sesuai dengan prinsip untuk bertahan hidup, mencapai kepuasan dalam hidup, berhubungan dengan orang lain dengan cara yang positif, dan mencapai keterlibatan yang intim dengan beberapa orang Konselor membantu konseli untuk selalu ingat bahwa semua orang bisa salah dan terpeleset, mengurangi tuntutan untuk menjadi perfeksionis, mengembangkan penerimaan diri, dan penerimaan terhadap orang lain yang positif. Perubahan ini dilandasi oleh pikiran yang logis dan ilmiah yang menghasilkan perubahan yang mendalam pada filosofi hidup dan sikap individu (Walen et. al., 1992, p. 13-14) Teori ABC Teori ABC adalah teori tentang kepribadian individu dari sudut pandang pendekatan REBT, kemudian ditambahkan D dan E untuk mengakomodasi perubahan dan hasil yang diinginkan dari perubahan tersebut. Selanjutnya, ditambahkan G yang diletakkan diawal untuk memberikan konteks pada kepribadian individu:
G A (Goals) atau tujuan-tujuan yaitu tujuan fundamental (Activating events in a person‟s life) atau kejadian yang mengaktifkan mengakibatkan individu B C D E F (Beliefs) atau keyakinan baik rasional maupun irasioanl (Consequences) atau konsekuensi baik emosional maupun tingkah laku (Disputing irrational belief) atau melakukan dispute pikiran rasional (Effective new philosophyof life) atau mengembangkan filosofi hidup yang efektif (Futher action / new feeling) atau aksi yang dilakukan lebih lanjut dan perasaan baru yang dikembangkan atau

(Nelson-Jones, 1995, p.316)

50

Contoh episode emosional yang cenderung salah menginterpretasikan kejadian dan mengakibatkan salah
A1 Activating event – apa yang terjadi “Saya bertemu teman di jalan tetapi tidak menyapa saya” A2 Inferences about what happened “Dia mengacuhkan saya, dia membenci saya” B Belief about A “Saya tidak berharga sebagai teman, maka saya adalah orang yang tidak berharga (evalusai)” C Reaksi Emosi : depresi Tingkah laku : menghindari orang-orang (Froggatt, 2005, p.1)

Ellis menegaskan bahwa irrational thinking (berpikir rasional) menjadi masalah bagi individu karena: 1. Menghambat individu-individu dalam mencapai tujuan, menciptakan emosi yang ekstrim yang melibatkan stress dan menghambat mobilitas dan mengarahkan pada tingkah laku yang menyakiti diri sendiri 2. Menyalahkan kenyataan (salah menginterpretasikan kejadian yang terjadi atau tidak didukung oleh bukti yang kuat) 3. Mengandung cara yang tidak logis dalam mengevaluasi diri, orang lain dan lingkungan sekitar (Froggatt, 2005, p.1) Pendekatan REBT berpendapat bahwa individu mengalahkan atau mengganggu dirinya dengan dua cara, yaitu dengan memegang teguh keyakinan irasional tentang self (diri) yang disebut dengan ego disturbance dan dengan memegang teguh keyakinan irasioanl tentang emosi dan kenyamanan fisik, hal ini disebut dengan discomfort disturbance (Froggatt, 2005, p.2) Ego disturbance mempresentasikan kecemasan dan kemarahan terhadap citra diri (self-image) seperti “saya harus…”, melakukan yang terbaik atau tidak boleh gagal. Kemudian diikuti oleh evaluasi diri yang negatif , ketika saya gagal atau tidak mendapat pengakuan dari orang lain, berarti saya adalah orang yang

51

tidak baik. Hal ini mengakibatkan kecemasan, tekanan emosional yang diakibatkan dari persepsi negatif yang mengarah pada berbagai masalah seperti menghindari situasi terjadinya kegagalan tersebut, ketidak setujuan, ketakutan untuk mengemukakan pendapat (Froggatt, 2005, p.2) Sedangkan discomfort disturbance dihasilkan dari tuntutan atas orang lain seperti: “orang lain harus memperlakukan saya dengan baik, atau tuntutan atas lingkungan sekitar seperti situasi dimana saya tinggal harus seperti yang saya harapkan “ (Froggatt, 2005, p.2). Discomfort disturbance terdiri dari dua tipe yaitu: 1. Low frustration-tolerance (LFT) Hal ini dihasilkan dari tuntutan terhadap lingkungan yang tidak terpenuhi, diikuti oleh kejadian buruk. Seperti : “lingkungan harus seperti yang saya inginkan, atau saya tidak bisa bertahan bila lingkungan sekitar tidak seperti yang saya inginkan” 2. Low discomfort-tolerance (LDT) Hal ini timbul dari tuntutan individu bahwa ia tidak boleh memiliki pengalaman yang tidak nyaman secara emosi dan fisik. Seperti keyakinan sebagai berikut: “saya harus dapat berbahagia setiap saat. Hal ini mengakibatkan ketidaknyamanan individu dan tidak memiliki menghindari toleransi dari terhadap yang

cenderung

situasi

membuatnya tidak nyaman.“ (Froggatt, 2005, p.3) TUJUAN KONSELING        Memiliki minat diri (self interest) Memiliki minat social (social interest) Memiliki pengarahan diri (self direction) Toleransi (tolerance) Fleksibel (flexibility) Memiliki penerimaan (acceptance) Dapat menerima ketidakpastian (acceptance of uncertainty)

52

    

Dapat menerima diri sendiri (self acceptance) Dapat mengambil resiko (risk taking) Memiliki harapan yang realistis (realistic expectation) Memiliki toleransi terhadap frustasi yang tinggi ( high frustration tolerance). Memiliki tanggung jawab pribadi (self responbility)

PERAN DAN FUNGSI KONSELOR Peran dan fungsi konselor dalam pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT): a. Aktif-direktif : mengambil peran lebih banyak untuk memberikan

penjelasan terutama pada awal konseling. b. Mengkonfirmasi pikiran irasional konseli secara lansung. c. Menggunakan berbagai teknik untuk menstimulus konseli untuk berfikir dan mendidik kembali diri konseli sendiri. d. Secara terus-menerus “menyerang” pemikiran irasional konseli. e. Mengajak konseli untuk mengatasi masalahnya dengan kekuatan berfikir bukan emosi. f. Bersifat didaktif (George & cristiani). Konselor diharapkan memiliki kemampuan bahasa yang baik karena

dalam REBT di dominasi oleh teknik-teknik yang menggunakan pengolahan verbal. Selain itu konselor harus mempunyai keterampilan untuk membangun hubungan konseling yang diantaranya adalah : 1. Empati 2. Menghargai 3. Ketulusan 4. Kekongkritan 5. Konfrontasi

53

TAHAP-TAHAP KONSELING Terdapat beberapa tahap konseling dalam REBT antara konselor dan konseli :  TAHAP 1 Proses dimana konseli diperihatkan dan disadarkan bahwa mereka tidak logis dan irasional. Proses ini membantu konseli memahami bagaimana dan mengapa dapat menjadi irasional. Pada tahap ini konseli diajarkan bahwa mereka memiliki potensi untuk mengubah hal tersebut.  TAHAP 2 Tahap ini konseli dibantu untuk yakin bahwa pemikiran dan perasaan negative tersebut dapat ditantang dan diubah. Tahap ini konseli mengeksplorasi ide-ide untuk menentukan tujuan rasional. Konselor membantu konseli mengembangkan pikiran rasionalnya dengan cara mendebat pikiran irasional konseli dengan menggunakan pertanyaan untuk menantang validitas ide tentang diri, orang lain, dan lingkungan sekitar dengan menggunakan teknik-teknik REBT.  TAHAP 3 Dalam tahap akhir ini konseli dibantu untuk secara terus menerus mengembangkan pikiran rasional serta mengembangkan filosofi hidup yang rasional sehingga konseli tidak terjebak pada masalah yang disebabkan oleh pemikiran irasional. Tahap konseling ini merupakan proses natural dan berkelanjutan. Dalam tahap-tahap tersebut terdapat dua tugas utama konselor yaitu : 1. Interpersonal : membangun hubungan terapeutik, membangun rapport, dan suasana yang kolaboratif. 2. Organizational : bersosialisasi dengan konseli untuk memulai terapi, mengadakan proses asesmen awal, menyetujui wilayah masalah dan membangun tujuan konseling. Terdapat beberapa langkah intervensi konseling dengan pendekatan REBT : 1. Bekerja sama dengan konseli ( engage with client )

54

  

Membangun hubungan dengan konseli yang dapat dicapai dengan mengembangkan empati, kehangatan dan penghargaan. Memperhatikan tentang “secondary disturbance” atau hal yang mengganggu konseli yang mendorong konseli mencari bantuan. Memperlihatkan kepada konseli tentang kemungkinan perubahan yang bisa dicapai dan kemampuan konselor untuk membantu konseli mencapai tujuan konseling.

2. Melakukan assessment terhadap masalah, orang dan situasi (assess the problem, person, and situation).    Mulai mengidentifikasi pandangan-pandangan tentang apa yang menurut konseli salah. Perhatikan bagaimana perasaan konseli mengalami masalah ini. Laksanakan asesmen secara umum dengan mengidentifikasi latar belakang personal dan sosial, kedalaman masalah, hubungan dengan kepribadian individu, dan sebab-sebab non psikis seperti : kondisi fisik, lingkungan, dan penyalahgunaan obat. 3. Mempersiapkan konseli untuk terapi (prepare the client for therapy)   Mengklarifikasi dan menyetujui tujuan konseling dan motivasi konseli untuk berubah. Mendiskusikan pendekatan yang akan digunakan dan implikasinya.

4. Mengimplementasikan program penanganan (implement the treatment program).  Menganilisis episode spesifik di mana inti masalah itu terjadi, menemukan keyakinan-keyakinan yang terlibat dalam masalah, dan mengembangkan homework.   Mengembangkan tugas-tugas tingkah laku untuk mengurangi

ketakutan atau memodifikasi tingkah laku. Menggunakan teknik-teknik tambahan yang diperlukan.

5. Mengevaluasi kemajuan (evaluate progress).

55

Pada menjelang akhir intervensi konselor memastikan apakah konseli mencapai perubahan yang significant dalam berfikir atau perubahan tersebut disebabkan oleh faktor lain. 6. Mempersiapkan konseli untuk mengakhiri konseling (prepare the client for termination). Mempersiapkan konseli untuk mengakhiri proses konseling dengan menguatkan kembali hasil yang sudah dicapai. Selain itu, mempersiapkan konseli untuk dapat menerima adanya kemungkinan kemunduran dari hasil yang sudah dicapai atau kemungkinan mengalami masalah di kemudian hari. TEKNIK-TEKNIK KONSELING Tujuh Faktor yang dapat digunakan untuk mendeteksi pikiran irasional: 1.Lihat pada generalisasi yang berlebihan (overgeneralisasion),seperti :‟saya mendapatkan nilai 50, pada mata pelajaran matematika, maka saya memang tidak bisa metematika” 2. Lihat pada distorsi (distortion), kadang-kadang mengacu pada pikiran yang beranggapan tentang keseluruhan atau tidak sama sekali (all or nothing thinking), berpikir hitam-putih, semua baik atau semua buruk, seperti “saya tidak dapat nilai A pada semua mata kuliah, lihat saja KRS saya, saya memang bukan mahasiswa yang baik” 3.Lihat pada hal-hal yang dihapus (deletion), yaitu tendensi untuk berfokus pada kejadian negative dan menghapus kejadian positif, seperti : “saya kalah dua kali,dan menang satu kali, pada permainan berikutnya, saya pati kalah. 4. Lihat pada hal-hal yang dianggap tragedy atau bencana

(catastrophising) yaitu kesalahan yang dilebih-lebihkan dan kebrhasilan yang dikecilkanseperti :”Saya Cuma beruntung dapat nilai A” 5.Lihat pada penggunaan kata-kata absolute seeprti harus , selalu, tidak boleh, tidak pernah “saya tidak boleh berbuat kesalahan”

56

6.Lihat pada pernyataan yang menunjukan ketidaksetujuan terhadap sesuatu atau seseorang yang konseli piker mereka tidak dapat menahannya, seperti “dia seharusnya dihukum dan tidak diperbolehkan bebas begitu saja”. 7.Lihat pada ramalan (Fortune Telling) atau prediksi masa depan seperti “saya hanya tahu bahwa teman saya tidak senang pada pesta saya” TEKNIK KOGNITIF Dispute kognitif (cognitive disputation) Adalah usaha untuk mengubah keyakinan irasional konseli melalui Philosophical persuation, didactic Presentation, Socratic Dialogue, vicarious experience, dan berbagai ekspresi verbal lainnya. Teknik untuk melakukan

Dispute kognitif (cognitive disputation) adalah dengan bertanya : *Pertanyaan-pertanyaan untuk melakukan dispute logis : Apa benar begitu ? Apakah itu logis ? Mengapa tidak ? Mengapa harus begitu ? *Pertanyaan untuk Reality testing : Apa buktinya ? Apa yang terjadi kalau ? *Pertanyaan untuk Pragmartic Disputation Apakah ini berharga untuk dipertahankan ? Apa yang akan terjadi bila kamu berpikir demikian ?

57

Analisis Rasional (rational Analysis) Teknik untuk mengajarkan konseli bagaimana membuka dan mendebat keyakinan irasional. Dispute Standard ganda (double-standard dispute) Mengajarkan konseli melihat dirinya memiliki standar ganda mengenai dirinya, orang lain dan lingkungan sekitar. Skala Katastropi (catastrophe scale) Membuat proporsi tentang peristiwa –peristiwa yang menyakitkan .Misalanya : dari 100% buatlah presentase peristiwa yang menyakitkan, urutkan dari yang paling tinggi presentasenya sampai yang palin rendah. Devil’s advocate atau rational role reversal Yaitu meminta konseli untuk memainkan peran yang memiliki keyakinan rasional sementara konselor memainkan peran menjadi konseli yang

irasional.Konseli melawan keyakinan irasional rasional yang diverbalisasikan. Membuat frame ulang (reframing) Mengevaluasi kembali hal-hal yang

konselor dengan keyakinan

mengecewakan

dan

tidak

menyenangkan dengan mengubh frame berfikir konseli. TEKNIK IMAGERI Dispute Imajinasi (Imaginal disputation) Strategi Imaginal disputation melibatkan penggunaan imageri.setelah melakukan dispute secara verbal ,Konselor meminta konseli membayangkan dirinya kembali pada situasi yang menjadi masalah dan melihat apakah emosinya berubah,.Bila ya, maka konselor meminta konseli untuk mengatakan [ada dirinya sebagai individu yang berpikir lebih rasional dan mengulang kembali proses diatas.bilabelum maka keyakinan irasionalnya masih ada.

