P. 1
Hukum Menyanyi dan Musik dalam Fiqih Islam « Konsultasi Islam

Hukum Menyanyi dan Musik dalam Fiqih Islam « Konsultasi Islam

|Views: 153|Likes:
Published by Rizky M Faisal

More info:

Published by: Rizky M Faisal on Aug 31, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/13/2014

pdf

text

original

Sections

Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Hukum Menyanyi dan Musik dalam Fiqih Islam
Posted by Farid Ma'ruf pada 18 Januari 2007 Soal: Ustadz yang terhormat, saya mau nanya bagaimana hukumnya menanyi dan musik dalam pandangan Islam? Karena ada sebagian ulama yang mengharamkan, tapi ada sebagian ulama yang membolehkan. Mohon penjelasannya. Jawab: 1. Pendahuluan Keprihatinan yang dalam akan kita rasakan, kalau kita melihat ulah generasi muda Islam saat ini yang cenderung liar dalam bermain musik atau bernyanyi. Mungkin mereka berkiblat kepada penyanyi atau kelompok musik terkenal yang umumnya memang bermental bejat dan bobrok serta tidak berpegang dengan nilai-nilai Islam. Atau mungkin juga, mereka cukup sulit atau jarang mendapatkan teladan permainan musik dan nyanyian yang Islami di tengah suasana hedonistik yang mendominasi kehidupan saat ini. Walhasil, generasi muda Islam akhirnya cenderung membebek kepada para pemusik atau penyanyi sekuler yang sering mereka saksikan atau dengar di TV, radio, kaset, VCD, dan berbagai media lainnya. Tak dapat diingkari, kondisi memprihatinkan tersebut tercipta karena sistem kehidupan kita telah menganut paham sekularisme yang sangat bertentangan dengan Islam. Muhammad Quthb mengatakan sekularisme adalah iqamatul hayati ‘ala ghayri asasin minad dîn, artinya, mengatur kehidupan dengan tidak berasaskan agama (Islam). Atau dalam bahasa yang lebih tajam, sekularisme menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah memisahkan agama dari segala urusan kehidupan (fashl ad-din ‘an al-hayah) (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Nizhâm Al-Islâm, hal. 25). Dengan demikian, sekularisme sebenarnya tidak sekedar terwujud dalam pemisahan agama dari dunia politik, tetapi juga nampak dalam pemisahan agama dari urusan seni budaya, termasuk seni musik dan seni vokal (nyanyian). Kondisi ini harus segera diakhiri dengan jalan mendobrak dan merobohkan sistem kehidupan sekuler yang ada, lalu di atas reruntuhannya kita bangun sistem kehidupan Islam, yaitu sebuah sistem kehidupan yang berasaskan semata pada Aqidah Islamiyah sebagaimana dicontohkan
konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 1/54

Rasulullah Saw dan para shahabatnya. Inilah solusi fundamental dan radikal terhadap kondisi kehidupan yang sangat rusak dan buruk sekarang ini, sebagai akibat penerapan paham sekulerisme yang kufur. Namun demikian, di tengah perjuangan kita mewujudkan kembali masyarakat Islami tersebut, bukan berarti kita saat ini tidak berbuat apa-apa dan hanya berpangku tangan menunggu perubahan. Tidak demikian. Kita tetap wajib melakukan Islamisasi pada hal-hal yang dapat kita jangkau dan dapat kita lakukan, seperti halnya bermain musik dan bernyanyi sesuai ketentuan Islam dalam ruang lingkup kampus kita atau lingkungan kita. Tulisan ini bertujuan menjelaskan secara ringkas hukum musik dan menyanyi dalam pandangan fiqih Islam. Diharapkan, norma-norma Islami yang disampaikan dalam makalah ini tidak hanya menjadi bahan perdebatan akademis atau menjadi wacana semata, tetapi juga menjadi acuan dasar untuk merumuskan bagaimana bermusik dan bernyanyi dalam perspektif Islam. Selain itu, tentu saja perumusan tersebut diharapkan akan bermuara pada pengamalan konkret di lapangan, berupa perilaku Islami yang nyata dalam aktivitas bermain musik atau melantunkan lagu. Minimal di kampus atau lingkungan kita. 2. Definisi Seni Karena bernyanyi dan bermain musik adalah bagian dari seni, maka kita akan meninjau lebih dahulu definisi seni, sebagai proses pendahuluan untuk memahami fakta (fahmul waqi’) yang menjadi objek penerapan hukum. Dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan bahwa seni adalah penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, yang dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara), indera pendengar (seni lukis), atau dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari, drama) (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 13). Adapun seni musik (instrumental art) adalah seni yang berhubungan dengan alat-alat musik dan irama yang keluar dari alat-alat musik tersebut. Seni musik membahas antara lain cara memainkan instrumen musik, cara membuat not, dan studi bermacam-macam aliran musik. Seni musik ini bentuknya dapat berdiri sendiri sebagai seni instrumentalia (tanpa vokal) dan dapat juga disatukan dengan seni vokal. Seni instrumentalia, seperti telah dijelaskan di muka, adalah seni yang diperdengarkan melalui media alat-alat musik. Sedang seni vokal, adalah seni yang diungkapkan dengan cara melagukan syair melalui perantaraan oral (suara saja) tanpa iringan instrumen musik. Seni vokal tersebut dapat digabungkan dengan alat-alat musik tunggal (gitar, biola, piano, dan lainlain) atau dengan alat-alat musik majemuk seperti band, orkes simfoni, karawitan, dan sebagainya (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 13-14). Inilah sekilas penjelasan fakta seni musik dan seni vokal yang menjadi topik pembahasan. 3. Tinjauan Fiqih Islam Dalam pembahasan hukum musik dan menyanyi ini, penulis melakukan pemilahan hukum berdasarkan variasi dan kompleksitas fakta yang ada dalam aktivitas bermusik dan menyanyi. Menurut penulis, terlalu sederhana jika hukumnya hanya digolongkan menjadi dua, yaitu hukum memainkan musik dan hukum menyanyi. Sebab fakta yang ada, lebih beranekaragam dari dua aktivitas tersebut. Maka dari itu, paling tidak, ada 4 (empat) hukum fiqih yang berkaitan dengan aktivitas bermain musik dan menyanyi, yaitu:
konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 2/54

Pertama, hukum melantunkan nyanyian (ghina’). Kedua, hukum mendengarkan nyanyian. Ketiga, hukum memainkan alat musik. Keempat, hukum mendengarkan musik. Di samping pembahasan ini, akan disajikan juga tinjauan fiqih Islam berupa kaidah-kaidah atau patokan-patokan umum, agar aktivitas bermain musik dan bernyanyi tidak tercampur dengan kemaksiatan atau keharaman. Ada baiknya penulis sampaikan, bahwa hukum menyanyi dan bermain musik bukan hukum yang disepakati oleh para fuqaha, melainkan hukum yang termasuk dalam masalah khilafiyah. Jadi para ulama mempunyai pendapat berbeda-beda dalam masalah ini (Syaikh Abdurrahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqh ‘Ala al-Madzahib al-Arba’ah, hal. 41-42; Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, AlKhalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 96; Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 21-25; Toha Yahya Omar, Hukum Seni Musik, Seni Suara, Dan Seni Tari Dalam Islam, hal. 3). Karena itu, boleh jadi pendirian penulis dalam tulisan ini akan berbeda dengan pendapat sebagian fuqaha atau ulama lainnya. Pendapat-pendapat Islami seputar musik dan menyanyi yang berbeda dengan pendapat penulis, tetap penulis hormati. 3.1. Hukum Melantunkan Nyanyian (al-Ghina’ / at-Taghanni) Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum menyanyi (al-ghina’ / at-taghanni). Sebagian mengharamkan nyanyian dan sebagian lainnya menghalalkan. Masing-masing mempunyai dalilnya sendiri-sendiri. Berikut sebagian dalil masing-masing, seperti diuraikan oleh al-Ustadz Muhammad al-Marzuq Bin Abdul Mu’min al-Fallaty mengemukakan dalam kitabnya Saiful Qathi’i lin-Niza’ bab Fi Bayani Tahrimi al-Ghina’ wa Tahrim Istima’ Lahu (Musik. http://www.ashifnet.tripod.com),/ juga oleh Dr. Abdurrahman al-Baghdadi dalam bukunya Seni dalam Pandangan Islam (hal. 27-38), dan Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki dalam Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas (hal. 97-101): A. Dalil-Dalil Yang Mengharamkan Nyanyian: a. Berdasarkan firman Allah: “Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna (lahwal hadits) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu ejekan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.” (Qs. Luqmân [31]: 6) Beberapa ulama menafsirkan maksud lahwal hadits ini sebagai nyanyian, musik atau lagu, di antaranya al-Hasan, al-Qurthubi, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud. Ayat-ayat lain yang dijadikan dalil pengharaman nyanyian adalah Qs. an-Najm [53]: 59-61; dan Qs. al-Isrâ’ [17]: 64 (Abi Bakar Jabir al-Jazairi, Haramkah Musik Dan Lagu? (al-I’lam bi Anna al-‘Azif wa al-Ghina Haram), hal. 20-22).
konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 3/54

b. Hadits Abu Malik Al-Asy’ari ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya akan ada di kalangan umatku golongan yang menghalalkan zina, sutera, arak, dan alatalat musik (al-ma’azif).” [HR. Bukhari, Shahih Bukhari, hadits no. 5590]. c. Hadits Aisyah ra Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan nyanyian-nyanyian (qoynah) dan menjualbelikannya, mempelajarinya atau mendengar-kannya.” Kemudian beliau membacakan ayat di atas. [HR. Ibnu Abi Dunya dan Ibnu Mardawaih]. d. Hadits dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah Saw bersabda: “Nyanyian itu bisa menimbulkan nifaq, seperti air menumbuhkan kembang.” [HR. Ibnu Abi Dunya dan al-Baihaqi, hadits mauquf]. e. Hadits dari Abu Umamah ra, Rasulullah Saw bersabda: “Orang yang bernyanyi, maka Allah SWT mengutus padanya dua syaitan yang menunggangi dua pundaknya dan memukul-mukul tumitnya pada dada si penyanyi sampai dia berhenti.” [HR. Ibnu Abid Dunya.]. f. Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Auf ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya aku dilarang dari suara yang hina dan sesat, yaitu: 1. Alunan suara nyanyian yang melalaikan dengan iringan seruling syaitan (mazamirus syaithan). 2. Ratapan seorang ketika mendapat musibah sehingga menampar wajahnya sendiri dan merobek pakaiannya dengan ratapan syetan (rannatus syaithan).” B. Dalil-Dalil Yang Menghalalkan Nyanyian: a. Firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87). b. Hadits dari Nafi’ ra, katanya: Aku berjalan bersama Abdullah Bin Umar ra. Dalam perjalanan kami mendengar suara seruling, maka dia menutup telinganya dengan telunjuknya terus berjalan sambil berkata; “Hai Nafi, masihkah kau dengar suara itu?” sampai aku menjawab tidak. Kemudian dia lepaskan jarinya dan berkata; “Demikianlah yang dilakukan Rasulullah Saw.” [HR. Ibnu Abid Dunya dan al-Baihaqi]. c. Ruba’i Binti Mu’awwidz Bin Afra berkata: Nabi Saw mendatangi pesta perkawinanku, lalu beliau duduk di atas dipan seperti dudukmu denganku, lalu mulailah beberapa orang hamba perempuan kami memukul gendang dan mereka menyanyi dengan memuji orang yang mati syahid pada perang Badar. Tiba-tiba salah seorang di
konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 4/54

antara mereka berkata: “Di antara kita ada Nabi Saw yang mengetahui apa yang akan terjadi kemudian.” Maka Nabi Saw bersabda: “Tinggalkan omongan itu. Teruskanlah apa yang kamu (nyanyikan) tadi.” [HR. Bukhari, dalam Fâth al-Bârî, juz. III, hal. 113, dari Aisyah ra]. d. Dari Aisyah ra; dia pernah menikahkan seorang wanita kepada pemuda Anshar. Tiba-tiba Rasulullah Saw bersabda: “Mengapa tidak kalian adakan permainan karena orang Anshar itu suka pada permainan.” [HR. Bukhari]. e. Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Umar melewati shahabat Hasan sedangkan ia sedang melantunkan syi’ir di masjid. Maka Umar memicingkan mata tidak setuju. Lalu Hasan berkata: “Aku pernah bersyi’ir di masjid dan di sana ada orang yang lebih mulia daripadamu (yaitu Rasulullah Saw)” [HR. Muslim, juz II, hal. 485]. C. Pandangan Penulis Dengan menelaah dalil-dalil tersebut di atas (dan dalil-dalil lainnya), akan nampak adanya kontradiksi (ta’arudh) satu dalil dengan dalil lainnya. Karena itu kita perlu melihat kaidah-kaidah ushul fiqih yang sudah masyhur di kalangan ulama untuk menyikapi secara bijaksana berbagai dalil yang nampak bertentangan itu. Imam asy-Syafi’i mengatakan bahwa tidak dibenarkan dari Nabi Saw ada dua hadits shahih yang saling bertentangan, di mana salah satunya menafikan apa yang ditetapkan yang lainnya, kecuali dua hadits ini dapat dipahami salah satunya berupa hukum khusus sedang lainnya hukum umum, atau salah satunya global (ijmal) sedang lainnya adalah penjelasan (tafsir). Pertentangan hanya terjadi jika terjadi nasakh (penghapusan hukum), meskipun mujtahid belum menjumpai nasakh itu (Imam asy-Syaukani, Irsyadul Fuhul Ila Tahqiq al-Haq min ‘Ilm al-Ushul, hal. 275). Karena itu, jika ada dua kelompok dalil hadits yang nampak bertentangan, maka sikap yang lebih tepat adalah melakukan kompromi (jama’) di antara keduanya, bukan menolak salah satunya. Jadi kedua dalil yang nampak bertentangan itu semuanya diamalkan dan diberi pengertian yang memungkinkan sesuai proporsinya. Itu lebih baik daripada melakukan tarjih, yakni menguatkan salah satunya dengan menolak yang lainnya. Dalam hal ini Syaikh Dr. Muhammad Husain Abdullah menetapkan kaidah ushul fiqih: Al-‘amal bi ad-dalilaini —walaw min wajhin— awlâ min ihmali ahadihima “Mengamalkan dua dalil —walau pun hanya dari satu segi pengertian— lebih utama daripada meninggalkan salah satunya.” (Syaikh Dr. Muhammad Husain Abdullah, Al-Wadhih fi Ushul Al-Fiqh, hal. 390). Prinsip yang demikian itu dikarenakan pada dasarnya suatu dalil itu adalah untuk diamalkan, bukan untuk ditanggalkan (tak diamalkan). Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menyatakan: Al-ashlu fi ad-dalil al-i’mal lâ al-ihmal “Pada dasarnya dalil itu adalah untuk diamalkan, bukan untuk ditanggalkan.” (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, juz 1,
konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 5/54

hal. 239). Atas dasar itu, kedua dalil yang seolah bertentangan di atas dapat dipahami sebagai berikut : bahwa dalil yang mengharamkan menunjukkan hukum umum nyanyian. Sedang dalil yang membolehkan, menunjukkan hukum khusus, atau perkecualian (takhsis), yaitu bolehnya nyanyian pada tempat, kondisi, atau peristiwa tertentu yang dibolehkan syara’, seperti pada hari raya. Atau dapat pula dipahami bahwa dalil yang mengharamkan menunjukkan keharaman nyanyian secara mutlak. Sedang dalil yang menghalalkan, menunjukkan bolehnya nyanyian secara muqayyad (ada batasan atau kriterianya) (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 63-64; Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 102-103). Dari sini kita dapat memahami bahwa nyanyian ada yang diharamkan, dan ada yang dihalalkan. Nyanyian haram didasarkan pada dalil-dalil yang mengharamkan nyanyian, yaitu nyanyian yang disertai dengan kemaksiatan atau kemunkaran, baik berupa perkataan (qaul), perbuatan (fi’il), atau sarana (asy-yâ’), misalnya disertai khamr, zina, penampakan aurat, ikhtilath (campur baur pria–wanita), atau syairnya yang bertentangan dengan syara’, misalnya mengajak pacaran, mendukung pergaulan bebas, mempropagandakan sekularisme, liberalisme, nasionalisme, dan sebagainya. Nyanyian halal didasarkan pada dalil-dalil yang menghalalkan, yaitu nyanyian yang kriterianya adalah bersih dari unsur kemaksiatan atau kemunkaran. Misalnya nyanyian yang syairnya memuji sifat-sifat Allah SWT, mendorong orang meneladani Rasul, mengajak taubat dari judi, mengajak menuntut ilmu, menceritakan keindahan alam semesta, dan semisalnya (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 64-65; Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 103). 3.2. Hukum Mendengarkan Nyanyian a. Hukum Mendengarkan Nyanyian (Sama’ al-Ghina’) Hukum menyanyi tidak dapat disamakan dengan hukum mendengarkan nyanyian. Sebab memang ada perbedaan antara melantunkan lagu (at-taghanni bi al-ghina’) dengan mendengar lagu (sama’ al-ghina’). Hukum melantunkan lagu termasuk dalam hukum af-‘âl (perbuatan) yang hukum asalnya wajib terikat dengan hukum syara’ (at-taqayyud bi al-hukm asy-syar’i). Sedangkan mendengarkan lagu, termasuk dalam hukum af-‘âl jibiliyah, yang hukum asalnya mubah. Af-‘âl jibiliyyah adalah perbuatan-perbuatan alamiah manusia, yang muncul dari penciptaan manusia, seperti berjalan, duduk, tidur, menggerakkan kaki, menggerakkan tangan, makan, minum, melihat, membaui, mendengar, dan sebagainya. Perbuatan-perbuatan yang tergolong kepada af-‘âl jibiliyyah ini hukum asalnya adalah mubah, kecuali adfa dalil yang mengharamkan. Kaidah syariah menetapkan: Al-ashlu fi al-af’âl al-jibiliyah al-ibahah “Hukum asal perbuatan-perbuatan jibiliyyah, adalah mubah.” (Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 96). Maka dari itu, melihat —sebagai perbuatan jibiliyyah— hukum asalnya adalah boleh (ibahah). Jadi, melihat apa saja adalah boleh, apakah melihat gunung, pohon, batu, kerikil, mobil, dan seterusnya. Masing-masing ini tidak memerlukan dalil khusus untuk membolehkannya, sebab melihat itu sendiri adalah boleh menurut syara’. Hanya saja jika ada dalil khusus yang mengaramkan melihat sesuatu, misalnya melihat aurat wanita, maka pada saat itu melihat hukumnya haram.
konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 6/54

Demikian pula mendengar. Perbuatan mendengar termasuk perbuatan jibiliyyah, sehingga hukum asalnya adalah boleh. Mendengar suara apa saja boleh, apakah suara gemericik air, suara halilintar, suara binatang, juga suara manusia termasuk di dalamnya nyanyian. Hanya saja di sini ada sedikit catatan. Jika suara yang terdengar berisi suatu aktivitas maksiat, maka meskipun mendengarnya mubah, ada kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, dan tidak boleh mendiamkannya. Misalnya kita mendengar seseorang mengatakan, “Saya akan membunuh si Fulan!” Membunuh memang haram. Tapi perbuatan kita mendengar perkataan orang tadi, sebenarnya adalah mubah, tidak haram. Hanya saja kita berkewajiban melakukan amar ma’ruf nahi munkar terhadap orang tersebut dan kita diharamkan mendiamkannya. Demikian pula hukum mendengar nyanyian. Sekedar mendengarkan nyanyian adalah mubah, bagaimanapun juga nyanyian itu. Sebab mendengar adalah perbuatan jibiliyyah yang hukum asalnya mubah. Tetapi jika isi atau syair nyanyian itu mengandung kemungkaran, kita tidak dibolehkan berdiam diri dan wajib melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Nabi Saw bersabda: “Siapa saja di antara kalian melihat kemungkaran, ubahlah kemungkaran itu dengan tangannya (kekuatan fisik). Jika tidak mampu, ubahlah dengan lisannya (ucapannya). Jika tidak mampu, ubahlah dengan hatinya (dengan tidak meridhai). Dan itu adalah selemah-lemah iman.” [HR. Imam Muslim, an-Nasa’i, Abu Dawud dan Ibnu Majah]. b. Hukum Mendengar Nyanyian Secara Interaktif (Istima’ al-Ghina’) Penjelasan sebelumnya adalah hukum mendengar nyanyian (sama’ al-ghina’). Ada hukum lain, yaitu mendengarkan nyanyian secara interaktif (istima’ li al-ghina’). Dalam bahasa Arab, ada perbedaan antara mendengar (as-sama’) dengan mendengar-interaktif (istima’). Mendengar nyanyian (sama’ al-ghina’) adalah sekedar mendengar, tanpa ada interaksi misalnya ikut hadir dalam proses menyanyinya seseorang. Sedangkan istima’ li al-ghina’, adalah lebih dari sekedar mendengar, yaitu ada tambahannya berupa interaksi dengan penyanyi, yaitu duduk bersama sang penyanyi, berada dalam satu forum, berdiam di sana, dan kemudian mendengarkan nyanyian sang penyanyi (Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 104). Jadi kalau mendengar nyanyian (sama’ al-ghina’) adalah perbuatan jibiliyyah, sedang mendengarmenghadiri nyanyian (istima’ al-ghina’) bukan perbuatan jibiliyyah. Jika seseorang mendengarkan nyanyian secara interaktif, dan nyanyian serta kondisi yang melingkupinya sama sekali tidak mengandung unsur kemaksiatan atau kemungkaran, maka orang itu boleh mendengarkan nyanyian tersebut. Adapun jika seseorang mendengar nyanyian secara interaktif (istima’ al-ghina’) dan nyanyiannya adalah nyanyian haram, atau kondisi yang melingkupinya haram (misalnya ada ikhthilat) karena disertai dengan kemaksiatan atau kemunkaran, maka aktivitasnya itu adalah haram (Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 104). Allah SWT berfirman: “Maka janganlah kamu duduk bersama mereka hingga mereka beralih pada pembicaraan yang lainnya.” (Qs. an-Nisâ’ [4]: 140). “…Maka janganlah kamu duduk bersama kaum yang zhalim setelah (mereka) diberi peringatan.” (Qs. al-An’âm [6]: 68).
konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 7/54

3.3. Hukum Memainkan Alat Musik Bagaimanakah hukum memainkan alat musik, seperti gitar, piano, rebana, dan sebagainya? Jawabannya adalah, secara tekstual (nash), ada satu jenis alat musik yang dengan jelas diterangkan kebolehannya dalam hadits, yaitu ad-duff atau al-ghirbal, atau rebana. Sabda Nabi Saw: “Umumkanlah pernikahan dan tabuhkanlah untuknya rebana (ghirbal).” [HR. Ibnu Majah] ( Abi Bakar Jabir al-Jazairi, Haramkah Musik Dan Lagu? (Al-I’lam bi Anna al-‘Azif wa al-Ghina Haram), hal. 52; Toha Yahya Omar, Hukum Seni Musik, Seni Suara, Dan Seni Tari Dalam Islam, hal. 24). Adapun selain alat musik ad-duff / al-ghirbal, maka ulama berbeda pendapat. Ada yang mengharamkan dan ada pula yang menghalalkan. Dalam hal ini penulis cenderung kepada pendapat Syaikh Nashiruddin al-Albani. Menurut Syaikh Nashiruddin al-Albani hadits-hadits yang mengharamkan alat-alat musik seperti seruling, gendang, dan sejenisnya, seluruhnya dha’if. Memang ada beberapa ahli hadits yang memandang shahih, seperti Ibnu Shalah dalam Muqaddimah ‘Ulumul Hadits, Imam an-Nawawi dalam Al-Irsyad, Imam Ibnu Katsir dalam Ikhtishar ‘Ulumul Hadits, Imam Ibnu Hajar dalam Taghliqul Ta’liq, as-Sakhawy dalam Fathul Mugits, ash-Shan’ani dalam Tanqihul Afkar dan Taudlihul Afkar juga Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim dan masih banyak lagi. Akan tetapi Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam kitabnya Dha’if al-Adab al-Mufrad setuju dengan pendapat Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla bahwa hadits yang mengharamkan alat-alat musik adalah Munqathi’ (Syaikh Nashiruddin Al-Albani, Dha’if al-Adab al-Mufrad, hal. 14-16). Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya Al-Muhalla, juz VI, hal. 59 mengatakan: “Jika belum ada perincian dari Allah SWT maupun Rasul-Nya tentang sesuatu yang kita perbincangkan di sini [dalam hal ini adalah nyanyian dan memainkan alat-alat musik], maka telah terbukti bahwa ia halal atau boleh secara mutlak.” (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 57). Kesimpulannya, memainkan alat musik apa pun, adalah mubah. Inilah hukum dasarnya. Kecuali jika ada dalil tertentu yang mengharamkan, maka pada saat itu suatu alat musik tertentu adalah haram. Jika tidak ada dalil yang mengharamkan, kembali kepada hukum asalnya, yaitu mubah. 3.4. Hukum Mendengarkan Musik a. Mendengarkan Musik Secara Langsung (Live) Pada dasarnya mendengarkan musik (atau dapat juga digabung dengan vokal) secara langsung, seperti show di panggung pertunjukkan, di GOR, lapangan, dan semisalnya, hukumnya sama dengan mendengarkan nyanyian secara interaktif. Patokannya adalah tergantung ada tidaknya unsur kemaksiatan atau kemungkaran dalam pelaksanaannya. Jika terdapat unsur kemaksiatan atau kemungkaran, misalnya syairnya tidak Islami, atau terjadi ikhthilat, atau terjadi penampakan aurat, maka hukumnya haram. Jika tidak terdapat unsur kemaksiatan atau kemungkaran, maka hukumnya adalah mubah (Dr.
konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 8/54

Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 74). b. Mendengarkan Musik Di Radio, TV, Dan Semisalnya Menurut Dr. Abdurrahman al-Baghdadi (Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 74-76) dan Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki (Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 107-108) hukum mendengarkan musik melalui media TV, radio, dan semisalnya, tidak sama dengan hukum mendengarkan musik secara langsung sepereti show di panggung pertunjukkan. Hukum asalnya adalah mubah (ibahah), bagaimana pun juga bentuk musik atau nyanyian yang ada dalam media tersebut. Kemubahannya didasarkan pada hukum asal pemanfaatan benda (asy-yâ’) —dalam hal ini TV, kaset, VCD, dan semisalnya— yaitu mubah. Kaidah syar’iyah mengenai hukum asal pemanfaatan benda menyebutkan: Al-ashlu fi al-asy-yâ’ al-ibahah ma lam yarid dalilu at-tahrim “Hukum asal benda-benda, adalah boleh, selama tidak terdapat dalil yang mengharamkannya.” (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 76). Namun demikian, meskipun asalnya adalah mubah, hukumnya dapat menjadi haram, bila diduga kuat akan mengantarkan pada perbuatan haram, atau mengakibatkan dilalaikannya kewajiban. Kaidah syar’iyah menetapkan: Al-wasilah ila al-haram haram “Segala sesuatu perantaraan kepada yang haram, hukumnya haram juga.” (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustur, hal. 86). 4. Pedoman Umum Nyanyian Dan Musik Islami Setelah menerangkan berbagai hukum di atas, penulis ingin membuat suatu pedoman umum tentang nyanyian dan musik yang Islami, dalam bentuk yang lebih rinci dan operasional. Pedoman ini disusun atas di prinsip dasar, bahwa nyanyian dan musik Islami wajib bersih dari segala unsur kemaksiatan atau kemungkaran, seperti diuraikan di atas. Setidaknya ada 4 (empat) komponen pokok yang harus diislamisasikan, hingga tersuguh sebuah nyanyian atau alunan musik yang indah (Islami): 1. Musisi/Penyanyi. 2. Instrumen (alat musik). 3. Sya’ir dalam bait lagu. 4. Waktu dan Tempat. Berikut sekilas uraiannya: 1). Musisi/Penyanyi a) Bertujuan menghibur dan menggairahkan perbuatan baik (khayr / ma’ruf) dan menghapus
konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 9/54

kemaksiatan, kemungkaran, dan kezhaliman. Misalnya, mengajak jihad fi sabilillah, mengajak mendirikan masyarakat Islam. Atau menentang judi, menentang pergaulan bebas, menentang pacaran, menentang kezaliman penguasa sekuler. b) Tidak ada unsur tasyabuh bil-kuffar (meniru orang kafir dalam masalah yang bersangkutpaut dengan sifat khas kekufurannya) baik dalam penampilan maupun dalam berpakaian. Misalnya, mengenakan kalung salib, berpakaian ala pastor atau bhiksu, dan sejenisnya. c) Tidak menyalahi ketentuan syara’, seperti wanita tampil menampakkan aurat, berpakaian ketat dan transparan, bergoyang pinggul, dan sejenisnya. Atau yang laki-laki memakai pakaian dan/atau asesoris wanita, atau sebaliknya, yang wanita memakai pakaian dan/atau asesoris pria. Ini semua haram. 2). Instrumen/Alat Musik Dengan memperhatikan instrumen atau alat musik yang digunakan para shahabat, maka di antara yang mendekati kesamaan bentuk dan sifat adalah: a) Memberi kemaslahatan bagi pemain ataupun pendengarnya. Salah satu bentuknya seperti genderang untuk membangkitkan semangat. b) Tidak ada unsur tasyabuh bil-kuffar dengan alat musik atau bunyi instrumen yang biasa dijadikan sarana upacara non muslim. Dalam hal ini, instrumen yang digunakan sangat relatif tergantung maksud si pemakainya. Dan perlu diingat, hukum asal alat musik adalah mubah, kecuali ada dalil yang mengharamkannya. 3). Sya’ir Berisi: a) Amar ma’ruf (menuntut keadilan, perdamaian, kebenaran dan sebagainya) dan nahi munkar (menghujat kedzaliman, memberantas kemaksiatan, dan sebagainya) b) Memuji Allah, Rasul-Nya dan ciptaan-Nya. c) Berisi ‘ibrah dan menggugah kesadaran manusia. d) Tidak menggunakan ungkapan yang dicela oleh agama. e) Hal-hal mubah yang tidak bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam. Tidak berisi: a) Amar munkar (mengajak pacaran, dan sebagainya) dan nahi ma’ruf (mencela jilbab,dsb). b) Mencela Allah, Rasul-Nya, al-Qur’an. c) Berisi “bius” yang menghilangkan kesadaran manusia sebagai hamba Allah.
konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 10/54

d) Ungkapan yang tercela menurut syara’ (porno, tak tahu malu, dan sebagainya). e) Segala hal yang bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam. 4). Waktu Dan Tempat a) Waktu mendapatkan kebahagiaan (waqtu sururin) seperti pesta pernikahan, hari raya, kedatangan saudara, mendapatkan rizki, dan sebagainya. b) Tidak melalaikan atau menyita waktu beribadah (yang wajib). c) Tidak mengganggu orang lain (baik dari segi waktu maupun tempat). d) Pria dan wanita wajib ditempatkan terpisah (infishal) tidak boleh ikhtilat (campur baur). 5. Penutup Demikianlah kiranya apa yang dapat penulis sampaikan mengenai hukum menyanyi dan bermusik dalam pandangan Islam. Tentu saja tulisan ini terlalu sederhana jika dikatakan sempurna. Maka dari itu, dialog dan kritik konstruktif sangat diperlukan guna penyempurnaan dan koreksi. Penulis sadari bahwa permasalahan yang dibahas ini adalah permasalahan khilafiyah. Mungkin sebagian pembaca ada yang berbeda pandangan dalam menentukan status hukum menyanyi dan musik ini, dan perbedaan itu sangat penulis hormati. Semua ini mudah-mudahan dapat menjadi kontribusi —walau pun cuma secuil— dalam upaya melepaskan diri dari masyarakat sekuler yang bobrok, yang menjadi pendahuluan untuk membangun peradaban dan masyarakat Islam yang kita idam-idamkan bersama, yaitu masyarakat Islam di bawah naungan Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah. Amin. [M. Shiddiq al-Jawi] (www.faridm.com) Wallahu a’lam bi ash-showab. Daftar Bacaan * Abdullah, Muhammad Husain. 1995. Al-Wadhih fi Ushul Al-Fiqh. Cetakan II. (Beirut : Darul Bayariq). * Al-Amidi, Saifuddin. 1996. Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam. Juz I. Cetakan I. (Beirut : Darul Fikr). * Al-Baghdadi, Abdurrahman. 1991. Seni Dalam Pandangan Islam. Cetakan I. (Jakarta : Gema Insani Press). * Al-Jazairi, Abi Bakar Jabir. 1992. Haramkah Musik dan Lagu ? (Al-I’lam bi Anna Al-‘Azif wa AlGhina Haram). Alih Bahasa oleh Awfal Ahdi. Cetakan I. (Jakarta : Wala` Press). * Al-Jaziri, Abdurrahman. 1999. Kitab Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah. Juz II. Qism AlMu’amalat. Cetakan I. (Beirut : Darul Fikr).
konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 11/54

* Asy-Syaukani. Tanpa Tahun. Irsyadul Fuhul Ila Tahqiq Al-Haq min ‘Ilm Al-Ushul.(Beirut : Darul Fikr). * Asy-Syuwaiki, Muhammad. Tanpa Tahun. Al-Khalash wa Ikhtilaf An-Nas. (Al-Quds : Mu`assasah Al-Qudsiyah Al-Islamiyyah). * An-Nabhani, Taqiyuddin. 1953. Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah. Juz III (Ushul Al-Fiqh). Cetakan II. (Al-Quds : Min Mansyurat Hizb Al-Tahrir). * ———-. 1963. Muqaddimah Ad-Dustur.(t.t.p. : t.p.). * ———-. 1994. Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah. Juz I. Cetakan IV. (Beirut : Darul Ummah). * ———-.2001. Nizham Al-Islam. (t.t.p. : t.p.). * Ath-Thahhan, Mahmud. Tanpa Tahun. Taysir Musthalah Al-Hadits. (Surabaya : Syirkah Bungkul Indah). * Bulletin An-Nur. Hukum Musik dan Lagu. http://www.alsofwah.or.id/ * Bulletin Istinbat. Mendengarkan Musik, Haram ? http://www.sidogiri.com/ * Fatwa Pusat Konsultasi Syariah. Lagu dan Musik. http://www.syariahonline.com/ * Kusuma, Juanda. 2001. Tentang Musik. http://www.pesantrenvirtual.com/ * “Norma Islam untuk Musisi, Instrumen, Sya’ir, dan Waktu”. Musik. http://www.ashifnet.tripod.com/ * Omar, Toha Yahya. 1983. Hukum Seni Musik, Seni Suara, dan Seni Tari Dalam Islam. Cetakan II. (Jakarta : Penerbit Widjaya). * Santoso, Iman. Hukum Nyanyian dan Musik. http://www.ummigroup.co.id/ * Wafaa, Muhammad. 2001. Metode Tarjih Atas Kontradiksi Dalil-Dalil Syara’ (Ta’arudh Al-Adillah min Al-Kitab wa As-Sunnah wa At-Tarjih Baynaha). Alih Bahasa oleh Muslich. Cetakan I. (Bangil : Al-Izzah). Entri ini dituliskan pada 18 Januari 2007 pada 2:22 pm dan disimpan dalam Seni dan Budaya. Dengan kaitkata: hukum musik, seni. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri.

137 Tanggapan to “Hukum Menyanyi dan Musik dalam Fiqih Islam”
konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 12/54

1.

rahmat berkata
8 Oktober 2007 pada 8:42 am assalamualaikum. saya ingin bertanya masalah tata cara wudhu masalah usap telinga 1.cara usap telinga itu dari bawah ke atas atau sebaliknya,atau terserah? 2.mana saja yang dimaksud bagian luar telinga?dan 3.mana saja yang dimaksud bagian dalam telinga? Balas

2.

zain berkata
1 November 2007 pada 8:06 am Assalamu’alaikum… ‘Afwan minkum Ustadz, lantas bagaimana pendapat ustadz mengomentari bahwa suara wanita adalah ‘aurat? Jazakallah khoir Balas

mizan berkata
28 Februari 2010 pada 9:39 pm aslmk,,, afwan,mank ane bkn ustadz,,, tp yg ane taw suara wanita aurat adalah suara wanita yg bisa menggetarkan hati orang lain, t’utama bg lawan jenisnya, contohnya suara yg mendayu-dayu,,, makanya wanita harus pinter-pinter jaga suaranya,,misalnya bicara tegas ma lawan jenisnya,,, kalo gak,,,gmana wanita maw ngomong??? Balas

musamahmudzaim berkata
konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 13/54

10 November 2011 pada 10:52 am suara wanita tidak menjadi aurat….cuma haram memerdukan suara depan orang laki bukan mahram…takut timbul niat jahat dalam hati seseorang itu..

3.

Dhewy berkata
25 November 2007 pada 4:28 am Assalamu’alaikum bagaimanakah seni tari dalam Islam ? terutama jika yang menarikan perempuan dan ditonton umum tetapi untuk kepentingan dakwah ? bagaimanakah seni tari yang islami itu ? wass.ww. Balas

zainul berkata
2 Maret 2010 pada 9:58 am insaya Allah haram.. karena umumnya menari tdk menutup aurat (sempurna).. seandainya menutup aurat..dg Hijab.. lenggok lenggok tari..akan membangkitnkan syahwat pria… cukuplah menari..utk suaminya saja..di tempat yg aman (tdk terlihat orang lain) Balas

4.

yuni astuti berkata
22 Februari 2008 pada 4:04 am Assalamu’alaikum… Ustadz saya mau bertanya, truz bagaimana dengan tempat untuk menyanyi itu sendiri? saya pernaha dengar dari teman saya bahwa tidak diperbolehkan menyanyi dikamar mandi. apa benar? truz dalilnya apa? terimakasih atas jawabannya. wassalamu’alaikum… Balas

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

14/54

5.

Mury Ririanty berkata
14 April 2008 pada 4:30 am Assalamu’alaikum…. Ustadz saya mau bertanya, bagaimana hukum islam tentang bernyanyi dalam kamar mandi? mohon balasannya. Syukron katsir… Wass Balas

6.

nina berkata
16 Mei 2008 pada 4:51 am assalamu’alaikum wr.wb gimana klw orang yan menyanyikan lagu-lagu nyazid itu, apakah hukumnya juga haram? klw ada berita terbaru web ya ke situs kami.jzkll wassalamu’alaikum Balas

7.

Niezzz berkata
12 Juni 2008 pada 6:30 am Assalamu’alaikum Ustadz sebenarnya wanita diperbolehkan atau tidak untuk bernyanyi? Syukron Wassalam Balas

8.

zet keren berkata
4 Agustus 2008 pada 3:12 am asslamu alaikum pak ustadz. Saya mau bertanya, apakah bermain gitar itu haram?

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

15/54

Balas

9.

