Laporan Kasus

Space Occupying Lesion (SOL)

Oleh: Rahmania Eka Sagita 0608151744

Pembimbing:

Dr. Amsar AT, Sp.S

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ARIFIN ACHMAD FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU

PEKANBARU 2011

RSUD ARIFIN ACHMAD Fakultas Kedokteran UR SMF/ BAGIAN SARAF
Sekretariat : SMF Saraf – Irna Medikal Lantai 4 Jl. Diponegoro No. 2 Telp. (0761) 7026225

PEKANBARU STATUS PASIEN
Nama Koass NIM/NUK Pembimbing I. IDENTITAS PASIEN Ny. S 42 tahun Perempuan Parit Pak Imar / Tembilahan – Indragiri Hilir Islam Kawin IRT 22 November 2011 74 42 93 : Autoanamnesis dan alloanamnesis Rahmania Eka Sagita 0608151744 Dr. Amsar AT, Sp.S

Nama Umur Jenis kelamin Alamat Agama Status perkawinan Pekerjaan Tanggal Masuk RS Medical Record II. ANAMNESIS Keluhan Utama

Kedua mata tidak bisa melihat. Riwayat Penyakit Sekarang • 8 bulan SMRS pasien mengeluhkan pandangan kabur sebelah kiri. Pasien hanya bisa melihat bayangan orang yang lewat. 5 bulan SMRS kedua mata pasien tidak bisa melihat sama sekali (pandangan gelap). Pasien juga mengeluhkan nyeri kepala hilang timbul yang dirasakan di seluruh bagian kepala. Nyeri dapat muncul tiba-tiba, saat istirahat ataupun aktivitas, nyeri tidak didahului faktor pencetus. Nyeri terasa seperti ditimpa beban berat, dan leher juga terasa berat, nyeri dirasakan sekitar 1-2 jam. Saat nyeri kepala pasien minum obat dari bidan Puskesmas ataupun obat warung.

2

dengan keluhan utama kedua mata tidak bisa melihat. Pasien juga mengeluhkan nyeri kepala yang 3 . usia 42 tahun. pasien tidak mengetahui berat badan yang hilang. • 1 minggu yang lalu pasien dibawa ke RS Tembilahan. S. Pandangan gelap sejak 5 bulan SMRS. sesak nafas tidak ada. •Riwayat penurunan berat badan secara drastis disangkal. • Riwayat hipertensi tidak ada. trauma kepala tidak ada.• Tangan kanan dan kiri pasien terus bergerak/gemetar kecuali saat tidur. demam tidak ada. kelemahan anggota gerak tidak ada. Riwayat Penyakit Keluarga • Tidak ada anggota keluarga dengan riwayat penyakit yang sama. •Riwayat DM tidak ada. •Riwayat infeksi di telinga. mual muntah tidak ada. Riwayat Penyakit Dahulu • Pasien belum pernah menderita keluhan seperti ini sebelumnya. •Riwayat terpapar radiasi tidak ada. •Riwayat memakai kontrasepsi. RESUME ANAMNESIS Ny. • Tidak ada riwayat tumor dalam keluarga. • BAB dan BAK pasien normal. gangguan keseimbangan tidak ada. gangguan pendengaran tidak ada. gangguan pengecap dan penciuman tidak ada. perubahan perilaku tidak ada. sejak ±13 bulan yang lalu. gangguan berbicara tidak ada. selama tahunan tapi pasien tidak ingat berapa lama. •Riwayat menderita tumor disangkal. •Riwayat trauma kepala tidak ada. dan berhenti sejak ±8 tahun yang lalu. penurunan berat badan (+) sejak sakit tapi tidak terlalu dratis. kejang tidak ada. namun keluhan tidak berkurang dan kemudian pasien dibawa ke RSUD AA Pekanbaru. hidung dan tenggorokan tidak ada. Tangan kanan dan kaki kanan pasien terus bergerak/bergetar tanpa disadari. batuk lama tidak ada. Pasien masih dalam keadaan sadar (tidak ada penurunan kesadaran).

teratur B. nyeri tidak didahului faktor pencetus.teratur. N.II (Opticus) Daya penglihatan Lapang pandang Pengenalan warna Kanan Visus 0 SDN Kiri Visus 0 SDN Keterangan Lesi N II 3.hilang timbul.70C Kesan gizi baik kiri : 110/80 mmHg kiri : 84x/mnt. PEMERIKSAAN A. N. nyeri kepala seperti ditimpa benda berat. N. irama teratur Respirasi : 18x/mnt. III. kanan : 84 x/mnt.III (Oculomotorius) Kanan Ptosis (-) Pupil Bentuk Bulat Ukuran 3 mm Gerak bola mata N Refleks pupil Kiri (-) Bulat 3 mm N Keterangan DBN 4 . STATUS NEUROLOGIK 1) KESADARAN 2) FUNGSI LUHUR 3) KAKU KUDUK 4) SARAF KRANIAL 1. I (Olfactorius ) Daya pembau Kanan N Kiri N Keterangan Dalam Batas Normal (DBN) : : : Komposmentis Normal (-) GCS : 15 (E4M6 V5) 2. tipe : torakoabdominal 36. KEADAAN UMUM Tekanan darah Denyut nadi Jantung Paru Suhu Keadaan Gizi : : : : : : kanan : 110/80mmHg. HR : 84 x/mnt. dirasakan pada seluruh bagian kepala.

IV (Trokhlearis) Gerak bola mata 5. N. V (Trigeminus) Motorik Sensibilitas Refleks kornea 6.Langsung Tidak langsung 4. IX (Glossofaringeus) Kanan Kiri Keterangan 5 . N. VI (Abduscens) Gerak bola mata Strabismus Deviasi 7. N. N. N. N. VII (Facialis) (+) (+) (+) (+) Kanan N Kiri N Keterangan DBN Kanan N N N Kiri N N N Keterangan DBN Kanan N (-) (-) Kiri N (-) (-) Keterangan DBN Kanan Tic Motorik • Kerutkan dahi • Menutup mata • Lipatan nasolabial • Sudut mulut • Meringis • Menggembungkan pipi • Menaikkan alis Daya perasa Tanda chvostek 8. VIII (Akustikus) Pendengaran (-) N N Dangkal N N N N N (-) Kiri (-) N N N N N N N N (-) Keterangan Parese N VII dekstra sentral Kanan Kiri Rhine + Rhine + Weber : Lateralisasi ke kanan Keterangan Tuli saraf sinistra 9.

X (Vagus) Arkus farings Dysfonia 11. N.Arkus farings Daya perasa Refleks muntah 10.involunter Ekstremitas bawah Kekuatan Distal Proksimal Tonus Trofi Ger. N. XI (Assesorius) Motorik Trofi N N + N N + DBN Kanan N (-) Kiri N (-) Keterangan DBN Kanan N Eutrofi Kiri N Eutrofi Keterangan DBN 12. SISTEM MOTORIK Kanan Ekstremitas atas Kekuatan Distal Proksimal Tonus Trofi Ger. XII (Hipoglossus) Motorik Trofi Tremor Disartri IV.involunter Badan Trofi Ger. Involunter Kiri Keterangan Kanan N N (-) (-) Kiri N N (-) (-) Keterangan DBN 4 4 Normal Eutrofi (+) 5 5 Normal Eutrofi (-) Hemiparese dekstra 4 4 Normal Eutrofi (+) Eutrofi (-) 5 5 Normal Eutrofi (-) Eutrofi (-) Hemiparese dekstra Tidak ada kelainan V. N. SISTEM SENSORIK 6 .

Valsava test : tidak terbatas : tidak terbatas : -/:7 d. REFLEKS Kanan Fisiologis Biseps Triseps KPR APR Patologis Babinski Chaddock Hoffman Tromer Reflek primitif : Palmomental Snout VII.Raba Nyeri Suhu Propioseptif Kanan (+) (+) (+) (+) Kiri (+) (+) (+) (+) Keterangan Tidak ada kelainan VI. SISTEM OTONOM Miksi Defekasi : Normal : Normal Kanan N N N N N Kiri N N N N N Keterangan (+) (+) (+) (+) (+) (-) (-) (-) (-) Kiri (+) (+) (+) (+) (+) (-) (-) (-) (-) Keterangan Refleks fisiologis DBN Refleks patologis Babinski + Refleks primitif tidak ada DBN IX. Kernig c. PEMERIKSAAN KHUSUS/LAIN a. Patrick e. FUNGSI KORDINASI Test telunjuk hidung Test tumit lutut Gait Tandem Romberg VIII. Laseque b. Kontrapatrick : -/- .

Leuko. Ht. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG •Pemeriksaan laboratorium darah rutin : Hb. RESUME PEMERIKSAAN Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Fungsi luhur : Composmentis : kanan : 110/80mmHg. DIAGNOSIS KERJA DIAGNOSIS KLINIS : Parese N VII + Anopsia + Cefalgia ec ? DIAGNOSIS TOPIK: Intrakranial pada daerah temporal DIAGNOSIS ETIOLOGIK : Space occupying lesion (SOL) tumor serebri DIAGNOSA BANDING : SOL sekunder : Brain metastase : normal : normal : normal : Refleks Babinski (+/+) E. Brudzinski : -/- X. Parese N VII sentral Motorik : 4 5 4 5 Kesan parese anggota gerak sebelah kanan Sensorik : N N N N Kesan tidak ada kelainan Koordinasi Otonom Refleks fisiologis Refleks patologis D.f. trombosit • Pemeriksaan laboratorium kimia darah dan elektrolit • Head CT Scan 8 . : Normal kiri : 110/80 mmHg Rangsang meningeal : (-) Saraf kranial: Lesi N II (Visus 0) dan N VIII.

3 mg/dl AST : 25 IU/L ALT : 13 IU/L Ureum : 38.F. HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG Kimia darah (tanggal 26 November 2011) Glukosa : 111 mg/dl Kolestrerol : 297 mg/dl HDLD : 39.5 mg/dl LDL-Chol : 243.72 mg/dl URIC : 4. fraktur (-) Tampak lesi hipodens pada temporal dekstra 9 .9 mg/dl TG-B : 67 mg/dl BUN : 18 mg/dl CR-S : 0.7 mg/dl Head CT-Scan (tanggal 24 November 2011) Hasil pemeriksaan CT Scan : • • Struktur tulang cranium baik.

Ranitidin 50 mg 2 x 1 amp IV b. PENATALAKSANAAN a.• • • • Massa issodens irregular parietal sinistra Pendesakan terhadap ventrikel lateral sinistra Ventrikel lateral dekstra normal Post kontras massa cerebri temporal parietal sinistra G. Dexametason 3 x 1 amp IV Inj. Umum Kontrol tanda vital Bed rest Pemberian nutrisi peroral sesuai kebutuhan kalori pasien IVFD RL 20 tpm Inj. Khusus FOLLOW UP PASIEN 26 November 2011 S : Kedua mata tidak bisa melihat 10 .

70C 4 5 4 5 Nadi : 80x/menit Saraf cranial Motorik Sensorik Refleks A : P : SOL IVFD RL 20 tpm Terapi diteruskan.1 TUMOR OTAK 2. Parese N VII sentral : : N N N N : Fisiologis : normal Patologis : Babinski +/+ PEMBAHASAN 2. konsul ke bedah saraf : Lesi N II (Visus 0) dan N VIII.1.1 Pendahuluan 11 .O : Kesadaran Fungsi luhur Vital sign : composmentis : baik : TD RR T GCS 15 E4 M6 V5 : 130/80 mmHg : 21x/menit : 36.

b. Sebagai perbandingan. tumor otak primer tersering diakibatkan oleh tumor padat dan menggambarkan 22% dari seluruh neoplasma pada masa anak-anak. multiforme kebanyakan ditemukan dilobus parietal.2 Epidemiologi Saat ini. otak dan yang melapisinya terkena neoplasma dan kadang-kadang merupakan perjalanan penyakitnya. Sejumlah kasus kematian pada penyakit intrakranial selain tumor otak adalah akibat stroke. Pada perspektif lain. yaitu tumor yang berasal dari jaringan otak sendiri yang cenderung berkembang ditempat-tempat tertentu. yaitu: 2 a. Dimana sejumlah pasien yang meninggal akibat tumor otak primer secara komparatif lebih kecil (sekitar 18. Seperti ependimoma yang berlokasi di dekat dinding ventrikel atau kanalis sentralis medulla spinalis. sedangkan tumor yang terletak pada posisi yang vital akan memberikan gejala yang muncul dengan cepat. 8% berlokasi di ruang intrakranial dan 2% di ruang kanalis spinalis. peringkat kedua adalah leukemia. pada anak-anak. oligodendroma di lobus frontalis dan spongioblastoma di korpus kalosum atau 12 . Gejala yang disebabkan tumor yang pertumbuhannya lambat akan memberikan gejala yang perlahan munculnya.000.000 dari tumor otak primer. Secara berlawanan. Neoplasma sistem saraf pusat umumnya menyebabkan suatu evaluasi progresif disfungsi neurologis.Tumor otak dalam pengertian umum berarti benjolan. 2. glioblastoma pons.000 kematian akibat kanker di Amerika Serikat.000 dan 15 per 100. Tumor primer. Tumor sekunder.1. setengah dari keganasan glioma) tetapi secara kasar 130.1 Sekitar 10% dari semua proses neoplasma di seluruh tubuh ditemukan pada susunan saraf dan selaputnya. terdapat 200. yaitu tumor yang berasal dari metastasis karsinoma yang berasal dari bagian tubuh lain. tiap tahun diperkirakan terdapat 540. Sekitar 25% pasien dengan kanker.000 kasus kanker payudara baru pertahun. dalam istilah radiologisnya disebut lesi desak ruang/ Space Occupying Lesion (SOL). di Amerika Serikat insiden tumor otak pertahun adalah 46 per 100.000 pasien lain meninggal akibat metastase. Yang paling sering ditemukan adalah metastasis karsinoma bronkus dan prostat pada pria serta karsinoma mammae pada wanita. Proses neoplasma di susunan saraf mencakup dua tipe.

Tumor Kelenjar Pineal 6.1. yaitu gejala umum. Tumor Jaringan Mesenkim 3.4 Gejala Klinis Gejala klinis tumor intrakranial dibagi atas 3 kategori.Oligodendroglioma Meningioma Pituitary adenoma Neurinoma Karsinoma metastasis Kraniofaringioma. limfoma Total 2. Tumor Medula Spinalis 7.Ependimoma . epidermoid. Tumor Otak Metastatik 2. a. Tumor dari cacat perkembangan 5. Tumor Jaringan Otak 2. kordoma.1.Glioblastoma multiforme .Astrositoma . gejala lokal dan gejala lokal yang tidak sesuai dengan lokasi tumor. teratoma Angioma Sarkoma Tak dapat diklasifikasikan (terutama glioma) Miscellaneous (Pinealoma.3 Klasifikasi Berdasarkan kebanyakan tumor patologi anatomi. Tumor Selaput Otak 4. dermoid. Gejala Klinik Umum 20 10 6 4 5 15 7 7 6 4 4 4 5 3 100 Persentase total 13 .Tabel 1 Neoplasma intrakranial dan Penyakit-penyakit paraneoplastik2 Tumor Glioma . tumor sistem saraf pusat dibagi:1 1.Meduloblastoma . granuloma.

Tumor pada lobus temporal depan dan frontal dapat berkembang menjadi tumor dengan ukuran yang sangat besar tanpa menyebabkan defisit neurologis dan pada mulanya hanya memberikan gejalagejala yang umum.2  Muntah Muntah ini juga sering timbul pada pagi hari dan tidak berhubungan dengan makanan. nyeri kepala. Nyeri juga dapat disebabkan efek samping dari obat kemoterapi. lekas marah. Tumor ganas menyebabkan gejala yang lebih progresif daripada tumor jinak. Tumor pada fossa posterior atau pada lobus parietal dan oksipital lebih sering memberikan gejala fokal dahulu baru kemudian memberikan gejala umum. mulai dari disfungsi memori ringan dan kesulitan berkonsentrasi hinggga disorientasi.Gejala umum timbul akibat peningkatan tekanan intrakranial atau proses difus dari tumor tersebut. Ketidakmampuan pelaksanaan tugas sehari-hari. yaitu perubahan status mental.2 Fungsi kognitif merupakan keluhan yang sering disampaikan oleh pasien kanker dengan berbagai bentuk. Tumor di supratentorial menyebabkan nyeri kepala pada sisi tumor. tumpul atau tajam dan juga intermiten. mengejan. di frontal orbita.2 Awalnya nyeri dapat ringan. Keadaan ini lebih sering dijumpai pada tumor di fossa posterior. temporal atau parietal. memiringkan kepala atau aktifitas fisik. atau letargi.2 14 . kemudian bertambah berat. 2  Perubahan status mental Gejala dini dapat samar. Terdapat 4 gejala klinis umum yang berkaitan dengan tumor otak. muntah. Nyeri ini lebih hebat pada pagi hari dan dapat diperberat oleh batuk. tumpul dan episodik. halusinasi. Sifat nyeri kepalanya berdenyut-denyut atau rasa penuh di kepala seolah-olah mau meledak. gangguan konsentrasi. bahkan psikosis.3 Lokasi nyeri yang unilateral dapat sesuai dengan lokasi tumornya sendri. Dimana muntah ini khas yaitu proyektil dan tidak didahului oleh mual. dan kejang. inersia mental.3  Nyeri kepala Nyeri kepala merupakan gejala dini tumor intrakranial pada kira-kira 20% penderita. emosi yang labil. Tumor di fossa kranii posterior biasanya menyebabkan nyeri kepala retroaurikuler ipsilateral.

semuanya dapat menyebabkan disfungsi fokal yang reversibel.3. tetapi edema papil yang berkelanjutan dapat menyebabkan perluasan bintik buta. sebab dengan teknik neuroimaging tumor dapat segera dideteksi. Tanda lokal tumor frontal antara lain disartri.2 Kejang biasanya paroxysmal. kemudian dapat menjadi kejang umum yang terutama merupakan manifestasi dari glioblastoma multiforme. kelumpuhan kontralateral.4 15 . Kejang Kejang fokal merupakan manifestasi lain yang biasa ditemukan pada 1415% penderita tumor otak. enzim proteolitik dan sitokin). Anosmia unilateral menunjukkan adanya tumor bulbus olfaktorius.3 Edema Papil Gejala umum yang tidak berlangsung lama pada tumor otak. Edema papil pada awalnya tidak menimbulkan gejala hilangnya kemampuan untuk melihat. Meningioma kompleks atau parasagital dan glioma frontal khusus berkaitan dengan kejang. dan afasia jika hemisfer dominant dipengaruhi. Juga akibat pelepasan faktor-faktor ke daerah sekitar tumor (contohnya : peroksidase. sedangkan kejang umum terjadi jika tumor luas pada kedua hemisfer serebri. infark atau edema. ion hydrogen. Kejang parsial akibat penekanan area fokal pada otak dan menifestasi pada lokal ekstrimitas tersebut.3 20-50% pasien tumor otak menunjukan gejala kejang.4 • Tumor Lobus Frontal Tumor lobus frontal menyebabkan terjadinya kejang umum yang diikuti paralisis pos-iktal. Kejang berkaitan tumor otak ini awalnya berupa kejang fokal (menandakan adanya kerusakan fokal serebri) seperti pada meningioma. akibat defek neurologis pada korteks serebri. Kejang yang timbul pertama kali pada usia dewasa mengindikasikan adanya tumor di otak. penyempitan lapangan pandang perifer dan menyebabkan penglihatan kabur yang tidak menetap. 3.4  b. Gejala Klinik Lokal Manifestasi lokal terjadi pada tumor yang menyebabkan destruksi parenkim.

4 • Tumor pada Ventrikel Tiga dan Regio Pineal Tumor di dalam atau yang dekat dengan ventrikel tiga menghambat ventrikel atau aquaduktus dan menyebabkan hidrosepalus. 3. Adapun gejala yang lain diantaranya disfungsi traktus kortikospinal • kontralateral. warna atau pada bentuk geometri. muntah dan kadang-kadang pingsan. gangguan sensoris dan berkurangnya konsentrasi yang merupakan gejala utama tumor lobus parietal. Tumor otak yang menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial dapat menghasilkan false localizing signs atau 16 . 3. defek lapangan pandang. Perubahan posisi dapat meningkatkan tekanan ventrikel sehingga terjadi sakit kepala berat pada daerah frontal dan verteks. Kejang fokal lobus oksipital sering ditandai dengan persepsi kontralateral episodic terhadap cahaya senter. Kompresi pada ventrikel empat menyebabkan hidrosepalus obstruktif dan menimbulkan gejala-gejala umum. perubahan kepribadian. diabetes insipidus. 3. Hal ini juga menyebabkan gangguan ingatan. hemianopsia/ quadrianopsia inferior homonim kontralateral dan simple motor atau kejang sensoris. defisit lapangan pandang homonim. vertigo dan nistagmus mungkin menonjol. Pusing.4 c.4 • Tumor Serebellar Muntah berulang dan sakit kepala di bagian oksiput merupakan gejala yang sering ditemukan pada tumor serebellar. amenorea. ataksia dan kelemahan ekstremitas. galaktorea dan gangguan pengecapan dan pengaturan suhu. Tumor hemisfer dominan menyebabkan afasia.4 Tumor Lobus Oksipital Tumor lobus oksipital sering menyebabkan hemianopsia homonym yang kongruen. 3. disfungsi memori dan kejang parsial kompleks. 3.4 • Tumor Batang Otak Terutama ditandai oleh disfungsi saraf kranialis.• Tumor Lobus Temporalis Gejala tumor lobus temporalis antara lain disfungsi traktus kortikospinal kontralateral. Gejala Lokal yang Menyesatkan (False Localizing Signs) Lesi pada salah satu kompartemen otak dapat menginduksi pergeseran dan kompresi di bagian otak yang jauh dari lesi primer. nistagmus.

tumor di dasar tulang tengkorak dan di fossa posterior. saraf dapat tertarik atau tertekan. Saraf yang sering terkena tidak langsung adalah saraf III. Karena desakan tumor. dapat ditemukan pada tumor yang terdapat di dalam salah satu hemisferium saja. 17 . c. MRI lebih khusus untuk mendeteksi tumor dengan ukuran kecil. gejala dan tanda status intrakranial ini akan lebih aman bila intervensi bedah saraf akan diambil. 2.6 Penatalaksanaan Penatalaksanaan pasien dengan SOL meliputi: 2. IV. umumnya tersedia di rumah sakit dan bila menggunakan kontras dapat mendeteksi mayoritas tumor otak.  Edema serebri Jika pasien dengan peningkatan tekanan intrakranial dan gambaran radiologi memperlihatkan adanya edema serebri.3 2. Selain itu MRI juga dapat membantu ahli bedah untuk merencanakan pembedahan karena memperlihatkan tumor pada sejumlah bidang. b. CT-scan lebih murah dibanding MRI. Gangguan mental d. dan IV.5 Suatu tumor intrakranial dapat menimbulkan manifestasi yang tidak sesuai dengan fungsi area yang ditempatinya.Gangguan endokrin dapat juga timbul proses desak ruang di daerah hipofise. Tanda tersebut adalah: 6 a. Kelumpuhan saraf otak.5 Pemeriksaan Penunjang Tumor otak dapat dideteksi dengan CT-scan atau MRI. Rasa tidak menyenangkan pada pasien akan dikurangi dan kadang-kadang juga berbahaya.1. Desakan itu tidak harus langsung terhadap saraf otak.1.gejala lokal yang menyesatkan. Refleks patologis yang positif pada kedua sisi. maka dexametason dapat digunakan dengan keuntungan yang signifikan. Simptomatik  Antikonvulsi Mengontrol epilepsi merupakan bagian penting dari tatalaksana pasien dengan tumor otak. Pilihannya tergantung ketersediaan fasilitas pada masing-masing rumah sakit.3 a.

Kadang-kadang astrocytomas menyebar di 18 . yang dapat membuat tumor ini sangat sulit untuk diangkat dengan operasi. angka ketahanan hidup 5 tahun berkisar 50-60% dan angka ketahanan hidup 10 tahun berkisar 30-40%.2 GLIOMA Glioma adalah istilah umum untuk sekelompok tumor yang mulai dalam sel glial. Terkadang.b. Statistiknya sekitar 3 dari 10 tumor otak. Etiologik (pembedahan)  Complete removal Meningioma dan tumor-tumor kelenjar tidak mempan dengan terapi medis. sekitar 8 dari 10 adalah glioma. dengan diagnosis dini dan juga penanganan yang tepat melalui pembedahan dilanjutkan dengan radioterapi. operasi berlangsung lama dan sulit jika tumor jinak tersebut relatif sulit dijangkau. neuroma akustik dan beberapa metastase padat di berbagai regio otak dapat diangkat total. 2. Bila dihitung hanya tumor ganas.1 Astrocytomas Kebanyakan tumor yang timbul di dalam otak itu sendiri bermula dalam sel glial yang disebut astrosit.  Partial removal Glioma di lobus frontal.1. Sekitar 4 dari 10 kasus tumor otak adalah glioma. Terkadang tumor jinak tidak dapat diangkat secara keseluruhan karena posisi tumor atau psikis pasien. 7 Kebanyakan astrocytomas dapat menyebar luas ke seluruh otak dan menyatu dengan jaringan otak normal.7 Prognosis Prognosis tergantung jenis tumor spesifik. Berdasarkan data di negaranegara maju. oligodendrogliomas. oksipital dan temporal dapat diangkat dengan operasi radical debulking. dan ependymomas. Tumor ini disebut astrocytomas. Sejumlah tumor dapat dianggap glioma.4 2.7 2. astrocytomas.2. termasuk glioblastoma.

Sangat jarang bagi astrocytomas untuk menyebarkan ke luar otak atau sumsum tulang belakang. 7 Astrocytomas sering diklasifikasikan sebagai kelas kelas rendah.sepanjang jalur sistem saraf utama. Hanya sekitar 3% dari tumor otak berjenis oligodendrogliomas. Ependymomas dapat menyebar di sepanjang jalur CSF tetapi tidak menyebar ke luar otak atau sumsum tulang belakang. ependymomas biasanya tidak tumbuh menyusup ke jaringan otak normal.2. Ependymomas syaraf tulang belakang memiliki peluang terbesar untuk disembuhkan melalui operasi pembedahan. Akibatnya. Tipe yang sangat agresif dari tumor ini dikenal sebagai oligodendrogliomas anaplastik. atau kelas tinggi. Hanya sekitar 2% dari tumor otak berjenis ependymomas. Seperti astrocytomas. Tumor ini membuat sekitar dua-pertiga dari astrocytomas dan merupakan tipe paling umum dari tumor ganas orang dewasa. beberapa (tetapi tidak semua) ependymomas dapat benar-benar diangkat dan disembuhkan dengan operasi. sebagian besar dapat menyusup ke jaringan otak di dekatnya dan tidak bisa sepenuhnya diangkat oleh operasi. Bentuk paling agresif-nya dikenal sebagai ependymomas anaplastik dan biasanya tidak dapat disembuhkan dengan operasi. yang menyebabkan kondisi yang disebut hidrosefalus. menengah.2 Oligodendrogliomas Tumor ini mulai pada sel-sel otak yang disebut oligodendrocytes. 7 Tidak seperti astrocytomas dan oligodendrogliomas. yang garis ventrikel. 7 2.2. 7 2. • • • Astrocytomas kelas rendah: tipe yang paling lambat berkembang Astrocytomas anaplastik: tumbuh pada tingkat moderat Astrocytoma kelas tertinggi (atau glioblastoma): paling cepat berkembang. Oligodendrogliomas kadang tersebar di sepanjang jalur system saraf pusat tetapi jarang menyebar di luar otak atau sumsum tulang belakang. Ependymomas dapat menghalangi arus keluar system saraf pusat dari ventrikel. berdasarkan bagaimana sel lihat di bawah mikroskop. 7 19 .3 Ependymomas Tumor ini berasal dari sel ependymal.

Tumor otak yang tergolong jinak ini secara histopatologis berasal dari sel pembungkus arakhnoid (arakhnoid cap cells) yang mengalami granulasi dan perubahan bentuk. a. Patofisiologi terjadinya meningioma sampai saat ini masih belum jelas. Penatalaksanaannya pun berbeda-beda di tiap derajatnya . Meningioma dapat timbul pada tempat manapun di bagian otak maupun medulla spinalis. namun paling banyak pada usia pertengahan.10 2. 8 Sphenoid wings meningioma merupakan 15-20 % kasus dari semua kasus meningioma. termasuk meningioma.3.8 : 1).3. meningioma banyak ditemukan pada wanita dibanding pria (1.9 Meningioma juga bisa timbul di sepanjang kanalis spinalis. Meningioma intrakranial merupakan 15–20% dari semua tumor primer di regio ini. Meningioma pada bayi lebih banyak pada pria.3. Kaskade eikosanoid diduga memainkan peranan dalam pertumbuhan tumor dan perkembangan edema peritumoral.2 Epidemiologi Meningioma dapat dijumpai pada semua umur.3. Di rongga kepala.8.2. dan frekuensinya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan tumor lain yang tumbuh di regio ini.8 2. Tumor diklasifikasikan melalui tipe sel dan derajat pada hasil biopsi yang dilihat di bawah mikroskop.8 2. yang merupakan selaput pelindung yang melindungi otak dan medulla spinalis. masih banyak hal yang belum diketahui dari meningioma.1 Definisi Meningioma adalah tumor pada meningen.MENINGIOMA 2.4 : 1 hingga 2.4 Klasifikasi8 WHO mengembangkan sistem klasifikasi untuk beberapa tumor yang telah diketahui. tetapi umumnya terjadi di hemisphere otak di semua lobusnya. Grade I 20 .3 Etiopatofisiologi Seperti banyak kasus neoplasma lainnya.3.

penatalaksanaan bedah dapat direkomendasikan. mungkin pertumbuhannya sangat baik jika diobservasi dengan MRI secara periodik. Meningioma juga diklasifikasikan ke dalam subtipe berdasarkan lokasi dari tumor: 8 1. Kebanyakan meningioma grade I diterapi dengan tindakan bedah dan observasi secara berterusan 21 . Jika tumor semakin berkembang. Pembedahan adalah penatalaksanaan yang pertama untuk grade III diikuti dengan terapi radiasi. Meningioma fossa posterior (10%). Falx cerebri mengandung pembuluh darah besar. maka pada akhirnya dapat menimbulkan gejala. Meningioma falx dan parasagital (25% dari kasus meningioma). Tipe ini terjadi di sepanjang nervus yang menghubungkan otak dengan hidung.Meningioma tumbuh dengan lambat. dapat dilakukan kemoterapi. Tipe ini berkembang di permukaan bawah bagian belakang otak. b. ini. 4. Tipe meningioma ini terdapat pada permukaan atas otak. Banyak terjadi pada wanita. Grade II Meningioma grade II disebut juga meningioma atypical. Jenis ini tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan grade I dan mempunyai angka kekambuhan yang lebih tinggi juga. Meningioma Convexitas (20%). Grade III Meningioma berkembang dengan sangat agresif dan disebut meningioma malignant atau meningioma anaplastik. Parasagital meningioma terdapat di sekitar falx 2. Pembedahan adalah penatalaksanaan awal pada tipe c. Tumor tidak menimbulkan gejala. Meningioma Sphenoid (20%) Daerah Sphenoidalis berlokasi pada daerah belakang mata. kemudian . Falx adalah selaput yang terletak antara dua sisi otak yang memisahkan hemisfer kiri dan kanan. 3. Meningioma malignant terhitung kurang dari 1 % dari seluruh kejadian meningioma. 5. Meningioma Olfactorius (10%). Jika terjadi rekurensi tumor. Meningioma grade II biasanya membutuhkan terapi radiasi setelah pembedahan .

bersin atau mengejan (misalnya waktu buang air besar atau koitus). 22 . bisa berupa nyeri kepala. sebuah kotak pada dasar tengkorak dimana terdapat kelenjar pituitary. Meningioma spinalis dapat menyebabkan gejala seperti nyeri radikuler di sekeliling dinding dada. gangguan kencing. kejang. tapi bisa juga menyeluruh.6.3. Sakit kepala Nyeri kepala biasanya terlokalisir. Serangan semakin lama semakin sering dengan interval semakin pendek. 8. Spinal meningioma (kurang dari 10%). Gejala umumnya seperti: 8 a. 7. gangguan mental. Edema papil dan defisit neurologis lain biasanya ditemukan pada stadium yang lebih lanjut. gangguan visual dan sebagainya. Meningioma suprasellar (10%). datang pergi (rekuren) dengan interval tak teratur beberapa menit sampai beberapa jam. Meningioma Intraorbital (kurang dari 10%). Akan selalu terjadi pada medulla spinalis setingkat thorax dan dapat menekan sumsum tulang belakang. Meningioma Intraventrikular (2%). 9. Terjadi pada ruangan yang berisi cairan di seluruh bagian otak. dan nyeri tungkai. Nyeri kepala ini bertambah hebat pada waktu penderita batuk. dan berkurang bila duduk. Biasanya muncul pada pagi hari setelah bangun tidur dan berlangsung beberapa waktu. muntah. Banyak terjadi pada wanita yang berumur antara 40 dan 70 tahun. 2. Gejala spesifik terjadi akibat destruksi dan kompresi jaringan saraf.5 Diagnosis Manifestasi klinik Gejala umum yang terjadi disebabkan karena gangguan fungsi serebral akibat edema otak dan tekanan intrakranial yang meningkat. Terjadi di bagian atas sella tursica. Nyeri kepala juga bertambah berat waktu posisi berbaring. penurunan kesadaran. Tipe ini berkembang pia mater atau di sekitar mata cavum orbita.

Untuk mengetahui gambaran edema papil seharusnya kita sudah mengetahui gambaran papil normal terlebih dahulu. Meningioma fossa posterior nyeri tungkai kejang. Kejang Ini terjadi bila tumor berada di hemisfer serebri serta merangsang korteks motorik. Mual muntah Lebih jarang dibanding dengan nyeri kepala. kebutaan. pembuluh darah melebar atau kadang-kadang tampak terputus-putus. defisit neurologis fokal. Muntah biasanya proyektil (menyemprot) tanpa didahului rasa mual. warna papil berubah menjadi lebih kemerahan dan pucat. pembuluh darah atau serabut saraf.Penyebab nyeri kepala ini diduga akibat tarikan (traksi) pada pain sensitive structure seperti dura. 8 c. Meningioma Sphenoid kurangnya sensibilitas wajah. Meningioma Olfaktorius kurangnya kepekaan penciuman. Gambarannya berupa kaburnya batas papil. dan jarang terjadi tanpa disertai nyeri kepala. perubahan status Meningioma Convexitas 23 . masalah visus. e. gangguan lapangan pandang. Kejang yang sifatnya lokal sukar dibedakan dengan kejang akibat lesi otak lainnya.9 Gejala dapat pula spesifik terhadap lokasi tumor: 9 a. Meningioma falx dan parasagital b. dan penglihatan ganda d. Penyebab edema papil ini masih diperdebatkan. Edema Papil Keadaan ini bisa terlihat dengan pemeriksaan funduskopi menggunakan oftalmoskop. 8 b. tapi diduga akibat penekanan terhadap vena sentralis retinae. Tapi bila kejang terjadi pertama kali pada usia dekade III dari kehidupan harus diwaspadai kemungkinan adanya tumor otak. 8 d. mental c. sakit kepala. sedang kejang yang sifatnya umum/general sukar dibedakan dengan kejang karena epilepsi. 8.

pusing 9 g. Meningioma Intraventrikular 2.8. Angiografi penting untuk menentukan suplai pembuluh darah ke meningiomanya dan untuk menilai efek di sekitar struktur arteri dan venanya. Dahulu angiografi. nyeri dada dan lengan penurunan visus.- nyeri tajam pada wajah.9 1. berkurangnya pendengaran. Spinal meningioma h. Meningioma Intraorbital i. Kalsifikasi terdapat pada 20-25% kasus dapat bersifat fokal maupun difus. sehingga memudahkan ahli bedah saraf untuk dapat menentukan teknik operasi atau menentukan tumor tersebut tidak dapat dioperasi mengingat risiko/komplikasi yang akan timbul. Pembesaran pembuluh darah mening menggambarkan dilatasi arteri meningea yang mensuplai darah ke tumor.6. Meningioma suprasellar pembengkakan diskus optikus. terutama untuk tumor-tumor di daerah fossa posterior.9 2. Foto polos Hiperostosis adalah salah satu gambaran mayor dari meningioma pada foto polos. CT scan Meningioma mempunyai gambaran yang agak khas tetapi tidak cukup spesifik apabila diagnosis tanpa dilengkapi pemeriksaan angiografi dan eksplorasi bedah.Pemeriksaan Penunjang Dalam mendiagnosis suatu tumor otak. karena CT Scan sukar mendiagnosis tumor otak akibat banyaknya artefak. masalah visus nyeri punggung.3. selain klinis. Dengan MRI suatu tumor dapat dengan jelas tervisualisasi melalui di potongan 3 dimensi. kemudian CT Scan dan terakhir MRI. gangguan menelan. penonjolan bola mata perubahan mental. sakit kepala. peranan radiologi sangat besar. dan spasme otot-otot wajah. sekalipun dengan kontras. kalsifikasi dan lesi litik pada tulang tengkorak. 9 24 . Di indikasikan untuk tumor pada mening. f. mati rasa. gangguan gaya berjalan. Tampak erosi tulang dan dekstruksi sinus sphenoidales.

kistik. ada perdarahan. 8. Intensitas jaringan tersebut biasanya berbeda pada gambar Tl dan T2. bisa disertai gambaran hypodense semilunar collar atau berbentuk cincin. 8.7. Kadang-kadang meningioma memperlihatkan komponen hipodens yang prominen apabila disertai dengan komponen kistik. FSH dan LH penting karena salah satu faktor predisposisi meningioma adalah ketiga hormon diatas. Dengan melihatgambar Tl maupun T2 dapat ditentukan karakteristik suatu tumor apakah tumor tersebut padat. tanda yang relatif spesifik karena bisa tampak juga pada glioma dan metastasis. Terapi 25 . degenerasi lipomatous atau rongga-rongga. iso dan hiper intensitas terlihat jelas pada T1 dan T2. Duramater yang berlanjut ke lesinya biasanya tebal. Intensitas jaringan tersebut mulai dari hipo. hampir semua lesi-lesi isodens ini menyebabkan efek masa yang bermakna. kecuali lemak. Magnetic Resonance Imaging (MRI) Melalui MRI. Meningioma sering menunjukkan enhancement heterogen yang kompleks. Jika pada pasien terdapat ketiga kelainan diatas make diperlakan penangan khusus untuk patologis yang menyertainya.9 Di sekitar lesi yang menunjukkan enhancement. 9 Sepertiga dari meningioma memperlihatkan gambaran isodens yang biasanya dapat dilihat berbeda dari jaringan parenkim di sekitarnya dan. Bagian yang hiperdens dapat memperlihatkan gambaran psammomatous calcifications. bentuknya reguler dan berbatas tegas. nekrosis maupun lemak dan lain-lain. 9 3. darah segar.9 CT dengan kontras Semua meningioma memperlihatkan enhancement kontras yang nyata kecuali lesi-lesi dengan perkapuran. 2.9 Selain pemeriksaan radiologi.CT tanpa kontras Kebanyakan meningioma memperlihatkan lesi hiperdens yang homogen atau berbintik-bintik. kalsifikasi. maupun peredaran darah yang cepat. nekrosis. kalsifikasi. Pola enhancement biasanya homogen tajam (intense) dan berbatas tegas. pemeriksaan endrokrinologi seperti TSH.2. suatu jaringan menunjukkan sifat-sifat karakteristik tertentu pada gambar Tl dan T2 maupun proton density.