58

Kartu control emosional (the emosional control card-ECC ) Adalah alat yang membantu konseli menguatkan dan memperluas praktik Rational-Emotive Threpahy(REBT).ECC biasa digunakan untuk memperkuat kritik diri (self-

proses belajar , secara lebih kusus persaan marah (anger), critiscm), kecemasan (anxiety),dan depresi. Proyeksi waktu (Time Projection) Meminta konseli untuk memvisualisasikan

kejadian

yang

tidak

menyenagkan ketika kejadian itu terjadi, setelah itu membayangkan seminggu kemudian, sebulan kemudian,enam bulan kemudian, setahun kemudian dan seterusnya. Teknik melebih-lebihkan (the blow-up technique) Adalah variasi dari teknik “worst Case imaginery). Memnita konseli membayangkan kejadian yang menyakitkan atau kejadian yang menakutkan , lalu melebih-lebihkan pada taraf yangtinggi, hal ini bertujuan agar konseli dapat mengontrol ketakutannya. TEKNIK BEHAVIORAL Dispute tingkah laku (behavioral disputation) Memberi kesempatan kepada konseli untuk mengalami kejadian yang menyebabkannya berpikir irasional dan melawan keyakinannya tersebut. Bermain peran (role Playing) Dengan bantuan konselor, konseli memainkan role play tingkah laku baru yang sesuai dengan keyakinan irasional Peran rasional terbalik (rasional role reversal) Meminta konseli memainkan peran yang memiliki keyakinan rasional sementara konselor memainkan peran menjadi konseli yang irasional.

59

Pengalaman langsung(exposure) Konseli secara sengaja memasuki situasi yang menakutkan, proses ini dilakukan melalui perencanaa dan penerapan keterampilan mengatasi masalah. Menyerang rasa malu (shame attacking) Melakukan konfrontasi terhadap ketakutan untuk malu dengan secara sengaja bertingkah laku yang memalukan dan mengundang ketidaksetujuan lingkungan sekitar.konseli diajarkan mengelola dan mengantisipasi persaan malunya. Pekerjaan rumah (homework assignments) Bergunaatau dapat digunakan sebagai self-help work,terdapat beberapa aktifitas yang dapat dilakukan dalam teknik ini yaitu :membaca, mendengarkan , menulis,dll. TEKNIK KOGNITIF TEKNIK IMAGERI TEKNIK BEHAVIORAL Dispute kognitif (cognitive disputation) Dispute Imajinasi (Imaginal disputation) Dispute tingkah laku (behavioral disputation)

Analisis Rasional (rational Analysis)

Kartu control emosional (the emosional control card-ECC )

Bermain peran (role Playing)

Dispute Standard ganda (double-standard dispute)

Proyeksi waktu (Time Projection)

Peran rasional terbalik (rasional role reversal)

Skala Katastropi (catastrophe scale)

Teknik melebih-lebihkan (the blow-up technique)

Pengalaman langsung(exposure)

60

Devil’s advocate atau rational role reversal

Menyerang rasa malu (shame attacking)

Membuat frame ulang (reframing)

Pekerjaan rumah (homework assignments)

61

3. PENDEKATAN REALITAS (REALITY THERAPHY) PENDAHULUAN Pendekatan realitas dikembangkan oleh William Glasser, seorang psikolog dari California. Dalam pendekatan ini, konselor bertindak aktif, direktif, dan didaktif. Dalam

konteks ini, konselor berperan sebagai guru dan sebagai model bagi konseli. Disamping itu, konselor juga membuat kontrak dengan konseli untuk pengubah perilakunya. Ciri yang sangat khas dari pendekatan ini adalah tidak terpaku pada kejadian di masa lalu, tetapi lebih mendorong konseli untuk menghadapi realitas. Pendekatan ini juga tidak memberi perhatian pada motif-motif bawah sadar sebagaimana pandangan kaum psikoanalis. Akan tetapi, lebih menekankan pada pengubahan tngkah laku yang lebih bertanggungjawab dengan merencanakan dan melakukan tindakan-tindakan tersebut. SEJARAH William Glasser merupakan lulusan dari the Case Institute of Technology sebagai Insyinyur Kimia pada tahun 1944 di usia 19 tahun, kemudian ia mengambil master di bidang Psikologi Klinis pada usia 23 tahun di Universitas yang sama. Pada tahun 1956 Glasser menjadi kepala bagian psikiatri di the Ventura School of Girls yang merupakan intituisi untuk menangani kenakalan remaja perempuan. Pada saat inilah Glasser mengembangkan konsep pendekatan realitas. Glasser menggunakan istilah reality therapy pada April 1964 pada manuskrip yang berjudul Reality Therapy; A Realistic Approach ti the Young Offender. PANDANGAN TENTANG MANUSIA Glasser percaya bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan psikologis yang secara konstan (terus-menerus) hadir sepanjang rentang kehidupannya dan harus dipenuhi. Ketika seseorang mengalami masalah hal tersebut disebabkan oleh

62

satu faktor, yaitu terhambatnya seseorang dalam memenuhi kebutuhan psikologisnya. Keterhambatan tersebut pada dasarnya karena penyangkalan terhadap realita, yaitu kecenderungan seseorang untuk menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan. Cinta (Belonging/love) Salah satu kebutuhan biologis manusia adalah kebutuhannya untuk merasa memiliki dan terlibat atau melibatkan diri dengan orang lain. Kebutuhan ini disebut Glasser sebagai identity society, yang menekankan pentingnya hubungan personal. Beberapa aktivitas yang menunjukan kebutuhan ini adalah;

persahabatan, acara perkumpulan tertentu, dan keterlibatan dalam organisasi kemahasiswaan. Oleh Glasser dibagi dalam tiga bentuk; sociall belonging, work belonging, dan family belonging. Kekuasaan (Power) Kebutuhan akan kekuasaan (power) meliputi kebutuhan untuk berprestasi, merasa berharga, dan mendapatkan pengakuan. Kebutuhan ini biasanya diekspresikan melalui kompetisi dengan orang-orang disekitar kita, memimpin, mengorganisir, menyelesaikan pekerjaan sebaik mungkin, menjadi tempat bertanya atau meminta pendapat bagi orang lain, melontarkan ide atau gagasan dan sebagainya. Kesenangan ( Fun ) Merupakan kebutuhan untuk merasa senang, bahagia. Pada anak-anak, terlihat dalam aktivitas bermain. Kebutuhan ini muncul sejak dini, kemudian terus berkembang hingga dewasa. Misalnya, berlibur untuk menghilangkan kepenatan, bersantai, melucu, humor, dll Kebebasan ( Freedom ) Kebebasan (freedom) merupakan kebutuhan untuk merasakan kebebasan atau kemerdekaan dan tidak bergantung pada orang lain, misalnya membuat

63

pilihan (aktif pada organisasi kemahasiswaan), memutuskan akan melanjutkan studi pada jurusan apa, bergerak dan berpindah dari suatu tempat ke tempat lain. Ketika seseorang berhasil memenuhi kebutuhannya maka orang tersebut mencapai identitas sukses, terkait dengan konsep perkembangan kepribadian yang sehat itandai dengan berfungsinya individu dalam memenuhikebutuhan

psikologisnya secara tepat.(Hnasen, Warner, an Smith 1980, p. 224)dalam proses pembentukan individu mengembangkan keterlibatan secara emosional dengan orang lain. Orang lain memberikan perhatian dan individu berpikir bahwa ia memiliki arti. Proses berlangsung sejak bayi. Ibu membuat anakbelajar merasakan keterlibatan orang lain, kedekatan, kehangatan psikologis dan ikatan emosional. Kemudian anak belajar bagaimana menerima dan memberi kasih sayang, dan belajar bahwa dirinya memilik arti bagi dirinya dan orang lain. Bila sejak kecil anak tidak merasakan menerima dan memberi kasih sayang ia akan mengalami kesulitan dalam mencintai, memberi kasih sayang, atau bagaimana ia berarti bagi dirinya dan orang lain. Belajar bagaimana bertingkah laku yang bertangguang jawab merupakan hal yang sangat penting unuk mencapai identitas sukses. Anak akan memperolehnya dengan terlibat pada berbagai aktifitas yang memenuhi kebutuhannya melalui interaksi dengan orangtua yang bertanggungjawab untuk menunjukkan keterlibatan alam pengasuhan anaknya dengan menjai model, melatih keisiplinan, mencintai an sebagainya.Dapat dirumuskan, pandangan glasser tentang manusia adalah : 1. Setiap individu bertanggung jawab terhadap kehidupannya 2. Tingkah laku seseorang merupakan upaya mengontrol lingkungan untuk memenuhi kebutuhannya. 3. Individu ditantang untuk menghadapi realitatanpa mempedulikan kejadian dimasa lalu, serta tidak memberi perhatian pada sikap dan motivasi di bawah sadar. 4. Setiap orang memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu pada masa kini

64

KOSEP DASAR Ketika seseorang dapat memenuhi apa yang diinginkan, kebutuhan tersebut terpuaskan.tetapi, jika apa yang diperoleh tidak sesuai dengan keinginan,makaorang akan frustasi, dan pada akhirnya akan terus memunculkan perilaku baru sampai keinginannya terpuaskan. Artinya, ketika timbul perbdaan antara apa yang diinginkan dengan apa ygang diperoleh, membuat individu terus memunculkan perilaku-perilaku yang spesifik. Jadi, perilaku yang dimunculkan adalah bertujuan, yaitu dibentuk untuk mengatasi hambatan antara apa yang diinginkan dengan apa yang diperoleh, atau muncul karena dipilih oleh individu. Teori Kontrol Penerimaan terhadap realita, menurut Glasser harus tercermin dalam perilaku total (total behavioral) yang mengandung empat komponen, yaitu: berbuat (doing), berpikir (thingking), merasakan(feeling) dan menunjukan responrespon fisiologis (physiology). Glasser dalam Corey menjelaskan bahwa secara langsung mengubah cara kita merasakan terpisah dari apa yang kita dan pikirkan, merupakan hal yang sangat sulit dilakukan. Ketika seseorang berhasil memenuhi kebutuhannya, menurut Glasser orang tersebut mancapai indentitas sukses. Konsep 3R Responsibility (tanggungjawab) Kemampuan individu untuk memenuhi kebutuhan tanpa harus merugikan orang lain. Reality (kenyataan) Kenyataan yang akan menjadi tantangan bagi individu untuk memenuhi kebutuhannya. Setiap individu harus memahami bahwa ada dunia nyata, dimana mereka harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam rangka mengatasi

65

masalahnya. Realita yang dimaksud adalah sesuatu yang tersusundari kenyataan yang ada dan apa adanya. Right (kebenaran) Merupakan ukuran atau norma-norma yang diterima secara umum, sehingga tingkah laku dapat diperbandingkan. Individu yang melakukan hal ini mampu mengevaluasi diri sendiri bila melakukan sesuatu melalui perbandingan tersebut dan ia merasa nyaman bila mampu bertingkah laku dalam tata cara yang diterima secara umum. PROSES KONSELING Menurut Glasser, hal-hal yang membawa perubahan sikap dari penolakan ke penerimaan realitas yang terjadi selama proses konseling adalah (Corey, 1991:553-536):    Konseli dapat mengeksplorasi keinginan, kebutuhan, dan apa yang dipersepsiakn tentang kondisi yang dihadapinya Konseli focus pada perilaku sekarang tanpa terpaku pada permasalahan masa lalu Konseli mau mengevaluasi perilakunya, merupakan kondisi dimana konseli membuat penilaian tentang apa yang telah ia lakukan terhadap dirinya berdasarkan sistem nilai yang berlaku di masyarakat  Konseli mulai menetapkan perubahan yang dikehendakinya dan komitmen terhadap apa yang telah direncanakan TAHAP-TAHAP KONSELING Thompson, et.al. (2004: 115-120) mengemukakan delapan tahap dalam konseling realitas Tahap 1: Konselor Menunjukkan Keterlibatan dengan Konseli (Be Friend) Pada taahp ini konselor mengawali pertemuan dengan bersikap otentik, hangat, dan menaruh perhatian pada hubungan yang sedang dibangun. Konselor

66

harus dapat melibatkan diri kepada konseli dengan memperlihatkan sikap hangat dan ramah. Hubungan yang terbangun antara konselor dengan konseli sangat penting sebab konseli akan terbuka dan bersedia menjalani proses konseling jika dia merasa bahwa konselornya terlibat, bersahabat, dan dapat dipercaya. Menunjukkan keterlibatan dengan konseli dapat melalui perilaku attending. Perilaku ini tampak dalam kontak mata (menatap konseli), ekspresi wajah (menunjukkan minatnya tanpa dibuat-buat), duduk dengan sikap terbuka, melakukan respon refleksi, dll. Konselor harus menunjukkan sikap antusias dan berteksd membantu konseli. Konselor harus bersikap genuine. Konselor juga tidak menghakimi konseli atau tidak memberi penilaian terhadap apa yang telah dilakukan konseli. Tahap 2: Fokus pada Perilaku Sekarang Tahap kedua merupakan eksplorasi yang ia diri bagi konseli. Konseli

mengungkapkan

ketidaknyamanan

rasakan

dalam

menghadapi

permasalhannya. Lalu konselor meminta konseli mendeskripsikan hal-hal apa saja yang telah dilakukan dalam menghadapi kondisi tersebut. Tahapan ini meliputi:   Ekplorasi “picture album” (keinginan, kebutuhan, dan persepsi Menanyakan keinginan konseli Konselor : “saya akan membantu anda jika anda bersedia mendiskusikan apa yang sedang alami.” Konseli : “ saya baik-baik saja kok.” anda sampaikan dengan kedatangan anda ke sini.” Konseli : “sudah satu tahun belakangan saya mengenal putaw dan merasa tenang setelah mengkonsumsinya.” Konselor : “apa yang anda inginkan dengan mengkonsumsi putaw?” Konseli  : “kondisi keluarga membuat saya tertekan dan saya memperoleh ketenangan dengan mengkonsumsi putaw.” Menanyakan apa yang benar-benar diinginkan konseli Konselor : “saya juga berharap seperti itu, tapi mungkin ada yang ingin

67

Konselor : “ jadi, anda menginginkan ketenangan? Ketenangan yang bagaimana yang anda inginkan?” Konseli : “saya pusing setiap hari mendengar pertengkaran orangtua saya.” Konselor : “kamu ingin orangtuamu tidak selalu bertengkar?” Konseli  :” ya…” Konselor :”apa lagi yang benar-benar kamu inginkan?” Menanyakan apa yang terpikir oleh konseli tentang yang diinginkan orang lain dari dirinya dan menanyakan bagaimana konseli melihat hal tersebut Konselor : “apa yang diinginkan orangtua dari anda?” Konseli :”mereka ingin saya menjadi anak yang penurut, padahal saya begini karena mereka Cuma sibuk bertengkar, tidak pernah memperhatikan saya…” Pada tahapan kedua ini konselor juga perlu mengatakan kepada konseli apa yang dapat dilakukan konselor, yang diinginkan konselor dan konseli, dan bagaimana konselor melihat situasi tersebut, kemudian membuat komitmen untuk konseling.

Tahap 3: Mengeksplorasi Total Behavior Konseli Konselor menanyakan secara spesifik apa yang dilakukan konseli; cara pandang dalam konseling realita, akar permasalahan konseli bersumber pada perilakunya (doing), bukan pada perasaannya. Misal, konseli mengungkapkan setiap kali menghadapi ujian ia mengalami kecemasan yang luar biasa. Dalam pandangan konseling realita, yang harus diatasi bukan kecemasan konseli, tetapi hal-hal apa saja yang telah dilakukannya untuk menghadapi ujian.

Tahap 4: Konseli Menilai Diri Sendiri atau Melakukan Evaluasi Konselor menanyakan kepada konseli apakah pilihan berikutnya didasari oleh keyakinan bahwa hal itu baik baginya. Fungsi konselor tidak untuk menilai besar atau salah perilaku konseli, tetapi membimbing konseli untuk menilai perilakunya saat ini. Beri kesempatan kepada konseli untuk mengevaluasi,apakah ia cukup terbantu dengan pilihannya tersebut.

68

Pada tahapan ini, respon-respon konselor di antaranya menanyakan apakah yang dilakukan konseli dapat membantunya keluar dari permasalahan atau sebaliknya. Konselor menanyakan kepada konseli apakah pilihan perilakunya didasari oleh keyakinan bahwa hal tersebut baik baginya. Fungsi konselor tidak untuk menilai benar atau salah perilaku konseli, tetapi membimbing konseli untuk menilai perilakunya saat ini. Beri kesempatan kepada konseli untuk

mengevaluasinya, apakah ia cukup terbantu dengan pilihannya tersebut. Kemudian bertanya kepada konseli apakah pilihan perilakunya dapat memenuhi apa yang menjadi kebutuhan konseli saat ini, menanyakan apakah konseli akan tetap pada pilihannya, apakah hal tersebut meruapakan perilaku yang dapat diterima, apakah realistis, apakah benar-benar dapat mengatasi masalahnya, apakah keinginan konseli realistis atau dapat terjadi/dicapai, bagaimana konseli memandang pilihan perilakunya, sehingga konseli dapat menilai apakah hal itu cukup membantunya, dan menanyakan komitmen konseli untuk mengikuti proses konseling.

Tahap 5: Merencanakan Tindakan yang Bertanggung Jawab Tahap dimana konseli mulai menyadari bahwa perilakunya tidak menyelesaikan masalah, dan tidak cukup menolong keadaan dirinya, dilanjutkan dengan membuat perencanaan tindakan yang lebih bertanggung jawab. Rencana yang disusun sifatnya spesisfik dan konkret. Hal-hal yang dilakukan konseli untuk keluar dari permasalahan yang sedang dihadapi.

Tahap 6: Membuat Komitmen Konselor mendorong konseli untuk merealisasikan rencana yang telah disusunnya bersama konselor sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan.

Tahap 7: Tidak Menerima Permintaan Maaf atau Alasan Konseli Konseli akan bertemu kembali dengan konselor pada batas waktu yang telah disepakati bersama. Pada tahapan ini konselor menanyakan perkembangan perubahan perilaku konseli. Apabila konseli tidak atau belum berhasil melakukan apa yang telah direncanakannya, permintaan maaf konseli atas kegagalannya tidak

69

untuk dipenuhi konselor. Sebaliknya, konselor mengajak konseli untuk melihat kembali rencana tersebut dan mengevaluasinya mengapa konseli tidak berhasil. Konselor selanjutnya membantu konseli merencanakan kembali hal-hal yang belum berhasil ia lakukan. Pada tahapan ini sebaiknya konselor menghindari pertanyaan dengan kata “ mengapa” sebab kecenderungannya konseli akan bersikap depensif dan mencari-cari alasan. Kondisi: pada waktu yang telah disepakati (dua minggu setelah sesi sebelumnya), konseli datang menemui konselor. Dalam proses konseling ia bercerita bahwa dalam waktu dua minggu ini ia tetap cemas ketika jam pelajaran matematika karena tidak dapat menjawab soal-soal latihan yang diberikan guru. Contoh respon yang salah Konseli : “ saya tetap merasa cemas saat pelajaran matematika, : “menagapa kamu merasa sulit?” : “saya tidak pernah sempat untuk belajar karena PR saya banyak pelajarannya sulit..” Konselor Konseli bu..” Contoh respons yang benar Konseli sulit..” Konselor : “ kamu bisa menceritakan kepada saya hal-hal yang menghambat kamu tetap merasa sulit?”. : “saya tetap merasa cemas saat pelajaran matematika, pelajarannya

Pada tahapan ini, konselor juga tidak memberikan hukuman, mengkritik, dan mendebat, tetapi hadapkan konseli pada konsekuensi. Menurut Glasser, memberikan hukuman akan mengurangi hukuman akan mengurangi keterlibatan konseli dan menyebabkan ia merasa lebih gagal. Saat konseli belum berhasil melakukan perubahan, hal itu merupakan pilihannya dan ia akan merasakan konsekuensi dari tindakannya. Konselor member pemahaman pada konseli, bahwa kondisinya akan membaik jik ia bersedia melakukan perbaikan itu. Selain itu, konselor jangan mudah menyerah. Proses konseling yang efektif antara lain ditunjukkan dengan seberapa besar kegigihan konselor untuk membantu konseli. Ada kalanya konseli mengharapkan konselor menyerah dengan bersikap pasif,

70

tidak kooperatif, marah, atau apatis, namun pada tapap ini konselor dapat menunjukkan bahwa ia benar-benar terlibat dan ingin membantu konseli mengatasi permasalahannya. Kegigihan konselor dapat memotivasi konseli untuk bersama-sama memecahkan masalah.

Tahap 8: Tindak Lanjut Merupakan tahap terakhir dalam konseling. Konselor dan konseli mengevaluasi perkembangan yang dicapai, konseling dapat berakhir atau dilanjutkan jika tujuan yang telah ditetapkan belum tercapai.

TUJUAN KONSELING Layanan konseling bertujuan membantu konseli mencapai identitas berhasil. Konseli yang mengetahui identitasnya, akan mengetahui langkahlangkah apa yang akan ia lakukan di masa yang akan datang dengan segala konsekuensinya. Bersama-sama konselor, konseli dihadapkan kembali pada kenyataan hidup, sehingga dapat memahami dan mampu menghadapi realitas.

PERAN DAN FUNGSI KONSELOR Fungsi konselor dalam pendekatan realitas adalah melibatkan diri dengan konseli, bersikap direktif dan didaktik, yaitu berperan seperti guru yang mengarahkan dan dapat saja mengkonfrontasi, sehingga konseli mampu menghadapi kenyataan. Di sini, terapis sebagai fasilitator yang membantu konseli agar bisa menilai tingkah lakunya sendiri secara realistis.

RINGKASAN  Menurut Glasser, setiap individu memiliki kebutuhan psikologis yang secara konstan hadir sepanjang rentang kehidupan dan harus dipenuhi, dan individu mengalami permasalahan psikologis karena ia terhambat dalam memenuhi kebutuhan psikologisnya.  Keterhambatan pemenuhan kebutuhan psikologis pada dasarnya karena peyangkalan terhadap realitas, yaitu kecendrungan seseorang untuk menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan.

71

Dalam pendekatan realistis, penerimaan terhadap realita dapat dicapai dengan melakukan sesuatu yang realistis (reality), bertanggung jawab (responsibility) dan benar (right) dikenal dengan istilah 3R.

Konsep 3R harus tercermin dalam keseluruhan perilaku konseli (total behavior), meliputi tindakan (doing), pikiran (thinking), perasaan (feeling), dan respon-respon fisiologisnya (physiology).

Perilaku total (total behavior) individu dianalogikan seperti berfungsinya kendaraan roda empat. Seperti halnya keempat roda mobil membawa arah mobil berjalan, demikian halnya keempat komponen dari total behavior tersebut menetapkan arah hidup individu.

Pandangan Glasser tentang manusia adalah setiap individu bertanggung jawab terhadap kehidupannya, tingkah laku seseorang merupakan upaya mengontrol lingkungan untuk mememuhi kebutuhannya, individu

ditantang untuk menghadapi realita tanpa memperdulikan kejadiankejadian di masa lalu, serta tidak member perhatian pada sikap dan motivasi dibawah sadar, dan setiap orang memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu pada masa kini.  Kebutuhan dasar manusia menurut Glasser meliputi kebutuhannya untuk merasa memiliki dan terlibat atau melibatkan diri dengan orang lain, kebutuhan akan power, kebutuhan untuk merasa senang, bahagia, dan kebutuhan untuk merasakan kebebasan/kemerdekaan dan tidak bergantung pada orang lain.  Perkembangan kepribadian yang sehat ditandai dengan berfungsinya individu dalam memenuhi kebutuhan psikologisnya scara tepat. Gasser menyebutnya dengan istilah : identitas berhasil” dan “identitas gagal”.  Konseling ini bertujuan membantu individu mencapai identitas berhasil, yaitu individu yang mengetahui langkah-langkah apa yanga akan ia lakukan di masa yang akan datang dengan segala konsekuensinya. Bersama-sama konselor, konseli dihadapkan kembali pada kenyataan hidup, sehingga dapat memahami dan mampu menghadapi realita.

72

Daftar Pustaka

Komalasari,Gantina,

Eka

Wahyuni,

&

Karsih.2011.Teori

dan

Teknik

Konseling.Jakarta Barat:PT Indeks

73

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful