TUGAS

RESUME “MEMAHAMI SOSOLOGI”

MATA KULIAH PENGANTAR SOSIOLOGI

Oleh:
Sonny Yanuar R 105120400111038 Maya Fahmia 105120400111042 Briansyah 105120400111044 Adha Panca 105120400111040 Kelas B.HI.1 Dosen Pembimbing Prof. Dr. H. Sudarsono

BAB I

Sejarah dan Konsep Sosiologi
A. Sejarah:
• Revolusi Industri & Revolusi Politik • Tumbuhnya kapitalisme • Perubahan sosial Tokoh-tokoh Sosiologi: 1. Auguste Comte/ Bapak Sosiologi/ Perintis Positivisme (17981857) – Perancis • Obyek sosiologi berupa fakta dan sosiologi didasarkan pada:  pengamatan,  eksperimen,  perbandingan,  metode historis secara sistematis • Hukum kemajuan manusia/ hukum 3 jenjang: 1) Teologi ⇒ mengacu pada hal-hal adikodrati 2) Metafisika ⇒ mengacu pada kekuatan metafisik / hal-hal abstrak 3) Positif ⇒ mengacu pada deskripsi ilmiah • Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan. Membagi sosiologi menjadi 2: 1) Social statics ⇒ mewakili stabilitas tatanan sosial dan kemantapan, dan dinamika sosial 2) Social dynamics ⇒ mewakili kemajuan dan perubahan sosial 2. Karl Marx (1818-1883) • Konsep kelas: Kaum proletar akan memberontak kaum borjuis dan melahirkan masyarakat tanpa kelas Borjuis ⇒ menguasai alat-alat produksi Proletar ⇒ rakyat jelata 3. Inggris • Obyek pokok sosiologi: 1) Keluarga 2) Politik 3) Herbert Spencer (1820-1903) – • Lahirnya ilmu pengetahuan • Urbansasi & Perubahan agama

b) c)

Agama

4) industri

Pengendalian sosial dan

• Teori “evolusi sosial”: masyarakat mengalami evolusi dari primitif ke industri W.G. Summer (1840-1910) • Konsep Folkways → kebiasaan sosial yang timbul secara tak sadar dalam masyarakat yang menjadi bagian tradisi (ex: upacara, sopan santun, kesusilaan) 5. Emile Durkheim (1858-1917) Sosiologi berdasar pokok bahasan: Umum ⇒ kepribadian individu dan kelompok Agama Hukum dan moral ⇒ organisasi politik, sosial, perkawinan, keluarga Ekonomi ⇒ kelompok kerja Masyarakat perkotaan dan pedesaan Estetika • 2 tipe solidaritas: Mekanik Homogen/ kepentingan sama/ masyarakat segmental tidak ada ketergantungan/ dapat memenuhi kebutuhanya sendiri → didasarkan pada kepercayaan & kesetiakawanan Organik Terdiri atas bagian2 yang saling ketergantungan Didasarkan pada hukum dan akal • • Obyek: fakta sosial Fakta sosial: cara bertindak yang dapat melakukan pemaksaaan dari luar pada individu (ex: hukum, moral, kepercayaan, adat, kaidah ekonomi) 4.

o o

Max Weber (1864-1920) – Jerman • Sosiologi ⇒ ilmu yang mempelajari tindakan sosial • Tingakh laku individu dalam masyarakat dibagi dalam 4 tipe ideal (aksi sosial): 1. aksi bertujuan → untuk mendapat hasil yang efisien 2. aksi berisikan nilai yang telah ditentukan → untuk merealisasikan & mencapai tujuan 3. aksi emosional → menyangkut perasaan 4. aksi yang didasarkan pada adat kebiasaan / tradisi ada 4 tipe ideal hukum: a. irasional dan materiil → pembentuk undang-undang dan hakim mendasarkan keputusan pada nilai emosional

6.

b. irasional dan formal → pembentuk undang-undang dan hakim berpedoman pada ramalan c. rasional dan materiil → pembentuk undang-undang dan hakim berpedoman pada suatu kitab suci, kebijakan penguasa / ideologi d. rasional dan formal → hukum dibentuk atas dasar konsep abstrak dari ilmu hukum

7.

George Herbert Mead • Manusia yang baru lahir belum punya diri, diri manusia berkembang secara bertahap melalui interaksi dengan masyarakat lain

Tokoh-tokoh Sosiologi Indonesia: Selo Soemardjan, Soelaeman Soemardi, Hasan Shadily

B. Konsep
Berbagai definisi Sosiologi:

a)

Petirim A Sorokin → Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari: 1. hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala-gejala sosial ex: gejala ekonomi dengan agama, keluarga dengan moral

2. hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dan nonsosial 3. ciri umum semua gejala sosial b) McGee → Sosiologi sebagai: 1. studi tentang kelompok2 manusia dan pengaruhnya pada perilaku individu, 2. studi tentang tatanan dan perubahan sosial, 3. sebagai pencarian sebab-sebab sosial dari cara fenomena sosial yang mempengaruhi perilaku manusia c) Selo Soemardjan & Soelaeman Soemardi o Struktur sosial → seluruh jalinan unsur pokok sosial (norma sosial, lembaga sosial, kelompok sosial, lapisan sosial) o Proses sosial → pengaruh timbak balik antara segi2 kehidupan (ekonomi-politik, hukum-agama) d) jadi sosiologi ialah ilmu yang mengkaji interaksi manusia dengan manusia lain dalam kelompok (keluarga, kelas sosial/ masyarakat) dan produk-produk yang timbul dari interaksi tersebut (nilai, norma, adat)

BAB II Sosiologi Sebagai Ilmu Pengetahuan

A. Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan
Sosiologi disebut sebagi ilmu, karena memenuhi unsur ilmu pengetahuan, yakni: 1. bersifat empiris ⇒ berdasar observasi pada kenyataan dan akal sehat 2. bersifat teoritis ⇒ menteorikan pengetahuan dari observasi 3. bersifat komulatif ⇒ teori sosiologi dibentuk dari teori yang sudah ada 4. bersifat non-etis ⇒ aspek yang dipersoalkan bertujuan untuk menjelaskan fakta tersebut secara teoritis Hakekat sosiologi: 1. 2. 3. 4. merupakan ilmu sosial bersifat kategoris / bukan normatif merupakan ilmu murni merupakan ilmu yang abstrak 5. bertujuan untuk mendapat pola rumusan interaksi 6. merupakan ilmu pengetahuan empiris-rasional 7. merupakan ilmu pengetahuan yang umum

B. Manfaat sosiologi:
a. memberi pengetahuan tentang pola interaksi sosial dalam masyarakat → membantu mengenal diri kita b. dapat membantu mengontrol setiap tindakan dalam kehidupan bermasyarakat c. mampu mengkaji status dan peran kita sebagai masyarakat

d. memahami nilai, norma, tradisi masyarakat lain & memahami perbedaan yang ada e. membuat kita tanggap, kritis dan rasional menghadapi gejala sosial 1. Dalam Perencanaan Sosial Perencanaan Sosial ⇒ kegiatan mempersiapkan masa depan dalam masyarakat, untuk mengatasi timbulnya masalah pada masa2 perubahan

a. b. c.

Dalam penelitian ⇒ sebagai pencari data dalam pemecahan masalah sosial 3. Dalam pembangunan ⇒ mencapai perbaikan ekonomi 4. Dalam pemecahan masalah, ada 3 metode penaggulangan masalah Preventif→ penelitian Represif→ proses penanggulangan secara langsung Coba2 (trial & error methods)→ dengan bantuan dukun, membuat sesajen 2.

BAB III Individu dan Masyarakat
A. Pengertian Individu
Individum (batin) ⇒ satuan kecil yang tidak dapat dibagi lagi Menurut konsep sosiologis ⇒ manusia yang berdiri sendiri, tidak punya kawan Kelengkapan hidup a. Raga → bentuk jasad manusia yang dapat membedakan satu dengan lainnya b. Rasa → perasaan (panas, dingin, enak) c. Rasio → akal pikiran untuk mengembangkan diri, mengatasi masalah d. Rukun → pergaulan hidup, bentuk sosialisasi dengan sesame manusia.

B. Pengertian Masyarakat
Arab→ Syaraka (ikut serta)→ Musyaraka (saling bergaul)→ Musyarak (bersama-sama) → Masyarakat (berkumpul bersama, hidup bersama) Inggris → Society → socius (latin)→ kawan a. Dalam bahasa inggris masyarakat diterjemahkan menjadi dua pengertian, yakni : • Community, memperhitungkan 2 variasi: Kehidupan bersama & Lingkungan alam. Masyarakat sebagai community dapat dilihat dari 2 sudut pandang:

Community sebagai unsur statis → Community terbentuk dalam suatu wadah dengan batas2 tertentu / masyarakat setempat b. Community sebagai unsur dinamis → menyangkut proses melalui psikologis dan hubungan antar manusia dan sifatnya fungsional (ex: pegawai negeri, masyarakat, mahasiswa) • Society ⇒ terdapat interaksi sosial yang sifatnya pamrih dan ekonomis b. Ciri-ciri masyarakat : a) manusia yang hidup bersama dalam jangka waktu yang cukup lama b) mereka sadar merupakan satu kesatuan c) sistem hidup bersama d) mempunyai aturan/ undang2 e) adanya interaksi, kerjasama, pelembagaan f) memiliki kebiasaan, adat, tradisi sendiri g) adanya rasa identitas pada kelompok c. Faktor yang mendorong ketertarikan hidup bersama 1) hasrat naluri (kehendak biologis di luar akal) untuk mencari teman hidup 2) kelemahan manusia untuk mencari kekuatan bersama zoon politicon→ mahluk sosial yang menyukai hidup bergolongan d. Integrasi manusia dalam kelompok dapat dicapai jika: I. anggota kelompok merasa berhasil mengisi kebutuhan antar satu dengan lainnya II. tercapai kesepakatan mengenai norma dan nilai sosial III. norma2 cukup lama dan konsisten e. Hubungan antara individu dengan masyarakat a) b) c) individu memiliki status yang relatif dominan pada masyarakat masyarakat memiliki status yang relatif dominan pada individu individu dan masyarakat saling tergantung (interdependen)

a.