8 Prognosis8.9 Pada umumnya prognosa meningioma adalah baik. Lebih jauh lagi. Diperkirakan angka kematian post operasi selama lima tahun (1942–1946) adalah 7. Pada penyelidikan pengarang-pengarang barat lebih dari 10% meningioma akan mengalami keganasan dan kekambuhannya tinggi. riwayat operasi sebelumnya dan atau radioterapi. Angka kematian (mortalitas) meningioma sebelum operasi jarang dilaporkan.Penatalaksanaan meningioma tergantung dari lokasi dan ukuran tumor itu sendiri. b) Dasar Diagnosis Topik 26 .5%. ukuran dan konsistensi. pola. dan rekurensi tumor. dilaporkan kelangsungan hidup rate lima tahun adalah 75%. cefalgia dan parese nevus VII sentral dekstra yang disebabkan oleh tumor di daerah temporal. dan pada kasus rekurensi. karena pengangkatan tumor yang sempurna akan memberikan penyembuhan yang permanen. Terapi meningioma masih menempatkan reseksi operatif sebagai pilihan pertama. DASAR DIAGNOSIS a) Dasar Diagnosis Klinis Pada pasien didapatkan gambaran klinis adanya sindroma peningkatan tekanan intra kranial yang mana pada kasus ini dijumpai berupa cephalgia. dan dijumpai adanya anopsia. Pada anak-anak lebih agresif. Sebabsebab kematian menurut laporan-laporan yang terdahulu yaitu perdarahan dan edema otak. rencana operasi dan tujuannya berubah berdasarkan faktor resiko. serta parese nervus VII sentral maka diagnosis yang mungkin adalah anopsia.8 2. Tindakan operasi tidak hanya mengangkat seluruh tumor tetapi juga termasuk dura. perubahan menjadi keganasan lebih besar dan tumor dapat menjadi sangat besar. Beberapa faktor yang mempengaruhi operasi removal massa tumor ini antara lain lokasi tumor. dan tulang untuk menurunkan kejadian rekurensi.2. lesi nervus II dan lesi nervus VIII sinistra. Pada orang dewasa kelansungan hidupnya relatif lebih tinggi dibandingkan pada anak-anak. dengan kemajuan teknik dan pengalaman operasi para ahli bedah maka angka kematian post operasi makin kecil.9% dan (1957–1966) adalah 8. jaringan lunak. vaskularisasi dan pengaruh terhadap sel saraf.

karena pada CT scan tanpa kontrast tampak lesi hipodens dan isodens.Dari hasil anamnesis didapatkan kecurigaan adanya SOL (Space Occupying Lession) ini ditandai dengan adanya peningkatan tekanan intra cranial yaitu cefalgia. Ini menyingkirkan kemungkinan adanya osteoma. Hal ini mengarah pada gejala dari space occupaying lession (SOL) yang disebabkan oleh tumor otak.Pemeriksaan darah rutin dan kimia darah: untuk mengevaluasi kondisi umum pasien. Hal ini termasuk gejala dari meningioma. .CT Scan contrast karena memberikan gambaran yang khas pada meningioma dimana dapat dilihat adanya enhenchement yang heterogen. giant cell bone cyst. Pada CT scan tanpa kontras tampak lesi hipodens pada daerah temporalis dan massa isodens pada daerah parietal. d) Dasar Diagnosis Banding Diagnosis banding adalah metastasis tumor. e) Dasar Diagnosis Akhir Diagnosis akhir adalah meningioma karena pada pasien ini didapatkan gejala berupa sakit kepala dan perubahan visus. Pada CT scan dengan kontras tampak massa heterogen yang kompleks dimana terdapat lesi yang hiperdens. Selain itu dari segi epidemiologi. meningioma merupakan penyebab kedua tersering dari tumor intrakranial. Tidak adanya gambaran hiperdens tidak menyingkirkan diagnosis meningioma karena lesi hiperdens hanya akan terlihat jika terjadi kalsifikasi. Meningioma lebih banyak terjadi pada wanita dan usia rata rata adalah 40-60 tahun dan hal ini sesuai dengan keadaan pasien. Pada CT scan dengan kontras tampak massa heterogen yang kompleks dimana terdapat lesi yang hiperdens. c) Dasar Diagnosis Etiologik Pada pasien ini didapatkan penurunan visus dan nyeri kepala yang bersifat kronik progresif. Diagnosa banding yang belum tersingkir adalah metastase tumor yakni tumor yang memperlihatkan lesi hipodens dan isodens. 27 . Dasar Usulan Pemeriksaan Penunjang . dan hemangioma yang pada CT scan tanpa kontras menampakkan lesi hiperdens.

com. 2005. Wilkinson I. 2006 2.blogdetik. Tumor Otak. Intracranial Neoplasms and Paraneoplastic Disorders in Adams and Victor’s Principles of Neurology. 3. 4th edition. Wahjoepramono EJ. Ropper AH.com/2008/07/19/ Diakses tanggal 26 November 2011 5. Tumor Otak. Ilmubedah.-Pemeriksaan FSH.info. http://syaiful. 6. Kleinberg LR. USA: Blackwell Publishing. 8th edition. New York: Demos Medical. 546-91. otak. 40-54.cancerhelps.html Diakses tanggal 26 November 2011 28 .LH dan TSH darah penting untuk mengetahui adanya faktor resiko pada pasien sekaligus menjadi penatalaksanaan yang penting nantinya jika terbukti positif untuk mencegah berkembangnya meningioma tersebut. Lennox G. Cancerhelps. USA: Mc Graw Hill. Brain tumor in Essential neurology.html Diakses tanggal 26 November 2011 otak. Jakarta: FK Pelita Harapan.info/tumor-otakhttp://www. 7. Tumor Tumor Otak. Syaiful. Daftar Pustaka 1. Brown RH.com/tumor20110208. 4.Brain Metastasis A multidisiplinary Approach. 2005. http://ilmubedah.

usulib. www. Haddad S. Sphenoid wing meningioma.emedicine.org Diakses tanggal 26 November 2011 10.medscape.com Diakses tanggal 26 November 2011 9.8. www. Maradona FY.medscape.emedicine. Zachariah SB. www.com Diakses tanggal 26 November 2011 29 . Meningioma. Meningioma.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.