David berkata
7 Agustus 2008 pada 7:00 am Assalammualaikum…. menurut saya bernyanyi dan bermain musik adalah salah satu bentuk appresiasi kita terhadap seni. Dan hal itu merupakan salah satu upaya kita untuk meningkatkan rasa syukur kita kepada Allah SWT. Mengapa demikian??? Salah satu alasannya adalah Musik dapat memberikan rangsangan terhadap aspek kognitif (Matematik). Seperti dikemukakan oleh Campbell 2001 (dalam bukunya Efek Mozart) bahwa musik Barok (Bach, Handel dan Vivaldi) dapat menciptakan suasana yang merangsang pikiran dalam belajar. Musik klasik (Haydn dan Mozart) mampu memperbaiki konsentrasi ingatan dan persepsi spasial. Sementara jenis-jenis musik lain mulai dari Jazz, New Age, Latin, Pop, lagulagu Gregorian bahkan gamelan dapat mempertajam pikiran dan meningkatkan kreativitas. Kognitif merupakan semua proses dan produk pikiran untuk mencapai pengetahuan yang berupa aktivitas mental seperti mengingat, mensimbolkan, mengkategorikan, memecahkan masalah, menciptakan dan berimajinasi. Jadi jika segala sesuatunya dilihat dari sisi baik, dan kita sudah pernah merasakan diperolehnya hal-hal yang baik dari itu semua, maka kita dapat meningkatkan rasa syukur kita kepada Allah SWT. Balas

kiki berkata
29 Agustus 2009 pada 11:24 am Aneh, Manusia Paling Sempurna Adalah Nabi Muhammad Sollalohu ‘Alaihi Wassalam. Ngapaen idolaen yang laeeen? Balas

mohammad handoko berkata
30 Mei 2010 pada 8:43 pm itulah zaman jahilia modern

indra berkata
konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 16/54

12 Juni 2012 pada 3:00 pm sesuai dengan suratul’ashri maka waktu yang kita gunakan, akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT untuk apa saja digunakan, maka janganlah kita sia siakan waktu yang diamanahkan Allah SWT kepada kita dengan tenggelam dalam asik masuk mendengar musik dan nyanyian hingga lupa dzikrullah. ingat setiap tarikan dan hembusan nafas kita ada taqdir yang menyertainya.

umii berkata
26 Januari 2010 pada 10:52 am wa’alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh.. ane pernah denger dari orang tua ane.. memang musik klasik membuat kita cerdas, dsb. tapi alangkah lebih baik jika kita diperdengarkan ayat suci Al-Qur’an, dan hasilnya Insya Allah wow, lebih amazing daripada manfaat musik klasik! Balas

Uny Mukhtar berkata
7 Januari 2011 pada 8:31 pm setuju…!

Regina berkata
24 Maret 2011 pada 1:14 am setujuuuuuuuuuuuuuuuuu bgt …… emang ya .. kita kadang2 jg sulit menghindar dgn pengaruh prkmbangan zaman pd masa skarang … jahiliyah lagi … smoga kita tetap dalam islam Nya yg kokoh dan tdk goyah dipengaruhi oleh zaman dan senantiasa slalu dlm lindunganNya… amin

Ibnu berkata
konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 17/54

12 Juni 2012 pada 10:02 am kalo kita sibukkan dengan membaca AlQuran, pasti nggak musngkin sibuk dengan musik. Sibukkanlah diri dengan membaca AlQuran. Niscaya cinta terhadap musik akan perlahan2 berkurang dan hilang. Yang hafal ratusan lagu itu banyak orangnya, tapi kalo hafal AlQuran 1 juz aja susah. Kalo memang benar2 bisa berfikir, silakan renungkan. terimakasih

Hamba Kecewa berkata
16 Juli 2012 pada 10:11 am Setuju bro… Jaman sudah edan skrng ini… hati2lah

10.

AND1 Hardbreaker berkata
8 Agustus 2008 pada 1:04 pm Assalamu’alaikum musik itu bgini ustadz mnurut pndangan saya… dibilang haram juga terlalu bnyk hadis yg menunjukkan halalnya… qta kmbalikan pada ilmu fiqh saja…mngenai ‘illat… anak2 remaja jaman sekarang kurang mmperhatikan ilmu dalam hadis seperti ‘illat dan qiyas, sehingga ktika membaca hadis, mereka membaca tanpa pngertian yg pnuh… jadi mnurut saya, dalam hadis yg mngharamkan musik disbutkan bahwa rasul SAW telah melarang musik, zina, arak, dan sutera… klo qta lihat mungkin saja bnar tapi, musik disana sudag disamakan dengan arak, judi, zina, dan sutera…mksudnya, musik disana adalah musik yg memang mnutup fikiran seperi judi cs dan mngandung kmaksiatan yg mmbwt qta mnjadi lupa waktu dan lupa Allah.. masalah tafsir surat luqman tsb, jgn smbarangan tfsir donk…qta kan ga bisa seeenaknya aja maen mnafsirkan kata2 Allah yg bgitu bijak…ini hrus dplajari lagi scara mndalam jadi jgn stngh2… bukankah ustadz tw bahwa mnafsirkan Al-Qur’an smbarangan dpt mnybbkn kkafiran?? nah, ksimpulan saya musik MNURUT saya boleh2 saja asal: -tidak mngandung kmungkaran kata2nya -tidak jorok/porno -tidak dilantunkan keras2 -hanya digunakan sbg hiburan dan tidak mnjadi lupa waktu…krn bosan itu fitrah manusia assalamualaikum…_MUJAHID BASKETBALLER_ Balas

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

18/54

kiki berkata
29 Agustus 2009 pada 11:26 am kalo pake akal geto arak juga bisa jadi halal. kan yang memabukkan haram, berati kalo minum gag mabok jadi halal??? Jangan pake logika dong, kalo mo nafsirin hadits atau qur’an harus dengan penafsiran para ulama syalaf. Balas

Mint berkata
30 November 2009 pada 10:09 pm Memang kita harus melandaskan sesuatu berdasarkan pendapat ulama… Tapi ulama itu juga mnyimpulkan sesuatu berdasarkan ijtihad yang mana ijtihad merekapun berdasarkan pengaruh lingkungan dan zaman mereka hidup masing2… mereka juga menggunakan logika, Islam tidak melarang penggunaan akal, bnyk ayat dalam Qur’an yang menganjurkan kita berpikir dengan akal. Beberapa hal dalam Quran disampaikan dalam bahasa syi’r atau memiliki bnyk kandungan makna, dalam menyikapinya kita memang harus memiliki referensi dari pendapat ulama. Tapi ijtihad tidak boleh berakhir sampai disitu, karena kekompleksan masyarakat dan zaman!Banyak seali masalah yang kita hadapi sekarang tak dapat dijumpai ribuan tahun lalu. Mengenai arak, akal sehat manapun gak bisa menganggapnya halal. Kecuali di barat yang menganggapnya sebagai bagian dari budaya mereka, siapapun tahu alkohol selalu punya dampak jelek dalam hal kesehatan maupun moral. Kematian akal dan ijtihad, inilah yang menyebabkan kemunduran Islam diberbagai bidang dewasa ini, selalu skeptis dalam menyikapi sesuatu

red berkata
30 Juni 2010 pada 2:45 pm Assalamu’alaikum wr wb. maaf bila saya ikut membahas. hukumnya sementara sudah jelas yaitu mubah. jadi mohon khilafiyah ini jangan jadikan perseteruan umat. kita punya akal dan hati sebagai alat untuk memilah mana yang haq dan yang bathil. bagi saya, lebih baik berdzikir daripada mendengarkan musik apalagi yang diharamkan.
konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 19/54

semua dikembalikan kepada setiap individu, mau yang haq ato yang bathil. dalam islam juga sudah ada tatacara bagaimana cara berdakwah. mari kita bersama-sama menciptakan islam yang damai dan bersatu. afwan jiddan bila ada perkataan saya yang tidak berkenan. jazakumullah khoiron…

muslim berkata
28 Oktober 2011 pada 7:31 pm yang menafsirkan bukan sembarang orang, tapi sahabat rasul yang telah dijamin jannah! Balas

muhsin berkata
28 Oktober 2011 pada 7:59 pm dalil pengharamannya sudah jelas dari Al Qur’an dan Sunnah. adapun dalil yang menghalalkan adalah suatu pengecualian. ulama salafus shalih seperti imam maliki, hanafi, syafi’i, dan imam ahmad sepakat tentang keharamannya. generasi sahabat tidak ada pertentangan dalam masalah ini. ada penamaan yang kurang tepat tentang yang didendangkan oleh sahabat, mereka mendendangkan syair yang tidak bertolak belakang dengan Islam, mereka tidak bernyanyi (karena nyanyian menyesatkan). Balas

11.

oyumi berkata
23 Agustus 2008 pada 2:00 pm Assalamu’alaikum trimakasih ustadz,sya jd tmbh pngtshuan tntang musik dlm islam. Balas

12.

priyodjatmiko berkata

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

20/54

14 Oktober 2008 pada 7:17 am Koreksi Ustadz, terlepas dari kesimpulan istinbat ustadz, saya cuma mau koreksi bahwa Syaikh Albani yang benar beliau menilai hadits-hadits tentang alat musik banyak yang shahih baik lidzatihi maupun yang lighairihi. Itu bisa dilihat dalam kitab beliau tahrim alatit tharb. Yang mengikut dengan penilaian Ibnu Hazm tentang hadits alat musik ini adalah Syaikh yusuf al Qaradhawi. Adapun tentang penilaian syaikh Albani di Dhaif adabul mufrad adalah hanya di hadits yang tercantum, itupun beliau menilai hadits tersebut hasan lighairihi dan beliau sama sekali tidak menyebut Ibju Hazm di kitab itu. wallahu a`lam. Balas

13.

ryan agustian(zekar) berkata
4 November 2008 pada 9:24 am assalam makasih banget tentang hukum musik ini…saya jadi bsa mengetahui musik apa yg dilarang dan diperbolehkan.. wasalam Balas

14.

ZUL berkata
22 November 2008 pada 1:36 am Alhamdulillah… Balas

15.

Hukum Menyanyi Dan Musik Dalam Fiqih Islam « Blog Gue berkata
27 Desember 2008 pada 6:55 pm [...] 4. Pedoman Umum Nyanyian Dan Musik Islami Setelah menerangkan berbagai hukum di atas, penulis ingin membuat suatu pedoman umum tentang nyanyian dan musik yang Islami, dalam bentuk yang lebih rinci dan operasional. Pedoman ini disusun atas di prinsip dasar, bahwa nyanyian dan musik Islami wajib bersih dari segala unsur kemaksiatan atau kemungkaran, seperti diuraikan di atas. Setidaknya ada 4 (empat) komponen pokok yang harus diislamisasikan, hingga tersuguh sebuah nyanyian atau alunan musik yang indah (Islami): 1.

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

21/54

Musisi/Penyanyi. 2. Instrumen (alat musik). 3. Sya’ir dalam bait lagu. 4. Waktu dan Tempat. Berikut sekilas uraiannya: 1). Musisi/Penyanyi a) Bertujuan menghibur dan menggairahkan perbuatan baik (khayr / ma’ruf) dan menghapus kemaksiatan, kemungkaran, dan kezhaliman. Misalnya, mengajak jihad fi sabilillah, mengajak mendirikan masyarakat Islam. Atau menentang judi, menentang pergaulan bebas, menentang pacaran, menentang kezaliman penguasa sekuler. b) Tidak ada unsur tasyabuh bil-kuffar (meniru orang kafir dalam masalah yang bersangkutpaut dengan sifat khas kekufurannya) baik dalam penampilan maupun dalam berpakaian. Misalnya, mengenakan kalung salib, berpakaian ala pastor atau bhiksu, dan sejenisnya. c) Tidak menyalahi ketentuan syara’, seperti wanita tampil menampakkan aurat, berpakaian ketat dan transparan, bergoyang pinggul, dan sejenisnya. Atau yang laki-laki memakai pakaian dan/atau asesoris wanita, atau sebaliknya, yang wanita memakai pakaian dan/atau asesoris pria. Ini semua haram. 2). Instrumen/Alat Musik Dengan memperhatikan instrumen atau alat musik yang digunakan para shahabat, maka di antara yang mendekati kesamaan bentuk dan sifat adalah: a) Memberi kemaslahatan bagi pemain ataupun pendengarnya. Salah satu bentuknya seperti genderang untuk membangkitkan semangat. b) Tidak ada unsur tasyabuh bil-kuffar dengan alat musik atau bunyi instrumen yang biasa dijadikan sarana upacara non muslim. Dalam hal ini, instrumen yang digunakan sangat relatif tergantung maksud si pemakainya. Dan perlu diingat, hukum asal alat musik adalah mubah, kecuali ada dalil yang mengharamkannya. 3). Sya’ir Berisi: a) Amar ma’ruf (menuntut keadilan, perdamaian, kebenaran dan sebagainya) dan nahi munkar (menghujat kedzaliman, memberantas kemaksiatan, dan sebagainya) b) Memuji Allah, Rasul-Nya dan ciptaan-Nya. c) Berisi ‘ibrah dan menggugah kesadaran manusia. d) Tidak menggunakan ungkapan yang dicela oleh agama. e) Hal-hal mubah yang tidak bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam. Tidak berisi: a) Amar munkar (mengajak pacaran, dan sebagainya) dan nahi ma’ruf (mencela jilbab,dsb). b) Mencela Allah, Rasul-Nya, al-Qur’an. c) Berisi “bius” yang menghilangkan kesadaran manusia sebagai hamba Allah. d) Ungkapan yang tercela menurut syara’ (porno, tak tahu malu, dan sebagainya). e) Segala hal yang bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam. 4). Waktu Dan Tempat a) Waktu mendapatkan kebahagiaan (waqtu sururin) seperti pesta pernikahan, hari raya, kedatangan saudara, mendapatkan rizki, dan sebagainya. b) Tidak melalaikan atau menyita waktu beribadah (yang wajib). c) Tidak mengganggu orang lain (baik dari segi waktu maupun tempat). d) Pria dan wanita wajib ditempatkan terpisah (infishal) tidak boleh ikhtilat (campur baur). 5. Penutup Demikianlah kiranya apa yang dapat penulis sampaikan mengenai hukum menyanyi dan bermusik dalam pandangan Islam. Tentu saja tulisan ini terlalu sederhana jika dikatakan sempurna. Maka dari itu, dialog dan kritik konstruktif sangat diperlukan guna penyempurnaan dan koreksi. Penulis sadari bahwa permasalahan yang dibahas ini adalah permasalahan khilafiyah. Mungkin sebagian pembaca ada yang berbeda pandangan dalam menentukan status hukum menyanyi dan musik ini, dan perbedaan itu sangat penulis hormati. Semua ini mudah-mudahan dapat menjadi kontribusi — walau pun cuma secuil— dalam upaya melepaskan diri dari masyarakat sekuler yang bobrok, yang menjadi pendahuluan untuk membangun peradaban dan masyarakat Islam yang kita idam-idamkan bersama, yaitu masyarakat Islam di bawah naungan Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah. Amin. [M. Shiddiq al-Jawi] Wallahu a’lam bi ash-showab. Daftar Bacaan * Abdullah, Muhammad Husain. 1995. Al-Wadhih fi Ushul Al-Fiqh. Cetakan II. (Beirut : Darul Bayariq). * Al-Amidi, Saifuddin. 1996. Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam. Juz I. Cetakan I. (Beirut : Darul Fikr). * Al-Baghdadi, Abdurrahman. 1991. Seni Dalam Pandangan Islam.
konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 22/54

Cetakan I. (Jakarta : Gema Insani Press). * Al-Jazairi, Abi Bakar Jabir. 1992. Haramkah Musik dan Lagu ? (Al-I’lam bi Anna Al-‘Azif wa Al-Ghina Haram). Alih Bahasa oleh Awfal Ahdi. Cetakan I. (Jakarta : Wala` Press). * Al-Jaziri, Abdurrahman. 1999. Kitab Al-Fiqh ‘Ala AlMadzahib Al-Arba’ah. Juz II. Qism Al-Mu’amalat. Cetakan I. (Beirut : Darul Fikr). * AsySyaukani. Tanpa Tahun. Irsyadul Fuhul Ila Tahqiq Al-Haq min ‘Ilm Al-Ushul.(Beirut : Darul Fikr). * Asy-Syuwaiki, Muhammad. Tanpa Tahun. Al-Khalash wa Ikhtilaf An-Nas. (Al-Quds : Mu`assasah Al-Qudsiyah Al-Islamiyyah). * An-Nabhani, Taqiyuddin. 1953. Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah. Juz III (Ushul Al-Fiqh). Cetakan II. (Al-Quds : Min Mansyurat Hizb Al-Tahrir). * ———-. 1963. Muqaddimah Ad-Dustur.(t.t.p. : t.p.). * ———-. 1994. Asy-Syakhshiyah AlIslamiyah. Juz I. Cetakan IV. (Beirut : Darul Ummah). * ———-.2001. Nizham Al-Islam. (t.t.p. : t.p.). * Ath-Thahhan, Mahmud. Tanpa Tahun. Taysir Musthalah Al-Hadits. (Surabaya : Syirkah Bungkul Indah). * Bulletin An-Nur. Hukum Musik dan Lagu. http://www.alsofwah.or.id/ * Bulletin Istinbat. Mendengarkan Musik, Haram ? http://www.sidogiri.com/ * Fatwa Pusat Konsultasi Syariah. Lagu dan Musik. http://www.syariahonline.com/ * Kusuma, Juanda. 2001. Tentang Musik. http://www.pesantrenvirtual.com/ * “Norma Islam untuk Musisi, Instrumen, Sya’ir, dan Waktu”. Musik. http://www.ashifnet.tripod.com/ * Omar, Toha Yahya. 1983. Hukum Seni Musik, Seni Suara, dan Seni Tari Dalam Islam. Cetakan II. (Jakarta : Penerbit Widjaya). * Santoso, Iman. Hukum Nyanyian dan Musik. http://www.ummigroup.co.id/ * Wafaa, Muhammad. 2001. Metode Tarjih Atas Kontradiksi Dalil-Dalil Syara’ (Ta’arudh AlAdillah min Al-Kitab wa As-Sunnah wa At-Tarjih Baynaha). Alih Bahasa oleh Muslich. Cetakan I. (Bangil : Al-Izzah). Sumber : Dari sini [...] Balas

16.

Henhen berkata
19 Januari 2009 pada 7:45 pm Aslm.. Ak ikud sbuah organisasi paduan suara di kampus,dan apakah yg sprti itu dilarang? Balas

17.

Yd.I berkata
24 Januari 2009 pada 11:08 am Assalamu’alaikum. Ikhwan. Kalau menurut pendapat saya : 1. Segala sesuatu yang menyangkut ibadah atau hukum tidak terkecuali music harus ada dalil yang kuat. (Tak masalah berbeda pendapat asal mempunyai dalil dan tidak semata-mata hasil pemikiran sendiri) 2. Niat baik yang disertai dengan implementasi yang sesuai, Niat Bermain music untuk da’wah/

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

23/54

syiar Islam tentu baik, tetapi kalau implementasinya jelek (penampilan yang seronok, memperlihatkan aurat, kalimat-kalimat yang tidak sopan)tentu saja tetap tidak boleh. Demikian sementara pendapat saya. Mohon koreksinya. Terima kasih. Balas

kiki berkata
29 Agustus 2009 pada 11:22 am Afwan, ibadah adalah segala sesuatu yang Allah Azza Wa Jalla cintai dan ridhai. Dan caranya juga tidak asal-asalan, bukan dengan logika semata. Harus dengan tuntunan Rasululloh Sollalohu ‘Alaihi Wassalam. Apakah kesuksesan dakwah Beliau Sollalohu ‘Alaihi Wassalam dengan jalan musik? Jangan lah meniru suatu kaum (Nasrani dakwah dengan musik) karena akan termasuk kaum itu. Wallahu ‘Alam Bis Showab Balas

18.

BeBe Jam'Z berkata
2 Maret 2009 pada 1:50 pm huuuuuaaaaeeemmmmm….-_-a.. anh2 aja…. Balas

19.

lana berkata
6 Mei 2009 pada 8:46 pm bagus sekali artikelnya.. saya mohon ijin untuk copy artikel ini Tanggapan : Silakan.

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

24/54

Balas

20.

kiki berkata
29 Agustus 2009 pada 11:31 am Afwan, yang dimaksud nyanyian itu bukan nyanyian tetapi Syair. Dan yang dimaksud gendang bukan gendang tapi rebana, yaitu yang sebagian sisinya saja yang ditutup. Andaikan kedua sisinya ditutup itu adalah haram karena sudah menjadi alat musik. Balas

aa berkata
17 April 2012 pada 5:46 pm Afwan tuk rebana juga menimbulkan suara kan…… lalu bagaimana dengan membaca AL Qur’an dengan lagu atau tilawah apa itu haram??? padahal kan sama2 mengaji dan mengingat ALLOH… Balas

21.

Satrio berkata
3 September 2009 pada 2:46 am Ass… sya senang trnyata musik tdk spenuhnya diharamkan…kecuali musik yang mengandung kenaksiatan…. tp…pak…. klo sya mncptakan lagu yng sdih2,sprti disakiti kekasih/menemukan pndmping hdup,apakah boleh?kta pak ustadkan yng pnting g mengundang maksiat/mengajak pacaran?tu gmn pak? Balas

22.

ed berkata
27 September 2009 pada 3:00 pm Jadi inget jaman saya ngaji di kampung belajar kitab kuning. Musik haram, tapi rebana sambil goyang pake mike yang speakernya memekakkan telinga pada acara samen (naik kelas/tingkat). Listriknya nyolong dibypass (gak tahu, pokoknya kapasitasnya jadi gak

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

25/54

terbatas). Jaman sekarang, malah nunggu magrib dan sahur goyang, dihibur sama laki-laki berprilaku gemulai. Kadang sambil menghina fisik. Dunia mau jadi apa yaa… Balas

23.

Ahmad haris berkata
4 Oktober 2009 pada 5:06 pm Saya sependapat dengan Ikwan KIKI. Dia Termasuk Ahlussunnah Waljama’ah..Mengikuti perjalanan MAnhaj Salafus Shalih.Insya Alloh.Semoga Akhi diberi Istiqomah,petunjuk oleh Alloh dalam membela hadits-hadits Rasulullah,Shallallahu alaihi wa sallam. Balas

24.

aang berkata
11 Oktober 2009 pada 12:06 am bagaimana sich sbenere?? jujur..aq blum puas dengan yang dituliskan disitu tentang musik… HALAL atau HARAM?? haduhh aku bner2 bingung YA ALLAH… afwan,saya nie cuma pngen tau kbenaran.. aq lihat komentar kiki berkata(29 agustus}(diatas) katanya alat musik haram..trus diatas2nya lagi “jangan lah meniru suatu kaum krn akn termasuk kaum tersebut.. tapi kok dtuliskan juga pdoman nyanyian dan musik? katanya alat musik haram? Balas

nunu anwary berkata
14 Oktober 2009 pada 9:53 pm subhanalloh komentar-komentarnya bagus-bagus ya?sampai-sampai saya juga bingung tapi buat saya sendiri : INNA ‘AMALU BINNIAT wallohualam bishowab Balas
konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 26/54

25.

aang berkata
23 Oktober 2009 pada 11:47 pm Allah kan apstu memaklumi orang2 yang belum tau/yang belum menerima penjelasan… nah aq sudah meneerima penjelasan bahwa musik ntu haram,,kalo tetep aqu maen musik,brati dosa q lebih gedhe dong.. itu pun klu bner2 haram.. jadi aq harus tau apa yang sebenere.. masa aq gag pduliin tntang itu sich? Balas

26.

Alif berkata
1 November 2009 pada 6:30 pm Ass. Alhamdulillah, saya jadi mengerti tentang musik. Mungkin, seperti yang tadi dijelaskan, apabila kita tidak punya maksud yang melenceng dari ajaran Islam, maka itu dibolehkan. Saya bermain piano untuk keterampilan saya sekaligus karena disuruh Ayah. Tadinya saya ingin meninggalkan piano, tapi alhamdulillah saya membaca artikel ini terlebih dahulu. Terima kasih banyak. Wassalam. Balas

27.

farizmuzakki berkata
5 November 2009 pada 9:39 am wah, lengkap banget pnjelasannya ustadz~ syukron, jazakumullah khayran katsir~ Balas

28.

elvan berkata
17 November 2009 pada 10:56 am Ada seseorang yang awam ttg ilmu agama bertanya kpd Rasulullah. Katanya:”Ya Rasulullah,

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

27/54

begitu banyak hukum-hukum dalam islam yang mengaharamkan segala sesuatu, tetapi aku tidak hafal satu per satu. Lalu perbuatan yg menimbulkan sebuah dosa itu apa?. Rasul menjawab:”Jika kamu ingin tahu tentang perbuatan dosa. Dosa ialah semua perbuatan yang apabila kamu lakukan maka kamu mendapatkan kegelisahan hati, hati kamu akan bergetar karena perbuatan yang kamu lakukan adalah salah.” Balas

29.

ip berkata
26 November 2009 pada 5:12 pm waa… aq gag tw apa2 soal hal2 itu… aq ajah masih sering nyanyi2… alhamdulillah ada pengetahuan baru… tapi bagaimana kesimpulannya??? apakah qt memilih antara yg menghalalkan atau yang mengharamkan….kalo menrtku “aq bingung…!!” Balas

30.

Mint berkata
30 November 2009 pada 9:51 pm Berarti musik yang boleh ana dengar cuma kosidah dan marawis? Bagaimana dengan paduan antara rebana dan biola, kan udah banyak perkembangan jenis musik zaman sekarang, pak Ustadz. Lalu saya kurang mengerti soal tasyabuh bil kuffar… apakah penggemar musik klasik dan memainkan alat musiknya juga tasyabuh bil kuffar? Jazakallh kahairan katsiraa. Balas

31.

atiqoh berkata
11 Desember 2009 pada 6:38 pm bagaimana dengan Al-Farabi, beliau pernah menulis tentang Kitab al-musiqa al-kabir, bahkan menganjurkan musik sebagai terapi psikologi, sedangkan Beliau bukanlah orang yang dangkal ilmunya…

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

28/54

Balas

32.

iman berkata
3 Januari 2010 pada 6:09 am ustadz…, ane copas y.., cz bwt temen2 ane yg kbingungan tntng hukum nyanyian… jazakallah… Balas

33.

sekar arum berkata
7 Februari 2010 pada 9:35 pm kalau beqitu harus gimana sekarng banyak nak yag dengar musik termasuk bisikan setan bukan? Balas

34.

hizbullah berkata
12 Februari 2010 pada 2:01 pm terimakasih atas pencerahan dari berbagai pendapat ulama mengenai musik dan lagu. Saya betul-betul mengucapkan terimakasih dan untuk sementara tidak ada komentar. Balas

35.

hizbullah berkata
12 Februari 2010 pada 4:52 pm saya merasa puas dengan penjelasan ini. terimakasih yang tak terhingga. semoga bermanfaat untuk umat Islam. Amin. Balas

36.

abu hasan berkata
29/54

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

11 Maret 2010 pada 12:48 pm bismillah, afwan akh minta ijin utk copy file, smoga bermanfaat bagi semua, jazakallohukhoir Balas

37.

syafril berkata
12 Maret 2010 pada 8:34 pm assalam, ane merasa puas dengan penjelasan yg antum berikan,ane ingin berbagi dengan teman2 yg lain.. maka dari itu ane mau minta izin untuk mengcopy paste nya? untuk di muat notes FB ane .. biar temen2 ane yg lain tau juga hehe.. syukran ilmunya. Balas

38.

awaludin berkata
26 Maret 2010 pada 10:18 am ada ustadz yang meyampaikan materi di radio fajri bogor jam 6.30 tanggal 27 maret 2010 bahwa mendengarkan musik, bermain musik walaupun tujuan dakwah islam melalui musik sudah tidak ada tawar menawar masuk kategori haram, pernyataatan tesebut menurut saya kurang diplomatis dan arif karena sudah mendoktrin. sungguh arif dan bijaksana penulis diatas memaparkan pandangannya tentang musik, ini sebenarnya ulama yang ditunggu kaum muslimin. persoalannya hanya bagaimana kita memutuskan dan kita memiliki landasan juga secara keilmuan, yang berbahaya dan keraguan apabila kita memilih keputusan tetapi kita tidak dapat memiliki alasan yang menjadi dasar. wahai kaum muslimin hidup ini adalah pilihan, jadi pilihlah salah satu dengan penuh keyakinan, ini adalah masalah khilafiyah. nikmati anugerah yang Allah berikan kepada kita pendengaran untuk kita niukmati salah satunya adalah musik, tetapi jangan melampau batas. hatur nuhun Balas

39.

Filza Syazwina berkata
11 Mei 2010 pada 7:56 am Assalamualaikum pak ustadz.. maff nii.. saya kurang setuju mengenai musik itu haram.. mungkin sebagian dari musik tersebut yang brutal seperti metal, rock yang membuat orangorang mendengarnya menjadi tak karuan..

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

30/54

tapi, seperti musik jazz, klasik dan sebagainya menurut saya penting untuk masyarakat saat ini.. musik itu bahasa dunia. mengapa saya tersinggung? karena saya dari kecil di besarkan oleh keluarga musisi yang membuat saya alhamdulillah menjadi seperti sekarang, saya dari kecil di ajrkan not not balok yang membuat saya pandai dalam pelajaran dan berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.. ayah saya seorang musisi jazz sekaligus guru gitar. beliau juga seorang yang jago dalam agama.. oleh karena itu,, musik ituu sebenarnya diperlukan untuk jaman sekarang.. kata ayah,, Musik dan pendidikan harus seimbang. dan tidak lupa pula memperdalami agama. Insya ALLAH menjadi sukses kedepannya Balas

40.

mawardi berkata
15 Mei 2010 pada 11:10 am bernyanyi dan musik.. kerjaan orang merugi…tidak pernah ada jaman rosullulah….tertawa terbahak-bahak itu tidak boleh..suara perempuan adalah aurat….apalagi penyanyi ..penariiii… Balas

41.

Dimaz T Nugroho berkata
30 Mei 2010 pada 4:34 pm “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87) Maka Nabi Saw bersabda: “Tinggalkan omongan itu. Teruskanlah apa yang kamu (nyanyikan) tadi.” [HR. Bukhari, dalam Fâth al-Bârî, juz. III, hal. 113, dari Aisyah ra]. Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Umar melewati shahabat Hasan sedangkan ia sedang melantunkan syi’ir di masjid. Maka Umar memicingkan mata tidak setuju. Lalu Hasan berkata: “Aku pernah bersyi’ir di masjid dan di sana ada orang yang lebih mulia daripadamu (yaitu Rasulullah Saw)” [HR. Muslim, juz II, hal. 485].

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

31/54

Jadi menurut saya yang namanya seni apapun itu bentuknya ( musik, tari, dsb..)adalah baik jika niat dan tujuannya adalah baik. Bukankah Allah SWT menciptakan manusia dengan beragam macam akal, bakat dan kemampuan untuk berkreasi, bukan-kah Allah SWT menyukai keindahan (yang baik)..semua itu adalah anugerah yang Allah berikan kepada kita (manusia) sebagai mahluk yang paling sempurna di muka bumi. Apa jadinya seandainya semua manusia di dunia ini pekerjaanya/ profesinya semua sama, misal : jadi dokter semua/pengacara/guru/ustadz semua..siapa yang harus didengar dan siapa yang harus mendengar?? bersyukur dengan perbedaan yang telah Allah berikan kepada kita itu lebih baik daripada menghujat sesuatu dan membandingan sesuatu itu dengan apa yang kita anggap benar oleh diri kita sendiri. Mari kita kembalikan segala urusan kepada-Nya. Balas

gerr berkata
14 April 2012 pada 12:58 pm ni baru paten Balas

Son berkata
19 Mei 2012 pada 10:04 am gue setuju yg penting niat dan tujuannya utk kebaikkan Balas

42.

siti asriah berkata
14 Juni 2010 pada 12:43 pm ass pak ustadz saya ingin bertanya sebenarnya apa hukum menyanyi terutama nyanyian dakwah soalnya saya masih bingung setelah membaca keterangan yang pak ustadz tulis Balas

43.

nara_zzi berkata
26 Juni 2010 pada 5:06 am

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

32/54

agama islam itu bisa menciptakan kebudayaanya sendiri, seharusnya kita berpikir dan berbuat bagaimana agar dosa-dosa kita diampuni dan manusi tidak akan pernah tahu apakah dosanya diampuni atao tidak, mengapa kita sibuk main…. seperti itu sementara berusaha beribadah agar khusuk…pun diabaikan Balas

agus yg ingin selalu tahu berkata
25 Januari 2012 pada 9:46 pm benar,, anna setuju,,, Balas

44.

S.Kamal berkata
28 Juni 2010 pada 3:41 pm assalaamu alaikum ust. Sejak lama sy ingin memahami tentang hukum musik dan nyanyian serta alat musiknya, namun baru sekarang saya bisa menemukan penjelasan yang mendalam tentang hal itu. untuk itu, saya mohon izin untuk meng-coppy paste artikel tersebut, untuk saya pelajari dan insya alloh di amalkan… terima kasih ustad. wassalaamu alaikum. Balas

45.

red berkata
30 Juni 2010 pada 3:44 pm alhamdulillah karena blog antum, saya menjadi bertambah ilmu tentang agama islam. saya minta izin sharing untuk menambah wawasan teman-teman saya. jazakallah khoiron ya akhi… Balas

46.

tahdi berkata
2 Juli 2010 pada 12:04 am assalamualaikum…

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

33/54

ya saya juga seorang yang gemar bermain alat musik… saya tidak dapat meninggalkan hal itu,, karena bagi saya,, potensi diri yang saya punya,, hanya brmain alat musik.. alhamdullah dengan pengetahuan ini,,.. pikiran saya lebih terbuka,, tidak terlalu ortodok lagi dengan faham2 yang klasik.. padahal zaman semakin berkembang… syukran ya ustadz,, semoga diskusi ini diridhai oleh Allah SWT.. amiin ya rabbal alamin dan syukran juga buat penanya,,, sebagai pembuka diskusi ini.. Balas

47.

Syafi'i berkata
24 Juli 2010 pada 10:40 pm Memang syithan itu sangat lihai dalam menyesatkan manusia, salah satunya melalui musik. Ulama2 besar (terutama ulama2 Mahzab) sepakat bahwa musik dilarang karena selain dapat melalaikan manusia dari mengingat Allah juga bisa mejerumuskan manusia kepasa kemaksiatan2. Namun Syaithan dengan lihainya memberi embel2 Islam di belakang kata musik, sehingga sering kita dengar istilah musik Islami. Coba anda2 yang senang mendengarkan musik dan nyanyian, lebih banyak mana waktu yg anda2 gunakan, apakah untuk mendengar musik dan nyanyian atau untuk membaca dan mengkaji Al-Qur’an? apalagi pemuda2 sekarang, sudah menjadikan musik seperti agama. demi musik mereka meninggalkan sholat, demi musik mereka menggadaikan agamanya. Sekarang kita lihat, hampir 99% yang berhubungan dengan musik dan nyanyian akibatnya adalah maksiat kepada Allah). Berapa lagu2 yg kalian hafal? puluhan bhkan mungkin ratusan. Tp berapakah aya2 Al-Qur’an yang kalian hafal? paling banyak Juz amma. Wahai, sodara2ku janganlah kalian biarkan diri kalian tertipu olehtipu daya Syaithan…. karena syaithan akan melakukan apapun untuk menyesatkan manusia….wallahu ‘alam… Balas

wawan wahyudi berkata
5 Agustus 2010 pada 7:15 pm assalamulaikum, trimakasih mas atas prnyataan yang telah mas berikan,selain musik itu haram apakah tahlilan bersama itu hukumnya juga haram atau tidak? Balas

agus yg ingin selalu tahu berkata
konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 34/54

25 Januari 2012 pada 10:19 pm alhamdulilllah,, saya setuju sekali dgn apa yng anda ungkapkan,,, tidak tau mengapa hati saya bergetar karena saya juga merasakan hal yg sama dgn apa yng anda katakan,,,, bhwa selain melalaikan jga mengharamkan,, segala macam cara dihalalkan tanpa dipermasalahkan,, coba liat artis2 jaman skarang,, bnyak wnita yng bernyanyi dgn menampakkan auratnya,,, truuuus apakah kita sebagai umat islam harus diam saja melihat hal yg seperti itu,,,,,,,??? ada lagi melalui musik,, yg saya perhatikan d jaman skrang ini….. bnyak remaja2 yg jikalau dia sedih dia mendengarkan musik dan bernyanyi dgn apa yg sesuai dgn hatinya,,, apalagi sedihnya itu karna putus cinta.. serasa hidup tidak lah berarti……. truuus apakah kita harus diam saja….?????? banyak lagu2 yng bermunculan dgn menceritakan kisah percintaan yg dampaknya sudah jelas di jaman sekarang ini,,,,, malah bkan untuk menggairahkan semangat bertaqwa kepada Allah swt,,, jelas donk itu menentang syara…. setiap manusia itu pasti punya dosa,,, dan kita seharusnya menyadari itu,,,, seharusnya kita banyak mengingat allah(berdzikir) ,, bukannya bermain musik atau bernyanyi……. sudah jelas baca al-qur’an 1huruf saja 10 kebaikan yg allah berikan kepada kita,, apalagi hafal al-quran itu jaminannya syurga,, coba anda hafal lagu2… apa yg kita dapatkan….? mudah-mudahan dapat dipahami,,, syuron….. Balas

lae berkata
10 Februari 2012 pada 9:48 am setujuuuu..musik hanya akan melalaikan kita… Balas

iam nawawi berkata
7 Agustus 2012 pada 7:57 am Afwaan…….Mf yg sebsar-besar y saya ikt cmpur!!!!!!! tapi saya kurang setuju atas apa yang anda Kata kan tersebut!! Apakah benar anda pernah LALAI oleh musik sehingga anda Lupa kwjiban anda kpd Allah Swt? Hasbunallah Wani’mal Wakiel………………………….

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

35/54

48.

hafliana berkata
3 Agustus 2010 pada 6:33 am salam….apa kah antara bentuk2 hadis sahih menyatakan bahawa aurat perempuan itu adalah aurat? Balas

49.

Hukum Menyanyi dan Musik dalam Fiqih Islam | Sebuah Catatan Kecil......... berkata
18 Agustus 2010 pada 4:13 pm [...] ambil dari.http://konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalamfiqih-islam/ Share and [...] Balas

50.

Yuyun berkata
27 Agustus 2010 pada 12:37 am Assalamu’alaikum.. Subhanalloh, bener2 bagus dan makin menambah pengetahuan saya, mudah2an jd hidayah buat saya dan kawan2.. Ijin copy paste ke FB ya.. Sekalian ma comentar2nya.. Mudah2an menjadi suatu pencerahan untuk sesama muslim.. Amiin Balas

51.

Yuyun berkata
27 Agustus 2010 pada 1:03 am Asslamu’alikum.. Maaf pa, sblm saya copy paste, saya ada buku “adakah musik islami” karangan Muslim Atsari penerbit Pustaka At-tibyan, serial buku at-tibyan ke 56, disini dijelas kan, apapun alasannya, musik dan alat musik adalah haram.. Saya menjadi bingung, mana yg saya ambil, mohon pencerahan, trima kasih

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

36/54

Ilmu saya masih sangat-sangat kurang sekali, saya takut klo salah bertanya akan berakibat fatal.. Mudah2an anda berkenan menjelaskannya.. Balas

52.

Yuyun berkata
27 Agustus 2010 pada 1:28 am Menmbahakan.. Saya telah mengerti isi dr yg di buku dgn yg anda tulis kurang lebih sama persis.. Mohon ijin untuk copy paste ya.. Trima kasih Balas

53.

cha berkata
27 Agustus 2010 pada 1:53 pm assalamu’alaikum…. cha mw nanya …. bagai mana cara nya , menjdi remaja perempuan yg soleh tanpa hidup di pesantren dan tetap mengikuti perubahan jaman .. trima kasih sebelum nya …. ass,,, Balas

54.

Sukamto I.T.N. berkata
27 Agustus 2010 pada 11:21 pm Menurut hemat saya, menari, menyanyi, memainkan alat musik, dsb itu halal, asal dimainkan pada batas-batas kesopanan, dan tidak meninggalkan kewajiban agama. Sebenarnya timbangannya ada pada hati nurani manusia itu sendiri. Kesemuanya itu boleh-boleh saja dilakukan asal terhindar dari kemaksiatan dan kemungkaran, apalagi di zaman sekarang dimana benturan akulturasi/budaya demikian hebat dan kemajuan teknologi yang bukan main,serta ketiga seni di atas yang sudah merupakan cara mencari nafkah di beberapa kalangan.Tsih. Balas

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

37/54

55.

Arief berkata
8 September 2010 pada 5:16 pm Yg diharamkan krn umat Islam tdk boleh mengikuti kebiasaan mereka… Tp ini dianggap relatif oleh sebagian Umat Islam. Wallahu’alam….. Balas

56.

Itriadi Fatukaloba berkata
18 September 2010 pada 9:25 pm Mohon maaf ustadz, seni merupakan sebuah keindahan yang diciptakan oleh Allah Swt. Bahkan membaca al-Qur’an pun disunnahkan memperbagus suara dan irama sesuai dengan tajwid, alias berseni. Di zaman Nabi saw. terdapat seorang sahabat yang pandai bernyanyi, melantuntakn syair-syair seraya memetik gambus dan biola. Namanya Ibnu Rawahah, silahkan buka sirah Ibnu Hisyam dan Ibnu Ishak. Toh Nabi saw. tidak mengharamkan? Menurut kami, musik akan menjadi haram apabila pendendangnya terlena sehingga lalai dari ibadah, atau syair-syairnya mengajak pendengar dan penyanyinya ke arah maksiat. Balas

Fira berkata
29 September 2010 pada 5:02 pm emang kan disini tertulis mubah gethoo maaf aku ngga sopan Balas

Tegar berkata
11 Maret 2011 pada 3:05 pm Sebelumnya saya minta maaf sy sudah mencari berbagai artikel mengenai Ibnu Rawahah dalam sirah Ibnu Hisyam (tp memang sy tidak punya sirah lengkapnya) tapi sy tidak mendapatkan satupun penjelasan mengenai beliau yang memtik gambung dan biola, bisa ditunjukkan link nya atau penggalan penjelasannya,
konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 38/54

setau saya beliu adalah penyair yang mengobarkan semangat dikalangan kaum muslimin, dan setau saya syair(nyanyian yang tidak menggunakan alat musik) itu boleh-boleh saja sepanjang isinya hanya mengandung kalimat pujian kepada Allah & Rasulnya, akan tetapi tidak dengan musik. ….Rasulullah Shallallahu ‘AlaihiWasallam menyenandungkan sya’ir Ibnu Rawahah dan menyemangati para sahabat saat menggali parit. Beliau bersenandung:”Ya Allah tiada kehidupan kecuali kehidupan akherat maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin.”Seketika kaum Muhajirin dan Anshar menyambutnya dengan senandung lain:”Kita telah membai’at Muhammad, kita selamanya selalu dalam jihad.”Ketika menggali tanah bersama para sahabatnya, Rasul Shallallahu ‘Alaih Wasallam juga bersenandung dengan sya’ir Ibnu Rawahah yang lain:”Demi Allah, jika bukan karena Allah, tentu kita tidak mendapat petunjuk,tidak pula kita bersedekah, tidak pula mengerjakan shalat. Maka turunkanlah ketenangan kepada kami, mantapkan langkah dan pendirian kami jika bertemu(musuh) Orang-orang musyrik telah mendurhakai kami, jika mereka menginginkan fitnah maka kami menolaknya.” Balas

57.

Fira berkata
29 September 2010 pada 5:01 pm kan di situ tertulis kecuali ada dalil yang mengharamkan’a di suatu buku yg aku pernah baca hukum’a ngga tau sih tapi katanya karena bikin mabuk hati orang mungkin karena kata kata’a ya????? alhamdulillah hukum’a hanya mubah karena aku berbakkat di bidang musik ini terutama alat musik piano thanx info’a semoga Allah memberi pahala yg berlimpah kepada yg buat blog ini Balas

58.

Hukum Parodi, Sandiwara, Operet Menurut Islam « We're Muslim, the Strongest Ummah Around the World berkata
26 Desember 2010 pada 10:46 am [...] Untuk lebih jelasnya mengenai bagaimana hukum MUSIK yang sebenarnya, silakan klik link http://konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqihislam/ [...] Balas

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

39/54

59.

azwar r hasan berkata
29 Desember 2010 pada 1:05 pm terima kasih atas semua bacaannya,sangat bermamfaat semoga tetap memberi yang terbaik. Balas

60.

2010 in review « Konsultasi Islam berkata
4 Januari 2011 pada 11:07 am [...] Favorit Hukum Islam Tentang Nikah SiriAborsi dalam Pandangan Hukum IslamHukum Menyanyi dan Musik dalam Fiqih IslamAPAKAH BUNGA BANK TERMASUK RIBA?Hukum Menonton Film PornoSEPUTAR JODOH DAN PERNIKAHANEuthanasia [...] Balas

61.

aris Rusdiyanto berkata
21 Januari 2011 pada 4:49 pm jazakallah khair… trima kasih atas sarannya Alhamdulillah Insya Allah akan bermanfaat…. trima kasih banyak…. Balas

62.

gun berkata
25 Januari 2011 pada 10:50 am Assalamu’alaikum ustadz, saya pernah baca hikayat: setelah Qabil membunuh Habil, jiwanya gelisah..maka entah karena masih dikuasai Syaiton-yg menggodanya shg bunuh Habil,atau krn dorongan akal kreasinya- dia membuat alat musik untuk menghibur dirinya.., apa memang seperti itu ustadz..?? Balas

63.

matb90s berkata
40/54

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

11 Februari 2011 pada 12:11 am Terima kasih buat penjelasannya. akhirnya baru tau.. maaf baru belajar n baru tau. Balas

64.

LIS AMBARWATI berkata
8 Maret 2011 pada 12:28 pm COBA BACA DIALOG NABI MUHAMMAD DENGAN IBLIS…TIPU DAYA IBLIS PADA MANUSIA MELALUI SYAIR… Balas

65.

asdc berkata
8 Maret 2011 pada 4:54 pm makasih banget atas informasinya…. maaf baru belajar Balas

66.

Tegar berkata
11 Maret 2011 pada 3:07 pm Lantas bagaimana dengan ini, tolong pencerahannya syukran : Dalam hadist yang sahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari sahabat Abi Amir dan Abi Malik Al Asy’ari Rasulullah saw bersabda:”Akan muncul dari kalangan ummatku sekelompok orang yang menghalalkan farj (perzinahan), sutera, khamar dan alat-alat musik.” (lihat Fatul Bari, 10/51). Dan dalam hadist yang lain dari sahabat Anas bin Malik r.a, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:”Kelak akan terjadi pada ummat ini (tiga hal): (Mereka) ditenggelamkan(kedalam bumi), dihujani batu, dan diubah bentuk mereka, yaitu jika merekaminum arak, mengundang biduanita-biduanita (untuk menyanyi) dan menabuh (membunyikan) musik.” (As-Silsilah Ash Shahihah, 2203, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam kitab Dzammul Malahi dan At-Tarmidzi No. 2212). Balas

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

41/54

67.

Markaz Surabaya berkata
28 Maret 2011 pada 9:06 pm Ustad Farid Ma’ruf yang semoga rahmat Allah senantiasa menaungi anda, saya mohon ijin untuk mengkopy penjelasan ustad tentang hukum menyanyi dan musik, afwan-jazakumullahi khoiron kastir. Abdullah Balas

68.

raikoza berkata
2 April 2011 pada 12:51 pm klo bcra maslah p’kmbngan zaman tntng khdrn musik maupun alat2nya,,, Bkan kah hukum dunia yg harus mengikuti hukum islam(yg hakiki)??? Mhon pnjlasanya… Balas

69.

JJ berkata
4 April 2011 pada 3:35 pm Saya suka musik luar negeri/dalam negeri yang sifatnya menimbulkan semangat hidup dan tidak merengek2 karena cinta dsb, boleh tidak ya? Balas

70.

weber berkata
5 April 2011 pada 11:43 am syetan makin tertawa melihat kita berdebat dan saling bertentangan ttg musik/lagu ini.. pdhal dalil yg mengharamkan dan yg memperbolehkannya sama2 dho’if.. artikel ini memberi jalan keluar yang terbaik.. bagi yang mengharamkan musik silahkan.. bagi yang menghalalkan jg silahkan.. asal jgn “menilai” ketaqwaan dan keimanan seseorang melalui hal spt ini.. Balas

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

42/54

71.

info beasiswa berkata
8 April 2011 pada 8:17 pm kita harus semakin berhati-hati dalam berperilaku sehari-hari Balas

72.

Ragil berkata
18 April 2011 pada 4:11 pm memang jaman sekarang banyak sekali nyanyian2x yang merusak moral dan akidah sebaiknyan di hindari Balas

73.

cah ngaret berkata
30 Juli 2011 pada 8:15 am assalamu’alaikum,,,, terima kasih pada penulis,,, Balas

74.

umbahmbah berkata
30 Juli 2011 pada 8:04 pm Wahai saudaraku..janganlah kita memperdebatkan sesuatu yang tidak ada penyelesaian lantaran kita menyakini yang haram atau halal mengenai nyanyian dan musik.ini hanyalah sebuah ikhtilaf diantara kita.jangan karena perbedaan kita sebagai umat nabi muhammad saling menghina satu sama lain.saya sendiri sangat mengharamkan nyanyian bila nyanyian tersebut membawa kita kepada kema’siatan dan tidak sesuai dengan syari’at,tapi sayapun membolehkan bila nyanyian tersebut membuat kita dekat dengan Robb karena syairnya memgingatkan kita pada Nya. Balas

75.

kasma berkata
43/54

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

1 November 2011 pada 6:27 pm semua perbuatan harus dimulai dengan niat karena awalifi’lul binniat maksud disini adalah niat yang berdasarkan kepada hukum2 allah, jadi kalau bernyanyi dan bermusik menurut saya dan saya sewkt mengecam pendidikan di salah satu thawalib di bukit tinngi seraorang pengajar baikalah kami memanggilnya dengan sebetan INYIAK karena beliau selalu mengajarkan kami tentang aqidah, RED soal masalah islam mengatakan kalau syair2 lagu cenderung berpedoman kepada makna dari kandungan alqur’an & hadist dan tidak menyimpang kepada kedua pusaka tersebut dan yang berisi dgn nasehat2 islami maka itu diperblehkan asal tidak bergoyang2 yang belebihan yang menimbulkan nafsu birahi bagi manusia yang meyaksikannya. Balas

76.

abdullah berkata
4 November 2011 pada 12:25 pm sudah jelas bahwa kebanyakan ulama mengharamkan musik dan nyanyian, klo masih gak mau mengikuti ulama silakan ikuti orang kristen yg jelas-jelas musryik. tdk ada dalil yg menghalalkan musik dan nyanyian, yg ada hanya dalil yg meringankan krn utk bergembira pd situasi dan kondisi tertentu (bkn utk selamanya). lebih baik mendengarkan ceramah, pengajian dan lantunan ayat suci al-qur’an. Balas

hedya berkata
26 Juni 2012 pada 11:20 am saya stuju dgn si mas ini. Kpd penulis dan yg lain.a yg menghalalkan musik. Jgn salah mnfsirkan suroh al-maidah yg “jgnlah kamu mengharamkan…(dan sljt.a) / cb buka alqur’an tafsir dan lhat kalimat it dlm hal apa… Cb kaji ulang ayat dan suroh it. Qt jangan asal mgmbl ptongan2 ayat al-qur’an. Ayat it mjlskan ttg LARANGAN MENGHARAMKAN MAKANAN YG HALAL, BUKAN MEMBOLEHKAN TENTANG MUSIK. Jd klu mau berpendapat atau menukilkan tulisan2 haruslah dgn dalil. Dan klu brpndpat dgn kt2 “menurut saya” maka it tertolak krn tak brdsarkan pd dalil2 baik al-qur’an maupun hadits shohih. Lgian kan uda jelas, brdsarkan hadits shohih bukhori: suatu saat nnt byak umat yg mghalalkan zina,khamr, sutera dan alat2 musik. Disini kan tertera jelas, art.a alat2 musik it haram. Dan tau gak kawan2 skalian ttg organisasi yahudi trbsar d sluruh dnia yaitu freemason? Mereka mendoktrin ajaran mreka mlalui musik utk mlupakan agama dan melalaikan ajaran2 agama. Toh cbla jd diri yg adil, kalian mghapal bgtu byk lirik lgu2 dan bhkan mghafal kunci gtar, not pian0 dan sbg.a tapi tak menghafal al-qur’an sdktpun? Pdhal mnrt hadits shohih tingkatan syurga it tergantung pada bnyaknya hapalan al-qur’an qt.
konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 44/54

Nah, drpd dgerin msik, lbh bgus mnbah hapalan al-qur’an. Maaf mas penulis, ddlm menukilkan sesuatu jgn mnambhkan pndpat2 sndri ddlm cttan.a, krn qt ni klu brbcra ttg agama trutama mntapkan hkum sswtu hal harus brdsarkan dalil2 yg kuat. Jd tdk mnmbulkan pro dan kontra. Syukron. Balas

77.

Muh Ridha Kurniawan berkata
1 Januari 2012 pada 1:18 pm Lebih baik meninggalkannya daripada ada keraguan di dalam hati…..waspada aja dech !!!!!! Balas

78.

rival berkata
8 Januari 2012 pada 8:44 am maen musik ja ga boleh. Kentut lah Balas

79.

taupik qurrohman berkata
15 Januari 2012 pada 11:27 pm kalau musik diharamkan,kasihan rhoma irama dakwah lewat lagunya harus berhenti,sedangkan dulu para penyebar agama islam di indonesia siar islamnyapun lewat seni seperti wayang, yang tak terlepas dari unsur gamelan atau alat musik lainnya,mereka tahu lebih dulu tentang islam,dan tak mengharamkan apa yang mereka lakukan toh tujuannya untuk syiar islam itu sendiri,dan sudah jelas dalilnyapun kontradiksi,sebagian mengharamkan sebagian monggo ajalah,…..jadi yang hobby musik silahkan,dan yang mengharamkannyapun silahkan,tergantung penapsiran pribadi individu,…..ga usah jadi perdebatan, seolah dialah yang lebih mengerti…..MUSIK BISA MASUK DAPTAR HARAM KALAU MENDENGARKANNYA SAMBIL MAKAN BABI’ Balas

80.

sbw berkata
45/54

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

19 Januari 2012 pada 10:39 pm jd apakakh kesimpulannya? Balas

81.

dharussallam berkata
20 Januari 2012 pada 9:35 pm kesimpulan : ulama indonesia smuanya pengecut, buktinya di tv atau dmn2 ada penyanyi2 khusunya wanita yang memperlihatkan auratnya, tapi ga ada ulama yg mencoba ngelarangnya, apa yg bikin ulama takut?? bahkan ustad2 yg terkenal di tv aja smuanya bungksm tentang masalah ini, padahal mereka itu ulama, sharusnya tegas dalam menentukan hukum truma penyanyi2 wanita di indonesia ini. apakah ulama yg sering muncul d tv itu cuma pengen ktenaran? cuma pengen duit? dasar ulama munafikkkk Balas

XG berkata
6 Februari 2012 pada 10:09 pm wah … masalah itu mending jangan memojokkan peran ulama ata siapapun . . karena semua adalah tanggung jawab bersama …… Balas

82.

lae berkata
10 Februari 2012 pada 10:14 am nah..udah jelas musik itu haram..jadi mari kita tinggalkan..walaupun pasti itu berat..tetapi distulah kita diuji tidak ada manfaatnya mendengarkan musik..hanya akan menyibukkan hati good bye musik..selamat tinggal… hidup insya Allah indah tanpa musik..tanpa nyanyian..tanpa lagu.. Balas

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

46/54

83.

Tommy nugraha berkata
13 Februari 2012 pada 12:33 am Assalam mualaikum… Saya mau tanya uztad… apa hukumnya membuka aura…? Haram atau tidak. Balas

84.

sol9okt berkata
21 Maret 2012 pada 7:12 pm makasih yaaa… ini sangat bermanfaat Balas

85.

Muhammad Rajab berkata
5 April 2012 pada 12:15 pm jangan tinggalkan dakwah….. mari bangkitkan lagi usaha dakwah untuk generasi muda agar kehidupan kita kedepannya sesuai dengan yang di contohkan rasul dan sesuai dengan yang dikatakan ALLAH SWT di dalam al quran surat al ahzab : 21…. Balas

86.

ergi berkata
7 April 2012 pada 7:19 pm maaf to the point nih , jadi haram atau apa ini? karena saya mencari tambahan untuk makan juga melewati gitar (saya pemain gitar klasik tanpa nyanyian) masa saya makan makanan haram. dan saya dalam bermusik merasa tidak gelisah saya tidak merokok mabok ganja dan tidak main cewe2 juga. sebenernya bagaimana hukumnya ya? Balas

mzl12k berkata
konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 47/54

9 April 2012 pada 10:30 am To Ergi, mungkin sudah dijelaskan gambalng di atas, bahwa hukumnya alat musik adalah HARAM, termasuk gitar (ataupun memainkannya), nyanyian juga haram kecuali nyanyian (syair2) yang tidak kalimat kufur…. masalah antum tidak merokok, tidak ganja..dan seterysnya, ana memuji syukur Alhamdulilah karena antum sudah menundukan nafsunya terhadap objek tersebut… tetapi urusan agama bukan berarti saling meniadakan, antum tidak merokok tidak ganja tidak meminum2an keras bukan berarti boleh melakukan kemungkaran lainnya… masuklah Islam pada keseluruhan (secara kaffah) tidak memilih2 dalil berdasarkan kemauan nafsu… semoga membantu… Syukron wa afwan… Balas

mzl12k berkata
9 April 2012 pada 10:35 am afwan tambahan sedikit… Fenomena yang terjadi, di sekitar kita adalah ust. atau kiai yang memainkan alat musik… nah hati2 kalau menyikapi ini, standar Islam (hukumnya) adalah Alquran dan Ashshunnah bukan kiyai atau ustad. Kita mendengar tentang “NADA DAN DAKWAH” tentu untuk memahami itu akan saya analogikan, bisahkah kemungkaran bersamaan pada waktu bersamaan ? ketika susu bercampur racun, apakah qt akan tetap meminumnya ? Syukron wa afwan… Balas

87.

Ahmad Alkhair berkata
16 April 2012 pada 3:01 pm orang takwa itu akan meninggalkan perkara yang subhat…. jadi tinggalkan saja musik… kan beres… ganti dengan mendengarkan tilawat Al_Qur’an, bisa menambah hafalan dan memperbaiki bacaan. Balas

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

48/54

88.

farid mukhlis azizi berkata
17 April 2012 pada 2:53 am assalamualaykum .. yaa muqollibalquluubi tsabit qolbi aladzinik , ya allah , yang maha pembolak balik hati , tetapkan aku dalam agamaMu .. ustadz saya orang awam , sungguh saya bingung, kalau sudah ada masalah yang berujung pada perbedaan kaya gini , tapi saya meyakini apa yang disampaikai oleh ustadz , syukron ustadz …sekedar berbagi , saya kalo denger lagu lagu nya opick suka nangis , suka langsung inget sama alloh , suka inget dosa ,, apa yang begitu disebut haram ??? Balas

farid mukhlis azizi berkata
17 April 2012 pada 3:15 am bagaimana dengan nasyid perjuangan yang meningatkan kita kepada para mujahid di palestina , bagaimana dengan nasyid yang mengingatkan kita pada Alloh , bagaimana dengan lagunya hadad alwi atau sulis yang mengagung agungkan asma Alloh , memuji rosululloh ? apa masih disebut haram ??? Balas

Gaza to night berkata
11 Juli 2012 pada 7:09 am We will not go down In the night without the fight U can destroy our home, our mosque, and our school But our spirit will never die We will not go down Gaza to night Masa lagu kayak gitu di haramkan bgi sebagian ulama Balas

89.

Sandee berkata
49/54

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

18 April 2012 pada 11:39 am MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 21 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926 TENTANG ALAT-ALAT MUSIK ORKES Tanya : Bagaimana hukum alat-alat orkes (mazammirul-lahwi) yang dipergunakan untuk bersenang-senang (hiburan)? Bila haram, apakah termasuk juga terompet perang, terompet jemaah haji, seruling penggembala dan seruling permainan anak-anak (damenan, Jawa)? Jawab : Muktamar memutuskan bahwa segala macam alat-alat orkes (malahi) seperti SERULING dan SEGALA MACAM JENISNYA dan ALAT-ALAT ORKES LAINNYA, KESEMUANYA ITU HARAM , kecuali terompet perang, trompet jema’ah haji, seruling gembala, seruling permainan anak-anak dan lain-lain sebagainya yang tidak dimaksudkan untuk dipergunakan hiburan. Keterangan : dalam kitab al-Ithaf ‘alal Ihya’ Ulumiddin Juz VI: “Dengan pengertian ini, maka HARAM – LAH SERULING IRAQ dan SELURUH PERALATAN MUSIK YANG MENGGUNAKAN SENAR (GITAR) seperti al-‘ud, ak-dhabh, rabbab dan barith (nama-nama peralatan musik Arab). Sedangkan yang selain itu maka tidak termasuk dalam pengertian yang diharamkan seperti (membunyikan suara menyerupai) burung elang yang dipergunakan para penggembala, jamaah haji, dan pemukul genderang.” LIHAT : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), h.19-20, Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007 Balas

90.

ita berkata
21 April 2012 pada 5:22 pm wahh,, syukron ustadz,, ^^ artikelx sangat membntu sya,, ^^ Tpi membaca al-qur’an ataupun mendengarkan orang yg melantunkan ayat2 Allah lebih baik ketimbang mendengarkan musik & lain sebagainya,, jgn jadiin hal ini sebagi pemecah belah umat islam, karena sesungguhnya kita satu untuk melawan kemungkaran,, dan smua yg kta lakukan kembali lgi ke niat kita masing2. Balas

91.

Ikhwanda Ziqri (@ProfZiqri) berkata
50/54

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

21 April 2012 pada 11:37 pm Pembahasan yang bagus.. Jadikanlah musik sebagai alat utk berdakwah di jalan Allah swt.. Balas

92.

syamsudin berkata
23 April 2012 pada 11:41 pm sudah dijelaskan dalam artikel dl atas kalau masalah musik khilafiyah..kalau saya cenderung ke pendapat yg membolehkan..kalaupun anda merasa tidak tenang,anggaplah keadaan darurat.maaf mas,keluarga anda lebih penting dan utama,jangan sampai jadi mudharat krn keputusan yg tergesa-gesa.kalau ada pekerjaan yg lbh baik ya silahkan tp kalau belum jalani aja dulu demi keluarga.mereka yg tegas mengharamkan tidak juga peduli kalau keadaan keluarga anda kelaparan,jangankan memberi solusi,memberikan pekerjaan layak kpd anda juga ga.Islam itu mudah dan tidak memaksa.ingat mas,keluarga anda nomor 1 satu.susah senang keluarga anda cuma anda yg memikirkan,orang lain ga akan peduli mas. Balas

93.

lichiri cardo berkata
5 Mei 2012 pada 10:10 pm kalu dengerin musik diharamin?ane kalau denegerin lantunan ayat suci by thaha al junayd sambil jemur pakaian di kamar mandi boleh gak? Balas

94.

Audreys Pearce berkata
12 Mei 2012 pada 8:24 am Meskipun saya masih sering menyanyi dan mendengarkan musik. Saya menerima bahwa musik itu haram hukumnya. Tidaklah perlu dipikir menggunakan logika, karena jika semua isi / perintah agama itu dapat difikirkan / dinalarkan dengan logika, maka saya yakin tidak akan ada orang beriman dan insya Allah semua orang beragama Islam. Itulah fungsinya iman, tanpa perlu tahu alasan secara logika kenapa kita selalu shalat subuh 2 rakaat sedangkan dzuhur 4 rakaat. Ijtihad para Ulama pun bukanlah berdasarkan pemikiran secara logika, melainkan secara keilmuan (ilmu agama, bukan matematika atau fisika). Seperti sakit kepala dan mengobatinya dengan panadol, bukan dengan betadine. Ketika kita sakit dan datang ke dokter,

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

51/54

lalu dokter memberi obat, kita langsung mempercayainya meskipun tanpa perlu kita mencari tau apakah obat tersebut benar2 dapat menyembuhkannya. Padahal sungguh tidak mungkin masuk logika panadol yang diminum lewat mulut, lalu masuk ke perut, dapat menyembuhkan rasa sakit di kepala kita bukan?? Oleh karena itu, sungguh ironi, jika kita menerima obat tanpa ilmu, sedangkan kita menolak perintah Allah tanpa ilmu. Saya tahu ketika mendengarkan atau menyanyi itu saya terkena dosa, namun saya masih belum bisa meninggalkannya. Oleh karena itu saya selalu memohon hidayah dari Allah SWT untuk dapat menjauhi musik. Mudah2an yang lain pun ikut terbuka. Balas

Ibnu berkata
12 Juni 2012 pada 10:03 am Like This. Semoga kita bisa segera meninggalkannya,. Mencari jalan ama itu lebih baik bukan ?? ) Balas

95.

said Abdullah berkata
17 Mei 2012 pada 7:16 am menyegarkan hati…… Balas

96.

XANDER berkata
18 Juni 2012 pada 8:25 pm lantas bagamana hukum memainkan rebana dalam masjid?. lihat kitab I’anah juz 3? Balas

97.

Miftah Latifatul Qalbi berkata
11 Juli 2012 pada 8:25 pm ijin share ustad ..syukron

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

52/54

Balas

98.

Nik Adzhar berkata
18 Juli 2012 pada 5:29 pm Mendengar lagu pop,rock,nasyid dsbgnya [dibolehkan] jika tidak melanggar Maqosid Syariah, asas halal-haram, makruf-mungkar.. sebaik-baik muzik ialah menjaga kehidupan, halal dan mengajak orang ke arah kebaikan.. Balas

99.

Nilam Fitriani Asy Syifa berkata
10 Agustus 2012 pada 3:10 pm Assalamu’alaikum. izin share ya akh tenteng artikel musiknya ^_^ Terimakasih Balas

100.

yupi berkata
22 Juli 2012 pada 1:03 pm Imam asy-Syafie rahimahullah berkata: “Tidak boleh diterima kesaksian penyanyi kerana penyanyi termasuk permainan yang dibenci dan menyerupai kebatilan. Barangsiapa yang menyanyi akan digolongkan sebagai orang yang tidak bermaruah. Barangsiapa yang menyukai lagu ia tergolong orang tolol”. (Lihat: Kasyful Ghitha ‘An-Hukmi Samail Ghina. Ibnu Qaiyim Al-Jauziyah) Balas

101.

yupi berkata
22 Juli 2012 pada 1:05 pm Imam as-Syafie menegaskan: “Saya temui kaum zindik di Iraq membuat persembahan yang di sebut “Taghbir” (bersenandung dan menari dengan syair). Mereka mengada-adakan qasidahqasidah yang dicipta oleh golongan orang-orang zindik untuk memalingkan manusia dari alQuran”. (Lihat: Syiar A’lam an-Nubala hlm 685 dan 318. Amr Ma’ruf Nahi Mungkar hlm. 151.

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

53/54

Al-Khallal.) Balas

102.

yupi berkata
22 Juli 2012 pada 1:06 pm Berkata Imam Ahmad: “Taghbir (penyanyi dan nyanyiannya) itu adalah bid’ah, jika engkau bertemu dengan salah seorang dari anggota taghbir maka ambillah jalan yang lain”. (Lihat: Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Hlm. 151 oleh Al-Khallal.) Balas

« MEMBUAT SEPATU DARI KULIT BABI Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa »

Blog pada WordPress.com. | Tema: Andreas09 oleh Andreas Viklund.

konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

54/54

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->