C. Indonesia sebagai masyarakat majemuk
Furnivall (sarjana yang pertama menemukan istilah itu)→ orang hidup berdampingan secara fisik, tapi karena perbedaan sosial budaya, mereka terpisah dan tidak tergabung dalam satu unit politik. 3 komponen dasar: 1) pembagian kekuasaan politik dan pengaturan territorial tempat/ wilayah asal

2)

agregasi pengelompokan dapat dibedakan dari sistem budaya maupun politik 3) dasar solidaritas pengelompokan adalah kebersamaan, komunal, persaudaraan atas darah maupun perkawinan, bahasa, ras, etnis, adat kebiasaan (castom)

BAB IX Kelompok-kelompok Sosial dalam Kehidupan Masyarakat
A. Pengantar

Sejak dilahirkan, manusia sudah mempunyai hasrat atau keinginan pokok yaitu : 1. Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya (yaitu masyarakat). 2. Keinginan untuk menjadi satu dengan susasana alam sekelilingnya. Menurut Soekanto adad beberapa syarat sebuah kelompok sosial yaitu : 1. Setiap anggota kelompok harus sadar bahwa dia merupakan sebagian dari kelompok yang bersangkutan. 2. Ada interaksi antar angoota.

3. Ada suatu faktor yang dimiliki bersama, sehingga hubungan antara mereka bertambah erat. 4. Berstruktur, berkaidah dan mempunyai perilaku. 5. Bersistem dan berproses.

B. Pendekatan Sosiologi terhadap KelompokKelompok Sosial
Hampir semua manusia pada awalnya adalah anggota kelompok sosial yang dinamakan keluarga. Setiap individu dari keluarga tersebut pasti akan mempunyai pengalaman dari kelompok tersebut ataupun luar kelompok, yang pada akhirnya akan terjadi social experience antar individu pada saat mereka berkumpul. Manusia merupakan makhluk yang bersegi jasmani dan rohaniah. Manusia juga mempunyai naluri untuk selalu behubungan dengan sesamanya. Hubungan yang berkesinambungan itu akan menghasilkan pola pergaulan yang dinamakan interaksi sosial.

C.

Tipe-Tipe Kelompok Sosial
1. Klasifikasi Tipe-tipe kelompok sosial a. Dalam analisisnya mengenai kelompok sosial, George Simmal mulai dengan bentuk terkecil yang terdiri dari 1 orang yang dinamakan monad. Kelompok yang terdidi dari 2 atau 3 orang yang disebut dyad serta triad dan kelompok kecil lainnya serta menelaah kelompok besar sebagai pembandingnya. b. Ferdinand Thonnies (1887), membagi kelompok atas dasar derajat interaksi sosial dalam kelompok tersebut, yaitu kelompok dengan anggotanya yang saling mengenal dan kelompok dengan anggota-anggotanya yang tidak mempunyai hubungan erat. Lalu oleh F. Stuart Chapin, dikembangkan dengan memperhatikan tinggi rendahnya derajat kelekatan hubungan antar anggota kelompok tersebut. c. d. Ukuran lainnya adalah kepentingan dan wilayah. Lalu klasifikasi atas dasar ukuran derajat organisasi.

2. In-group dan Out-group

Menurut Sumner, In-group adalah kelompok sosial di mana individu mengidentifikasikan dirinya. Sedangkan Out-group adalah kelompok yang menjdi lawan in-groupnya (Soekanto, 2002). Dilihat dari sikapnya, sikap in-group pada umumnya didasarkan pada faktor simpati dan selalu mempunyai perasaan dekat antar anggota. Sedangkan sikap outgroup selalu ditandai dengan suatu kelainan yang berwujud antagonisme atau antipati. Menurut Polak (1996), perasaan in-group dan out-group dapat merupakan dasar suatu sikap yang dinamakan etnosentrisme dan untuk menggapai sikap tersebut biasa dugunakan stereotip. Menurut Charles Horton Cooley (1930), kelompok primer adalah kelompok-kelompok yang ditandai ciri-ciri saling kenal antar anggotanya serta kerja sama erat yang bersifat pribadi. Salah satu sifat utama hubungan primer adalah kesamaan tujuan dari individu-individu yang tergabung dalam kelompok sosial tersebut. Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok besar yang terdiri dari banyak orang, hubungan antar anggota tak perlu berdasarkan kenal mengenal secara pribadi, keanggotaan sifatnya tidak langgeng.

3. Paguyuban (Gemeinschaft) dan Patembayan (Gesellschaft) Menurut Ferdinand Tonnies dan Charles P. Loom (1960), Paguyuban adalah bentuk kehidupan bersama di mana anggotaanggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta bersifat kekal. Dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan batin yang memang telah dikodratkan, dan strukturnya bersifat nyata dan organis sebagaimana diumpamakan dengan organ tubuh manusia. Sedangkan Patembayan merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, bersifat sebagai suatu bentu pikiran belaka serta strukturnya bersifat mekanis sebagaimana dapat diumpamakan dengan sebuah mesin. Suatu Gemeinschaft mempunyai beberapa ciri pokok yaitu Intimate, Private, Exclusive. Sedangkan keadaan sedikit berbeda akan ditemui di Gesellschaft di mana terdapat public life. Menurut Tonnies (1960:461), ada 3 tipe Gameinschaft dalam masyarakat, yaitu : 1. Paguyuban karena darah (Gemeinsvhaft by blood) 2. Paguyuban karena tempat (Gemeinschaft of place) 3. Paguyuban karena jiwa-pikiran (Gemeinschaft of mind) Formal group adalah kelompok-kelompok yang mempunyai peraturan-peraturan yang tegas dan dengan sengaja diciptakan oleh

anggotanya untuk mengatur hubungan antar anggota. Sedangkan Informal group adalah kelompok yang terbentuk karena pertemuan yang berulang kali dan itu menjadi dasar bagi bertemunya kepentingan dan pengalaman yang sama, dan tidak berstruktur serta organisasi yang pasti. Pembedaan antara membership group dengan reference group berasal dari Robert K. Merton. Membership group merupakan kelompok di mana setiap orang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut. Batas-batas apa yang digunakan untuk menentukan keanggotaan seseorang tidak dapat ditentukan secara mutlak karena perubahan-perubahan keadaan. Untuk membedakan secara tegas keanggotaan atas dasar derajat interaksi tersebut maka dikemukakan istilah nominal group-member dan peripheral group-member. Sedangkan reference group adalah kelompok sosial yang menjadi acuan bagi seseorang (bukan anggota kelompok) untuk membentuk pribadi dan perilakunya. Robert K. Merton dengan menyebut beberapa hasil karya Harrold H. Kelley, Shibutani, dan Ralp H. Turner mengemukakan adanya 2 tipe umum reference group, yaitu Normative type dan Comparison type.

D.

Kelompok-Kelompok Sosial yang Tidak Teratur
Secara garis besar kelompok-kelompok sosial yang tidak teratur dapat digolongkan menjadi 2 yaitu kerumunan dan publik. 1. Kerumunan (Crowd)

Adalah kehadiran orang-orang secara fisik. Sedikit banyaknya batas kerumunan adalah sejauh mata dapat melihat dan selama telinga dapat mendengarnya. Kerumunan tersebut segera mati, setelah orangorangnya bubar; dan karena itu kerumunan merupakan suatu kelompok sosial yang bersifat sementara (temporer). Bentuk-bentuk umum kerumunan menurut Davis (1960:354) adalah sebagai berikut : i. ii. iii. Kerumunan yang berartikulasi. Kerumunan yang bersifat sementara. Kerumunan yang berlawanan dengan norma-norma hukum.

2. Publik (masyarakat umum) Menurut Soekanto (2002:148) bahwa publik berbeda denagn kerumunan. Hal ini karena publik lebih merupakan yang tidak merupakan kesatuan. Karena kemungkinan mampu mencapai anggota

yang besar maka tak ada pusat perhatian yang tajam. Tingkah laku kelakuan publik didasarkan pada perilaku individu.

E. Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan
Warga suatu masyarakat pedesaan mempunyai hubungan yang lebih erat dan lebih mendalam daripada hubungan mereka dengan warga masyarakat kota. Sistem kehidupan biasanya berkelompok atas dasar sistem kekeluargaan, dan pada umumnya masyarakat desa bermatapencaharian sebagai petani. Sedangkan yang dimaksud dengan masyarakat kota atau urban community adalah masyarakat yang tidak tertentu jumlah penduduknya. Tekanan pengertian “kota” terletak pada sifat serta ciri kehidupan yang berbeda dengan masyarakat desa.

BAB V Strarifikasi Sosial

A. Pengertian
Stratification berasal dari kata stratum yaitu bentuk jamak dari strata yang berarti lapisan. Pitirim A. Sorokin (1959) mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat. Dasar dan inti lapisan-lapisan dalam masyarakat adalah tidak adanya keseimbangan dalam pembagian hak dan kewajiban, kewajiban

dan tanggung jawab nilai sosial dan pengaruhnya di antara anggota masyarakat. Pelapisan masyarakat selalu ada dalan setiap masyarakat. Stratifikasi sosial dalam masyarakat pada prinsipnya dpata diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaiu stratifikasi berdasarkan ekonomis, politis, dan jabatan-jabatan tertentu dalam masyarakat, dan ketiga dasar stratifikasi tersebut saling berhubungan.

B.

Terjadinya Lapisan-Lapisan dalam Masyarakat

Lapisan-lapisan dalam masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya atau dengan sengaja disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama. Alasan terjadinya lapisan-lapisan dengan sendirinya antara lain adalah tingkat umum, kepandaian, sifat keaslian keanggotaan kerabat seorang kepala masyarakat, juga mungkin kekayaan. Alasan yang dipakai tiap masyarakat mungkin saja berbeda. Sedangkan pelapisan sosial yang sengaja disusun untuk mengejar tuuan bersama, biasanya berkaitan dengan pembagian kekuasaan dan wewenang yang resmi dalam organisasi formal. Menurut Williams (1960:89) bahwa proses-proses terjadinya pelapisan sosial dalam masyarakat pada dasarnya dapat diteliti dengan berpedoman pada : a. Sistem stratifikasi sosial mungkin pertentangan dalam masyarakat. berpokok pada sistem

b. Sistem stratifikasi sosial dapat dianalisa berdasar unsur-unsur : 1) Distribusi hak-hak istimewa yang obyektif. warga-warga

2) Sistem pertanggaan yang diciptakan masyarakat (prestise dan penghargaan) 3) 4) 5) Kriteria sistem pertentangan. Lambang-lambang kedudukan. Mudah dan sukarnya bertukar kedudukan.

6) Solidaritas diantara individu-individu atau kelompokkelompok sosial yang menduduki kedudukan yang sama dalam sistem sosial masyarakat.

C.

Sifat Sistem Lapisan dalam Suatu Masyarakat

1.Stratifikasi sosial tertutup (closed social stratification), bercirikan sulitnya seseorang untuk berpindah dari satu lapisan ke lapisan lain.

2.Stratifikasi sosial terbuka (open social stratification), setiap anggota bisa berpindah ke lapisan yang lain (yang lebih tinggi), hal ini dapat dilakukan dengan usaha berdasar kemampuannya. Dasar atau kriteria yang umumnya dipakai untuk menggolongkan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan dalam masyarakat, antara lain :  Kekayaan  Kekuasaan  Kehormatan  Ilmu Pengetahuan

D.

Unsur-Unsur Lapisan dalam Masyarakat

Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (1964:256) menyatakan bahwa unsur-unsur sistem stratifikasi dalam masyarakat adalah kedudukan (status) dan peranan (role). 1) Kedudukan (status) Roucek dan Warren (1962:60) mengartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Sedangkan kedudukan sosial adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakatnya, yaitu lingkungan pergaulannya, prestisenya dan hak-hak serta kewajiban-kewajibannya. Soekanto (2002:240) membedakan kedudukan dalam masyarakatmenjadi 2 yaitu Ascribed Status dan Achieved Status. Sedangkan Polak (1966:204) menambahkan Assigned Status. 2) Peranan (role) Keberadaan peranan selalu melekat dengan adanya kedudukan. Artinya tak kan ada peranan tanpa adanya kedudukan atau sebaliknya. Levinson (1964:204) mengatakan bahwa peranan paling sedikit harus mencakup tiga hal yaitu : 1. Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Dalam hal ini, peranan merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. 2. Peranan adalah suatu konsep perihal apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi.

3. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.

E.

Lapisan yang Sengaja Disusun

Dalam sistem ini ada bebagai cara untuk menentukan kedudukan seseorang. Berhubungan dengan kedudukan, terutama dalam organisasi formal, Barnard mengatakan bahwa sistem kedudukan seperti itu timbul karena perbedaan kebutuhan, kepentingan, dan kemampuan individual, yang mencakup hal-hal sebagai berikut : 1. Perbedaan kemampuan dari individu, kemampuan khusus yang dimiliki seseorang yang diakui oleh masyrakat. 2. Perbedaan-perbedaab yang menyangkut kesukaran melakukan bermacam-macam jenis pekerjaan. 3. Perbedaan kepentingan dari masing-masing jenis pekerjaan. 4. Keinginan pada kedudukan yang formal sebagai alat sosial atau alat organisasi. 5. Kebutuhan 2002:247) akan perlindungan bagi seseorang (Soekanto, untuk

F. Mobilitas Sosial (Social Mobility)
1. Definisi dan Tipe Mobilitas Sosial Kimbal Young dan Raymond W. Mack (1959:293) mendefinisikan mobilitas sosial sebagai suatu gerakan dalam struktur sosial yaitu pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Pitirim A. Sorokin (1928:133) membedakan tipe mobilitas sosial menjadi 2 macam yaitu :  Mobilitas sosial horisontal.  Mobilitas sosial vertikal, yang terdiri dari social climbing dan social sinking. 2. Prinsip Umum Mobilitas Sosial Vertikal Pitirim A. Sorokin (1959:139) mengatakan bahwa prinsip-prinsip umum yang sangat penting bagi mobilitas sosial vertikal adalah sebagai berikut :

1) Hampir tidak ada masyarakat yang sifat sistem lapisannya mutlak tertutup, dimana sama sekali tak ada mobilitas sosial vertikal. 2) Betapapun terbukanya sistem lapisan dalam suatu masyarakat tak mungkin mobolitas sosial vertikal dapat dilakukan dengan sebebas-bebasnya, tentunya sedikit banyak akan terdapat hambatan-hambatan. 3) Tidak ada mobilitas sosial vertikal yang secara umum berlaku pada semua masyarakat. 4) Terdapat perbedaan laju mobilitas sosial vertikal yang disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi, politik, dan pekerjaan. 3. Saluran Mobilitas Sosial Vertikal Pitirim A. Sorokin (1959:164) menyatakan bahwa mobilitas sosial vertikal saluran dalam masyarakat. Proses gerak sosial vertikal melalui saluran tadi disebut social circulation. Saluran mobilitas sosial vertikal yang penting antara lain angkatan bersenjata, sekolah, organisasi politik, lembaga keagamaan.

G.

Perlunya Sistem Lapisan Masyarakat
Sistem pelapisan dalam masyarakat diperlukan agar kebutuhan manusia tercukupi dengan baik. Hal ini dilakukan dengan menempatkan individu-individu ke dalam suatu lapisan tertentu termasuk kewajiban yang harus dilaksanakan.

H.

Struktur Sosial

Sebagian ahli sosiologi menganggap struktur sosial identik dengan penggambaran tentang suatu lembaga sosial, sebagian yang lain menggambarkan struktur sosial dengan istilah pranata sosial, bangunan sosial, dan lembaga kemasyarakatan. Struktur sosial mengacu pada hubungan sosial yang lebih fundamental yang memberikan bentuk dasar pada masyarakat, yang memberikan batas pada aksi yang mungkin dilakukan secara organisatoris (Soekanto, 1983). Struktur sosial mencakup berbagai hubungan sosial antar individu secara teratur pada waktu tertentu yang merupakan keadaan statis dari suatu sistem sosial.

Syani (2002:68) berpendapat bahwa perangkat struktur sosial yang paling utama adalah status sosial. Sedangkan fungsi struktur adalah apabila peranan individu yang tergabung dalam kehidupan masyarakat mampu memelihara kontinuitas apa-apa yang bersifat struktural. 1. Ciri-ciri Struktur Sosial Menurut Syani (2002:69-70) bahwa ciri-ciri umum dari struktur sosial yaitu : a) Struktur sosial mengacu pada hubungan-hubungan sosial yang pokok yang dapat memberikan bentuk dasar pada masyarakat; memberikan batas-batas pada aksi yang kemungkinan besar dilakukan secara organisatoris. b) Struktur sosial mencakup semua hubungan sosial antar individu pada saat tertentu. Struktur sosial merupakan kerangka acuan yang utama dalam setiap studi tentang keteraturan hubunganhubungan sosial dalam masyarakat. c) Struktur sosial merupakan seluruh kebudayaan masyarakat yang dapat dilihat dari sudut pandang teoritis. Struktur sosial merupakan abstraksi dari kenyataan yang menyangkut kurun waktu tertentu yang pada prinsipnya tidak terlepas dari perilaku, perasaan, dan kepercayaan, di samping menyangkut kehidupan yang aktual. d) Struktur sosial merupakan realitas sosial yang bersifat statis atau kenytaan yang membeku, sehingga dapat dilihat kerangka tatanan dari berbagai bagian tubuhnya yang berbentuk struktur. Jadi, struktur sosial adalah aspek statis dari suatu proses atau fungsionalisasi dari sistem sosial. e) Struktur merupakan tahapan perubahan dan perkembangan masyarakat yang mengandung 2 pengertian, yaitu pertama; di dalam struktur sosial terdapat peranan yang bersifat empiris dalam proses perubahan dan perkembangan. Kedua; dalam setiap perubahan dan perkembangan tersebut terdapat tahap perhentian stabilitas, keteraturan dan integrasi sosial yang berkesinambungan sebelum kemudian terancam proses ketidakpuasan dalam tubuh masyarakat. Berdasar ciri tersebut, Syani (2002:70) menyimpulkan bahwa struktur sosial adalah suatu tatanan sosial dalam kehidupan masyarakat yang merupakan jaringan dari unsur-unsur sosial yang pokok. Soekanto (1983), unsur-unsur sosial pokok yang menyusun struktur sosial yaitu : a) Kelompok sosial.

b) Kebudayaan. c) Lembaga sosial. d) Stratifikasi sosial. e) Kekuasaan dan wewenang.

BAB VI Kebudayaan

A.

Makna Kebudayaan secara Etimologi
Ruang lingkup kajian budaya yang sangat luas, hal ini membuat sejumlah ahli mencari arti kebudayaan melalui pengertian etimologis. 1. Koentjaraningrat umpamanya menulis sebagai berikut: kata “kebudayaan” berasal dari bahasa Sansekerta “buddhayah” yaitu bentuk jamak “buddhi” yang berarti “budi” atau “akal”. Dengan demikian, kebudayaan dapat diartikan “hal-hal yang bersangkutan dengan akal”. Kata “culture” yang merupakan kata asing yang sama artinya dengan “kebudayaan” berasal dari bahasa latin “colore” yang berarti “mengolah, mengerjakan”, terutama mengolah tanah atau bertani. Arti ini berkembang culture sebagai “segala daya upaya serta tindakan manusia untuk mengolah tanah dan merubah alam.” 2. Bekker (1994) menduga bahwa asal kata kebudayaan berasal dari kata “Abhyudaya”, dari bahasa Sansekerta, menurut Sanskrit Dictionary (Macdonell, 1954) yang diambil Bekker adalah meliputi: hasil baik, kemajuan, kemakmuran yang serba lengkap. Bekker sendiri (1984:22) mengartikan secara singkat kebudayaan itu sebagai berikut “Kebudayaan sebagai penciptaan, penerbittan, dan pengolahan nilai-nilai insani. Tercakup di dalamnya usaha membudayakan bahan alam mentah serta hasilnya. Di dalam

bahan alam, alam diri dam alam lingkungannya baik fisik maupun sosial, nilai-nilai diidentifikasikan dan dikembangkan sehingga sempurna. Membudayakan alam, memanusiakan manusia, menyempurnakan hubungan keinsanian merupakan kesatuantak terpisahkan.”

B. Arti Kebudayaan Menurut Antropologi Kebudayaan
Antropolog memberikan arti dan cakupan yang sangat luas terhadap makna kebudayaan, antara lain : 1) Taylor mengartikan kebudayaan sebagai keseluruhan yang kompleks yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. 2) Koentjaraningrat, (1980: 193) juga menggunakan perspektif antropologi, mengartikan kebudayaan sebagai: “keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar”. Definisi kebudayaan ini sungguh luas, sebab hampir seluruh tindakan manusia merupakan proses belajar.

Secara lebih jelas dapat diuraikan sebagai berikut :  Kebudayaan adalah segala sesuatu yang dilakukan dan dihasilkan manusia, dan meliputi: i. ii. Kebudayaan materiil. Kebudayaan non-materiil.

 Kebudayaan itu tidak diwariskan secara generatif, melainkan hanya mungkin diperoleh dengan cara belajar.  Kebudayaan diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Jadi kebudayaan adalah kebudayaan manusia dan hampir semua tindakan manusia adalah kebudayaan.

C.

Unsur Pokok Kebudayaan

Herskovits mengajukan adanya 4 unsur pokok dalam kebudayaan, yaitu:

1. Alat-alat teknologi; 2. Sistem ekonomi; 3. Keluarga; 4. Kekuasaan politik. Bronislaw Malinowski menyebut adanya unsur-unsur pokok sebagai berikut: 1. Sistem norma-norma yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat agar menguasai alam sekelilingnya; 2. Organisasi ekonomi; 3. Alat-alat dan lembaga-lembaga atau petuga-petugas untuk pendidikan; perlu diingat bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan yang utama; 4. Organisasi militer (Soedono Soekanto, 1982). Dari kerangka unsur kebudayaan yang disusun oleh sarjana-sarjana antropologo tersebut, Koentjaraningrat (1980) berpendapat bahwa ada 7 unsur kebudayaan yang bersifat universal, yaitu: 1. Bahasa; 2. Sistem pengetahuan; 3. Organisasi sosial; 4. Sistem peralatan hidup dan teknologi; 5. Sistem mata pencaharian hidup; 6. Sistem religi; 7. Kesenian.

D. Hakikat dan Perwujudan Kebudayaan
Sifat hakikat umum yang dimiliki oleh kebudayaan dimanapun berada, yaitu: 1) Kebudayaan terwujud dan tersalurkan dari peri kelakuan manusia. 2) Kebudayaan telah ada terlebih dahulu daripada lahirnya suatu generasi tertentu, dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan.

3) Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya. 4) Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban, tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan yang dilarang dan tindakan yang diijinkan (Soekanto, 1980:177) Koentjaraningrat menggolongkan 3 wujud kebudayaan, yaitu: 1) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya. 2) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. 3) Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia (Koentjaraningrat, 1980:2201).

E.

Fungsi Kebudayaan Bagi Masyarakat

Kebudayaan mengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat, menentukan sikapnya kalau mereka berhubungan dengan orang lain. Menurut istilah Ralp Linton “design for living” (garis-garis atau petunjuk dalam hidup). Artinya, kebudayaan adalah suatu garis-garis pokok tentang perilaku atau blueprint for behavior yang menetapkan peraturan-peraturan mengenai apa yang harus dilakukan, apa yang seharusnya dilakukan, apa yang dilarang dan lain sebagainya. Unsur-unsur normatif yang merupakan bagian kebudayaan adalah  Unsur yang menyangkut penilaian.  Unsur yang berhubungan dengan apa yang seharusnya.  Unsur yang menyangkut kepercayaan.

F. Sistem Budaya dan Sistem Sosial
Sistem diartikan sebagai kumpulan bagian-bagian yang bekerja bersama-sama untuk melakukan suatu maksud. Sistem mempunyai sepuluh ciri yaitu fungsi, satuan, batasan, lingkungan, hubungan, proses, masukan, keluaran, dan tukaran. Sistem budaya merupakan kumpulan gagasan manusia yang hidup bersama dalam suatu masyarakat. Fungsi sistem budaya adalah menata dan memantapkan tindakan-tindakan serta tingkah laku manusia. Proses

belajar sistem budaya ini dilakukan melalui proses instituonalization (pelembagaan). Konsep struktur sosial digunakan untuk menganalisis realitas sosial sehingga sistem sosial menjadi analisis terhadap organisasi sosial. Konsep sistem sosial adalah alat bantu untuk menjelaskan tentang kelompok-kelompok manusia. Model ini bertolak dari pandangan bahwa kelompok manusia merupakan suatu sistem.

G. Sistem Nilai
Sistem nilai adalah nilai inti (core value) dari masyarakat. Nilai inti ini diakui dan dijunjung tinggi oleh setiap manusia di dunia untuk berperilaku. Sistem nilai ini menunjukkan tata tertib hubungan timbal balik yang ada dalam masyarakat. Sistem nilai ini berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia (Koentjaraningrat, 1981).

H. Perubahan Kebudayaan
Ada tiga sebab terjadinya perubahan. Pertama, sebab yang berasal dari masyarakat dan kebudayaan sendiri. Kedua, sebab perubahan lingkungan dan alam dan fisik tempat mereka hidup. Ketiga, adanya difusi kebudayaan, penemuan-penemuan baru, khususnya teknologi dan inovasi. Ada 4 bentuk peristiwa perubahan kebudayaan, yaitu  Cultural lag  Cultural survival  Cultural conflict  Cultural shock

I.Gerak Kebudayaan
Gerak kebudayaan sebenarnya adalah gerak manusia yang hidup dalam masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan. Gerak manusia terjadi oleh sebab dia mengadakan hubungan-hubungan dengan manusia lainnya. Perihal gerak tersebut, akan diuraikan dalam prosesproses sosial.

J. Kebudayaan, Manusia, dan Masyarakat
Manusialah yang menciptakan kebudayaan dan manusia pula menjadi pemakainya, sehingga kebudayaan akan selalu ada sepanjang keberadaan manusia. Kebudayaan dan masyarakat tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Kebudayaan merupakan rujukan orientasi nilai, norma, aturan dan menjadi pedoman tingkah laku sehari-hari anggota masyarakatnya dalam hidup berkelompok dan dalam kehidupan diri sebagai pribadi.

K. Norma-norma Sosial
Norma mengandung sanksi yang relatif tegas terhadap pelanggarnya. Norma lebih sebagai peraturan-peraturan yang disertai oleh sanksi-sanksi yang merupakan faktor pendorong bagi individu ataupun kelompok masyarakat dalam mencapai ukuran nilai-nilai sosial tertentu yang dianggap terbaik untuk dilakukan. Untuk dapat membedakan kekuatan norma-norma tersebut, maka secara sosiologis dikenal ada empat bagian norma-norma sosial, yaitu: 1. Cara berbuat (Usage). Lebih banyak terjadi pada hubunganhubungannya antar individu dengan individu dalam kehidupan masyarakat. Perbuatan orang yang melanggar norma (dalam tingkatan cara) tersebut dianggap orang lain sebagai perbuatan yang tidak sopan. 2. Kebiasaan (Folkways) adalah perbuatan yang berulang-ulang dalam bentuk yang sama. Kebiasaan merupakan suatu indikator. Kalau orang lain setuju atau menyukai perbuatan tertentu yang dilakukan seseorang. 3. Tata kelakuan (Mores) adalah suatu kebiasaan yang diakui oleh masyarakat sebagai norma pengatur dalam setiap berperilaku. Berfungsi sebagai pengawas oleh kelakuan oleh kelompok terhadap anggotanya. Mempunyai kekuatan pemaksa, jika terjadi pelanggaran maka dapat mendapat hukuman berupa pemaksaan untuk kembali beradaptasi dengan mores yang telah digariskan. 4. Adat Istiadat (Custom) tata kelakuan yang berupa aturan-aturan yang mempunyai sanksi lebih keras dari ketiga norma di atas. Jika melanggar akan mendapat sanksi hukum baik formal maupun informal.

L. Kebudayaan Sebagai Kontrol Masyarakat
Kebudayaan berperan pula sebagai kontrol masyarakat, itu cara yang digunakan oleh suatu masyarakat untuk mengembalikan anggota masyarakatnya yang menyimpang pada tingkah laku normal. Kontrol masyarakat dijalankan dalam bentuk sanksi restitutif dan sanksi represif.

M. Kebudayaan Melindungi Manusia
Selain sebagai kontrol terhadap masyarak, kebudayaan juga berfungsi untuk melindungi diri terhadap alam, mengatur hubungan antar manusia, dan sebagai wadah segenap perasaan manusia (Soekanto, 1 1990:199)

BAB VII Lembaga Sosial
A. Definisi Lembaga Sosial
Lembaga Sosial menunjuk pada, adanya unsur-unsur yang mengatur perilaku warga masyarakat dalam kehidupan sosial masyarakat. Istilah lembaga social artinya bahwa lembaga sosial lebih menunjuk pada suatu bentuk perilaku sosial anggota masyarakat dalam kehidupan bersama, dan juga mengandung pengertian yang abstrak perihal normanorma dan peraturan-peraturan tertentu yang menjadi ciri lembaga tersebut.

B. Latar Belakang Terjadinya Lembaga Sosial
Keberadaan lembaga sosial selalu ada pada setiap masyarakat. Hal ini disebabkan setiap masyarakat pasti memiliki kebutuhan-kebutuhan pokok yang jika dikelompokkan, terhimpun menjadi lembaga sosial. Lembaga kemasyarakatan mempunyai beberapa fungsi, yaitu antara lain: 1. Memberikan pedoman pada masyarakat, bagaimana harus bertingkah laku atau bersikap dalam menghadapi masalah-masalah dalam masyarakat, terutama yang menyangkut kebutuhankebutuhan. 2. Menjaga keutuhan masyarakat. 3. Memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan system pengendalian sosial ( social control).

C. Proses Pertumbuhan Lembaga Kemasyarakatan
Proses pelembagaan adalah proses yang terjadi pada suatu norma untuk menjadi bagian dari suatu lembaga social, sehingga dikenal, diakui, dimengerti, dihargai dan ditaati oleh masyarakat. 1. Norma-norma sosial

Berdasarkan kekuatan mengikat anggotanya, norma-norma social dibedakan menjadi:

a. Cara (usage), yaitu suatu norma yang memiliki kekuatan mengikat paling lemah. Kemudian lebih menonjolkan hubungan antar individu dalam masyarakat, serta sanksi pelanggaran norma berupa celaan dari individu yang berintraksi dengannya. b. Kebiasaan (folkways), yang mana suatu norma memiliki kekuatan mengikat yang lebih besar daripada usage. Kemudian lebih menonjolkan perbuatan yang dilakukan oleh sebagian besar individu dalam masyarakat, serta sanksi terhadap pelanggaran norma ini berupa celaan dari setiap anggota masyarakat. c. Tata kelakuan (mores), asalah kebiasaan yang merupakan tata perilaku dan juga sekaligus diterima sebagai norma pengatur yang mencerminkan sifat-sifat yang hidup dari kelompok manusia yang dilaksanakan sebagai alat pengawas,secara sadar ataupun tidak sadar, yang dilakukan terhadap anggotanya. d. Adat istiadat (custom), asalah tata kelakuan yang kekal dan mempunyai kekuatan mengikat yang lebih besar terhadap anggota masyarakatnya. Sehingga masyarakat yang melanggarnya akan menerima sankni yang keras. 2. Jenis-jenis Lembaga Sosial Lembaga sosial dibedakan menjadi lembaga kemasyarakatan sebagai peraturan dan lembaga kemasyarakatan yang sungguh-sungguh berlaku. Lembaga kemasyarakatan dianggap sebagai peraturan apabila norma tersebut membatasi serta mengatur perilaku masyarakat. Sedangkan, lembaga kemasyarakatan dianggap sebagi yang sungguhsungguh berlaku, apabila norma-norma tersebut sepenihnya membantu pelaksannan pola kemasyarakatan. 3. Sistem Pengendalian Sosial (social control) Roucek (1951:3) mendefinisikan sistem pengendalian sosial adalah pengawasan yang dilakukan masyarakat terhadap jalannya pemerintahan, khususnya pemerintahan beserta aparaturnya. Pengendalian sosial bertujuan menjaga keserasian antara stabilitas dengan perubahanperubahan dalam masyarakat. Roucek juga membedakan pengendalian sosial berdasarkan sifatnya menjadi prevensif, represif, atau kombinasi keduanya. Pengendalian sosial bersifat prevensif dilakukan melalui proses sosialisasi, pendidikan formal dan informal. Pengendalian represif berwujud penjatuhan sanksi kepada anggota yang melanggar atau melakukan penyimpangan norma yang berlaku. Pada dasarnya proses pengendalian sosial dapat dilakukan dengan cara tanpa kekerasan (persuasive) ataupun dengan paksaan (coercive).

D. Ciri-ciri Umum Lembaga Kemasyarakatan
1. Merupakan suatu organisasi tentang pola-pola pemikiran dan pola-pola perilaku yang terwujud melalui aktivitas-aktivitas kemasyarakatan dan hasil-hasilnya. 2. Mempunyai tingkat kekekalan tertentu. 3. Mempunyai satu atau beberapa tujuan tertentu.

4. Mempunyai alat-alat perlengkapan untuk mencapai tujuan lembaga. 5. Mempunyai lambang yang menggambarkan tujuan dan fungsi lembaga tersebut. 6. Mempunyai tradisi yang tertulis maupun tidak tertulis, yang merumuskan tujuan.

E. Tipe-tipe Lembaga Kemasyarakatan
1. Dari sudut perkembangannya dibedakan menjadi Crescive institution dan Enacted institution. Crescive institution disebut sebagai lembaga primer yaitu lembaga yang tak sengaja tumbuh dari adat istiadat masyarakat. Enacted institution yaitu lembaga kemasyarakatan yang sengaja dibentuk untuk tujuan tertentu. 2. Dari sudut sistem nilai-nilai yang diterima masyarakat, dibagi menjadi Basic institution dan Subsidiary institution. Basic institution adalah lembaga kemasyarakatan untuk memelihara tata tertib dalam masyarakat. Sedangkan Subsidiary institution adalah lembaga kemasyarakatan yang kurang penting. 3. Dari sudut penerimaan masyarakatdibagi menjadi Social Sanctionedinstitution (Approved) dan Unsanctioned-institution. Social Sanctionedinstitution adalah lembaga yang diterima masyarakat. Sedangkan Unsanctioned-institution adalah lembaga yang ditolak masyarakat. 4. Dari sudut penyebarannya dibagi menjadi general institution dan restriched institution. general institution adalah lembaga kemasyarakatan yang dikenal masyarakat didunia.Sedangkan restriched institution adalah lembaga kemasyarakatan yang dianut oleh masyarakat tertentu. 5. Dari sudut fungsinya dibagi menjadi Operative institution dan Regulative institution. Operative institution adalah lembaga kemasyarakatan yang berfungsi menghimpun pola-pola atau tata cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan lembaga. Sedangkan Regulative institution adalah lembaga kemasyarakatan yang berfungsi untuk mengawasi adat istiadat atau tata kelakuan yang tidak menjadi bagian yang mutlak dari lembaga.

F. Cara-Cara Mempelajari Lembaga Kemasyarakatan
1. Analisa secara historis, yang bertujan untuk mempelajari sejarah muncul dan perkembangan suatu lembaga kemasyarakatan. 2. Analisa komparatif, yang bertujuan menelaah dengan cara membandingkan suatu lembaga tertentu dari berbagai masyarakat. 3. Analisa fungsional, dilakukan dengan menganalisa hubungan antar lembaga berdasarkan fungsinya, hal ini dapat dilakukan dengan analisa histories maupun analisa komparatif

G. Conformity dan Deviation
Conformity sebagai proses adaptasi dengan masyarakat. Hal ini dilakukan dengan menaati kaidah-kaidah dan nilai-nilai masyarakat. Conformity akan kuat pada masyarakat yang homogen dan tradisional, karena masih mempertahankan tradisinya. Sedangkan deviation, diartikan sebagai penyimpangan kaidahkaidah dan nilai-nilai yang ada pada masyarakat. Penyimpangan kaidah akan terjadi bila anggota masyarakat punyai kecenderungan untuk lebih mementingkan suatu nilai sosial-budaya daripada kaida-kaidah yang ada untuk mencapai cita-citanya.Merton membuat pola penyelarasan berkenaan dengan deviation sebagi berikut.

Bentuk-bentuk usaha penyelarasan

Nilai sosial budaya

Cara-cara (norma) yang telah melembaga

1. Conformit y 2. Innovatio n 3. Ritualism 4. Retreatis m 5. Rebellion

+ + ±

+ + ±

Catatan: Tanda + berarti bahwa terjadi penyelarasan dalam arti bahwa warga mastyarakat menerima nilai-nilai social budaya atau norma-norma yang ada, sedangkan tandanerarti menolaknya. Tanda ± menunjukkan pada pola-pola perilaku yang menolah dan manghendaki nilai-nilai dan norma-norma yang terbaru.

Conformity pada masyarakat tradisional umumnya relative stabil, hal ini karena cara-cara yang telah melembaga, memberikan kesesuaian dengan kebutuhan masyarakat untuk mencapai nilai-nilai social budaya yang menjadi cita-citanya. Pada innovation tekanan diletakkan pada nilainilai social budaya yang suatu saat berlaku, sedangkan anggota masyarakat merasakan cara-cara atau kaidah untuk mencapai tujuan tersebut kurang memadai.

Ritualism terjadi pada anggota masyarakat yang memegang teguh kaidah-kaidah yang berlaku walaupun harus mengorbankan nilai-nilai social budaya yang ada dan berlaku. Rebellion adalah suatu keadaan dimana semua nilai-nilai social budaya maupun kaidah-kaidah yang berlaku ingin diubah semua untuk diganti dengan hal-hal yang baru sama sekali.

Bab VIII Sistem Sosial
A. Pengertian Sistem Sosial
Suatu system adalah serangkaian bagian-bagian yang saling berhubungan, bekerja dengan bebas dan bersama-sama dalam pencapaian tujuan umum keseluruhan, dalam suatu lingkungan yang kompleks. Saling berhubungan ketergantungan antara bagian-bagian system dan juga antara system dengan lingkungannya. Interaksi dengan lingkungan tidak dapat dibatasi, dan terus berlangsung, paling tidak secara evolusi. Dengan ini berarti bahwa system mempunyai sifat terbuka.

B. Sistem Sosial dalam Sosiologi
Mempelajari kehidupan maupun interaksi social berarti mempelajari system social. Kehidupan social itu sendiri adalah suatu system. Adapun ciri sebuah system ialah:

1. Sistem terdiri dari sub system. 2. Mempunyai tujuan dan sasaran. 3. Diantara sub system mempunyai hubungan ketergantungan dan satu kebulatan. 4. Mempunyai kemampuan mengatur dan menyesuaikan diri sendiri, mempunyai batas dengan lingkungannya.

C. Beberapa Tokoh Sosiologi yang Menggunakan Konsep Sistem
• Masyarakat sebagai suatu system menurut Comte Dalam analisis masyarakat, Comte mengatakan masyarakat seperti organisme hidup. Ini diartikan bahwa di dalam dinamika hidup, tumbuh dan berkembangnya masyarakat itu terus berlangsung dan dapat bertahan sebagaimana kelangsungan hidup organisme. Perspektif organic berpendapat bahwa masyarakat sebagai organisme dapat dimengerti sebagai suatu totalitas, bukan pada saat sebagai suatu kenyataan kumpulan individu-individu. Adanya ketergantungan dan interaksi menghasilkan fenomena-fenomena dan arti yang lebih tinggi, karena individu-individu yang terkumpul akan lebur dalam kesatuan kelompok masyarakat, yang memberi sumbangan pada stabilitas social, moral, dan intelektual. • Teori system dalam konsepsi Spencer Tentang evolusi masyarakat, Spencer menganalogikan masyarakat suatu organisme, system pemerintahan ibarat urat nadi yang punyai fungsi koordinasi dan pemersatuan serta masyarakat punyai system distribusi seperti fungsi pembuluh, perubahan pada bagian di organisme akan membawa dampak secara keseluruhan. Konsep system social menurut Marx Marx ”menekankan saling ketergantungan antara struktur social dan kondisi material dimana individu harus menyesuaikan dirinya supaya tetap hidup dan memenuhi kebutuhannya”. Marx memandang kemungkinan terjadinya konflik antar kelas yang mengakibatkan perubahan social. Konflik yang terjadi tidak dapat dihilankan dalam system.Tetapi sesuai dengan pandangan pendekatan system, masingmasing bidang akan mampu menyesuaikan diri kembali, meskipun dapat berlangsung adakalanya dalam jangka waktu panjang. Konsep system menurut Parson Parson merupakan orang yang berhasil membawa pendekatan fungsionlisme struktural dalam pertumbuhan teori sosiologi. Dia berpusat kepada peran bagi unsure normative yang mengatur perilaku social individu yang akan menjamin stabilitas social. Dia percaya bahwa system

sosial cenderungan mencapai stabilitas melalui konsensus yang dicapai anggota. Disfungsi dan penyimpangan terjadi karena factor luar.

D. Fungsi-Fungsi Sistem Sosial
Unsur-unsur system social menurut Bertrand (1980) yaitu sebagai berikut: 1. Keyakinan (penetahuan) 2. Perassan ( sentiment) 3. Tujuan sasaran atau cita-cita 4. Norma 5. Status dan peranan 6. Tingkatan atau perangkat (rank) 7. Kekuasaan atau pengaruh (power) 8. Sanksi 9. Sarana ataau fasilitas 10. Tekanan ketegangan (stress-strain) Menurut Hoogvelt (1985), masyarakat sebagai suatu tipe system social dapat dianalisis dari fungsinya yaitu: 1. 2. 3. 4. Fungsi Fungsi Fungsi Fungsi pemeliharaan pola integrasi pencapaian tujuan adaptasi

Bab IX Kekuasaan dan Wewenang

A. Kekuasaan
1. Pengertian Kekuasaan Kemampuan menggunakan sumber-sumber pengaruh yang dimiliki untuk mempengaruhi secara rasional perilaku pihak lain sehingga pihak lai berperilaku sesuai dengan kehendak pihak yang mempengaruhi. - Kemampuan mengadakan intervensi dalam peristiwa tertentu dan mengadakan perubahan. - Secara instrinsik yang berkaitan dengan manusia sehingga kekuasaan harus diterima sebagai fenomena yang reuler dan rutin.

- Sebagai kapasitas kelas social untuk merealisasikan tujuan tertentu. - Sebagai kapasitas yang independent dan substantive, yang tidak dapat direduksi ke dalam kepemilikan ekonomi. - Sebaai ekspansi sumber daya yang tak terbatas. - Sebagai sarana komunikasi secara mpiris dan melahirkan strategi. 2. Ciri-ciri Kekuasaan Waters mengemukakan ciri-ciri kekuasaan meliputi: • • • • • • Kekuasaan berimplikasi pada keberadaan social tertentu Kekuasaan berdasarkan hubungan tentang distribusi masyarakat Kekuasaan menunjukkan derajat konsentrasi Kekuassa melibatkan hamper semua hbungan manusia Kekuasaaan melahirkan relasi spesifik pada maksud manusia Penggunaan kekuasaan menunjukkan spesialisasi dalam institusi social

3. Unsur-Unsur Kekuasaan Kekuasaan mempunyai dua unsure pokok yaitu interaksi dan pengaruh. Maksudnya, kekuasaan akan ada, bila terdapat interaksi antar individu, dan terdapat pihak yang menginginkan adanya efek pada pihak lain dari sesuatu yang telah direncanakan. Untuk mendukung kekuasaan maka harus ada mekanisme untuk mengontrol pihak lain.

4. Sumber-Sumber Kekuasaan • Etzioni mengemukakan bahwa sumber kekuasaan ada dua yaitu: 1. Posotion power, yaitu kekuasaan diperoleh melalui jabatan 2. Personal power, yaitu kekuasaan diperoleh melalui komunikasi antar individu • Yulk mengemukakan bahwa sumber kekuasaan yaitu: 1. Kedudukan yang mencakup wewenang formal, penendalian atas berbagai sumber, hadiah, hukuman,informasi dan ekologi 2. Kepribadian yang terdiri atas keahlian, persahabatan dan charisma 3. Politik yang meliputi pengendalian atas proses pembuatan keputusan, koallisi, melakukan kooptasi dan institusional • Mann dan Waters mengemukakan bahwa sumber kekuasaan yaitu: 1. kekuasaan ideology 2. kekuasaan ekonomi

3. 4.

kekuassan militer kekuasaan politik

5. Dimensi-Dimensi Kekuasaan Surbakti mengatakan bahwa dimensi kekuasaan yaitu: 1. Potensial dan actual Kekuasaan potensi dimiliki apabila memiliki sumber kekuasaan. Sedangkan kekuasaan actual dimiliki apabila telah menggunakan sumber yang dimilikinya dalam kegiatan politik secara efektif. 2. Konsensus dan paksaan Kekuasaan consensus memandang elit politik sebagai orang yang tengah berusaha menggunakan kekuasaan untuk mencapai tujuan masyarakat secara keseluruhan. Sedangkan kekuasaan paksaan cenderung memandang politik sebagai perjuangan, pertentangan, dominasi dan konflik. 3. Positif dan negative Kekuasaan positif adalah penggunaan sumber kekuasaan untuk mencapai tujuan yang penting. Sedangkan kekuasaan negative adalah penggunaan sumber kekuasaan untuk mencegah pihak lain mencapai tujuannya yang merugikan. 4. Jabatan dan pribadi Masyarakat maju yang menduduki jabatan/kualitas pribadi yang baik akan dapat kekuasaan, sedangkan masyarakat tradisional, struktur masyarakat kekuasaan didasarkan kualitas pribadi akan menonjol dari kekuasaan pada jabatan. 5. Implisit dan eksplisit Kekuasaan implicit adalah pengaruh yang tidak dapat dilihat tapi dapat dirasakan, dan kekuasaan eksplisit adalah pengaruh yang secara jelas terlihat. 6. Langsung dan tidak langsung Kekuasaan langsung adalah penggunaan sumber untuk mempengaruhi pembuat dan pelaksana keputusan politik dengan melakukan hubungan langsung tanpa perantara. Kekuasaan tidak lansung adalah penggunaan sumber untuk mempengaruhi pembuat dan pelaksana keputusan politik melalui perantara pihak lain yang diperkirakan mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap pembuatan dan pelaksana keputusan politik.

6. Cara Mempertahankan Kekuasaan

Syarbani mengatakan cara-cara penguasamemprtahankan kekuasaan sebagai berikut: • • • Menghilangkan peraturan lama yang merugikan penguasa baru Mengadakan system kepercayaan yang memperkokoh kedudukan penguasa Pelaksaan administrasi dan birikrasi yang baik 7. Bentuk-Bentuk Pelapisan Kekuasaan Mac iver dan Syarbani mengemukakan pelapisan kekuasaan sbb: • Sistem pelapisan kekuasaan dengan garis pemisahan yang tegas dan kaku. • Tipe ologarkis yang masih memiiki garis pemisah yang tegas. • Tipe demokratis adalah tipe yang menunjukan adanya garis pemisah terbuka 8. Distribusi Kekuasaan Menurut Andrain distribusi kekuasaan terdapat sbb: 1. Model elit yang memerintah, yang melukiskan kekuasaan hanya dimiliki oleh sekoelompok orang kecil 2. Model Pluralis, menggambarkan kekuasaan dimiliki oleh kelompok social dalm masyarakat dan berbagai lembaga dalm pemerintah 3. Model Populis, melukiskan kekuasaan sebagai dipegang pleh setiap individu warga negara atau rakyat secara kolektif

B. Kekuasaan Menurut Budaya Jawa
Kebudayaan Jawa tidak mengenal konsep kekuasaan yang dipahami di Barat. Menurut Anderson, kekuasaan budaya Barat memiliki karakteristik sbb: 1. Kekuasaan bersifat abstrak, yaitu sesuatu yang tak tampak dengan amta dan istilah yang digunakan untuk menggambarkan bentuk hubungan manusia 2. Sumber kekuasaan bersifat majemuk, yang mana seseorang dapat mempengaruhi orang lain jika dia memilliki dan mampu menggunakan sumber kekuasaan 3. Jumlah kekuasaan tidak terbatas,, karena kekuasaan merupakan abstraksi yang menggambarkan hubungan manusia Sebaliknya budaya Jawa mempunyai karakteritik sbb: 1. Kekuasaan bersifat kongkrit, yaitu keberadaannya tidak terikat pada orang yang menggunakannya

2. Kekuasaan bersifat homogen, maksudnya sumua kekuasaan berasal dari tipe dan sumber yang sama 3. Jumlah kekuasaan di dunia ini bersifat tetap, walaupun distribusinya dapat berubah, kuantitasnya akan tetap sama

C. Kewenangan
• Syarbaini mengatakan bahwa kewenangan adalah kekuasaan, namun tidak semua kekuasaan adalah wewenang. • Surbakti menjelaskan prinsip moral menentukan siapa yang berhak memerintah dan akan mengatur cara serta prosedur melaksanakan wewenang politik. • Max Webber mengatakan wewenang sebagai suatu hak yang telah ditetapkan dalam suatu tata tertib social untuk menetapkan kebijaksanaan, menentukan keputusan, dan untuk menyelesaikan pertentangan. Webber membagi wewenang menjadi tiga yaitu: 1. Wewenang kharismatis, yang dimiliki seseorang karena kharisma kepribadiannya. 2. Wewenang tradisional, yang bersumber dari tradisi masyarakat kerajaan. 3. Wewenang rasional, yang berlandaskan system yang berlaku. Dalam rangka menjamin pelaksanaan wewenang, diperlukan birokrasi antara penguasa dan warganya.Birokrasi sendiri adalah organisasi yang bersifat hierarkis secara rasional. Syarbaini memberikan ciri-ciri suatu birokrasi yaitu: 1. Adanya ketentuan yang tegas dan resmi mengenai wewenang yang didasarkan kepada peraturan umum. 2. Prinsip pertingkatan dan derajat wewnang merupakan system yang tegas perihal hubungan atasan dengan bawahannya. 3. Ketatalaksanaan suatu birokrasi yan modern. 4. Pelaksanaan birokrasi dalam bidang tertentu memerlukan latihan. 5. Bila demokrasi telah berkembang dengan penuh maka kegiatan meminta kemampuan bekerja yang maksimal dari pelaksananya. 1. Peralihan Kewenangan Paul Conn mengatakan terdapat tiga cara peralihan wewenang, yaitu: 1. Secara turrun temurun, adalah jabatan dialihkan kepada keturunan. 2. Pemilihan, dilakukan secara langsung melalui badan perwakilan rakyat. 3. Paksaan, adalah jabatan terpaksa diberikan orang lain yang tidak sesuai prosedur

2.

Sikap Terhadap Kewenangan

Anggota masyarakat yang diperintah memiliki sikap tertentu terhadap kewenangan. Sikap masyarakat terhadap kewenanan dapat berbentuk menerima,skeptis, ataupun kedua-duanya. 3. Legitimasi

Adalah penerimaan dan pengukuhan masyarakat terhadap hak moral penguasa untuk memerintah, membuat dan melaksanakan keputusan politik. 4. Perbedaan Kekuasaan, Kewenangan dan Legitimasi

Kekuasaan yaitu kemampuan untuk menggunakan sumber yang mempengaruhi politik. Kewenangan yaitu hak moral untuk menggunakan sumber politik. Dan leitimasi merupakan penerimaan masyarakat terhadap hak moral. 5. Persamaan Kekuasaan, Kewenangan dan Legitimasi

Menurut Surbakti kekuasaan ,kewenangan dan legitimasi mempunyai kesamaan yang menyangkut hubunan pemimpin dengan yang dikuasai walaupun sifat hubungannya berbeda. Pada legitimasi hubungan itu lebih ditentukan oleh yang memimpin. Pada kewenangan,hubungan itu lebih ditentukan oleh yang memimpin. 6. Obyek Legitimasi

Obyek ini meliputi pemerintahan dan unsure lain dalm sistm politik. Easton mengatakan terdapat tiga obyek dalam system politik yang memerlukan legitimasi. Ketiga obyek tersebut yaitu: 1. Komunitas politik 2. Rezim 3. Pemerintahan Sedangkan Adrain mengatakan terdapat lima obyek dalam system politik yang memerlukan legitimasi. Kelima obyek tersebut yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 7. Masyarakat politik Hukum Lembaga politik Pemimpin politik Kebijakan Kadar Legitimasi

Kadar legitimasi adalah jumlah dukungan terhadap kewenangan. Oleh sebab itu,kadar legitimasi ditentukan oleh sikap yang memerintah dan yang diperintah.

8.

Cara Mendapatkan Legitimasi

Surbakti membagi cara yang digunakan untuk mendapatkan dan mempertahankan legitimasi menjadi tiga yaitu simbolis, procedural dan materiil. Simbolis dilakukan dengan memanipulasi kecenderungan moral, emosional, tradisi dan kepercayaan serta nilai budaya ke dalam bentuk symbol yang umumnya bersifat ritualistic, sacral, retorik, dan mercusuar. Prosedural dilakukan dengan cara menyelenggarakan pemilu untuk menentukan paara pemimpin negara. Materiil dilakukan dengan menjanjikan dan memberikan kesejahteraan materiil pada masyarakat. 9. Tipe-Tipe Legitimasi

1. Legitimasi tradisional, trjadi bila masyarakat memberikan pengakuan dan dukungan kepada pemimpin karena pemimpin ‘berdarah biru’ yang dipercaya harus memimpin. 2. Legitimasi ideologi, terjadi bila masyarakat memberikan pengakuan dan dukungan pada pemimpin karena pemimpin dianggap sebagai penafsir dan pelaksana ideology. 3. Legitimasi kualitas pribadi, terjadi bila masyarakat memberikan pengakuan dan dukungan pada pemimpin karena pemimpin tersebut memiliki kharisma. 4. Legitimasi procedural, terjadi bila masyarakat memberikan pengakuan dan dukungan pada pemimpin karena pemimpin tersebut mendapat kewenangan menurut prosedur yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. 5. Leitimasi instrumental, terjadi bila masyarakat memberikan pengakuan dan dukungan pada pemimpin karena pemimpin tersebut menjanjikan atau menjamin kesejahteraan materiil (instrumental) kepada masyarakat. 10. Pentingnya Legitimasi • Legitimasi menciptakan kestabilan politik dan kemungkinan perubaha social • Legitimasi sangat penting karena akan membuka kesempatan yang semakin luas bagi pemerintah untuk memperluas bidang kesejahteraann yang hendak ditanani dan meningkatkan kualitas kesejahteraan. 11. Krisis Legitimasi

Krisis leitimasi adalah memudarnya pengakuan dan dukungan masyarakat pada pemimpin. Krisis leitimasi terjadi karena sbb: 1. yang lain. 2. 3. 4. Prinsip kewenangan beralih pada prinsip kewenangan Persaingan yang sangat tajam dan tidak sehat. Pemerintah tidak mampu memenuhu janji. Sosialisasi tentan kewenanan mengalami perubahan.

Bab X Proses Sosial
A. Makna Proses Sosial
Pada dasarnya proses sosial merupakan siklus perkembangan dari struktur sosial yang merupakan aspek dinamis dalam kehidupan masyarakat. Proses hubungan tersebut berupa antar aksi sosial yang terjadi terus-menerus.

B. Tindakan Sosial
Sitorus (2000) menjelaskan bahwa tindakan sosial sebagai perbuatan, perilaku atau aksi yang dilakukan manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Suatu tindakan dapat disebut tindakan sosial, apabila tindakan tersebut dilakukan dengan orientasi pada atau dipengaruhi oleh orang lain.

C. Interaksi Sosial
Interaksi terjadi apabila satu individu melakukan tindakan, sehingga menimbulkan reaksi dari individu-individu yang lain. Jadi, interaksi sosial adalah hubungan dinamis yang mempertemukan orang dengan orang, kelompok dengan kelompok, maupun orang dengan kelompok manusia. a. Ciri-ciri Interaksi Sosial 1. Terdapat pelaku dengan jumlah lebih dari satu orang. 2. Ada komunikasi antar pelaku dengan menggunakan simbol-simbol.. 3. Ada dimensi waktu (masa lampau, masa kini dan masa mendatang) yang menentukan sifat aksi yang sedang berlangsung. 4. Ada tujuan-tujuan tertentu, terlepas dari sama atau tidaknya tujuan tersebut dengan yang diperkirakan oleh pengamat. b. Hubungan Interaksi Sosial dengan Tindakan Sosial

Tindakan sosial adalah perbuatan yang dipengaruhi oleh orang lain untuk mencapai tujuan tertentu sedangkan interaksi sosial adalah hubungan yang terjadi sebagai akibat dari tindakan individu-individu. Terjadinya hubungan timbal-balik ini disebabkan oleh adanya tindakan (aksi) dan tanggapan (reaksi) antara dua pihak. Jadi, tindakan merupakan syarat mutlak terbentuknya hubungan timbal balik atau interaksi sosial. c. Syarat-syarat Terjadinya Interaksi Sosial Dalam proses sosial, baru dapat dikatakan terjadi interaksi sosial, apabila telah memenuhi persyaratan sebagai aspek kehidupan bersama, yaitu adanya kontak sosial dan komunikasi sosial. • Kontak Sosial  Syani berpendapat bahwa kontak sosial adalah hubungan antara satu orang atau lebih, melalui percakapan dengan saling mengerti tentang maksud dan tujuan masing-masing dalam kehidupan masyarakat.  Dalam kontak sosial dapat terjadi dalam tiga bentuk, yakni individu-individu, individu-kelompok, dan kelompok-kelompok.  Kontak sosial dapat pula bersifat primer dan sekunder. Kontak primer terjadi apabila yang mengadakan hubungan langsung bertemu dan berhadapan muka. Sedangkan kontak sekunder memerlukan suatu perantara.  Pentingnya kontak dan komunikasi bagi terwujudnya interaksi sosial, dapat diuji terhadap suatu kehidupan yang terasing. Kehidupan terasing yang sempurna ditandai dengan suatu ketidakmampuan untuk mengadakan interaksi sosial dengan pihak-pihak lain. • Komunikasi Sosial  Komunikasi sosial adalah suatu proses saling memberikan tafsiran kepada atau dari perilaku pihak lain.  Sekilas komunikasi sosial hampir sama dengan kontak sosial. Namun, adanya kontak sosial belum tentu terdapat komunikasi sosial. Karena komunikasi sosial menuntut adanya pemahaman makna atas suatu pesan dan tujuan bersama antara masingmasing pihak. d. Faktor-faktor Interaksi Sosial Menurut Sitorus (2000) berlangsungnya interaksi sosial dapat didasarkan pada berbagai faktor, yakni: • Imitasi Adalah suatu proses belajar dengan cara atau mengikuti perilaku orang lain. • Sugesti

Adalah cara pemberian suatu pandangan atau pengaruh oleh seseorang kepada orang lain dengan cara tertentu, sehingga orang tersebut mengikuti pandangan atau pengaruh tersebut tanpa berpikir panjang. • Identifikasi Adalah kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang menjadi sama / mengidentikkan dirinya dengan pihak lain. • Simpati Adalah perasaan “tertarik” yang timbul dalam diri seseorang dan membuatnya merasa seolah-olah berada dalam keadaan orang lain. e. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial Menurut Soekanto (1984: 60-92) proses-proses interaksi yang pokok adalah Proses-proses yang asosiatif : • Kerja sama (cooperation) Adalah bentuk interaksi yang terjadi antara orang perorangan atau kelompok manusia, untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Terdapat tiga bentuk kerja sama, yaitu: a. Bargaining, yaitu pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa antar dua organisasi atau lebih. b. Co-optation, yakni suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi, sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan. c. Coalition, adalah kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan yang sama. • Akomodasi (accomodation) Adalah suatu keadaan hubungan antara kedua belah pihak yang menunjukkan keseimbangan yang berhubungan dengan dengan nilai dan norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Bentuk-bentuk akomodasi : a. Coercion, yaitu suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan oleh karena adanya paksaan. b. Compromise, yaitu suatu bentuk akomodasi dimana pihak-pihak yang terlibat masing-masing mengurangi tuntutannya, agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada. c. Arbitration, adalah suatu cara untuk mencapai compromise apabila pihak-pihak yang berhadapan, masing-masing tidak sanggup untuk mencapai sendiri. d. Mediation, hampir menyerupai arbitration, pada meditation diundanglah pihak ketiga yang netral dalam soal perselisihan yang ada.

e. Conciliation, adalah suatu usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan pihak-pihak yang berselisih, bagi tercapainya suatu persetujuan bersama. f. Toleration, merupakan suatu bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formal bentuknya. g. Stalemate, merupakan suatu akomodasi, dimana pihak-pihak yang bertentangan karena mempunyai kekuatan yang seimbang, berhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya. h. Adjudication, yakni penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan. • Asimilasi (assimilation) Adalah suatu proses sosial dalam taraf kelanjutan yang ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap, dan proses-proses mental dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan bersama. Proses-proses yang disosiatif • Persaingan (competition) Adalah suatu proses sosial dimana orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu. • Contravention Adalah suatu bentuk proses sosial yang ditandai oleh gejala-gejala adanya ketidakpastian mengenai diri seseorang atau suatu rencana dan perasaan tidak suka yang disembunyikan, kebencian atau keragu-raguan terhadap kepribadian seseorang. • Pertikaian (conflict) Adalah bentuk persaingan yang berkembang ke arah negatif, artinya di satu pihak bermaksud untuk mencelakakan atau berusaha untuk menyingkirkan pihak lainnya.

Bab XI Perubahan Sosial
A. Definisi Perubahan Sosial
Sebenarnya banyak sekali definisi-definisi perubahan sosial yang dikemukakan oleh para ahli, namun pengertian perubahan sosial yang lebih komperehensif dikemukakan oleh Selo Soemardjan bahwa perubahan sosial adalah “segala perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat” (Soekanto,2002)

B. Ruang Lingkup
Lingkup perubahan sosial meliputi berbagai bidang, seperti bidang pendidikan, ekonomi, hukum, dan teknologi. Namun, perubahan sosial yang terjadi hanya meliputi bidang tertentu saja dan terbatas pula ke dalamnya.

Misal :

perubahan pada bidang pendidikan yang baru mencapai taraf norma dan nilai, belum mencapai ke taraf perubahan perilaku. Perlu diketahui, lingkup perubahan sosial yang sangat luas tersebut memerlukan adanya pembatasan pada saat membicarakannya pada suatu masyarakat, sehingga analisis menjadi tidak kabur.

C. Hubungan antara Perubahan Sosial dan Perubahan Kebudayaan
Perubahan sosial memang tidak akan pernah lepas dari perubahan kebudayaan. Perbedaan pengertian antara perubahan sosial dan perubahan budaya terletak pada pengertian masyarakat dan budaya yang diberikan. Tetapi pada umumnya, perubahan budaya menekankan pada perubahan sistem nilai, sedang perubahan sosial pada sistem pelembagaan yang mengatur tingkah laku anggota masyarakat. Jadi, hubungan dari dua perubahan tersebut ialah perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan kebudayaan. Dimana saling memiliki satu aspek yang sama yakni bersangkut paut dengan suatu penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan dalam cara-cara suatu masyarakat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya (Soekanto,2002).

D.Faktor-faktor Penyebab Perubahan Sosial
Pada dasarnya perubahan-perubahan sosial terjadi karena ketidakpuasan anggota masyarakat terhadap keadaan kehidupannya yang lama pada waktu tertentu. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (1964:489) menggolongkan secara umum penyebab dari perubahan sosial budaya menjadi dua, yakni :

a. Perubahan yang Berasal dari Masyarakat itu sendiri • Perkembangan Ilmu Pengetahuan • Jumlah Penduduk • Pertentangan atau Pemberontakan b. Perubahan yang Berasal dari Luar Masyarakat • Pengaruh Kebudayaan Masyarakat Lain • Peperangan

E. Bentuk-bentuk Perubahan Sosial
a. Perubahan Evolusi dan Perubahan Revolusi • Perubahan Evolusi Bohannan (1963:360) mengatakan bahwa evolusi adalah perubahan yang lama dengan rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti

dengan lambat. Inkeles (1965:31) menggolokan teori evolusi menjadi tiga yaitu : 1. Unilinear theory of evolution. Teori ini berpendapat bahwa manusia dan masyarakat (termasuk kebudayaannya) mengalami perkembangan sesuai dengan tahap-tahapan tertentu, bermula dari bentuk sederhana, kemudian bentuk yang kompleks sampai pada tahap yang sempurna. 2. Universal theory of evolution. Teori ini menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidaklah perlu melalui tahap-tahap tertentu yang tentu. 3. Multilined theories of evolution. Teori ini berfokus pada penelitianpenelitian terhadap tahap-tahap perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat. • Perubahan Revolusi Secara sosiologis, perubahan revolusi dapat diartikan sebagai perubahan-perubahan sosial mengenai unsur-unsur kehidupan atau lembaga-lembaga kemasyarakatan yang berlangsung relatif cepat. b. Perubahan yang Pengaruhnya Kecil dan Perubahan yang Pengaruhnya Besar Contoh perubahan sosial yang pengaruhnya kecil adalah perubahan mode pakaian. Perubahan tersebut hanya akan mengubah industri pakaian, sehingga tidak berpengaruh yang berarti terhadap perubahan lembaga kemasyarakatan. Contoh perubahan sosial yang perngaruhnya besar adalah perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri akan membawa perubahan di seluruh sektor kehidupan termasuk perubahan lembaga kemasyarakatan. c. Perubahan yang Direncanakan dan Perubahan yang tidak Direncanakan Pihak yang menghendaki perubahan yang direncanakan disebut agent of change, yaitu seorang atau kelompok orang yang mendapat kepercayaan dari masyarakat sebagai pemimpin satu atu lebih lembaga kemasyarakatan. Contoh perubahan yang direncanakan misalnya suatu perubahan dari sistem sentralisme yang autokratik ke suatu pemerintahan desentralisasi yang demokratik. Sedangkan pada perubahan yang tidak direncanakan terjadi tanpa dikehendaki serta berlangsung di luar jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan oleh masyarakat.

F. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Jalannya Proses Perubahan
a. Faktor Pendorong • Kontak dengan Kebudayaan Lain

• Sistem Pendidikan b. Faktor Penghambat • Kurangnya hubungan dengan masyarkat lain. • Perkembangan ilmu pengetahuan yang lambat. • Sikap masyarakat yang sangat tradisional • Adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam dengan kuat • Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan • Prasangka terhadap hal-hal baru atau sikap yang tertutup • Hambatan-hambatan yang bersifat ideologis • Adat atau kebiasaan • Nilai bahwa hidup ini pada hakekatnya buruk dan tidak mungkin diperbaiki

G.Proses-proses Perubahan Sosial dan Kebudayaan
a. Penyesuaian Masyrakat terhadap Perubahan Selo Soemardjan (1964:384) mengatakan bahwa suatu perbedaan dapat diadakan antara penyesuaian dari lembaga-lembaga kemasyarakatan dan penyesuaian dari individu yang ada dalam masyarakat tersebut. b. Saluran-saluran Perubahan Sosial dan Kebudayaan Adalah saluran yang dilewati oleh suatu proses perubahan sosial dan kebudayaan, dapat berbentuk lembaga kemasyrakatan dalam berbagai bidang. c. Disorganisasi (disintegrasi) dan Reorganisasi (reintegrasi) Soekanto (2002:35) menyimpulkan bahwa disorganisasi adalah proses berpudarnya norma-norma dan nilai dalam masyarakat, karena perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan. Sedangkan reorganisasi adalah suatu proses pembentukan dan nilainilai agar serasi dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang telah mengalami perubahan. d. Ketidakserasian Perubahan-perubahan Budaya (Cultural Lag) dan Ketertinggalan

Teori ini menyatakan bahwa pertumbuhan kebudayaan tidak selalu sama cepatnya dalam keseluruhannya. Ada bagian yang tumbuh cepat dan ada bagian yang lain yang tumbuh secara lambat. Perbedaan taraf kemajuan dari berbagai bagian dalam kebudayaan dari suatu masyarakat itulah yang disebut dengan Cultural Lag. e. Arah Perubahan Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (1964:490) mengatakan bahwa perubahan bergerak meninggalkan faktor yang diubah. Akan tetapi setelah meninggalkan faktor itu, mungkin perubahan bergerak ke arah suatu bentuk yang sama sekali baru atau bergerak ke arah suatu bentuk yang sudah ada di dalam waktu yang lampau.

Bab XI Modernisasi
A. Pengertian Modernisasi
Terdapat banyak sekali penafsiran terhadap pengertian modernisasi yang dikemukakan oleh para ahli, namun secara garis besar istilah modern muncakup pengertian sebagai berikut. 1. Modern berarti berkemajuan yang rasional dalam segala bidang dan meningkatnya taraf penghidupan masyarakat secara menyeluruh dan merata. 2. Modern berarti berkemanusiaan dan tinggi nilai peradabannya dalam pergaulan hidup dalam masyarakat

B. Syarat Terjadinya Modernisasi
Adapun syarat-syarat terjadinya suatu modernisasi menurut Soerjono Soekanto, adalah sebagai berikut: 1. Cara berpikir yang ilmiah dalam sistem pendidikan maupun masyarakat 2. Sistem administrasi negara yang baik, yang mewujudkan birokrasi 3. Adanya sistem pengumpulan data yang baik dan teratur maupun terpusat pada suatu lembaga tertentu 4. Penciptaan iklim yang memasyarakat terhadap modernisasi dengan cara penggunaan alat-alat komunikasi massa. 5. Tingkat organisasi yang tinggi 6. Sentralisasi wewenang dalam pelaksanaan social planning

C. Perbedaan dan Persamaan Westernisasi, dan Sekularisas
Definisi Perbedaan

Modernisasi,

Persamaan

Modernisasi

Suatu proses perubahan dari cara-cara tradisional ke cara-cara yang lebih maju, dimana dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup Masyarakat

Suatu proses peniruan oleh suatu masyarakat atau negara tentang kebudayaan dari negara-negara barat yang dianggap lebih baik dari pada kebudayaannya sendiri

Suatu proses pembedaan antara nilai-nilai keagamaan dengan nilai-nilai kepentingan keduniaan. (menganggap bahwa hidup ini adalah sematamata untuk kepentingan dunia

D.Modernisasi dan Pembangunan
Pembangunan sendiri merupakan perubahan yang direncanakan untuk tujuan peningkatan kesejahteraan penghidupan manusia. Perencanaan tujuan pembangunan secara baik memerlukan sejumlah mentalitas pembangunan. Selain itu indikasi penting dalam pembangunan yang lain adalah kesejahteraan ekonomi. Menurut Rostow terdapat 5 tahap yang dilalui oleh suatu masyarakat, yakni 1. Masyarakat tradisional

Sekularisasi

1. Tidak mutlak sebagai westernisasi atau sekularisasi 2. Tidak mengesampingkan nilai-nilai agama 3. Proses perkembangannya bersifat lebih umum 1. Modernisasi, 4. Modernisasi mutlak westernisasi dan bagi setiap negara sekularisasi samasama mempunyai kepentingan soal 1. Mutlak pembaratan keduniaan 2. Menurut Schoorl, 2. Sama-sama westernisasi itu ada, merupakan proses karena perkembangan perubahan dari masyarakat modern sesuatu yang terjadi dalam dianggap kurang kebudayaan barat dan baik menjadi disajikan dalam bentuk sesuatu yang lebih barat. Sedangkan baik bagi bentuk barat itu penganutnya dipandang sebagai 3. Sama-sama satu-satunya mempunyai unsurkemungkinan yang ada unsur dari negara 3. Tidak mempersoalkan barat kebudayaan barat 4. Sama-sama dengan kebudayaan merupakan hasil negara sendiri perbandingan dari 1. Berorientasi sematasuatu aspek-aspek mata pada masalah kehidupan manusia keduniaan yang 2. Tidak terikat dengan dirasionalisasikan nilai-nilai keagamaan

Westernisasi

2. 3. 4. 5.

Pra tinggal landas Tinggal landas Jalan ke arah kematangan Masyarakat konsumtif masal

E. Ketergantungan dengan Negara Lain
Ketergantungan dengan negara lain mendominasi dalam pembangunan negara-negara bekas jajahan. Ketergantungan ini merugikan negara bekas jajahan sehingga proses pembangunan negaranya berjalan lebih sulit. Untuk itu, diperlukan sejumlah alternatif strategi pembangunan, misalnya memandirikan diri terhadap barangbarang yang diimport selama ini.

F. Modernisasi di Indonesia
Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang, tentu juga berupaya mengadakan modernisasi. Modernisasi dalam masyarakat Indonesia dapat dikatakan terbuka. Artinya, bahwa dalam proses modernisasi tidak tertutup adanya kemungkinan untuk menerima unsurunsur dari luar. Namun tentunya harus ada filterisasi terhadap unsur-unsur dari luar. Agar modernisasi di Indonesia berjalan dengan baik maka harus didukung budaya bangsa yang mampu mendorong modernisasi, semisal kepercayaan terhadap Tuhan YME, dan menyadari hak dan kewajiban sebagai warga negara. Gejala modernisasi di Indonesia sudah meliputi berbagai bidang kehidupan bangsa, antara lain di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, bidang politik, bidang ekonomi, dan bidang agama maupun kepercayaan.

G.Contoh-Contoh Gejala Modernisasi Indonesia
• Bidang ilmu pengetahuan dan teknologi : penemuan dan pembaruan diberbagai aspek kehidupan bangsa, misal adanya alat transportasi yang lebih maju, alat kesehatan, dll. • Bidang ekonomi : semakin banyaknya industri dengan skala besar dan kualitas cukup tinggi, lebih efisiennya penggunaan sumber daya yang tersedia • Bidang politik : diberlakukannya sistem pemerintahan perwakilan delegasi kekuasaan, pemerintahan yang diawasi dan dibatasi hak-hak kekuasaannya • Bidang agama dan kepercayaan : kemajuan yang mampu menompang dan mendukung keberhasilan kemajuan di bidang materi atau lahiriah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful