Refleksi Kasus Bagian Penyakit Mata RSUD Saras Husada Purworejo

Nama / NIM : Amri Hasan F / 2007 031 0067 Perceptor I. Kasus Tn. US (42 thn) datang ke poliklinik mata RSUD Saras Husada Purworejo dengan keluhan penglihatan mata kanan kabur setelah terjepret karet ban pada saat bekerja. Pada pemeriksaan, didapatkan OD Visus Palpebra Conjunctiva Cornea COA Iris/Pupil Lensa TIO 5/60 N PCI (+) Ekskoriasi Microhifema RC(-) Ø 5 mm Jernih N OS 5/15 N Tenang Jernih Dalam RC(+) Ø 3 mm Jernih N : dr Evita Wulandari, Sp.M

Pasien didiagnosis dengan OD Mikrohifema e.c Trauma tumpul, setelah menolak anjuran rawat inap kemudian mendapat terapi rawat jalan, dengan saran istirahat total di rumah, serta menggunakan kaca mata ketika beraktifitas. Pengobatan yang diberikan berupa R/ Cendo Floxa R/ Cendo Lyters R/ Adona R/ Kalnex R/ Glaukon S. 2dd OD S. 2dd OD S. 2dd 30mg S. 2dd 250mg S. 2dd 250mg

II. Masalah yang Dikaji Adakah kemungkinan terjadinya peningkatan Tekanan Intra Okuler (TIO) pada pasien dengan hifema? III. Analisa Masalah Hifema didefinisikan sebagai adanya darah di bilik mata depan, darah bisa berasal dari arteri beserta cabang-cabangnya yang terdapat pada korpus siliaris, arteri koroidalis, atau pembuluh darah iris pada sekeliling pupil. Hifema dapat terjadi oleh karena beberapa hal, trauma merupakan penyebab tersering terjadinya hifema, baik berupa trauma tumpul ataupun trauma penetran. Penyebab selanjutnya adalah iatrogenic, yang sering mengikuti prosedur operatif, baik intraoperasi ataupun paska operasi. Penyakit sistemik metabolic, ataupun neoplasia kadangkala dapat berkembang menjadi hifema spontan. Secara klinis, hifema dapat dibagi menjadi mikrohifema yang dapat diidentifikasi dengan bantuan slit lamp. Hifema derajat satu, darah mengisi kurang dari sepertiga COA, paling terjadi mencakup 58% dari kasus hifema. Hifema derajat dua yang terjadi pada 20% kasus, perdarahan mengisi kurang dari setengah COA. Hifema derajat tiga darah mengisi antara setengah sampai hamper keseluruhan COA. Sedangkan derajat empat atau dikenal dengan blackball atau 8-ball hyphema darah telah mengisi keseluruhan COA. Hifema berapapun derajatnya, dapat diikuti dengan kenaikan tekanan intraokuler (TIO). Dari keseluruhan pasien dengan hifema, 32% di antaranya akan mengalami peningkatan tekanan intraokuler dalam perjalanan penyakitnya. Derajat keparahan hifema sering dihubungkan dengan peningkatan TIO yang lebih tinggi dan berlangsung lebih lama. Peningkatan tekanan intra okuler pada hifema oleh karena trauma dapat terjadi melalui berbagai mekanisme, yang pertama sebagai akibat dari penambahan volume bilik mata depan oleh sel-sel darah merah serta mediator kimiawi yang mengikuti jejas yang terjadi. Selanjutnya debris seluler yang terdapat pada COA akan menyumbat jalinan filtrasi yang mengakibatkan pengeluaran humor aquous terhambat. Selain itu, trauma yang terjadi dapat secara langsung menimbulkan kerusakan pada anyaman system filtrasi sehingga aliran humor aquous terganggu. Berbagai mekanisme ini pada akhirnya akan menyebabkan kenaikan tekanan intra okuler pada bola mata, perlu dicatat bahwa kenaikan TIO sering dapat ditemui sejak 24 jam pertama setelah trauma, sehingga follow up yang ketat seharusnya dilakukan pada keadaan demikian. Hifema tanpa komplikasi dapat teresolusi spontan setelah enam sampai dengan tujuh hari. Tatalaksana konservatif pada kasus hifema di antaranya menggunakan pelindung pada mata

yang sakit untuk mencegah terjadinya cedera lebih lanjut, bed rest disertai head elevation untuk membantu pengendapan debris agar tidak mengeruhkan media refraksi, serta membantu aliran humor aquous terjaga. Sejauh ini belum ada pengobatan yang disepakati secara luas dalam penanganan hifema, namun dianjurkan untuk tetap memberikan koagulansia untuk menghentikan dan mencegah perdarahan berulang, midriatikum seperti atropine 1% yang berfungsi mengistirahatkan iris dan mencegah blok pupil. Acetazolamid diberikan bila TIO meningkat, untuk mencegah glaucoma. Steroid sistemik atau topical dapat dipertimbangkan untuk mencegah uveitis, namun terdapat kontroversi mengenai kemungkinan terjadinya perdarahan sekunder. Lima persen dari kasus hifema membutuhkan tindakan pembedahan, operasi dilakukan apabila tekanan intra okuler menetap tinggi, > 35mmHg selama 7 hari, atau > 50mmHg selama 5 hari, untuk mencegah erjadinya kerusakan saraf optic. Atau apabila terjadi corneal staining yang sering terjadi apabila hifema berupa clot darh yang menghitam sehingga fungsi kornea sebagai media refraksi terganggu.

Referensi Andreoli, CM, Traumatic Hyphema : Epidemiology, anatomy, and Patophysiology. Update 2011 Ilmu Kesehatan Mata (2007), Bagian Ilmu Penyakit Mata Universitas Gadjah Mada Sheppard, John D, et al (2009), Hyphema, Medscape reference Walton W, et al. management of traumatic hyphema. Survey of Ophtalmology. 2002 Jul-Aug; 47 (4): 297-334

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful